Posts

Ada Pelangi di Balik Sakit Langka yang Kualami

Oleh Monica Horezki, Jakarta

Namaku Monica Horezki Vivacioingriani. Kesan apakah yang kamu dapat ketika mendengar namaku?

Beberapa orang menganggap namaku panjang dan unik. Nama itu diberikan oleh orangtuaku dengan maksud yang baik. Kata ‘Horezki’ merupakan gabungan dari dua kata baik: hoki dan rezeki.

Namun, meskipun ada makna rezeki dalam namaku, nyatanya kehidupan tak selalu penuh rezeki. Pada usia 20 tahun, aku divonis mengidap penyakit yang namanya cukup langka didengar di Indonesia. Penyakit ini disebut Dandy Walker Syndrome yang mengakibatkan aku kehilangan keseimbangan tubuh karena otak kecilku tidak bertumbuh secara sempurna. Sindrom ini ditemukan oleh seorang dokter saraf bernama Walter Dandy di Amerika Serikat pada tahun 1914.

Kehilangan keseimbangan tubuh menyulitkanku dalam banyak hal. Misalnya, jika aku memegang segelas susu, pasti akan banyak yang tumpah. Sama halnya dengan saat aku berjalan atau menulis dengan tangan. Aku pernah dicegat di bandara karena cara jalanku yang sempoyongan dan gampang menabrak. Petugas bandara mengira aku sedang mabuk. Tulisan tanganku juga sering dikritik karena berantakan dan jelek seperti cakar T-Rex.

Aku sempat berkecil hati.

Hadirnya penyakit ini menimbulkan tantangan. Ada orang-orang yang kemudian menganggapku sebagai beban ketika mereka tahu kalau secara medis, sindrom dandy walker tidak bisa diobati dan hanya bisa dikurangi dengan terapi rutin seperti duduk di atas bola yoga yang setiap hari aku lakukan.

Kini, aku sedang kuliah di semester 5. Cerita tentang diri dan kondisiku tidak serta merta diterima oleh semua temanku. Yah, mau bagaimana lagi? Aku harus ditemani Mami kemanapun aku pergi, termasuk untuk nongkrong. Aku juga dianggap menjadi “anak emas” dosen karena diberi izin untuk menggunakan laptop ketika ujian. Mungkin teman-temanku mengira aku berbuat curang dengan membuka internet di laptop untuk mencari jawaban.Padahal, tanpa sepengetahuan mereka, aku harus memohon izin ke dosen untuk diperbolehkan mengikuti perkuliahan.

Terkadang hal-hal ini membuatku sedih dan frustasi. Aku merasa kalau dunia tidak adil dan tidak ada lagi pengharapan untukku. Sudah tak terhitung jumlah orang yang menganggap rendah dan yang skeptis terhadap masa depanku—bahkan ada pula yang menghakimi orang tuaku. Sebagai orang yang memiliki hobi menulis, aku pun mencurahkan perasaanku ke dalam tulisan.

Aku terus mengetik dan menuangkan isi hatiku selama bertahun-tahun hingga suatu saat, secercah pikiran muncul di benakku: bagaimana aku bisa menjadi berkat bagi orang lain melalui hidupku?

Ingin rasanya aku membagikan cerita dan pergumulanku bersama Tuhan sebagai pengidap sindrom ini dengan menerbitkan buku. Namun, keraguan dan rasa takut kerap kali datang menghampiri: Apakah aku mampu? Apakah tulisanku layak? Apakah ceritaku bisa menyentuh hati banyak orang dan menjadi berkat?

Pertanyaan-pertanyaan ini sempat mengurungkan niatku untuk mencoba menerbitkannya. Perasaan takut mendapat penolakan juga membuat diriku galau untuk akhirnya melangkah. Tetapi, perintah Tuhan untuk bersaksi mendorongku datang kepada-Nya dan meminta keberanian.

Puji Tuhan, berkat pertolongan Tuhan dan dukungan dari kedua orang tua yang menguatkanku, ada satu penerbit yang menerima tulisanku dan bersedia menerbitkannya.

Hari itu, dengan penuh semangat kudatang ke kantor penerbit itu untuk berdiskusi. Aku memberikan judul “Menjalani Apa yang Tidak Dijalani” untuk bukuku. Aku sadar, di tengah dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, tidak semua orang dapat merasakan dan menyaksikan kasih, kebaikan, dan pertolongan Tuhan dalam hidupnya. Aku, yang melalui sakitku diizinkan menjadi saksi atas kebaikan Tuhan merasa perlu untuk membagikan kembali kisah kasih itu kepada orang lain.

Hadirnya penyakit langka dalam hidupku mungkin dapat menjadi badai yang menenggelamkanku, tapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Badai yang kualami mampu ditenangkan-Nya hingga aku pun melihat pelangi kasih-Nya.

Banyak orang skeptis akan masa depanku dan menghakimi orang tuaku karena keadaanku. Dari situ aku melihat bahwa mencintai orang yang ‘spesial’ tidaklah mudah, tetapi Tuhan mengaruniakan kepercayaan pada kedua orang tuaku untuk tetap mencintaiku sepenuh hati. Tanpa kehadiran orang tuaku yang tangguh, kurasa aku hanya akan hidup menjadi pribadi yang sia-sia, yang tak akan mampu bersaksi di sini di hadapan sahabat-sahabat seimanku.

Aku selalu ingin jadi pribadi yang mengasihi dan dikasihi Tuhan, menghasilkan karya yang bermakna dan menjadi berkat bagi banyak orang sesuatu apa yang firman Tuhan perintahkan agar kita terus bersaksi sampai hari Tuhan datang.

Hanya Tuhan yang mampu mengubah ratapan menjadi tarian. Kiranya apa yang kusaksikan dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang yang menghadapi jalan hidup berliku dan penuh tantangan.

Kuucapkan terima kasih kepada kamu yang telah membaca kesaksianku, dan sekali lagi ingin kuberkata bahwa hanya Tuhan sajalah yang tetap setia dan mendukung kita walau dunia menolak kita.

Tuhan Yesus memberkati.

Lima, Dua, Satu

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Bulan mengambang dengan diam. Sinarnya memancarkan kelembutan yang memukau. Malam terasa hening dan damai. Namun, suasana hatiku gundah gulana. Beberapa kejadian siang ini terlintas kembali dalam benakku dengan sangat jelas.

Aku baru saja selesai membereskan catatan kehadiran anak, ketika merasa perutku mulai lapar. “Eh, ada Susan,” kataku ketika melihat keluar jendela.

“Hai, Susan, yuk, makan siang. Aku yang traktir.”

“Sorry, Bren. Aku tidak bisa. Aku mau persiapan pelayanan buat minggu depan. Lain kali ya.”

“Oh…OK, selamat persiapan.” Aku melambaikan tangan dan mencoba untuk tersenyum.

Sepulang dari kantin gereja, aku bertemu Lia di tengah jalan. “Sudah lama nggak ngobrol dengan Lia, aku ingin tahu bagaimana kabarnya,” pikirku.

“Lia, kamu lagi sibuk, ya?”

“Oh, hai, Bren. Iya, aku mau latihan paduan suara. Mengapa?”

“Oh, tidak apa-apa. Hanya ingin ngobrol saja dengan kamu. Tetapi kamu sepertinya sibuk. Kita ngobrol lain kali ya.”

“Iya, sorry ya, Bren. Akhir-akhir ini memang lagi sibuk persiapan buat acara bulan Agustus nanti.”

Aku mengangguk dan melangkah dengan gontai. “Semua orang sepertinya sibuk pelayanan. Hanya aku yang tidak.”

Aku sedang berdiri di pintu gerbang gereja ketika melihat Yunita berdiri juga di sana.

“Hai, Yun.”

“Hai, Bren. Apa kabar?”

“Kabar baik. Kamu sedang apa?”

“Aku sedang siap-siap menunggu jemputan. Mau pergi pembesukan ke rumah sakit. Hari ini adalah jadwal kelompokku.”

“Oh…kalau begitu, selamat membesuk ya.”

Aku melambaikan tangan kepada Yunita yang segera naik mobil jemputannya.

Aku menghela nafas. Sungguh sulit bertemu dengan teman-temanku sekarang. Sepertinya semua orang sangat sibuk dengan pelayanan. Susan, misalnya, selain aktif menjadi worship leader ibadah Minggu, dia juga aktif di perpustakaan gereja, dan Persekutuan Doa. Lia pun demikian, seorang penyanyi andalan di gereja, dan Ketua Komisi Anak. Yunita terlibat aktif di pelayanan rumah sakit, pemimpin kelompok kecil, sekaligus pemimpin kelompok Pemahaman Alkitab.

Sebuah perasaan asing menyelip di hatiku. Aku merasa begitu kecil dan sendiri. Merasa diriku tidak berharga, dan tidak diakui oleh orang lain. Aku hanya melayani di satu bidang, yaitu sie pemerhati untuk komisi anak. Tugasku hanya mencatat kehadiran anak-anak setiap hari Minggu, menelepon mereka bila ada yang sakit, mengucapkan selamat ulang tahun, dan mendoakan mereka. Hanya itu. Pelayanan yang sudah kulakukan selama hampir 1 tahun ini. Apakah Tuhan itu adil? Mengapa Dia tidak memberikanku pelayanan yang lain juga? Mengapa aku hanya melayani di satu bidang saja? Mengapa aku tidak bisa seperti Susan, Lia atau Yunita?

Persekutuan Doa berjalan seperti biasa. Tetapi aku sulit sekali berkonsentrasi, aku bernyanyi dengan setengah hati, dan merasa tidak bersemangat ketika renungan dimulai. Pembicara itu mengajak kami membuka bagian Alkitab dari kitab Matius 25:14-30.

“Ah…itu lagi,” kataku dalam hati.

“Aku sudah tahu bagian Alkitab itu. Tentang talenta. Ada yang diberi lima, dua dan satu.”

Beberapa kalimat pembuka tidak terdengar, karena aku sibuk dengan pemikiranku. Namun tiba-tiba, ada yang menarik perhatianku.

“Jika kita membaca bagian ini, banyak orang berpikir Tuhan tidak adil ketika dia memberikan talenta yang berbeda-beda. Mengapa tidak sama? Mengapa harus berbeda?”

“Iya, tentu saja tidak adil. Bukankah yang adil itu harus sama?”jawabku dalam hati.

“Nah, justru di sanalah letak kesalahpahaman kita. Bila kita menganggap Tuhan tidak adil hanya karena talenta yang diberi tidak sama, maka kita telah salah memahami keadilan Tuhan. Keadilan Tuhan tidak sama dengan keadilan manusia. Bagi kita manusia, yang disebut adil adalah setiap orang memiliki bagian yang sama.”

Aku memajukan dudukku. Sekarang perhatianku kembali penuh. Pembicara itu seolah-olah sedang membaca pikiranku.

Dia kemudian mengeluarkan sekotak kue dan menunjukkannya kepada kami. “Misalnya jika saya ingin membagikan kue ini kepada kalian, saya harus membagikannya secara sama, bukan? Yang adil adalah kalian masing-masing mendapatkan satu potong kue. Dan akan menjadi tidak adil, jika salah seorang dari antara kalian mendapatkan dua potong kue. Hasilnya kalian akan marah, dan tentu saya tidak ingin kena marah.” Dia menyengir lucu.

Aku tersenyum kecil melihatnya.

“Tetapi jika kita berbicara keadilan Tuhan, yang berlaku tidak seperti itu. Talenta dalam perumpamaan ini adalah sesuatu yang dipercayakan tuan itu kepada hamba-hambanya. Besarnya memang tidak sama, tetapi apa yang dipercayakan itu sesuai dengan kemampuan masing-masing hamba. Jadi apakah tuan itu tidak adil? Tidak. Justru tuan itu sangat adil karena masing-masing diberikan sesuai dengan kemampuannya. Coba bayangkan bila hamba yang diberikan dua talenta itu diberikan lebih banyak dari kemampuannya, apa yang akan terjadi?”

Pembicara itu diam sejenak, menatap kami yang sedang memperhatikannya.

“Kemungkinan yang terjadi adalah hamba tersebut tidak akan dapat memberikan hasil yang maksimal karena kemampuannya hanya terbatas dua talenta. Dan lihatlah, ketika tuan itu memuji hamba-hambanya, dia tidak memuji jumlah yang mereka hasilkan. Tetapi yang dipuji justru kesetiaan para hamba tersebut menjalankan apa yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Bila kita setia pada apa yang dipercayakan pada kita, bukankah Tuhan pun akan menambahkan tanggung jawab yang lain?”

Aku mengulang dalam hati kalimat terakhir yang disampaikan pembicara itu, dan mencoba memikirkan kegelisahan hatiku selama beberapa hari ini.

“Ternyata yang diminta oleh Tuhan adalah kesetiaan untuk menjalankan pelayanan yang dipercayakan itu. Bukan berapa banyak pelayanan yang dilakukan.” Aku kembali teringat akan kesibukan pelayanan teman-temanku. Aku menetapkan hati untuk belajar setia pada pelayananku saat ini sama seperti mereka.

Langkah kakiku terasa ringan saat meninggalkan gereja. Mengucap syukur aku memiliki Tuhan yang adil, yang memberi sesuai dengan kemampuan setiap orang.

Baca Juga:

Cerpen: Menyenangkan Hati Orang Lain

Aku memang selalu suka membantu orang lain. Sampai kadang-kadang dalam beberapa kasus, aku merasa lelah sendiri. Aku jadi berpikir apa motivasiku menolong orang lain.

Cerpen: Setoples Nastar di Pergantian Tahun

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Wangi lelehan mentega bercampur sirup gula dan serbuk vanilla memenuhi udara saat jemari Chesa sibuk menguleni adonan. Jika kemarin ia sibuk membuat nastar pesanan pelanggan, kali ini ia akan membuat setoples nastar untuknya dan kedua adiknya. Setoples nastar untuk dinikmati di malam pergantian tahun nanti.

Setelah adonan dicetak dan ditata di loyang, ia beranjak memanaskan oven lalu memanggang nastar menjadi setengah matang. Aroma nenas khas nastar membumbung, mengguggah selera. Setelah setengah matang, nastar dikeluarkan dari oven, diolesi dengan kuning telur yang sudah dicampur minyak dan susu kental manis, setelah itu dipanggang lagi hingga matang sempurna.

Membuat nastar merupakan pengalaman baru bagi Chesa. Sepanjang 20 tahun usianya, biasanya mamanya yang menyiapkan kue-kue enak untuk mereka. Agar nastar buatannya sempurna, Chesa menonton tutorial di YouTube. Ia memperhatikan setiap langkah-langkahnya secara detail.

Hari sudah hampir gelap, sambil menunggu kue nastarnya matang, Chesa meminta adik kembarnya bersiap-siap untuk ibadah pergantian tahun di gereja.

“Dion, Dian. Mandi gih, udah jam 18.30 ini” seru Chesa dari dapur.

“Kita jadi ibadah di gereja kak?” sahut Dian.

“Iya, kita ibadah langsung aja. Jangan lupa Alkitab kita ya”, Chesa mengingatkan adik-adiknya.

Malam pergantian tahun ini terasa berbeda bagi Chesa dan adik-adiknya. Tahun pertama tanpa kehadiran kedua orang tuanya. Mamanya meninggal di bulan April kemarin. Mama Chesa menjadi salah satu dari sekian banyak petugas medis yang gugur saat menangani mereka yang terinfeksi virus Corona. Sedangkan ayahnya sudah pergi meninggalkan mereka sejak 15 tahun lalu tanpa alasan yang ia ketahui dengan jelas.

Chesa sengaja mengajak Dian dan Dion mengikuti ibadah di gereja daripada mengikutinya secara online dari rumah. Ia ingin menikmati malam pergantian tahun di gereja. Chesa berharap, ia merasakan sukacita bertemu dengan beberapa orang yang sudah ia anggap sebagai keluarga di gereja. Ia juga ingin menepis rasa sepi setelah kehilangan mamanya.

Meski belum sepenuhnya menerima kemalangan yang menimpa keluarganya, Chesa berusaha mengumpulkan semangatnya. Tepatnya, ia harus bangkit demi adiknya dan ia sendiri. Chesa menyadari dunia tidak akan berhenti sedetik pun untuk sekadar berempati padanya. Life must go on. Terutama sebagai sulung, ia harus menopang adik-adiknya. Namun terlebih dari semua hal itu, Chesa harus kuat karena ia tahu semua yang terjadi ada dalam kendali Tuhan. Ia percaya Tuhan sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu (Mazmur 103:19).

Tentu tidak mudah untuk sampai di tahap itu. Sebulan setelah kehilangan mamanya, Chesa sering merasa Tuhan sedang tidak adil. Terlebih ia tahu kalau mamanya berjuang untuk keselamatan hidup orang lain namun harus kehilangan nyawanya sendiri. Ditambah lagi dengan ramainya pemberitaan tentang banyaknya orang yang meragukan keberadaan Covid-19 dan enggan mengikuti protokol kesehatan. Seiring berjalannya waktu, ia terus berusaha melewati masa-masa sukar itu.

Ia bersyukur pada Tuhan karena walau menjadi single parent, mamanya selalu mengenalkan Tuhan pada Chesa dan adik-adiknya. Mamanya menyadari keterbatasan waktu yang ia punya bersama anak-anaknya. Ia harus bekerja untuk kebutuhan mereka. Maka di masa hidupnya, mama Chesa memastikan adanya pengenalan akan Tuhan bagi Chesa dan adik-adiknya. Mamanya sering mengajak mereka beribadah dan membaca Alkitab. Mamanya juga yang mendorong Chesa untuk aktif dalam pelayanan pemuda di gereja dan di kampusnya. Menurut mamanya, komunitas rohani yang real itu sangat penting dalam hingar kehidupan media sosial yang semakin bingar di zaman ini.

“Mama tidak selalu bisa bersama kalian. Kalian pasti membutuhkan orang lain. Dari sana juga kalian akan semakin mengenal Tuhan yang selalu ada bagi kalian.”

Pesan khas mama yang diterima Chesa saat merasa bosan atau sedang kecewa dengan sikap orang-orang yang terlibat dalam pelayanan dan hendak memutuskan berhenti ambil bagian. Atau saat Chesa merasa relasinya dengan orang-orang di komunitas tidak begitu penting.

Benar saja seperti yang dikatakan mamanya. Pasca kematian mamanya, Chesa menerima banyak penghiburan. Chesa mendapati orang-orang yang ia kenal lewat pelayanan di gereja dan kampus hadir memberikan dukungan padanya secara bergantian. Meski tidak semuanya hadir secara fisik, tapi Chesa merasakan dan mengenal kasih Tuhan lewat mereka. Penghiburan, topangan doa dan sumbangan belasungkawa ia terima.

Demikian halnya dengan usaha nastar yang sedang ia geluti akhir-akhir ini. Awalnya, Chesa hanya mencari ide agar ia bisa memperoleh uang tambahan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Meski saat itu ia masih menerima uang santunan dari kematian mamanya serta dana pensiun mamanya sebagai perawat, Chesa merasa perlu memiliki penghasilan tambahan. Ia ingin kuliah dan sekolah adiknya bisa terus berlanjut.

Chesa mulai belajar membuat nastar dan menawarkannya kepada orang-orang yang ia kenal. Ia juga membuat promosinya di media sosial. Meski tidak jago, berbekal tutorial dari beragam sumber, Chesa memupuk optimismenya untuk memulai usahanya. Kurang lebih 5 bulan berjualan nastar, ada sekitar 100 toples pesanan yang sudah berhasil ia penuhi. Pesanan itu datang dari sebagian besar orang-orang yang ia kenal di komunitasnya, ditambah dengan mereka yang tertarik dengan promosinya di media sosial. Dengan harga Rp50.000-Rp75.000 untuk tiap toples berukuran 300 gram, Chesa memperoleh pemasukan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Dentang lonceng gereja yang tidak jauh dari rumah Chesa sudah terdengar. Lonceng panggilan beribadah. Chesa dan adik-adiknya pun berangkat ke gereja. Tidak lupa mereka membawa toples berisi nastar untuk hidangan mereka di pergantian tahun nanti. Meski ia tahu keadaan akan terasa sulit tanpa kehadiran mamanya, Chesa menepis rasa pesimisnya.

“Jika lewat nastar saja Tuhan bisa memelihara hidupku, lantas apa yang membuat aku ragu untuk berjalan bersama Kristus di tahun 2021 ini!”, gumamnya sembari menggenggam tangan adik-adiknya memasuki gereja. Setoples nastar di pergantian tahun yang berhasil dipakai Tuhan untuk mengingatkannya akan kasih-Nya.

“Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku” (Mazmur 27:10).

Soli Deo Gloria.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Keluar dari Pekerjaan Lama, Tuhan Memberiku Pengalaman Baru

Ketika kontrak kerjaku tidak diperpanjang, aku beralih profesi menjadi seorang pengusaha skala mikro. Ragu, takut gagal, minim pengalaman dan modal, tapi Tuhan menuntun dan mencukupkan setiap proses yang kulalui.

Teologi Kemakmuran, Kemiskinan, dan Kekristenan

Oleh Jessica Tanoesoedibjo

“Alkitab menyatakan bahwa orang kaya tidak bisa masuk sorga!” Seru pembicara retret tersebut. Dan ketika ia berkata demikian, matanya menatapku dengan tajam.

Aku tidak akan lupa perkataan tersebut. Pada saat itu, aku sedang duduk di bangku SMP, dan menghadiri retret yang diselenggarakan sekolahku. Aku ingat, jantungku berdebar kencang, dan di benakku, aku berpikir, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”

Dalam kehidupanku, harus kuakui bahwa aku telah diberi privilese berkat materil yang berkelimpahan. Namun, ini bukan suatu hal yang dapat kusangkal begitu saja. Aku tidak dapat memilih di keluarga mana aku dilahirkan, ataupun kondisi perekonomian kita. Banyak orang berkata bahwa kita “diberkati untuk menjadi berkat,” tetapi di sisi lain banyak juga yang menkritisasi kekayaan.

Memperoleh Hidup Berkelimpahan

Lahir di keluarga Kristen, aku sangat bersyukur bahwa Tuhan telah memberkatiku dengan kedua orang tua yang begitu menekuni imannya, dan juga mengajarkan anak-anaknya untuk demikian. Namun, lahir sebagai anak seorang pengusaha yang cukup ternama di tanah air, juga berarti ada berbagai macam ekspektasi yang orang miliki terhadap diriku. Motivasi untuk menjadi orang yang sukses, seperti yang dicontohkan oleh sang ayah, ditanamkan padaku sejak kecil.

Di gereja pun aku sering dengar ayat ini dikutip: “Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,” (Ulangan 28:13). Yesus sendiri berkata bahwa Ia datang, “supaya [kita] mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan,” (Yohanes 10:10).

Namun, bagaimana dengan orang Kristen yang tidak hidup dalam kelimpahan materil? Apakah Tuhan tidak mengasihi mereka? Bukankah hal tersebut, kepercayaan bahwa Tuhan akan selalu memberkati anak-anaknya dengan kekayaan, adalah Injil Kemakmuran—suatu distorsi Injil yang sesungguhnya?

Berbahagialah Yang Miskin

Karena di sisi lain, firman Tuhan juga berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena mereka yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:3). Yesus juga mengajarkan, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin…kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” (Matius 19:21).

Inilah yang membuatku berpikir dan bergumul. Aku pun menganggap bahwa kekayaan yang aku miliki adalah suatu hal yang keji yang perlu kusangkal. Ada masa di mana aku membenci segala pemberian Tuhan dalam hidupku, karena menurutku semua kepemilikan materil ini adalah fana.

Bukankah Alkitab sangat jelas, bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan: Tuhan dan uang (Lukas 16:13)? Untuk ikut Kristus, kita harus tanggalkan segalanya. Tapi, apakah artinya semua orang Kristen diharuskan menjadi miskin? Apakah untuk menjadi orang Kristen yang sesungguhnya kita harus menjual segala kepemilikan kita dan memberikannya kepada gereja, orang miskin, atau misi gereja? Apakah Alkitab mengajarkan teologi kemiskinan?

Kemiskinan Manusia dan Kekayaan Injil

Tidak. Keduanya bukanlah gambaran yang akurat tentang Kekristenan. Karena Kekristenan bukan tentang kemakmuran ataupun kemiskinan. Tuhan tidak pernah menjanjikan kita untuk menjadi makmur dan kaya di setiap saat. Dan Ia juga bukan Tuhan yang kejam, yang senang dan mengharapkan kemiskinan dan kesukaran bagi anak-anak-Nya.

Tapi sesungguhnya, Injil mengajarkan kita bahwa Yesuslah Raja yang empunya segalanya, yang amat sangat kaya, namun menanggalkan segala kejayaan dan rela menjadi miskin, untuk melayani kita. Yesus mengosongkan diri-Nya agar Ia dapat melimpahkan kita dengan kasih dan kebenaran-Nya (Filipi 2).

Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk kaya ataupun miskin. Jika kekayaan atau kemiskinan menjadi pusat identitas kita, kita telah memposisikan uang sebagai tuan dalam kehidupan kita. Kesetiaan pada Tuhan dan firman-Nya tidak diukur dari kekayaan atau kemiskinan kita dalam ukuran dunia. Karena sesungguhnya, kesetiaan pada Tuhan adalah pengertian bahwa sebenarnya kita adalah “miskin di hadapan Allah,” namun, dalam Kristus telah “mempunyai [hidup] dalam segala kelimpahan.”

Dengan pengertian ini, kita tidak akan mendemonisasi kekayaan, ataupun mendamba-dambakan kemiskinan (atau sebaliknya). Tapi, kita dapat, dalam masa berkelimpahan, mensyukuri segala pemberian Tuhan sebagai suatu kepercayaan, yang patut kita kembangkan. Kekayaan bukan bertujuan untuk kita dapat senang-senang dan memenuhi segala macam keinginan kita di dunia, melainkan, adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Karena “kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut,” (Lukas 12:48).

Dalam 2 Korintus 8:1-15, Paulus menulis kepada orang-orang yang hidup berkelimpahan untuk bertumbuh dalam kemurahan hati. Paulus berkata bahwa ia tidak bertujuan untuk membebani mereka, melainkan, setelah mengingatkan mereka tentang kasih karunia Kristus yang telah mereka terima, ia mengajak jemaat Korintus untuk terlibat dalam “pelayanan kasih,” (ayat 6) dengan meringankan beban saudara-saudara yang hidup dalam kekurangan.

Demikian pula, orang-orang yang dalam masa kekurangan, dapat juga mensyukuri kesempatan yang Tuhan berikan untuk bergantung sepenuhnya pada-Nya. Namun ini bukan berarti bahwa orang yang sedang dalam masa kekurangan dapat lepas dari tuntutan untuk bertumbuh dalam kemurahan hati. Karena Paulus pun bersaksi tentang bagaimana jemaat di Makedonia, tetap bersukacita dan kaya dalam kemurahan, walaupun mereka sendiri sangat miskin (ayat 2).

Bagi Paulus, kemurahan hati tidak terhitung dari jumlah yang diberikan. Kaya atau miskin, mereka telah menikmati kasih karunia Kristus yang sangat mahal, dan, mengetahui ini, mereka telah memberikan diri mereka, pertama kepada Tuhan, kemudian kepada orang lain (ayat 5). Karena sesungguhnya, yang Tuhan minta dari setiap anak-Nya adalah hal yang sama: agar kita, dalam segala sesuatu, dapat menyangkal diri kita, memikul salib, dan mengikuti-Nya.

“Alkitab menyatakan bahwa orang kaya tidak bisa masuk sorga!” Ya, memang ini benar. Karena Alkitab menyatakan bahwa tidak ada satu orangpun yang dapat masuk Kerajaan Sorga. Tidak ada yang layak. Namun, karena kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus, kita sekarang adalah anak-anak-Nya. Di Rumah Bapa banyak tempat tinggal, dan Yesus sedang menyediakan tempat bagi kita di sana.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Penghiburan di Kala Duka Mendera

Sekalipun sulit untuk melenyapkan rasa sedih dan kehilangan, aku yakin bahwa Tuhan benar-benar mengerti dan peduli dengan duka yang kualami. Ia selalu punya cara terbaik untuk menghibur dan menguatkan kita.

Cerpen: Hanya Sepasang Sepatu

Oleh Tri Nurdiyanso, Surabaya

Dua puluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 2000, aku masih duduk kelas 2 SD Negeri di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Satu kelas hanya diisi dengan 22 siswa, termasuk aku. Bangunanya juga tidak sebagus sekarang. Dulu, temboknya bisa mengelupas sendiri karena termakan usia.

Di tempat inilah aku belajar mengenal angka dan huruf. Jaraknya tidak jauh dari tempat tinggalku, sehingga aku hanya perlu berjalan kaki untuk berangkat sekolah. Aku bukan siswa yang mudah bergaul dengan teman-temanku. Lebih baik diam dan menyendiri di sudut ruangan. Penampilanku yang kumal dan rambut berantakan, membuatku minder untuk bergaul. Memulai pembicaraan saja, aku gagap.

Kadang juga mempertanyakan kenapa aku harus sekolah, jika sebenarnya orang tuaku saja kesulitan membiayai uang SPP-ku. Seingatku biayanya hanya tiga ribu rupiah per bulan, tetapi mereka tidak mampu membayarnya. Hingga sekarang nominal itu terngiang di kepalaku, karena hampir tiap bulan namaku disebut untuk menagih uang bulanan tersebut. Hal inilah yang menambah keminderanku untuk bergaul, kadang juga malas untuk sekolah.

Bisa dilihat bagaimana tertekannya seorang anak kecil yang melihat temannya bisa menikmati jajanan di kantin, sewaktu jam istirahat. Tak ada uang satu koin pun di dalam kantong, yang ada hanya perasaan iri. Kadang pertanyaanku pun muncul pada waktu itu, “Kenapa Tuhan mengizinkanku lahir di keluarga ini?” Aku tidak bisa menerima segala kekurangan yang kumiliki. Pertanyaan itu hanya tinggal sebuah penyesalan yang kubawa semasa kecil.

* * *

Seperti biasanya, hari Senin adalah hari untuk upacara. Kepala Sekolah menjadi pembina upacara dan seluruh peserta memadati halaman depan. Semua petugas tampak terlatih dalam menjalankan upacara Senin seperti biasanya. Semuanya terlihat sama seperti upacara bendera sebelumnya, kecuali suara dari sang pembina di tengah pidatonya.

“Tolong maju ke depan! Siswa yang berada di barisan kelas 2,” tangan kepala sekolah itu menunjukku. Tetapi aku tidak merasa ditunjuk dan diam di barisanku.

“Tolong siswa yang berada di barisan ketiga, sebelah kanan. Untuk maju ke depan,” lanjutnya.

Benar saja, aku dipanggil oleh kepala sekolahku selaku pembina upacara. Aku melangkah dengan sedikit gemetar. Lututku juga tidak bisa kukendalikan, meski hanya berdiri di samping kirinya. Aku hanya menundukkan kepalaku ke tanah. Betapa malunya aku tampil di depan umum seperti ini. Padahal aku juga tidak merasa melakukan kesalahan apa pun, aku juga tidak memenangkan suatu perlombaan.

“Coba, anak-anakku sekalian. Lihatlah penampilan siswa kelas 2 ini,” kata Kepala Sekolah sembari tersenyum. Semua pasang mata terlihat mengamatiku lebih detail lagi. Semakin malu aku dibuatnya.

“Nak, sepatu yang kamu pakai itu belinya di mana?”

“Kata ibu, ini belinya dari pasar, Pak”

“Kamu tahu harganya berapa?”

“Tiga ribu, Pak.” Kepalaku semakin menunduk. Aku tahu harganya sangat murah. Merek pun tak tertempel di sepatuku. Hanya berbahan kain berwarna abu-abu, yang tingginya tidak sampai mata kakiku. Betapa memalukan aku ini!

“Nah, seharusnya kalian semuanya harus mencontoh anak ini! Dia mau memakai sepatu yang murah dan pantas dipakai. Sekolah bukan berarti harus berpenampilan bagus dengan memakai sepatu bagus. Kalian masih diberi kesempatan belajar di SD ini, manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jangan malu apa yang kalian pakai, tetapi fokuslah belajar,” jelasnya dengan penuh semangat.

Aku pun dipersilahkan untuk kembali ke barisanku. Perasaan malu sedikit terangkat oleh sebuah kebanggaan. Mungkin memang murah kalau dilihat dari segi harganya, tetapi perkataan kepala sekolahku telah membuatnya menjadi mahal nilainya. Semenjak itu, aku belajar untuk mensyukuri segala kekuranganku dan melihat seperti apa yang dilihat oleh kepala sekolahku.

Mungkin ini yang dimaksud sebuah sukacita. Bukan masalah perasaan senang mendapatkan suatu yang mahal dan mewah. Tetapi bagaimana sikap hati yang mampu mensyukuri atas apa yang diterima dan memiliki sudut pandang yang dimiliki oleh Tuhan terhadapku. Mungkin memang hidupku itu penuh kekurangan, tetapi Tuhan melihatku sebaliknya seperti perkataan kepala sekolahku terhadap sepatuku.

Tuhan memberkati, Amin.

“Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur” (Mazmur 4:7).

Baca Juga:

Ketika Pekerjaan Tak Hanya Sebatas Cari Uang dan Kerja Kantoran

Aku belajar bahwa kita tidak akan pernah menemukan tempat kerja se-sempurna yang kita inginkan. Bahkan seorang petani pun harus turun menjejakkan kakinya di lumpur agar bisa bertani.

Meneladani Sang Konselor Sejati

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya—bagiku, itulah yang disebut sebagai kelebihan. Namun, bagi orang lain, aku memiliki kelebihan yang berbeda dari apa yang kupahami sebagai kelebihan. Padahal, apa yang dianggap orang lain sebagai kelebihanku sepertinya adalah hal yang biasa dan dimiliki oleh banyak orang: mendengarkan dan mendoakan.

Ketika menerima kata-kata pujian tentang kedua hal itu dari orang lain, aku hanya tersenyum tipis dan kadang menjawab dengan, “Ah, masa?” atau “Amin…”. Aku merespon dengan cara seperti itu bukan karena merasa senang dipuji, tetapi karena aku merasa belum sepenuhnya menjadi seorang pendengar dan pendoa yang baik.

Seringkali keluarga, sahabat, dan orang-orang di sekitarku juga menyampaikan bahwa mereka sangat tersentuh dengan kata-kata yang kuucapkan dalam doaku. Mereka bilang, aku adalah pendoa yang baik. Namun, lagi-lagi aku merasa apa yang kulakukan adalah hal yang biasa-biasa saja, karena setiap orang bisa berdoa dan setiap kata yang disampaikan dalam doa tidak ada yang salah. Sikap hati saat berdoa adalah hal yang terpenting.

Aku sangat sering mendengarkan curhat dari orang lain, baik orang yang sudah maupun baru kukenal. Entah mengapa, mereka yang baru saja mengenalku bisa langsung merasa nyaman untuk bercerita kepadaku, bahkan meminta aku untuk mendoakan mereka.

Suatu malam, aku merasakan ada yang berbeda saat sedang mendengarkan curhatan seorang junior di kampusku dulu. Usai kami berbincang lewat WhatsApp, aku membaca kembali setiap kata dan kalimat yang kusampaikan. Aku tersenyum dan merenung, “Tuhan, kenapa aku bisa menyampaikan hal ini ya?”. Aku juga teringat bahwa setiap kali ada orang yang bercerita kepadaku, baik langsung maupun lewat media sosial, mereka selalu menyampaikan, “bawa aku dalam doamu setiap hari”. Aku mulai merenung, apakah mendengarkan dan mendoakan memang dua hal yang Tuhan karuniakan bagiku?

Aku teringat pada pengalamanku ketika mengikuti konseling. Sebuah konseling terdiri dari dua pihak, yaitu konselor dan konseli (atau klien). Konselor mampu menolong konseli untuk menyampaikan masalah yang sedang ia hadapi serta memberikan solusi agar si konseli bisa pulih dan kembali melakukan aktivitasnya sehari-hari dengan baik.

Malam itu juga aku mendapati sebuah jawaban bahwa hanya karena pertolongan dari Yesus Kristus, Sang Konselor Sejati, aku dimampukan untuk mendengarkan dan mendoakan orang lain. Sang Konselor Sejati terlebih dahulu memulihkan hidupku dengan berbicara lewat firman-Nya dalam Alkitab dan memberiku kekuatan lewat doa, sehingga aku dimampukan untuk menjadi konselor bagi orang lain.

Untuk menjadi konselor yang baik bagi orang-orang di sekitar kita, tentunya kita harus terlebih dahulu memiliki relasi yang intim dengan Sang Konselor Sejati. Mendengar suara-Nya dan mengenal kehendak-Nya adalah hal utama yang harus selalu kita kejar hari demi hari. Tuhan sendiri yang akan memampukan kita untuk menjalani panggilan-Nya dalam hidup kita, yaitu untuk menjadi ‘konselor-konselor’ Ilahi.

Mendengarkan dan mendoakan—dua cara sederhana yang bisa dilakukan untuk menyatakan kasih Yesus kepada sesama. Kita dapat menolong orang lain dengan mengajak mereka datang kepada Yesus, Sang Konselor Sejati yang memberi kelegaan.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).

Baca Juga:

Terlalu Fokus Pelayanan Membuatku Lupa Siapa yang Kulayani

Kupikir jalan hidup yang kuambil sudah tepat—menghabiskan waktu dan tenaga untuk melakukan kegiatan pelayanan. Tapi, kemudian aku sadar bahwa ada yang keliru dalam motivasiku melayani-Nya.

Jangan Sekadar Mengeluh!

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

“Ya Gusti, cepet banget ya dari hari Minggu ke hari Senin, tapi dari Senin ke Minggu lama banget. Coba jarak Senin ke Minggu kita sama kaya Pasar Minggu sama Pasar Senen di Jakarta, kan bolak-balik gak beda jauh.”

Pernahkah teman-teman mengeluh seperti itu? Mungkin sebagian besar dari kita juga pernah mengeluh karena weekend kita berlalu dengan cepat. Baik yang pelajar maupun pekerja, mungkin pernah mengeluh saat Minggu malam untuk menyambut hari esok, hari Senin.

Aku pun juga pernah mengeluh, baik ketika menjadi pelajar S1, maupun ketika menjadi pekerja dan bahkan kini kembali menjadi pelajar S2. Saat menjadi pekerja, Senin pagi adalah waktu mengeluhku, “Hadeuh, kerja lagi, cari uang lagi, meeting lagi.” Ketika kini aktif pelayanan di hari Sabtu dan Minggu yang menyita waktu relatif banyak, lalu hari Senin kembali kuliah, aku pun mengeluh lagi, “Aduh, kapan badan ini istirahat? Senin sampai Jumat kuliah kerja tugas, akhir pekan capek pelayanan.”

Kurasa tak hanya aku, sebagian besar dari kita pun pernah mengeluh. Sebuah alasan yang mendasari kita mengeluh adalah karena ada sebuah penderitaan yang akan atau sedang kita hadapi. Banyak hal yang bisa menjadi penderitaan bagi kita, entah itu sekolah, kuliah, pekerjaan, relasi dengan siapapun, bahkan pelayanan kita sekalipun. Penderitaan itu terlihat dari keluhan yang keluar dari bibir kita.

Tetapi, sebelum kita lanjut mengeluhkan berbagai penderitaan yang kita hadapi dalam hidup ini, ada hal-hal yang perlu kita pahami nih. Yuk kita cek.

Kita tidak sendirian dalam menghadapi penderitaan

Kita, segenap manusia yang ada di bumi, bahkan Yesus semasa hidup-Nya di dunia pun pernah melontarkan keluhan. Dalam Injil Lukas 13:34 misalnya, ketika Yesus berada di Perea, wilayah Galilea, Ia hendak memasuki Kota Yerusalem. Yesus pun mengeluh dengan kenyataan tentang kota tersebut:

“Yerusalem, Yerusalem, engkau membunuh nabi-nabi dan melempari denga batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.”

Ketika Yesus berdoa di Taman Getsemani di malam sebelum Dia ditangkap, Yesus pun sempat mengatakan:

“Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku…” (Matius 26:39a).

Dua ayat di atas merupakan ucapan keluhan Yesus ketika diri-Nya diperhadapkan pada penderitaan, yaitu penderitaan di mana Dia akan diangkap, disiksa, disalibkan, dan mati. Penderitaan Yesus tentu jauh lebih besar daripada derita yang kita hadapi. So, jangan pernah merasa diri kita sendirian dalam menghadapi penderitaan. Yesus juga turut menderita, bahkan lebih menderita daripada kita.

Yesus memilih menderita sebagai tanggung jawabnya

Jika Yesus sudah tahu akan menderita, dan Dia mengeluh, yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah: mengapa Dia tetap memilih menderita? Di sinilah kita perlu memaknai ulang kata “derita”. Kita mungkin memahami “menderita” sebagai kondisi sengsara, susah, dan mengenaskan. Tetapi, kata derita memiliki makna lebih daripada itu secara etimologi.

Kata “derita” dalam bahasa Inggris yaitu “suffer”, yang merupakan sebuah serapan dari bahasa Latin, “sufferire”. Kata “sufferire” ini berarti menanggung, menjalani, membawa sebuah tugas tanggung jawab. Maka kita bisa memahami bahwa penderitaan merupakan sebuah konsekuensi yang harus ditanggung dan dijalani ketika seseorang bertindak suatu hal.

Maka, yang jadi pertanyaan, tanggung jawab apakah yang dilakukan Yesus sehingga Dia harus menderita? Tanggung jawab Yesus ialah menyatakan kasih Allah kepada ciptaan-Nya dengan hidup di dunia, mengajar dan menyatakan mukjizat serta melakukan penebusan di kayu salib. Yohanes 15:13 menyatakan:

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Yesus memilih melaksanakan tanggung jawab untuk mengasihi manusia secara total dan Dia memahami konsekuensinya atau derita yang Dia jalani, yaitu disiksa dan mati disalibkan.

Dari penjelasan logis tentang Yesus yang menderita ini, kita juga bisa melihat penderitaan dalam hidup kita. Kita menderita dalam sekolah dan kuliah, dengan harus giat belajar dan mengerjakan tugas, karena itulah konsekuensi dari kita yang ingin menjadi lebih cerdas. Begitupun ketika kita bekerja, kadang lembur dan pulang malam karena itulah konsekuensi untuk mendapatkan penghasilan. Juga dalam pelayanan, kita merasa lelah secara pikiran, meluangkan waktu, mengeluarkan biaya dan tenaga, itulah konsekuensi ketika kita melayani Tuhan dan sesama kita.

Ubahlah keluhan menjadi berkat

Setiap tokoh-tokoh Alkitab juga tidak lepas dari mengeluh. Contohnya ketika harta dan anak-anak Ayub diambil oleh Tuhan, Ayub mengutuki hari kelahirannya. Contohnya lagi seruan Daud dalam Mazmur 22:1-9, dia menyatakan, “Ya Allahku, mengapa Kau tinggalkanku…” Begitu pun Yesus, yang juga turut menderita sebagai manusia seratus persen.

Beruntung, setiap tokoh-tokoh Alkitab tersebut belajar untuk berproses melihat rencana Allah dalam hidup mereka. Begitu pula dengan Yesus, ketika Dia mengeluhkan Yerusalem dalam Lukas 13:34, Dia tetap melanjutkan perjalanan-Nya. Ataupun dalam doa-Nya di Taman Getsemani, Dia berseru kepada Allah dalam Matius 26:39b,

“…melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Yesus mengubah keluhan yang terucap oleh-Nya sebagai bentuk berserah kepada maksud Allah, yaitu agar Yesus bisa menyatakan kasih Allah bagi ciptan. Yesus pun melaksanakan tanggung jawab-Nya sehingga menjadi berkat bagi kita semua, yaitu berkat keselamatan.

Kita pun pasti juga tidak bisa lepas sepenuhnya dari mengeluh, tetapi apakah kita hanya melihat penderitaan yang akan atau sedang kita jalani dari sisi negatif melulu?

Mari kita belajar, bahwa Yesus juga turut menderita bersama kita. Yesus ingin mengajarkan bahwa ada sebuah tanggung jawab yang perlu kita laksanakan walaupun memiliki konsekuensi derita, dan jadilah berkat dengan menyatakan kasih Allah lewat melaksanakan tanggung jawab kita sebaik mungkin.

Baca Juga:

Ketika Kisah Cinta Kami Berjalan Keliru

Adalah hal yang sangat menakutkan ketika aku memilih untuk menghabiskan malamku dengan tunanganku dibandingkan meluangkan waktu menyendiri dengan Tuhan, ketika hatiku lebih mendapat kepuasan di dalamnya dibanding di dalam Tuhan, ketika aku lebih mengkhususkan perhatianku untuk kebutuhan dan keinginannya, bukan untuk mengenal dan mematuhi Tuhan.

Maukah Kamu Diberkati?

Halo sobat muda! Terima kasih telah mengunjungi halaman ini.

Tanggal 5 di bulan Februari ini diperingati sebagai Tahun Baru Imlek. Eits, tapi tunggu dulu, jangan keluar dari halaman ini. Terlepas dari kamu yang merayakan atau tidak, kita tidak akan membahas tentang bagaimana sejarah dan seluk-beluk seputar perayaan Imlek itu sendiri. Tetapi, kami ingin mengajakmu melihat sebuah hal menarik yang bisa kita ambil dari momen Tahun Baru Imlek.

Biasanya hari raya Imlek selalu identik dengan angpau. Apa yang paling menarik dari angpau? Mungkin kamu akan menjawab uang yang berada di dalamnya. Namun, pernahkah kamu memperhatikan bahwa di kertas angpau tersebut terdapat sebuah aksara Mandarin 福 (dibaca Fú)?

Aksara tersebut bukan sekadar hiasan. Ada makna di baliknya. Dan, melalui video dan artikel di bawah ini, kami mengajakmu untuk menjelajahi apa makna istimewa di balik aksara tersebut.

Adalah sebuah aksara Mandarin 福 (dibaca Fú). Aksara ini berarti kebahagiaan, atau dapat juga diartikan sebagai berkat. Tapi, apakah kamu tahu bagaimana makna tersebut didapatkan? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu memecah aksara 福 Fú ke dalam empat komponen utamanya: 示 (shì), 一 (yī), 口 (kôu), dan田 (tían).

示 (shì): persembahan—ini menggambarkan doa untuk kesejahteraan seseorang
一 (yī): satu—ini menggambarkan satu keluarga
口 (kôu): mulut—ini menggambarkan seseorang
田 (tían): ladang—ini menggambarkan memiliki kebun dan hasil panen sendiri

Penjelasan ini senada dengan pepatah bahasa Mandarin yang berkata, “Adalah suatu berkat jika kita dapat makan.” Ini menunjukkan bahwa para leluhur di masa lalu menganggap berkat sebagai kondisi di mana setiap orang dalam keluarga terpenuhi kesejahteraan fisiknya.

Kamu mungkin setuju. Atau, mungkin juga kamu bertanya-tanya, “Apakah benar begitu? Apakah memiliki kekayaan materi adalah bukti bahwa seseorang sungguh-sungguh diberkati? Terlepas apapun jawabanmu, kamu mungkin juga setuju bahwa kekayaan materi dapat memberikan kepuasan—tapi hanya sementara. Lagipula, tidak ada yang abadi dalam dunia ini, dan segala yang kita miliki pun tidaklah kekal. Jadi, bagaimana buktinya kalau seseorang itu sungguh-sungguh diberkati?

Ada satu cerita lain di balik kata 福 Fú yang mungkin kamu tertarik untuk mendengarnya. Kata berkat di sini lebih mengacu kepada sesuatu yang jauh lebih berharga dan abadi ketimbang kekayaan materi. Dan, sama seperti cerita yang ditulis di awal tulisan ini, makna tersebut didapatkan dari makna yang terdapat pada masing-masing komponen aksara. Tapi, di sinilah perbedaannya:

示 (shì): penyembahan—ini menggambarkan penyembahan dan penyerahan kepada Tuhan Pencipta.
一 (yī) 口 (kôu): satu nafas—ini menggambarkan Tuhan memberikan nafas hidup kepada manusia pertama yang Dia ciptakan.
田 (tían): Taman—ini menggambarkan Taman Eden.

Sekarang, jika kamu menyatukan semua komponen tersebut menjadi aksara 福 Fú, inilah artinya: Adam menikmati relasi bersama Tuhan di taman Eden.

Bayangkanlah sebuah dunia yang sempurna di mana semua kebutuhanmu terpenuhi dan kamu punya relasi yang paling intim, lengkap, dan memuaskan dengan Seseorang yang tak akan pernah mengecewakanmu. Itulah gambaran kehidupan yang sempurna, yang Adam nikmati bersama Tuhan.

Dan kehidupan itu jugalah yang Tuhan berikan kepadamu. Maukah kamu memiliki kehidupan yang juga dipenuhi berkat [福(FÚ) – filled life]?

Kehidupan yang Diberkati

Apakah pernyataan ini sering kamu dengar? Jika kamu pernah membuka Alkitab, kamu mungkin ingat sebuah cerita dari kitab Kejadian (di pasal kedua) yang menceritakan bagaimana Tuhan menciptakan manusia pertama, Adam, dan menempatkannya di Taman Eden. Kejadian 2:15 mengatakan, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Nah, Taman Eden adalah tempat yang merefleksikan keindahan surga. Tiada rasa sedih, malu, dan dosa. Adam dan Hawa menikmati kehadiran Tuhan dan tinggal di Taman yang berlimpah akan pohon-pohon buah tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun. Tuhan memelihara mereka dan membebaskan mereka makan dari pohon mana pun. Namun, Tuhan melarang mereka makan dari satu pohon.

Bayangkanlah kehidupan seperti itu! Tidak ada kekhawatiran dan susah. Kehidupan yang sungguh-sungguh bahagia. Itulah yang 福 (Fú) gambarkan: sebuah relasi yang sempurna, memuaskan, dan intim antara Tuhan dan manusia yang berlangsung abadi.

Kehidupan yang terpisah

Tapi, seperti yang kamu tebak, kehidupan seperti itu tidak berlangsung lama. Singkat cerita, Adam dan Hawa tidak menaati Tuhan dengan memakan buah yang Tuhan larang untuk mereka makan.

Itulah tindakan pemberontakan terhadap Tuhan yang dilakukan dengan terang-terangan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, Adam dan Hawa merasa malu, khawatir, dan takut.

Dosa mereka mematahkan hati Tuhan. Tuhan yang benar dan kudus harus menghukum mereka karena dosa tersebut. Tidak hanya diusir dari Taman Eden, mereka pun harus menghadapi masalah dalam kehidupan mereka, kematian fisik, dan akhirnya—keterpisahan selamanya dari Tuhan.

Karena ketidaktaatan mereka, relasi sempurna yang sebelumnya dimiliki Tuhan dengan Adam dan Hawa pun hancur. Sejak saat it, setiap manusia yang pernah lahir pasti dicemari oleh dosa dan terpisah dari Tuhan.

Kehidupan yang dipulihkan

Puji syukur, kisah itu tidak berakhir di sana. Meskipun manusia menjadi semakin jahat, Tuhan tetap mengasihi kita dan Dia sendiri turun tangan untuk memulihkan relasi yang dulu pernah terjalin dengan-Nya. Cara-Nya sangat tidak terpikirkan! Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, ke dunia sebagai manusia.

Untuk menyelamatkan kita dari penghukuman karena dosa, Yesus mengambil rupa manusia dan datang ke dunia sekitar dua ribu tahun lalu. Yesus menghidupi kehidupan yang kudus dan tak bercela, dan Dia melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan—hidup sempurna tanpa dosa. Karena itu, Dia mampu menanggung hukuman untuk kita.

Yesus menggantikan kita untuk menanggung kematian yang memalukan, kejam, dan menyakitkan. Tapi, Dia tidak mati untuk seterusnya. Yesus bangkit dari kematian tiga hari setelahnya, dan akhirnya, Dia mengalahkan kematian untuk kita semua. Sekarang, jika kita percaya kepada Yesus, dosa kita diampuni dan hubungan kita dengan Tuhan akan kembali pulih.

Itulah cara untuk dapat merasakan makna kata 福 (Fú) yang sejati, sama seperti yang Adam dan Hawa lakukan di Taman Eden. Sebuah relasi yang sempurna, memuaskan, dan intim dengan Tuhan, yang terjalin untuk selamanya.

Maukah kamu memiliki kehidupan yang juga dipenuhi berkat [福(FÚ) – filled life]?

Kalau kamu merasa terberkati dengan artikel ini, jangan lupa bagikan ini kepada teman-temanmu.

Baca Juga:

Apakah Orang Kristen Tidak Boleh Kaya?

Komisi pemuda di gereja kami baru saja memulai pendalaman Alkitab tentang khotbah di bukit. Ketika kami sedang mencoba memahami maksud dari perkataan Yesus dalam Lukas 6:20, salah seorang pemuda bertanya, “Apakah ayat ini hendak mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh kaya?”

Bapa dan Lappy

Oleh Maria Felicia Budijono, Surakarta

Lappy, demikian aku menyebut laptopku. Benda ini sudah setia menemaniku selama lebih dari tujuh tahun. Aku ingat, pertama kali aku mendapatkan lappy adalah ketika aku sedang menyelesaikan skripsiku dulu. Setelah skripsiku selesai dan aku lulus kuliah, lappy masih setia menemaniku mengerjakan berbagai tugas dan pekerjaan yang harus kuselesaikan setiap harinya.

Selama masa itu, aku bersyukur karena lappy tidak pernah rusak. Tapi, belakangan ini lappy mulai lemot dan muncul beberapa masalah. Aku lalu meminta tolong adikku yang adalah seorang programmer untuk mencoba mencari tahu masalah di balik kondisi laptopku ini. Adikku mencoba meng-install ulang lappy. Tapi, tetap saja lemot-nya tidak berkurang dan ini cukup menggangguku untuk menyelesaikan pekerjaanku.

“Kak, sepertinya laptop ini benar-benar minta pensiun deh. Tapi, coba nanti aku periksa lagi,” kata adikku.

Hatiku terasa berat. Aku lalu berdoa pada Tuhan, “Apakah aku benar-benar membutuhkan laptop baru?” Aku masih berharap lappy akan kembali bekerja seperti sedia kala, atau setidaknya ia tetap bisa kugunakan meski kinerjanya lambat. Tapi, akhirnya lappy benar-benar rusak dan aku tidak dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaanku.

“Tuhan, bagaimana ini? Sepertinya aku benar-benar butuh laptop pengganti, tapi bujetnya dari mana? Caranya gimana?” Sambil berdoa, aku berpikir mencari-cari cara bagaimana nantinya aku bisa mendapatkan laptop baru di tengah kondisi keuanganku yang sedang terbatas.

Namun, hati kecilku berbisik, “Kalau memang Tuhan menghendaki, pasti ada jalan keluar.” Aku mengubah sedikit isi doaku, dari yang tadinya bertanya-tanya akan bagaimana caraku mendapatkan laptop baru menjadi doa yang berisikan penyerahan diri. Aku percaya apapun kelak jawaban Tuhan, itu adalah yang terbaik darinya.

Aku lalu menghampiri adikku dan memberitahunya kalau laptopku sudah tidak bisa digunakan. Aku sempat berpikir kalau nanti lappy kujual tukar tambah saja dengan laptop yang baru. Namun adikku menolak usulku itu.

“Kak, wah, parah itu. Udah nggak usah dipakai lappynya. Sudah faktor U (usia). Gini aja, aku ada laptop yang jarang aku pakai. Bentar aku lihat dulu dan perbaiki sedikit ya, nanti bawa saja dan pakai,” kata adikku.

Aku kaget. Hatiku meluap dengan ucapan syukur kepada Tuhan atas jawaban doa yang Dia berikan kepadaku. Tuhan mengetahui apa yang kubutuhkan. Tuhan tidak memberikanku laptop baru, tapi Dia memberikanku sebuah laptop lama yang dimiliki adikku, yang tentunya dapat kugunakan untuk mengerjakan pekerjaanku.

Peristiwa ini mengingatkanku akan bacaan saat teduh yang kurenungkan beberapa hari belakangan. Dalam buku pendalaman Alkitab pribadiku, terdapat bahan saat teduh yang terambil dari buku “Lady in Waiting”. Kubuka jurnalku, dan ternyata di sana aku pernah menuliskan sebuah kalimat: “Jika Allah mempedulikan kebutuhan-kebutuhanku secara fisik (makanan, minuman, barang, dll), dan kalau Allah juga sudah memenuhi kebutuhanku yang terbesar, yaitu KESELAMATAN melalui salib, mana mungkin Allah tidak memedulikan kebutuhan dan doaku yang lainnya?”

Aku punya beberapa pokok doa yang kunaikkan pada Tuhan. Selama aku mendoakannya, aku belajar untuk menanti jawaban dari-Nya dengan tetap mendekatkan diriku pada Tuhan. Aku pun belajar untuk teguh beriman bahwa apapun jawaban Tuhan atas setiap doaku, itu adalah jawaban yang sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Dan, apapun jawaban doaku kelak, itu adalah yang terbaik dan terindah yang Tuhan berikan.

Aku bersyukur, jawaban yang Tuhan berikan dari rusaknya lappy mengajariku untuk menghidupi dan mengalami ayat yang menjadi hafalanku beberapa hari belakangan ini:

“…Tidak ada telinga yang mendengar, dan tidak ada mata yang melihat seorang allah yang bertindak bagi orang yang menanti-nantikan dia; hanya Engkau yang berbuat demikian…”
(Yesaya 64:4).

Tuhan, Bapa kita, adalah Tuhan yang selalu peduli akan setiap detail kehidupan kita. Biarlah iman kita semasa kita menantikan jawaban doa dari-Nya menjadi suatu hal yang menyenangkan hati Tuhan.

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

3 Hal yang Dilakukan Orang Majus untuk Menyambut Yesus. Sudahkah Kita Juga Melakukannya?

Jika bicara tentang orang Majus, mungkin ada sebagian orang yang berdebat mengenai kapan waktu pasti kedatangan mereka. Tapi, terlepas dari kapan waktu kedatangannya, ada tiga hal menarik dari orang Majus yang bisa kita renungkan.