Posts

Tuhan Merangkai Cerita yang Indah dalam Keluargaku

Oleh Gina*, Yogyakarta

Aku mempunyai keluarga yang utuh. Kami tinggal di bawah satu atap—ayah, ibu, dua kakak perempuan yang sudah berumah tangga, dan aku. Kami sering berkumpul dan makan bersama, bahkan saling bercerita satu sama lain. Melihat kebersamaan keluarga kami, aku berpikir bahwa ini adalah waktu di mana ayah dan ibuku dapat menikmati masa tua mereka bersama anak cucunya.

Namun, keluargaku mengalami pergumulan hebat di akhir tahun 2018. Ayah dan ibuku hampir setiap hari bertengkar. Hal kecil menjadi besar dan hal besar semakin menjadi-jadi. Aku seperti dibawa ke dalam ingatan masa lalu. Ketika aku duduk di bangku sekolah dasar, seringkali aku melihat orang tuaku bertengkar sampai ibuku menangis. Tidak ada yang bisa kulakukan, hingga aku harus kembali menyaksikan kejadian serupa setelah sekian waktu lamanya mereka tidak bertengkar. Aku mengira bahwa ketika usia mereka semakin tua, mereka akan semakin rukun. Nyatanya, bukan itu yang terjadi. Keadaan ini hampir membuatku membenci ayah dan ibuku.

Suatu hari, ayah dan ibuku kembali bertengkar. Meskipun aku termasuk anak yang cuek di mata mereka, namun percayalah, hatiku hancur melihatnya. Mereka bertengkar tentang hal yang sama, yang bagiku terkesan konyol. Ayahku menuduh Ibu berselingkuh, meski pada kenyataannya Ibu tidak berselingkuh. Ketika mereka bertengkar, aku berdiam diri dan memilih masuk ke dalam kamar sambil mencoba mendengarkan perdebatan mereka. Pertengkaran itu berlangsung cukup lama, sampai ayahku jatuh sakit karena memikirkan hal tersebut. Aku juga sering melihat raut wajah Ibu yang sedih dan enggan untuk makan.

Awalnya aku berpikir bahwa ini hanyalah pertengkaran biasa. Namun, perkiraanku salah. Ayah mengumpulkan kami, ketiga anaknya, lalu bercerita tentang kegelisahan hatinya—demikian juga Ibu. Mereka menyalahkan satu sama lain, bahkan sampai menggunakan ayat Alkitab dalam perdebatannya.

Tibalah di satu titik di mana Ayah mengatakan bahwa ia ingin berpisah dengan Ibu. Seketika itu juga, aku ingin menangis dan marah karena aku tidak menyangka Ayah akan memikirkan dan mengatakan hal itu. Namun, aku menahan tangisku dan memilih untuk memberanikan diri berbicara dengan mereka. Hati kecilku tidak tahan memendam perasaan kecewa hingga aku berkata kepada Ayah, “Jika Ayah mengenal soal kasih, seharusnya Ayah tidak melakukan perpisahan. Kasih itu tidak pendendam, tidak pencemburu, tidak egois. Sama seperti yang Tuhan Yesus katakan.”

Setelah itu, aku pergi dan masuk ke dalam kamar. Aku menangis dan berbicara kepada Tuhan, “Mengapa hal ini terjadi dengan keluargaku? Padahal, Tuhan sedang menempatkan aku di pelayanan keluarga, dimana aku harus melayani keluarga lain. Bagaimana bisa aku melayani keluarga lain jika keluargaku saja hancur? Apa yang Tuhan mau?”

Mungkin aku terdengar seperti sedang marah. Tetapi, di saat aku hancur dan sedih, aku merasa Tuhan mengingatkanku akan suatu hal. Tuhan mengizinkan hal ini terjadi dalam keluargaku bukan sekedar untuk pertumbuhan keluargaku, tetapi Ia juga memiliki tujuan besar untuk memulihkan keluarga lain melalui apa yang keluargaku alami. Saat itu juga hati kecilku tahu, bahwa Tuhan berjanji ayah dan ibuku tidak akan berpisah. Keyakinanku diperkuat melalui firman Tuhan dalam Roma 8:28 yang berkata:

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

Saat mendapatkan ayat tersebut, Tuhan mengingatkanku bahwa melalui setiap badai kehidupan yang datang, Tuhan tidak hanya ingin membuat kita belajar untuk mengenal kasih Allah. Lebih dari itu, Tuhan memiliki tujuan besar, yaitu untuk keselamatan orang banyak. Tuhan dapat memakai masalah yang kita alami untuk memberkati orang lain yang mengalami pergumulan yang sama. Nyatanya, melalui kejadian ini aku semakin mengerti tentang pergumulan dalam keluarga yang memampukanku untuk melayani keluarga lain sesuai yang Tuhan inginkan.

Ketika mendapatkan jawaban itu, aku berdoa pada Tuhan dan berserah sepenuhnya pada rencana Tuhan. Aku selalu percaya pada janji-Nya, walaupun aku harus terlebih dahulu mengalami musim yang menyakitkan. Ketika aku terus bergumul, Tuhan melepaskan kedamaian bagi keluargaku. Kata “pisah” yang pernah dikatakan Ayah tidak pernah terdengar lagi. Lebih dari itu, kedua orang tuaku saling meminta maaf satu dengan yang lain.

Tuhan Yesus hebat! Pesanku untuk teman-teman semua adalah, biarkan Tuhan merangkai cerita melalui setiap musim kehidupan yang ada. Ketika kita mengalami pergumulan, saat itulah Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk dipakai dalam pelayanan bagi-Nya. Tuhan rindu untuk memakai kita menjadi saluran berkat-Nya bagi orang lain yang butuh lawatan kasih-Nya. Tuhan memampukan kita untuk melakukan panggilan-Nya. Amin.

“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” Ayub 42:2.

*Bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Ayah, Terima Kasih untuk Teladanmu

“Bapak”, demikian aku memanggilnya. Dia adalah sesosok istimewa di hidupku, yang melalui kehadirannya aku dapat melihat pantulan kasih Bapa Surgawi.

Ayah, Terima Kasih untuk Teladanmu

Oleh Bintang Lony Vera, Jakarta

“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mazmur 103:13)

“Bapak”, demikian aku memanggilnya. Ia adalah pria berkulit terang yang suka memancing dan bernyanyi, pribadi yang sederhana dan penuh kasih. Dia begitu mengasihiku, adik-adikku, dan penolongnya yang sepadan yaitu Mama.

Bapak tidak pernah menempatkan dirinya sebagai yang paling utama. Suatu pagi, langit tiba-tiba mendung ketika aku sedang diantar Bapak ke sekolah. Tak lama kemudian, hujan pun turun. Sayangnya, kami tidak membawa jas hujan. Bapak segera memberikan jaket yang dipakainya kepadaku, lalu kembali melanjutkan perjalanan karena jam masuk sekolah sudah hampir tiba. Bapak bertanya apakah keadaanku baik-baik saja, padahal kondisi Bapaklah yang perlu dikhawatirkan karena ia mengendarai motor di tengah hujan tanpa jaket. Tetapi, ia lebih mementingkan kesehatanku daripada dirinya sendiri.

Bapak selalu memberikanku dukungan dan penghiburan di saat aku membutuhkannya. Saat aku ujian masuk perguruan tinggi, Bapak yang mengantarkanku. Bapak pula yang memberikan pelukan hangat untuk menenangkanku di malam pengumuman saat aku dinyatakan tidak diterima di pilihan pertamaku.

Bapak menunjukkan kasihnya dengan cara yang sederhana. Biasanya, Bapak akan mampir ke pasar sepulang kerja untuk membeli buah. Sesampainya di rumah, dari ambang pintu ia berkata, “Bapak pulang. Ini ada buah, ayo kupas dan kita makan”. Selain bekerja sebagai seorang karyawan swasta, Bapak juga menjual tas. Bapak telah mengusahakan banyak hal untuk aku dan adik-adikku agar kami dapat menikmati pendidikan dan memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.

Bertemu dengan Bapak dan berbicara dengannya pada sore hari sepulang kerja adalah hal yang kunantikan setiap hari. Aku senang jika suara motornya sudah terdengar dari dalam rumah. Kami dapat berbincang tentang apapun. Aku merasa bebas lepas saat berbicara dengan Bapak. Kedekatan ini membuatku semakin mengenal dan memahami Bapak. Aku sudah tahu Bapak sedang memikirkan sesuatu sebelum Bapak menceritakannya. Bapak juga tahu apa yang kualami sebelum aku menceritakannya. Meski begitu, tidak jarang kami berbeda pendapat. Aku sering membuatnya kecewa, begitupun sebaliknya. Kadang kebijakan-kebijakan Bapak dapat membuatku bersedih hati. Namun aku tahu, keputusan yang dibuat Bapak adalah untuk kebaikanku.

Cinta yang Bapak berikan mengingatkanku akan cinta kasih Bapa surgawi. Bapa begitu mencintai anak-anak-Nya sehingga Ia memberikan Putra-Nya yang tunggal bagi dunia. Ia mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama seperti manusia, dan rela mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.

Kedekatan dengan Bapak membuatku rindu untuk lebih dekat dengan Bapa yang mengenalku lebih dari siapapun dan telah mengasihiku lebih dulu. Kini saatnya aku belajar semakin mengenal dan mengasihi-Nya melalui hubungan yang dibangun setiap hari lewat doa dan saat teduh. Bercermin dari hubunganku dengan Bapak, aku percaya bahwa setelah mengenal dan mengasihi Bapa Surgawi, aku akan semakin memahami apa yang menjadi kehendak-Nya. Aku belajar untuk menghayati bahwa semua yang terjadi di dalam hidup ini juga seturut dengan kehendak-Nya dan bertujuan untuk mendatangkan kebaikan, sekalipun dalam kedukaan.

Setiap kali aku menghabiskan waktu dengan Bapak, aku selalu teringat untuk meluangkan waktu berbincang dengan Bapa Surgawi—Pribadi yang menerimaku sepenuhnya, mengenalku sampai ke bagian yang terdalam, dan mengasihiku lebih dari siapapun.

Baca Juga:

Tentang Benda-benda Langit yang Mengingatkanku akan Kebesaran Allah

Melalui hari yang panas terik, aku menyadari bahwa Tuhan kembali menyatakan diri-Nya dengan mengingatkanku akan karya ciptaan-Nya yang luar biasa.

Sebuah Pulang yang Mengubahkanku

Oleh Agustinus Ryanto, Jakarta

Sudah enam tahun terakhir aku tinggal jauh dari rumah karena merantau. Seringkali aku merasa homesick. Tapi, karena latar belakang keluargaku yang broken, pulang bukanlah pilihan yang mudah setiap kali aku merasa homesick.

Sejak aku memutuskan studi dan bekerja di luar kota, hubungan antara ayah dan ibuku berguncang. Ayah yang belum mengenal Tuhan menduakan ibuku. Dia menikahi perempuan lain. Ketika ibuku memberitahuku hal ini, dia menangis, sebab dia bukan hanya kehilangan Ayah, melainkan juga harta benda hasil jerih lelah yang dia upayakan bersama ayahku sejak awal menikah dulu.

Aku tidak tahu harus merespons apa terhadap permasalahan ini. Yang kutahu adalah aku kecewa pada ayahku. Aku harus kuliah sebaik mungkin supaya bisa segera bekerja dan tidak lagi bergantung secara finansial kepadanya. Singkat cerita, Tuhan mengabulkan keinginanku. Aku lulus tepat empat tahun dan diterima bekerja sebelum aku diwisuda.

Setelah bekerja, jarak antara kota tempat perantauanku dengan rumah sebenarnya tidak begitu jauh. Tapi, aku tidak bersemangat untuk pulang. Aku malas jika harus bertemu muka dengan ayahku. Kalaupun aku pulang, motivasi utamaku hanyalah untuk bertemu dengan teman-teman sekolahku dulu.

Sebuah pulang yang tidak terduga

Menjelang libur Imlek yang jatuh di hari Jumat bulan Februari lalu, kantorku memberi kebijakan kepada stafnya untuk pulang kerja lebih cepat di hari Kamis, supaya beberapa staf yang merayakan Imlek bisa bersiap-siap.

“Wah, lumayan, long-weekend nih,” aku bergumam. Aku sudah beride kalau di libur panjang akhir pekan itu aku tidak akan pulang ke rumah. Aku mau beristirahat saja di kos.

Tapi, entah mengapa, aku merasa hatiku tidak tenang. Hati kecilku seolah berbisik, “Ayo, pulang, sebentar saja. Mumpung masih ada kesempatan pulang, pulanglah.”

Jujur, aku enggan untuk pulang. Kutengok tiket kereta api, semuanya ludes. Kulihat tiket travel juga hasilnya sama.

“Masih ada bus kok, ayo pulanglah naik itu,” hati kecilku berbisik lagi.

Aku masih enggan, tapi setelah kupikir-pikir lagi, tidak ada salahnya dengan pulang. Kalaupun nanti aku tidak mau bertemu dengan ayahku, aku bisa pergi ke rumah temanku. Yang penting aku pulang dulu untuk bertegur sapa dengan ibuku, pikirku.

Di hari Kamis, selepas tengah hari, aku pun bergegas ke terminal bus. Setelah sembilan jam perjalanan, aku pun tiba di rumah.

Obrolan yang mengubahkanku

Karena hari itu adalah Imlek, ayahku pun pulang ke rumah. Menjelang tengah malam, saat aku sudah berbaring di kasur, aku mendengar langkah kaki ayahku. Dia berjalan menuju dapur dan bersiap memasak. Selama 25 tahun ini, keluargaku bertahan hidup dengan berjualan makanan yang kami olah sendiri. Ayahkulah yang bertindak sebagai koki utamanya.

Malam itu dia hendak menyiapkan bahan masakan untuk esok. Kutengok dari jendela, lalu aku berjalan menghampirinya. Aku tak tahu apa yang menggerakkanku untuk mendekatinya, karena biasanya aku selalu menghindar untuk mengobrol dengan ayahku.

“Loh, belum tidur kamu?” tanya Ayahku.

“Belum. Aku belum ngantuk.”

Gimana kerjaanmu sekarang?”

Aku terdiam. Pertanyaan ini aneh buatku. Selama enam tahun sejak aku merantau, Ayah tak pernah sekalipun datang menengokku atau sekadar bertanya bagaimana kabarku lewat telepon. Mengapa hari ini dia bertanya begitu padaku, aku jadi bertanya-tanya.

“Ya gitu aja. Senang sih. Tapi sedih karena kalau pulang kerja sepi, gak ada teman.”

“Tahun ini tahun kamu, shiomu kan anjing. Perhitungannya lagi bagus. Kalau kamu mau bikin bisnis sendiri, kamu bisa hoki. Kalau kamu kerja ikut orang, kamu bisa dapet tanggung jawab gede.”

Aku mengangguk meski aku tidak percaya pada hitung-hitungan shio semacam itu.

Bermula dari sekadar basa-basi, tanpa terasa, obrolan itu berlanjut. Aku dan Ayah berbicara tentang banyak hal. Selama enam tahun tak menjalin komunikasi dengannya, Ayah bertutur tentang perjalanan hidupnya, tentang usaha makanannya yang kini merosot, dan bagaimana dia kini terlilit utang karena dia belum bisa terlepas dari dosa judinya.

Setelah dia selesai bertutur, gilirankulah yang bercerita tentang bagaimana perjalanan hidupku di perantauan selama enam tahun. Malam itu, kami berdua untuk pertama kalinya saling berbagi kisah hidup. Saat jam sudah menyentuh angka dua dini hari, aku pamit kepada ayahku untuk tidur duluan.

Di atas kasur, aku tidak langsung tidur. Aku melipat tanganku. Aku tidak percaya bahwa aku bisa duduk berdua dan mengobrol dengan ayahku. Bahkan, dia dululah yang memulai pembicaraan denganku. Melalui obrolan malam itu, aku merasa Tuhan sepertinya menegurku.

Jujur, sejak aku mendengar kabar tentang ayahku yang menikah lagi, aku tidak lagi mendoakan keluargaku pada Tuhan. Kupikir sudah jalan takdirnya keluargaku broken, dan biarlah itu broken sampai akhirnya. Tapi, hari itu ada lilin harapan kembali yang menyala dalamku. Ayahku belum mengenal Tuhan Yesus, dan mungkin inilah yang membuatnya gegabah dalam mengambil langkah kehidupan.

Aku mungkin kecewa dan memutuskan tidak ingin menjalin relasi lagi dengan Ayah. Tapi, aku sadar bahwa bagaimanapun juga, dia adalah ayahku. Terlepas dari status pernikahannya sekarang, yang kutahu tidak pernah ada istilah mantan ayah ataupun mantan anak. Ikatan keluarga itu bersifat permanen. Dan, jika bukan aku yang mulai membuka hati untuk mendekati Ayah, dengan apakah Ayah akan mengenal Tuhan dan diselamatkan? Aku mengimani firman Tuhan yang berkata: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu” (Kisah Para Rasul 16:31).

Sekarang aku selalu mendoakan ayahku dan beriman bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik untuk Ayah dan ibuku. Aku percaya bahwa meski keluargaku broken, Tuhan bisa menggunakannya untuk kebaikan, seperti ada tertulis bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Dan, imanku perlu diwujudkan dalam perbuatan-perbuatanku sebagaimana firman-Nya berkata: “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26). .

Jika dulu aku pernah mengeluh bahwa Ayah bukanlah ayah yang baik karena tidak pernah mau menjalin komunikasi denganku, kini aku belajar untuk inisiatif duluan berkomunikasi dengannya. Aku mengiriminya SMS, menanyakan kabarnya. Walau dia kadang lama membalasnya dan tidak mengangkat teleponku, kucoba terus lakukan itu. Hingga akhirnya dia pun mau meluangkan sedikit waktunya untuk menjalin komunikasi denganku. Dan, jika dulu aku selalu enggan untuk pulang, kini aku belajar meluangkan waktuku untuk pulang barang sekali dalam beberapa bulan.

Kalau aku mengingat kembali masa di mana aku enggan pulang dulu, aku tak menyangka bahwa kepulanganku di hari Imlek itu dipakai Tuhan untuk mengubahkanku terlebih dulu. Lewat obrolan hangat dengan Ayah, aku jadi mengerti bahwa sesungguhnya peluang komunikasi itu masih terbuka dan harus dirajut. Aku percaya bahwa sebelum keluargaku diubahkan, Tuhan mau akulah yang berubah terlebih dulu. Dia ingin aku tidak lagi memandang ayahku sebagai sesosok yang membuatku kecewa, tapi sebagai seorang di mana aku harus menyatakan kasih Kristus kepadanya.

Kawan, aku tahu kisahku ini belum selesai. Tapi aku percaya bahwa Tuhan masih terus berkarya dalam keluargaku.

Apabila ada di antara kamu yang mengalami keretakan keluarga dan pergi menjauh, aku berdoa kiranya Tuhan memberimu kedamaian hati supaya kamu pun dimampukan untuk pulang barang sejenak dan menjangkau keluargamu dengan kasih.

Baca Juga:

Pelajaran Berharga dari Penyelamatan 13 Pemain Bola di Thailand

Penyelamatan 13 orang yang terperangkap di dalam gua di Thailand adalah misi yang dramatis dan berbahaya. Ketika misi ini berakhir sukses, ada satu hal yang membuatku terperangah dan mengingatkanku akan sebuah pengorbanan terbesar yang pernah dilakukan untuk umat manusia.

Belajar Memaknai Kasih dari Sudut Pandang yang Berbeda

Oleh Bagaskara Wijaya

Sepuluh tahun lalu, aku pernah mengeluh dalam doaku kepada Tuhan:

“Seandainya aku punya ayah yang benar-benar mencintaiku, pasti hidupku tidak akan begini,” ucapku.

Dilahirkan di keluarga broken-home bukanlah sebuah kehidupan yang aku inginkan. Tapi, di sinilah Tuhan menempatkanku, di sebuah keluarga yang terkoyak dalam konflik dan perceraian. Menurutku, sebenarnya sumber konflik utama dalam keluargaku adalah ayahku. Sebagai seorang yang dibesarkan di tanah rantau dan dalam keluarga broken-home juga, karakter ayahku sangat keras. Dia sering berkata kasar, membentak, bahkan tak segan untuk menggunakan kekerasan. Karena perangainya yang demikian, ibuku sempat melarikan diri darinya dan aku pun merasa bahwa ayahku bukanlah ayah yang terbaik untukku.

Setiap kali aku berkunjung ke rumah temanku, ataupun saat aku berjalan-jalan dan melihat ada seorang anak yang begitu akrab dengan ayahnya, di situ hatiku merasa sedih dan tertusuk. Imajiku berandai-andai bilamana aku bisa menikmati kemesraan seperti itu dengan ayahku. Ah, tapi itu hanya sekadar imaji, hiburku pada diri sendiri. Tapi, tak jarang aku pun menangis karena mendambakan seorang ayah yang bisa hadir secara nyata, memberi kata-kata semangat, dan memelukku kala aku merasa lemah.

Bertahun-tahun, setiap kali berdoa, isi doaku selalu sama, yaitu mengeluh dan memohon. Aku mengeluh karena perangai buruk ayahku yang dilakukannya kepadaku dan ibuku. Dan, aku memohon supaya Tuhan berkenan mengubahkan ayahku supaya kelak keluargaku pun dipulihkan seutuhnya.

Syukurlah, karena sekalipun isi doaku selalu sama, nyata-nyatanya Tuhan tidak pernah lelah mendengarkan doaku. Telinga-Nya selalu dengar-dengaran terhadap setiap rintihanku. Juga, kasih-Nya selalu mendekapku. Hanya, jawaban doa yang Tuhan berikan, tidak melulu senada dengan apa yang kuinginkan.

Sewaktu aku memohon supaya Tuhan mengubahkan ayahku, Dia tidak segera mengubahkan ayahku saat itu juga seperti adegan sulap.

Singkat cerita, di tahun 2016, perjalanan studiku di perguruan tinggi pun usai. Aku dinyatakan lulus sebagai seorang sarjana dengan IPK 3,71. Cum Laude! Saat pelaksanaan wisuda mendekat, aku mencoba menelepon ayahku. Aku mengundangnya untuk hadir dalam pelaksanaan wisudaku. Sebelumnya, ibuku sudah mengatakan bahwa ayah tidak mungkin mau menghadiri wisudaku. Tapi, entah mengapa, aku tetap ingin mengundangnya walau sebenarnya aku tidak berharap banyak apabila ayahku akan datang, karena saat itu ayah dan ibuku sudah tidak tinggal bersama lagi.

Namun, aku cukup terkejut saat ayahku mengatakan bahwa dia akan menghadiri wisudaku. Dan, yang lebih mengherankan lagi, katanya dia akan mengajak ibuku juga untuk hadir! Aku tercengang, tapi tidak mau berpikir jauh-jauh. Yang ada dalam imajiku adalah nanti orangtuaku datang wisuda, berfoto bersama, lalu selesai, pikirku seperti itu.

Setelah upacara wisuda selesai, sambil memakai toga dan mengalungi piagam, aku menghampiri ayahku. Aku tidak tahu hendak berkata apa, demikian juga dengan ayahku. Dia tidak banyak berkata. Hanya menatapku dengan ekspresi datar. Kemudian, dia menepuk pundakku, dan senyumnya pun merekah.

Peristiwa ini sebenarnya sangatlah sederhana. Namun, buatku peristiwa ini begitu luar biasa. Bukan karena gelar cum laude yang aku raih. Bukan karena saat wisuda aku sudah diterima bekerja. Tapi, senyuman ayahku itulah yang menggetarkan hatiku. Senyuman itu adalah senyum paling tulus yang pernah ayahku berikan. Senyuman itu menumbangkan segala imaji negatif tentang ayahku yang selama bertahun-tahun kupelihara tumbuh di dalam hatiku.

Memang benar bahwa ayahku adalah ayah yang sering berkata kasar dan ringan tangan. Memang benar bahwa ayahku bukanlah ayah yang romantis, yang tak pernah mengucapkan kata “aku mengasihimu” kepadaku. Memang benar bahwa ayahku tidak seperti ayah-ayah lain yang bisa bersenda gurau dan bercengkrama dengan anaknya. Tapi, di balik semuanya itu, aku lupa bahwa Tuhan sejatinya tidak pernah menciptakan kesalahan di dalam dunia ini, termasuk ketika dia mengizinkanku untuk menjadi seorang putra dari ayahku.

Hari itu, aku menyadari bahwa selama ini aku telah salah memandang ayahku. Aku tahu bahwa sikap dan perbuatan ayahku adalah salah dan tidak terpuji. Aku boleh membenci dosa-dosa yang dilakukan ayahku, tetapi tidak seharusnya aku membenci pribadinya. Di balik perangainya tersebut, ada satu kebenaran yang baru saat ini aku pahami. Aku sempat menyesal, seandainya saja aku memahami kebenaran ini sedari awal, mungkin aku tidak akan memelihara rasa pahit dalam hatiku lama-lama.

Setiap orang, termasuk ayah, memiliki bahasa kasihnya masing-masing. Ada seorang yang mengungkapkan bahasa kasihnya dengan ucapan yang menyejukkan hati. Ada seorang yang mengungkapkan ekspresi kasihnya dengan sentuhan dan dekapan hangat. Ada seorang yang mengungkapkan empati terdalamnya dengan pemberian. Tapi, bahasa dan ekspresi kasih terdalam ayahku sejatinya telah dia wujudkan dalam rupa kerja keras.

Kerja kerasnya siang malam berjualan makanan di atas gerobak adalah wujud kasih paling tinggi yang bisa dia berikan kepadaku hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan studiku. Dia sudah terlalu lelah setiap harinya hingga tak punya lagi waktu luang untuk berjalan dan bercengkrama bersamaku. Tubuhnya sudah dipenuhi peluh hingga dia sungkan untuk mendekapku. Di balik perangainya yang buruk, tersimpan sebuah niatan tulus yang tak mampu terlihat olehku kala itu.

Momen wisuda ini mengajariku untuk belajar memaknai kasih dari sudut pandang yang berbeda, tak hanya kepada ayahku, juga kepada orang-orang lain. Selama ini aku selalu melihat kasih dari sudut pandang “aku” saja. Jika ayahku mengasihiku, maka dia harus berbuat ini dan itu untukku. Jika ayahku mengasihiku, maka dia harus mengatakan ini dan itu kepadaku. Sudut pandang ini pada akhirnya membuatku hanya mampu melihat kasih secara dangkal tanpa pernah memahami lebih jauh tentang bagaimana kasih itu diproses. Ketika apa yang diperbuat oleh seseorang tidak memenuhi ekspektasiku, atau ketika caranya berbeda dari apa yang kuinginkan, aku pun jadi kecewa dan tak jarang segera melabeli bahwa orang itu tidak mengasihiku. Padahal hal ini hanyalah prasangkaku saja. Kenyataannya mungkin berbeda.

Tapi, bagaimana jika aku belajar memaknai kasih dari sudut pandang “dia”? Sudut pandang ini dapat menolongku untuk mengikis rasa egosiku, juga menghidarkanku dari prasangka negatif. Jika sebelumnya fokusku lebih ke diri sendiri, aku mencoba untuk melihat dari sudut pandang orang itu, mencoba memahami seandainya akulah yang berada di posisinya. Alih-alih tersinggung karena ucapan ayahku, aku belajar memahami bahwa di balik kata-katanya itu mungkin saja ayahku lelah dan ada beban pikiran yang tak mampu dia utarakan.

Perubahan sudut pandang ini mungkin tidak mengubahkan ayahku secara langsung, tetapi secara nyata perubahan ini mengubahku. Aku mampu memandang ayahku dengan lebih positif. Tiada lagi prasangka dan kepahitan yang tumbuh subur di dalam hatiku. Dan, kupikir, sejatinya inilah jawaban doa yang Tuhan berikan kepadaku.

Tuhan tidak mengubahkan ayahku dan keluargaku secara sekejap. Melainkan, melalui perjalanan selama bertahun-tahun, Dia mengizinkanku untuk mengecap sebuah proses dan memahami bahwa Dia tidak sedang menempatkanku dalam kesalahan. Dia hanya ingin supaya aku bisa memiliki kasih yang tulus. Bukankah Rasul Paulus dalam suratnya pernah berkata bahwa kasih adalah pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan?

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kolose 3:13-14).

Saat ini, dua tahun hampir berlalu sejak peristiwa itu. Lambat-laun, ada relasi yang mulai pulih. Jika dahulu aku menjadi seorang yang menuntut kasih dari ayahku, sekarang aku menjadi seorang yang proaktif mewujudkan kasih untuk ayahku. Jika dahulu aku ingin supaya dia mengajakku pergi dan bercengkrama, sekarang akulah yang mengajaknya. Jika dahulu aku ingin supaya dia berkata-kata yang baik, akulah yang memulai pembicaraan yang berisi kata-kata yang membangun kepadanya.

Pada akhirnya, kasih itu tidak selalu bicara tentang bagaimana kita diberi, melainkan tentang bagaimana kita memberi. Kristus telah memberikan kasih dan pengampunan-Nya terlebih dahulu kepada kita, bahkan saat kita masih tidak menyadari akan betapa butuhnya kita akan kasih-Nya. Oleh karena itu, hari ini, maukah kita meneruskan kasih-Nya dengan komitmen untuk mengasihi sesama kita? Mulailah dari orang yang paling dekat dengan kita.

“Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa” (1 Petrus 4:8).

Baca Juga:

Sebuah Kisah Tentang Gula

Suatu ketika, seorang ibu yang anaknya sangat suka makan gula datang menghampiri Mahatma Gandhi. Ibu itu meminta Gandhi supaya menasihati anaknya agar berhenti makan gula. Kemudian, kisah yang terjadi setelahnya pun menjadi sebuah teguran buatku.

Di Balik Kepergian Papa yang Mendadak, Ada Pertolongan Tuhan yang Tak Terduga

Oleh Peregrinus Roland Effendi, Cilacap

Di Minggu pagi yang tenang, tiba-tiba duniaku seakan runtuh. Dari balik telepon, suara mamaku bergetar, “Papa sakit keras, kamu cepat pulang ke rumah!” Namun, belum sempat aku beranjak pulang, Mama kembali menelepon. Kali ini suaranya berubah lirih, “Papa sudah meninggal.”

Peristiwa mendadak ini membuat perasaanku tidak karuan. Aku tertegun dan tak habis pikir. Mengapa Tuhan memanggil pulang Papa begitu cepat? Papa tidak punya riwayat sakit penyakit yang dideritanya. Papa juga bersahabat baik dengan semua orang. Tapi, mengapa? Pertanyaan itu terus menggantung di benakku seraya aku menyiapkan diri untuk segera pulang ke rumahku di Sidareja, sebuah kota kecamatan kecil di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Kesedihanku tidak berhenti sampai di sini. Siang itu tidak ada angkutan umum yang tersedia untuk mengantarku pulang. Tiket kereta api, bus, juga angkutan travel semuanya ludes dan baru tersedia keesokan harinya. Aku sempat berpikiran untuk nekat saja pulang mengendarai sepeda motor supaya bisa melihat wajah Papa sebelum upacara tutup peti. Tapi, ketika aku menceritakan rencana ini kepada sahabatku, dengan tegas dia mencegahku. Katanya, perjalanan naik motor itu berbahaya, apalagi jika ditambah dengan kondisi perasaanku yang penuh kesedihan. Namun, karena aku tetap bersikukuh untuk segera pulang, akhirnya dia menawarkan diri untuk mengantarku naik motor hingga ke Sidareja.

Perjalanan sejauh kurang lebih 200 kilometer itu tidak berjalan mulus. Dalam keadaan normal saja biasanya dibutuhkan waktu sekitar 7 hingga 8 jam untuk tiba di rumahku. Tapi, siang itu hujan turun dengan deras dan membuat perjalanan kami jadi lebih sulit. Aku jadi tambah bertanya-tanya pada Tuhan. “Kok tega sih, Tuhan?” Tapi, Tuhan seolah bergeming. Hujan tetap turun, malah bertambah deras tanpa ada tanda-tanda akan berhenti. Lalu, sahabatku yang mengendarai motor pun salah jalan sehingga kami tersesat dan berputar-putar selama satu jam di daerah yang sama.

Sudah empat jam berkendara, hari mulai gelap dan hujan masih mengguyur. Perjalanan ini membuatku lelah secara fisik maupun rohani. Badanku terasa pegal dan hatiku pun bertambah sedih karena ingin segera melihat Papa. Namun, ada sebuah peristiwa yang tidak terduga terjadi. Saat sahabatku sudah berhasil menemukan jalan utama yang menuju Cilacap, ada sebuah mobil yang berada di depan motor kami. Ketika aku melihat pelat nomornya, aku yakin bahwa itu adalah mobil saudaraku dari Jakarta. Kutepuk pundak sahabatku dan memintanya memposisikan motor tepat di samping mobil itu. Ternyata, benar, di dalam mobil itu ada rombongan saudara-saudaraku yang juga akan melayat Papa. Lalu, kami pun menepi sejenak. Sahabatku memutuskan untuk kembali lagi ke Jogja karena keesokan harinya dia harus bekerja dan aku melanjutkan perjalanan ke rumah bersama saudara-saudaraku.

Perisitiwa tak terduga ini sedikit menjawab pertanyaanku akan di mana kebaikan Tuhan ketika aku sedang berduka. Tuhan menjawabnya dengan memberikan sebuah pertolongan. Tuhan tahu bahwa perjalanan menuju rumahku masih jauh, lalu aku dan sahabatku pun pasti kelelahan mengendarai sepeda motor. Ketika aku bertemu dengan mobil saudaraku di tengah jalan, aku tahu ini adalah cara Tuhan menolongku. Tuhan tidak menghapus perasaan dukaku begitu saja, tetapi Dia ingin di balik duka ini, aku bisa mempercayai-Nya yang jauh lebih besar daripada setiap masalah yang kuhadapi.

Setibanya di rumah, di depan jenazah Papa aku termangu. Papa adalah seorang ayah yang berpendirian keras. Namun, dia tidak pernah sekalipun memukul Mama ataupun anak-anaknya. Lewat kerja keras berjualan sembako di toko kelontong, Papa mewujudkan cintanya untuk ketiga anaknya. Dari setiap Rupiah yang Papa kumpulkan, Papa sanggup membiayai aku dan kedua kakakku untuk mengenyam pendidikan tinggi di luar kota hingga bisa lulus menjadi sarjana.

Mamaku bertutur, katanya sekitar dua minggu menjelang kematian Papa, ada sesuatu yang unik terjadi. Papa adalah seorang Katolik, tapi jarang pergi ke gereja karena harus bekerja menjaga toko. Namun, entah mengapa belakangan ini dia begitu bersemangat pergi ke gereja. Gaya bicaranya yang biasanya keras pun berubah menjadi lemah lembut. Aku tidak tahu apa yang Papa rasakan saat itu hingga Dia begitu bersemangat untuk menyambut Tuhan dalam tiap ibadah di gereja. Hingga suatu ketika, di Minggu pagi yang cerah, Tuhan memanggil pulang Papa ketika dia sedang beribadah dan menerima perjamuan kudus di gereja.

Di tengah perasaan dukaku, Tuhan mengingatkanku dengan sebuah ayat. “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).

Seperti peristiwa pertolongan Tuhan yang tak terduga saat aku dalam perjalanan menuju rumah, aku percaya bahwa Tuhan terus akan menolongku dan keluargaku dalam menghadapi kehidupan sepeninggal Papa.

Waktu itu, ketika aku dalam hati memohon supaya hujan berhenti, tapi hujan malah bertambah besar. Namun, Tuhan menyediakan pertolongan lain berupa pertemuan dengan saudaraku yang berada dalam mobil. Kadang, ketika kita memohon pertolongan Tuhan dalam masalah yang kita hadapi, Tuhan tidak mengubah keadaan begitu saja. Tuhan tidak mengubah keadaan dukacitaku menjadi sukacita dalam sekejap. Tapi, Tuhan mengubah hati dan pikiranku melalui cara dan pertolongan-Nya yang jauh di luar pemikiran kita.

Tuhan adalah Tuhan yang mengagumkan. Dia berjanji bahwa Dia akan menghibur setiap orang yang berdukacita (Matius 5:4). Hari ini, maukah kamu menyerahkan rasa dukamu kepada Tuhan dan mengizinkan-Nya menolongmu dengan cara-Nya?

Baca Juga:

Pelajaran Berharga dari Skripsi yang Tak Kunjung Usai

Ketika aku masih menjadi mahasiswa tingkat akhir, aku menganggap skripsi sebagai momok yang begitu menakutkan. Tatkala teman-teman seangkatanku begitu bersemangat untuk segera lulus, aku malah membiarkan waktuku selama satu semester pertama terbuang percuma tanpa hasil apapun.

Mengapa Aku Mengampuni Ayahku yang Adalah Seorang Penjudi

Oleh Raganata Bramantyo

Mengampuni itu mudah jika hanya dikatakan, tetapi sulit sekali ketika harus dipraktikkan. Benarkah begitu?

Di tahun 2012, rasa benciku kepada ayahku telah memuncak. Bagiku dulu, dia hanyalah seorang penjudi, munafik, dan sangat tidak layak disebut sebagai seorang ayah.

Suatu pagi ketika matahari masih belum terbit, dia pulang ke rumah dengan kondisi marah besar akibat kalah judi. Pikirannya penuh dengan amarah hingga ia memukul dan menendang banyak perabot rumah. Ibuku yang pagi itu tengah memasak pun tidak luput dari serangan amarahnya.

Sebagai anak lelaki, aku merasa muak untuk mendiamkan semua ini. Kuhampiri dirinya, kubanting pintu dapur yang kala itu tengah terbuka. “Aku tidak peduli tentang judimu, kalah atau menang itu pilihanmu. Tapi, bisakah pulang ke rumah tanpa membawa masalah dari luar?” Karena emosiku memuncak, nada bicaraku pun tinggi.

Bukan jawaban kata-kata yang kudapat, melainkan sebuah tinju yang dilayangkan padaku. Aku menghindar kemudian berlari keluar rumah. Kemudian serangkaian kata-kata kasar dan makian mengalir deras dari mulut ayahku. Hari itu aku merasa berada di titik kebencian tertinggi. Aku merasa tidak sudi memiliki ayah seperti itu.

Karena kondisi rumah yang mencekam, hari itu sejak pagi aku memutuskan untuk tidak pulang. Aku bersepeda tanpa tahu ke mana arah tujuan yang kutempuh, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke gereja tempatku berjemaat. Hari itu bukan hari Minggu sehingga tidak banyak orang di sana. Aku menepikan sepedaku dan duduk di tangga, kemudian melamun selama berjam-jam.

Dalam lamunan itu aku masih mengingat kejadian yang baru saja terjadi pagi itu. Hatiku terasa semakin hancur ketika pikiranku memaksaku untuk mengingat kembali seluruh luka-luka yang pernah digoreskan oleh ayahku dalam keluarga. Aku menjadi semakin frustrasi karena perasaan itu seperti menekanku untuk masuk ke dalam jurang keterpurukan.

Hari itu seorang sahabatku datang, dan ketika ia menghampiriku ia hanya bertanya “Kenapa?” Setelah aku menjelaskan dengan terbata-bata, kemudian dia hanya merangkulku tanpa memberi nasihat apapun. Akhirnya di malam hari aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan ayahku ternyata pergi berjudi kembali.

Keputusan untuk mengampuni

Malam itu, pikiranku berkecamuk. Di satu sisi aku begitu merasa sakit hati atas kejadian tadi pagi, tapi di sisi yang lain aku mempertanyakan kembali identitas diriku. Pada tahun 2004 aku telah mengikrarkan diriku lewat upacara baptisan bahwa aku dengan sungguh-sungguh akan mengikut Yesus. Namun, kejadian hari itu seolah hendak mengujiku apakah aku memang sungguh-sungguh meneladani Tuhan Yesus atau hanya sekadar menjadikan iman Kristenku sebagai agama yang tercantum di kartu identitas.

Saat aku berdoa memohon jalan terbaik dari Tuhan, yang terlintas di benakku hanyalah ayat-ayat mengenai pengampunan. Salah satu ayat yang waktu itu terlintas di benakku adalah Matius 18:21-22 yang tertulis: “Kemudian Petrus datang kepada Yesus dan bertanya, ‘Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?’ Yesus menjawab, ‘Aku berkata kepadamu, bukan tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”

Sesungguhnya ayat itu terdengar klise buatku. Rasanya setiap bulan, atau bahkan tiap minggunya aku sering mendengar ayat itu disebutkan dalam khotbah maupun sekolah minggu. Tapi, ayat yang terdengar klise itu sesungguhnya berbicara tentang inti dari iman Kristen, yaitu tentang mengampuni dan diampuni.

Akhirnya aku menyerah. Ayat yang terdengar klise itu menegurku dengan kuat hingga mulutku pun mengucap, “Tuhan, kalau memang aku harus mengampuni, beri aku kekuatan.” Aku tahu dan percaya Tuhan mendengar doaku saat itu. Perlahan aku mulai merasa tenang dan mulai memahami lebih jernih tentang kejadian yang terjadi pagi tadi.

Aku menyadari bahwa aku juga telah berbuat salah karena lebih mengedepankan emosi ketika berhadapan dengan ayahku yang juga sedang dirundung amarah. Alih-alih bersabar sedikit, aku memilih untuk membalas api dengan api hingga terciptalah konflik yang membakar. Yang harus aku lakukan sekarang adalah menyiramkan air kepada konflik yang terbakar itu, dan air itu adalah pengampunan.

Karena aku masih takut untuk bertemu muka dengan ayahku, malam itu aku mengirimkannya sebuah pesan singkat. “Aku minta maaf karena aku salah,” tulisku singkat, lalu kutekan tombol kirim. Malam itu entah mengapa aku merasa lega dan bisa tidur dengan damai. Esok paginya ketika aku bangun, ayahku masih tertidur di kamarnya. Ketika ia bangun, aku mendekati kamarnya dan mengatakan, “Aku minta maaf”. Dia tidak menjawab apapun seolah tidak menghiraukan kehadiranku.

Tapi, ketika aku mengatakan “maaf” kepadanya, sesungguhnya aku sedang membebaskan diriku sendiri dari belenggu dendam dan keegoisan. Waktu itu aku tidak peduli lagi dengan apa yang akan menjadi respons dari ayahku. Ada sukacita besar yang melingkupiku dan satu hal yang pasti adalah pengampunan itu membebaskanku dari rasa benci yang menekan jiwa.

Sesudah aku mengampuni

Sudah bertahun-tahun berlalu semenjak kali pertama aku mengampuni ayahku. Sekarang aku sudah bekerja dan tidak lagi tinggal satu rumah dengan ayahku. Memang keadaan tidak berubah banyak, bahkan hingga kini ayahku pun masih tetap berjudi.

Pengampunan seringkali tidak mengubah orang yang telah menyakiti kita, ataupun mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tapi, satu hal yang harus kita ingat adalah dengan mengampuni, kita mengubah diri kita untuk menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus.

Ketika Tuhan Yesus dihina dan disiksa dalam perjalanan-Nya ke Golgota, tidak sekalipun Dia mengucap sumpah serapah ataupun memaki-maki orang yang menganiaya-Nya. Alih-alih membalas dengan yang jahat, Tuhan Yesus malah berdoa untuk mereka yang telah menganiaya-Nya. Injil Lukas pasal 23:34 mencatat demikian, “Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Sekarang aku tidak hanya dapat berdoa untuk ayahku supaya dia dapat mengenal Yesus, tapi perlahan aku mulai dapat berbicara kepadanya—sesuatu yang dulu mustahil kulakukan. Aku percaya bahwa pengampunan itu ibarat sebuah benih yang kita tanam. Ketika kita memelihara pengampunan itu untuk tumbuh, kelak itu pula akan berbuah. Ya, berbuah menjadi suatu hubungan yang damai.

Lewat kematian Tuhan Yesus di kayu salib, Dia membawa rekonsiliasi atau pendamaian kita dengan Allah. Dia mau supaya kita tidak lagi terpisah dari Allah karena dosa-dosa yang kita perbuat. Puji Tuhan, karena peristiwa kematian Yesuslah akhirnya kita beroleh sebuah hubungan pribadi yang dekat dengan Allah, hingga kita dapat memanggil-Nya sebagai Bapa.

Seperti Bapa telah mengampuni kita lewat kematian Yesus di kayu salib, di momen Paskah ini maukah kita mengikuti teladan-Nya? Maukah kita mematikan rasa egoisme kita dan melepaskan pengampunan kepada orang-orang yang telah melukai kita?

Pengampunan tidak terjadi dengan instan, jika hari ini kamu masih merasa berat untuk mengampuni, itu bukan berarti kamu tidak mampu mengampuni. Mintalah kepada Tuhan yang telah mengampuni kita terlebih dahulu untuk memberimu kekuatan untuk mengampuni.

Baca Juga:

Aku Tidak Lolos Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri, Haruskah Aku Kecewa?

Jika aku mengingat kembali masa-masa ketika aku mulai kuliah, semua yang kudapatkan saat ini hanyalah anugerah. Aku pernah berharap bisa kuliah ke luar negeri untuk mendalami dunia seni dan desain, atau setidaknya masuk di perguruan tinggi negeri. Untuk mewujudkan impianku itu, sejak SMA aku berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang bagus. Tapi, ternyata Tuhan berkata lain.

Jawaban Bijak Ayahku Ketika Aku Mengatakan Akan Menjadi Istri Hamba Tuhan

jawaban-bijak-ayahku-ketika-aku-mengatakan-akan-menjadi-istri-hamba-tuhan

Oleh Ivonne Nataly Pola, Boyolali

Minyak angin merek ini adalah minyak angin yang sering digunakan oleh ayahku. Mencium aromanya dapat mengobati rasa rinduku kepadanya, karena kami sudah tidak tinggal bersama sejak aku menikah.

Ayahku bukanlah seorang yang sempurna, tapi dia adalah seorang ayah yang membawaku mengenal Tuhan Yesus dan bertumbuh di dalam-Nya sejak aku masih kecil.

Ayahku senang bercerita tentang anak-anaknya, termasuk tentang diriku. Pernah suatu kali saat aku sedang berada di Balikpapan karena mengikuti suami yang sedang bertugas di sana, aku mengatakan kepada ayahku bahwa aku kangen donat yang saat itu tokonya baru ada di Jakarta. Tak kusangka, ayahku menceritakannya kepada teman kerjanya. Teman ayahku kemudian membawakanku dua dus donat itu ketika dia ada tugas dinas di Balikpapan.

Ayahku tidak pernah menceritakan tentang kesulitannya kepada anak-anaknya. Suatu kali ketika aku masih mahasiswa dan saatnya membayar uang kuliah, aku menunggu ayahku di kampus. Namun, hingga sore ayahku belum juga datang. Ketika aku menghubunginya, dia hanya berkata, “Sabar yah, Nak…”

Akhirnya, ayahku datang juga ke kampus untuk membayarkan uang kuliahku. Belakangan, aku baru tahu bahwa ternyata saat itu ayahku sedang tidak memiliki uang, tapi syukur kepada Tuhan karena tepat di sore harinya ayah mendapatkan bonus dari perusahaan tempatnya bekerja. Ayah tidak mau menunjukkan kesulitannya di depanku. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Baginya, membiayai kuliahku adalah sebuah kewajiban yang harus dipenuhinya sekalipun di tengah keadaan yang sulit.

Aku ingin membahagiakan ayahku

Ayahku begitu baik bagiku. Karena itu setelah aku menikah, aku bercita-cita ingin membahagiakannya dengan memberikan sebagian penghasilanku kepadanya. Saat itu, aku dan suamiku masih sama-sama bekerja. Namun, itu tidak bertahan lama.

Sebuah keputusan yang sulit perlu aku ambil ketika suamiku menjawab panggilan Tuhan dengan menjadi seorang hamba Tuhan penuh waktu dan meninggalkan segala kariernya di dunia sekuler. Aku harus melepaskan karierku untuk mendukung suamiku sebagai istri hamba Tuhan. Aku begitu bergumul. Aku ingin menuruti panggilan Tuhan, namun aku juga ingin memberkati ayahku secara finansial di masa tuanya.

Ketika aku menceritakan pergumulanku kepada ayahku, dia berkata, “Nak, panggilan itu asalnya dari Tuhan sendiri. Jadi, kalau Dia sudah memilih kalian, melangkahlah bersama-Nya. Hidup kami sebagai orangtua pasti akan terus ditopang oleh Tuhan sendiri.”

Aku kemudian bertanya kepadanya apakah ayahku kecewa karena telah susah payah membiayai kuliahku dan aku “hanya” menjadi istri hamba Tuhan. Apakah dia merasa kuliahku menjadi sia-sia? Jawaban ayahku begitu membuatku terharu, “Justru kamu dititipkan kepada kami untuk dipersiapkan menjadi alat-Nya. Jadilah istri hamba Tuhan yang menyenangkan-Nya. Kelak ketika kami bisa melihat kamu setia pada panggilan itu, kami akan sangat bangga karena kami dipercaya untuk mendidikmu.”

Aku pun menitikkan air mata. Dahulu aku mengira bahwa aku baru dapat membahagiakan ayahku jika aku berhasil dalam pekerjaanku dan dapat memberikannya harta yang kumiliki. Namun ternyata kebahagiaan ayahku adalah ketika aku menyenangkan Tuhan. Itulah yang menjadi kebanggaan ayahku.

Aku bersyukur kepada Tuhan atas orangtua yang telah diberikan-Nya bagiku. Orangtua yang menghajarku ketika aku salah untuk kebaikanku. Orangtua yang tetap mengasihiku meskipun aku sering mengecewakan mereka. Orangtua yang selalu mengingat diriku dalam doa-doa mereka. Orangtua yang peduli kepadaku dan suamiku, menanyakan tentang pelayanan yang kami lakukan, dan mengingatkan tentang kasih karunia Tuhan. Meskipun aku dan orangtuaku kini terpisah oleh jarak, aku selalu mengingat nasihat mereka, “Jangan tinggalkan iman, pengharapan, dan kasih.”

Karena mereka, aku dapat merasakan kasih Bapa di surga, kasih yang sempurna. Terima kasih, ayah dan ibu. Terima kasih, Tuhan.

Baca Juga:

3 Hal yang Kudapatkan Ketika Aku Memutuskan untuk Bersaat Teduh Saat Aku Patah Hati

Hubunganku dengan pacarku dahulu membuatku lebih mengutamakan waktu bersama dengannya daripada waktu bersama dengan Tuhan. Di penghujung tahun Tuhan mengizinkanku mengalami patah hati yang pada akhirnya membawaku lebih dekat pada-Nya.

Mendambakan Kasih Seorang Ayah

Oleh: J. Leng, Malaysia,
(Artikel asli dalam Simplified Chinese: 从无到有的父爱)

Craving a Father's Love

Setiap kali melihat ada ayah dan anak yang bisa mengobrol dan bercanda dengan akrabnya, aku selalu merasa agak iri. Aku tidak pernah punya kenangan seindah itu. Ketika aku berusia 11 tahun, kedua orangtuaku bercerai karena ayahku berselingkuh. Menurut ibuku, ayah tidak menginginkan hak pengasuhan atas kami karena ia tidak suka anak-anak. Ketika ayah menikah lagi, ia pun tidak memiliki anak samasekali.

Aku dan kakak perempuanku dibesarkan oleh ibu. Hubungan kami dengan ayah sangat minimal, kebanyakan hanya untuk meminta uang saku. Kadang-kadang saja ia berbasa-basi menanyakan kabar kami. Ia sangat jarang mengajak kami keluar untuk makan malam atau meluangkan waktu bersama kami. Yang namanya “kasih ayah” tidak pernah benar-benar bisa kami alami di sepanjang tahun-tahun pertumbuhan kami.

Aku bisa merasakan bahwa ibu sinis dan benci kepada ayah setelah perceraian itu, terutama dari cara bicaranya setiap kali menyebut ayah. Ia kerap mengingatkan aku dan kakakku untuk tidak menjalin hubungan dengan pria yang seperti ayah.

Apa yang ia katakan tahun demi tahun, ditambah pengalamanku sendiri dalam berinteraksi dengan ayah, membuat aku kemudian merasakan hal serupa. Aku merasa ayah menghindari tanggung jawabnya terhadap keluarga. Ia hanya menunjukkan tanggung jawabnya hanya bila sudah tidak ada pilihan lain.

Perlahan-lahan, aku juga mulai percaya bahwa semua laki-laki pada umumnya tidak dapat diandalkan dan tidak dapat dipercaya. Sama seperti ibu, aku memandang rendah ayahku.

Aku ingat suatu kali saat liburan SMA, aku minta tolong ayah untuk membantuku pindah dari asrama. Ia tidak muncul. Akhirnya, aku terpaksa mengangkut semuanya sendirian dengan pertolongan beberapa teman.

Ketika aku masuk universitas, ayah berkata bahwa ia tidak sanggup membayari biaya kuliahku secara penuh, dan memintaku untuk mencari jalan keluar sendiri. Aku sangat kecewa kepadanya. Itu adalah masa-masa yang paling sulit dalam hidupku—aku sendirian di tempat asing, dan tidak tahu harus minta tolong kepada siapa.

Tertekan karena tidak bisa membayar uang sekolah, aku mengalami depresi. Pada saat itu aku merasa tidak ada bedanya aku punya ayah atau tidak. Aku harus menjalankan beberapa pekerjaan paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Dan aku merasa semua kesulitan yang kuhadapi itu disebabkan oleh ayah.

Namun, pada masa-masa itu jugalah aku mengenal Yesus dan menerima anugerah keselamatan-Nya.

Dalam Matius 11:28 aku membaca, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Selain itu, Ulangan 31:8 berkata, “Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”

Kedua ayat ini sangat menghiburku. Allah menyadarkanku bahwa aku tidak perlu menanggung semua beban sendirian. Aku dapat mempercayakan semua kekhawatiran dan ketakutanku kepada Tuhan, yang dapat diandalkan. Mungkin aku bahkan perlu berterima kasih kepada ayahku karena situasi yang disebabkannya membuatku aku akhirnya percaya kepada Tuhan.

Setelah aku menjadi seorang Kristen, aku mulai belajar bagaimana membangun hubungan dengan Allah, dan secara bertahap mulai memahami kasih Bapa di surga yang luar biasa. Salah satu kekecewaan terbesar dalam hidupku adalah tidak bisa mengalami kasih seorang ayah, namun kini aku mendapatkan kasih terbesar yang bisa diberikan seorang ayah, yaitu kasih dari Bapaku yang di surga.

Melalui doa dan pembacaan Alkitab, aku juga mulai memahami kehendak Allah bagiku dalam Matius 6:15, “Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”

Jujur saja, mengampuni ayah yang telah menggoreskan luka dalam hidupku, bukanlah hal yang mudah. Tetapi setiap hari, aku memohon agar Allah memampukanku untuk memahami dan memaafkan ayahku. Meski tidak mudah, Allah menghendaki kita tidak hanya berdamai dengan-Nya, tetapi juga dengan sesama kita.

Bagaimana Aku Akhirnya Memahami Orangtuaku

Oleh: Lim Chien Chong
(artikel asli dalam Bahasa Inggris: How I Came To Understand My Parents)

memahami-orangtuaku

Itu tidak adil!”

Kenapa aku selalu dibanding-bandingkan dengan orang lain? Aku tidak sama dengan mereka!”

Sebagai seorang anak yang beranjak remaja, aku tidak pernah suka dibanding-bandingkan dengan orang lain. Tak jarang aku protes kepada kedua orangtuaku, karena aku merasa ditempatkan pada posisi yang tidak adil dan merugikan. Aku selalu merasa mereka membuat standar tertentu dan mengharuskan aku mencapainya.

Saat masih kecil (mungkin juga sampai sekarang), aku selalu lebih banyak dan lebih lantang bicara daripada kakak laki-lakiku. Aku tidak mengerti mengapa aku selalu mendapat mainan yang lebih cepat rusak, mengapa aku selalu lebih berantakan dari kakakku dan lebih sering dinasihati bahkan dimarahi ibuku. Aku merasa orangtuaku secara tidak langsung memberitahuku bahwa kakakku itu lebih baik, dan aku seharusnya berusaha menjadi seperti dia.

Lebih menyakitkan lagi, aku sepertinya selalu menjadi penerima “barang bekas” dari kakakku. Dia selalu mendapatkan baju baru, sementara aku harus puas memakai baju bekasnya. Memang orangtuaku membelikan juga barang-barang yang aku butuhkan, tetapi aku lebih banyak mengingat apa yang tidak mereka belikan dibanding apa yang mereka belikan untukku.

Sebenarnya ini sebuah ironi. Aku minta orangtuaku untuk tidak membanding-bandingkan aku dengan orang lain, tetapi di alam bawah sadar aku sendiri membanding-bandingkan diriku dengan kakakku, membanding-bandingkan orangtuaku dengan orangtua teman-temanku. Pernahkah kamu juga mengalami situasi serupa?

 
Ketika Situasinya Berbalik
Hari ini, aku sudah menjadi seorang ayah dari dua anak laki-laki. Bisa kamu bayangkan, aku sekarang merasakan sendiri apa yang dulu kulakukan terhadap orangtuaku. Setiap kali salah satu anakku berteriak, “Ayah, itu tidak adil!” aku merasa situasi itu adalah akibat kelakuanku di masa lalu. Sepanjang tahun-tahun yang telah kulewati, Tuhan terus menggunakan berbagai cara untuk mengajarku bahwa Dia adalah Allah yang benar dan adil.

Sisi baiknya, aku sangat memahami perasaan anak-anakku, karena itu persis apa yang kurasakan saat aku seusia dengan mereka. Dan aku menemukan diriku berusaha mengajak mereka melihat situasi itu dari posisi kami sebagai orangtua, sebelum mereka mulai mengeluh bahwa mereka diperlakukan tidak adil. Bersyukur bahwa mereka sepertinya mengerti. Seingatku pada usia mereka aku tidak punya pengertian sebesar itu.

Akan tetapi, sekalipun aku pikir caraku ada benarnya—ketika kita mengajak orang melihat sebuah situasi dari sudut pandang yang berbeda, orang itu akan bisa lebih memahami dan menghargai pendapat kita—aku pun menemukan bahwa pendekatan ini kadang sulit diterapkan dan bisa bersifat subjektif.

 
Pola Alkitabiah yang dapat Kita Terapkan
Bersyukur bahwa Allah memiliki pola keluarga yang jauh lebih baik, aturan emas tentang bagaimana seharusnya orangtua dan anak saling berelasi satu sama lain. Efesus 6:1-4 mengajarkan kepada anak-anak, “taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu–ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.”

Bagian firman Tuhan ini juga mengajarkan kepada orangtua (terutama para ayah): “janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

Dalam bagian Alkitab yang sejajar dengan itu, Kolose 3:21, Rasul Paulus mengingatkan para orangtua: “janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.”

Sebagai pengikut Kristus yang kini mengemban peran seorang ayah, aku berusaha sebaik mungkin untuk menyenangkan Allah. Aku juga belajar bahwa anak-anak dapat menolong kami para ayah untuk bisa menyemangati dan membimbing mereka dengan lebih baik. Bagaimana hal ini diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, mungkin berbeda-beda untuk setiap keluarga. Dalam keluargaku, aku membuka diri untuk menerima masukan dari anak-anakku, terutama jika mereka menyampaikannya dengan kasih pada waktu yang tepat, dengan penuh hormat dan kepedulian terhadapku sebagai ayah sekaligus saudara seiman mereka di dalam Kristus. Kedengarannya mungkin agak aneh, tetapi seperti itulah Alkitab menggambarkan hubungan kita. Sebaliknya, jika anak-anakku membuka diri untuk menerima masukan dariku tentang bagaimana mereka dapat menaati dan menghormatiku, aku akan sangat senang memberitahu mereka caranya (tentu saja aku akan melakukannya pada waktu yang tepat, dengan cara yang menunjukkan bahwa aku mengasihi dan menghargai mereka).

Sebagaimana halnya semua keluarga yang lain, interaksi dan dinamika dalam keluarga kita bisa dibilang kompleks. Kita tidak selalu mendengarkan dengan baik dan tidak selalu berbicara dengan sikap yang menghormati satu sama lain. Bahkan meski kita sudah berusaha melakukannya, kita bisa saja menggunakan kata-kata yang tidak tepat sehingga menyinggung orang yang kita ajak bicara. Entah kita menyadarinya atau tidak, kita sungguh sangat membutuhkan pertolongan dari Tuhan.

Dalam segala sesuatu, aku harus berdoa mohon hikmat untuk menjadi seorang ayah yang lebih baik dalam membimbing dan menyemangati anak-anakku, terlepas dari apakah sikap mereka mendukung hal itu atau tidak. Aku berdoa agar sekalipun aku tidak sempurna di mata anak-anakku, Allah akan menolong mereka untuk mempraktikkan firman-Nya, untuk menaati dan menghormati orangtua mereka.

Hari ini aku bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan untuk belajar apa artinya menjadi seorang ayah yang mencerminkan karakter Tuhan. Aku juga bersyukur diberi kesempatan untuk belajar menjadi seorang anak yang mencerminkan karakter Tuhan bagi orangtuaku yang sudah lanjut usia. Aku sadar bahwa aku pun perlu terus bertumbuh, sama seperti anak-anakku perlu bertumbuh.

 
Mencerminkan hubungan dalam Tritunggal
Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yohanes 15:9-10).

Alkitab dengan jelas menunjukkan bagaimana Yesus taat kepada Bapa, dan bagaimana Bapa mengasihi Dia. Hubungan yang indah dalam Allah Tritunggal ini memberikan makna yang lebih dalam ketika aku menjalankan peranku sebagai anak bagi ayahku sekaligus sebagai ayah bagi anak-anakku. Motivasiku tidak hanya untuk mempertahankan keluargaku, tetapi untuk menjadi makin serupa dengan Tuhan, untuk menghidupi prinsip-prinsip hubungan yang ada di antara ketiga pribadi Allah Tritunggal. Pengalaman ini juga menolongku untuk lebih memahami hubungan yang dimiliki Yesus dengan Allah Bapa-Nya.