Posts

Mengapa Kita Harus Belajar Berkata “Tidak”

Penulis: Grace Chan
Artikel asli dalam Bahasa Mandarin: Why We Must Learn to Say “No”

Why-We-Must-Learn-to-Say-No

Seorang pendeta yang aku kenal pernah berkata, “Jika kamu tidak takut kepada Tuhan, kamu akan takut kepada banyak orang; jika kamu tidak menyenangkan Tuhan, kamu harus menyenangkan banyak orang.” Aku tahu apa yang beliau katakan itu benar, karena aku sendiri pernah mengalaminya. Dalam kenyataan, seringkali kita berusaha menyenangkan orang-orang yang kita takuti.

Aku sendiri tumbuh sebagai “anak papa”, dan selalu menuruti perintah orangtuaku atau nasihat orang-orang sebaya mereka, tanpa mempertanyakan apa yang mereka perintahkan. Aku terkenal sebagai “anak manis” dalam keluarga, yang dikagumi banyak orang. Sayangnya, hal ini kemudian membuatku merasakan banyak tekanan sosial saat beranjak dewasa. Aku merasa bahwa aku harus memenuhi harapan semua orang dan menyenangkan mereka. Aku pikir itulah satu-satunya cara agar aku dapat diterima dan dicintai oleh semua orang.

Saat kuliah di Taiwan, aku mulai merasa kewalahan karena aku berusaha menyenangkan semua orang. Sangat sulit bagiku untuk berkata “tidak” ketika kakak-kakak angkatan mengajakku ambil bagian dalam berbagai aktivitas, meski sebenarnya aku tidak menginginkannya. Aku khawatir mereka akan kecewa jika aku menolak ajakan mereka. Aku merasa bersalah tidak memenuhi permintaan mereka, karena mereka sangat baik kepadaku. Akibatnya, aku mulai kehilangan identitasku—aku begitu sibuk berusaha menyenangkan orang lain dan memenuhi harapan-harapan mereka, sehingga aku sendiri mulai merasa kosong, lelah, dan tidak bahagia.

Pada akhirnya, aku menyadari bahwa setiap orang memiliki standar yang berbeda, jadi mustahil untuk memenuhi harapan semua orang. Ketika kita mencoba menjalani hidup menurut pendapat orang lain karena takut tidak diterima, kita menempatkan diri sendiri di bawah tekanan yang luar biasa. Alkitab mengajar kita untuk berfokus kepada Allah, bukan kepada pendapat orang lain, dan untuk hidup bagi Allah, bukan bagi manusia (Galatia 1:10). Amsal 29:25 berkata, “Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi.”

Kehidupan Abraham bisa menjadi contoh. Ketakutannya terhadap Firaun, Raja Mesir, hampir saja membuatnya menyerahkan isteri sendiri ke tangan laki-laki lain. Syukurlah, Allah bertindak baginya. Ketika kita takut kepada Allah dan bukan manusia, Dia akan memampukan kita untuk menghadapi tekanan yang mendesak kita memenuhi harapan-harapan yang tidak realistis atau melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan firman Tuhan. Meski kita mungkin menderita untuk sementara waktu, aku yakin bahwa orang-orang yang takut akan Tuhan pada akhirnya akan beroleh hidup yang berkelimpahan dan penuh damai.

Kiranya setiap kita akan berani berkata “tidak”, saat kita memang harus melakukannya.