Harapan dan Keinginan

Kamis, 24 November 2022

Baca: Amsal 13:12-19

13:12 Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan.

13:13 Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan.

13:14 Ajaran orang bijak adalah sumber kehidupan, sehingga orang terhindar dari jerat-jerat maut.

13:15 Akal budi yang baik mendatangkan karunia, tetapi jalan pengkhianat-pengkhianat mencelakakan mereka.

13:16 Orang cerdik bertindak dengan pengetahuan, tetapi orang bebal membeberkan kebodohan.

13:17 Utusan orang fasik menjerumuskan orang ke dalam celaka, tetapi duta yang setia mendatangkan kesembuhan.

13:18 Kemiskinan dan cemooh menimpa orang yang mengabaikan didikan, tetapi siapa mengindahkan teguran, ia dihormati.

13:19 Keinginan yang terlaksana menyenangkan hati, menghindari kejahatan adalah kekejian bagi orang bebal.

Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan. —Amsal 13:12

Ketika saya pindah ke Inggris, hari raya Thanksgiving yang biasa dirayakan di Amerika menjadi hari Kamis biasa di bulan November. Meski saya mengadakan perjamuan pada akhir pekannya, saya rindu berkumpul kembali bersama keluarga dan teman-teman di hari istimewa itu. Namun, saya paham, bukan saya saja yang memendam keinginan seperti itu. Kita semua ingin bersama dengan orang-orang yang kita kasihi pada momen-momen khusus dan hari raya. Bahkan saat merayakannya, kita mungkin merindukan seseorang yang tidak bisa bersama dengan kita, atau kita mungkin mendoakan keluarga kita yang tidak utuh lagi agar memperoleh damai sejahtera.

Pada saat-saat seperti itu, berdoa dan merenungkan hikmat Alkitab telah terbukti dapat menolong saya, seperti salah satu amsal dari Raja Salomo ini: “Harapan yang tertunda menyedihkan hati, tetapi keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan” (Ams. 13:12). Dalam amsal ini, lewat salah satu ucapannya yang penuh hikmat, Salomo menyatakan bahwa “harapan yang tertunda” dapat menimbulkan kekhawatiran dan kesedihan. Namun, saat keinginan terpenuhi, itu seperti pohon kehidupan—sesuatu yang membuat kita merasa disegarkan dan diperbarui.

Mungkin ada sebagian harapan dan keinginan kita yang tidak langsung terpenuhi, dan sebagian lagi mungkin baru dipenuhi oleh Allah setelah kita berpulang. Apa pun keinginan kita, kita dapat mempercayai Allah, karena tahu bahwa Dia senantiasa mengasihi kita. Lalu, suatu hari kelak, kita akan berkumpul kembali bersama orang-orang yang kita kasihi seraya berpesta bersama-Nya dan mengucap syukur kepada-Nya (lihat Why. 19:6-9). —AMY BOUCHER PYE

WAWASAN
Dalam Amsal 13:12-19 ada dua metafora mengenai hidup: “keinginan yang terpenuhi adalah pohon kehidupan” (ay. 12) dan “ajaran orang bijak adalah sumber kehidupan” (ay. 14). “Pohon kehidupan” pertama kali disebut di dalam Kitab Suci adalah di Kejadian 2:9, yang mengacu kepada sumber daya yang diberikan Allah bagi kehidupan kekal. Setelah ketidakpatuhan leluhur pertama kita, sumber kehidupan itu tidak dapat diakses lagi (3:23-24). Kitab Wahyu berbicara mengenai waktu ketika akses itu terbuka kembali (22:2,14). Dalam Kitab Amsal, “pohon kehidupan” dipakai sebagai lambang kesehatan dan panjang umur, keberhasilan, dan kebahagiaan (lihat Amsal 3:18; 11:30; 13:12; 15:4). Demikian juga, “sumber kehidupan” (10:11; 13:14; 14:27; 16:22) mengacu kepada sumber yang mengeluarkan sesuatu yang sehat dan menopang hidup. Sikap takut akan Allah adalah salah satu sumber kehidupan bagi kita (14:27). —Arthur Jackson

Harapan dan Keinginan

Pernahkah kamu merasakan kepedihan karena kerinduan yang tidak terpenuhi? Bagaimana Allah melawat kamu saat kamu membutuhkan sesuatu?

Allah Pencipta kami, Engkau memenuhi keinginanku yang terdalam. Ke dalam tangan-Mu kuserahkan semua harapan dan keinginanku, dan kumohon agar Engkau mengabulkannya seturut hikmat dan kasih-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 22-23; 1 Petrus 1

percayakan Masa Depan kepada Allah

Rabu, 23 November 2022

Baca: Pengkhotbah 10:12-14

10:12 Perkataan mulut orang berhikmat menarik, tetapi bibir orang bodoh menelan orang itu sendiri.

10:13 Awal perkataan yang keluar dari mulutnya adalah kebodohan, dan akhir bicaranya adalah kebebalan yang mencelakakan.

10:14 Orang yang bodoh banyak bicaranya, meskipun orang tidak tahu apa yang akan terjadi, dan siapakah yang akan mengatakan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?

Hari depan tersembunyi bagi kita semua. —Pengkhotbah 10:14 BIS

Tahun 2010, Laszlo Hanyecz melakukan pembelian yang pertama kalinya menggunakan bitcoin (mata uang digital yang saat itu bernilai sepersekian sen). Ia memakai 10.000 bitcoin untuk membeli dua loyang pizza seharga 25 dolar. Tahun 2021, pada nilai tertingginya, bitcoin tersebut setara dengan lebih dari 500 juta dolar. Dulu sebelum nilainya meroket, Hanyecz terus membayar pizza dengan bitcoin, sampai jumlah totalnya 100.000 bitcoin. Seandainya Hanyecz menyimpan semua bitcoin tersebut, nilai saat ini akan menjadikannya seorang jutawan dengan kekayaan enam puluh delapan kali lipat dan menempatkannya dalam daftar “orang terkaya di dunia” versi Forbes. Seandainya saja ia tahu tentang masa depan.

Tentu saja, Hanyecz tidak mungkin tahu. Tak seorang pun dapat mengetahui masa depan. Terlepas dari usaha kita untuk memahami dan mengendalikan masa depan, perkataan Pengkhotbah sungguh benar: “Hari depan tersembunyi bagi kita semua” (10:14 bis). Sebagian dari kita menipu diri dengan berpikir bahwa kita tahu lebih dari sebenarnya, atau lebih buruk lagi, kita memiliki semacam kepandaian khusus untuk tahu tentang kehidupan atau masa depan orang lain. Namun, seperti disampaikan dalam Kitab Pengkhotbah: “Tak ada yang dapat meramalkan kejadian setelah kita tiada” (ay.14 bis). Tidak ada.

Alkitab membandingkan orang bijak dan orang bebal, dan salah satu dari banyak perbedaan di antara mereka adalah kerendahan hati mengenai masa depan (Ams. 27:1). Orang bijak menyadari bahwa saat mereka membuat keputusan, hanya Allah yang benar-benar tahu tentang hari esok. Namun, orang bebal menganggap mereka memiliki pengetahuan yang sebenarnya tidak mereka miliki. Kiranya kita memiliki hikmat, dengan mempercayakan masa depan kita hanya kepada Dia yang benar-benar mengetahuinya. —WINN COLLIER

WAWASAN
Kitab Pengkhotbah sangat cocok bagi dunia pascamodern seperti dunia kita. Mengapa? Karena kitab itu memandang kehidupan melalui suatu perspektif yang agak sinis, sebelum pada bagian terakhirnya soal iman kepada Allah kembali diangkat. Kunci untuk memahami kitab itu ditemukan dalam pasal-pasal pembuka, ketika penulisnya, yang dipercaya adalah Salomo, menggunakan frasa-frasa yang diulang untuk meletakkan dasar argumentasinya. “Kesia-siaan belaka, . . . kesia-siaan belaka” (1:2) berbicara mengenai betapa singkat dan hampanya hidup, dan “di bawah matahari” (ay. 3) mengacu kepada hidup yang dijalani menurut nilai dan prioritas duniawi, yang bertolak belakang dengan nilai dan prioritas Allah sendiri. Cara pandang yang muram dari sang penulis sendiri terungkap di 2:17, ketika ia berkata, “Oleh sebab itu aku membenci hidup.” Tanggapan terhadap suatu keputusasaan tersebut? “Ingatlah akan Penciptamu” (12:1). —Bill Crowder

percayakan Masa Depan kepada Allah

Dalam hal apakah kamu tergoda untuk mengendalikan masa depan? Bagaimana kamu dapat lebih mempercayakan masa depan kamu kepada Allah?

Ya Allah, tolonglah aku untuk sepenuhnya percaya pada-Mu hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 20-21; Yakobus 5

Gempa Bumi: Realita yang Mengikat Kita

Oleh Agustinus Ryanto

2 September 2009 adalah kali pertama aku mengalami gempa dengan durasi yang panjang. Kala itu aku masih duduk di kelas X SMA. Satu jam setelah pulang ke rumah, tiba-tiba lantai bergetar. Sedetik dua detik aku masih bingung ini kejadian apa. Barulah setelah tetangga berteriak “Gempaa!” aku lari keluar rumah, menghambur bersama ratusan orang lainnya.

Gempa tektonik berkekuatan 7,2 skala richter itu berpusat di laut selatan. Dengan durasi sekitar 50 detik, guncangannya cukup kuat untuk menghancurkan rumah-rumah di kawasan Bandung selatan dan Cianjur. Tercatat ada puluhan korban meninggal dan ribuan rumah rata dengan tanah. Kondisi rumahku masih cukup aman meskipun muncul banyak retakan, tetapi gedung sekolahku terdampak cukup parah hingga kami pun diliburkan selama dua hari.

Gempa bumi bukanlah hal baru bagi kita yang tinggal di Indonesia, terkhusus jika kita bermukim di sekitaran sabuk gunung berapi dan pertemuan lempeng seperti pulau Jawa, pesisir barat Sumatra, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Papua. Posisi negeri kita yang kaya akan sumber daya alam berdampingan pula dengan bahaya nyata berupa bencana. Lempeng-lempeng tektonis yang saling bertemu dan bertumpuk pasti akan mengakibatkan gempa. Meskipun teknologi telah memungkinkan untuk kita mendeteksi, tetapi memastikan waktu spesifik kapan dan bagaimana gempa itu akan terjadi masihlah sulit.

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita perlu takut, atau abai saja terhadap bencana yang sedang mengintai?

Jujur, hatiku sendiri takut menghadapi bencana. Getaran yang diakibatkan gempa selalu membuat kaki lemas dan kepala pusing. Seketika terbayang segala kengerian yang bisa terjadi pasca bumi bergoncang. Namun, aku pun belajar bahwa gempa dan bencana alam adalah bukti bahwa kita sebagai manusia adalah makhluk kerdil yang tak mampu mengendalikan bumi di bawah pijakan kaki kita. Kita butuh tempat yang lebih kokoh untuk berpijak, dan kabar baiknya, tempat itu dapat kita temukan dalam Allah yang bersabda, “Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu” (Yesaya 54:10).

Kepada umat-Nya, Allah memanggil kita semua untuk datang pada-Nya. Bencana alam meskipun terjadi atas seizin-Nya, bukanlah niatan hati Allah untuk mencelakakan kita. Dunia dipenuhi bencana adalah akibat dari dosa (Kej. 3:17, Rm 8:20-22) dan Allah memanggil kita untuk menemukan perlindungan sejati hanya di dalam Dia saja.

Hari ini ketika kita berduka karena gempa bumi yang baru mengguncang Kabupaten Cianjur pada 21 November, marilah berdoa agar Tuhan memberkati dan menolong setiap proses evakuasi yang masih berlangsung, memberi penghiburan dan pemulihan bagi setiap korban.

Bagi kita yang tidak terdampak secara langsung, momen gempa bumi adalah momen yang baik untuk kita memikirkan ulang bagaimana kita seharusnya bertindak menghadapi gempa. Berdoa dan berserah pada Tuhan sudah tentu jadi yang pertama dan utama, tetapi yang tak kalah penting adalah bagaimana kita belajar melakukan mitigasi yang tepat seperti yang sudah dipraktikkan oleh saudara-saudara kita dari negara yang lebih maju seperti di Jepang.

Ada banyak instansi kredibel yang memberikan informasi mitigasi yang tepat dan mudah kita akses dari internet. Memahami cara mitigasi dengan benar dari sebelum bencana terjadi akan sangat bermanfaat untuk membuat kita siap sedia menghadapi bencana kapan pun. Dan… sambil kita waspada, kita pun berdoa memohon perlindungan dan pemeliharaan Allah sebab pertolongan kita “ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi” (Mazmur 121:2).


Baca lebih lanjut atau bagikan materi tentang musibah dan bencana pada Seri Pengharapan Hidup di bawah ini:

Kala Musibah Melanda

Apa yang kita pikirkan dan rasakan ketika musibah, bencana, atau sesuatu yang buruk melanda hidup kita? Mungkinkah kita tidak sekadar bertahan, tetapi masih berharap dan bahkan bertumbuh? Bagaimana kita masih dapat hidup dengan keyakinan di tengah dunia yang rawan dengan bahaya?

Pasca Bencana

Ketika bencana telah terjadi dan kerusakan yang ditimbulkannya masih terlihat nyata, apa yang perlu orang Kristen perbuat untuk menanggapi peristiwa buruk tersebut secara alkitabiah? Apa saja yang dapat kita lakukan dengan kasih Kristus untuk menolong mereka yang menderita?

Baca lebih lanjut atau bagikan materi tentang musibah dan bencana pada Seri Pengharapan Hidup di bawah ini:

Kala Musibah Melanda

Apa yang kita pikirkan dan rasakan ketika musibah, bencana, atau sesuatu yang buruk melanda hidup kita? Mungkinkah kita tidak sekadar bertahan, tetapi masih berharap dan bahkan bertumbuh? Bagaimana kita masih dapat hidup dengan keyakinan di tengah dunia yang rawan dengan bahaya?

Pasca Bencana

Ketika bencana telah terjadi dan kerusakan yang ditimbulkannya masih terlihat nyata, apa yang perlu orang Kristen perbuat untuk menanggapi peristiwa buruk tersebut secara alkitabiah? Apa saja yang dapat kita lakukan dengan kasih Kristus untuk menolong mereka yang menderita?


Mewujudkan Iman Lewat Perbuatan

Selasa, 22 November 2022

Baca: Yakobus 2:14-26

2:14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?

2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,

2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?

2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?

2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?

2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.

2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”

2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

2:25 Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?

2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. —Yakobus 2:26

Tornado menyerang suatu wilayah pada malam hari di bulan Juni 2021, menghancurkan lumbung milik sebuah keluarga. Kehilangan ini begitu menyedihkan, karena lumbung itu sudah berdiri di tanah keluarga tersebut sejak akhir dekade 1800-an. Ketika keesokan paginya John dan Barb berkendara menuju gereja, mereka melihat kerusakan yang terjadi dan berpikir bagaimana mereka dapat menolong. Mereka lantas berhenti dan mengetahui bahwa keluarga tersebut membutuhkan bantuan untuk bersih-bersih. Mereka pun segera pulang untuk berganti pakaian, lalu kembali lagi untuk membantu membersihkan lumbung yang hancur oleh tornado. Mereka mewujudkan iman mereka dalam perbuatan nyata dengan melayani keluarga tersebut.

Yakobus berkata bahwa “iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak. 2:26). Ia memberi contoh Abraham, yang dalam ketaatannya mengikuti Allah saat ia tidak tahu ke mana akan pergi (ay.23; lihat Kej. 12:1-4; 15:6; Ibr. 11:8). Yakobus juga menyebut Rahab, yang menunjukkan imannya kepada Allah Israel saat ia menyembunyikan para pengintai yang datang untuk memantau kota Yerikho (Yak. 2:25; lihat Yos. 2; 6:17).

“Jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan” (Yak. 2:14), hal itu tidak ada gunanya bagi orang tersebut. “Iman adalah akar, perbuatan baik adalah buahnya,” komentar Matthew Henry, “dan kita harus memastikan bahwa kita memiliki keduanya.” Allah tidak membutuhkan perbuatan baik kita, tetapi iman kita dibuktikan lewat perbuatan-perbuatan kita. —ANNE CETAS

WAWASAN
Yakobus 2:14-26 menantang gagasan bahwa iman dapat hadir sendiri tanpa disertai perbuatan. Yakobus berkata bahwa orang yang menentang pemikiran itu bisa saja berkata bahwa ada orang percaya yang hanya beriman, sementara orang percaya yang lain hanya mempunyai perbuatan (ay. 18). Pihak lawan agaknya berpendapat bahwa keduanya sama-sama bisa berdiri sendiri. Namun, Yakobus menentang pemikiran bahwa iman dan perbuatan dapat dimasukkan ke dalam golongan yang terpisah, dengan berkata bahwa iman sejati tidak mungkin dinyatakan tanpa perbuatan baik (ay. 18). Ia menekankan bahwa iman sejati selalu diwujudkan dalam bentuk pelayanan kepada mereka yang terpinggirkan dalam masyarakat dan lemah dalam hal ekonomi (ay. 14-17). —Monica La Rose

Mewujudkan Iman Lewat Perbuatan

Menurut kamu, mengapa penting bagi kita untuk berbuat baik? Apa yang dapat kamu lakukan sebagai perwujudan kasih kamu kepada Allah?

Ya Allah, izinkan aku melayani-Mu sebagai perwujudan iman dan kasihku kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 18-19; Yakobus 4

Membaca dari Belakang

Senin, 21 November 2022

Baca: Yohanes 2:13-22

2:13 Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem.

2:14 Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ.

2:15 Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.

2:16 Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.”

2:17 Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.”

2:18 Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?”

2:19 Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.”

2:20 Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?”

2:21 Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.

2:22 Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.

Sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya. —Yohanes 2:22

Langsung membaca bab terakhir suatu novel misteri mungkin bukan hal yang disukai oleh para penggemar cerita yang seru dan menegangkan. Namun, sebagian orang ternyata lebih menikmati bacaan mereka jika sudah mengetahui akhir ceritanya.

Dalam Reading Backwards, penulis Richard Hays menunjukkan betapa pentingnya perilaku tersebut bagi cara kita memahami Alkitab. Dengan mengilustrasikan bagaimana berbagai perkataan dan peristiwa dalam Alkitab mengantisipasi, menggemakan, dan menerangkan satu sama lain, Hays memberi kita alasan kuat untuk membaca Alkitab kita dari depan dan dari belakang.

Hays mengingatkan pembaca bahwa setelah Yesus bangkit barulah murid-murid-Nya memahami perkataan-Nya tentang membangun ulang Bait Allah dalam tiga hari. Yohanes berkata, “Yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri” (Yoh. 2:21). Pada saat itulah para murid baru mengerti arti perayaan Paskah yang sebelumnya tidak mereka pahami (lihat Mat. 26:17-29). Dengan mengingat kembali, barulah mereka menyadari bagaimana Yesus memberikan makna seutuhnya bagi kerinduan seorang raja di masa silam kepada rumah Allah (Mzm. 69:10; Yoh. 2:16-17). Hanya dengan membaca ulang Kitab Suci dengan memahami bahwa Bait Allah yang sejati adalah Yesus sendiri, barulah para murid benar-benar mengerti kaitan antara ritual bangsa Israel dan Mesias.

Sekarang, hanya dengan membaca Kitab Suci dari belakang ke depan dan sebaliknya, kita dapat melihat Yesus sebagai jawaban atas segala kebutuhan dan kerinduan kita yang terdalam. —MART DEHAAN

WAWASAN
Injil Yohanes umumnya diterima sebagai kitab Injil yang terakhir ditulis. Rasul Yohanes menulis untuk sekelompok pembaca tertentu, yaitu orang-orang percaya yang berlatar belakang Yunani, dan memberikan perenungannya tentang kehidupan Yesus. Yohanes 2:13-22 memberikan wawasan yang penting tentang iman. Yohanes mengaitkan iman murid-murid pertama Yesus dengan kebangkitan-Nya. Setelah Yesus bangkit dari kematian, iman para murid kepada-Nya terkonfirmasi dan diteguhkan dengan cara yang menguatkan perkataan Kristus sendiri (ay. 19-22). Para murid tersebut belum sungguh-sungguh memahami seluk-beluk tentang iman. Akan tetapi, kita sekarang telah menerima riwayat hidup Yesus yang lebih lengkap dan dapat melihat hubungan antara hidup dan perbuatan-Nya. Yohanes berkata bahwa tujuan dari Injil yang disajikannya adalah “supaya [kita] percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya [kita] oleh iman [kita] memperoleh hidup dalam nama-Nya” (20:31). ——J.R. Hudberg

Membaca dari Belakang

Kesulitan apa yang membuat kamu khawatir akan masa depan? Ketika merenungkan hidup kamu, bagaimana kamu belajar mengerti dan percaya bahwa kisah Allah paling dapat dipahami dan diterima jika dibaca dari sudut pandang kekekalan?

Bapa Surgawi, terima kasih untuk kesempatan menyaksikan sendiri bagaimana Engkau sanggup mengungkapkan keajaiban hadirat-Mu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 16-17; Yakobus 3

Klub Socratic

Minggu, 20 November 2022

Baca: 1 Petrus 3:13-18

3:13 Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?

3:14 Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar.

3:15 Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,

3:16 dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.

3:17 Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.

3:18 Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh,

Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang . . . tentang pengharapan yang ada padamu. —1 Petrus 3:15

Klub Socratic didirikan di Universitas Oxford, Inggris, pada tahun 1941. Perkumpulan itu dibentuk untuk mendorong berlangsungnya perdebatan antara orang percaya dan penganut ateis atau agnostik.

Debat soal agama di universitas sekuler memang lazim dilakukan, tetapi yang mengejutkan adalah, selama lima belas tahun klub tersebut diketuai oleh C. S. Lewis, seorang cendekiawan Kristen yang hebat. Lewis terbuka untuk membiarkan pemikirannya diuji, dengan keyakinan bahwa imannya kepada Kristus takkan goyah oleh serangan yang hebat. Ia tahu ada bukti yang kredibel dan rasional untuk percaya kepada Yesus.

Lewat sikapnya tersebut, Lewis sedang mempraktikkan nasihat Rasul Petrus kepada umat Tuhan yang terserak akibat penganiayaan, “Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1Ptr. 3:15). Petrus menekankan dua hal kunci: kita memiliki alasan kuat untuk menaruh pengharapan kepada Kristus, dan kita patut menunjukkannya dengan “lemah lembut dan hormat”.

Mempercayai Kristus bukanlah sikap yang lari dari kenyataan atau hanya angan-angan semata. Iman kita dilandaskan pada fakta sejarah, termasuk kebangkitan Yesus dan bukti penciptaan yang menjadi saksi tentang Penciptanya. Dengan bersandar pada hikmat Allah dan kuasa Roh Kudus, kiranya kita siap membagikan alasan kepercayaan kita pada Allah yang Mahabesar. —BILL CROWDER

WAWASAN
1 Petrus 3:15 sering kali dikemukakan sebagai suatu tantangan agar kita siap sedia menanggapi kesempatan-kesempatan untuk membagikan iman: “Hendaklah kalian selalu siap untuk memberi jawaban kepada setiap orang yang bertanya mengenai harapan yang kalian miliki” (BIS). Namun, membagikan iman mungkin aspek sekunder dari maksud Petrus. Pertama-tama kita harus hidup dengan pengharapan di dalam dunia yang pada umumnya tanpa harapan. Perhatikan bahwa Petrus mengatakan bahwa orang-orang akan bertanya mengenai harapan yang kita miliki. Ketika kita menjalani kehidupan penuh pengharapan di dalam dunia yang rusak ini, orang-orang di sekitar kita akan melihat suatu perbedaan. Kemudian, kita harus siap memberikan jawaban kepada mereka mengenai harapan yang menjadi ciri hidup kita. Pengharapan tersebut membedakan mereka yang percaya kepada Yesus dari mereka yang hidup tanpa Kristus, yang Paulus gambarkan sebagai “tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia” (Efesus 2:12). Allah sajalah pengharapan kita, dan kita ditantang untuk hidup sedemikian rupa. —Bill Crowder

Klub Socratic

Bagaimana cara kamu membagikan iman kamu kepada orang lain? Apa bukti tentang kebangkitan Yesus yang menjadikannya masuk akal, meski jelas itu merupakan peristiwa mukjizat?

Allah Mahakuasa, terima kasih, Engkau telah memberiku bukti-bukti kredibel yang membuatku semakin percaya kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 14-15; Yakobus 2

Allah Mengenal Anda

Sabtu, 19 November 2022

Baca: Mazmur 139:1-12

139:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;

139:2 Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.

139:3 Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi.

139:4 Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.

139:5 Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku.

139:6 Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.

139:7 Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?

139:8 Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.

139:9 Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut,

139:10 juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

139:11 Jika aku berkata: “Biarlah kegelapan saja melingkupi aku, dan terang sekelilingku menjadi malam,”

139:12 maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.

Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku. —Mazmur 139:1

Sepertinya ibu saya dapat mengendus masalah dari jarak jauh. Pernah suatu kali, setelah melewati hari yang sulit di sekolah, saya berusaha menyembunyikan perasaan frustrasi saya dan berharap tidak ada yang menyadarinya. “Ada apa?” tanya ibu saya. Lalu beliau menambahkan, “Sebelum bilang tidak ada apa-apa, ingat, aku ibumu. Ibu yang melahirkanmu, dan mengenalmu lebih dari dirimu sendiri.” Ibu saya sering mengingatkan bahwa pengenalannya yang mendalam tentang diri saya membantunya untuk siap menolong saya di saat saya paling membutuhkan dirinya.

Sebagai orang percaya, kita diperhatikan oleh Allah yang mengenal kita secara intim. Daud sang pemazmur memuji Allah atas perhatian-Nya terhadap kehidupan anak-anak-Nya. Ia berkata, “Tuhan, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh” (Mzm. 139:1-2). Karena Allah mengenal siapa kita—setiap pemikiran, hasrat, dan perbuatan kita—tidak ada tempat yang dapat kita tuju yang berada di luar kasih dan perhatian-Nya yang melimpah (ay.7-12).

Daud menulis, “Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku” (ay.9-10). Kiranya kita terhibur saat mengetahui bahwa dalam situasi apa pun, ketika kita berseru kepada Allah di dalam doa, Dia akan menyediakan kasih, hikmat, dan tuntunan yang kita butuhkan. —Kimya Loder

WAWASAN
Dalam Mazmur 139:1-12, Daud menulis tentang dua sifat fundamental Allah. Ayat 1-6 menggambarkan kemahatahuan Allah, yang artinya Dia tahu segalanya. Dalam ayat 7-12, pemazmur merenungkan kemahahadiran Allah, yang berarti Allah berada di segala tempat. Setelah itu, Daud bermazmur tentang kemahakuasaan Allah, ketika ia menggambarkan kuasa Allah yang tidak terbatas dinyatakan dalam penciptaan manusia (ay. 13-18). Menariknya, gagasan-gagasan tersebut digambarkan dengan cara yang sangat intim. Mazmur adalah kidung atau doa yang mengutarakan pikiran, emosi, dan keadaan pribadi kepada Allah. Daud paham bahwa Allah mengenalnya secara pribadi dan Dia berada di mana-mana. Meski pengetahuan-Nya sungguh tak terbayangkan, kepedulian Allah masih tetap ditujukan pada umat manusia. Itulah yang dimaksudkan Yesus dalam Matius 6:25-34 bahwa karena Allah peduli bahkan kepada burung-burung, Dia pasti juga peduli kepada kita dan mengetahui kebutuhan kita. —J.R. Hudberg

Allah Mengenal Anda

Kapan kamu merasa seolah tak seorang pun mengerti perasaan kamu yang sebenarnya? Bagaimana kehadiran Allah menolong dan memberi kekuatan bagi kamu dalam masa-masa sulit itu?

Allah yang penuh kasih, berkali-kali aku merasa disalahpahami dan ditinggalkan sendirian. Terima kasih, Engkau mengingatkanku tentang kehadiran-Mu dalam hidupku. Aku tahu Engkau melihat, mendengar, dan mengasihiku, sekalipun rasanya tidak ada yang memahami diriku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 11-13; Yakobus 1

Semuanya Dimulai dengan Percaya Bahwa Tuhan Itu Baik

Oleh Gabrielle Triyono
Artikel asli dalam bahasa Inggris: It Starts With Believing God is Good

Kita semua mungkin pernah berkata “Thank God” atau “Tuhan baik” berkali-kali dalam hidup kita. Tapi, apakah pilihan dan cara hidup kita benar-benar mencerminkan apa yang kita katakan? Jawabanku adalah: tidak selalu. 

Tumbuh besar sebagai orang Kristen, aku diajarkan kalau Tuhan itu baik, dan memang aku telah mengalami sendiri kebaikan Tuhan. Tapi, meskipun aku mengalami kebaikan-Nya, seringkali aku masih ragu dengan apa yang Tuhan minta untuk kulakukan.

Pada suatu momen, Tuhan meneguhkan hatiku untuk putus dari suatu hubungan pacaran. Meskipun pada masa-masa yang lalu aku telah mengalami sendiri kesetiaan dan kebaikan Tuhan, tapi keterikatanku pada relasi dengan pacarku membutakanku dari melihat tuntunan Tuhan. Aku memaksakan kehendakku sendiri dan menganggap cara Tuhan bukanlah yang terbaik buatku. 

Tapi, ternyata aku salah.

Hubungan dengan pacarku membuatku jauh dari Tuhan. Aku kehilangan fokus kepada panggilan Tuhan. Buku-buku yang Tuhan tanamkan dalam hatiku untuk kutulis jadi tertunda, dan aku tidak bisa memberi diri sepenuhnya untuk melayani dalam persekutuan di gereja. Dan karena Yesus tidak pernah menjadi pusat dalam hubunganku dengan pacarku, kami  pun tidak bertumbuh secara rohani.

Sejak itu, aku melihat Tuhan berkarya lebih banyak dalam hidupku daripada sebelumnya.

Tuhan membuka pintu bagiku untuk menjadi pemimpin di persekutuan para lajang di gerejaku (meskipun aku baru join persekutuan ini beberapa bulan saja). Aku juga diundang untuk berbicara, berbagi kesaksian, dan memimpin ibadah untuk acara Natal para lajang di gerejaku. Sungguh mengharukan melihat bagimana ceritaku berpengaruh pada orang-orang yang juga bergumul dalam hidupnya. Salah satunya lewat buku yang kutulis, yang berjudul Living Revelations. Beberapa orang memberiku tanggapan bahwa karyaku itu bermanfaat bagi mereka. 

Aku pun mengalami Efesus 3:30 menjadi nyata dalam hidupku: Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.”Tuhan pasti memberiku lebih dari apa yang kubayangkan. Dia membuka lebih banyak pintu untuk pelayananku. 

Pengalaman ini membuatku sadar tentang kebenaran penting. Menyadari bahwa Tuhan itu baik menolong kita melangkah dalam ketaatan untuk melakukan panggilan kita.  Mazmur 18:30 mengingatkan kita, “Adapun Allah, jalannya sempurna.”

Seringkali kita melewatkan berkat Tuhan dengan menolak untuk menaati-Nya karena kita tidak percaya kalau jalan-Nya adalah sempurna. Aku perlu belajar bahwa meskipun jalan-Nya terlihat seperti bukan yang terbaik, tapi itulah yang terbaik buat kita. 

Pertemuan Simon Petrus dengan Yesus adalah contoh yang baik tentang pentingnya percaya pada panggilan Allah. Dalam Lukas 5, Yesus meminta Petrus untuk berlayar ke perairan yang dalam untuk menangkap ikan lagi, sedangkan Petrus baru saja menghabiskan sepanjang malam melaut tapi tidak ada ikan yang tertangkap.

Petrus pun menanggapi Yesus, Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Petrus sudah kelelahan, dan kita bisa melihat dari tanggapannya bahwa dia tidak merasa gagasan Yesus itu baik. Namun, walaupun dia ragu dan bimbang, dia tetap melakukannya.

Apa hasilnya? Berkat yang luar biasa.

Petrus dan rekan-rekan nelayannya menangkap begitu banyak ikan, sampai jala mereka pun mulai koyak (ayat 6). Lukas 5:8-9 mengatakan, “Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus… Dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap..” (titik beratku).

Petrus menyadari kebaikan Tuhan. Jika dia mengikuti perasaannya dan tidak mendengarkan Yesus, dia tidak akan pernah berada pada posisinya saat itu—di kaki Yesus, penuh kekaguman akan kuasa-Nya.

Mungkin kita seperti Simon Petrus. Tapi seperti pengalaman yang ditunjukkan Petrus, perasaan kita tidaklah selalu jadi cerminan kenyataan. Tuhan ingin memenuhi kita dengan kebaikan dan berkat-Nya, tapi itu dimulai dengan ketaatan kita.

Maukah kita menanggapi Yesus seperti Simon Petrus dan berkata, “Karena Engkau telah bilang begitu, maka aku akan melakukannya”

Jika kamu belum melihat tangan Tuhan berkarya dalam hidupmu, sekaranglah kesempatanmu untuk melihat kebaikan-Nya tercurah dalam hidupmu. Dan jika kamu telah melihat Tuhan berkarya dalam hidupmu, percayalah Dia akan melakukannya lagi dan lagi.

Hari ini, maukah kita mengikuti permintaan Yesus? Melakukan perintah-Nya dengan beriman, terlepas dari perasaan dan keraguan kita. Maukah kita menyadari kebenaran sederhana ini bahwa Tuhan selalu berlaku baik untuk kebaikan kita?

Kita tidak perlu takut dengan apa yang akan datang. Selama kita berjalan dengan Tuhan, kebaikan-Nya akan selalu menemani hidup kita. Mazmur 23:6 berkata, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.”.

Tidak ada yang lebih baik daripada hidup di dalam kehendak Tuhan.

Mengingat dan Mendoakan

Jumat, 18 November 2022

Baca: Kisah Para Rasul 12:4-11

12:4 Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak.

12:5 Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

12:6 Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu.

12:7 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: “Bangunlah segera!” Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus.

12:8 Lalu kata malaikat itu kepadanya: “Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!” Iapun berbuat demikian. Lalu malaikat itu berkata kepadanya: “Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!”

12:9 Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu, bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan.

12:10 Setelah mereka melalui tempat kawal pertama dan tempat kawal kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia.

12:11 Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata: “Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi.”

Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah. — Kisah Para Rasul 12:5

“Aku akan mengingat dan mendoakanmu.” Ketika mendengar kata-kata itu, kamu mungkin bertanya-tanya apakah orang tersebut bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Namun, ketika Edna Davis yang mengatakannya, kamu tidak perlu bertanya-tanya. Semua orang di kota kecil itu tahu tentang “buku catatan kuning milik Edna”. Pada halaman-halamannya tertulis barisan nama-nama. Setiap pagi, wanita yang sudah berumur tersebut berdoa kepada Allah dengan suara lantang. Tidak semua orang dalam daftarnya mendapat jawaban seperti yang diinginkan, tetapi beberapa bersaksi pada pemakaman Edna bahwa sesuatu yang besar telah mereka alami dari Allah, dan mereka menyebut itu berkat doa tulus yang dipanjatkan Edna.

Allah menunjukkan kekuatan doa dalam pengalaman Petrus saat dipenjara. Setelah sang rasul ditangkap oleh anak buah Herodes, dilempar ke penjara, dan berada “di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit” (Kis. 12:4), nasibnya terlihat suram. “Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah” (ay.5). Mereka mengingat dan mendoakan sang rasul. Apa yang Allah lakukan kemudian sungguh ajaib! Seorang malaikat menampakkan diri kepada Petrus di dalam penjara, melepaskannya dari rantainya, dan membawanya ke luar gerbang penjara (ay.7-10).

Mungkin saja beberapa orang yang berkata akan mengingat dan mendoakan kita sebenarnya tidak sungguh-sungguh bermaksud melakukannya. Namun, Allah Bapa kita mengetahui pikiran kita, mendengarkan doa-doa kita, dan bertindak bagi kita seturut kehendak-Nya yang sempurna. Didoakan dan mendoakan orang lain bukanlah hal sepele saat kita melayani Allah yang besar dan berkuasa. —JOHN BLASE

WAWASAN
Dalam pemenjaraan oleh Raja Herodes (Kisah Para Rasul 12:1-4)—Herodes Agripa I, cucu Herodes Agung (Matius 2:1)—situasi yang dihadapi Petrus tampak suram. Herodes baru saja membunuh Yakobus, anak Zebedeus (Kisah Para Rasul 12:2), dan ia merencanakan “supaya sehabis Paskah ia menghadapkan [Petrus] ke depan orang banyak” (ay. 4), kemungkinan berencana untuk menghukum mati Petrus di depan umum. Petrus dipenjarakan di bawah pengawasan sangat ketat, dibelenggu dengan dua rantai, di antara dua orang prajurit, sementara prajurit-prajurit lain mengawal di muka pintu (ay. 6). Kelepasannya oleh malaikat Allah terjadi begitu tiba-tiba, sehingga ia menyangka itu suatu penglihatan belaka, tidak yakin bahwa itu benar-benar terjadi (ay. 9,11). —Monica La Rose

Mengingat dan Mendoakan

Kapan terakhir kali kamu tahu ada orang yang sungguh-sungguh mengingat dan mendoakan kamu? Siapa yang dapat kamu doakan seperti itu hari ini?

Tuhan Yesus, terima kasih, aku dapat membawa setiap keprihatinanku kepada-Mu, dan Engkau pasti mendengarkanku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yehezkiel 8-10; Ibrani 13