Pesan Firman Tuhan untuk Menghadapi New Normal

Era “normal yang baru”, begitu orang-orang menyebutnya. Tiga bulan terakhir kita tatanan kehidupan kita berubah karena hadirnya pandemi, dan sekarang ketika kehidupan yang normal ingin kita raih kembali, ada upaya-upaya ekstra yang perlu kita lakukan.

Menghadapi dunia yang tak pasti dan berubah-ubah, kita perlu berpegang pada Firman yang teguh dan kekal. Firman Tuhan tak cuma untaian kata, ia mengandung pengharapan dan janji, serta pelita bagi langkah kita.

Karya seni ini dibuat oleh Caroline Widananta untuk sobat muda sekalian di WarungSaTeKaMu.

Tidak Semua Murid

“Angkatan Corona”, mungkin kamu tak asing dengan istilah ini. Kepada para pelajar—terkhusus mereka yang lulus di tahun ini—julukan ini menorehkan kesan yang sebelumnya mungkin tak pernah terbayangkan. Ruang kelas, kantin, lapangan sekolah menjadi sunyi sepi. Pun momen kelulusan yang sedianya penuh haru dan syukur kini dilalui tanpa kebersamaan.

Namun, kiranya semua ini tidak membuatmu tawar hati. Ketahuilah bahwa masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang. Segala kesulitan yang dilalui selama masa-masa pembelajaran daring ini kelak akan jadi cerita yang manis, dan tentunya mengingatkan kita bersama bahwa sejatinya belajar tak terbatas hanya pada ruangan kelas, dan meraih ilmu itu senantiasa butuh perjuangan.

Teruntuk semua murid, kalian luar biasa!
Tegapkanlah langkah kalian, sebab Tuhan, Sang Gembala Agung, Dialah yang akan menuntun kalian menuju masa depan yang cerah.

Art-project ini dibuat oleh Yohanes Tenggara dan Grace Tjahyadi untuk sobat muda sekalian di WarungSaTeKaMu.

Kisah-kisah di setiap gambar dibuat berdasarkan cerita dari sobat muda sekalian di unggahan Instagram WarungSaTeKaMu.

Menghadapi New Normal

New Normal! Frasa ini semakin sering kita dengar. Pemerintah dan banyak instansi sudah membuat protokol untuk menghadapi era kenormalan yang baru.

Tapi, meski keadaan dan cara kita beraktivitas banyak berubah, tetapkanlah hati pada Firman yang teguh dan kekal.

Kompilasi gambar handlettering ini dibuat oleh Febronia ( @febroniak ) untuk sobat muda sekalian.

Tidak Semua Orang Tua

Kadang kita tak menyadari, di balik nada marah, wajah lesu, atau raut kebingungan orang tua kita, tersimpan kasih sayang yang tak terungkapkan dengan kata-kata. Terlebih di masa-masa sulit seperti sekarang ini, orang tua kita tetap berupaya melakukan bagiannya sebaik mungkin bagi keluarganya.

Tak ada orang tua yang sempurna, namun tiap orang tua layak mendapatkan apresiasi, sebab tanpa perjuangan, teladan, dan kasih sayang mereka, takkan muncul generasi mendatang yang tangguh.

Teruntuk Papa, Mama, Ayah, Ibu, terima kasih! Kami mengasihimu.

Kontribusi oleh Yohanes Tenggara dan Grace Tjahyadi ( @dreamslandia dan @gracetjahyadi_ ) untuk Our Daily Bread Ministries (Santapan Rohani dan WarungSaTeKaMu)

7 Cara menjadi Terang di Tempat Kerjamu

Bagi kita yang sudah bekerja, kita menghabiskan banyak waktu kita di tempat kerja dan berkomunikasi dengan rekan-rekan di sana. Sudahkah kita menjadi terang bagi mereka?

Bagikan ini ke temanmu dan salinglah mengingatkan agar di mana pun dan bagaimana pun kondisi tempat kerjamu, janganlah lupa untuk bersinar.

Teruntuk Semua Guru

Oleh Chia Poh Fang, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Teachers and School Staff, We Appreciate You Too!

Sejak pandemi merebak, ada satu kelompok pekerja yang bekerja keras tanpa pamrih, seolah kehidupan tetap berjalan normal seperti sedianya. Mereka adalah para pendidik.

Seperti halnya para petugas medis dan pekerja lainnya di sektor esensial yang harus tetap beroperasi, para pendidik mengalami kesibukan yang luar biasa, khususnya sejak akhir Maret.

Mengelola sistem pembelajaran secara daring membuat mereka kewalahan. Istri dari temanku bercerita padaku kalau guru-guru harus bekerja lebih keras dalam mengemban tanggung jawab mereka di masa-masa krisis ini. Mereka tak cuma harus mengajar kelas-kelas seperti biasanya, tapi juga harus menyiapkan modul pelajaran yang baru untuk siswa-siswi di rumah, lalu memantau satu per satu siswa untuk memastikan apakah mereka bisa mengikuti pelajarannya atau tidak.

Ketika beberapa pekerja lain jam kerjanya berkurang karena pembatasan sosial, para guru malah sebaliknya.

Apakah kamu melayani sebagai guru yang berjuang keras agar proses pendidikan tetap dapat berlangsung di tengah masa-masa sulit ini? Aku ingin mengatakan ini kepadamu: kamu tidak dilupakan. Terima kasih telah menanggung beban kerja yang bertambah. Terima kasih telah memberikan hidupmu kepada generasi masa depan. Kami mengapresiasimu atas perjuanganmu yang melelahkan.

Tak ada yang tahu berapa lama situasi ini akan berlangsung. Kami berdoa kiranya kamu tetap bersukacita serta menemukan kekuatan dan pengharapanmu di dalam Tuhan yang mengetahui setiap jerih lelah anak-anak-Nya. Jika kita menantikan pertolongan dari-Nya, Dia berjanji untuk membaharui kekuatan kita.

Nabi Yesaya menulis, “Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah” (Yesaya 40:30-31).

Tuhan mengerti bahwa kita membutuhkan kekuatan rohani, sebagaimana tubuh kita membutuhkan asupan nutrisi dari makanan yang kita makan setiap hari. Tuhan berjanji menguatkan kita senantiasa.

Yesaya mengingatkan kita bahwa Tuhan memilih, memanggil, dan beserta kita. Bapa di surga pun berkata demikian: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).

Di dalam kelelahan kita, kita memperoleh kekuatan dari dua kebenaran dalam ayat di atas: “Aku menyertai engkau” dan “Aku ini Allahmu”. Dialah Allah yang kebenaran-Nya, serta tujuan-Nya bagi kita tidak berubah.

Ilustrasi dalam artikel ini dibuat oleh Yohanes Tenggara dan Grace Tjahyadi ( @dreamslandia )

5 Cara untuk Melayani Sesama

Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar frasa “saling melayani”? Apakah kamu terpikir tentang, “Aduh, males ah”, “capek”, “aku nggak mau diganggu”.

Melayani orang lain bisa jadi aktivitas yang memberatkan di saat jadwal kita terasa padat, atau kita merasa sudah sibuk dengan beragam hal. Namun, panggilan untuk saling melayani adalah panggilan yang penting dalam kehidupan Kristen. Yesus memberi teladan melayani dan Dia meminta kita untuk melakukan yang sama (Lukas 22:25-27).

Melayani orang lain tidak melulu tentang hal besar. Kita bisa melayani dari hal yang paling sederhana. Ini 5 tips buatmu.

Aku Ingin Jadi Sempurna

Kita semua diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, namun dosa membuat kita terkadang tak menyadari bahwa kita diciptakan baik adanya. Terkhusus para perempuan, mungkin kita sering merasa kurang–kurang cantik, kurang langsing, kurang pintar, dan sederet kekurangan lainnya.

Namun, terlepas dari segala kekurangan itu, firman Tuhan bicara: (Yeremia 1:5).
“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.”

Yuk, bagikan ini ke sahabat kamu dan ingatkan bahwa mereka berharga di mata Tuhan.

5 Cara Menghangatkan Kembali Persahabatanmu

Dulu kita sahabat, sekarang….

Pekerjaan yang sibuk, pindah ke luar kota, atau bahkan tragedi sering menjadi faktor yang merenggangkan jalinan persahabatan. Dulu dekat, sekarang jadi jauh sekali rasanya. Kenangan akan keakraban di masa lalu jadi nostalgia yang menggetarkan hati.

Adakah seorang sahabat yang kehadirannya kamu rindukan? Doakanlah sahabatmu itu dan mintalah kesempatan pada Tuhan agar kalian dapat bertemu dan membangun kembali persahabatan itu.