Bau Tidak Enak

Sabtu, 21 Januari 2023

Baca: Efesus 4:1-5,25-31

4:1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

4:4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,

4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,

4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

4:28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. [ ] —Efesus 4:2

Pada suatu pagi bertahun-tahun lalu, anak bungsu saya turun menghampiri saya yang sedang duduk. Ia langsung berlari dan duduk di pangkuan saya. Saya memeluknya, mengecup kepalanya dengan lembut, dan ia pun menjerit senang. Namun, kemudian ia mengernyit, mengerutkan hidung, dan menatap cangkir kopi saya dengan pandangan menuduh. “Papa,” katanya serius. “Aku sayang Papa, aku suka Papa, tapi aku tidak suka bau Papa.”

Putri saya mungkin tidak sadar, tetapi ia berbicara dengan lemah lembut dan bahwa perkataannya benar. Ia tidak ingin melukai perasaan saya, tetapi merasa harus memberitahukan sesuatu kepada saya. Bukankah itu pula yang terkadang perlu kita lakukan terhadap orang lain yang berhubungan dengan kita? 

Dalam Efesus 4, Rasul Paulus menyoroti bagaimana kita sepatutnya berhubungan dengan orang lain—terutama ketika menyampaikan kebenaran yang tidak mengenakkan. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu” (ay.2). Sikap yang rendah hati, lemah lembut, dan sabar perlu menjadi dasar dari hubungan kita. Memupuk karakter-karakter tersebut seturut dengan tuntunan Allah akan menolong kita untuk “menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih” (ay.15 bis) dan berusaha menyampaikan “perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu” (ay.29).

Tak seorang pun suka dihadapkan pada kelemahan dan kekurangan dirinya. Namun, ketika ada sesuatu pada diri kita yang “berbau tidak enak”, Allah dapat memakai sahabat-sahabat kita yang setia untuk menyampaikan kebenaran kepada kita dengan cara yang baik, jujur, rendah hati, dan lemah lembut.

—Adam R. Holz

WAWASAN
Dalam perjalanan misinya yang ketiga, selama tiga tahun Paulus mengajar orang percaya di Efesus (Kisah Para Rasul 19; 20:31). Sekitar enam tahun kemudian, karena merisaukan keadaan dan kedewasaan rohani mereka, ia menulis dari penjara Romawi (Efesus 3:1; 4:1; 6:20) untuk mengingatkan mereka bagaimana Allah telah mengaruniai mereka segala berkat rohani dengan berlimpah (1:3). Setelah memuji kehormatan, posisi, dan kepemilikan yang mereka peroleh karena Yesus (pasal 1–3), sang rasul memerintahkan mereka agar hidup “sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (4:1). Perintah ini Paulus berikan juga kepada orang percaya di Filipi (1:27), Kolose (1:10), dan Tesalonika (1 Tesalonika 2:12; 2 Tesalonika 1:11). Orang percaya di Efesus haruslah seperti Kristus dalam cara mereka memperlakukan sesama, yaitu dengan rendah hati, lemah lembut, sabar, saling membantu, saling menguatkan, ramah, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni (Efesus 4:2,29-32). —K.T. Sim

Bau Tidak Enak

Pernahkah kamu ditegur seseorang dengan lemah lembut? Menurut kamu, apa yang paling penting dimiliki saat kamu menegur kelemahan orang lain dengan cara yang baik?

Bapa, tolong aku untuk rela menerima teguran dengan rendah hati, dan mampukanlah aku untuk juga memberikan teguran dengan cara yang baik, penuh kasih, dan lemah lembut.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 1-3; Matius 14:1-21

Cinta Seperti Nyala Api

Jumat, 20 Januari 2023

Baca: Kidung Agung 8:5-7

8:5 Siapakah dia yang muncul dari padang gurun, yang bersandar pada kekasihnya? –Di bawah pohon apel kubangunkan engkau, di sanalah ibumu telah mengandung engkau, di sanalah ia mengandung dan melahirkan engkau.

8:6 –Taruhlah aku seperti meterai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api TUHAN!

8:7 Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

Nyala [cinta] adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan! [ ] —Kidung

Penyair, pelukis, dan pencetak William Blake menikmati empat puluh lima tahun kehidupan pernikahan bersama istrinya, Catherine. Mereka selalu bekerja sama sejak hari pernikahan mereka sampai kematiannya pada tahun 1827. Catherine mewarnai sketsa-sketsa yang dibuat William, dan kesetiaan mereka bertahan melewati masa-masa penuh kemiskinan dan tantangan. Bahkan pada minggu-minggu terakhir ketika kondisi kesehatannya semakin menurun, Blake tetap berkarya, dan sketsa terakhirnya adalah wajah istrinya. Empat tahun kemudian, Catherine meninggal dunia sambil menggenggam pensil milik suaminya. 

Kisah cinta yang bergelora di antara William dan Catherine menjadi cerminan cinta yang kita temukan dalam Kitab Kidung Agung. Meskipun penggambaran cinta dalam Kidung Agung menyiratkan hubungan pernikahan, para pengikut Yesus di masa silam meyakini bahwa itu juga menggambarkan kasih Yesus yang tak berkesudahan bagi semua murid-Nya. Kidung Agung menggambarkan suatu cinta yang “kuat seperti maut”, sungguh metafora yang luar biasa, karena maut adalah akhir yang tak terhindarkan dalam realitas kehidupan manusia (8:6). Cinta yang kuat ini “nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan!” (ay.6). Tidak seperti api yang kita kenal, kobaran api cinta tak dapat dipadamkan, bahkan dengan air bah sekalipun. “Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta,” ditegaskan Kidung Agung (ay.7).

Adakah di antara kita yang tidak mendambakan cinta sejati? Kidung Agung mengingatkan bahwa ketika kita menemukan cinta yang murni, Allah adalah sumber utamanya. Kemudian, dalam Yesus Kristus, setiap dari kita dapat mengenal cinta yang mendalam dan abadi—cinta yang menyala seperti kobaran api. —Winn Collier

WAWASAN
Para ahli Alkitab telah lama kesulitan menafsirkan Kidung Agung (juga disebut Kidung Salomo). Mungkin karena tidak nyaman dengan tema kasih yang intim, banyak orang mencoba untuk mengubah jalan kisah di dalamnya menjadi kiasan. Namun, kebanyakan ahli masa kini memandang kidung itu sebagai gambaran kasih fisik antara laki-laki dan perempuan. Dalam bacaan kita hari ini (8:5-7), sang perempuan yang memulai keintiman. Rujukannya kepada “meterai pada hatimu” (ay.6) menggambarkan kerinduannya untuk menuntut rasa saling memiliki dengan kekasihnya. Ia memiliki hak eksklusif atas diri kekasihnya dan segala yang dimilikinya, demikian juga sebaliknya.

Kitab itu juga dapat dipandang sebagai simbol yang menyatakan kasih pernikahan yang tulus sebagai komitmen penuh terhadap satu sama lain. Ini merupakan representasi yang tepat dari gereja sebagai mempelai Kristus (lihat 2 Korintus 11:2). —Tim Gustafson

Cinta Seperti Nyala Api

Di mana kamu pernah menemukan cinta yang kuat? Bagaimana kasih Yesus dapat menguatkan kamu?

Ya Allah, tolonglah aku untuk menerima kasih-Mu dan rela membagikannya kepada sesamaku.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 49-50; Matius 13:31-58

Tetapi Aku Berkata Kepadamu 

Kamis, 19 Januari 2023

Baca: Matius 5:43-48

5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.

5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

5:45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.

5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?

5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?

5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu. [ ] —Matius 5:44

“Ibu tahu apa yang mereka katakan. Tapi, Ibu bilang sama kamu . . .” Waktu masih kecil, mungkin ribuan kali saya mendengar ibu saya mengucapkan petuah seperti itu. Konteksnya selalu soal tekanan dari teman sebaya. Ibu mencoba mengajarkan kepada saya untuk tidak begitu saja ikut arus. Namun, meski bukan anak-anak lagi, mentalitas untuk ikut arus masih cukup kuat bercokol dalam diri ini. Contohnya nasihat ini: “Tempatkanlah dirimu di antara orang-orang yang berpandangan positif.” Meski kalimat itu sudah umum, kita patut mengujinya dengan bertanya: “Apakah itu sesuai dengan ajaran Kristus?”

“Tetapi Aku berkata kepadamu . . . ” Yesus beberapa kali memulai kalimat-Nya dengan frasa itu dalam Matius 5. Dia tahu benar apa yang terus-menerus dikatakan dunia ini kepada kita. Namun, Dia ingin kita hidup dengan cara yang berbeda. Tentang hal itu, Dia berkata, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (ay.44). Kemudian, dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menggunakan kata yang sama untuk menggambarkan, tebak siapa? Ya, betul: kita—“pada masa kita bermusuhan dengan Allah” (rm. 5:10 bis). Jauh dari sikap munafik, Yesus sendiri membuktikan ucapan-Nya dengan tindakan. Dia mengasihi kita, dan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita.

Apa jadinya jika Kristus hanya membuka diri untuk “orang-orang yang berpandangan positif”? Mana tempat bagi kita? Puji Tuhan, kasih-Nya tidak membeda-bedakan orang. Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, dan dalam kuasa-Nya, kita dipanggil untuk melakukan hal yang sama. —John Blase

WAWASAN
Pengajaran Yesus dalam Khotbah di Bukit (Matius 5–7) merupakan koreksi terhadap pengajaran dan praktik-praktik agama populer pada zaman-Nya. Jadi, Dia berulang kali berkata, “Kamu telah mendengar yang difirmankan . . . Tetapi Aku berkata kepadamu . . .” (5:21-44). Perlu diperhatikan bahwa Dia memerintahkan “haruslah kamu sempurna” (ay.48). Sama seperti perintah-perintah lainnya, Kristus memanggil para pengikut-Nya untuk mencapai standar yang lebih tinggi. Namun, kesempurnaan yang dimaksudkan-Nya bukanlah kesempurnaan moral (ketiadaan dosa). Kata Yunani teleios (dari telos), yang diterjemahkan “sempurna” berarti “keparipurnaan” atau “kedewasaan”, sesuatu yang telah mencapai tujuan. Yesus memanggil para pengikut-Nya kepada kedewasaan “relasi”, suatu kasih dewasa yang tidak membeda-bedakan, seperti kasih Bapa Surgawi. Kasih ini tidak terpengaruh oleh silsilah atau pelabelan, dan kasih itu diteladankan oleh seorang Samaria dalam perumpamaan di Lukas 10:25-37. —Arthur Jackson

Tetapi Aku Berkata Kepadamu 

Kapan terakhir kalinya seseorang menunjukkan kasihnya kepada kamu saat kamu sedang tidak “berpandangan positif”? Bagaimana kamu dapat menunjukkan kasih yang nyata kepada seorang musuh hari ini?

Ya Bapa, aku cenderung hanya ingin hidup di antara orang-orang yang menyenangkanku. Namun, itu bukanlah hidup, dan bukan hidup yang Kau inginkan bagiku. Tolonglah aku mengasihi siapa saja, termasuk musuh-musuhku.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 46-48; Matius 13:1-30

Persoalan Hati

Rabu, 18 Januari 2023

Baca: Yehezkiel 14:1-8

14:1 Sesudah itu datanglah kepadaku beberapa orang dari tua-tua Israel dan duduk di hadapanku.

14:2 Maka datanglah firman TUHAN kepadaku:

14:3 “Hai anak manusia, orang-orang ini menjunjung berhala-berhala mereka dalam hatinya dan menempatkan di hadapan mereka batu sandungan, yang menjatuhkan mereka ke dalam kesalahan. Apakah Aku mau mereka meminta petunjuk dari pada-Ku?

14:4 Oleh sebab itu berbicaralah kepada mereka dan katakan: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Setiap orang dari kaum Israel yang menjunjung berhala-berhalanya dalam hatinya dan menempatkan di hadapannya batu sandungan yang menjatuhkannya ke dalam kesalahan, lalu datang menemui nabi–Aku, TUHAN sendiri akan menjawab dia oleh karena berhala-berhalanya yang banyak itu,

14:5 supaya Aku memikat hati kaum Israel, yang seluruhnya sudah menyimpang dari pada-Ku dengan mengikuti segala berhala-berhala mereka.

14:6 Oleh karena itu katakanlah kepada kaum Israel: Beginilah firman Tuhan ALLAH: Bertobatlah dan berpalinglah dari berhala-berhalamu dan palingkanlah mukamu dari segala perbuatan-perbuatanmu yang keji.

14:7 Karena setiap orang, baik dari kaum Israel maupun dari orang-orang asing yang tinggal di tengah-tengah Israel, yang menyimpang dari pada-Ku dan menjunjung berhala-berhalanya dalam hatinya dan menempatkan di hadapannya batu sandungan, yang menjatuhkannya ke dalam kesalahan, lalu datang menemui nabi untuk meminta petunjuk dari pada-Ku baginya–Aku, TUHAN sendiri akan menjawab dia.

14:8 Aku sendiri akan menentang orang itu dan Aku akan membuat dia menjadi lambang dan kiasan dan melenyapkannya dari tengah-tengah umat-Ku. Dan kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.

Beginilah firman Tuhan Allah: Bertobatlah dan berpalinglah dari berhala-berhalamu dan palingkanlah mukamu dari segala perbuatan-perbuatanmu yang keji. [ ] —Yehezkiel 14:6

“Coba kamu lihat, Saudara Tim.” Teman saya, Sam, seorang pendeta di Ghana, mengarahkan senternya ke benda berukir yang disandarkan pada sebuah pondok yang dindingnya terbuat dari lumpur. Ia berbisik, “Inilah berhala desa ini.” Setiap Selasa sore, Sam mengunjungi desa terpencil itu untuk membagikan firman Tuhan. 

Dalam Kitab Yehezkiel, kita melihat penyembahan berhala telah mewabah di antara bangsa Israel. Ketika para pemimpin Yerusalem menemui Nabi Yehezkiel, Allah berkata kepadanya, “Orang-orang ini menjunjung berhala-berhala mereka dalam hatinya” (14:3). Allah bukan hanya memperingatkan tentang berhala yang terpahat dari kayu dan batu, tetapi juga menunjukkan kepada mereka bahwa sesungguhnya penyembahan berhala merupakan persoalan hati. Kita semua bergumul dengan hal itu. 

Seorang pengajar Alkitab bernama Alistair Begg mendeskripsikan berhala sebagai “segala sesuatu di luar Allah yang kita anggap penting bagi kedamaian, citra diri, kepuasan, maupun penerimaan kita.” Bahkan hal-hal yang tampak mulia juga dapat menjadi berhala bagi kita. Ketika kita mencari penghiburan atau penghargaan diri melalui apa saja, di luar dari Allah yang hidup, kita sedang menyembah berhala. 

“Bertobatlah,” firman Allah “dan berpalinglah dari berhala-berhalamu dan palingkanlah mukamu dari segala perbuatan-perbuatanmu yang keji” (ay.6). Ternyata Israel tidak mampu melakukannya. Namun, syukur kepada Allah, Dia mempunyai jalan keluar. Dalam nubuat tentang kedatangan Kristus dan karunia Roh Kudus, Dia menjanjikan, “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu” (36:26). Kita tidak dapat melakukannya sendiri. —TIM GUSTAFSON

WAWASAN
Sebagai bagian dari strategi penaklukan, bangsa Babel secara paksa membawa keluarga istana, pemimpin militer, dan para ahli ke pembuangan di Babel (2 Raja-Raja 24:10-16; Daniel 1:1-5), termasuk nabi dan imam bernama Yehezkiel. Ia berada bersama para buangan dari Yehuda di tepi Sungai Kebar di Babel ketika memulai pelayanannya (Yehezkiel 1:1-3) kepada orang Yahudi di pembuangan (3:11) dan mereka yang masih tinggal di Yehuda (12:10). Setelah mengutuk nabi-nabi palsu yang mengajarkan bahwa Allah tidak akan menghukum umat-Nya atas dosa-dosa mereka (pasal 12–13), Yehezkiel menentang para pemimpin Yahudi karena mereka munafik dan menyembah berhala. Ia kemudian mendesak umat Allah agar bertobat dan berpaling dari berhala-berhala mereka (14:1-8). —K.T. Sim

Persoalan Hati

Saat tekanan melanda kamu, ke mana kamu berpaling mencari penghiburan? Berhala apa yang perlu kamu singkirkan hari ini?

Ya Bapa, tunjukkanlah berhala yang ada dalam hatiku. Lalu, tolonglah aku untuk menyingkirkannya, agar aku hidup dalam kasih-Mu. 

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 43-45; Matius 12:24-50

Tak Pernah Terlambat

Selasa, 17 Januari 2023

Baca: Yohanes 11:17-27

11:17 Maka ketika Yesus tiba, didapati-Nya Lazarus telah empat hari berbaring di dalam kubur.

11:18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya.

11:19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya.

11:20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah.

11:21 Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.

11:22 Tetapi sekarangpun aku tahu, bahwa Allah akan memberikan kepada-Mu segala sesuatu yang Engkau minta kepada-Nya.”

11:23 Kata Yesus kepada Marta: “Saudaramu akan bangkit.”

11:24 Kata Marta kepada-Nya: “Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”

11:25 Jawab Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati,

11:26 dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini?”

11:27 Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

 

Saudaramu akan bangkit. [ ] —Yohanes 11:23

Saat mengunjungi sebuah kota kecil di Afrika Barat, pendeta saya yang berkebangsaan Amerika memastikan dirinya datang tepat waktu untuk kebaktian Minggu pukul 10.00. Meski demikian, ia mendapati ruang ibadah di gereja sederhana tersebut kosong. Jadi ia menunggu. Satu jam. Dua jam. Akhirnya, ketika pendeta setempat tiba setelah menempuh perjalanan panjang, diikuti beberapa anggota paduan suara dan sekelompok penduduk kota yang ramah, ibadah pun dimulai sekitar pukul 12.30, “setelah genap waktunya”, demikian kata pendeta saya. “Roh Kudus menyapa kami, dan Allah tidak terlambat.” Pendeta saya mengerti budaya di sana berbeda karena alasan-alasan yang wajar.

Waktu sepertinya relatif, tetapi sifat Allah yang sempurna dan tepat waktu ditegaskan di sepanjang Kitab Suci. Setelah Lazarus sakit dan meninggal, Yesus tiba empat hari kemudian dan saudara-saudara perempuan Lazarus pun menanyakan alasannya. Kata Marta kepada Yesus, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (Yoh. 11:21). Kita mungkin berpikiran demikian juga, sambil bertanya-tanya mengapa Allah tidak segera menyelesaikan masalah kita. Namun, lebih baik kita menunggu jawaban dan kuasa-Nya dalam iman.

Teolog Howard Thurman pernah menulis, “Kami menunggu, ya Bapa, sampai akhirnya sesuatu dari kekuatan-Mu menjadi kekuatan kami, dan sesuatu dari hati-Mu menjadi hati kami, sesuatu dari pengampunan-Mu menjadi pengampunan kami. Kami menunggu, ya Allah, kami menunggu.” Kemudian, seperti yang terjadi pada Lazarus, ketika Allah menjawab kita dengan ajaib oleh karya-Nya yang tidak pernah terlambat.  —PATRICIA RAYBON

WAWASAN
Adat-istiadat orang Yahudi mewajibkan jenazah dikuburkan dalam waktu dua puluh empat jam setelah meninggal. Dalam Yohanes 11, dikisahkan bahwa Lazarus telah berada di dalam kubur selama empat hari ketika Yesus tiba (ay.17,39) untuk menunjukkan besarnya mukjizat yang terjadi. Ini bukanlah situasi darurat ketika seseorang yang terkena serangan jantung dihidupkan kembali. Lazarus telah jauh melampaui batas waktu untuk hal tersebut. Sebelumnya, Yesus pernah membangkitkan dua orang mati (Lukas 7:11-17; 8:49-56), tetapi kebangkitan-kebangkitan itu terjadi sebelum jenazah membusuk. Menurut pengajaran para rabi, roh orang mati melayang-layang di sekitar jenazah selama tiga hari setelah kematian dengan harapan dapat bersatu kembali dengan raganya. Namun, roh akhirnya akan pergi setelah tubuhnya membusuk. Itulah yang terjadi dengan Lazarus: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati” (Yohanes 11:39). —K.T. Sim

Tak Pernah Terlambat
 

Apa yang sedang kamu nantikan agar Allah kerjakan atau sediakan bagi kamu? Bagaimana kamu dapat menantikan-Nya dalam iman?

Ya Bapa, aku akan menantikan-Mu. Berkati aku dengan kekuatan dan pengharapan yang setia dalam penantianku. 

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 41-42; Matius 12:1-23

Dipuaskan

Senin, 16 Januari 2023

Baca: Yesaya 58:6-12

58:6 Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,

58:7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

58:8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

58:9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,

58:10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.

58:11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.

58:12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. [ ] —Matius 5:6

Pembunuhan Dr. Martin Luther King Jr. yang mengerikan terjadi pada puncak gerakan hak-hak sipil Amerika pada era 1960-an. Namun, hanya empat hari berselang, istri mendiang yang bernama Coretta Scott King dengan berani mengambil alih peranan sang suami dengan memimpin unjuk rasa. Coretta, seorang pejuang hak-hak asasi yang gigih, memiliki kerinduan mendalam akan tegaknya keadilan.

Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan” (Mat. 5:6). Kita tahu, suatu hari nanti Allah akan datang untuk menegakkan keadilan dan meluruskan apa yang selama ini dibengkokkan. Akan tetapi, hingga saat itu tiba, kita mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi mewujudkan keadilan Allah di bumi, seperti yang dilakukan Coretta. Yesaya 58 memberikan gambaran yang terang-benderang tentang apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan umat-Nya: melepaskan belenggu penindasan, memerdekakan yang tertindas, membagi makanan dengan mereka yang lapar, menyediakan tempat berteduh bagi mereka yang miskin dan tunawisma, memberikan pakaian kepada mereka yang telanjang, dan tidak menyembunyikan diri dari mereka yang membutuhkan pertolongan (ay.6-7). Memperjuangkan keadilan bagi yang teraniaya dan terpinggirkan adalah salah satu cara hidup kita dapat menuntun orang lain kepada Allah. Yesaya menulis bahwa umat Allah yang memperjuangkan keadilan bagaikan terang fajar yang membawa pemulihan, bagi mereka dan juga bagi orang lain (ay.8).

Hari ini, kiranya kita ditolong Allah untuk menumbuhkan rasa lapar dan haus akan kehadiran kebenaran-Nya di muka bumi. Saat kita memperjuangkan keadilan dengan cara dan kuasa-Nya, Alkitab berkata, kita akan dipuaskan. —KAREN PIMPO

WAWASAN
Puasa yang dimaksud dalam Yesaya 58:6 adalah tanggapan Allah atas tuduhan yang dilontarkan umat terhadap-Nya. Mereka bertanya, "Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga?" (ay.3). Mereka berharap Allah menanggapi puasa mereka, tetapi Dia melihat puasa tersebut hanya formalitas. “Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu . . . Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (ay.3-4). Allah ingin mereka mencari Dia dalam kerendahan hati yang sungguh-sungguh dan memperlakukan orang lain dengan adil dan belas kasihan, terutama mereka yang membutuhkan (ay.7). —Tim Gustafson

Dipuaskan

Ketidakadilan seperti apa yang menarik perhatian kamu? Langkah apa yang dapat kamu ambil hari ini untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan? 

Ya Allah, berilah aku rasa lapar dan haus akan keadilan. Jadikanlah aku bagian dalam pekerjaan-Mu untuk memperjuangkan kebenaran. 

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 39-40; Matius 11

Ratapan Menjadi Pujian

Minggu, 15 Januari 2023

Baca: Habakuk 3:17-19

3:17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,

3:18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.

3:19 ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

Aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. [ ]  —Habakuk 3:18

Monica berdoa tanpa kenal lelah agar putranya berpaling kepada Allah. Ia menangisi cara hidup anaknya yang menyimpang, bahkan sampai mencari jejak anaknya yang berpindah-pindah kota. Situasinya seolah tanpa harapan. Lalu, pada suatu hari terjadilah: putranya mengalami perjumpaan dengan Allah yang mengubahkan hidupnya. Ia pun kemudian menjadi salah seorang teolog terbesar yang pernah dimiliki gereja. Kita mengenalnya sebagai Agustinus, Uskup dari Hippo.

“Berapa lama lagi, Tuhan?” (Hab. 1:2). Nabi Habakuk meratapi lambannya Allah dalam menangani para penguasa yang telah memutarbalikkan keadilan (Hab. 1:4). Pikirkanlah saat-saat kita berpaling kepada Allah dalam kesesakan—kita mengungkapkan ratapan kita atas ketidakadilan yang terjadi, sakit-penyakit yang tidak kunjung sembuh, pergumulan finansial yang berkepanjangan, atau anak-anak yang telah meninggalkan Allah.

Setiap kali Habakuk meratap, Allah mendengar tangisannya. Saat menanti dengan iman, kita dapat belajar dari sang nabi untuk mengubah ratapan kita menjadi pujian, seperti yang dikatakannya, “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku” (Hab. 3:18, penekanan ditambahkan). Meski tidak mengerti jalan-jalan Allah, ia tetap percaya kepada-Nya. Baik ratapan maupun pujian adalah sama-sama tindakan iman, suatu ungkapan kepercayaan. Ratapan kita adalah seruan kepada Allah yang didasarkan pada sifat-Nya yang kita percayai. Pujian kita juga didasarkan pada siapa diri-Nya—Allah kita yang dahsyat dan mahakuasa. Suatu hari nanti, oleh anugerah-Nya, setiap ratapan akan berubah menjadi pujian. —Glenn Packiam

WAWASAN
Nubuat Habakuk mencatat percakapan antara Allah dan sang nabi mengenai kondisi rohani atau kebutuhan mendesak umat-Nya. Percakapan tersebut mengandung pernyataan penting dari Habakuk 2:4: “Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya,” yang tiga kali dikutip dalam Perjanjian Baru (Roma 1:17; Galatia 3:11; Ibrani 10:38). Namun, Habakuk 3 berbeda, karena mengandung ciri-ciri mazmur, bahkan mencantumkan petunjuk cara menyanyikannya, yaitu “Menurut nada ratapan” (ay.1). Seorang pakar Alkitab menyatakan bahwa keterangan itu mengacu kepada puisi yang sangat emosional. Selain itu terdapat juga Sela (istilah yang sering dipakai dalam mazmur) di akhir ayat 3, 9, dan 13. Akhirnya, di ayat 19, ada instruksi tambahan: “Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi.” Dengan demikian nyanyian ini menjadi contoh yang baik dari sebuah ratapan bangsa atau bersama (lihat Wawasan 3 Januari). —Bill Crowder

Ratapan Menjadi Pujian

Apa saja yang sedang kamu ratapi hari ini? Bagaimana kamu dapat mengubah ratapan itu menjadi pujian?

Tuhan Yesus, ingatkanlah aku tentang diri-Mu dan apa yang telah Engkau perbuat dalam hidupku.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 36-38; Matius 10:21-42

Awal yang Baru

Sabtu, 14 Januari 2023

Baca: Mazmur 120:1–121:2

120:1 Nyanyian ziarah. Dalam kesesakanku aku berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab aku:

120:2 “Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu.”

120:3 Apakah yang diberikan kepadamu dan apakah yang ditambahkan kepadamu, hai lidah penipu?

120:4 Panah-panah yang tajam dari pahlawan dan bara kayu arar.

120:5 Celakalah aku, karena harus tinggal sebagai orang asing di Mesekh, karena harus diam di antara kemah-kemah Kedar!

120:6 Cukup lama aku tinggal bersama-sama dengan orang-orang yang membenci perdamaian.

120:7 Aku ini suka perdamaian, tetapi apabila aku berbicara, maka mereka menghendaki perang.

121:1 Nyanyian ziarah. Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?

121:2 Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.

Ya Tuhan, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu. [ ]  —Mazmur 120:2

“Kesadaran Kristen diawali dengan kesadaran yang pahit bahwa apa yang selama ini kita anggap sebagai kebenaran, sebenarnya merupakan kebohongan,” tulis Eugene Peterson dalam perenungannya yang luar biasa mengenai Mazmur 120. Mazmur 120 adalah mazmur pertama dari rangkaian “nyanyian ziarah” (Mzm. 120–134) yang dinyanyikan para musafir dalam perjalanan ke Yerusalem. Seperti yang ditelusuri Peterson dalam buku A Long Obedience in the Same Direction, mazmur-mazmur tersebut juga memberikan kepada kita gambaran mengenai perjalanan rohani seseorang kepada Allah.

Perjalanan itu hanya dapat dimulai dengan kesadaran mendalam bahwa kita membutuhkan sesuatu yang berbeda. Peterson menulis, “Seseorang harus benar-benar muak dengan keadaan yang ada supaya ia memiliki motivasi untuk memilih jalan iman Kristen. . . . [Ia] harus benar-benar jemu dengan cara-cara dunia sebelum ia memiliki kehausan akan dunia yang penuh kasih karunia.”

Alangkah mudahnya kita berkecil hati melihat kebobrokan dan keputusasaan yang marak terjadi di sekeliling kita, seperti bagaimana kita sering menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap kerugian yang ditimbulkan seseorang terhadap sesamanya. Mazmur 120 meratapi ini dengan jujur: “Aku ini suka perdamaian, tetapi apabila aku berbicara, maka mereka menghendaki perang” (Mzm. 120:7).

Namun, pemulihan dan kelepasan dialami ketika kita menyadari bahwa penderitaan kita juga dapat membukakan mata kita kepada suatu awal yang baru. Kita mengalaminya melalui Sang Juruselamat, satu-satunya sumber pertolongan kita, yang sanggup menuntun kita keluar dari kebohongan yang menghancurkan hidup kepada keutuhan yang penuh dengan damai sejahtera (Mzm. 121:2). Memasuki tahun yang baru ini, kiranya kita rindu mengikut Dia dan jalan-jalan-Nya. —Monica La Rose

WAWASAN
Mazmur 120 dan 121 termasuk Nyanyian Ziarah (Mazmur 120–134), yang kemungkinan besar dihafalkan dan dinyanyikan saat umat Israel pergi ke Yerusalem untuk perayaan Paskah (Hari Raya Roti Tidak Beragi), Hari Raya Tujuh Minggu, dan Hari Raya Pondok Daun (Ulangan 16:16). Beberapa nyanyian ziarah itu tercatat ditulis Daud (Mazmur 122, 124, 131, 133) dan satu nyanyian disebutkan sebagai karya Salomo (Mazmur 127), tetapi kebanyakan tidak dicantumkan penulisnya. 

Ragam kelompok mazmur itu antara lain adalah mazmur ratapan, mazmur pengucapan syukur, mazmur kerajaan, mazmur hikmat, dan masih banyak lagi. Namun, meski kemungkinan tidak ditulis sebagai mazmur ziarah, nyanyian-nyanyian tersebut di kemudian hari dipakai untuk tujuan ziarah. Mazmur 120 adalah mazmur pribadi yang ditulis oleh seseorang yang berada jauh dari rumah dan merindukan kedamaian di Yerusalem (ay.5-7), sementara kata-kata yang menenteramkan dari Mazmur 121 menanamkan keyakinan pada diri para peziarah yang melakukan perjalanan ke Yerusalem. Pada masa kini, Nyanyian Ziarah tetap berperan penting dalam ibadah, baik bagi umat Yahudi maupun mereka yang percaya kepada Yesus. —Alyson Kieda

Awal yang Baru

Bagaimana kamu telah menjadi terbiasa dengan cara-cara dunia yang bobrok? Bagaimana Injil mengundang kamu untuk memilih jalan-jalan yang membawa damai sejahtera? 

Allah Mahakasih, buatlah aku merindukan dan mengusahakan jalan-jalan-My yang penuh damai sejahtera dengan kuasa Roh-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 33-35; Matius 10:1-20

Melawan Orang Banyak

Jumat, 13 Januari 2023

Baca: Roma 9:1-5

9:1 Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus,

9:2 bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati.

9:3 Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani.

9:4 Sebab mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak, dan mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, dan ibadah, dan janji-janji.

9:5 Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!

Aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani. [ ] —Roma 9:3

“Adakalanya manusia berani melawan raja-raja yang paling berkuasa dan menolak tunduk di hadapan mereka,” demikian hasil pengamatan filsuf dan penulis Hannah Arendt (1906–75). Ia menambahkan, “Namun, tidak banyak yang berani melawan orang banyak, yang berjuang seorang diri menentang sekumpulan orang yang sesat pikir, untuk menghadapi kegilaan mereka yang tak kenal ampun tanpa menggunakan senjata.” Sebagai seorang Yahudi, Arendt menyaksikan sendiri kenyataan tersebut di negeri asalnya, Jerman. Ada kengerian tersendiri ketika ditolak oleh satu kelompok.

Rasul Paulus pernah mengalami penolakan tersebut. Sebagai seorang Farisi dan rabi Yahudi, hidupnya berubah total ketika ia berjumpa dengan Yesus yang telah bangkit. Saat itu, Paulus sedang berada dalam perjalanan ke Damsyik untuk menganiaya umat yang percaya kepada Kristus (Kis. 9). Namun, setelah bertobat, ia justru mengalami penolakan dari orang-orang sebangsanya. Dalam surat yang kita kenal sebagai 2 Korintus, Paulus menyebut sejumlah kesusahan yang dialaminya karena mereka, di antaranya ia “disiksa, dipenjarakan” (6:5 bis).  

Alih-alih menanggapi penolakan keras itu dengan kemarahan atau kepahitan, Paulus merindukan mereka untuk juga dapat mengenal Yesus. Ia menulis, “Aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani” (Rm. 9:2-3).

Setelah Allah menyambut kita sebagai anggota keluarga-Nya, kiranya Dia juga memampukan kita untuk mengundang pihak-pihak yang memusuhi kita ke dalam hubungan dengan-Nya. —Bill Crowder

WAWASAN
Ayat-ayat pembuka Roma 9 mengingatkan kita bahwa Paulus bukan sedang menulis risalah teologi (meski Kitab Roma dianggap karya terbesar sang rasul secara teologis). Namun, sulit untuk tidak melihat kerinduannya bagi saudara sebangsanya, orang Yahudi, dan penolakan mereka terhadap Yesus sebagai Mesias. Kesedihannya demikian dalam (“sangat berdukacita dan selalu bersedih hati,” ay.2), sampai-sampai ia menyatakan dirinya “mau terkutuk dan terpisah dari Kristus” (ay.3). Kata Yunani anathema, yang diterjemahkan sebagai “terkutuk” atau “terlaknat” (TL), mengacu kepada sesuatu yang telah diletakkan atau dipisahkan sebagai persembahan, suatu kurban. “Terkutuk” berarti diputuskan atau dipisahkan dari hubungan dengan Yesus. Keinginan mendalam Paulus agar orang-orang sebangsanya ikut menerima keselamatan yang dibawa Kristus membuat sang rasul berharap bahwa ia, seperti Yesus, dapat menjadi kurban persembahan demi bangsanya. —J.R. Hudberg

Melawan Orang Banyak

Bagaimana respons kamu selama ini ketika mengalami penolakan? Apa yang membuat penolakan terasa menyakitkan?

Allah Mahakasih, tolonglah aku menuntun orang lain kepada-Mu, supaya mereka mendapat tempat dalam kerajaan-Mu, terlepas dari penderitaan atau kekecewaan yang pernah kualami.

Bacaan Alkitab Setahun: Kejadian 31-32; Matius 9:18-38