Tuhan Peduli dan Menyertai, Tak Peduli Sesibuk Apa Pun Jadwalmu

Oleh Cynthia Sentosa, Surabaya

Hai, bagaimana hari-harimu?

Entah kamu seorang murid sekolah, mahasiswa, atau pejuang pencari nafkah, mungkin kamu merasakan hari-hari yang melelahkan dengan segudang aktivitas. Aku sendiri sebagai mahasiswa semester 5 merasakan hari-hari ini tidaklah mudah.

Ketika awal semester aku merasa cukup percaya diri dan mampu untuk melewati perkuliahanku dengan baik. Aku bisa menata prioritas, antara studi dan aktivitas lainnya. Namun, memasuki bulan September rasa percaya diriku menyusut. Aku kewalahan karena tugas-tugas kuliahku semakin banyak, ditambah lagi dengan jadwal pelayanan yang semakin padat karena aku tergabung dalam paduan suara yang akan menjadi pengisi acara kampus. Bahkan untuk pekerjaan remeh seperti mencuci baju pun aku jadi kewalahan, padahal aku termasuk tipe orang yang terstruktur, bukan tipe deadliner.

Di tengah kewalahan itu, aku sempat mengikuti pertemuan cell group bersama salah satu dosen tutor kami. Rupanya bukan aku saja yang kewalahan, sebagian besar temanku juga merasakannya. Ketika aku mendengarkan sharing mereka dan juga merenungkan kesibukanku, kudapati bahwa tak sedikit dari kami yang terlalu sibuk dengan jadwal kesibukan sehingga kami kurang memperhatikan kesehatan spiritual.

Tanpa menghakimi, dosen tutor kami mendengarkan sharing kami dengan seksama dan tidak menghakimi kami. Dia lalu menanggapi semua cerita kami dengan membagikan ayat dari Efesus 3:20 yang berkata: “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.”

Dalam terjemahan versi bahasa Inggris NIV, ada bagian yang menarik: “Now to him who is able to do immeasurably more than all we ask or imagine, according to his power that is at work within us.”

Kata immeasurably menarik untuk kita selidiki. Kata ini berarti “tidak terukur”. Konteks ayat tersebut adalah Paulus sedang menuliskan doanya kepada jemaat di Efesus. Paulus rindu agar mereka memiliki iman yang berakar dalam kasih Kristus dan yakin bahwa Kristus yang mereka percayai adalah Tuhan yang jauh lebih besar daripada yang pernah mereka pikirkan, bahkan kebesaran-Nya tak bisa diukur oleh alat pengukur apa pun.

Melalui ayat ini, dosen tutorku menyampaikan bahwa di tengah padatnya jadwal harian atau rutinitas kita, ada Tuhan yang mengerti apa yang kita rasakan. Bahkan, Dia juga sanggup menolong kita untuk menghadapi setiap tugas dan tanggung jawab yang kita terima. Meskipun kita lelah dan seakan tidak sanggup lagi menjalani hari-hari, selalu ada harapan di dalam Tuhan dan Dia akan memberikan kita sukacita-sukacita tersendiri di tengah kelelahan kita.

Sharing dari dosen tutorku menguatkanku. Aku merasa kembali bersemangat menjalani hari-hariku, meskipun memang jadwalnya semakin sibuk, namun sungguh ada sukacita yang hadir di tengah kelelahanku. Aku bisa menikmati makanan yang kumakan, menikmati taman di kampusku, memandangi langit dengan rasa syukur, dan sebagainya. Pikiran dan perasaan merasa kewalahan memang tidak hilang begitu saja, namun ketika aku menjalani hari yang sibuk itu ada kekuatan dari Tuhan yang memampukanku untuk menjalaninya dengan baik.

Aku rindu kebenaran firman Tuhan juga dapat menguatkan teman-teman sekalian yang saat ini sedang bergumul atau kewalahan dengan semua hal yang terjadi dalam hidup kalian. Entah itu tugas-tugas yang menumpuk, atau kalian merasa lelah dengan relasi bersama teman, keluarga. Tuhan akan memberikan sukacita bagi kita semua.

Namun, kita perlu mengingat juga bahwa di tengah kesibukan yang amat menyita waktu, kita pun perlu bersikap bijaksana. Ada prioritas yang harus kita tetapkan. Mana hal yang dapat dan perlu kita tuntaskan, mana yang harus kita tunda atau lepaskan. Ini beberapa tips singkat dariku yang mungkin bisa menolong kita menghadapi hari yang super sibuk dengan baik:

1. Kita perlu memulai hari bersama Tuhan dengan membaca Alkitab dan berdoa. Katakanlah pada Tuhan bahwa kita membutuhkan Dia sepanjang hari.

2. Kita perlu tetap memperhatikan kesehatan tubuh. Jangan sampai melewatkan waktu makan. Sakit di tengah kesibukan tidaklah enak karena akan menghambat pekerjaan kita.

3. Sempatkanlah beristirahat meskipun hanya sebentar. Istirahat berupa tidur akan menolong tubuh kita tetap bugar. Selain itu, kita juga bisa mengistirahatkan pikiran dengan main, jumpa teman, atau nonton agar pikiran dan suasana hati kita baik.

4. Cari dan bergabunglah dengan komunitas Kristen yang baik. Kehadiran rekan-rekan seiman akan menguatkan, menghibur, dan bersama mereka kita dapat saling mendoakan.

5. Akhiri hari dengan berdoa. Tuhan tidak meminta kita berdoa dengan panjang. Tuhan berkenan atas ucapan syukur kita, yang kita naikkan dari hati sebagai wujud syukur atas penyertaan-Nya sepanjang hari.

Tetap semangat, teman-teman! Tuhan Yesus memberkati.

Cerita Belum Berakhir

Jumat, 23 September 2022

Baca: Matius 6:9-13

6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,

6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. —Matius 6:10

Ketika episode terakhir serial drama Inggris, Line of Duty, ditayangkan, banyak orang ingin tahu bagaimana akhir dari perjuangan para tokohnya melawan kejahatan terorganisir. Namun, banyak penonton akhirnya kecewa ketika dalam episode terakhir itu justru tersirat kejahatan yang akhirnya menang. “Saya ingin orang-orang jahat diseret ke pengadilan,” kata seorang penggemar. “Kita butuh akhir yang bermoral seperti itu.”

Sosiolog Peter Berger pernah menulis bahwa kita haus akan pengharapan dan keadilan—pengharapan bahwa suatu hari kejahatan akan dikalahkan dan para pelakunya akan dihukum. Dunia yang memenangkan penjahat tidaklah sejalan dengan cara kerja dunia yang kita ketahui. Tanpa disadari, para penggemar yang kecewa itu menyuarakan kerinduan terdalam dari umat manusia agar dunia kembali baik seperti semula.

Dalam doa Bapa Kami, Yesus memandang kejahatan secara realistis. Kejahatan tidak hanya ada di tengah kita—karenanya dibutuhkan pengampunan (Mat. 6:12), tetapi ada dalam skala yang lebih besar—sehingga dibutuhkan kelepasan (ay.13). Namun, kenyataan itu diimbangi dengan pengharapan. Di surga tidak ada kejahatan, dan kerajaan surgawi itu sedang datang ke bumi (ay.10). Suatu hari nanti keadilan Allah akan terpenuhi, “akhir yang bermoral” akan dihadirkan-Nya, dan kejahatan akan dihapus selamanya (Why. 21:4).

Jadi, ketika penjahat di dunia sekarang seakan menang dan membuat kamu kecewa, ingatlah: sampai kehendak Allah terjadi “di bumi seperti di sorga,” selalu ada pengharapan—karena cerita belum berakhir. —Sheridan Voysey

WAWASAN
Dalam Injil Matius, Doa Bapa Kami menjadi bagian kunci dari Khotbah Yesus di Bukit. Ajaran Yesus mengenai doa terutama menantang praktik keagamaan masa itu, karena Dia mendakwa tidak saja para pemimpin agama yang munafik, yang menggunakan ibadah mereka kepada Allah sebagai sarana untuk menarik perhatian kepada diri mereka sendiri (6:5), tetapi juga orang-orang yang tidak mengenal Allah, yang memakai doa-doa mereka sebagai cara untuk mengikat ilah mereka dengan mantera yang “bertele-tele” atau kata-kata yang banyak (ay.7). Sebaliknya, Yesus menawarkan suatu alternatif yang bersifat intim sekaligus penuh ketundukan. Doa Bapa Kami adalah suatu percakapan yang hening dan pribadi antara orang yang berdoa dan Allah sendiri. Doa itu tidak hendak mengekang Sang Pencipta alam semesta, tetapi menempatkan pendoanya dalam sikap tunduk yang percaya penuh kepada Bapa yang berbelas kasih. Dalam pengajaran Yesus, doa menjadi ungkapan rasa percaya, tanpa kesombongan atau kepura-puraan. —Jed Ostoich

Cerita Belum Berakhir

Menurut kamu, mengapa kita mendambakan pengharapan dan keadilan? Bagaimana doa Bapa Kami dapat menolong kamu menghadapi kejahatan dan kekecewaan?

Bapa Surgawi, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga!

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 1-3; Galatia 2

Tindakan-tindakan Sederhana yang (Bisa) Menyentuh Hati Seseorang

Tak perlu segudang emas atau segenggam berlian untuk menghangatkan hati seseorang.

Sedikit tindakan kasih yang dilakukan dengan tulus hati dapat Tuhan pakai untuk menyentuh hati seseorang.

Hari ini, siapakah nama seseorang yang Tuhan tanamkan di hatimu untuk kamu jangkau?

Artspace ini didesain oleh Yosi Octavia @yoctaviaa

Saling Membutuhkan

Kamis, 22 September 2022

Baca: Roma 16:3-16

16:3 Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.

16:4 Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.

16:5 Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.

16:6 Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu.

16:7 Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku.

16:8 Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan.

16:9 Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi.

16:10 Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus.

16:11 Salam kepada Herodion, temanku sebangsa. Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan.

16:12 Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.

16:13 Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu.

16:14 Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka.

16:15 Salam kepada Filologus, dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudus yang bersama-sama dengan mereka.

16:16 Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.

Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus. —Roma 16:16

Dave Kindred adalah jurnalis olahraga yang telah meliput ratusan acara olahraga dan kejuaraan bergengsi. Ia bahkan menulis riwayat hidup Muhammad Ali. Setelah pensiun, ia merasa bosan dan mulai menghadiri pertandingan basket anak perempuan di sebuah sekolah di kotanya. Tak lama kemudian ia mulai meliput setiap pertandingan dan mengunggahnya secara daring. Ketika ibu dan cucu lelakinya meninggal dunia, kemudian istrinya terkena stroke, Dave menyadari bahwa tim basket yang diliputnya itu telah memberinya rasa kebersamaan dan arti hidup. Dave dan tim basket itu saling membutuhkan. Dave berkata, “Tim ini menyelamatkanku. Hidupku berubah menjadi gelap . . . [dan[ mereka hadir membawa terang.”

Bagaimana seorang jurnalis terkenal dapat merasa begitu bergantung pada sekelompok remaja? Sama seperti seorang rasul besar bergantung pada persekutuan dari orang-orang yang ia temui sepanjang perjalanan misinya. Apakah kamu memperhatikan semua orang yang Paulus sebutkan ketika ia menutup suratnya? (Rm. 16:3-15). “Salam kepada Andronikus dan Yunias,” tulisnya, “saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku” (ay.7). “Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan” (ay.8). Paulus menyebutkan lebih dari dua puluh lima nama dalam bagian itu, dan kebanyakan di antaranya tidak pernah disebutkan lagi dalam Kitab Suci. Namun, Paulus membutuhkan mereka.

Siapa saja yang ada dalam komunitas kamu? Tempat terbaik untuk memulai adalah di gereja kamu. Adakah seseorang dalam komunitas tersebut yang sedang bergumul dengan hidupnya? Dengan pimpinan Allah, kamu dapat menjadi terang yang membawa mereka kepada Yesus. Suatu hari kelak mereka mungkin akan membalas kebaikan kamu. —Mike Wittmer

WAWASAN
Paulus memahami bahwa kekuatan dan efektivitas pelayanannya adalah hasil usaha banyak rekan sepelayanannya yang telah bekerja bersama dan mendukungnya. Mengakhiri suratnya kepada jemaat di Roma (pasal 16), Paulus secara khusus menyebutkan beberapa orang yang tanpa lelah melayani dirinya dan bersamanya. Banyaknya nama perempuan dalam daftar itu membuktikan peranan penting mereka dalam gereja mula-mula. Paulus menunjukkan apresiasinya kepada lebih dari delapan puluh rekannya (lihat Kolose 4:7-18; 2 Timotius 1:15-18; Titus 3:12-14), dan itu menolong kita untuk melihat hatinya sebagai gembala. —K.T. Sim

Saling Membutuhkan

Siapa saja orang yang kamu tahu dapat diandalkan? Mintalah kepada Allah untuk memberi kamu teman-teman yang dapat dipercaya. Bagaimana kamu dapat menjadi teman seperti itu?

Ya Bapa, aku bersyukur untuk Yesus, sahabat sejatiku! Kiranya aku dapat menjadi sahabat seperti Yesus bagi orang lain.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 10-12; Galatia 1

Cukup Tak Selalu Bicara Soal Angka

Oleh Raganata Bramantyo

Lulus kuliah, bekerja di perusahaan keren, mendapat penghasilan besar, dan hidup berbahagia. Itu rumus hidup yang kupegang saat studiku tinggal menanti sidang skripsi. Tetapi, realitasnya tidak begitu. Pekerjaan yang kutekuni sempat membuatku tidak puas, hingga akhirnya aku memutuskan untuk mengambil langkah besar.

Kepada atasanku, aku bilang begini, “Saya sudah memutuskan dengan matang bahwa di bulan Mei nanti saya ingin keluar dari pekerjaan ini.” Sudah enam tahun aku bekerja di satu instansi yang jadi pekerjaan pertamaku sejak lulus kuliah. Durasi kerja yang tidak sebentar itu sebenarnya menjadikanku lebih profesional daripada awal masuk dulu. Namun, kekhawatiranku akan kebutuhan-kebutuhanku di masa depan serta iri melihat teman-temanku sudah berproses lebih jauh dalam hal income membuatku merasa harus segera keluar dan mencari ladang baru yang lebih menjanjikan.

“Apa alasannya? Kenapa mau keluar?” atasanku balik bertanya.

“Saya rasa pendapatan saya di sini kurang. Saya udah 6 tahun kerja, Pak. Berharap bisa dapetin penghasilan yang lebih banyak.”

Atasan hingga direktur di tempat kerjaku menyetujui permohonanku, tetapi mereka memberiku nasihat bahwa value suatu pekerjaan tidak selalu diukur berdasarkan materi. Jika aku berubah pikiran, kantorku tetap dengan senang hati menyambutku kembali.

Kejadian yang menjungkirbalikkan pandanganku

Beberapa hari setelah obrolan tentang resign, aku mendapat kabar buruk. Papaku mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Bonggol sendi antara paha dan pinggangnya patah, dan muncul juga penyakit lainnya seperti pneumonia dan yang paling parah adalah autoimun pada bagian usus besarnya. Hanya aku yang punya waktu dan dapat merawat papaku, mengingat papaku telah menikah lagi dan dari keluarga besarku pada mulanya enggan untuk menolongnya.

Saat itu memang biaya pengobatan ditopang oleh BPJS, tetapi tidak semua biaya bisa di-cover. Di sinilah mukjizat terjadi. Dengan tabunganku yang sedikit, rupanya Tuhan mencukupkan dengan berbagai cara. Lebih dari 70 temanku serta beberapa kerabat bahu membahu mengumpulkan uang hingga seratusan juta sehingga semua biaya pengobatan tercukupi. Meskipun pada akhirnya papaku meninggal dunia, tetapi semua biaya pengobatan hingga pemakaman tercukupi tanpa kekurangan sedikit pun. Di samping itu, kantor yang semula ingin kutinggalkan berbaik hati mengizinkanku untuk bekerja dari rumah sakit selama satu bulan tanpa memangkas gaji bulananku.

Momen-momen itu menegurku dengan keras. Aku merasa Tuhan seolah berbicara, “Kamu khawatir sama gajimu yang kecil? Semua kebutuhanmu pasti Aku cukupkan. Biaya rumah sakit papamu pun cukup. Apa yang kamu khawatirkan lagi?”

Aku termenung. Uang yang kudapatkan sebenarnya cukup bagiku, tetapi karena rasa iri aku pun menutup pandanganku akan hal-hal baik yang selama ini aku dapatkan. Mungkin, jika aku berkarier di tempat lain dengan penghasilan yang lebih besar, tentulah ada tuntutan yang lebih besar pula yang mungkin membuatku tidak bisa hadir merawat papaku sampai ujung napasnya. Momen satu bulan kebersamaan itu dipakai Tuhan dengan luar biasa. Aku dan papaku saling memaafkan, dan aku bisa bercerita tentang Tuhan Yesus dan membimbingnya untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Cukup tak selalu bicara soal angka

Pengalamanku di atas mengingatkanku akan kisah tentang seorang kaya raya yang hidupnya tak pernah cukup. Orang kaya itu bernama Rajat Gupta. Dia lahir di Kolkata, India dan menjadi anak yatim pada usia belasan tahun. Tetapi, ketika usianya menginjak pertengahan 40-an tahun, dia menjadi salah satu pebisnis paling sukses. Harta kekayaannya mencapai $100 juta, tetapi dia merasa itu kurang. Ia ingin miliaran dolar. Keinginan inilah yang akhirnya membawanya ke jeruji besi karena dia kedapatan melakukan tindakan curang.

Aku membatin, mengapa Gupta yang telah memiliki uang dengan jumlah amat besar masih saja merasa tidak cukup dan malah ingin terus meraih lebih? Gupta merasa seratusan juta dolar itu kurang. Dia sangat ingin meraih miliaran dolar.

Di sinilah aku mulai belajar merenungkan matematikanya Tuhan. Kita sebagai manusia seringkali berpikir bahwa lebih banyak itu pasti lebih cukup, tetapi natur keberdosaan kita menjadikan kita sulit mendefinisikan pada titik mana kita harus merasa “cukup.” Terhadap keinginan tanpa batas inilah Yesus menegaskan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu” (Lukas 12:15).

Senada dengan sabda Yesus, Morgan Housel, penulis dari buku The Psychology of Money juga menekankan hal yang sama mengapa banyak orang menjadi tamak, “Karena mereka tak tahu kapan harus berkata cukup.”

Morgan juga menuliskan bahwa hanya sedikit di antara kita yang akan atau pernah punya harta miliaran, tetapi setiap kita pada suatu saat dalam hidupnya pasti akan mendapat gaji atau punya sejumlah uang yang cukup untuk mendapatkan kebutuhan dan keinginan kita. Dengan apa yang ada pada kita saat ini, inilah 4 hal yang bisa kita lakukan untuk merasa cukup:

1. Keahlian keuangan tersulit adalah menjaga tiang gawang agar berhenti bergerak

Ketika awal-awal aku merantau ke Jakarta, seorang kakak kelasku mengatakan begini di sesi pertemuan kami, “Temen-temen, kita dulu waktu kuliah bisa kok hidup dengan uang yang seadanya. Sekarang, saat kita udah punya penghasilan yang lebih tetap dan besar, yuk kita coba pertahankan gaya hidup kita. Jangan gaya hidup yang naik, tapi kita belajar memberi lebih.”

Kami pun belajar menekan pengeluaran untuk hal-hal yang kurang penting dan bersifat gengsi semata. Hasil dari hidup berhemat itu kemudian kami kumpulkan untuk membiayai kuliah seorang teman yang kesulitan keuangan.

Menjaga standar pengeluaran memang tidaklah mudah. Ketika penghasilan kita bertambah, tanpa kita sadari ada kebutuhan yang bertambah. Semisal, dulu ketika diberi uang jajan orang tua 1 juta satu bulan kita pergi ke mana-mana naik sepeda. Sekarang, setelah kerja dan punya gaji 5 juta, kita perlu motor untuk menunjang mobilitas karena naik sepeda dirasa terlalu melelahkan. Jika memang kebutuhan yang bertambah itu adalah hal pokok, tentu tidaklah masalah untuk dipenuhi. Toh itu akan menunjang produktivitas atau meningkatkan makna hidup kita.

Tetapi, jika itu hanya sebatas urusan gengsi, di sinilah letak masalahnya. Jika dahulu kita bisa enjoy dengan minum kopi yang kita seduh sendiri, maka sekarang harusnya tak perlu memaksa diri untuk ngopi di kafe-kafe kekinian yang cukup mahal.

2. Berhenti membanding-bandingkan pencapaian finansial

Morgan Housel mengatakan perbandingan sosial adalah pertandingan yang tak akan pernah ada pemenangnya. Semua orang dalam natur keberdosaannya selalu merasa ada yang kurang dengan dirinya.

Kita mungkin hanya melihat hasil dari pencapaian orang lain tanpa tahu seperti apa prosesnya. Menetapkan patokan “sukses” kita pada standar orang lain akan jadi perjalanan yang melelahkan. Alangkah lebih baik jika kita memetakan sendiri apa yang hendak kita capai dan menyerahkannya pada Allah, sebab Dialah yang memelihara dan mencukupkan kita.

3. Cukup adalah cukup

Cukup adalah ketika kita menyadari bahwa menginginkan yang lebih akan mendorong kita pada titik penyesalan. Analogi ini dapat diilustrasikan begini. Satu-satunya cara mengetahui seberapa banyak makanan yang bisa kita makan adalah dengan makan terus sampai muntah. Hanya sedikit yang mencobanya karena tahu kalau muntah itu lebih sakit daripada kenikmatan makan (Housel, 2020:36)

Dengan pertolongan Roh Kudus, kita dapat meminta hikmat untuk mengetahui kapan kita harus berhenti dan berpuas diri dengan pencapaian finansial kita.

4. Uang bisa membeli segalanya, tetapi tidak segalanya bisa dinilai dengan uang

Memiliki keluarga yang menyayangi, teman-teman yang saling mendukung, dan tubuh yang sehat adalah sekelumit dari hal-hal kecil yang membentuk kebahagiaan kita.

Melalui pengalamanku merawat papaku yang menghabiskan uang ratusan juta, aku belajar bahwa ada prestasi terbesarku yang Tuhan karuniakan, yang tak mampu dinilai dengan uang sejumlah apa pun, yakni kebersamaan antara ayah dan anak yang begitu hangat. Dengan uang yang terbatas, Tuhan izinkan aku melihat mukjizat dan pemeliharaan-Nya bahwa Bapa di surga memelihara setiap anak-anak-Nya (Matius 6:26).

Air Kehidupan

Rabu, 21 September 2022

Baca: Yohanes 7:37-39

7:37 Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!

7:38 Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

7:39 Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.

Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! —Yohanes 7:37

Sesampainya di rumah saya, bunga-bunga potong yang dikirim dari Ekuador itu sudah terkulai dan layu. Pada petunjuknya tertulis, bunga-bunga itu akan menjadi segar kembali jika dimasukkan ke dalam vas berisi air segar. Namun, batang-batang bunganya harus dipangkas terlebih dahulu agar dapat menyerap air dengan lebih mudah. Namun, apakah bunga-bunga itu dapat bertahan?

Saya menemukan jawabannya keesokan harinya. Buket bunga dari Ekuador itu mekar kembali dengan indahnya, menampilkan berbagai jenis bunga yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Air segar telah mengubah segalanya—mengingatkan kita pada ucapan Yesus tentang air dan artinya bagi orang percaya.

Ketika Yesus meminta air minum kepada seorang perempuan Samaria—menyiratkan bahwa Yesus bersedia meminum air yang diambilnya dari sumur—Dia pun mengubah hidup perempuan itu. Sang wanita sempat terkejut mendengar permintaan Yesus. Orang Yahudi memandang rendah orang Samaria. Namun, Yesus berkata, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup” (Yoh. 4:10). Selanjutnya, di Bait Allah, Yesus berseru, “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum!” (7:37). Dalam diri mereka yang percaya kepada-Nya, “akan mengalir aliran-aliran air hidup. Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya” (ay.38-39).

Saat hidup terasa berat, Roh Allah yang menyegarkan akan membangkitkan kita hari ini. Dialah Air Hidup, yang berdiam di dalam jiwa kita dengan kesegaran ilahi. Marilah kita minum sepuasnya hari ini. —Patricia Raybon

WAWASAN
Dalam Hukum Musa, Allah memerintahkan setiap laki-laki Yahudi yang sudah dewasa untuk datang ke Bait Allah di Yerusalem untuk memperingati tiga hari raya atau perjamuan tahunan (lihat Keluaran 23:14-17; Ulangan 16:1-17), yaitu Hari Raya Roti Tidak Beragi (Paskah [Pesach]), Perayaan Penuaian (atau Hari Raya Tujuh Minggu [Shavuot] atau Pentakosta), dan Hari Raya Pengumpulan Hasil (atau Tabernakel [Sukkoth] atau Pondok Daun). Dalam Yohanes 7, Yesus pergi ke Bait Allah untuk merayakan Hari Raya Pondok Daun (ay.2,37). Orang Yahudi merayakannya selama seminggu penuh untuk mengenang pemeliharaan Allah selama empat puluh tahun pengembaraan mereka di padang gurun (Imamat 23:33-44). Penyalaan menorah (pelita bercabang tujuh) raksasa di halaman Bait Allah mengingatkan mereka akan tiang api yang telah menuntun mereka (Keluaran 13:21-22), dan ritual penuangan air mengingatkan mereka akan air dari bukit batu yang telah memuaskan dahaga mereka (17:6; Bilangan 20:8-11). Dengan latar belakang itu, Yesus menawarkan “aliran-aliran air hidup” (Yohanes 7:38) dan menyatakan, “Akulah terang dunia” (8:12). —K.T. Sim

Air Kehidupan

Area mana saja dalam hidup kamu yang gersang dan kering? Apa yang mungkin menghalangi kamu meminta Yesus untuk memberikan air hidup-Nya?

Allah yang penuh kasih, saat hidup membawaku melewati jalan yang sulit dan kering, terima kasih atas karunia Roh-Mu, Air Hidup, yang mengalir dalam diri setiap orang percaya.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 7-9; 2 Korintus 13

Keputusan yang Ceroboh

Selasa, 20 September 2022

Baca: Bilangan 20:1-12

20:1 Kemudian sampailah orang Israel, yakni segenap umat itu, ke padang gurun Zin, dalam bulan pertama, lalu tinggallah bangsa itu di Kadesh. Matilah Miryam di situ dan dikuburkan di situ.

20:2 Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun,

20:3 dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: “Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN!

20:4 Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ?

20:5 Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?”

20:6 Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka.

20:7 TUHAN berfirman kepada Musa:

20:8 “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.”

20:9 Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.

20:10 Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?”

20:11 Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.

20:12 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”

Karena kamu tidak percaya kepada-Ku . . . kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan. —Bilangan 20:12

Sewaktu remaja, saya pernah mengendarai mobil terlalu cepat. Saat itu saya mencoba membuntuti teman saya sepulang latihan basket. Hujan sangat deras, dan saya kesulitan mengejar mobilnya. Tiba-tiba saat wiper mobil menyeka air dari permukaan kaca, tampaklah mobil teman saya berhenti tepat di depan! Saya menginjak rem kuat-kuat, tetapi mobil saya tergelincir, lalu menabrak pohon besar. Mobil saya hancur dan saya terbangun dari koma di bangsal rumah sakit setempat. Berkat pertolongan Tuhan, saya selamat, tetapi kecerobohan saya harus dibayar mahal.

Musa pernah membuat keputusan ceroboh yang harus dibayar mahal. Pilihannya yang buruk juga melibatkan air, meski jumlahnya tidak sebanyak dalam kasus saya. Ketika itu umat Israel tidak mendapat air di padang gurun Zin, dan “berkumpullah mereka mengerumuni Musa” (Bil. 20:2). Allah berfirman kepada sang pemimpin yang kelelahan itu agar berkata kepada bukit batu “supaya diberi airnya” (ay.8). Namun, Musa malah “memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali” (ay.11). Allah pun berkata, “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku . . . kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka” (ay.12).

Ketika membuat keputusan ceroboh, kita harus membayar konsekuensinya. “Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah” (Ams. 19:2). Kiranya kita sungguh-sungguh berdoa untuk mencari hikmat dan tuntunan Allah dalam setiap pilihan dan keputusan yang kita buat pada hari ini. —Tom Felten

WAWASAN
Terkadang orang mempertanyakan mengapa Musa dihukum begitu keras, karena kita dapat memahami rasa frustrasinya atas umat Israel yang selama berpuluh-puluh tahun sering memberontak (Bilangan 20:10-20). Salah satu penafsiran menyatakan bahwa kata-kata Musa (“apakah kami harus mengeluarkan air bagimu,” ay.10) tampaknya mengarahkan keberhasilan mukjizat itu kepada dirinya sendiri, kurang lebih seperti para ahli sihir dari agama kafir yang mengaku mempunyai kuasa seperti dewa yang mereka sembah. Penafsiran lain menyatakan bahwa pertanyaan Musa itu bersifat retorik, yang menyiratkan ia tidak percaya bahwa Allah sanggup atau mau mengeluarkan air dari bukit batu. Namun, apa yang kita ketahui adalah Allah menyebut Musa “tidak percaya kepada-[Nya] dan tidak menghormati kekudusan-[Nya] di depan mata orang Israel” (ay.12). —Monica La Rose

Keputusan yang Ceroboh

Keputusan apa saja yang kamu sesali karena diambil dengan tergesa-gesa? Mengapa penting untuk menahan diri dan berdoa sungguh-sungguh untuk mencari hikmat Allah sebelum bertindak?

Tuhan Yesus, tolonglah aku mengikuti perintah-Mu yang bijaksana seturut dengan pimpinan Roh-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 4-6; 2 Korintus 12

Iman yang Imajinatif

Senin, 19 September 2022

Baca: Yesaya 55:6-13

55:6 Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

55:7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.

55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.

55:9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

55:10 Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,

55:11 demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

55:12 Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan.

55:13 Sebagai ganti semak duri akan tumbuh pohon sanobar, dan sebagai ganti kecubung akan tumbuh pohon murad, dan itu akan terjadi sebagai kemasyhuran bagi TUHAN, sebagai tanda abadi yang tidak akan lenyap.

Gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu. —Yesaya 55:12

“Lihat, Opa! Pohon-pohon itu melambai-lambai kepada Allah!” Saat kami melihat pepohonan betula muda merunduk tertiup angin sebelum badai datang, pengamatan cucu laki-laki saya yang menarik itu membuat saya tersenyum dan bertanya, Apakah saya memiliki iman yang imajinatif seperti itu?

Berkaca pada kisah Musa dan semak yang terbakar, penyair Elizabeth Barrett Browning menulis bahwa “Bumi ini dijejali surga, / Dan setiap semak membara dengan Allah; / Namun hanya yang melihatlah, yang menanggalkan kasutnya.” Pekerjaan tangan Allah jelas terlihat di sekeliling kita dalam keajaiban ciptaan-Nya, dan suatu hari, saat bumi diperbarui, yang kita lihat akan jauh berbeda dari yang pernah ada sebelumnya.

Allah memberi tahu kita tentang hari tersebut ketika Dia menyatakannya melalui Nabi Yesaya, “Sungguh, kamu akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkan dengan damai; gunung-gunung serta bukit-bukit akan bergembira dan bersorak-sorai di depanmu, dan segala pohon-pohonan di padang akan bertepuk tangan” (Yes. 55:12). Gunung-gunung bersorak-sorai? Pohon-pohonan bertepuk tangan? Mengapa tidak? Paulus mencatat bahwa “alam akan dibebaskan dari kuasa yang menghancurkannya dan akan turut dimerdekakan dan diagungkan bersama-sama dengan anak-anak Allah” (Rm. 8:21 bis).

Yesus pernah berbicara tentang batu yang berteriak (Luk. 19:40), dan kata-kata-Nya mengingatkan pada nubuat Nabi Yesaya tentang apa yang menanti mereka yang datang kepada-Nya untuk diselamatkan. Ketika kita memandang kepada-Nya dengan iman yang membayangkan perbuatan-perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah, kita akan melihat keajaiban-keajaiban-Nya terus ada untuk selamanya! —James Banks

WAWASAN
Membaca kitab-kitab nubuatan bisa jadi tidak mudah dilakukan, karena kita harus memperhatikan betul-betul untuk mengetahui siapa yang sedang berbicara. Dalam Yesaya 55:1-5, Allah berbicara; ayat-ayat 6-7 menandai perpindahan kepada Yesaya sebagai pembicara. Nabi Yesaya mendorong para pendengarnya untuk memperhatikan pesan Allah. Apa isi pesan itu? Allah mengundang semua orang yang berkekurangan: “Datanglah . . . tanpa membayar, dan makanlah!” (ay.1 BIS) dan “Dengarlah, . . . datanglah kepada-Ku” (ay.3 BIS). Yesaya menguatkan pesan itu dengan mendesak umat, “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui” (ay.6), dan sikap itu menuntut pertobatan: “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya,” bahkan “meninggalkan rancangannya” (ay.7). Dengan kemampuan sendiri, perbuatan maupun pemikiran kita tidak akan dapat menyenangkan Allah (ay.8). Untuk itu, kita membutuhkan “Yang Mahakudus, Allah Israel” (ay.5)—Yesus itu sendiri. —Tim Gustafson

Iman yang Imajinatif

Bagaimana kamu membayangkan bumi yang baru dalam Kerajaan Allah yang kekal? Bagaimana kamu akan memuliakan Allah dengan imajinasi kamu hari ini?

Allah yang penuh kasih, aku memuji-Mu karena tidak ada yang lebih kreatif daripada-Mu! Aku menanti-nantikan untuk melihat keajaiban diri-Mu dan segala yang sanggup Engkau lakukan!

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 1-3; 2 Korintus 11:16-33

Belajar dan Mengasihi

Minggu, 18 September 2022

Baca: Markus 10:13-16

10:13 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.

10:14 Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.

10:15 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.”

10:16 Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka.

Lalu Ia memeluk anak-anak itu . . . dan memberkati mereka. —Markus 10:16

Di sebuah sekolah dasar di Greenock, Skotlandia, tiga guru yang sedang cuti melahirkan, membawa bayi mereka ke sekolah setiap dua minggu sekali untuk berinteraksi dengan para siswa. Bermain dengan bayi mengajar anak-anak untuk berempati, peduli, dan berbagi rasa dengan orang lain. Sering kali, yang paling cepat paham justru siswa-siswa yang “cukup menyulitkan,” ungkap salah seorang guru. “[Anak-anak] berinteraksi pada level yang lebih pribadi.” Mereka belajar “betapa tidak mudahnya merawat seorang anak,” dan “perlunya tenggang rasa terhadap satu sama lain.”

Belajar untuk peduli kepada sesama dari seorang bayi bukanlah ide yang baru bagi pengikut Yesus. Kita mengenal Yesus yang datang dalam wujud bayi. Kelahiran-Nya mengubah seluruh pemahaman kita mengenai kepedulian terhadap satu sama lain. Yang pertama kali mengetahui tentang kelahiran Yesus adalah para gembala, yang bekerja menjaga domba-domba yang lemah dan rentan, suatu profesi yang sering dipandang rendah. Kemudian, ketika anak-anak kecil dibawa ke hadapan Yesus, Dia menegur para murid yang semula menganggap anak-anak tidak penting. Kata-Nya, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” (Mrk. 10:14).

Yesus “memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka” (ay.16). Dalam kehidupan kita sendiri, sebagai anak Allah yang terkadang “menyulitkan”, mungkin kita juga dianggap tidak layak. Namun, sebagai Pribadi yang pernah datang dalam wujud seorang anak, Kristus menyambut kita dengan kasih-Nya. Lewat teladan-Nya, kita diajar tentang kuasa kepedulian yang terwujud saat kita mengasihi sesama. —Patricia Raybon

WAWASAN
Kisah dalam Markus 10:13-16 tentang anak-anak yang dibawa kepada Yesus terdapat dalam ketiga Injil Sinoptik (lihat juga Matius 19:13-15; Lukas 18:15-17). Matius dan Markus menggambarkan peristiwa itu terjadi di daerah Yudea, di seberang Sungai Yordan. Yesus baru saja meninggalkan Galilea di utara tempat Dia mengajar murid-murid-Nya. Di Yudea, di wilayah selatan, “orang banyak datang mengerumuni Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka pula.” (Markus 10:1). Beberapa waktu kemudian, ketika Kristus kembali mengajar murid-murid-Nya, orang-orang membawa anak-anak mereka yang masih kecil kepada-Nya untuk diberkati dan didoakan (Matius 19:13; Markus 10:13). Murid-murid menganggap itu suatu interupsi yang mengganggu, tetapi Yesus tidak menganggapnya demikian. Seperti ditunjukkan Kitab Suci, Dia mengasihi dan menghargai anak-anak, serta memberi peringatan keras bagi orang yang menyesatkan mereka (Matius 18:6). Yesus memanfaatkan “interupsi” itu untuk menyampaikan pelajaran penting: kita perlu menyambut Kerajaan Allah layaknya seorang anak kecil, dengan keyakinan yang sederhana dan kerendahan hati yang tulus (Markus 10:15). —Alyson Kieda

Belajar dan Mengasihi

Apa yang kamu sukai ketika bercengkerama bersama anak-anak? Apa yang diajarkan Yesus kepada kamu hari ini tentang cara mengasihi dan mempedulikan sesama?

Allah yang Mahapeduli, ketika aku lalai menunjukkan empati kepada orang lain, tolong aku untuk peduli seperti Engkau.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 30-31; 2 Korintus 11:1-15