Bahan renungan yang bisa menemani saat teduhmu dan menolongmu dalam membaca firman Tuhan.

Dilbert

Selasa, 11 Mei 2010

Baca: Efesus 6:1-6

Jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah. —Efesus 6:6

Seorang kartunis, Scott Adams, menjadi terkenal karena kartun lucunya, Dilbert. Ia juga menulis buku di tahun 1990-an yang berjudul The Dilbert Principle (Prinsip Dilbert). Di buku ini, ia melecehkan teknologi, kepemimpinan yang hanya sekadar iseng, dan para manajer yang tidak becus. Banyak orang mungkin tertawa terbahak-bahak ketika menemukan kaitan-kaitan yang tertulis di buku ini dengan dunia kerja mereka sehari-hari.

Berkaitan dengan kemalasan dan ketidakjujuran para pekerja, Scott menulis, “Ketika berusaha menghindari pekerjaan, boleh saja mengatakan bahwa aku belajar dari para ahlinya. Setelah sembilan tahun . . . yang kupelajari tentang segala sesuatu di tempat ini adalah belajar bagaimana supaya aku terlihat sibuk tanpa harus benar-benar sibuk.”

Namun, umat percaya memiliki panggilan yang lebih tinggi di dalam hal yang berkaitan dengan para atasan. Kitab Suci mendorong kita untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang-orang yang mengawasi kita: “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah” (Ef. 6:5-6).

Etos kerja yang benar dimulai dengan hati tulus dimana kita menganggap Yesus Kristus sebagai atasan kita. Kita menyenangkan-Nya ketika kita dengan giat melayani atasan kita dan orang lain di tempat kerja. —HDF

Apa pun tugas yang akan kita kerjakan,
Baik itu tugas kecil ataupun besar,
Kerjakanlah dengan baik, dengan segenap kekuatan kita,
Karena ada Pribadi yang melihat semua yang kita kerjakan. —Sper

Siapa pun atasan kita, kita sebenarnya sedang bekerja untuk Allah.

Secercah Kedamaian Surgawi

Senin, 10 Mei 2010

Baca: Keluaran 25:1-9

Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? —1 Korintus 3:16

Dua minggu yang lalu, istri saya bertemu seorang wanita yang membutuhkan tumpangan. Ia merasa bahwa pasti Allah yang mengirimkan wanita ini, jadi ia memutuskan untuk mengantar wanita ini ke tempat tujuannya. Di sepanjang perjalanan, wanita ini menceritakan kepada istri saya bahwa ia adalah seorang yang percaya, tetapi sedang bergumul dengan kecanduan obat-obatan. Istri saya berbicara dan mendengarkan wanita yang terluka ini. Ketika istri saya memberinya pengharapan akan masa depan yang lebih baik, saya percaya bahwa wanita ini merasakan secercah kedamaian surgawi di bumi.

Ketika Allah memerintahkan kepada Musa untuk membangun kemah suci sesuai dengan spesifikasi Allah, ini dimaksudkan supaya kehadiran Allah senantiasa menyertai umat-Nya. Saya suka menganggap kemah suci ini sebagai secercah kedamaian surgawi di bumi. Kemah ini juga menjadi contoh perwujudan kehadiran Allah di bumi (1 Raj. 5-8). Tujuan dari adanya tempat-tempat kudus ini adalah menjadi tempat bagi Allah untuk berdiam di antara umat-Nya. Ini adalah rencana Allah ketika Yesus, sang bait Allah yang sempurna, “berdiam” di antara kita (Yoh. 1:14). Ketika Yesus naik ke surga, Dia mengutus Roh Kudus untuk berdiam di dalam diri para pengikut-Nya (Yoh. 14:16-17), sehingga mereka akan menjadi kemah suci dan bait Allah di dunia (1 Kor. 3:16; 6:19). Sebagai wakil-wakil Allah atas kehadiran-Nya, marilah kita menemukan cara-cara untuk menyatakan kedamaian dan harapan surgawi kepada orang lain di bumi ini. —MLW

Untuk Direnungkan

Mintalah kepada Allah untuk memakai Anda dan menunjukkan sejumlah cara untuk menerapkan renungan hari ini di tempat kerja, di rumah, dan di lingkungan sekitar Anda?

Orang Kristen yang bersedia melakukan hal-hal kecil bagi sesama bisa melakukan hal-hal besar bagi Tuhan.

Kasih Yang Nyata

Minggu, 9 Mei 2010

Baca: Yohanes 19:25-30

Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” —Yohanes 19:26

The Chester Beatty Library di Dublin, Irlandia, adalah perpustakaan yang menyimpan koleksi indah dari fragmen-fragmen Alkitab kuno. Satu fragmen yang sangat kecil merupakan bagian dari Yohanes 19. Bagian kecil dari catatan Yohanes ini menggambarkan peristiwa ketika Yesus disalibkan dimana Dia berbicara kepada ibu-Nya dengan ungkapan penuh kasih dan perhatian kepada sang ibu. Yohanes 19:25-26 menuliskan, “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’”

Saat menatap fragmen kuno tersebut, kembali saya tertegun ketika melihat betapa nyatanya kasih Yesus kepada ibu dan murid-Nya. Betapa, dengan kata-kata yang jelas, Yesus membuat dunia menjadi tahu tentang kasih dan kepedulian-Nya dengan menunjukkan perhatian-Nya, bahwa Maria akan dijaga oleh Yohanes, murid yang dikasihi-Nya, ketika Dia pergi. Ketika tergantung di kayu salib, Yesus berkata kepada Yohanes, “‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu, murid itu menerima dia di dalam rumahnya” (ay.27).

Saya ingin menyarankan supaya hari ini, pada perayaan Hari Ibu, menjadi saat yang indah untuk menyatakan di depan umum kasih Anda kepada ibu Anda, jika beliau masih hidup—atau untuk beryukur kepada Allah untuk ibu Anda, jika beliau sudah meninggal. Lalu tunjukkan kepada ibu Anda dengan sejumlah cara yang nyata untuk mengungkapkan betapa Anda begitu mengasihinya dan betapa beliau sungguh berarti bagi Anda. —WEC

Karena anugerah Allah yang tak ternilai, yang diberikan pada kita
Suatu hari nanti, kita harus berpisah darinya,
Limpahi dirinya dengan kasih dan kebaikan,
Kasih yang sejati, dengan sepenuh hati kita. —Stairs

Tuhan berkati ibuku; aku berutang padanya atas keberadaanku dan harapanku. —Abraham Lincoln

Zona Aman

Sabtu, 8 Mei 2010

Baca: Rut 2:1-12

Tuhan kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung. —Rut 2:12

Ketika kengerian perang melanda warga Nanjing, China, para wanita turut menjadi korban kekerasan dan banyak yang disiksa dan dibunuh. Dalam lingkungan yang penuh ancaman seperti ini, Minnie Vautrin melakukan langkah-langkah kepahlawanan untuk melindungi para wanita China dari kekerasan. Melayani sebagai guru misionaris di Ginling College di Nanjing, Minnie bekerja sama dengan para nasionalis China, misionaris, ahli bedah, dan pebisnis untuk mengubah kampus menjadi suatu “zona aman”, sebuah tempat perlindungan bagi ribuan wanita dan anak perempuan.

Di Alkitab, kita mengetahui bahwa Rut dan mertuanya, Naomi, juga sedang membutuhkan perlindungan. Untuk mempertahankan hidup dengan status janda, mereka harus memungut apa yang dapat mereka peroleh dari ladang-ladang yang dipanen. Sesuai tradisi, Rut mencari seorang “sanak yang dapat menebusnya”. Orang itu adalah sanak atau saudara dekat dari suaminya yang telah meninggal dan bersedia menikahinya untuk melanjutkan garis keturunannya. Boas adalah sanak yang dapat menebus Rut. Ia tersentuh oleh pengorbanan dan perhatian Rut kepada Naomi, serta hasratnya untuk mencari perlindungan di dalam Tuhan (Rut 2:12). Boas melakukan tugasnya dengan penuh hormat untuk “menebus” Rut dan menikahinya. Ia pun mencukupi kebutuhan Rut dan Naomi.

Tempat perlindungan kita yang terutama adalah Tuhan sendiri (Mzm. 46:2). Namun, Dia ingin memakai kita sebagai alat-alat-Nya untuk menyediakan “zona aman” bagi sesama. —HDF

Untuk Direnungkan

Dengan cara apa saja Anda dapat memenuhi kebutuhan sesama?
Datangi pelayanan masyarakat atau gereja lokal untuk melihat bagaimana mereka menjangkau sesama dan bergabunglah.

Mereka sungguh-sungguh mengasihi ketika mereka menunjukkan kasihnya. —Shakespeare

Bersandar Pada Allah

Jumat, 7 Mei 2010

Baca: Kolose 3:12-17

Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus. —Kolose 3:17

Saya belajar banyak tentang kenangan mendalam akan Allah dari Brother Lawrence, seorang tukang masak di biara pada abad ke-17. Di dalam bukunya The Practice of the Presence of God (Merasakan Kehadiran Allah), ia menyebutkan cara-cara praktis untuk “mempersembahkan hati Anda bagi Allah dari waktu ke waktu di sepanjang hari,” bahkan di sela-sela dari tugas-tugas yang Anda lakukan, seperti memasak atau memperbaiki sepatu. Menurut Lawrence, keintiman rohani seseorang bukan berarti mengubah hal-hal yang Anda lakukan, tetapi melakukan segala sesuatu bagi Allah ketika Anda melakukan tugas-tugas harian Anda.

Salah satu eulogi (pujian) untuk Lawrence mengatakan, “Lawrence yang baik hati ini menemukan Allah di mana pun, baik ketika ia sedang memperbaiki sepatu ataupun ketika ia sedang berdoa . . . Ia memandang Allah, dan bukan pekerjaannya. Ia tahu bahwa jika suatu pekerjaan semakin bertentangan dengan keinginan pribadinya, semakin besar kasihnya untuk mempersembahkan pekerjaan itu pada Allah.”

Komentar terakhir itu sangat mempengaruhi istri saya. Ia membaca buku Brother Lawrence ketika bekerja dengan kaum manula di kota Chicago. Kadang-kadang pekerjaannya ini menuntut istri saya melakukan tugas yang sangat bertentangan dengan keinginan pribadinya. Saat melakukan sejumlah tugas yang paling tidak diinginkannya, istri saya mengingatkan dirinya sendiri untuk terus memandang Allah dan kemuliaan-Nya. Dengan penuh usaha, tugas yang paling sulit pun dapat dilakukan dan dipersembahkan bagi Allah (Kol. 3:17). —PDY

Ikuti dengan langkah-langkah hormat teladan hebat
Dari Dia yang karya kudus-Nya adalah melakukan kebaikan;
Kiranya bumi yang luas ini menjadi bait Bapa kita,
Setiap kehidupan menaikkan mazmur syukur. —Whittier

Kerja tanpa kasih adalah hal yang membosankan; kerja dengan kasih adalah kegembiraan.

Waktu Untuk Saya

Kamis, 6 Mei 2010

Baca: Mazmur 34:5-19

Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. —Mazmur 34:7

Sejarawan Cassius Dio mencatat sebuah peristiwa penting di dalam hidup Hadrian, Kaisar Roma dari tahun 117–138. “Suatu ketika, seorang wanita mengajukan permohonan kepada Hadrian ketika ia berpapasan dengan wanita ini dalam suatu perjalanan. Awalnya Hadrian berkata, ‘Aku tak punya waktu.’ Namun, segera setelah mendengar wanita ini berseru, ‘Kalau begitu berhentilah jadi kaisar,’ Hadrian pun berbalik dan mendengarkan permohonan wanita ini.

Betapa sering kita mengatakan atau mendengar, “Jangan sekarang. Aku sedang sibuk” atau “Maaf, aku tak punya waktu.” Namun, Bapa Surgawi kita, sang Tuan dan Pencipta dari segalanya, selalu menyediakan waktu untuk kita. Pemazmur menuliskan: “Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong . . . Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya” (Mzm. 34:16-18).

Allah tidak seperti seorang kaisar atau eksekutif sibuk yang berusaha menghindari interupsi. Sebaliknya, sukacita Bapa adalah mendengarkan dan menanggapi anak-anak-Nya. “Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya” (ay.19).

Yang dipikirkan Hadrian setelah peristiwa itu adalah “Aku perlu menyediakan waktu untuk orang lain.” Yang dipikirkan Allah sejak semula adalah, “Aku selalu menyediakan waktu bagi mereka yang datang kepada-Ku.”

Kapan pun kita perlu berbicara dengan-Nya, Tuhan selalu siap mendengarkan. —DCM

Aku suka terlarut dalam pemikiran
Bahwa Yesus mempedulikanku;
Apa pun yang terjadi di dalam kehidupanku—
Dia mengasihiku dengan penuh kelembutan. —Adams

Allah tak pernah terlalu sibuk untuk mendengarkan anak-anak-Nya.

Allah Yang Memilihkan

Rabu, 5 Mei 2010

Baca: Kejadian 13:9-13

Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu. —Kejadian 13:11

Kita mungkin punya kerinduan yang begitu rahasia sehingga tidak dapat kita ungkapkan pada orang lain—mungkin hasrat untuk menikah, atau suatu pekerjaan atau pelayanan yang ingin kita lakukan, atau melayani di suatu tempat tertentu. Kita harus menyerahkan setiap hasrat kita ke dalam tangan Allah dan berdoa, “Tuhan, Engkau yang memilihkan untukku. Aku tak akan memilihnya sendiri.”

Kejadian 13:10-11 menceritakan bahwa Lot memilih sesuai keinginannya sendiri. Ia “melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman Tuhan . . . Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu.”

Lembah Yordan, dengan tanahnya yang subur dan persediaan air yang melimpah, di mata Lot adalah tempat yang terbaik baginya. Namun, kejahatan telah mencemari wilayah itu (ay.13). Pendeta Ray Stedman menuliskan, “Dengan menganggap dirinya sendiri yang mengatur langkah hidupnya, Lot ‘memilih baginya,’ dan, diperdaya oleh apa yang dilihatnya, terjebak oleh kebutaannya ke dalam sakit hati dan penghakiman. Di sisi lain, Abram merelakan Allah yang memilihkan untuknya. . . . Abram melihat apa yang sebenarnya terjadi.” Lot memilih sesuai keinginannya sendiri dan kehilangan segalanya—keluarga, harta, dan hubungan baik dengan orang lain.

Adalah jalan yang terbaik ketika kita merelakan Allah yang memilih dan kita mengikuti pimpinan-Nya, dengan menyadari bahwa kita melakukannya karena segala jalan yang dipilihkan Bapa surgawi itu keluar dari hikmat dan kasih-Nya yang tidak terbatas. —DHR

Dahulu aku membuat keputusan di hidupku
‘Tuk melayani Tuhan dan merelakan-Nya memilihkan jalanku;
Dan ketika kurasakan ketidakpastian di persimpangan jalan,
Dia tak pernah gagal menuntunku hari demi hari. —Hess

Kepuasan dialami ketika kita lebih menginginkan kehendak Allah daripada jalan kita sendiri.

Pengabdian Allah

Selasa, 4 Mei 2010

Baca: Efesus 3:14-21

Kamu berakar serta berdasar di dalam kasih . . . dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. — Efesus 3:17-19

Di tahun 1826, seorang penulis Inggris, Thomas Carlyle, menikah dengan Jane Welsh, seorang penulis yang juga cukup sukses. Jane mengabdikan dirinya untuk kesuksesan suaminya dan melayaninya dengan sepenuh hati.

Karena penyakit perut dan gangguan syaraf yang dideritanya, Thomas bertemperamen kasar. Jadi Jane membuatkan makanan khusus untuknya dan terus menjaga ketenangan di rumah supaya Thomas dapat tetap menulis.

Thomas jarang menyadari dukungan yang diberikan Jane untuknya dan juga jarang meluangkan banyak waktu dengan Jane. Meskipun demikian, Thomas menceritakan tentang Jane kepada ibunya, “Aku bisa mengatakan dalam hatiku kalau Jane . . . mencintaiku dengan suatu bentuk pengabdian yang menjadi misteri bagiku karena aku tak layak untuk menerimanya. Jane . . . memandang dengan keceriaan yang begitu lembut kepada wajah muramku, sehingga harapan baru kurasakan setiap kali aku menatap matanya.”

Kita pun memiliki Pribadi yang mengasihi kita dengan suatu pengabdian yang menjadi misteri bagi kita karena pendosa seperti kita tidak layak untuk menerimanya! Dia adalah Bapa surgawi kita, “yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua” (Rm. 8:32). Kasih-Nya begitu lebar, panjang, dalam, dan tinggi, dan melampaui pengetahuan kita (Ef. 3:18-19).

Begitu pentingnya memahami dan menghargai kasih Allah sehingga Paulus berdoa untuk jemaat di Efesus supaya mereka “berakar serta berdasar” di dalam kasih itu (ay.17). Kiranya kita mengalami hal ini juga. —AMC

Aku selalu dapat mengandalkan Allah, Bapa surgawiku,
Karena Dia tidak berubah, Dia selalu sama;
Kemarin, hari ini, selamanya, Allah itu setia,
Kutahu Dia mengasihiku, pujilah nama-Nya yang kudus. —Felten

Tak ada sukacita yang lebih besar selain mengetahui bahwa Allah mengasihi kita.

Kata-Kata—Pentingkah?

Senin, 3 Mei 2010

Baca: Amsal 15:1-7

Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya. —Yakobus 1:26

Saya terkejut saat mendengar seorang remaja dari keluarga Kristen menyatakan, “Ibuku berpikir bahwa mengumpat itu tidaklah buruk.” Lalu, remaja ini menyebutkan kata-kata apa saja yang diperbolehkan ibunya—kata-kata yang sebenarnya dari dulu dianggap tidak sopan untuk diucapkan.

Standar bahasa yang dipakai masyarakat semakin menurun tahun-tahun terakhir ini, tetapi kita tidak harus menurunkan standar kita. Saat kita berupaya keras “dengan saksama, bagaimana [kita] hidup” (Ef. 5:15), kita seharusnya menguji bagaimana kita memuliakan Allah melalui kata-kata kita.

Kita menyenangkan Tuhan dengan lidah kita, ketika kita peka. Amsal 10:19 mengingatkan kita bahwa “siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.” Ketika berbicara, kita perlu menyaring kata-kata yang keluar dari mulut kita: “Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran” (21:23).

Penting bagi kita untuk memakai kata-kata yang baik dan positif—bahkan ketika kita membahas hal-hal yang sukar. “Perkataan yang pedas membangkitkan marah,” tetapi “lidah orang bijak mengeluarkan pengetahuan” (Ams. 15:1-2).

Akhirnya, hindari kata-kata yang sama sekali tidak mencerminkan status kita sebagai anak-anak Allah. Peringatan Paulus supaya “janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulut [kita]” (Ef. 4:29) memberikan standar yang tegas untuk menggunakan kata-kata dengan bijak.

Jika Anda rindu memuliakan Allah di setiap bagian hidup Anda, pakailah kata-kata yang menyenangkan dan dapat diterima oleh Allah yang kudus. —JDB

Lidah dapat mengatakan berkat
Dan lidah dapat mengatakan kutukan;
Oleh karena itu, kawan, bagaimana kau menggunakan lidah:
Untuk kebaikan atau keburukan? —NN.

Apa yang kita katakan mengungkapkan siapa diri kita.