4 Cara Menghadapi Seseorang yang Berbeda Pendapat Denganmu

Tahun ini sudah semakin mendekati ujungnya, dan sepanjang masa ini tentunya kamu bertemu dengan beragam orang yang pendapat, cara pikir, atau opininya berbeda darimu.

Bagaimana caranya supaya kita tetap menghormati mereka yang berbeda pendapat? Yuk kita simak beberapa tips sederhana yang diilustrasikan dalam wujud dua hewan nan lucu ini.

Karya seni ini dibuat oleh YMI.

Lepas dari Perasaan Insecure? Kita Bisa Kok

Tiap kita punya kelemahan. Mungkin kita merasa fisik kita tidak rupawan, keuangan kita serba pas-pasan, atau prestasi kita yang terpuruk. Ketika dunia memandang sinis kita dan menunjuk kelemahan-kelemahan kita sebagai tanda kekalahan, pandanglah kepada Tuhan. Dia yang membentuk kita, Dia jugalah yang menyertai kita.

Bersama-Nya, kelemahan-kelemahan kita mungkin akan tetap ada, tetapi itu bisa dipakai-Nya untuk memberkati kita dan sesama, sebagaimana kisah Daud yang kala itu berhadapan dengan Goliat.

Kelemahan apa dalam dirimu yang saat ini kamu syukuri? Yuk sharingkan di kolom komentar.

4 Kebohongan yang Harus Dipatahkan Saat Kamu Merasa Kesepian

Karya seni ini dibuat oleh YMI.Today

Pindah ke luar kota untuk studi atau bekerja, membiasakan diri kembali setelah putus dari pacar, beradu pendapat dengan anggota keluarga sendiri, atau karena alasan-alasan lain yang kita sendiri pun bingung—kita semua pernah merasakan kesepian.

Perasaan kesepian bisa hadir selama berhari-hari atau berminggu-minggu, dan dengan mudah kita pun jadi kecewa dan kesal. Selama masa-masa tersebut, kebohongan yang kita ketahui tentang kesepian bisa melumpuhkan kita, dan seringkali membuat kita semakin sulit dijangkau. Kita semakin larut dalam kesepian kita sendiri tanpa menyadari bahwa ada jalan keluar dari permasalahan kita.

Inilah beberapa kebohongan yang bisa kita patahkan:

Kebohongan #1: Tidak ada gunanya menghubungi orang lain

Teman kita tak pernah membalas chat atau mengangkat telepon kita. Agenda ngopi bersama selalu batal dan batal. Apakah kita melakukan sesuatu yang membuat mereka kecewa? Haruskah kita berhenti menghubungi mereka? Seringkali, sikap menghindar atau apatis dari teman-teman kita bukanlah buah dari kesalahan kita sendiri.

Kita bisa mencoba lebih lugas dan dengan jujur bicara mengapa kita ingin tetap terhubung dengan mereka. Kita juga bisa berdoa agar Tuhan memimpin kita untuk berjumpa orang baru—meskipun kita mungkin tidak kenal dekat dengan orang tersebut.

Tuhan tahu kita semua mengalami masa-masa ketika kita sungguh butuh pertolongan orang lain (Galatia 6:2). Kita tak perlu merasa malu untuk menghubungi orang lain, karena dengan melakukannya, kita menghidupi rancangan Allah dalam hidup berkomunitas.

Kebohongan #2: Kamu berbeda, tidak cocok dengan mereka!

Rasanya sungguh tak nyaman ketika orang-orang di gereja bersikap seolah mereka ada di tempat yang berbeda. Kita mungkin bertemu dengan para mahasiswa, atau kelompok orang-orang yang sudah menikah. Lalu, kita mendapati sepertinya kita sangat sulit untuk ‘nyambung’ dengan mereka.

Berada dalam situasi seperti itu bisa membuat kita tawar hati, tapi Paulus mengingatkan bahwa sebagai anggota tubuh Kristus (1 Korintus 12:17), tahapan kehidupan yang berbeda yang kita jalani bisa memperlengkapi kita. Mungkin kita tidak nyambung dengan satu kelompok tertentu karena berbeda pengalaman, tapi kita tentu bisa menjadi berkat bagi kelompok lain. Pernahkah kamu mencari waktu untuk mengenal siapa seorang janda senior di gerejamu? Atau mengajak makan siang seorang mahasiswa yang super rajin sampai punya sedikit teman?

Seiring kita menginvestasikan waktu kita, kita juga bisa mendapati teman-teman baru dan mendapatkan dukungan dari orang-orang yang tengah menjalani fase kehidupan yang sama dengan kita. Atau, bisa juga menjadi relawan di kegiatan yang kita bersemangat menjalaninya.

Kebohongan #3: Tidak ada yang mengerti pergumulanmu.

Tantangan yang kita hadapi bisa membuat kita merasa sendirian. Mungkin kita sedang menghadapi pencobaan yang rasanya mudah dihadapi oleh orang Kristen lainnya, putus dari pacar membuat kita menjadi getir terhadap relasi, atau kita bergumul dengan beban kerja yang terlalu banyak dan rekan sekerja kita tidak peduli.

Meskipun orang lain mungkin tak mengalami tantangan yang sama persis dengan kita, tetapi mereka bisa bersimpati dengan apa yang kita hadapi. Tuhan dapat memakai orang-orang seperti ini untuk menolong dan menguatkan kita.

Paulus juga mengingatkan kita bahwa saat kita menerima penghiburan dari Tuhan, kita pun “dimampukan untuk menghibur orang lain” (2 Korintus 1:4). Kesusahan yang kita alami akan memperlengkapi kita untuk suatu hari kelak kita menghibur orang lain yang juga mengalami pergumulan serupa.

Kebohongan #4: Bahkan Tuhan pun meninggalkanmu

Di masa yang amat sulit dan sendiri, amat mungkin jika kita merasa Tuhan tak mendengar seruan kita. Atau, jikalau pun Dia mendengar, Dia tidak menjawab.

Tapi, itu bukanlah kebenarannya. Kita tahu bahwa Kristus pernah amat menderita dan kesakitan (Yesaya 53:3). Kita dapat meraih penghiburan dengan mengetahui bahwa Yesus pun mengalami kesepian yang kita hadapi. Yesus tahu kesulitan dan tantangan kita, di saat orang lain tak mampu memahaminya.

Kita juga dapat mengingatkan diri kita bahwa tidak ada satu hal pun yang mampu memisahkan kita dari kasih Tuhan (Roma 8:38-39). Meskipun kesepian yang kita alami membuat kita tak berdaya, ingatlah Dia berjalan bersama kita. Bagaimana caranya kita menyadari penghiburan dan penyertaan-Nya?

Marilah kita mengakui bahwa kesepian itu memang sulit. Kita bisa meratap, tapi janganlah percaya kepada kebohongan-kebohongan yang kesepian coba berikan pada kita. Kendati langit di atas kita kelabu, ingatlah untuk terus berjuang dan berpegang pada kebenaran!

5 Cara untuk Mengasihi Negeri Kita

Peringatan kemerdekaan Indonesia yang ke-75 akan jadi momen yang terkenang. Kita merayakannya di tengah pandemi. Momen agustusan yang biasanya semarak dan meriah, kini kita lalui dalam sepi. Tak ada lomba balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, dan panjat pinang. Demikian pula upacara yang biasanya selalu digelar di lapangan-lapangan, sekarang berubah menjadi upacara daring.

Namun, terlepas dari segala hal yang terjadi: Indonesia tetaplah rumah kita. Rumah tempat kita bernaung dan tempat kita membangun kehidupan yang lebih baik.

Jangalah kita sekadar merayakan ulang tahun kemerdekaan tanpa memaknai apa sesungguhnya arti rumah kita, Indonesia, bagi kita semua. Ambillah momen sesaat untuk merenungkan kembali betapa seharusnya sebuah rumah menjadi tempat bernaung yang aman bagi orang-orang di dalamnya.

Peringatan kemerdekaan tahun ini patut dikenang bukan karena perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pandemi, tapi karena apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah negeri ini. Sebagai orang percaya, tunjukkanlah pada dunia bahwa kita bisa menjadi sebuah bangsa yang besar yang dibangun di atas kebesaran hati yang dipenuhi kasih atas satu sama lain. Inilah waktunya untuk memberi yang terbaik.

Karya ilustrasi ini dibuat oleh YMI.Today.

Meraih kemerdekaannya 75 tahun lalu, negeri kepulauan di khatulistiwa ini terus berkembang selama tujuh dekade setelahnya. Indonesia pada era modern adalah hasil dari proses yang panjang. Kita pun tahu bahwa pemerintah dapat berkuasa karena Tuhan (Roma 13:1). Marilah kita mengucap syukur atas para pemimpin yang Tuhan berikan untuk memerintah negeri k ita, dan dukunglah mereka dalam doa.

Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik. Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh—1 Petrus 2:13-15.

Kita menyebut Indonesia sebagai rumah karena di sinilah keluarga dan teman-teman kita juga tinggal. Namun sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk tak cuma mengasihi mereka yang dekat dengan kita. Kita dipanggil untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita—entah itu seorang petugas kebersihan atau orang asing yang kebetulan ada di dekat kita—dengan cara seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Kita perlu meletakkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita sendiri, seperti yang Kristus telah lakukan bagi kita.

Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri—Matius 22:39

Indonesia adalah negeri yang beragam, dengan berbagai ras dan etnis hidup berdampingan. Ini adalah suatu karunia dan kita perlu berupaya untuk menjaga perdamaian. Kericuhan yang terjadi di Amerika Serikat dalam kampanye #BlackLivesMatter adalah pengingat bagi kita bahwa keharmonisan bisa rusak karena tindakan-tindakan diskriminatif. Kita perlu terus berjuang untuk keadilan dan kesetaraan, dan dengan tegas menentang rasisme dan diskriminasi. Kiranya melalui kita orang-orang dapat melihat kasih Kristus!

Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan—Ibrani 12:14

Indonesia terbentuk atas orang-orang yang berjuang pada beragam tingkatan. Dari orang-orang yang telah senior hingga generasi muda, dari orang yang super-kaya hingga mereka yang susah payah untuk melunasi kebutuhan sehari-hari, hingga mereka yang berjuang agar suaranya didengar. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk memperhatikan kebutuhan orang lain, tak peduli usia, status sosial dan ekonomi mereka. Kita perlu berdiri di depan untuk membela keadilan sosial, terkhusus di masa-masa pandemi ini. Biarlah kita dikenal karena kasih kita: kita bisa menjadi relawan, memberikan waktu ataupun benda-benda, dan menjadikan ruangan gereja kita terbuka bagi mereka yang membutuhkan.

Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia—Yakobus 1:27

Indonesia adalah negara berkembang yang diberkati dengan beragam budaya. Atas anugerah Tuhan sajalah negeri kita dapat terus berkembang. Sebagai orang Kristen, marilah kita mengusahakan kesejahteraan negeri kita bagi Tuhan.

Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu—Yeremia 29:7

Tidak Semua Bangsa

Pernahkah kamu menyadari, betapa kayanya bangsa kita? Tanah air kita sungguh diberkati dengan ribuan pulau, flora, dan fauna. Kita juga dianugerahi dengan kekayaan kuliner, sejarah yang luas biasa, serta suku, bahasa, dan budaya yang beragam.

Segala perbedaan inilah yang memberikan warna keindahan dalam kehidupan kita di tanah air tercinta. Di hari kemerdekaan Indonesia yang ke-75 hari ini, marilah sejenak kita mengucap syukur dan berdoa atas kebaikan Tuhan untuk Indonesia.

Dirgahayu Republik Indonesia! Indonesia Maju!

Karya ini dibuat oleh Yohanes Tenggara (@dreamslandia) dan Grace Tjahyadi (@gracetjahyadi_)

#WarungSaTeKaMu
#DirgahayuIndonesia
#TidakSemuaBangsa

Biar Jarak Memisahkan, Kita Tetap Berkawan

Kawan karibmu telah pindah ke kota lain. Kamu pun lantas kehilangan kawan yang biasanya ngopi, berdoa, atau nge-gym bareng.

Persahabatan itu tak ubahnya relasi-relasi lain dalam hidup; butuh usaha untuk mempertahankannya. Terpisah jarak dan zona waktu, juga kesibukan yang makin padat, membuat upaya mempertahankan persahabatan jadi lebih berat.

Tapi, ingatlah apa kata Alkitab. “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara” (Amsal 18:24). Meski upaya mempertahankan persahabatan itu berat, tetapi buahnya sepadan dengan perjuangannya.

Inilah beberapa tips simpel untuk tetap menjadikan persahabatan jarak jauhmu senantiasa terasa hangat.

Karya seni ini merupakan kolaborasi @ymi_today dan @jasmot_illustrations

Berdamai dengan Diri Sendiri

Pernahkah kamu menolak dirimu sendiri?

Mungkin ketika nilai-nilaimu tak memenuhi keinginan orang tuamu? Karena teman-temanmu mengejek dan menertawakanmu? Atau, karena kondisi keluargamu tak sebaik keluarga orang lain? Dunia ini mengajari kita untuk selalu merasa tidak puas. Ibarat secarik kertas putih, kita dinodai oleh pandangan-pandangan buruk yang berkembang di sekeliling kita. Tanpa kita sadari, kita pun menolak diri kita.

Apa sih tandanya kalau kamu sedang menolak dirimu sendiri?

1. Kamu berjuang keras untuk membuktikan dirimu

Ada kutipan yang bilang: what doesn’t kill you, makes you stronger. Komentar-komentar buruk mungkin menjadi motivasi penggerakmu. Kata-kata itu melukaimu, tapi mendorongmu bangkit. Selembar kertas putih menyembunyikan wujudnya, mengenakan sehelai masker untuk menunjukkan senyum getirnya. Penolakan dari orang lain kamu jadikan pecut bagi dirimu sendiri, dan kamu paksa dirimu untuk selalu jadi orang yang lebih baik.

2.Takut melihat ke belakang

Menutup lembaran lama, sama sekali tak ingin menengoknya lagi. Ketika kenangan itu datang, ada narasi yang berbisik di hati: Kok aku bodoh banget sih? Kok aku jelek? Kok aku memalukan? Kamu melabeli dirimu dengan banyak hal negatif.

3. Tak bisa menilai diri dengan objektif

Semakin banyak informasi buruk diterima, semakin sulit kamu menilai dirimu dengan objektif. Kamu menganggap kamulah yang paling bodoh, paling jelek, paling suram di dunia ini

Namun, seiring kamu kelak mengalami proses pemulihan dari Tuhan, Dia membukakan pandanganmu untuk melihat betapa kamu telah menolak dirimu sendiri. Di hadapan tuntutan tinggi yang diterapkan oleh orang tua, sekolah, dan lingkunganmu, kamu mungkin tak mampu mencapainya. Akibatnya, kamu menolak dirimu, membandingkan dengan orang lain, dan merasa buruk. Perasaan-perasaan ini menekanmu sampai Tuhan akhirnya memberimu kelegaan.

4. Ketahuilah nilai dirimu yang sejati di hadapan Tuhan

1 Korintus 6:20 berkata, “Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” Kita adalah ciptaan-Nya yang berharga. Tuhan mengerti dan menguatkan kita. Ingatlah siapa kita di dalam-Nya.

5. Serahkanlah segala kepedihanmu kepada Tuhan

Kuatkanlah hatimu, berdamailah dengan dirimu sendiri, dan serahkanlah segala luka masa lalumu pada Tuhan yang akan menolongmu keluar dari kegelapan.

P3K: Pedoman Penting untuk Pengikut Kristus

Pedoman Penting untuk Pengikut Kristus | Tiap hari menyajikan tantangan. Untuk bisa menghadapinya, kita perlu berpegang pada dasar yang teguh: firman Tuhan. Tatkala hati kita dipenuhi oleh firman-Nya, hari-hari mungkin tak selalu baik, tapi kita selalu bisa mengecap hal-hal baik di dalamnya. Dan, tentunya juga berbuah bagi sesama.

5 cara untuk membangkitkan semangat saat kamu merasa lelah

Tanggung jawab yang dirasa terlalu besar dan ketiadaan rekan yang menolong bisa membuat jiwa dan raga menjadi lelah dan semangat kita meredup. Ketika kamu mengalami hal itu, tak perlu buru-buru menyalahkan diri dan jatuh dalam keputusasaan. Alkitab mencatat bahwa dahulu pernah ada seorang nabi yang juga mengalami kelelahan dan putus asa. Namun, kisahnya tidak berakhir hanya sampai di sana, Tuhan tetap menyertainya dan memberinya kekuatan.

Jika kamu sedang merasa terpuruk, kiranya postingan ini boleh menguatkanmu. Mention juga teman-temanmu dan ajaklah mereka untuk bersama-sama saling mendukung dalam doa.