Posts

Kita adalah Buah dari Pohon Keluarga

Oleh Dhimas Anugrah

Kita tentu tidak asing dengan kalimat yang mengatakan “belajar itu bisa dari mana saja”. Tapi, pernahkah kita menyelidiki di mana tempat belajar pertama kali seorang manusia?

Setiap kita bertumbuh dari pembelajaran dalam keluarga. Secara mendasar, tiap insan belajar mengamati kehidupan sehari-hari dimulai dari rumah, dari lingkar terdekatnya, atau secara khusus: dari orangtua. Karena tiap rumah punya pola didik yang berbeda, tak heran jika kita amati orang-orang yang ada di komunitas, kita menjumpai beragam karakter. Seorang pemerhati sosial mengatakan: “setiap manusia adalah buah dari pohon keluarganya.”

Sebagai contoh, secara psikologis sikap orang tua yang terlalu keras pada anak dalam penerapan disiplin bisa memberikan pengaruh negatif terhadap kepribadiannya di kemudian hari. Anak cenderung bertumbuh menjadi pribadi yang terlalu khawatir, tidak percaya diri, berperilaku agresif atau terlalu malu dekat orang lain, sulit bersosialisasi, bahkan sulit mengendalikan diri. Ini bukan berarti tidak boleh mendisiplinkan anak, tetapi aturan dan batasannya perlu tetap proporsional. Hasil pendidikan di keluarga pun turut menyumbang dinamika pergaulan di antara manusia yang tidak jarang bersentuhan dengan kerumitan. Maka, tidak berlebihan jika Alkitab memandang peranan orangtua atau keluarga begitu penting.

Kitab Suci memberi perhatian penting pada keluarga. Sebagai contoh, di dalam Kitab 1 Raja-raja saja disebutkan ada 16 nama ibu dari raja yang berkuasa di Kerajaan Selatan, yaitu Zerua (ibu Yerobeam), Maakha (ibu Abiam), Azuba (ibu Yosafat), Atalya (ibu Ahazia), Zibya (ibu Yoas), Yoadan (ibu Amazia), Yekholya (ibu Uzia), Yerusa (ibu Yotam), Hebzhiba (ibu Manasye), Mesulemik (ibu Amon), Zedida (ibu Yosia), Mahamutal (ibu Yoahas), Nehusta (ibu Yoyakhin), dan Yehusta (ibu Zedekia). Raja Yosafat melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan karena pengaruh ibunya, sementara Ahazia melakukan apa yang jahat karena pengaruh ibunya Atalya (2 Raja-raja 23:8).

Di dalam Perjanjian Baru disebutkan peran besar Lois dan Eunike bagi Timotius. Kedua wanita yang takut akan Tuhan ini memberikan teladan hidup dan didikan yang baik bagi anak rohani Paulus itu (2 Timotius 1:5; 3:15). Di dalam sejarah gereja, ada pula seorang ibu yang bernama Monica. Dia dikarunia putra yang jenius, tetapi hidup putranya itu hidup berkajang dalam dosa hingga akhirnya mengalami pertobatan. Anak itu bernama Agustinus, salah seorang teolog besar dalam sejarah gereja yang hingga kini pemikirannya dilestarikan oleh tradisi Katolik dan Protestan.

Orangtua sebagai Arsitek Peradaban

Contoh dari Alkitab dan sejarah tadi menguatkan anggapan bahwa peran orangtua begitu penting dalam perkembangan karakter seseorang, baik itu secara fisik, emosional, sosial, dan intelektual. Jika seorang arsitek ingin merancang sebuah bangunan, ia harus membuat fondasi dan struktur yang kukuh, sehingga bangunan yang ia rancang dapat berdiri tegak dan kuat selama mungkin. Jika fondasi dan strukturnya tidak kuat, maka bangunan tidak akan bertahan lama. Demikian pula perkembangan jiwa seseorang sejak ia kanak-kanak. Bila fondasi dan struktur jiwanya tidak solid, maka ia akan bertumbuh menjadi manusia berkepribadian tidak baik pula. Bisa saja itu terwujud dalam sikap yang sulit berhubungan dengan orang lain, tidak mengindahkan norma dan moral, dsb. Di sinilah pentingnya orangtua sebagai arsitek jiwa manusia. Yang tiba pada gilirannya, kumpulan manusia tersebut akan membentuk suatu peradaban.

Orangtua bertanggung jawab membentuk kepribadian anak dan mempengaruhi nilai-nilai, skill, sosialisasi, dan rasa aman mereka. Orangtua diundang menjadi panutan untuk dicontoh putra-putri mereka. Tentu, gereja memang bertugas mengajar anak-anak mengenai pengajaran dasar iman, tetapi tanggung jawab utama membangun dan membentuk anak-anak menjadi pribadi Kristen adalah orangtua mereka. Sebagai arsitek jiwa manusia dan peradaban, orangtua didorong untuk mengajar anak mereka mempunyai karakter Kristen, di mana Kristus menjadi yang utama dalam hidup mereka.

Tentu, tidak ada orangtua yang sempurna di dunia ini. Orangtua pun merupakan buah dari didikan orangtua mereka. Ada keluarga yang menjalankan fungsinya dengan baik, tetapi tidak sedikit keluarga yang kehilangan fungsinya bagi anak-anak mereka. Ini adalah realitas yang kita hadapi. Namun, ketika kini orangtua Kristen telah mengetahui betapa besarnya peran mereka bagi pertumbuhan anak-anak mereka, setiap orangtua diundang untuk mendidik anak-anaknya dalam kasih Kristus dan memperhatikan mereka sebagai pribadi yang utuh.

Keluarga adalah Pohon, Anak adalah Buahnya

Tidak bisa dipungkiri, keluarga laksana pohon dan anak adalah buah-buahnya. Ini karena di dalam keluarga anak-anak dibimbing serta diajar tentang nilai dan moral yang baik, yang jika itu terlaksana dengan baik, maka seorang anak akan bertumbuh menjadi pribadi yang utuh. Sebaliknya, jika proses pembimbingan dalam keluarga tidak tercapai, maka seorang anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak utuh. Dalam konteks Kristiani, ketidakutuhan ini dapat disebabkan antara lain: kurangnya kasih sayang orangtua terhadap anak, pengajaran firman Tuhan kepada anak yang minim, pengawasan orang tua yang kurang, dan absennya teladan yang baik dari orangtua.

Sebagai pusat pembentukan kehidupan rohani, dari keluargalah setiap orang mempelajari pola-pola hubungan akrab dengan orang lain, nilai-nilai, ide, dan perilaku sopan santun. Seperti pohon, keluarga merupakan tempat bernaung, yaitu tempat berteduh dan bertumbuh. Keluarga adalah bagian dari rencana Allah. Keluarga adalah bangunan dasar dari tata masyarakat yang kuat. Keluarga adalah tempat kita bisa merasakan cinta dan belajar mengasihi orang lain. Bagi kita yang mungkin berasal dari keluarga tidak ideal, kasih Kristus mendorong kita mengampuni orangtua kita dan berjuang menjadi pribadi yang lebih baik. Jika kita adalah orangtua Kristen, maka kita diundang untuk mendidik dan membesarkan putra-putri kita dalam kasih Kristus. Hidup terkadang terasa keras, dan setiap anak membutuhkan keluarga yang dapat menemani mereka menghadapi kerasnya dunia. Keluarga adalah tempat yang aman di mana kita bisa mendapatkan nasihat, dukungan, pelukan, dan, bila ada: setoples kacang mede.

Pahit Manis Sebuah Keluarga

Beberapa dari kita mungkin merasa bahasan tentang keluarga itu terasa manis, sementara yang lain mungkin menganggap keluarga adalah kepahitan.

Apa pun ‘rasa’ keluargamu, ketahuilah kalau kita punya kasih dan harapan yang tak pernah habis di dalam Yesus. Apa pun kemustahilan yang kamu dan keluargamu hadapi, Yesus hadir tepat di sisimu dan tiada yang mustahil buat Dia.

Hari ini bukan peringatan hari keluarga, tetapi keluarga adalah berkat yang harus kita sadari dan syukuri setiap hari. Doakanlah keluargamu, apa pun keadaan mereka. Mohonkanlah maaf atas kesalahanku dan ampunilah juga mereka apabila ada rasa sakit yang mereka torehkan di hatimu.

Artspace ini diterjemahkan dari YMI dengan judul “What Makes Family” dan dibuat oleh @susannelowillustration

Aku: si “Ketidaksengajaan” yang Hadir dalam Keluarga

Oleh Priliana

Aku lahir sebagai anak bungsu dengan kedua saudara yang usianya cukup jauh di atasku. Antara aku dan kakak pertamaku laki-laki, terpaut 10 tahun, sedangkan dengan kakak perempuanku, terpaut 7 tahun. Aku pernah bertanya pada orang tuaku, kenapa aku lahir dengan rentang usia yang cukup jauh dari saudara-saudaraku? Lalu mamaku menjawab, “Iya, kamu itu gak sengaja jadi.”

Entah apa yang kurasakan saat jawaban tersebut terlontar dari orang tuaku. Mereka menjawab sambil tertawa, mungkin mereka bergurau. Aku pun ikut tertawa, tapi juga bertanya-tanya, sungguhkah itu jawaban mereka? Tapi aku tetap merespons jawaban mamaku, “Ah.. Justru kalian beruntung ada aku di keluarga ini. Kalau gak ada aku, pasti keluarga ini sepi, gak ramai.” Dan mereka semakin tertawa.

Interaksi itu kumaknai dengan keterbukaan. Ternyata orang tuaku jujur menjawab pertanyaanku dan aku bersyukur atas itu, dan lebih bersyukur karena sesungguhnya mereka senang atas kehadiranku yang tidak sengaja ini. Ya, aku adalah ketidaksengajaan yang membawa sukacita, pikirku saat itu.

Tapi, ternyata aku tidak selalu membawa sukacita dalam keluargaku.

Ketika SD aku mulai dibandingkan dengan kedua saudaraku mengenai nilai rapor dan prestasiku di sekolah. Kedua saudaraku memang selalu memiliki nilai rapor di atas rata-rata, selalu dapat peringkat kelas, belum lagi prestasi lomba dan keahlian lainnya. Di tengah ekonomi kami yang sulit, kedua saudaraku sungguh seperti air yang mengalir di tengah gurun pasir.

Tetapi, dibanding-bandingkan bukanlah hal yang menyenangkan, justru menjengkelkan.
Aku paham maksud orang tuaku membandingkan kami agar aku mengikuti hal-hal baik dari saudaraku, tapi tetap saja aku jengah.

Setiap perbandingan itu seakan-akan berteriak: “Mereka saja bisa, masa kamu nggak bisa?”

Rasanya ingin kujawab: “Kalau mereka bisa, kenapa harus aku?”

Tentu keinginanku menjawab seperti itu bukanlah hal baik. Kalimat itu hanya tersimpan dalam hati.

Walaupun kesal dibandingkan terus, aku tetap berusaha memberikan yang terbaik di bidang pendidikan. Sampai waktu membuktikan usahaku. Aku yang belum pernah dapat juara semasa SD, berhasil meraih peringkat ketika kelas 1 SMP. Pertama kalinya, dan aku peringkat 3, mengalahkan teman SD ku yang sedari dulu selalu jadi juara kelas.

Aku senang. Aku semakin senang melihat betapa terkejut dan senangnya orang tuaku mendengar hal itu, bahkan orang tuaku langsung mengajakku makan es krim favoritku setelah pulang ambil rapor. Sejak saat itu, aku berusaha mempertahankan peringkatku dan bersyukur hingga SMA tetap memiliki peringkat dan nilai yang cukup baik.

Tapi perbandingan itu tidak kunjung selesai.

Habis membandingkan perihal pendidikan dengan kedua saudaraku, terbitlah membandingkan perihal zaman.

“Zaman kamu sekarang enak, dek. Sekolah negeri udah ga bayaran. Dulu saudara-saudaramu harus bayar. Untung dapat beasiswa, jadi dapat potongan. Makanya, belajar lah yang giat. Lihat abang dan kakakmu.”

“Dulu abang dan kakakmu harus bantu mama dagang sebelum berangkat sekolah. Bawa es batu subuh-subuh ke kantin pakai sepeda, cuci banyak piring setelah masak, angkat air, baru berangkat sekolah. Kamu bangun tidur cuma melakukan persiapan untuk sekolah, lalu berangkat. Enak, toh, dek.”

Huft.. Tidak cukup perbandingan dari orang tua, abangku juga melakukan hal yang sama.
“Enak jadi lo. Dulu gue harus bangun subuh-subuh, angkat air, beresin rumah, bantu dagang sebelum pergi sekolah. Pulang sekolah juga masih harus bantu mama dagang sampai malam. Lo di rumah aja, main-main.”

Hal-hal itu tidak sekali dua kali diungkit. Entah mengapa zaman saja dibandingkan.

Lalu aku harus bagaimana? Rasanya ingin bilang kalimat ini ke abangku:

“Ya siapa suruh lahir duluan. Itu sih DL, Derita Lo.” Tapi lagi-lagi itu hanya tersimpan dalam hati.

Hingga aku sudah merasa sangat jengah. Dan ketika perbandingan itu dilontarkan lagi oleh orang tuaku, aku memberi respon:

“Untuk apa membandingkan zaman kalian dulu dengan zamanku? Toh kita nggak bisa pilih mau hidup di zaman yang seperti apa. Untuk apa juga membandingkanku dengan abang dan kakak? Kita punya bakat masing-masing. Kalau mereka ahli di bidang akademis, apa salah kalau keahlianku di bidang non akademis?”

Dan orang tuaku terdiam. Entah karena terkejut atas sikapku atau memikirkan ucapanku.

Tapi aku lega setelah mengucapkannya. Keluh kesah yang kupendam akhirnya meluap. Entah apakah kejujuranku tersebut dapat mereka terima dengan baik atau tidak, tapi aku selalu mengingat ayat Alkitab yang berbunyi:

“Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya” (Amsal 2:7).

Aku percaya bahwa keterbukaan adalah awal pemulihan, baik untuk hubunganku dengan keluarga, untuk hatiku, dan mungkin untuk hati keluargaku juga. Keterbukaan menjadi kunci utama untuk mempertahankan hubungan yang harmonis dan membangun. Dan setiap anggota keluarga memiliki hak untuk berterus terang mengenai perasaannya.

Bagiku, keluarga adalah wadah utama dan pertama bagi seseorang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang terbuka karena dalam keluarga kita tidak perlu menutupi siapa diri kita sesungguhnya.

Selama menjadi anak, aku tetap berusaha mengutamakan rasa hormatku, seperti yang Alkitab bilang:

“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi” (Efesus 6:1-3).

Bagaimanapun, orang tuaku adalah orang pertama yang merawatku sejak aku dalam kandungan. Pasti rasanya tidak mudah merawat seorang anak. Mamaku pernah berkata bahwa ketika memiliki anak, seluruh hidupnya berubah. Jam tidur yang berubah dan tidak teratur, waktu pribadi yang terbatas, dan lainnya. Begitupun dengan seorang ayah. Bertambahnya anggota keluarga pasti bertambah pula kebutuhan finansial untuk sang anak, dan lainnya.

Ayat Alkitab dan hal-hal di atas menjadi pengingat bagiku untuk tetap menghormati orang tuaku. Selama aku hidup, aku tahu mereka berusaha memberikan yang terbaik bagiku, bagi masa depanku.

Tapi orang tua tetaplah manusia biasa yang dapat membuat kesalahan, baik mereka sadari atau tidak. Karena itu, aku memilih terbuka mengenai perasaanku pada orang tuaku. Aku mau hubunganku dan keluarga dilandasi dengan keterbukaan dan kepedulian untuk mau membangun satu sama lainnya.

Ketika aku berterus terang tentang perasaanku— ketidaksukaanku atas perbandingan yang mereka lakukan, aku melihat bahwa sikap orang tuaku mulai berubah. Mereka mulai memberi apresiasi terhadap hal apapun yang yang dapat kulakukan, memberi semangat ketika aku gagal mengikuti ujian masuk universitas negeri, dan berusaha untuk tidak lagi membandingkanku dengan kedua saudaraku.

Aku bersyukur atas itu. Aku tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya (Roma 8:28).

Ya, aku mau keluargaku bertumbuh dalam kasih-Nya dan berlandaskan kasih-Nya.

Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga seperti apa, tapi kita bisa membentuk pandangan kita terhadap keluarga.

Bagaimanapun hubungan dalam suatu keluarga, Tuhan tetaplah kepalanya. Dia tidak pernah secara asal menaruh kita dalam suatu keluarga. Dia selalu memiliki tujuan ketika menempatkan kita di mana pun.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan” (Yeremia 29:11).

Belajar Jadi Anak: Proses Seumur Hidup untuk Kita Semua

Oleh Edwin Petrus

Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), aku meninggalkan kota kelahiranku. Aku merantau ke negeri orang untuk mendapatkan gelar sarjana. Selanjutnya, aku pun berkelana lagi ke kota orang untuk meniti karier. Enam tahun kemudian, aku melanjutkan studi ke sebuah kota yang jaraknya kurang lebih dua ribu kilometer dari rumahku. Tiga belas tahun sudah, aku pergi merantau.

Aku adalah seorang anak tunggal yang mendapatkan kasih dan perhatian penuh dari kedua orang tuaku. Namun, secara perlahan dan tanpa aku sadari, kehidupan di perantauan telah mengikis kemanjaanku dan mengubahnya menjadi kemandirian, hingga aku terbiasa melakukan banyak hal seorang diri. Sampai-sampai, banyak orang sering meragukan kalau aku adalah anak satu-satunya dalam keluargaku. Gambaran tentang anak tunggal yang manja sepertinya sudah hilang dari hidupku.

Selama merantau, aku tidak pernah menyia-nyiakan momen liburan bersama keluarga di rumah. Sekali setahun, aku pasti pulang ke rumah untuk beberapa hari lamanya. Aku memanfaatkan hari-hari libur untuk bercengkrama dengan papa dan mama. Walaupun biasanya selalu berkomunikasi melalui sambungan telepon maupun pesan singkat, tapi aku dapat merasakan kehangatan yang berbeda ketika kami banyak bertukar cerita sambil menyantap makanan-makanan khas dari kota kelahiranku. Namun, momen kebersamaan dengan mereka hanya dilalui beberapa hari dalam setahun, yang selalu dihabiskan dengan sukacita tanpa perbedaan cara pandang dan konflik yang berarti.

Di penghujung tahun 2021, aku memilih untuk pulang kampung. Kali ini aku sudah menetap kembali di rumah. Dan ternyata, aku menjumpai diriku berada di sebuah lingkungan yang tampak asing. Padahal aku kembali ke rumah yang pernah ku tinggali selama delapan belas tahun. Namun, aku mendapati bahwa aku harus berjuang untuk menyesuaikan diri dengan pola hidup dari kedua orang tuaku yang sudah kutinggalkan hidup berdua selama ini. Aku perlu mengatur ulang tatanan rutinitasku yang selama ini sudah terbiasa dijalani seorang diri karena aku perlu memikirkan dampaknya bagi kedua orang tuaku. Aku pun belajar memahami cara berpikir orang tuaku yang sudah semakin memutih rambutnya dan membangun cara berkomunikasi yang pas dengan mereka.

Saking banyaknya hal-hal yang harus aku pelajari ketika aku kembali pulang, aku sampai pada titik di mana aku merenungkan sebuah pertanyaan: sampai pada usia berapa sebenarnya seseorang perlu belajar sebagai seorang anak?

Selama ini, di dalam benakku, aku mengira bahwa hanya orang tua saja yang perlu mengikuti kelas parenting. Peran anak hanyalah sebagai objek yang menerima seluruh pengasuhan itu.

Namun, setelah aku merefleksikan lagi pertanyaan tadi, aku menemukan bahwa sekolah menjadi anak adalah pembelajaran seumur hidup. Secara konsisten, kita perlu terus belajar menjadi seorang anak karena sampai akhir hayat, seseorang tetap menyandang gelar sebagai anak dari orang tuanya. Bahkan, pada sebagian suku bangsa, nama orang tua melekat di balik nama anaknya. Akta kelahiran juga menuliskan dengan jelas nama orang tua dari sang anak pemilik surat itu.

Di sisi lain, ketika aku membaca kembali hukum kelima dari sepuluh hukum Taurat (Keluaran 20:1-17), aku menyadari bahwa perintah Allah yang mengatur relasi orang tua-anak ini juga membicarakan hal yang sama dengan pesan yang sangat jelas:

“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu” (Keluaran 20:12).

Dari perintah ini, aku menyadari bahwa hormat yang diberikan oleh seorang anak kepada ayah-ibunya berlaku seumur hidup. Tidak ada pengecualian dari Tuhan bahwa seorang anak boleh berhenti menunjukkan respeknya kepada kedua orang tuanya setelah ia menginjak usia delapan belas tahun.

Hukum ke-5 ini juga memiliki banyak keunikan dibandingkan dengan sembilan lainnya. Jikalau hukum lainnya lebih terdengar seperti larangan bagi umat Allah untuk tidak boleh melakukan beberapa hal, maka menghormati orang tua adalah sebuah perintah yang harus dikerjakan secara aktif oleh setiap umat Allah. Selain itu, hukum ke-5 ini adalah satu-satunya hukum yang mengandung janji, bahwa setiap orang yang mengerjakan perintah ini akan mendapatkan berkat dari Allah.

Selain itu, sebuah kata yang menarik perhatianku dalam hukum ini adalah kata “hormat”. Empat hukum yang mengawalinya adalah tuntutan Allah kepada umat-Nya untuk menunjukkan hormat mereka kepada kekudusan Allah. Namun, Allah juga menggunakan kata “hormat” yang sama ketika Ia menginstruksikan agar setiap orang percaya menghormati orang tua mereka. Jadi, ketika kita menghormati ayah dan ibu sebagai anugerah dari Allah dalam hidup kita, pada waktu sama, kita juga memuliakan Allah. Wow!

Kawan, aku menyadari bahwa menghormati orang tua bukanlah perkara mudah bagi sebagian orang. Aku pun pernah mendengarkan berbagai kisah tentang orang tua yang sepertinya tidak layak untuk dihormati oleh anaknya. Ada anak yang bertumbuh dari keluarga dengan orang tua tunggal ataupun orang tua angkat karena mereka telah “dibuang” oleh orang tuanya sejak kecil. Sebagian lain hidup di dalam ketakutan karena salah satu dari orang tuanya mempraktikkan kekerasan dalam rumah tangga. Anak-anak lainnya tidak pernah bangga dengan figur papa maupun mamanya karena perilaku dan tindakan mereka yang menyakiti hati anak-anaknya. Kawan, mungkin kamu adalah salah satu dari anak-anak itu.

Keluargaku juga bukan keluarga yang sempurna. Aku juga pernah menemukan kekurangan dari ayah-ibuku ketika aku membandingkan mereka dengan orang tua dari teman-temanku. Dalam Alkitab pun, kita tidak dapat menemukan keluarga yang sempurna karena relasi manusia telah dirusak oleh dosa. Walaupun demikian, aku mau belajar untuk meneladani Yesus di dalam menghormati orang tua-Nya. Walaupun Maria hanyalah seorang wanita yang dipinjam rahimnya oleh Allah untuk melahirkan Anak-Nya, tetapi selama hidup-Nya di dunia ini, Yesus menunjukkan respek yang tinggi terhadap ibu-Nya. Bahkan, sesaat sebelum Ia mati di kayu salib, Yesus menitipkan ibu-Nya kepada Yohanes, salah satu murid-Nya, untuk dapat merawat Maria (Yohanes 19:27).

Ketika aku semakin dewasa dan kedua orang tuaku semakin memutih rambutnya, aku menyadari bahwa bentuk hormatku kepada mereka juga perlu mengalami perubahan. Benak hati mereka berkata bahwa mereka merindukan anak yang bisa mereka banggakan. Mereka menginginkan telinga seorang anak yang siap mendengarkan tutur kata mereka. Mereka mengharapkan dukungan dari anak yang memaklumi sedikit kelambanan dan kepikunan mereka. Mereka mengharapkan kasih dan perhatian yang bukan hanya sekadar omongan belaka, tetapi nyata dalam tindakan yang menemani masa tua mereka. Mereka membutuhkan tuntunan untuk dapat menggunakan teknologi yang semakin canggih. Aku mau terus belajar untuk menjadi anak yang menunjukkan hormat kepada orangtuaku, sesuai dengan konteks dan kebutuhan mereka.

Yesus telah menjadi Guruku dalam menjalani pembelajaran ini, Roh Kudus telah menjadi Penolongku dalam mempraktikkannya, dan Allah Bapa memberiku anugerah dan kesempatan untuk terus belajar di tengah jatuh bangunku. Aku juga berdoa, kiranya teman-teman juga mau belajar menjadi seorang anak yang menghormati orang tua.

Ketika Tuhan Mengajarku Melalui Anakku yang Cacat Mental

Ketika-Tuhan-Mengajarku-Melalui-Anakku-yang-Cacat-Mental

Oleh Tilly Palar, Jakarta

Sharon Putri. Dia adalah anak bungsu dari tiga orang bersaudara yang sangat aku kasihi. Waktu itu, ketika Sharon baru berumur satu tahun, dia belum mampu berjalan dan sulit berbicara. Aku khawatir melihat perkembangan fisiknya yang cukup terlambat itu, tapi teman-temanku menyemangatiku bahwa terlambat berjalan dan bicara adalah hal biasa untuk seorang balita.

Setiap hari, aku mengajari Sharon untuk melangkahkan kakinya perlahan-lahan dan mengucap beberapa kata sederhana. Lambat laun usahaku mulai membuahkan hasil. Sharon mulai mampu berjalan walaupun sering terjatuh. Sharon juga bisa berbicara walau seringkali ucapannya terdengar kurang jelas. Melihat perkembangan fisiknya, aku merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan darinya.

Tibalah masanya untuk Sharon belajar di bangku sekolah. Aku mendaftarkannya ke sebuah sekolah swasta dekat rumahku. Namun, hanya satu minggu berselang, aku dipanggil oleh kepala sekolah. “Ibu, maaf, anak ibu ternyata tidak bisa mengikuti kelasnya. Dia mengacaukan kelas dan memukul teman-temannya. Kami sangat menyesal anak ibu tidak bisa melanjutkan sekolah di tempat ini.” Aku terkejut mendengar kata-kata itu. Aku terduduk diam dan tidak tahu harus menjawab dengan kata-kata apa. Kemudian, kepala sekolah itu melanjutkan bicaranya, “Coba ibu bawa Sharon ke dokter spesialis untuk diperiksa.”

Pembicaraan yang baru saja berlangsung itu membuatku begitu terpukul, tapi aku juga menyadari bahwa saran yang diberikan kepala sekolah itu ada benarnya juga. Aku memutuskan untuk membawa Sharon ke sebuah rumah sakit. Di sana, Sharon menjalani begitu banyak pemeriksaan hingga akhirnya dokter spesialis memberikan kesimpulan bahwa Sharon adalah seorang anak dengan cacat mental. Sharon dikategorikan sebagai seorang anak yang tergolong mild mentally retarded atau retardasi mental ringan.

Vonis dokter bahwa Sharon adalah anak cacat membuatku terkejut. Aku termenung sejenak, mengapa ini semua harus terjadi? Di tengah perenungan itu, aku mengingat bahwa bagaimanapun juga, Sharon adalah anak yang kulahirkan sendiri. Penyakit ini datang bukan karena kesalahan Sharon. Oleh karena itu, tak peduli apapun keadaannya, aku berjanji untuk selalu mengusahakan yang terbaik untuknya.

Karena permasalahan keluarga, aku terpaksa pindah ke luar negeri dan bekerja untuk menghidupi Sharon dan dua orang kakaknya. Aku tidak tahan dengan omongan-omongan negatif yang sering dilontarkan oleh keluarga dan teman-temanku mengenai Sharon. Mereka seolah tidak mendukungku ataupun menerima Sharon sebagaimana adanya.

Setelah kepindahanku ke luar negeri, aku menyekolahkan Sharon di sebuah sekolah khusus untuk anak-anak yang mengalami retardasi. Di usianya yang semakin menanjak, Sharon harus menjalani banyak terapi. Bahkan, sampai ketika Sharon duduk di kelas 5, cara berpikir Sharon masih sama seperti balita yang belum bersekolah.

Suatu ketika, sekolah tempat Sharon belajar mengadakan sebuah pentas seni yang dilakukan oleh anak-anak dengan retardasi mental. Bersama teman-temannya, Sharon memberikan sebuah persembahan tarian di hadapan orangtua murid. Anak-anak dengan retardasi mental itu berlatih selama berminggu-minggu hingga bisa menampilkan tarian yang amat indah bagiku.

Penampilan Sharon di panggung itu membuatku takjub. Aku kagum atas kegigihan guru-guru di sekolah itu. Dengan sabar mereka melatih anak-anak yang sejatinya berbeda dari anak-anak umumnya. Walau dengan retardasi mental, anak-anak itu mampu menari bergandengan tangan, bergerak seirama dengan lagu. Semua anak-anak itu menari dengan ekspresi datar, tanpa senyum sama sekali. Tapi, itulah yang membuatku dan penonton lainnya menangis terharu. Perasaan kami bercampur aduk, antara rasa gembira melihat penampilan anak-anak itu, namun juga ada perasaan sedih karena belum semua orang mau memandang mereka dengan positif.

Sharon adalah anugerah dari Tuhan

Harus kuakui, sebagai seorang ibu, ada kalanya aku merasa lelah dan bertanya-tanya apa maksud Tuhan atas semua ini. Apabila seseorang mengalami cacat pendengaran, ada alat bantu dengar untuk menggantikan fungsi telinga mereka. Atau, paling tidak ada bahasa isyarat. Apabila seseorang mengalami cacat tangan atau kaki, ada tangan-tangan dan kaki-kaki palsu untuk menolong mereka beraktivitas. Akan tetapi, apabila seseorang mengalami cacat mental, apakah yang dapat menggantikan fungsi otak mereka? Atau, alat apakah yang dapat menolong mereka?

Aku tidak memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Aku hanya mampu terdiam. Aku teringat akan beberapa peristiwa yang pernah membuatku pedih. Suatu ketika, aku sedang berada di sebuah rumah duka dan mendengar suara tangis yang disertai teriakan seorang anak. Aku mengenali dengan jelas bahwa itu adalah tangisan dari seorang anak yang mengalami retardasi mental. Kepada kerabat yang turut hadir di rumah duka itu aku bertanya, “Siapa yang menangis berteriak-teriak itu?” Kerabatku itu menjawab, “Oh, itu anak cacat, bodoh, disuruh minum tapi menolak sampai kayak gitu.” Jawaban kerabatku itu membuatu tertegun. Aku bertanya-tanya dalam hati, mengapa ada orang-orang yang tidak menghargai mereka yang terlahir dengan cacat mental? Bahkan, keluarga dan teman-teman dekatku sendiri pun sering berkata-kata hal yang buruk mengenai Sharon. Mereka mengatakan bahwa cacat mental yang diderita Sharon adalah kutukan.

Pandangan-pandangan buruk itu ada dalam pikiranku hingga aku bertemu dengan orang-orang lain yang ternyata memiliki pandangan berbeda. Setelah aku pindah ke luar negeri dan mendaftarkan Sharon ke sebuah sekolah, aku bertemu dengan salah seorang gurunya. Guru itu berkata bahwa anak-anak yang tampaknya cacat ini sesungguhnya adalah anak-anak yang istimewa. Anak-anak ini hanya diberikan Tuhan kepada orangtua yang juga istimewa, yaitu orangtua yang memiliki hati yang besar. Kata-kata itu sungguh bermakna buatku. Sejak saat itu aku berkomitmen untuk tidak menghiraukan komentar-komentar negatif tentang Sharon.

Aku menyadari bahwa hal yang paling dibutuhkan Sharon adalah memberinya pendidikan dengan kasih sayang yang tulus. Sepulang sekolah, aku mengajarinya untuk melakukan aktivitas-aktivitas sederhana. Aku mengajarinya bagaimana memakai sabun, mencuci piring, juga mengajaknya berjalan-jalan untuk bergaul dengan orang-orang lain. Aku tidak malu apabila orang-orang lain melihat Sharon itu mengalami retardasi mental.

Setelah bertahun-tahun menetap di luar negeri, aku memutuskan untuk membawa Sharon pulang kembali ke Indonesia dan mengasuhnya setiap hari.

Waktu terus berjalan. Aku melihat Sharon dan kedua orang kakaknya terus beranjak dewasa. Ketika kakak-kakaknya mulai mampu hidup secara mandiri, aku masih tetap mengasuh Sharon dengan penuh kasih. Namun, seiring usiaku yang terus beranjak, tak kusangka aku mengalami serangan jantung. Aku tidak lagi seprima seperti dahulu, dan akibat serangan penyakit itu, aku dan keluarga harus membuat suatu keputusan besar. Aku tak dapat lagi mengasuh Sharon sehingga kami sepakat untuk menitipkannya ke sebuah rumah pemulihan.

Sejak bayi aku telah merawat Sharon. Dia selalu ada dalam dekapanku tatkala air mata mulai menetes membasahi pipinya. Dia tidak pernah lepas dari pengawasanku. Sekarang, semua itu menjadi sebuah kenangan yang amat manis untuk dikenang. Aku tidak lagi sedih karena di rumah pemulihan tempat Sharon bernaung, dia menemukan banyak teman-temannya yang mengalami retardasi serupa dengannya.

Ketika Tuhan mengizinkan Sharon hadir dalam kehidupanku, aku beroleh kesempatan untuk belajar banyak hal. Aku belajar tentang apa arti kasih yang tulus. Aku belajar untuk tidak malu atas cacat mental yang dialami oleh Sharon. Kemanapun aku pergi, termasuk ketika aku harus bekerja dan menemui klien-klienku, Sharon selalu bersamaku. Aku belajar untuk bersyukur dan menerima hal-hal yang memang tidak dapat kuubah.

Tuhan Yesus amat mengasihi kita. Seharusnya kita dihukum karena dosa-dosa kita, akan tetapi Dia memberikan nyawa-Nya sebagai ganti atas dosa-dosa kita (Yohanes 3:16). Pengorbanan Tuhan Yesus adalah teladan sejati bagi hidupku. Sebagaimana Dia mengasihi kita dengan tulus, aku belajar mengasihi Sharon sebagaimana adanya.

Sharon adalah hadiah amat indah yang Tuhan boleh berikan untukku. Sebagai seorang ibu, aku bangga memiliki anak seperti Sharon, dan aku juga teramat bangga memiliki Tuhan yang adalah Yesus Kristus.

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih” (1 Korintus 13:13).

Baca Juga:

Persahabatan di Era Digital: Erat di Dunia Maya, Renggang di Dunia Nyata

Menurutmu, teman seperti apakah kamu? Apakah kamu hanya sekadar teman di Facebook yang mencurahkan perhatianmu hanya lewat tombol “Like” di tiap-tiap postingan temanmu tapi tidak pernah menemui mereka secara langsung?