Mengapa Hidup Harus Jadi Begini? (Bagian 2)

Kehidupan vs Kematian
Saat seorang bayi lahir, hati kita penuh sukacita. Saat orang terkasih meninggal, hati kita tersayat-sayat. Kematian mengintai semua orang. Mengapa hidup harus jadi begini?

Life-vs-Death

Serial Kolase Digital
Judul: Mengapa Hidup Harus Jadi Begini?
Deskripsi: Hidup penuh dengan hal-hal yang tidak terduga. Ada hari-hari-hari yang tenang, ada hari-hari penuh badai. Terkadang indah, terkadang membosankan. Sebagian orang memiliki tubuh yang sehat dan umur panjang, sebagian lagi sakit-sakitan dan mati muda. Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya mengapa hidup harus jadi begini?
Bagian 1: Alam yang indah vs Alam yang rusak
Bagian 2: Kehidupan vs Kematian
Bagian 3: Kesehatan vs Penderitaan
Bagian 4: Kedamaian vs Peperangan
Bagian 5: Surga vs Neraka

Mengapa Hidup Harus Jadi Begini? (Bagian 1)

Alam yang indah vs Alam yang rusak
Kita menikmati keindahan alam, namun pada saat yang sama kita juga merusak alam atas nama “pembangunan”. Mengapa hidup harus seperti ini?

Creation-vs-Ruin

Serial Kolase Digital
Judul: Mengapa Hidup Harus Jadi Begini?
Deskripsi: Hidup penuh dengan hal-hal yang tidak terduga. Ada hari-hari-hari yang tenang, ada hari-hari penuh badai. Terkadang indah, terkadang membosankan. Sebagian orang memiliki tubuh yang sehat dan umur panjang, sebagian lagi sakit-sakitan dan mati muda. Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya mengapa hidup harus jadi begini?
Bagian 1: Alam yang indah vs Alam yang rusak
Bagian 2: Kehidupan vs Kematian
Bagian 3: Kesehatan vs Penderitaan
Bagian 4: Kedamaian vs Peperangan
Bagian 5: Surga vs Neraka

#ruangsenikamu: Di Kaki Salib

Proyek Kriya: Di Kaki Salib [At The Cross]
Bahan: Kertas
Deskripsi: Karya ini terinspirasi dari lukisan Rembrandt, “Elevation of the Cross“.
Seniman: Sven Lim

Karya ini mencoba menggambarkan orang-orang yang dengan sekuat tenaga berusaha mengangkat salib yang sangat berat. Pada saat yang sama, tampak para iman kepala, ahli-ahli Taurat, dan para pemuka agama berdiri di pojok kiri dengan senyum mengejek. Di pojok kanan, tampak para murid yang sedang berduka.

Semoga perspektif yang dihadirkan lewat karya seni yang unik ini dapat menolong kita untuk kembali merenungkan dan mensyukuri apa yang telah dilakukan Kristus bagi kita (Matius 27:32; Yohanes 19:17).

At-the-cross-01

At-the-cross-02

At-the-cross-03

At-the-cross-04

At-the-cross

Sven-Lim

Tentang Sven Lim
Aku bekerja sebagai application engineer di siang hari dan berkarya sebagai seorang seniman di malam hari. Aku percaya bahwa Tuhan telah mengaruniakan kepada setiap kita kemampuan untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama.

Ketika aku masih kecil, aku suka membuat miniatur tokoh tiga dimensi. Saat punya waktu lebih, aku mencoba memakai bahan kayu, tetapi ternyata memahat kayu itu tidak mudah. Aku kemudian mencoba menggunakan bahan sabun, tetapi ternyata bahannya mudah retak.

Lalu suatu hari saat sedang berselancar di internet, aku menemukan gambar seekor gurita yang dibuat dari lembaran-lembaran buku. Bukunya sendiri difungsikan sebagai “lautan”, halaman-halamannya dibuat bergelombang seperti ombak.

Dari sana aku menyadari bahwa aku bisa menggunakan buku-buku tua yang sudah tidak terpakai untuk membuat miniatur tokoh tiga dimensi. Aku mulai membuat karya seni semacam ini sejak tahun 2011.

Harapanku, karya-karya seni yang aku buat dapat menginspirasi orang lain agar menggunakan karunia-karunia mereka untuk melayani sesama (1 Petrus 4:10).

Menemukan Diriku Di Dalam-Nya (bagian 6)

menemukan-diriku-6

Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Semua orang menyukaimu.

Ya, iyalah… ‘kan aku orangnya lucu, penuh perhatian, santai dan asyik dijadikan teman.

Memangnya kenapa kalau leluconku tidak membuat orang tertawa? Memangnya kenapa kalau kadang-kadang orang menatapku dengan pandangan aneh?

Terserahlah. Pastinya ada yang pernah bilang aku itu orangnya kocak dan mereka sangat senang melewatkan waktu bersamaku. Ingat ‘kan? Itu artinya banyak orang menyukaiku!

Tetapi … bagaimana bila mereka sebenarnya menertawakan aku, bukan tertawa bersamaku? Bagaimana bila ternyata mereka hanya berpura-pura menyukaiku?

Ya, tidak apa-apa. Tidak seharusnya itu menjadi masalah. Aku ini orang yang kuat, mandiri, dan realistis. Jika mereka tidak bisa menerima diriku apa adanya, aku juga tidak ingin berurusan dengan mereka. Siapa juga yang ingin bergaul dengan sekelompok orang yang tidak menyukai dirinya?

Mungkin mereka tidak menyukai aksen bicaraku. Mungkin suaraku terdengar lucu di telepon. Mungkin mereka tidak suka dengan alisku yang terlalu tebal. Aku harus menyempatkan diri merapikan alisku.

Mungkin mereka merasa aku seperti nenek-nenek, selalu sudah ada di tempat tidur setiap jam 10 malam. Mungkin penampilanku kurang menarik, lain kali aku perlu berdandan sedikit.

Oh, lihat pesan yang kuterima. Ada yang bilang kalau mereka menyukai tulisan di blog-ku. Bagus sekali!

Aku bisa mati kalau begini terus. Mengapa aku sangat terganggu dengan apa yang dipikirkan orang tentang aku? Seolah-olah mereka inilah yang menciptakanku atau mati bagiku. Selama aku hidup sesuai dengan firman Tuhan, anggapan orang lain seharusnya menjadi tidak penting.

Tuhan yang menciptakanku. Dia mengasihiku. Yesus mati menggantikan aku. Bagaimana Dia melihat hidupku, itulah yang paling penting, bukan pemikiran dan anggapan orang lain.

 
Serial Perjalanan Hati: Menemukan Diriku Di Dalam-Nya
Material: Foto digital, Photoshop
Penulis: Jude Dias, Shawn Quah, Joanna Hor, Vania Tan, Michele Ong, Abigail Lai
Penerjemah: Jonathan Chandranegara, Elisabeth Ch

Salah satu pencarian terbesar dalam hidup ini adalah pencarian jati diri. Siapakah diri kita? Apa saja yang menentukan identitas kita? Jalan mana yang akan membawa kita menemukan jawabannya? Mengapa identitas itu sangat penting bagi kita? Bulan ini kami berbicara dengan sejumlah anak muda, mendengarkan cerita dan pergumulan hati mereka saat berusaha mengejar yang esensi dalam hidup ini. Apakah kamu mendapati dirimu mengalami hal yang sama dengan mereka? Bagikan apa yang kamu alami dalam kolom komentar di bawah ini.

Menemukan Diriku Di Dalam-Nya (bagian 5)

menemukan-diriku-5

Entah kenapa tempat ini terasa tidak nyaman lagi. Di mana seharusnya aku berada? Apakah ini kehendak Allah bagiku? Aku bertanya pada diriku setiap hari.

Hatiku serasa ada di dua tempat, dua dunia yang terpisah ribuan kilometer jaraknya. Aku merasa seperti selembar daun yang tertiup angin, melayang tanpa tujuan. Mengapa? Seharusnya tidak seperti ini.

Kemarin, aku merasa sangat yakin. Aku pikir aku berada di tempat yang tepat. Tentu saja, Tuhan yang memanggilku ke tempat ini. Aku mendapatkan pekerjaan yang kusukai. Aku punya teman-teman dekat. Aku bisa melayani di gereja. Aku merasa Tuhan sedang menyuruhku “tetap tinggal” dan tidak “pergi”. Memang aku jadi jauh dari keluarga, tetapi mungkin itulah pengorbanan yang harus aku berikan.

Hari ini, keraguan itu datang lagi. Dan, aku lelah dengan perasaanku yang serba tidak pasti.

Mungkin Tuhan sedang mengajarku, “Aku memberimu kebebasan untuk memilih”. Aku harus melangkah dalam iman, bergerak maju dan menantikan apa yang telah Tuhan siapkan bagiku.

Mungkin aku terlalu kuatir dengan banyak hal. Tuhan, penuhiku dengan damai-Mu. Yang penting bukan di mana aku berada, tetapi apa yang aku lakukan dan dengan siapa aku memilih melakukannya. Hanya Engkau yang dapat menyempurnakanku.

 
Serial Perjalanan Hati: Menemukan Diriku Di Dalam-Nya
Material: Foto digital, Photoshop
Penulis: Jude Dias, Shawn Quah, Joanna Hor, Vania Tan, Michele Ong, Abigail Lai
Penerjemah: Jonathan Chandranegara, Elisabeth Ch

Salah satu pencarian terbesar dalam hidup ini adalah pencarian jati diri. Siapakah diri kita? Apa saja yang menentukan identitas kita? Jalan mana yang akan membawa kita menemukan jawabannya? Mengapa identitas itu sangat penting bagi kita? Bulan ini kami berbicara dengan sejumlah anak muda, mendengarkan cerita dan pergumulan hati mereka saat berusaha mengejar yang esensi dalam hidup ini. Apakah kamu mendapati dirimu mengalami hal yang sama dengan mereka? Bagikan apa yang kamu alami dalam kolom komentar di bawah ini.