Terserah Pada-Mu, Tuhan

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Kalau seseorang bertanya, “Mau makan apa hari ini?” apa jawabanmu? 

Mungkin kamu akan menjawab dengan spesifik, tapi mungkin pula kamu menjawab dengan tersenyum lalu bilang, “Ya, terserahlah…” Jawaban ‘terserah’ itu berarti kita membiarkan orang lain yang memikirkan dan memutuskan pilihan. Tapi, kadang pilihan yang dibuat malah tidak sesuai dengan yang kita inginkan, lalu kita pun mengomel. Kita lupa kalau sebelumnya kita sudah menjawab “terserah”.

Ketika merenungkan fenomena “terserah” yang sering terjadi dalam obrolan-obrolan kita, aku lantas berpikir tentang Tuhan. Bagaimana dengan Tuhan? Bukankah kita juga dengan mudahnya berkata “terserah” pada-Nya ketika kita minta Dia menyatakan kehendak-Nya buat kita? Bila mau jujur, kurasa sulit untuk menjawab Tuhan dengan kata “terserah” karena dalam diri kita sendiri masih ada keinginan agar kehendak kita sendiri yang terjadi. 

Alkitab memberi kita teladan tentang “terserah” dari Maria, ibu Yesus. Alkitab memang tidak mencatat Maria menjawab Tuhan dengan kata “terserah” secara langsung, tapi sikap Maria selanjutnya menunjukkan apa arti menyerahkan pilihan dan keputusan yang sebenarnya pada Tuhan.

Dalam Matius 1:18-25 dan Lukas 1:26-38, Maria dikisahkan sebagai seorang gadis yang tinggal di desa kecil bernama Nazaret di Galilea. Maria telah bertunangan dengan Yusuf. Baik Maria dan Yusuf, keduanya berasal dari garis keturunan keluarga Daud. Maria kemudian mendapatkan pesan dari malaikat Gabriel. 

Kedatangan Gabriel terjadi tiba-tiba. Setelah mengucapkan salam, Malaikat Gabriel menyampaikan pesan yang dibawanya kepada Maria yaitu dia akan mengandung, melahirkan seorang anak laki-laki, dan akan dinamai Yesus. Maria terkejut, karena sekalipun dia telah bertunangan namun dia belum menikah, maka dia mengatakan “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (Lukas 1:34) Maka malaikat itu menjawab, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang MahaTinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35).

Yang menarik adalah respon Maria terhadap perkataan Malaikat Gabriel. Dia menjawab, ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38).

Maria menyebut dirinya sebagai hamba Tuhan, suatu kesadaran bahwa dirinya adalah hamba yang harus tunduk kepada otoritas (dalam hal ini terlebih lagi ada otoritas ilahi yaitu Allah). Dan ketika dia mengatakan “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu”, ada unsur iman dan ketaatan di dalamnya. 

Apakah iman Maria adalah iman yang buta? Apakah Maria tidak tahu risiko apa yang harus dihadapinya saat dia harus hamil di luar nikah? 

Maria dengan jelas tahu risiko apa yang harus dihadapinya bila dirinya ketahuan telah hamil sebelum menikah. Beberapa risiko yang dapat terjadi adalah Maria bisa dibuang atau diasingkan dari masyarakat, bahkan dapat dikeluarkan dari ikatan keluarga, kesalahpahaman masyarakat Yahudi yang mungkin mempertanyakan kesucian keluarganya, risiko putus tunangan dengan Yusuf, bahkan mungkin juga ancaman hukuman mati (kehamilan di luar nikah adalah pelanggaran berat bagi orang Yahudi, seperti tercatat pada Ulangan 22:23-24). 

Kita dapat melihat iman Maria bukan iman buta. Terlepas dari semua risiko yang mungkin dia hadapi, Maria tunduk pada kehendak Tuhan. Dia menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada Tuhan. Dia rela untuk mempercayakan perjalanan hidupnya kepada rencana Allah sekalipun rencana itu akan mengubah seluruh hidupnya.

Maria tidak hanya menunjukkan imannya, dia juga menampilkan ketaatan. Tidak ada bantahan, perdebatan, atau mencoba mengelak, Maria memilih untuk patuh pada kehendak Allah. Dia melakukan apa yang Allah minta dengan sepenuh hatinya.

Ketika kita memilih berserah di dalam melakukan kehendak Tuhan, hal itu tentu menyenangkan hati-Nya. Tuhan senang kepada orang-orang yang melakukan kehendak-Nya. Bukan hanya itu, saat kita memilih berserah, ketakutan dan kekhawatiran kita mungkin akan tetap ada, tetapi itu tidak lagi menguasai kita karena kita tahu kepada Siapa kita percaya, yakni pada Dia yang telah menyatakan kehendak-Nya. Hidup dapat menjadi jauh lebih damai dan tenang untuk dijalani. Dan tanpa kita sadari, sikap berserah yang kita jalankan dapat menjadi berkat bagi sesama kita. Hidup kita menjadi kesaksian bagi orang-orang di sekeliling kita. 

Meskipun berserah kepada kehendak Tuhan bukan hal yang mudah dilakukan, marilah kita berusaha untuk terus mencobanya. Mengatakan “Terserah pada-Mu, Tuhan” tidak lagi sekadar ucapan, tetapi dengan iman dan ketaatan.

3 Masalah Ketika Identitas Kita Ditentukan dari Pekerjaan yang Kita Lakukan

Oleh Andrew Laird
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Problems When We Tie Our Identity To Our Work

Pertanyaan apa yang biasanya kamu tanyakan ketika bertemu dengan seseorang pertama kali? Kutebak sih, biasanya setelah bertanya nama, satu pertanyaan yang mungkin muncul adalah, “Kamu kerja apa?” 

Tapi, pernahkah kamu cermati bagaimana respons dari orang-orang? Biasanya, jawabannya bukan “Aku kerja sebagai pengacara,” tapi “Aku pengacara”. Kita hidup di dunia yang berpikir, “Aku adalah apa yang aku lakukan”, di mana identitas kita terikat pada apa yang kita kerjakan. 

Pemikiran ini mungkin rasanya cuma hal kecil, tapi setidaknya ada tiga masalah yang muncul dari pemikiran ini yang bisa berdampak hebat buat kita. 

Apa saja masalahnya? Dan yang lebih penting, apa solusinya?

  1. Itu membawa konsekuensi negatif dari individualisme

Titik awal dari pemikiran kalau “Aku adalah apa yang aku lakukan” adalah ciri khas dari budaya yang dibentuk oleh individualisme yang berkembang di Barat. 

Salah satu cara untuk mendefinisikan individualisme adalah dengan memikirkan diri sendiri, “diri sendiri adalah tujuannya.”[1]. Siapakah aku itu dimulai dan diakhiri olehku. Aku membentuk takdirku. Aku membentuk diriku. Generasi di atas kita mendefinisikan diri mereka dalam hubungan dengan komunitas mereka. Tapi, dalam konsep individualisme Barat, akulah yang membentuk identitasku sendiri. Nilai-nilai diriku ditentukan dari apa yang mampu aku raih dan selesaikan.

Apa artinya ini bagi pekerjaan kita? Itu menjadi identitas kita. Kalau pekerjaan kita bagus, tentu ini tidak jadi masalah. Tapi, ketika pekerjaan kita mengalami kemunduran, melekatkan nilai diri kita pada apa yang kita kerjakan menjadi beban yang menghancurkan diri kita. 

  1. Itu adalah cara hidup yang menghancurkan 

James Suzman dalam bukunya, Work: A History of How We Spend Our Time [2], menuliskan kisah pilu dari Prof. Vere Gordon Childe, seorang arkeolog yang mengakhiri hidupnya sendiri ketika dia menyimpulkan bahwa dia tidak memiliki “kontribusi lebih yang berguna” di pekerjaannya.

Tapi, bukan cuma Profesor Childe yang berpikir begitu. Ada kaitan yang tragis antara kekecewaan, kegagalan dalam kerja, pensiun, dan bunuh diri. Ketika pekerjaan menjadi nilai diri kita, itu akan menghancurkan kita ketika pekerjaan itu mengecewakan. 

Beban yang kita tempatkan pada diri sendiri ini dapat kita lihat dalam berbagai situasi. Aku ingat pernah menerima email dari seorang wanita yang sakit selama beberapa waktu. Isi emailnya terdapat kalimat, “Aku tidak berguna”, karena dia tidak bisa melakukan apa yang diminta, lantas dia menganggap dirinya tak berguna. 

Namun, jika seandainya yang terjadi sebaliknya—pekerjaan kita berjalan baik, yang ada malah membuat kita menjadi berbangga diri. Jika aku adalah tujuan dari hidupku sendiri, maka setiap sukses yang kuraih adalah suksesku sendiri. Kebanggaan yang berlebih akan membawa masalah sendiri. 

Timothy Keller merangkum dua bahaya yang bercabang dari meletakkan nilai diri kita pada pekerjaan: “Ketika pekerjaan adalah identitas kita, kesuksesan akan masuk ke kepalamu dan kegagalan akan masuk ke hatimu.” [3]. “Aku adalah apa yang kulakukan” adalah cara hidup yang menghancurkan.

  1. Meletakkan nilai diri kita pada komunitas, ini juga bukan solusi

Kita mungkin berpikir konsep individualisme ini begitu destruktif, jadi sepertinya melihat diri kita dengan cara pandang yang lebih komunal (kita meletakkan identitas kita pada keluarga atau komunitas yang jadi bagian kita) adalah solusinya. 

Dalam bukunya yang berjudul Selfie, Will Storr menelusuri akar individualisme Barat dan budaya komunal atau kebersamaan yang biasanya hadir dalam budaya Asia. Dia merangkum, “Diri orang-orang Asia itu meleleh [membaur] ke dalam diri orang-orang lain yang mengelilinginya.” Jadi, ketika bicara soal pekerjaan, tidaklah asing untuk mendefinisikan diri dalam kaitan dengan perusahaan atau tempat bekerja.” Contohnya, Will bertemu dengan seorang pria di Jepang yang mengenalkan dirinya bukan sebagai “David”, tapi “David yang kerja di Sony.” 

Identitas yang diletakkan pada korporat bukan pula jadi solusi. Angka bunuh diri di Asia Timur itu tinggi. Kenapa? Karena di budaya Asia, jika kamu gagal, maka kelompokmu juga gagal. Storr kembali menjelaskan, “Ketika satu individu mengakhiri hidupnya sendiri, kehormatan akan dikembalikan ke kelompoknya… seorang CEO yang bunuh diri terdengar masuk akal bagi orang-orang Jepang” [4]. 

Hanya Yesus jawabannya

Jadi, ketika individualisme Barat atau konsep komunalisme tidak bisa jadi solusi, ke mana kita harus berpaling? Hanya Injil yang membebaskan kita dari beban “aku adalah apa yang kulakukan”. Kebebasan itu tidak dimulai dari identitas kita, tapi dari identitas Yesus. 

Satu hal yang luar biasa, kebenaran mendasar dari iman Kristen adalah siapa yang “di dalam Kristus” mendapatkan identitas-Nya. Identitas Kristus adalah identitas kita. Kebenaran-Nya adalah kebenaran kita. Memahami identitas kita dimulai dengan memahami identitas Kristus. 

Seperti apakah identitas-Nya itu? Allah Bapa berkata ketika Kristus dibaptis, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17). Ketika Bapa melihat Anak, keputusan-Nya adalah kasih dan sukacita. Dan, itulah ketetapan yang Allah berikan untukmu, bagi setiap orang yang ada di dalam Kristus. Prestasi dan pencapaian kita bukanlah sumber identitas kita. Status dan identitas kita dianugerahkan dari Seseorang di luar kita [5]. 

Apakah kamu melihat perubahan revolusioner yang dibawa dari konsep ini kepada caramu memandang pekerjaan dan dirimu sendiri? Dengan percaya diri yang teguh dalam Kristus, pekerjaan kita tidak lagi menjadi sumber identitas, tapi menjadi ekspresi dari identitas kita. Menghidupi kepercayaan dari kasih dan anugerah Allah, alih-alih berupaya keras melakukan pembuktian kepada orang lain, kamu menjadikan pekerjaanmu sebagai ladang untuk menunjukkan identitasmu dalam Kristus. Inilah perubahan radikal yang dibawa oleh Injil dalam kehidupan dan pekerjaan kita. 

Apa salah satu cara praktis agar kita dapat mengubah cara pandang yang salah dan menerima identitas yang kita miliki dalam Kristus?

Kita bisa memulai dengan bertanya, “Bagaimana aku merespons ketika pekerjaanku dikritisi?” 

Tidak ada kritik yang menyenangkan, tapi dari kritik ini kita bisa melihat bagaimana cara pandang kita. Jika kritik itu membuat kita merasa gagal dan kalah, atau kritik itu membangkitkan amarah dan kita mencari cara untuk membela diri, bisa jadi itu petunjuk kalau kita mengaitkan identitas kita pada apa yang kita kerjakan (kadang kritik itu tidak cuma mengkritik pekerjaannya, tapi orangnya juga). Mengetahui bagaimana kita merespons dapat menolong kita untuk berhenti dan memikirkan ulang di mana kita meletakkan identtias kita. Jika kita meletakkannya pada tempat yang salah, perbaikilah itu dengan meletakkannya pada Kristus. 

 

Catatan kaki:

[1] LucFerry, A Brief History of Thoughts, 122

[2] James Suzman, A Work History on How We Spend Our Time, 177

[3] twitter.com/timkellernyc/status/510539614818680832

[4] Will Store, How the West Become Self-Obsessed, 81

[5] Dikutip dari course bertema “I Am What I Do? A Theology of Work and Personal Identity”.

Ditarik oleh Bencana

Jumat, 12 Agustus 2022

Baca: Yoel 1:1-7,19-20

1:1 Firman TUHAN yang datang kepada Yoel bin Petuel.

1:2 Dengarlah ini, hai para tua-tua, pasanglah telinga, hai seluruh penduduk negeri! Pernahkah terjadi seperti ini dalam zamanmu, atau dalam zaman nenek moyangmu?

1:3 Ceritakanlah tentang itu kepada anak-anakmu, dan biarlah anak-anakmu menceritakannya kepada anak-anak mereka, dan anak-anak mereka kepada angkatan yang kemudian.

1:4 Apa yang ditinggalkan belalang pengerip telah dimakan belalang pindahan, apa yang ditinggalkan belalang pindahan telah dimakan belalang pelompat, dan apa yang ditinggalkan belalang pelompat telah dimakan belalang pelahap.

1:5 Bangunlah, hai pemabuk, dan menangislah! Merataplah, hai semua peminum anggur karena anggur baru, sebab sudah dirampas dari mulutmu anggur itu!

1:6 Sebab maju menyerang negeriku suatu bangsa yang kuat dan tidak terbilang banyaknya; giginya bagaikan gigi singa, dan taringnya bagaikan taring singa betina.

1:7 Telah dibuatnya pohon anggurku menjadi musnah, dan pohon araku menjadi buntung; dikelupasnya kulitnya sama sekali dan dilemparkannya, sehingga carang-carangnya menjadi putih.

1:19 Kepada-Mu, ya TUHAN, aku berseru, sebab api telah memakan habis tanah gembalaan di padang gurun, dan nyala api telah menghanguskan segala pohon di padang.

1:20 Juga binatang-binatang di padang menjerit karena rindu kepada-Mu, sebab wadi telah kering, dan apipun telah memakan habis tanah gembalaan di padang gurun.

Aku minta tolong kepada-Mu, ya Tuhan. —Yoel 1:19 bis

Pada tahun 1717, badai dahsyat yang mengamuk berhari-hari menyebabkan banjir bandang di Eropa utara. Ribuan orang kehilangan nyawa di Belanda, Jerman, dan Denmark. Sejarah menyingkapkan suatu respons yang menarik dan umum dilakukan pada masa itu, setidaknya dari satu pemerintah lokal. Otoritas provinsi kota Groningen di Belanda menyerukan diadakannya “hari doa” untuk menanggapi bencana tersebut. Seorang sejarawan melaporkan bahwa masyarakat berkumpul di gereja[-gereja untuk “mendengarkan khotbah, menyanyikan mazmur, serta berdoa berjam-jam.”

Nabi Yoel pernah menggambarkan bencana besar atas penduduk Yehuda yang juga mendesak mereka untuk berdoa. Hama belalang menutupi tanah dan membuat “pohon anggur[nya] menjadi musnah, dan pohon ara[nya] menjadi buntung” (Yl. 1:7). Saat sang nabi dan bangsanya kewalahan ditimpa kehancuran, Yoel berdoa, “Aku minta tolong kepada-Mu, ya Tuhan” (1:19 BIS). Baik secara langsung maupun tidak, penduduk Eropa utara dan bangsa Yehuda sama-sama mengalami bencana sebagai akibat dari dosa dan kebobrokan dunia ini (Kej. 3:17-19, Rm. 8:20-22). Namun, mereka juga mengalami bahwa saat-saat sulit seperti itu membawa mereka berseru kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya dalam doa (Yl. 1:19). Allah pun menjawab, “Sekarang juga . . . berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu” (2:12).

Di hadapan kesulitan dan bencana, baiklah kita berpaling kepada Allah—mungkin dalam kepedihan, mungkin dalam pertobatan. Karena Dia “pengasih” dan “berlimpah kasih setia” (ay.13), Dia akan menarik kita kepada-Nya untuk menyediakan penghiburan dan pertolongan yang kita butuhkan. —Tom Felten

WAWASAN
Seharusnya Allah menjadi pusat setiap aspek kehidupan orang Israel. Namun, meski telah menikmati berkat-berkat Allah secara jasmani, bangsa itu melupakan-Nya. Mereka menunjukkan kefasikan mereka dengan meremehkan berkat-berkat-Nya, dan berulang kali memakai hasil panen anggur mereka yang berlimpah untuk hidup bermabuk-mabukan. Jadi Nabi Yoel mengatakan kepada mereka, “Merataplah, hai semua peminum anggur . . . sebab sudah dirampas dari mulutmu anggur itu!” (Yoel 1:5). Pasukan belalang akan datang dan memusnahkan semua pohon anggur (ay.6-7 BIS). Sesuai dengan karakter-Nya, Allah memakai hukuman itu untuk menegur umat-Nya. Dengan menggunakan konteks wabah belalang tersebut, Yoel menyerukan kepada umat Israel untuk bertobat: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu,” ujarnya. “Berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang” (2:13). —Tim Gustafson

Ditarik oleh Bencana

Mengapa sering kali orang berpaling kepada Allah saat menghadapi bencana? Bagaimana Allah dapat memakai masa-masa sulit untuk menarik kita kembali kepada-Nya?

Bapa Surgawi, menghadapi kesulitan yang ada, tolonglah aku untuk berseru kepada-Mu dan menemukan pengharapan yang dari-Mu saja.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 84-86; Roma 12

Sembuh Tapi Tidak Sembuh, Tidak Sembuh Tapi Sembuh

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Empat tahun yang lalu, aku dan seorang teman dokter melakukan pelayanan di sebuah rumah tahanan (rutan). Setelah aku berkhotbah, kami mengadakan pengobatan gratis untuk semua tahanan berikut para sipir yang ada di sana. Kami lalu mendapatkan informasi bahwa ada seorang tahanan yang bukan orang Kristen yang menderita kusta dan tidak lagi bergaul dengan semua orang di rutan. Dia juga tidak lagi datang ke tempat ibadahnya.

Segera kami mengunjungi orang itu. Kami cukup kaget karena dia tidak bersedia memperlihatkan kondisi tubuhnya. Seluruh tubuhnya dia tutupi dengan kain tipis berwarna agak gelap, hanya menyisakan satu lubang sebesar mata supaya dia tetap bisa memandang kami saat bercakap-cakap. Mungkin dia malu, atau mungkin juga tidak ingin kami terjangkit. Namun, satu yang pasti adalah dia tidak bahagia dengan kondisi tubuhnya, apalagi dia berada di tengah-tengah kelompok yang menjauhinya karena tidak tahu banyak fakta-fakta tentang penyakit kusta. Sejujurnya, saat aku memandangnya aku sangat berharap mukjizat terjadi, tetapi setelah beberapa waktu berselang Tuhan berkata lain. Teman kami, seorang tahanan yang sakit kusta itu telah meninggal.

Pengalamanku melayani di rutan itu membuatku menyadari bahwa setiap orang haus akan relasi. Kita ingin diterima, kita memerlukan sentuhan, kita ingin sehat, pun kita ingin meraih banyak hal dalam hidup. Penyakit telah membatasi banyak hal dari kita. Setiap kali aku mengingat teman kami yang menderita kusta itu, timbul banyak pertanyaan dalam hati. Bagaimana rasanya menghabiskan waktu di sebuah ruangan sempit dan gelap sehari-harian? Bagaimana rasanya tertolak dan sendirian? Setelah teman dokter memberikan petunjuk medis untuknya, aku hanya bisa mendoakannya.

Penyakit kusta bukanlah penyakit baru. Dua ribu tahun lalu, Yesus menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem. Dia menghadapi sepuluh orang kusta dan mereka semua berseru senada, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” (Lukas 7:11).

Ada banyak hal yang bisa kita telaah dari kisah itu, tetapi ringkasnya, kesepuluh orang kusta itu menderita lahir dan batin. Kusta telah memisahkan mereka dari komunitas, dari masyarakat dan keluarga. Mereka dipandang sebagai orang yang terkena “kutuk” dari Tuhan. Lalu, karena orang pada masa itu percaya bahwa kusta tidak bisa disembuhkan oleh pengobatan medis, maka teriakan mereka pada Yesus tentu berasal dari hati yang benar-benar hancur.

Kusta yang tertulis di sini bukanlah sekadar tentang sakit akan kulit yang meleleh, tetapi juga relasi yang porak-poranda.

Tidak mengejutkan bagi kita karena Yesus dengan kuasa-Nya tergerak dan menyembuhkan sepuluh orang itu dari sakit kustanya. Tapi, hanya satu yang kembali pada-Nya dan memuliakan Allah. Ada banyak hal yang bisa dijelaskan pada bagian ini, tetapi yang paling ingin aku tekankan adalah bahwa meskipun sepuluh orang telah sembuh, hanya satu orang yang kembali. Satu orang ini adalah orang Samaria yang dianggap remeh oleh orang Yahudi. Kepada orang inilah Yesus berkata, “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau” (Lukas 17:19).

***

Mari kembali sejenak ke ceritaku di awal tulisan ini yang terjadi empat tahun lalu dan kita coba sedikit menduga-duga. Jika mukjizat terjadi setelah kami berkunjung dan mendoakan teman yang sakit kusta itu, apa yang akan terjadi? Mungkin kamu akan berkata, “nama Tuhan Yesus dimuliakan.” Tetapi, sayang sekali. Fakta dua ribu tahun lalu memberikan kita informasi yang mengecewakan. Yesus bahkan mempertanyakan sembilan orang yang tidak kembali (ayat 17), dan di sinilah letak krusialnya. Jika kamu dan aku percaya bahwa Yesus bisa membuat mukjizat (secara khusus kesembuhan fisik), orang-orang Farisi dan Saduki yang membencinya juga tahu itu, bahkan Iblis pun tahu.

Kisah tentang mukjizat kesembuhan bagi orang kusta itu tidak hanya bicara tentang kesembuhan tubuh mereka, tetapi bicara tentang iman kepada apa yang tidak bisa dibalas oleh manusia kepada Allah yaitu kasih karunia. Ini tentang keselamatan yang tidak bisa dibayar dengan apa pun selain belas kasih Allah dalam darah Kristus yang mengalir pada salib kasar itu.

Yesus Kristus Tuhan kita bukan sekadar penyembuh kusta, kanker, buta, lumpuh, AIDS, dan berbagai penyakit fisik mengerikan lainnya. Dia adalah penyembuh dari penyakit yang jauh lebih mengerikan daripada itu, penyakit yang telah membuat perselisihan antara ibu dan anak, pertikaian antar suku, peperangan antar bangsa, penyakit yang menghancurkan relasi antara Allah dengan manusia, yaitu dosa.

Ketika Yesus menyembuhkan berbagai macam penyakit fisik, Dia berfirman, tetapi untuk menyembuhkan orang dari dosa, Dia berkorban. Dia tergantung di salib dengan kesakitan dan menanggung malu sampai mati-Nya bukan hanya untuk menyembuhkan “kustamu dan kustaku yang bisa Dia selesaikan dengan berfirman. Dia terpaku di sana dan disiksa bagaikan seorang perampok untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan kekal.

Apabila seseorang bisa sembuh dari penyakit fisiknya tetapi malah tidak sembuh dari penyakit yang mendatangkan kebinasaan roh, itu adalah sukacita semu. Ketika seseorang mungkin saja tidak sembuh dari penyakit fisiknya tetapi telah sembuh dari penyakit dosanya dan terus memuliakan Allah, itulah sukacita sejati. Jika Allah menyembuhkan penyakit di tubuh kita, entah itu melalui pengobatan, terapi, atau mukjizat, maka terpujilah Dia. Tetapi, jika Dia tidak menyembuhkan sakit fisikmu, Dia pasti menemanimu. Teruslah memuji Dia, karena jaminan keselamatan yang Dia tawarkan adalah sesuatu hal yang jauh lebih berharga.

Aku tahu mengatakan ini terasa mudah dibandingkan mengalaminya, tetapi jika saat ini kamu sedang terbaring sakit di rumah sakit, atau sedang merasa tak berdaya, muliakanlah Allah. Jika Allah menyembuhkanmu, muliakanlah Dia. Jika tidak, terpujilah Dia. Jika seseorang yang kamu kasihi menderita penyakit yang pada akhirnya akan atau telah merenggut nyawanya, ingatlah Tuhan kita, Yesus Kristus di atas salib itu.

Percayalah kepada-Nya yang telah berkata, “imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Kekayaan yang Tak Ternilai

Kamis, 11 Agustus 2022

Baca: Roma 11:33-36

11:33 O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!

11:34 Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?

11:35 Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?

11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! —Roma 11:33

Sebuah asteroid yang melintas dalam orbit di antara Mars dan Jupiter ternyata memiliki nilai miliaran dolar. Menurut para ilmuwan, benda langit yang diberi nama 16 Psyche itu mengandung logam-logam seperti emas, besi, nikel, dan platinum yang tak ternilai harganya. Hingga saat ini, manusia belum berusaha untuk menambang kekayaan tersebut, tetapi Amerika Serikat telah berencana mengirim robot penjelajah nirawak untuk mempelajari batuan berharga itu. 

Peluang adanya kekayaan tak ternilai yang berada di luar jangkauan kita mungkin terasa menggoda sekaligus membuat frustrasi. Rasanya sudah pasti akan ada orang-orang yang mendukung upaya untuk mencapai 16 Psyche demi memperoleh kekayaannya. 

Namun, bagaimana dengan peluang kekayaan yang dapat kita raih? Tidakkah semua orang ingin meraihnya? Dalam suratnya kepada jemaat abad pertama di Roma, Rasul Paulus berbicara tentang kekayaan yang dapat diperoleh, yaitu yang kita temukan dalam relasi kita dengan Allah. Ia menuliskan, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!” (Rm. 11:33). Pakar Alkitab James Denney menyebut kekayaan tersebut sebagai “kekayaan kasih yang tak terselidiki, yang memampukan Allah untuk . . . melakukan jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi [kebutuhan besar] dari dunia ini.” 

Bukankah itu yang memang kita butuhkan—bahkan melebihi bongkahan emas asteroid yang tak terjangkau? Kita dapat menambang kekayaan hikmat dan pengetahuan Allah yang terkandung dalam Kitab Suci dengan pertolongan Roh Kudus. Kiranya Allah menuntun kita untuk menggali kekayaan tersebut, agar kita semakin mengenal serta memuliakan Dia. —Dave Branon

WAWASAN
Paulus bukan penulis Alkitab pertama yang berbicara tentang Allah yang tidak terselami (Roma 11:33-35). Dua ribu tahun sebelumnya, Ayub (yang dipercaya hidup sekitar zaman Abraham) bertanya, “Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa?” (Ayub 11:7). Nabi Yesaya dengan tepat merangkum ketidaksanggupan kita untuk sepenuhnya mengenal Allah: “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku” (Yesaya 55:8). Namun, Allah ingin kita mengenal-Nya: “Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN” (Yeremia 24:7; lihat Ibrani 8:10-11). Rasul Yohanes menyatakan kepada kita, “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, . . . Dialah yang menyatakan-Nya” (Yohanes 1:18). Yesus sendiri menegaskan, “Jikalau sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga Bapa-Ku” (8:19). Meski kita tidak dapat memahami segala sesuatu mengenai Allah, Yohanes berkata bahwa setiap orang yang mengenal Yesus juga mengenal Allah (17:3). —K.T. Sim

Kekayaan yang Tak Ternilai

Menurut kamu, apa artinya menjadi kaya dalam kasih Allah? Langkah apa yang dapat kamu tempuh untuk menggali lebih banyak lagi kekayaan yang abadi dan sejati?

Allah Bapa, tolonglah aku mengejar hikmat dan pengetahuan-Mu, pertimbangan dan jalan-jalan-Mu, dalam upayaku mengikut-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 81-83; Roma 11:19-36

Podcast KaMu Episode 8 Part 1: Tumpas Mager Otw Sukses!

Kita hidup di zaman di mana semua serba gampang. Cari referensi paper atau tugas kuliah? Tinggal Googling lalu ketemu, tanpa harus ke perpus lalu buka tumpukan buku lama ataupun kliping-kliping jaman dulu.

Tapi.. segala kemudahan ini membuat sebagian kita menjadi mager. Dikit-dikit menunda sampai ujung-ujungnya lupa.

Nah, Podcast KaMu Episode 8 mengajakmu buat explore topik seputar mager, produktivitas, dan kesuksesan. Supaya tambah seru dan berbobot, kami menghadirkan Steven Sutantro, seorang Google Certified Trainer dan Lead Coach di start-up pendidikan bernama REFO Indonesia.

Berani Mengambil Sikap

Rabu, 10 Agustus 2022

Baca: Ester 4:7-14

4:7 dan Mordekhai menceritakan kepadanya segala yang dialaminya, serta berapa banyaknya perak yang dijanjikan oleh Haman akan ditimbang untuk perbendaharaan raja sebagai harga pembinasaan orang Yahudi.

4:8 Juga salinan surat undang-undang, yang dikeluarkan di Susan untuk memunahkan mereka itu, diserahkannya kepada Hatah, supaya diperlihatkan dan diberitahukan kepada Ester. Lagipula Hatah disuruh menyampaikan pesan kepada Ester, supaya pergi menghadap raja untuk memohon karunianya dan untuk membela bangsanya di hadapan baginda.

4:9 Lalu masuklah Hatah dan menyampaikan perkataan Mordekhai kepada Ester.

4:10 Akan tetapi Ester menyuruh Hatah memberitahukan kepada Mordekhai:

4:11 “Semua pegawai raja serta penduduk daerah-daerah kerajaan mengetahui bahwa bagi setiap laki-laki atau perempuan, yang menghadap raja di pelataran dalam dengan tiada dipanggil, hanya berlaku satu undang-undang, yakni hukuman mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup. Dan aku selama tiga puluh hari ini tidak dipanggil menghadap raja.”

4:12 Ketika disampaikan orang perkataan Ester itu kepada Mordekhai,

4:13 maka Mordekhai menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Ester: “Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi.

4:14 Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”

Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini  engkau beroleh kedudukan sebagai ratu. —Ester 4:14

Di sebuah kota kecil di negara bagian Illinois, 40% dari seluruh tindak kriminal dalam masyarakat adalah kekerasan dalam rumah tangga. Menurut seorang pendeta setempat, masalah KDRT sering disembunyikan di dalam komunitas rohani karena tidak nyaman untuk dibicarakan. Namun, alih-alih menghindari masalah, sekelompok rohaniwan di kota itu memilih mempraktikkan iman mereka dan dengan berani menangani masalah tersebut. Mereka memulainya dengan mengikuti berbagai pelatihan untuk mengenali tanda-tanda terjadinya kekerasan dan mendukung sejumlah organisasi nirlaba yang khusus menangani masalah ini. Menyadari besarnya pengaruh iman dan perbuatan, salah seorang rohaniwan berkata, “Kami percaya, doa dan belas kasihan kita, ditambah dukungan nyata, dapat membawa perubahan yang berarti.”

Ketika Ester, Ratu Persia, ragu-ragu untuk angkat suara menentang hukum yang mengizinkan pemusnahan bangsanya, ia diingatkan pamannya bahwa jika tetap diam, ia dan keluarganya tidak akan luput, bahkan pasti binasa (Est. 4:13-14). Karena tahu inilah waktunya untuk berani mengambil sikap, Mordekhai berujar, “Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu” (ay.14).

Baik kita dipanggil untuk menyuarakan perlawanan terhadap ketidakadilan atau perlu mengampuni seseorang yang menyusahkan kita, Alkitab meyakinkan kita bahwa dalam situasi-situasi sulit seperti itu, Allah tidak pernah meninggalkan atau melupakan kita (Ibr. 13:5-6). Ketika kita mengharapkan Allah menolong kita dari ancaman, Dia akan memberi kita “kekuatan, kasih dan ketertiban” untuk menunaikan tanggung jawab kita hingga selesai (2Tim. 1:7). —Kimya Loder

WAWASAN
Kisah Ester dan kemenangan umat Allah atas musuh bebuyutan mereka memberikan penguatan sekaligus peringatan bagi kita di masa kini. Sekalipun ketika Allah tampaknya tidak hadir, Dia terus bekerja di belakang layar untuk memelihara umat-Nya dan melindungi mereka dari musuh-musuh mereka. Kelangsungan hidup bangsa Yahudi juga berarti kelangsungan harapan bagi Mesias yang akan datang. Kita juga belajar bahwa tidak ada yang dapat menghindari penghakiman Allah. Dikutip dari Understanding the Bible: The History Books. (Memahami Alkitab: Kitab-kitab Sejarah).

Berani Mengambil Sikap

Apa yang mungkin Allah minta untuk kamu lakukan saat ini? Sumber daya apa yang telah kamu terima dari Allah untuk menjawab panggilan-Nya itu?

Bapa Surgawi, terima kasih karena Engkau telah mengaruniakan panggilan khusus atas hidupku. Tolonglah aku untuk mengatasi ketakutan yang menghalangiku melangkah dengan iman.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 79-80; Roma 11:1-18

Kerendahan Hati adalah Kebenaran

Selasa, 9 Agustus 2022

Baca: Yakobus 4:1-11

4:1 Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu?

4:2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa.

4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

4:4 Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.

4:5 Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!”

4:6 Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

4:7 Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!

4:8 Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!

4:9 Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita.

4:10 Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.

4:11 Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya.

Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu. —Yakobus 4:10

Teresa dari Avila, seorang biarawati abad ke-16, pernah merenungkan mengapa Allah sangat menghargai kerendahan hati. Ia pun menyadari alasannya: “Itu karena Allah adalah Kebenaran tertinggi, dan kerendahan hati adalah kebenaran itu. . . . Tak satu pun hal baik dalam diri kita terbit dari diri kita sendiri. Sebaliknya, hal baik itu berasal dari mata air kasih karunia, dekat dengan jiwa, bagaikan pohon yang ditanam di tepi sungai, dan dari Matahari yang menghidupkan pekerjaan kita.” Teresa menyimpulkan bahwa melalui doa kita mengikatkan diri kita pada kenyataan itu, karena “seluruh dasar dari doa adalah kerendahan hati. Semakin kita merendahkan diri dalam doa, semakin tinggi Allah akan mengangkat kita.”

Ucapan Teresa tentang kerendahan hati mengumandangkan isi Kitab Suci dalam Yakobus 4. Di sana, Yakobus memperingatkan kita tentang sifat kesombongan dan ambisi egois yang merusak diri sendiri, dan ini berkebalikan dengan kehidupan yang bergantung sepenuhnya pada kasih karunia Allah (ay.1-6). Ia menekankan bahwa satu-satunya cara meninggalkan kehidupan yang penuh keserakahan, keputusasaan, dan konflik yang terus-menerus adalah dengan bertobat dari kesombongan kita dan meminta kasih karunia Allah sebagai gantinya. Dengan kata lain, “Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan,” maka pastilah “Ia akan meninggikan kamu” (ay.10).

Hanya dengan berakar di dalam mata air kasih karunia, kita dapat menerima “hikmat yang dari atas” (3:17). Hanya di dalam Dia, kita akan ditopang oleh kebenaran. —MONICA LA ROSE

WAWASAN
Yakobus menyebutkan dua sikap hati berdosa yang merusak kedamaian dan keharmonisan dalam jemaat: hawa nafsu (4:1-3) dan kecongkakan (ay.5-10). Hawa nafsu atau keserakahan dikecam dalam perintah Allah yang kedelapan dan kesepuluh (Keluaran 20:15,17). Yesus memperingatkan kita, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan” (Lukas 12:15). Ketamakan adalah penyembahan berhala (Efesus 5:5; Kolose 3:5), karena pada dasarnya, sikap itu adalah penyembahan atas diri sendiri. Apa yang menyulut penyembahan diri itu adalah kecongkakan. Salomo berkata, “Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran” (Amsal 13:10). Allah dengan tegas menghukum orang-orang yang berlaku congkak dengan merendahkan mereka (Amsal 6:16-17; Daniel 4:37; Yakobus 4:6; 1 Petrus 5:5). —K.T. Sim

Kerendahan Hati adalah Kebenaran

Bagaimana kesombongan bisa menghalangi kita untuk berdoa dengan benar dan menjauhkan kita dari kasih karunia Allah? Pernahkah kamu mengalami kerendahan hati yang memerdekakan saat berdoa?

Allah Mahakasih, terima kasih atas karunia hidup bersama-Mu. Terima kasih, karena aku bisa menjadi apa adanya di hadapan-Mu. Terima kasih, karena di dalam Engkau, kutemukan semua yang kubutuhkan, bahkan lebih banyak lagi.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 77-78; Roma 10

Menjadi Produktif Tidak Berarti Mengabaikan Waktu-waktu Beristirahat

Oleh Sarah Tso
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Rest Without Feeling Guilty

Teman-temanku mengenalku sebagai seorang yang sangat produktif. Aku tumbuh besar di keluarga yang selalu mengingatkan anggotanya untuk “jangan cuma diam saja.” Alhasil, beristirahat menjadi aktivitas yang tak kusuka karena kuanggap sebagai “nggak ngapa-ngapain”. Dalam kamus hidupku, setiap hari pasti ada sesuatu yang bisa kulakukan.

Terlepas dari budaya keluarga yang menghargai produktivitas setiap waktu, hal lain yang membuatku enggan menikmati momen-momen jeda atau istirahat adalah media sosial. Kita melihat teman kita memposting hobi atau prestasi (naik jabatan, menikah, punya anak), dan kita lantas membandingkan diri kita dengan mereka. Sebelum kita sadar, kita sudah terjebak dalam perangkap membanding-bandingkan.

Kita juga sulit mengendalikan diri kita sendiri. Kita merasa lebih berpengalaman dan bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik. Akhirnya, alih-alih mendelegasikan tanggung jawab ke orang lain, kita malah menanggungnya sendirian.

Ketika hari yang kita jalani terasa kurang produktif menurut pandangan kita, kita pun merasa bersalah dan berpikir: “harusnya aku bisa melakukan lebih”, “duh, aku gak fokus lagi”. Belum cukup sampai di situ, kita lalu khawatir akan hari esok: “Mending aku kelarin semua sekarang, atau besok malah numpuk.” Jadi, bagaimana kita bisa menikmati momen istirahat yang tenang tanpa khawatir?

Allah menghendaki kita untuk beristirahat, dan pemahaman ini membawaku merenung tentang Yesus, tentang bagaimana Dia menjalani hidup-Nya semasa di bumi. Juruselamat kita tahu batasan-batasan dalam tubuh manusia. Dia berfokus pada misi-Nya, tapi Dia tahu Siapa yang sungguh memegang kendali. Itulah mengapa Yesus mengerti bagaimana cara beristirahat.

Inilah 3 poin yang kupelajari:

1. Fokuslah pada misi utama hidup dan karuniamu supaya kamu tidak mengiyakan segala sesuatu

Ketika Yesus melayani di bumi, Dia tidak memaksa diri-Nya untuk menyembuhkan semua orang sakit dan memberitakan Injil ke semua orang yang ada di wilayah-Nya. Yang Yesus lakukan adalah memperlengkapi para murid dan menunjukkan tanda-tanda mukjizat untuk menegaskan kebenaran Injil. Yesus tahu bagaimana membangun batasan dan mempercayakan Allah untuk meneruskan misi-Nya melalui para murid yang dimampukan oleh Roh Kudus (Kis 1:8).

Belajar dari teladan Yesus untuk menemukan apa misi Tuhan buat hidupku telah membebaskanku dari godaan untuk melakukan segala sesuatu sendirian.

Belakangan ini aku mengenali karunia rohani dan panggilan hidupku melalui sebuah kelas pelatihan yang kuambil (tentang The Significant Woman). Karuniaku adalah memberi dorongan semangat, mentoring, mengajar, dan menulis. Semua ini menolongku untuk sadar bahwa misi utamaku adalah untuk membimbing orang-orang dewasa muda dan menolong mereka menemukan tujuan hidup dalam Kristus.

Ketika misi utama itu tampak jelas bagiku, aku mulai berfokus dalam menulis dan mentoring. Hal-hal lain yang tak selaras dapat kukesampingkan lebih dulu. Saat aku mengerti bagaimana Tuhan membentukku untuk melayani-Nya, aku bisa dengan yakin berkata “tidak” tanpa merasa bersalah pada hal-hal yang memang tak bisa kulakukan. Hasilnya, aku punya waktu-waktu berharga untuk mengerjakan tugas kerajaan-Nya dan menikmati waktu istirahatku.

Kalau kamu belum menemukan apa yang jadi karunia rohani dan misi hidupmu, aku sangat mendorongmu untuk mencarinya dengan bimbingan seorang mentor atau kelompok komselmu.

2. Temukan aktivitas yang menolongmu recharge secara rohani dan fisik

Yesus tahu cara terbaik untuk menghindari rasa kewalahan dan beristirahat dengan benar. Caranya adalah dengan terhubung dan berserah kepada Allah secara teratur (Lukas 5:16). Yesus secara intensional mencari tempat-tempat tenang untuk berdoa dan meluangkan waktu dengan Bapa Surgawi. Dia juga mendorong para murid untuk melakukan yang sama (Markus 6:31).

Aku merasa recharge ketika aku merenungkan kebaikan Tuhan dan melihat ciptaan-Nya dari dekat. Aku suka bertemu para sahabat dan mengobrol deep-talk, berdoa bersama sebelum makan, jalan-jalan di alam, mempelajari lagu baru, atau menulis puisi tentang ciptaan-Nya. Sebagai seorang yang melakukan perencanaan, aku menjadwalkan waktu-waktu itu semua di kalenderku. Kalau tidak terjadwal, maka tidak akan kesampaian.

Beristirahat tidak selalu tentang tidak melakukan apa pun. Beristirahat bisa berupa memprioritaskan apa yang akan menolongmu untuk memulihkan kembali jiwa dan ragamu.

3. Ganti kritik atas dirimu sendiri dengan menerima karya-Nya di kayu salib

Dalam tahun-tahunku tumbuh besar, aku suka mengkritik. Aku menaruh ekspektasi tinggi buat diriku sendiri karena aku memegang prinsip “selalu ada ruang untuk meningkatkan kualitas diri” dan aku bisa melakukan yang lebih baik. Pelatih basketku juga pernah bilang, kalau aku tidak kerja keras hari ini, maka orang lainlah yang akan mendapat kesempatan.

Tanpa kusadari, pemikiran ini kuterapkan dalam caraku beriman. Aku melihat diriku dan orang lain sebagai sosok yang kurang berharga di mata Tuhan, dan Tuhan menjadi sosok yang susah disenangkan.

Barulah saat aku ikut konferensi Father Heart, cara pandangku berubah dan aku mengerti apa artinya menjadi anak Allah (Yohanes 1:12; 1 Yohanes 3:1). Allah bergirang karena aku (Zefanya 3:17), Dia menyediakan apa yang tak pernah kupikirkan (1 Korintus 2:9). Semuanya diberikan karena karya Kristus di kayu salib.

Kita cenderung mengukur diri kita dengan standar orang lain atau standar kita sendiri yang kita tetapkan lebih tinggi, lalu merasa bersalah ketika kita tidak sanggup mencapainya.

Untuk menjaga hati kita dari jebakan membanding-bandingkan diri yang tiada akhirnya, kita harus ingat bahwa yang paling penting dalam sejarah telah dituntaskan-Nya (Yohanes 19:30, Ibrani 9:12). Kita tidak perlu membuktikan diri berharga melalui kerja keras kita karena Allah telah membuat kita berharga lebih dulu (Roma 8:28-39). Kita dapat bersandar pada pekerjaan-Nya yang telah tuntas dan melayani dalam kasih setia-Nya yang berlimpah.

Artinya, kita dapat berdoa memohon hikmat untuk mengetahui kapan harus bersusah payah dan menuntaskan pekerjaan dan kapan harus membangun batasan serta mempercayakan pada Allah pekerjaan-pekerjaan kita yang belum dapat kita selesaikan. Dalam kedua situasi itu, kita mengakui Yesus adalah Tuan (Kolose 3:23) sehingga apa pun yang kita lakukan bukanlah supaya kita diterima atau menyenangkan orang lain, tapi sebagai persembahan bagi Tuan yang kita layani.

Teruntuk saudara dan saudariku, kalau kamu hari ini ingin beristirahat tapi dilanda rasa bersalah, kuingatkan kamu akan janji dari Yesaya 26:3, “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya”.Fokuskan pikiranmu pada Tuhan hari ini, percaya sepenuhnya, supaya kamu mengalami damai dan momen istirahat yang sejati ketika kamu tahu bahwa Dia sungguh peduli.

Mengenal Jalan yang Benar

Senin, 8 Agustus 2022

Baca: Amsal 22:6,17-21

22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.
22:17 Pasanglah telingamu dan dengarkanlah amsal-amsal orang bijak, berilah perhatian kepada pengetahuanku.
22:18 Karena menyimpannya dalam hati akan menyenangkan bagimu, bila semuanya itu tersedia pada bibirmu.
22:19 Supaya engkau menaruh kepercayaanmu kepada TUHAN, aku mengajarkannya kepadamu sekarang, ya kepadamu.
22:20 Bukankah aku telah menulisnya kepadamu dulu dengan nasihat dan pengetahuan,
22:21 untuk mengajarkan kepadamu apa yang benar dan sungguh, supaya engkau dapat memberikan jawaban yang tepat kepada yang menyuruh engkau.

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. —Amsal 22:6

Tak seorang pun mengira bahwa pemain skateboard Brasil berusia enam belas tahun, Felipe Gustavo, akan menjadi “salah satu pemain skateboard paling legendaris di planet ini”. Ayah Gustavo yakin sang putra perlu mengejar mimpinya untuk menjadi pemain skateboard profesional, tetapi mereka tidak punya uang. Ayahnya lalu menjual mobil mereka dan membawa putranya mengikuti kompetisi skating Tampa Am yang terkenal di Florida. Tak seorang pun pernah mendengar tentang Gustavo . . . sampai ia menang. Kemenangan itu menjadi batu loncatannya menuju karier yang luar biasa.

Ayah Gustavo mampu melihat hati dan semangat putranya. “Kalau nanti aku jadi seorang ayah,” kata Gustavo, “aku mau berusaha meneladaninya, sekalipun pasti tidak seberapa dibandingkan apa yang telah ayahku perbuat untukku.”

Kitab Amsal menggambarkan kesempatan yang dimiliki orangtua untuk menolong anak-anak mereka mengenali cara Allah yang unik dalam membentuk hati, semangat, dan kepribadian mereka. Orangtua juga menerima kesempatan untuk mengarahkan dan mendorong anak-anak agar menempuh jalan yang sesuai dengan rancangan Allah atas diri mereka masing-masing. “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya,” kata penulis amsal, “maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (22:6).

Mungkin kita tidak memiliki kekayaan dalam jumlah besar atau pengetahuan yang luas. Namun, dengan hikmat Allah (ay.17-21) dan perhatian yang penuh kasih, kita dapat memberikan anugerah yang besar kepada anak-anak kita dan anak-anak lain yang berada dalam lingkup pengaruh kita. Kita dapat menolong mereka untuk mempercayai Allah dan mengenali jalan yang patut mereka tempuh seumur hidup (3:5-6). —WINN COLLIER

WAWASAN
Amsal 22 membukakan pandangan kita kepada dunia yang didiami Raja Salomo. Mulai dengan ayat 17, Salomo memberikan koleksi dari tiga puluh “amsal-amsal orang bijak,” yang mencontoh amsal-amsal karya seorang bijak asal Mesir bernama Amenemope. “Orang bijak” di Timur Tengah kuno setara dengan ahli filsafat modern, dan karya Salomo dalam Kitab Amsal menunjukkan bahwa ia sangat memahami cara yang digunakan orang bijak tersebut untuk menjelaskan tentang hikmat. Yang sangat jauh berbeda dari cara Amenemope adalah bagaimana Salomo menyoroti peranan penting Allah Israel dalam menjalani hidup hikmat. Hikmat itu sendiri tidak cukup, tetapi, seperti yang ditekankan Salomo di ayat 19, tujuan hikmat adalah kepercayaan penuh kepada Allah sendiri. Bukan hanya orang percaya yang mempunyai hikmat. Seperti yang Salomo lakukan dengan perkataan orang bijak dari Mesir, kita juga dapat menemukan hikmat berlaku di berbagai penjuru bumi ini. Namun, kita juga tahu bahwa pada akhirnya hikmat harus mengarahkan manusia kembali kepada Allah yang menciptakan kita. —Jed Ostoich

Mengenal Jalan yang Benar
 

Apa yang kamu rasakan saat melihat ada orangtua yang begitu memperhatikan semangat dan minat anaknya? Bagaimana cara Allah mengungkapkan kasih dan perhatian-Nya kepada kamu?

Bapa Surgawi, ketika aku melihat orangtua yang baik memperhatikan anak-anak mereka, aku tahu Engkaulah Bapa yang terbaik. Terima kasih Engkau selalu memperhatikan dan membimbingku.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 74-76; Roma 9:16-33

Kekuatan untuk Melepaskan

Minggu, 7 Agustus 2022

Baca: Yesaya 40:28-31

40:28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.

40:29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

40:30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,

40:31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu. —Yesaya 40:28

Paul Anderson adalah atlet angkat besi asal Amerika Serikat yang pernah dikenal sebagai Manusia Terkuat di Dunia. Meski mengalami infeksi telinga parah dan menderita demam hingga 39 derajat Celcius, ia berhasil mencetak rekor dunia dalam ajang Olimpiade tahun 1956 di Melbourne, Australia. Awalnya ia sempat tertinggal dari para pesaingnya, dan satu-satunya kesempatan meraih medali emas adalah dengan mencetak rekor kejuaraan baru pada partai terakhirnya. Namun, dua upaya pertamanya gagal total.

Jadi, atlet bertubuh kekar itu pun melakukan apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang paling lemah sekalipun. Ia memohon kekuatan ekstra dari Allah, sambil melepaskan kekuatannya sendiri. Paul berkata kemudian, “Aku tidak sedang tawar-menawar. Aku memang butuh pertolongan.” Pada kesempatan terakhir itu, ia berhasil mengangkat beban seberat 187,5 kg di atas kepalanya.

Paulus, sang rasul Kristus menulis, “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor. 12:10). Paulus berbicara tentang kekuatan rohani, tetapi ia tahu bahwa “dalam kelemahanlah kuasa [Allah] menjadi sempurna” (ay.9).

Ini seperti perkataan Nabi Yesaya, “[Tuhan] memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya” (Yes. 40:29).

Bagaimana caranya memiliki kekuatan seperti itu? Dengan tinggal di dalam Yesus. “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa,” kata-Nya (Yoh. 15:5). Paul Anderson sering berkata, “Jika orang terkuat di dunia saja tidak dapat melewati satu hari pun tanpa kuasa Yesus Kristus, bagaimana dengan orang pada umumnya?” Untuk mengetahui jawabannya, kita dapat melepaskan ketergantungan kita pada kekuatan diri sendiri yang menyesatkan, dan kemudian meminta pertolongan Allah yang kuat dan berkuasa. —PATRICIA RAYBON

WAWASAN
Para tokoh dalam Alkitab berulang kali memperoleh kekuatan dari hubungan mereka dengan Allah. Dalam Kitab Keluaran, setelah umat Israel secara ajaib menyeberangi Laut Teberau, Musa bermazmur, “TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku” (15:2). Ketika rakyatnya ingin melemparinya dengan batu, Daud “menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya” (1 Samuel 30:6). Kemudian, ketika Allah menyelamatkannya dari Saul, Daud menyatakan, “Dialah Allah yang menguatkan aku” (2 Samuel 22:33 BIS; lihat Mazmur 18:33). Demikian juga, Asaf menyatakan, “Sekalipun jiwa ragaku menjadi lemah, Engkaulah kekuatanku, ya Allah; Engkaulah segala yang kumiliki untuk selama-lamanya” (Mazmur 73:26 BIS). Nabi Yesaya menyatakan, “Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku” (Yesaya 12:2). Kita pun dapat memperoleh kekuatan dalam Allah, yang meyakinkan kita, “Janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau” (41:10). —Alyson Kieda

Kekuatan untuk Melepaskan

Apa yang terjadi ketika kamu bergantung pada kekuatan Allah, dan tidak pada kekuatan diri sendiri? Bagaimana tinggal di dalam Yesus dapat memberi kamu kekuatan?

Allah Mahakuasa, aku merasa beban hidupku terlampau berat, tetapi dengan tinggal di dalam-Mu, aku menerima kekuatan-Mu untuk terus maju dan mengatasinya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 72-73; Roma 9:1-15