Terserah Pada-Mu, Tuhan

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Kalau seseorang bertanya, “Mau makan apa hari ini?” apa jawabanmu? 

Mungkin kamu akan menjawab dengan spesifik, tapi mungkin pula kamu menjawab dengan tersenyum lalu bilang, “Ya, terserahlah…” Jawaban ‘terserah’ itu berarti kita membiarkan orang lain yang memikirkan dan memutuskan pilihan. Tapi, kadang pilihan yang dibuat malah tidak sesuai dengan yang kita inginkan, lalu kita pun mengomel. Kita lupa kalau sebelumnya kita sudah menjawab “terserah”.

Ketika merenungkan fenomena “terserah” yang sering terjadi dalam obrolan-obrolan kita, aku lantas berpikir tentang Tuhan. Bagaimana dengan Tuhan? Bukankah kita juga dengan mudahnya berkata “terserah” pada-Nya ketika kita minta Dia menyatakan kehendak-Nya buat kita? Bila mau jujur, kurasa sulit untuk menjawab Tuhan dengan kata “terserah” karena dalam diri kita sendiri masih ada keinginan agar kehendak kita sendiri yang terjadi. 

Alkitab memberi kita teladan tentang “terserah” dari Maria, ibu Yesus. Alkitab memang tidak mencatat Maria menjawab Tuhan dengan kata “terserah” secara langsung, tapi sikap Maria selanjutnya menunjukkan apa arti menyerahkan pilihan dan keputusan yang sebenarnya pada Tuhan.

Dalam Matius 1:18-25 dan Lukas 1:26-38, Maria dikisahkan sebagai seorang gadis yang tinggal di desa kecil bernama Nazaret di Galilea. Maria telah bertunangan dengan Yusuf. Baik Maria dan Yusuf, keduanya berasal dari garis keturunan keluarga Daud. Maria kemudian mendapatkan pesan dari malaikat Gabriel. 

Kedatangan Gabriel terjadi tiba-tiba. Setelah mengucapkan salam, Malaikat Gabriel menyampaikan pesan yang dibawanya kepada Maria yaitu dia akan mengandung, melahirkan seorang anak laki-laki, dan akan dinamai Yesus. Maria terkejut, karena sekalipun dia telah bertunangan namun dia belum menikah, maka dia mengatakan “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34) Maka malaikat itu menjawab, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang MahaTinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35).

Yang menarik adalah respon Maria terhadap perkataan Malaikat Gabriel. Dia menjawab, ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38).

Maria menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan, suatu kesadaran bahwa dirinya adalah hamba yang harus tunduk kepada otoritas (dalam hal ini terlebih lagi ada otoritas ilahi yaitu Allah). Dan ketika dia mengatakan “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu”, ada unsur iman dan ketaatan di dalamnya. 

Apakah iman Maria adalah iman yang buta? Apakah Maria tidak tahu risiko apa yang harus dihadapinya saat dia harus hamil di luar nikah? 

Maria dengan jelas tahu risiko apa yang harus dihadapinya bila dirinya ketahuan telah hamil sebelum menikah. Beberapa risiko yang dapat terjadi adalah Maria bisa dibuang atau diasingkan dari masyarakat, bahkan dapat dikeluarkan dari ikatan keluarga, kesalahpahaman masyarakat Yahudi yang mungkin mempertanyakan kesucian keluarganya, risiko putus tunangan dengan Yusuf, bahkan mungkin juga ancaman hukuman mati (kehamilan di luar nikah adalah pelanggaran berat bagi orang Yahudi, seperti tercatat pada Ulangan 22:23-24). 

Kita dapat melihat iman Maria bukan iman buta. Terlepas dari semua risiko yang mungkin dia hadapi, Maria tunduk pada kehendak Tuhan. Dia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan. Dia rela untuk mempercayakan perjalanan hidupnya kepada rencana Allah sekalipun rencana itu akan mengubah seluruh hidupnya.

Maria tidak hanya menunjukkan imannya, dia juga menampilkan ketaatan. Tidak ada bantahan, perdebatan, atau mencoba mengelak, Maria memilih untuk patuh pada kehendak Allah. Dia melakukan apa yang Allah minta dengan sepenuh hatinya.

Ketika kita memilih berserah di dalam melakukan kehendak Tuhan, hal itu tentu menyenangkan hati-Nya. Tuhan senang kepada orang-orang yang melakukan kehendak-Nya. Bukan hanya itu, saat kita memilih berserah, ketakutan dan kekhawatiran kita mungkin akan tetap ada, tetapi itu tidak lagi menguasai kita karena kita tahu kepada Siapa kita percaya, yakni pada Dia yang telah menyatakan kehendak-Nya. Hidup dapat menjadi jauh lebih damai dan tenang untuk dijalani. Dan tanpa kita sadari, sikap berserah yang kita jalankan dapat menjadi berkat bagi sesama kita. Hidup kita menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekeliling kita. 

Meskipun berserah kepada kehendak Tuhan bukan hal yang mudah dilakukan, marilah kita berusaha untuk terus mencobanya. Mengatakan “Terserah pada-Mu, Tuhan” tidak lagi sekadar ucapan, tetapi dengan iman dan ketaatan.

3 Masalah Ketika Identitas Kita Ditentukan dari Pekerjaan yang Kita Lakukan

Oleh Andrew Laird
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Problems When We Tie Our Identity To Our Work

Pertanyaan apa yang biasanya kamu tanyakan ketika bertemu dengan seseorang pertama kali? Kutebak sih, biasanya setelah bertanya nama, satu pertanyaan yang mungkin muncul adalah, “Kamu kerja apa?” 

Tapi, pernahkah kamu cermati bagaimana respons dari orang-orang? Biasanya, jawabannya bukan “Aku kerja sebagai pengacara,” tapi “Aku pengacara”. Kita hidup di dunia yang berpikir, “Aku adalah apa yang aku lakukan”, di mana identitas kita terikat pada apa yang kita kerjakan. 

Pemikiran ini mungkin rasanya cuma hal kecil, tapi setidaknya ada tiga masalah yang muncul dari pemikiran ini yang bisa berdampak hebat buat kita. 

Apa saja masalahnya? Dan yang lebih penting, apa solusinya?

  1. Itu membawa konsekuensi negatif dari individualisme

Titik awal dari pemikiran kalau “Aku adalah apa yang aku lakukan” adalah ciri khas dari budaya yang dibentuk oleh individualisme yang berkembang di Barat. 

Salah satu cara untuk mendefinisikan individualisme adalah dengan memikirkan diri sendiri, “diri sendiri adalah tujuannya.”[1]. Siapakah aku itu dimulai dan diakhiri olehku. Aku membentuk takdirku. Aku membentuk diriku. Generasi di atas kita mendefinisikan diri mereka dalam hubungan dengan komunitas mereka. Tapi, dalam konsep individualisme Barat, akulah yang membentuk identitasku sendiri. Nilai-nilai diriku ditentukan dari apa yang mampu aku raih dan selesaikan.

Apa artinya ini bagi pekerjaan kita? Itu menjadi identitas kita. Kalau pekerjaan kita bagus, tentu ini tidak jadi masalah. Tapi, ketika pekerjaan kita mengalami kemunduran, melekatkan nilai diri kita pada apa yang kita kerjakan menjadi beban yang menghancurkan diri kita. 

  1. Itu adalah cara hidup yang menghancurkan 

James Suzman dalam bukunya, Work: A History of How We Spend Our Time [2], menuliskan kisah pilu dari Prof. Vere Gordon Childe, seorang arkeolog yang mengakhiri hidupnya sendiri ketika dia menyimpulkan bahwa dia tidak memiliki “kontribusi lebih yang berguna” di pekerjaannya.

Tapi, bukan cuma Profesor Childe yang berpikir begitu. Ada kaitan yang tragis antara kekecewaan, kegagalan dalam kerja, pensiun, dan bunuh diri. Ketika pekerjaan menjadi nilai diri kita, itu akan menghancurkan kita ketika pekerjaan itu mengecewakan. 

Beban yang kita tempatkan pada diri sendiri ini dapat kita lihat dalam berbagai situasi. Aku ingat pernah menerima email dari seorang wanita yang sakit selama beberapa waktu. Isi emailnya terdapat kalimat, “Aku tidak berguna”, karena dia tidak bisa melakukan apa yang diminta, lantas dia menganggap dirinya tak berguna. 

Namun, jika seandainya yang terjadi sebaliknya—pekerjaan kita berjalan baik, yang ada malah membuat kita menjadi berbangga diri. Jika aku adalah tujuan dari hidupku sendiri, maka setiap sukses yang kuraih adalah suksesku sendiri. Kebanggaan yang berlebih akan membawa masalah sendiri. 

Timothy Keller merangkum dua bahaya yang bercabang dari meletakkan nilai diri kita pada pekerjaan: “Ketika pekerjaan adalah identitas kita, kesuksesan akan masuk ke kepalamu dan kegagalan akan masuk ke hatimu.” [3]. “Aku adalah apa yang kulakukan” adalah cara hidup yang menghancurkan.

  1. Meletakkan nilai diri kita pada komunitas, ini juga bukan solusi

Kita mungkin berpikir konsep individualisme ini begitu destruktif, jadi sepertinya melihat diri kita dengan cara pandang yang lebih komunal (kita meletakkan identitas kita pada keluarga atau komunitas yang jadi bagian kita) adalah solusinya. 

Dalam bukunya yang berjudul Selfie, Will Storr menelusuri akar individualisme Barat dan budaya komunal atau kebersamaan yang biasanya hadir dalam budaya Asia. Dia merangkum, “Diri orang-orang Asia itu meleleh [membaur] ke dalam diri orang-orang lain yang mengelilinginya.” Jadi, ketika bicara soal pekerjaan, tidaklah asing untuk mendefinisikan diri dalam kaitan dengan perusahaan atau tempat bekerja.” Contohnya, Will bertemu dengan seorang pria di Jepang yang mengenalkan dirinya bukan sebagai “David”, tapi “David yang kerja di Sony.” 

Identitas yang diletakkan pada korporat bukan pula jadi solusi. Angka bunuh diri di Asia Timur itu tinggi. Kenapa? Karena di budaya Asia, jika kamu gagal, maka kelompokmu juga gagal. Storr kembali menjelaskan, “Ketika satu individu mengakhiri hidupnya sendiri, kehormatan akan dikembalikan ke kelompoknya… seorang CEO yang bunuh diri terdengar masuk akal bagi orang-orang Jepang” [4]. 

Hanya Yesus jawabannya

Jadi, ketika individualisme Barat atau konsep komunalisme tidak bisa jadi solusi, ke mana kita harus berpaling? Hanya Injil yang membebaskan kita dari beban “aku adalah apa yang kulakukan”. Kebebasan itu tidak dimulai dari identitas kita, tapi dari identitas Yesus. 

Satu hal yang luar biasa, kebenaran mendasar dari iman Kristen adalah siapa yang “di dalam Kristus” mendapatkan identitas-Nya. Identitas Kristus adalah identitas kita. Kebenaran-Nya adalah kebenaran kita. Memahami identitas kita dimulai dengan memahami identitas Kristus. 

Seperti apakah identitas-Nya itu? Allah Bapa berkata ketika Kristus dibaptis, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17). Ketika Bapa melihat Anak, keputusan-Nya adalah kasih dan sukacita. Dan, itulah ketetapan yang Allah berikan untukmu, bagi setiap orang yang ada di dalam Kristus. Prestasi dan pencapaian kita bukanlah sumber identitas kita. Status dan identitas kita dianugerahkan dari Seseorang di luar kita [5]. 

Apakah kamu melihat perubahan revolusioner yang dibawa dari konsep ini kepada caramu memandang pekerjaan dan dirimu sendiri? Dengan percaya diri yang teguh dalam Kristus, pekerjaan kita tidak lagi menjadi sumber identitas, tapi menjadi ekspresi dari identitas kita. Menghidupi kepercayaan dari kasih dan anugerah Allah, alih-alih berupaya keras melakukan pembuktian kepada orang lain, kamu menjadikan pekerjaanmu sebagai ladang untuk menunjukkan identitasmu dalam Kristus. Inilah perubahan radikal yang dibawa oleh Injil dalam kehidupan dan pekerjaan kita. 

Apa salah satu cara praktis agar kita dapat mengubah cara pandang yang salah dan menerima identitas yang kita miliki dalam Kristus?

Kita bisa memulai dengan bertanya, “Bagaimana aku merespons ketika pekerjaanku dikritisi?” 

Tidak ada kritik yang menyenangkan, tapi dari kritik ini kita bisa melihat bagaimana cara pandang kita. Jika kritik itu membuat kita merasa gagal dan kalah, atau kritik itu membangkitkan amarah dan kita mencari cara untuk membela diri, bisa jadi itu petunjuk kalau kita mengaitkan identitas kita pada apa yang kita kerjakan (kadang kritik itu tidak cuma mengkritik pekerjaannya, tapi orangnya juga). Mengetahui bagaimana kita merespons dapat menolong kita untuk berhenti dan memikirkan ulang di mana kita meletakkan identtias kita. Jika kita meletakkannya pada tempat yang salah, perbaikilah itu dengan meletakkannya pada Kristus. 

 

Catatan kaki:

[1] LucFerry, A Brief History of Thoughts, 122

[2] James Suzman, A Work History on How We Spend Our Time, 177

[3] twitter.com/timkellernyc/status/510539614818680832

[4] Will Store, How the West Become Self-Obsessed, 81

[5] Dikutip dari course bertema “I Am What I Do? A Theology of Work and Personal Identity”.

3 Hal untuk Direnungkan Untukmu yang Punya Keterbatasan Fisik

Oleh Sukma Sari, Jakarta

Memiliki bentuk tubuh dan rupa yang menarik dilihat rasanya adalah dambaan setiap orang. Tapi, tak semua ‘beruntung’ terlahir dengan kondisi fisik yang diidamkan.

Aku dilahirkan sebagai bayi yang normal dan sehat, sampai beberapa bulan setelahnya orang tuaku menyadari ada yang berbeda dengan mata kananku. Terjadi pembekuan darah dan saraf di sana, sehingga pupil dan bola mataku tidak bereaksi terhadap cahaya. Cerita yang lebih lengkap tentang kelainan mataku ini pernah kutuliskan sebelumnya di sini.

Sampai saat ini, kerap kali aku masih ingat dengan ejekan teman–teman saat aku bersekolah dulu atas kondisi fisikku. Terkadang, memori lama itu membuatku tidak percaya diri, terutama saat berinteraksi dengan orang banyak. Dengan kondisiku fisikku ini, tentunya ada kesulitan yang aku rasakan saat melakukan aktivitas sehari–hari. Salah satunya seperti saat mengendarai motor atau belajar mengemudikan mobil. Untuk melihat spion yang berada di sisi kanan dan kiri, aku hanya bisa melihat dengan sebelah mata. Ditambah lagi apabila aku mengalami kelelahan fisik, kelopak mataku pasti akan nyaris menutup.

Teman-temanku, melalui tulisan ini, aku ingin membagikan beberapa poin menurut perjalananku yang bisa dilakukan ketika fisik kita memiliki keterbatasan.

1. Ingatlah selalu bahwa tidak ada manusia yang sempurna

Tidak ada hal yang lebih sulit daripada penerimaan atas diri sendiri. Mereka yang berhasil berdamai dengan diri sendiri pasti butuh waktu untuk berproses. Tidak ada yang instan. Aku pun demikian. Aku masih dan akan terus belajar menerima diri sendiri. Tidak lagi mbatin “seandainya aku begini” atau “seandainya aku begitu”.

Rasul Paulus menuliskan begini: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2 Korintus 12:9).

Jika saja Paulus tidak memiliki keterbatasan, besar kemungkinan pelayanannya akan penuh dengan kesombongan akan diri sendiri. Kelemahan tidak selalu tentang fisik yang terlihat berbeda, mungkin saja ada penyakit dalam yang sulit disembuhkan, yang membuat kita merasa tidak nyaman dalam menjalani keseharian. Tetapi, tidak ada satu pun manusia yang sempurna yang terbebas dari kekurangan fisik, meskipun di mata kita seseorang itu tampak tidak ada kurang-kurangnya sama sekali.

Sepenggal kisah Paulus dalam 2 Korintus mengingatkan kita untuk selalu bergantung pada Tuhan Sang Pemilik Hidup kita.

2. Ingatlah segala sesuatu terjadi atas kehendak-Nya

Masih ingat bagaimana sikap murid–murid saat bertemu orang yang buta sejak lahir di ayat awal Yohanes 9?

Mereka bertanya “Siapakah yang berbuat dosa, dirinya sendiri kah atau orang tua nya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tua nya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam dia” (Yohanes 9:3).

Memang begitu banyak hal di luar jangkauan kita. Namun, percayalah tidak ada satupun hal tersebut berada di luar kuasa-Nya. Keterbatasan yang saat ini aku dan teman–teman alami adalah hal yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita. Bukan karena dosa bawaan keluarga, tetapi seperti kusebutkan di poin pertama, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat segala kemalangan tidak terhindarkan, tetapi ada kabar baiknya… Kristus telah menang atas dosa dan bagi kita yang menerima-Nya sebagai Juruselamat, Dia memberikan bagi kita identitas baru. Identitas kita tidak lagi ditentukan berdasarkan seperti apa penampilan kita di mata orang lain, tetapi ditentukan oleh apa yang telah Dia perbuat bagi kita.

3. Tetap berkarya meski terbatas

Keterbatasan fisik bukanlah suatu halangan untuk kita terus berkarya dan menjadi saksi-Nya. Kamu dan aku adalah terang dan garam dunia (Matius 5:13–14). Di mana pun saat ini kita berada, apa pun status kita, kita adalahi terang dan garam dunia.

Hidup yang kita jalani adalah hidup yang berutang kepada Penebus yang tergantung di kayu salib. Maka sudah sepatutnya kita menjalani hidup dengan tidak setengah-setengah dan terus berjuang memberikan yang terbaik, bahkan sekalipun ketika yang terbaik itu tidak terlihat oleh manusia. Selain itu, hidup kita bagaikan kitab terbuka yang dapat dibaca oleh sesama. Siapa yang mereka lihat dan rasakan melalui perbuatan dan perkataan kita, tergantung dari bagaimana kita menjalani hidup kita.

Teman, itulah tadi poin-poin yang kuambil selama 30 tahun perjalananku sebagai seorang yang memiliki keterbatasan fisik. Sampai saat ini, aku masih dan akan terus berjuang untuk memberikan hidup yang terbaik bagi Tuhan. Belajar untuk tidak minder saat bertemu dengan orang banyak dan juga terus memelihara pemberian Tuhan lainnya. Meski hanya melihat dengan sebelah mata, tetapi aku tahu dunia ini begitu luas dan Tuhan berjalan bersamaku untuk menikmatinya. Kendala di mataku tidak membuatku abai akan anggota tubuh yang lain, yang tetap harus kupelihara.

Kiita dicipta segambar dan serupa dengan Allah dan ketika Dia membentuk kita, Dia melihat bahwa semuanya itu baik.

Dalam tangan-Mu, ku s’rahkan hidupku
Ku taruh penuh harapku pada-Mu
Kemenanganku hanya ada di dalam janji-Mu
Engkaulah Tuhan Pemilik Hidupku

Semua yang terjadi dalam hidupku
Semuanya atas seijin Diri-Mu
Semuanya indah dalam rencana-Mu
S’bab ku tahu, Kau Pemilik Hidupku

Maksud dari Penderitaan

Rabu, 27 Oktober 2021

Baca: Ayub 42:1-9

42:1 Maka jawab Ayub kepada TUHAN:

42:2 “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.

42:3 Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui.

42:4 Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.

42:5 Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

42:6 Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

42:7 Setelah TUHAN mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman TUHAN kepada Elifas, orang Teman: “Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.

42:8 Oleh sebab itu, ambillah tujuh ekor lembu jantan dan tujuh ekor domba jantan dan pergilah kepada hamba-Ku Ayub, lalu persembahkanlah semuanya itu sebagai korban bakaran untuk dirimu, dan baiklah hamba-Ku Ayub meminta doa untuk kamu, karena hanya permintaannyalah yang akan Kuterima, supaya Aku tidak melakukan aniaya terhadap kamu, sebab kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub.”

42:9 Maka pergilah Elifas, orang Teman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub.

Murka-Ku menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hamba-Ku Ayub. —Ayub 42:7

“Jadi, maksud kamu, belum tentu saya yang bersalah?” Perkataan wanita itu mengejutkan saya. Saya baru saja menjadi pembicara tamu di gerejanya, dan kami sedang membahas materi yang saya bagikan pagi itu. “Saya mengidap penyakit kronis,” kata wanita itu, “dan saya sudah berdoa, berpuasa, mengaku dosa, dan melakukan semua yang disuruh supaya saya bisa sembuh. Tetapi saya masih saja sakit, jadi saya pikir, ini semua pasti salah saya.”

Saya sedih mendengar pengakuannya. Setelah diberikan “rumus” rohani untuk menyelesaikan masalahnya, wanita itu menyalahkan dirinya sendiri ketika rumus tersebut tidak membuahkan hasil. Yang lebih parah, cara kaku dalam menghadapi penderitaan tersebut sudah terbantahkan sejak zaman lampau.

Sederhananya, rumus kuno ini menyatakan bahwa jika kamu mengalami penderitaan, itu pasti akibat dosa. Ketika Ayub secara tragis kehilangan ternak, anak-anak, dan kesehatannya, sahabat-sahabatnya menerapkan rumus ini kepadanya. “Siapa binasa dengan tidak bersalah?” kata Elifas yang mencurigai Ayub telah berdosa (Ayb. 4:7). Bildad bahkan mengatakan bahwa anak-anak Ayub mati karena mereka berbuat dosa (8:4). Tanpa mempedulikan alasan sesungguhnya dari malapetaka yang menimpa Ayub (1:6–2:10), mereka menyiksa Ayub dengan melontarkan berbagai alasan sepele atas penderitaan yang dialaminya. Belakangan, mereka semua ditegur oleh Allah (42:7).

Penderitaan merupakan bagian dari hidup di tengah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Seperti Ayub, tragedi dapat terjadi karena alasan-alasan yang mungkin tidak akan pernah kita ketahui. Akan tetapi, Allah mempunyai maksud ilahi bagi kamu, suatu maksud yang melampaui penderitaan yang sedang kamu alami. Janganlah kamu berkecil hati dengan mempercayai rumus-rumus yang menyepelekan masalah. —Sheridan Voysey

WAWASAN
Setelah bertemu muka dengan Allah, Ayub merasa kemarahannya reda dan semua pertanyaannya pupus, dan ia bahkan menggambarkan dirinya bertobat “dalam debu dan abu” (Ayub 42:6). Namun Allah tidak menegur Ayub atas pertanyaan-pertanyaannya dan bahkan menyatakan bahwa di dalam kesedihan dan sakitnya ia lebih dekat kepada kebenaran dibandingkan sahabat-sahabatnya. Karena mereka tergesa-gesa membela apa yang mereka lihat sebagai serangan terhadap Allah, sahabat-sahabat Ayub berbicara dengan congkak dan tanpa bela rasa. Mereka lebih suka menyalahkan Ayub atas penderitaannya daripada mempertanyakan pendapat mereka tentang Allah, seperti Allah selalu melindungi orang benar dari kesengsaraan. Ironisnya, karena mereka terlalu terburu-buru membela-Nya, mereka “tidak berkata benar tentang [Allah]” sedangkan Ayub telah berkata jujur (ay. 7). Perkenanan Allah atas Ayub menyatakan bahwa Allah tidak ingin kita memendam penderitaan, kemarahan, dan pertanyaan-pertanyaan sulit kita, tetapi Dia sangat menghargai hubungan yang jujur dan tulus dengan-Nya. —Monica La Rose

Maksud dari Penderitaan

Pernahkah kamu melihat rumus “penderitaan = dosa” ini digunakan untuk menjelaskan pergumulan seseorang? Menurut kamu, mengapa pandangan ini masih banyak dipercaya?

Ya Tabib Agung, berikanlah kepadaku kata-kata yang menyembuhkan, bukan menyakiti orang lain dalam kesulitan yang mereka hadapi.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 12–14; 2 Timotius 1

Kala Tubuh Membuat Insecure

Tubuh ini diciptakan Tuhan baik adanya… tapi tak jarang rasa insecure yang muncul mengikis habis rasa syukur dan percaya diri kita.

Bagaimana seharusnya kita merawat tubuh?
Apa yang dapat dan perlu kita ubah?
Bagaimana seharusnya kita memaknai kecantikan?

Yuk temukan jawabannya di Podcast KaMu Episode 4 bersama Pdt. Nancy Rosita Timisela, hamba Tuhan dan konselor di Halokonselor SAAT dan Noni Elina sebagai host.

Podcast KaMu Episode-3: Beriman di Titik Nadir

Penderitaan adalah bagian dalam hidup, dan seringkali penderitaan itu menghujam kita sampai ke titik nadir. Kita menangis, kita meratap, kita menanti pengharapan yang seolah tak kunjung datang.

Bagaimana kita bisa beriman di titik nadir?

Apa yang dapat kita pelajari tentang Tuhan yang katanya Mahabaik itu dari titik ini?

Ayo temukan inspirasi dari firman Tuhan dan gali topik ini lebih dalam di Podcast KaMu episode ketiga.

Dikuduskan

Selasa, 26 Oktober 2021

Baca: Roma 1:1-6

1:1 Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.

1:2 Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci,

1:3 tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud,

1:4 dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.

1:5 Dengan perantaraan-Nya kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya.

1:6 Kamu juga termasuk di antara mereka, kamu yang telah dipanggil menjadi milik Kristus.

Paulus . . . dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. —Roma 1:1

Taksi roda tiga di Sri Lanka, yang disebut “tuk tuk,” merupakan moda transportasi yang praktis dan menyenangkan bagi banyak orang. Lorraine, seorang warga Kolombo, ibukota Sri Lanka, menyadari bahwa kendaraan tersebut juga merupakan ladang misi. Suatu hari ketika ia naik tuk tuk, Lorraine bertemu dengan pengemudi yang ramah dan senang mengobrol tentang agama. Lorraine pun mengingatkan dirinya sendiri, lain kali ia akan membagikan Injil kepada pengemudi tersebut.

Kitab Roma dimulai dengan pernyataan Paulus bahwa dirinya “dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah” (Rm. 1:1). Kata Yunani untuk “Injil” adalah euangelion, yang berarti “kabar baik.” Pada intinya, Paulus mengatakan bahwa tujuan utama hidupnya adalah untuk memberitakan kabar baik Allah.

Apakah kabar baik ini? Roma 1:3 menyatakan bahwa Injil Allah adalah “tentang Anak-Nya.” Kabar baik itu ialah Yesus! Allah sendiri yang mau mengabarkan kepada dunia bahwa Yesus telah datang untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut, dan Dia telah memilih kita untuk menjadi moda komunikasi untuk menyampaikan kabar tersebut. Sungguh mengharukan, Allah mau memakai kita!

Membagikan kabar baik adalah hak istimewa yang diberikan kepada semua orang percaya. Kita telah “menerima kasih karunia” untuk menuntun orang-orang supaya percaya kepada Yesus Kristus (ay.5-6). Allah telah menguduskan kita untuk membawa kabar sukacita Injil kepada mereka yang ada di sekitar kita, saat berada di atas tuk tuk atau di mana saja. Seperti Lorraine, kiranya kita mencari kesempatan dalam hidup kita sehari-hari untuk mengabarkan kabar baik tentang Yesus Kristus kepada orang lain. —Asiri Fernando

WAWASAN
Paulus menulis kepada gereja di Roma ketika ia tinggal di Korintus selama tiga bulan di akhir perjalanan misinya yang ketiga (Kisah Para Rasul 20:2-3). Memberitahukan mereka tentang rencana kunjungannya dan meminta dukungan untuk pekerjaannya di masa mendatang di Spanyol (Roma 1:10-13, 15; 15:23-24, 28-29), ia menerangkan dasar teologi Injil (pasal 1-8). Dalam pasal 1-3, Paulus menyatakan bahwa seluruh umat manusia adalah orang-orang berdosa, dan mengakhirinya dengan mengatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (3:23). Kita tidak diselamatkan karena menuruti hukum Taurat, tetapi oleh tindakan Allah yang membenarkan kita melalui iman kepada Yesus (1:16-17; 3:22-26). Kita dibenarkan (dinyatakan benar dan dibenarkan dengan Allah) hanya oleh kasih karunia (sola gratia), hanya oleh iman (sola fide), dan hanya dalam Kristus (solus Christus). —K.T. Sim

Dikuduskan

Hambatan apa saja yang kamu temui saat membagikan iman kamu? Talenta atau minat apa yang dapat kamu pakai untuk menyampaikan kabar baik?

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau menjadikanku moda komunikasi untuk memberitakan kabar baik-Mu. Kiranya Roh-Mu yang kudus memberiku keberanian dan kasih untuk bercerita tentang Engkau hari ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 9–11; 1 Timotius 6

Ujian

Senin, 25 Oktober 2021

Baca: Kejadian 22:1-3,6-12

22:1 Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: “Abraham,” lalu sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:2 Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

22:3 Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.

22:6 Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

22:7 Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”

22:8 Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.

22:9 Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.

22:10 Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya.

22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”

22:12 Lalu Ia berfirman: “Jangan bunuh anak itu dan jangan kauapa-apakan dia, sebab telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau takut akan Allah, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku.”

Beberapa waktu kemudian Allah menguji kesetiaan Abraham. —Kejadian 22:1 BIS

Pertama kalinya saya membawa anak-anak lelaki saya mendaki Colorado Fourteener—gunung dengan ketinggian kurang lebih 14.000 kaki (4.267 m)—mereka merasa gugup. Mampukah mereka mendakinya? Mampukah mereka menerima tantangan ini? Anak bungsu saya berhenti beberapa kali di jalur pendakian untuk beristirahat. “Ayah, aku tidak sanggup lagi,” katanya berulang kali. Namun, saya yakin ujian ini baik bagi mereka, dan saya ingin mereka percaya kepada saya. Satu setengah kilometer sebelum tiba di puncak, anak saya, yang tadinya bersikeras menyatakan bahwa ia sudah tidak sanggup lagi, tiba-tiba kembali mendapat suntikan tenaga dan mendahului kami sampai ke puncak. Ia sangat senang telah mempercayai saya, bahkan di tengah rasa takutnya.

Saya kagum melihat sikap percaya Ishak kepada ayahnya dalam perjalanan mereka mendaki gunung Moria. Terlebih lagi, saya sungguh heran melihat kepercayaan Abraham kepada Allah saat ia mengangkat pisau untuk menyembelih anaknya (Kej. 22:10). Meskipun hatinya bingung dan pilu, Abraham tetap taat. Syukurlah, seorang malaikat menghentikannya. “Jangan bunuh anak itu,” kata utusan Allah itu. Allah tidak pernah menghendaki Ishak mati.

Ketika kita mengambil pelajaran dari kisah unik ini bagi hidup kita, penting untuk melakukannya dengan hati-hati dan memperhatikan kalimat pembukanya: “Allah menguji kesetiaan Abraham” (ay.1 BIS). Melalui ujian yang harus dilewatinya, Abraham mengetahui betapa besar kepercayaannya kepada Allah. Ia menyadari hati-Nya yang penuh kasih serta pemeliharaan-Nya yang sempurna. 

Dalam kebingungan, kekelaman, dan ujian hidup yang kita alami, kita mempelajari kebenaran tentang diri kita dan tentang Allah. Kita mungkin akan mengetahui bahwa ujian yang kita alami membawa kita semakin percaya kepada-Nya. —Winn Collier

WAWASAN
Kejadian 22:1, 15-18 jelas menyatakan bahwa Allah menguji Abraham untuk memeriksa hatinya. Meski Allah dapat menguji iman dan kepatuhan kita (Yakobus 1:2-4), Dia tidak pernah mencobai agar supaya kita melakukan kesalahan (ay. 13). Penulis Ibrani memuji iman kuat dari kepala keluarga itu: “Abraham yakin bahwa Allah sanggup menghidupkan kembali Ishak dari kematian–jadi, boleh dikatakan, Abraham sudah menerima kembali Ishak dari kematian” (Ibrani 11:19 BIS). Rasul Yakobus berkata bahwa “Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah … oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yakobus 2:21-22). —K.T. Sim

Ujian

Pernahkah kamu diuji oleh Allah? Bagaimana rasanya menjalani pengalaman itu, dan pelajaran apa yang kamu petik darinya?

Ya Allah, aku tidak tahu apakah yang kualami saat ini merupakan ujian dari-Mu atau bukan, tetapi apa pun itu, aku ingin mempercayai-Mu. Kuserahkan masa depanku kepada-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 6–8; 1 Timotius 5

Bicara, Percaya, Merasa

Minggu, 24 Oktober 2021

Baca: Roma 8:14-21

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

8:19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.

8:20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya,

8:21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.

Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi. —Roma 8:15

“Jangan bicara, jangan percaya, jangan merasa adalah aturan yang harus kami taati, dan celakalah orang yang melanggarnya,” kata Frederick Buechner dalam memoarnya yang luar biasa, Telling Secrets. Buechner sedang menerangkan pengalaman pribadinya tentang apa yang disebutnya sebagai “aturan tak tertulis dalam keluarga yang karena satu dan lain hal menjadi kacau balau.” Dalam keluarganya sendiri, “aturan” seperti itu membuat Buechner tidak boleh membicarakan atau menangisi ayahnya yang meninggal karena bunuh diri, sehingga tidak ada seorang pun yang menjadi tempat baginya berbagi derita.

Apakah kamu mengalami hal serupa? Banyak di antara kita telah menjalani hidup dengan meyakini suatu kasih yang menyimpang, yaitu kasih yang menuntut kita untuk bersikap tidak jujur terhadap perasaan kita sendiri atau mendiamkan saja apa yang melukai kita. Jenis “kasih” seperti itu memanfaatkan rasa takut untuk mengendalikan kita—dan merupakan sejenis perbudakan. 

Kita tidak boleh melupakan betapa jauh berbedanya ajakan Yesus untuk mengasihi dengan kasih bersyarat yang sering kita alami. Kita sering ragu kasih ilahi itu akan selalu tersedia bagi kita. Akan tetapi, Rasul Paulus menjelaskan, hanya oleh kasih Kristus, akhirnya kita dapat memahami seperti apa hidup tanpa ketakutan (Rm. 8:15) dan mulai mengerti tentang kemerdekaan mulia (ay.21) yang dapat kita alami ketika kita yakin kita sangat dan sungguh-sungguh dikasihi apa adanya. Kita pun kembali bebas berbicara, percaya, dan merasa—belajar untuk hidup tanpa rasa takut.  —Monica La Rose

WAWASAN
Roma 7 berurusan dengan konflik yang kita hadapi dengan dosa dan diakhiri oleh Paulus yang mengatakan, “Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa” (ay. 26). Kontrasnya, Roma 8 mulai dengan keteguhan yang luar biasa: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus (ay. 1). Orang-orang yang percaya kepada Yesus sekarang bebas bersukacita menjalani hidup yang penuh kemenangan yang ditemukan ketika mengikut Dia. Ayat 5 memberikan kuncinya: “Mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.” Karya Roh Kudus di dalam hidup kita sangat krusial. Demikianlah ayat 14 dengan tepat menyatakan, “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” Roh Kuduslah yang “bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah” (ay. 16). —Tim Gustafson

Bicara, Percaya, Merasa

Adakah “aturan-aturan” tidak tertulis yang kamu terima sebagai syarat supaya kamu diterima dan dikasihi? Apa yang berbeda dari hidup kamu jika kamu yakin tidak perlu mengikuti aturan-aturan tersebut supaya kamu dikasihi? 

Allah yang penuh kasih, terkadang aku takut bersikap jujur kepada diriku sendiri dan orang lain—karena aku mengira dengan begitu aku tidak akan dikasihi lagi. Pulihkanlah hatiku, dan tolonglah aku untuk mempercayai dan menghidupi kemuliaan, kemerdekaan, dan sukacita yang dapat kunikmati hanya oleh kasih-Mu.  

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 3–5; 1 Timotius 4

Kristen yang Bijak

Sabtu, 23 Oktober 2021

Baca: Lukas 16:1-9

16:1 Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.

16:2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.

16:3 Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.

16:4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.

16:5 Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku?

16:6 Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan.

16:7 Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.

16:8 Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.

16:9 Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang. —Lukas 16:8

Pandemi yang disebabkan oleh virus Corona membuat sekolah-sekolah di seluruh dunia ditutup. Di Tiongkok, para guru menanggapi kondisi tersebut dengan menggunakan DingTalk, sebuah aplikasi digital yang memungkinkan kelas diadakan secara daring. Namun, para murid mengetahui bahwa jika peringkat DingTalk di App Store (platform penyedia aplikasi ponsel) dinilai rendah, besar kemungkinan aplikasi tersebut akan dihapus. Dalam satu malam saja, ribuan murid yang menolak untuk belajar ramai-ramai memberikan penilaian satu bintang yang membuat peringkat DingTalk anjlok. 

Tuhan Yesus pasti tidak terkesan dengan para murid yang melalaikan tanggung jawab mereka itu. Namun, bisa jadi Dia mengagumi kecerdikan mereka. Dia pernah menceritakan sebuah perumpamaan yang tidak lazim tentang seorang bendahara yang dipecat. Pada hari terakhirnya bekerja, ia berhasil memangkas tagihan orang-orang yang berutang kepada tuannya. Yang dipuji Yesus bukanlah perilakunya yang tidak jujur, melainkan kecerdikannya. Dia mengharapkan para pengikut-Nya juga sama cerdiknya: “Kata-Nya, “Dengarlah! Pakailah kekayaan dunia ini untuk mendapat kawan, supaya apabila kekayaan dunia ini sudah tidak berharga lagi, kalian akan diterima di tempat tinggal yang abadi” (Luk. 16:9 BIS). 

Kebanyakan orang berpikir berapa banyak uang yang bisa dihabiskan, sementara orang bijak memikirkan bagaimana uang itu dapat digunakan. Yesus berkata, memberi kepada orang lain akan membuat kita “mendapat kawan”, yang berarti mendapat perlindungan dan pengaruh. Siapakah yang menjadi pemimpin dalam suatu kelompok? Orang yang mendanai dan membayari. Memberi juga membuat kita memperoleh “tempat tinggal yang abadi,” karena kerelaan kita kehilangan uang menunjukkan kepercayaan kita kepada Yesus.  

Walaupun tidak mempunyai uang, kita tetap memiliki waktu, keterampilan, atau telinga yang siap mendengar. Mari minta kepada Allah untuk menunjukkan bagaimana kita bisa melayani orang lain secara kreatif demi Yesus.  —Mike Wittmer

WAWASAN
Tokoh utama dalam kisah yang diceritakan Yesus dalam Lukas 16:1-8 disebut sebagai “bendahara.” Kata yang diterjemahkan sebagai “bendahara” adalah oikonómos. Orang dengan jabatan itu bertanggung jawab terhadap masalah rumah tangga (termasuk keuangan, hamba, anak-anak, peliharaan, dan padang rumput). Meski terjemahannya mungkin tidak menyatakan hal itu, kata-kata yang terbentuk dari akar kata itu muncul sepuluh kali dalam perikop ini, termasuk yang diterjemahkan sebagai “jabatanku” dalam ayat 3 dan 4. Dalam 1 Korintus 4:1-2 dan Titus 1:7, Paulus menggunakan kata oikonómos untuk merujuk kepada pemimpin Kristen. Petrus menggunakan istilah itu untuk merujuk kepada orang percaya secara umum (1 Petrus 4:10). Setiap orang telah dipercayakan karunia dan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah. Memakai karunia dan tanggung jawab itu dengan bijak adalah penatalayanan yang baik. —Arthur Jackson

Kristen yang Bijak

Siapa yang Tuhan Yesus ingin kamu layani hari ini? Bagaimana kamu dapat secara kreatif menggunakan keterampilan, uang, atau waktu kamu untuk memberkati orang tersebut? 

Tuhan Yesus, aku mau memberi kepada orang lain demi Engkau. 

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 1–2; 1 Timotius 3

Ada Pelangi di Balik Sakit Langka yang Kualami

Oleh Monica Horezki, Jakarta

Namaku Monica Horezki Vivacioingriani. Kesan apakah yang kamu dapat ketika mendengar namaku?

Beberapa orang menganggap namaku panjang dan unik. Nama itu diberikan oleh orangtuaku dengan maksud yang baik. Kata ‘Horezki’ merupakan gabungan dari dua kata baik: hoki dan rezeki.

Namun, meskipun ada makna rezeki dalam namaku, nyatanya kehidupan tak selalu penuh rezeki. Pada usia 20 tahun, aku divonis mengidap penyakit yang namanya cukup langka didengar di Indonesia. Penyakit ini disebut Dandy Walker Syndrome yang mengakibatkan aku kehilangan keseimbangan tubuh karena otak kecilku tidak bertumbuh secara sempurna. Sindrom ini ditemukan oleh seorang dokter saraf bernama Walter Dandy di Amerika Serikat pada tahun 1914.

Kehilangan keseimbangan tubuh menyulitkanku dalam banyak hal. Misalnya, jika aku memegang segelas susu, pasti akan banyak yang tumpah. Sama halnya dengan saat aku berjalan atau menulis dengan tangan. Aku pernah dicegat di bandara karena cara jalanku yang sempoyongan dan gampang menabrak. Petugas bandara mengira aku sedang mabuk. Tulisan tanganku juga sering dikritik karena berantakan dan jelek seperti cakar T-Rex.

Aku sempat berkecil hati.

Hadirnya penyakit ini menimbulkan tantangan. Ada orang-orang yang kemudian menganggapku sebagai beban ketika mereka tahu kalau secara medis, sindrom dandy walker tidak bisa diobati dan hanya bisa dikurangi dengan terapi rutin seperti duduk di atas bola yoga yang setiap hari aku lakukan.

Kini, aku sedang kuliah di semester 5. Cerita tentang diri dan kondisiku tidak serta merta diterima oleh semua temanku. Yah, mau bagaimana lagi? Aku harus ditemani Mami kemanapun aku pergi, termasuk untuk nongkrong. Aku juga dianggap menjadi “anak emas” dosen karena diberi izin untuk menggunakan laptop ketika ujian. Mungkin teman-temanku mengira aku berbuat curang dengan membuka internet di laptop untuk mencari jawaban.Padahal, tanpa sepengetahuan mereka, aku harus memohon izin ke dosen untuk diperbolehkan mengikuti perkuliahan.

Terkadang hal-hal ini membuatku sedih dan frustasi. Aku merasa kalau dunia tidak adil dan tidak ada lagi pengharapan untukku. Sudah tak terhitung jumlah orang yang menganggap rendah dan yang skeptis terhadap masa depanku—bahkan ada pula yang menghakimi orang tuaku. Sebagai orang yang memiliki hobi menulis, aku pun mencurahkan perasaanku ke dalam tulisan.

Aku terus mengetik dan menuangkan isi hatiku selama bertahun-tahun hingga suatu saat, secercah pikiran muncul di benakku: bagaimana aku bisa menjadi berkat bagi orang lain melalui hidupku?

Ingin rasanya aku membagikan cerita dan pergumulanku bersama Tuhan sebagai pengidap sindrom ini dengan menerbitkan buku. Namun, keraguan dan rasa takut kerap kali datang menghampiri: Apakah aku mampu? Apakah tulisanku layak? Apakah ceritaku bisa menyentuh hati banyak orang dan menjadi berkat?

Pertanyaan-pertanyaan ini sempat mengurungkan niatku untuk mencoba menerbitkannya. Perasaan takut mendapat penolakan juga membuat diriku galau untuk akhirnya melangkah. Tetapi, perintah Tuhan untuk bersaksi mendorongku datang kepada-Nya dan meminta keberanian.

Puji Tuhan, berkat pertolongan Tuhan dan dukungan dari kedua orang tua yang menguatkanku, ada satu penerbit yang menerima tulisanku dan bersedia menerbitkannya.

Hari itu, dengan penuh semangat kudatang ke kantor penerbit itu untuk berdiskusi. Aku memberikan judul “Menjalani Apa yang Tidak Dijalani” untuk bukuku. Aku sadar, di tengah dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, tidak semua orang dapat merasakan dan menyaksikan kasih, kebaikan, dan pertolongan Tuhan dalam hidupnya. Aku, yang melalui sakitku diizinkan menjadi saksi atas kebaikan Tuhan merasa perlu untuk membagikan kembali kisah kasih itu kepada orang lain.

Hadirnya penyakit langka dalam hidupku mungkin dapat menjadi badai yang menenggelamkanku, tapi tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Badai yang kualami mampu ditenangkan-Nya hingga aku pun melihat pelangi kasih-Nya.

Banyak orang skeptis akan masa depanku dan menghakimi orang tuaku karena keadaanku. Dari situ aku melihat bahwa mencintai orang yang ‘spesial’ tidaklah mudah, tetapi Tuhan mengaruniakan kepercayaan pada kedua orang tuaku untuk tetap mencintaiku sepenuh hati. Tanpa kehadiran orang tuaku yang tangguh, kurasa aku hanya akan hidup menjadi pribadi yang sia-sia, yang tak akan mampu bersaksi di sini di hadapan sahabat-sahabat seimanku.

Aku selalu ingin jadi pribadi yang mengasihi dan dikasihi Tuhan, menghasilkan karya yang bermakna dan menjadi berkat bagi banyak orang sesuatu apa yang firman Tuhan perintahkan agar kita terus bersaksi sampai hari Tuhan datang.

Hanya Tuhan yang mampu mengubah ratapan menjadi tarian. Kiranya apa yang kusaksikan dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang yang menghadapi jalan hidup berliku dan penuh tantangan.

Kuucapkan terima kasih kepada kamu yang telah membaca kesaksianku, dan sekali lagi ingin kuberkata bahwa hanya Tuhan sajalah yang tetap setia dan mendukung kita walau dunia menolak kita.

Tuhan Yesus memberkati.