Cerita Selengkapnya

Kamis, 12 Januari 2023

Baca: Wahyu 5:1-10 

5:1 Maka aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab, yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai.

5:2 Dan aku melihat seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, katanya: “Siapakah yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?”

5:3 Tetapi tidak ada seorangpun yang di sorga atau yang di bumi atau yang di bawah bumi, yang dapat membuka gulungan kitab itu atau yang dapat melihat sebelah dalamnya.

5:4 Maka menangislah aku dengan amat sedihnya, karena tidak ada seorangpun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu ataupun melihat sebelah dalamnya.

5:5 Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku: “Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.”

5:6 Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.

5:7 Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu.

5:8 Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.

5:9 Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa.

5:10 Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.”

Jangan engkau menangis! Sesungguhnya, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang. [ ] —Wahyu 5:5

Selama lebih dari enam dekade, suara jurnalis berita Paul Harvey begitu akrab di telinga pendengar radio di Amerika. Enam hari seminggu, ia biasa menyapa mereka dengan gaya khasnya, “Anda sudah tahu beritanya, sebentar lagi kamu akan mendengar cerita selengkapnya.” Setelah iklan singkat, ia akan membacakan suatu kisah yang jarang didengar mengenai seorang tokoh terkenal. Biasanya Harvey baru akan menyebutkan nama tokoh tersebut atau beberapa elemen kunci lainnya pada akhir segmen. Para pendengar yang terhibur akan mendengar penutup yang diucapkannya dengan jeda dramatis dan deskripsi khas: “Sekarang kamu tahu . . . cerita selengkapnya.”

Pandangan Rasul Yohanes tentang hal-hal dari masa lalu dan masa depan juga menyingkapkan janji serupa. Namun, kisah sang rasul dimulai dengan kesedihan. Tak henti-hentinya ia menangis saat melihat bahwa tidak ada makhluk, baik di surga maupun di bumi, yang dapat menjelaskan ke mana sejarah akan mengarah (Why. 4:1; 5:1-4). Kemudian, ia mendengar suara yang menawarkan pengharapan dalam sosok “Singa dari suku Yehuda” (ay.5). Akan tetapi, Yohanes tidak melihat singa yang menang, melainkan seekor Anak Domba yang sepertinya telah disembelih (ay.5-6). Pemandangan tak terduga itu membangkitkan perayaan yang meriah di sekeliling takhta Allah. Tiga nyanyian dilantunkan oleh dua puluh empat tua-tua bersama malaikat yang tak terhitung banyaknya dan kemudian semua makhluk di surga dan di bumi (ay.8-14).

Siapa sangka, Juruselamat yang disalibkan itu akan menjadi pengharapan bagi semua makhluk, membawa kemuliaan bagi Allah kita, dan melengkapi cerita hidup kita. —Mart DeHaan

WAWASAN
Dalam perikop hari ini dari penglihatan Yohanes yang tercatat di Wahyu (5:1-10), kita mendapat gambaran tentang cara-cara Allah yang tidak terduga. Awalnya Yesus digambarkan sebagai “singa dari suku Yehuda” (ay.5), tetapi saat Yohanes melihat ke atas, ia tidak melihat sosok singa yang megah, melainkan Anak Domba yang telah tersembelih (ay.6). Kemenangan Allah diperoleh bukan oleh sang singa yang perkasa, melainkan oleh domba sederhana yang tampaknya telah kalah.

Kedua gambaran tadi, singa dan domba, digunakan pada bagian lain Kitab Suci untuk berbicara mengenai Mesias yang diutus Allah dan karya yang akan dikerjakan-Nya. Menjelang kematiannya, Yakub mengucapkan berkat kepada setiap anaknya, dan menyatakan kepada putranya, Yehuda, bahwa ia “seperti anak singa” yang akan melahirkan seorang penguasa (Kejadian 49:9). Yohanes Pembaptis menyebut Yesus “Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29). —J.R. Hudberg

Cerita Selengkapnya

Ketakutan dan kesedihan apa yang membuat kamu membutuhkan pengharapan dari Yesus? Bagaimana membayangkan Yesus, baik sebagai Singa yang menang maupun Anak Domba yang disembelih, dapat mendorong kamu untuk menyembah Dia?

Allah Mahakuasa, Engkau sungguh layak menerima segala kuasa, pujian, dan kasih.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 29-30; Matius 9:1-17

Terlepas dari Gua Singa

Rabu, 11 Januari 2023

Baca: Daniel 6:11-24

6:11 (6-12) Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya.

6:12 (6-13) Kemudian mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: “Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?” Jawab raja: “Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali.”

6:13 (6-14) Lalu kata mereka kepada raja: “Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya.”

6:14 (6-15) Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya.

6:15 (6-16) Lalu bergegas-gegaslah orang-orang itu menghadap raja serta berkata kepadanya: “Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah!”

6:16 (6-17) Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: “Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!”

6:17 (6-18) Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa.

6:18 (6-19) Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur.

6:19 (6-20) Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa;

6:20 (6-21) dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: “Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?”

6:21 (6-22) Lalu kata Daniel kepada raja: “Ya raja, kekallah hidupmu!

6:22 (6-23) Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan.”

6:23 (6-24) Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya.

6:24 (6-25) Raja memberi perintah, lalu diambillah orang-orang yang telah menuduh Daniel dan mereka dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka.

Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu. [ ] —Daniel 6:23

Ketika Taher dan istrinya, Donya, percaya kepada Tuhan Yesus, mereka menyadari ancaman penganiayaan yang bisa mereka terima di negara asal mereka. Benar saja, suatu hari mata Taher ditutup, tangannya diborgol, dan ia dipenjara dengan tuduhan murtad. Sebelum diseret ke pengadilan, Taher dan Donya sepakat tidak akan mengkhianati Yesus. 

Apa yang kemudian terjadi saat vonis dijatuhkan membuat Taher terheran-heran. Hakim berkata, “Entah mengapa, tetapi saya ingin membebaskan kamu dari mulut ikan dan singa.” Saat itu juga, Taher “sadar Allah sedang bertindak”; karena tidak terjelaskan bagaimana sang hakim dapat menyebut dua istilah yang diambil dari Alkitab tadi (lihat Yun. 2, Dan. 6). Taher pun dibebaskan dari penjara, dan ia beserta keluarganya dapat mengungsi ke tempat lain. 

Pembebasan Taher yang mengejutkan itu mengingatkan kita pada kisah Daniel. Sebagai seorang pemimpin yang andal, Daniel hendak dipromosikan oleh raja, dan itu membuat para koleganya iri (Dan. 6:4-6). Mereka pun berupaya menjatuhkan Daniel dengan meyakinkan Raja Darius untuk mengeluarkan undang-undang yang melarang siapa pun berdoa selain kepada raja. Daniel mengabaikan larangan itu, sehingga Raja Darius tidak punya pilihan selain melemparkannya ke dalam gua singa (ay.17). Namun, Allah “melepaskan Daniel” dan meluputkannya dari kematian (ay.28), seperti Allah melepaskan Taher melalui keputusan hakim yang mengejutkan.

Saat ini, banyak orang percaya di dunia menderita karena mengikut Yesus, bahkan ada dari mereka yang mati dibunuh. Ketika menghadapi penganiayaan, iman kita dapat dikuatkan dengan memahami bahwa Allah memiliki cara kerja yang jauh melebihi apa yang dapat kita bayangkan. Ketahuilah bahwa Allah menyertai kamu dalam pergumulan apa pun yang kamu hadapi. —Amy Boucher Pye

WAWASAN
Daniel 6 menunjukkan bahwa menurut undang-undang, seorang raja Persia tidak boleh mencabut kembali ketetapan resmi yang telah dikeluarkan (ay.9,13,16). Jadi, meski ia menyesali perintahnya (ay.15,19), Raja Darius mengizinkan Daniel menerima hukuman yang telah ditetapkan.

Dibuang ke dalam gua singa adalah jenis hukuman yang terkadang disebut “pembuktian lewat ujian”, yaitu seorang tertuduh ditempatkan dalam situasi yang sepatutnya berakhir dengan kematian (karena dimakan singa, api, atau racun). Jika, oleh kuasa ilahi, si tertuduh diselamatkan secara ajaib dari apa yang sepatutnya membuatnya mati, maka dianggap terbukti bahwa orang itu tidak melakukan kesalahan. —Monica La Rose

Terlepas dari Gua Singa

Apa tanggapan kamu terhadap komitmen Taher dan Donya kepada Kristus? Bagaimana kamu dapat mempercayai kuasa Allah yang tidak terbatas?

Allah Juruselamat kami, tolonglah aku untuk mempercayai-Mu di saat rintangan di hadapanku terlalu besar untuk kuatasi.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 27-28; Matius 8:18-34

Allah yang Menebus

Selasa, 10 Januari 2023

Baca: Yesaya 43:1-7

43:1 Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku.

43:2 Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau.

43:3 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu. Aku menebus engkau dengan Mesir, dan memberikan Etiopia dan Syeba sebagai gantimu.

43:4 Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu.

43:5 Janganlah takut, sebab Aku ini menyertai engkau, Aku akan mendatangkan anak cucumu dari timur, dan Aku akan menghimpun engkau dari barat.

43:6 Aku akan berkata kepada utara: Berikanlah! dan kepada selatan: Janganlah tahan-tahan! Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi,

43:7 semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!”

Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau. [ ] —Yesaya 43:1

Sebagai bagian dari ilustrasi khotbah, saya menghampiri sebuah lukisan indah yang baru saja dibuat seorang pelukis di atas panggung, lalu menggoreskan garis hitam pada tengah-tengah lukisan itu. Jemaat pun terkesiap ngeri. Sang pelukis hanya berdiri menyaksikan saat saya merusak karyanya. Kemudian, setelah mengambil kuas baru, ia dengan telaten memperbaiki lukisan yang rusak itu menjadi karya seni yang kembali indah.

Restorasi lukisan tersebut mengingatkan saya pada karya yang sanggup dilakukan Allah dalam hidup kita yang telah rusak. Nabi Yesaya menegur orang Israel karena mereka buta dan tuli rohani (Yes. 42:18-19). Namun, ia juga mengabarkan pengharapan akan pembebasan dan penebusan Allah: “Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau” (43:1). Allah juga sanggup melakukan hal yang sama terhadap kita. Bahkan setelah kita jatuh ke dalam dosa, ketika kita mengakui dosa-dosa kita dan berpaling kepada Allah, Dia akan mengampuni dan memulihkan kita (ay.5-7; lihat 1Yoh. 1:9). Kita tidak bisa menghadirkan keindahan dari hidup kita yang rusak, tetapi Yesus sanggup melakukannya. Kabar baik dari Injil menyatakan bahwa Dia telah menebus kita dengan darah-Nya. Kitab Wahyu meyakinkan kita bahwa pada akhirnya nanti, Kristus akan menghapus air mata kita, menebus masa lalu kita, dan membuat segala sesuatu menjadi baru (Why. 21:4-5).

Kita memiliki penglihatan yang terbatas tentang kisah hidup kita. Namun, Allah yang mengenal dan “memanggil [kita] dengan nama [kita]” (Yes. 43:1) akan mengubah hidup kita menjadi lebih indah daripada yang pernah kita bayangkan. Jika kamu telah ditebus oleh iman kepada Yesus, hidup kamu, seperti lukisan tadi, akan menjadi karya yang mengagumkan. —Glenn Packiam

WAWASAN
Yesaya 43 adalah janji agung Allah untuk menyelamatkan dan menebus umat Israel, tetapi haruslah dilihat dalam konteks yang mendahuluinya. Perhatikanlah Yesaya 42:25 (BIS): “Maka [Allah] membuat kita merasakan murka-Nya yang hebat, dan menderita karena peperangan yang dahsyat. Kemarahan-Nya membakar di Israel seperti api, tetapi kita tidak menyadarinya, dan tidak belajar dari yang kita alami.” Meski Allah telah menghukum umat-Nya karena ketidakpatuhan mereka, janji keselamatan-Nya adalah pengingat akan kasih-Nya yang luar biasa besar bagi mereka, meski mereka telah berpaling dari-Nya. Seperti Hosea dengan Gomer (Hosea 3:1) atau ayah dengan anak yang hilang (Lukas 15:11-32), Bapa Surgawi kita rindu agar kita kembali kepada-Nya dan hubungan kita dengan-Nya dipulihkan. —Bill Crowder

Allah yang Menebus

Kerusakan hidup seperti apa yang kamu alami? Apa yang telah Allah sediakan untuk memulihkan dan menebus Anda? 

Tuhan Yesus, terima kasih, karena Engkau tak pernah menyerah dalam mengasihiku. Aku berserah kepada-Mu, dan kiranya Engkau rela menebus hidupku yang telah rusak ini.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 25-26; Matius 8:1-17

Yesus yang Benar

Senin, 9 Januari 2023

Baca: 2 Korintus 11:1-4,12-15

11:1 Alangkah baiknya, jika kamu sabar terhadap kebodohanku yang kecil itu. Memang kamu sabar terhadap aku!

11:2 Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.

11:3 Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.

11:4 Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.

11:12 Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kami dalam hal yang dapat dimegahkan.

11:13 Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus.

11:14 Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang.

11:15 Jadi bukanlah suatu hal yang ganjil, jika pelayan-pelayannya menyamar sebagai pelayan-pelayan kebenaran. Kesudahan mereka akan setimpal dengan perbuatan mereka.

Rupanya kalian senang saja menerima orang yang datang kepadamu dan mengajar tentang Yesus yang lain—bukan Yesus yang kami perkenalkan kepadamu. [ ] —2 Korintus 11:4 BIS

Keramaian percakapan berangsur-angsur mereda dan suasana menjadi sunyi ketika sang pemimpin grup diskusi buku menyampaikan ringkasan isi novel yang akan mereka diskusikan. Kawan saya, Joan, mendengarkan dengan saksama, tetapi tidak mengenali alur ceritanya. Akhirnya, ia sadar telah membaca buku nonfiksi yang judulnya mirip dengan karya fiksi yang dibaca teman-teman sekelompoknya. Meski menikmati membaca buku yang “salah”, ia tidak dapat mengikuti pembicaraan teman-temannya saat mereka mendiskusikan buku yang “benar”.

Rasul Paulus tidak ingin jemaat di Korintus mempercayai Yesus yang “salah”. Ia menunjukkan bagaimana guru-guru palsu telah menyusup ke dalam gereja lalu memberitakan “Yesus yang lain” kepada mereka, dan mereka pun teperdaya (2Kor. 11:3-4).

Paulus mengecam ajaran sesat yang diberitakan guru-guru palsu tersebut. Dalam surat pertamanya kepada jemaat itu, ia telah mengulas kebenaran tentang Yesus yang dinyatakan dalam Kitab Suci. Yesus itu adalah Mesias, yang “telah mati karena dosa-dosa kita, . . . telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, . . . dan kemudian [menampakkan diri] kepada kedua belas murid-Nya,” dan terakhir kepada Paulus sendiri (1Kor. 15:3-8). Yesus itu telah datang ke dalam dunia melalui kelahiran dari seorang perawan bernama Maria dan dinamai Imanuel (Allah beserta kita) sebagai penegasan atas kodrat ilahi-Nya (Mat. 1:20-23).

Apakah itu seperti Yesus yang kamu kenal? Memahami dan menerima kebenaran yang tertulis dalam Alkitab tentang Dia akan menjamin bahwa kita sudah berada di jalan yang benar menuju ke surga. —Jennifer Benson Schuldt

WAWASAN
Rasul Paulus sangat berhati-hati melindungi mereka yang telah dibawanya mengenal Yesus. Itulah alasan dari nada dan pilihan kata yang kita temukan dalam 2 Korintus 10–13. Kita juga melihat sikap pembelaan yang sama kerasnya di Galatia 1:1-9. Paulus “menaruh perhatian yang sangat besar” (2 Korintus 11:2 FAYH) pada kesejahteraan dan keteguhan iman jemaat kepada Tuhan Yesus, dan ketika iman dan sikap mereka terancam bahaya, Paulus akan angkat bicara tanpa tedeng aling-aling. Sang rasul melawan pengaruh tidak sehat dari mereka yang secara sarkastis disebutnya “rasul-rasul yang luar biasa” (ay.5; 12:11). Ucapannya merupakan peringatan (11:5-11) terhadap mereka yang lebih terkesan dengan gaya dan cara daripada isi. Kata kunci dalam ayat 13-15 (digunakan tiga kali) adalah metaschematizo, yang diterjemahkan sebagai “menyamar”. Ini merupakan kata majemuk yang berarti “menjelma, berubah”, menggambarkan seseorang yang aslinya berbeda dengan tampilan luarnya. —Arthur Jackson

Yesus yang Benar

Bagaimana kamu tahu bahwa kamu mempercayai kebenaran tentang Yesus? Apa yang perlu kamu selidiki untuk memastikan kamu mengerti apa yang Alkitab katakan tentang Dia?

Ya Allah, tolonglah aku berjalan dalam terang kebenaran-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 23-24; Matius 7

Lebih dari Pemenang 

Minggu, 8 Januari 2023

Baca: Roma 8:31-39

8:31 Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

8:33 Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?

8:34 Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?

8:35 Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?

8:36 Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.”

8:37 Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

8:38 Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang,

8:39 atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. [ ] —Roma 8:37

Ketika suami saya melatih tim bisbol putra kami di Liga Kecil, ia menggelar pesta akhir musim sebagai hadiah untuk para pemain atas kemajuan yang mereka capai. Dustin, salah seorang pemain yang termuda, menghampiri saya dan bertanya, “Bukankah hari ini kita kalah?”

“Benar,” jawab saya, “tapi kami tetap bangga karena kalian telah melakukan yang terbaik.”

“Aku tahu,” katanya, “tapi kita kalah, kan?”

Saya mengangguk.

“Lalu, kenapa aku merasa seperti menang?” tanya Dustin.

Saya tersenyum, dan menjawab, “Karena kalian memang pemenang.”

Dustin sempat mengira bahwa kalah bertanding menunjukkan bahwa ia telah gagal, sekalipun ia telah melakukan yang terbaik. Sebagai orang percaya, peperangan kita tidak terjadi di atas lapangan olahraga. Meski demikian, kita sering kali tergoda untuk melihat masa-masa sulit dalam hidup kita sebagai cerminan dari harga diri kita.

Rasul Paulus menegaskan hubungan antara penderitaan yang kita alami saat ini dan kemuliaan mendatang yang akan kita terima sebagai anak-anak Allah. Setelah menyerahkan diri-Nya bagi kita, Tuhan Yesus masih terus membela kita dalam peperangan kita melawan dosa dan menjadikan kita semakin serupa dengan-Nya (Rm. 8:31-32). Meski kita semua mengalami penderitaan dan aniaya, kasih Allah yang tak tergoyahkan memampukan kita untuk bertahan (ay.33-34).

Kita mungkin tergoda untuk membiarkan pergumulan hidup menentukan harga diri kita. Namun, sebagai anak-anak Allah, kemenangan akhir kita sudah terjamin. Meski tersandung-sandung di sepanjang perjalanan, kita akan selalu “lebih dari pada orang-orang yang menang” (ay.35-39). —Xochitl Dixon

WAWASAN
Sebelum penderitaan dan kematian-Nya, Yesus memperingatkan sekaligus meyakinkan para pengikut-Nya, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia" (Yohanes 16:33). Di kemudian hari, Paulus dan Barnabas mendorong orang-orang percaya untuk “bertekun di dalam iman” dalam menghadapi banyak kesengsaraan (Kisah Para Rasul 14:22). Paulus juga mengutus Timotius untuk menguatkan orang percaya di Tesalonika agar iman mereka tidak goyang karena kesusahan-kesusahan yang sudah “ditentukan” bagi mereka (1 Tesalonika 3:2-3). Yesus dengan jelas menyatakan bahwa sebagai pengikut-Nya kita akan dianiaya seperti Dia (Yohanes 15:20). Komentator Walter Elwell menyatakan: “Penderitaan adalah karakteristik kehidupan di dalam ciptaan yang telah rusak, tetapi juga merupakan sarana disiplin yang dapat menuntun orang untuk taat kepada Allah. . . . Penderitaan yang dialami orang Kristen akan ‘menghasilkan . . . suatu kebahagiaan yang luar biasa dan abadi’ (2 Korintus 4:16-18 BIS).” Kita “lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh [Kristus]”! (Roma 8:37). —Alyson Kieda

Lebih dari Pemenang 

Kapan keyakinan kamu akan kasih Allah pernah mendorong kamu untuk terus melangkah maju? Bagaimana Dia menegaskan harga diri kamu sebagai anak-Nya yang terkasih sekalipun kamu telah mengalami kegagalan?

Ya Bapa, terima kasih, karena Engkau telah menolongku bangkit melewati beragam tantangan hidup dengan penuh kemenangan. 

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 20-22; Matius 6:19-34

Siapakah Engkau, Tuhan?

Sabtu, 7 Januari 2023

Baca: Kisah Para Rasul 9:1-9

9:1 Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar,

9:2 dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

9:3 Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia.

9:4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”

9:5 Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.

9:6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.”

9:7 Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun.

9:8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.

9:9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.

Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” [ ] —Kisah Para Rasul 9:5

Di usia enam belas tahun, Luis Rodriguez harus mendekam dalam penjara karena menjual kokain. Sekarang, ia kembali dipenjara, bahkan terancam dijatuhi hukuman seumur hidup karena percobaan pembunuhan. Namun, Allah mengetuk hatinya. Di balik jeruji, Luis muda ingat bagaimana sang ibu dengan setia membawanya ke gereja saat ia masih kanak-kanak. Kini ia merasa Allah sungguh-sungguh menegurnya. Akhirnya Luis bertobat dari dosa-dosanya dan mau percaya kepada Tuhan Yesus.

Dalam Kitab Kisah Para Rasul, kita bertemu dengan seorang Yahudi yang gigih bernama Saulus, yang juga dikenal sebagai Paulus. Ia bersalah karena terus-menerus menganiaya orang percaya dan berniat membunuh mereka (Kis. 9:1). Bukti menunjukkan bahwa ia semacam pemimpin gerombolan, dan bagian dari orang banyak yang terlibat dalam pembunuhan Stefanus (Kis. 7:58). Namun, kemudian Allah berbicara kepadanya, dalam arti harfiah. Dalam perjalanan ke Damsyik, Saulus dibutakan oleh suatu cahaya, dan Yesus berkata kepadanya, ?Mengapakah engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4). Saulus balik bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” (ay.5), dan itulah awal dari hidup barunya. Saulus pun datang kepada Yesus.

Luis Rodriguez sempat menjalani masa hukumannya, tetapi akhirnya dianugerahi pembebasan bersyarat. Sejak saat itu ia melayani Allah, dengan mempersembahkan hidupnya untuk melayani para narapidana di Amerika Serikat dan Amerika Tengah.

Allah rindu menyelamatkan kita dari keadaan kita yang terburuk. Dia menyentuh hati kita dan berbicara kepada kita yang penuh dengan dosa. Saat ini, maukah kamu bertobat dari dosa-dosa kamu dan datang kepada Yesus? —Kenneth Petersen

WAWASAN
Perjumpaan Paulus dengan Yesus di jalan ke Damsyik tidak hanya mengubah hidup, tetapi dalam arti harfiah, juga mengubah dunia. Hati Rasul Paulus (yang sebelumnya dikenal sebagai Saulus) yang berkobar-kobar, bisa dibilang adalah mesin yang Allah pakai untuk menyebarkan Injil di seluruh Kekaisaran Romawi. Dengan tuntunan Roh Kudus, ia membawa Injil ke seluruh Kekaisaran Romawi saat itu, dan, bersama-sama para misionaris yang dibimbingnya, mencapai jauh hingga ke luar perbatasan Romawi. Surat-suratnya mencapai Asia Kecil dan Eropa, dan dipercaya diedarkan hingga jauh ke luar tujuan yang direncanakan. Tentunya Paulus merasa sangat puas mengetahui bahwa kasih karunia Allah bukan hanya menyelamatkannya dari masa lalu yang penuh dosa, tetapi juga memperlengkapinya untuk menjalani kehidupan yang memiliki tujuan dan produktif, sambil mempersiapkannya untuk suatu tujuan kekal. Sampai hari ini, istilah jalan ke Damsyik mengandung arti suatu momen transformasi radikal dalam hidup seseorang. —Bill Crowder

Siapakah Engkau, Tuhan?

Perasaan bersalah apa yang sedang atau pernah kamu rasakan? Apakah kamu merasa Allah sedang atau terus-menerus memanggil kamu kembali kepada-Nya?

Tuhan Yesus, aku telah menjauh dari-Mu, tetapi kini aku merasa Engkau menyentuh hatiku. Kumohon, ampunilah dosa-dosaku. 

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 18-19; Matius 6:1-18

Diciptakan untuk Bertualang

Jumat, 6 Januari 2023

Baca: Kejadian 1:21-28

1:21 Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:22 Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.”

1:23 Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.

1:24 Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian.

1:25 Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu. [ ] —Kejadian 1:28

Baru-baru ini saya menemukan sesuatu yang luar biasa. Saat menyusuri jalan setapak ke balik sekumpulan pohon dekat rumah, saya menemukan sebuah taman bermain yang tersembunyi. Di sana, ada tangga yang terbuat dari dahan-dahan pohon dan terhubung ke suatu menara pengintai, ada ayunan dari gulungan kabel tua yang diikat pada tangkai pohon, bahkan ada jembatan gantung yang menghubungkan satu cabang pohon ke cabang lainnya. Rupayanya ada seseorang yang telah mengubah beberapa batang kayu tua dan tali menjadi wahana petualangan yang kreatif!

Paul Tournier, seorang dokter asal Swiss, meyakini bahwa manusia diciptakan untuk bertualang karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26-27). Sama seperti Allah melakukan terobosan dengan menciptakan alam semesta (ay.1-25), sama seperti Dia mengambil risiko dengan menciptakan manusia yang dapat memilih apa yang baik atau yang jahat (3:5-6), dan sama seperti Dia menyerukan kepada kita, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu” (1:28), kita juga memiliki dorongan untuk menemukan sesuatu, mengambil risiko, dan menciptakan hal-hal baru selama kita berkembang menguasai bumi. Hal-hal baru yang kita usahakan dan lakukan mungkin besar atau kecil, tetapi yang terbaik adalah ketika hal tersebut bermanfaat bagi orang lain. Saya yakin orang yang membuat taman bermain tadi merasa senang ketika orang-orang menemukan dan menikmatinya.

Baik menciptakan lagu baru, mencoba cara-cara baru untuk mengabarkan Injil, atau berusaha menghangatkan kembali pernikahan yang mulai mendingin, kita mengalami bagaimana petualangan membuat kita terus merasa hidup. Jadi, tugas atau proyek baru apa yang menarik perhatian kamu saat ini? Mungkin Allah sedang menuntun kamu ke suatu petualangan baru. —Sheridan Voysey

WAWASAN
Kitab Suci menyatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu. Kata kerja Ibrani bara’, yang diterjemahkan sebagai menciptakan dalam Kejadian 1, selalu menyatakan Dia sebagai subjek. Jadi, Allah mula-mula menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan (ay.1), lalu menciptakan makhluk hidup dari bahan yang diciptakan-Nya itu (ay.21,27). Ayub 38–41 tidak ada duanya dalam menggambarkan kreativitas Allah Yang Mahakuasa. Dengan cemerlang, Allah memberi Ayub kursus kilat mengenai benda-benda yang diciptakan dan terpampang di langit, bumi, dan laut, yang membuat Ayub terdiam dalam kerendahan hati (39:37-38; 42:5-6). —Arthur Jackson

Diciptakan untuk Bertualang

Dalam bagian Alkitab mana lagi kamu melihat Allah berkarya dengan kreatif? Bagaimana karya dan petualangan-Nya dapat menginspirasi usaha dan petualangan kita sendiri?

Allah yang kreatif, bawalah aku ke petualangan yang baru demi kasihku kepada-Mu dan sesamaku!

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 16-17; Matius 5:27-48

Tempat Bersarang

Kamis, 5 Januari 2023

Baca: Yohanes 14:1-4

14:1 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

14:2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.

14:3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.

14:4 Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.”

Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. [ ] —Yohanes 14:2

Burung layang-layang pasir yang berukuran kecil senang menggali sarang di tepi sungai. Pengembangan lahan di wilayah tenggara Inggris telah memangkas habitat mereka, sehingga setiap kali burung-burung itu kembali dari migrasi musim dingin, tempat mereka untuk bersarang semakin berkurang. Kelompok konservasionis setempat pun bertindak dengan membangun beting buatan yang sangat besar untuk menampung mereka. Dengan bantuan sebuah perusahaan pemahat pasir, mereka membentuk pasir untuk menyediakan tempat bagi burung-burung tersebut agar dapat bersarang di sana hingga bertahun-tahun lamanya.

Tindakan yang memperlihatkan rasa belas kasihan itu menggambarkan kata-kata yang Yesus gunakan untuk menghibur murid-murid-Nya. Setelah memberi tahu para murid tentang rencana kepergian-Nya yang belum bisa mereka ikuti (Yoh. 13:36), Yesus memberi mereka jaminan bahwa Dia akan “menyediakan tempat bagi [mereka]” di surga (14:2). Para murid tentu sangat sedih mendengar kabar bagaimana Yesus akan meninggalkan mereka dan mereka tidak dapat ikut dengan-Nya. Meski demikian, Dia menguatkan mereka untuk memandang tugas kudus itu sebagai bagian dari persiapan-Nya untuk menerima mereka—dan juga kita.

Tanpa karya pengorbanan Yesus di kayu salib, kita tidak mungkin dapat mengisi “banyak tempat tinggal” di rumah Bapa (ay.2). Kristus meyakinkan kita bahwa setelah Dia pergi mendahului kita untuk menyiapkan segala sesuatu, Dia akan kembali dan membawa mereka yang percaya pada pengorbanan-Nya untuk tinggal bersama-Nya. Di sana kita akan berdiam bersama-Nya dalam keabadian yang penuh sukacita. —Kirsten Holmberg

WAWASAN
Yohanes menyatakan tujuannya menulis Injil ini dalam 20:30-31: “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” Keseluruhan Injil ini harus dipahami melalui tujuan tersebut, yaitu mengarahkan orang untuk percaya kepada Yesus yang menuntun kepada kehidupan.

Kata percaya, yang diterjemahkan dari kata Yunani pisteuo, disebutkan sebanyak delapan puluh tujuh kali dalam Injil Yohanes. Salah satu kamus Alkitab memberi definisi berikut dari kata tersebut: “percaya (menegaskan, berkeyakinan); dipakai untuk meyakinkan diri (kepercayaan manusia) dan dengan penekanan rohani karena diyakinkan oleh Tuhan (iman kepercayaan).” Mukjizat dan pengajaran Yesus dalam Injil Yohanes adalah argumentasi untuk meyakinkan bahwa memang “Yesuslah Mesias, Anak Allah” (ay.31). —J.R. Hudberg

Tempat Bersarang

Pernahkah kamu merasa “tidak kerasan” menjalani hidup kamu di dunia? Hal apa dari surga yang paling kamu nanti-nantikan?

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah menyiapkan tempat bagiku di surga bersama-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 13-15; Matius 5:1-26

Visi yang Baru

Rabu, 4 Januari 2023

Baca: Yesaya 43:18-21

43:18 firman-Nya: “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!

43:19 Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.

43:20 Binatang hutan akan memuliakan Aku, serigala dan burung unta, sebab Aku telah membuat air memancar di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara, untuk memberi minum umat pilihan-Ku;

43:21 umat yang telah Kubentuk bagi-Ku akan memberitakan kemasyhuran-Ku.”

Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara. [ ] —Yesaya 43:19

Suatu hari, saya melangkah memasuki gereja dengan mengenakan kacamata baru. Begitu duduk, saya melihat seorang kawan duduk tepat di seberang lorong. Saya melambai kepada dirinya yang tampak sangat dekat dan jelas. Rasanya saya dapat menyentuhnya meskipun ia duduk beberapa meter jauhnya dari saya. Ketika kami mengobrol sehabis kebaktian, saya baru sadar bahwa ia selalu duduk di bangku yang sama. Kini saya dapat melihatnya dengan lebih jelas berkat penglihatan saya yang sudah diperbarui.

Lewat Nabi Yesaya, Allah menyatakan bahwa Dia tahu bangsa Israel yang terjebak dalam tawanan Babel membutuhkan pembaruan dalam penglihatan—suatu visi yang baru. Kata-Nya kepada mereka, “Aku hendak membuat sesuatu yang baru . . . Aku hendak membuat jalan di padang gurun” (Yes. 43:19). Pesan pengharapan-Nya meliputi pengingat bahwa Dia telah “menciptakan” mereka, “menebus” mereka, dan akan menyertai mereka. “Engkau ini kepunyaan-Ku,” kata-Nya menguatkan mereka (ay.1).

Apa pun yang kamu hadapi hari ini, Roh Kudus dapat memberi kamu visi yang lebih baik untuk menggantikan yang telah lalu, sehingga kamu melihat hal-hal baru yang muncul di sekeliling kamu berkat kasih Allah (ay.4). Dapatkah kamu melihat apa yang dilakukan-Nya di tengah rasa sakit dan tekanan yang kamu alami? Kenakanlah kacamata rohani yang baru, agar kita melihat hal-hal baru yang Allah kerjakan di tengah masa kekeringan yang kita hadapi. —Katara Patton

WAWASAN
Nabi Yesaya mengutip bahasa Kitab Kejadian dan Keluaran untuk menunjukkan bahwa Allah yang membebaskan umat Israel dari perbudakan sanggup dan akan membawa mereka pulang kembali dari pembuangan.

Dalam Yesaya 43:16-17, Allah mengingatkan umat-Nya bahwa Dia telah membuka jalan melalui laut untuk membawa mereka keluar dari Mesir. Dia menyatakan, “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru” (ay.19). Namun, bagaimana Dia membuat sesuatu yang baru itu? Dia menggunakan air, hambatan yang diatasi Allah ketika Dia membelah laut, sebagai sumber berkat untuk membuat jalan baru bagi mereka di padang gurun. Bahkan dunia fauna akan mengalami pembaruan kehidupan yang akan dianugerahkan-Nya kepada umat pilihan-Nya (ay.20).

Kisah-kisah di masa lampau dan karya Allah di masa kini sama-sama menunjukkan satu hal: tidak ada suatu pun, baik laut maupun padang belantara, perbudakan atau pembuangan, yang dapat menghalangi Allah untuk menggenapi janji-Nya. —Jed Ostoich

Visi yang Baru

Apa saja hal baru yang kamu lihat muncul di tengah masa kekeringan yang kamu alami? Bagaimana pembaruan dalam penglihatan dapat menolong kamu berfokus pada sesuatu yang baru dan tidak lagi pada masa lalu?

Allah sumber pembaruan kami, terima kasih untuk semua janji-Mu. Tolonglah aku melihat hal-hal baru yang Engkau nyatakan, bahkan di saat aku berada dalam masa kekeringan.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 10-12; Matius 4