Diselamatkan dari Banjir

Sabtu, 17 September 2022

Baca: Mazmur 18:2-4,17-20

18:2 (18-3) Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!

18:3 (18-4) Terpujilah TUHAN, seruku; maka akupun selamat dari pada musuhku.

18:4 (18-5) Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku,

18:17 (18-18) Ia melepaskan aku dari musuhku yang gagah dan dari orang-orang yang membenci aku, karena mereka terlalu kuat bagiku.

18:18 (18-19) Mereka menghadang aku pada hari sialku, tetapi TUHAN menjadi sandaran bagiku;

18:19 (18-20) Ia membawa aku ke luar ke tempat lapang, Ia menyelamatkan aku, karena Ia berkenan kepadaku.

18:20 (18-21) TUHAN memperlakukan aku sesuai dengan kebenaranku, Ia membalas kepadaku sesuai dengan kesucian tanganku,

Ia . . . menarik aku dari banjir. —Mazmur 18:17

Pada bulan Agustus 2021 besar curah hujan di Waverly, Tennessee, tiga kali lipat dari yang diberikan ramalan cuaca. Dua puluh orang kehilangan nyawa dan ratusan rumah hancur dihantam badai. Jika bukan berkat keterampilan dan kemurahan hati pilot helikopter Joel Boyers, jumlah korban tewas mungkin akan jauh lebih besar.

Begitu mendapat panggilan telepon dari seorang wanita yang mengkhawatirkan orang-orang yang dikasihinya, sang pilot pun berangkat. Selain menyaksikan rumah-rumah terbakar dan mobil-mobil tersangkut di pohon, Boyes berkata, “Di bawah sana hanya tampak air berlumpur yang berarus deras.” Namun, pilot pemberani itu tetap melanjutkan upayanya menyelamatkan dua belas orang dari atap rumah mereka.

Sering kali dalam kehidupan ini, bencana banjir yang kita hadapi tidaklah harfiah—meski begitu, tetap saja itu terasa nyata! Dalam hari-hari yang serba tidak menentu dan selalu berubah, kita dapat merasa kewalahan dan tidak aman—“tenggelam” secara mental, emosional, maupun spiritual. Namun, kita tidak perlu berputus asa.

Dalam Mazmur 18, kita membaca betapa kuat dan banyaknya musuh Daud, tetapi ia memiliki Allah yang jauh lebih hebat. Seberapa hebat? Begitu hebat dan kuatnya (ay.2) sehingga Daud menggunakan beberapa metafora untuk menggambarkan-Nya (ay.3). Begitu kuat sehingga mampu menyelamatkan kita dari banjir dan musuh yang gagah (ay.17-18). Seberapa hebat? Begitu hebatnya hingga kita dapat berseru kepada-Nya dalam nama Yesus, seberapapun besar dan dahsyatnya “banjir” yang mengepung kehidupan kita (ay.4). —Arthur Jackson

WAWASAN
Kita mengetahui waktu penulisan Mazmur 18 karena diawali dengan keterangan: “Dari hamba TUHAN, yakni Daud . . ., pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari tangan Saul.” C. H. Spurgeon memandang mazmur itu sebagai kilas balik Daud atas hidupnya (agaknya karena Mazmur 18 dan nyanyian dalam 2 Samuel 22 nyaris sama). Namun, nyanyian itu juga melihat kepada masa depan, dengan mengacu kepada kedatangan Mesias. Kita melihatnya di ayat 3, ketika Daud menyebut Allah sebagai “bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku.” Beberapa perikop Perjanjian Baru menyatakan bahwa bukit batu itu adalah Kristus (Roma 9:33; 1 Petrus 2:6-8). Lalu, dalam Mazmur 18:50, Daud berkata, “Aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu di antara bangsa-bangsa,” yang mengisyaratkan waktunya ketika Tuhan Yesus akan membangun jemaat-Nya bukan saja dari umat Israel, tetapi dari semua bangsa (Efesus 3:4-6). —Tim Gustafson

Diselamatkan dari Banjir

“Banjir” besar apa yang sedang kamu hadapi yang mendesak kamu berseru kepada Allah? Apa yang sempat menghalangi kamu berseru kepada-Nya?

Ya Allah yang kuat, menjaga, dan menyelamatkan, berilah aku iman untuk memandang-Mu dan berpegang teguh pada-Mu dalam badai, di tengah kesulitanku, ketika “banjir” besar tengah melanda hidupku.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 27-29; 2 Korintus 10

Podcast KaMu Episode 9: Raih Cuan dan Jadilah Kaya—Bagaimana Iman Kristen Mengajari Manajemen Keuangan?

Uang itu perkara penting, makanya meraih dan mengelolanya gak boleh asal-asalan. Tapi, di tengah gempuran informasi dan tuntutan hidup yang makin rumit, kita pun kesulitan dalam mengelolanya. Kalau dulu rumus keuangan yang baik adalah hemat pangkal kaya, sekarang kita tak cuma butuh berhemat, tapi butuh melek literasi keuangan.

Ayo simak Podcast KaMu Episode 9 yang menghadirkan Christian Fredy Naa (seorang pengajar dan praktisi) dan dipandu oleh Enrico Jonathan. Di podcast ini kita akan kupas tuntas soal uang—tentang investasi dan produk-produknya, prinsip menabung dan persembahan, juga bagaimana mengelola keinginan dan pemasukan.

Part 1:

Part 2:

Belajar Mempercayai Tuhan Lebih Daripada Aku Mempercayai Nilai Tabunganku

Oleh Mikaila Bisson
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Trust God with Your Finance

Sepanjang hidupku, aku sudah dilatih untuk mengelola uang dengan baik. Saat sekolah, orang tuaku memulainya dengan membuatkanku rekening bank, dan setiap uang yang kuperoleh dari pekerjaan sambilan akan langsung masuk ke sana.

“Kamu menabung untuk keadaan darurat,” kata mereka—yang tentu saja tidak masuk akal bagiku saat itu. Namun, sekarang ceritanya telah berbeda.

Beberapa bulan lalu, pergelangan kakiku patah saat bermain outdoor game bersama teman-temanku. Akibatnya, aku harus dioperasi dan proses pemulihan yang cukup panjang harus kujalani. Kecelakaan itu tidak pernah kurencanakan, tapi ketika itu terjadi aku harus mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Barulah sekarang aku paham mengapa menabung untuk dana darurat itu penting. Ketika aku belajar mempercayakan keuanganku kepada Tuhan, rasanya cara pandangku tentang keuangan berubah menjadi lebih baik karena aku melihatnya dari tempat yang tepat.

Dalam Amsal 3:5, kita diperintahkan untuk, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.”

Mempercayai itu sulit, terutama untuk sesuatu yang begitu nyata dan penting seperti uang. Bagaimana kita bisa mempercayakan cicilan rumah, mobil, dan kesehatan kita kepada seseorang yang tidak dapat kita lihat? Bagaimana bisa, jika kita seorang Kristen, mempercayakan keuangan kita pada Tuhan, tapi tetap menabung dan menyiapkan uang untuk hal-hal tak terduga?

Ketika aku harus membayar biaya pengobatan dari kecelakaan yang tak kurencanakan, aku takut dan sedih. Namun, barulah ketika aku pelan-pelan mencerna semua perasaan itu, aku jadi lebih memahami apa artinya mempercayakan keuanganku kepada Tuhan.

Meskipun Alkitab tidak memberikan pedoman khusus tentang bagaimana menyusun anggaran bulanan atau portofolio keuangan kita, Alkitab memberikan bimbingan pada bagaimana kita harus bersikap terhadap uang, terkhusus pada perasaan takut akan kehilangannya.

Mempercayai Tuhan dengan keuangan kita seperti… percaya Dia menyediakan untuk kita–tak melulu uang.

Reaksi pertamaku ketika melihat tagihan tak terduga adalah takut. Lupakan fakta bahwa aku baru sembuh dari patah tulang, aku menangis karena tagihannya mahal. Asuransiku tidak sepenuhnya meng-cover tagihan, dan aku khawatir aku tidak akan pernah mendapatkan kembali tabungan yang telah kukumpulkan dengan susah payah.

Namun, Yesus berkata dalam Matius 6:25-26,

“… Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga.”

Burung-burung pun Tuhan pelihara, tentulah Dia juga memelihara kita.

Tuhanlah yang memampukanku mengumpulkan tabungan untuk kecelakaan ini—bahkan ketika aku kesulitan meraihnya di masa itu. Tuhan juga merawatku dengan cara lain. Dia membantuku menemukan konselor di kotaku yang baru beberapa minggu sebelum aku putus dengan pacarku, memberiku para sahabat yang menolongku melewati masa-masa sulit, dan segala sesuatu lainnya.

Saat aku belajar mengenal karakter-Nya, Tuhan juga menunjukkanku cara pemeliharaan-Nya. Semua ini menunjukkanku bahwa Tuhan menginginkan yang terbaik bagiku dan rencana-Nya lebih besar daripada yang kutahu. Tuhan menunjukkan kesetiaan-Nya terus-menerus. Ketika iman percayaku memudar pada masa-masa tertentu, mengingat bagaimana Dia memeliharaku menolongku untuk tetap kuat. Dia memegang kendali dan selalu layak dipercaya.

Mempercayakan keuangan kita kepada Tuhan ibarat… menemukan sukacita di tengah kekhawatiran

Namun sesungguhnya, aku masih khawatir meskipun aku tahu Tuhan telah menjanjikan bahwa Dia pasti memelihara. Aku tetaplah manusia. Ketakutanku terkadang begitu melemahkan, sehingga aku harus mencari pertolongan pada konselorku, teman yang kupercaya, atau orang tuaku. Sementara itu, berkali-kali aku menangis karena takut akan masa depan, aku juga menangis meratap.

Aku selalu diberitahu bahwa tidak apa-apa berduka atas kehilangan, dan bagiku, kehilangan tabungan adalah kerugian yang sangat besar. Tapi Yesus berkata dalam Mazmur 34:18, “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

Sementara aku berduka karena kehilangan tabunganku, Tuhan dekat denganku.

Dia bekerja untuk menunjukkanku seluruh hal-hal berbeda yang dapat membawa sukacita padaku: keluarga yang akan merawatku saat aku membutuhkan mereka, seorang dokter yang membuat jadwal operasiku lebih cepat dari yang diharapkan, dan tubuh sehat yang memungkinkanku pulih dengan cepat.

Tabunganku memang penting bagiku, tapi yang lebih penting adalah cara Tuhan yang sederhana namun sangat penting bekerja untuk kebaikanku—dan membantuku menemukan sukacita!—tepat di depan mataku.

Seiring aku terus berupaya memperbaiki kondisi keuanganku, mempercayai Tuhan masihla menjadi hal yang sulit. Tetapi, ketika aku memahami dan mengenali sumber perasaan takutku dan bagaimana Alkitab menolongku memprosesnya, kekhawatiranku akan kehilangan uang pun memudar.

Ketika dulu aku mengandalkan diriku sendiri supaya hidup berkecukupan, sekarang aku telah meraih pandangan baru yang memampukanku untuk lebih mempercayai pemeliharaan Tuhan buatku, meskipun cara-Nya tidak selalu seperti yang kuharapkan.

Haleluya!

Jumat, 16 September 2022

Baca: Wahyu 11:15-18

11:15 Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam sorga, katanya: “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.”

11:16 Dan kedua puluh empat tua-tua, yang duduk di hadapan Allah di atas takhta mereka, tersungkur dan menyembah Allah,

11:17 sambil berkata: “Kami mengucap syukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, yang ada dan yang sudah ada, karena Engkau telah memangku kuasa-Mu yang besar dan telah mulai memerintah sebagai raja

11:18 dan semua bangsa telah marah, tetapi amarah-Mu telah datang dan saat bagi orang-orang mati untuk dihakimi dan untuk memberi upah kepada hamba-hamba-Mu, nabi-nabi dan orang-orang kudus dan kepada mereka yang takut akan nama-Mu, kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar dan untuk membinasakan barangsiapa yang membinasakan bumi.”

Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya. —Wahyu 11:15

Sungguh menakjubkan, Handel hanya butuh dua puluh empat hari untuk menuliskan komposisi musik orkestra untuk oratorio Messiah, yang hingga sekarang merupakan komposisi musik paling terkenal di dunia, dan yang dipertunjukkan ribuan kali setiap tahunnya di seluruh dunia. Mahakarya ini mencapai puncaknya sekitar dua jam setelah dimulai, saat masuk ke bagian yang paling terkenal dari oratorio tersebut, “Hallelujah Chorus” (kor Haleluya).

Saat trompet dan timpani berbunyi menandakan awal kor, suara-suara berpadu dan saling bersahutan menyanyikan lirik yang terambil dari Wahyu 11:15: “Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” Inilah deklarasi penuh kemenangan tentang pengharapan akan hidup kekal di surga bersama Yesus.

Banyak bagian lirik Messiah diambil dari Kitab Wahyu, yang ditulis Rasul Yohanes berdasarkan penglihatan yang diperolehnya menjelang akhir hidupnya, dengan menggambarkan kejadian-kejadian yang berpuncak pada kedatangan Kristus kembali. Dalam Wahyu, Yohanes berulang kali mengangkat tema tentang kedatangan kembali Yesus yang telah bangkit ke dalam dunia. Akan ada sukacita besar diiringi suara nyaring dari sekumpulan besar orang (19:1-8). Dunia akan bergemar karena Yesus telah mengalahkan kuasa kegelapan dan mendirikan kerajaan yang penuh damai sejahtera.

Suatu hari nanti, semua orang di surga akan bernyanyi dengan suara nyaring, mengumandangkan keagungan Yesus dan berkat dari pemerintahan-Nya yang abadi (7:9). Sebelum itu tiba, marilah kita hidup, bekerja, berdoa, dan menanti dengan penuh harap. —Lisa M. Samra

WAWASAN
Ketika Rasul Yohanes berada dalam pengasingan di Patmos, Allah menunjukkan kepadanya melalui suatu penglihatan, rencana akhir zaman-Nya bagi dunia, khususnya murka-Nya yang adil tercurah atas seluruh ciptaan dalam tiga siklus penghakiman, yaitu ketujuh gulungan kitab bermeterai (pasal 6,8), ketujuh sangkakala (pasal 8–9,11), dan ketujuh cawan (pasal 16). Di dalam ilmu tentang angka-angka (numerologi) bangsa Ibrani, angka tujuh menyatakan totalitas, ketuntasan, dan kesempurnaan. Angka tujuh dipakai lebih dari lima puluh kali di dalam kitab Wahyu (lihat 1:4,12; 5:1, 6; 8:2; 15:7). Sangkakala penghakiman, dalam siklus kedua dari penghakiman ilahi (pasal 8–9,11), mencapai puncaknya dalam pujian yang berkumandang di surga ketika sangkakala ketujuh ditiup (11:15-18). Dalam Alkitab, sangkakala (disebut juga serunai atau nafiri) ditiup untuk memanggil umat Allah beribadah atau berperang (Imamat 23:24; Bilangan 10:5-10; Yosua 6:16; Hakim-Hakim 3:27). Dalam bagian-bagian lain, Paulus mengatakan bahwa kebangkitan orang mati akan didahului oleh bunyi nafiri/sangkakala (1 Korintus 15:52; 1 Tesalonika 4:16). —K.T. Sim

Haleluya!

Bagaimana kedatangan Yesus kembali untuk memerintah di bumi dapat memberi kamu pengharapan untuk saat ini? Kidung pujian apa yang mengingatkan kamu pada keagungan Yesus?

Datanglah segera, Tuhan Yesus, dan tegakkanlah kerajaan-Mu di muka bumi ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 25-26; 2 Korintus 9

Diterima dengan Hangat

Kamis, 15 September 2022

Baca: Mazmur 133

133:1 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!

133:2 Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya.

133:3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! —Mazmur 133:1

Di akhir perjamuan Paskah Yahudi yang merayakan dan memperingati karya keselamatan Allah yang luar biasa, para anggota gereja mengungkapkan sukacita mereka dengan menari bersama dalam suatu lingkaran. Barry menonton sambil tersenyum, dan berkata, “Inilah keluarga saya sekarang. Inilah komunitas saya. Saya telah menemukan tempat yang membuat saya tahu bahwa saya bisa mengasihi dan dikasihi . . . tempat saya diterima.”

Sewaktu kecil Barry pernah mengalami pelecehan emosional dan fisik yang merampas sukacitanya. Namun, gereja tempatnya beribadah itu menyambut dan memperkenalkannya kepada Yesus. Melihat kesatuan dan sukacita mereka, Barry pun mulai mengikut Yesus. Ia merasa dikasihi dan diterima.

Dalam Mazmur 133, Raja Daud menggunakan gambaran yang sangat kuat untuk menunjukkan betapa dahsyat dampak dari “baiknya dan indahnya” kesatuan di antara umat Allah. Ia berkata, hal ini ibarat seseorang yang diurapi dengan minyak yang berharga, yang meleleh hingga ke leher jubah mereka (ay.2). Pengurapan seperti ini adalah hal umum pada masa itu, dan kadang-kadang dipakai untuk menyambut tamu saat memasuki rumah. Daud juga membandingkan kesatuan tersebut dengan embun yang turun ke atas gunung, tanda datangnya berkat dan kehidupan (ay.3).

Aroma minyak memenuhi ruangan dan embun memberi kelembaban di tempat yang kering. Kesatuan juga memiliki pengaruh yang baik dan menyenangkan, seperti menyambut mereka yang merasa sendirian. Marilah kita terus mengupayakan kesatuan di dalam Kristus agar Allah dapat mendatangkan kebaikan melalui kehadiran kita. —Amy Boucher Pye

WAWASAN
Mazmur 133 merupakan bagian dari kumpulan mazmur yang disebut “Nyanyian Ziarah” (Mazmur 120–134), atau dalam bahasa Inggris Songs of Ascent (Nyanyian Pendakian). Nyanyian-nyanyian itu dimaksudkan untuk dilantunkan para peziarah Israel dalam perjalanan mereka ke Yerusalem untuk mengikuti tiga hari raya tahunan (Paskah, Penuaian, Pondok Daun). Penamaan nyanyian itu dikarenakan di Israel orang selalu mendaki, atau naik, ke Yerusalem (baik secara kiasan maupun harfiah) untuk menyembah dan merayakan Allah. Dalam Mazmur 133, kesan pendakian atau naik ini digambarkan dengan berkat yang turun. Ayat 2-3 mengambarkan minyak yang meleleh dari kepala Harun turun ke janggutnya ketika ia ditahbiskan sebagai imam besar Israel yang pertama dan embun yang turun dari gunung Hermon. Mata air Sungai Yordan, satu-satunya sumber air tawar bagi Israel, berada di kaki gunung Hermon. Akhir dari ketiga berkat itu adalah “kehidupan untuk selama-lamanya,” yang turun dari Allah sendiri. —Bill Crowder

Diterima dengan Hangat

Pernahkah kamu menyaksikan kesatuan terjadi dalam komunitas kamu? Bagaimana kamu dapat menjangkau seseorang yang belum kamu kenal di gereja kamu?

Tuhan Yesus, tolonglah aku menunjukkan kasih-Mu, tidak hanya kepada orang-orang yang kelihatannya mudah kuterima, melainkan juga kepada mereka yang mungkin sulit untuk kudekati.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 22-24; 2 Korintus 8

5 Tips Mengelola Uang di Masa-masa Sulit

Uang kuliah naik, tapi uang jajan tetep
Dulu beli bensin 10 ribu udah full tank, sekarang tydack~

Inflasi tidak terhindarkan. Semua bertambah mahal. Tapi, di sinilah kita ditantang untuk hidup bijaksana. Mengelola uang dengan cermat sembari percaya teguh akan pemeliharaan Tuhan.

Yuk simak 5 tips dalam artspace ini.


Artspace ini diterjemahkan dari YMI @ymi_today

Dear Temanku, Mohon Maaf Aku Gak Bisa Meminjamkanmu Uang

Oleh Agustinus Ryanto

“Orang yang ngutang sama yang diutangin mah galakan yang ngutang.”

Aku tertawa membaca meme tersebut yang dimuat di Twitter meskipun aku sendiri jarang mengalaminya. Hingga suatu hari, datanglah seorang temanku. Dia curhat dan meminta pendapat. Katanya, ada teman kantornya meminjam uang. Sekali dua kali dia meminjamkan karena alasannya adalah untuk berobat. Tapi, bulan-bulan kemudian, temannya ini jadi sering meminjam uang dengan alasan yang tak bisa dia jelaskan dengan spesifik.

Di permintaannya yang ke sekian, temanku menolak meminjamkan. Namun, respons yang didapatnya adalah, “Kok kamu gitu sih? Kamu kan kebutuhannya sedikit, belum married. Masa segitu aja gak ada?”

Temanku kaget dengan respons itu. Dia tidak mau meminjamkan karena memang bulan itu uangnya pas-pasan. Dengan sopan dia menolak permintaan itu sekaligus menagih utang-utangnya terdahulu, tapi jawaban yang didapatnya semakin ketus dan temannya itu pun tak mau lagi menjawab chat di WA.

Belajar dari kisah temanku, kurasa ada banyak di antara kita yang—demi menjaga hubungan baik—susah menolak permohonan meminjam uang. Meminjamkan uang kepada orang yang membutuhkan sejatinya adalah tindakan yang baik, yang dapat menolong seseorang. Lagipula, bukankah Alkitab mengatakan agar kita menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita sendiri? (Filipi 2:4). Tetapi, hendaknya kita tidak salah mengartikan nats tersebut. Menolong orang lain bukan berarti mengabaikan aspek batasan diri dan disiplin.

Jika kamu termasuk orang yang susah menolak ketika dipinjami uang, inilah beberapa hal yang baik untuk kita renungkan bersama:

1. Ingatlah bahwa uang adalah perkara sensitif

“Hiroshima hancur karena bom atom. Warung hancur karena kasbon.”

Pernah melihat teks di atas? Teks itu dimuat dalam sebuah meme yang menggambarkan seorang pemilik warung yang menolak orang berbelanja dengan cara berutang. Meminjamkan uang kepada teman berpotensi merusak relasi yang telah dibangun dengan baik. Potensi rusak itu muncul ketika terjadi kesalahpahaman, komunikasi yang buruk, atau ketika kesepakatan bersama dilanggar.

Besarnya potensi konflik yang diakibatkan utang-piutang juga turut dibahas dalam Alkitab. Perjanjian Lama, dalam Ulangan 24 dan keluaran 22 menunjukkan bahwa masyarakat Israel Kuno juga melakukan praktik pinjam-meminjam uang dan Allah menetapkan hukum-hukum agar utang tersebut tidak menjadi alat penindasan bagi si pemberi atau solusi instan bagi si peminjam. Tetapi, meskipun praktik ini diperbolehkan, Alkitab juga mengajarkan agar sebisa mungkin seseorang tidak berutang. Amsal 22:7 berkata, “Orang kaya menguasai orang miskin, yang berutang menjadi budak dari yang mengutangi.”

Secara tidak langsung, ketika seseorang berutang, dia memberi dirinya berada di bawah kuasa orang tersebut yang diatur dalam kesepakatan bersama. Utang adalah kewajiban yang harus dibayar kembali, jika seseorang malah melarikan diri, maka dia telah melakukan cara orang fasik seperti tertulis, “Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah” (Mazmur 37:21). Namun, jika kita memang telah memberikan pinjaman, hendaknya kita tidak menjadikan utang tersebut sebagai cara untuk menekan orang kecil dan lemah dan memerasnya (Keluaran 22:25).

2. Kenali batasan dirimu supaya kamu berani berkata tidak

Salah satu alasan yang paling sering kita kemukakan ketika tidak berani menolak adalah kita merasa gak enakan. Orang itu kan sudah baik sama kita, jadi masa kita gak tolong dia?

Meminjamkan uang diperlukan pertimbangan yang matang. Di satu sisi kita memang dipanggil untuk memerhatikan kepentingan orang lain (Filipi 2:4), tetapi di sisi lain kita juga diajak untuk memberi dengan murah hati, bukan karena paksaan (2 Korintus 9:7-8). Ketika kita diminta untuk meminjamkan, yang perlu kita selidiki adalah kemampuan kita sendiri lebih dulu. Jangan sampai demi meminjamkan seseorang sejumlah uang kita merasa dipaksa, yang berakibat kita jadi kekurangan dan malah mencari pinjaman dari orang lain demi memenuhi kebutuhan kita yang krusial.

Jika sumber daya yang kita miliki tidak mencukupi, kita dapat dengan sopan menolak permohonan tersebut. Ingatlah bahwa yang kita tolak adalah permintaannya, bukan orangnya. Kita tetap dapat mengasihi orang yang hendak meminjam tersebut dan mencari cara-cara lain untuk menolongnya.

3. Pertolongan tersedia dalam berbagai bentuk, tak melulu uang

Di zaman modern ketika segala sesuatunya membutuhkan uang, dan uang terkesan menjadi solusi pamungkas atas semua masalah. Tetapi, Tuhan dapat menolong kita lewat berbagai cara, tak melulu melalui berkat jasmani berupa uang.

Ketika seseorang hendak meminjam uang, tetapi kita sendiri tidak dapat memenuhi permintaannya, kita dapat dengan sopan menolak sembari menawarkan diri mengenai alternatif bantuan apa yang dapat kita berikan. Semisal, ketika seorang teman kuliah membutuhkan sejumlah uang untuk membayar tunggakan semesterannya, kita bisa mendampinginya untuk belajar lebih keras sembari mencari-cari beasiswa. Cara ini memang tidak praktis dan butuh waktu lama untuk melihat hasilnya. Tetapi, jika kita bersedia melakukan ini dengan setia (dan orang tersebut bersedia ditolong), kita sedang menolong orang tersebut untuk berdaya dan survive tak hanya untuk hari ini, tapi untuk masa depannya.

4. Selalu mengiyakan tidak menjadikan seseorang bertumbuh

Memberi pada dasarnya adalah hal yang baik, tetapi jika kita tidak bijaksana, hal ini dapat menjadi celah yang dimanfaatkan seseorang untuk tidak berusaha lebih. Seperti disebutkan dalam poin pertama, meskipun Alkitab tidak melarang praktik berutang, tetapi Alkitab menganjurkan agar kita tidak berutang. Utang bukanlah solusi pertama dari setiap permasalahan finansial seseorang.

2 Tesalonika 3:10 berkata, “…jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Ayat ini ditulis Paulus memang bukan dalam konteks spesifik tentang utang-piutang, tetapi sebagai penekanan bahwa kemalasan bukanlah sifat yang berkenan bagi Tuhan. Ketika seseorang menjadikan utang sebagai langkah pertama, bisa jadi dia sedang terjebak dalam kemalasan yang dia sendiri tidak sadari. Penolakan yang kita berikan kepada orang-orang seperti ini bukan berarti kita pelit atau tidak peduli, tetapi sebagai langkah sederhana kita menunjukkan disiplin kepadanya.

5. Doakan dan tetaplah bersikap murah hati

Tidak dapat memenuhi permintaan tolong dari seseorang bukan berarti kita tidak memerhatikannya. Doakanlah dia beserta pergumulan yang tengah dihadapinya. Mendoakan seseorang berarti kita peduli dan memohonkan agar kuasa Tuhan dinyatakan dalam hidupnya.

Kita juga dapat berdoa agar Tuhan selalu mengaruniakan kita kemurahan hati. Meskipun pada kali ini kita tidak dapat menolong orang lain sesuai permohonannya, tetapi sikap murah hati memampukan kita untuk tetap peduli dengannya. Kepedulian kita kepada sesama bukanlah tindakan untuk menyenangkan hati orang lain atau sebagai ajang memamerkan kebaikan diri, tetapi bentuk kasih kita kepada Allah yang memerintahkan kita untuk saling mengasihi (Filipi 2:3-4).

Jika kamu sedang berada di posisi kesulitan keuangan sehingga hendak meminjam uang, atau jika kamu sedang menghadapi seseorang yang hendak meminjam kepadamu, kiranya damai sejahtera dan hikmat surgawi memampukanmu untuk bertindak dengan bijaksana.

Keluarga yang Utuh

Rabu, 14 September 2022

Baca: Efesus 2:17-22

2:17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”,

2:18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.

2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,

2:20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

2:21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.

2:22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Sebuah kota atau keluarga yang terpecah-pecah dan bermusuhan satu sama lain akan hancur. —Matius 12:25 bis

Pada tanggal 16 Juni 1858, ketika baru terpilih sebagai kandidat partai Republik untuk Senat Amerika Serikat dari negara bagian Illinois, Abraham Lincoln menyampaikan pidatonya yang terkenal, “Keluarga yang Terpecah-pecah”, yang menyoroti ketegangan di antara berbagai pihak di Amerika terkait isu perbudakan. Pidato ini mengusik banyak orang, baik teman maupun lawan Lincoln. Lincoln menganggap penting untuk memakai istilah “keluarga yang terpecah-pecah”, yang diucapkan Yesus di Matius 12:25, karena istilah tersebut sangat dikenal dan mengena. Lincoln menggunakan ungkapan ini agar pidatonya “masuk ke benak setiap orang sehingga mereka menyadari betapa gentingnya kondisi saat ini.”

Bila keluarga yang terpecah-pecah tak dapat bertahan lama, maka sebaliknya, keluarga yang utuh akan sanggup bertahan dari kehancuran. Secara prinsip, demikianlah seharusnya keluarga Allah (Ef. 2:19). Walaupun terdiri atas orang-orang dari berbagai latar belakang, bersama kita telah diperdamaikan dengan Allah (dan sesama) melalui kematian Yesus di kayu salib (ay.14-16). Dengan mengingat kebenaran ini (lih. Ef. 3), Paulus memerintahkan orang percaya: “Berusahalah sungguh-sungguh untuk hidup dengan damai supaya kesatuan yang diciptakan oleh Roh Allah tetap terpelihara” (4:3 bis).

Hari ini, saat ketegangan yang meningkat sedang mengancam kesatuan di antara kita, seperti dalam keluarga dan umat Tuhan, kiranya Allah memberi hikmat dan kekuatan agar kita dapat memelihara kesatuan itu dengan pertolongan Roh Kudus. Kita pun akan dimampukan-Nya menjadi terang di tengah dunia yang gelap dan terpecah-pecah. —Arthur Jackson

WAWASAN
Iman kepada Kristus lebih merupakan suatu pengalaman bersama daripada pengalaman pribadi. Ketika Perjanjian Baru menggambarkan kehidupan orang-orang percaya, istilah yang dipakai hampir selalu dalam bentuk jamak, dan itulah yang dinyatakan dalam Efesus 2:17-22. Ungkapan-ungkapan kuncinya adalah “kawan sewarga” (ay.19) dan “dibangun bersama” (ay.22 BIS). Setiap kali disebut, yang dimaksudkan adalah tubuh Kristus, bukan masing-masing pribadi. Selain itu, bukan saja ungkapan-ungkapan itu berbentuk jamak, tetapi juga mengacu kuat kepada jemaat sebagai suatu komunitas—ini terlihat nyata dari istilah kawan dan bersama. Namun, istilah-istilah tersebut bukan semata-mata menyatakan kemajemukan, tetapi juga berbicara tentang memasuki suatu pengalaman bersama dengan satu sama lain sebagai umat percaya. Gambaran itu diperkuat lebih dari dua puluh lima kali di dalam Perjanjian Baru, ketika kita ditantang oleh pernyataan-pernyataan “saling/satu akan yang lain”—seperti dalam Roma 12:10,16; 15:7; Efesus 4:2,32; 5:21—yang menunjukkan bagaimana kita seharusnya berhubungan dengan satu sama lain sebagai sesama anggota tubuh Kristus. —Bill Crowder

Keluarga yang Utuh

Bagaimana Allah dapat menjadikan kamu sebagai pembawa damai di tengah keluarga? Ayat Alkitab mana saja yang dapat menolong kamu mengatasi ketegangan dan perpecahan dalam hubungan dengan orang lain?

Tuhan Yesus, berilah aku hikmat, keberanian, dan kekuatan untuk hidup dengan menjaga perdamaian dengan semua orang.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 19-21; 2 Korintus 7

Lockscreen Kolose 3:15

“Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah” (Kolose 3:15).

Lockscreen ini dibuat oleh Patricia Renata @ptrx.renata

Yuk download dan gunakan lockscreen ini di HP kamu.