Membutuhkan Penolong

Selasa, 18 Februari 2014

Komik-Strip-WarungSateKamu-20140218-Kopi-Asin
Cerita & Ilustrasi komik strip oleh Heri Kurniawan

Baca: Roma 16:1-16

16:1 Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea,

16:2 supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri.

16:3 Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.

16:4 Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.

16:5 Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.

16:6 Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu.

16:7 Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku.

16:8 Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan.

16:9 Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi.

16:10 Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus.

16:11 Salam kepada Herodion, temanku sebangsa. Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan.

16:12 Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.

16:13 Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu.

16:14 Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka.

16:15 Salam kepada Filologus, dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudus yang bersama-sama dengan mereka.

16:16 Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.

Roh Allah, Penolong yang akan diutus Bapa atas nama-Ku, Dialah yang akan mengajar kalian segalanya. —Yohanes 14:26 BIS

Membutuhkan Penolong

Bagi sejumlah orang, istilah asisten atau penolong mengandung konotasi makna yang lebih rendah. Para asisten di kelas telah menolong para guru profesional dalam memberikan pelajaran. Asisten juga menolong para montir, tukang ledeng, dan pengacara dalam pekerjaan mereka. Karena tidak seterampil para pekerja profesional, para asisten ini mungkin dipandang sebelah mata. Namun kenyataannya, diperlukan keterlibatan setiap orang untuk menyelesaikan tugas-tugas yang ada.

Rasul Paulus memiliki banyak penolong di dalam tugas pelayanannya. Ia menuliskan nama-nama mereka dalam suratnya kepada jemaat di Roma (pasal 16). Secara khusus, ia menyebut nama Febe, seorang yang “telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepada [Paulus]” (ay.2). Priskila dan Akwila telah mempertaruhkan nyawa mereka untuk Paulus (ay.3-4). Paulus juga menyebutkan Maria, “yang telah bekerja keras untuk [jemaat di Roma]” (ay.6).

Menurut 1 Korintus 12:28, menolong atau melayani merupakan salah satu karunia rohani. Paulus memasukkannya dalam daftar karunia Roh Kudus yang diberikan kepada orang percaya dalam tubuh Kristus, yaitu gereja-Nya. Karunia untuk “melayani” sama dibutuhkannya seperti karunia-karunia lain yang ada di daftar tersebut.

Roh Kudus juga disebut “Penolong”. Yesus berkata, “Roh Allah, Penolong . . . akan mengajar kalian segalanya dan mengingatkan kalian akan semua yang sudah Kuberitahukan kepadamu.” (Yoh. 14:26 BIS).

Apa pun karunia yang diberikan Roh Kudus, Sang Penolong, kepada Anda, izinkanlah Dia memakai hidup Anda bagi hormat kemuliaan-Nya. —AMC

Ya Tuhan, terima kasih untuk karunia yang telah
Engkau berikan kepadaku sehingga aku bisa melayani
seluruh tubuh Kristus. Tolonglah aku untuk dengan setia
menggunakan karuniaku bagi kemuliaan-Mu.

Anda adalah bagian penting dari seluruh tubuh Kristus.

Kasih Sejati

Jumat, 14 Februari 2014


Cerita & Ilustrasi komik strip oleh Heri Kurniawan

Baca: Yohanes 15:9-17

15:9 “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.

15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

15:11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh.

15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.

15:13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.

15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.

15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

15:17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. —Yohanes 15:13

Kasih Sejati

Dalam gladi resik upacara pernikahan saudara laki-laki saya, suami saya sempat memotret sang mempelai pria dan mempelai wanita ketika mereka saling berhadapan di depan pendeta. Saat kami melihat foto tersebut di kemudian hari, kami memperhatikan bahwa lampu kilat pada kamera telah menyinari sebuah salib berbahan logam yang terletak di belakang, sehingga salib itu terlihat sebagai sebuah benda yang bercahaya terang di atas kedua mempelai tersebut.

Foto tersebut mengingatkan saya bahwa pernikahan adalah suatu gambaran dari kasih Kristus bagi gereja, seperti yang ditunjukkan- Nya di atas kayu salib. Ketika Alkitab memerintahkan para suami untuk mengasihi istri mereka (Ef. 5:25), Allah membandingkan kasih sayang yang penuh kesetiaan dan tanpa pamrih itu dengan kasih Kristus bagi murid-murid-Nya. Karena Kristus telah mengorbankan nyawa-Nya demi kasih, haruslah kita semua juga saling mengasihi (1Yoh. 4:10-11). Dia mati untuk menggantikan kita, agar dosa kita tidak akan selamanya membuat kita terpisah dari Allah. Dia menerapkan perkataan yang diucapkan-Nya kepada para murid: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13).

Banyak dari kita yang menderita karena telah diabaikan, ditolak, dan dikhianati oleh seseorang. Meskipun kita pernah mengalami semua itu, melalui Kristus kita dapat mengenal dan memahami sifat kasih sejati yang rela berkorban, penuh belas kasih, dan abadi. Hari ini, ingatlah bahwa Anda sungguh dikasihi oleh Allah. Yesuslah yang membuktikan kasih itu dengan jalan memberikan nyawa-Nya. —JBS

Kasih Allah, begitu agung dan menakjubkan,
Begitu dalam dan besar, murni, luhur!
Kasih yang berasal dari hati Yesus—
Yang tetap sama tak lekang oleh waktu. —Blom

Tidak ada yang lebih jelas membuktikan kasih Allah daripada salib Yesus.

Komik: Halte

Ilustrasi oleh Piter Johanes

WSK-Komik-Halte-00-Cover

WSK-Komik-Halte-01

WSK-Komik-Halte-02

WSK-Komik-Halte-03

WSK-Komik-Halte-04

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)

Perintah Yang Penting

Selasa, 4 Februari 2014


Cerita & Ilustrasi komik strip oleh Heri Kurniawan

Baca: Markus 12:28-34

12:28 Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”

12:29 Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

12:32 Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.

12:33 Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

12:34 Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. —Markus 12:30

Perintah Yang Penting

Ketika ditanya oleh seorang ahli Taurat untuk menyebutkan perintah mana yang paling penting dalam hidup, Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk. 12:30). Dalam kata-kata-Nya tersebut, Yesus merangkumkan apa yang paling Allah kehendaki dari diri kita.

Saya bertanya-tanya bagaimana mungkin saya dapat belajar mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi saya. Neal Plantinga menyebut tentang satu perubahan kecil dalam perintah ini sebagaimana tercatat dalam Perjanjian Baru. Kitab Ulangan memerintahkan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita (6:5). Yesus menambahkan kata akal budi. Plantinga menjelaskan, “Kasihilah Allah dengan segala milik Anda dan dengan segenap keberadaan Anda. Segalanya.”

Penjelasan tersebut menolong untuk mengubah cara pandang kita. Ketika belajar mengasihi Allah dengan segenap hidup kita, kita akan memandang kesulitan-kesulitan kita sebagai “penderitaan ringan yang sekarang”—sebagaimana Rasul Paulus menggambarkan pengalaman penderitaannya yang begitu berat. Yang dipikirkannya adalah “kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya” (2Kor. 4:17).

Ketika kita berdoa dan mengasihi Allah dengan segenap jiwa, keraguan dan kesulitan kita memang tidak lenyap, tetapi pengaruhnya pada diri kita meredup. “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita” (1Yoh. 4:19), dan kita mengendurkan desakan kita kepada Allah sembari belajar untuk mempercayai kebaikan-Nya. —PDY

Dahulu dunia andalanku;
Kini Engkau, Tuhan, harapanku.
Inilah doaku: Tambahkan kasihku:
Makin besar kepada-Mu. —Prentiss
(Nyanyikanlah Kidung Baru, No. 141)

Pemberian kita yang paling berharga untuk Allah adalah sesuatu yang takkan pernah dipaksakan-Nya—kasih kita.

Penyesalan Pembeli

Jumat, 31 Januari 2014

Komik-Strip-WarungSateKamu-20140131-Yolo-Man
Cerita & Ilustrasi komik strip oleh Heri Kurniawan

Baca: Kejadian 3:1-8

3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”

3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,

3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”

3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,

3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

3:8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.

Sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran. —Yesaya 61:10

Penyesalan Pembeli

Pernahkah Anda merasa menyesal setelah membeli sesuatu? Saya pernah. Tepat sebelum saya membayar barang tersebut, hati saya merasa begitu senang akan mendapatkan sesuatu yang baru. Namun setelah membelinya, gelombang penyesalan pun datang menerjang. Apakah saya benar-benar membutuhkan benda ini? Haruskah saya mengeluarkan uang sebesar itu?

Dalam Kejadian 3, kita menemukan peristiwa penyesalan pembeli yang terjadi untuk pertama kalinya. Seluruh kisahnya diawali dengan seekor ular yang licik dan promosi penjualannya. Ia membujuk Hawa untuk meragukan firman Allah (ay.1). Kemudian ia memanfaatkan ketidakyakinan Hawa dengan membuatnya meragukan karakter Allah (ay.4-5). Ia menjanjikan kepada Hawa bahwa matanya akan “terbuka” dan ia akan menjadi “seperti Allah” (ay.5).

Hawa pun memakan buah tersebut. Adam juga. Lalu dosa memasuki dunia. Adam dan Hawa tidak mendapatkan semua yang dijanjikan si ular. Mata mereka memang terbuka, tetapi mereka tidak menjadi seperti Allah. Sebaliknya, tindakan pertama mereka adalah lari bersembunyi dari Allah (ay.7-8).

Dosa membawa konsekuensi yang mengerikan. Dosa selalu menjauhkan kita dari hal terbaik yang telah Allah sediakan. Namun oleh belas kasihan dan anugerah-Nya, Allah mengenakan pakaian dari kulit binatang kepada Adam dan Hawa (ay.21). Inilah isyarat tentang apa yang akan dilakukan Yesus Kristus bagi kita di kemudian hari dengan mati di kayu salib untuk menebus kita dari dosa. Darah-Nya tercurah supaya kita dapat mengenakan jubah kebenaran-Nya dan tidak lagi digelayuti oleh rasa penyesalan! —PFC

Maka akan kutetapkan hatiku untuk mendapatkan
Perhiasan pikiran yang memperindah batin:
Pengetahuan dan kebajikan, kebenaran dan kasih,
Semua inilah jubah jiwa yang teristimewa. —Watts

Salib, yang mengungkapkan kebenaran Allah, telah menganugerahkan kebenaran itu bagi umat manusia.

Ke Mana Saja Selama Ini?

Jumat, 24 Januari 2014

Kenapa Baru Sekarang?
Cerita & Ilustrasi komik strip oleh Heri Kurniawan

Baca: Roma 10:11-15

10:11 Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.”

10:12 Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.

10:13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.

10:14 Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?

10:15 Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? —Roma 10:14

Ke Mana Saja Selama Ini?

Seorang misionaris bernama Egerton Ryerson Young pernah melayani suku Salteaux di Kanada pada dekade 1700-an. Sang kepala suku berterima kasih kepada Young yang telah membawa kabar baik tentang Kristus kepada mereka. Ia mengaku baru mendengar kabar itu untuk pertama kali sepanjang hidupnya yang sudah lanjut itu. Karena kepala suku ini tahu bahwa Allah adalah Bapa surgawi bagi Young, ia bertanya, “Apakah itu berarti Dia juga Bapaku?” Sang misionaris menjawab, “Ya,” dan orang banyak yang berkumpul di situ pun bersorak gembira.

Namun, kepala suku itu belum selesai berbicara. “Kalau begitu,” katanya, “aku tak bermaksud kasar, tetapi kelihatannya . . . terlalu lama bagimu untuk . . . memberitahukan hal yang indah itu kepada saudaramu yang tinggal di hutan seperti diriku.” Ucapan kepala suku tersebut tidak pernah terhapus dari benak Young.

Sering kali saya merasa frustrasi dengan lika-liku hidup saya ketika memikirkan orang-orang yang seandainya dapat saya jangkau. Namun Allah mengingatkan saya untuk melihat orang-orang di sekeliling saya, dan saya pun menemukan banyak di antara mereka yang belum pernah mendengar tentang Yesus. Pada saat itulah, saya diingatkan bahwa saya mempunyai sebuah kisah yang perlu dibagikan ke mana pun saya pergi. “Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (Rm. 10:12-13).

Ingatlah, yang kita bagikan bukanlah sembarang kisah, melainkan kisah terindah yang pernah diceritakan pada manusia. —RKK

‘Ku suka menuturkan
Sabda-Nya yang besar;
Dan yang belum percaya,
Supaya mendengar. —Hankey
(Kidung Jemaat, No. 427)

Berbagi kabar baik itu ibarat seorang pengemis memberitahukan pada pengemis lain di mana bisa mendapatkan roti.

Puisi: Makna Doaku

Oleh Tri Nurdiyanso

Makna Doaku

Mungkin tulisan ini adalah hal sederhana,
Mungkin kata yang kupilih pun adalah kata biasa.
Karena aku memang orang biasa,
yang hanya memiliki kata sederhana.
Namun Tuhanku mau mendengarku,
mendengar kata-kata sederhana dari orang biasa ini!
Itulah sebuah anugerah yang indah bagiku,
Itulah sebuah waktu yang anggun bagiku.

Meskipun sejujurnya aku berdoa hanya untuk keinginanku,
Berdoa hanya untuk mengeluarkan isi hatiku.
Namun Tuhan membiarkan itu ada dan terjadi,
Karena Dia ingin menjaga hubungan yang intim.
Hubungan sederhana namun berharga dalam doa!

Hingga waktu pun mengetuk kepalaku,
Membiarkanku sadar untuk mengucapkan kalimat;
“Bukan hasil dari aku berdoa yang terpenting,
Namun hubungan dalam doa yang terpenting!”
Itulah kalimat sederhana yang kuucapkan,
hanya untuk menyuarakan makna doaku.

Tidur Nyenyak

Selasa, 14 Januari 2014

Insomnia

Baca: Mazmur 4

4:1 Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi. Mazmur Daud.

4:2 Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!

4:3 Hai orang-orang, berapa lama lagi kemuliaanku dinodai, berapa lama lagi kamu mencintai yang sia-sia dan mencari kebohongan? Sela

4:4 Ketahuilah, bahwa TUHAN telah memilih bagi-Nya seorang yang dikasihi-Nya; TUHAN mendengarkan, apabila aku berseru kepada-Nya.

4:5 Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam. Sela

4:6 Persembahkanlah korban yang benar dan percayalah kepada TUHAN.

4:7 Banyak orang berkata: “Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?” Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN!

4:8 Engkau telah memberikan sukacita kepadaku, lebih banyak dari pada mereka ketika mereka kelimpahan gandum dan anggur.

4:9 Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.

Engkau telah memberikan sukacita kepadaku. —Mazmur 4:8

Tidur Nyenyak

Apa pun usaha yang kita lakukan— berguling, tengkurap, menepuk-nepuk bantal, memukul-mukul bantal—terkadang kita tetap tidak bisa tidur. Setelah memberikan sejumlah saran yang baik agar seseorang bisa tidur dengan lebih nyenyak, suatu artikel menyimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada “cara yang jitu” untuk tidur.

Ada banyak sebab mengapa kita sulit sekali untuk terlelap, dan banyak di antaranya tidak berdaya untuk kita atasi. Namun terkadang ketidakmampuan kita untuk tidur itu disebabkan karena kita sedang digelayuti pikiran yang gelisah, kekhawatiran, atau perasaan bersalah di dalam hati. Pada saat itulah teladan dari Daud dalam Mazmur 4 bisa menolong kita. Ia berseru kepada Allah, memohon belas kasihan dan meminta Allah mendengarkan doanya (ay.2). Ia juga mengingatkan dirinya sendiri bahwa Tuhan memang mendengarkannya ketika ia berseru kepada-Nya (ay.4). Daud mendorong kita: “Berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam” (ay.5). Dengan memusatkan pikiran kita pada kebaikan, anugerah, dan kasih Allah bagi dunia ciptaan-Nya, orang-orang yang kita kasihi, dan diri kita sendiri, kita akan ditolong untuk mempercayai Tuhan (ay.6).

Tuhan ingin menolong kita dalam menyingkirkan kekhawatiran kita yang hendak mencari-cari sendiri jalan keluar bagi segala masalah yang ada. Tuhan mau kita mempercayai Dia dalam penyelesaian masalah yang kita hadapi. Tuhan dapat “memberikan sukacita” dalam hati kita (ay.8), sehingga “dengan tenteram [kita] mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan [kita] diam dengan aman” (ay.9). —DCE

Berikanlah aku suatu jiwa yang damai, ya Tuhan,
Di tengah angin ribut dan badai yang menerjang,
Agar aku temukan kelegaan dan ketenangan batin,
Damai yang tertanam dalam di jiwaku. —Dawe

Bahkan ketika kita tak dapat tidur, Allah dapat memberi kita kelegaan.

Hidup Yang Tersembunyi

Rabu, 8 Januari 2014

Komik Strip: Sia-Sia

Baca: Kolose 3:12-17

3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus. —Kolose 3:17

Hidup Yang Tersembunyi

Beberapa tahun yang lalu, saya membaca sebuah puisi karya George MacDonald yang berjudul “The Hidden Life” (Hidup yang Tersembunyi). Puisi ini menceritakan tentang seorang cendekiawan berbakat asal Skotlandia yang meninggalkan karir akademisnya yang bergengsi demi menemani ayahnya yang telah lanjut usia dan mengurus peternakan keluarga. Di sana ia mengerjakan apa yang disebut MacDonald sebagai “perbuatan sepele” dan “pekerjaan manusiawi yang sederhana”. Teman-teman sang cendekiawan mengeluhkan bahwa ia sedang menyia-nyiakan bakatnya.

Mungkin Anda juga sedang melayani di suatu tempat yang tersembunyi dan melakukan pekerjaan yang biasa-biasa saja. Orang lain mungkin melihatnya sebagai kesia-siaan. Namun Allah tidak menyia-nyiakan apa pun. Setiap tindakan kasih yang dipersembahkan bagi-Nya diingat dan memberi dampak kekal. Setiap tempat, sekecil apa pun itu, merupakan tempat suci. Kita memberikan pengaruh tidak hanya lewat ucapan dan tindakan mulia. Pengaruh juga dapat berupa pekerjaan manusiawi yang sederhana—lewat kehadiran dan kesediaan kita untuk mendengarkan, memahami kebutuhan, mengasihi, dan mendoakan sesama. Inilah yang membuat pekerjaan sehari-hari menjadi suatu ibadah dan pelayanan.

Rasul Paulus mengingatkan jemaat Kolose: “Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus,” dan “perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah” (Kol. 3:17,23-24). Allah terus memperhatikan dan senang dalam memakai hidup kita. —DHR

Ya Tuhan, kiranya aku rela hidupku tersembunyi dan tak dikenal
saat ini, tetapi siap untuk menghibur mereka yang berbeban berat.
Kiranya Roh-Mu menjamah ucapanku dan menjadikannya sebagai
berkat yang bisa memperkaya dan menyegarkan orang lain.

Kita dapat mencapai banyak hal bagi Kristus dengan melayani-Nya lewat apa pun yang bisa kita kerjakan.