Sharing: Kegagalan Apakah yang Pernah Membuatmu Terpuruk?

Kegagalan apakah yang pernah membuatmu terpuruk? Bagaimana kamu bangkit mengatasinya?

Bagikan jawaban kamu di kolom komentar. Kiranya jawaban kamu dapat menjadi inspirasi bagi sobat muda yang lainnya.

Bagaimana Caranya Tahu Kehendak Tuhan?

Subtitle oleh Marselina Rusli

“Ikuti kehendak Tuhan, ya.” Pernahkah kamu mendengar nasihat seperti itu? Kadang nasihat itu malah membuat kita bertanya kembali, bagaimana kita bisa tahu kehendak Tuhan? Bagaimana cara Tuhan berbicara dan menyatakan kehendak-Nya pada kita di masa kini?

Yuk temukan jawabannya. Simak video rekaman Instagram Live WarungSaTeKaMu bersama Kak Alex Nanlohy.

Lihat video series lainnya:
Bagaimana Caranya Agar Saat Teduh Bisa Konsisten?
Cara Mengatasi Jenuh Bersaat Teduh
Puasa Orang Kristen
Tips untuk Berhasil Menjalani Puasa

Tips untuk Berhasil Menjalani Puasa

Subtitle oleh Dwiliandi Omega

Ketika seseorang berkomitmen untuk berpuasa atau pantang, godaan demi godaan akan datang menghampirinya. Bagaimana caranya supaya komitmen kita untuk berpuasa atau berpantang bisa berhasil?

Yuk temukan jawabannya. Simak video rekaman Instagram Live WarungSaTeKaMu bersama Kak Alex Nanlohy.

Lihat video series lainnya:
Bagaimana Caranya Agar Saat Teduh Bisa Konsisten?
Cara Mengatasi Jenuh Bersaat Teduh
Puasa Orang Kristen

Bukan Romantisme yang Membuat Relasi Kami Bertahan

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

Salah satu hal yang aku syukuri dalam hidupku saat ini adalah bisa mengenalnya. Tapi, dia bukanlah seorang pria yang romantis. Dia tidak memberiku bunga, membelikanku barang yang kusuka ataupun memposting fotoku di media sosialnya. Ketika aku mengingat kembali memori masa-masa dahulu, aku bertanya-tanya, mengapa ya aku mendoakan dan memilih dia? Padahal dia kan bukan orang yang romantis.

Tapi, di sinilah cerita tentang bagaimana Tuhan membentuk dan mengubahkan pikiranku dimulai. Dan inilah yang ingin kuceritakan kepadamu.

Di masa-masa awal kami menjalin relasi pacaran, aku sering marah kepadanya. Aku mengharapkan dia menjadi sesosok pria yang romantis. Aku ingin dia seperti pria-pria lain yang aku lihat di postingan media sosial temanku. “Kenapa sih kamu tidak bisa jadi pria yang romantis?” tanyaku padanya. Pertanyaan ini tidak hanya sekali kuajukan, tapi berkali-kali. Dia tidak marah atau menjawabku agar aku mencari pria lain saja. Tidak pernah dia mengatakan itu. Tetapi, setiap pertanyaanku itu selalu dijawab dengan satu pertanyaan yang sama: “Apakah ukuran romantis seperti itu?” Dan perdebatan pun hampir selalu terjadi di masa-masa ini.

Meski demikian, Tuhan menguatkan dan memberkati relasi kami. Setelah kurang lebih tiga tahun berpacaran, saat ini kami diperhadapkan dengan pergumulan yang cukup berat. Kami harus berpisah kota dan melakukan long distance relationship (LDR). Aku sedang bergumul untuk memilih melanjutkan studi, sedangkan dia sangat menikmati pekerjaannya saat ini di kota yang berbeda. Ketika berdiskusi soal ini, rasanya tidak ada titik temu dan kupikir LDR akan tetap kami jalani selama beberapa tahun ke depan.

Di titik ini, sejujurnya ada banyak alasan bagi kami masing-masing untuk menyerah. Ada alasan kuat bagi kami untuk pergi dan mengerjakan impian kami masing-masing tanpa memedulikan satu sama lain. Tapi, yang dia laukan adalah dia mengajakku untuk terus setia bergumul di hadapan Tuhan, punya waktu setiap minggunya untuk mengevaluasi perenungan kami bersama Tuhan. Lambat laun, ketika aku melihat upaya-upaya yang dilakukannya untuk mempertahankan relasi ini, aku tersadar bahwa inilah hal yang sesungguhnya romantis buatku.

Aku sungguh bersyukur pada Tuhan. Di saat relasi kami terhalang jarak, Tuhan menolong kami untuk terus menguatkan di dalam doa. Aku belajar bahwa definisi romantis tak melulu sesuatu yang bersifat mesra dan mengasyikkan seperti dalam cerita-cerita roman atau seperti yang ada dalam bayanganku di awal-awal kami menjalin relasi.

Aku tidak sedang memuji pasanganku atas apa yang telah dia lakukan, tetapi aku memuji Tuhan yang telah mempertemukan dan memberi kami kesempatan menikmati waktu bersama. Memuji Tuhan menolongku untuk melihat bahwa hal yang romantis yang kuperlu adalah ketika dia membawaku datang kepada Tuhan. Ada naik turun yang kami alami, tetapi karena kami menyadari Siapa yang berkarya dalam relasi ini, itulah yang menolong kami untuk bangkit dan berjuang kembali.

“Sering kami tak mengerti, jalan-jalan-Mu Tuhan bagai di belantara yang kelam,
Tanpa seribu tanya, namun tetap percaya jejak-Mu Tuhan sungguh sempurna.”

Sepenggal lirik lagu itu sering kami nyanyikan, terutama dalam masa-masa berat yang sedang kami alami saat ini. Yang meneguhkan kami adalah bahwa jejak-Nya sungguh sempurna. Tuhan menyertai perjalanan relasi kami hingga kepada saat ini.

Kami memuji Tuhan yang menciptakan perempuan dan laki-laki.

Kami memuji Tuhan yang memberikan keromantisan di dalam-Nya.

Kami memuji Tuhan yang setia memimpin kami di dalam berbagai persoalan yang terjadi dalam relasi ini.

Tulisan ini kutulis untuk mengingatkanku juga kuharap bisa memberkati setiap orang yang membacanya. Ketika kita berelasi bersama seseorang yang istimewa, doronglah dia untuk sama-sama membangun relasi yang “romantis”, yang membawa kita datang kepada Tuhan.

Baca Juga:

Kekurangan Fisik Membuatku Minder, Tapi Tuhan Memandangku Berharga

Aku lahir dengan kondisi di mana langit-langit dalam rongga mulutku terbuka sehingga ketika aku berbicara, suaraku tidak jelas. Teman-temanku pernah mengejekku. Ejekan itu melukai dan membekas di hatiku.

Puasa Orang Kristen

Subtitle oleh Dwiliandi Omega

Di dalam Alkitab, kita sering mendengar kisah-kisah tentang bangsa Israel yang berpuasa. Bahkan, Yesus pun berpuasa selama 40 hari. Namun, apakah orang Kristen pada masa kini wajib berpuasa? Dan, seperti apa sih puasa orang Kristen yang sesungguhnya?

Ayo temukan jawabannya di video rekaman Instagram Live WarungSaTeKaMu bersama Kak Alex Nanlohy.

Lihat video series lainnya:
Bagaimana Caranya Agar Saat Teduh Bisa Konsisten?
Cara Mengatasi Jenuh Bersaat Teduh

Cara Mengatasi Jenuh Bersaat Teduh

Sesuatu yang dilakukan berulang-ulang seringkali membuat kita merasa bosan. Mungkin begitu juga dengan saat teduh yang kita lakukan. Di awal tahun kita begitu bersemangat, tetapi seiring waktu berlalu, lama kelamaan kita pun menjadi jenuh.

Tapi, kejenuhan itu bukanlah sesuatu tanpa solusi. Ada cara untuk mengentaskan kejenuhan, untuk membangun saat teduh yang erat dan hangat bersama Tuhan. Yuk kita cari tahu caranya dengan menyimak video rekaman Instagram Live WarungSaTeKaMu bersama Kak Alex Nanlohy.

Lihat video series lainnya:
Bagaimana Caranya Agar Saat Teduh Bisa Konsisten?
Puasa Orang Kristen

Sharing: Hal Apakah yang Paling Membuatmu Merasa Tertekan? Bagaimana Caramu Mengatasinya?

Hal apakah yang paling membuatmu merasa tertekan? Bagaimana caramu mengatasinya?

Bagikan jawaban kamu di kolom komentar. Kiranya jawaban kamu dapat menjadi inspirasi bagi sobat muda yang lainnya.

Sharing: Dosa apakah yang sulit kamu lepaskan dan bagaimana Tuhan Yesus menolongmu untuk terlepas dari jeratan dosa itu?


Sobat muda, dosa apakah yang sulit kamu lepaskan dan bagaimana Tuhan Yesus menolongmu untuk terlepas dari jeratan dosa itu?

Bagikan jawaban kamu di kolom komentar. Kiranya jawaban kamu dapat menjadi inspirasi bagi sobat muda yang lainnya.

Langkah-langkah Memulai Masa Pacaran

Oleh Jeffrey Siauw, Jakarta

Aku tidak bermaksud menuliskan text book tentang cara “pendekatan”. Tetapi, setelah mendengar berbagai cerita “gosip-seputar-pdkt-dan-pacaran”, aku merasa ada yang kurang “pas”. Maka, aku berharap paling tidak tulisan pendek ini bisa sedikit menolong mereka yang sedang bergumul untuk bergumul dengan benar.

Apa itu “pacaran”? Sederhananya, pacaran adalah masa di mana seorang pria dan seorang wanita mengambil komitmen untuk lebih saling mengenal dan menjajaki menuju ke pernikahan.

Perhatikan definisi itu. Hanya seorang pria dan seorang wanita, tidak bisa “seorang” dengan “beberapa orang”. Lalu, ada “komitmen” di situ. Tetapi komitmennya bukan untuk “hidup bersama”. Komitmennya bukan “to stay together forever and ever”. Komitmennya bukan “you are mine and I am yours.” Tidak ada hal seperti itu dalam pacaran. Komitmennya hanyalah “lebih saling mengenal dan menjajaki menuju ke pernikahan.” Maka di dalam pacaran, SAMA SEKALI tidak boleh ada relasi yang sifatnya seksual. Relasi yang dijalin bukan bersifat fisik tetapi komunikasi—pemikiran, perasaan, pengalaman, nilai hidup, iman, dan seterusnya. Komitmennya hanyalah menjajaki apakah aku dan dia bisa hidup bersama seumur hidup nantinya.

Walaupun pacaran memang tidak ada komitmen seperti pernikahan, bukan berarti boleh dimulai dengan sembarangan. Bagaimanapun pacaran melibatkan emosi, waktu, dan tenaga dari dua pihak, yang sangat sayang untuk disia-siakan. Maka untuk mulai berpacaran harus ada “tingkat kepastian tertentu”—merasa suka, cocok, mau komitmen berelasi, barulah dimulai. Sehingga faktor “gambling” dan “sembarangan” diminimalisir. Di masa pacaran nanti, kedua belah pihak akan sama-sama menilai lagi dan berdoa apakah benar bisa dilanjutkan ke pernikahan. Artinya setelah ada “tingkat kepastian yang lebih tinggi” baru memberanikan diri masuk ke komitmen seumur hidup.

Untuk masuk ke masa pacaran, ada dua pertanyaan yang perlu ditanyakan terlebih dulu oleh setiap orang:

Pertama, apakah benar ada ketertarikan, ada perasaan suka, dan melihat ada kecocokan?
Tidak bisa tidak. Perlu waktu untuk menjawab ini.

Kedua, apakah benar mau berkomitmen memasuki masa pacaran? Memang bukan komitmen untuk menikah, namun komitmen untuk mengkhususkan waktu, emosi dan pikiran, untuk mengenal dan menguji kecocokan menuju pernikahan.

Pikirkan dan doakan untuk menjawab dua pertanyaan itu. Libatkanlah Tuhan di dalam pergumulan yang sangat penting ini.

Mulai dari yang pria, kalau memang jawaban untuk yang pertama dan kedua adalah “ya”, baru sesudah itu dia boleh menyatakan secara eksplisit ke pihak wanita. Ini penting! Hanya setelah yakin, barulah seseorang boleh menyatakannya. Lalu, tunggu jawaban apakah pihak wanita juga setuju untuk masuk ke dalam masa pacaran. Maka giliran si wanita untuk bertanya kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas itu dan mendoakannya.

Urutan tersebut harus jelas.

Beberapa kesalahan yang biasa terjadi:

Pertama, terlalu cepat memasuki masa pacaran. Tanpa ada “tingkat kepastian tertentu”—hanya berdasarkan perasaan suka (yang mungkin sesaat), lalu berani masuk ke masa pacaran.

Emosi memang selalu melambung jauh lebih cepat dari akal sehat. Pada waktu emosi melambung, dengan cepat kita akan berkata “tertarik, suka, cocok, MAU!” Itu sebabnya, perlu waktu untuk membuat emosi “turun” dan stabil dulu, baru bisa berpikir jernih apakah memang tertarik, suka, cocok, dan mau pacaran. Jangan mengambil komitmen apapun dalam keadaan emosi yang sedang sangat melambung. Banyak orang yang nekat mengambil komitmen saat dia sedang “melayang-layang” dan kecewa setelah “layangan”-nya turun ke bumi.

Berikan waktu beberapa bulan untuk berteman saja (tanpa romantisme at all!) dan usahakan tidak pergi berduaan tetapi pergi bersama dengan teman-teman lain. Jika relasi disertai banyak romantisme—kata-kata mesra, kontak terus menerus, sering pergi berduaan, apalagi ada kontak fisik, maka tidak pernah akan ada kematangan dalam pergumulan. Romantisme dan kontak fisik sudah berjalan mendahului komitmen dan akal sehat akan jauh tertinggal di belakang.

Kesalahan kedua, berlawanan dengan yang pertama, yaitu terlalu lama mengambil keputusan. Pria memang harus bertanya kepada diri sendiri dua pertanyaan di atas dan mendoakannya. Tetapi jangan lupa, ini bukan mencari kepastian untuk “menikah” tapi untuk “memasuki masa penjajakan menuju pernikahan”. Jadi tidak bisa harus pasti dan yakin “she is the one” baru mau memasuki masa pacaran. Tidak akan pernah yakin! Keyakinan itu baru bisa didapat nanti di masa pacaran. Maka masa memikirkan dan mendoakan ini tidak perlu terlalu lama (walaupun bukan berarti terlalu cepat dan sembarangan).

Alasannya adalah: ketika seorang pria merasa suka, sadar atau tidak sadar dia akan banyak “mendekati” si wanita. Dia akan cukup sering mengontak, memberi perhatian, dan sebagainya. Kalau si wanita tidak suka dengannya, maka gampangnya, si wanita pasti akan menjauh. Tapi, kalau si wanita suka, maka dia akan kasihan sekali karena perasaannya terus diaduk-aduk. Di satu sisi dia merasa si pria mendekati dia (membuat dia berharap), tapi di sisi lain si pria tidak maju-maju. Jadi seperti digantung—friendzoned. Apalagi kalau kemudian setelah sekian lama, akhirnya si pria memutuskan untuk tidak mau memasuki masa pacaran. Sekian lama si wanita merasa didekati, diperhatikan, lalu si pria tiba-tiba menjauh. Itu sangat menyakitkan. Memang namanya juga sedang bergumul dan jawabannya bisa “tidak”, tapi justru itu sebabnya jangan terlalu lama.

Dengan alasan yang sama, setelah pria menyatakan, jangan yang pihak wanita kemudian mem-friendzone-kan dia. Memang pasti perlu waktu untuk berpikir dan berdoa, tidak ada juga patokan berapa lama waktu yang diperlukan. Namun waktu enam bulan lebih tentu terlalu lama.

Kesalahan ketiga, si pria yang sama sekali belum ada kepastian ini berkata kepada pihak wanita, “aku lagi mendoakan kamu”. Wohooo… bagi wanita (yang cenderung lebih emosional), informasi itu dapat saja diartikan seperti “sebuah pernyataan langsung”. Bagi dia, pernyataan itu dapat berarti bahwa si pria menyukainya. Dia akan sangat berharap dan bisa saja sakit hati ketika akhirnya “hasil doa” si pria adalah “tidak”. Maka aku tidak menganjurkan cara seperti itu.

Pria harus berpikir dan berdoa sendiri dulu, walaupun sambil mendekati–asal jangan berlama-lama. Setelah ada keputusan bahwa dia mau, barulah menyatakan. Barulah saat itu “bola”nya dilempar kepada si wanita untuk memutuskan. Jangan sampai setelah bola dilempar ke si wanita, dengan alasan “sama-sama mendoakan”, lalu si wanita memutuskan “mau” sementara si pria memutuskan “tidak”. Bukan begitu urutannya.

Kuharap tulisan singkat ini menolongmu untuk bergumul memasuki masa pacaran.

Selamat bergumul—bergumul dengan benar.

Baca Juga:

Apakah Mengikuti Kata Hati Bisa Membuat Kita Berbahagia?

“Ikuti kata hatimu.” Kita mungkin telah mendengarnya berkali-kali. Untuk apapun keputusan yang ingin kita ambil, dan kalau kita ingin berbahagia, ikutilah kata hati kita sendiri. Tapi, apakah benar begitu?