Terserah Pada-Mu, Tuhan

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Kalau seseorang bertanya, “Mau makan apa hari ini?” apa jawabanmu? 

Mungkin kamu akan menjawab dengan spesifik, tapi mungkin pula kamu menjawab dengan tersenyum lalu bilang, “Ya, terserahlah…” Jawaban ‘terserah’ itu berarti kita membiarkan orang lain yang memikirkan dan memutuskan pilihan. Tapi, kadang pilihan yang dibuat malah tidak sesuai dengan yang kita inginkan, lalu kita pun mengomel. Kita lupa kalau sebelumnya kita sudah menjawab “terserah”.

Ketika merenungkan fenomena “terserah” yang sering terjadi dalam obrolan-obrolan kita, aku lantas berpikir tentang Tuhan. Bagaimana dengan Tuhan? Bukankah kita juga dengan mudahnya berkata “terserah” pada-Nya ketika kita minta Dia menyatakan kehendak-Nya buat kita? Bila mau jujur, kurasa sulit untuk menjawab Tuhan dengan kata “terserah” karena dalam diri kita sendiri masih ada keinginan agar kehendak kita sendiri yang terjadi. 

Alkitab memberi kita teladan tentang “terserah” dari Maria, ibu Yesus. Alkitab memang tidak mencatat Maria menjawab Tuhan dengan kata “terserah” secara langsung, tapi sikap Maria selanjutnya menunjukkan apa arti menyerahkan pilihan dan keputusan yang sebenarnya pada Tuhan.

Dalam Matius 1:18-25 dan Lukas 1:26-38, Maria dikisahkan sebagai seorang gadis yang tinggal di desa kecil bernama Nazaret di Galilea. Maria telah bertunangan dengan Yusuf. Baik Maria dan Yusuf, keduanya berasal dari garis keturunan keluarga Daud. Maria kemudian mendapatkan pesan dari malaikat Gabriel. 

Kedatangan Gabriel terjadi tiba-tiba. Setelah mengucapkan salam, Malaikat Gabriel menyampaikan pesan yang dibawanya kepada Maria yaitu dia akan mengandung, melahirkan seorang anak laki-laki, dan akan dinamai Yesus. Maria terkejut, karena sekalipun dia telah bertunangan namun dia belum menikah, maka dia mengatakan “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34) Maka malaikat itu menjawab, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang MahaTinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35).

Yang menarik adalah respon Maria terhadap perkataan Malaikat Gabriel. Dia menjawab, ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38).

Maria menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan, suatu kesadaran bahwa dirinya adalah hamba yang harus tunduk kepada otoritas (dalam hal ini terlebih lagi ada otoritas ilahi yaitu Allah). Dan ketika dia mengatakan “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu”, ada unsur iman dan ketaatan di dalamnya. 

Apakah iman Maria adalah iman yang buta? Apakah Maria tidak tahu risiko apa yang harus dihadapinya saat dia harus hamil di luar nikah? 

Maria dengan jelas tahu risiko apa yang harus dihadapinya bila dirinya ketahuan telah hamil sebelum menikah. Beberapa risiko yang dapat terjadi adalah Maria bisa dibuang atau diasingkan dari masyarakat, bahkan dapat dikeluarkan dari ikatan keluarga, kesalahpahaman masyarakat Yahudi yang mungkin mempertanyakan kesucian keluarganya, risiko putus tunangan dengan Yusuf, bahkan mungkin juga ancaman hukuman mati (kehamilan di luar nikah adalah pelanggaran berat bagi orang Yahudi, seperti tercatat pada Ulangan 22:23-24). 

Kita dapat melihat iman Maria bukan iman buta. Terlepas dari semua risiko yang mungkin dia hadapi, Maria tunduk pada kehendak Tuhan. Dia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan. Dia rela untuk mempercayakan perjalanan hidupnya kepada rencana Allah sekalipun rencana itu akan mengubah seluruh hidupnya.

Maria tidak hanya menunjukkan imannya, dia juga menampilkan ketaatan. Tidak ada bantahan, perdebatan, atau mencoba mengelak, Maria memilih untuk patuh pada kehendak Allah. Dia melakukan apa yang Allah minta dengan sepenuh hatinya.

Ketika kita memilih berserah di dalam melakukan kehendak Tuhan, hal itu tentu menyenangkan hati-Nya. Tuhan senang kepada orang-orang yang melakukan kehendak-Nya. Bukan hanya itu, saat kita memilih berserah, ketakutan dan kekhawatiran kita mungkin akan tetap ada, tetapi itu tidak lagi menguasai kita karena kita tahu kepada Siapa kita percaya, yakni pada Dia yang telah menyatakan kehendak-Nya. Hidup dapat menjadi jauh lebih damai dan tenang untuk dijalani. Dan tanpa kita sadari, sikap berserah yang kita jalankan dapat menjadi berkat bagi sesama kita. Hidup kita menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekeliling kita. 

Meskipun berserah kepada kehendak Tuhan bukan hal yang mudah dilakukan, marilah kita berusaha untuk terus mencobanya. Mengatakan “Terserah pada-Mu, Tuhan” tidak lagi sekadar ucapan, tetapi dengan iman dan ketaatan.

3 Masalah Ketika Identitas Kita Ditentukan dari Pekerjaan yang Kita Lakukan

Oleh Andrew Laird
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Problems When We Tie Our Identity To Our Work

Pertanyaan apa yang biasanya kamu tanyakan ketika bertemu dengan seseorang pertama kali? Kutebak sih, biasanya setelah bertanya nama, satu pertanyaan yang mungkin muncul adalah, “Kamu kerja apa?” 

Tapi, pernahkah kamu cermati bagaimana respons dari orang-orang? Biasanya, jawabannya bukan “Aku kerja sebagai pengacara,” tapi “Aku pengacara”. Kita hidup di dunia yang berpikir, “Aku adalah apa yang aku lakukan”, di mana identitas kita terikat pada apa yang kita kerjakan. 

Pemikiran ini mungkin rasanya cuma hal kecil, tapi setidaknya ada tiga masalah yang muncul dari pemikiran ini yang bisa berdampak hebat buat kita. 

Apa saja masalahnya? Dan yang lebih penting, apa solusinya?

  1. Itu membawa konsekuensi negatif dari individualisme

Titik awal dari pemikiran kalau “Aku adalah apa yang aku lakukan” adalah ciri khas dari budaya yang dibentuk oleh individualisme yang berkembang di Barat. 

Salah satu cara untuk mendefinisikan individualisme adalah dengan memikirkan diri sendiri, “diri sendiri adalah tujuannya.”[1]. Siapakah aku itu dimulai dan diakhiri olehku. Aku membentuk takdirku. Aku membentuk diriku. Generasi di atas kita mendefinisikan diri mereka dalam hubungan dengan komunitas mereka. Tapi, dalam konsep individualisme Barat, akulah yang membentuk identitasku sendiri. Nilai-nilai diriku ditentukan dari apa yang mampu aku raih dan selesaikan.

Apa artinya ini bagi pekerjaan kita? Itu menjadi identitas kita. Kalau pekerjaan kita bagus, tentu ini tidak jadi masalah. Tapi, ketika pekerjaan kita mengalami kemunduran, melekatkan nilai diri kita pada apa yang kita kerjakan menjadi beban yang menghancurkan diri kita. 

  1. Itu adalah cara hidup yang menghancurkan 

James Suzman dalam bukunya, Work: A History of How We Spend Our Time [2], menuliskan kisah pilu dari Prof. Vere Gordon Childe, seorang arkeolog yang mengakhiri hidupnya sendiri ketika dia menyimpulkan bahwa dia tidak memiliki “kontribusi lebih yang berguna” di pekerjaannya.

Tapi, bukan cuma Profesor Childe yang berpikir begitu. Ada kaitan yang tragis antara kekecewaan, kegagalan dalam kerja, pensiun, dan bunuh diri. Ketika pekerjaan menjadi nilai diri kita, itu akan menghancurkan kita ketika pekerjaan itu mengecewakan. 

Beban yang kita tempatkan pada diri sendiri ini dapat kita lihat dalam berbagai situasi. Aku ingat pernah menerima email dari seorang wanita yang sakit selama beberapa waktu. Isi emailnya terdapat kalimat, “Aku tidak berguna”, karena dia tidak bisa melakukan apa yang diminta, lantas dia menganggap dirinya tak berguna. 

Namun, jika seandainya yang terjadi sebaliknya—pekerjaan kita berjalan baik, yang ada malah membuat kita menjadi berbangga diri. Jika aku adalah tujuan dari hidupku sendiri, maka setiap sukses yang kuraih adalah suksesku sendiri. Kebanggaan yang berlebih akan membawa masalah sendiri. 

Timothy Keller merangkum dua bahaya yang bercabang dari meletakkan nilai diri kita pada pekerjaan: “Ketika pekerjaan adalah identitas kita, kesuksesan akan masuk ke kepalamu dan kegagalan akan masuk ke hatimu.” [3]. “Aku adalah apa yang kulakukan” adalah cara hidup yang menghancurkan.

  1. Meletakkan nilai diri kita pada komunitas, ini juga bukan solusi

Kita mungkin berpikir konsep individualisme ini begitu destruktif, jadi sepertinya melihat diri kita dengan cara pandang yang lebih komunal (kita meletakkan identitas kita pada keluarga atau komunitas yang jadi bagian kita) adalah solusinya. 

Dalam bukunya yang berjudul Selfie, Will Storr menelusuri akar individualisme Barat dan budaya komunal atau kebersamaan yang biasanya hadir dalam budaya Asia. Dia merangkum, “Diri orang-orang Asia itu meleleh [membaur] ke dalam diri orang-orang lain yang mengelilinginya.” Jadi, ketika bicara soal pekerjaan, tidaklah asing untuk mendefinisikan diri dalam kaitan dengan perusahaan atau tempat bekerja.” Contohnya, Will bertemu dengan seorang pria di Jepang yang mengenalkan dirinya bukan sebagai “David”, tapi “David yang kerja di Sony.” 

Identitas yang diletakkan pada korporat bukan pula jadi solusi. Angka bunuh diri di Asia Timur itu tinggi. Kenapa? Karena di budaya Asia, jika kamu gagal, maka kelompokmu juga gagal. Storr kembali menjelaskan, “Ketika satu individu mengakhiri hidupnya sendiri, kehormatan akan dikembalikan ke kelompoknya… seorang CEO yang bunuh diri terdengar masuk akal bagi orang-orang Jepang” [4]. 

Hanya Yesus jawabannya

Jadi, ketika individualisme Barat atau konsep komunalisme tidak bisa jadi solusi, ke mana kita harus berpaling? Hanya Injil yang membebaskan kita dari beban “aku adalah apa yang kulakukan”. Kebebasan itu tidak dimulai dari identitas kita, tapi dari identitas Yesus. 

Satu hal yang luar biasa, kebenaran mendasar dari iman Kristen adalah siapa yang “di dalam Kristus” mendapatkan identitas-Nya. Identitas Kristus adalah identitas kita. Kebenaran-Nya adalah kebenaran kita. Memahami identitas kita dimulai dengan memahami identitas Kristus. 

Seperti apakah identitas-Nya itu? Allah Bapa berkata ketika Kristus dibaptis, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17). Ketika Bapa melihat Anak, keputusan-Nya adalah kasih dan sukacita. Dan, itulah ketetapan yang Allah berikan untukmu, bagi setiap orang yang ada di dalam Kristus. Prestasi dan pencapaian kita bukanlah sumber identitas kita. Status dan identitas kita dianugerahkan dari Seseorang di luar kita [5]. 

Apakah kamu melihat perubahan revolusioner yang dibawa dari konsep ini kepada caramu memandang pekerjaan dan dirimu sendiri? Dengan percaya diri yang teguh dalam Kristus, pekerjaan kita tidak lagi menjadi sumber identitas, tapi menjadi ekspresi dari identitas kita. Menghidupi kepercayaan dari kasih dan anugerah Allah, alih-alih berupaya keras melakukan pembuktian kepada orang lain, kamu menjadikan pekerjaanmu sebagai ladang untuk menunjukkan identitasmu dalam Kristus. Inilah perubahan radikal yang dibawa oleh Injil dalam kehidupan dan pekerjaan kita. 

Apa salah satu cara praktis agar kita dapat mengubah cara pandang yang salah dan menerima identitas yang kita miliki dalam Kristus?

Kita bisa memulai dengan bertanya, “Bagaimana aku merespons ketika pekerjaanku dikritisi?” 

Tidak ada kritik yang menyenangkan, tapi dari kritik ini kita bisa melihat bagaimana cara pandang kita. Jika kritik itu membuat kita merasa gagal dan kalah, atau kritik itu membangkitkan amarah dan kita mencari cara untuk membela diri, bisa jadi itu petunjuk kalau kita mengaitkan identitas kita pada apa yang kita kerjakan (kadang kritik itu tidak cuma mengkritik pekerjaannya, tapi orangnya juga). Mengetahui bagaimana kita merespons dapat menolong kita untuk berhenti dan memikirkan ulang di mana kita meletakkan identtias kita. Jika kita meletakkannya pada tempat yang salah, perbaikilah itu dengan meletakkannya pada Kristus. 

 

Catatan kaki:

[1] LucFerry, A Brief History of Thoughts, 122

[2] James Suzman, A Work History on How We Spend Our Time, 177

[3] twitter.com/timkellernyc/status/510539614818680832

[4] Will Store, How the West Become Self-Obsessed, 81

[5] Dikutip dari course bertema “I Am What I Do? A Theology of Work and Personal Identity”.

Teror Tujuh Menit

Minggu, 29 Januari 2023

Baca: Yohanes 11:38-43

11:38 Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu.

11:39 Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.”

11:40 Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

11:41 Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku.

11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

11:43 Dan sesudah berkata demikian, berserulah Ia dengan suara keras: “Lazarus, marilah ke luar!”

Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. [ ]  —Ibrani 4:16

Ketika Perseverance, kendaraan penjelajah Mars, mendarat di planet merah itu pada tanggal 18 Februari 2021, para petugas yang memonitor pendaratannya sempat mengalami “teror tujuh menit”. Setelah menempuh perjalanan sepanjang 470 juta kilometer, kendaraan tersebut harus melewati prosedur pendaratan yang rumit tanpa bantuan dari pihak luar. Sinyal dari Mars membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai ke Bumi, jadi NASA tidak dapat mendengar apa-apa dari Perseverance selama proses pendaratan tersebut. Bagi tim yang telah mengerahkan begitu banyak upaya dan sumber daya dalam misi tersebut, putus kontak itu terasa sangat menakutkan.

Terkadang kita mungkin ketakutan ketika merasa tidak mendengar apa-apa dari Allah. Kita berdoa, tetapi tidak mendapat jawaban. Dalam Kitab Suci, kita menemukan orang-orang yang doanya langsung dijawab (lihat Dan. 9:20-23), dan mereka yang lama tidak mendapat jawaban, seperti Hana dalam 1 Samuel 1:10-20. Mungkin contoh paling memilukan dari jawaban yang tertunda, pengalaman yang pasti membuat hati Maria dan Marta gentar, adalah ketika mereka meminta Yesus untuk menolong Lazarus, saudara mereka yang sedang sakit (Yoh. 11:3). Yesus menunda, dan saudara mereka pun meninggal (ay.6-7,14-15). Namun, empat hari kemudian, Kristus menjawab dengan membangkitkan Lazarus (ay.43-44). 

Menantikan jawaban atas doa-doa kita memang terkadang sulit. Namun, Allah sanggup menghibur dan menolong ketika kita “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia [Allah], supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya” (Ibr. 4:16). —Dave Branon

WAWASAN
Dalam Injil Yohanes, Yesus memulai pelayanan-Nya dengan tanda ajaib—mengubah air menjadi anggur. Di sepanjang kitab itu, Yesus terus mengesahkan pesan-Nya dengan mukjizat-mukjizat, dan yang terakhir dengan membangkitkan Lazarus dari kematian.

Sepanjang Injil Yohanes, penulisnya menunjukkan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kepada hidup (lihat 1:4; 14:6). Dan di sini, Yesus membuktikan dengan mengembalikan sahabat-Nya ke dunia orang hidup (11:38-44). Ironisnya, perbuatan Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian merupakan awal dari serangkaian peristiwa yang berakhir dengan kematian Kristus sendiri. Namun, justru kematian itu dan kebangkitan-Nya kelak yang akan menjamin kehidupan, bukan hanya bagi Lazarus, melainkan bagi semua orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Inilah yang dinyatakan Yohanes, “supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (20:31). —Jed Ostoich

Teror Tujuh Menit

Apa yang sedang kamu doakan, tetapi jawabannya seolah tidak kunjung datang? Bagaimana Allah dapat menumbuhkan iman kamu sembari kamu menantikan-Nya?

Allah Mahakasih, Engkau mengetahui isi hatiku. Tolonglah aku untuk tetap mempercayai-Mu saat menantikan jawaban-Mu. 

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 21-22; Matius 19

Mantel Merah Muda

Sabtu, 28 Januari 2023

Baca: 2 Korintus 9:6-9

9:6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.

9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

9:9 Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”

Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya . . . sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. [ ] —2 Korintus 9:7

Saat berjalan menuju pintu keluar mal, mata Brenda terpikat oleh sesuatu berwarna merah muda di etalase. Ia berbalik lalu berdiri terkesima menatap “mantel berwarna gulali”. Wah, Holly pasti suka mantel itu! Koleganya itu, seorang ibu tunggal, sedang bergumul dengan kesulitan finansial. Brenda tahu bahwa Holly membutuhkan baju hangat, tetapi ia yakin Holly tidak akan mengeluarkan uang sebesar itu untuk membeli mantel. Setelah berpikir sebentar, Brenda tersenyum, mengambil dompet, dan mengatur supaya mantel itu dikirimkan ke rumah Holly. Ia menambahkan kartu tanpa nama, “Seseorang mengasihimu”. Langkah-langkah Brenda terasa ringan, karena hatinya sangat senang.

Sukacita merupakan hasil dari tindakan memberi yang digerakkan Allah. Paulus menasihati jemaat di Korintus tentang sikap bermurah hati, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor. 9:7). Ia juga menyatakan, “Orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (ay.6).

Mungkin kita dapat memasukkan uang lebih ke dalam kantong persembahan. Pada kesempatan lain kita dapat mentransfer persembahan kasih untuk mendukung kegiatan suatu lembaga pelayanan. Allah juga dapat menggerakkan kita untuk menjawab kebutuhan seorang kawan dengan tindakan nyata sebagai ungkapan kasih-Nya. Kita bisa membelikan sekantong bahan makanan, setangki bensin . . . atau bahkan hadiah mantel merah muda yang indah. —Elisa Morgan

WAWASAN
Segmen kecil dari surat Paulus kepada jemaat di Korintus ini (2 Korintus 9:6-9) muncul di tengah bagian yang lebih besar tentang memberi. Sang rasul telah memperkenalkan tema itu di pasal 8, ketika ia mengangkat jemaat Makedonia yang jauh lebih miskin, tetapi sangat murah hati sebagai panutan (ay.1-5). Sepanjang imbauannya ia meminta jemaat Korintus agar menepati komitmen awal mereka untuk memberi (ay.10-12), dan melakukannya dengan rela dan sukacita (9:5,7). Sebagaimana sering dilakukan Paulus, ia mengacu kepada bagian Kitab Suci yang lain untuk meyakinkan mereka. Di sini ia mengutip Mazmur 112, yang menguraikan tentang karakteristik orang benar (“orang yang takut akan TUHAN,” ay.1). Pemazmur mencatat bahwa mereka “pengasih dan penyayang” (ay.4), dan “mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman” (ay.5). Memberi dengan murah hati tidak menjadikan orang benar, melainkan orang benar akan memberi dengan murah hati. —Tim Gustafson

Mantel Merah Muda

Kepada siapa kamu dapat menunjukkan kasih Allah hari ini? Bagaimana kemurahan hati yang kamu tunjukkan dapat kembali kepada kamu dalam wujud perasaan sukacita?

Bapa yang Mahakasih, Engkau telah memberikan Putra-Mu kepadaku, karena itu aku juga rindu memberi kepada orang lain. Tolonglah aku menanggapi dorongan lembut dari-Mu untuk menjawab kebutuhan seseorang hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 19-20; Matius 18:21-35

Kebaikan Tuhan di Balik Kisah Kelam

Selama kita hidup, pastilah kita tidak terlepas dari adanya masalah atau pergumulan. Tiap masalah yang kita hadapi pun berbeda-beda, dan mungkin kita pernah merasa gak sanggup menghadapinya, bahkan sampai ngerasa gak layak di hadapan Tuhan.

Dari 3 cerita tokoh Alkitab di atas, Tuhan menunjukkan kebaikan-Nya dalam hidup kita. Apapun pergumulan kita, Tuhan selalu mengasihi dan turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Sobat Muda, yuk sharing di kolom komentar tentang pengalamanmu atas karya Tuhan dalam hidupmu 🤗

Artspace ini dibuat oleh @kaylaspalette dan diterjemahkan dari @ymi_today

Satu Hal yang Kuperlukan, Itu Kado dari Tuhan Buatku

Oleh Mary, Surabaya

“Dor! Pyar-Pyar! “

Bak memecah keheningan malam, kembang api cantik yang hanya muncul setahun sekali itu mewarnai gelapnya malam pergantian tahun dan membuatku tersenyum lega. Siapa sangka, peristiwa kecil sekadar melihat kembang api tanpa hujan di awal tahun ini seperti menerima kado yang menyerukan pesan penting dari Tuhan. Prediksi itu meleset. Kota Surabaya yang tadinya diperkirakan pasti akan diwarnai hujan lebat dan cuaca ekstrem, nyatanya malah cerah dan teduh. Setidaknya dari area timur dan tengah kota sampai menuju rumah sepulangku ibadah tutup tahun di gereja.

Seketika, aku pun teringat ayat alkitab di Amsal 16:9 yang berbunyi, “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.” Ayat ini menyadarkanku bahwa manusia benar-benar tidak punya kendali yang absolut atas apapun yang terjadi pada hidup. Ada kalanya hal yang kita sangka buruk nyatanya malah baik ataupun sebaliknya. Apapun itu, semua di bawah kedaulatan Tuhan semata dan memiliki tujuan sesuai kehendak-Nya.

Jujur saja, memikirkan kilas balik 2022, sungguh merupakan tahun yang berat untukku setelah mengecap berbagai pergumulan baru yang belum pernah kujumpai di tahun-tahun sebelumnya. Hal ini sangat kontras dengan beberapa teman di medsos kerap memposting story ataupun IG reels dengan backsound viral “Dear 2022.. Thanks for the memories”. Seakan 2022 telah mereka lalui dengan banyak kenangan indah dan telah menggapai pencapaian-pencapaian yang memuaskan.

Menilik diriku sendiri, aku tidak punya keberanian melakukan hal yang sama, bahkan untuk menuliskan daftar tersebut dalam diary personalku sekalipun. Terlalu sedih rasanya mengingat kilas balik akan beberapa resolusi yang kuharapkan tidak terjadi maupun dengan adanya persoalan-persoalan berat yang tetap akan menjadi pergumulan yang berlanjut di tahun 2023 ini. Mulai dari kesehatan beberapa anggota keluarga yang menurun bersamaan, persoalan hubungan emosional yang renggang, dan banyak persoalan pribadi lainnya.

Jika hidup diibaratkan game, kondisiku saat di akhir tahun kemarin seakan bersiap memasuki level baru dengan tantangan serba baru dan lebih berat tetapi dengan kondisi lakon utama yang babak belur dan energi yang tidak seberapa. Seperti itulah aku sebenarnya. Lelah dan tidak percaya diri akan esok hari. Namun, semakin pikiran mengasihani diri berkecamuk, justru Tuhan menyadarkanku dengan lembut dalam hati bahwa pemegang kontrol utama dalam hidupku bukan ada dalam kendaliku melainkan ada pada Tuhan. Semua yang terjadi sepanjang tahun telah terlewati, tak ada guna juga menyesalinya. Toh, apa pun itu, tak ada alasan bagiku untuk menolak melangkah maju bersama Tuhan. Satu ayat lagi dari Amsal menjadi pengingat penting, “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.” (Amsal 27:1).

Dari sini, Tuhan memberiku perenungan bahwa ayat tersebut berbicara soal tidak baik untuk menyombongkan diri akan hari esok seakan kita yakin dan mampu bahwa masa depan pastilah terjadi mulus sesuai rencana-rencana kita. Tapi di sisi lain, tidak baik juga jika kita bertahan dalam sifat pesimis dan memiliki pandangan bahwa tidak akan ada terobosan baru. Mukjizat ataupun masa depan baik yang sudah disediakan Tuhan yang pantas kita dapatkan. Berdiam diri dalam perasaan pesimis dan suram sama halnya dengan menyombongkan diri akan hari esok. Tuhan telah merancangkan masa depan bagi kebaikan kita untuk kemuliaan-Nya semata.

Sungguh, bila aku bisa kembali ke awal tahun 2022 dan memberi pesan kepada diriku sendiri dengan perspektif berbeda seperti yang Amsal katakan tadi, aku pun akan mengakui bahwa benar di sepanjang tahun ada hal-hal yang berat tanpa disangka terjadi, namun sepanjang 2022 pun hanya Tuhan lah satu-satu-Nya yang bisa kuandalkan melewati semua.

Aku merasakan betapa nyatanya perlindungan dan kemurahan kasih karunia-Nya hingga aku bisa berdiri sampai di tahun 2023 ini. Aku tanpa Tuhan adalah lemah. Betapa beruntungnya aku karena aku memiliki satu yang kuperlu, yaitu berpegang teguh pada pribadi Yesus yang bisa kuandalkan dalam segala situasi apapun dan pemegang hari esokku.

Kawan, jika kamu memulai awal tahun ini dengan berat hati seperti yang kurasakan, berbagai pergumulan seolah membuatmu patah semangat, ingatlah untuk tidak terburu-buru melangkah dengan mengandalkan kekuatan diri kita sendiri. Masih ada satu Pribadi yang memegang kontrol akan segala sesuatu dan berjalan bersama kita selalu, Dialah Yesus.

“Sungguh, kamu tidak akan buru-buru keluar dan tidak akan lari-lari berjalan, sebab TUHAN akan berjalan di depanmu, dan Allah Israel akan menjadi penutup barisanmu.” (Yesaya 52 :12).

Belas Kasihan untuk Kita

Jumat, 27 Januari 2023

Baca: Mazmur 103:8-12

103:8 TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.

103:9 Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.

103:10 Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita,

103:11 tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia;

103:12 sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.

Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. [ ] —Mazmur 103:9

Salah satu konsekuensi dari pandemi COVID-19 adalah berlabuhnya kapal pesiar dan karantina terhadap para penumpangnya. Sebuah artikel dalam The Wall Street Journal memuat wawancara dengan beberapa turis di kapal pesiar. Banyak dari mereka menganggap masa karantina memberi lebih banyak kesempatan untuk bercakap-cakap. Seorang penumpang dengan bergurau menceritakan bagaimana pasangannya—yang memiliki ingatan tajam—mampu menyebutkan kembali setiap kesalahan yang pernah ia lakukan, bahkan ia punya firasat bahwa istrinya belum mengatakan semuanya!

Kisah-kisah seperti itu mungkin membuat kita tersenyum, karena mengingatkan akan sisi manusiawi kita, sekaligus memperingatkan apabila kita cenderung memegang terlalu erat hal-hal yang seharusnya kita lepaskan. Namun, bagaimana kita dapat ditolong untuk memperlakukan dengan baik mereka yang pernah menyakiti kita? Dengan memandang Allah kita yang agung, sebagaimana Dia digambarkan dalam perikop seperti Mazmur 103:8-12.

Secara khusus, kita perlu memperhatikan ayat 8-10: “Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita.” Meminta pertolongan Allah di saat kita sungguh-sungguh berdoa dan membaca Kitab Suci dapat menolong kita berpikir ulang tentang niat kita untuk membalas atau menghukum orang-orang yang menyakiti kita. Sebaliknya, mungkin kita justru tergerak untuk berdoa bagi diri kita sendiri dan bagi orang-orang yang tadinya ingin kita lukai dengan sikap kita yang menolak untuk mengasihi dan mengampuni mereka. —ARTHUR JACKSON

WAWASAN
Mazmur 103:8 mengenang bagaimana Allah mengungkapkan diri-Nya kepada Musa dalam perjalanan keluar dari Mesir. Setelah Musa memohon kepada Allah untuk memperlihatkan “kemuliaan-Mu kepadaku” (Keluaran 33:18), Allah berjanji melewatkan segenap kemuliaan-Nya dari depan Musa. Dalam Keluaran 34, kita diberi tahu bahwa Allah “lewat dari depannya dan berseru: ‘TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa’” (ay.6-7). 

Mazmur 103 menjelaskan lebih lanjut tentang belas kasihan, pengampunan, dan kasih karunia Allah yang tidak berkesudahan sebagai satu-satunya harapan bagi umat-Nya yang berdosa. Dia Allah yang Maha Pengampun, yang tidak melakukan “kepada kita setimpal dengan dosa kita” (ay.10) tetapi menghapus dosa kita “sejauh timur dari barat” (ay.12). Kerelaan Allah untuk mengampuni berakar pada kasih-Nya yang mendalam bagi anak-anak-Nya dan belas kasihan-Nya atas pergumulan mereka (ay.11,13). —Monica La Rose

Belas Kasihan untuk Kita

Terhadap siapakah kamu ingin membalas dendam karena telah menyakiti kamu? Siapakah yang dapat kamu minta untuk mendoakan kamu?

Allah sumber kasih, kebaikan, dan pengampunan, tolonglah aku untuk meneruskan rahmat dan belas kasihan kepada mereka yang pernah menyakitiku.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 16-18; Matius 18:1-20

Kasih yang Mengampuni

Kamis, 26 Januari 2023

Baca: Kolose 3:12-14

3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain. [ ]  —Kolose 3:13

Delapan puluh tahun usia pernikahan! Pete dan Ruth, paman dan bibi buyut suami saya, merayakan pencapaian luar biasa tersebut pada tanggal 31 Mei 2021. Mereka bertemu pada tahun 1941 ketika Ruth masih di SMA. Pasangan muda itu begitu bersemangat untuk menikah sehingga mereka memutuskan langsung menikah sehari setelah Ruth lulus. Pete dan Ruth percaya bahwa Allah telah menyatukan dan membimbing mereka selama ini.

Berkaca pada delapan dekade pernikahan mereka, Pete dan Ruth sama-sama setuju bahwa salah satu kunci untuk mempertahankan hubungan mereka adalah keputusan untuk siap memaafkan. Siapa pun yang menjalin hubungan yang sehat mengerti bahwa kita semua terus-menerus membutuhkan pengampunan atas tindakan kita yang menyakiti satu sama lain, baik berupa ucapan yang kasar, janji yang diingkari, atau tugas yang terlupakan.

Dalam salah satu bagian Kitab Suci yang ditulis untuk membantu orang percaya hidup bersama dalam kesatuan, Paulus menyebutkan tentang peranan penting pengampunan. Setelah mengimbau para pembacanya untuk mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kol. 3:12), Paulus menambahkan dorongan agar kita “[mengampuni] seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain” (ay.13). Lalu, yang paling penting, semua interaksi yang terjadi antara satu sama lain perlu digerakkan oleh kasih (ay.14).

Hubungan yang mencerminkan ciri-ciri yang dijabarkan oleh Paulus tersebut akan sungguh menjadi berkat. Kiranya Allah menolong kita semua untuk memupuk hubungan yang sehat, yang ditandai dengan kasih dan pengampunan. —LISA M. SAMRA

WAWASAN
Belas kasihan adalah perbuatan baik bagi mereka yang membutuhkan. Lebih dari sekadar mengasihani, belas kasihan mendorong kita untuk rela meringankan penderitaan seseorang. Dalam perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati, “tergeraklah hati [seorang Samaria] oleh belas kasihan” kepada orang yang dirampok (Lukas 10:33), dan itu mendorongnya untuk menolong si korban. 

Orang Yunani dan Romawi menghargai keberanian, kekuatan, kebijaksanaan, kekuasaan, dan balas dendam. Bagi mereka, belas kasihan adalah kelemahan, bukan kebajikan. Namun, bagi orang percaya, justru belas kasihan menjadi ciri kita sebagai anak-anak Allah. Yesus memerintahkan kita untuk mengikut teladan Bapa kita di surga: “Hendaklah kalian berbelaskasihan seperti Bapamu juga berbelaskasihan!" (6:36 BIS). Belas kasihan adalah kepribadian Allah sendiri. Dalam salah satu pengungkapan diri teragung dalam Alkitab, Allah menggambarkan diri-Nya sebagai “Allah yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan” (Keluaran 34:6 BIS). Kita paling menyerupai Bapa kita saat kita berbelas kasihan, berbuat baik, dan murah hati kepada sesama. —K.T. Sim

Kasih yang Mengampuni

Bagaimana kamu pernah mengalami pemulihan dengan memberi atau menerima pengampunan? Bagaimana hubungan antarmanusia dapat dikuatkan lewat pengampunan dan pertanggungjawaban? 

Tuhan Yesus, tolonglah aku mengampuni orang lain sama seperti Engkau telah mengampuniku.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 14-15; Matius 17

Rahmat-Nya Tak Pernah Absen di Hidup Kita

Oleh Olyvia Hulda, Sidoarjo

Sebelum tahun yang baru ini kita masuki, kata beberapa orang ini akan jadi tahun yang gelap. Iya, gelap. Akan ada banyak krisis yang merugikan manusia. Juga katanya ada 2,45 juta anak remaja Indonesia yang memiliki masalah kesehatan mental dalam dua tahun terakhir, entah itu gangguan kecemasan, depresi dan sebagainya.

Tak perlu kusebut lebih banyak lagi, kita mungkin telah terbiasa terpapar dengan beragam prediksi maupun kabar-kabar buruk yang menjadikan dunia dan masa depan terasa suram. Namun, apakah ini artinya tidak ada lagi kesempatan untuk berharap? Atau, apakah harapan akan sesuatu yang lebih baik hanyalah sebuah impian, omong kosong belaka?

Memang tidak mudah berharap di tengah masa-masa suram, ibarat seorang pendaki yang tersesat di antah berantah mengharapkan datangnya pertolongan yang entah kapan dan dari mana datangnya. Kesuraman ini pernah juga dialami oleh bangsa Israel, yakni saat mereka berada di padang gurun (Keluaran 16-17) maupun saat para raja memerintah setelah zaman raja Yosia (2 Raja-raja 23-25), ketika mereka mulai dikuasai oleh negara Babel. Perasaan takut, khawatir, bahkan bimbang menguasai bangsa Israel dalam menghadapi tekanan-tekanan yang ada, baik tekanan dari luar maupun dari dalam. Sebagai bangsa terjajah, hidup mereka amat bergantung pada penjajahnya. Harapan untuk terbebas dan hidup sebagai bangsa merdeka pun seolah padam.

Walau demikian, saat kucermati perjalanan Israel dari yang Alkitab tuliskan, aku melihat ada satu hal yang tak pernah berubah. Telah berbagai tempat, pemerintahan, dan situasi mereka hadapi, tetapi satu hal yang teguh dan pasti adalah kehadiran Tuhan di tengah-tengah tekanan dan krisis itu. Tuhan tidak absen, Dia hadir melalui nabi-nabi dan orang-orang yang Dia izinkan memegang posisi penting di sana seperti Nehemia, Daniel, Ester, Nabi Yehezkiel dan Nabi Yeremia. Tentu saja, mereka ikut merasakan tekanan yang sama karena mereka juga tinggal di tengah-tengah bangsa Israel. Bahkan, Nabi Yeremia pun menumpahkan rasa sedih dan tertekannya selama pembuangan berlangsung dalam kitab Ratapan.

Namun, aku melihat hal yang berbeda. Mereka yang dipilih dan diutus Tuhan punya respons yang kontras di tengah kesuraman, khususnya respon dari nabi Yeremia yang menggelitik hatiku. Dalam Ratapan 3, Nabi Yeremia memang mengakui bahwa ia terluka—bahkan terluka karena Allah (Ratapan 3:1-20). Dalam ayat 1 misalnya, dia berseru “Akulah orang yang melihat sengsara…” Tetapi, menariknya sekalipun nabi Yeremia menyadari akan lukanya, dia justru memilih untuk memperhatikan hal yang penting, melebihi hal yang dialaminya. Di tengah ratapannya, dia yakin teguh bahwa “tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru setiap pagi” (ay. 23-24).

Nabi Yeremia adalah salah satu nabi yang dapat mengajarkan kita akan pentingnya “mengakui diri bahwa kita terluka” di hadapan Tuhan, lalu memilih untuk memfokuskan dirinya akan pribadi Tuhan yang dikenalnya. Yeremia tahu bahwa kasih-Nya tak berkesudahan, Tuhan tidak selamanya menghukum namun juga membalut luka (Ratapan 3:31-38). Yeremia benar-benar jujur dengan dirinya sendiri; tak malu mengakui dirinya dalam keadaan terpuruk di hadapan Allah; dan dengan rendah hati menerima keadaannya seperti tertulis di Ratapan 3 tersebut.

Tak berhenti sampai di situ. Nabi Yeremia pun “memilih” untuk memperhatikan hal yang lebih penting, dibalik perasaannya itu! Ia tetap mempercayai Tuhan, dan tetap yakin bahwa Tuhan masih menyayangi dirinya dan juga bangsa Israel, bila bangsa Israel bertobat dengan sungguh-sungguh. Dan kisah Nabi Yeremia pun merujuk pada Tuhan Yesus, yang memilih untuk memperhatikan hal yang lebih penting dibandingkan dengan rasa sakit dan lukanya akibat dicambuk, dipukul dan dipaku di kayu salib: menyelamatkan hidup kita.

Jujur pada diri sendiri adalah langkah awal bagi kita untuk mengenal diri kita sendiri, serta mengurangi beban hidup kita. Menurut konselor yang kutemui, salah satu faktor depresi adalah sulitnya seseorang untuk jujur dengan diri sendiri; cenderung gengsi/enggan mengakui perasaan sedih, marah, kecewa, takut, dan memendamnya, atau bahkan menutupinya dengan mencari kesenangan yang tidak wajar (ketagihan bermain game, pornografi, miras, dsb).

Mungkin sebagian besar orang, termasuk aku, adalah orang yang paling tidak suka untuk merasakan perasaan tersebut. Rasanya ingin sekali membuang perasaan sedih, marah, kecewa, dsb, apalagi saat menghadapi sesuatu yang tidak sesuai harapan. Tetapi setelah melihat Nabi Yeremia, dan juga Yesus Kristus, yang tetap “menelan” dan (terkesan) “menikmati” penderitaan/tekanan/krisis tanpa harus malu dan kabur mencari kesenangan lain, aku belajar untuk tidak mengakui emosi yang dirasakan, dan tidak kabur untuk mencari kesenangan demi menghilangkan emosi negatifku, emosi yang tidak kuharapkan.

Namun, tak berhenti sampai di situ. Kita perlu melakukan hal yang lebih penting setelahnya: “memilih” untuk yakin dan beriman, bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih, yang tidak akan selamanya “tega” dengan kita, selama kita hidup sesuai kehendak dan perintah-Nya dalam Alkitab. Sebenarnya tak hanya Nabi Yeremia saja, tokoh-tokoh Alkitab di masa lampau seperti Daud, memilih untuk menguatkan hatinya pada Tuhan, di tengah-tengah krisis yang dialaminya, seperti tulisan dalam Mazmur 27:14.

Di tahun 2023 ini, mungkin kita akan mengalami banyak hal, entah itu baik maupun buruk. Dan, hal itu bisa jadi dapat mengguncang perasaan kita. Namun satu kebenaran yang dapat kita percayai, sama seperti Nabi Yeremia percayai: tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi (Ratapan 3:22-23).

Aku percaya, segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah seizin Tuhan, serta masuk dalam kedaulatan-Nya. Meskipun dunia yang kita tinggali saat ini “gelap”, aku berdoa agar kasih Tuhan senantiasa menerangi hati kita senantiasa, sehingga kita mampu menguatkan hati kita untuk tetap percaya pada Tuhan. Amin.

Nantikanlah TUHAN! Kuatkan dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN! (Mazmur 27:14)

Menolak Hal-Hal yang “Berkilauan”

Rabu, 25 Januari 2023

Baca: Amsal 22:1-6

22:1 Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.

22:2 Orang kaya dan orang miskin bertemu; yang membuat mereka semua ialah TUHAN.

22:3 Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka.

22:4 Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.

22:5 Duri dan perangkap ada di jalan orang yang serong hatinya; siapa ingin memelihara diri menjauhi orang itu.

22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang  dari pada jalan itu. [ ] —Amsal 22:6

Suatu kali, dalam The Andy Griffith Show, acara TV dari era 1960-an, seorang pria memberi tahu Andy bahwa ia harus membiarkan putranya, Opie, memutuskan sendiri bagaimana ia ingin menjalani hidupnya. Andy tidak setuju. “Anda tidak dapat membiarkan anak muda mengambil keputusan sendiri. Ia akan menyambar benda berkilauan pertama yang dibungkus dengan pita mengilap di hadapannya. Lalu, ketika ia menyadari jebakan di balik benda itu, semuanya sudah terlambat. Gagasan-gagasan yang sesat selalu dikemas dengan sangat memikat sehingga sulit untuk meyakinkan mereka bahwa ada banyak hal yang mungkin lebih baik untuk jangka panjang.” Ia menyimpulkan bahwa penting bagi orangtua untuk memberi contoh perilaku yang benar dan membantu anak untuk “menampik godaan”.

Ucapan Andy terkait dengan hikmat yang ditemukan dalam Amsal: “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (22:6). Banyak orang mungkin membaca kata-kata tersebut sebagai janji, tetapi sesungguhnya ayat tadi adalah sebuah panduan. Kita semua dipanggil untuk mengambil keputusan pribadi untuk percaya kepada Yesus. Namun, kita dapat membantu meletakkan dasar yang sesuai dengan firman Tuhan melalui kasih kita kepada Allah dan kecintaan pada Kitab Suci. Kita pun dapat berdoa agar ketika anak-anak kita tumbuh dewasa, mereka memilih untuk menerima Kristus sebagai Juruselamat dan berjalan di jalan-Nya dan bukan “di jalan orang yang serong hatinya” (ay.5).

Kemenangan kita sendiri atas hal-hal yang “berkilauan” berkat pertolongan Roh Kudus juga menjadi kesaksian yang kuat. Roh Allah menolong kita untuk menolak godaan dan membentuk hidup kita menjadi teladan yang patut ditiru. —Alyson Kieda

WAWASAN
Kitab Amsal sering menekankan pentingnya orang dewasa memberi bimbingan dan disiplin yang bijaksana kepada anak-anak. Dalam Amsal 29, orangtua diperingatkan bahwa “anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya” (ay.15), tetapi apabila anak-anak diberi didikan, mereka ”akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu” (ay.17). 

Namun, prinsip umum tentang hikmat dan pentingnya orangtua membimbing anak-anak tidak berarti bahwa orangtua mengemban seluruh tanggung jawab atas pilihan yang dibuat anak-anak mereka. Bagian lain dari Amsal menggambarkan hal ini. Amsal ditujukan kepada orang muda (1:4-7), menekankan pentingnya setiap orang memilih untuk mendengarkan suara hikmat dengan rendah hati (ay.20; 2:2-5) dan untuk bergantung kepada Allah untuk menerima hikmat yang hanya ada di dalam Dia (2:5-6). Ironisnya, orang yang menulis kata-kata itu, Salomo, kelak tersesat dari jalan hikmat saat ia dewasa (1 Raja-Raja 11:9-11). —Monica La Rose

Menolak Hal-Hal yang “Berkilauan”

Mengapa baik untuk kita mengingat bahwa Amsal 22:6 bukanlah janji, melainkan prinsip yang bijaksana? Siapa yang Tuhan percayakan untuk kamu didik dalam jalan-Nya?

Bapa terkasih, tolong aku untuk menanamkan nilai-nilai-Mu ke dalam hati anak-anak yang telah Engkau tempatkan dalam hidupku.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 12-13; Matius 16

Buah yang Bertahan Selamanya

Selasa, 24 Januari 2023

Baca: Matius 13:44-46

13:44 “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

13:45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.

13:46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang. [ ] —Matius 13:44

Teman saya Ruel menghadiri reuni SMA yang diadakan di rumah teman sekelasnya dahulu. Rumah temannya yang terletak di tepi laut dekat Teluk Manila itu tampak megah dan dapat menampung dua ratus orang, tetapi membuat Ruel merasa kecil.

“Sudah bertahun-tahun saya bahagia menggembalakan gereja-gereja di pedesaan terpencil,” Ruel bercerita, “dan meskipun seharusnya saya tidak berpikir seperti ini, tetapi saya sempat iri dengan kekayaan teman saya itu. Saya membayangkan betapa berbedanya hidup ini seandainya saya menggunakan gelar saya untuk menjadi pengusaha saja.”

“Tetapi kemudian saya diingatkan bahwa tidak ada yang perlu membuat saya iri,” Ruel melanjutkan sambil tersenyum. “Saya sudah menginvestasikan hidup saya dengan melayani Allah, dan hasilnya akan bertahan selamanya.” Saya akan selalu ingat ekspresi wajah Ruel yang penuh kedamaian saat ia mengucapkan kata-kata itu.

Ruel memperoleh kedamaian dari perumpamaan Yesus dalam Matius 13:44-46. Ia tahu bahwa Kerajaan Allah adalah harta yang paling berharga. Mencari kerajaan itu dan hidup bagi-Nya dapat mengambil bentuk yang berbeda-beda. Bagi sebagian orang, itu berupa pelayanan purnawaktu, sementara bagi yang lain itu mungkin berupa kesaksian hidup di tengah tempat kerja yang sekuler. Bagaimanapun cara yang dipilih Allah untuk memakai hidup kita, kita dapat terus mempercayai dan menaati pimpinan-Nya, karena seperti orang dalam perumpamaan Yesus, kita mengetahui nilai mulia dari harta yang tidak dapat binasa, yang telah diberikan kepada kita. Segala sesuatu di dalam dunia ini memiliki nilai yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan semua yang kita peroleh dengan mengikut Allah (1Ptr. 1:4-5).

Hidup kita, yang telah diserahkan ke dalam tangan-Nya, sanggup menghasilkan buah yang kekal. —KAREN HUANG

WAWASAN
Dua perumpamaan singkat dalam Matius 13:44-46 muncul di tengah kisah tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Surga (ay.1-52). Setelah Yesus menceritakan perumpamaan pertama (petani yang menabur benih, ay.3-9), para murid bertanya mengapa Yesus selalu berkata-kata dalam perumpamaan (ay.10). Jawab Yesus: "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak” (ay.11). Dia berkata kepada murid-murid-Nya, “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (ay.16). Kemudian Dia menjelaskan perumpamaan itu (ay.18-23). Para murid ingin mengetahui arti sebenarnya dari perkataan Yesus, dan keinginan mereka terpenuhi. Mereka telah meninggalkan semuanya untuk mengikut Dia. Intinya, mereka menghidupi secara nyata perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara (ay.44-46) karena mereka memahami pesan Injil. Mereka telah menemukan harta terpendam itu. —Tim Gustafson

Buah yang Bertahan Selamanya

Apa yang harus kamu tinggalkan demi mengikut Allah? Bagaimana Matius 13:44-46 telah menguatkan kamu?

Bapa, jadikan setiap hari dalam hidupku sebagai perayaan karena aku telah menemukan harta yang sangat berharga di dalam-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 9-11; Matius 15:21-29