Posts

Belajar Menerima Hal Buruk, Sebagaimana Aku Menerima Hal Baik dari Tuhan

Oleh Debora Asima Rohayani, Jakarta

17 September 2015, tanggal yang tidak bisa aku lupakan sampai saat ini. Hari itu rumah uwak, kakak dari mamaku mengalami musibah kebakaran. Rumah kami bersebelahan sehingga sebagian rumahku pun terkena kobaran api. Ketika menerima telepon tentang kejadian ini, aku sedang bekerja di kantor. Dengan segera aku pun pulang ke rumah.

Aku tidak melihat ada satu pun yang tersisa dari rumah uwakku, semuanya rata dengan tanah. Keponakan kembarku yang berusia dua tahun meninggal dalam musibah tersebut, kedua-duanya! Hatiku hancur, kakiku sudah tak kuat untuk berdiri rasanya. Aku melihat mamaku duduk tanpa ekspresi apa pun di depan rumah. Aku memeluknya, membisikkannya, “semua pasti baik-baik saja, Ma”. Tapi, kondisi saat itu jelas tidak sedang baik-baik saja. Aku berusaha menguatkan semua anggota keluargaku dengan membendung air mataku.

Aku lalu masuk ke dalam rumahku sendiri dan melihat semuanya hancur tak berbentuk. Aku tak dapat menahan lagi sesaknya hati ini. Aku menangis dalam kesendirianku. Semua peristiwa ini seperti mimpi buruk yang menjadi nyata. Dalam hatiku, aku bertanya, “Tuhan, apa dosa yang aku perbuat?” Tanpa kusadari, pikiranku terus mengajukan pertanyaan-pertanyaan lainnya. “Apakah ini hasil aku melayani-Mu di gereja, berdoa, membaca firman-Mu? Adik-adikku juga melayani-Mu”. Saat itu, hanya pertanyaan demi pertanyaan yang terlintas di benakku, pertanyaan yang lebih mengacu kepada protesku pada Tuhan.

Namun, aku teringat tentang bagaimana Ayub yang di dalam kesalehan hidupnya mengalami hal yang sangat buruk, sangat tidak adil. Dan, ayat ini kemudian muncul di kepalaku:

“Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut” (Ayub 1:22).

Ayub berusaha memakai sudut pandang Allah dalam menjalani apa yang terjadi di hidupnya. Aku tahu, apa yang dialami Ayub adalah sesuatu yang rasanya begitu berat untuk ditanggung seorang manusia. Dan kupikir, musibah yang kualami mungkin tidak lebih berat daripada yang Ayub alami.

Tapi, hidup ini rasanya tidak mudah bagiku. Kami harus tidur tanpa lampu penerangan karena semua aliran listrik dipadamkan. Sempat ada tetangga yang memberikan sambungan listrik, tapi tiba-tiba mereka mencabutnya kembali tanpa aku tahu alasannya. Dan, untuk pertama kalinya aku harus tidur di bawah langit malam secara langsung, ya tanpa atap. Saat hujan, kami berteduh di rumah tetangga yang lain. Bayangan canda tawaku dengan dua keponakanku selalu muncul di kepalaku. Tak sekali-kali air mataku pun mengalir.

Beberapa hari setelah musibah itu menjadi titik terendah dalam hidupku. Fase di mana aku bingung apakah aku mau tetap percaya kepada-Nya, atau berhenti berharap. Jelas sangat sulit, apalagi setelah aku mengetahui bahwa biaya untuk merenovasi total rumahku harus menggunakan uang tabungan mama yang awalnya ditujukan untuk membiayai kuliah adik pertamaku. Adikku bersedia merendahkan hatinya dan merelakan kesempatannya berkuliah. Adikku yang kedua akan masuk SMP tahun depan. Dan sebagai anak pertama yang baru bekerja dan kuliah di semester awal, aku bisa apa? Aku merasa semuanya tidak ada harapan lagi.

Tapi, ada satu kalimat yang muncul dalam hatiku. “Apakah kamu hanya mau menerima yang baik, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Kalimat ini menyentakku. Dari sudut pandangku sebagai manusia, jelas apa yang kualami rasanya begitu buruk dan tak mampu kutanggung. Tapi, maukah aku melihat musibah ini dari sudut pandang-Nya?

Aku menyesali segala pikiranku yang hanya menuntut Tuhan untuk mengerti perasaan dan mauku. Aku percaya bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi yang luput dari pengawasan-Nya. Alih-alih menyerah, aku berusaha menguatkan kepercayaanku kepada Tuhan Yesus, dan belajar seperti Abraham yang sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, Abraham tetap memilih untuk berharap dan percaya (Roma 4:18).

Bulan demi bulan kami lalui, yang aku rasakan Tuhan memeliharaku dan keluargaku, walau ada tangisan dan pengorbanan dalam perjalanan yang kami lalui. Aku sempat merasa tidak mampu lagi, tetapi Tuhan menghiburku. Tuhan mengingatkanku kembali bahwa Tuhan Yesus selalu ada bagi aku dan keluargaku. Mama sudah 15 tahun menjadi single fighter bagiku dan adik-adikku karena Papa sudah meninggal sejak aku kelas 2 SD. Dan, Tuhan selalu mencukupkan segala keperluan kami. Bahkan adik-adikku tetap dapat berkuliah dan membayar kebutuhan masuk SMP tepat waktu. Aku merasakan kekuatan tangan Tuhan Yesus yang perkasa, yang memampukan mamaku untuk menghidupi ketiga anaknya.

Aku mungkin tidak dapat menyelami apa rencana Tuhan dari awal sampai akhir. Tapi Allah turut bekerja di dalam segala sesuatu, bahkan di dalam kesengsaraanku, untuk mendatangkan kebaikan. Yang aku rasakan adalah Tuhan Yesus tidak pernah meninggalkanku, Dia selalu ada. Kalau Yesus terasa jauh, mungkin akulah yang mulai menjauh dari kasih-Nya.

Kalau saat ini kita merasa beban hidup sangat berat, seolah tidak ada hasil yang baik, tidak ada perubahan atas keluarga, pasangan, atau apapun itu, tetaplah percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus, Dia sudah membuktikan menang atas maut di kayu salib. Dia juga sanggup menjadikan kita menang atas masalah apapun yang sedang kita alami saat ini, asalkan kita tidak menyerah. Karena Tuhan Yesus juga tidak pernah menyerah untuk tetap mengasihi kita dengan segala ketidaklayakan kita.

Di masa-masa yang lalu, kita mungkin pernah mengalami kesulitan. Tapi, sekarang kita telah tiba di titik ini meskipun mungkin kita mencapainya dengan tertatih-tatih. Kita berhasil melewatinya karena Yesus menyertai di setiap musim hidup kita. Mungkin kita terjatuh, tapi Dia tidak akan membiarkan kita tergeletak. Dan, pergumulan yang kita alami saat ini akan membuat kita melihat segala perkara besar yang Yesus sanggup lakukan, selama kita menaruh pengharapan kita kepada-Nya. Pengharapan di dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan dan salib-Nya yang ada di depan kita akan membawa kita kepada kemenangan.

“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang” (Amsal 23:18).

Tetap bertahan, kawanku.

Tuhan memberkati.

Baca Juga:

Benang Merah Kehidupan

Dalam hidupku, ada suatu hal yang awalnya kuanggap kurang penting. Tapi, inilah yang kemudian dipakai Tuhan sebagai sarana untukku memuliakan-Nya.

3 Respons untuk Menyikapi Musibah

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Dengan semakin canggihnya teknologi komunikasi, kita dapat mengetahui secara cepat perkembangan suatu peristiwa atau musibah yang terjadi. Namun, tak jarang kemudahan ini malah menimbulkan kesimpangsiuran. Di saat informasi belum terhimpun sempurna, beberapa orang merespons dengan sengaja menyebarkannya melalui media sosial. Alih-alih membagikan informasi baik, yang ada malah menimbulkan kepanikan di masyarakat.

Teruntuk kita semua, para warganet Indonesia dan khususnya para pemuda Kristen, sekiranya inilah tiga hal yang perlu kita pikirkan sebelum kita memposting sesuatu sebagai respons kita terhadap suatu musibah:

1. Jangan terburu-buru menyebarluaskan informasi

Cek terlebih dulu sebelum membagikan informasi kepada keluarga atau rekan-rekan kita. Apabila informasi yang kita terima hanya berupa pesan broadcast tanpa disertai tautan menuju sumber yang jelas dan kredibel, ada baiknya kita menunda dulu penyebarluasan pesan tersebut. Meski maksud untuk membagikan pesan itu adalah baik, tetapi apabila informasi yang diberikan itu ternyata tidak sesuai, bisa saja menimbulkan kesimpangsiuran, atau bahkan kepanikan.

Hal sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengecek kebenaran suatu informasi adalah dengan membuka portal berita resmi dan terpercaya, atau dengan menunggu pernyataan resmi dari instansi terkait yang biasanya dengan cepat diumumkan melalui media sosial Twitter. Informasi yang tidak berasal dari sumber-sumber tersebut ada baiknya kita kesampingkan dahulu.

Ketika kita turut menyebarkan informasi yang tidak sesuai, bisa jadi kita juga turut menyebarkan kabar kebohongan. Keluaran 23:1 mengatakan demikian, “Janganlah engkau menyebarkan kabar bohong; janganlah engkau membantu orang yang bersalah dengan menjadi saksi yang tidak benar.”

2. Tunjukkanlah empati, bukan spekulasi

Ketika bencana atau musibah terjadi, kita mungkin bertanya-tanya bagaimana itu dapat terjadi, siapa saja korbannya, apakah ada pihak yang bersalah atau tidak, dan sebagainya. Respons itu adalah wajar, akan tetapi bukanlah hal yang bijak apabila kita kemudian mengungkapkannya secara terburu-buru melalui media sosial, apalagi kalau kita bukan orang yang mengalami langsung hal tersebut. Mungkin yang kita ketahui ada benarnya, tetapi bukan itu yang benar-benar dibutuhkan oleh para korban dan keluarganya.

Selain itu, hindari menyebarluaskan informasi berisi gambar-gambar atau foto-foto korban. Menyebarkan foto dan gambar tersebut, apalagi apabila menonjolkan luka-luka dan kengerian di dalamnya tidak akan memberikan manfaat apapun selain menyebarkan ketakutan dan menambah duka bagi keluarga korban.

Ketika bencana atau musibah terjadi, baik korban maupun orang terdekat mereka mengalami trauma dan bahkan dukacita. Yang mereka perlukan adalah uluran tangan dan penghiburan. Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menunjukkan empati kita, sebagaimana yang Rasul Paulus katakan dalam Roma 12:15, “Menangislah dengan orang yang menangis!”

3. Doakanlah para korban dan mereka yang bertugas melakukan proses evakuasi

Kita mungkin tidak mengalami secara langsung suatu bencana atau musibah, pun bukan kerabat atau kawan dari mereka yang menjadi korban. Namun itu bukan alasan untuk kita bersikap tidak peduli. Salah satu dukungan sederhana tetapi nyata yang dapat kita lakukan adalah dengan mendoakan mereka. Ketika kita berdoa, kita mengakui kepada Tuhan bahwa diri kita terbatas. Tetapi, Tuhan kita adalah Pribadi yang Mahakuasa. Dia tidak terbatas pada ruang dan waktu. Dia sanggup menolong, memberikan kekuatan pada mereka yang berduka dan memberikan penghiburan yang sejati.

Ketika kita berdoa, mungkin musibah itu tidak seketika juga selesai diatasi. Tetapi kita tahu dan percaya bahwa Roh Kudus mampu menguatkan dan menghibur mereka yang kita doakan. Rasul Paulus pun dalam suratnya kepada Yakobus berkata, “Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!” (Yakobus 5:13).

Pertolongan Tuhan dapat hadir dalam berbagai wujud, salah satunya adalah melalui para relawan atau petugas yang berada di lapangan untuk melakukan evakuasi. Kepada Tuhan, kita dapat berdoa memohon agar Dia mengaruniakan kekuatan dan kebijaksanaan kepada para petugas yang melakukan proses evakuasi. Untuk menyelamatkan para korban, mereka harus berpacu dengan waktu dan juga medan evakuasi yang mungkin sulit.

Tuhan Yesus memanggil kita untuk menjadi terang. Ketika dunia menjadi gelap akan segala kesimpangsiuran musibah, kita dapat menghadirkan terang itu dengan merespons dengan cara-cara yang bijak.

Baca Juga:

Terima Kasih Matt Kecil

Aku bekerja sebagai seorang pengajar. Suatu kali, dalam sebuah jadwal les di sore hari aku mendapatkan suatu pengalaman yang mengajariku tentang bersyukur dan tersenyum. Cerita pengalaman ini kudapat dari interaksiku dengan Matt, seorang murid les sekaligus teman kecilku yang manis.

Allah di Balik Kabut Asap

Penulis: Markus Boone

kabut-asap-2015
Sumber foto: daerah.sindonews.com, 22 Oktober 2015

Kemarau panjang beberapa bulan kemarin mungkin membuat hati kecil kita bertanya-tanya, mengapa Allah tidak kunjung mendatangkan hujan; mengapa Dia membiarkan bencana asap melanda dan menyebabkan jutaan orang menderita sakit karena asap yang begitu pekat masuk dalam hidung, tenggorokan dan paru-paru mereka. Pertanyaan senada mungkin pernah (dan akan) terbersit di benak kita ketika hujan terus turun dan bencana banjir menyapa. Mengapa Allah membiarkan bencana datang? Apakah Allah kurang berkuasa? Ataukah mungkin Dia kurang peduli?

Setidaknya ada beberapa hal yang menurutku bisa kita renungkan tentang pribadi Allah di balik bencana kabut asap yang hampir setiap tahun terjadi.

1. Allah konsisten dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya

Bayangkanlah seorang guru yang membuat peraturan dalam kelas, tetapi sangat sering mengubah-ubah peraturan yang dibuatnya sendiri. “Hari ini peraturan nomor satu tidak berlaku ya, besok saja berlakunya.” Lalu seminggu kemudian ia berkata, “Minggu ini peraturan yang kemarin saya umumkan tidak jadi berlaku karena ada murid-murid yang tidak setuju.” Apa kesan kita terhadap guru yang demikian?

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika setiap kali kita berdoa Allah mengubah hukum-hukum alam yang dirancang-Nya sendiri. Kekacauan! Begitu gereja berdoa, Allah langsung memadamkan api di hutan. Orang-orang yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan tidak jadi dihukum. Pemerintah tidak merasa perlu berusaha keras memperbaiki sistem pengawasan dan pelestarian lingkungan. Penduduk tidak akan sadar betapa pentingnya menjaga alam yang dikaruniakan Allah. Apapun yang dilakukan orang dengan hutan setiap tahunnya, semua akan baik-baik saja. Tidak ada panggilan pertobatan.

Di balik kabut asap kita melihat Allah yang konsisten dengan apa yang sudah dirancang-Nya. Dia bukan Allah yang kebingungan dalam menegakkan aturan untuk alam ciptaan-Nya sendiri (Mazmur 119:89-91). Bencana kabut asap, sebagaimana halnya masalah lubang ozon dan pemanasan global, terjadi karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Tidak bisa dibereskan hanya dengan mengeluh dalam doa dan menuntut Allah melakukan “hal-hal ajaib”. Perlu ada refleksi sekaligus reformasi dalam kehidupan setiap kita, bagaimana kita menyikapi alam yang dikaruniakan Tuhan. Polisi, jaksa, dan hakim harus menegakkan keadilan bagi orang-orang yang merusak alam. Pemerintah harus membuat peraturan yang lebih jelas serta menciptakan infrastrukur yang dapat mencegah terulangnya kebakaran hutan dalam skala masif.

2. Allah baik dan panjang sabar terhadap umat manusia

Mengapa kita dan jutaan orang lainnya merasa prihatin sekaligus marah dengan munculnya kabut asap? Pertama-tama tentunya karena kabut asap membawa dampak yang buruk. Tiba-tiba kita merasa sangat terganggu karena ada begitu banyak hal baik yang direnggut dari kehidupan kita (atau sesama kita) oleh asap. Kebebasan beraktivitas, jarak pandang yang jauh ke depan, udara yang bersih dan segar, kesehatan, keindahan alam, bahkan nyawa orang-orang yang kita kasihi. Anugerah yang mungkin kerap kurang kita sadari dan syukuri ketika semua baik-baik saja.

Kedua, kita prihatin dan marah karena tahu bahwa bencana asap tidak tidak terjadi dengan sendirinya. Pepatah lama berkata, “di mana ada asap di situ ada api”. Memang ada faktor cuaca yang membuat bencana ini berkepanjangan. Namun, penyebab utamanya adalah ulah pihak-pihak tertentu yang sengaja merusak dan membakar hutan untuk kepentingan mereka.

Kalau kita saja prihatin dan marah, tidakkah Allah, Pemilik alam ini jauh lebih berhak untuk prihatin dan marah? Tidak hanya kepada para pembakar hutan, tetapi kepada setiap manusia yang tidak menghargai dan memelihara alam ciptaan-Nya dengan baik. Bencana asap terjadi bukan karena Allah mengabaikan manusia, melainkan karena manusia mengabaikan Allah dan tidak peduli kepada alam semesta yang dipercayakan-Nya kepada manusia.

Di balik kabut asap kita melihat Allah yang sesungguhnya telah mencurahkan banyak hal baik dalam hidup manusia, sekaligus yang sabar terhadap manusia yang tidak menghargai segala pemberian baik-Nya. Allah bukannya menutup mata terhadap dosa. Ada hari yang telah ditetapkan-Nya untuk menghakimi dan menghukum semua orang yang melawan Dia (Kisah Para Rasul 17:31). Namun, saat ini, Dia masih memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk bertobat (2 Petrus 3:9).

3. Allah menyediakan pilihan bagi manusia dan pemulihan bagi seluruh ciptaan-Nya

Menyadari bahwa banyak bencana yang terjadi—termasuk bencana kabut asap—bersumber dari pilihan-pilihan yang diambil manusia sendiri, pertanyaan yang mungkin timbul adalah: mengapa sejak awal Allah memberikan manusia kebebasan untuk memilih? Bukankah Allah tahu kalau manusia kerap salah memilih? Tidakkah lebih baik bila manusia tidak diberi pilihan?

Bayangkanlah sebuah dunia tanpa pilihan. Mungkin tidak ada bencana kabut asap di sana. Tetapi tidak ada pula kegairahan mengeksplorasi alam dan mengembangkannya. Berbagai pengembangan varietas tanaman baru yang tahan hama dan kaya nutrisi kini bisa dinikmati dan mencukupkan kebutuhan pangan banyak orang di dunia. Hal-hal luar biasa ini terjadi ketika manusia memilih untuk menjadi rekan dan bukan musuh alam. Allah menciptakan manusia untuk menyatakan kehadiran, pemeliharaan, dan kebijakan-Nya kepada segenap ciptaan lainnya (Kejadian 1:26-28). Sebab itu kita diciptakan berbeda, punya akal budi, bisa memilih.

Benar bahwa pilihan-pilihan manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak lagi mencerminkan tujuan Sang Pencipta, dan justru kerap membawa bencana (seperti bencana kabut asap). Namun, Alkitab memberitahukan kita sebuah kabar baik. Allah menyediakan pemulihan bagi setiap orang yang mau bertobat (2 Tawarikh 7:14). Dan, pertobatan manusia akan membawa pemulihan juga bagi segenap alam, karena manusia yang bertobat kini kembali akan menjalankan perannya sebagai pengelola yang baik dari alam ciptaan Allah. Bahkan suatu hari kelak, ketika Kristus datang kembali, kita akan hidup bersama-Nya dalam langit dan bumi yang baru (Wahyu 21). Sebuah pemulihan total!

Di balik kabut asap, kita melihat Allah yang menciptakan kita secara istimewa di antara segenap ciptaan-Nya. Dia memberi kita kemampuan untuk berpikir, memilih, berkreasi, menyatakan kehebatan dan kebijaksanaan-Nya di tengah alam semesta. Kita juga melihat Allah yang pemurah, yang menyediakan pemulihan bagi setiap manusia yang mau bertobat, dan bagi segenap ciptaan-Nya.

Bagaimanakah kita akan menanggapi Allah di balik kabut asap?

 

Walau banyak mulut yang meratap
Karena siksaan dari serbuan asap
Janganlah berpikir Allah tidak mendekap
Oleh karena Dia tetap Allah yang mantap

Manusia jangan hanya meratap
Tapi pikir baik-baik kenapa ada asap
Yang tak bertobat jangan merasa mantap
Oleh karena penghukuman datang berderap

Mengapa Gempa di Nepal Begitu Mengusik Hatiku

Oleh: Tracy Phua
(Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Why I’m so Affected by the Nepal Quake)

Mengapa-Gempa-Di-Nepal-Mengusik-Hatiku

Baru beberapa hari yang lalu, dunia dikejutkan dengan sebuah bencana yang mengerikan—Nepal diguncang gempa bumi berkekuatan 7,9 SR, bencana terburuk yang melanda negara itu dalam lebih dari 80 tahun terakhir. Karena cukup sering mengunjungi Kathmandu dan telah membangun hubungan baik dengan beberapa penduduk lokal di ibukota Nepal itu, secara pribadi aku merasa sangat terpukul mendengar berita tersebut.

Membaca jumlah korban yang terus bertambah (sudah lebih dari 4.000 orang menurut berita terakhir yang kuterima), aku segera berusaha menghubungi beberapa teman, orang Nepal, di Facebook. Yang pertama menjawab adalah seorang teman yang telah aku kenal sejak tahun 2008; seorang saudari yang bekerja di sebuah panti asuhan di daratan selatan Kathmandu. Aku sangat lega mendengar bahwa ia dan anak-anak di panti asuhan itu baik-baik saja.

Sayangnya, kondisi kampung halamannya di Gorkha (yang dekat dengan pusat gempa) tidak begitu baik. Neneknya tidak selamat dari bencana itu, dan ada banyak penduduk setempat yang kehilangan tempat tinggal mereka.
 
Tracy and Nepali grandmother

Penulis (baju garis-garis merah) bersama teman di Kathmandu, sang nenek (alm.) berdiri paling kiri.

 

Berita buruk lainnya datang dari beberapa teman di Kathmandu. Sama seperti di Gorkha, banyak di antara mereka kini tidak lagi punya tempat tinggal. Beberapa teman yang tinggal di pegunungan sebelah timur, dekat dengan Gunung Everest, juga bercerita bahwa rumah mereka roboh sehingga mereka sekeluarga harus bermalam tanpa tempat berteduh. Dalam cuaca yang dingin menjelang musim perubahan arah angin dan dalam kondisi kehilangan segala sesuatu yang mereka miliki, tidak ada hal-hal baik yang bisa mereka harapkan. Parahnya lagi, gempa-gempa susulan masih terus terjadi.

Aku masih belum mendapatkan kabar dari beberapa teman yang lain. Aku cukup khawatir mengingat salah satu temanku tinggal di Pokhara, sebuah kota yang juga porak poranda akibat gempa.

Namun, dalam suasana yang serba suram, aku terhibur mendengar bahwa ada hal-hal baik yang terjadi. Teman yang kuceritakan bekerja di panti asuhan tadi memberitahukan bahwa suaminya berencana kembali ke desa mereka di Gorkha untuk melihat bagaimana mereka dapat membantu para penduduk di sana. Hatiku terasa hangat melihat orang-orang Nepal bergerak membantu rekan-rekan sebangsanya dalam masa-masa yang tidak mudah ini.

Aku juga takjub melihat bagaimana orang-orang percaya di Nepal dapat tetap mengucap syukur di tengah penderitaan dan kesulitan yang mereka hadapi. Aku diingatkan bahwa dalam kondisi yang tidak nyaman sekalipun, kita dapat tetap bersyukur kepada Tuhan. Gempa bumi itu terjadi pada hari Sabtu, ketika anak-anak tidak masuk sekolah. Bisa saja gempa itu terjadi pada hari biasa, dalam musim dingin dengan udara yang menusuk tulang, atau pada malam hari saat semua orang terlelap di rumah, sehingga korban jiwa akan jauh lebih banyak—tetapi itu tidak terjadi.

Jelas dibutuhkan proses panjang untuk membangun Nepal kembali dan memulihkan masyarakatnya. Mari kita mendoakan mereka. Penulis Oswald Chambers pernah menulis, “Aku percaya bahwa ketika kita bersyafaat, seperti yang diajarkan Yesus sendiri, kuasa Allah yang luar biasa dinyatakan melalui cara-cara yang melampaui pemahaman kita.”

Berikut beberapa hal yang bisa kita doakan bersama:
1. Doakan untuk orang-orang Kristen di Nepal agar tetap kuat dan tidak menjadi tawar hati, bahkan menjadi kesaksian akan kebenaran dan kasih Allah di tengah masa-masa yang sulit ini.
2. Doakan untuk para pekerja sosial agar dengan bijak dapat membagikan bantuan-bantuan yang ada dengan tepat dan menolong mereka yang membutuhkan.
3. Doakan untuk para penduduk Nepal agar apa yang mereka alami dapat membawa mereka menemukan pengharapan dan jaminan hidup kekal yang hanya ada di dalam Kristus.

Patan Durbar Square

Atas: Gambar Patan Durbar Square [Alun-alun Durbar] sebelum gempa bumi.
Bawah: Gambar Patan Durbar Square [Alun-alun Durbar] sesudah gempa bumi.

Durbar Square after the earthquake