Penghapusan Utang

Rabu, 11 Desember 2019

Penghapusan Utang

Baca: Ulangan 15:1-8

15:1 “Pada akhir tujuh tahun engkau harus mengadakan penghapusan hutang.

15:2 Inilah cara penghapusan itu: setiap orang yang berpiutang harus menghapuskan apa yang dipinjamkannya kepada sesamanya; janganlah ia menagih dari sesamanya atau saudaranya, karena telah dimaklumkan penghapusan hutang demi TUHAN.

15:3 Dari seorang asing boleh kautagih, tetapi piutangmu kepada saudaramu haruslah kauhapuskan.

15:4 Maka tidak akan ada orang miskin di antaramu, sebab sungguh TUHAN akan memberkati engkau di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milik pusaka,

15:5 asal saja engkau mendengarkan baik-baik suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segenap perintah yang kusampaikan kepadamu pada hari ini.

15:6 Apabila TUHAN, Allahmu, memberkati engkau, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, maka engkau akan memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak akan meminta pinjaman; engkau akan menguasai banyak bangsa, tetapi mereka tidak akan menguasai engkau.

15:7 Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu,

15:8 tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan.

Telah dimaklumkan penghapusan hutang demi Tuhan. —Ulangan 15:2

Penghapusan Utang

Pada tahun 2009, Los Angeles County tidak lagi membebankan biaya penahanan anak-anak yang dipenjara kepada keluarganya. Meski tidak lagi dikenakan biaya di masa mendatang, keluarga tahanan tetap harus melunasi biaya yang tertunggak sebelum berlakunya kebijakan baru tersebut. Baru pada tahun 2018, pemerintah wilayah menghapuskan semua tunggakan yang belum terbayar.

Bagi sejumlah keluarga, penghapusan utang itu sangat membantu mereka dalam bertahan hidup. Karena tidak perlu lagi menggadaikan rumah atau menghabiskan gaji mereka untuk menutup utang, kini mereka lebih mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Untuk menjawab pergumulan hidup yang berat seperti itulah Allah menetapkan diadakannya penghapusan utang setiap tujuh tahun sekali (Ul. 15:2). Dia tidak ingin orang terikat selamanya oleh utang.

Karena orang Israel dilarang mengenakan bunga atas pinjaman kepada saudara sebangsanya (Kel. 22:25), motivasi mereka meminjamkan uang kepada sesamanya bukanlah untuk mencari untung, melainkan untuk membantu mereka yang mengalami kesulitan, seperti masalah gagal panen. Segala utang harus dihapuskan setiap tujuh tahun, sehingga taraf kemiskinan di tengah masyarakat pun menurun (Ul. 15:4).

Saat ini, umat Tuhan tidak lagi terikat oleh hukum penghapusan utang tersebut. Namun, adakalanya Allah mendorong kita untuk membebaskan saudara-saudari kita dari utang agar mereka yang dibebani olehnya dapat bangkit dan kembali menjadi anggota masyarakat yang produktif. Dengan menunjukkan belas kasihan dan kemurahan hati, kita menjunjung sifat Allah yang mulai dan memberikan pengharapan kepada orang lain.—KIRSTEN HOLMBERG

WAWASAN
Hukum Musa memberi Israel panduan hidup. Pertama, ada unsur-unsur liturgis yang mengatur bagaimana Israel harus terlibat dalam ibadah kepada Allah, termasuk rancangan kemah pertemuannya dan perabotannya; berbagai prosedur yang berkaitan dengan waktu-waktu perayaan khusus; dan berbagai persoalan tentang kemurnian acara-acara seremonial. Ada juga komponen masyarakatnya, yang berurusan dengan bagaimana bangsa Israel harus berinteraksi satu sama lain sebagai keluarga dan sebagai bangsa perjanjian di bawah satu Allah. Akhirnya, hukum Musa juga memiliki komponen nasional yang menggambarkan bagaimana Israel harus berhubungan dengan bangsa-bangsa di sekeliling mereka setelah tiba di tanah perjanjian. Secara keseluruhan, hukum Musa merupakan panduan hidup yang lengkap bagi umat Allah. —Bill Crowder

Penghapusan “utang” apa yang pernah kamu alami? Siapa yang bisa kamu tolong dengan menghapuskan utang atau kesalahan yang telah diperbuatnya kepadamu?

Tuhan Yesus, terima kasih Engkau mempedulikan beban keuangan kami.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunHosea 5-8; Wahyu 2

Handlettering oleh Gabriel

Berharap kepada Tuhan Saja

Selasa, 10 Desember 2019

Berharap kepada Tuhan Saja

Baca: Markus 5:25-34

5:25 Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan.

5:26 Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk.

5:27 Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.

5:28 Sebab katanya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”

5:29 Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

5:30 Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?”

5:31 Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?”

5:32 Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu.

5:33 Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya.

5:34 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”

Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu! —Markus 5:34

Berharap kepada Tuhan Saja

Sebuah patung karya seniman Doug Merkey dengan judul Ruthless Trust menampilkan sosok manusia perunggu yang berpegangan erat pada salib yang terbuat dari kayu kenari. Ia menulis, “Inilah ungkapan yang sangat sederhana dari sikap yang perlu selalu ada dan pantas dalam hidup ini—keintiman total dan tak terbatas dalam ketergantungan kepada Kristus dan Injil.”

Itulah kepercayaan yang kita saksikan dalam perbuatan dan perkataan seorang wanita yang tidak disebutkan namanya dalam Markus 5:25-34. Selama dua belas tahun, ia telah hidup menderita (ay.25). “Semua kekayaannya sudah habis dipakai untuk membayar dokter-dokter, tetapi tidak ada yang dapat menyembuhkannya, malahan penyakitnya terus bertambah parah” (ay.26 BIS). Akan tetapi, setelah mendengar kabar tentang Yesus, ia berjalan menghampiri-Nya, menyentuh-Nya, dan merasa “bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya” (ay.27-29).

Apakah saat ini kamu merasa kehabisan akal dan daya? Mereka yang gelisah, hilang harapan, hilang arah, dan tertekan tidak perlu berputus asa. Sampai sekarang pun, Tuhan Yesus masih menanggapi orang-orang yang datang kepada-Nya dengan penuh iman—seperti iman yang diperlihatkan oleh wanita yang sakit pendarahan tadi dan juga digambarkan oleh patung karya Merkey. Iman seperti itu pula yang terungkap dalam lirik pujian karya Charles Wesley: “Tanganku menadah Tuhan mengharap kasih-Mu.” Mungkin imanmu tidak seperti itu? Mintalah kepada Allah agar Dia menolong kamu mempercayai-Nya. Berdoalah seperti lirik pujian dari Wesley berikut ini: “Kuberharap dengan sungguh pada jasa Tuhan, anug’rahkanlah padaku kuasa-Mu ya Tuhan” (Nyanyian Rohani Methodist No. 96).—Arthur Jackson

WAWASAN
Perempuan dalam Markus 5:25-34 “yang sudah 12 tahun lamanya menderita pendarahan” mengambil risiko dengan mengulurkan tangannya untuk menjamah Yesus. Menurut hukum Yahudi, pendarahan menjadikan seseorang tidak tahir. Kemungkinan besar perempuan ini hidup sebagai orang buangan dari masyarakat karena mereka yang berhubungan dengannya juga akan menjadi tidak tahir. Kebenaran tentang iman besar perempuan ini diperkuat ketika kita menyadari bahwa banyak yang melihat tindakannya menjamah Yesus akan menjadikan Yesus tidak tahir dan bukannya Yesus menjadikan dia tahir.
Namun begitu perempuan ini mengakui menjamah Yesus, Yesus mengatakan kepada wanita itu di depan khalayak, “imanmu telah menyelamatkan engkau” (ay.33-34). Kata yang diterjermahkan “menyelamatkan” (sozo)mengindikasikan kesembuhan jasmani sekaligus pemulihan hubungan dengan Allah. Iman perempuan ini menyembuhkannya baik secara jasmani maupun secara kekal. —Julie Schwab

Pernahkah kamu berputus asa dan hanya dapat bergantung kepada Kristus? Bagaimana saat itu Allah menjawab kebutuhanmu?

Bapa, terima kasih atas kuasa-Mu yang menyelamatkan aku. Tolonglah aku untuk percaya bahwa Engkau sanggup memenuhi semua kebutuhanku.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunHosea 1-4; Wahyu 1

Handlettering oleh Claudia Rachel

Pelita Penuntun Kami

Senin, 9 Desember 2019

Pelita Penuntun Kami

Baca: 2 Samuel 22:26-30

22:26 Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela,

22:27 terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.

22:28 Bangsa yang tertindas Engkau selamatkan, tetapi mata-Mu melawan orang-orang yang tinggi hati, supaya mereka Kaurendahkan.

22:29 Karena Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku.

22:30 Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dengan Allahku aku berani melompati tembok.

Karena Engkaulah pelitaku, ya Tuhan, dan Tuhan menyinari kegelapanku. —2 Samuel 22:29

Pelita Penuntun Kami

Di sebuah museum, saya cukup lama memperhatikan lampu-lampu kuno yang dipamerkan. Keterangan menyebutkan bahwa lampu-lampu itu berasal dari Israel. Wadah-wadah oval yang berukir dan berbahan tanah liat itu memiliki 2 bukaan—satu untuk memasukkan minyak, dan satu lagi untuk sumbu. Meskipun bangsa Israel biasa menaruhnya di ceruk dinding, tetapi lampu-lampu itu cukup kecil untuk bisa digenggam dan dibawa-bawa.

Mungkin pelita kecil seperti itulah yang mengilhami Raja Daud untuk menulis syair pujian yang berkata, “Karena Engkaulah pelitaku, ya Tuhan, dan Tuhan menyinari kegelapanku” (2Sam. 22:29). Daud menyanyikan kata-kata ini setelah Allah memberinya kemenangan dalam pertempuran. Musuh-musuh, baik dari dalam atau pun dari luar bangsanya, telah membuntutinya ke mana-mana dengan maksud untuk membunuhnya. Daud tidak menjadi ciut karena ia dekat kepada Allah. Ia pun menghadapi musuh dengan keyakinan yang datang dari hadirat Allah. Dengan pertolongan Allah, Daud bisa melihat segala sesuatu dengan jelas sehingga ia mampu mengambil keputusan yang benar bagi dirinya, pasukannya, dan juga bangsanya.

Kegelapan yang dimaksud oleh Daud dalam pujiannya mungkin meliputi ketakutan terhadap kelemahan, kekalahan, dan kematian. Banyak dari kita yang hidup dengan kekhawatiran yang sama, sehingga kita menjadi gelisah dan sangat tertekan. Di saat kegelapan datang menghimpit, kita dapat mengalami damai sejahtera karena kita tahu Allah menyertai kita juga. Api Roh Kudus senantiasa hidup dalam diri kita untuk menerangi jalan kita, sampai kelak kita berhadapan muka langsung dengan Tuhan Yesus.—Jennifer Benson Schuldt

WAWASAN
Bacaan hari ini adalah bagian dari nyanyian lebih panjang yang Daud tulis “pada waktu TUHAN telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul” (2 Samuel 22:1). Nyanyian ini adalah perayaan penuh sukacita dari seseorang yang telah “dilepaskan” dari pelarian dan persembunyian selama bertahun-tahun—baik dari musuh-musuh di negara-negara lain maupun dari bangsanya sendiri. Sementara kita tidak tahu persis berapa lama Daud hidup dalam pelarian, kita tahu bahwa ia sempat hidup bersama orang Filistin selama enam belas bulan (1 Samuel 27:7). Sungguh menakjubkan jika kita ingat klaim awalnya terhadap ketenaran adalah lewat membunuh jagoan mereka (pasal 17). —J.R. Hudberg

Mengapa Allah bisa dipercaya untuk menolong kamu mengatasi ketakutan yang kamu alami? Apa yang bisa kamu lakukan untuk mencari tuntunan Allah bagi hidupmu?

Ya Tuhan, ketika aku takut, yakinkanlah aku akan penyertaan-Mu. Tolonglah aku mengingat bahwa Engkau telah mengalahkan kuasa kegelapan melalui kematian dan kebangkitan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunDaniel 11-12; Yudas

Handlettering oleh Febronia

Sikap Penuh Syukur

Minggu, 8 Desember 2019

Sikap Penuh Syukur

Baca: Kolose 3:12-25

3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.

3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

3:18 Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan.

3:19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

3:20 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.

3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.

3:22 Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.

3:23 Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

3:24 Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

3:25 Barangsiapa berbuat kesalahan, ia akan menanggung kesalahannya itu, karena Tuhan tidak memandang orang.

Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. —Kolose 3:15

Sikap Penuh Syukur

Di negara bagian tempat saya tinggal, adakalanya musim dingin berlangsung sangat ekstrem, dengan suhu di bawah nol dan salju yang turun terus-menerus. Pada suatu hari yang sangat dingin, ketika saya sedang menyekop salju untuk kesekian kalinya hari itu, tukang pos kami mampir dan menanyakan kabar saya. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak menyukai musim dingin dan merasa jenuh menghadapi salju di mana-mana. Lalu saya berkomentar bahwa pekerjaan tukang pos pastilah sangat berat dalam kondisi cuaca ekstrem seperti ini. Ia menjawab, “Begitulah, tetapi setidaknya saya punya pekerjaan. Banyak orang tidak punya. Saya bersyukur bisa bekerja.”

Harus diakui, saya agak tertegur melihat sikapnya yang penuh syukur. Betapa mudahnya kita mengabaikan segala sesuatu yang sepatutnya disyukuri ketika situasi hidup terasa kurang menyenangkan.

Rasul Paulus mengatakan kepada para pengikut Kristus di Kolose: “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah” (Kol. 3:15). Ia menulis kepada jemaat di Tesalonika: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes. 5:18).

Bahkan di tengah pergumulan dan penderitaan, kita dapat mengalami damai sejahtera Allah dan mengizinkannya menguasai hati kita. Lewat damai sejahtera itu, kita akan diingatkan kembali kepada segala sesuatu yang telah diberikan kepada kita di dalam Kristus. Lewat hal itu, kita bisa benar-benar bersyukur.—Bill Crowder

WAWASAN
Kebajikan-kebajikan dan kelaliman-kelaliman yang disebut dalam Kolose 3:5-17 memberi ilustrasi dramatis yang kontras antara kehidupan yang dijalani dengan kekuatan sendiri dengan kehidupan yang dijalani dengan tuntunan Roh Kristus. Orang yang percaya kepada Yesus tidak mengalami transformasi rohani dengan “berusaha sendiri mati-matian” melainkan dengan menanggalkan identitas lama mereka dan menukarnya dengan “manusia baru” (ay.10) yang telah mati dan bangkit lagi bersama Kristus (ay.1-3). —Monica Brands

Hal apa yang perlu berhenti kamu keluhkan? Apa yang perlu kamu syukuri kepada Allah hari ini?

Ya Allah, betapa seringnya aku mengeluh tentang hal-hal yang membuatku kurang nyaman. Tolonglah aku agar tidak melupakan kebaikan-Mu. Berikanlah aku hati yang penuh syukur.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunDaniel 8-10; 3 Yohanes

Handlettering oleh Tora Tobing

Jangan Lupakan Pemberinya

Sabtu, 7 Desember 2019

Jangan Lupakan Pemberinya

Baca: Ulangan 6:4-12

6:4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!

6:5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.

6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,

6:7 haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

6:8 Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu,

6:9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.

6:10 Maka apabila TUHAN, Allahmu, telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu—kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan;

6:11 rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebun-kebun anggur dan kebun-kebun zaitun, yang tidak kautanami—dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang,

6:12 maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan.

Berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan Tuhan. —Ulangan 6:12

Jangan Lupakan Pemberinya

Saat itu Natal sudah dekat dan sang ibu merasa anak-anaknya sulit mengucap syukur. Ia tahu betapa mudahnya perasaan seperti itu menyelinap, tetapi ia juga ingin memberikan pelajaran berharga bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, ia mengitari rumahnya dan memasang pita-pita merah pada saklar lampu, ruang makan, pintu kulkas, mesin cuci, mesin pengering, dan keran air. Pada setiap pita, ia menuliskan catatan: “Kita sering lupa kepada berkat-berkat dari Allah, maka aku memasang pita ini. Allah sudah begitu baik kepada keluarga kita. Jangan kita lupa dari mana semua berkat itu datang.”

Dalam Ulangan pasal 6, kita melihat bahwa bagi masa depannya bangsa Israel harus menaklukkan tempat-tempat yang sudah terbangun. Mereka akan menempati kota-kota yang besar dan baik yang tidak mereka dirikan (ay.10), tinggal di rumah-rumah yang dipenuhi barang-barang baik yang tidak mereka isi, mendapat manfaat dari banyak sumur, kebun anggur, serta kebun zaitun yang tidak mereka gali atau tanami (ay.11). Semua berkat itu datang dari satu sumber—“Tuhan, Allahmu” (ay.10). Ketika Allah dengan penuh kasih sudah menyediakan semua itu dan banyak hal lainnya, Musa ingin memperingatkan bangsa Israel agar tidak melupakan-Nya (ay.12).

Adakalanya kita terlena dan mudah lupa. Namun, janganlah kita mengabaikan kebaikan Allah, karena Dialah sumber semua berkat yang kita nikmati.—John Blase

WAWASAN
Orang Yahudi Ortodoks menafsirkan perintah dari Ulangan 6:8 secara harfiah. Lelaki Yahudi yang taat akan mengikatkan wadah-wadah kulit yang dikenal sebagai tefillin (bahasa Yunani, yang berarti kotak kulit berisikan nas Ibrani) pada lengan atau tangan kirinya dan pada dahinya. Tefillin memuat bagian dari ayat Kitab Suci yang dikenal sebagai Shema (Ulangan 6:4-9). Dalam Markus 12:29-31, Yesus mengutip dari Shema dan Imamat 19:18 ketika Ia mengatakan “tidak ada hukum lain yang lebih utama” daripada “mengasihi Tuhan Allahmu… [dan] mengasihi sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Tefillin biasanya mencakup ayat-ayat Kitab Suci dari Keluaran 13:1-16 dan Ulangan 11:13-21. Bagian dari kitab Keluaran mengacu kepada Paskah yang pertama ketika Allah mengatakan, “Hal itu bagimu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi peringatan di dahimu, supaya hukum TUHAN ada di bibirmu” (Keluaran 13:9). Akan datang saatnya ketika mereka yang menolak Allah harus memiliki tanda entah pada tangan atau dahi mereka (Wahyu 13:16; 14:9). Iblis senang memalsukan cara-cara Allah. —Tim Gustafson

Sebutkan lima berkat yang kamu alami dalam kehidupan ini. Mengapa kamu bersyukur atas berkat-berkat tersebut? Bagaimana caramu berterima kasih kepada Allah atas semua berkat-Nya hari ini?

Bapa yang Pengasih, Engkaulah sumber setiap berkat dalam hidup kami. Ampunilah kami yang sering sombong dan menganggap berkat-berkat itu berasal dari kekuatan kami sendiri. Terima kasih atas semua pemberian-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunDaniel 5-7; 2 Yohanes

Handlettering oleh Naomi Prajogo Djuanda

Hadiah dari Atas

Jumat, 6 Desember 2019

Hadiah dari Atas

Baca: Matius 1:18-25

1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.

1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.

1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.

1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

1:22 Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi:

1:23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” —yang berarti: Allah menyertai kita.

1:24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,

1:25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.

Anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel. —Matius 1:23

Hadiah dari Atas

Konon, pada zaman dahulu, seorang pria bernama Nicholas (lahir tahun 270 m), mendengar tentang seorang ayah yang sangat miskin. Saking miskinnya, ia tidak bisa memberi makan ketiga anak perempuannya, apalagi menyisihkan dana untuk pernikahan mereka di masa mendatang. Dalam upayanya membantu sang ayah, tetapi tanpa ingin diketahui oleh siapa pun, Nicholas melempar sekantong emas melalui jendela yang terbuka, dan kantong itu mendarat di dalam kaus kaki atau sepatu yang sedang dikeringkan di depan perapian. Pria itu dikenal sebagai Santo Nicholas, yang kemudian menjadi inspirasi bagi tokoh Sinterklas.

Ketika saya mendengar cerita tentang hadiah yang datang dari atas itu, saya terpikir tentang Allah Bapa, yang karena kasih dan belas kasihan-Nya mengirimkan hadiah terbesar, yaitu Anak-Nya sendiri, melalui sebuah kelahiran yang ajaib. Menurut Injil Matius, Yesus menggenapi nubuat Perjanjian Lama yang mengatakan bahwa seorang anak dara akan mengandung dan melahirkan anak laki-laki yang dinamai Imanuel, yang berarti “Allah menyertai kita” (1:23).

Hadiah dari Nicholas sangatlah indah, tetapi Yesus yang diberikan dari surga itu jauh lebih menakjubkan. Dia meninggalkan surga untuk menjadi manusia, mati dan bangkit kembali, dan Dialah Allah yang tinggal bersama kita. Dia membawa penghiburan saat kita sedih dan terluka; menyemangati saat kita putus asa; menyingkapkan kebenaran saat kita kehilangan arah dan tersesat.—Amy Boucher Pye

WAWASAN
Nas hari ini memperkenalkan kita kepada Yusuf, seorang tukang kayu di Nazaret sekaligus ayah tiri Yesus. Yusuf tidak banyak disinggung dalam Kitab Suci dan tidak pernah menjadi orang yang berbicara; namun kehidupannya berbicara banyak tentang kesetiaannya kepada Allah. Ia memperhatikan hukum dan ingin bertindak taat (Matius 1:19), namun ia menyeimbangkan kepentingan tersebut dengan belas kasih yang tulus terhadap Maria. Fokusnya pada ketaatan juga diseimbangkan dengan kepercayaan bahwa pesan yang telah ia terima dari malaikat adalah dari Allah—memberinya kekuatan untuk taat (ay.22-25). —Bill Crowder

Bagaimana kamu dapat meneruskan anugerah Yesus kepada sesamamu hari ini? Bagaimana kehadiran-Nya memimpinmu untuk rela berbagi waktu, hikmat, dan kasih kepada orang lain?

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau sudah datang dari Bapa untuk lahir dalam keadaan yang sederhana. Kiranya aku tidak pernah menyia-nyiakan kehadiran-Mu dalam hidupku.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunDaniel 3-4; 1 Yohanes 5

Handlettering oleh Caroline

Kebaikan yang Disengaja

Kamis, 5 Desember 2019

Kebaikan yang Disengaja

Baca: 2 Samuel 9:3-11

9:3 Kemudian berkatalah raja: “Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah.” Lalu berkatalah Ziba kepada raja: “Masih ada seorang anak laki-laki Yonatan, yang cacat kakinya.”

9:4 Tanya raja kepadanya: “Di manakah ia?” Jawab Ziba kepada raja: “Dia ada di rumah Makhir bin Amiel, di Lodebar.”

9:5 Sesudah itu raja Daud menyuruh mengambil dia dari rumah Makhir bin Amiel, dari Lodebar.

9:6 Dan Mefiboset bin Yonatan bin Saul masuk menghadap Daud, ia sujud dan menyembah. Kata Daud: “Mefiboset!” Jawabnya: “Inilah hamba tuanku.”

9:7 Kemudian berkatalah Daud kepadanya: “Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.”

9:8 Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata: “Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?”

9:9 Lalu raja memanggil Ziba, hamba Saul itu, dan berkata kepadanya: “Segala sesuatu yang adalah milik Saul dan milik seluruh keluarganya kuberikan kepada cucu tuanmu itu.

9:10 Engkau harus mengerjakan tanah baginya, engkau, anak-anakmu dan hamba-hambamu, dan harus membawa masuk tuaiannya, supaya cucu tuanmu itu ada makanannya. Mefiboset, cucu tuanmu itu, akan tetap makan sehidangan dengan aku.” Ziba mempunyai lima belas orang anak laki-laki dan dua puluh orang hamba.

9:11 Berkatalah Ziba kepada raja: “Hambamu ini akan melakukan tepat seperti yang diperintahkan tuanku raja kepadanya.” Dan Mefiboset makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja.

Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah. —2 Samuel 9:3

Kebaikan yang Disengaja

Jessica, seorang ibu muda yang naik pesawat dengan anak-anaknya, mengalami kesulitan untuk menenangkan anak perempuannya yang berumur tiga tahun yang tiba-tiba menangis sambil menendang-nendang. Masalahnya bertambah ketika bayi laki-lakinya yang berusia empat bulan kelaparan dan mulai merengek.

Seorang penumpang yang duduk di sebelahnya segera menawarkan diri untuk menggendong bayinya sementara Jessica memasangkan sabuk pengaman untuk putrinya. Kemudian si penumpang yang mengingat kembali masa-masa baru menjadi ayah itu mengajak anak perempuan itu mewarnai bersama sementara Jessica memberi makan bayinya. Setelah transit dan berganti pesawat, penumpang itu kembali menawarkan bantuannya bila dibutuhkan.

Jessica mengenang, “Saya takjub melihat bagaimana tangan Tuhan bekerja dalam hal ini. [Kami] bisa didudukkan di mana saja, tetapi kami justru duduk di sebelah orang paling baik hati yang pernah saya temui.”

Dalam 2 Samuel 9, kita membaca contoh dari perbuatan yang saya sebut sebagai kebaikan yang disengaja. Setelah Raja Saul dan putranya Yonatan dibunuh, ada yang mengira Daud akan menyingkirkan orang-orang yang berpotensi merebut takhtanya. Namun sebaliknya, ia bertanya, “Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya kasih yang dari Allah” (ay.3). Mefiboset, putra Yonatan, kemudian dibawa kepada Daud. Daud mengembalikan warisan Mefiboset dan mengundangnya makan sehidangan sejak saat itu, layaknya salah seorang anak raja (ay.11).

Sebagai penerima kebaikan Allah yang begitu limpah ruah, kiranya kita mencari kesempatan untuk sengaja berbuat baik kepada sesama kita (Gal. 6:10).—Cindy Hess Kasper

WAWASAN
Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam 2 Samuel 9 berakar dalam hubungan perjanjian yang Daud adakan dengan Yonatan, anak Saul raja Israel yang pertama. Mengetahui bahwa Daud ditetapkan menjadi raja, Yonatan meminta komitmen Daud untuk memperlihatkan “kemurahan” kepada keturunannya (1 Samuel 20:14-17). Mefiboset, yang lumpuh karena kecelakaan ketika ia baru berusia lima tahun (2 Samuel 4:4), adalah orang yang merasakan hasil perjanjian yang penuh kemurahan tersebut. —Arthur Jackson

Kepada siapa kamu dapat menunjukkan kebaikan Allah? Perbuatan baik apa yang dapat kamu tunjukkan kepada seseorang yang sedang terluka atau kecewa?

Bapa di surga, terima kasih atas kebaikan yang telah Engkau tunjukkan kepadaku. Tolonglah aku mencurahkan kebaikan itu kepada sesamaku.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunDaniel 1-2; 1 Yohanes 4

Handlettering oleh Dinda Sopamena

Bebas dari Tuduhan

Rabu, 4 Desember 2019

Bebas dari Tuduhan

Baca: 1 Yohanes 3:19-24

3:19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,

3:20 sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar dari pada hati kita serta mengetahui segala sesuatu.

3:21 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah,

3:22 dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.

3:23 Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.

3:24 Barangsiapa menuruti segala perintah-Nya, ia diam di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dan demikianlah kita ketahui, bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.

Jika kita dituduh oleh [hati kita], Allah adalah lebih besar dari pada hati kita. —1 Yohanes 3:20

Bebas dari Tuduhan

Sepasang suami-istri sedang mengendarai karavan melintasi kawasan utara California yang kering ketika tiba-tiba bannya meletus dan terdengar bunyi logam bergesekan dengan aspal. Percikan api dari gesekan itu menyulut terjadinya kebakaran hutan Carr pada tahun 2018 yang menghanguskan wilayah seluas 93.000 hektar, menghancurkan lebih dari 1.000 rumah, dan menewaskan beberapa jiwa.

Ketika mereka yang selamat mendengar pasangan tadi dilanda kesedihan dan perasaan bersalah, mereka pun membuat halaman Facebook untuk menunjukkan “kasih dan mengulurkan kebaikan . . . agar menghalau rasa malu dan putus asa” yang melingkupi mereka. Seorang wanita menulis: ”Saya memang kehilangan rumah, tetapi saya ingin kamu tahu bahwa kami tidak menyalahkanmu, begitu juga keluarga-keluarga lain. . . . Kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Saya berharap pesan-pesan kami dapat meringankan bebanmu. Kita pasti bisa melewatinya bersama-sama.”

Tuduhan dan ketakutan atas perbuatan yang rasanya tidak termaafkan dapat menggerogoti jiwa manusia. Syukurlah, Alkitab mengatakan bahwa “jika kita dituduh oleh [hati kita], Allah adalah lebih besar dari pada hati kita” (1Yoh 3:20). Apa pun aib kita, Allah lebih besar daripada semua itu. Yesus memanggil kita untuk dipulihkan dengan bertobat (apabila diperlukan) dan melepaskan rasa malu yang menggerogoti hati kita. Kemudian, lewat penebusan-Nya, kita ”boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah” (ay.19).

Apa pun penyesalan kita atas hal-hal yang pernah kita lakukan, Allah memanggil kita mendekat kepada-Nya. Yesus tersenyum kepada kita seraya berkata, “Aku telah membebaskan hatimu.”—Winn Collier

WAWASAN
Surat Yohanes yang pertama dimulai dengan cara yang serupa dengan awal Injil Yohanes (1:1-4). Dalam surat maupun Injilnya, Yohanes mencerminkan keheranan seseorang yang telah melihat Firman Allah yang kekal dengan matanya sendiri (Yohanes 1:1-3; 1 Yohanes 1:1-4). Dalam kedua kitab itu ia mengembangkan tema tentang syarat untuk hidup di dalam hadirat Dia yang adalah terang, kehidupan, dan kasih. Namun ada juga beberapa perbedaan penting. Injil Yohanes fokus pada cara-cara Yesus menyatakan diri-Nya kepada pria wanita yang takkan menyangka bahwa kehidupan, terang, dan kasih Allah bisa dinyatakan dari salib seorang yang terhukum. Di sisi lain, surat Yohanes yang pertama, berfungsi sebagai himbauan kepada mereka yang sudah mengetahui kisah Yesus namun berada dalam bahaya melupakan apa artinya tidak mengasihi Allah yang seperti itu dan tidak saling mengasihi sesama manusia. —Mart DeHaan

Pernahkah kamu merasa malu atau tertuduh oleh perasaan bersalah? Apa artinya bagimu saat mengetahui bahwa Yesus telah membebaskan hatimu?

Ya Allah, aku sangat menyesal. Andai saja aku bisa menghapus situasi menyakitkan ini dan mengulang kembali semuanya. Namun, aku berterima kasih, Engkau memberiku anugerah untuk belajar dan melangkah maju.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunYehezkiel 47-48; 1 Yohanes 3

Handlettering oleh Diana Anatasia

Amplop yang Hilang

Selasa, 3 Desember 2019

Amplop yang Hilang

Baca: Matius 6:19-21

6:19 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya.

6:20 Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. —Matius 6:20

Amplop yang Hilang

Dalam perjalanan pulang setelah mengunjungi kerabat di negara bagian lain, saya menemukan selembar amplop kotor dan tebal tergeletak di tanah dekat suatu pom bensin. Saya pun mengambil dan melihat isinya. Saya sangat terkejut karena amplop tersebut berisi uang seratus dolar.

Seseorang telah kehilangan uang seratus dolar dan mungkin saja ia sedang panik mencarinya. Saya memberikan nomor telepon kami kepada petugas di pom bensin tersebut, karena mungkin saja ada orang yang datang mencari amplop itu. Namun, tidak ada yang menghubungi saya.

Seseorang pernah memiliki uang tersebut tetapi kemudian uang itu hilang. Hal itu umum terjadi pada harta duniawi. Harta bisa hilang, dicuri, atau dihambur-hamburkan. Harta bisa hilang karena investasi yang gagal atau kandas di pasar moneter yang tidak bisa kita kendalikan. Namun, tidak demikian dengan harta surgawi yang kita punya di dalam Yesus, yakni hubungan yang dipulihkan dengan Allah dan janji hidup kekal. Harta surgawi tidak mungkin tercecer di pom bensin atau hilang di mana pun.

Itulah sebabnya Kristus menasihati kita untuk mengumpulkan “harta di sorga” (Mat. 6:20). Kita melakukannya ketika kita menjadi “kaya dalam kebajikan” (1Tim. 6:18) atau “kaya dalam iman” (Yak. 2:5) lewat kerelaan membantu sesama dan membagikan kasih Yesus kepada mereka. Dengan pimpinan dan kekuatan Allah, kiranya kita terus mengumpulkan harta surgawi sambil menantikan keabadian bersama-Nya kelak.—Dave Branon

WAWASAN
Matius (atau Lewi, anak Alfeus; Markus 2:14) – pemungut cukai yang kemudian menjadi murid Yesus–diyakini sebagai penulis Injil Matius. Matius 6 adalah bagian dari Khotbah Kristus di Bukit (Matius 5–7), yang disampaikan di tepi bukit dekat Kapernaum. Khotbah ini dimulai dengan Yesus berbicara tentang kehidupan rohani orang yang percaya kepada Kristus (ay.1-18) dan beralih ke peringatan-peringatan terhadap kecintaan akan harta benda, kecemasan, dan sikap menghakimi (ay.19; 7:5). Peringatan terhadap kecintaan akan uang dan harta benda dalam bacaan hari ini adalah tema umum dalam Alkitab. Beberapa contoh adalah catatan tentang Akhan (Yosua 7:1), sang pemuda kaya (Matius 19:16-22), dan Ananias dan Safira (Kisah Para Rasul 5:1-11). —Alyson Kieda

Perbuatan apa yang bisa kamu lakukan minggu ini yang mempunyai dampak kekal? Bagaimana kamu dapat menggunakan harta duniawi kamu dengan lebih bijak sebagai investasi demi memperoleh harta surgawi?

Ya Allah, terima kasih untuk segala sesuatu yang telah Engkau berikan kepada kami di dunia ini—uang, rumah, dan masih banyak lagi. Tolonglah kami agar tidak terlalu erat memegang harta duniawi tersebut, sembari kami terus berupaya mengumpulkan harta surgawi yang kekal.

Bacaan Alkitab Setahun: Bacaan alkitab setahunYehezkiel 45-46; 1 Yohanes 2

Handlettering oleh Gerardine Eunike