Terserah Pada-Mu, Tuhan

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Kalau seseorang bertanya, “Mau makan apa hari ini?” apa jawabanmu? 

Mungkin kamu akan menjawab dengan spesifik, tapi mungkin pula kamu menjawab dengan tersenyum lalu bilang, “Ya, terserahlah…” Jawaban ‘terserah’ itu berarti kita membiarkan orang lain yang memikirkan dan memutuskan pilihan. Tapi, kadang pilihan yang dibuat malah tidak sesuai dengan yang kita inginkan, lalu kita pun mengomel. Kita lupa kalau sebelumnya kita sudah menjawab “terserah”.

Ketika merenungkan fenomena “terserah” yang sering terjadi dalam obrolan-obrolan kita, aku lantas berpikir tentang Tuhan. Bagaimana dengan Tuhan? Bukankah kita juga dengan mudahnya berkata “terserah” pada-Nya ketika kita minta Dia menyatakan kehendak-Nya buat kita? Bila mau jujur, kurasa sulit untuk menjawab Tuhan dengan kata “terserah” karena dalam diri kita sendiri masih ada keinginan agar kehendak kita sendiri yang terjadi. 

Alkitab memberi kita teladan tentang “terserah” dari Maria, ibu Yesus. Alkitab memang tidak mencatat Maria menjawab Tuhan dengan kata “terserah” secara langsung, tapi sikap Maria selanjutnya menunjukkan apa arti menyerahkan pilihan dan keputusan yang sebenarnya pada Tuhan.

Dalam Matius 1:18-25 dan Lukas 1:26-38, Maria dikisahkan sebagai seorang gadis yang tinggal di desa kecil bernama Nazaret di Galilea. Maria telah bertunangan dengan Yusuf. Baik Maria dan Yusuf, keduanya berasal dari garis keturunan keluarga Daud. Maria kemudian mendapatkan pesan dari malaikat Gabriel. 

Kedatangan Gabriel terjadi tiba-tiba. Setelah mengucapkan salam, Malaikat Gabriel menyampaikan pesan yang dibawanya kepada Maria yaitu dia akan mengandung, melahirkan seorang anak laki-laki, dan akan dinamai Yesus. Maria terkejut, karena sekalipun dia telah bertunangan namun dia belum menikah, maka dia mengatakan “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34) Maka malaikat itu menjawab, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang MahaTinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35).

Yang menarik adalah respon Maria terhadap perkataan Malaikat Gabriel. Dia menjawab, ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38).

Maria menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan, suatu kesadaran bahwa dirinya adalah hamba yang harus tunduk kepada otoritas (dalam hal ini terlebih lagi ada otoritas ilahi yaitu Allah). Dan ketika dia mengatakan “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu”, ada unsur iman dan ketaatan di dalamnya. 

Apakah iman Maria adalah iman yang buta? Apakah Maria tidak tahu risiko apa yang harus dihadapinya saat dia harus hamil di luar nikah? 

Maria dengan jelas tahu risiko apa yang harus dihadapinya bila dirinya ketahuan telah hamil sebelum menikah. Beberapa risiko yang dapat terjadi adalah Maria bisa dibuang atau diasingkan dari masyarakat, bahkan dapat dikeluarkan dari ikatan keluarga, kesalahpahaman masyarakat Yahudi yang mungkin mempertanyakan kesucian keluarganya, risiko putus tunangan dengan Yusuf, bahkan mungkin juga ancaman hukuman mati (kehamilan di luar nikah adalah pelanggaran berat bagi orang Yahudi, seperti tercatat pada Ulangan 22:23-24). 

Kita dapat melihat iman Maria bukan iman buta. Terlepas dari semua risiko yang mungkin dia hadapi, Maria tunduk pada kehendak Tuhan. Dia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan. Dia rela untuk mempercayakan perjalanan hidupnya kepada rencana Allah sekalipun rencana itu akan mengubah seluruh hidupnya.

Maria tidak hanya menunjukkan imannya, dia juga menampilkan ketaatan. Tidak ada bantahan, perdebatan, atau mencoba mengelak, Maria memilih untuk patuh pada kehendak Allah. Dia melakukan apa yang Allah minta dengan sepenuh hatinya.

Ketika kita memilih berserah di dalam melakukan kehendak Tuhan, hal itu tentu menyenangkan hati-Nya. Tuhan senang kepada orang-orang yang melakukan kehendak-Nya. Bukan hanya itu, saat kita memilih berserah, ketakutan dan kekhawatiran kita mungkin akan tetap ada, tetapi itu tidak lagi menguasai kita karena kita tahu kepada Siapa kita percaya, yakni pada Dia yang telah menyatakan kehendak-Nya. Hidup dapat menjadi jauh lebih damai dan tenang untuk dijalani. Dan tanpa kita sadari, sikap berserah yang kita jalankan dapat menjadi berkat bagi sesama kita. Hidup kita menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekeliling kita. 

Meskipun berserah kepada kehendak Tuhan bukan hal yang mudah dilakukan, marilah kita berusaha untuk terus mencobanya. Mengatakan “Terserah pada-Mu, Tuhan” tidak lagi sekadar ucapan, tetapi dengan iman dan ketaatan.

3 Masalah Ketika Identitas Kita Ditentukan dari Pekerjaan yang Kita Lakukan

Oleh Andrew Laird
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Problems When We Tie Our Identity To Our Work

Pertanyaan apa yang biasanya kamu tanyakan ketika bertemu dengan seseorang pertama kali? Kutebak sih, biasanya setelah bertanya nama, satu pertanyaan yang mungkin muncul adalah, “Kamu kerja apa?” 

Tapi, pernahkah kamu cermati bagaimana respons dari orang-orang? Biasanya, jawabannya bukan “Aku kerja sebagai pengacara,” tapi “Aku pengacara”. Kita hidup di dunia yang berpikir, “Aku adalah apa yang aku lakukan”, di mana identitas kita terikat pada apa yang kita kerjakan. 

Pemikiran ini mungkin rasanya cuma hal kecil, tapi setidaknya ada tiga masalah yang muncul dari pemikiran ini yang bisa berdampak hebat buat kita. 

Apa saja masalahnya? Dan yang lebih penting, apa solusinya?

  1. Itu membawa konsekuensi negatif dari individualisme

Titik awal dari pemikiran kalau “Aku adalah apa yang aku lakukan” adalah ciri khas dari budaya yang dibentuk oleh individualisme yang berkembang di Barat. 

Salah satu cara untuk mendefinisikan individualisme adalah dengan memikirkan diri sendiri, “diri sendiri adalah tujuannya.”[1]. Siapakah aku itu dimulai dan diakhiri olehku. Aku membentuk takdirku. Aku membentuk diriku. Generasi di atas kita mendefinisikan diri mereka dalam hubungan dengan komunitas mereka. Tapi, dalam konsep individualisme Barat, akulah yang membentuk identitasku sendiri. Nilai-nilai diriku ditentukan dari apa yang mampu aku raih dan selesaikan.

Apa artinya ini bagi pekerjaan kita? Itu menjadi identitas kita. Kalau pekerjaan kita bagus, tentu ini tidak jadi masalah. Tapi, ketika pekerjaan kita mengalami kemunduran, melekatkan nilai diri kita pada apa yang kita kerjakan menjadi beban yang menghancurkan diri kita. 

  1. Itu adalah cara hidup yang menghancurkan 

James Suzman dalam bukunya, Work: A History of How We Spend Our Time [2], menuliskan kisah pilu dari Prof. Vere Gordon Childe, seorang arkeolog yang mengakhiri hidupnya sendiri ketika dia menyimpulkan bahwa dia tidak memiliki “kontribusi lebih yang berguna” di pekerjaannya.

Tapi, bukan cuma Profesor Childe yang berpikir begitu. Ada kaitan yang tragis antara kekecewaan, kegagalan dalam kerja, pensiun, dan bunuh diri. Ketika pekerjaan menjadi nilai diri kita, itu akan menghancurkan kita ketika pekerjaan itu mengecewakan. 

Beban yang kita tempatkan pada diri sendiri ini dapat kita lihat dalam berbagai situasi. Aku ingat pernah menerima email dari seorang wanita yang sakit selama beberapa waktu. Isi emailnya terdapat kalimat, “Aku tidak berguna”, karena dia tidak bisa melakukan apa yang diminta, lantas dia menganggap dirinya tak berguna. 

Namun, jika seandainya yang terjadi sebaliknya—pekerjaan kita berjalan baik, yang ada malah membuat kita menjadi berbangga diri. Jika aku adalah tujuan dari hidupku sendiri, maka setiap sukses yang kuraih adalah suksesku sendiri. Kebanggaan yang berlebih akan membawa masalah sendiri. 

Timothy Keller merangkum dua bahaya yang bercabang dari meletakkan nilai diri kita pada pekerjaan: “Ketika pekerjaan adalah identitas kita, kesuksesan akan masuk ke kepalamu dan kegagalan akan masuk ke hatimu.” [3]. “Aku adalah apa yang kulakukan” adalah cara hidup yang menghancurkan.

  1. Meletakkan nilai diri kita pada komunitas, ini juga bukan solusi

Kita mungkin berpikir konsep individualisme ini begitu destruktif, jadi sepertinya melihat diri kita dengan cara pandang yang lebih komunal (kita meletakkan identitas kita pada keluarga atau komunitas yang jadi bagian kita) adalah solusinya. 

Dalam bukunya yang berjudul Selfie, Will Storr menelusuri akar individualisme Barat dan budaya komunal atau kebersamaan yang biasanya hadir dalam budaya Asia. Dia merangkum, “Diri orang-orang Asia itu meleleh [membaur] ke dalam diri orang-orang lain yang mengelilinginya.” Jadi, ketika bicara soal pekerjaan, tidaklah asing untuk mendefinisikan diri dalam kaitan dengan perusahaan atau tempat bekerja.” Contohnya, Will bertemu dengan seorang pria di Jepang yang mengenalkan dirinya bukan sebagai “David”, tapi “David yang kerja di Sony.” 

Identitas yang diletakkan pada korporat bukan pula jadi solusi. Angka bunuh diri di Asia Timur itu tinggi. Kenapa? Karena di budaya Asia, jika kamu gagal, maka kelompokmu juga gagal. Storr kembali menjelaskan, “Ketika satu individu mengakhiri hidupnya sendiri, kehormatan akan dikembalikan ke kelompoknya… seorang CEO yang bunuh diri terdengar masuk akal bagi orang-orang Jepang” [4]. 

Hanya Yesus jawabannya

Jadi, ketika individualisme Barat atau konsep komunalisme tidak bisa jadi solusi, ke mana kita harus berpaling? Hanya Injil yang membebaskan kita dari beban “aku adalah apa yang kulakukan”. Kebebasan itu tidak dimulai dari identitas kita, tapi dari identitas Yesus. 

Satu hal yang luar biasa, kebenaran mendasar dari iman Kristen adalah siapa yang “di dalam Kristus” mendapatkan identitas-Nya. Identitas Kristus adalah identitas kita. Kebenaran-Nya adalah kebenaran kita. Memahami identitas kita dimulai dengan memahami identitas Kristus. 

Seperti apakah identitas-Nya itu? Allah Bapa berkata ketika Kristus dibaptis, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17). Ketika Bapa melihat Anak, keputusan-Nya adalah kasih dan sukacita. Dan, itulah ketetapan yang Allah berikan untukmu, bagi setiap orang yang ada di dalam Kristus. Prestasi dan pencapaian kita bukanlah sumber identitas kita. Status dan identitas kita dianugerahkan dari Seseorang di luar kita [5]. 

Apakah kamu melihat perubahan revolusioner yang dibawa dari konsep ini kepada caramu memandang pekerjaan dan dirimu sendiri? Dengan percaya diri yang teguh dalam Kristus, pekerjaan kita tidak lagi menjadi sumber identitas, tapi menjadi ekspresi dari identitas kita. Menghidupi kepercayaan dari kasih dan anugerah Allah, alih-alih berupaya keras melakukan pembuktian kepada orang lain, kamu menjadikan pekerjaanmu sebagai ladang untuk menunjukkan identitasmu dalam Kristus. Inilah perubahan radikal yang dibawa oleh Injil dalam kehidupan dan pekerjaan kita. 

Apa salah satu cara praktis agar kita dapat mengubah cara pandang yang salah dan menerima identitas yang kita miliki dalam Kristus?

Kita bisa memulai dengan bertanya, “Bagaimana aku merespons ketika pekerjaanku dikritisi?” 

Tidak ada kritik yang menyenangkan, tapi dari kritik ini kita bisa melihat bagaimana cara pandang kita. Jika kritik itu membuat kita merasa gagal dan kalah, atau kritik itu membangkitkan amarah dan kita mencari cara untuk membela diri, bisa jadi itu petunjuk kalau kita mengaitkan identitas kita pada apa yang kita kerjakan (kadang kritik itu tidak cuma mengkritik pekerjaannya, tapi orangnya juga). Mengetahui bagaimana kita merespons dapat menolong kita untuk berhenti dan memikirkan ulang di mana kita meletakkan identtias kita. Jika kita meletakkannya pada tempat yang salah, perbaikilah itu dengan meletakkannya pada Kristus. 

 

Catatan kaki:

[1] LucFerry, A Brief History of Thoughts, 122

[2] James Suzman, A Work History on How We Spend Our Time, 177

[3] twitter.com/timkellernyc/status/510539614818680832

[4] Will Store, How the West Become Self-Obsessed, 81

[5] Dikutip dari course bertema “I Am What I Do? A Theology of Work and Personal Identity”.

Mangkuk Biji Kopi

Kamis, 29 September 2022

Baca: Yohanes 12:1-7

12:1 Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati.

12:2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus.

12:3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.

12:4 Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata:

12:5 “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?”

12:6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.

12:7 Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.

Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus. —2 Korintus 2:15

Saya bukan peminum kopi, tetapi sehirup aroma biji kopi dapat melipur lara sekaligus membangkitkan kesedihan. Dahulu, putri remaja kami, Melissa, sering menata kamarnya dengan menaruh mangkuk berisi biji-biji kopi agar aromanya yang hangat dan menenangkan memenuhi kamarnya.

Hampir dua dekade telah berlalu semenjak Melissa meninggal dunia akibat kecelakaan mobil pada usia 17 tahun, tetapi kami masih menyimpan mangkuk berisi biji-biji kopi itu. Aromanya membangkitkan kenangan tentang kehidupan Melissa bersama kami.

Alkitab juga menggunakan wewangian sebagai pengingat. Kidung Agung menggambarkan wewangian sebagai simbol cinta antara lelaki dan perempuan . Dalam Kitab Hosea, pengampunan Allah atas bangsa Israel digambarkan “berbau harum seperti yang di Libanon” (Hos. 14:7). Kemudian, urapan Maria di kaki Yesus, yang membuat seisi rumah “bau minyak semerbak” (Yoh. 12:3), mengacu pada kematian Yesus yang akan datang (lih. ay.7).

Gagasan mengenai wewangian dapat menolong kita untuk mengingat kesaksian iman yang kita bagikan kepada orang-orang di sekitar kita. Rasul Paulus menjelaskan demikian: “Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa” (2Kor. 2:15).

Sama seperti aroma biji kopi yang mengingatkan saya kepada Melissa, biarlah hidup kita menghasilkan bau harum dari Yesus dan kasih-Nya yang dapat mengingatkan orang lain bahwa mereka memerlukan Dia. —Dave Branon

WAWASAN
Yesus sudah berbicara terbuka mengenai kematian-Nya, tetapi para murid tetap tidak memahaminya. Namun, Maria tampaknya memahami hal itu, mungkin karena ia senang mendengarkan Tuannya dengan cermat (lihat Lukas 10:38-42). Setelah Kristus membangkitkan Lazarus, saudara Maria (Yohanes 11:38-44), imam-imam kepala dan orang-orang Farisi “sepakat untuk membunuh Dia” (ay.53). Oleh karena itu, Yesus “berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun” (ay.54). Namun sekarang, Dia kembali ke tempat Maria dan Marta berada, yaitu di Betania, suatu kota di bawah bukit dari Yerusalem (Bukit Zaitun). Di Betania, Dia yang membangkitkan orang mati sedang bersiap menyambut kematian-Nya sendiri. Sikap Maria yang boros menjadi bagian penting dari persiapan itu. Yudas mencemooh tindakan Maria yang indah tersebut, tetapi Yesus membelanya. “Biarkanlah dia melakukan hal ini,” kata-Nya, “mengingat hari penguburan-Ku” (12:7). —Tim Gustafson

Mangkuk Biji Kopi

Bagaimana kamu dapat menebarkan “bau yang harum dari Kristus” kepada orang lain pada hari ini? Bagaimana hidup kamu dapat membuat orang lain merasakan kehadiran Juruselamat?

Bapa Surgawi, tolonglah aku untuk menebarkan aroma kehidupan yang membuat orang lain tahu bahwa hidupku mencerminkan Engkau.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 7-8; Efesus 2

Suatu Saat Nanti Kita Tersenyum dan Berkata dalam Hati: “Oh, Jadi Ini Maksudnya Tuhan”

Oleh Herti Juliani Gulo, Medan

Awal tahun 2022 adalah tahun yang penuh dukacita mendalam bagi keluargaku, terutama bagi diriku sendiri. Tidak pernah terbayang dalam pikiran jika tahun ini aku kehilangan seorang panutanku yang luar biasa—ayahku sendiri yang akrab kupanggil ‘papa’.

Di mataku, papa adalah orang baik, yang hidupnya selalu dipenuhi oleh kasih sayang, canda tawa, dan rasa syukur yang melimpah. Aku adalah salah satu saksi bagaimana papa menjalani hidupnya. Di tengah banyaknya cobaan, papa selalu menjadi penyejuk dalam keluarga. Ketika dia menghadapi masalah di keluarga, pekerjaan, atau komunitas gerejawi, papa selalu bijak mengambil keputusan karena dia selalu berpikir bahwa setiap masalah itu dicari solusinya, bukan dihakimi penyebabnya. Papa menyadari bahwa manusia tidaklah sempurna, dan cenderung menghakimi tanpa menyelesaikan masalah.

Ketika akhirnya papa meninggal, banyak orang mengatakan kepergiannya misterius. Saat berhadapan dengan orang lain, papa kelihatan kuat. Namun, di balik itu, ada sakit yang tak tertahankan dalam tubuhnya. Begitulah papaku, dia mampu menahan sakitnya sendiri demi menjaga perasaan keluarga dan tidak membuat orang lain khawatir.

Aku sebagai anak perempuannya, amat mengagumi papaku. Sejak aku kecil, kami sangat dekat dan kedekatan ini diaminkan oleh banyak orang yang berkata bahwa aku dan papa punya ikatan batin yang kuat. Papa juga amat mengasihiku. Dia tidak pernah marah, menghakimi, atau melakukan kekerasan fisik karena memang dalam hidupnya dipenuhi kasih. Aku sendiri merenung, betapa beruntungnya aku memilikinya sepanjang papa hidup di dunia ini.

Satu hal yang aku syukuri dari kepergiaan papa adalah papa telah hidup di dalam Tuhan. Papa orang yang sangat beriman. Sejak aku kecil, dia selalu berusaha untuk mendekatkan hidupku dan keluargaku dengan Tuhan. Namun, tidak semua dari kami berhasil hidup melekat dengan Tuhan karena tentunya kerohanian seseorang adalah keputusan personal. Berkat upaya papa, meskipun aku sendiri belum sepenuhnya berpengharapan pada Tuhan, tetapi aku selalu meminta pimpinan Roh Kudus agar Dialah satu-satunya yang kuandalkan di dunia ini.

Dari kepergian papa, aku menyadari ada dua hal penting dalam hidupku. Pertama, aku sempat berpikir mengapa orang baik sangat cepat dipanggil Tuhan? Kenapa bukan orang berdosa saja yang Tuhan cepat panggil?

Dalam perenunganku, kusadar bahwa pemikiran itu tidak benar. Jika Tuhan memanggil orang baik, orang yang telah mengenal-Nya, itu karena Tuhan tahu mereka akan tinggal bersama-sama dengan-Nya di surga. Setiap orang telah berdosa, dan kepada mereka dikaruniakan kesempatan dan waktu untuk mengenal-Nya dan hidup benar.

Kedua, Tuhan punya rencana lain dalam hidupku. Kuakui bahwa selama ini, hidupku sangat bergantung pada papa karena kedamaian selalu kuperoleh dari papa, sehingga tanpa kusadari aku menaruh harap berlebih pada papa, selalu memprioritaskannya daripada Tuhan. Sekarang, aku sadar bahwa Tuhan punya rencana indah buatku. Tuhan ingin agar aku melihat-Nya dan lebih mengagumi-Nya daripada manusia yang ada di dunia ini. Kebaikan papa selama hidupnya menunjukkanku bahwa papa adalah perpanjangan kasih dan kebaikan Tuhan. Ketika Tuhan memanggil papa pulang, itu karena tugasnya telah selesai di dunia ini dan Tuhan ingin agar aku dan keluarga merasakan kasih dan kebaikan-Nya secara langsung.

Proses menerima kedukaan terasa berat. Hidupku terpuruk, namun aku selalu berdoa agar Tuhan menguatkan… dan di sinilah kualami kesetiaan Tuhan. Tuhan selalu menyelipkan kedamaian di tengah-tengah dukacita yang kualami berbulan-bulan. Dari keterpurukan yang kurasakan, ada kasih setia Tuhan yang kuperoleh. Tuhan memakai orang lain, ada keluarga, teman, sahabat, untuk menjadi berkat dalam hidupku. Semenjak itu, aku terus hidup berpengharapan sama Tuhan, karena hanya di dalam Tuhan bisa kuperoleh kasih dan kedamaian hidup. Hal ini membuatku tersenyum dan dalam hati berkata, “Oh, jadi ini maksudnya Tuhan.”

Firman Tuhan di Yohanes 16:20 yang berkata, “Aku berkata kepadamu: sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira, kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita” tergenapi dalam hidupku. Begitu banyaknya pergumulan yang kuhadapi sejak papa pergi. Namun, pergumulan itu berhasil kuhadapi, karena ada kekuatan yang Tuhan berikan. Air saja mampu Tuhan ubah menjadi anggur, maka aku percaya bahwa dukacita pasti Tuhan ubah menjadi sukacita.

Kita yang masih hidup di dunia ini, hendaknya terus bertumbuh dalam iman. Berlomba-lomba melakukan kebaikan, berbagi dengan sesama, rendah hati, dan terus mengucap syukur dalam keadaan apa pun. Marilah kita punya kerinduan untuk memperbaiki hidup menjadi lebih baik, mampu mencitrakan diri Tuhan Yesus dalam hidup kita kepada orang lain, melanjutkan kasih setia Tuhan, kebaikan dan keteladanan hidup Yesus. Ketika kita berhasil melakukan itu semua, dengan iman, kita pasti disambut oleh Tuhan dalam kerajaan surga.

Suatu saat nanti, akan ada reuni surgawi bagi kita yang sudah hidup percaya kepada Tuhan. Jadi, kiranya kita tidak takut kehilangan orang yang kita kasihi, karena pada akhirnya, kita semua akan kembali kepada Bapa di surga, sebab kita adalah milik-Nya. Mereka yang sudah pergi hanya mendahului kita dan Tuhan sedang mempersiapkan tempat bagi kita di surga. Rencana Tuhan indah pada waktunya.

Ada sebuah lagu favorit, yang kuharap dapat menjadi kekuatan bagi kita semua:

Indah rencana-Mu Tuhan, di dalam hidupku
Walau ku tak tahu dan ku tak mengerti, semua jalan-Mu
Dulu ku tak tahu, Tuhan, berat kurasakan
Hati menderita dan ku tak berdaya, menghadapi semua
Tapi ku mengerti sekarang, Kau tolong padaku
Kini kumelihat dan kumerasakan, indah rencana-Mu

Keluar dari Hati

Rabu, 28 September 2022

Baca: Matius 15:12-20

15:12 Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: “Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?”

15:13 Jawab Yesus: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya.

15:14 Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.”

15:15 Lalu Petrus berkata kepada-Nya: “Jelaskanlah perumpamaan itu kepada kami.”

15:16 Jawab Yesus: “Kamupun masih belum dapat memahaminya?

15:17 Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?

15:18 Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.

15:19 Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

15:20 Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.”

Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. —Matius 15:19

Misi penyelamatan “Operasi Bahtera Nuh” mungkin terdengar menyenangkan bagi kelompok pecinta hewan, tetapi sebenarnya tidak demikian bagi kelompok Pencegahan Kekerasan terhadap Hewan di Nassau. Setelah menerima banyak keluhan tentang suara berisik dan bau busuk yang berasal dari sebuah rumah di Long Island, para petugas memasuki rumah tersebut dan menemukan (serta menyelamatkan) lebih dari empat ratus ekor hewan yang berada dalam kondisi memprihatinkan.

Mungkin kita tidak memelihara ratusan hewan dalam kondisi kotor, tetapi Yesus berkata bahwa hati kita mungkin menyimpan pikiran dan perbuatan jahat serta berdosa, dan semua itu perlu disingkapkan dan disingkirkan.

Ketika mengajar para murid tentang apa yang membuat seseorang tahir dan najis, Yesus berkata bukan tangan yang kotor atau “segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut” yang menajiskan seseorang, melainkan hati yang jahat (Mat. 15:17-19). Bau busuk dari hati kita akhirnya akan merembes keluar dari hidup kita. Lalu Yesus memberi contoh pikiran dan perbuatan jahat yang keluar “dari hati” (ay.19). Sebanyak apa pun kegiatan dan ritual keagamaan yang kita lakukan takkan mampu membersihkan hati kita. Kita membutuhkan Allah untuk mengubahkan hati kita.

Kita dapat menerapkan teladan Yesus dengan mengundang Dia masuk ke kedalaman hati kita yang kotor dan membiarkan Dia membersihkan hal-hal yang menyebabkan bau busuk tersebut. Ketika Kristus menyingkapkan segala sesuatu yang keluar dari hati kita, Dia akan menolong menyelaraskan perkataan dan perbuatan kita dengan kehendak-Nya, dan bau harum yang memancar dari kehidupan kita akan menyenangkan hati-Nya. —Marvin Williams

WAWASAN
Ketika orang-orang Farisi mengkritik murid-murid Yesus karena mereka tidak membasuh tangan mereka sebelum mereka makan (Matius 15:2), urusan mereka bukan tentang kebersihan tubuh, tetapi tidak mengikuti tradisi di luar Alkitab yang menyatakan bahwa pembasuhan tangan sebelum makan perlu dilakukan sebagai suatu kesucian agama. Khususnya tradisi itu adalah salah satu ciri ketelitian orang-orang Farisi. Meski para pemuka agama itu sangat dihormati dan berpengaruh di antara orang-orang Yahudi, Kristus menanggapinya dengan tidak mempedulikan teguran mereka. Malah, Dia menyatakan bahwa mereka bagai pemandu buta yang prioritasnya hanya akan membuat orang-orang tersesat (ay.12-14, lihat ay.6-9). Peringatan Yesus bahwa setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa akan dicabut dengan akar-akarnya (ay.13) dapat menggemakan nabi Yesaya, yang menggambarkan umat Allah sebagai pokok anggur yang dipelihara dan ditanam oleh Allah, tetapi dicabut ketika mereka gagal menghidupi keadilan dan kebenaran (Yesaya 5: 1-7). —Monica La Rose

Keluar dari Hati

Mengapa penting untuk sering-sering memeriksa hati kamu? Bagaimana kamu dapat meminta pertolongan Allah untuk hal ini?

Allah yang penuh kasih, hatiku sangat jahat. Hanya Engkau yang sepenuhnya tahu dan sanggup membersihkan semua yang jahat di dalam hatiku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 5-6; Efesus 1

Pertolongan Allah untuk Masa Depan

Selasa, 27 September 2022

Baca: Mazmur 90:12-17

90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

90:13 Kembalilah, ya TUHAN–berapa lama lagi? –dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

90:14 Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.

90:15 Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari-hari Engkau menindas kami, seimbang dengan tahun-tahun kami mengalami celaka.

90:16 Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, dan semarak-Mu kepada anak-anak mereka.

90:17 Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.

Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami. —Mazmur 90:14

Menurut psikolog Meg Jay, kita cenderung memikirkan diri kita di masa depan seperti bagaimana kita memikirkan orang asing. Mengapa? Hal itu mungkin disebabkan oleh sesuatu yang kadang-kadang disebut sebagai “kesenjangan empati”. Sulit bagi kita untuk berempati dan peduli pada orang yang kita tidak kenal secara pribadi—bahkan diri sendiri versi masa depan. Karena itu, dalam pekerjaannya, Jay berusaha menolong orang-orang muda membayangkan diri mereka di masa depan dan mengambil langkah untuk peduli. Hal ini termasuk menyusun rencana bagi diri mereka di masa depan, supaya terbuka jalan bagi mereka untuk mengejar impian mereka dan terus berkembang.

Dalam Mazmur 90, kita diundang untuk melihat hidup kita tidak hanya di masa kini, tetapi secara menyeluruh—untuk meminta Allah menolong kita “menghitung hari-hari [kita] sedemikian, hingga [kita] beroleh hati yang bijaksana” (ay.12). Dengan mengingat bahwa waktu kita di dunia ini terbatas, kita diingatkan akan kebutuhan kita untuk terus bergantung kepada Allah. Kita memerlukan pertolongan-Nya untuk belajar menemukan kepuasan dan sukacita—tidak hanya saat ini melainkan “seumur hidup” kita (ay.14 bis). Kita memerlukan pertolongan-Nya untuk belajar tidak hanya memikirkan diri sendiri, melainkan juga generasi mendatang (ay.16). Kita juga memerlukan pertolongan-Nya untuk melayani-Nya dengan waktu yang diberikan-Nya kepada kita—dan memohon Dia meneguhkan perbuatan tangan dan hati kita (ay.17). —Monica La Rose

WAWASAN
Keterangan di awal Mazmur 90 berbunyi, “Doa Musa, abdi Allah.” “Abdi Allah” adalah istilah yang dipakai kira-kira tujuh puluh lima kali di dalam Perjanjian Lama untuk menyebut seorang juru bicara bagi Allah. Oleh karena itu, istilahnya dipakai untuk nabi-nabi yang melayani umat Israel (lihat Hakim-Hakim 13:6; 1 Samuel 2:27; 1 Raja-Raja 12:22; 13:1), termasuk Elia dan Elisa (2 Raja-Raja 1:9; 4:16). Sebagai gelar kehormatan, sebutan itu sering disematkan pada Musa (Ulangan 33:1; Yosua 14:6; 1 Tawarikh 23:14; 2 Tawarikh 30:16; Ezra 3:2) dan Daud (2 Tawarikh 8:14; Nehemia 12:24,36). Mazmur 90 ditulis oleh Musa (sekitar tahun 1526–1406 SM), sehingga itulah mazmur tertua di antara ke-150 mazmur. Di samping mazmur itu, Musa juga menulis “Nyanyian di Laut” (Keluaran 15:1-18) dan “Nyanyian Musa” (Ulangan 31:19; 32:1-43). —K.T. Sim

Pertolongan Allah untuk Masa Depan

Bagaimana kamu dapat semakin mempedulikan diri kamu di masa depan? Bagaimana dengan melihat gambaran besar kehidupan kamu dapat membantu kamu melayani sesama lebih baik lagi?

Ya Allah, terima kasih atas anugerah kehidupan ini. Tolong aku untuk menghargai waktu yang telah Engkau berikan kepadaku. Terima kasih, karena ketika perjalananku bersama-Mu di dunia berakhir, aku dapat menantikan persekutuan abadi bersama-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 3-4; Galatia 6

Harta Dunia vs Harta Surgawi, Ini Pengalamanku Meraih Keduanya

Oleh Cristal Tarigan

Aku terlahir dari keluarga sederhana. Ketika orang tuaku menikah, tidak ada harta warisan sama sekali yang mereka peroleh dari kakek pihak bapak maupun mamakku. Hal ini membuat orang tuaku berjuang keras dalam mencari uang untuk bisa bertahan dalam perjalanan rumah tangga mereka.

Sebagai anak pertama dalam keluarga, aku melihat benar perjuangan yang dialami oleh kedua orang tuaku, sampai akhirnya kini kami bisa hidup cukup. Sampai aku kelas 1 SD, orang tuaku hanya menjadi petani yang sehari-harinya–dari pagi sampai sore–ada di ladang. Kemudian saat aku kelas 2 SD, ayahku mulai menjadi pengepul buah pisang yang ada di desa kami, untuk kemudian dijual kepada agen pisang yang datang dari kota. Hingga aku duduk di bangku SMA, ada banyak jenis pekerjaan yang dikerjakan oleh bapakku. Buah apa saja yang sedang musim, akan dimanfaatkan bapakku untuk menjadi pengepulnya. Ada buah pisang, alpukat, jengkol, duku, manggis, bahkan bapak juga pernah menjadi pengumpul berbagai jenis barang bekas. Pengalaman hidup menjadi anak “Pengepul Buah” membuatku banyak belajar tentang dunia jual-beli. Bukan hanya itu, aku bahkan bermimpi kelak aku harus menjadi orang yang berhasil dalam keuangan. Menjadi orang kaya adalah salah satu hal yang ingin aku capai.

Aku tidak mau hanya menjadi seorang pemimpi. Aku benar-benar memulai sesuatu yang bisa menghasilkan uang. Di desaku, ada banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan anak kecil untuk bisa menghasilkan uang. Aku memetik hasil tanaman di kebun dan mengupas pisang, juga pekerjaan-pekerjaan lainnya di kebun. Dari pekerjaan itu, aku akan diberi uang oleh pemilik kebun. Jadi, sejak SD aku sudah mulai menabung dari pekerjaan kecil yang bisa kulakukan. Saat SMA, aku mulai untuk berjualan di sekolahku, bahkan sampai kuliah kuterapkan misi ini. Berjualan online maupun offline aku lakukan demi nominal di tabungan yang harus terus bertambah. Tidak banyak memang yang kuhasilkan saat itu, tapi ada perasaan bangga sekali ketika aku bisa membeli sesuatu dengan hasilku sendiri. Begitulah aku, sampai akhirnya selesai kuliah pun aku tetap melakukan hal yang sama.

Aku wisuda bulan Desember 2019 dengan gelar Sarjana Pendidikan. Aku sempat bekerja sebagai freelancer di sebuah bimbingan belajar, di sini gajinya lumayan untuk hidup di kota Medan, apalagi jika kita masih mau mencari tambahan pekerjaan lain. Tapi suasana dunia kerjanya yang seperti “ajang bisnis” membuatku tidak nyaman. Selain itu, di tahun pertamaku setelah wisuda, aku masih mempunyai tanggung jawab di sebuah pelayanan kampus. Dengan kondisiku yang seperti itu—freelancer dan pelayanan di kampus—kadang waktunya pun bertabrakan dan membuatku merasa sangat bersalah ketika tidak maksimal mengerjakan keduanya.

Setelah aku pikirkan kondisiku saat itu, aku memutuskan untuk resign. Aku tidak tahu keputusan itu salah atau benar, mengingat aku baru 3 bulan bekerja. Tapi aku mengikuti hati, prioritasku saat itu adalah pelayanan. Pekerjaan dan keuangan biar Tuhan yang aturkan menurut cara-Nya. Aku benar-benar mengikuti kata hati saja saat itu. Sebenarnya ada banyak dilema yang kurasakan: harus bagaimana selanjutnya, kerja apa yang tidak membuatku harus menyerah terhadap komitmen di pelayanan, apa yang akan kukatakan kepada orangtua dan orang lain yang melihatku berhenti bekerja, dan masih banyak lagi yang ada di benakku. Tapi, Virus Corona yang membuat semua orang akan dirumahkan seakan menjawab semua pertanyaanku. Tepat setelah aku resign, 2 minggu kemudian diberlakukan WFH.

Tiga bulan lamanya aku di rumah sambil membantu orang tua, juga terus berdoa, berserah dan menunggu bagaimana cara Tuhan selanjutnya agar aku bisa mempertahankan komitmen pelayanan tersebut. Tepat 4 bulan kemudian, Tuhan jawab doaku, yaitu aku bisa bekerja tanpa harus mengesampingkan pelayananku. Banyak yang kusyukuri saat itu, termasuk waktuku bersama keluarga. Bahkan yang tidak aku sangka, Tuhan memberi berkat materi lebih besar dengan pekerjaan baruku.

Apa yang aku dapat dari pengalaman ini adalah: pertama, jalan dan waktu Tuhan itu sebuah misteri, jadi kita perlu doa, percaya, berserah dan setia. Hasilnya, rencana-Nya selalu lebih baik dan terbaik. Yang kedua, kita harus punya keberanian dalam memutuskan sesuatu. Aku tidak tahu, kondisi apa yang sedang kita alami dan membuat kita harus memilih serta memprioritaskan hal lain dibanding iman kita saat ini. Tapi, kadang kita terlalu takut untuk memulai atau berhenti terhadap sesuatu karena kita belum tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Padahal, bukankah kita punya Tuhan yang akan senantiasa menyertai? Terlepas itu berhenti atau memulai pekerjaan seperti ceritaku, aku rasa usia 20-30 an yang kerap dekat dengan kata “tantangan dan pencarian jati diri”, berani melangkah dalam iman, wajib hukumnya bagi semua kaula muda.

Kini tujuanku menjadi orang kaya dengan apa yang aku rencanakan sirna sudah. Pengalaman itu justru membawaku untuk mengumpulkan “kekayaan lain” yang tidak bisa diambil oleh pencuri atau dirusak oleh ngengat maupun karat. Lebih besar lagi, perjalanan 2 tahun setelah wisuda itu, dengan segala lika-likunya, membawaku menemukan visi hidupku. Aku ingin berkecimpung dalam bidang sosial, seperti membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Memang, menjadi kaya tidak salah selagi materi hanya sebagai alat dan bukan tujuan, tapi yang terutama adalah sebelum kita memiliki segala kepunyaan di dunia, pastikan kita memiliki dahulu kepastian di sorga, yaitu jika kita mempercayai Yesus saja dengan segenap hati.

Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi ngengat dan karat dapat merusaknya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusaknya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya (Matius 6:19-20).

Mukjizat Keselamatan

Senin, 26 September 2022

Baca: Yohanes 11:38-44

11:38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.

11:39 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.”

11:40 Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.

11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!”

11:44 Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi.”

Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah? —Yohanes 11:40

Hidup Kevin Lynn, seorang blogger, sempat hancur berantakan. Dalam sebuah artikel baru-baru ini, ia menulis: “Saya sudah menodongkan pistol ke kepala saya . . . Dan Allah secara ajaib melangkah ke dalam kamar dan hidup saya. Saat itu, saya sungguh-sungguh menemukan apa yang sekarang saya tahu adalah Allah.” Allah campur tangan dan mencegah Lynn mengambil nyawanya sendiri. Dia memenuhi hati Lynn dengan keyakinan dan mengingatkannya pada kehadiran-Nya yang penuh kasih. Alih-alih menyimpan sendiri perjumpaan yang luar biasa ini, Lynn membagikan pengalamannya kepada dunia, membuat pelayanan melalui YouTube untuk membagikan kisah transformasinya hidupnya dan juga kisah-kisah orang lain.

Ketika Lazarus—teman dan pengikut Yesus—mati, banyak yang menganggap Yesus terlambat (Yoh. 11:32). Lazarus sudah empat hari dikuburkan sebelum Kristus tiba, tetapi Dia mengubah momen penderitaan tersebut menjadi mukjizat saat Dia membangkitkan Lazarus dari kematian (ay.38). “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (ay.40).

Seperti Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian kepada hidup, Dia menawarkan kepada kita hidup yang baru melalui diri-Nya. Dengan mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib, Kristus telah membayar lunas upah dari dosa kita dan memberikan pengampunan ketika kita menerima anugerah-Nya. Kita dibebaskan dari belenggu dosa, diperbarui oleh kasih-Nya yang tak berkesudahan, dan diberikan kesempatan untuk mengubah arah kehidupan kita. —Kimya Loder

WAWASAN
Setelah Yesus mengetahui bahwa Lazarus sakit berat, Dia menunggu dua hari sebelum berangkat ke rumah para saudara perempuan Lazarus, Maria dan Marta (Yohanes 11:1-6). Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba, Lazarus telah berada dalam kubur selama empat hari (ay.17), karena memperhitungkan satu hari perjalanan berita untuk sampai kepada-Nya dan sehari lagi bagi-Nya untuk sampai ke Betania. Jadi, Lazarus mungkin telah meninggal dunia ketika Yesus menerima berita bahwa Lazarus sakit keras. Empat hari itu signifikan, karena di iklim yang panas, jenazah Lazarus pasti sudah sangat membusuk (ay.39). Seandainya Yesus segera berangkat dan membangkitkan Lazarus, para penentang-Nya bisa saja menolak kebangkitan itu, dengan mengatakan bahwa Lazarus tidak mati, melainkan hanya koma atau tidur yang lelap. Hal itu juga signifikan karena pada zaman itu ada orang-orang Yahudi yang percaya bahwa jiwa orang mati melayang-layang di atas tubuhnya selama tiga hari, dengan berharap dapat masuk lagi. Namun, dengan empat hari yang telah berlalu, harapan itu pun pupus. —Alyson Kieda

Mukjizat Keselamatan

Apa saja keajaiban karya Allah yang telah mengubah hidup kamu? Bagaimana kamu dapat menggunakan kesaksian kamu untuk membawa orang lain lebih dekat kepada-Nya?

Bapa Surgawi, terkadang aku menganggap remeh karya-Mu yang mengubah hidupku. Terima kasih, karena Engkau tidak pernah menyerah atas diriku.

Bacaan Alkitab Setahun: Yesaya 1-2; Galatia 5

Memilih dengan Bijak

Minggu, 25 September 2022

Baca: Markus 8:34-38

8:34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

8:35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.

8:36 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.

8:37 Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

8:38 Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”

Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. —Markus 8:36

Sebagai komandan kru penerbangan yang dijadwalkan untuk berangkat ke Stasiun Luar Angkasa Internasional, astronaut Chris Ferguson harus mengambil keputusan sulit. Namun, keputusan itu tidak berhubungan dengan teknis penerbangan atau keamanan rekan-rekan astronautnya. Sebaliknya, Ferguson memutuskan apa yang ia anggap sebagai tugasnya yang terpenting: keluarganya. Ferguson memilih untuk tetap berada di bumi agar dapat menghadiri pernikahan putrinya.

Dari waktu ke waktu kita harus menghadapi keputusan sulit—keputusan yang membuat kita mengevaluasi kembali apa yang paling berarti bagi kita dalam hidup ini, karena memilih yang satu berarti kehilangan yang lain. Yesus bermaksud menyampaikan kebenaran ini kepada murid-murid-Nya dan orang banyak tentang keputusan terpenting dalam hidup manusia—mengikut Dia. Untuk menjadi murid, kata-Nya, mereka harus “menyangkal diri” agar dapat mengikut Dia (Mrk. 8:34). Mereka mungkin tergoda untuk menjauhkan diri dari pengorbanan yang diperlukan demi mengikut Yesus dan memilih untuk mengikuti keinginan sendiri. Namun, Dia mengingatkan mereka bahwa dengan pilihan itu mereka akan kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Kita sering tergoda untuk mengejar hal-hal yang tampaknya sangat bernilai, tetapi yang mengalihkan kita dari mengikut Yesus. Mintalah kepada Allah untuk menuntun kita dalam pilihan-pilihan yang kita hadapi setiap hari sehingga kita akan memilih dengan bijak dan menghormati-Nya. —Kirsten Holmberg

WAWASAN
Perkataan Yesus dalam Markus 8 berlangsung dengan latar belakang situasi ketika Dia yang awalnya memuji Petrus kemudian menghardiknya. Di dalam Injil Markus, kita membaca bagaimana Petrus mengakui Yesus sebagai “Mesias” (8:29). Injil Matius mencantumkan lebih banyak rincian: Kristus memuji Petrus atas pengakuannya (Matius 16:17-19). Markus kemudian menceritakan Yesus menjelaskan bahwa Mesias akan dibunuh (Markus 8:31). Karenanya, “Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia” (ay.32). Tanggapan Kristus sangat keras: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (ay.33). Inilah konteks ketika Yesus memberikan pernyataan-Nya yang terkenal: “Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (ay.35). Yesus memimpin dengan memberikan teladan, menyerahkan hidup-Nya untuk kebaikan kita dan kemuliaan Bapa-Nya. —Tim Gustafson

Memilih dengan Bijak

Pilihan apa saja yang pernah kamu ambil yang ternyata menjauhkan kamu dari Yesus? Sebaliknya, pilihan apa saja yang menarik kamu lebih dekat kepada-Nya?

Tuhan Yesus, aku ingin mengikut Engkau. Bantu aku untuk mengenali dan memilih jalan yang membuatku semakin dekat kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 6-8; Galatia 4

Kekuatan Sebuah Nama

Sabtu, 24 September 2022

Baca: Kejadian 17:1-8,15-16

17:1 Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: “Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela.

17:2 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau, dan Aku akan membuat engkau sangat banyak.”

17:3 Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya:

17:4 “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

17:5 Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa.

17:6 Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.

17:7 Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu.

17:8 Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.”

17:15 Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: “Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya.

17:16 Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya.”

Namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. —Kejadian 17:5

Ranjit menciptakan sebuah lagu berisikan nama anak-anak jalanan di Mumbai, India, untuk menyenangkan dan menguatkan mereka. Ia menciptakan melodi yang unik bagi setiap nama dan mengajarkan mereka lagu tersebut, dengan harapan anak-anak itu memiliki kenangan yang indah tentang nama mereka. Bagi anak-anak yang jarang mendengar nama mereka disebutkan dengan penuh kasih, Ranjit memberikan penghormatan sebagai hadiah bagi mereka.

Nama adalah sesuatu yang penting dalam Alkitab, biasanya menunjukkan karakter atau tugas baru seseorang. Contohnya, Allah mengganti nama Abram dan Sarai ketika Dia membuat perjanjian dengan mereka, untuk menyatakan bahwa Dia akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Nya. Abram, yang berarti “bapa yang mulia”, berubah menjadi Abraham, “bapa banyak orang”. Sementara Sarai, yang berarti “putri raja”, berubah menjadi Sara, yang berarti “ibu banyak orang” (Kej. 17:5,15).

Nama-nama baru yang diberikan Allah itu juga termasuk janji-Nya bahwa mereka akan memiliki keturunan. Ketika Sara melahirkan seorang anak laki-laki, mereka sangat gembira dan menamainya Ishak, yang berarti “ia tertawa”. Sara berkata, “Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku” (Kej. 21:6).

Kita menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang saat kita memanggil nama mereka dan menegaskan keberadaan mereka di mata Allah. Suatu nama panggilan juga dapat menegaskan keunikan seseorang yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. —Amy Boucher Pye

WAWASAN
Di usianya yang ketujuh puluh lima, Allah menjanjikan Abram bahwa ia akan menjadi bapak dari suatu “bangsa yang besar” dan keturunannya akan memiliki Kanaan (Kejadian 12:2,7). Dalam Kejadian 13:15-16, Allah menjelaskan kedua janji itu. Menanggapi keragu-raguan Abram, Allah memberikan keyakinan bahwa keturunan Abram akan datang dari darah dagingnya sendiri (15:3-5). Allah kemudian memasukkan kedua janji itu ke dalam perjanjian yang diikat-Nya dengan Abraham: “Pada hari itulah TUHAN mengadakan perjanjian dengan Abram” (ay.18). Itulah pertama kalinya kata perjanjian digunakan untuk janji Allah kepada Abram. Tiga belas tahun kemudian, Allah memperluas berkat keturunannya, dengan menjadikan Abram “bapa sejumlah besar bangsa” dan mengubah namanya dari Abram menjadi Abraham (17:4-5). —K.T. Sim

Kekuatan Sebuah Nama

Bagaimana perasaan kamu tentang nama kamu? Pernahkah kamu menyebutkan suatu kualitas dalam diri teman atau anggota keluarga kamu yang sesuai dengan nama mereka?

Ya Bapa atas segala nama, Engkau telah menciptakanku menurut rupa-Mu, bahkan Engkau sangat mengasihiku. Bentuklah aku menjadi semakin serupa dengan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kidung Agung 4-5; Galatia 3

Setia: Kualitas yang Langka?

Oleh Noni Elina Kristiani, Banyuwangi

Ketika tulisan ini ditulis, berita soal perselingkuhan Adam Levine dan Reza Arap sedang menjadi trending topic di Twitter dan juga sosial media lainnya. Orang-orang di dunia maya ramai membicarakannya dan muncul beragam respons. Ada yang mulai meragukan kesetiaan pasangannya, ada juga yang mempertanyakan apakah masih ada laki-laki yang setia di dunia ini?

Sebagai seorang wanita yang menjalani masa single selama 12 tahun, mungkin aku dirasa kurang tepat untuk membicarakan perihal kesetiaan. Namun, aku memiliki kisah yang meneguhkanku bahwa kesetiaan adalah sebuah keputusan dan komitmen luhur yang seharusnya dimiliki oleh semua orang. Kesetiaan adalah kualitas diri, dan untuk menjadi seorang yang “setia” tidak perlu menunggu untuk memiliki pasangan terlebih dulu.

Aku berteman dengan laki-laki yang sudah memiliki pacar, mereka sedang menjalani hubungan jarak jauh (LDR). Ketika kami bekerja di kota yang sama, beberapa kali dia menawarkan bantuan untuk mengantar-jemputku untuk mengikuti kelompok pendalaman Alkitab bersama yang ada di kota tersebut. Bagi seseorang yang tidak memiliki kendaraan pribadi, aku sangat bersyukur dengan tawaran itu. Namun, ada kegelisahan dalam diriku. Karena aku tahu dia sudah berpacaran, aku khawatir pacarnya keberatan jika aku diantar jemput untuk pendalaman Alkitab bersama.

“Pacarmu tahu nggak, kalau kamu jemput aku?” tanyaku pada suatu hari ketika aku sedang dibonceng olehnya.

“Tahu, kok.”

Namun aku tetap gelisah, meski aku hanya menganggapnya seorang teman. Aku tidak ingin jadi orang yang oportunis, yang diuntungkan dengan diberi tebengan tetapi tak peduli dengan dampak di baliknya. Pergi berdua dengan teman lelakiku ini membuatku bertanya-tanya, bagaimana perasaan pacarnya: apakah dia akan cemburu?

Sesampainya di kos, aku mengirim pesan kepada pacar teman lelakiku itu. Kebetulan aku juga mengenalnya. Aku memberi tahu bahwa beberapa kali aku keluar dengan pacarnya untuk PA bersama dan bertanya apakah dia tidak keberatan akan hal tersebut.

Benar saja, ternyata mereka sempat bertengkar perihal pacarnya mengantar-jemputku beberapa kali. Aku meminta maaf kepadanya, karena sudah merepotkan dan membuatnya khawatir. Kemudian aku meyakinkan hati pacar temanku ini untuk percaya bahwa aku akan menjaga relasi pertemanan di antara kami bertiga. Aku menghormati hubungan pacaran mereka berdua.

Pengalamanku ini mengajariku bahwa perlu ada batasan ketika kita berelasi dengan seseorang yang sudah berpasangan, entah itu sudah menikah atau mungkin baru di tahap berpacaran. Bukan berarti kita tidak bisa berteman dengan mereka yang telah berpasangan, tetapi dalam tiap aktivitas kita, kita dapat mengomunikasikan batasan kita dengan jelas sehingga terbangun pengertian. Bagi yang sudah berpasangan, bukan berarti kita harus selalu meng-update apa pun aktivitas kita, tetapi kepada hal-hal yang berisiko disalahpahami, kita dapat membangun pengertian dan meyakinkan sang pasangan bahwa kita adalah sosok yang berkomitmen untuk setia. Dan, selalu minta tuntunan Allah agar berhikmat dalam mengambil tindakan.

Setia dimulai dari diri sendiri

Karena sebuah relasi adalah kesepakatan dari dua belah pihak, perselingkuhan yang kerap dituding murni sebagai ketidaksetiaan satu pihak mungkin tidak sepenuhnya akurat. Masing-masing punya andil di balik perilaku curang ini. Salah satu penelitian terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Sex & Marital Therapy tahun 2021 menemukan bahwa ada delapan alasan utama mengapa seseorang selingkuh: kemarahan, menginginkan harga diri, kurangnya cinta, lemahnya komitmen, tidak adanya variasi, pengabaian, hasrat seksual, dan situasi-kondisi yang mendukung.

Alkitab pun menjunjung kesetiaan sebagai nilai yang luhur. Allah menunjukkan pada kita bahwa Dia setia (Ibrani 13:5), dan kita pun dipanggil untuk hidup di dalam-Nya agar hidup kita menghasilkan buah-buah roh yang salah satunya adalah kesetiaan (Galatia 5:22-23).

Buah roh berupa kesetiaan tidak muncul dengan tiba-tiba. Itu bisa muncul jika kita sebagai ranting terhubung pada pokok yang benar (Yohanes 15). Jika Kristus adalah pokok yang menjadi dasar kita, maka buah-buah roh dapat kita hasilkan. Artinya, kesetiaan adalah sebuah proses yang perlu diupayakan, dimulai dari hal-hal kecil dan tak selalu berkaitan dengan relasi romantis. Alkitab berkata barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia juga akan setia dalam perkara besar (Lukas 16:10).

Bagiku yang sedang menjalani masa single, kesetiaan bisa kulatih dengan hidup jujur dan kudus di dalam Tuhan. Kesetiaan adalah komitmen luhur yang kita persembahkan bagi Allah, sang empunya hidup. Jadi, jika kepada Allah kita mampu bersikap setia, itu akan memudahkan kita untuk juga berlaku setia bagi sesama kita. Aku menghormati masa single-ku sebagai masa indah, yang kudus, dan berkenan bagi Allah, sehingga aku pun membangun batasan yang jelas dalam berelasi dengan orang-orang yang telah berpasangan. Firman Tuhan berkata bahwa kita perlu memiliki cara hidup yang baik, supaya pada akhirnya nama Tuhan dipermuliakan (1 Petrus 2:12). Kisah perselingkuhan Daud dan Batsyeba di Alkitab pun menunjukkan bahwa di hadapan Allah, perselingkuhan merupakan hal yang jahat dan perbuatan yang menghina Tuhan (2 Samuel 12:9).

Pada akhirnya, menjaga kekudusan dan kesetiaan bukan hanya karena kita mencintai pasangan hidup kita di dunia ini, tetapi karena kita mau menghormati Allah. Dia adalah Allah yang kudus dan setia, maka sebagai pribadi yang telah ditebus sudah sepatutnya kita menjalani hidup yang kudus dan setia serta tidak merusak hubungan yang dimiliki oleh pasangan lain dengan menjadi selingkuhan.

Di tengah dunia yang penuh dengan curiga, anak-anak Tuhan diundang untuk merayakan kesetiaan sehingga setiap orang dapat memuliakan Tuhan ketika melihat dan mengalaminya. Memelihara karakter yang setia dapat kita lakukan dengan terus melekat kepada Yesus, karena di luar Dia kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Merenungkan dan menjadi pelaku firman, bersedia untuk melayani dan dilayani dalam komunitas, mewujud-nyatakan kasih dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kiranya Allah yang adalah kasih itu memampukan kita untuk memiliki kualitas pribadi yang setia pertama-tama kepada-Nya, Kekasih jiwa kita. Serta menjadi teladan di dalam relasi kita dan menunjukkan kepada dunia bahwa kesetiaan bukanlah hal yang langka.

Soli Deo Gloria!