Lagu: String Quartet No. 1

Saya memberikan judul yang abstrak pada karya musik saya—hanya “String Quartet No. 1”—karena ini mencerminkan emosi dan perasaan yang kompleks yang memotivasi proses penciptaan karya ini. Perasaan-perasaan yang terlibat di dalam proses tersebut terlalu mendalam untuk diekspresikan hanya dalam satu atau dua patah kata.

Lagu ini digubah untuk kelompok musik string quartet (kwartet senar), yang terdiri dari dua biola, satu viola (biola alto), dan satu cello. Ada dua melodi utama dalam lagu ini: yang satu bersifat reflektif, merenung, seperti dalam mimpi, dan yang satu lagi lebih lincah, ceria dan bahkan ringan. Kedua melodi ini dimainkan secara berurutan oleh seluruh instrumen. Bagian ini disebut eksposisi. Di dalamnya terdapat seluruh “ide-ide” utama dari lagu, termasuk banyak potongan dan motif-motif kecil (dalam musik populer, bagian ini disebut “riffs”), yang nantinya akan digunakan lagi dalam bagian-bagian berikutnya.

Bagian berikutnya adalah perkembangan (development). Di sini saya mengambil melodi dan motif-motif yang sudah diperkenalkan sebelumnya untuk kemudian dirangkai, ditenun, dan dijalin menjadi musik yang lebih kompleks. Lama-kelamaan, suasana lagu berubah menjadi genting, menderu-deru, penuh dengan kekerasan dan disonans. Pada akhirnya, semua ini berujung pada klimaks dari seluruh karya ini—keempat instrumen, yaitu kedua biola, viola, dan cello menghajar sebuah akor yang mengiris hati, secara berulang-ulang, menuntaskan sebuah titik puncak emosional.

Setelah kegemparan ini terdapat sebuah istirahat singkat, sebelum sang viola masuk kembali memecah kesunyian dengan memainkan segaris melodi yang penuh perasaan. Kemudian, satu persatu instrumen bergabung dengannya, sampai kita kembali ke awal—kedua melodi yang asli dimainkan dalam bentuk seperti di awal lagu, yaitu dengan eksposisi. Mendekati akhir, cello memainkan sebuah solo, yang memimpin jalan menuju coda sebagai ucapan terakhir karya ini. Di sini, fragmen-fragmen dari melodi pertama dimainkan secara lembut oleh viola di antara lapisan demi lapisan nada panjang selembut sutra yang ditahan oleh instrumen-instrumen lain.

Secara keseluruhan karya musik gubahan saya ini mengungkapkan suasana-suasana penuh rindu dan emosi yang mendalam, yang disajikan bersamaan dengan episode-episode kemarahan dan kekerasan yang sangat berbeda. Sangat sulit bagi saya untuk menentukan peristiwa atau keadaan apa yang mengilhami saya menggubah setiap bagian dari karya ini. Bagi saya, jauh lebih baik berusaha mengerti karya musik ini dengan membayangkan melodi-melodi dan motif-motif di dalamnya sebagai karakter dalam suatu cerita yang mengalami transformasi dan perubahan. Demikianlah cara saya mendengarkan karya musik saya sendiri ini, lama setelah saya selesai menulisnya. Dampaknya sangat mengejutkan. Meskipun tidak mengingatkan saya akan pengalaman-pengalaman tertentu, musik ini terasa seolah-olah memang merefleksikan suatu bagian dari diri saya sendiri.

Daniel Gordon Ang, DipABRSM adalah seorang cellist, pianis, komponis, dan pengamat musik  yang telah menulis artikel musik untuk situs ymiblogging.org dan warungsatekamu.org. Ia menikmati segala jenis musik, dengan preferensi utama Bach, Beethoven, Brahms, dan Mahler untuk musik klasik, dan Bon Jovi serta progressive rock untuk musik populer. Daniel adalah lulusan dari Anglo-Chinese School (Independent), Singapore dan akan melanjutkan kuliahnya di Amherst College, Massachusetts, Amerika Serikat pada August 2011.

Ulasan Lagu: My Heart Will Fly (MercyMe)

Ulasan lagu oleh Daniel Gordon Ang

Dengar lagunya di sini:

Lagu “My Heart Will Fly” yang dinyanyikan oleh MercyMe ini menyentak kesadaranku segera setelah aku mendengarkannya. Bukan hanya memiliki lantunan dan lirik yang sangat baik, lagu ini juga mengandung pesan rohani yang berbicara kepada banyak di antara kita.

Dari bait pertama lagu ini, jelas bahwa isinya menyinggung tentang kesakitan dan penderitaan. Banyak dari pengalaman pahit yang kita alami dalam hidup ini sulit untuk kita pahami, dan ini dengan begitu jelas diungkapkan melalui lirik “Why this happened I cannot explain/Mengapa ini terjadi tak dapat kujelaskan”. Kita sering bertanya-tanya mengapa Allah tidak memberi “an easier way/jalan yang lebih mudah” bagi kita. Inilah yang kita permasalahkan dari penderitaan. Kita bertanya-tanya: Mengapakah Allah yang seharusnya baik, penuh kasih dan maha kuasa itu mengizinkan adanya penderitaan? Ada kalanya seruan kita serupa dengan seruan Ayub (30:26-27):

Tetapi, ketika aku mengharapkan yang baik, maka kejahatanlah yang datang;
ketika aku menantikan terang, maka kegelapanlah yang datang.
Batinku bergelora dan tak kunjung diam,
hari-hari kesengsaraan telah melanda diriku.

Sering kita diberitahu bahwa itu semua adalah bagian dari rencana Allah yang lebih besar. Namun, hal itu pun sulit untuk kita terima, seperti sang penulis lagu mengungkapkannya: “I cannot see the bigger picture taking place/Tak dapat kulihat makna semua yang terjadi”. Sampai di sini, lagu ini penuh dengan nada pesimis.

Namun ketika masuk ke bagian chorus, timbul suatu pesan penuh pengharapan: “My heart will fly, when I see You face to face/Hatiku akan bersorak, ketika memandangmu muka dengan muka.” Bagian ini dinyanyikan dalam suasana bermimpi, dengan paduan gema di latar dan alunan musik petik yang mendayu-dayu. Ada kesan suatu harapan sedang terbangun, namun belum jadi kenyataan sepenuhnya.

Ini terjadi kemudian, ketika musiknya berubah dan berbalik menjadi suatu interlude instrumental yang kuat dan menggebu-gebu, diikuti dengan bait berikutnya yang berseru, “On that day we’ll finally know as we are fully known/Pada hari itu ku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.” Ini jelas suatu harapan yang pasti akan masa datang, ketika di surga kelak kita akan mengetahui mengapa Allah mengizinkan kita melalui pengalaman pahit tersebut. Pemutarbalikan yang indah ini serupa dengan pernyataan indah penuh harap yang kita baca dari seruan Ayub mengenai penderitaannya (Ayb. 19:25-27):

Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu.
Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingkupun aku akan melihat Allah,
yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku;
mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain.
Hati sanubariku merana karena rindu.

Chorus berikutnya membawa suatu energi baru, seiring harapan yang diungkapkan dengan penuh kekuatan. Pada bridge, visi penuh harapan itu tiba pada puncaknya: “What appears as incomplete is still completely Yours/Apa yang terlihat tidak utuh tetaplah milik-Mu seutuhnya.” Ada penekanan pada “milik-Mu seutuhnya,” bukan semata-mata “milik-Mu”. Kini, melampaui apapun keraguan yang ada, kita meyakini bahwa Allah masih dan memang selama ini memegang kendali penuh. Dan pada akhirnya, ketika kita tiba pada kata-kata “And we’ll soar/Kita akan melayang,” seakan suara Bart Millard sang vokalis benar-benar melayang jauh, berpadu dengan iringan musik petik dan gitar elektrik yang semakin kencang. Setelah ini, chorus kembali diulang dengan sekuat tenaga, diakhiri sekali lagi dengan “melayang”.

Secara keseluruhan, penggunaan gambaran terbang melayang dalam lagu MercyMe ini berhasil membangkitkan suasana, apalagi didukung oleh permainan musik yang pas. Sampai akhirnya, mungkin penulis lagu (dan kita juga) tidak memahami sepenuhnya arti penderitaan. Namun, kita memiliki iman bahwa Allah “turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28). Dengan demikian, masalah dalam hidup ini diberikan suatu resolusi, bukan melalui serentetan doa memohon kekuatan atau kelepasan, tetapi melalui suatu iman yang sederhana dan terbuka pada firman Allah dan janji-janji-Nya.

Baca Selengkapnya

Komik: YUSUF Sang Pemenang

Musik Bagi Jiwa

Di dalam bukunya, Musicophilia: Tales of Music and the Brain (Musicophilia: Kisah Musik dan Otak), Oliver Sacks mengkhususkan satu bab untuk menjelaskan manfaat terapi musik bagi orang-orang yang menderita Alzheimer. Ia menuliskan pengalamannya setelah menyaksikan bagaimana orang-orang dengan penyakit demensia akut ini memberikan respons terhadap lagu-lagu yang mengembalikan lagi memori-memori yang tampaknya telah hilang:

“Wajah-wajah menampakkan ekspresi saat mereka mengenali musik yang dilantunkan dan pengaruh emosi dari musik itu begitu terasa. Mungkin, satu atau dua orang, mulai menyanyi bersama, yang lainnya bergabung dengan mereka dan tidak lama kemudian seluruh kelompok itu—banyak dari mereka yang sebelumnya tidak pernah berbicara sama sekali—bernyanyi bersama, semampu mereka.”

Saya pernah menyaksikan hal ini saat kebaktian Minggu pagi di pusat perawatan pasien Alzheimer tempat ibu mertua saya dirawat. Mungkin Anda pernah mengalaminya bersama orang yang Anda kasihi, yang pikirannya mulai pikun, dan sebuah lagu dapat membangkitkan ingatannya kembali.

Paulus mendorong orang-orang Kristen di Efesus untuk “dipenuhi dengan Roh, berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan dengan segenap hati” (Ef. 5:18-19). Lagu-lagu yang memuliakan Allah menyentuh tempat yang terdalam dimana artinya tidak akan pernah sirna. Lebih dari sekadar kata-kata, harmoni, ataupun kesadaran, musik yang memuliakan Allah menyehatkan hati dan jiwa. —DCM

Hati yang selaras dengan Allah senantiasa menaikkan pujian bagi-Nya.

Haleluya & Handel

Komposer George Frideric Handel sedang mengalami kebangkrutan ketika pada tahun 1741 sebuah kelompok amal Dublin menawarinya imbalan untuk menggubah sebuah karya musikal. Karya tersebut ditampilkan untuk penggalangan dana guna membebaskan orang-orang dari penjaranya para penagih hutang. Handel menerima tawaran tersebut dan dengan tidak kenal lelah ia mengerjakan karyanya.

Hanya dalam waktu 24 hari, Handel berhasil menyusun komposisi mahakaryanya yang terkenal berjudul Messiah, yang di dalamnya terdapat lagu “The Hallelujah Chorus”. Selama masa penyusunan karyanya, Handel tidak pernah keluar rumah, bahkan sering lupa makan. Suatu ketika, pelayannya mendapati Handel sedang menangis di atas lembaran musik yang disusunnya. Ketika mengingat lagi pengalamannya itu, Handel menuliskan, “Aku tidak tahu, apakah aku sadar atau tidak sadar ketika menuliskan lagu ini. Hanya Allah yang tahu.” Ia juga berkata, “Aku pikir aku betul-betul telah melihat seluruh surga di depan mataku dan juga keagungan Allah sendiri.”

“The Hallelujah Chorus” selalu menggetarkan jiwa setiap kali saya mendengarnya, dan saya yakin Anda pun merasakan hal yang sama. Namun, pastikan bahwa kita tidak hanya sekadar mengagumi musiknya yang indah itu. Mari kita membuka hati di dalam iman dan penyembahan kepada Sang Mesias seperti yang telah dinubuatkan di dalam kitab Yesaya (Yes. 9:1-7). Dia telah datang kepada kita dalam pribadi Yesus Kristus untuk menjadi Juruselamat kita. “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya” (ay.6). —VCG

Dengar “The Hallelujah Chorus” di sini:
Hallellujah Chorus by bari-ron

Hadiah yang terbesar dari Allah layak mendapatkan ungkapan syukur kita yang terdalam.

ABODA – Sekeluarga Mengabdikan Diri untuk Menyembah Tuhan

Oleh Daniel Gordon Ang

ABODA adalah sebuah band instrumental Kristen yang unik—kesemua anggotanya adalah 4 orang saudara kandung. Band ini bermula pada tahun 1993 dengan seluruh keluarga—termasuk ayah dan ibu mereka—bermain musik dan bernyanyi bersama di bawah nama Team Penyembah (yang kemudian menjadi Worshippers). Mereka mengubah nama bandnya menjadi Aboda pada tahun 2006. Kini, band ini beranggotakan Timotius Noya (piano & keyboard), Fanuel Noya (drum), Filemon Noya (gitar), dan Clement Noya (bass).

Kata “Aboda” sendiri berasal dari bahasa Ibrani yang berarti “bekerja, melayani, menyembah”. Dalam kata lain, pengabdian. Nama ini selaras dengan visi mereka, yaitu untuk “membagikan kisah hidup kepada setiap orang yang mendengarkan musik Aboda.”

Ada bermacam-macam musik yang berpengaruh dalam membentuk musik yang dimainkan oleh Aboda, antara lain pemusik seperti David Foster, Marcus Miller, Victor Wooten, Israel Houghton, Tom Brooks, dan drummer terkenal Akira Jimbo serta Thomas Pridgen. Aboda sering dianggap sebagai band beraliran musik jazz, namun Aboda tidak pernah mengklaim diri demikian. Ketika ditanya mengenai jenis musik apa yang menjadi favorit mereka, salah seorang anggota band berkata, “Inti penyembahan bukanlah jenis musik, tapi hati.”

Pada Juni 2007, mereka merilis album perdananya, “Today in Paradise” di bawah label Victorious Music Jazz. Album ini meraih penghargaan “The Best Instrumental Album” pada ajang Indonesian Gospel Music Awards 2008. Setahun kemudian Aboda menerbitkan album “Lite Edition”, dengan berisi salah satunya lagu “Journey to the Fatherland” yang diulas di bawah ini.

Kini Aboda rutin melayani dengan bermain di berbagai gereja di Jakarta setiap minggunya. Semua anggotanya bekerja sebagai pengajar musik. Di masa depan, Aboda berharap bahwa mereka dapat memperluas kiprah mereka ke ajang internasional dan, yang terutama, menolong semakin banyak orang dapat mengenal kasih Kristus melalui karya-karya mereka.

Ulasan lagu “Journey to Fatherland”

Dengar di sini:
Journey To The Fatherland (ABODA) by clementnoya

Lagu ini diciptakan ketika para anggota Aboda melihat orang-orang yang pulang kampung pada masa sebelum Lebaran. Dari peristiwa itu, mereka mendapat ilham bahwa “kehidupan ini sebenarnya adalah sebuah perjalanan pulang kembali ke tempat dari mana kita berasal.” Oleh karena itu, “Fatherland” dalam lagu ini bukanlah sekadar mengacu pada kampung halaman, melainkan rumah Bapa kita di Sorga.

Tidak mudah menilai sebuah lagu rohani instrumental, apalagi yang aransemen sepenuhnya orisinil. Namun kita bisa berusaha mengamati dengan cermat suasana dan atmosfir apa yang ditimbulkan oleh alat-alat musik dalam lagu ini dan mencoba menarik hubungan yang mungkin supaya mengerti bagaimana inspirasi Aboda diterjemahkan menjadi musik yang hidup.

Pada dasarnya Journey to Fatherland dimotori oleh suatu motif atau potongan melodi yang berperan seperti sebuah chorus. Motif ini dapat kita jumpai di awal lagu, di mana gitar listrik dan strings dari keyboard memainkannya bersama-sama. Motif ini sangat mudah diingat, karena adanya satu nada panjang diikuti nada pendek. Karakternya sangat lincah tetapi cukup tegas. Iringan gitar kedua yang sangat catchy dan juga drum menambah suasana menjadi hiruk-pikuk. Semua ini cukup memberi kesan seakan kita ada dalam kesibukan dan keramaian pada waktu mudik.

Setelah fase refrain ini selesai, kita memasuki bagian solo gitar tanpa iringan gitar kedua. Dengan hanya akor-akor piano lembut yang ditahan panjang untuk memberikan alas bagi solo, suasana menjadi sangat reflektif dan bahkan menimbulkan kesan nostalgia. Sesuatu yang kontras jika dibandingkan refrain tadi. Dengan memakai efek menggaung (echo) yang terdengar jelas pada setiap akhir potongan melodi, saya membayangkan sang pencipta lagu tertegun saat mengingat makna yang lebih dalam daripada kegiatan mudik semata. Setelah melalui suatu tahapan yang lebih lincah, gitar solo pun diakhiri dengan suatu sentuhan melankolis di mana terdapat sebuah tangga nada singkat yang berisi empat nada panjang menurun, sebelum kembali ke bagian refrain yang bersemangat.

Refrain yang singkat berganti tenang kembali dengan solo gitar kedua yang lebih kering dan warna suara yang akustik. Ini lalu melebur dengan mulus ke sebuah solo piano, yang penuh gerak tetapi juga sedikit berunsur melankolis dan reflektif. Lambat laun permainan piano berkembang menjadi semakin emosional, dan kita menjumpai serangkaian nada naik terus semakin tinggi, sampai tiba di suatu titik ketegangan emosional.

Tetapi titik ketegangan ini langsung buyar dengan hilangnya suara piano, diganti oleh gitar pertama dan bass yang berimprovisasi atas sepotong motif dari refrain. Atmosfir pun berubah kering, meskipun teknik improvisasi yang diperlihatkan sangat lancar dan subur inovasi. Namun ini hanyalah suatu persiapan menuju resolusi dari emosi yang telah dibangun oleh piano di bagian sebelumnya, dengan masuknya suatu suara seperti saksofon sopran yang mendayu-dayu lembut di kejauhan. Karena tidak pernah terdengar sebelumnya, efeknya sangat mengejutkan, hingga kembali membangkitkan suasana melankolis.

Setelah itu, momen emosional ini kembali buyar dengan potongan nada panjang-pendek dari refrain oleh gitar pertama. Dari sini refrain diulang dengan naik satu nada (overtone). Titik klimaks seluruh lagu ini tercapai ketika gitar kedua berangkat dari sekadar iringan menjadi suatu improvisasi yang ramai, sementara motif panjang-pendek refrain masih terus berdengung di atasnya. Lagu ini diakhiri dengan semua alat musik mengulang-ulang motif panjang-pendek bersamaan.

Secara keseluruhan, kita melihat keunikan penjajaran refrain yang lincah dan hidup dengan improvisasi para personel Aboda, yang selalu dimulai dengan rangkaian nada cepat dan piawai, namun kemudian berubah menjadi lebih melankolis dan emosional.

Semua ini seakan menggambarkan bahwa pada akhirnya, mudik adalah mudik—suatu kegiatan yang sangat manusiawi. Hanya saja, kita harus mengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan pulang kampung ke suatu tempat yang jauh lebih besar dan mulia: pergi ke fatherland kita di Surga. Aboda tidak sedang berusaha menciptakan suasana surgawi dalam lagu ini, melainkan mereka ingin menggambarkan suatu perenungan dan inspirasi yang realistis di tengah hiruk-pikuk kegiatan kita sehari-hari.

Mazmur 84:2-3 berkata, “Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam! Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.” Biarlah ini juga menjadi seruan hati kita.

Dengar karya Aboda lainnya di sini, kunjungi Facebook fan page mereka di Aboda Music, dan saksikan penampilan mereka memainkan Allahku Dahsyat di sini.

Ulasan ini ditulis oleh Daniel Gordon Ang, DipABRSM adalah seorang cellist, pianis, komponis, dan pengamat musik  yang telah menulis artikel musik untuk situs ymiblogging.org dan warungsatekamu.org. Ia menikmati segala jenis musik, dengan preferensi utama Bach, Beethoven, Brahms, dan Mahler untuk musik klasik, dan Bon Jovi serta progressive rock untuk musik populer. Daniel adalah lulusan dari Anglo-Chinese School (Independent), Singapore dan akan melanjutkan kuliahnya di Amherst College, Massachusetts, Amerika Serikat pada August 2011.

Ulasan Lagu: Heart of Worship

Ulasan lagu oleh Daniel Gordon Ang

Dengar lagunya di sini:

“The Heart of Worship” adalah sebuah lagu terkenal yang dinyanyikan oleh banyak gereja di seluruh dunia. Namun, saya punya kesan pertama yang cukup ironis terhadap lagu itu—bayangkan saja, lagu lain apa yang memulai liriknya dengan mengatakan “when the music fades/saat musiknya berhenti”?

Penulis sekaligus penyanyinya, Matt Redman, menjelaskan bahwa lagu ini berawal dari suatu masa di gerejanya ketika terasa tidak ada lagi kerinduan untuk bertemu dengan Allah dan membawa kepada-Nya persembahan berupa pujian pada kebaktian di hari Minggu. Kemudian gereja itu memutuskan untuk memperpendek waktu puji-pujian dan membuat jemaat untuk duduk diam beberapa waktu lamanya. Inilah yang dimaksud pada baris kedua lagu ini (“All is stripped away/kala segalanya dilepaskan”). Apa yang terjadi kemudian adalah orang-orang mulai berdoa dan menaikkan pujian mereka secara spontan. Alhasil, Redman merasa bahwa makna utama dari penyembahan (the heart of worship) telah kembali dialami oleh gerejanya. Jemaat tidak hanya datang dalam ibadah bersama demi mendapatkan faedah dari kebaktian itu, melainkan datang dengan membawa sesuatu kepada Allah dalam penyembahan mereka.

Bagaimana dengan kita? Berapa kali kita sudah mengikuti suatu ibadah dan dengan tidak sadar berharap mendapatkan sesuatu dari kebaktian itu? Ketika pernah aku tinggal di asrama, aku sering merasa rindu untuk beribadah dalam persekutuan siswa yang diadakan setiap hari Rabu. Namun pada waktu itu, sebenarnya aku rindu pada efek terapis yang kurasakan dari kebersamaan di bawah sinar rembulan dan menyanyikan bersama lagu-lagu yang catchy, lebih daripada kerinduan untuk menyembah Allah.

Sebenarnya tidak salah kalau kita menikmati kebersamaan dengan saudara-saudara seiman, atau bahkan menikmati suasana dan musik yang dialami pada saat kebaktian sedang berlangsung. Namun, ketika hal itu menjadi satu-satunya yang kita rindukan dari waktu ibadah bersama, maka kita berada dalam bahaya yaitu kehilangan makna utama dari suatu penyembahan.

Roma 12:1 berkata, “persembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Pertama-tama, kita rindu untuk mempersembahkan persembahan yang hidup kepada Allah. Karena itu, ibadah Kristen merupakan suatu perhatian yang secara sadar dan sengaja diarahkan kepada Allah. Penyembahan kita haruslah menyatakan “all about You, Jesus, all about You/segalanya untuk-Mu, Yesus, segalanya untuk-Mu.”

Yang kedua, kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup. Seluruh diri kita—pikiran dan hati, tangan dan kaki—terlibat dalam ibadah. Kita menyembah dalam roh dan dalam kebenaran. Kita bertepuk tangan, menggerakkan kepala, bahkan meloncat-loncat dalam suatu kebaktian, karena kita secara sadar memilih untuk menyembah Allah dengan melakukan semua itu.

Seperti yang Matt Redman katakan, spontanitas dan ibadah yang dinamis memang hal yang penting. Namun, semua itu harus selalu diimbangi oleh suatu sikap mawas diri dengan melihat apakah spontanitas itu lebih dimotivasi untuk kesenangan kita sendiri atau untuk kemuliaan Allah. Dengan mengikuti prinsip ini, ibadah tidak hanya menjadi suatu waktu khusus yang kita kesampingkan setiap minggu untuk memuji dan menyembah Allah, melainkan juga suatu persembahan rohani yang terus-menerus melibatkan seluruh diri kita, setiap saat, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Sharing: Apa pujian rohani favoritmu?

Berikan juga pendapat tentang pujian rohani yang paling berkesan bagimu via polling di sidebar dari halaman ini –>

Film Pendek: My Last Day

Ia pernah melihat Yesus mengajar orang banyak. Ia tahu hidup Yesus tidak bercela. Tapi hari itu ia melihat lebih banyak. Ketika ia meronta dari siksaan para prajurit yang kejam, ia melihat Yesus memohon pengampunan bagi mereka. Memang wajah itu menahan sakit, namun Dia begitu tenang menyongsong maut. Perkataan-perkataan Yesus sungguh bukan perkataan orang kebanyakan. Benarkah sosok bermahkota duri di sebelahnya ini adalah Sang Mesias yang dijanjikan Allah? Raja yang akan memerintah selama-lamanya?

My Last Day [Hari Terakhirku] adalah film pendek yang menuturkan kembali peristiwa kematian Kristus dari sudut pandang penjahat yang disalib bersamanya hari itu. Jalan penuh derita yang panjang. Riuh rendah teriakan massa. Tatapan sinis para pemuka agama. Desau cemeti, denting palu, dan hunjaman paku. Tetesan darah bercampur keringat dan nyeri yang merambat sekujur tubuh. Lihatlah apa yang dilihat si penjahat, dengarlah apa yang didengarnya, rasakan apa yang berkecamuk di hatinya hingga ia akhirnya berucap, “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”

Pertanyaan perenungan/diskusi:

1. Bagaimana pendapatmu tentang film pendek ini? Perasaan apa yang timbul saat kamu menyaksikannya?

2. Bacalah Lukas 23:26-43 untuk melihat catatan Alkitab tentang peristiwa ini.
Apakah menurutmu si penjahat menyesali perbuatannya selama hidup?
Apa yang membuatmu berpendapat demikian?

3. Menurutmu bagaimana si penjahat memandang Yesus Kristus?
– Mengapa ia menegor penjahat yang menghujat Yesus?
– Mengapa ia meminta Yesus mengingatnya apabila Dia datang kembali sebagai Raja?

4. Bagaimana kamu memandang kehidupanmu sendiri dan bagaimana pula pandanganmu tentang Yesus Kristus? Menurutmu, apakah Yesus memang akan datang kembali sebagai Raja?

My Last Day ditayangkan seizin Global Short Film Network