Gol Penentu Hidup Kamu

Pele menyebut sepakbola sebagai “permainan yang indah” dan jutaan orang di dunia ini seakan setuju dengannya. Sepak bola sungguh dapat memikat imajinasi dan membangkitkan semangat mereka yang menggemari bola.

Dari tanggal 11 Juni sampai 11 Juli 2010, setiap mata penggemar sepak bola akan tertuju ke Afrika Selatan, tempat berlangsungnya suatu peristiwa yang disebut banyak pengamat sebagai “pertunjukan terhebat di dunia”. Dimulai dengan pertandingan Afrika Selatan melawan Meksiko di Johannesburg, kita akan terbawa dalam serunya pertandingan demi pertandingan yang berlangsung. Setiap hari, kita akan menebak siapa yang akan menang, apa yang mungkin dan akan terjadi, skor yang dibutuhkan untuk lolos ke babak berikutnya, dan apa yang perlu dilakukan oleh sebuah tim agar tampil lebih baik. Jutaan orang akan mendukung tim dari negaranya atau tim favoritnya untuk meraih gelar juara dunia.

RBC Ministries ingin menolong Anda memiliki fokus sepanjang kejuaraan ini berlangsung. Sepanjang 30 hari ke depan, ada 30 artikel renungan yang berkaitan dengan kejuaraan ini. Renungan-renungan ini dipilih untuk memperlihatkan pada Anda bahwa di atas tujuan meraih gelar juara dunia, ada satu tujuan utama yang melebihi segalanya, dan itu hanya ditemukan di dalam Yesus Kristus. Mari luangkan waktu setiap hari untuk membaca artikel yang tersedia, dan renungkanlah. Temukanlah hikmat dari Alkitab yang dapat mengubah hidup Anda, sebagaimana hikmat ini telah mengubah hidup banyak orang.

Kami berharap Anda menikmati bahan renungan ini dan meraih tujuan utama itu, yang menjadi gol penentu dalam hidup Anda.

Pamflet GOL PENENTU

Masih tersedia, pesan segera!

Pamflet GOL PENENTU, yang berisi lima hari renungan yang menggunakan analogi sepakbola untuk menceritakan kebenaran Allah yang kekal.

Pamflet ini tidak dijual! Kirimkan permintaan tersebut melalui e-mail ke: indonesia@rbc.org, fax: (021) 5435-1975 atau SMS ke 0815-86-111002.

Klik juga www.rbcindonesia.org/gol-penentu untuk pesan melalui internet.

Berhenti Untuk Menolong

Jumat, 11 Juni 2010

Baca: Lukas 10:30-37

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. —Lukas 10:27

Dr. Scott Kurtzman adalah kepala ahli bedah di Rumah Sakit Waterbury di Connecticut. Ia sedang dalam perjalanan untuk mengajar suatu mata kuliah ketika ia menyaksikan tabrakan beruntun yang mengerikan karena melibatkan 20 kendaraan. Perasaan trauma berkecamuk di hati dokter ini ketika ia berjalan melewati banyak besi ringsek yang berserakan tersebut sambil berseru, “Siapa yang butuh pertolongan?” Setelah menolong selama 90 menit, para korban dapat dibawa ke rumah sakit terdekat, dan Dr. Kurtzman berkata, “Orang yang diberkati dengan kemampuan seperti saya tak dapat begitu saja meninggalkan seseorang yang sedang terluka. Saya tak mau menjalani hidup seperti itu.”

Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang pria yang bersedia berhenti untuk menolong sesama (Luk. 10:30-37). Seorang Yahudi telah dicegat, ditelanjangi, dirampok dan ditinggalkan dalam keadaan sekarat. Seorang imam Yahudi dan seorang Lewi melewati tempat kejadian itu, melihat orang yang sekarat itu, tetapi malah melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria yang dianggap hina. Ia melihat orang yang sekarat itu dan belas kasihan pun menyeruak. Belas kasihan ini dilanjutkan dengan perbuatan: orang Samaria ini mengobati dan membalut luka-luka orang itu, membawanya ke penginapan, merawatnya, membayar biaya penginapan, dan berjanji pada pemilik penginapan untuk kembali melunasinya bila ada tagihan tambahan.

Ada banyak orang yang menderita di sekeliling kita. Dengan digerakkan oleh belas kasihan atas penderitaan mereka, marilah kita menjadi orang yang bersedia berhenti untuk menolong. —MLW

Jangkaulah dalam nama Yesus
Dengan tangan kasih dan kepedulian
Kepada mereka yang membutuhkan
Dan terjerat dalam keputusasaan hidup. —Sper

Belas kasihan selalu disertai perbuatan.

Doa Yang Setia

Kamis, 10 Juni 2010

Baca: 1 Timotius 2:1-7

Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar. —1 Timotius 2:1-2

Di bulan Juni 2009, Emma Gray, yang berumur 95 tahun, meninggal dunia. Selama lebih dari duapuluh tahun, ia adalah seorang wanita yang bertugas untuk bersih-bersih di sebuah rumah besar. Setiap malam setelah menyelesaikan tugasnya, Emma mendoakan kelimpahan berkat, hikmat, dan keamanan bagi majikannya.

Meskipun Emma telah bekerja di tempat yang sama selama 24 tahun, penguasa rumah itu hampir senantiasa berganti setiap empat tahun sekali. Selama tahun-tahun itu, Emma telah menaikkan doa-doanya untuk enam presiden Amerika Serikat: Eisenhower, Kennedy, Johnson, Nixon, Ford, dan Carter.

Emma punya beberapa presiden yang menjadi favoritnya, tetapi ia tetap mendoakan mereka semua. Ia melakukan apa yang tertulis di 1 Timotius 2 yaitu berdoa bagi “semua pembesar” (ay.2). Lalu, ayat-ayat ini berlanjut dengan membahas tentang bagaimana “agar kita dapat hidup tenang dan tenteram” dan menjadi orang yang saleh dan penuh kehormatan merupakan hal “yang baik dan yang berkenan kepada Allah . . . yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (ay.2-4).

Karena Allah “mendengar doa orang benar” (Ams. 15:29), siapa yang tahu bagaimana Allah memakai doa-doa Emma yang setia? Dalam Amsal 21:1 kita membaca: “Hati raja seperti batang air di dalam tangan Tuhan, dialirkan-Nya ke mana Ia ingini.”

Sama seperti Emma, kita juga harus mendoakan para pemimpin kita. Apakah ada seorang pemimpin yang diinginkan Allah supaya kita doakan hari ini? —CHK

Tak ada pemimpin di luar anugerah Allah
Ketika orang benar berdoa;
Karena ketika anak-anak Allah bersyafaat,
Tuhan akan melakukan rancangan-Nya. —D. De Haan

Doakanlah para pemimpin,supaya mereka takut akan Allah.

Special Promo: Pesan Segera “Gol Penentu” untuk mewartakan Kabar Baik di masa Piala Dunia

Masih tersedia, pesan segera!

Pamflet GOL PENENTU, yang berisi lima hari renungan yang menggunakan analogi sepakbola untuk menceritakan kebenaran Allah yang kekal.

Pamflet ini tidak dijual! Kirimkan permintaan tersebut melalui e-mail ke: indonesia@rbc.org, fax: (021) 5435-1975 atau SMS ke 0815-86-111002. Klik juga www.rbcindonesia.org/gol-penentu untuk pesan melalui internet.

Integritas Sekokoh Tembok

Oleh Natanael Benino

Integritas dalam Kamus Bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai konsistensi dalam bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma, walaupun dalam keadaan yang sulit sekalipun. Atau gampangnya “perbuatan yang sesuai dengan perkataan”.

Jaman sekarang yang namanya integritas ini sudah menjadi barang yang langka yang dimiliki oleh setiap orang. Tapi menurut saya, karena langkanya hal ini, sehingga integritas harus dimiliki oleh semua orang Kristen.

Integritas adalah barang yang langka, karena integritas cukup susah untuk didapat dan dilakukan. Kita lihat saja sekarang, engga usah jauh-jauh, di sekitar sekolah/universitas/tempat kerja, banyak sekali orang2 yang inkonsisten. Apalagi banyak dari mereka yang adalah orang percaya. Misalnya, ada orang yang setiap minggu datang kebaktian, lalu ikut pelayanan, sering banget negur orang yang berbuat salah, sampe pakai ayat Alkitab segala, dsb., padahal kelakuannya buruk sekali, dia sering memaki keluarganya, terus juga sering curang sama orang lain, dsb. (ingat ini cuman contoh khayalan yang menggambarkan bagaimana tidak adanya integritas dalam hidup orang percaya, bukan kejadian nyata, dan semoga engga ada yang seperti itu).

Contoh lain, kita kan sering banget tuh ngomongin teman kita, misalnya “Eh, si anu tu bodoh banget, masak disuruh ngerjain yang gampang begini aja lama dan hasilnya parah lagi” padahal kita sendiri kalau disuruh ngerjain hal itu juga belum tentu bisa cepat dan hasilnya memuaskan.

Integritas merupakan Tembok yang Kokoh bagi kita. Sama seperti Tembok Besar Cina yang melindungi Cina dari serangan musuh, integritas juga merupakan pelindung kita dari serangan musuh. Musuh-musuh ini bisa termasuk orang2 yang belum percaya pada Kristus.

Apa jadinya coba jika orang-orang yang belum percaya melihat orang yang “ngakunya” percaya Kristus, tapi tidak memiliki integritas? Hmm….. sama seperti Cina di jaman dahulu yang tidak memiliki Tembok Besar Cina. Mudah diserang dan tidak seusai dengan image Cina yang sudah terkenal sebagai bangsa besar.

Kita sendirilah yang menghidupi Injil itu melalui perbuatan diri kita sehari-hari, bagaimana kita berbicara, dan bagaimana tindakan kita. Lalu orang lain membacanya, apakah kita benar-benar menunjukkan citra Allah melalui hidup kita.

Ini bukanlah hal yang mudah tentunya, karena saya yakin mempunyai integritas itu benar-benar butuh perjuangan yang berat. Kita bisa saja di satu saat mempunyai integritas, tapi di saat yang lain, kita menjadi inkonsisten dan memakan omongan sendiri. Kita juga pasti akan mengalami apa yang namanya cobaan dan rintangan.

Tapi kita tak perlu khawatir, Allah sendiri yang akan menolong dan memampukan kita.

Persembahkan hidup kita kepada Tuhan. Dengan apa? Integritas. Sebuah ketaatan. Sebuah konsistensi terhadap Tuhan. Dan biarlah seperti Tembok Besar Cina, yang menjadi satu dari keajaiban dunia, integritas juga menjadi satu dari keajaiban Allah dalam hidup kita. Dan seperti bangsa Cina yang menjadi termasyhur dan memiliki ikon yaitu Tembok Besar Cina, biarlah kita menjadi terang dan berkat bagi orang lain, dengan itu Injil akan tersebar dan Allah yang akan dipermuliakan oleh semua orang.

Photo oleh Steve Weber

Tidak Adil

Rabu, 9 Juni 2010

Baca: Mazmur 103:1-10

Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita. —Mazmur 103:10

“Tidak adil!” Apakah kita pernah mengatakan hal ini atau setidaknya hanya memikirkannya, kita harus mengakui bahwa sangatlah menjengkelkan bila kita melihat seseorang yang bersalah, tetapi tidak mendapatkan hukuman yang pantas diterimanya. Kita telah mempelajari hal ini di awal usia kita. Coba tanyakan kepada orangtua yang mempunyai anak remaja. Anak-anak tidak suka ketika melihat saudaranya tidak dihukum ketika melakukan kesalahan. Itulah sebabnya mereka suka saling membicarakan kesalahan orang lain. Namun, kita sebenarnya  tidak pernah terlepas dari masalah ini. Menurut pemikiran kita, keadilan berarti orang berdosa layak mendapatkan amarah Allah dan kita, sebagai orang yang baik, layak mendapatkan pujian dari-Nya.

Namun, bila Allah benar-benar “adil”, kita semua sudah pasti tidak dapat lolos dari penghakiman-Nya! Kita dapat bersyukur karena: “Tidak dilakukan [Allah] kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita” (Mzm. 103:10). Kita seharusnya bersukacita, dan bukan mengeluh, bahwa Allah lebih memilih berbelas kasih daripada menuntut keadilan, bahkan bagi mereka yang tidak layak dan terhilang tanpa harapan. Ketika kita merenungkan hal ini, kapan terakhir kali kita memilih untuk berbelas kasih daripada menuntut keadilan pada orang yang menyakiti kita?

Belas kasih Allah dan bukan keadilan-Nya yang telah mendorong-Nya untuk menyelamatkan kita sehingga surga dapat berpesta pora saat kita bertobat (Luk. 15:7). Secara pribadi, saya bersyukur bahwa Allah tidak berlaku “adil” terhadap saya! Anda setuju, bukan? —JMS

Kebaikan yang tak layak kita dapatkan;
Kasih, ketika kita telah berpaling dari Allah;
Belas kasih, ketika kasih-Nya telah kita tolak
Itulah anugerah Allah! —NN.

Kita dapat berbelas kasih kepada sesama,
karena Allah terlebih dulu berbelas kasih kepada kita.

Tolonglah Saya

Selasa, 8 Juni 2010

Baca: Mazmur 139:7-12

Biarlah tangan-Mu menjadi penolongku, sebab aku memilih titah-titah-Mu. —Mazmur 119:173

Baru-baru ini saya pergi memancing dengan beberapa teman dan menyeberangi arus sungai yang terlampau kuat untuk kedua kaki saya yang menua ini. Saya seharusnya lebih berhati-hati karena arus yang kuat seperti itu dapat menyeret saya hingga tidak dapat tertolong lagi.

Saya diliputi kepanikan sama seperti ketika Anda menyadari bahwa Anda sedang menghadapi bahaya besar. Jika saya maju satu langkah lagi, saya pun akan terseret arus dan tamatlah riwayat saya.

Saya melakukan satu hal yang terpikirkan saat itu: berseru kepada teman yang berdiri paling dekat dengan saya, yang memang lebih muda dan lebih kuat dari saya. “Hey, Pete! Tolonglah saya!” Pete menyeberangi arus tersebut, mengulurkan tangannya yang kuat, dan menarik saya ke air tenang.

Beberapa hari kemudian, ketika saya sedang membaca Mazmur 119, saya sampai di ayat 173: “Biarlah tangan-Mu menjadi penolongku, sebab aku memilih titah-titah-Mu.” Segera saya teringat pada saat saya terjebak arus dan pada saat-saat lain ketika saya “menyeberangi” berbagai situasi yang sulit, dan dengan rasa percaya diri yang berlebihan, sehingga saya membahayakan diri sendiri atau orang-orang yang saya kasihi. Mungkin Anda mengalami keadaan tersebut sekarang ini.

Ada pertolongan terdekat, seorang Sahabat yang jauh lebih kuat dari Anda dan saya—Pribadi yang tangan-Nya memegang kita (Mzm. 139:10). Sang pemazmur berkata, “Punya-Mulah lengan yang perkasa, kuat tangan-Mu dan tinggi tangan kanan-Mu” (89:14). Anda dapat berseru kepada Allah, “Tolonglah saya!” dan Dia akan segera menyertai Anda. —DHR

Jangan takut, Aku besertamu—Oh, janganlah takut
Karena Aku adalah Allahmu, Aku akan memberimu pertolongan;
Aku akan menguatkanmu, menolongmu, dan mendukungmu,
Peganglah tangan Anugerah, Maha Kuasa-Ku. —NN.

Ketika kemalangan menerjang, Allah siap menguatkan kita.

Murah Hati

Senin, 7 Juni 2010

Baca: 1 Korintus 15:1-11

Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. —1 Petrus 4:10

Minggu lalu saya mempunyai beberapa kesempatan untuk menunjukkan kemurahan hati. Saya tidaklah sempurna, tetapi saya cukup puas dengan cara saya khususnya ketika menangani satu situasi tertentu. Alih-alih marah, saya malah berkata, “Aku paham bagaimana hal itu bisa terjadi. Yang pasti aku punya andil juga dalam kesalahan itu,” dan saya tidak membela diri.

Menurut ukuran saya sendiri, saya merasa layak mendapatkan nilai tinggi. Mungkin tidak sempurna, tetapi cukup mendekati. Seharusnya saya malu untuk mengakui, bahwa di dalam benak saya terbersit pikiran bahwa dengan demikian saya berharap di kemudian hari saya akan diperlakukan dengan cara yang sama.

Hari Minggu berikutnya kebaktian di gereja kami sedang menyanyikan pujian “Ajaib Benar Anugerah” dan tiba-tiba sikap saya yang memalukan tersebut muncul di benak saya ketika pujian ini sampai pada kalimat, “Ajaib benar anugerah pembaru hidupku, kuhilang, buta, bercela.”

Betapa salahnya pemikiran saya! Kemurahan hati  yang kita berikan kepada sesama bukanlah berasal dari kita sendiri. Satu-satunya alasan kita dapat “memberi” dengan murah hati adalah karena Allah telah terlebih dahulu bermurah hati kepada kita. Kita hanya dapat meneruskan apa yang sudah kita terima dari-Nya.

Penatalayan yang baik mencari berbagai kesempatan untuk meneruskan kepada sesama apa yang telah kita terima dari Tuhan. Kiranya kita semua menjadi “pengurus yang baik dari kasih karunia Allah” (1 Ptr. 4:10). —JAL

Kesempurnaan kasih Allah yang tak tertandingi
Bersinar dari Kalvari;
Betapa besar belas kasih, anugerah yang ditunjukkan-Nya
Saat Yesus mati di kayu salib. —NN.

Saat Anda mengalami kasih karunia Allah, pasti Anda ingin menyatakannya.