ABODA – Sekeluarga Mengabdikan Diri untuk Menyembah Tuhan

Oleh Daniel Gordon Ang

ABODA adalah sebuah band instrumental Kristen yang unik—kesemua anggotanya adalah 4 orang saudara kandung. Band ini bermula pada tahun 1993 dengan seluruh keluarga—termasuk ayah dan ibu mereka—bermain musik dan bernyanyi bersama di bawah nama Team Penyembah (yang kemudian menjadi Worshippers). Mereka mengubah nama bandnya menjadi Aboda pada tahun 2006. Kini, band ini beranggotakan Timotius Noya (piano & keyboard), Fanuel Noya (drum), Filemon Noya (gitar), dan Clement Noya (bass).

Kata “Aboda” sendiri berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “bekerja, melayani, menyembah”. Dalam kata lain, pengabdian. Nama ini selaras dengan visi mereka, yaitu untuk “membagikan kisah hidup kepada setiap orang yang mendengarkan musik Aboda.”

Ada bermacam-macam musik yang berpengaruh dalam membentuk musik yang dimainkan oleh Aboda, antara lain pemusik seperti David Foster, Marcus Miller, Victor Wooten, Israel Houghton, Tom Brooks, dan drummer terkenal Akira Jimbo serta Thomas Pridgen. Aboda sering dianggap sebagai band beraliran musik jazz, namun Aboda tidak pernah mengklaim diri demikian. Ketika ditanya mengenai jenis musik apa yang menjadi favorit mereka, salah seorang anggota band berkata, “Inti penyembahan bukanlah jenis musik, tapi hati.”

Pada Juni 2007, mereka merilis album perdananya, “Today in Paradise” di bawah label Victorious Music Jazz. Album ini meraih penghargaan “The Best Instrumental Album” pada ajang Indonesian Gospel Music Awards 2008. Setahun kemudian Aboda menerbitkan album “Lite Edition”, dengan berisi salah satunya lagu “Journey to the Fatherland” yang diulas di bawah ini.

Kini Aboda rutin melayani dengan bermain di berbagai gereja di Jakarta setiap minggunya. Semua anggotanya bekerja sebagai pengajar musik. Di masa depan, Aboda berharap bahwa mereka dapat memperluas kiprah mereka ke ajang internasional dan, yang terutama, menolong semakin banyak orang dapat mengenal kasih Kristus melalui karya-karya mereka.

Ulasan lagu “Journey to Fatherland”

Dengar di sini:
Journey To The Fatherland (ABODA) by clementnoya

Lagu ini diciptakan ketika para anggota Aboda melihat orang-orang yang pulang kampung pada masa sebelum Lebaran. Dari peristiwa itu, mereka mendapat ilham bahwa “kehidupan ini sebenarnya adalah sebuah perjalanan pulang kembali ke tempat dari mana kita berasal.” Oleh karena itu, “Fatherland” dalam lagu ini bukanlah sekadar mengacu pada kampung halaman, melainkan rumah Bapa kita di Sorga.

Tidak mudah menilai sebuah lagu rohani instrumental, apalagi yang aransemen sepenuhnya orisinil. Namun kita bisa berusaha mengamati dengan cermat suasana dan atmosfir apa yang ditimbulkan oleh alat-alat musik dalam lagu ini dan mencoba menarik hubungan yang mungkin supaya mengerti bagaimana inspirasi Aboda diterjemahkan menjadi musik yang hidup.

Pada dasarnya Journey to Fatherland dimotori oleh suatu motif atau potongan melodi yang berperan seperti sebuah chorus. Motif ini dapat kita jumpai di awal lagu, di mana gitar listrik dan strings dari keyboard memainkannya bersama-sama. Motif ini sangat mudah diingat, karena adanya satu nada panjang diikuti nada pendek. Karakternya sangat lincah tetapi cukup tegas. Iringan gitar kedua yang sangat catchy dan juga drum menambah suasana menjadi hiruk-pikuk. Semua ini cukup memberi kesan seakan kita ada dalam kesibukan dan keramaian pada waktu mudik.

Setelah fase refrain ini selesai, kita memasuki bagian solo gitar tanpa iringan gitar kedua. Dengan hanya akor-akor piano lembut yang ditahan panjang untuk memberikan alas bagi solo, suasana menjadi sangat reflektif dan bahkan menimbulkan kesan nostalgia. Sesuatu yang kontras jika dibandingkan refrain tadi. Dengan memakai efek menggaung (echo) yang terdengar jelas pada setiap akhir potongan melodi, saya membayangkan sang pencipta lagu tertegun saat mengingat makna yang lebih dalam daripada kegiatan mudik semata. Setelah melalui suatu tahapan yang lebih lincah, gitar solo pun diakhiri dengan suatu sentuhan melankolis di mana terdapat sebuah tangga nada singkat yang berisi empat nada panjang menurun, sebelum kembali ke bagian refrain yang bersemangat.

Refrain yang singkat berganti tenang kembali dengan solo gitar kedua yang lebih kering dan warna suara yang akustik. Ini lalu melebur dengan mulus ke sebuah solo piano, yang penuh gerak tetapi juga sedikit berunsur melankolis dan reflektif. Lambat laun permainan piano berkembang menjadi semakin emosional, dan kita menjumpai serangkaian nada naik terus semakin tinggi, sampai tiba di suatu titik ketegangan emosional.

Tetapi titik ketegangan ini langsung buyar dengan hilangnya suara piano, diganti oleh gitar pertama dan bass yang berimprovisasi atas sepotong motif dari refrain. Atmosfir pun berubah kering, meskipun teknik improvisasi yang diperlihatkan sangat lancar dan subur inovasi. Namun ini hanyalah suatu persiapan menuju resolusi dari emosi yang telah dibangun oleh piano di bagian sebelumnya, dengan masuknya suatu suara seperti saksofon sopran yang mendayu-dayu lembut di kejauhan. Karena tidak pernah terdengar sebelumnya, efeknya sangat mengejutkan, hingga kembali membangkitkan suasana melankolis.

Setelah itu, momen emosional ini kembali buyar dengan potongan nada panjang-pendek dari refrain oleh gitar pertama. Dari sini refrain diulang dengan naik satu nada (overtone). Titik klimaks seluruh lagu ini tercapai ketika gitar kedua berangkat dari sekadar iringan menjadi suatu improvisasi yang ramai, sementara motif panjang-pendek refrain masih terus berdengung di atasnya. Lagu ini diakhiri dengan semua alat musik mengulang-ulang motif panjang-pendek bersamaan.

Secara keseluruhan, kita melihat keunikan penjajaran refrain yang lincah dan hidup dengan improvisasi para personel Aboda, yang selalu dimulai dengan rangkaian nada cepat dan piawai, namun kemudian berubah menjadi lebih melankolis dan emosional.

Semua ini seakan menggambarkan bahwa pada akhirnya, mudik adalah mudik—suatu kegiatan yang sangat manusiawi. Hanya saja, kita harus mengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan pulang kampung ke suatu tempat yang jauh lebih besar dan mulia: pergi ke fatherland kita di Surga. Aboda tidak sedang berusaha menciptakan suasana surgawi dalam lagu ini, melainkan mereka ingin menggambarkan suatu perenungan dan inspirasi yang realistis di tengah hiruk-pikuk kegiatan kita sehari-hari.

Mazmur 84:2-3 berkata, “Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.” Biarlah ini juga menjadi seruan hati kita.

Dengar karya Aboda lainnya di sini, kunjungi Facebook fan page mereka di Aboda Music, dan saksikan penampilan mereka memainkan Allahku Dahsyat di sini.

Ulasan ini ditulis oleh Daniel Gordon Ang, DipABRSM adalah seorang cellist, pianis, komponis, dan pengamat musik  yang telah menulis artikel musik untuk situs ymiblogging.org dan warungsatekamu.org. Ia menikmati segala jenis musik, dengan preferensi utama Bach, Beethoven, Brahms, dan Mahler untuk musik klasik, dan Bon Jovi serta progressive rock untuk musik populer. Daniel adalah lulusan dari Anglo-Chinese School (Independent), Singapore dan akan melanjutkan kuliahnya di Amherst College, Massachusetts, Amerika Serikat pada August 2011.

Ulasan Lagu: Heart of Worship

Ulasan lagu oleh Daniel Gordon Ang

Dengar lagunya di sini:

“The Heart of Worship” adalah sebuah lagu terkenal yang dinyanyikan oleh banyak gereja di seluruh dunia. Namun, saya punya kesan pertama yang cukup ironis terhadap lagu itu—bayangkan saja, lagu lain apa yang memulai liriknya dengan mengatakan “when the music fades/saat musiknya berhenti”?

Penulis sekaligus penyanyinya, Matt Redman, menjelaskan bahwa lagu ini berawal dari suatu masa di gerejanya ketika terasa tidak ada lagi kerinduan untuk bertemu dengan Allah dan membawa kepada-Nya persembahan berupa pujian pada kebaktian di hari Minggu. Kemudian gereja itu memutuskan untuk memperpendek waktu puji-pujian dan membuat jemaat untuk duduk diam beberapa waktu lamanya. Inilah yang dimaksud pada baris kedua lagu ini (“All is stripped away/kala segalanya dilepaskan”). Apa yang terjadi kemudian adalah orang-orang mulai berdoa dan menaikkan pujian mereka secara spontan. Alhasil, Redman merasa bahwa makna utama dari penyembahan (the heart of worship) telah kembali dialami oleh gerejanya. Jemaat tidak hanya datang dalam ibadah bersama demi mendapatkan faedah dari kebaktian itu, melainkan datang dengan membawa sesuatu kepada Allah dalam penyembahan mereka.

Bagaimana dengan kita? Berapa kali kita sudah mengikuti suatu ibadah dan dengan tidak sadar berharap mendapatkan sesuatu dari kebaktian itu? Ketika pernah aku tinggal di asrama, aku sering merasa rindu untuk beribadah dalam persekutuan siswa yang diadakan setiap hari Rabu. Namun pada waktu itu, sebenarnya aku rindu pada efek terapis yang kurasakan dari kebersamaan di bawah sinar rembulan dan menyanyikan bersama lagu-lagu yang catchy, lebih daripada kerinduan untuk menyembah Allah.

Sebenarnya tidak salah kalau kita menikmati kebersamaan dengan saudara-saudara seiman, atau bahkan menikmati suasana dan musik yang dialami pada saat kebaktian sedang berlangsung. Namun, ketika hal itu menjadi satu-satunya yang kita rindukan dari waktu ibadah bersama, maka kita berada dalam bahaya yaitu kehilangan makna utama dari suatu penyembahan.

Roma 12:1 berkata, “persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Pertama-tama, kita rindu untuk mempersembahkan persembahan yang hidup kepada Allah. Karena itu, ibadah Kristen merupakan suatu perhatian yang secara sadar dan sengaja diarahkan kepada Allah. Penyembahan kita haruslah menyatakan “all about You, Jesus, all about You/segalanya untuk-Mu, Yesus, segalanya untuk-Mu.”

Yang kedua, kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. Seluruh diri kita—pikiran dan hati, tangan dan kaki—terlibat dalam ibadah. Kita menyembah dalam roh dan dalam kebenaran. Kita bertepuk tangan, menggerakkan kepala, bahkan meloncat-loncat dalam suatu kebaktian, karena kita secara sadar memilih untuk menyembah Allah dengan melakukan semua itu.

Seperti yang Matt Redman katakan, spontanitas dan ibadah yang dinamis memang hal yang penting. Namun, semua itu harus selalu diimbangi oleh suatu sikap mawas diri dengan melihat apakah spontanitas itu lebih dimotivasi untuk kesenangan kita sendiri atau untuk kemuliaan Allah. Dengan mengikuti prinsip ini, ibadah tidak hanya menjadi suatu waktu khusus yang kita kesampingkan setiap minggu untuk memuji dan menyembah Allah, melainkan juga suatu persembahan rohani yang terus-menerus melibatkan seluruh diri kita, setiap saat, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Sharing: Apa pujian rohani favoritmu?

Berikan juga pendapat tentang pujian rohani yang paling berkesan bagimu via polling di sidebar dari halaman ini –>

Film Pendek: My Last Day

Ia pernah melihat Yesus mengajar orang banyak. Ia tahu hidup Yesus tidak bercela. Tapi hari itu ia melihat lebih banyak. Ketika ia meronta dari siksaan para prajurit yang kejam, ia melihat Yesus memohon pengampunan bagi mereka. Memang wajah itu menahan sakit, namun Dia begitu tenang menyongsong maut. Perkataan-perkataan Yesus sungguh bukan perkataan orang kebanyakan. Benarkah sosok bermahkota duri di sebelahnya ini adalah Sang Mesias yang dijanjikan Allah? Raja yang akan memerintah selama-lamanya?

My Last Day [Hari Terakhirku] adalah film pendek yang menuturkan kembali peristiwa kematian Kristus dari sudut pandang penjahat yang disalib bersamanya hari itu. Jalan penuh derita yang panjang. Riuh rendah teriakan massa. Tatapan sinis para pemuka agama. Desau cemeti, denting palu, dan hunjaman paku. Tetesan darah bercampur keringat dan nyeri yang merambat sekujur tubuh. Lihatlah apa yang dilihat si penjahat, dengarlah apa yang didengarnya, rasakan apa yang berkecamuk di hatinya hingga ia akhirnya berucap, “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”

Pertanyaan perenungan/diskusi:

1. Bagaimana pendapatmu tentang film pendek ini? Perasaan apa yang timbul saat kamu menyaksikannya?

2. Bacalah Lukas 23:26-43 untuk melihat catatan Alkitab tentang peristiwa ini.
Apakah menurutmu si penjahat menyesali perbuatannya selama hidup?
Apa yang membuatmu berpendapat demikian?

3. Menurutmu bagaimana si penjahat memandang Yesus Kristus?
– Mengapa ia menegor penjahat yang menghujat Yesus?
– Mengapa ia meminta Yesus mengingatnya apabila Dia datang kembali sebagai Raja?

4. Bagaimana kamu memandang kehidupanmu sendiri dan bagaimana pula pandanganmu tentang Yesus Kristus? Menurutmu, apakah Yesus memang akan datang kembali sebagai Raja?

My Last Day ditayangkan seizin Global Short Film Network

Dapatkah Allah memakai diriku?

[vimeo id=”21104713″ width=”628″ height=”353″]

Dapatkah Allah memakai diriku? Kalau kamu pernah menanyakan hal ini, kamu tidak sendirian. Karya Allah yang luar biasa memang melampaui kapasitas manusia biasa seperti kita.

Namun, dari hidup Gideon, kita belajar bahwa Allah senang memakai orang yang lemah dan rendah hati. Dia tidak melihat siapa diri kita tetapi apa jadinya kita kelak melalui karya tangan-Nya.

Dari kitab Hakim-hakim 6-8, Albert Lee membagikan kebenaran firman Tuhan yang alkitabiah dengan nasihat yang jelas dan praktis. Kamu akan mendapatkan pengertian yang baru tentang apa yang dibutuhkan olehmu agar bisa dipakai Allah dan bahaya apa yang perlu diperhatikan.

2011 Youth Bible Teaching di Bandung

The Making and Unmaking of God’s Young People — Lessons from the life of Gideon
(Anak Muda di Tangan Allah – Pelajaran dari hidup Gideon)

oleh Albert Lee (International Director, RBC Ministries)

Jumat, 8 April 2010 — 18.00 – 21.00 wib

GKI Anugerah
Ruang Ibadah Lt. 3 – Jl. Jend. Sudirman 193-197 Bandung

Khotbah akan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
Terbuka untuk umum dan tidak dikenakan biaya.

Bible Teaching ini adalah bagian dari Youth Ministry Initiative (Pelayanan kepada Kaum Muda).

Apa sih Warungsatekamu itu?

Hai, selamat datang di warungsatekamu.org!
Warungsatekamu adalah bagian dari pelayanan YMI, yaitu Youth Ministry Initiative.

Kami ingin mengundang anak muda Kristen Indonesia, dengan tujuan mendorong mereka:
1. Untuk menjadi Kontributor
2. Untuk menjadi Distributor

Dalam situs kami, kamu bisa membaca materi renungan yaitu Santapan Rohani. Setelah membacanya, kamu bisa membagikan berkat apa yang kamu dapatkan, atau bertanya, atau mendorong teman-temanmu untuk membaca firman Tuhan.

Kunjungi Komik Kamu, dimana kamu bisa menikmati komik dengan cara yang asyik dan menarik untuk belajar kebenaran tentang Tuhan dan firman-Nya.

Di bagian Download Kamu, kamu bisa temukan dan download wallpaper. Pasang di layar komputermu, siapa tahu ini bisa jadi kesempatan bersaksi kepada teman-temanmu.

Selain itu, kami juga menerima dan menampilkan karya tulis yang membahas berbagai topik yang kami harap menguatkan iman rekan muda lainnya.

Nikmati juga games, musik dan video yang istimewa hasil karya anak muda dalam dan luar negeri. Kasih tahu teman-temanmu apa yang kamu dapatkan dari situs ini,

Pelayanan YMI di internet juga hadir dalam bahasa lain lho. Kami punya situs dalam bahasa Inggris, yaitu ymiblogging.org dan juga dalam bahasa Thai, yang disebut manasociety.org. Kami terus berusaha menyediakan situs dalam bahasa-bahasa lain juga.

Dapatkan kabar terbaru dari Warungsatekamu melalui halaman kami di Facebook dan Twitter.

Kamu bisa lho memberikan kontribusimu, berupa karya tulis, lagu, musik, video, games, komik, wallpaper dan juga animasi.

Tunggu apa lagi? Jadi kontributor dan distributor pelayanan ini sekarang juga!

What Do You Want To Be When You Grow Up?

Transkrip:

Tanyakan pada anak-anak, “Mau jadi apa mereka ketika dewasa nanti?” dan kita akan dengar:

“Aku mau jadi seorang dokter hewan, atau seniman.”
“Dokter, pemadam kebakaran, atau tukang masak.”
“Pramugari”
“Dokter gigi”

Ya, dan satu hal yang tidak akan kita dengar adalah: “Jadi orang yang biasa-biasa saja”

Soalnya, siapa sih yang mau jadi orang biasa yang sama dengan kebanyakan orang lainnya?
Kata orang, untuk berhasil, kamu harus jadi orang yang unik, penting, berkuasa.
Dan kalau ga begitu, berarti kamu cuma “orang biasa”, dan siapa yang mau begitu?

Tuhan mau! Bahkan Dia mencari orang-orang biasa untuk melakukan hal-hal luar biasa.
1 Korintus 1 berkata kalau orang-orang biasalah yang dipakai Allah.

Apakah kamu merasa jadi “orang yang biasa-biasa saja”?
Jangan kuatir. Jadilah orang yang Tuhan kehendaki, seperti kata Alkitab di bawah ini:

1 Korintus 1:26-31

Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.

Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.

Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.

Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”

Jesus Army – Menemukan Arti Hidup

Ulasan oleh Daniel Gordon Ang

Band Jesus Army dibentuk pada hari Natal tahun 2009, dari sebuah komunitas yang juga bernama Jesus Army, dengan anggota yang berasal dari berbagai gereja dan berbasis di Tangerang, Banten. Visi dan misi mereka adalah untuk “membakar semangat anak-anak muda, sehingga mereka bisa lebih semangat melayani di gereja mereka masing-masing dan menjadi terang di manapun mereka berada.”

Band ini terdiri atas enam orang: Arny, Setiawan, Juan (vokalis), Rama (gitaris), William (basis), dan Andry (drummer), dengan William sebagai ketua band sekaligus pencipta dari lagu-lagu yang mereka nyanyikan. Mereka berkata bahwa inspirasi mereka berasal dari kecintaan dan kesenangan mereka untuk memuji Tuhan. Jesus Army, yang mengagumi grup-grup musik Kristen seperti Hillsong dan True Worshippers, juga berharap bahwa mereka bisa turut menginspirasi anak-anak muda lain supaya terus bersemangat melayani Tuhan.

Dalam kiprahnya, Jesus Army sudah mengeluarkan album perdananya yang terdiri dari 10 lagu. Salah satunya adalah Arti Hidupku, lagu yang menyatakan sukacita dan ketenteraman berada dalam pemeliharaan Tuhan, yang telah merancang masa depan kita dan telah menyiapkan yang terbaik bagi kita.

Dengar lagunya di sini:

[audio:artihidupku.mp3]

Arti Hidupku

Sebelum ku dilahirkan
Kau telah merancang masa depanku
Kau siapkan yang terbaik bagi diriku
Yesus…

Kau berkata padaku ‘tuk jangan takut
‘Tuk hadapi s’gala jalan hidupku
S’bab Kau berada di sisiku
‘Tuk menopangku dan menyertai hidupku

Reff:
Ketika kupandang bintang di langit
Ku bertanya apa arti hidupku
Kau mengukirku di telapak tangan-Mu
dan Kau mengingatku setiap waktu

Kau menjagaku bagai biji mata-Mu
Kau menebusku dengan darah yang mahal
S’karang kupersembahkan seg’nap hidupku
Bagi-Mu Yesusku
Hanya bagi-Mu

Bait pertama dari verse lagu ini bercerita tentang rancangan yang Tuhan sudah pasti siapkan untuk kita sejak sebelum kita lahir. Pada bait kedua kepastian ini dikuatkan dengan mengingat bahwa Tuhan telah berkata agar kita tidak takut untuk menghadapi jalan hidup ini. Ia telah berjanji untuk “menopang dan menyertai” hidup kita.

Klimaks lagu ini adalah pada chorusnya, di mana sang pemuji memandang pada bintang-bintang di langit, dan bertanya “apa arti hidupku.” Mungkin kebesaran alam semesta yang sudah Tuhan ciptakan membuatnya bimbang akan tujuan hidupnya yang sejati—hidup yang pasti juga telah diwarnai oleh jatuh bangun dan perihal duniawi lainnya. Namun pada kalimat berikutnya, ia teringat pada janji bahwa Tuhan telah mengukirnya di telapak tangan-Nya. Hal ini menggemakan perkataan dalam Yesaya 49:16, “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.” Kebesaran Tuhan memang tak terjangkau oleh manusia yang berdosa seperti kita, namun kasih-Nya kepada kita juga tak kalah nyatanya. Jadi, ingatlah selalu bahwa nama kita terukir di telapak tangan Tuhan, sehingga kita bisa selalu terhibur di tengah saat-saat yang sulit.

Bait terakhir dari chorus merupakan kesimpulan dari kesadaran yang timbul sebelumnya: mengingat bahwa “Kau menjagaku bagai biji mata-Mu” (lihat Mazmur 17:8), dan akhirnya sang pemuji pun siap mempersembahkan segenap hidupnya bagi Yesus.

Salah satu keunikan dalam komposisi lagu ini terletak pada pertengahan lagu setelah reff, ketika tiba-tiba suasana berubah menjadi lebih hard rock, dengan iringan solo biola yang memainkan sebuah interlude singkat. Meski terasa terlalu tiba-tiba, perubahan ini tetap membuat pengulangan reff lagu menjadi lebih kuat dan klimaks.

Kesimpulannya, lagu Arti Hidupku oleh Jesus Army adalah sebuah pernyataan kuat tentang kepercayaan akan rencana dan pemeliharaan Tuhan, yang menghapuskan segala kebimbangan dan membuat kita siap mempersembahkan seluruh hidup kita kepada-Nya, dalam bentuk pelayanan yang sudah Ia rencanakan untuk kita.

Nikmati karya Jesus Army lainnya di http://www.reverbnation.com/jesussarmy dan Facebook page mereka.

Bible Fun Facts

Coba uji pengetahuan Alkitabmu dengan menjajal game Bible Fun Facts dan kasih tahu kami berapa jago kamu menjawab pertanyaan yang ada 🙂

[swfobj src=”http://ymiblogging.org/medias/games/trivia_v1_2.swf” width=”550″ height=”605″ align=”none” allowfullscreen=”false”]