Secuplik Mitos Tentang LDR

Survey-survey bilang bahwa pasangan LDR lebih berisiko mengalami perselingkuhan, kebosanan relasi, atau bahkan kandas di tengah jalan, tetapi itu tidak selalu berarti bahwa LDR adalah bentuk relasi yang buruk, terlebih di zaman modern ini.

Salah satu hal yang membuat relasi LDR kandas adalah karena kita memercayai mitos-mitos yang tidak membawa kebaikan bagi relasi kita. Yuk simak postingan ini dan temukan mitos apa saja yang biasanya hadir dalam relasi jarak jauh.

Artspace ini diadaptasi dari artikel Secuplik Mitos tentang LDR karya Aryanto Wijaya. Klik bit.ly/MitosLDR untuk membaca artikelnya secara lengkap, atau klik link di bio.

Desain artspace ini dibuat oleh Caroline Widananta.

Obat untuk Rasa Kecewa

Sebagai manusia, kita berekspektasi. Kita ingin dimengerti, dikasihi, dan dikukung oleh orang-orang di sekitar kita.

Tapi, ketika keinginan itu terjadi sebaliknya, kita pun kecewa. Kita membanding-bandingkan balasan yang kita dapat dengan aksi yang kita berikan. Atau, tak jarang juga kita menghakimi, menganggap mereka yang telah mengecewakan kita sebagai orang yang kurang peka atau bahkan tidak punya hati.

Kecewa adalah respons alamiah manusia, tetapi berlarut-larut di dalamnya memberi efek yang buruk. Apa yang seharusnya kita lakukan?

Artspace ini dibuat oleh Agnes Yustivani.

Ketika Hal-hal Buruk Terjadi Pada Kita

Ketika hal buruk menimpa, mudah bagi kita untuk menyalahkan Tuhan, kecewa, dan menjauh dari-Nya. Kendati respons tersebut adalah naluri alamiah kita, memeliharanya tidak akan menjadikan keadaan kita lebih baik. Malahan, semakin kita jauh dari Tuhan, semakin pula kita tidak merasakan damai dan kasih-Nya.

Hal buruk boleh menimpa, tetapi kasih Allah tidak pernah berakhir. Jika hari ini kamu kecewa dan sedih karena hal buruk yang menimpamu, geser satu per satu postingan ini. Kiranya Tuhan menguatkan kakimu dan membalut luka-luka hatimu.

Artspace ini dibuat oleh Elok Bakti Pratiwi.

Lupakan Resolusi, Tentukan Tujuan Hidupmu!

Setiap tahun baru kita sering membuat resolusi tapi gagal memenuhinya. Kita lantas merasa gagal atau kecewa seiring waktu yang terus berjalan. Tapi… bagaimana jika kita coba lupakan tentang membuat resolusi dan mulai menetapkan tujuan hidup kita supaya kita bisa menghidupi hari-hari secara maksimal?

Jika kamu bingung mau memulai dari mana, Efesus 5:15-21 adalah bacaan yang baik untuk mulai membangun tujuan hidup kita. Perikop itu memberi kita hikmat yang dapat menolong kita untuk memanjat tangga pertumbuhan rohani dan mengidentifikasi bagian-bagian licin manakah yang perlu kita hindari supaya kita bisa mengakhiri perjalanan kita dengan baik.

Artspace ini dibuat oleh YMI Today.

5 Pelajaran Penting dari Kisah Orang Samaria yang Murah Hati

Apa yang kamu pelajari dari “Kisah Orang Samaria yang Murah Hati” yang terkenal itu?
Pelajaran umum yang biasanya ditarik dari kisah ini adalah berbuat baik tanpa membedakan latar belakang orang yang ditolong. Namun, ketika kita telisik kembali, kisah yang tertulis di Injil ini memiliki banyak hal menarik yang bisa kita pelajari bersama.

Artspace ini diadaptasi dari artikel yang berjudul “5 Hal Baru yang Kupelajari dari Kisah Orang Samaria yang Murah Hati” karya Tri Setia Kristiyani. Klik link di bio untuk membaca artikelnya secara lengkap.

Artspace ini didesain oleh Sinrica Celine (@wabbiets)

Menghadapi Konflik dengan Cara yang Sehat

Kolaborasi WarungSaTeKaMu dan Amy Domingo (@amy_domingo).

Bayangkan hidup tanpa adanya konflik, perbedaan pendapat, dan rasa sakit. Atau bayangkanlah jika salah satunya muncul, kita dapat menghapuskannya dan sepakat untuk tidak sepakat. Betapa bahagia dan menyenangkannya hidup kita!

Sayangnya, karena kita semua adalah makhluk berdosa dan hidup dalam dunia yang kelam, konflik pasti akan kita alami dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun konflik selalu membuat hati tidak nyaman, ia dapat membantu kita tumbuh dan menjadi dewasa seperti Kristus jika kita menghadapinya dengan cara yang sehat dan alkitabiah.

Jadi, bagaimana kita dapat merespon konflik tanpa menjelek-jelekkan, memusuhi, atau bersikap pasif-agresif?

Sesulit kedengarannya, kita seharusnya merespon dengan kasih, yang berarti tidak pemarah dan menyimpan kesalahan orang lain (1 Korintus 13:5). Firman Allah juga mengingatkan kita untuk menjadi ramah, murah hati, sabar terhadap satu sama lain dan saling mengampuni (Kolose 3:13).

Berikut beberapa hal yang dapat kamu lakukan dan hindari ketika konflik terjadi:

Terkadang lebih mudah untuk menghindar daripada menatap muka mereka yang pernah menyakiti kita. Akibatnya, kita menjauh dari kehidupan mereka dan emosi kita mudah tersulut secara pribadi.

Meskipun sebenarnya tak masalah mengambil waktu sejenak untuk memulihkan luka kita, berlarut-larut dalam kemarahan yang tak terselesaikan ataupun memilih untuk tidak mengampuni dapat merugikan kita. Akibatnya, kita mengikis hubungan yang sebenarnya bisa diperbaiki.

Kejadian apa pun yang menimpa kita, Firman Allah mengatakan pengampunan adalah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah.

Mungkin sulit (dan hampir tak adil) untuk mengampuni orang yang melukai kita, namun kita harus mengampuni seperti Kristus telah mengampuni kita terlebih dahulu (Efesus 4:32). Dan jika kita melukai seseorang, carilah mereka untuk meminta pengampunan (Matius 5:23-24).

Luka yang mereka tanamkan pada kita sangat dalam. Kemarahan dan kesedihan dalam diri kita meningkat tiap kali mengingat insiden tersebut. Dan sekarang mereka mencoba berbicara dengan kita? Beraninya! Acuhkan saja mereka, biar tahu rasa!

Stonewalling atau mengacuhkan dan menolak berkomunikasi dengan seseorang dapat memberikan kita ilusi sebagai pemegang kontrol. Namun, hal ini tidak meredakan kemarahan dalam hati kita, maupun membiarkan orang lain menjelaskan atau memberi kesempatan bagi mereka untuk minta maaf.

Jika berbicara dengan mereka dalam suasana panasnya konflik sangat sulit, kita dapat dengan sopan memberitahu mereka bahwa kita sedang tidak mood untuk membahas konflik ini sekarang. Namun pastikan pada mereka bahwa kamu akan meluangkan waktu untuk membicarakan hal ini ketika kamu siap. Bagaimana pun, Firman Allah berkata jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan amarah (Amsal 15:1). Jadi akan lebih bijak bagimu untuk membiarkan amarahmu reda terlebih dahulu sebelum berekonsialisasi.

Masalah lain biasanya datang ketika kita bersikukuh mempertahankan kehendak kita; kita tak bersedia mendengarkan pendapat orang lain.

Memaksakan kehendak kita dalam konflik merupakan hal yang sangat buruk. Kita melalaikan orang lain, seakan akan apa yang mereka katakan tak pantas untuk kita pertimbangkan.

Untuk menghindari perilaku seperti ini, kita dapat merefleksikan mengapa kita begitu kukuh untuk melakukan hal-hal sesuai dengan kehendak kita. Apakah itu ego kita? Roma 12:16 memerintahkan kita untuk sehati dan sepikir dalam hidup bersama dan jangan menganggap diri kita pandai. Kita dapat meminta Tuhan untuk menyingkirkan ego kita dan memberikan kita kerendahan hati yang dibutuhkan untuk menangani masalah dengan rahmat.

Kita mungkin tak sengaja bercanda melewati batas dan menyinggung seorang teman dekat atau teman kerja. Kita berharap mereka dapat menganggap hal tersebut sebagai candaan belaka, namun ternyata mereka mengonfrontasikan hal tersebut sebagai masalah dan kita menjadi defensif. “Itu hanya candaan, tidak perlulah marah karena hal itu,” gerutu kita.

Meskipun dalam hati kita tahu kita salah, kita membuat berbagai alasan untuk menyelamatkan harga diri kita dan malah menuduh mereka terlalu serius.

Memang tidak mengenakkan ditegur jika kita berbuat salah, namun Amsal 28:13 memberanikan kita untuk mengakui dosa kita untuk memperoleh belas kasihan. Misalnya, mencoba melihat dari perspektif mereka, merasakan apa yang mereka rasakan dan meminta maaf.

Kita tak dapat mempercayai apa yang baru saja mereka katakan pada kita. “Betapa tidak sopannya mereka menuduh kita melakukan hal-hal seperti itu!” pikir kita. Maka dari itu, kita mencaci-maki balik mereka, balik menggunakan kata-kata yang pedas, dengki nan jahat, memberikan mereka mencicipi pahitnya pembalasan.

Kedagingan kita mungkin merasa bahagia untuk beberapa waktu, namun kedengkian yang kita keluarkan dapat memicu argumen panas atau menjadi racun bagi relasi kita dengan mereka.

Amsal 18:21 mengatakan hidup dan mati dikuasai lidah, dan meski kadang mencaci maki sangat mudah dilakukan di tengah konflik, kita dapat berdoa meminta Tuhan menuntun lidah kita dan kita untuk berbicara dengan anggun (dan bukan dengki) saat kita marah.

Oh wow. Seseorang baru saja melakukan sesuatu yang sangat tidak adil dan tidak bisa dibenarkan terhadap kita, dan kita terguncang dalam syok, kemarahan dan pengkhianatan. Dan sekarang kita sangat ingin memberitahu yang lain mengenai apa yang terjadi.

Meskipun tidak baik untuk menumpuk perasaan kesal kita, dan mengomel membantu kita menjernihkan pikiran, mari kita lebih berhati-hati dengan perkataan yang keluar dari mulut kita agar kita tidak menyesali perkataan kita di kemudian hari.

Amsal 19:20 memberanikan kita untuk mendengarkan nasihat yang bijak (Amsal 19:20), maka mari bagikan situasi kita (ketika kita sudah tenang dan berefleksi atas situasinya) dengan sekelompok teman dekat yang kita percaya. Hal ini memungkinkan masalah kita untuk tak terdengar oleh orang-orang yang tidak mengetahui kita secara baik dan juga melindungi reputasi orang lain.

Sebuah perdebatan hebat telah mengungkit kesalahan masa lalu satu sama lain, demi menjadi pemenang. “Ingatkah kamu terakhir kali kamu lakukan ini dan itu?” teriakmu.

Melemparkan kesalahan satu sama lain, khususnya untuk melawan mereka, dapat membuat kita merasa superior—untuk sementara. Namun seringkali, kita berakhir menyesali perkataan kita. Saat itu, semuanya sudah terlalu terlambat dan kita tak dapat menariknya kembali.

Mari ingat bahwa kasih tidak menyimpan kesalahan orang lain (1 Korintus 13:5), dan kehancuran hanyalah seujung lidah, karena “lidah adalah api…. Ia mengambil tempat di anggota-anggota tubuh” (Yakobus 3:6). Daripada mencari-cari kesalahan masa lalu, kita dapat mencoba menutup mulut kita dan tidak menjadi hambar, berkata dengan rahmat (Kolose 4:6).

“Hai Anon, tak bisa kupercaya kamu mengatakan…..,” dalam momen kemarahan, kita mengetik dan mengunggah pesan kemarahan dalam sosial media untuk mempermalukan orang yang telah menyakiti kita. Dan sekarang, kita menunggu balasan-balasan penuh simpati datang kepada kita.

Ah, pembalasan dendam yang indah! Kedagingan kita mungkin merasa senang selama beberapa waktu atas mengungkapkan kejahatan seseorang yang telah menyakiti kita, namun siapa yang tahu kalau hal ini akan berakibat pada relasi yang tak dapat diperbaiki!

Seperti yang 1 Korintus 13:5 ingatkan kita, kasih tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan sendiri (1 Korintus 13:5). Jadi, daripada secara terbuka mempermalukan orang yang telah menyakiti kita, mengapa tidak melakukannya dengan menuliskannya di buku harian, atau bahkan menuliskan surat mengenai apa yang kalian pikirkan terhadap mereka (yang dapat kita sobek setelahnya) jika hal ini dapat melepaskan amarah kita?

Perkataan tak berperasaan mereka telah melukai kita, tapi daripada berkata jujur dengan mereka, kita memutuskan untuk bersikap pasif agresif. “Kamu harusnnya tahu bagaimana perasaanku,” ketika ditanya bagaimana perasaan kita.

Kita berpikir mereka seharusnya tahu bagaimana perasaan kita. Bagaimana pun, merekalah yang mengejek kita! Tapi kebanyakan orang tidak dapat membaca pikiran kita. Dan mengirimkan pesan penuh teka-teki atau bermain mind games berpotensi untuk membawa lebih banyak kesalahpahaman bahkan menimbulkan kebencian atas satu sama lain.

Amsal 24:26 mengatakan perkataan yang tepat adalah tanda persahabatan. Maka dari itu, akan lebih baik jika kita memberitahu mereka secara jujur (namun bijaksana) mengenai bagaimana mereka melukai kita, daripada berharap mungkin mereka dapat membaca pikiran kita dan mengetahui apa yang mengganggu kita.

Tentu saja, memang lebih mudah untuk membaca mengenai bagaimana menyelesaikan masalah daripada benar-benar menyelesaikannya.

Namun, untungnya kita tidak perlu bergantung pada kekuatan kita sendiri. Tuhan akan memberikan kita hikmat (Yakobus 1:5) untuk menangani situasi ini, dan jika kita terluka, mintalah pada-Nya untuk memulihkan kita. Kita juga dapat meminta Tuhan untuk mengingatkan kita bahwa konflik bukan selalu situasi “aku melawan mereka”, namun dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk menyelesaikan masalah bersama, dan menghasilkan relasi yang lebih kuat.

Jadi, di lain kali kamu menemukan dirimu menghadapi suatu masalah untuk diselesaikan, janganlah bereaksi dengan meledak-ledak, namun pertimbangkan bagaimana merespons situasi ini dengan cara Tuhan!

5 Hal yang Menunjukkan Ia Calon (Suami) yang Tepat

Berpacaran bisa menjadi sesuatu yang menakutkan dan melelahkan—bagaimana kamu yakin bahwa orang yang berpacaran denganmu adalah orang yang tepat menjadi pasangan hidupmu?

Memilih pasangan hidup adalah pilihan yang sulit dan membutuhkan komitmen untuk sama-sama bertumbuh dan mengenal. Teruntuk para wanita, inilah lima hal sederhana yang bisa kamu cermati dalam diri pasanganmu untuk menguji, apakah si dia memang yang tepat untukmu. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Hal-hal apa lagikah yang menurutmu bisa menunjukkan seseorang tepat menjadi pendamping hidupmu?

Artspace ini diadaptasi dari artikel Tracy Phua berjudul “Lima Hal yang Menunjukkan Ia Calon (Suami) yang Tepat”.

5 Hal yang Menunjukkan Ia Calon (Istri) yang Tepat

“Kamu yakin ia adalah calon istri yang tepat?”⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Pertanyaan itu mungkin sering dilontarkan ketika kita berbicara tentang pasangan hidup. Jawabannya? Tak semua orang dengan mantap menjawab yakin, atau bahkan malah bergeming sembari menggelengkan kepala. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Memilih pasangan hidup adalah pilihan yang sulit dan membutuhkan komitmen untuk sama-sama bertumbuh dan mengenal. Teruntuk para pria, inilah lima hal sederhana yang bisa kamu cermati dalam diri pasanganmu untuk menguji, apakah si dia memang yang tepat untukmu. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Hal-hal apa lagikah yang menurutmu bisa menunjukkan seseorang tepat menjadi pendamping hidupmu?

Artspace ini diadaptasi dari artikel Alex Tee berjudul “Lima Hal yang Menunjukkan Ia Calon (Istri) yang Tepat”.

3 Miskonsepsi Tentang Pertumbuhan Rohani

Karya seni ini merupakan kolaborasi WarungSaTeKaMu dan Lara Lynch

Pernahkah kamu merasa pertumbuhan imanmu seolah jalan di tempat? Kamu mencari Tuhan lewat berdoa dan membaca Alkitab, pun tak ada dosa yang kamu sembunyikan… tapi rasanya kok tetap hambar? Kamu pun bingung apakah hari ini kamu telah menjadi semakin serupa dengan Kristus dibandingkan minggu lalu atau tidak.

Kamu tidak sendirian! Tapi, mari ambil waktu sejenak untuk menyelidiki kembali apakah pertumbuhan rohani itu. Kita bertumbuh secara rohani ketika Allah, melalui anugerah-Nya, bekerja dalam hidup kita untuk membuat kita semakin serupa dengan Kristus (Efesus 2:8-9). Ketika kita merasa stagnan, marilah meresponsnya dengan berpaling pada Dia yang mampu mengubah kita, bukan kepada upaya kita untuk mengubah keadaan.

Seiring kita mengejar Kristus, memohon pertolongan-Nya agar kita bertumbuh dalam kebaikan, pengetahuan, penguasaan diri, dan kasih (2 Petrus 1:5-8), kita pun perlu waspada terhadap miskonsepsi yang dapat menjauhkan kita dari pertumbuhan sejati.

Miskonsepsi #1
Ini tentang tahu betul isi Alkitab

Petrus bicara tentang bertumbuh dalam pengetahuan (2 Petrus 1:5, 3:18), dan pengetahuan Alkitabiah adalah sesuatu yang diinginkan dan perlu diupayakan. Alkitab adalah cara utama untuk mengetahui siapakah Tuhan itu.

Namun, “pengetahuan” hanyalah salah satu poin yang mengindikasikan pertumbuhan rohani. Kebanyakan kita mungkin teringat akan seseorang di gereja atau kelompok sel kita yang tampaknya tahu semua isi Alkitab, tapi juga angkuh. Orang seperti itu tentu tidak memiliki kualifikasi lainnya untuk disebut dewasa secara rohani.

Dalam Yohanes 14:23, Yesus memberitahu kita, “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku.” Mengetahui isi Alkitab akan menolong kita untuk mengenal pengajaran Yesus, tetapi yang lebih penting adalah bukan sekadar tahu, tapi menaatinya.

Saat kita membaca Alkitab hari demi hari, marilah tanyakan pada diri kita sendiri, apa yang ayat ini katakan tentang Allah? Apa maknanya buatku? Dan yang paling penting, bagaimana aku bisa menghidupinya?

Miskonsepsi #2
Ini tentang mempraktikkan disiplin rohani dengan rajin

Petrus mendorong kita untuk “mengupayakan segala hal” untuk bertumbuh secara rohani. Paulus juga berkata, “…tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar” (Filipi 2:12). Kerja keras adalah bagian dari pertumbuhan rohani. Kita tahu cara-cara mendasarnya: baca Alkitab, berdoa, bersekutu dengan sesama orang percaya, dan lain sebagainya.

Tetapi, janganlah kita terjebak dalam pola pikir seolah berlomba untuk menjadi yang paling rajin untuk tampak paling baik. Banyak dari kita mungkin pernah mengalaminya, ketika kita sangat giat melakukan kegiatan rohani tanpa sungguh-sungguh menaruh hati dan mencari Tuhan di dalamnya.

Yang sesungguhnya paling penting adalah bersungguh hati menjalin relasi dengan Allah. Kita dipanggil untuk “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:37). Seiring kita setia membaca Alkitab, berdoa, dan bergereja, mintalah agar Allah membaharui hati kita setiap kali kita melakukan aktivitas tersebut, agar setiap harinya kita semakin mengasihi-Nya.

Miskonsepsi #3
Ini tentang pertumbuhan yang bisa diukur setiap harinya

Kadang kita berpikir kalau pertumbuhan rohani itu proses yang lurus dan progresif, yang artinya kita pasti lebih dewasa hari ini daripada kemarin. Lagipula, jika kita tidak mengalami kemajuan dalam relasi kita dengan Allah, tentunya itu sebuah kemunduran, bukan?

Jika kita sudah memberikan seluruh hati kita untuk mencari-Nya, tapi kita seolah tak mendengar apa pun dari-Nya, atau tak merasa dekat dengan-Nya, apakah itu karena kita melakukan kesalahan?

Kebenarannya adalah, kita semua melewati berbagai musim kehidupan. Bahkan Daud, seorang yang berkenan di hati Allah (Kisah Para Rasul 13:22), melalui masa-masa sukar hingga dia mempertanyakan,

“Berapa lama lagi, TUHAN, Kauupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?” (Mazmur 13:2).

Jika Allah terasa jauh, atau membaca Alkitab terasa hambar, atau kita tak mampu berkata-kata untuk berdoa, itu tidak berarti kita berhenti bertumbuh. Yakobus mendorong kita bahwa pencobaan terhadap iman kita menimbulkan ketekunan, dan kita perlu “biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yakobus 1:4).

Jadi, kendati masa-masa sulit kita alami, marilah kita meneladani Daud, “Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu” (Mazmur 13:6a). Allah yang akan melengkapi kita untuk mencapai tujuan-Nya.

Marilah kita terus mencari-Nya, membangun relasi dengan-Nya, mempercayai-Nya untuk melengkapi kita dengan pengatahuan dan kebaikan, serta dengan setia bertekun meskipun kita tak melihat hasilnya. Kita tahu Allah mengasihi kita, dan Dia tetap bekerja, bahkan saat ini, untuk membawa kita mendekat pada-Nya.