Posts

Studi Alkitab, Yuk!

Oleh Adiana Yunita, Yogyakarta

Kapan terakhir kali kamu melakukan pemahaman Alkitab (PA) atau studi Alkitab?

Mungkin ada yang menjawab, “Studi Alkitab kan tugasnya pendeta, pemimpin pelayanan, atau mereka yang kuliah di teologia atau di seminari. Memangnya kita harus ya?” Atau mungkin jawaban lainnya, “Aku sering sih nonton atau dengar khotbah tentang studi Alkitab di channel-channel YouTube atau podcast oleh pembicara-pembicara favoritku. Bukannya itu sudah termasuk memahami Alkitab?”

Jawaban itu mungkin mewakili kita yang jarang atau enggan membaca Alkitab. Namun, di tengah dunia yang semakin maju, apakah penting untuk membaca Alkitab yang tulisannya sudah berusia ribuan tahun itu?

Alkitab bukan sekadar buku atau kitab. Ketika kita membaca dan belajar memahaminya, itu menjadi salah satu disiplin rohani bagi semua orang Kristen, termasuk aku dan kamu. Kata ‘disiplin’ dalam bahasa Inggris ditulis ‘discipline’. Dalam kamus Merriam-Webster, ‘discipline’ diartikan sebagai pola perilaku atau latihan yang teratur untuk memperbaiki, membentuk, dan menyempurnakan karakter mental dan moral kita. Jadi, disiplin rohani merupakan latihan yang dilakukan secara teratur untuk memperbaiki, membentuk, dan menyempurnakan kerohanian kita.

Untuk memudahkan kita memahami pentingnya disiplin rohani, kita bisa analogikan dengan para binaragawan atau atlet yang setiap hari melakukan latihan fisik supaya otot-otot mereka terbentuk dan terlatih sehingga siap menghadapi lawan. Begitu juga disiplin rohani akan melatih mental rohani kita supaya siap menghadapi lawan kita, yaitu si Iblis yang berjalan di sekeliling kita seperti singa yang mengaum-aum mencari mangsanya (1 Petrus 5:8). Tuhan Yesus pun mengingatkan murid-muridnya untuk, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah (Matius 26:41).” Mengapa? “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera… keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah… Mereka (yang menuruti keinginan daging) tidak mungkin berkenan kepada Allah (Roma 8:6-8).“

Karena tubuh kita ini lemah dan berdosa, kita harus rajin melatihnya dan membentuknya semakin kuat melalui disiplin rohani. Nah, salah satunya adalah melalui studi Alkitab mandiri. Lalu, bagaimana cara memulainya? Tenang, studi Alkitab sebenarnya bisa dimulai dengan beberapa langkah sederhana kok.

  1. Mulailah dengan menemukan ayat berkesan

    Menemukan ayat berkesan adalah cara pertama yang diajarkan kepadaku untuk studi Alkitab waktu duduk di bangku SMA. Kita hanya perlu memilih satu ayat yang paling berkesan dan alasannya. Cara ini cukup sederhana dan mudah. Namun, dari satu ayat berkesan ini, kita masih bisa memahami bagian tersebut dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut, 1) Apa fakta tentang Allah yang didapat dari ayat tersebut?; 2) Apa fakta tentang manusia yang didapat dari ayat tersebut?, 3) Apa hal baru yang dipelajari?; 4) Apa penerapan dalam kehidupan sehari-hari?; 5) Pertanyaan apa yang muncul dari ayat/perikop ini? Jika ada pertanyaan yang muncul, kita bisa menanyakan kepada kakak rohani atau mendiskusikannya dengan peer study kita.

  2. Kembangkan dengan metode “OIA” (“Observasi, Interpretasi, dan Aplikasi”)

    Setelah kita sudah mulai terbiasa merefleksikan satu ayat Firman Tuhan, kita tentu tidak puas hanya mendalami satu ayat saja. Karena itu, kita akan mulai belajar memahami satu perikop di dalam Alkitab. Nah, pertama-tama mulailah dengan melakukan pengamatan (observasi). Caranya adalah dengan mengamati hal-hal yang tersurat (tertulis) secara jelas di Alkitab melalui pertanyaan-pertanyaan 5W1H (what, where, when, who, why, dan how). Misal, apa peristiwa yang terjadi di perikop tersebut? Di mana dan kapan peristiwa tersebut berlangsung? Siapa saja tokoh yang terlibat? Mengapa ia melakukan hal itu? Bagaimana ia merespons kejadian itu? Dst.. Kemudian, kita bisa mulai memberikan kesan atau pendapat (interpretasi) berupa makna-makna tersirat dari perikop tersebut. Misalnya, Petrus dan murid-murid Yesus yang pertama segera meninggalkan jala mereka, lalu mengikut Yesus (Markus 1:18), itu berarti ketaatan harus dilakukan dengan segera. Terakhir, buatlah penerapan (aplikasi). Penerapan yang jelas atau konkret harus selalu dibuat di akhir studi Alkitab karena Allah memanggil kita untuk menjadi pelaku Firman, bukan pendengar saja (Yakobus 1:22).

  3. Pahami konteks bacaan

    Memahami konteks bacaan sebenarnya adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam studi Alkitab. Secara sederhana, memahami konteks bacaan adalah mengenal segala latar belakang yang “membersamai” penulisan teks yang kita baca, misalnya siapa penulisnya kitab/surat yang dibaca, latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya ketika teks tersebut ditulis, atau pun konflik yang mungkin terjadi pada saat itu. Misalnya, ketika dikatakan bahwa Yusuf hendak menceraikan Maria dengan diam-diam (Matius 1:19) padahal mereka belum menikah. Perlu dipahami bahwa konteks pada waktu itu di budaya orang Yahudi, pasangan yang sudah bertunangan sudah berada dalam satu ikatan atau komitmen pernikahan, tetapi mereka belum tinggal satu rumah. Memahami konteks akan sangat berguna ketika kita menginterpretasikan makna bacaan. Informasi mengenai konteks bacaan dapat kita akses di web/aplikasi/Alkitab cetak yang dilengkapi dengan studi Alkitab, kamus Alkitab, konkordansi, dan jangan lupa untuk juga membandingkan teks dengan versi terjemahan Alkitab lainnya.

  4. Ajaklah teman atau partner

    Memiliki kelompok studi Alkitab juga penting sebagai teman diskusi untuk lebih memahami bagian yang dipelajari. Namun, perlu diperhatikan bahwa studi Alkitab ini pada dasarnya adalah disiplin rohani kita secara mandiri. Jadi, fungsi kelompok atau partner adalah mendiskusikan hasil studi Alkitab pribadi masing-masing. Anggota kelompok studi Alkitab akan saling belajar mendengarkan dan memperkaya hasil PA satu sama lain.

Studi Alkitab pribadi akan sangat berbeda dengan (hanya) menjadi pendengar saja dan “menelan” hasil interpretasi orang lain. Ketika kita melakukan studi Alkitab mandiri, kita akan berjumpa secara langsung dengan kebenaran Firman Tuhan, kemudian mencecap, mengunyah, dan menikmati setiap sari-sari yang terkandung di dalam firman tersebut. Jadi, sudah siapkah kamu untuk memulai studi Alkitab mandirmu? Mulailah merencanakan jadwal yang teratur untuk mendalami firman-Nya, ajak beberapa teman untuk melakukan proyek yang sama, dan saling berbagilah serta saling mendorong dalam kasih dan dalam setiap pekerjaan baik (Ibrani 10:24).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Apakah Kesepian itu Dosa?

Apakah merasa kesepian itu dosa? Atau, apakah dosa itu hanya berkaitan dengan apa yang kita lakukan untuk merespons kesepian itu? Dan, jika tidak baik bagi seorang pria atau wanita untuk sendiri, apakah dosa jika memang mereka memilih untuk hidup sendiri?

Mematahkan Mitos ‘Dosen Killer’ Ala Mahasiswa

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Kami menerima surat penetapan dosen yang menjadi pembimbing skripsi kami di bulan Maret dua tahun lalu. Membaca dua nama yang tertera, semangatku yang telah terkumpul menciut begitu saja. Isu yang beredar dari mahasiswa-mahasiswa lain, dua dosen pembimbing ini sulit ditemui, mereka pun ‘perfeksionis’. Kesulitan-kesulitan itu menjadi momok tersendiri bagiku.

Ketakutanku akan sulitnya bimbingan dengan kedua dosen itu kujadikan alasan untuk menunda pengerjaan skripsiku. Aku berharap keajaiban agar ada pergantian dosen. Padahal, aku tahu kalau penggantian dosen pembimbing hanya bisa terjadi untuk alasan urgen seperti musibah atau kematian. Penggalan firman Tuhan yang kuingat dari Matius 7:7-8 dan 21:22 tentang bagaimana Allah akan memberikan hal-hal yang kuminta membuatku menjadikan doa seperti jurus ‘Sim Salabim’. Tuhan kujadikan layaknya ‘kantong doraemon’ yang harus menyediakan setiap hal yang kumau. Dengan persepsi yang salah, beragam alasan juga kuajukan pada-Nya seolah aku berhak komplain dengan rencana-Nya.

Aku seperti menyerah sebelum berperang. Ketakutan menghadapi dosen pembimbing dengan label ‘killer’ tidak kualami sendiri. Ada teman seangkatan lain yang sampai mengajukan pergantian dosen ke jurusan. Ada pula yang jadi lama wisuda dan stuck di revisi. Meski memang bukan satu-satunya faktor penentu kelulusan, dosen pembimbing skripsi juga berperan dalam proses mengakhiri masa studi mahasiswa. Dosen killer dianggap sulit untuk ditemui bimbingan, penliaiannya berstandar tinggi, dan kritik sana-sini. Maka tak ayal, menghindari dosen tipe ini dianggap pilihan yang tepat.

Sebulan pun berlalu. Dosen pembimbing pertamaku meminta kami menemuinya, itu pun karena ada temanku yang berinisiatif menghubunginya duluan. Walau dengan mental tempe, kuberanikan diri mengajukan garis besar penelitianku di bimbingan pertamaku. Di luar dugaanku, dia memberi banyak masukan agar di dua minggu berikutnya judulku bisa di-acc. Anak bimbingan dosen itu hanya diberi kesempatan revisi sekali dua minggu. Pertimbangannya, dengan durasi 14 hari, perbaikan akan lebih maksimal. Kesempatan bimbingan yang terbatas juga harus dimanfaatkan agar mahasiswa tidak asal-asalan menyerahkan revisi.

Kesan pertamaku malah berbanding terbalik dengan cerita yang kudengar. Asumsi ‘killer’ yang penuh kritik tidak masuk akal ternyata tidak sepenuhnya benar. Seolah menjadi amunisi untuk semangat yang sempat menipis, aku pun menemui dosen pembimbing keduaku. Aku menceritakan ide penelitian yang akan kukerjakan. Walau sedikit berbeda dalam beberapa hal, beliau yang sudah professor sekaligus guru besar itu tidak sepenuhnya keberatan. Dengan berbagai saran perbaikan di beberapa pertemuan, judul yang kuajukan disetujui.

Meski usaha tidak selalu berbuah manis, secara perlahan aku menemukan sudut pandang baru di pengerjaan tugas akhirku. Beragam stigma negatif yang terbangun karena mendengar opini lain terkikis secara perlahan. Selain karena memang tidak ada pilihan lain, sebisa mungkin aku memenuhi corat-coret perbaikan dari keduanya. Prinsipnya, mengabaikan saran perbaikan sama saja memperpanjang masa studiku. Tentu menjadi mahasiswa abadi atau ‘dropout’ karena tugas akhir tidak diinginkan siapa pun. Namun, dengan beberapa kondisi, ada teman-teman yang harus mengalaminya.

Dengan bantuan dari mereka yang kutemui di sepanjang proses, aku belajar bahwa benar Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya (Ibrani 13:5b). Ia memakai siapa saja sesuai kehendak-Nya (Yohanes 15:16) dalam setiap kondisi (Roma 8:28). Meski terkesan sepele, namun aku merasa tertolong dengan adanya adik-adik tingkat maupun petugas kebersihan yang biasanya kutanyai tentang keberadaan dua dosenku di kampus. “Pak, ada lihat bapak ini?”, “Dek, kamu ada kelas sama Prof hari ini?”. Dua pertanyaan pamungkas untuk menjawab ketidakpastian bimbingan. Terkadang dosen itu seperti PHP (Pemberi Harapan Palsu). Meski sudah ada jadwal, janji bimbingan tidak serta-merta berjalan mulus, biasanya terjadi jika ada rapat atau agenda lain yang lebih penting.

Bertemu dengan teman seperjuangan yang seangkatan atau orang baru dengan dosen yang sama juga sangat kusyukuri. Mereka menjadi teman melewati suka-duka perjalanan skripsweet. Sharing saran perbaikan, informasi jurnal, judul buku hingga menjadi momen saling menghibur. Kadang, karena ide sudah mandek atau sembari menunggu, kami sering usil dengan guyonan lama wisuda. Tidak hanya menghibur saat bisa menertawakan kondisi, gurauan atas nama solidaritas itu ternyata bisa jadi pelecut semangat.

Pengerjaan terus berlanjut. Revisi demi revisi kukerjakan seiring dengan semangat yang kadang on dan off tidak menentu. Sepanjang proses, ada saja lega yang bisa disyukuri atau kesal berujung tangis. Hingga dinyatakan lulus memperoleh gelar sarjana, pandangan dosen ‘killer’ untuk kedua dosenku ternyata tidak sepenuhnya benar. Anggapan itu tentu kusimpulkan dari pengalamanku. Kesulitan atau situasi yang dialami teman-teman bisa saja berbeda. Untuk itu, kita perlu berhati-hati merespon stigma yang ada.

Apalagi dengan kemudahan yang diberikan kemajuan teknologi. Dampaknya dalam berbagai sendi kehidupan tidak bisa diingkari. Tidak hanya bersifat membangun, efeknya juga ada yang negatif. Salah satunya mengenai tirani opini mayoritas. Tidak hanya di dunia nyata, kini melalui media sosial pandangan yang disampaikan secara daring pun mempengaruhi keputusan seseorang. Pandangan netizen melalui like, views dan comment seakan menjadi penentu dalam berkarya. Tanpa kita sadari, kita sering bertindak dengan memperhatikan atau bahkan mengikuti pendapat orang lain. Dari urusan menentukan sekolah, jurusan, tempat kuliah, memilih pacar hingga memutuskan jalur berkarir.

Pandangan yang beredar di masyarakat tentu ada yang bersifat positif, bisa dijadikan pedoman sebelum mengambil keputusan. Di sisi lain, kita juga harus menyadari ada stigma yang perlu diperbaiki. Sebagai manusia, tentu kita tidak bisa membatasi opini orang lain. Pendapat mereka tidak ada dalam kendali kita. Alih-alih nekat dengan dalih ingin mematahkan ‘mitos’, kita juga perlu mendengarkan pandangan itu sebagai nasihat agar bijak mengambil keputusan (Amsal 12: 15).

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Kita Tak Bisa Memilih untuk Lahir di Keluarga Mana, Tapi Kita Bisa Memilih Berjalan Bersama-Nya

Tuhan mengirimku untuk lahir di dunia ini, di keluarga yang dirundung konflik. Mungkin sekarang aku belum tahu apa maksud Tuhan dari semua ini, namun sekelumit kesan di hari ulang tahun ini mengingatkanku bahwa dalam perjalanan hidupku, aku disertai-Nya.

Kemenangan Melintasi Jalur Sunyi

Oleh Santi Jaya Hutabarat, Medan

Perbedaan bukan hal yang baru di kehidupan kita. Kita sering menyaksikan harmoni keindahan dari perbedaan. Dalam beberapa hal, pandangan atas pilihan berbeda yang kita buat sering disalahartikan. Kita dianggap aneh, melawan arus. Karena tidak seperti pilihan orang-orang pada umumnya, kita harus melintasi jalur sunyi. Dianggap sok suci, ketika tidak memberi contekan. Direndahkan tatkala gagal seleksi sekolah favorit atau kampus bergengsi. Dinilai salah, saat pacaran beda suku.

Selepas dari SMP, aku memutuskan melanjutkan studi di sekolah kejuruan. Berkas pendaftaran kuantar, setelah orang tuaku tidak menyetujui pilihanku. Sebelumnya aku di terima di SMA, salah satu yang bergengsi dan direkomendasikan oleh sekolahku. Namun, hasil tes yang kuikuti rupanya gagal membawaku masuk ke kelas yang biaya pendidikannya disubsidi. Jika bersekolah di sana, orang tuaku harus membayar keperluan sekolah secara mandiri tanpa potongan. Melihat rincian biaya yang akan dikeluarkan setiap bulan, bapak dan ibu menolak pilihanku. Padahal, menurutku sekolah favorit itu bisa menjembatani kesuksesanku.

“Emas akan tetap jadi emas sekalipun di kubangan lumpur. Sekolah di mana pun, kalau kamu sunguh-sungguh akan tetap berhasil”. Pernyataan ini kuterima, tiap kali aku berusaha memaksakan kehendakku. Motto pendidikan kejuruan berhasil memikatku. Iming-iming lulusan terampil yang siap kerja menjadi satu-satunya alasanku yang masuk akal ketika mendaftar ke SMK. Selebihnya hanya karena kesal, tidak jadi bersekolah di SMA favorit.

Tahun pertama bersekolah sulit kujalani. Bukan hanya karena tidak dari hati, suasana belajarnya juga berbeda dari bayanganku. Pembelajarannya kebanyakan praktik. Memoriku masih merekam jelas momen saat kami harus menjual produk perusahaan yang bekerja sama dengan sekolahku. Tidak mudah bagiku memenuhi tugas untuk nilai kewirausahaan itu.

Aku juga minder ketika bertemu teman SMP-ku. “Kenapa ke SMK?”, Pertanyaan yang sering diajukan temanku sembari mengernyit. Label bandel dan stigma siswa SMK yang tidak sebagus SMA membuat mereka menyayangkan pilihanku. Pandangan yang sama juga beredar secara publik. “Nanti langsung kerja ke Batam saja ya”, “Jadi TKI saja, anak SMK biasanya langsung diterima”. Pernyataan yang menunjukkan pandangan mereka tentang terbatasnya kesempatan berkuliah bagi anak SMK. Berita tentang anak SMK yang tawuran sampai merusak fasilitas umum juga seolah mempertegas stigma negatif yang sudah ada entah dari kapan.

Walau tidak bisa dipukul rata untuk semua siswa SMK, penilaian yang tidak menyenangkan itu sempat membuatku pesimis. Ibarat pelari di luar lintasan, aku merasa salah jalan karena mengambil pilihan yang berbeda.

Perbedaan target sekolah kejuruan dan sekolah menengah lainnya membuat proses belajar di SMK tidak seserius di SMA, apalagi untuk urusan teori. Menciptakan lulusan yang siap kerja membuat kegiatan belajar kebanyakan bersifat praktik. Mau tidak mau, kondisi itu mempersempit kesempatan anak SMK untuk bersaing secara akademis apalagi untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Pendalaman materinya jauh berbeda. Pilihan program studi di kampus juga tidak terbuka untuk semua kejuruan yang ada di SMK.

Mirip dengan Abraham dan Sara di Kejadian 17-18. Abraham yang sudah tua dan Sara yang juga sudah menopause, menertawakan Tuhan ketika Ia menjanjikan anak laki-laki bagi mereka. Tepat seperti yang difirmankan-Nya, di masa tuanya Sara melahirkan anak laki-laki bagi Abraham (Kejadian 21:2).

Demikian halnya dengan masa putih abu-abu yang sudah kulewati. Tuhan terus mengikis rasa minder yang pernah kumiliki. Ia juga memakai beberapa temanku untuk mengikuti lomba, bersaing dengan perwakilan dari beberapa sekolah yang dianggap favorit. Di antara para alumni, kami juga ada yang berhasil menjadi sarjana. Banyak juga dari mereka yang terus menjaga nama baik sekolah di dunia kerja ataupun dalam bermasyarakat. Akhir-akhir ini juga, secara nasional banyak karya anak SMK yang bisa dipakai untuk keperluan bangsa ini. Sebagai salah satu alumni SMK, aku berharap semoga semakin banyak karya dari teman-teman yang memutuskan sekolah kejuruan. Mengikis stigma-stigma negatif yang ada di masyarakat.

Bersekolah di SMK atau di SMA bahkan tidak bersekolah pun, Tuhan memiliki tujuan tersendiri bagi setiap ciptaan-Nya. Kita bisa mengetahui hal itu dari riwayat penciptaan Allah dari hari pertama hingga hari keenam (Kejadian 1). Allah melihat semua pekerjaan tangan-Nya itu baik dan menceritakan kemuliaan-Nya (Mazmur 19: 1-15).

Memasuki bulan ketujuh di tahun ini, teman-teman mungkin sedang berhadapan dengan pilihan yang sarat dengan label atau cap tertentu. Menyambut tahun ajaran baru yang artinya harus menentukan sekolah atau kampus tujuan. Atau teman-teman sedang berjalan melintasi jalan sunyi dan berjuang mematahkan ‘mitos’ tertentu. Terbentur dengan kalimat-kalimat yang menurunkan semangat seperti: ‘kuliah itu harus di negeri’, ‘anak kota mah manja, mana sanggup mandiri jauh dari orang tua’ ‘susah cari kerja di masa pandemi, apalagi untuk fresh graduate’.

Walau tidak mudah, semoga Allah sumber pengharapan memenuhi sukacita kita melintasi jalan sunyi (Roma 15:13). Menuju kemenangan atas pilihan-pilihan sesuai ketetapan-Nya yang kadang berlawanan dengan pandangan banyak orang. Keputusan terbentur kebiasaan umum yang direncanakan-Nya untuk mendatangkan kebaikan. (Yeremia 29:11).

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Dia yang Kukasihi, Dia yang Berpulang Lebih Dulu

Pernikahan kami baru seumur jagung ketika Tuhan memanggil dia yang kukasihi ke pangkuan-Nya. Namun, dari kisah yang terasa getir ini, aku merasakan manisnya kasih setia Tuhan.

3 Alasan Orang Kristen Harus Mendalami Imannya dengan Serius

Penulis: Vincent Tanzil

Alasan-Orang-Kristen-Harus-Mendalami-Imannya-dengan-Serius

“Banyak yang mencari pengetahuan untuk mendapatkan pengetahuan, itu adalah keingintahuan.

Ada juga yang mencari pengetahuan untuk mencari nama, itu adalah keegoisan.

Ada yang mencari pengetahuan supaya bisa mencari keuntungan, itu tidak terpuji.

Tetapi, beberapa orang mencari pengetahuan untuk memperkaya hidup sesamanya: itulah kasih.”

Bernard dari Clairvaux

Dalam perjalanan hidup saya sebagai seorang Kristen, saya punya banyak pertanyaan tentang apa yang saya imani. Sebab itu, saya banyak membaca buku Kristen, ikut seminar-seminar pembinaan, sekolah teologi malam, bahkan belajar di seminari. Namun, tidak sedikit respons negatif yang datang dari orang-orang di sekitar saya.

“Jangan terlalu banyak belajar, nanti jadi orang Farisi!”
“Hati-hati makin pintar, nanti kamu malah jadi murtad!”

Siapakah orang Kristen serius yang tidak akan terhenyak ketika diberikan nasihat-nasihat seperti itu? Saya sempat berpikir, salahkah bila saya serius mendalami iman saya? Namun, makin dipikirkan, makin saya yakin bahwa sebagai orang Kristen, kita perlu untuk terus mempelajari iman kita dengan serius. Setidaknya ada tiga alasan untuk melakukannya:

1. Iman Kristen itu tidak sesederhana yang kita bayangkan.

“Minum air putih di pagi hari itu baik untuk kesehatan,” sebuah nasihat sederhana yang mungkin sering kita dengar. Kita mungkin mengikuti nasihat itu karena banyak orang yang mengatakannya, meski sebenarnya tidak tahu mengapa air putih itu menyehatkan, dan mengapa harus diminum di pagi hari.

Namun kemudian, kita sendiri menemukan dari sebuah sumber yang terpercaya bahwa air yang masuk ke dalam tubuh kita di pagi hari terbukti dapat membuang racun-racun yang sudah menumpuk di dalam tubuh. Selain itu, asupan air segar di pagi hari akan membuat otak yang terdiri dari sekitar 78% air akan mampu beraktivitas secara optimal.

Kita terkejut—nasihat yang tampaknya begitu sederhana ternyata memiliki penjelasan yang sangat dalam. Kita mulai melihat hubungan antara air putih dan kesehatan dengan cara yang berbeda. Kita jadi bersemangat minum air putih setiap pagi, bahkan terus melakukannya sekalipun orang lain berhenti melakukan hal itu.

Demikian juga dengan iman Kristen. Tampaknya sederhana. Kita diberitahu bahwa asal percaya kepada Yesus kita akan diselamatkan. Kita lahir dalam keluarga Kristen. Semua orang yang kita kenal percaya kepada Yesus. Jadi, kita pun menjadi orang Kristen, meski sebenarnya kita tidak tahu mengapa percaya kepada seseorang yang disalibkan itu bisa menghapus dosa.

Namun kemudian, kita belajar dan menemukan siapa sebenarnya pribadi Yesus. Kita jadi memahami apa yang membedakan-Nya dari tokoh-tokoh agama lain. Kita belajar mengapa seseorang yang mati di kayu salib 2000 tahun yang lalu bisa memiliki pengaruh terhadap keselamatan semua orang.

Kita mulai menyadari bahwa iman Kristen tidak sesederhana yang kita bayangkan. Iman Kristen bukan “asal percaya.” Kita mulai melihat Yesus secara berbeda. Cara pandang dan sikap hidup kita berubah, tidak lagi bergantung pada apa yang dikatakan orang lain, tetapi pada kebenaran-kebenaran yang kita temukan saat kita mau serius mendalami iman kita.

2. Tuhan memberikan kita kapasitas yang besar untuk belajar.

Pernah mendengar istilah esofagus, Homo Sapiens, metamorfosis, atau atom? Kapan pertama kali kita mempelajari istilah-istilah semacam itu? Mungkin sekali kebanyakan di antara kita sudah mempelajarinya sejak SD atau SMP. Mempelajari istilah-istilah biologi, ekonomi, politik, teknologi, dan berbagai bidang lainnya itu terasa wajar dan memperkaya pemahaman kita. Jadi, mengapa kita harus alergi mempelajari berbagai istilah-istilah atau konsep yang agak kompleks dalam teologi Kristen? Adanya beberapa terminologi yang tidak umum dalam teologi Kristen hanyalah pertanda bahwa kita belum terbiasa, bukan tidak bisa. Saya sendiri menemukan banyak hal yang sangat menyegarkan iman ketika mempelajari kekristenan lebih dalam. Saya bisa menjelaskan tentang kesatuan dua natur Yesus menurut Alkitab misalnya, ketika ada orang menanyakan tentang mengapa saya percaya Yesus sebagai manusia sekaligus Tuhan.

Tuhan telah memberikan kita kapasitas yang besar untuk belajar. Dia mengaruniakan kita akal budi, dan menghendaki kita mengasihi-Nya dengan segenap kapasitas itu (Matius 22:37). Saya pikir kita harus menggunakan kapasitas belajar yang Tuhan berikan tidak hanya untuk mendalami biologi, ekonomi, politik, atau teknologi, tetapi juga untuk mendalami firman Tuhan, memahami teologi Kristen dengan benar. Tidak hanya untuk memahami dunia dan kompleksitasnya, tetapi juga memahami karakter dan rencana Tuhan bagi dunia ini. Kesulitan memahami istilah-istilah tidak dapat dibandingkan dengan kedalaman pengertian yang didapatkan.

Sebagian orang mungkin punya pengalaman buruk, melihat orang yang belajar banyak tentang kekristenan berubah menjadi sombong dan tidak bersahabat. Ada yang mendalami teologi, tetapi malah jadi sesat atau berubah keyakinan. Tetapi, pengalaman buruk tidak perlu membuat kita jadi membatasi diri dalam belajar, bukan? Saya belum pernah bertemu dengan orang yang dengan sengaja tidak mau belajar matematika atau bahasa asing agar mereka tidak menjadi sombong.

Kesombongan adalah masalah hati, tidak berkaitan langsung dengan banyaknya pengetahuan seseorang. Ada banyak orang Kristen yang pandai, tetapi tetap bersahaja dan bijak dalam berkata-kata. Sebaliknya, banyak juga orang yang tidak punya pemahaman iman yang memadai, malah berseru-seru dengan penuh kesombongan. Begitu juga dengan kesesatan. Kita tidak bisa mengatakan orang yang terlalu banyak belajar pasti menjadi sesat dan berubah keyakinan. Banyak sekali orang yang justru makin percaya dan mendekat kepada Tuhan setelah mereka mempelajari kompleksitas dunia ini dan argumen intelektual iman Kristen, termasuk para profesor.


3. Pemahaman iman yang kuat akan menolong kita menjadi orang yang makin bijak dan berdampak.

Pemahaman yang makin baik tentang teologi Kristen sewajarnya membawa kita menjadi orang Kristen yang lebih baik, lebih bijak, lebih berdampak bagi komunitas kita. Ibarat dokter yang lebih bisa membantu banyak orang sakit ketika ia mendalami dan menerapkan ilmunya dengan baik. Ibarat petani yang bisa menuai panen lebih baik ketika ia belajar dan menerapkan pengetahuannya tentang pupuk, irigasi, dan teknologi pertanian terbaru.

Bila kehidupan kita sebagai orang Kristen hari ini sama saja dengan hidup kita lima-sepuluh tahun lalu, kita perlu waspada. Jangan-jangan kita sudah tidak bertumbuh lagi dalam pengenalan kita akan Tuhan. Paulus meminta kita untuk terus-menerus berubah melalui “pembaharuan budi” supaya kita dapat “membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2b). Kita yang sudah menerima Kristus seharusnya menjadi ciptaan baru yang “terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kolose 3:10b).

Orang Kristen sudah sepatutnya menjadi orang yang bersemangat secara intelektual di dunia ini, karena Allah mau kita mengasihi-Nya dengan segenap hati dan segenap akal budi kita. Jangan biarkan “rasa malas berpikir” menghalangi kita untuk memuliakan Tuhan dalam berbagai bidang kehidupan. Mari dengan serius mendalami iman kita!

Aku (Ternyata Tidak) Bodoh

Oleh: Helen Maria Veronica
(adaptasi dari artikel Oktober 2014: Ditolong Oleh Firman)
aku-tyt-tidak-bodoh

Tahun baru. Semua orang tentunya berharap tahun ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Namun, pernahkah kamu tak berani lagi untuk berharap, karena merasa situasimu tak mungkin berubah? Tuhan memang sudah mengaturnya demikian. Kamu kecewa, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Aku pernah kehilangan harapan untuk berubah.

Aku kecewa karena aku merasa diciptakan Tuhan sebagai seorang yang bodoh. Nilai-nilaiku di sekolah sejak kelas 1 SD selalu banyak merahnya. Sempat mencoba les, tetapi sia-sia, nilaiku tetap saja jelek. Sampai-sampai, guruku sendiri pun menyebutku sebagai anak yang bodoh. Sakit rasanya dicap sebagai orang bodoh. Aku jadi mudah patah semangat dan sering mengeluh karena merasa diriku tidak bisa apa-apa. Mungkin karena putus asa membayariku les tanpa hasil, orangtuaku memutuskan agar aku berhenti saja. Jadi, aku mulai belajar sendiri di rumah dengan dibantu mama.

Melihat teman-teman yang punya ranking di kelas, aku sering merasa iri. Mengapa Tuhan ciptakan mereka pintar dan aku bodoh? Diam-diam aku suka mengamati teman-temanku yang pintar. Betapa aku ingin menjadi seperti mereka. Aku perhatikan kebiasaan mereka, gerak-gerik mereka, untuk aku tirukan. Ketika aku mendengar teman yang pintar suka makan banyak protein seperti ikan dan telur, aku pun ikut suka makan ikan dan telur supaya pintar seperti mereka. Ketika aku melihat teman yang pintar mengelap keringat di keningnya dengan gaya tertentu (dan ia bilang bahwa cara itu bisa membuat pikiran lebih encer), aku pun sering menirukannya. Ada sisi positifnya, karena aku yang tadinya malas jadi mulai rajin belajar, yang tadinya pilih-pilih makanan jadi suka makan banyak makanan berprotein. Nilaiku mulai membaik meski masih naik turun tak jelas. Namun, sekalipun lebih sering belajar, tetap saja aku masih merasa bodoh. Sepertinya sia-sia berusaha, karena aku merasa memang aku ini diciptakan sebagai orang bodoh. Mau apa lagi?

Lalu, suatu saat aku mendengar kesaksian yang mengatakan bahwa membaca Alkitab tiap hari dapat membuat orang menjadi pintar dan berhikmat. Wow, tentu saja aku mau mencobanya. Aku pun mendisiplin diri untuk membaca Alkitab. Meski hanya berawal dari rasa penasaran, Tuhan memakai waktu-waktu pembacaan Alkitab itu untuk menyapaku secara pribadi. Dia berfirman dalam Matius 11:28: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Tuhan sungguh tahu bahwa menjalani hidup di dunia ini tidaklah mudah, termasuk untuk seorang anak muda seperti aku. Apalagi dengan tekanan dari orang-orang di sekelilingku yang menganggap aku bodoh. Tuhan memberiku undangan untuk datang kepada-Nya. Aku tidak perlu menanggung semua beban hidup ini sendirian.

Tuhan juga meluruskan pikiranku tentang apa yang sebenarnya disebut sebagai orang bodoh. Amsal 1:7 berkata “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang yang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Tidak ada yang diciptakan Tuhan sebagai orang bodoh. Semua orang diberi-Nya kemampuan untuk belajar. Orang bodoh adalah orang yang “menghina hikmat dan didikan” alias tidak mau belajar atau tidak merasa butuh diajar. Sebaliknya, orang yang takut akan Tuhan menyadari keterbatasannya dan bersedia dituntun Tuhan untuk belajar hal-hal baru. Ayat Alkitab ini sangat menguatkanku dan terus aku ingat dalam menghadapi tiap masalah dalam pelajaran.

Aku mulai menyadari bahwa selama ini pikiranku terlalu penuh dengan keluhan dan sakit hati pada Tuhan dan orang-orang di sekitarku. Aku jadi tidak bisa melihat kebaikan Tuhan dan kesempatan-kesempatan belajar yang Dia sediakan. Ketika aku membaca Alkitab secara teratur, Tuhan menolongku untuk melihat masalah-masalahku dari sudut pandang-Nya. Dengan pikiran yang diperbarui itu, aku pun bisa belajar tanpa beban, yakin bahwa Tuhan punya rencana bagi hidupku yang indah pada waktu-Nya. Aku jadi semangat belajar, tahu bahwa Tuhan sesungguhnya tidak pernah menciptakanku sebagai orang bodoh. Tidak hanya nilaiku yang berubah, tetapi juga cara pandangku terhadap Tuhan, terhadap diriku sendiri, dan terhadap orang lain.

Salah satu kata motivasi yang pernah kudengar adalah: “terimalah apa yang tidak bisa kamu ubah, dan ubahlah apa yang tidak bisa kamu terima”. Adakalanya kita kecewa karena hal-hal yang memang tidak bisa kita ubah. Misalnya: bagaimana orang lain memahami dan memperlakukan kita. Menghadapi hal-hal semacam itu, kita dapat bersandar pada janji Tuhan bahwa Dia dapat bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, membentuk kita makin serupa Kristus (Roma 8:28). Adakalanya juga, kekecewaan kita muncul dari hal-hal yang sebenarnya bisa dan perlu kita ubah. Misalnya: pemikiran kita yang keliru, kebiasaan-kebiasaan buruk kita, pengetahuan atau keterampilan kita yang kurang. Jadi, jangan pernah putus harap! Di tahun yang baru ini, mari kita terus mendekat dan melekat pada Firman Tuhan. Tuhan akan memperbarui pola pikir dan sikap hidup kita melalui Firman-Nya!