Sumbernya

Jumat, 11 November 2022

Baca: Markus 7:14-23

7:14 Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: “Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah.

7:15 Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”

7:16 (Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!)

7:17 Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu.

7:18 Maka jawab-Nya: “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya,

7:19 karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal.

7:20 Kata-Nya lagi: “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,

7:21 sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan,

7:22 perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.

7:23 Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah! —Mazmur 51:12

Pada tahun 1854, ribuan orang di London mati karena sesuatu. Mungkin karena kondisi udara yang buruk, pikir orang-orang. Ketika udara panas yang tidak lazim memanggang air Sungai Thames yang tercemar, bau yang menguar di udara begitu menyengat, sampai-sampai peristiwa itu dikenal sebagai “The Great Stink” (Bau Hebat).

Namun, permasalahan utamanya bukanlah pada udara. Sebuah riset yang diadakan Dr. John Snow menunjukkan air yang terkontaminasi sebagai penyebab munculnya epidemi kolera.

Manusia sebenarnya sudah lama menyadari adanya krisis lain, yang mengeluarkan bau busuk sampai ke surga. Kita hidup di dunia yang sudah rusak—dan kita cenderung salah dalam mengidentifikasi sumber masalahnya, sehingga yang kita obati hanya gejalanya. Program sosial dan kebijakan yang tepat memang baik, tetapi tidak mampu menghentikan akar permasalahan dari penyakit terbesar manusia, yakni hati yang penuh dosa!

Ketika Yesus berkata, “Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya,” Dia tidak mengacu pada penyakit fisik (Mrk. 7:15), melainkan sedang mendiagnosis kondisi rohani setiap manusia. “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya,” ujar Yesus (ay.15), yang lalu menyebutkan serangkaian kekejian yang mengintai dalam diri kita (ay.21-22).

“Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan,” tulis Daud (Mzm. 51:7). Itu juga menjadi ratapan kita semua. Sejak awal kita telah rusak oleh dosa. Itulah sebabnya Daud berdoa, “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah” (ay.12). Setiap hari, kita memerlukan hati yang diperbarui, yang dijadikan Yesus melalui Roh-Nya.

Daripada hanya mengobati gejala yang ada, kita perlu membiarkan Yesus menyucikan sumber masalahnya. —TIM GUSTAFSON

WAWASAN
Dalam Markus 7:13-17, kita bertemu dengan tiga kelompok orang. Di ayat 13, Yesus memberikan nasihat yang ditujukan kepada segolongan kecil manusia—para pengajar Taurat. Kristus melihat dengan jelas bagaimana mereka telah menciptakan suatu celah yang luar biasa besar untuk menyimpangkan maksud yang sebenarnya dari hukum Allah, dan Dia berkata, “Firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu.” Setelah menegaskan maksud-Nya kepada mereka, Yesus berbalik kepada orang banyak dan berkata dalam pendengaran para pengajar Taurat tadi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (ay. 15). Mulai dari ayat 17, murid-murid Kristus menghampiri-Nya secara pribadi dan menanyakan arti pengajaran-Nya. Dia mengulang inti pengajaran-Nya, yaitu bahwa bukan apa yang masuk ke dalam perut seseorang yang menajiskannya. Markus kemudian menyisipkan catatan, “Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal” (ay. 19). —Tim Gustafson

Sumbernya

Bagaimana selama ini kamu mungkin hanya mengobati gejalanya, daripada membiarkan Yesus membersihkan sumber masalahnya? Bagaimana kamu dapat membagikan kabar baik tentang apa yang telah Yesus perbuat bagi kamu?

Bapa Surgawi, jagalah hatiku dan tolonglah aku memperhatikan tuntunan Roh-Mu di dalam diriku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 50; Ibrani 8

Si Takut dan Lemah Hati yang Jadi Pahlawan

Allah menyebut Gideon “gagah berani”.

Nah, sama seperti Allah menyertai dan memperlengkapi Gideon, demikian pula Dia menyertai kita. Dan, gak cuma menyertai, Allah juga menyediakan semua yang kita butuhkan untuk hidup mengikut dan melayani Dia, dalam perkara kecil maupun besar.

Warisan Persahabatan

Kamis, 10 November 2022

Baca: Amsal 27:6-10

27:6 Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah.

27:7 Orang yang kenyang menginjak-injak madu, tetapi bagi orang yang lapar segala yang pahit dirasakan manis.

27:8 Seperti burung yang lari dari sarangnya demikianlah orang yang lari dari kediamannya.

27:9 Minyak dan wangi-wangian menyukakan hati, tetapi penderitaan merobek jiwa.

27:10 Jangan kautinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Jangan datang di rumah saudaramu pada waktu engkau malang. Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh.

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu. —Amsal 17:17

Saya bertemu dengan teman saya ini pada dekade 1970-an. Saat itu saya masih menjadi guru bahasa Inggris dan pelatih basket di SMA, dan ia anak baru bertubuh kurus tinggi. Tak lama kemudian ia bergabung dalam tim basket dan kelas saya—dan kami pun bersahabat. Teman ini, yang bertahun-tahun menjadi rekan editor saya, berdiri di depan saya pada pesta perpisahan saat saya pensiun untuk bercerita tentang warisan persahabatan kami yang telah terjalin lama.

Bagaimana pertemanan yang dipersatukan oleh kasih Allah dapat menguatkan kita dan mendekatkan kita kepada Yesus? Penulis Amsal mengerti bahwa pertemanan memiliki dua komponen yang membesarkan hati. Pertama, teman sejati memberi nasihat yang berharga, meski itu tidak selalu mudah diterima atau diberikan (27:6): “Seorang kawan memukul dengan maksud baik,” jelas penulis Amsal. Kedua, teman yang berada di dekat kita dan dapat dihubungi memiliki arti penting saat kita menghadapi krisis. “Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh” (ay.10).

Tidak baik bagi kita untuk melangkah seorang diri dalam hidup. Ini seperti kata Salomo, “Berdua lebih menguntungkan daripada seorang diri. Kalau mereka bekerja, hasilnya akan lebih baik” (Pkh. 4:9 bis). Dalam hidup, kita perlu memiliki teman dan juga menjadi teman. Kiranya Allah menolong kita untuk “saling mengasihi sebagai saudara” (Rm. 12:10) dan “saling membantu menanggung beban” (Gal. 6:2 bis). Artinya, kita menjadi teman yang dapat menyemangati dan mendekatkan orang lain kepada kasih Yesus. —DAVE BRANON

WAWASAN
Di dalam Alkitab, kata teman (sahabat/kawan) muncul beberapa kali. Dalam Kitab Ayub, Ayub menyesali perilaku mereka yang tadinya ia anggap sahabat (Ayub 12:4; 19:14). Dalam Kitab Mazmur, Daud bergumul soal sahabat-sahabat yang pernah mengkhianatinya (Mazmur 31:12; 38:12; 41:10; 55:13-15; 109:4-5). Kitab Amsal memberikan kata-kata yang membantu kita memahami persahabatan yang benar dan yang salah. Kita melihat dua acuan itu dalam bacaan hari ini (Amsal 27:6,10). Nasihat bijak dari Amsal berikutnya antara lain: “seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib” (16:28); dan “Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah” (22:24). Mungkin ini gambaran yang terbaik: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran” (17:17). Seperti yang dialami Abraham dan Musa, sahabat sejati dan kawan terbaik kita adalah Allah sendiri (Keluaran 33:11; Yakobus 2:23). —Alyson Kieda

Warisan Persahabatan

Dalam hal apa kamu mungkin telah menutup diri dari orang lain? Bagaimana kamu dapat selalu terhubung dengan orang-orang percaya lainnya agar terus menyemangati satu sama lain?

Ya Allah, selidikilah hatiku saat aku melihat teman-teman yang kumiliki. Tolonglah aku agar dapat memberi nasihat yang berpusat pada Kristus dan juga rela menerima nasihat yang bijak dari mereka.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 48-49; Ibrani 7

Kamu Diutus Jadi Saksi bukan Hakim

Oleh Joshua Effendy, Semarang

Kita tidak dipanggil menjadi Hakim, kita dipanggil untuk menjadi saksi.

Kalimat ini aku dengar ketika mendengar khotbah dari rohaniwan di gerejaku. Sebuah kalimat yang menyadarkan dan mencelikkan kembali mata imanku yang mulai terpejam. Memang pada saat itu aku sedang ragu-ragu untuk memilih: bersaksi tentang Tuhan kepada temanku yang beragama lain dengan risiko pertemanan yang merenggang atau tidak bersaksi dan pertemanan ini berjalan tanpa embel-embel iman. Selama ini, aku merasa bahwa pertemanan seharusnya murni tanpa ada motivasi-motivasi untuk ‘Kristenisasi’, tetapi aku selalu punya dorongan dan keinginan untuk mendoakannya secara langsung, bahkan mengajaknya ke gereja. Aku diingatkan kembali, “bukankah setiap orang adalah gambar dan rupa Allah yang seharusnya menjadi cerminan Allah di dunia ciptaan-Nya?” Artinya, kehadiran kita harusnya menjadi cerminan bagaimana kasih sayang Allah hadir bagi mereka yang belum percaya juga, sehingga mereka rindu mengenal Allah.

Singkat cerita, akhirnya aku memberanikan diri untuk mendoakan dia di saat ada masalah, bahkan mengundangnya untuk datang persekutuan pemuda di gerejaku dalam event-event khusus. Puji Tuhan, yang aku takutkan justru tidak terjadi. Bahkan, sampai saat ini kami sering bertukar kabar, membagikan ayat Alkitab dan saling mendoakan.

Dari peristiwa itu, aku memahami bahwa sejak manusia diciptakan, manusia dipilih untuk menjadi ‘wakil-wakil Allah’.  Artinya, kita dipanggil untuk menjadi ‘rekan kerja Allah’, untuk mengatur dan mengelola dunia ciptaan-Nya. Kejatuhan dalam dosa membuat manusia tidak lagi mencerminkan Allah, tetapi mencerminkan egonya masing-masing. 

Aku meyakini, bahwa banyak orang yang dipanggil Tuhan untuk menerima panggilan menjadi orang percaya, tetapi sedikit yang dipilih untuk menikmati anugerah ini. Mereka yang dipilih Tuhan, pastinya menerima panggilan itu dengan sukacita, tetapi mereka yang tidak dipilih, menghidupi panggilan itu dengan setengah hati. Sebagaimana Firman Tuhan menyatakan bahwa ‘banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih’ (Mat. 22:14), menunjukkan secara jelas bahwa ada orang-orang yang menerima panggilan Tuhan namun tidak sungguh-sungguh mengerjakan panggilan itu, tetapi ada juga orang-orang pilihan Allah yang dengan sepenuh hati mengerjakan panggilan sebagai orang percaya. Bagiku, ada perbandingan lurus antara orang yang dipilih dengan yang tidak: seseorang yang sepenuh hati mengikut Tuhan, pasti mengerjakan panggilannya dengan sepenuh hati, sedangkan seseorang yang setengah hati mengerjakan panggilan itu, maka juga tidak mungkin mengikut Tuhan sepenuh hati pula. Motivasi hati di dalam menjalani panggilan itu bukan soal baiknya, pintarnya, cakapnya kita, melainkan hanya kasih karunia Tuhan semata yang memanggil dan memilih setiap kita untuk menjadi saksi-Nya.

Jadi, panggilan berbicara mengenai kehendak bebas manusia, sedangkan pilihan berbicara tentang kedaulatan Tuhan yang memilih suatu kelompok untuk menerima panggilan itu. Seseorang yang terpanggil, belum tentu mau menundukkan dirinya menjadi orang pilihan Allah untuk bersaksi. Semuanya murni adalah kasih karunia Allah dan karya Roh Kudus. Melalui penebusan Yesus, panggilan sebagai umat Allah pun dipulihkan juga, yaitu menjadi imamat rajani [religious leaders – terjemahan NLV] (1 Petrus 2:9). Dalam kehendak bebasnya, orang percaya tetap beroleh kebebasan untuk memilih: mengikuti atau mengabaikan panggilan Tuhan.

Panggilan Tuhan bagi orang percaya adalah agar kita menjadi imam-imam (spiritual leaders) yang membawa orang lain untuk mengenal Dia dengan mewartakan berbagai perbuatan-Nya, atau jika aku sederhanakan yaitu menjadi saksi-saksi Tuhan. Bukankah panggilan untuk menjadi terang dan garam dunia berbicara tentang menjadi saksi yang memberikan dampak lewat kehidupan kita?

Tapi, coba kita lihat kehidupan kita saat ini: lebih sering menjadi saksi, atau justru menjadi hakim? Tanpa aku sadari, aku pun cenderung menjadi hakim bagi sesamaku. Julid, gossip, melontarkan komentar-komentar buruk, bahkan merendahkan adalah wujudnyata bagaimana aku yang seharusnya menjadi saksi justru menghakimi. Ada banyak alasan kita lebih mudah menghakimi orang lain daripada menjadi saksi: salah satunya adalah harga diri. Jika kita meletakkan harga diri pada hal-hal tertentu, maka kita akan merasa berhak untuk menghakimi orang lain yang tidak mencapai ‘standar’ kita. Oleh sebab itulah, ketika kita menghakimi orang lain, kita selalu menempatkan posisi kita (harga diri) di atas orang yang kita hakimi itu. Seolah-olah ‘si aku’ adalah si paling benar dalam perkara itu. Perenunganku beberapa hari ini membawaku kepada satu kesimpulan: sebagai seorang saksi sudah saatnya untuk kita bersaksi!

Sebenarnya, menjalani panggilan Tuhan sebagai saksi-saksi-Nya tidak seberat dan sesulit yang kita bayangkan. Kita keburu overthinking yang berujung takut sehingga tidak berani menjadi saksi-saksi-Nya. Padahal, jika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, maka tidak ada rasa takut yang membuat kita kesulitan untuk bersaksi tentang-Nya (1 Yoh.4:13-18).

Jadi, bagaimana cara kita menjadi saksi-saksi Tuhan di zaman now?

1. Tuhan dulu, saya kemudian.

Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.

(Yohanes 3:30)

Ketika Yohanes diberitahu para muridnya bahwa ada seorang bernama Yesus yang membuat banyak pengikut Yohanes pindah haluan, responnya adalah teladan bagi setiap kita: ‘Ia harus makin dikenal, tetapi aku harus makin kecil’. Sanggupkah kita berkata demikian ketika kita dihujani pujian, sanjungan, dan hormat pada momen puncak kita?

Aku pun memiliki kecenderungan untuk jatuh dalam tinggi hati dan mengambil semua pujian dan hormat orang untukku sendiri. Menjadi saksi Tuhan mengingatkan kita bahwa tugas kita adalah menceritakan tentang Tuhan yang kita saksikan, bukan tentang kehebatan kita sebagai saksi-Nya. Kalaupun Tuhan memakai kesaksian kita untuk menggerakkan orang menjadi percaya, itu semua adalah karena-Nya, bukan karena kita.

Tinggi hati mendahului kehancuran (Ams. 18:12), banyak tokoh-tokoh Alkitab yang berusaha membuktikan dirinya sendiri dan menomorduakan Tuhan justru berujung pada kehancuran. Bahkan Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa ketika mereka ingin menjadi seperti Allah. Setiap orang yang menggantikan Allah sebagai yang nomor satu dalam hatinya pasti berujung kepada penyesalan dan terikat dengan hal sia-sia. 

Tujuan kita bersaksi bukanlah agar banyak orang mengenal diri kita, melainkan agar banyak orang boleh mengenal pribadi Tuhan melalui kehidupan kita. Jangan kejar ketenaran dan pujian manusia, kejarlah perkenanan Tuhan. ‘It is better to have God’s approved, than world’s applaud’.

2. Nikmati Tuhan, Nikmati Panggilan

“Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun” (Mazmur 89:2).

Mengapa kita tidak pernah menikmati panggilan Tuhan untuk bersaksi? Karena kita tidak terlebih dahulu menikmati Dia sebagai Pribadi yang akan kita ceritakan kepada orang lain. Aku pasti kesulitan ketika mau bercerita tentang enaknya masakan Mbok Inem jika tidak mencobanya terlebih dahulu, beda cerita jika aku pernah bahkan sering menikmati enaknya masakan Mbok Inem. Pasti dengan mudahnya aku bisa menceritakan bahkan sampai hafal secara detil rasa bahkan menu yang dimasaknya.

Kita seringkali kesulitan bersaksi dan bingung ‘mau cerita dari mana’, karena kita tidak menikmati Tuhan terlebih dahulu. Menjadi seorang saksi berarti menceritakan hal-hal yang dilihat, dialami, dirasakannya sehingga ceritanya otentik tanpa perlu dibumbui apapun. Pemazmur hendak menyaksikan kasih setia Tuhan dari generasi ke generasi oleh karena ia sendiri mengalami dan menikmati Tuhan.

Seringkali kita tidak menikmati panggilan sebagai saksi bahkan menganggapnya sebagai beban, karena kita sendiri belum mencicipi kasihnya Tuhan. Aku yakin, sekali kita mencicipi kasih Tuhan, mulut kita tidak akan pernah berhenti menceritakan tentang-Nya. Kita akan berusaha menceritakan bagaimana Tuhan bekerja dan apa yang Tuhan buat dalam hidup kita kepada orang lain.

Panggilan Tuhan untuk menjadi seorang saksi bukanlah panggilan yang mengekang kebahagiaan diri kita, membuat kita terbeban dan kesulitan, tetapi adalah panggilan yang sudah disetel sejak kita dipilih bahkan dikenal-Nya sebelum kita diciptakan. Bagiku, ketika kita menghidupi panggilan itu, sekalipun kita disalah pahami, dicela, dianggap sok suci, mengalami sakit hati, dan hal tidak mengenakkan lainnya, hati kita tetap memiliki sukacita yang membuat kita terus menyaksikan Tuhan – lewat perkataan ataupun sikap hidup kita.

3. Beraksi tanpa tunggu instruksi

“Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar” (Kisah Para Rasul 22:15).

Perjalanan 1000km diawali dengan sebuah langkah pertama, dan langkah pertama itulah yang paling sulit untuk dilakukan. Aku pun cenderung overthinking sebelum bersaksi ‘What if’. ‘bagaimana jika aku ditolak, bagaimana jika aku dipermalukan, dijauhi, dimusuhi, bahkan ditindas karena bersaksi tentang Tuhan? Bagaimana jika aku tidak mengerti apa yang harus dijawab ketika mereka menanyakan tentang pokok Kekristenan?’ dan berbagai pikiran lainnya.

Semua alasan-alasan itu adalah cara kita untuk menunda bersaksi bagi Tuhan. Padahal, bersaksi tidak perlu menunggu instruksi melainkan intuisi (kepekaan). Di saat ada momen yang Tuhan sediakan dan ada kegerakan, disitulah kita bercerita tentang Tuhan.

Bersaksi juga tidak harus selalu dengan cara-cara yang selama ini terpikir: menginjili orang lain sampai percaya. Bersaksi dapat kita lakukan dengan membagikan renungan dari pembacaan Alkitab kita di medsos, membagikan ayat-ayat Alkitab, membagikan konten-konten rohani, atau berusaha hidup seturut Firman. Namun, bukan berarti ketika kita menemukan renungan yang pas dan menegur kita bagikan itu secara sengaja agar orang lain tertegur dan kita justru menghakimi mereka dengan ayat-ayat atau renungan yang kita bagikan. Itu adalah cara menghakimi yang terselubung. Bahkan, bukan berarti kita terjatuh dalam oversharing yang membanjiri timeline ataupun story dengan berbagai hal rohani – entah agar dilihat sebagai seorang yang rohani, ataupun asal share tanpa merenungkan bahkan menyaring dengan baik apa yang kita bagikan. Ingat: Saring sebelum sharing, dan motivasi hati kita adalah untuk membagikan berkat Tuhan, bukan menampilkan ‘si aku’ di atas segala-galanya, dan hanya ‘nampak rohani’ di media sosial saja.

Perenungan terhadap firman Tuhan harus terlebih dahulu mengena pada ‘si aku’, sehingga kita mengalami perubahan hidup untuk semakin diperlengkapi menjadi saksi-saksi Tuhan. Sesederhana itu cara bersaksi, namun Tuhan dapat memakai cara-cara yang sederhana itu untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Kita tidak perlu takut dan khawatir, ketika kita bersaksi tentang Tuhan, maka Ia sendiri yang akan menjaga dan mengurapi kita untuk dapat memberitakan perbuatan besar dari-Nya.

***

Sekaranglah waktunya bagi kita orang percaya untuk beraksi menjadi saksi Tuhan. Melalui kehadiran kita yang menjadi saksi, maka akan banyak jiwa-jiwa yang diselamatkan. Ketika kita mau meresponi panggilan Tuhan atas hidup kita, Tuhan pun akan menolong dan memampukan kita untuk menjalani panggilan itu. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya. (1 Tesalonika 5:24). Tuhan Memberkati.

Soli Deo Gloria.

Bijaksana atau Bebal?

Rabu, 9 November 2022

Baca: Efesus 5:15-17

5:15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,

5:16 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.

5:17 Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.

Usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. —Efesus 5:17

Sewaktu berumur sepuluh tahun, saya pernah membawa pulang sebuah kaset band Kristen yang memainkan lagu-lagu kontemporer dari seorang teman di kelompok pemuda. Ayah saya, yang dibesarkan dalam keyakinan lain tetapi sekarang sudah menerima keselamatan dalam Yesus, tidak menyukainya. Ia hanya mau lagu-lagu rohani saja yang dimainkan di rumah kami. Saya mencoba menjelaskan bahwa itu band Kristen, tetapi Ayah bergeming. Beberapa waktu kemudian, ia menyarankan agar saya mendengarkan lagu-lagu itu selama seminggu, lalu memutuskan apakah lagu-lagu tersebut menarik saya lebih dekat kepada Allah atau malah menjauh dari-Nya. Saran ayah saya itu cukup bijaksana.

Ada hal-hal dalam hidup ini yang terlihat jelas benar atau salahnya, tetapi sering kali kita bergumul dengan hal-hal yang menimbulkan perbedaan pendapat (Rm. 14:1-19). Saat memutuskan apa yang akan dilakukan, kita dapat mencari hikmat dalam Alkitab. Paulus mendorong orang-orang percaya di Efesus, “Perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif” (Ef. 5:15). Seperti orangtua yang baik, Paulus tahu bahwa ia tidak mungkin berada di sana atau memberi instruksi untuk segala situasi. Jika mereka ingin “[mempergunakan] waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat,” mereka perlu berpikir dengan bijak dan berusaha “mengerti kehendak Tuhan” (ay.16-17). Kehidupan yang bijak adalah sebuah undangan untuk mengejar kebijaksanaan dan mengambil keputusan yang baik seturut tuntunan Allah atas kita, bahkan di saat kita bergumul dengan hal-hal yang mungkin menimbulkan perbedaan pendapat. —GLENN PACKIAM

WAWASAN
Untuk dapat menjalani hidup yang penuh makna, suatu hidup yang “berpadanan dengan panggilan” kita (Efesus 4:1), Paulus menasihati orang percaya agar mereka memperhatikan baik-baik cara hidup mereka, dan menggunakan “sebaik-baiknya setiap kesempatan yang ada” untuk berbuat baik (5:15-17 BIS). Orang yang berhati-hati akan berlaku bijak, karena orang yang tidak bijak atau orang bodoh akan hidup masa bodoh dan serampangan (Amsal 12:15; 14:16). Hidup dengan saksama berarti menjalani hidup sebagai “anak-anak terang” dan berjuang untuk melakukan “apa yang berkenan kepada Tuhan” (Efesus 5:8,10). Di dalam suratnya yang lain, Paulus berkata “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada” untuk mengabarkan Injil (Kolose 4:5). Kepada umat percaya di Galatia, ia berkata, “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, . . . selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Galatia 6:9-10). —K.T. Sim

Bijaksana atau Bebal?

Bagaimana kamu dapat membedakan apa yang bijak dan apa yang bodoh saat harus mengambil keputusan? Bagaimana kamu dapat mencari pimpinan Allah dalam hal tersebut?

Tuhan Yesus, tanamkanlah hati yang penuh hikmat dalam diriku. Mampukan aku menjalani hidupku dengan cara yang selalu membawaku semakin dekat pada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 46-47; Ibrani 6

Lockscreen Matius 20:28

“sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28).

Lockscreen ini dibuat oleh Yanti Agustin.

Yuk download dan gunakan lockscreen ini di HP kamu.

Mengasihi Sesama

Selasa, 8 November 2022

Baca: Imamat 19:15-18

19:15 Janganlah kamu berbuat curang dalam peradilan; janganlah engkau membela orang kecil dengan tidak sewajarnya dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang besar, tetapi engkau harus mengadili orang sesamamu dengan kebenaran.

19:16 Janganlah engkau pergi kian ke mari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia; Akulah TUHAN.

19:17 Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia.

19:18 Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam . . . , melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. —Imamat 19:18

Dalam masa-masa isolasi mandiri dan pembatasan di tengah pandemi virus corona, kata-kata Martin Luther King Jr. dalam “Surat dari Penjara Birmingham” yang ditulisnya terasa sangat tepat. Ia mengatakan, ketika berbicara tentang ketidakadilan, ia tidak bisa duduk diam di satu kota tanpa mencemaskan apa yang terjadi di kota lain. “Tak terhindarkan bahwa kita semua terperangkap dalam jaringan yang sama,” ia berkata, “terikat dalam satu nasib yang sama. Apa pun yang mempengaruhi seseorang secara langsung, mempengaruhi kita semua secara tidak langsung.”

Demikian pula, pandemi COVID-19 semakin mempertegas keterhubungan kita saat kota-kota dan negara-negara di seluruh dunia ditutup untuk menghentikan penyebaran virus. Apa yang mempengaruhi satu kota dapat langsung mempengaruhi kota lain.

Berabad-abad lalu, Allah memerintahkan kepada umat-Nya untuk menunjukkan kepedulian terhadap orang lain. Melalui Musa, Dia memberikan hukum kepada orang-orang Israel untuk menuntun dan menolong mereka hidup bersama. Dia memerintahkan mereka: “Janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia” (Im. 19:16); mereka juga tidak boleh membalas atau mendendam terhadap orang lain, melainkan diperintahkan Allah: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ay.18). Allah tahu bahwa komunitas akan tercerai-berai jika orang tidak lagi memperhatikan sesamanya, dengan menghargai kehidupan orang lain seperti menghargai kehidupan mereka sendiri.

Marilah kita juga menyambut hikmat dari perintah Allah tersebut. Saat melakukan aktivitas sehari-hari, kita bisa mengingat betapa kita sebenarnya terhubung satu sama lain, karena itu mintalah kepada-Nya agar kita dapat mengasihi dan melayani orang lain dengan baik. —AMY BOUCHER PYE

WAWASAN
Gordon J. Wenham, seorang penafsir Alkitab, menunjukkan betapa mudahnya pembaca masa kini melewatkan hubungan antara ayat 15 dan 16 dari Imamat 19. Konsep kuncinya di sini adalah sesama. Di dalam komunitas bangsa Israel, proses hukum tidak berlangsung di suatu lokasi pengadilan di tempat jauh, melainkan di dalam komunitas itu sendiri, bahkan sering kali dalam lingkungan yang sama. Oleh karena itu, perilaku gosip, fitnah, atau langsung menghakimi seseorang yang Anda kenal baik dan yang sedang menghadapi tuntutan hukum dapat menjadi godaan yang sangat nyata. Karena itu, ayat 17 menjadi nasihat yang wajar, yakni agar orang tidak menyimpan kebencian terhadap “saudara” sebangsanya, melainkan perlu berterus terang menegur mereka, bahkan sebelum konflik itu membutuhkan campur tangan hukum. Kemudian, nasihat itu mengarah kepada perintah terkenal agar kita mengasihi “sesama [kita] manusia seperti diri [kita] sendiri” (ay. 18). —Tim Gustafson

Mengasihi Sesama

Menurut kamu, mengapa Yesus mengulangi hukum Allah ketika Dia memberi tahu para pemuka agama untuk mengasihi sesama mereka seperti diri sendiri? Bagaimana kamu dapat melakukan perintah itu hari ini?

Ya Allah, mampukanku membagikan kasih dan rahmat-Mu hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 43-45; Ibrani 5

Pentingnya Jujur pada Diri Sendiri

Oleh Still Ricardo Peea

Bulan Oktober lalu diperingati sebagai bulan kesadaran kesehatan mental sedunia. Di bulan itu pula, ada satu kejadian yang menegur dan mengingatkanku lagi tentang kesehatan mental di tengah pelayananku di pedalaman Papua.

Ada seorang ibu mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Sebelum meninggal, dia mengisi celananya dengan uang dari hasil kerjanya. Menurut sahabat terdekatnya, almarhumah sering dirundung oleh beberapa tetangga dan kepada sahabatnya itu dia berkata bahwa dia akan pergi ke kampung halamannya. Namun, yang terjadi malah dia pergi untuk selamanya. Kakak perawat yang bertugas bersamaku juga berkata kalau tahun sebelumnya juga ada warga yang bunuh diri dengan cara yang sama.

Dua kejadian itu menggerakkanku untuk mencari tahu lebih jauh data-data terkait kesehatan mental. Namun, kusadari bahwa tanpa perlu menjelajahi penelitian dari seluruh dunia, isu kesehatan mental adalah sesuatu yang terus kita gumulkan dalam diri. Aku pun teringat akan kitab Mazmur, kitab yang kalau kata teolog John Calvin, adalah “anatomi dari keseluruhan bagian jiwa.”

Kadang aku suka membukanya dan membaca ayat-ayat yang kutemukan secara acak entah sebelum ke sekolah atau kuliah, saat bosan atau sedang ingin saja. Selalu saja ada bagian yang bisa kunyanyikan dalam hati atau renungkan tatkala aku merasa galau, gelisah, overthinking, cemas, insecure, bertanya-tanya, suka atau duka, meratap atau mengeluh, hari berat, hari biasa, saat Tuhan terasa jauh atau dekat. Mazmur menjadi curahan ekspresi jiwa para pemazmur dalam berbagai situasi yang terjadi di masa mereka, bagaimana mereka bergumul dan berproses dengan jiwanya dan apa yang akhirnya menjadi keputusan mereka.

Mungkin Mazmur 42 salah satu yang cukup mainstream buat kita karena sering dinyanyikan lagunya. Bagian awalnya tertulis, “seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Namun, muncul pertanyaan buatku: apakah yang bisa kurenungkan hanya hanya sebatas analogi diriku seperti rusa yang haus? Atau, seperti tanah gersang yang menanti air, apakah itu juga adalah kerinduan terbesar hatiku?

Di tengah banyaknya perspektif tentang kesehatan mental, seperti “insecure dan anxiety itu perlu biar kita stayin alive” dan lain sebagainya. Mazmur ini mengajakku untuk merenungkan kembali, mencoba memahami dan bertanya pada jiwaku, diriku sendiri apa yang menjadi kegelisahanku. Ya, Mazmur ini terasa seperti mengajakku untuk berseru, bersukacita, menangis, meratap atau berkeluh kesah, berinteraksi dan menegur diri sendiri, jujur akan kelemahan diri sendiri dan pada akhirnya berharap pada Pencipta kita yang paham betul ketidaksempurnaan kita. Dengan keadilan dan kasih-Nya yang sempurna Ia memulihkan kita.

Saat ini, banyak hal yang bisa jadi pemicu kegelisahan diri, entah saat merasa buntu atau tersesat, banyaknya pilihan yang ditawarkan dan dipamerkan dunia lewat media sosial ataupun lingkungan kita. Kadang hal-hal tersebut terasa seperti mengolok-ngolok kekurangan diri dan menuntunku bertanya apakah Allah benar-benar ada dan mencukupiku? Apakah kelegaan dan kepastian yang selama ini kudambakan benar-benar nyata atau hanya fiktif? Apakah keluargaku akan baik-baik saja? Dan berbagai pertanyaan yang menyerang diri sendiri setiap saat membuatku tidak baik-baik saja dan doa terasa tak berguna.

Mazmur 42 mengajakku bertanya dan mencoba jujur dengan diri sendiri. Aku tidak perlu ragu untuk bertanya dan jujur tentang apa yang aku rasakan meski kadang aku juga bingung dengan perasaan yang terus saja menggelisahkan diri. Setelah bercerita ke orang yang dipercaya, hasilnya kadang membuatku lega, tapi kadang juga tidak. Orang yang mendengarkanku pun kadang menanggapi tidak sesuai harapanku. Selain itu aku pun merasa lelah dengan beragam peristiwa di seluruh dunia seperti, serangan di Ukraina, bayi-bayi yang harus dievakuasi, korban di sana sini. Apakah Tuhan menutup mata dengan hal ini? Dan segudang pertanyaan lainnya.

Aku percaya bahwa Roh Kudus memampukanku berseru, mengeluh dan berharap dengan Tuhan, jujur akan kelemahan dan natur berdosaku. Roh Kudus juga menyadarkan dan mengingatkanku akan kesetiaan Tuhan yang terus menuntunku dalam segala masa, seperti dalam masa pelayanan sebagai perawat Covid, di mana aku merasa lelah karena berhadapan dengan kematian yang terasa sungguh dekat dengan ambang pintu. Baru semalam kudoakan pasienku, besoknya malah sudah tidak bernyawa. Namun, Tuhanlah yang memampukanku melayani sampai lulus. Dalam masa penantian untuk ke tempat penempatanku sekarang hingga aku positif COVID, Tuhan selalu menyanggupkanku.

Daud dalam seruannya di Mazmur 51 dan Tuhan Yesus dalam kisahnya di Matius 26:36-46, jadi contoh dari Alkitab yang menegurku untuk jujur akan perasaan dan berserah lebih lagi pada Tuhan. Tuhan Yesus mengajakku untuk datang pada-Nya dengan segala beban yang ada padaku (Matius 11:25-30), untuk belajar dari pada-Nya sang firman dan air hidup yang mampu melegakan kita (Mazmur 94:18-19). Dia mengajak kita untuk memikul beban yang Dia percayakan, belajar dan berpaut pada-Nya. Bukan kepada dunia yang hanya menggelisahkan dan memberikan kepuasan palsu.

Ke mana dan sejauh mana pikiran dan perasaanku mengembara akan menentukan sejauh mana aku akan berharap dan bertahan, atau keputusasaan akan melemahkanku.

Aku belajar untuk selalu menyanyikan dan mengingatkan jiwaku sampai aku tertegur dan sadar. Ingat dan hitunglah terus kasih setia Tuhan yang sudah kita alami. Tidak mengapa bila kita lemah, tak sempurna dan lelah, bawa semua itu pada-Nya dan jangan pikul apa yang tidak dipercayakan pada kita. Isi pikiran dan jiwa kita dengan memikirkan apa yang baik sebagaimana yang diingatkan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi (Filipi 4:8-9).

Aku menantang setiap kita untuk lakukan 3 hal berikut ini dalam 7 hari:

  1. Buatlah satu kertas atau catatan untuk menuliskan pertanyaan pada diri sendiri dan Tuhan akan segala keresahan, kegelisahan, kebimbangan atau perasaan apapun yang dirasakan di hari itu
  2. Satu hari tulislah satu ayat atau lebih yang dirasa bentuk kejujuran pada diri sendiri dan Tuhan, mengingatkan atau menegur atau mengajak kita untuk berharap dan berbalik sama Tuhan kita. Buatlah dalam satu kertas.
  3. Di 3 hari dalam 7 hari itu, lihatlah ke langit dan sekeliling kita sebentar, lalu lihat ke bawah, ke tangan dan kaki kita, lalu ingatkan diri sendiri “Hey, (nama), sejauh inilah Tuhan sudah menuntunmu melampaui segala suka dan dukamu, sakit dan senangmu. Mengapa tertekan dan resah? Ayo, (nama), berharap dan bersyukur pada penolong dan Bapa kita!

    Kiranya Tuhan memberkati dan senantiasa memelihara jiwa kita, untuk terus berpegang dan berharap pada-Nya.

Bersyukur untuk Hari Senin

Senin, 7 November 2022

Baca: Pengkhotbah 2:17-25

2:17 Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.

2:18 Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku.

2:19 Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh? Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat. Inipun sia-sia.

2:20 Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari.

2:21 Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Inipun kesia-siaan dan kemalangan yang besar.

2:22 Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?

2:23 Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia.

2:24 Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah.

2:25 Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?

Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada . . . bersenang-senang dalam jerih payahnya. —Pengkhotbah 2:24

Dulu saya sering takut menghadapi hari Senin. Terkadang, saat turun dari kereta untuk pergi ke tempat kerja yang dulu, saya akan duduk sebentar di stasiun, mencoba berlama-lama untuk tiba di kantor, walaupun untuk beberapa menit saja. Jantung saya berdebar kencang saat memikirkan tenggat yang harus dikejar dan menghadapi suasana hati bos yang emosional.

Bagi sebagian dari kita, memulai minggu kerja yang suram bisa jadi sangat sulit. Mungkin kita merasa kewalahan atau kurang dihargai dalam pekerjaan. Raja Salomo menjelaskan susah payahnya bekerja ketika ia menulis: “Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati” (Pkh. 2:22-23).

Walaupun raja yang penuh hikmat itu tidak memberi kita resep mujarab yang membuat pekerjaan kita lebih ringan atau lebih menjanjikan, ia menawarkan cara lain untuk memandang pekerjaan kita. Sesulit apa pun pekerjaan itu, ia mendorong kita untuk “menikmati” apa yang kita lakukan dengan pertolongan Allah (ay.24 bis). Mungkin itu terjadi ketika Roh Kudus memampukan kita untuk menunjukkan karakter seperti Kristus. Atau saat kita mendengar seseorang diberkati melalui pelayanan kita. Atau saat kita mengingat hikmat yang disediakan Allah untuk mengatasi suatu situasi pelik. Meski pekerjaan kita mungkin sulit, Allah yang setia selalu menyertai kita. Kehadiran dan kuasa-Nya dapat menerangi hari-hari yang suram sekalipun. Dengan pertolongan-Nya, kita dapat mensyukuri datangnya hari Senin. —POH FANG CHIA

WAWASAN
Kitab Pengkhotbah digambarkan sebagai “kitab yang mungkin paling mengherankan dan membingungkan bagi para pembaca Alkitab pada umumnya” (The New Unger’s Bible Handbook). Namun kitab tersebut juga memuat perenungan dan pengajaran yang menajamkan perspektif kita tentang apa yang sungguh-sungguh penting di dalam hidup ini. Frasa di bawah matahari dipakai hampir tiga puluh kali dan menggambarkan hidup dalam dunia yang tidak sempurna dan rumit dengan banyak anomali di dalamnya. Kata lain yang banyak diulang adalah kesia-siaan (atau sia-sia), yang dipakai lebih dari tiga puluh lima kali. Istilah itu menggambarkan perasaan frustrasi. Di saat yang sama, kitab hikmat ini mengajak kita memiliki perspektif yang melampaui keterbatasan pandangan kita dan membantu kita untuk melihat bahwa sikap terbaik bagi manusia dalam hidupnya di dunia ialah: “takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya” (12:13). —Arthur Jackson

Bersyukur untuk Hari Senin

Apa yang membuat kamu merasa lesu menghadapi hari Senin? Bagaimana kamu dapat bersandar pada pertolongan Allah untuk menemukan kepuasan dalam pekerjaan hari ini?

Allah yang setia, tolonglah aku untuk melihat hal baik yang Engkau mampukan untuk kucapai melalui pekerjaanku hari ini!

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 40-42; Ibrani 4