Menemukan Diriku Di Dalam-Nya (bagian 4)

menemukan-diriku-4

Rasanya duniaku runtuh seketika. Mengapa ini bisa terjadi? Aku takut. Aku tidak merasa melakukan sesuatu yang salah. Mengapa ia meninggalkan aku? Mengapa ia tidak berkata apa-apa? Apakah aku melakukan sesuatu yang buruk? Apakah aku mengatakan sesuatu yang keliru? Apa yang sebenarnya terjadi?

Aku merasa aku bukan diriku lagi. Apa yang terjadi dengan diriku? Aku merasa kehilangan, kehilangan diriku sendiri. Semua gambarku rasanya tidak bagus lagi. Semua surat yang kutulis rasanya tidak indah lagi. Kekasihku menginspirasiku. Tetapi kini ia sudah pergi.

Aku sudah melakukan banyak hal. Aku sudah banyak berkorban. Untuk apa?

Apakah hidupku sudah tidak berarti lagi? Apakah duniaku sudah benar-benar berakhir?

Ampuni aku Tuhan karena sudah mengabaikan-Mu dalam semua ini. Engkau selalu hadir. Sejak awal. Engkau terus bersamaku, namun aku tidak memperhatikan-Mu. Engkau ada di sisiku ketika hatiku merana, namun aku tidak menyadarinya.

Kuatkanlah aku, ya Tuhan. Sembuhkanlah hatiku. Penuhi diriku dengan pemikiran akan Engkau. Beri aku pengharapan agar aku bisa bangkit lagi. Hapuskan air mataku agar aku bisa memandang keindahan wajah-Mu.

Aku ingin bersembunyi, berharap bisa memulihkan hatiku sendiri. Namun, aku tahu ke mana pun aku pergi, Engkau akan menemukanku.

Perbaruilah hidupku, ya Tuhan.
Bentuklah hidupku agar berpusat kepada-Mu.
Aku ingin mempercayai kebaikan-Mu.
Aku tahu Engkau akan memulihkanku.

 
Serial Perjalanan Hati: Menemukan Diriku Di Dalam-Nya
Material: Foto digital, Photoshop
Penulis: Jude Dias, Shawn Quah, Joanna Hor, Vania Tan, Michele Ong, Abigail Lai
Penerjemah: Jonathan Chandranegara, Elisabeth Ch

Salah satu pencarian terbesar dalam hidup ini adalah pencarian jati diri. Siapakah diri kita? Apa saja yang menentukan identitas kita? Jalan mana yang akan membawa kita menemukan jawabannya? Mengapa identitas itu sangat penting bagi kita? Bulan ini kami berbicara dengan sejumlah anak muda, mendengarkan cerita dan pergumulan hati mereka saat berusaha mengejar yang esensi dalam hidup ini. Apakah kamu mendapati dirimu mengalami hal yang sama dengan mereka? Bagikan apa yang kamu alami dalam kolom komentar di bawah ini.

Menemukan Diriku Di Dalam-Nya (bagian 2)

menemukan-diriku-2

Tatapan yang penuh tanda tanya. Tampak keheranan. Mungkin mereka merasa aneh. Atau, mungkin mereka langsung malas mendengarkan lebih jauh begitu tahu kalau aku bekerja di sebuah pelayanan Kristen.

Mungkin aku saja yang berasumsi mereka akan bereaksi seperti itu.

Mungkin aku salah karena memberi keterangan yang tidak jelas tentang pekerjaanku.

Sulit untuk menjelaskan apa yang kulakukan kepada orang yang tidak punya keyakinan yang sama. Jauh lebih mudah bicara tentang pekerjaan sekuler—tentang atasan, rekan kerja, gaji, lingkup pekerjaan. Peningkatan karir. Jabatan bergengsi. Atasan dan rekan kerja yang menyebalkan. Kenaikan gaji. Semua hal yang juga dialami dan yang menarik bagi orang lain. Betapa senang bila orang lain memperhatikan apa yang kita bicarakan. Sayangnya semua hal itu sudah aku tinggalkan… Ahh… kalau saja aku masih bertahan dalam pekerjaanku dulu, tentu ada banyak orang yang akan memperhatikanku.

Astaga, berhentilah berpikir seperti itu. Aku tidak percaya aku masih bergumul dengan hal yang sama. Aku tahu untuk apa aku ada di sini. Berhentilah membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Ampuni aku, Tuhan. Ingatkan aku mengapa aku memilih jalan ini.

Semua akan menjadi lebih baik seiring berjalannya waktu. Aku hanya perlu membiasakan diri. Tujuanku bukanlah untuk membuat orang terkesan. Tidak apa-apa jika orang lain tidak tertarik.

Saat hidup ini kelak berakhir, hanya satu hal yang penting. Apakah aku telah melakukan yang terbaik untuk hidup dalam kebenaran? Apakah aku telah menjalani hidupku untuk-Mu?

 
Serial Perjalanan Hati: Menemukan Diriku Di Dalam-Nya
Material: Foto digital, Photoshop
Penulis: Jude Dias, Shawn Quah, Joanna Hor, Vania Tan, Michele Ong, Abigail Lai
Penerjemah: Jonathan Chandranegara, Elisabeth Ch

Salah satu pencarian terbesar dalam hidup ini adalah pencarian jati diri. Siapakah diri kita? Apa saja yang menentukan identitas kita? Jalan mana yang akan membawa kita menemukan jawabannya? Mengapa identitas itu sangat penting bagi kita? Bulan ini kami berbicara dengan sejumlah anak muda, mendengarkan cerita dan pergumulan hati mereka saat berusaha mengejar yang esensi dalam hidup ini. Apakah kamu mendapati dirimu mengalami hal yang sama dengan mereka? Bagikan apa yang kamu alami dalam kolom komentar di bawah ini.

Menemukan Diriku Di Dalam-Nya (bagian 1)

menemukan-diriku-1

Duh, kenapa lagi-lagi aku bilang iya? Aku ‘kan sudah memutuskan mau istirahat saja setahun ini.

Saat jalan-jalan terakhir bersama teman-temanku beberapa bulan lalu, aku merasa sangat capek. Jadi, aku bilang tidak akan ikut mereka lagi. Tetapi anehnya, sekarang, saat mereka mengajakku jalan-jalan lagi dengan rute yang lebih pendek, aku mengiyakannya. Kenapa aku bisa begini? Badanku bilang “tidak”, tetapi pikiranku berkata “ya”.

Ya, aku ingin melarikan diri dari rutinitasku yang membosankan. Aku ingin lari dari semua masalahku. Aku tidak ingin berurusan dengan orang lain. Aku ingin bersenang-senang. Aku ingin jalan-jalan. Menikmati wisata kuliner, suasana baru, dan hal-hal yang mengasyikkan bersama teman-temanku.

Aku tahu bahwa saat kembali nanti aku tetap harus menghadapi masalah-masalahku. Tetapi, aku terlanjur kecanduan jalan-jalan, aku merasa tidak bisa bertahan tanpa itu. Aku dan teman-temanku bahkan sudah punya jadwal jalan-jalan sampai tahun 2020!

Aku sadar ini sebenarnya sama dengan melarikan diri, melarikan diri dari masalah.

Apakah Tuhan Yesus melarikan diri saat masalah paling berat ada di hadapan-Nya?

Aku tidak akan beroleh keselamatan jika Dia melakukannya.

Apakah aku sedang menghadapi masalah dengan cara yang salah?

Tolong aku, Tuhan Yesus, untuk mengatasi masalah-masalahku.

Tolong aku agar tidak mengandalkan cara-caraku sendiri yang tidak menyelesaikan masalah, tetapi mempercayai-Mu dan menyambut karya-Mu dalam hidupku.

Tolong aku, Tuhan, untuk lebih bergantung kepada-Mu.

 
Serial Perjalanan Hati: Menemukan Diriku Di Dalam-Nya
Material: Foto digital, Photoshop
Penulis: Jude Dias, Shawn Quah, Joanna Hor, Vania Tan, Michele Ong, Abigail Lai
Penerjemah: Jonathan Chandranegara, Elisabeth Ch

Salah satu pencarian terbesar dalam hidup ini adalah pencarian jati diri. Siapakah diri kita? Apa saja yang menentukan identitas kita? Jalan mana yang akan membawa kita menemukan jawabannya? Mengapa identitas itu sangat penting bagi kita? Bulan ini kami berbicara dengan sejumlah anak muda, mendengarkan cerita dan pergumulan hati mereka saat berusaha mengejar yang esensi dalam hidup ini. Apakah kamu mendapati dirimu mengalami hal yang sama dengan mereka? Bagikan apa yang kamu alami dalam kolom komentar di bawah ini.

Buklet Renungan Persahabatan & Cinta

FNL AB

Ingin menunjukkan kepedulianmu kepada orang-orang terkasih, tetapi bingung harus mulai dari mana? Kami telah memilihkan 21 renungan seputar Persahabatan dan Cinta, dan mengemasnya dalam sebuah buklet menarik yang bisa kamu gunakan sebagai hadiah untuk menyemangati sahabat-sahabatmu, sekaligus mendorong mereka terus bertumbuh dalam iman dan kasih mereka kepada Tuhan.

Download Buklet Renungan Persahabatan & Cinta

#Selfie

Oleh Karen Kwek, Singapura
Ilustrator: Marie Toh

Lihat! Aku sedang di Peru—di depan reruntuhan Machu Picchu, reruntuhan kerajaan Inka.

Ini juga aku, lagi seru nonton konser.

Lihat lagi nih, aku siap menyantap iga bakar ukuran jumbo.

Nah, yang ini aku baru keluar salon dengan model rambutku yang baru.

Halaman demi halaman profil media sosialku menyentakku dengan sebuah kebenaran. Aku adalah seorang yang ketagihan selfie. Dan, aku tidak sendirian.

Potret diri sendiri jelas bukanlah hal yang baru. Selama berabad-abad, para seniman telah membuat gambar diri mereka agar dapat dikenal generasi berikutnya. Namun, belakangan ini, ponsel pintar dengan kamera depan telah membuat orang sangat mudah memotret diri sendiri. Kita tidak perlu menjadi seorang seniman seperti Van Gogh dulu untuk bisa membuat gambar diri yang siap dipamerkan di hadapan banyak orang. Cukup menekan satu tombol saja, foto kita bisa meraih banyak hati di Instagram atau banyak jempol di Facebook. Kita tidak hanya sibuk ber-selfie-ria, kita juga sibuk saling memberi komentar tentang selfie. Setelah dinobatkan oleh Kamus Oxford sebagai kata terpopuler tahun 2013, kata selfie akhirnya resmi dimasukkan dalam kamus bahasa Inggris tersebut pada bulan Juni 2014. Suka atau tidak suka, selfie ada di dalam dunia kita.

Namun, bagaimana mungkin orang tidak suka selfie? Kita tidak lagi perlu menyetel pengaturan foto otomatis lalu berlari-lari untuk mengambil posisi sebelum sinyal merah pada kamera berhenti berkedip. Kita tidak lagi perlu khawatir hasil foto kita kabur, atau ibu jari kita kelihatan karena hanya bisa mengira-ngira posisi yang tepat saat kamera dihadapkan kepada kita. Kita juga tidak perlu repot-repot datang ke studio foto. Sekarang sudah tersedia juga sejumlah aplikasi ponsel yang memberi petunjuk bagaimana memposisikan kepala dan kedua belah bahu dengan tepat, agar kita bisa membuat pas foto resmi sendiri. Kita bahkan bisa mengambil foto berulang kali sampai senyum kita terlihat sempurna, karena—jujur saja—kita sendirilah yang paling bisa menilai foto mana yang ingin kita tampilkan kepada dunia.

Fenomena selfie membuatku bertanya: apakah selfie hanyalah sebuah cara yang menyenangkan untuk mengabadikan dan membagikan cerita hidup kita kepada teman-teman kita, ataukah ada sesuatu di balik tren ini yang penting untuk kita cermati, lebih dari sekadar memuaskan mata? Mungkinkah hobi selfie menunjukkan sesuatu yang lebih dalam tentang motivasi kita, sikap-sikap kita, dan apa yang kita pikirkan tentang diri kita?

Rasa Tenteram yang Semu
Pada bulan April 2014, seorang bernama Radhika Sanghani menulis sebuah artikel untuk surat kabar UK’s Telegraph. Ia mengamati bahwa orang sepertinya menemukan semacam rasa aman dengan terus menerus berada di depan sekaligus di belakang kamera:

Saat aku bicara dengan teman-temanku yang paling sering selfie, mereka sepakat bahwa mereka merasa tenteram bila memiliki kendali atas gambar diri mereka. “Lebih mudah menyunting dan mengontrol foto yang kamu ambil sendiri daripada foto yang diambil orang lain,” kata seorang teman. “Kamu dapat membuat fotomu terlihat lebih baik.”

Wajar saja jika kita ingin dilihat dalam penampilan terbaik kita. Siapa juga yang mau tampil asal-asalan saat menghadiri sebuah acara atau wawancara pekerjaan? Akan tetapi, media sosial sepertinya telah menaikkan standar itu dengan memberi kesempatan yang lebih luas untuk menampilkan sisi terbaik kita. Ketika foto-foto selfie kita terpasang di sana, dunia dapat melihat lebih banyak sisi kehidupan kita, dan kita pun bisa mengetahui pandangan orang tentang diri kita. Dalam artikelnya, Sanghani berpendapat bahwa ber-selfie-ria menunjukkan keinginan untuk “diperhatikan dan diterima dalam masyarakat”. Penerimaan ini seringkali diukur dengan jumlah “like” yang kita peroleh—sebab itu orang bisa menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu mengapa foto tertentu mendapatkan “like” lebih banyak dari yang lain. Tanpa disadari kita bisa membiarkan orang lain menentukan apa yang bernilai bagi kita dan mendefinisikan identitas kita.

Ketika nilai diri kita didasarkan pada pengakuan orang lain, hati kita akan sangat sulit untuk merasa tenang. Kita terus-menerus merasa perlu memperbarui halaman profil kita. Dengan menekan sebuah tombol, kita menghapus semua yang tidak sesuai dengan citra yang ingin kita tampilkan. Kita hanya menyunting, menyimpan, dan mengirimkan foto-foto aktivitas kita yang paling keren sepanjang minggu. Kita khawatir kalau-kalau “diri kita yang sesungguhnya” tidak diwakili dengan baik oleh foto-foto kita.

Tidak heran bila sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2014 di UK menemukan hubungan kecanduan selfie dengan masalah citra diri. Studi yang melibatkan lebih dari 2.000 pria dan wanita berusia 18-30 tahun itu menemukan bahwa orang-orang yang secara teratur mengambil foto selfie memiliki perasaan rendah diri. Tetapi, mengapa harga diri kita begitu rapuh? Apakah itu disebabkan kita selalu bertanya pada diri kita: Layakkah aku? Siapa yang mau menyukai dan menerimaku?

Nilai Diri yang Sejati
Bagaimana bila ternyata ada cara yang lebih baik untuk menilai diri kita daripada mencari pendapat orang lain? Bagaimana bila ada seseorang yang dapat mengetahui segala sesuatu tentang diri kita dan tetap menerima kita apa adanya—lengkap dengan segala kekurangan kita? Dan, bagaimana bila pendapat orang itu adalah satu-satunya pendapat yang benar-benar penting?

Berita baiknya, Pribadi itu sungguh ada. Alkitab memberitahu kita bahwa Pribadi ini mengenal kita seutuhnya, bahkan sebelum kita dilahirkan, karena Dialah yang menciptakan kita:

Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku,
menenun aku dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib;
ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu,
ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi,
dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah;
mata-Mu melihat selagi aku bakal anak,
dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis
hari-hari yang akan dibentuk,
sebelum ada satupun dari padanya.
(Mazmur 139:13-16)

Setiap kita diciptakan secara istimewa. Kita bisa meyakini hal ini tanpa harus mengirim foto selfie dan menghitung jumlah “like”. Mengapa? Karena Dia yang menciptakan kita adalah Pribadi yang memegang otoritas atas segala sesuatu, dan Dia sendiri yang menyatakan hal ini! Siapakah Dia? Dialah Pencipta kita. Dia menghargai kita sebagaimana adanya kita dan tidak menghakimi kita berdasarkan penampilan luar kita.

Dalam kenyataannya, Sang Pencipta ini telah membuktikan betapa Dia menghargai dan mengasihi kita dengan datang sebagai manusia untuk membangun relasi dengan kita. Namanya adalah Yesus Kristus. Betapa hebatnya bisa memiliki sahabat seperti Dia! Lupakan jumlah “like” di media sosial—apa yang bisa lebih hebat daripada menjadi sahabat Sang Pencipta?

Jadi, bagaimana kita harus memandang selfie? Pastinya selfie adalah cara hebat mengabadikan momen-momen penting untuk dapat diketahui oleh generasi mendatang. Namun, jika kita memiliki pemahaman yang utuh tentang siapa diri kita sebagai ciptaan Yesus, kita tidak akan lagi khawatir tentang apa yang dipikirkan orang tentang kita atau foto-foto selfie kita. Mereka tidak akan lagi mendefinisikan identitas kita, karena Yesus telah menyatakan bahwa kita adalah ciptaan yang berharga dan dikasihi-Nya.

Apakah kamu tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang siapa Yesus yang melihat dan menghargaimu sebagaimana adanya, juga tentang undangan persahabatan-Nya? Bukankah akan hebat bisa melihat siapa dirimu menurut pandangan-Nya dan mengenal identitas dirimu yang sejati?

Jika kamu merasa tertantang untuk menemukan identitasmu yang sejati, kami berharap kamu akan mencari tahu lebih banyak tentang undangan persahabatan yang diberikan oleh Yesus. Kami mendorongmu untuk berbicara dengan seorang teman atau staf di gereja yang dekat dengan tempat tinggalmu untuk mengetahuinya lebih lanjut. Kami berharap artikel-artikel yang kami muat di situs web kami juga dapat menolongmu untuk bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.

Baca Juga:

Kisahku sebagai Korban Bullying yang Berharga di Mata Allah

Ketika SMA dulu aku sering dibully oleh teman-teman. Akibatnya, untuk membalas perilaku mereka, aku merasa perlu menonjolkan eksistensi diri agar mereka tidak memandang rendah diriku, bahkan kalau bisa supaya mereka takut kepadaku.

Keluar Batas

Download PDF

Senang kamu meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. Cerita tanpa kata mungkin tak banyak kita jumpai. Namun, kami yakin kamu bisa mendapatkan lebih banyak dengan berimajinasi, mengajukan pertanyaan, dan menemukan sendiri makna di balik cerita ini. Kami berharap kamu menuai banyak manfaat dari prosesnya.

Apakah kamu merasa sudah akrab dengan sebagian unsur cerita dan tokoh-tokoh yang ada? Mungkin tokoh singa membuatmu teringat pada Aslan dari The Chronicles of Narnia. Mungkin unsur pohon—yang memikat sekaligus mematikan—mengingatkanmu pada pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat dalam kitab Kejadian (yup, pohon yang buahnya dimakan oleh Adam dan Hawa).

Kalau pun kamu merasa cerita ini adalah sesuatu yang baru, setidaknya tema-tema dalam cerita ini tentu tidak asing bagimu. Tentang persahabatan, pemberontakan, pengkhianatan, pengorbanan, kematian, dan sebagainya.

Kisah fantasi ini menceritakan persahabatan antara seorang pemanah muda dengan singa yang menjadi pelindung sekaligus sahabatnya. Mereka melewati waktu-waktu yang menyenangkan bersama, bermain, berburu, tidur beratapkan bintang-bintang. Lalu, entah dari mana muncullah sebatang pohon yang menarik hati di luar batas tempat mereka tinggal. Buahnya tampak ranum dan memikat. Si pemanah muda pun dengan bersemangat berusaha meraihnya. Ia nekad keluar batas meski sudah dihalangi sang singa. Obsesinya merusak hubungan persahabatannya. Kita melihat sang singa berusaha merebut dan menjatuhkan buah itu dari genggaman si pemanah muda, memakannya, lalu tergeletak mati. Sepertinya keingintahuan sang singa mendatangkan celaka bagi dirinya sendiri. Namun kemudian kita menyadari mengapa sang singa sebenarnya bermaksud mencegah si pemanah muda memakan buah tersebut. Ia tahu bahwa buah itu beracun.

Mungkin kamu bertanya-tanya, apakah cerita ini adalah sebuah alegori. Maksudnya, sebuah kisah yang sengaja dibuat untuk mengajarkan sesuatu. Tiap tokoh dan peristiwa melambangkan unsur tertentu dalam kehidupan manusia. Dugaanmu benar sekali!

Tidak masalah berapa usiamu, dari mana latar belakangmu, atau apa yang menjadi keyakinanmu, salah satu dari dua cara pandang berikut ini mungkin mewakili tanggapanmu:

Cerita yang bagus! Jadi, apa artinya?

Hei, aku tahu cerita ini bicara tentang apa!

Tangan Allah

Header-TaktikJitu

Baca: Mazmur 86:8-11

86:8 Tidak ada seperti Engkau di antara para allah, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kaubuat.
86:9 Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu.
86:10 Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah.
86:11 Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.

 
Gerd Müller, yang dijuluki “Pembom” adalah salah satu penyerang terbaik dalam sejarah sepakbola Jerman. Ia memenangi Kejuaraan Eropa bersama Bayern Munich dan juga menjuarai Piala Dunia bersama tim nasional Jerman. Tidak banyak pemain yang dapat melampaui rekor gol yang dicetaknya. Namun yang luar biasanya, ketika untuk pertama kalinya ia mengikuti latihan, seorang pelatih melihatnya dan berkomentar: “Apa yang bisa aku lakukan dengan petani gemuk ini?”

Pernahkah Anda dibuat jengkel oleh perkataan orang seperti itu? Pernahkah Anda merasa ingin membalas dengan komentar Anda sendiri tentang diri mereka? Saya yakin kita pernah merasa demikian. Seringkali orang-orang yang merasa “jagoan” itu lebih baik tidak pernah mengucapkan apa-apa.

Syukurlah, perkataan mereka tidak menentukan segalanya. Allah berkata bahwa kita semua harus memberikan pertanggungjawaban atas segala yang pernah kita katakan pada hari penghakiman, jadi kita sudah tahu Dialah yang akan menentukan hasil akhir segalanya. Allah akan menjamin tegaknya keadilan dan segala kesalahan pasti akan menerima ganjarannya.

Tangan Allah yang mengendalikan segala sesuatu. Allah menentukan jalannya sejarah, dan tidak ada orang yang dapat mengubahnya. Segala bangsa yang dijadikan-Nya kelak akan datang sujud menyembah di hadapan-Nya, dan akan memuliakan nama-Nya (Mazmur 86:9). Allah mengizinkan berbagai macam situasi menempa karakter kita untuk tujuan yang sama, yaitu agar bumi ini dipenuhi ciptaan-ciptaan yang memuliakan-Nya. Tidak ada yang dapat menghindar dari kehendak Allah: di balik setiap pilihan bebas, keputusan dan tindakan, Allah memegang kendali.

Memahami hal ini tidak menjadikan Allah sebagai diktator. Dia memberi kita kapasitas untuk menanggapi apakah akan mengikuti arahan-Nya atau memercayai perkataan manusia. Pikiran dan keadaan kita mendorong keputusan yang kita ambil. Jalan hidup kita adalah hasil dari banyak keputusan (baik yang benar maupun yang salah) yang kita buat. Kita tidak berhak menyalahkan Allah atas pilihan-pilihan yang kita ambil atau atas perbuatan orang lain. Tetapi dengan mengingat bahwa tangan-Nya mengendalikan hasil akhir, kita akan tetap memilih menaati firman-Nya tanpa ragu sekalipun semua orang di sekitar kita memilih hal yang lain, karena kita tahu bahwa tidak ada hal yang terjadi di luar kehendak-Nya. Allah saja yang menentukan segalanya.

Tangan Allah mengendalikan jalannya sejarah dunia.

 

🙂 Bukan Trivia Piala Dunia

3. Apakah ada perkataan orang atau situasi tertentu yang membuatmu merasa bahwa menjaga hidup sesuai Firman Tuhan itu tidak banyak gunanya? Mengapa?

4. Mengingat bahwa yang menentukan hasil akhir hidup kita adalah Allah sendiri, bukan diri kita atau orang lain, bagaimana kamu ingin menjalani hidupmu ke depan? Hal-hal apa yang ingin kamu mulai atau ingin kamu lakukan lebih banyak, atau justru ingin berhenti kamu lakukan dalam hidupmu?

Hidup di Jalur Cepat

Header-TaktikJitu

Baca: 1 Yohanes 2:15-17

2:15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
2:17 Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

 

Jim Clark telah 2 kali memenangi Kejuaraan Dunia Formula 1. Banyak yang berkata bahwa ia akan menjadi pencetak rekor baru, karena ia sudah menjadi pembalap yang begitu hebat di usia yang sangat muda. Namun demikian, ia menemui ajalnya dalam sebuah ajang Formula 2 pada 7 April 1968. Ia memilih ikut serta dalam perlombaan yang kelasnya lebih rendah itu, meski seharusnya ia tidak berada di sana.

Banyak hal besar yang digagalkan oleh karena kesalahan yang kecil. Satu noda merusak lukisan yang indah. Satu kesalahan menghancurkan pertunjukan yang hebat. Satu mikroba membuat sebuah pisau bedah tidak dapat digunakan lagi. Kehidupan yang bahagia, bersinar, dan memuaskan terkadang dihancurkan oleh satu tindakan sesaat yang bodoh.

Sudah banyak orang yang hidupnya berantakan hanya karena hal-hal yang kelihatannya remeh. Lihatlah di sekitar kita! Ada begitu banyak cara menikmati hidup yang tersedia pada zaman ini. Namun ada begitu banyak pula hidup yang hancur akibat “kesenangan” sesaat yang kelihatan aman-aman saja pada awalnya. Kesenangan itu menjadi berbahaya saat ia mulai mengambil alih kendali hidup kita. Ketika kita menjadi terobsesi dengan sesuatu, apapun itu, pertumbuhan rohani kita akan terhambat. Hobi yang tampaknya baik-baik saja bisa menjadi sesuatu yang tidak terkendali. Jangan lupakan peringatan Firman Tuhan: “siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu” (2Ptr.2:19).

Terkadang kita mencari hiburan untuk mengalihkan pikiran kita dari masalah-masalah hidup. Ketika kita bersenang-senang, kita bisa melupakan kehampaan hidup kita. Seperti Jim, yang berhasrat untuk selalu berlomba, kita bisa dikendalikan begitu rupa oleh berbagai hal yang tadinya hanya untuk hiburan. Orang Kristen pun tidak lepas dari jerat yang sama! Meskipun kita sadar bahwa kepuasan dan keutuhan hidup hanya datang dari Allah, kita dapat dengan sangat mudah teralih oleh hal-hal lain. Mungkin, sekalipun kita adalah orang Kristen, kita masih merasakan masalah dan kehampaan hidup yang sama dengan yang dialami oleh orang-orang dunia.

Allah menjanjikan kita hidup yang berkelimpahan. Dunia ini sama sekali tidak mengajarkan rahasia dari hidup yang bahagia. Jika kita mengisi hidup ini dengan kesenangan yang berbahaya atau yang membuat kita kecanduan, kesenangan itu dapat menghancurkan kita dan membuat kita tidak lagi dapat merasakan kasih dan penghiburan Allah. Kita perlu hidup dekat dengan-Nya agar kita dapat menikmati kelimpahan dari-Nya. Jika kita mencari kepuasan dari sumber yang lain, kita akan diperbudak oleh apapun sumber itu.

Yesus tidak datang hanya untuk memberi kita hidup;
Dia datang untuk memberi kita hidup yang berkelimpahan!

 

🙂 Bukan Trivia Piala Dunia

1. Bagaimana kamu membandingkan semangatmu dalam mengikuti Piala Dunia (atau acara lain yang merupakan favoritmu) dengan semangatmu dalam berdoa dan belajar Firman Tuhan?

2. Setujukah kamu bahwa “kita bisa dikendalikan begitu rupa oleh berbagai hal yang tadinya hanya untuk hiburan”? Apa yang saat ini mengendalikan caramu menggunakan waktu, uang, dan hal-hal lain dalam hidupmu?

Tak Pernah Menua

Sabtu, 12 Juli 2014

Header-TaktikJitu
Day 30
Lihat Sumber Foto

Baca: Mazmur 102:26-28

102:26 Dahulu sudah Kauletakkan dasar bumi, dan langit adalah buatan tangan-Mu.

102:27 Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah;

102:28 tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.

 

Panjangnya karier bermain seorang pesepakbola profesional diperkirakan mencapai rata-rata 8 tahun. Dengan kemajuan dalam ilmu olahraga dan pengobatan masa kini, masa bermain itu bisa diperpanjang menjadi lebih dari 10 tahun. Meskipun demikian, tetap saja itu suatu masa yang pendek. Satu jegalan ceroboh atau cedera karena jatuh dapat mengakhiri sebuah karier yang menjanjikan.

Para pemain datang dan pergi tanpa seorang pun dapat bertahan untuk waktu yang lama. Namun ada satu Pribadi yang hidup untuk selamanya, dengan kekuatan dan kreativitas yang tidak lekang oleh waktu, dan yang tidak pernah berubah dan selalu dapat diandalkan. Bagaimana mungkin ini terjadi, sementara para atlet yang luar biasa berbakat pada akhirnya akan kehilangan kepiawaian mereka? Mungkinkah ada sesuatu yang begitu dahsyat sehingga kejayaannya dapat bertahan untuk selamanya?

Yesus, Anak Allah, “tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr.13:8). Menurut Kolose 1:15-20, Yesus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, Pencipta segala sesuatu, dan pusat dari alam semesta. Oleh kuasa-Nya, segala sesuatu ada di dalam Dia dan ditopang oleh-Nya. Dia lebih utama dalam segala sesuatu dan sempurna dalam kasih dan kebenaran. Yang paling luar biasa, Dia menjanjikan hidup yang kekal bagi semua yang percaya kepada-Nya (1Yoh.2:25).

Tubuh kita yang semakin renta terus mengingatkan bahwa kita perlu Yesus yang tetap sama sampai selama-lamanya. Ketika hidup kita berakhir, semua yang percaya kepada-Nya akan melangkah menuju kekekalan, di mana kita tidak akan pernah menjadi tua.

Yang terpenting bukanlah panjangnya usia, melainkan kualitas hidup.

 

🙂 Trivia Piala Dunia

71. Piala Dunia FIFA tahun berapakah yang memakai paling banyak tempat untuk melangsungkan pertandingan-pertandingannya?

72. Tim negara manakah yang telah 3 kali lolos ke pertandingan final tetapi selalu kalah?

73. Dalam sejarah Piala Dunia, siapakah pencetak gol terbanyak dalam satu pertandingan?

74. Pada kejuaraan Piala Dunia tahun berapakah aturan “gol emas” mulai diberlakukan?

🙂 Tahukah Kamu?

Pesepakbola tertua yang tampil untuk pertama kalinya dalam sebuah kejuaraan Piala Dunia FIFA adalah David James asal Inggris. Ia berusia 39 tahun ketika turun menghadapi Aljazair pada tahun 2010.