Bekerja

3 Pelajaran Penting dalam Bekerja di Tahun yang Baru

3 Pelajaran Penting dalam Bekerja di Tahun yang Baru

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

Tahun 2020 merupakan tahun yang spesial bagiku. Aku menyelesaikan studi pascasarjanaku di Korea Selatan dan mendapat pekerjaan pertamaku. Ketika melihat kembali dan merenungkan bagaimana Tuhan memimpin jalanku hingga aku mendapatkan pekerjaan ini, sungguh aku berterima kasih atas pimpinan-Nya dalam hidupku.

Berdoa dan Bekerja, Manakah yang Lebih Penting?

Berdoa dan Bekerja, Manakah yang Lebih Penting?

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Mana yang lebih penting: berdoa atau bekerja?

Pertanyaan ini seakan menunjukkan bahwa salah satu pilihan pasti lebih baik dari lainnya. Benarkah demikian? Apa yang Kitab Suci katakan tentang ini? Untuk menolong kita menemukan jawabannya, aku mengajakmu membaca kembali kisah yang Injil ceritakan dalam Lukas 10:38-42.

Bekerja Layaknya Seorang Atlet

Bekerja Layaknya Seorang Atlet

Oleh Dian, Surabaya.

Aku bekerja sebagai guru. Di bulan April 2019, aku mendapatkan keputusan dari atasanku bahwa kontrak kerjaku tidak dilanjutkan lagi. Berita yang membuatku hopeless dan cukup gelisah.

Untuk Siapa Aku Bekerja?

Untuk Siapa Aku Bekerja?

SANTAPAN ROHANI
Senin, 11 April 2016

Baca: Pengkhotbah 4:4-16

Henry bekerja 70 jam seminggu. Ia mencintai pekerjaannya dan memperoleh penghasilan besar yang dapat memenuhi segala kebutuhan keluarganya. Ia selalu berencana untuk mengurangi jam kerjanya, tetapi itu tidak pernah dilakukannya.

Komik Kamu: Senin

Komik Kamu: Senin

Oleh: Bella Nesya

Alasan Kita Bekerja

Alasan Kita Bekerja

SANTAPAN ROHANI
Senin, 3 September 2012

Baca: Efesus 6:5-9

Di akhir dekade 1660-an, Sir Christopher Wren ditugaskan untuk merancang ulang gereja Katedral St. Paulus di London. Menurut cerita, suatu hari Wren mengunjungi lokasi pembangunan gereja megah tersebut dan ia tidak dikenali oleh para pekerja di sana.

Iman Disertai Perbuatan

Iman Disertai Perbuatan

SANTAPAN ROHANI
Jumat, 3 Agustus 2012

Baca: Yakobus 2:14-26

Karena penyakit radang sendi yang dideritanya, Roger tak lagi mampu menghadapi musim dingin di Illinois sehingga ia pindah ke Bangkok, Thailand, yang bercuaca tropis. Pada suatu hari, ia teringat sebuah lagu kesukaan neneknya,