Posts

Jurnal Doa

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Doa ibarat nafas hidup bagi orang Kristen. Kalimat ini mungkin terdengar tidak asing di telinga kita, bahwa orang Kristen harus berdoa. Bahkan sejak kecil, pesan untuk berdoa sudah disampaikan, baik oleh orang tua maupun guru sekolah Minggu. Belum lagi para hamba Tuhan di gereja yang terus mengingatkan kita untuk berdoa.

Kita tahu berdoa itu penting, tetapi ada kalanya kita merasa jenuh untuk berdoa. Kita ingin berdoa, tapi kita bosan melakukannya. Salah satu sebabnya mungkin karena cara doa kita yang tidak pernah berubah. Kita selalu memakai cara yang sama sehingga berdoa hanyalah sebatas rutinitas saja.

Ada banyak cara berdoa yang bisa kita jelajahi, yang sudah dikenal dan mungkin paling sering kita lakukan adalah berdoa dengan berbicara langsung pada Tuhan. Kita memejamkan mata lalu mengucapkan doa dalam hati maupun bersuara. Cara lain adalah dengan menyanyikan doa seperti yang dilakukan para pemazmur, misalnya menaikkan lagu ‘Tuhan adalah Gembalaku’ dari Mazmur 23. Variasi cara lain adalah kita dapat bergabung dalam persekutuan doa sehingga kita dapat berdoa bersama teman-teman lain.

Nah, dari cara-cara itu, ada cara lain yang mungkin terdengar tidak biasa dan jarang dilakukan, yaitu menuliskan doa. Ada yang menyebut cara ini sebagai jurnal doa. Atau bisa juga disebut sebagai prayer diary, atau sebutan lainnya.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan jurnal doa itu?

Jika teman-teman pernah menuliskan jurnal harian, maka jurnal doa itu mirip-mirip kok. Biasanya dimulai dengan menulis tanggal lalu kita menulis isi doa kita.

Apa isi jurnal doa?

Isi jurnal doa boleh apa saja. Mulai dari mencurahkan perasaan yang sedang kita alami, permohonan kita, pengucapan syukur, memuji Tuhan, atau yang lainnya. Isi jurnal doa sama seperti ketika kita berdoa, hanya dituliskan saja. Misalnya:

12 Juli.

Tuhan yang baik (atau panggilan yang biasanya ditujukan kepada Tuhan)
Hari ini aku merasa sedih. Tadi pagi papa memarahiku karena aku terlambat bangun dari biasanya. Padahal hal itu disebabkan karena sepanjang malam aku harus menyelesaikan tugas kuliah. Tetapi papa tidak memberikan kesempatan bagiku untuk menjelaskannya. Tuhan, aku merasa kesal dan marah, sekaligus sedih. Tolong aku, Tuhan, untuk menjelaskan kepada papa apa yang terjadi. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.

Berapa panjangnya?

Tidak ada ketentuan khusus untuk panjangnya tulisan dalam jurnal doa. Jika kita ingin menulis sepanjang satu halaman karena mungkin pada hari itu ada banyak hal yang ingin kita sampaikan kepada Tuhan, maka dipersilakan saja. Tetapi ada kalanya kita tidak tahu harus bicara apa kepada Tuhan karena kondisi atau suasana hati yang tidak enak, maka menulis hanya satu kalimat pun tidak masalah. Misalnya:

13 Juli
Tuhan, aku merasa bingung dengan apa yang terjadi hari ini. Amin.

Apakah harus menulis setiap hari?

Tidak harus, karena jurnal doa hanyalah salah satu cara kita berdoa kepada Tuhan, maka kita diberi kebebasan untuk melakukannya. Hanya, semakin sering kita menulis maka kita akan semakin terbiasa.

Jika tidak bisa menulis, bagaimana?

Salah satu keunikan sekaligus kesulitan dalam jurnal doa memang ada dalam hal menulis. Bagi teman-teman yang tidak terbiasa menulis, mungkin menulis jurnal doa adalah cara yang sulit dilakukan. Tetapi cara ini boleh tetap dicoba, karena sebenarnya mengasyikkan.

Ketika kita menulis, kita melatih otak kita untuk berpikir lebih terstruktur dan sistematis. Berbeda dengan bicara yang biasanya berlangsung spontan, menulis membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir, atau juga merenung.

Apa manfaatnya menulis jurnal doa?

Di zaman ketika kita lebih terbiasa menyaksikan tayangan audio-video, menulis bisa jadi terkesan kuno dan ribet. Tetapi, menulis jurnal doa bisa memberikan beberapa manfaat buat kita, seperti mengatasi kejenuhan kita dalam berdoa sekaligus juga mengasah kemampuan menulis kita.

Doa-doa yang kita tulis menolong kita untuk tidak lupa akan pergumulan yang sedang kita hadapi hari itu. Kelak di masa depan, saat kita melihat kembali jurnal itu, iman kita akan dikuatkan karena kita melihat pertolongan dan jawaban Tuhan atas doa-doa yang kita naikkan.

Menulisnya di mana?

Kita bisa menulis di mana saja yang kita suka. Di buku tulis biasa, maupun buku tulis khusus, atau pada aplikasi note yang tersedia di gawai kita masing-masing. Kita bebas memilih media yang paling nyaman untuk kita masing-masing.

Jadi, mengapa kita tidak mencoba untuk menuliskan doa? Yuk, kita mencobanya. Siapa tahu cara ini dapat menambah keasyikan kita untuk berdoa, dan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.

Baca Juga:

2 Hal yang Perlu Kita Pahami Saat Berdoa

Jika ada doa yang dijawab dan tidak, lantas, bagaimana isi doa yang berkenan kepada Tuhan sehingga kita dapat selalu bersukacita di dalam-Nya walaupun Dia tidak menjawab doa-doa kita?

2 Hal yang Perlu Kita Pahami Saat Berdoa

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

“Tuhan, jika Engkau berkenan, tembuskanlah pendaftaranku sebagai dosen tetap di universitas tersebut.”

Begitulah kurang lebih isi doaku setiap hari, memohon agar aku diterima menjadi dosen tetap. Setelah kurang lebih satu bulan aku mengirimkan lamaran, aku dinyatakan tidak lolos dalam seleksi dokumen. Aku berpikir: apakah ada yang salah dengan isi doaku sehingga Tuhan tidak menjawab doaku?

Apakah ada yang salah dengan isi doaku? Pertanyaan seperti ini gampang masuk ke pikiranku ketika doa-doaku tidak dijawab oleh Tuhan. Jika ada doa yang dijawab dan tidak, lantas, bagaimana isi doa yang berkenan kepada Tuhan sehingga aku dapat selalu bersukacita di dalam-Nya walaupun Dia tidak menjawab doa-doaku?

Melalui persekutuan bersama mentor rohaniku, aku diajarkan akan beberapa hal yang sering dilupakan ketika aku meminta sesuatu kepada Tuhan di dalam doa. Hal-hal inilah yang aku akan bagikan kepada teman-teman sekalian.

1. Kita berdoa bukan hanya untuk meminta sesuatu pada Tuhan, tapi juga meminta-Nya mengubah hati kita, agar kita bisa menerima sepenuhnya kehendak-Nya

Walaupun aku tahu bahwa Tuhan berdaulat penuh atas hidupku, acap kali aku tidak berdoa agar Tuhan mengubah hatiku supaya aku bisa menerima apa pun pemberian-Nya. Malahan, isi-isi doaku kebanyakan diisi dengan banyak permintaan, terutama yang berkaitan dengan masa depan pekerjaanku.

Kita boleh meminta sesuatu dalam doa, tetapi kita juga tidak boleh lupa ada hal yang perlu kita sampaikan dalam doa. Mentor rohaniku selalu mengajariku untuk berdoa agar Tuhan memberikan kedamaian atas hasil apa pun yang diberikan-Nya. Ia memberikan contoh tentang Tuhan Yesus yang berdoa di taman Getsemani (Matius 26:36-46, Markus 14:32-42, Lukas 22:39-46). Tuhan Yesus memang berdoa meminta kepada Allah Bapa untuk mengambil cawan dari pada-Nya, tetapi Dia juga berdoa agar kehendak Allah Bapa yang tergenapi di dalam kehidupan-Nya. Walaupun Allah Bapa tidak mengambil cawan itu, Allah Bapa memberikan kekuatan kepada Yesus terhadap penderitaan yang akan dialami-Nya. Kita tahu dengan jelas bahwa ada rencana Allah mengenai keselamatan semua orang melalui penyaliban Yesus.

Lukas 22:42-43
Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.

Isi doa Tuhan Yesus di taman Getsemani mengajariku betapa pentingnya iman di dalam doa. Iman yang benar tidak hanya percaya bahwa Tuhan sanggup mengabulkan doa-doa kita, tetapi Tuhan juga berkuasa sepenuhnya atas kehidupan kita. Ketakutan yang dialami Tuhan Yesus menjelang penyaliban di kayu salib membuat-Nya lebih bersungguh-sungguh berdoa (Lukas 22:44).

Ketika kita berdoa kepada Tuhan untuk memberikan kita kekuatan terhadap ketakutan, kelemahan, dan kekhawatiran di dalam kehidupan, kita akan bertumbuh di dalam iman kita kepada-Nya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan akan membuat kita mengalami apa makna sesungguhnya kasih karunia Tuhan di dalam kehidupan kita. Paulus yang menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan tahu dengan jelas makna hidup di bawah kasih karunia Tuhan.

2 Korintus 12:8-9
Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.

Terhadap pengajaran yang aku terima dari mentorku, aku berusaha mengaplikasikannya di kehidupanku dengan berdoa agar aku selalu bisa bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepadaku dan tidak membandingkan diriku dengan orang lain di sekitarku.

2. Kita berdoa bukan hanya untuk hal-hal besar, tetapi juga mencurahkan segala isi hati kita kepada Tuhan

Orang percaya yang benar-benar berserah kepada Tuhan selalu menceritakan kepada Tuhan segala pergumulan di dalam hatinya. Ia berterus terang tentang apa isi hatinya dan mencurahkan segala pikirannya kepada Tuhan (Mazmur 62:9).

Filipi 4:6-7
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Perkataan “segala hal” di Filipi 4:6-7 dengan jelas mengajar kita untuk mengucapkan kepada Tuhan apa pun yang kita khawatirkan—dari hal-hal yang terkecil sampai yang terbesar di dalam kehidupan kita. Ketika kita terbiasa berdoa dari hal-hal terkecil, banyak hal dapat kita alami di dalam kehidupan kita. Kita bertumbuh di dalam iman, dan kita akan bergantung lebih pada-Nya. Amsal 3:5-6 menasihati kita untuk mengakui Dia dalam segala langkah kita. Melibatkan Tuhan dalam urusan-urusan kecil dalam hidup kita akan menolong kita untuk tidak bersandarkan pada pengertian kita sendiri. Kita akan lebih memahami makna sesungguhnya dari ‘aku ada saat ini karena kasih karunia Tuhan, dan tanpa Tuhan aku bukan apa-apa’ (1 Korintus 15:10).

Doa adalah bentuk kita berkomunikasi bersama Tuhan. Dengan membiasakan diri berdoa dari hal-hal kecil, kita membangun interaksi yang erat bersama Tuhan. Seiring dengan kita bertumbuh di dalam kehidupan doa, kita akan mampu memprioritaskan Tuhan sebagai yang paling penting di dalam kehidupan kita.

Tuhan Yesus selalu memprioritaskan hubungan-Nya bersama Allah Bapa melalui doa. Ketika Tuhan Yesus akan memilih dua belas rasul, Ia berdoa semalaman kepada Allah Bapa (Lukas 6:12-13). Apa yang di doakan Yesus selama Ia berdoa semalaman kepada Allah Bapa?
Pemilihan dua belas rasul adalah salah satu hal penting di dalam pelayanan Kristus di dunia. Ketika Yesus berdoa semalaman, walaupun tidak tertulis secara eksplisit di Alkitab, aku percaya bahwa Yesus mencurahkan segala isi hati-Nya kepada Allah Bapa dan berusaha memilih rasul berdasarkan kehendak Allah Bapa.

Apakah kita mau mencurahkan segala isi hati kita dan berdoa kepada Tuhan untuk bisa membedakan kehendak Tuhan di dalam kehidupan kita?

Lukas 6:12-13
Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul.

Kekhawatiranku terhadap pekerjaan dan masa depanku sering membuatku lupa untuk melihat hal-hal kecil yang terjadi di kehidupanku sehari-hari. Melalui pembelajaran yang aku terima, aku berusaha untuk menyelidiki bagaimana isi hatiku sehari-hari dan menuangkan semuanya di hadapan Tuhan. Keluhan-keluhan seperti urusan administrasi sekolah, interaksi dengan mahasiswa, penelitian yang tidak berjalan mulus aku berusaha membawa semuanya kepada Tuhan di dalam doa.

Sebagai penutup, walaupun kita tahu apa isi doa yang berkenan kepada Tuhan, kehidupan doa kita tidak akan bertumbuh kalau tidak melatih diri kita untuk berdoa. Kita bisa memulainya dengan menentukan terlebih dahulu waktu yang sesuai untuk berdoa dan selalu memohon kepada Tuhan untuk memberikan kita semangat untuk tetap berdoa.

Andrew Murray dalam bukunya tentang doa menulis, “Tanpa pengaturan waktu doa, semangat berdoa akan tumpul dan lemah. Tanpa doa yang terus-menerus, waktu doa yang ditentukan tidak akan berhasil.”

Aku berharap dan berdoa aku dan teman-teman selalu bertumbuh di dalam kehidupan doa. Tetaplah berdoa (1 Tesalonika 5:17).

Baca Juga:

Tentang Doa yang Tidak Terkabul: Apakah Kita Kurang Sungguh Berdoa?

Seseorang telah gigih berdoa, tapi jawaban doanya tidak sesuai harapannya. Padahal, Alkitab bilang bila doa orang benar itu besar kuasanya. Apa yang bisa kita gali dari fenomena ini?

Berhenti Sejenak untuk Berdoa | Berdoa bagi Indonesia

Ketika perahu yang kita naiki terguncang karena badai, seringkali kita lupa bahwa tidak ada badai yang terlalu hebat untuk Tuhan Yesus tenangkan.

Hari-hari ini, ketika kita menyaksikan atau bahkan juga mengalami kegetiran dan kesedihan yang diakibatkan oleh badai pandemi, adalah baik untuk datang pada Bapa. Dia tahu dan peduli apabila ada dari antara kita yang dengan berat hati harus mengikhlaskan kepergian yang mendadak; keterpisahan sementara dengan orang-orang terkasih; kesulitan karena lapangan kerjanya terdampak; dan banyak nestapa lainnya yang menghadang.

Datanglah pada Tuhan, mencari wajah-Nya dengan berdoa.

Doa yang kita naikkan mungkin tidak akan mengubah keadaan dalam sekejap, tetapi dengan berdoa, kita mengizinkan damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus.

Bersama Tuhan Yesus, kita pasti bisa melalui semua ini.

#WarungSaTeKaMu
#LawanPandemi #SatukanHati #PrayForIndonesia #BerdoaBagiBangsa

Disiplin Rohani: Perlukah Menjadi Orang Saleh di Abad Ke-21?

Oleh Jefferson

Pada 2 November yang akan datang, secara rohani aku akan genap berusia satu dekade. Sepuluh tahun yang berlalu sejak pertobatanku terasa begitu panjang dan singkat; panjang, karena ada begitu banyak pengalaman hidup yang telah kulalui (dan segelintir darinya aku bagikan lewat tulisan); singkat, karena rasanya baru kemarin aku menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatku.

Rasanya baru kemarin juga aku menerima undangan untuk menulis tentang disiplin rohani. Topik ini cukup familiar karena pernah kubahas dalam beberapa tulisan terdahulu. Melihat kesempatan ini sebagai anugerah dari Tuhan untuk sekali lagi membagikan pembelajaranku bersama-Nya lewat tulisan, keempat artikel dalam seri ini kutulis sebagai kristalisasi dari pengalamanku “berlatih dalam kesalehan” selama ~10 tahun terakhir.

Untuk memulai penjelajahan kita tentang disiplin rohani selama beberapa minggu ke depan, kita perlu pertama-tama mempelajari dasar-dasar daripada disiplin rohani itu sendiri, yang kurangkum dalam dua pertanyaan besar.

“Apa itu ‘disiplin rohani’ menurut Kekristenan?”

Walaupun istilah “disiplin rohani” tidak pernah disebut secara eksplisit dalam Alkitab, konsep ini tersirat dalam berbagai bagiannya, terutama di Perjanjian Baru. Perumusan terjelasnya terkandung dalam 1 Timotius 4:7b, “latihlah dirimu untuk hidup dalam kesalehan”. Dari ayat ini, kita memahami bahwa “disiplin rohani” pada dasarnya diartikan menurut tujuan yang ingin dicapai, yaitu “kesalehan” atau godliness (ESV). Dengan kata lain, disiplin rohani hanyalah cara untuk mencapai kesalehan dan bukanlah kesalehan itu sendiri.

Mendengar kalimat di atas, kamu mungkin berpikir, “Jadi apa bedanya disiplin rohani Kristen dengan tindakan agamawi kepercayaan lain kalau tujuan akhirnya sama, yaitu kesalehan?”

Untuk menjawab keberatan di atas, kita perlu mengklarifikasi apakah definisi “kesalehan” yang dimaksud Paulus dalam 1 Timotius 4:7b sama dengan pemahaman pada umumnya, yaitu “sikap hidup pribadi yang tidak berdosa/bercela”. Pembacaan ayat-ayat sebelum (ay. 1–7a) dan sesudahnya (ay. 8–10) membantu kita menguraikan kebingungan ini.

Pertama-tama, 1 Timotius 1:1–7a menjelaskan latar belakang ayat 7b: akan ada sebagian jemaat Efesus yang meninggalkan iman mereka “dengan menyerahkan diri kepada roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan” (ay. 1). Orang-orang ini mengharamkan hal-hal baik yang diciptakan oleh Allah, seperti pernikahan dan makanan tertentu (ay. 3–5), dan mempercayai berbagai takhayul (ay. 7a). Terhadap latar kebejatan inilah Paulus mengarahkan Timotius untuk tidak hanya mengajarkan “perkataan-perkataan iman dan ajaran sehat” kepada gereja di Efesus (ay. 6), tetapi juga melatih dirinya “untuk hidup dalam kesalehan” (ay. 7b). Dari ayat-ayat ini, kita mempelajari bahwa disiplin rohani dipraktikkan agar kesalehan dapat dihidupi baik secara pribadi maupun komunal; kita berlatih untuk hidup menurut “perkataan-perkataan iman dan ajaran sehat” dalam Firman Tuhan agar dapat mengenali dan menjauhi berbagai ajaran yang menyimpang dari kebenaran Kristus serta membantu sesama orang percaya melakukan hal serupa untuk mencapai kesalehan.

Ayat 8 memperjelas alasan di balik dorongan Paulus: karena kesalehan “mengandung janji untuk kehidupan sekarang dan juga kehidupan yang akan datang”. Don Whitney dalam bukunya “10 Pilar Penopang Kehidupan Kristen” mengidentifikasi janji tersebut sebagai keserupaan dengan Kristus, baik di masa kini maupun di masa depan. Rasul Yohanes menulis dengan yakin bahwa ketika Kristus datang kedua kalinya, “kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1 Yoh. 3:2). Perintah Tuhan dalam Ibrani 12:14 lebih lanjut menjangkarkan janji itu di masa sekarang, “kejarlah kekudusan [yang berhubungan erat dengan “kesalehan”], sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan”. Jadi kita berdisiplin rohani, melatih diri untuk hidup serupa dengan Kristus, supaya dapat melihat kehadiran Kristus secara nyata dalam kehidupan kita di masa kini dan mempersiapkan diri menikmati kekekalan bersama dengan-Nya ketika Ia nanti datang yang kedua kali.

Faktor pembeda terakhir yang perlu kita perhatikan adalah peranan manusia dalam praktik agamawi. Kepercayaan-kepercayaan lain pada umumnya mengajarkan praktik agamawi sebagai jalan untuk mendapatkan keselamatan. Implikasinya adalah manusia harus secara aktif mengejar keselamatan lewat berbagai bentuk kesalehan; kesalehan hanyalah hasil dari praktik agamawi. Keyakinan ini bertolak belakang dengan Kekristenan, yang percaya bahwa kesalehan yang sempurna telah dihidupi oleh Yesus Kristus sehingga orang-orang yang percaya kepada-Nya mempraktikkan disiplin rohani untuk menjadi serupa dengan-Nya, bukan untuk memperoleh keselamatan (bdk. 1 Kor. 1:30–31). Kesalehan yang merupakan keserupaan dengan Kristus adalah penyebab sekaligus sasaran dari disiplin rohani, bukan hasil usaha manusia berdosa, “supaya tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri” (Ef. 2:9). Karena keselamatan diberikan Allah kepada kita oleh karunia-Nya semata, kita mempraktikkan disiplin rohani dengan sepenuhnya “menaruh pengharapan kepada Allah yang hidup” (ay. 10), yang telah membuat Kristus “yang tidak mengenal dosa… menjadi dosa karena kita supaya kita dibenarkan Allah di dalam Dia” (2 Kor. 5:21). Ya, untuk janji di kehidupan sekarang dan yang akan datang “itulah kita bekerja keras dan berjuang” (ay. 10), “tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1 Kor. 15:10 TB).

Jadi, apa itu ‘disiplin rohani’ menurut Kekristenan? Secara singkat, “praktik-praktik pribadi dan komunal yang melatih setiap pengikut Kristus untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya dan mempersiapkan kita menikmati kekekalan bersama-Nya”.

Definisi ini jelas berbeda dari tindakan agamawi kepercayaan-kepercayaan lainnya bukan?

“Apa saja bentuk-bentuk disiplin rohani?”

Sebelum sepenuhnya bergeser dari konsep disiplin rohani menuju bentuk-bentuk praktiknya, kita perlu menyadari adanya bahaya dari ketiadaan batasan bentuk disiplin rohani. Kalau kita “kecanduan” pada perasaan dekat dengan Allah lewat aktivitas-aktivitas tertentu—yang mungkin hanya berlaku untuk diri kita saja—seperti berkebun dan berolahraga, kita dapat melabeli setiap hal sebagai “disiplin rohani”. Don Whitney melanjutkan dalam “10 Pilar Penopang Kehidupan Kristen”, … lebih parahnya lagi, ini berarti bahwa kita sendirilah yang menentukan praktik-praktik mana saja yang paling baik untuk kesehatan dan kedewasaan rohani kita, bukannya menerima dan melakukan praktik-praktik yang telah Allah ungkapkan dalam Alkitab; dengan kata lain, kita mencoba menggeser Allah dari tempat-Nya sebagai Tuhan atas hidup kita.

Kalau begitu, apa saja bentuk-bentuk disiplin rohani yang Alkitabiah? Don Whitney mencatat paling tidak ada 10 praktik yang paling menonjol dalam Alkitab, sebagai berikut:

  1. Bergaul dengan Firman / Bible intake (2 Tim. 3:14–17; Ez. 7:10; Mzm. 119)
  2. Berdoa (Mat. 6:5–9; 1 Tes. 5:17; Lk. 11:1; Mrk. 1:35–39; Mzm. 19)
  3. Beribadah (Yoh. 4:23–24; Ibr. 10:24–25; Mrk. 12:30; Why. 4:8)
  4. Memberitakan Injil (Mat. 28:18–20; Mrk. 16:15; Yoh. 20:21; Kis. 1:8)
  5. Melayani (Ibr. 9:14; Mzm. 100:2; 1 Sam. 12:24; Yoh. 13:12–16)
  6. Penatalayanan / stewardship (Ef. 5:15–16; Yoh. 9:4; 1 Tim. 5:8; 2 Kor. 9:7)
  7. Berpuasa (Mat. 6:16–18, 9:14–15; Ez. 8:23; Kis. 14:23; Mzm. 35:13)
  8. Bersaat teduh / silence and solitude (Kol. 3:2; Mat. 14:23; Lk. 4:42; Yes. 30:15)
  9. Menulis jurnal (Mzm. 86:1, 62:8, 102:18; Rom. 12:3; Ul. 17:18)
  10. Pembelajaran / learning (Mat. 22:37–39; Ams. 10:14, 18:15; Rom. 12:1–2)

Kamu mungkin sangat familiar dengan beberapa praktik di atas dan merasa bisa bertumbuh tanpa perlu mempraktikkan semua yang ada dalam daftar, namun aku ingin mendorongmu untuk mencoba melakukan semuanya, satu demi satu. Mengapa begitu? Karena kesepuluh praktik ini adalah jalan-jalan yang Tuhan rancang sendiri dan berikan kepada kita agar kita dapat bertumbuh menjadi semakin serupa dengan Anak-Nya (bdk. 2 Tim. 3:16–17). Kalau misalkan ada aktivitas-aktivitas lain yang telah dirancang Allah untuk melakukan tujuan yang sama, tentunya mereka pasti dicatat oleh Firman-Nya, bukan?

Masih ada satu pertanyaan besar lagi yang karena keterbatasan waktu tidak bisa kujawab sekarang, yaitu tentang bagaimana melakukan disiplin rohani. Tenang saja, pertanyaan itu akan kubahas minggu depan, beserta dengan catatan satu percakapanku dengan seorang kakak pembina, yang tanpa kuduga-duga merangkum dengan sangat baik realita manusia yang mempraktikkan disiplin rohani.

Semoga artikel ini membantu kamu dalam mulai berdisiplin rohani di dalam Kristus. Sampai jumpa dalam tulisan berikutnya, Tuhan Yesus menyertai kamu, soli Deo Gloria.

Pertanyaan refleksi:

  1. Apa pengertianmu tentang disiplin rohani sebelum membaca tulisan ini?
  2. Apa motivasimu mempraktikkan disiplin rohani selama ini? untuk menjadi saleh dan mendapat pahala dari Allah, atau untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus?
  3. Disiplin-disiplin rohani mana saja yang telah kamu praktikkan selama ini? Adakah disiplin tertentu yang belum pernah kamu telusuri dan bisa kamu lakukan dalam waktu dekat, baik secara pribadi maupun bersama orang lain, untuk dapat semakin mengenal dan mengasihi Tuhan Yesus?

Catatan:
kecuali bagian-bagian yang memiliki singkatan TB / ESV, kutipan-kutipan Alkitab dalam tulisan ini memakai terjemahan Alkitab Yang Terbuka (AYT).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

3 Manfaat Melakukan Disiplin Rohani

Jika kita ingin sungguh-sungguh hidup dalam Tuhan, kita tidak boleh menghindar dari disiplin rohani. Ketika kita melatih diri lewat berdoa, saat teduh, dan bersekutu, di situlah kita membangun relasi yang erat dengan-Nya. Sekalipun tantangan dan godaan selalu datang, tetapi Tuhan sendirilah yang memampukan kita.

Berdoa dan Bekerja, Manakah yang Lebih Penting?

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Mana yang lebih penting: berdoa atau bekerja?

Pertanyaan ini seakan menunjukkan bahwa salah satu pilihan pasti lebih baik dari lainnya. Benarkah demikian? Apa yang Kitab Suci katakan tentang ini? Untuk menolong kita menemukan jawabannya, aku mengajakmu membaca kembali kisah yang Injil ceritakan dalam Lukas 10:38-42.

Dalam nats ini dikisahkan ada seorang wanita bernama Marta yang menerima Yesus di rumahnya. Marta memiliki seorang saudara perempuan bernama Maria. Jika nama Marta disebut lebih dulu, dalam konteks sejarah Israel mungkin karena dialah pemilik rumah. Ia menyambut Yesus sebagai peziarah sebagaimana biasanya peziarah diterima pada zaman itu. Narasi singkat ini menampilkan Marta sebagai figur yang sibuk dan cemas dalam mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk melayani Yesus, sementara Maria mendengarkan kata-kata Yesus, bahkan tidak hanya mendengarkan pengajaran-Nya, tetapi ia duduk dekat kaki-Nya (Lukas 10:39).

Marta yang tampak kesal datang kepada Yesus dan meminta-Nya agar menyuruh Maria membantunya. Lukas mencatat bagi kita perkataan penting Tuhan Yesus, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya” (Lukas 10:41-42). Dalam sepanjang sejarah gereja, kisah ini sudah ditafsir oleh banyak Bapa Gereja dan orang-orang kudus. Marta sering dilihat sebagai simbol aktivitas dan pekerjaan di dunia ini, sedangkan Maria dilihat sebagai simbol kontemplasi atau saat teduh.

Penting dipahami, bahwa kisah ini bukan tentang dua sikap yang kontradiktif: mendengarkan firman Tuhan, saat teduh atau kontemplasi, dan pelayanan praktis kepada sesama kita. Bukan tentang mana lebih penting: bekerja atau berdoa? Sama sekali bukan tentang dua sikap yang bertentangan satu sama lain, tetapi sebaliknya, kisah ini menunjukkan bahwa bekerja dan berdoa merupakan dua aspek penting dalam kehidupan Kristen kita. Berdoa dan bekerja adalah dua aspek yang tidak pernah dapat dipisahkan, tetapi dihayati dalam kesatuan dan harmoni yang dalam.

Perhatikan dua perikop sebelum dan sesudah nats ini, yang mengapit kisah Marta dan Maria. Di situ ada perikop tentang Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 10:25-37), yang menunjukkan karya atau tindakan nyata kepada sesama, dan perikop tentang Hal Berdoa (Lukas 11:1-12), yang menunjukkan aktivitas doa yang intim bersama Tuhan. Kedua perikop ini lantas menemukan integrasinya dalam kisah Maria dan Marta (Lukas 10:41-42), di mana karya nyata (bekerja) dan berdoa seharusnya menjadi satu nafas hidup tiap orang percaya. Baik berdoa maupun bekerja sama-sama penting.

Lalu mengapa Yesus berkata seakan Ia menegur Marta? Tampaknya karena Marta menganggap hanya apa yang dia lakukan (bekerja) yang paling penting. Sejatinya, karya pelayanan tidak pernah terlepas dari prinsip semua tindakan kita: Mendengarkan sabda Tuhan, menjadi seperti Maria, dan bekerja secara nyata, menjadi sama seperti Marta. Contoh: Yesus yang aktif melayani sekaligus tak pernah meninggalkan saat teduh-Nya secara pribadi (Matius 14:23, 26:36-46; Markus 1:35)

Bekerja, belajar, dan melayani adalah penting. Namun, persekutuan secara pribadi dengan Tuhan tak kalah pentingnya. Keduanya harus menjadi nafas hidup kita secara sebagai anak Tuhan. Dunia ini membutuhkan orang-orang muda yang memiliki kombinasi Marta dan Maria: giat bekerja dan rajin berdoa. Orang-orang muda yang murni hatinya, sopan ucapnya, dan elok lakunya. Itu adalah panggilan bagi kita.

Yuk, kita belajar dari Marta dan Maria.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Menantikan Pertolongan Allah

Respons alami ketika kita mendapat masalah adalah segera mencari pertolongan. Tetapi, Allah pernah menghukum Israel karena melakukan ini. Belajar dari peristiwa itu, bagaimana seharusnya kita merespons persoalan?

Menantikan Pertolongan Allah

Oleh Aldi Darmawan Sie, Jakarta

Ketika mengalami permasalahan, respons alami kita sebagai manusia adalah mencari jalan keluar. Caranya bisa beragam, tapi yang biasanya kita lakukan adalah dengan mencari pertolongan orang lain. Tidak ada yang salah dengan cara ini.

Namun, ketika membaca dan merenungkan Yesaya 30:8-17, aku menemukan perspektif yang menarik. Allah melalui nabi Yesaya menegur bangsa Israel, bahkan menghukum mereka karena di tengah situasi terjepit, bangsa Israel malah mencari pertolongan kepada bangsa Mesir. Allah pada ayat ke-9 lantas menyebut Israel sebagai bangsa pemberontak, suka berbohong, dan enggan mendengar pengajaran-Nya. Aku bertanya-tanya: apa yang salah dengan tindakan bangsa Israel ini? Bagaimana seharusnya kita mencari pertolongan ketika berada dalam situasi terjepit?

Firman Allah yang disampaikan melalui nabi Yesaya ini ditulis sebagai respons atas tindakan bangsa Israel yang kala itu sedang menghadapi tekanan hebat dari keadikuasaan Asyur. Alih-alih percaya dan menantikan pertolongan dari Allah YHWH, Israel malah menolak firman Allah dan meminta pertolongan pada bangsa Mesir. Peringatan demi peringatan firman Allah melalui nabi telah digaungkan pada mereka, namun tetap saja bangsa Israel menolak percaya dan mencari pertolongan dari bangsa yang pernah memperbudak dan memahitkan hidup mereka di masa lampau.

Sebagai pembaca kitab Yesaya di masa kini, kita mungkin bisa dengan mudah menilai salah tindakan bangsa Israel yang tidak mencari Allah. Tetapi, jika kita bayangkan situasi pada masa tersebut, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Dalam keadaan terjepit, sepertinya lebih mudah bagi bangsa Israel untuk mencari pertolongan dari apa yang mereka lihat daripada dari apa yang tidak mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri. Mungkin mereka melihat Mesir sebagai bangsa yang tangguh dan besar, atau super-power pada zaman itu. Mesir memiliki senjata perang yang mumpuni, dan strategi perangnya pun dianggap apik untuk menaklukkan Asyur. Besar kemungkinan inilah yang mendorong Israel untuk datang kepada Mesir, bahkan dengan rela hati memberikan kekayaan mereka demi mendapatkan pertolongan (ayat 6).

Kontras dengan pemikiran bangsa Israel, nabi Yesaya dengan begitu kuat menggambarkan dan menekankan tentang atribut Allah. Allah bukan hanya kudus, tetapi Mahakudus (The Holy One). Dalam perikop ini, tiga kali Yesaya menyebutkan atribut tersebut. Karena Allah yang bangsa Israel sembah adalah kudus, mereka pun dituntut untuk hidup kudus bagi Allah. Kekudusan itu harus diekspresikan dengan menghidupi kehidupan yang berbeda, terkhusus daripada bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah. Pada masa itu, perlengkapan perang seperti senjata, kuda-kuda, kereta besi, dan baju perang dianggap sebagai kunci memenangkan pertempuran. Namun, bagi Allah YHWH, kunci memenangkan perang adalah dengan percaya kepada-Nya. Itulah yang dituntut Allah dari bangsa Israel. Tindakan ini merupakan perwujudan dari keberserahan diri mereka kepada Allah Yang Mahakudus.

Ketika Israel menyimpang, Allah bukannya diam. Seruan pertobatan diberitakan pada mereka, tetapi Israel tetap menolak percaya pada Allah (ayat 15). Akibatnya dapat kita lihat dalam ayat 13 dan 14. Dosa mereka mengakibatkan ganjaran berupa kehancuran yang tiba-tiba dan sekejap. Ayat sebelumnya juga mengatakan, dengan datang ke Mesir, Israel bukannya mendapatkan pertolongan, malah mendapatkan malu (ayat 5), karena sesungguhnya pertolongan dari Mesir tidak akan berguna dan percuma (ayat 7). Terakhir, Israel menelan pil pahit berupa ditaklukkan oleh Asyur (ayat 16-17).

Belajar dari ketidakpercayaan Israel

Setelah merenungkan perikop itu, aku bertanya pada diriku sendiri. “Sebagai umat Allah Yang Mahakudus, ketika aku mengalami berbagai kesulitan, pertolongan siapa yang aku nantikan?”

Di dalam buku “Mengasihi Yang Mahakudus”, Aiden Wilson Tozer mengatakan, “Apa yang kita pikir tentang Allah, menjelaskan setiap aspek kehidupan kita.” Secara sederhana, kalimat itu dapat diartikan respons dan tindakan kita mencerminkan apa yang kita percayai tentang Allah. Tidak jarang untuk melepaskan diri dari masalah kita malah mencari pelarian, sesuatu yang tidak menyelesaikan masalah itu sendiri. Kita memberi diri untuk terjerat pada kecanduan gawai, pornografi, dan sederet hal lainnya. Respons tersebut sejatinya mencerminkan isi hati kita dan apa yang kita percayai tentang Allah.

Setelah merefleksikan seruan Allah melalui Nabi Yesaya ini, pesan yang menggema bagiku adalah percayalah kepada Allah dan nantikan pertolongan-Nya. Suara pertobatan dari Nabi Yesaya ini patut kita hidupi, bahwa “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (ayat 15). Sumber kekuatan kita sebagai umat Allah di dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan, tidak terletak dari hebatnya pikiran kita dalam mengelola permasalahan kita, bukan juga dari kecanggihannya teknologi, dan bukan juga dari pertolongan orang lain, tetapi berasal dari Allah sendiri. Maka dari itu, respons yang tepat bagi kita, sebagai umat Allah Yang Mahakudus itu, adalah dengan percaya dan menantikan Allah.

Hal yang dapat kita lakukan sebagai wujud kita percaya dan menantikan pertolongan Tuhan adalah berdoa. Kita belajar menantikan pertolongan Allah di masa-masa sulit dengan datang kepada-Nya melalui doa. Kita belajar menyerahkan segala ketakutan dan kekhawatiran kita ke dalam tangan-Nya melalui doa. Di dalam doa juga, kita membuka ruang untuk mengalami pertolongan Tuhan yang sering kali tidak terlihat oleh mata jasmani, tetapi dapat kita rasakan melalui mata batiniah. Dengan berdoa, kita dibawa untuk semakin mengenal Allah, Yang Mahakudus dan rancangan-Nya bagi kita.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Belajar Mengasihi Mereka yang Tak Seiman

Tinggal dalam lingkungan homogen membuatku takut dengan orang yang berbeda iman. Di tempat kerja, aku merasa takut didiskriminasi. Tapi, kutahu ini pandangan yang salah dan Tuhan menolongku untuk mengubahnya.

Bosan Saat Berdoa? Cobalah Metode Berdoa Berdasarkan Alkitab

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

“Saat Anda berdoa, apa Anda hanya mengatakan hal yang itu-itu saja?” begitu bunyi kutipan di belakang sampul buku ini yang membuat aku tertarik untuk membacanya.

Aku pernah ada di masa-masa jenuh berdoa, rasanya berdoa begitu membosankan sehingga waktuku untuk berdoa tidak banyak dan aku pun sulit menikmati doa-doaku. Setelah membaca buku ini aku mulai menyadari apa yang membuat aku tidak lagi menikmati doa-doaku sehingga aku malas berdoa. Buku ini juga memberikan solusi supaya aku bisa kembali menikmati doa-doaku.

Menurut Donald S. Whitney, ketika kita jenuh berdoa, masalahnya pasti bukan pada diri kita, tetapi metode kita ketika berdoa. Sesungguhnya, jika kita sudah berbalik dan tidak lagi hidup demi diri dan dosa kita tetapi sudah percaya pada Kristus dan karya-Nya yang membuat kita benar di hadapan Allah, maka Allah telah memberi kita Roh Kudus. Masalah kebosanan dalam berdoa bukan pada diri kita. Bukan karena kita memang tidak cakap berdoa, tetapi pada metode atau bagaimana cara kita berdoa. Dan metode yang umumnya digunakan orang Kristen dalan berdoa adalah mengulang kata-kata yang sama, misalnya: Tuhan tolong berkati pekerjaanku hari ini, berikan aku hikmat dan jagai hati, pikiran serta seluruh tubuhku sepanjang hari ini sehingga bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku. Tanpa disadari inilah yang setiap hari dikatakan dalam doa.

Masalahnya bukan karena kita berdoa tentang hal yang sama. Berdoa secara rutin tentang orang dan situasi yang sama sangatlah wajar. Wajar untuk mendoakan hal yang sama karena hidup kita cenderung terdiri dari hal-hal yang sama. Kita selalu berdoa untuk keluarga, masa depan, keuangan, pekerjaan, pendidikan, teman hidup dan sebagainya. Jadi masalahnya bukan karena kita berdoa tentang hal yang sama tetapi kita mengucapkan kata-kata yang sama.

Tapi, dengan berdoa mengucapkan kata-kata yang sama setiap hari, kita bisa terjebak pada rasa bosan. Dan ketika doa terasa membosankan, kita jadi tidak merasa ingin berdoa. Saat itu jugalah kita tergoda untuk berpikir, pasti aku yang salah. Aku pasti orang Kristen yang kurang berkualitas.

Buku “Praying The Bible” menawarkan metode lain dalam berdoa, terutama bagi kita yang tidak lagi menikmati berdoa karena kata-kata yang diucapkan selalu sama, yaitu metode berdoa dengan menggunakan Alkitab.

Berdoa dengan menggunakan Mazmur dan berdoa menggunakan bagian-bagian Alkitab yang lain

Berdoa dengan Alkitab artinya membaca (atau mengulangi) Alkitab di dalam doa dan membiarkan makna dari ayat-ayat Alkitab menjadi doa kita dan menginspirasi pikiran kita. (John Piper)

Anggap saja ada seorang wanita yang ingin berdoa setiap hari bagi anak-anak atau cucu-cucunya bisa berdoa bagi mereka saat dia membaca Mazmur 23. Mazmurini mendorong dia untuk berdoa agar Allah bisa “menggembalakan” anak-anaknya dalam berbagai hal. Esok harinya, dia bisa berdoa dengan membaca 1 Korintus 13, dari situ dia bisa meminta Tuhan mengembangkan kasih kepada anak-anak-Nya seperti yang diajarkan dalam pasal itu. Hari berikutnya, sambil membaca Mazmur 1, pasal ini membimbing dia berdoa agar anak-anaknya bisa menjadi perantara firman Allah. Hari selanjutnya, ia membaca Galatia 5 dan meminta Tuhan mengembangkan buah Roh dalam anak-anak-nya. Setelah itu dia kembali ke kitab Mazmur, dan sambil bicara dengan Tuhan melalui Mazmur 139, dia meminta agar anak-anaknya bisa merasakan kehadiran Allah di mana pun mereka pergi pada hari itu.

Sebenarnya, inti dari doanya “berkati anak-anak saya” tidaklah berubah, meski kata-katanya berubah. Dengan menyaring doa itu melalui bagian Alkitab yang berbeda-beda, doanya berubah dari pengulangan kata menjadi permohonan yang muncul dari hati ke sorga dalam cara yang unik setiap hari.

Bagaimana pun cara kita berdoa sesungguhnya Tuhan tetap mendengar, namun jika kita sedang merasa jenuh dengan kehidupan doa kita, saran berdoa dengan menggunakan Alkitab dapat menolong kita.

“Kita harus berdoa ketika kita tidak sedang merasa ingin berdoa, karena berbahaya jika tetap berada dalam kondisi yang tidak sehat seperti itu” (Charles Spurgeon).

Tentang buku dan penulis

Judul : Praying The Bible
Penulis : Donald S. Whitney
Tahun Terbit : April 2019
Jumlah Halaman : 106 halaman
Penerbit : Literatur Perkantas Jatim

Donald S. Whitney adalah profesor spiritualitas biblika dan wakil dekan di Southern Baptist Theological Seminary di Louisville, Kentucky. Dia telah menulis beberapa buku yang berkaitan dengan spiritualitas Kristen, termasuk buku Spiritual Disciplines for the Christian Life.

Baca Juga:

Virus Corona: Takut itu Manusiawi, Tapi Jangan Biarkan Kepanikan Menguasai

Ketika virus Covid-19 muncul, aku merasa biasa saja. Sampai ketika WHO menyatakan pandemi dan ada orang yang terjangkit di kotaku, panik mulai menghadangku. Jika kamu merasa panik sepertiku, lewat tulisan ini aku ingin membagikan ada lima hal yang bisa kita lakukan.

Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Harus Kudoakan

Oleh Irene

Matahari terbenam, langit menggelap, dan rembulan dengan malu-malu mulai muncul dari peraduan. Aku menatap ke langit sebelum masuk ke dalam kamar untuk tidur. Namun, semakin aku berusaha untuk tidur, semakin pula aku tidak bisa memejamkan mata. Kegelisahan menghampiriku, membuat kepalaku terasa begitu penuh.

Pintu kamarku terbuka. Ibuku yang melihat gelagat kegelisahan dari bahasa tubuhku di atas ranjang pun menegurku.

“Ada apa?” tanyanya.

“Aku gelisah dan bingung. Aku bingung mau berdoa apa malam ini,” jawabku jujur.

Malam itu perasaanku berkecamuk, seakan ada banyak hal yang aku pikirkan mulai dari pekerjaan, agenda pindahan rumah sampai keputusanku untuk ingin pindah kota dan keluar kerja Namun, jujur, saat itu aku tak tahu harus mulai berdoa dari mana.

Mendengar perkataanku, ibuku pun menjawab, “Berdoalah kepada Tuhan. Kamu tak perlu bicara banyak, cukup katakan, Tuhan, aku bingung.”

Jujur, mendengar perkataan ibuku, aku jadi tambah bingung. Bagaimana mungkin doa yang selama ini aku panjatkan panjang lebar berisi banyak kata diganti hanya dengan dua kata itu saja?

“Hah?” jawabku kepada ibuku sembari dahiku mengernyit.

Ibuku kembali mengulangi perkataannya. Dia tersenyum dan menasihatiku dengan suara lembut, “Cukup bilang, Tuhan, aku bingung. Tuhan itu sudah ngerti kamu kok. Tuhan tahu apa yang kamu alami, apa yang kamu pikirkan. Cukup ngobrol itu saja sama Tuhan, Tuhan pasti sudah tahu.”

Wow! Mendengar itu, aku merasa takjub. Iya ya, kok aku nggak berpikir sampai ke sana? Tuhan tahu apa yang aku butuhkan, bahkan ketika aku bergumam dan mengeluh di dalam hatiku sekalipun, Dia tahu. Dia Mahatahu akan semua masalah hidupku, akan pekerjaanku dan seluruh pergumulanku sebab Tuhan mengenalku seutuhnya, jauh lebih daripada aku mengenal diriku sendiri.

Seperti tertulis dalam Yeremia 1:5, kita diingatkan kembali bahwa Allah kita adalah Allah yang mengerti dan memahami kita seutuhnya, bahkan jauh sebelum kita diciptakan dan dibentuk dalam rahim. Seperti Nabi Yeremia yang diutus Tuhan untuk menjadi sosok nabi bagi bangsa-bangsa, kita pun diutus dan telah dikuduskan oleh Allah dalam kehidupan yang telah Dia anugerahkan. “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa” (Yeremia 1:5).

Dari situlah, ketika aku merasa terlalu sulit untuk berkata-kata, dengan jujur aku mengucapkan pada Tuhan “Tuhan, aku bingung.” Aku tidak perlu malu mengakui keadaan diriku di hadapan Tuhan, sebab Tuhan selalu menyambutku setiap kali aku datang kepada-Nya. Rasul Paulus menulis demikian, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenernya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26).

Kadang, aku masih menambahi doaku dengan menceritakan pergumulan-pergumulan yang aku alami. Namun, aku tahu, bahwa ketika aku berdoa, ketika aku mengobrol dengan-Nya, Dia mendengarkanku. Dia ada di sampingku setiap hari, setiap menit, setiap detik. Tuhan peduli dan takkan meninggalkan aku seperti yang ada tertulis dalam kitab Ibrani 13:5 – 6, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. Sebab itu, dengan yakin kita dapat berkata: “Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut.”

Baca Juga:

Penginjilan lewat Media Sosial, Bagaimana Caranya?

Media sosial menolong kita memberitakan Kabar Baik dengan lebih mudah dan menjangkau lebih banyak. Namun, sebelum melakukannya, yuk simak 5 tips dalam artikel ini.

Apa Isi Doamu?

Hari ke-29 | 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus
Baca Pengantar Kitab Yakobus di sini

Apa Isi Doamu?

Baca: Yakobus 5:13-18

5:13 Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa! Kalau ada seorang yang bergembira baiklah ia menyanyi!

5:14 Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan.

5:15 Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni.

5:16 Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

5:17 Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.

5:18 Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.

Apa Isi Doamu?

Apa yang biasanya kamu doakan atau bicarakan dengan Tuhan?

Menurutku, doa-doa kita itu sama seperti percakapan-percakapan kita. Kedalaman percakapan kita mencerminkan kedalaman hubungan kita—apa yang kita pilih untuk ceritakan dan bagaimana kita menyampaikannya, menunjukkan tingkat kedekatan dalam tiap-tiap hubungan. Sebagai contoh, percakapan kita dengan seorang rekan kerja mungkin akan sangat berbeda dibandingkan percakapan kita dengan seorang sahabat dekat.

Demikian juga, cara kita berdoa mencerminkan kondisi rohani kita dan kedekatan hubungan kita dengan Tuhan.

Hal ini disampaikan Yakobus saat ia mengajarkan bagaimana kita sebagai orang-orang Kristen, seharusnya berespons terhadap berbagai situasi hidup (ayat 13-15). Saat ada begitu banyak masalah dan kesusahan yang melingkupi, kita harus berdoa meminta hikmat (Yakobus 1:2-5)—sehingga kita dapat melihat pencobaan itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan sukacita yang besar dan sebagai sarana untuk membangun ketekunan dengan mengingat bahwa Tuhan berdaulat penuh atas semua yang kita alami. Tuhan tahu apa yang sedang Dia lakukan, dan kita dapat melangkah dengan berani mengetahui bahwa Dia akan mewujudkan tujuan-tujuan-Nya yang baik bahkan di tengah situasi yang paling buruk.

Saat kita sedang bergembira, kita didorong untuk menyanyi dan memuji Tuhan sembari menghitung berkat-berkat-Nya, mengakui bahwa segala pemberian yang baik berasal dari Bapa kita yang baik (ayat 13).

Saat kita sakit, kita didorong untuk memanggil para penatua jemaat untuk mendoakan kita, percaya bahwa “doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu” (ayat 15). Kita juga dapat memakai kesempatan tersebut untuk memeriksa hati kita apakah ada dosa yang tersembunyi, dan bila ada kita dapat mengakuinya di hadapan Tuhan.

Namun, apa yang dimaksud “doa yang lahir dari iman”? Bagaimana seseorang bisa berdoa demikian?

Ibrani 11:1 memberitahu kita bahwa iman adalah “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Doa yang lahir dari iman adalah doa yang dinaikkan atas dasar janji-janji Tuhan, dengan keyakinan bahwa Tuhan akan memegang janji-Nya dan akan menepatinya pada waktu yang tepat.

Tuhan sangat senang bila kita menghampiri-Nya dengan sikap yang demikian.

Dalam ayat 15-16, Yakobus menekankan pentingnya pengakuan dosa dalam doa. Kita harus saling mengaku dosa dan saling mendoakan supaya kesembuhan dapat terjadi (ayat 16). Yakobus kemudian berbicara tentang “orang benar” yang doanya penuh kuasa dan dikabulkan (ayat 17). Maksudnya bukanlah orang yang merasa diri benar dan mengandalkan pencapaian serta perbuatan baiknya. Maksudnya adalah orang yang dengan rendah hati mengakui anugerah dan rahmat Tuhan yang menyelamatkan hidupnya, yang menaruh imannya pada pekerjaan dan firman Kristus semata.

Yakobus menyebut nabi Elia sebagai salah satu tokoh yang dapat diteladani (1 Raja-Raja 17-18). Sebelum ada yang protes dan mengatakan bahwa level Elia itu beda dengan kita, Yakobus cepat-cepat mengingatkan bahwa Elia adalah “manusia biasa sama seperti kita” (ayat 17). Elia juga punya rasa takut, rasa tidak aman, kebimbangan dan kekhawatiran—hingga pada satu titik ia pernah merasa sangat lelah dengan hidupnya dan minta Tuhan mengambil nyawanya (1 Raja-Raja 19:4).

Namun, Elia mengenal Tuhan dan firman-Nya. Elia memegang sungguh-sungguh janji Tuhan dan percaya bahwa Tuhan akan menepati janji-Nya pada waktu-Nya yang sempurna—sebab itu ia dapat berdoa dengan penuh iman dan keyakinan yang kuat (ay. 17-18).

Apa yang bisa kita pelajari?

Dalam hubungan kita dengan Tuhan selama kita hidup di dunia ini, kita dapat bertumbuh mengenal Tuhan dan janji-janji-Nya dengan membaca firman-Nya. Bertambahnya pengenalan kita akan janji-janji Tuhan akan mengubah total cara kita berdoa. Kita akan mulai menaikkan doa-doa iman yang didasarkan pada janji-janji yang sudah Tuhan berikan untuk kita, dan kita akan dapat melakukannya dengan penuh keyakinan—meminta Tuhan menepati janji-janji-Nya pada waktu-Nya yang baik dan sempurna.

Mari mulai menaikkan doa-doa iman! —Lydia Tan, Singapura

Handlettering oleh Teguh Arianto

Pertanyaan untuk direnungkan

1. Ambillah waktu untuk merenungkan doa-doa kita belakangan ini. Apakah doa-doa kita bisa disebut sebagai doa yang penuh iman…. atau lebih seperti doa yang putus asa?

2. Satu hal apa yang bisa kamu ubah dari cara kamu berdoa?

3. Tuliskan satu janji Tuhan yang akan kamu sertakan dalam doamu hari ini.

Bagikan jawaban atas perenunganmu ini di kolom komentar. Kiranya jawaban sobat muda dapat menjadi inspirasi dan berkat bagi orang lain.

Tentang Penulis:

Lydia Tan, Singapura | Lydia adalah seorang yang optimis. Sepertinya tidak ada suatu hal yang bisa membuatnya pesimis, kecuali pikiran tentang sayuran dan jarum. Dia sangat senang ketika dia ada bersama-sama dengan orang, anak anjing, atau anak kecil. Dari mereka, dia dapat belajar pelajaran hidup. Lydia punya kelemahan, dia tidak bisa menahan diri untuk cokelat hitam dan pernak-pernik yang cantik (terutama jika itu buatan tangan). Lydia adalah seorang pempimpi, dia bersemangat untuk menjadi terang Tuhan bagi bangsa-bangsa dan dia suka banyak petualangan. Ketika tidak sedang sibuk, Lydia suka berjalan-jalan santai dan menikmati Tuhan di alam.

Baca 30 Hari Saat Teduh bersama Kitab Yakobus