Posts

2 Hal yang Perlu Kita Pahami Saat Berdoa

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

“Tuhan, jika Engkau berkenan, tembuskanlah pendaftaranku sebagai dosen tetap di universitas tersebut.”

Begitulah kurang lebih isi doaku setiap hari, memohon agar aku diterima menjadi dosen tetap. Setelah kurang lebih satu bulan aku mengirimkan lamaran, aku dinyatakan tidak lolos dalam seleksi dokumen. Aku berpikir: apakah ada yang salah dengan isi doaku sehingga Tuhan tidak menjawab doaku?

Apakah ada yang salah dengan isi doaku? Pertanyaan seperti ini gampang masuk ke pikiranku ketika doa-doaku tidak dijawab oleh Tuhan. Jika ada doa yang dijawab dan tidak, lantas, bagaimana isi doa yang berkenan kepada Tuhan sehingga aku dapat selalu bersukacita di dalam-Nya walaupun Dia tidak menjawab doa-doaku?

Melalui persekutuan bersama mentor rohaniku, aku diajarkan akan beberapa hal yang sering dilupakan ketika aku meminta sesuatu kepada Tuhan di dalam doa. Hal-hal inilah yang aku akan bagikan kepada teman-teman sekalian.

1. Kita berdoa bukan hanya untuk meminta sesuatu pada Tuhan, tapi juga meminta-Nya mengubah hati kita, agar kita bisa menerima sepenuhnya kehendak-Nya

Walaupun aku tahu bahwa Tuhan berdaulat penuh atas hidupku, acap kali aku tidak berdoa agar Tuhan mengubah hatiku supaya aku bisa menerima apa pun pemberian-Nya. Malahan, isi-isi doaku kebanyakan diisi dengan banyak permintaan, terutama yang berkaitan dengan masa depan pekerjaanku.

Kita boleh meminta sesuatu dalam doa, tetapi kita juga tidak boleh lupa ada hal yang perlu kita sampaikan dalam doa. Mentor rohaniku selalu mengajariku untuk berdoa agar Tuhan memberikan kedamaian atas hasil apa pun yang diberikan-Nya. Ia memberikan contoh tentang Tuhan Yesus yang berdoa di taman Getsemani (Matius 26:36-46, Markus 14:32-42, Lukas 22:39-46). Tuhan Yesus memang berdoa meminta kepada Allah Bapa untuk mengambil cawan dari pada-Nya, tetapi Dia juga berdoa agar kehendak Allah Bapa yang tergenapi di dalam kehidupan-Nya. Walaupun Allah Bapa tidak mengambil cawan itu, Allah Bapa memberikan kekuatan kepada Yesus terhadap penderitaan yang akan dialami-Nya. Kita tahu dengan jelas bahwa ada rencana Allah mengenai keselamatan semua orang melalui penyaliban Yesus.

Lukas 22:42-43
Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.

Isi doa Tuhan Yesus di taman Getsemani mengajariku betapa pentingnya iman di dalam doa. Iman yang benar tidak hanya percaya bahwa Tuhan sanggup mengabulkan doa-doa kita, tetapi Tuhan juga berkuasa sepenuhnya atas kehidupan kita. Ketakutan yang dialami Tuhan Yesus menjelang penyaliban di kayu salib membuat-Nya lebih bersungguh-sungguh berdoa (Lukas 22:44).

Ketika kita berdoa kepada Tuhan untuk memberikan kita kekuatan terhadap ketakutan, kelemahan, dan kekhawatiran di dalam kehidupan, kita akan bertumbuh di dalam iman kita kepada-Nya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan akan membuat kita mengalami apa makna sesungguhnya kasih karunia Tuhan di dalam kehidupan kita. Paulus yang menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan tahu dengan jelas makna hidup di bawah kasih karunia Tuhan.

2 Korintus 12:8-9
Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.

Terhadap pengajaran yang aku terima dari mentorku, aku berusaha mengaplikasikannya di kehidupanku dengan berdoa agar aku selalu bisa bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepadaku dan tidak membandingkan diriku dengan orang lain di sekitarku.

2. Kita berdoa bukan hanya untuk hal-hal besar, tetapi juga mencurahkan segala isi hati kita kepada Tuhan

Orang percaya yang benar-benar berserah kepada Tuhan selalu menceritakan kepada Tuhan segala pergumulan di dalam hatinya. Ia berterus terang tentang apa isi hatinya dan mencurahkan segala pikirannya kepada Tuhan (Mazmur 62:9).

Filipi 4:6-7
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Perkataan “segala hal” di Filipi 4:6-7 dengan jelas mengajar kita untuk mengucapkan kepada Tuhan apa pun yang kita khawatirkan—dari hal-hal yang terkecil sampai yang terbesar di dalam kehidupan kita. Ketika kita terbiasa berdoa dari hal-hal terkecil, banyak hal dapat kita alami di dalam kehidupan kita. Kita bertumbuh di dalam iman, dan kita akan bergantung lebih pada-Nya. Amsal 3:5-6 menasihati kita untuk mengakui Dia dalam segala langkah kita. Melibatkan Tuhan dalam urusan-urusan kecil dalam hidup kita akan menolong kita untuk tidak bersandarkan pada pengertian kita sendiri. Kita akan lebih memahami makna sesungguhnya dari ‘aku ada saat ini karena kasih karunia Tuhan, dan tanpa Tuhan aku bukan apa-apa’ (1 Korintus 15:10).

Doa adalah bentuk kita berkomunikasi bersama Tuhan. Dengan membiasakan diri berdoa dari hal-hal kecil, kita membangun interaksi yang erat bersama Tuhan. Seiring dengan kita bertumbuh di dalam kehidupan doa, kita akan mampu memprioritaskan Tuhan sebagai yang paling penting di dalam kehidupan kita.

Tuhan Yesus selalu memprioritaskan hubungan-Nya bersama Allah Bapa melalui doa. Ketika Tuhan Yesus akan memilih dua belas rasul, Ia berdoa semalaman kepada Allah Bapa (Lukas 6:12-13). Apa yang di doakan Yesus selama Ia berdoa semalaman kepada Allah Bapa?
Pemilihan dua belas rasul adalah salah satu hal penting di dalam pelayanan Kristus di dunia. Ketika Yesus berdoa semalaman, walaupun tidak tertulis secara eksplisit di Alkitab, aku percaya bahwa Yesus mencurahkan segala isi hati-Nya kepada Allah Bapa dan berusaha memilih rasul berdasarkan kehendak Allah Bapa.

Apakah kita mau mencurahkan segala isi hati kita dan berdoa kepada Tuhan untuk bisa membedakan kehendak Tuhan di dalam kehidupan kita?

Lukas 6:12-13
Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul.

Kekhawatiranku terhadap pekerjaan dan masa depanku sering membuatku lupa untuk melihat hal-hal kecil yang terjadi di kehidupanku sehari-hari. Melalui pembelajaran yang aku terima, aku berusaha untuk menyelidiki bagaimana isi hatiku sehari-hari dan menuangkan semuanya di hadapan Tuhan. Keluhan-keluhan seperti urusan administrasi sekolah, interaksi dengan mahasiswa, penelitian yang tidak berjalan mulus aku berusaha membawa semuanya kepada Tuhan di dalam doa.

Sebagai penutup, walaupun kita tahu apa isi doa yang berkenan kepada Tuhan, kehidupan doa kita tidak akan bertumbuh kalau tidak melatih diri kita untuk berdoa. Kita bisa memulainya dengan menentukan terlebih dahulu waktu yang sesuai untuk berdoa dan selalu memohon kepada Tuhan untuk memberikan kita semangat untuk tetap berdoa.

Andrew Murray dalam bukunya tentang doa menulis, “Tanpa pengaturan waktu doa, semangat berdoa akan tumpul dan lemah. Tanpa doa yang terus-menerus, waktu doa yang ditentukan tidak akan berhasil.”

Aku berharap dan berdoa aku dan teman-teman selalu bertumbuh di dalam kehidupan doa. Tetaplah berdoa (1 Tesalonika 5:17).

Baca Juga:

Tentang Doa yang Tidak Terkabul: Apakah Kita Kurang Sungguh Berdoa?

Seseorang telah gigih berdoa, tapi jawaban doanya tidak sesuai harapannya. Padahal, Alkitab bilang bila doa orang benar itu besar kuasanya. Apa yang bisa kita gali dari fenomena ini?

Studi Alkitab, Yuk!

Oleh Adiana Yunita, Yogyakarta

Kapan terakhir kali kamu melakukan pemahaman Alkitab (PA) atau studi Alkitab?

Mungkin ada yang menjawab, “Studi Alkitab kan tugasnya pendeta, pemimpin pelayanan, atau mereka yang kuliah di teologia atau di seminari. Memangnya kita harus ya?” Atau mungkin jawaban lainnya, “Aku sering sih nonton atau dengar khotbah tentang studi Alkitab di channel-channel YouTube atau podcast oleh pembicara-pembicara favoritku. Bukannya itu sudah termasuk memahami Alkitab?”

Jawaban itu mungkin mewakili kita yang jarang atau enggan membaca Alkitab. Namun, di tengah dunia yang semakin maju, apakah penting untuk membaca Alkitab yang tulisannya sudah berusia ribuan tahun itu?

Alkitab bukan sekadar buku atau kitab. Ketika kita membaca dan belajar memahaminya, itu menjadi salah satu disiplin rohani bagi semua orang Kristen, termasuk aku dan kamu. Kata ‘disiplin’ dalam bahasa Inggris ditulis ‘discipline’. Dalam kamus Merriam-Webster, ‘discipline’ diartikan sebagai pola perilaku atau latihan yang teratur untuk memperbaiki, membentuk, dan menyempurnakan karakter mental dan moral kita. Jadi, disiplin rohani merupakan latihan yang dilakukan secara teratur untuk memperbaiki, membentuk, dan menyempurnakan kerohanian kita.

Untuk memudahkan kita memahami pentingnya disiplin rohani, kita bisa analogikan dengan para binaragawan atau atlet yang setiap hari melakukan latihan fisik supaya otot-otot mereka terbentuk dan terlatih sehingga siap menghadapi lawan. Begitu juga disiplin rohani akan melatih mental rohani kita supaya siap menghadapi lawan kita, yaitu si Iblis yang berjalan di sekeliling kita seperti singa yang mengaum-aum mencari mangsanya (1 Petrus 5:8). Tuhan Yesus pun mengingatkan murid-muridnya untuk, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah (Matius 26:41).” Mengapa? “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera… keinginan daging adalah perseteruan dengan Allah… Mereka (yang menuruti keinginan daging) tidak mungkin berkenan kepada Allah (Roma 8:6-8).“

Karena tubuh kita ini lemah dan berdosa, kita harus rajin melatihnya dan membentuknya semakin kuat melalui disiplin rohani. Nah, salah satunya adalah melalui studi Alkitab mandiri. Lalu, bagaimana cara memulainya? Tenang, studi Alkitab sebenarnya bisa dimulai dengan beberapa langkah sederhana kok.

  1. Mulailah dengan menemukan ayat berkesan

    Menemukan ayat berkesan adalah cara pertama yang diajarkan kepadaku untuk studi Alkitab waktu duduk di bangku SMA. Kita hanya perlu memilih satu ayat yang paling berkesan dan alasannya. Cara ini cukup sederhana dan mudah. Namun, dari satu ayat berkesan ini, kita masih bisa memahami bagian tersebut dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut, 1) Apa fakta tentang Allah yang didapat dari ayat tersebut?; 2) Apa fakta tentang manusia yang didapat dari ayat tersebut?, 3) Apa hal baru yang dipelajari?; 4) Apa penerapan dalam kehidupan sehari-hari?; 5) Pertanyaan apa yang muncul dari ayat/perikop ini? Jika ada pertanyaan yang muncul, kita bisa menanyakan kepada kakak rohani atau mendiskusikannya dengan peer study kita.

  2. Kembangkan dengan metode “OIA” (“Observasi, Interpretasi, dan Aplikasi”)

    Setelah kita sudah mulai terbiasa merefleksikan satu ayat Firman Tuhan, kita tentu tidak puas hanya mendalami satu ayat saja. Karena itu, kita akan mulai belajar memahami satu perikop di dalam Alkitab. Nah, pertama-tama mulailah dengan melakukan pengamatan (observasi). Caranya adalah dengan mengamati hal-hal yang tersurat (tertulis) secara jelas di Alkitab melalui pertanyaan-pertanyaan 5W1H (what, where, when, who, why, dan how). Misal, apa peristiwa yang terjadi di perikop tersebut? Di mana dan kapan peristiwa tersebut berlangsung? Siapa saja tokoh yang terlibat? Mengapa ia melakukan hal itu? Bagaimana ia merespons kejadian itu? Dst.. Kemudian, kita bisa mulai memberikan kesan atau pendapat (interpretasi) berupa makna-makna tersirat dari perikop tersebut. Misalnya, Petrus dan murid-murid Yesus yang pertama segera meninggalkan jala mereka, lalu mengikut Yesus (Markus 1:18), itu berarti ketaatan harus dilakukan dengan segera. Terakhir, buatlah penerapan (aplikasi). Penerapan yang jelas atau konkret harus selalu dibuat di akhir studi Alkitab karena Allah memanggil kita untuk menjadi pelaku Firman, bukan pendengar saja (Yakobus 1:22).

  3. Pahami konteks bacaan

    Memahami konteks bacaan sebenarnya adalah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam studi Alkitab. Secara sederhana, memahami konteks bacaan adalah mengenal segala latar belakang yang “membersamai” penulisan teks yang kita baca, misalnya siapa penulisnya kitab/surat yang dibaca, latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya ketika teks tersebut ditulis, atau pun konflik yang mungkin terjadi pada saat itu. Misalnya, ketika dikatakan bahwa Yusuf hendak menceraikan Maria dengan diam-diam (Matius 1:19) padahal mereka belum menikah. Perlu dipahami bahwa konteks pada waktu itu di budaya orang Yahudi, pasangan yang sudah bertunangan sudah berada dalam satu ikatan atau komitmen pernikahan, tetapi mereka belum tinggal satu rumah. Memahami konteks akan sangat berguna ketika kita menginterpretasikan makna bacaan. Informasi mengenai konteks bacaan dapat kita akses di web/aplikasi/Alkitab cetak yang dilengkapi dengan studi Alkitab, kamus Alkitab, konkordansi, dan jangan lupa untuk juga membandingkan teks dengan versi terjemahan Alkitab lainnya.

  4. Ajaklah teman atau partner

    Memiliki kelompok studi Alkitab juga penting sebagai teman diskusi untuk lebih memahami bagian yang dipelajari. Namun, perlu diperhatikan bahwa studi Alkitab ini pada dasarnya adalah disiplin rohani kita secara mandiri. Jadi, fungsi kelompok atau partner adalah mendiskusikan hasil studi Alkitab pribadi masing-masing. Anggota kelompok studi Alkitab akan saling belajar mendengarkan dan memperkaya hasil PA satu sama lain.

Studi Alkitab pribadi akan sangat berbeda dengan (hanya) menjadi pendengar saja dan “menelan” hasil interpretasi orang lain. Ketika kita melakukan studi Alkitab mandiri, kita akan berjumpa secara langsung dengan kebenaran Firman Tuhan, kemudian mencecap, mengunyah, dan menikmati setiap sari-sari yang terkandung di dalam firman tersebut. Jadi, sudah siapkah kamu untuk memulai studi Alkitab mandirmu? Mulailah merencanakan jadwal yang teratur untuk mendalami firman-Nya, ajak beberapa teman untuk melakukan proyek yang sama, dan saling berbagilah serta saling mendorong dalam kasih dan dalam setiap pekerjaan baik (Ibrani 10:24).


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Apakah Kesepian itu Dosa?

Apakah merasa kesepian itu dosa? Atau, apakah dosa itu hanya berkaitan dengan apa yang kita lakukan untuk merespons kesepian itu? Dan, jika tidak baik bagi seorang pria atau wanita untuk sendiri, apakah dosa jika memang mereka memilih untuk hidup sendiri?

3 Miskonsepsi Tentang Pertumbuhan Rohani

Karya seni ini merupakan kolaborasi WarungSaTeKaMu dan Lara Lynch

Pernahkah kamu merasa pertumbuhan imanmu seolah jalan di tempat? Kamu mencari Tuhan lewat berdoa dan membaca Alkitab, pun tak ada dosa yang kamu sembunyikan… tapi rasanya kok tetap hambar? Kamu pun bingung apakah hari ini kamu telah menjadi semakin serupa dengan Kristus dibandingkan minggu lalu atau tidak.

Kamu tidak sendirian! Tapi, mari ambil waktu sejenak untuk menyelidiki kembali apakah pertumbuhan rohani itu. Kita bertumbuh secara rohani ketika Allah, melalui anugerah-Nya, bekerja dalam hidup kita untuk membuat kita semakin serupa dengan Kristus (Efesus 2:8-9). Ketika kita merasa stagnan, marilah meresponsnya dengan berpaling pada Dia yang mampu mengubah kita, bukan kepada upaya kita untuk mengubah keadaan.

Seiring kita mengejar Kristus, memohon pertolongan-Nya agar kita bertumbuh dalam kebaikan, pengetahuan, penguasaan diri, dan kasih (2 Petrus 1:5-8), kita pun perlu waspada terhadap miskonsepsi yang dapat menjauhkan kita dari pertumbuhan sejati.

Miskonsepsi #1
Ini tentang tahu betul isi Alkitab

Petrus bicara tentang bertumbuh dalam pengetahuan (2 Petrus 1:5, 3:18), dan pengetahuan Alkitabiah adalah sesuatu yang diinginkan dan perlu diupayakan. Alkitab adalah cara utama untuk mengetahui siapakah Tuhan itu.

Namun, “pengetahuan” hanyalah salah satu poin yang mengindikasikan pertumbuhan rohani. Kebanyakan kita mungkin teringat akan seseorang di gereja atau kelompok sel kita yang tampaknya tahu semua isi Alkitab, tapi juga angkuh. Orang seperti itu tentu tidak memiliki kualifikasi lainnya untuk disebut dewasa secara rohani.

Dalam Yohanes 14:23, Yesus memberitahu kita, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku.” Mengetahui isi Alkitab akan menolong kita untuk mengenal pengajaran Yesus, tetapi yang lebih penting adalah bukan sekadar tahu, tapi menaatinya.

Saat kita membaca Alkitab hari demi hari, marilah tanyakan pada diri kita sendiri, apa yang ayat ini katakan tentang Allah? Apa maknanya buatku? Dan yang paling penting, bagaimana aku bisa menghidupinya?

Miskonsepsi #2
Ini tentang mempraktikkan disiplin rohani dengan rajin

Petrus mendorong kita untuk “mengupayakan segala hal” untuk bertumbuh secara rohani. Paulus juga berkata, “…tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12). Kerja keras adalah bagian dari pertumbuhan rohani. Kita tahu cara-cara mendasarnya: baca Alkitab, berdoa, bersekutu dengan sesama orang percaya, dan lain sebagainya.

Tetapi, janganlah kita terjebak dalam pola pikir seolah berlomba untuk menjadi yang paling rajin untuk tampak paling baik. Banyak dari kita mungkin pernah mengalaminya, ketika kita sangat giat melakukan kegiatan rohani tanpa sungguh-sungguh menaruh hati dan mencari Tuhan di dalamnya.

Yang sesungguhnya paling penting adalah bersungguh hati menjalin relasi dengan Allah. Kita dipanggil untuk “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:37). Seiring kita setia membaca Alkitab, berdoa, dan bergereja, mintalah agar Allah membaharui hati kita setiap kali kita melakukan aktivitas tersebut, agar setiap harinya kita semakin mengasihi-Nya.

Miskonsepsi #3
Ini tentang pertumbuhan yang bisa diukur setiap harinya

Kadang kita berpikir kalau pertumbuhan rohani itu proses yang lurus dan progresif, yang artinya kita pasti lebih dewasa hari ini daripada kemarin. Lagipula, jika kita tidak mengalami kemajuan dalam relasi kita dengan Allah, tentunya itu sebuah kemunduran, bukan?

Jika kita sudah memberikan seluruh hati kita untuk mencari-Nya, tapi kita seolah tak mendengar apa pun dari-Nya, atau tak merasa dekat dengan-Nya, apakah itu karena kita melakukan kesalahan?

Kebenarannya adalah, kita semua melewati berbagai musim kehidupan. Bahkan Daud, seorang yang berkenan di hati Allah (Kisah Para Rasul 13:22), melalui masa-masa sukar hingga dia mempertanyakan,

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kauupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (Mazmur 13:2).

Jika Allah terasa jauh, atau membaca Alkitab terasa hambar, atau kita tak mampu berkata-kata untuk berdoa, itu tidak berarti kita berhenti bertumbuh. Yakobus mendorong kita bahwa pencobaan terhadap iman kita menimbulkan ketekunan, dan kita perlu “biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yakobus 1:4).

Jadi, kendati masa-masa sulit kita alami, marilah kita meneladani Daud, “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu” (Mazmur 13:6a). Allah yang akan melengkapi kita untuk mencapai tujuan-Nya.

Marilah kita terus mencari-Nya, membangun relasi dengan-Nya, mempercayai-Nya untuk melengkapi kita dengan pengatahuan dan kebaikan, serta dengan setia bertekun meskipun kita tak melihat hasilnya. Kita tahu Allah mengasihi kita, dan Dia tetap bekerja, bahkan saat ini, untuk membawa kita mendekat pada-Nya.

Bosan Saat Berdoa? Cobalah Metode Berdoa Berdasarkan Alkitab

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

“Saat Anda berdoa, apa Anda hanya mengatakan hal yang itu-itu saja?” begitu bunyi kutipan di belakang sampul buku ini yang membuat aku tertarik untuk membacanya.

Aku pernah ada di masa-masa jenuh berdoa, rasanya berdoa begitu membosankan sehingga waktuku untuk berdoa tidak banyak dan aku pun sulit menikmati doa-doaku. Setelah membaca buku ini aku mulai menyadari apa yang membuat aku tidak lagi menikmati doa-doaku sehingga aku malas berdoa. Buku ini juga memberikan solusi supaya aku bisa kembali menikmati doa-doaku.

Menurut Donald S. Whitney, ketika kita jenuh berdoa, masalahnya pasti bukan pada diri kita, tetapi metode kita ketika berdoa. Sesungguhnya, jika kita sudah berbalik dan tidak lagi hidup demi diri dan dosa kita tetapi sudah percaya pada Kristus dan karya-Nya yang membuat kita benar di hadapan Allah, maka Allah telah memberi kita Roh Kudus. Masalah kebosanan dalam berdoa bukan pada diri kita. Bukan karena kita memang tidak cakap berdoa, tetapi pada metode atau bagaimana cara kita berdoa. Dan metode yang umumnya digunakan orang Kristen dalan berdoa adalah mengulang kata-kata yang sama, misalnya: Tuhan tolong berkati pekerjaanku hari ini, berikan aku hikmat dan jagai hati, pikiran serta seluruh tubuhku sepanjang hari ini sehingga bisa menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku. Tanpa disadari inilah yang setiap hari dikatakan dalam doa.

Masalahnya bukan karena kita berdoa tentang hal yang sama. Berdoa secara rutin tentang orang dan situasi yang sama sangatlah wajar. Wajar untuk mendoakan hal yang sama karena hidup kita cenderung terdiri dari hal-hal yang sama. Kita selalu berdoa untuk keluarga, masa depan, keuangan, pekerjaan, pendidikan, teman hidup dan sebagainya. Jadi masalahnya bukan karena kita berdoa tentang hal yang sama tetapi kita mengucapkan kata-kata yang sama.

Tapi, dengan berdoa mengucapkan kata-kata yang sama setiap hari, kita bisa terjebak pada rasa bosan. Dan ketika doa terasa membosankan, kita jadi tidak merasa ingin berdoa. Saat itu jugalah kita tergoda untuk berpikir, pasti aku yang salah. Aku pasti orang Kristen yang kurang berkualitas.

Buku “Praying The Bible” menawarkan metode lain dalam berdoa, terutama bagi kita yang tidak lagi menikmati berdoa karena kata-kata yang diucapkan selalu sama, yaitu metode berdoa dengan menggunakan Alkitab.

Berdoa dengan menggunakan Mazmur dan berdoa menggunakan bagian-bagian Alkitab yang lain

Berdoa dengan Alkitab artinya membaca (atau mengulangi) Alkitab di dalam doa dan membiarkan makna dari ayat-ayat Alkitab menjadi doa kita dan menginspirasi pikiran kita. (John Piper)

Anggap saja ada seorang wanita yang ingin berdoa setiap hari bagi anak-anak atau cucu-cucunya bisa berdoa bagi mereka saat dia membaca Mazmur 23. Mazmurini mendorong dia untuk berdoa agar Allah bisa “menggembalakan” anak-anaknya dalam berbagai hal. Esok harinya, dia bisa berdoa dengan membaca 1 Korintus 13, dari situ dia bisa meminta Tuhan mengembangkan kasih kepada anak-anak-Nya seperti yang diajarkan dalam pasal itu. Hari berikutnya, sambil membaca Mazmur 1, pasal ini membimbing dia berdoa agar anak-anaknya bisa menjadi perantara firman Allah. Hari selanjutnya, ia membaca Galatia 5 dan meminta Tuhan mengembangkan buah Roh dalam anak-anak-nya. Setelah itu dia kembali ke kitab Mazmur, dan sambil bicara dengan Tuhan melalui Mazmur 139, dia meminta agar anak-anaknya bisa merasakan kehadiran Allah di mana pun mereka pergi pada hari itu.

Sebenarnya, inti dari doanya “berkati anak-anak saya” tidaklah berubah, meski kata-katanya berubah. Dengan menyaring doa itu melalui bagian Alkitab yang berbeda-beda, doanya berubah dari pengulangan kata menjadi permohonan yang muncul dari hati ke sorga dalam cara yang unik setiap hari.

Bagaimana pun cara kita berdoa sesungguhnya Tuhan tetap mendengar, namun jika kita sedang merasa jenuh dengan kehidupan doa kita, saran berdoa dengan menggunakan Alkitab dapat menolong kita.

“Kita harus berdoa ketika kita tidak sedang merasa ingin berdoa, karena berbahaya jika tetap berada dalam kondisi yang tidak sehat seperti itu” (Charles Spurgeon).

Tentang buku dan penulis

Judul : Praying The Bible
Penulis : Donald S. Whitney
Tahun Terbit : April 2019
Jumlah Halaman : 106 halaman
Penerbit : Literatur Perkantas Jatim

Donald S. Whitney adalah profesor spiritualitas biblika dan wakil dekan di Southern Baptist Theological Seminary di Louisville, Kentucky. Dia telah menulis beberapa buku yang berkaitan dengan spiritualitas Kristen, termasuk buku Spiritual Disciplines for the Christian Life.

Baca Juga:

Virus Corona: Takut itu Manusiawi, Tapi Jangan Biarkan Kepanikan Menguasai

Ketika virus Covid-19 muncul, aku merasa biasa saja. Sampai ketika WHO menyatakan pandemi dan ada orang yang terjangkit di kotaku, panik mulai menghadangku. Jika kamu merasa panik sepertiku, lewat tulisan ini aku ingin membagikan ada lima hal yang bisa kita lakukan.

Hanya Sekadar Baca Alkitab Tidaklah Cukup

Oleh Agnes Lee, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Reading The Bible Did Not Make Me A Better Christian

Suatu pagi asisten rumah tanggaku tidak sengaja mendengarku berdiskusi dengan suamiku dan dia salah paham. Dia pikir aku sedang membicarakan hal-hal buruk tentangnya. Akibatnya, sepanjang pagi itu sikapnya kepadaku jadi dingin.

Untuk menghangatkan suasana, aku mengklarifikasi kejadian itu. Namun, apa yang kulakukan malah membuatnya bersikap makin buruk. Dia membantah ucapanku. Emosiku terpicu, nada bicaraku jadi meninggi dan kata-kata yang kurang baik keluar dari mulutku. Dia lalu keceplosan, “Kamu baca Alkitab tiap pagi, tapi selalu mengeluh!” Setelahnya, dia bergegas ke kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat.

Kata-katanya seperti tamparan di wajahku. Tadi pagi aku baru saja baca Alkitab. Namun, ketika kesalahpahaman muncul, aku menyerah pada pencobaan dan meresponsnya dengan marah. Aku terdiam.

Sungguhkah aku mencerminkan Kristus?

Aku pun pergi mandi, tapi apa yang barusan terjadi terulang-ulang di kepalaku. “Kamu baca Alkitab tiap pagi, tapi selalu mengeluh!” Kata-kata itu seolah bermakna begini buatku: “Kamu tidak ada bedanya sama orang yang tidak percaya. Firman Tuhan tidak berdampak apa-apa di hidupmu!” Pernyataan itu membuatku serasa dihakimi. Aku merasa bersalah karena telah gagal menunjukkan Kristus padanya.

Ketika dia membantahku pertama kali, ada bisikan dalam hatiku, “Maafkan! Maafkan! Aku harus jadi terang yang bersinar di tengah kegalapan hatinya”. Aku coba arahkan pandanganku kepada Tuhan dan mengingat ayat dari Matius 18:21-22 yang berkata agar kita memaafkan orang lain. Namun, aku gagal, dan kemudian aku kehilangan kesabaran dan pengendalian diri. Aku tidak mencerminkan Kristus sebagaimana aku seharusnya.

Membaca Alkitab tanpa mengizinkan Roh Kudus bekerja dalam hidupku, aku tak ubahnya orang Farisi yang mempelajari Alkitab dengan rajin, tapi menolak datang kepada Yesus (Yohanes 5:39-40).

Apakah asisten rumah tanggaku melihatku sebagai pengikut Kristus? Kupikir tidak. Kata-katanya yang dia ucapkan, “Kamu baca Alkitab tiap pagi, tapi selalu mengeluh!” Dunia seringkali melihat kita sebagai pengikut Kristus dari buah-buah yang kita hasilkan. Nada bicaraku yang tinggi dan kasar tidak mencerminkan Kristus dalamku. Buah-buah roh—kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri—absen dari diriku.

Tuhan memampukanku

Aku merasa kacau, tidak benar, dan tidak layak mendapatkan kasih Tuhan, hingga kemudian aku teringat bahwa aku dibenarkan bukan karena perbuatanku sendiri, melainkan oleh Tuhan—penebusan-Nya di kayu salib (2 Korintus 5:21). Tuhan membenarkanku dari dosa-dosaku ketika aku tidak layak mendapatkannya, dan aku mendapatkan itu hanya karena iman.

Setelah ditebus-Nya, aku tahu aku harus menyingkirkan kebanggaan diriku sendiri dan mengundang Roh Kudus untuk bekerja dengan penuh kuasa dalam hidupku. Dengan pertolongan Roh Kudus, aku bisa menghasilkan buah roh berupa kesabaran dan kasih untuk orang-orang di sekitarku, sehingga ketika aku berkata-kata, kata-kata yang kukeluarkan adalah yang membangun.

Sejak Yesus menebus dosaku, aku diampuni-Nya dan diberi kemerdekaan untuk menghidupi hidupku. Aku bisa mengusahakan pengampunan terhadap asisten rumah tanggaku. Yang menghalangiku untuk melakukannya adalah ego dan pembenaran diriku sendiri, yang seharusnya sudah dipaku oleh Kristus di atas kayu salib.

Dengan pemahaman ini, aku punya cukup keberanian untuk mengampuni dan berdamai dengan asisten rumah tanggaku. Aku duduk berdua dengannya, dan dengan suara tenang, kami meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi sampai kami mendapatkan pemahaman bersama.

Tanpa Tuhan yang telah menunjukkanku kebenaran, anugerah, dan belas kasihan, aku tak akan mampu melakukan ini semua. Seiring aku berusaha menghidupi imanku, aku terus mengingat bahwa upayaku membaca Alkitab hanya akan menghasilkan hafalan semata, dan aku tidak akan pernah jadi murid yang sejati jika aku tidak mengarahkan pandanganku kepada Tuhan dan apa yang diinginkan-Nya bagiku.

Baca Juga:

Menjadi Sahabat Bagi Semua Orang

Natal sudah berlalu, namun beberapa waktu belakangan, tema Natal “Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang” terus terngiang-ngiang di benakku. Tema itu terdengar baik, tapi sekaligus juga seperti utopis bagiku.

Apakah yang Kupercayai Sungguh Membuatku Berbeda?

Oleh Savannah Janssen
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Does What I Believe In Really Make A Difference?

Beberapa tahun lalu, ketika aku sedang memimpin kelompok studi Alkitab, seorang perempuan bertanya, “Guys, apa kalian sungguh percaya apa yang kita baca? Jika iya, apakah itu membuat perubahan dalam hidup kita?”

Teman-teman yang lain terkejut dengan pertanyaan itu, tapi kemudian pertanyaan-pertanyaan lain yang serupa pun terlontar. Mereka mengakui kalau pertanyaan seperti itu—pertanyaan yang real dan penting—sering muncul dalam perjalanan iman mereka. Mengajukan pertanyaan dan merasakan keraguan tidaklah salah, itu bisa menolong kita kepada cara pandang dan pengetahuan yang baru tentang Tuhan. Pernahkah kamu berpikir:

Apakah iman yang kuanut sungguh membuat perubahan dalam hidupku?

Apakah dengan menjadi orang Kristen, aku jadi orang yang ‘lebih baik’?

Apakah orang-orang melihat hidupku berbeda karena aku percaya pada Tuhan?

Aku pernah bertemu dan mengenal orang-orang bukan Kristen yang begitu baik dan jujur. Sedihnya, ada di antara mereka yang berkata, “Aku tahu orang-orang yang tidak religius, dan mereka lebih baik daripada semua orang Kristen yang kutahu.” Mendengar kalimat itu rasanya sakit…tapi, mereka ada benarnya.

Panggilan kita sejatinya begitu jelas: Orang Kristen harus berbeda karena apa yang kita percayai. Alkitab memanggil kita untuk menjadi pelita dan garam dunia (Matius 5:13-16). Jadi, tentu hidup kita dipanggil untuk membuat perbedaan yang mendasar dan kekal. Tapi, bagaimana? Alkitab memberi kita dua cara untuk membuat hidup kita terlihat berbeda:

1. Bagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri

Pernahkah kamu mengizinkan dirimu ditentukan dari ekspektasi orang-orang lain kepadamu? Beberapa kali dalam hidupku, aku mengizinkan ekspektasi orang lain membentukku menjadi orang yang sebenarnya tidak kuinginkan. Ketika itu terjadi, aku lupa bahwa Tuhan yang menciptakanku telah menentukan siapa diriku, bukan orang lain.

Tuhan memanggil kita kepada standar yang lebih tinggi, sebagaimana tertulis: “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9).

Meskipun kita hancur, meskipun kita gagal berkali-kali, tapi karena pengorbanan Kristus, Tuhan menyambut kita tanpa syarat ketika kita bersedia kembali kepada-Nya. Tuhan memanggil kita orang terpilih, kudus, dan istimewa. Lebih lagi, relasi kita dengan Tuhan mendorong kita mengubah diri kita menjadi pribadi yang telah Dia tetapkan untuk kita.

Tuhan menawarkan kesempatan yang baru setiap hari. Tuhan melihat kita dengan mata yang penuh kasih dan Dia tidak menyimpan segala kesalahan masa lalu kita. Karena anak-Nya, kita mendapatkan pengampunan dari hukuman (Roma 8:1-2). Tuhan mengejar kita dengan kasih yang tak bersyarat.

2. Bagaimana kita memperlakukan orang lain

Kita mengasihi karena Tuhan telah lebih dulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:19). Kita diciptakan karena kasih dan untuk mengasihi. Pernahkah kamu begitu mengasihi seseorang hingga kamu pun mulai menikmati apa yang mereka nikmati pula? Ketika kita mengasihi seseorang, secara alami kita bertumbuh untuk memedulikan apa yang mereka pedulikan.

Ketika kita dekat dengan Tuhan, kita akan menikmati hal-hal yang Tuhan juga nikmati. Kita mulai menyadari ada kebutuhan di sekitar kita. Kita mulai melihat dunia dari kacamata Tuhan, dan mulai menghidupi kasih Tuhan untuk anak-anak-Nya. Ini bukanlah pilihan, tetapi perintah yang murni dari Tuhan yang adalah kasih.

“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tau, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:34-35).

Karena kita telah menerima kasih Allah, iman kita pun seharusnya mampu mendorong kita untuk memperluas kasih kita kepada orang lain, sebab dunia ini menyaksikan kita.

Salah satu ciri dari kasih Allah adalah kemurahan hati-Nya yang melimpah (Matius 7:11; Lukas 15:22-24). Jika Tuhan kita murah hati, kita pun seharusnya demikian. Sebagai contoh, kita bisa bermurah hati dengan memberikan waktu kita. Di zaman ketka segalanya serba terburu-buru, meluangkan waktu berkualitas dengan seseorang bisa jadi hal yang sulit. Tapi, kita tahu bahwa segala yang kita miliki bersal dari Tuhan, jadi marilah kita dengan murah hati memberikan waktu kita ketika ada orang-orang yang butuh pertolongan. Ketika kita dengan murah hati memberikan apa yang kita anggap berharga, kita sedang menghidupi konsep kasih yang kita anut.

* * *

⠀⠀⠀

Relasi kita dengan Tuhan harus membuat perbedaan yang tampak dalam kehidupan kita, sebagaimana kita dipanggil untuk tidak menjadi serupa dengan dunia. Ketika dunia meminta kita untuk membenci, Tuhan meminta kita untuk mengasihi (Matius 5:39043). Ketika ada keputusasaan, kita dipanggil untuk membawa harapan (Ibrani 6:19). Orang-orang yang miskin, lemah lembut, berduka, murni hatinya, dan yang teraniaya, merekalah yang akan mendapatkan kerajaan surga (Matius 5:3-10).

“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:45).

Intinya, hidup beriman harus memberi perbedaan. Mengapa? Karena hidup kita adalah refleksi dari harapan yang mendasar, kebenaran yang abadi, kedamaian yang tak terbandingkan, sukacita yang tetap, dan kasih yang tak bersyrat. Ketika orang-orang melihat kehidupan kita, mereka harus melihat cara kita memperlakukan diri kita dan orang lain adalah aktivitas yang memberi dampak, bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk tujuan Tuhan.

Baca Juga:

Menghidupi Sisi Terang Pelayanan dalam Anugerah Tuhan

Pelayanan tidak selalu berjalan mulus, kadang ada pergumulan yang harus kita hadapi. Meski begitu, kita harus terus memberi diri kita melayani.

Lintasan Biru

Minggu, 8 September 2019

Lintasan Biru

Baca: Amsal 4:10-27

4:10 Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak.

4:11 Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus.

4:12 Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung.

4:13 Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.

4:14 Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat.

4:15 Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus.

4:16 Karena mereka tidak dapat tidur, bila tidak berbuat jahat; kantuk mereka lenyap, bila mereka tidak membuat orang tersandung;

4:17 karena mereka makan roti kefasikan, dan minum anggur kelaliman.

4:18 Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.

4:19 Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.

4:20 Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku;

4:21 janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu.

4:22 Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.

4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

4:24 Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu.

4:25 Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka.

4:26 Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu.

4:27 Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, jauhkanlah kakimu dari kejahatan.

Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus. —Amsal 4:11

Lintasan Biru

Jalur perlombaan ski yang menuruni bukit sering kali ditandai dengan cat biru yang disemprotkan ke permukaan salju yang putih di sepanjang lintasan. Lengkungan yang dibuat kasar itu mungkin mengganggu pemandangan penonton tetapi terbukti sangat penting bagi kesuksesan dan keselamatan para peserta lomba. Cat tersebut berfungsi sebagai panduan bagi para pembalap untuk mempunyai gambaran tentang jalur tercepat menuju dasar bukit. Selain itu, warna biru yang kontras dengan permukaan salju memberikan persepsi kedalaman kepada para pembalap, dan itu sangat penting bagi keselamatan mereka saat melaju dalam kecepatan yang sangat tinggi.

Salomo meminta putra-putranya untuk mencari hikmat dengan harapan agar mereka selamat di dalam arena kehidupan. Salomo berkata bahwa hikmat akan “memimpin [mereka] di jalan yang lurus” dan menjaga mereka agar tidak tersandung (Ams. 4:11-12), seperti garis biru di lintasan lomba tadi. Harapan terbesarnya sebagai seorang ayah adalah agar anak-anaknya menikmati hidup yang berkelimpahan, bebas dari kerusakan yang akan dialami ketika hidup jauh dari hikmat Allah.

Allah, sebagai Bapa kita yang penuh kasih, juga memberikan “garis biru” sebagai panduan dalam Alkitab. Meskipun Allah memberikan kebebasan kepada kita untuk bergerak ke mana pun kita suka, hikmat yang Dia berikan dalam firman-Nya, seperti garis-garis penanda lintasan ski, akan “menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya” (ay.22). Saat kita berbalik dari kejahatan dan memilih berjalan bersama-Nya, jalan hidup kita akan diterangi oleh kebenaran-Nya. Kebenaran itu menjaga kita agar tidak tersandung dan memandu perjalanan kita setiap hari (ay.12,18). —Kirsten Holmberg

WAWASAN
Struktur kitab Amsal sangat mudah dikenali. Pasal 1-9 berisi nasihat seorang bapa kepada anaknya, meliputi tema-tema seperti hikmat dan kekudusan hidup. Pasal 10-31 sebagian besar berisi kumpulan pepatah bijak yang kerap membandingkan kehidupan berhikmat dalam sembilan pasal pertama dengan kebebalan yang membinasakan diri sendiri. —Bill Crowder

Dengan merenungkan hikmat Allah, bagaimana kamu telah dijaga sehingga tidak tersandung? Dalam hal apa saja kamu menjadi semakin serupa dengan Yesus?

Allahku, terima kasih untuk firman-Mu. Tolonglah aku teguh berpegang kepada hikmat yang Engkau berikan.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 3-5; 2 Korintus 1

Membaca Alkitab di Zaman yang Sibuk

Oleh Yunias Monika, Tangerang

Disadari atau tidak, perkembangan teknologi yang makin pesat telah mengubah cara hidup manusia, termasuk di dalamnya bagaimana cara kita memakai waktu. Coba kita hitung, ada berapa grup WhatsApp dan akun media sosial di smart-phone kita? Belum lagi jumlah akun belanja online. Manusia jadi sangat sibuk memeriksa ruang-ruang digital yang semuanya menuntut waktu. Dan, tidak bisa dimungkiri, di tengah padatnya aktivitas, kita membutuhkan pengalihan dari kesibukan. Apa yang biasanya dilakukan? Jujur saja, membaca Alkitab seringkali tidak semenarik menjelajah Instagram atau melihat-lihat flash sale. Kesibukan digital telah menepikan kerinduan untuk mencari Tuhan dan firman-Nya.

Sebagai ibu bekerja yang tidak punya pengasuh anak, aku harus membagi diriku untuk urusan domestik di rumah, belajar hal baru terkait pekerjaan paruh waktuku, membalas email, mengajak anak lelakiku bermain, membalas pertanyaan atau memberi ucapan kepada teman-teman di grup WhatsApp. Meskipun sudah bangun pukul 4 pagi, rasanya sulit sekali menyisihkan waktu 30 menit untuk membaca satu pasal per hari. Bagiku, kegiatan membaca Alkitab selalu berkompetisi dengan berbagai gangguan dan kegiatan lain.

Namun, Tuhan terus memberiku semangat untuk membaca Alkitab.

Gerejaku menggalakkan program membaca Alkitab bersama lewat satu aplikasi bernama GEMA-Gemar Membaca Alkitab GKI Gading Serpong. Setiap hari jemaat mendapat notifikasi pasal berapa yang harus dibaca. Selain itu, ada pula admin yang mengelola grup setiap kelompok. Lewat grup ini, jemaat bisa melihat siapa yang sudah atau belum membaca pasal berapa, karena masing-masing peserta harus memperbarui status pasal yang sudah dibaca. Dengan demikian, aku dan jemaat lain belajar disiplin membaca pasal secara urut. Di sini, teknologi menjadi sarana untuk mendiskusikan firman Tuhan.

Aku yang dulu selalu kesulitan mencari waktu, mulai bisa menciptakan waktu untuk membaca Alkitab, meskipun jamnya belum menentu. Ketika badanku belum terlalu lelah, aku akan membaca Alkitab. Biasanya, waktu terbaikku adalah setelah mandi sore, saat anakku tidur siang, saat sedang jam istirahat mengajar, atau waktu pagi-pagi sekali.

Jika kamu pernah mengalami pergumulan sepertiku, sulit untuk konsisten membaca Alkitab, ada dua tips yang bisa kuberikan:

1. Kamu bisa mencari kelompok yang membaca pasal yang sama setiap hari, supaya lebih semangat dan memiliki teman untuk mendiskusikan firman Tuhan.

2. Membaca setiap pasal secara urut membantu kita memahami konteks bacaan, merasakan kaitan antara satu ayat dengan ayat lain dan menciptakan rasa ingin tahu mengapa ayat tertentu ditulis dan kepada siapa ayat itu ditujukan pada zaman kitab itu ditulis.

Di kehidupan kita sekarang ini, teknologi hadir dengan ruang-ruang digital yang dapat menyita waktu dan mengalihkan perhatian kita, termasuk dalam memperhatikan firman Tuhan. Meski demikian, Tuhan selalu memberi kita waktu dan kesempatan yang cukup, sekalipun kita sering merasa tidak cukup.

Milikilah kerinduan untuk selalu haus akan firman-Nya, dan Tuhan akan menjawab kerinduan itu.

“Dan pergunakanlah waktu-waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Efesus 5:16).

Baca Juga:

Jangan Sia-siakan Waktu Menunggumu!

Menunggu adalah hal yang sulit, terlebih ketika kita tidak tahu bagaimana jawaban dari doa-doa kita kelak. Aku bergumul selama masa-masa itu, aku susah payah menginginkan jawaban dari Tuhan apa alasan dan tujuan dari semua peristiwa ini.

Bukan Tips Biasa

Kamis, 22 Agustus 2019

Bukan Tips Biasa

Baca: Mazmur 111

111:1 Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.

111:2 Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.

111:3 Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan keadilan-Nya tetap untuk selamanya.

111:4 Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang.

111:5 Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya.

111:6 Kekuatan perbuatan-Nya diberitakan-Nya kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka bangsa-bangsa.

111:7 Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh,

111:8 kokoh untuk seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.

111:9 Dikirim-Nya kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan-Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat.

111:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.

Dikirim-Nya kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan-Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat. —Mazmur 111:9

Bukan Tips Biasa

Baru-baru ini, salah seorang cucu saya mencoba menghangatkan boneka kelincinya dengan meletakkannya pada kaca pembatas perapian. Akibatnya, bulu boneka itu menempel pada kaca dan terlihat sangat mengganggu, tetapi untunglah saya mendapat tips yang bermanfaat dari seorang tukang perapian untuk membuat kaca perapian terlihat baru. Tips itu sangat jitu, dan sejak saat itu, saya melarang orang menaruh boneka di dekat perapian!

Barangkali kita sering memandang Alkitab sebagai sekumpulan tips atau solusi yang membuat hidup menjadi lebih mudah. Walaupun Alkitab memang berbicara banyak tentang cara menjalani hidup baru yang memuliakan Kristus, tetapi itu bukan satu-satunya tujuan dari Alkitab. Apa yang diberikan Alkitab kepada kita adalah solusi bagi kebutuhan terbesar umat manusia: kebebasan dari dosa dan keterpisahan kekal dari Allah.

Dari janji keselamatan di Kejadian 3:15 hingga pengharapan sejati akan langit dan bumi yang baru (why. 21:1-2), Alkitab menjelaskan bahwa Allah mempunyai rencana kekal untuk menyelamatkan kita dari dosa supaya kita dapat menikmati persekutuan dengan Dia. Melalui setiap kisah dan petunjuk hidup di dalamnya, Alkitab selalu menuntun kita kepada Yesus Kristus, satu-satunya Pribadi yang sanggup menyelesaikan masalah terbesar yang kita hadapi.

Ketika kita membaca Alkitab hari ini, ingatlah bahwa yang kita cari adalah Yesus, keselamatan yang Dia berikan, serta petunjuk bagaimana kita dapat hidup sebagai anak-anak Allah. Solusi yang diberikan-Nya adalah yang terbaik! —Dave Branon

WAWASAN
Mazmur 111 adalah salah satu dari tujuh mazmur dalam Perjanjian Lama yang dikenal sebagai “mazmur akrostik” (yang lainnya adalah Mazmur 25, 34, 37, 112, 119, 145). Disebut akrostik karena susunan ayatnya sesuai urutan abjad. Abjad Ibrani memiliki dua puluh dua huruf (dari aleph sampai taw); mazmur akrostik memiliki 22 baris atau ayat, yang setiap awalnya dimulai sesuai urutan huruf abjad Ibrani. Mazmur 111 dan 112 saling berkaitan. Dalam bahasa aslinya, dua mazmur itu memiliki dua puluh dua baris dalam sepuluh ayat, dipisahkan oleh seruan “Haleluya!”
Dengan sentuhan kreativitasnya, penulis membanggakan “perbuatan-perbuatan” sang Mahakuasa (111:2, 6-7). Kata-kata dan ungkapan lain yang dipakai untuk menyebutkan perbuatan Allah adalah “pekerjaan-Nya” (ay.3) dan “perbuatan ajaib” (ay.4). Sifat-sifat Allah juga dipuji: “Keadilan-Nya tetap untuk selamanya”; Dia “pengasih dan penyayang”; dan “Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya” (ay.3-5). —Arthur Jackson

Bagaimana Yesus dan janji keselamatan-Nya telah menyentuh hati dan hidupmu? Mengapa penting melihat bahwa Alkitab secara konsisten menuntun kepada Kristus?

Ya Bapa, terima kasih atas keselamatan yang Engkau berikan melalui Yesus. Tolonglah aku untuk memuliakan Engkau dengan tetap memusatkan hidupku pada Sang Juruselamat dan kasih-Nya yang ajaib bagiku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 110-112; 1 Korintus 5