Posts

Belajar Mempercayai Tuhan Lebih Daripada Aku Mempercayai Nilai Tabunganku

Oleh Mikaila Bisson
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Trust God with Your Finance

Sepanjang hidupku, aku sudah dilatih untuk mengelola uang dengan baik. Saat sekolah, orang tuaku memulainya dengan membuatkanku rekening bank, dan setiap uang yang kuperoleh dari pekerjaan sambilan akan langsung masuk ke sana.

“Kamu menabung untuk keadaan darurat,” kata mereka—yang tentu saja tidak masuk akal bagiku saat itu. Namun, sekarang ceritanya telah berbeda.

Beberapa bulan lalu, pergelangan kakiku patah saat bermain outdoor game bersama teman-temanku. Akibatnya, aku harus dioperasi dan proses pemulihan yang cukup panjang harus kujalani. Kecelakaan itu tidak pernah kurencanakan, tapi ketika itu terjadi aku harus mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Barulah sekarang aku paham mengapa menabung untuk dana darurat itu penting. Ketika aku belajar mempercayakan keuanganku kepada Tuhan, rasanya cara pandangku tentang keuangan berubah menjadi lebih baik karena aku melihatnya dari tempat yang tepat.

Dalam Amsal 3:5, kita diperintahkan untuk, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Mempercayai itu sulit, terutama untuk sesuatu yang begitu nyata dan penting seperti uang. Bagaimana kita bisa mempercayakan cicilan rumah, mobil, dan kesehatan kita kepada seseorang yang tidak dapat kita lihat? Bagaimana bisa, jika kita seorang Kristen, mempercayakan keuangan kita pada Tuhan, tapi tetap menabung dan menyiapkan uang untuk hal-hal tak terduga?

Ketika aku harus membayar biaya pengobatan dari kecelakaan yang tak kurencanakan, aku takut dan sedih. Namun, barulah ketika aku pelan-pelan mencerna semua perasaan itu, aku jadi lebih memahami apa artinya mempercayakan keuanganku kepada Tuhan.

Meskipun Alkitab tidak memberikan pedoman khusus tentang bagaimana menyusun anggaran bulanan atau portofolio keuangan kita, Alkitab memberikan bimbingan pada bagaimana kita harus bersikap terhadap uang, terkhusus pada perasaan takut akan kehilangannya.

Mempercayai Tuhan dengan keuangan kita seperti… percaya Dia menyediakan untuk kita–tak melulu uang.

Reaksi pertamaku ketika melihat tagihan tak terduga adalah takut. Lupakan fakta bahwa aku baru sembuh dari patah tulang, aku menangis karena tagihannya mahal. Asuransiku tidak sepenuhnya meng-cover tagihan, dan aku khawatir aku tidak akan pernah mendapatkan kembali tabungan yang telah kukumpulkan dengan susah payah.

Namun, Yesus berkata dalam Matius 6:25-26,

“… Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga.”

Burung-burung pun Tuhan pelihara, tentulah Dia juga memelihara kita.

Tuhanlah yang memampukanku mengumpulkan tabungan untuk kecelakaan ini—bahkan ketika aku kesulitan meraihnya di masa itu. Tuhan juga merawatku dengan cara lain. Dia membantuku menemukan konselor di kotaku yang baru beberapa minggu sebelum aku putus dengan pacarku, memberiku para sahabat yang menolongku melewati masa-masa sulit, dan segala sesuatu lainnya.

Saat aku belajar mengenal karakter-Nya, Tuhan juga menunjukkanku cara pemeliharaan-Nya. Semua ini menunjukkanku bahwa Tuhan menginginkan yang terbaik bagiku dan rencana-Nya lebih besar daripada yang kutahu. Tuhan menunjukkan kesetiaan-Nya terus-menerus. Ketika iman percayaku memudar pada masa-masa tertentu, mengingat bagaimana Dia memeliharaku menolongku untuk tetap kuat. Dia memegang kendali dan selalu layak dipercaya.

Mempercayakan keuangan kita kepada Tuhan ibarat… menemukan sukacita di tengah kekhawatiran

Namun sesungguhnya, aku masih khawatir meskipun aku tahu Tuhan telah menjanjikan bahwa Dia pasti memelihara. Aku tetaplah manusia. Ketakutanku terkadang begitu melemahkan, sehingga aku harus mencari pertolongan pada konselorku, teman yang kupercaya, atau orang tuaku. Sementara itu, berkali-kali aku menangis karena takut akan masa depan, aku juga menangis meratap.

Aku selalu diberitahu bahwa tidak apa-apa berduka atas kehilangan, dan bagiku, kehilangan tabungan adalah kerugian yang sangat besar. Tapi Yesus berkata dalam Mazmur 34:18, “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

Sementara aku berduka karena kehilangan tabunganku, Tuhan dekat denganku.

Dia bekerja untuk menunjukkanku seluruh hal-hal berbeda yang dapat membawa sukacita padaku: keluarga yang akan merawatku saat aku membutuhkan mereka, seorang dokter yang membuat jadwal operasiku lebih cepat dari yang diharapkan, dan tubuh sehat yang memungkinkanku pulih dengan cepat.

Tabunganku memang penting bagiku, tapi yang lebih penting adalah cara Tuhan yang sederhana namun sangat penting bekerja untuk kebaikanku—dan membantuku menemukan sukacita!—tepat di depan mataku.

Seiring aku terus berupaya memperbaiki kondisi keuanganku, mempercayai Tuhan masihla menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika aku memahami dan mengenali sumber perasaan takutku dan bagaimana Alkitab menolongku memprosesnya, kekhawatiranku akan kehilangan uang pun memudar.

Ketika dulu aku mengandalkan diriku sendiri supaya hidup berkecukupan, sekarang aku telah meraih pandangan baru yang memampukanku untuk lebih mempercayai pemeliharaan Tuhan buatku, meskipun cara-Nya tidak selalu seperti yang kuharapkan.

Di Mana Tuhan Ketika Aku Terpuruk Karena Menganggur?

Oleh Mikaila Bisson
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Where Was God in My Job-Hunting Struggles?

Tahun pertama setelah lulus kuliah, aku pernah magang dan mengambil pekerjaan sementara di kampus almamaterku. Pekerjaan ini memang sesuai rencanaku. Kupikir sebelum aku benar-benar memasuki dunia kerja, aku perlu menyesuaikan diri. Setelah kontrakku berakhir, aku makin tertantang untuk menemukan pekerjaan tetap. Saat itulah aku mulai sungguh-sungguh berdoa agar Tuhan membantuku menemukan pekerjaan tetap yang tepat.

Namun, setelah berbulan-bulan, aku masih menganggur, dan akhirnya pulang ke rumah orang tuaku—sesuatu yang aku janjikan tidak akan pernah kulakukan. Setiap hari aku mengirim lamaran tak peduli apa pun posisinya. Ketika ada perusahaan yang mengundangku wawancara, kebanyakan prosesnya tidak berjalan baik. Ada yang lebih memilih kandidat lain, atau tiba-tiba malah posisi yang kulamar hilang.

Akhirnya, aku mengambil langkah besar. Kutarik tabunganku dan pindah ke kota lain yang kuyakin di sana kesempatanku untuk mendapat kerja lebih besar.

Bulan demi bulan berlalu, saldo rekeningku kian menyusut… dan tidak ada tawaran pekerjaan yang datang. Aku kehilangan harapan untuk percaya kalau Tuhan akan memberikan apa yang sangat kubutuhkan—pekerjaan. Akhirnya, ketika tabunganku makin menipis, aku tenggelam dalam depresi. Di mana Tuhanku sekarang? Tidak bisakah Dia melihat aku menderita dan memanggil-Nya setiap jam?

Sebisa mungkin aku ingin mengatakan bahwa titik terendah ini membawaku lebih dekat kepada Tuhan, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Aku marah kepada Tuhan mulai dari aku bangun sampai kembali tidur. Aku berharap Dia menjagaku, atau setidaknya mendengarkanku… namun, setiap hari yang kudengar hanyalah jawaban “tidak”, atau keheningan yang lebih memekakkan telinga.

Berjalan dengan Tuhan dalam Kemarahan

Gereja dan imanku adalah satu-satunya yang tetap dalam hidupku. Sesulit apa pun kondisiku, terkadang dengan pergi ke gereja—terutama ketika khotbah tentang “panggilan” membuatku berjuang melawan air mata dan kekecewaan—aku masih dapat belajar sesuatu tentang Tuhan dan diriku sendiri di setiap ibadah Minggu.

Masa-masa prapaskah yang jatuh di bulan Februari (periode dalam kalender Kristen yang kusukai) secara istimewa sungguh membuka mataku. Momen-momen refleksi selama masa prapaskah memberiku ruang di tengah kemarahanku untuk berjalan bersama Tuhan. Aku menulis jurnal, mengikuti ibadah-ibadah, dan merenung. Aku mulai melihat betapa Tuhan telah memberkatiku. Mungkin aku memang belum mendapat pekerjaan, tapi Dia memeliharaku dengan memberiku support-system yang baik. Tuhan memberiku rumah untuk ditinggali, dan sebenarnya aku pun diberi-Nya rencana cadangan. Meski aku masih belum dapat kerja, orang tuaku tetap akan dengan senang hati menyambutku jika aku memutuskan untuk pulang.

Selama masa prapaskah ini aku terus memproses amarahku, hingga aku menemukan kisah Alkitab yang memberiku perspektif baru tentang pemeliharaan Tuhan.

Dalam Yohanes 11:1-16, Yesus tahu bahwa sahabat-Nya, Lazarus, sedang sakit parah. Dari interaksi mereka sebelumnya, kita tahu bahwa Yesus, Maria, Marta, dan Lazarus adalah teman. Tetapi ketika Maria dan Marta memanggil-Nya, Yesus malah menetap di tempat Dia berada dua hari lagi sebelum kembali ke Yudea. Dua hari lagi? Apa yang Yesus pikirkan? Teman baiknya sangat membutuhkan kuasa penyembuhan-Nya, namun Dia memilih untuk tinggal di Yudea sementara penyakit Lazarus berakhir fatal.

Melihat Kemuliaan Tuhan

Kisah itu selalu membuatku bingung. Mengapa Yesus tidak segera datang menemui sahabat-sahabat-Nya? Tetapi setelah membaca buku Waiting: A Bible Study on Patience, Hope, and Trust dari Sharla Fritz, aku mendapatkan perspektif yang lebih jelas tentang mengapa Yesus melakukan apa yang Dia lakukan.

Dalam Yohanes 11:5-6, kita membaca:

“Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada.”

Jadi, satu kata itu mengubah segalanya. Karena Yesus mengasihi orang-orang ini, Dia tinggal di tempat Dia berada.

Kemudian pada bagian berikutnya, kita membaca:

“Jawab Yesus: ”Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” … berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh.” (Yohanes 11:40-44)

Mengapa Yesus tetap tinggal di tempat Dia berada? Untuk menunjukkan kebesaran kemuliaan-Nya dalam situasi ini, dengan membangkitkan Lazarus setelah empat hari dari kematiannya. Untuk menunjukkan bahwa meskipun semua tampak hilang, Dia dapat melakukan hal yang mustahil, dan Dia adalah pribadi yang layak kita percayai. Untuk mengingatkan kita bahwa Dia bertindak menurut gambaran besar yang tidak dapat kita lihat, atau bahkan bayangkan.

Bahkan Jika Kita Tidak Mengerti

Ketika aku terus memikirkan hal ini, aku menyadari bahwa Tuhan tidak berutang pekerjaan kepadaku. Alih-alih menuntut-Nya memberiku satu hal menurut rencana yang telah kubuat, aku bisa berbagi keinginan, frustrasi, dan doa-doa dengan-Nya, dan menyerahkan jawabannya pada rencana gambaran-Nya yang besar. Syukurlah, rencana besar-Nya buatku mencakup bagaimana dan di mana aku akan meraih pekerjaan tetap. Tuhan memberiku pekerjaan luar biasa pada sebuah lembaga pelayanan yang memberiku kesempatan untuk menumbuhkan skill profesional, juga imanku, lebih daripada apa yang kubayangkan.

Tuhan layak mendapatkan kepercayaan kita karena Dia selalu melakukan yang terbaik. Dalam situasi Maria dan Marta, yang terbaik yang Yesus lakukan adalah saudara laki-laki mereka dibangkitkan dari kematian dan tindakan ini menunjukkan dahsyatnya apa yang dapat Tuhan lakukan. Pada titik ini, aku belum mengerti mengapa menganggur dan susah payah mencari kerja adalah yang terbaik buatku. Meskipun pada akhirnya masa-masa penantian itu membangun imanku pada Tuhan dan rencana-Nya, aku masih tidak yakin bagaimana hal itu akan menunjukkan kemuliaan-Nya di masa depan. Tetapi meskipun aku tidak mengerti, aku tahu sekarang bahwa aku selalu dapat mempercayai Dia untuk memeliharaku—meskipun itu mungkin tidak terlihat seperti yang kuinginkan.

Meskipun aku masih merasa bahwa pengalamanku itu sedikit getir, aku tahu Yesus akan menyambutku. Dia akan merengkuhku, juga seluruh rasa bingung dan kecewaku, sebagaimana Dia menangis bersama Maria dan Marta karena kehilangan Lazarus, meskipun Dia tahu bahwa Lazarus kelak akan dibangkitkan-Nya.

Aku Ditipu dan Kehilangan Uang, Tapi Tuhan Pelihara

Oleh Sheena
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I Lost A Huge Sum Of Money, But God Looked After Me

Di awal 2021, aku harus keluar kerja di tengah pandemi karena papaku memintaku pulang untuk menolongnya mengurus masalah keluarga. Padahal saat itu aku sudah bekerja selama lima tahun dan baru saja naik jabatan dan mendapat kenaikan gaji.

Aku tak bisa membayangkan bagaimana aku bisa mendapatkan pekerjaan baru dan kapan bisa kembali ke kota perantauanku, belum lagi ditambah bagaimana aku harus membayar semua tagihan. Namun, di titik itu aku harus memilih antara karier atau papaku. Meskipun berat, aku memutuskan untuk menaati papaku dan pulang ke kampung halaman.

Bulan-bulan setelahnya, masalah keluarga mulai terurai dan aku punya waktu untukku sendiri. Barulah aku mulai mencari-cari kerja secara online. Aku ingin pekerjaan yang menjanjikan dari segi gaji, tapi juga bisa dilakukan dari rumah supaya aku bisa menemani papaku. Jadi, ketika ada satu lowongan yang tugasnya adalah meningkatkan penjualan untuk sebuah lapak digital, aku pun berniat melamar ke situ. Tapi, sebelum mengirim semua berkasku, aku mencari tahu dulu tentang perusahaan ini. Semuanya tampak meyakinkan.

Namun… rupanya itu perusahaan bodong yang tujuan utamanya adalah menipu. Bukannya mendapat kerja, aku malah kehilangan uang dalam jumlah besar yang akhirnya membuatku berutang kepada teman-teman dekatku. Aku pun perlu menjelaskan kondisiku ini kepada mereka satu per satu.

Kesialan ini turut mengguncang relasiku dengan pacarku. Dialah yang pertama kali menolongku meminjamkan uang. Dia percaya aku bisa meraih kembali uangku yang hilang. Kami memang berusaha apa yang kami bisa–melapor ke polisi dan menceritakan semua detail kejadiannya. Bersyukurnya, meskipun aku merasa bersalah pada pacarku, kami mampu mendiskusikannya dengan kepala dingin dan menyerahkan prosesnya kepada Tuhan karena segala yang kami bisa telah kami lakukan.

Sembari proses penyelidikan berjalan, aku terjebak dalam depresi. Aku rasa aku bisa mengampuni semua orang yang terlibat dalam kejadian penipuan ini—para penipu, teman-teman yang menghilang saat aku susah, pembimbing rohaniku yang lebih peduli akan pacarku—tapi aku tak bisa mengampuni diriku sendiri.

Pikiran-pikiran negatif mulai memenuhi otakku—”Gak bakal ada orang yang mengasihiku lagi”; “Aku lebih baik mati bunuh diri supaya orang-orang di sekitarku bahagia”; “Aku gak berharga”. Aku tahu semua pikiran negatif ini tidak menolong, tapi aku tak tahu bagaimana menyingkirkannya.

Beberapa minggu sebelum retret gereja, aku meminta bantuan kepada gerejaku untuk menolongku mengatasi rasa depresiku. Sepuluh tahun lalu aku pernah mengikuti konseling untuk masalah lain, dan sekarang pun kutahu aku tak bisa menuntaskan masalahku sendirian. Semua kejadian getir ini mempengaruhi tak cuma diriku sendiri, tapi juga relasiku dan juga kinerjaku sebagai panitia dalam acara retret.

Dengan pertolongan konselor, aku mengenali pikiran-pikiran negatif ini datangnya dari Iblis, bapa segala dusta (Yohanes 8:44). Semua pikiran negatif membentuk “benteng” dalam pikiranku yang menghalangiku dari meraih pengampunan Allah. Aku harus merobohkan benteng itu dengan “menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Artinya, aku belajar untuk menjadikan firman dan janji-Nya untuk melawan semua pikiran negatif. Ketika aku merasa khawatir atau tidak layak, Dia mengingatkanku bahwa Dia memegang tanganku, serta menolongku (Yesaya 41:13). Allah mengasihiku dan dengan setia berada di dekatku (Mazmur 117:2). Dia melihat pergumulanku, merasakannya, dan tetap menopangku (Mazmur 55:22).

Di akhir sesi konseling, aku mengikuti doa yang diucapkan konselorku untuk mengampuni diriku sendiri.

Perjalanan pemulihan ini berlanjut. Di sesi retret, aku diingatkan lagi bahwa aku tak dilupakan dan Allah besertaku apa pun situasiku. Saat aku membuka telingaku untuk mendengar-Nya, Dia membuka tangannya untuk memelukku kembali.

Suatu ketika, aku melewati toko bunga dan dalam pikiranku muncul gambar akan sebuah bunga yang ditutupi oleh semacam kubah. Gambaran itu mengingatkanku akan bagaimana Tuhan melindungiku melalui kasus penipuan ini. Tuhan mengirim teman-temanku untuk mengingatkanku, dan ketika yang terburuk terjadi, Dia memastikan aku tetap bisa keluar dari jeratan dosa itu.

Tuhan mengizinkanku untuk melihat bahwa uang bukanlah segalanya, bahkan ketika Dia menyediakanku uang yang cukup untuk membayar semua utangku dalam dua tahun.

Tuhan memberiku pemahaman baru akan ayat yang sudah sering kita baca, “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11).

Dulu aku berpikir bahwa rencana yang Tuhan sudah siapkan buatku itu pasti termasuk karier dan arahan hidup, tapi sekarang Tuhan menunjukkanku bahwa “rancangan damai sejahtera” tidak berarti hidup berkelebihan dalam uang, tapi Dia akan memenuhi kita secara rohani dengan menarik kita mendekat pada-Nya supaya kita dapat sepenuhnya bergantung pada-Nya.

Meskipun aku berada dalam terowongan gelap, Dia ada di sana. Dia menggunakan momen-momen kegelapan untuk menenangkan dan menunjukkanku akan kesetiaan-Nya setiap waktu, meskipun hidupku terasa sangat kacau.

Hari ini aku dapat bersaksi akan kebaikan dan kasih-Nya buatku. Dia telah membuka pintu untukku kembali pada kota perantauanku dan memberiku pekerjaan yang memberiku lebih daripada apa yang kubutuhkan. Sekarang aku bisa menabung uang yang cukup supaya aku bisa melunasi semua utangku dalam dua tahun ke depan.

Kasih dan rezeki dari Tuhan datang padaku dalam berbagai cara:

  • Seorang temanku menolongku dari waktu ke waktu dengan memberiku pinjaman. Aku dapat melunasinya dalam lima tahun. Teman yang lain membelikanku makanan dan memberiku barang-barang yang menolongku untuk melewati masa-masa sulit.
  • Orang tuaku ikut menolong dengan cara-cara sederhana. Mereka memberiku hal-hal kecil meskipun aku tidak memintanya.
  • Pacarku tetap bersamaku meskipun kesalahan besar telah kubuat. Dia telah melamarku dan kami sedang mempersiapkan pernikahan kami.

Seiring aku menjumpai Tuhan dan meluangkan waktuku bersama-Nya, mengizinkan Dia untuk menunjukkan kebenaran kasih dan anugerah-Nya, aku telah belajar untuk lebih mendengar suara-Nya daripada suaraku sendiri atau bahkan suara Iblis.

Jika kamu saat ini sedang berada di dalam lembah kekelaman dan merasa tak ada seorang pun di sisimu, ketahuilah kamu tidak sendirian. Tuhan ada bersamamu, memedulikanmu. Kamu mungkin merasa tak berharga, tapi Dia mengatakan kamu berharga. Kamu merasa tak seorang pun mengertimu, tapi Dia mengerti.

Tuhan selalu menantimu untuk kembali pada-Nya tak peduli seberapa jauh kamu berlari. Raihlah kelegaan sejati dengan kembali berpaling pada-Nya.

Sembuh Tapi Tidak Sembuh, Tidak Sembuh Tapi Sembuh

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Empat tahun yang lalu, aku dan seorang teman dokter melakukan pelayanan di sebuah rumah tahanan (rutan). Setelah aku berkhotbah, kami mengadakan pengobatan gratis untuk semua tahanan berikut para sipir yang ada di sana. Kami lalu mendapatkan informasi bahwa ada seorang tahanan yang bukan orang Kristen yang menderita kusta dan tidak lagi bergaul dengan semua orang di rutan. Dia juga tidak lagi datang ke tempat ibadahnya.

Segera kami mengunjungi orang itu. Kami cukup kaget karena dia tidak bersedia memperlihatkan kondisi tubuhnya. Seluruh tubuhnya dia tutupi dengan kain tipis berwarna agak gelap, hanya menyisakan satu lubang sebesar mata supaya dia tetap bisa memandang kami saat bercakap-cakap. Mungkin dia malu, atau mungkin juga tidak ingin kami terjangkit. Namun, satu yang pasti adalah dia tidak bahagia dengan kondisi tubuhnya, apalagi dia berada di tengah-tengah kelompok yang menjauhinya karena tidak tahu banyak fakta-fakta tentang penyakit kusta. Sejujurnya, saat aku memandangnya aku sangat berharap mukjizat terjadi, tetapi setelah beberapa waktu berselang Tuhan berkata lain. Teman kami, seorang tahanan yang sakit kusta itu telah meninggal.

Pengalamanku melayani di rutan itu membuatku menyadari bahwa setiap orang haus akan relasi. Kita ingin diterima, kita memerlukan sentuhan, kita ingin sehat, pun kita ingin meraih banyak hal dalam hidup. Penyakit telah membatasi banyak hal dari kita. Setiap kali aku mengingat teman kami yang menderita kusta itu, timbul banyak pertanyaan dalam hati. Bagaimana rasanya menghabiskan waktu di sebuah ruangan sempit dan gelap sehari-harian? Bagaimana rasanya tertolak dan sendirian? Setelah teman dokter memberikan petunjuk medis untuknya, aku hanya bisa mendoakannya.

Penyakit kusta bukanlah penyakit baru. Dua ribu tahun lalu, Yesus menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem. Dia menghadapi sepuluh orang kusta dan mereka semua berseru senada, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” (Lukas 7:11).

Ada banyak hal yang bisa kita telaah dari kisah itu, tetapi ringkasnya, kesepuluh orang kusta itu menderita lahir dan batin. Kusta telah memisahkan mereka dari komunitas, dari masyarakat dan keluarga. Mereka dipandang sebagai orang yang terkena “kutuk” dari Tuhan. Lalu, karena orang pada masa itu percaya bahwa kusta tidak bisa disembuhkan oleh pengobatan medis, maka teriakan mereka pada Yesus tentu berasal dari hati yang benar-benar hancur.

Kusta yang tertulis di sini bukanlah sekadar tentang sakit akan kulit yang meleleh, tetapi juga relasi yang porak-poranda.

Tidak mengejutkan bagi kita karena Yesus dengan kuasa-Nya tergerak dan menyembuhkan sepuluh orang itu dari sakit kustanya. Tapi, hanya satu yang kembali pada-Nya dan memuliakan Allah. Ada banyak hal yang bisa dijelaskan pada bagian ini, tetapi yang paling ingin aku tekankan adalah bahwa meskipun sepuluh orang telah sembuh, hanya satu orang yang kembali. Satu orang ini adalah orang Samaria yang dianggap remeh oleh orang Yahudi. Kepada orang inilah Yesus berkata, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Lukas 17:19).

***

Mari kembali sejenak ke ceritaku di awal tulisan ini yang terjadi empat tahun lalu dan kita coba sedikit menduga-duga. Jika mukjizat terjadi setelah kami berkunjung dan mendoakan teman yang sakit kusta itu, apa yang akan terjadi? Mungkin kamu akan berkata, “nama Tuhan Yesus dimuliakan.” Tetapi, sayang sekali. Fakta dua ribu tahun lalu memberikan kita informasi yang mengecewakan. Yesus bahkan mempertanyakan sembilan orang yang tidak kembali (ayat 17), dan di sinilah letak krusialnya. Jika kamu dan aku percaya bahwa Yesus bisa membuat mukjizat (secara khusus kesembuhan fisik), orang-orang Farisi dan Saduki yang membencinya juga tahu itu, bahkan Iblis pun tahu.

Kisah tentang mukjizat kesembuhan bagi orang kusta itu tidak hanya bicara tentang kesembuhan tubuh mereka, tetapi bicara tentang iman kepada apa yang tidak bisa dibalas oleh manusia kepada Allah yaitu kasih karunia. Ini tentang keselamatan yang tidak bisa dibayar dengan apa pun selain belas kasih Allah dalam darah Kristus yang mengalir pada salib kasar itu.

Yesus Kristus Tuhan kita bukan sekadar penyembuh kusta, kanker, buta, lumpuh, AIDS, dan berbagai penyakit fisik mengerikan lainnya. Dia adalah penyembuh dari penyakit yang jauh lebih mengerikan daripada itu, penyakit yang telah membuat perselisihan antara ibu dan anak, pertikaian antar suku, peperangan antar bangsa, penyakit yang menghancurkan relasi antara Allah dengan manusia, yaitu dosa.

Ketika Yesus menyembuhkan berbagai macam penyakit fisik, Dia berfirman, tetapi untuk menyembuhkan orang dari dosa, Dia berkorban. Dia tergantung di salib dengan kesakitan dan menanggung malu sampai mati-Nya bukan hanya untuk menyembuhkan “kustamu dan kustaku yang bisa Dia selesaikan dengan berfirman. Dia terpaku di sana dan disiksa bagaikan seorang perampok untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan kekal.

Apabila seseorang bisa sembuh dari penyakit fisiknya tetapi malah tidak sembuh dari penyakit yang mendatangkan kebinasaan roh, itu adalah sukacita semu. Ketika seseorang mungkin saja tidak sembuh dari penyakit fisiknya tetapi telah sembuh dari penyakit dosanya dan terus memuliakan Allah, itulah sukacita sejati. Jika Allah menyembuhkan penyakit di tubuh kita, entah itu melalui pengobatan, terapi, atau mukjizat, maka terpujilah Dia. Tetapi, jika Dia tidak menyembuhkan sakit fisikmu, Dia pasti menemanimu. Teruslah memuji Dia, karena jaminan keselamatan yang Dia tawarkan adalah sesuatu hal yang jauh lebih berharga.

Aku tahu mengatakan ini terasa mudah dibandingkan mengalaminya, tetapi jika saat ini kamu sedang terbaring sakit di rumah sakit, atau sedang merasa tak berdaya, muliakanlah Allah. Jika Allah menyembuhkanmu, muliakanlah Dia. Jika tidak, terpujilah Dia. Jika seseorang yang kamu kasihi menderita penyakit yang pada akhirnya akan atau telah merenggut nyawanya, ingatlah Tuhan kita, Yesus Kristus di atas salib itu.

Percayalah kepada-Nya yang telah berkata, “imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Waktu Badai Kelam Datang, Ingatlah Bahwa Itu Pasti Akan Berakhir

Oleh Sofia Dorkas Pakpahan, Medan

“Si ambis”

Julukan itu disematkan buatku. Akar katanya berasal dari “ambisi”, yang artinya keinginan yang besar untuk memperoleh sesuatu. Aku tidak menolak julukan itu karena memang teman-teman mengenalku sebagai sosok mahasiswa yang giat belajar agar proses perkuliahanku dapat berjalan maksimal. Tapi… julukan itu menjadi beban buatku. Mereka sering mengandalkanku dalam urusan akademik karena dianggap pintar dan aku pun berusaha keras supaya julukan si ‘ambis’ yang mereka sematkan itu memang mengantarku pada nilai terbaik.

Namun, di akhir masa kuliah rupanya ekpektasiku tidak sesuai dengan realita. Nilai-nilai di tiap mata kuliah tidak sesuai harapanku. Malahan, teman-teman yang kupikir nilainya akan lebih rendah dariku malah meraih lebih baik. Aku pun berkecil hati. Rasanya julukan ‘si ambis’ tidak pantas kudapatkan karena hasil yang kuterima tidaklah maksimal.

Perasaan gagal dan kecewa memenuhi pikiranku dan aku kehilangan mood untuk beraktivitas. Suatu ketika, saat aku sedang berdiam diri di rumah, hujan turun dengan derasnya membuat mood-ku makin tidak bagus. Aku bergumam kesal. Ketika malam tiba, aku diam saja di kamar.

“Tok…tok,” suara pintu diketuk.

Ibuku masuk ke dalam kamarku dan mengajakku keluar rumah. Sebenarnya aku enggan keluar kamar, tapi supaya tidak memperpanjang percakapan aku menyetujuinya.

Di halam rumah, ibu mengajakku bercerita. “Nak, coba kamu lihat ke atas, apa yang kamu lihat?”

Aku tak tahu mau menjawab apa sebab langit malam itu tidak ada bedanya dengan langit di hari-hari yang lalu. Langit ya tetap langit, aku membatin. “Biasa saja, tidak ada yang istimewa,” jawabku.

Ibuku tersenyum dan menanggapiku dengan pertanyaan lagi. “Coba kamu lihat, ada bulan dan banyak bintang. Apa kamu tahu mengapa mereka jadi kelihatan sangat indah?”

Aku menggeleng.

“Karena langitnya gelap, Nak. Apa kamu sadar, bulan dan bintang memerlukan langit yang gelap agar sinarnya tampak? Dan dengan begitu mereka akan jadi terlihat sangat indah di langit malam.”

Aku agak terkejut. Aku tak pernah memikirkan benda-benda langit dengan sesentimentil itu. Ibuku masih belum berhenti bercerita, dia kembali berkata, “Sama seperti hujan yang turun sore tadi, jika kamu menunggu sebentar maka kamu akan lihat pelangi yang indah sehabis hujan turun. Apa kamu tahu kenapa pelangi itu sangat indah? Karena ia muncul dengan aneka warna di atas langit yang berwarna kelam kelabu. Bulan di langit malam dan pelangi sehabis hujan itu sama seperti kehidupan kita, Nak.”

Aku tak menanggapi ucapan-ucapan ibu. Aku tertegun, lalu teringat akan hal-hal yang membuatku sedih: perasaan gagalku. Saat kurenungkan lebih dalam, sebenarnya kegagalan yang kualami adalah hal alami yang terjadi dalam hidup. Yang namanya hidup pastilah ada kegagalan. Jika tidak pernah gagal maka aku tidak akan pernah maju. Lagipula, Tuhan sendiri pun telah berjanji bahwa sekalipun kita mengalami kegagalan atau hal-hal berat dalam hidup, Dia tidak akan meninggalkan kita. Tuhan selalu ada untuk menolong dan menopang kita agar kita selalu bangkit bersama-Nya (Mazmur 37:23-24).

Percakapan dengan ibuku pelan-pelan melembutkan hatiku dan menggantikan awan kelam dalam pikiranku dengan seberkas cahaya. Kegagalan dan kesulitan sering terasa seperti penderitaan yang tidak akan ada habisnya. Kehadirannya pun ibarat hujan lebat yang tak peduli akan turun di tanah mana. Namun, hujan tak selamanya turun. Ada waktunya untuk berhenti. Ada pelangi sehabis hujan, seperti lirik lagu yang tak asing kita dengar: seperti pelangi sehabis hujan, itulah janji setia-Mu Tuhan. Kadang memang dibutuhkan ‘kegelapan’ ataupun ‘badai’ agar kita bisa bersinar dan melihat pelangi.

Nilai-nilai yang kuraih bukanlah acuan untuk menunjukkan bahwa aku seorang yang pintar atau tidak, juga bukan penentu mutlak akan kesuksesanku di masa depan. Namun, bukan berarti itu semua tidak penting dan kita bisa menjalani studi asal-asalan. Prestasi akademik adalah buah dari perjuangan kita dan seharusnya kita bangga dan bersyukur apabila kita berjuang dengan sungguh-sungguh, bukannya kecil hati dan mengerdilkan segala usaha kita.

Sifat rajinku juga mungkin kepintaran yang orang-orang lain sering sematkan padaku adalah anugerah dari Tuhan yang seharusnya tidak membuatku tinggi hati dan menganggap rendah orang lain atau mengharapkan mereka memperoleh hasil yang lebih jelek dariku.

Kegagalan dan perenunganku menatap benda-benda langit malam itu membukakan wawasan imanku yang baru sekaligus meneguhkanku bahwa segala kelebihan dan kekuranganku adalah hal baik yang Tuhan berikan dalam hidupku dan aku dipanggil-Nya untuk memberitakan Injil, menyebarkan berkat Tuhan bagi orang lain dalam hidup sehari-hari.

Meskipun prestasi akademikku tidak sesuai harapanku, ini bukanlah akhir hidupku. Aku dapat belajar lebih rendah hati menerimanya sembari melakukan evaluasi diri untuk memperbaiki apa yang salah dalam diriku. Meraih nilai terbaik akan kulakukan bukan sebagai ajang untuk pamer atau memenuhi ambisi diriku semata, tetapi sebagai wujud syukurku memaksimalkan kesempatan studi yang Tuhan izinkan buatku.

Dalam sukses ataupun gagal, Tuhan senantiasa menolong dan menyertai kita. Kita tidak sendirian, kita selalu bisa memilih untuk bangkit bersama Tuhan.

Hujan Berkat-Mu, Itu yang Kami Perlu

Oleh Desy Dina Vianney, Medan

Aku berlari kecil menuju halte di pinggir jalan, persis di depan gedung kantorku. Telapak tangan kugunakan menutupi kepala meski tidak terlalu berhasil melindungi kepalaku dari hujan. Akhirnya kujejakkan kaki di lantai halte, kukibas-kibaskan seragam kerjaku yang lumayan basah. Hujan sudah mengguyur kota ini sejak pagi, matahari entah kemana sepanjang hari. Aku melangkah, bergeser menghindari percikan air yang menetes dari atap halte. Beberapa saat bus yang kutunggu tampak di antara padatnya lalu lintas, orang-orang berdiri bersiap, berkerumun di tangga kenaikan. Kuperbaiki posisi masker yang kukenakan, satu menit kemudian aku sudah duduk di bangku bus.

Aku menyandarkan punggung, meluruskan kaki, dan mengecek ponsel. Sebuah notifikasi membawaku ke laman akun media sosialku, kugulir layarnya dan mulai tenggelam dalam berita-berita dan unggahan-unggahan di sana. Aku menggesernya sembarang, dan berhenti di unggahan foto milik salah satu akun berita. Aku bukan orang yang hobi membaca berita di koran atau sebagainya jadi jariku hampir menggeser layar lagi ke unggahan berikutnya setelah tidak sengaja kubaca judul dari berita tersebut. “Kekeringan Parah di Sejumlah Wilayah, Warga Mengalami Krisis Air untuk Bertahan Hidup”.

Aku tertegun, kubaca cepat isi berita itu. Aku cukup mengetahui beberapa wilayah yang disebutkan di sana. Aku menghela napas pelan lalu menghembuskannya, menyisakan titik-titik embun di kacamataku. Aku melepasnya, lalu memandang keluar jendela. Titik-titik hujan pun ada di sana. Hujan masih belum memberi tanda-tanda akan berhenti.

Kutempelkan kepala ke jendela, memejamkan mata, menghembuskan napas sekali lagi. Sejak pagi tadi, entah sudah berapa kali aku mengeluh akan hujan ini. Soal jemuran yang tidak kering, jalanan yang becek, atau cuaca yang dingin yang mengurangi konsentrasiku dalam bekerja. Tapi sepenggal berita ini benar-benar menegurku. Keluhan-keluhanku tadi pastilah sangat tidak seberapa jika dibandingkan dengan orang-orang yang sedang menanti-nantikan turunnya hujan di wilayah-wilayah kekeringan itu. Aku lantas membalik keadaan apabila aku yang berada di sana. Membayangkannya sesaat saja membuatku semakin merasa bersalah.

Aku masih ingat ayat yang aku baca pagi tadi dalam waktu teduhku,

“Aku akan menjadikan mereka dan semua yang di sekitar gunung-Ku menjadi berkat; Aku akan menurunkan hujan pada waktunya; itu adalah hujan yang membawa berkat” (Yehezkiel 34:26).

Aku mengulanginya sekali lagi dalam hati, lalu merenung. Aku membaca ayat itu pagi tadi, bahkan mengingatnya hingga sore ini, tapi betapa ternyata aku tidak memahaminya sama sekali. Ini adalah waktu yang Tuhan mau untuk menurunkan hujan. Dan hujan yang membawa berkat ini harusnya kusambut dengan syukur. Mengapa justru mengeluhkan kain yang tidak kering?

Bus berhenti di perempatan lampu merah. Aku membuka mata, melirik ke luar jendela lagi. Beberapa anak terlihat sedang berlari-lari dengan bertelanjang kaki dan pakaian basah, tawa mereka terlihat jelas. Tanpa sadar aku tersenyum dan tersadar. Pakaian tidak kering bisa dijemur lagi, sepatu yang kotor karena becek bisa dicuci. Dan cuaca dingin bisa menjadi pendukung untuk tidur yang nyenyak malam ini, bukan?

Aku memejamkan mata lagi, “Terimakasih untuk hujan berkat yang menyejukkan ini ya, Tuhan” ucapku dalam hati.

Kulirik sekali lagi beberapa anak itu, tawa mereka seakan sampai ke telingaku. Aku tersenyum, hatiku hangat. Lampu lalu lintas berubah warna, bus kembali melaju.

Tanpa sadar aku bersenandung kecil,

Hujan berkat-Mu, itu yang kami perlu.
Sudah menetes berkat-Mu, biar tercurah penuh.
(KJ 403) (Yesaya 45:8)

Apa yang Tuhan Lakukan Saat Aku Menantang-Nya?

Oleh Gabrielle Meiscova

“Ya Bapa, tolong.. Jika kau mengizinkan aku untuk menjadi seorang copywriter di sana, aku akan menulis kesaksian tentang kebaikan-Mu dalam hidupku.”

Itulah permintaanku pada Tuhan, alias aku menantang-Nya dengan sebuah jaminan. Menulis untuk Tuhan. Itulah intinya. Sesuatu yang sekarang ini menjadi tujuan hidupku.

Sudah hampir setahun aku berusaha keras mencari pekerjaan. Ratusan CV yang kutebarkan via email atau website tak kunjung mendapatkan jawaban. Segala harapan yang tertulis di dalam CV tersebut biasanya hanya diakhiri dengan balasan rejection letter. Seketika aku menyetujui ungkapan dunia yang mengatakan bahwa hidup itu keras. Boleh dibilang, aku berada di posisi terendah dalam hidup, alias depresi.

Saat itu, aku berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan permintaanku agar dapat diterima kerja di salah satu perusahaan digital agency. Mengapa aku memohon pada Bapaku seperti itu? Karena aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku menyerahkan tubuh, jiwa, raga, dan impianku ke dalam tangan-Nya. Aku tidak sanggup mengerjakan semua ini seorang diri. Saat aku berserah pada-Nya, Ia mendengar keluh kesahku. Sang Bapa berbisik lewat pikiranku, dan tiba-tiba aku mengingat ayat emas dari Alkitab, yang menjadi pedomanku saat katekisasi.

“Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kau minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu” (Markus 11 : 24).

Iman! Itulah yang menjadi permasalahanku selama ini. Sebelum Markus 11:24 menegurku, jujur saja, aku ragu akan karya Bapa yang akan digenapkan dalam hidupku. Aku sering mengatur Tuhan agar Ia memberikan pekerjaan sesuai dengan apa yang aku inginkan, tanpa mempercayai dan mengimani kalau Tuhan akan memberikannya padaku di saat yang tepat, di waktu yang tepat. Saat itu, aku tidak ingat kalau keimananku pupus ditelan kebisingan dunia, karena terlalu banyak menghabiskan waktu di sosial media. Aku dibutakan oleh Iblis lewat quotes di media sosial, kalau hidup ini adalah milikku sendiri dan akulah yang harus mengatur hidupku akan berjalan ke arah mana. Aku tidak sadar kalau Tuhan yang rela mati di kayu salib untuk menebus dosaku adalah pemilik kehidupanku selama ini. Ia pun tidak akan meninggalkan anak-Nya berjalan sendirian.

Ada sebuah gambar yang kutemukan di explore Instagram, di mana ada seorang anak kecil yang sedang melukis sebuah tulisan PLAN bersama dengan Tuhan di sampingnya. Gambar itu memberikan kesadaran dalam diriku, kalau selama ini Tuhan bekerja dalam hidupku, dan aku sendiri memiliki tugas untuk membangun masa depanku bersama dengan-Nya. Selama ini, aku tidak melibatkan Tuhan dalam setiap rencana yang kubuat untukku dan masa depanku. Aku sungguh egois dan berpikiran sempit kala itu. Saat aku sadar akan kesalahanku selama ini, aku meminta pengampunan dari Tuhan, lalu Ia menjawabnya lewat sebuah ingatan dari kalimat yang pernah kubaca dalam sebuah buku, sebagai berikut. “Saat pertama kali main sepeda, kita pasti pernah terjatuh sehingga pengalaman saat terjatuh itulah yang membuat kita ingin terus mencoba mengayuh sepeda sampai berhasil mengendarainya.”

Tuhan mengampuni aku yang tidak beriman pada-Nya, dengan memberikan pemahaman bahwa tak apa jika kita terjatuh, sebab Ia sendiri yang akan menolong. Saat jatuh pun, Tuhan akan selalu mengulurkan tangan-Nya untuk kita. Kadang manusia memang harus terjatuh, agar ia bisa menyadari kalau tangan Tuhan senantiasa terulur untuk orang yang meminta pertolongan-Nya.

Dalam Matius 14:22-33, diceritakan bahwa Petrus yang adalah salah satu dari ke-12 murid Yesus, pernah menantang-Nya agar ia bisa berjalan di atas air, saat para murid mengira bahwa Ia adalah hantu. Pada ayat 28 tertulis, “Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia : Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Tak disangka-sangka, Tuhan Yesus malah menyuruh Petrus untuk berjalan di atas air, walaupun pada akhirnya sang murid menjadi takut dan mulai tenggelam, hingga akhirnya Tuhan Yesus mengulurkan tangan-Nya untuk menolong Petrus. Kisah ini mengingatkan aku pada diriku sendiri, saat aku menantang Tuhan untuk memberikan pekerjaan sebagai copywriter itu padaku.

Saat aku mengerti apa yang diinginkan Tuhan dalam hidupku, segalanya terasa lebih mudah. Aku jadi banyak mengucap syukur atas berkat yang Ia berikan, dan saat aku mempertaruhkan masa depan pekerjaanku kepada-Nya dengan jaminan akan menulis kesaksian tentang kebaikan-Nya, Ia memberikan pekerjaan itu padaku. Tuhan mengizinkan aku untuk melayani-Nya lewat tulisanku.

Aku masih harus banyak belajar, khususnya dalam menulis, tapi aku sudah sadar kalau pekerjaan yang kulakukan bersama dengan Tuhan akan berjalan secara maksimal, saat aku melibatkan-Nya dalam tiap tulisanku.

“Allah sanggup melakukan segala perkara. Dulu, sekarang, dan selamanya kuasa-Nya tidak berubah.”

Ya Tuhan, ajar aku memiliki kepekaan untuk mengerti apa yang Kau kehendaki dalam hidupku. Tetaplah bimbing anak-Mu ini untuk terus menjalani hidup ini sampai menuju kekekalan bersama dengan Engkau, ya Bapa.

Cerpen: Ira dan Nathan

Oleh Meili Ainun

“Maaf, kami tidak bisa menerima anak ibu. Persyaratan untuk masuk kelas 1 adalah anak sudah dapat membaca dan berhitung dengan lancar. Anak ibu tidak memenuhi persyaratan kami.”

“Tentu. Tentu saja kami menerima anak ibu dengan senang hati. Biaya sekolah per bulan tiga juta rupiah. Ditambah biaya makan, buku, kegiatan sekitar dua juta rupiah. Total biaya per bulan adalah lima juta rupiah.”

“Hasil tes anak ibu tidak memenuhi syarat untuk masuk kelas 1. Kami mohon maaf. Demi kebaikan anak ibu, kami menyarankan agar dia masuk ke sekolah khusus yang lebih sesuai dengan kemampuannya.”

***

Berbagai pesan yang disampaikan oleh beberapa sekolah kembali terngiang dalam pikiran Ira.

“Lagi-lagi penolakan.. Dan biayanya.. Oh, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus mama lakukan, Nathan?”

Nathan yang sedang bermain Lego langsung menoleh dan tersenyum mendengar namanya dipanggil.

Ira tersenyum kembali pada Nathan. “Yuk, kita tidur.”

Di tepi tempat tidur, Ira berlutut bersama Nathan. Dengan wajah serius, Nathan memejamkan matanya menunggu Ira berdoa.

“Tuhan yang baik, terima kasih untuk hari ini. Terima kasih Tuhan menjaga Nathan. Terima kasih untuk makanan yang kami makan. Terima kasih untuk tubuh yang sehat. Tuhan, tolong kami menemukan sekolah untuk Nathan. Sekarang kami mau tidur, tolong jaga kami ya Tuhan. Dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa. Amin.”

Nathan menyahut dengan bersemangat. “Amin. Sekarang cerita.”

“Nathan mau dengar cerita apa?”

“Daud.”

Ira duduk di atas tempat tidur, mengambil Alkitab anak-anak, membuka halaman tertentu, dan membiarkan Nathan memegang Alkitab itu. Lalu Ira mulai membacakan cerita Daud melawan Goliat. Mata Nathan terlihat antusias melihat gambar-gambar yang ada.

“Tuhan hebat!” begitu komentar yang biasanya Nathan ucapkan tiap kali Ira selesai membaca cerita.

“Ya, Tuhan hebat. Mama sayang kamu,” sahut Ira memeluk Nathan.

“Nathan sayang mama,” kata Nathan.

Setelah memastikan Nathan tertidur, Ira duduk di ruang tamu dengan perasaan sedih.. Ira menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Apa yang harus kulakukan? Hanya sekolah ini yang mau menerima Nathan. Tetapi lima juta sebulan? Darimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?”

Sejak kematian Hendri, suaminya akibat kecelakaan lalu lintas pada awal tahun, tidak banyak pilihan kerja yang bisa diambil Ira karena Nathan harus selalu dijaga dan tidak dapat ditinggal tanpa pengawasan. Maka, Ira memilih bekerja sebagai agen asuransi karena jam kerja yang fleksibel. Bila Ira harus bertemu dengan klien di luar, Nathan dititipkan sebentar kepada tetangga sebelah yang bersedia menjaganya. Tidak ada anggota keluarga yang lain yang dapat memberikan bantuan karena Ira anak tunggal dan kedua orang tuanya sudah meninggal sedangkan orang tua Hendri sudah lanjut usia dan tinggal di kota yang berbeda.

Namun penghasilan sebagai agen asuransi tidak menentu, dan tabungan yang dimilikinya tidak banyak, hanya cukup memenuhi kebutuhan dasar hidup sehari-hari. Ira bersyukur dia dapat tinggal di rumah yang cukup layak tanpa harus dibebani dengan cicilan rumah. Tetapi biaya pendidikan Nathan yang tidak sedikit membuat Ira resah. “Tuhan, apa yang harus kulakukan?”

Setiap hari diawali dengan rutinitas yang sama. Ira akan membangunkan Nathan pada jam yang sama, mengawasinya saat mandi karena Nathan sedang belajar mandi sendiri, lalu mereka makan pagi bersama-sama. Ira bersyukur Nathan mau makan apa saja yang disajikannya sekalipun sangat sederhana seperti bubur.

Kemudian waktu belajar pun dimulai. Bagi Ira, waktu belajar adalah waktu yang penuh tantangan. Ira tahu Nathan tidak begitu suka belajar. Ira berusaha mencari cara agar waktu belajar menjadi waktu yang menyenangkan bagi Nathan, namun Ira tahu dirinya bukan seorang yang sabar dan kreatif. Dan Nathan mudah sekali bosan.

“Nathan, ini huruf apa?” Ira menunjuk huruf A pada poster abjad yang ditaruhnya di meja.

Nathan menjawab dengan bangga. “A.”

Ira tersenyum dan memuji Nathan. “Bagus. Sekarang ini huruf apa?”

“B”, sahut Nathan dengan cepat.

“Bagus. Sekarang ini huruf apa?”

Nathan diam dan menoleh memperhatikan mainan Lego yang terletak di pojok.

“Nathan. Ini huruf apa?” tanya Ira kembali dengan penekanan pada suaranya.

Nathan menatap Ira dan menjawab, “A.”

“Tidak, ini bukan A. Yang ini huruf A. Ini bukan A. Ini huruf apa?” tanya Ira dengan panik.

“A,” jawab Nathan dengan keras.

“Bukan. Ini bukan huruf A. Ini huruf C. Ayo ingat, ini apa? C,” jelas Ira dengan nada suara kesal.

Nathan diam dan kembali memperhatikan mainan Lego.

“Nathan. Anak pintar. Ayo, belajar. Ingat ya, ini huruf A. Yang ini B, yang ini C. Sekarang coba ulangi lagi,” kata Ira sambil berusaha sabar.

“A. A. A. A. A,” teriak Nathan sambil berlari mengambil mainan Lego kesayangannya.

“Nathan, kembali ke sini. Kita belum selesai belajar,” Ira membentak dengan suara keras.

Nathan diam saja dan sibuk memainkan Lego di lantai.

“Mama bilang kita belum selesai belajar. Kalau kamu seperti ini terus, kamu tidak bisa pergi ke sekolah. Nathan, kamu dengar mama?” Ira menatap Nathan dengan marah.

Suara terisak-isak Nathan segera terdengar. Tubuh kecilnya tergoncang sedikit.

“Maaf…maafkan mama, Nathan. Mama tidak bermaksud marah padamu. Tetapi Nathan harus belajar. Oh…apa yang harus kita lakukan, Nathan?” Ira memeluk Nathan sambil menangis.

Ira menyadari dirinya kadang keras pada Nathan. Dia ingin memastikan agar Narhan dapat tumbuh sama seperti anak-anak lain. Ira tahu Nathan lahir dalam kondisi yang khusus. Nathan telah dibawa bertemu dengan beberapa psikolog dan mereka mengatakan hal yang sama. Nathan adalah penyandang Disabilitas Intelektual ringan dengan tingkat IQ 70. Hal itu membuat Nathan mengalami kesulitan kognitif. Meskipun umurnya sudah menginjak usia 7 tahun, Nathan baru mengenal beberapa huruf dan angka. Perlu waktu yang cukup lama bagi Nathan untuk mengingat sebuah huruf maupun angka. Ira tahu Nathan mampu hanya dia butuh waktu yang lebih lama dibanding anak-anak lain.

Ira sempat menyalahkan dirinya karena kondisi Nathan. Dia berpikir apakah dirinya penyebab Nathan lahir dalam kondisi itu. Para psikolog menyakinkan Ira bahwa tidak ada suatu penyebab pasti dalam kasus ini. Ada banyak faktor penyebab dan berbagai kemungkinan yang terjadi, sehingga tidak ada gunanya menyalahkan diri sendiri.

Meskipun Nathan kadang menyulitkan, namun Ira tahu dia tidak dapat hidup tanpa Nathan. Melihat Nathan tersenyum mampu membuat hati Ira merasa lebih baik. Mendengar Nathan bernyanyi lagu-lagu Sekolah Minggu kadang membuat Ira berpikir Nathan sama seperti anak-anak lain. Nathan memang suka bernyanyi dan paling senang bila hari Minggu tiba. Karena hari itu Nathan akan ikut Sekolah Minggu. Nathan bahkan memiliki pakaian khusus yang dia hanya pakai di hari Minggu.

Di Sekolah Minggu, Nathan akan duduk bersama anak-anak lain. Bernyanyi dengan suaranya yang enak didengar. Bertepuk tangan dengan gembira. Tersenyum lebar setiap waktu. Ira yang mengintip di pintu akan tersenyum juga. “Nathan yang manis,” begitu Ira menyebut Nathan.

Namun, hati Ira menjadi miris melihat Nathan yang duduk dengan tatapan mata kosong karena tidak mengerti apa yang sedang diceritakan guru Sekolah Minggu. Dan selesai Sekolah Minggu dimana anak-anak lain berlari dan bermain bersama, Nathan akan duduk sendirian bermain Lego. Kadang ada guru Sekolah Minggu yang menemaninnya, tetapi lebih sering dia sendirian. Ira sampai pernah meminta seorang anak untuk mau menemani Nathan setiap kali Sekolah Minggu selesai. Anak itu bersedia melakukannya tetapi hanya beberapa kali karena Nathan tidak bisa diajak ngobrol, dia tidak mengerti percakapan yang berlangsung. Pembicaraan mereka tidak nyambung. Maka Nathan akan kembali sendirian.

Adakalanya Ira ingin menyerah dengan keadaan Nathan apalagi jika Ira memikirkan apa yang harus Nathan hadapi bila sudah dewasa nanti. Namun di saat-saat Ira merasa dirinya tidak akan sanggup lagi bertahan, ada Firman Tuhan yang selalu menguatkannya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Petrus 5:7). Ira tahu dirinya dapat bergantung kepada Tuhan karena Dia adalah Tuhan yang setia dan pemelihara hidup. Meski Ira tidak selalu dapat mengerti rencana Tuhan terhadap dirinya dan Nathan, namun Ira percaya Tuhan tidak pernah salah. Nathan hadir dalam hidupnya bukanlah kesalahan. Seperti nama Nathan (Nathaniel) yang berarti anugerah Tuhan, bagi Ira, Nathan adalah anugerah Tuhan yang diberikan dalam hidupnya..

Tuli di Usia Muda, Namun Kasih Tuhan Tak Pernah Absen Kudengar

Oleh Jireh
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 纵然失去听力,我却听见上帝的恩典和爱

Ketika usiaku memasuki 24 tahun, kemampuan pendengaranku semakin berkurang. Kusampaikan keluhan ini ke keluargaku. Ketika seseorang bicara, aku cuma bisa mendengar dua atau tiga kata saja dalam satu kalimat. Diagnosis dokter bilang aku mengalami gangguan pendengaran sensorineural. Otakku kesulitan meraih sinyal suara sehingga aku tidak bisa mendengar orang berbicara.

Dokter menyarankanku memakai alat bantu dengar, meskipun mereka tahu kalau kelak aku akan mengalami tuli total karena belum ada obat atas penyakit ini.

Selama sebulan aku sangat sedih dan takut. Aku berpikir: Aku masih muda. Masih banyak yang aku mau lakukan dan belum terlaksana. Dan sekarang aku malah tuli? Bagaimana hidupku selanjutnya? Bagaimana pekerjaanku? Bagaimana aku bisa berkomunikasi? Aku bekerja sebagai sales. Tidak bisa mendengar dan berkomunikasi mustahil untuk bidang pekerjaan ini, dan aku harus mengubah taktik penjualanku menjadi online.

Kehilangan pendengaran ini juga semakin menambah rasa insecure yang kupunya sejak kecil. Aku sangat introver dan minder. Orang tuaku sering bertengkar dan membuatku berpikir dalam diri “Buat apa aku lahir?” Ketika orang tuaku akhirnya bercerai, aku dipaksa untuk meninggalkan lingkungan masa kecilku, yang akhirnya mempengaruhi hidupku secara keseluruhan.

Namun, tahun ketika aku kehilangan pendengaranku adalah tahun ketika aku juga percaya Yesus. Aku pernah baca Alkitab sebelumnya, tapi barulah saat kubaca Amsal aku mengetahui dan percaya Allah. Lalu, aku mulai pergi ke gereja.

Setiap kali aku merasa tak berdaya, firman Tuhan bergema di telingaku, memberikan penghiburan dan menopang rohku yang lemah:

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23:4).

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6).

Belas kasih dan kekuatan dari Allah besertaku dan menguatkanku sampai hari ini. Aku percaya Dia akan terus memelihara, menolong, dan menjagaku sampai aku berjumpa dengan-Nya. Harapan inilah yang mencukupkanku dan memberiku jaminan bahwa segala sesuatu terjadi seturut kehendak dan rencana Allah.

Dari kehilangan aku meraih

Aku menyerahkan sakitku kepada Tuhan. Kupercaya Tuhan Mahakuasa. Dia bekerja dalam segala sesuatu dan Dia tahu lebih banyak daripada yang kutahu akan apa yang harus terjadi dalam hidupku.

Pencapaian terbesar yang kuraih dari kehilangan pendengaranku adalah aku perlahan belajar untuk menikmati damai dan keheningan yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku mulai menjauhkanku dari kebiasaan lamaku yang selalu sibuk dan rusuh mengerjakan satu hal ke hal lainnya.

Pertemananku juga mulai menyusut. Ada teman-temanku yang tak lagi mengobrol denganku karena mereka tak bisa sabar untuk berkomunikasi denganku dengan cara yang baru.

Dari semua ini, aku belajar bagaimana rasanya menjadi temannya Tuhan, berjalan erat bersama-Nya. Kulepaskan alat bantu dengarku, kututup pintu dan mataku, kubuka Alkitabku dan merenungkan sabda-Nya. Aku pun berdoa dan selalu mendekat pada-Nya setiap waktu.

Namun, ada pula kawan baru yang Tuhan berikan. Aku bertemu dengan teman-teman tuli dan semakin mengerti luka hati yang mereka alami. Mereka sering dipandang sebelah mata, ditolak, disalah mengerti, serta dihinggapi perasaan tak berdaya.

Dengan perspektif yang baru, kekurangan fisikku menjadi berkat yang indah. Meskipun raga manusia semakin lemah seiring waktu, roh selalu dibaharui hari demi hari (2 Korintus 4:16).

Aku tak lagi mengasihani diriku sendiri dan tak perlu lagi menyembunyikan kekurangan fisikku. Sekarang aku akan menyapa duluan orang yang kutemui. Meskipun pendengaranku telah hilang, aku semakin membuka diriku dan lebih siap untuk menghadapi dan menerima kehidupanku.

Mukjizat pemulihan

Jika bukan karena Yesus, kasih Bapa, dan sabda-Nya yang menghidupkan, kondisi fisikku hanya akan membuatku jatuh makin dalam ke jurang mengasihani diri. Aku akan lebih takut dan depresi. Namun, syukur kepada Allah yang menjauhkanku dari segala hal buruk tersebut, dan sungguhlah seala kemuliaan hanya bagi Dia.

Lima tahun setelah diagnosis itu, aku tiba-tiba meraih 90% pendengaranku hanya dalam dua minggu. Sensor-sensor di otakku mengalami perbaikan, meskipun tidak bisa sempurna. Tetapi, jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, ada perbaikan signifikan dalam pendengaranku–dari tak bisa mendengar sama sekali hingga bisa mendengar beberapa suara.

Bagiku, Tuhan memberiku mukjizat untukku pulih. Aku tak melakukan pengobatan atau terapi karena dokter bilang tak ada cara untuk sembuh. Bahkan seorang ahli yang kukenal pun bilang kalau kasusku sulit dijelaskan. Namun seperti yang Alkitab katakan, “Dan karena kepercayaan dalam Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di depan kamu semua” (Kisah Para Rasul 3:16).

Segala kemuliaan bagi Allah.