Bahan renungan yang bisa menemani saat teduhmu dan menolongmu dalam membaca firman Tuhan.

Tertanam Dalam Allah

Jumat, 17 Juni 2022

Baca: Yeremia 17:5-8

17:5 Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!

17:6 Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

17:7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

17:8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air. —Yeremia 17:8

“Angin mempermainkan bunga-bunga lilac.” Dengan kalimat pembuka dari puisi tentang musim semi berjudul May itu, penyair Sara Teasdale menggambarkan semak-semak lilac yang bergoyang ditiup angin. Namun, sebenarnya Teasdale sedang meratapi cintanya yang telah berlalu, sehingga nada puisinya pun berubah muram.

Tanaman lilac di pekarangan rumah kami juga pernah menghadapi tantangan. Setelah tumbuh rimbun dan cantik, lilac-lilac kami ternyata dibabat habis oleh tukang kebun. Saya menangis. Namun, tiga tahun kemudian—setelah semaknya meranggas, berjamur, dan tak kunjung saya siangi—tanaman yang tangguh itu tumbuh kembali. Rupanya, tanaman lilac itu hanya membutuhkan waktu untuk berbunga kembali, dan saya hanya perlu menantikan apa yang tidak dapat saya lihat sebelumnya.

Alkitab bercerita tentang tokoh-tokoh yang menanti dengan iman di tengah kesulitan. Nuh menanti datangnya hujan. Kaleb menunggu empat puluh tahun untuk menetap di Tanah Perjanjian. Ribka menanti dua puluh tahun untuk memiliki anak. Yakub menunggu tujuh tahun untuk menikahi Rahel. Simeon terus menanti-nanti untuk melihat bayi Yesus. Pada akhirnya, kesabaran mereka pun terjawab.

Sebaliknya, siapa pun yang mengandalkan manusia “akan seperti semak bulus di padang belantara” (Yer. 17:6). Penyair Teasdale menutup puisinya dengan murung. “Aku melewati musim dingin,” tulisnya. Namun, “Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan,” ujar Yeremia dengan gembira. “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air” (ay.7-8).

Orang percaya kokoh tertanam di dalam Allah—Dialah yang berjalan bersama kita melewati beragam kesenangan dan kesulitan hidup ini.  —Patricia Raybon

WAWASAN
Selama masa Nabi Yeremia menulis kitabnya (627—586 SM), Yehuda dikelilingi bangsa-bangsa adidaya, seperti Mesir dan Asyur, serta Babel yang masih berkembang. Jadi, Yehuda mencoba untuk bersekutu dengan bangsa-bangsa tersebut untuk melindungi diri sendiri. Namun, Allah ingin umat-Nya mengandalkan Dia untuk kekuatan dan keamanan mereka. Dalam Yeremia 17:5-8, sang nabi menerangkan perbedaan tajam antara mereka yang mencari pertolongan manusia dan mereka yang sepenuhnya percaya kepada Allah. Ia memakai tiga perumpamaan untuk menggambarkan nasib mereka yang berpaling dari Allah: semak bulus di padang belantara, tanah hangus di padang gurun, dan negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Hidup orang-orang itu akan terasa kering, sepi, dan layu. Namun, seperti dinyatakan pemazmur di Mazmur 1:3, mereka yang mengandalkan Allah akan “seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya.” —Alyson Kieda

Tertanam Dalam Allah

Apa saja sifat Allah yang membuat kamu yakin untuk mengandalkan-Nya? Bagaimana cara kamu untuk tertanam semakin dalam pada tanah-Nya yang memberikan keteguhan?

Bapa Surgawi, saat hidupku terasa kering atau diterpa angin kencang, tanamkanlah imanku semakin dalam pada kasih-Mu yang teguh.

Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 7-9; Kisah Para Rasul 3

DNA Baru dalam Yesus

Kamis, 16 Juni 2022

Baca: Efesus 4:17-24

4:17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia

4:18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.

4:19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.

4:20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.

4:21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,

4:22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,

4:23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,

4:24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

 

[Kenakanlah] manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. ] —Efesus 4:24

Chris kembali melakukan tes darah empat tahun setelah transplantasi sumsum tulang yang menyelamatkan nyawanya. Sumsum dari seorang donor telah menyediakan apa yang dibutuhkannya untuk sembuh, tetapi selain itu ada kejutan yang menyertainya: dalam darah Chris terdapat DNA sang pendonor, bukan hanya DNA dirinya. Sebenarnya itu masuk akal, karena tujuan transplantasi adalah untuk menggantikan darah yang lemah dengan darah yang sehat dari pendonor. Namun, hasil usap pipi, bibir, dan lidah Chris juga menunjukkan DNA sang donor. Bisa dibilang, Chris sudah menjadi orang lain, meskipun ingatan, tampilan fisik, dan sebagian DNA tetap asli dari dirinya.

Pengalaman Chris itu serupa dengan yang dialami seseorang yang telah menerima keselamatan dalam Yesus Kristus. Saat terjadi transformasi spiritual—yaitu ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus—kita pun menjadi ciptaan baru (2Kor. 5:17). Dalam suratnya, Paulus mengingatkan jemaat di Efesus untuk memperlihatkan transformasi batin mereka, “menanggalkan manusia lama” dengan segala gaya hidupnya dan “mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:22,24). Artinya, mereka telah dikhususkan bagi Kristus.

Tidak perlu tes usap DNA atau tes darah untuk menunjukkan hadirnya kuasa transformasi Tuhan Yesus dalam hidup kita. Transformasi batin itu sepatutnya tampak lewat cara kita berinteraksi dengan lingkungan di sekitar kita, dan kita memperlihatkan bahwa kita “ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni [kita]” (ay.32).  —Kirsten Holmberg

WAWASAN
Setelah menyadari apa yang telah Allah lakukan melalui Kristus dengan memilih, menebus, dan menentukan orang-orang percaya untuk menjadi anak-anak-Nya dari semula (Efesus 1:3-14), jemaat Efesus dan kita dinasihati Paulus: “hiduplah sesuai dengan kedudukanmu sebagai orang yang sudah dipanggil oleh Allah” (4:1 BIS). Sang rasul memerintahkan mereka dan juga kita agar tidak hidup dalam kefasikan dan amoralitas, seperti kehidupan kita yang lalu (ay.17). Karena sudah mengenal Kristus, kita telah menerima hidup baru (ay.21-24); kita adalah ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Seperti di Kejadian 1:27, manusia baru itu “telah diciptakan menurut kehendak Allah”—hidup dalam kebenaran dan kekudusan (Efesus 4:24). Menjalani kehidupan baru berarti “menanggalkan manusia lama” (ay.22) dan “mengenakan manusia baru” (ay.24). Kita harus mematikan “segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan”, dan mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kolose 3:5,12). —K.T. Sim

DNA Baru dalam Yesus
 

Bagaimana Yesus telah mengubah batin kamu? Bagaimana perubahan dalam diri tersebut tampak dalam cara kamu berinteraksi dengan lingkungan di sekitar kamu?

Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau telah menjadikanku ciptaan baru dan memberiku hidup baru di dalam-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 4-6; Kisah Para Rasul 2:22-47

Berinvestasi pada Orang Lain

Rabu, 15 Juni 2022

Baca: Lukas 16:1-12

16:1 Dan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Kepadanya disampaikan tuduhan, bahwa bendahara itu menghamburkan miliknya.

16:2 Lalu ia memanggil bendahara itu dan berkata kepadanya: Apakah yang kudengar tentang engkau? Berilah pertanggungan jawab atas urusanmu, sebab engkau tidak boleh lagi bekerja sebagai bendahara.

16:3 Kata bendahara itu di dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat? Tuanku memecat aku dari jabatanku sebagai bendahara. Mencangkul aku tidak dapat, mengemis aku malu.

16:4 Aku tahu apa yang akan aku perbuat, supaya apabila aku dipecat dari jabatanku sebagai bendahara, ada orang yang akan menampung aku di rumah mereka.

16:5 Lalu ia memanggil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama: Berapakah hutangmu kepada tuanku?

16:6 Jawab orang itu: Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga: Lima puluh tempayan.

16:7 Kemudian ia berkata kepada yang kedua: Dan berapakah hutangmu? Jawab orang itu: Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu: Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain: Delapan puluh pikul.

16:8 Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang.

16:9 Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”

16:10 “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.

16:11 Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?

16:12 Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?

 

Pakailah kekayaan dunia ini untuk mendapat kawan. —Lukas 16:9 BIS

Sebuah perusahaan menawarkan bonus seribu mil frequent flier (program kesetiaan pelanggan) untuk setiap sepuluh pembelian produk makanan mereka. Ketika seorang pria menyadari bahwa produk termurah mereka adalah puding cokelat, ia pun membeli lebih dari 12.000 buah. Dengan mengeluarkan 3.000 dolar, pria itu mendapatkan status emas sebagai pelanggan dan jumlah mil penerbangan yang cukup untuk seumur hidup bagi keluarganya. Ia juga menyumbangkan puding-puding itu ke lembaga amal, sehingga berhak mendapat potongan pajak sebesar 800 dolar. Benar-benar jenius!

Yesus pernah menceritakan perumpamaan kontroversial tentang seorang bendahara yang cerdik. Ketika dipecat, bendahara itu mengurangi jumlah utang yang perlu dibayar oleh orang-orang yang berutang kepada tuannya. Bendahara itu tahu, dengan jasa yang diberikannya saat ini, ia dapat mengandalkan mereka untuk menolongnya di kemudian hari. Yesus bukan memuji praktik bisnis yang tidak jujur itu, melainkan Dia ingin kita belajar dari kecerdikannya. Yesus berkata bahwa kita harus dengan cerdik “[memakai] kekayaan dunia ini untuk mendapat kawan, supaya apabila kekayaan dunia ini sudah tidak berharga lagi, kalian akan diterima di tempat tinggal yang abadi” (Luk. 16:9 BIS). Sebagaimana pria tadi mengubah puding-puding cokelat seharga dua puluh lima sen menjadi tiket penerbangan, kita dapat menggunakan “kekayaan dunia” yang kita miliki untuk memperoleh “kekayaan rohani” (ay.11 BIS).

Apa kekayaan rohani yang dimaksud? Yesus berkata, “Berikanlah sedekah,” maka akan tersedia bagi Kamu “pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat” (12:33). Meskipun bukan menjadi cara untuk memperoleh keselamatan, investasi kita akan menegaskannya, “karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (ay.34). —Mike Wittmer

WAWASAN
Ketika menyusun kisah-kisah perumpamaan-Nya, Yesus mengaitkannya dengan keadaan-keadaan dunia nyata. Itulah salah satu alasan mengapa kisah-kisah-Nya sering berpusat kepada uang. Para pendengar-Nya jelas memahami perlunya orang memiliki sejumlah harta di dunia. Yang diajarkan di sini bukanlah agar kita bersikap tidak jujur atau melanggar batas-batas etika seperti yang dilakukan si bendahara. Sebaliknya, Yesus menyiratkan bahwa kita harus dapat dipercaya untuk mengelola “kekayaan dunia” (ay.11 BIS). Maksud-Nya, kita perlu bermurah hati dengan cara yang memuliakan Allah, dan itu dimulai dengan kesanggupan untuk dipercaya mengelola hal-hal kecil. —Tim Gustafson

Berinvestasi pada Orang Lain
 

Apa yang kamu lakukan baru-baru ini untuk memenuhi kebutuhan jasmani seseorang? Mengapa kemurahan hati kamu merupakan investasi yang berharga?

Ya Allah yang penuh kasih, tolonglah aku untuk bermurah hati kepada orang miskin, demi nama Yesus dan demi kemuliaan-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Nehemia 1-3; Kisah Para Rasul 2:1-21

Kesombongan dan Tipu Daya

Selasa, 14 Juni 2022

Baca: Obaja 1:1-4

1:1 Penglihatan Obaja. Beginilah firman Tuhan ALLAH tentang Edom–suatu kabar telah kami dengar dari TUHAN, seorang utusan telah disuruh ke tengah bangsa-bangsa: “Bangunlah, marilah kita bangkit memeranginya!” —

1:2 Sesungguhnya, Aku membuat engkau kecil di antara bangsa-bangsa, engkau dihinakan sangat.

1:3 Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau, ya engkau yang tinggal di liang-liang batu, di tempat kediamanmu yang tinggi; engkau yang berkata dalam hatimu: “Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?”

1:4 Sekalipun engkau terbang tinggi seperti burung rajawali, bahkan, sekalipun sarangmu ditempatkan di antara bintang-bintang, dari sanapun Aku akan menurunkan engkau, –demikianlah firman TUHAN.

 

Keangkuhan hatimu telah memperdayakan engkau. —Obaja 1:3

Ya Allah Pengasih, terima kasih atas teguran-Mu yang lembut. Dengan bahu membungkuk, saya membisikkan kata-kata yang sulit terucap itu. Aku begitu arogan, karena mengira aku dapat melakukan semuanya sendiri. Selama berbulan-bulan saya menikmati keberhasilan dalam berbagai proyek di tempat kerja, sehingga tanpa sadar telah terbuai untuk mengandalkan kemampuan diri sendiri dan menolak pimpinan Allah. Ketika menghadapi suatu proyek yang sulit, barulah saya disadarkan bahwa sebenarnya saya tidak sepandai yang saya kira. Hati yang pongah telah memperdaya saya untuk meyakini bahwa saya tidak membutuhkan pertolongan Allah.

Kerajaan Edom yang hebat menerima penghukuman dari Allah karena kesombongannya. Edom terletak di daerah pegunungan yang curam, sehingga tampaknya tak mungkin diserang musuh (Ob. 1:3). Edom juga bangsa yang kaya raya, karena posisinya berada di pusat rute perdagangan yang strategis dan alamnya berlimpah dengan tembaga, komoditas yang sangat berharga pada zaman kuno. Edom penuh dengan hal-hal baik, tetapi juga penuh dengan keangkuhan. Penduduknya percaya kerajaan mereka tak terkalahkan, dan mereka pun menindas umat Allah (ay.10-14). Namun, Allah memakai Nabi Obaja untuk menyampaikan penghakiman-Nya atas mereka. Bangsa-bangsa akan bangkit melawan Edom, dan kerajaan yang pernah jaya itu akan dipermalukan dan dijadikan tidak berdaya (ay.1-2).

Kesombongan memperdaya kita untuk berpikir bahwa kita dapat hidup dengan kemampuan sendiri, tanpa Allah. Sikap itu membuat kita merasa kebal dari otoritas, teguran, dan kelemahan. Namun, Allah memanggil kita untuk merendahkan diri di hadapan-Nya (1Ptr. 5:6). Ketika kita berbalik dari kesombongan dan memilih pertobatan, Allah akan membimbing kita untuk percaya penuh kepada-Nya. —Karen Huang

WAWASAN
Kitab Obaja adalah nubuat yang ditujukan kepada umat Israel, tetapi juga berhubungan dengan bangsa Edom yang menghuni daerah di selatan Israel. Orang Edom adalah keturunan Esau, saudara kembar Yakub, sehingga mereka merupakan keluarga dekat umat Israel. Itulah sebabnya umat Israel dilarang membenci orang Edom (Ulangan 23:7). Namun, ketegangan yang dimiliki Yakub dengan Esau terus belanjut di antara keturunan mereka. Orang Edom tidak mengizinkan bangsa Israel melintasi tanah mereka dalam perjalanan mereka ke Kanaan (Bilangan 20:14-21). Selain itu, orang Edom berdiri saja di kejauhan ketika Yerusalem dihancurluluhkan (Obaja 1:11-14). Karena ketidakacuhan mereka terhadap kemalangan saudaranya, Edom dijatuhkan (ay.4). Nubuatan itu diulang kembali dalam Yehezkiel 35. Setelah kematian Herodes Agung (seorang Edom), bangsa dan rakyat Edom akhirnya lenyap dari catatan sejarah, sesuai dengan nubuat yang dijatuhkan atas mereka. —J.R. Hudberg

Kesombongan dan Tipu Daya
 

Apa yang akan terjadi ketika berkat-berkat dalam hidup kamu justru menjadikan kamu sombong? Bagaimana kesombongan dapat memperdaya kamu?

Ya Bapa, jauhkanlah dariku hati yang sombong. Berilah aku kerendahan hati.

Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 9-10; Kisah Para Rasul 1

Karya Ilahi yang Lembut

Senin, 13 Juni 2022

Baca: 1 Raja-raja 19:4-10,15-18

19:4 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

19:5 Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!”

19:6 Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula.

19:7 Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: “Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.”

19:8 Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.

19:9 Di sana masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka firman TUHAN datang kepadanya, demikian: “Apakah kerjamu di sini, hai Elia?”

19:10 Jawabnya: “Aku bekerja segiat-giatnya bagi TUHAN, Allah semesta alam, karena orang Israel meninggalkan perjanjian-Mu, meruntuhkan mezbah-mezbah-Mu dan membunuh nabi-nabi-Mu dengan pedang; hanya aku seorang dirilah yang masih hidup dan mereka ingin mencabut nyawaku.”

19:15 Firman TUHAN kepadanya: “Pergilah, kembalilah ke jalanmu, melalui padang gurun ke Damsyik, dan setelah engkau sampai, engkau harus mengurapi Hazael menjadi raja atas Aram.

19:16 Juga Yehu, cucu Nimsi, haruslah kauurapi menjadi raja atas Israel, dan Elisa bin Safat, dari Abel-Mehola, harus kauurapi menjadi nabi menggantikan engkau.

19:17 Maka siapa yang terluput dari pedang Hazael akan dibunuh oleh Yehu; dan siapa yang terluput dari pedang Yehu akan dibunuh oleh Elisa.

19:18 Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia.”

 

Elia melihat sekelilingnya, lalu tampak di dekat kepalanya sepotong roti bakar dan kendi berisi air. Ia pun makan dan minum, lalu berbaring lagi. —1 Raja-raja 19:6 bis

Saya pernah mendengar seorang pengusaha bercerita tentang masa kuliahnya. Ketika itu ia sering merasa “tidak berdaya dan putus asa” menghadapi perasaan depresi. Sedihnya, alih-alih membicarakan perasaan-perasaan tersebut dengan dokter, ia justru membuat rencana-rencana yang lebih drastis—memesan buku tentang cara bunuh diri dari perpustakaan setempat dan menentukan tanggal untuk mengakhiri hidupnya.

Allah peduli kepada orang-orang yang tidak berdaya dan putus asa. Kepedulian itu terlihat dari cara-Nya memperlakukan tokoh-tokoh Alkitab yang sedang melewati masa-masa kelam. Ketika Yunus merasa ingin mati, Allah berbicara kepadanya dengan lembut (Yun. 4:3-10). Ketika Elia meminta Allah untuk mengambil nyawanya (1Raj. 19:4), Allah menyediakan roti bakar dan air untuk menyegarkannya kembali (ay.5-9), berbicara kepadanya dengan lembut (ay.11-13), dan membantunya melihat bahwa sebenarnya ia tidak sendirian seperti sangkaannya (ay.18). Allah menghampiri orang-orang yang putus asa dengan pertolongan yang lembut dan nyata.

Perpustakaan itu memberi tahu mahasiswa tadi bahwa buku tentang bunuh diri yang dipesannya sudah siap diambil. Namun, ternyata mereka keliru dan mengirimkan surat pemberitahuan itu ke alamat orangtua si anak. Ketika ibunya menelepon dengan panik, si mahasiswa menyadari kesedihan besar yang bakal timbul bila ia bunuh diri. Pengusaha itu berkata, seandainya surat pemberitahuan itu tidak salah alamat, ia tidak akan ada di sana pada hari itu.

Saya yakin mahasiswa itu bukan diselamatkan oleh keberuntungan atau kebetulan. Entah itu roti bakar dan air ketika kita membutuhkannya, atau salah alamat di waktu yang tepat, ketika ada intervensi misterius menyelamatkan hidup kita, saat itu kita telah mengalami karya ilahi yang lembut. —Sheridan Voysey

WAWASAN
“Malaikat TUHAN” yang melayani Nabi Elia yang sedang putus asa (1 Raja-Raja 19:7) adalah sosok misterius yang muncul di sepanjang Perjanjian Lama. Sosok itu lebih dari sekadar malaikat biasa, karena kemunculannya menyatakan Allah itu sendiri. Contohnya, Hagar melihat “Malaikat TUHAN” berbicara langsung sebagai Allah, yang berjanji, “Aku akan membuat sangat banyak keturunanmu” (Kejadian 16:10). Hagar kemudian menjawab Allah secara langsung, dengan mengaku, “Di sini kulihat Dia yang telah melihat aku” (ay.13). Kitab Keluaran menggambarkan pertemuan Musa dengan “Malaikat TUHAN” di dalam nyala api yang keluar dari semak duri (Keluaran 3:2), kemudian Allah sendiri berbicara dengan Musa dari semak duri tersebut (ay.4-22). —Monica La Rose

Karya Ilahi yang Lembut
 

Bagaimana Allah menolong ketika kamu menghadapi kesulitan? Di mana lagi kamu pernah menyaksikan pertolongan ilahi terjadi?

Ya Allah Mahakasih, aku memuji Engkau karena pertolongan-Mu yang lembut dan nyata bagi orang-orang yang tidak berdaya dan putus asa.

Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 6-8; Yohanes 21

Langkah-Langkah Allah

Minggu, 12 Juni 2022

Baca: Keluaran 12:24-28

12:24 Kamu harus memegang ini sebagai ketetapan sampai selama-lamanya bagimu dan bagi anak-anakmu.

12:25 Dan apabila kamu tiba di negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankan-Nya, maka kamu harus pelihara ibadah ini.

12:26 Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini?

12:27 maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.” Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah.

12:28 Pergilah orang Israel, lalu berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun, demikianlah diperbuat mereka.

 

Itulah korban Paskah bagi Tuhan yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita. —Keluaran 12:27

Saya sangat suka bermain Scrabble. Suatu kali setelah bermain, teman-teman menamai satu langkah dengan nama saya, Katara. Saat itu saya sudah tertinggal sepanjang permainan, tetapi pada langkah terakhir, saya berhasil membuat satu kata dengan tujuh huruf dan menghabiskan semua keping huruf yang saya miliki. Permainan pun berakhir, dan saya menerima bonus 50 angka, ditambah seluruh angka dari sisa keping huruf milik lawan-lawan main saya. Dengan itu, kedudukan saya berpindah dari posisi terakhir menjadi nomor satu. Sekarang, setiap kali kami bermain dan ada di antara kami yang tertinggal, mereka ingat apa yang pernah terjadi pada saya dan berharap dapat mengulang kembali langkah “Katara” itu.

Mengingat apa yang pernah terjadi di masa lalu dapat membangkitkan semangat dan pengharapan. Itulah tepatnya yang dilakukan orang Israel ketika merayakan Paskah. Paskah memperingati apa yang telah Allah lakukan untuk orang Israel ketika mereka ditindas Firaun dan kaki tangannya di Mesir (Kel. 1:6-14). Sesudah mereka berseru kepada Allah, Dia membebaskan umat-Nya dengan cara yang dahsyat. Dia berfirman agar mereka membubuhkan darah pada tiang-tiang pintu, supaya malaikat maut melewatkan semua anak sulung Israel dan hewan milik mereka (12:12-13). Dengan cara itu, mereka selamat dari kematian.

Berabad-abad kemudian, para pengikut Yesus secara teratur melakukan perjamuan kudus untuk mengenang pengorbanan Kristus di kayu salib, yang menyediakan apa yang kita perlukan untuk terbebas dari dosa dan kematian (1Kor. 11:23-26). Mengingat karya kasih Allah di masa lalu memberikan harapan kepada kita untuk menghadapi masa kini. —Katara Patton

WAWASAN
Inti dari Paskah pertama adalah kematian yang menggantikan: domba tidak bercacat cela yang dikorbankan untuk menggantikan putra sulung. Seperti halnya semua unsur peribadahan yang ditetapkan dalam Perjanjian Lama, hal itu juga menunjuk kepada Mesias di masa mendatang yang akan menjadi korban pengganti sekali untuk selamanya bagi seluruh umat manusia. Dalam peringatan Paskah yang sekarang kita kenal sebagai Perjamuan Terakhir, Yesus berkata, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Matius 26:28). Ibrani 9:26 menerangkan bahwa “[Kristus] hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.” Penulis kitab Ibrani itu pun mengakhirinya dengan berkata, “Demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia” (ay.28). —Tim Gustafson

Langkah-Langkah Allah
 

Bagaimana kamu merayakan karya kasih Allah bagi kamu? Apa yang dapat kamu lakukan untuk memberikan pengharapan kepada orang lain yang pernah mengisi masa lalu kamu?

Ya Allah Mahakasih, aku berterima kasih atas segala karya menakjubkan yang telah Engkau kerjakan demi diriku. Berilah aku kekuatan untuk berfokus pada karya-Mu yang besar saat aku membutuhkan pengharapan untuk terus melangkah. 

Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 3-5; Yohanes 20

Percakapan Iman di Rumah

Sabtu, 11 Juni 2022

Baca: Markus 5:11-20

5:11 Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan,

5:12 lalu roh-roh itu meminta kepada-Nya, katanya: “Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!”

5:13 Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.

5:14 Maka larilah penjaga-penjaga babi itu dan menceriterakan hal itu di kota dan di kampung-kampung sekitarnya. Lalu keluarlah orang untuk melihat apa yang terjadi.

5:15 Mereka datang kepada Yesus dan melihat orang yang kerasukan itu duduk, sudah berpakaian dan sudah waras, orang yang tadinya kerasukan legion itu. Maka takutlah mereka.

5:16 Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu menceriterakan kepada mereka tentang apa yang telah terjadi atas orang yang kerasukan setan itu, dan tentang babi-babi itu.

5:17 Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka.

5:18 Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia.

5:19 Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!”

5:20 Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

 

Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu. —Markus 5:19

“Tiada tempat seindah rumah. Tiada tempat seindah rumah.” Ucapan Dorothy yang terkenal dalam film The Wizard of Oz tersebut memperlihatkan alur penceritaan yang terdapat juga dalam banyak film klasik lainnya, dari Star Wars hingga Lion King. Alur tersebut dikenal sebagai “perjalanan sang pahlawan”. Intinya: seorang biasa, yang sedang menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, tiba-tiba dihadapkan pada petualangan yang luar biasa. Sang tokoh meninggalkan rumah dan pergi ke dunia yang berbeda. Di sana telah menanti berbagai ujian dan tantangan, sekaligus para mentor dan penjahat. Bila sang tokoh lulus ujian dan terbukti layak disebut pahlawan, maka langkah akhirnya adalah pulang ke rumah dengan membawa hikmah dan kisah luar biasa untuk dibagikannya. Bagian akhir ini sangatlah krusial.

Kisah di Markus 5 tentang orang yang dirasuk roh jahat sangat mirip dengan alur cerita sang pahlawan tadi. Menarik bagaimana, di akhir kisah, orang yang semula kerasukan tersebut memohon kepada Yesus agar “diperkenankan menyertai Dia” (Mrk. 5:18). Namun, Yesus berkata kepadanya: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu” (ay.19). Kepulangan orang tersebut ke rumah dan lingkungannya, untuk menceritakan pengalamannya yang luar biasa kepada orang-orang yang paling mengenalnya, sangatlah penting.

Allah memanggil setiap orang dengan cara dan kisah yang berbeda-beda. Namun, sangatlah penting bagi sebagian dari kita untuk kembali ke rumah dan menceritakan kisah kita kepada orang-orang yang paling mengenal kita. “Tiada tempat seindah rumah” menjadi panggilan yang harus kita nyatakan.  —John Blase

WAWASAN
Kisah hari ini dalam Markus 5:11-20 adalah contoh bagaimana para penulis kitab-kitab Injil memakai penceritaan untuk menyampaikan pesan. Kisah orang yang kerasukan roh jahat itu penuh dengan kejutan dan liku-liku yang tidak terduga. Semua itu bukan saja membawa pembacanya mengikuti cerita, tetapi juga menegaskan kuasa dan dampak tindakan Yesus. Bayangkan reaksi orang banyak terhadap mukjizat-Nya mengusir roh-roh jahat dari orang yang hidup di pekuburan tersebut. Mereka bereaksi bukan terhadap tenggelamnya sejumlah besar babi, melainkan terhadap orang yang tadinya liar tetapi yang sekarang duduk berpakaian dan berpikiran sehat. Namun, alih-alih terkagum-kagum oleh kesembuhannya, mereka justru merasa takut kepada pribadi yang sanggup melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh rantai mereka. Alih-alih bersukacita dengan orang yang telah dibebaskan, mereka justru takut kepada Dia yang berkuasa menyembuhkan orang itu dan meminta-Nya meninggalkan mereka. —J.R. Hudberg

Percakapan Iman di Rumah
 

Pikirkanlah orang-orang yang terdekat dengan kamu. Siapa saja dari mereka yang perlu mendengar perbuatan Allah bagi kamu? Apa langkah pertama yang dapat kamu ambil untuk membagikan kisah kamu?

Tuhan Yesus, berilah aku keberanian untuk menceritakan perbuatan-perbuatan-Mu yang menakjubkan. Bukan hanya kepada orang asing, melainkan juga kepada orang-orang yang paling mengenalku, yaitu keluarga dan lingkunganku sendiri. 

Bacaan Alkitab Setahun: Ezra 1-2; Yohanes 19:23-42

Cukup Waktu

Jumat, 10 Juni 2022

Baca: Pengkhotbah 3:1-13

3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;

3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;

3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;

3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;

3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;

3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;

3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?

3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.

3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

3:12 Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka.

3:13 Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.

 

Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. —Pengkhotbah 3:11

Melihat novel tebal War and Peace karangan Leo Tolstoy di rak buku teman saya Marty, saya mengaku, “Aku belum pernah membaca buku itu sampai selesai.” Marty tertawa, lalu berujar, “Sewaktu saya pensiun jadi guru, seorang teman yang menghadiahkan buku itu berkata, ‘Akhirnya, sekarang kamu punya waktu untuk membacanya.’”

Delapan ayat pertama dari Pengkhotbah 3 menggambarkan ritme natural yang wajar dari kegiatan hidup manusia, dengan beberapa di antaranya terjadi begitu saja. Namun, apa pun masa kehidupan yang kita jalani, kita sering merasa kekurangan waktu untuk melakukan segala sesuatu yang ingin kita lakukan. Karena itu, untuk mengambil keputusan yang bijaksana dalam mengelola waktu, alangkah baiknya jika kita memiliki perencanaan (Mzm. 90:12).

Meluangkan waktu bersama Allah setiap hari patut menjadi prioritas demi kesehatan rohani kita. Melakukan pekerjaan yang produktif akan membawa kepuasan bagi jiwa kita (Pkh. 3:13). Melayani Allah dan menolong sesama sangat penting bagi tercapainya tujuan Allah atas hidup kita (Ef. 2:10). Selain itu, waktu istirahat atau senggang yang kita ambil tidaklah sia-sia, karena hal tersebut akan menyegarkan jiwa dan raga kita.

Adakalanya kita cenderung terlalu berfokus pada apa yang ada saat ini juga, dengan mencari waktu untuk melakukan hal-hal yang penting bagi kita. Namun, Pengkhotbah 3:11 menyatakan bahwa Allah telah “memberikan kekekalan” dalam hati kita, sehingga kita diingatkan untuk memprioritaskan hal-hal yang bersifat kekal. Kita pun dibawa untuk memperhatikan hal yang terpenting dari semuanya, yakni perspektif kekal Allah “dari awal sampai akhir”. —Cindy Hess Kasper

WAWASAN
Pengkhotbah mengisahkan seorang manusia pandai yang kehilangan arah “di bawah matahari” (1:9). Sang penulis, yang cocok dengan gambaran Raja Salomo (dan menyebut dirinya “Pengkhotbah” ay.1), mengawali pemerintahannya dengan baik, dengan memakai hikmat yang dianugerahkan Allah untuk mengupayakan keadilan bagi warga kerajaannya yang paling menderita (lihat 1 Raja-Raja 3:16-28). Namun, ia lalu kehilangan arah ketika ia melupakan bahwa hikmat dan kekayaannya bukan diberikan terutama bagi kepuasan dirinya sendiri. Agaknya, pada akhirnya, ia ingat bahwa makna sejati hanya ditemukan dengan hidup di dalam terang dan kebaikan Allah (Pengkhotbah 12:13-14). —Mart DeHaan

Cukup Waktu
 

Perubahan apa saja yang mungkin perlu kamu ambil dalam cara kamu menggunakan waktu? Apa maksud penulis Kitab Pengkhotbah tentang Allah memberikan kekekalan dalam hati manusia?

Tuhan Yesus, biarlah aku melihat sekilas perspektif-Mu yang kekal, dan tolonglah aku untuk menemukan keseimbangan waktu yang tepat agar aku mampu menggenapi kehendak-Mu dengan lebih baik.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 34-36; Yohanes 19:1-22

Menolak Membenarkan Diri

Kamis, 9 Juni 2022

Baca: Markus 7:6-13

7:6 Jawab-Nya kepada mereka: “Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

7:7 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.

7:8 Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia.”

7:9 Yesus berkata pula kepada mereka: “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadatmu sendiri.

7:10 Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati.

7:11 Tetapi kamu berkata: Kalau seorang berkata kepada bapanya atau ibunya: Apa yang ada padaku, yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk korban–yaitu persembahan kepada Allah–,

7:12 maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatupun untuk bapanya atau ibunya.

7:13 Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu. Dan banyak hal lain seperti itu yang kamu lakukan.”

 

Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia. —Markus 7:8

Seorang polisi bertanya kepada pengemudi apakah ia tahu alasan mobilnya dihentikan. “Tidak tahu,” jawab si pengemudi dengan bingung. “Bu, kamu mengirim pesan dengan ponsel sambil mengemudi,” sang polisi menjelaskan dengan sabar. “Bukan, bukan mengirim pesan!” protes wanita itu sambil menunjukkan teleponnya sebagai bukti. “Aku sedang mengecek e-mail!”

Mengecek e-mail dengan ponsel tidak membebaskan seseorang dari hukum yang melarang pengemudi menggunakan ponsel sambil berkendara! Maksud peraturan itu bukanlah untuk mencegah orang memakai ponsel atau mengirim pesan, melainkan agar fokus pengemudi tidak teralihkan saat berkendara.

Yesus menuding para pemimpin agama pada masa-Nya mencari celah sebagai alasan untuk tidak mengikuti hukum Allah. “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah,” kata Yesus, mengutip perintah “Hormatilah ayahmu dan ibumu” sebagai bukti (Mrk. 7:9-10). Dengan berlindung di balik ketaatan beragama, para pemimpin kaya raya yang munafik itu menelantarkan keluarga mereka sendiri. Dengan dalih uang mereka adalah “persembahan kepada Allah”, mereka menyatakan tidak perlu lagi menolong ayah dan ibu mereka yang sudah tua. Yesus pun langsung menyoroti inti permasalahannya. “Firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadat yang kamu ikuti itu,” kata-Nya (ay.13). Selain tidak menghormati orangtua mereka sendiri, mereka juga tidak menghormati Allah.

Bisa jadi usaha kita membenarkan diri tidak kentara. Kita melakukannya saat kita menghindari tanggung jawab, berdalih atas perilaku egois kita, dan menolak perintah Allah yang sudah jelas. Jika semua itu menggambarkan perilaku kita, yakinlah, kita hanya menipu diri sendiri. Yesus mengundang kita untuk menukar kecenderungan hati kita yang egois dengan bimbingan Roh untuk menaati setiap perintah yang baik dari Bapa. —Tim Gustafson

WAWASAN
Beratnya tuduhan Yesus terhadap para pemuka agama (Markus 7:1,5), orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, terasa lebih menyentak jika kita memperhatikan kata-kata yang dipakai-Nya. Dia menyebut mereka “orang-orang munafik” (hypokrites, ay.6). Perbuatan para pemuka agama tersebut sangat berbeda dengan keadaan mereka sebenarnya. Yesus berkata, “Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia” (ay.8). Kata yang diterjemahkan sebagai “abaikan” (aphiemi) banyak dipakai di dalam Perjanjian Baru dan mengandung arti “meninggalkan” atau “melepaskan.” Meski mereka telah “meninggalkan” perintah Allah yang berdaulat, mereka “berpegang” (krateo) pada adat istiadat mereka. Kata lain yang menyoroti kesalahan para pemuka agama itu adalah “tidak berlaku” (akyroo, suatu istilah hukum untuk “membatalkan”, ay.13). Setiap sistem yang menempatkan tradisi di atas kebenaran Allah pantas mendapat kecaman. —Arthur Jackson

Menolak Membenarkan Diri
 

Dalam hal apa saja kamu sering mencoba membenarkan diri? Bagaimana sikap berdalih itu sejalan dengan hikmat Alkitab?

Ya Allah, aku membutuhkan hikmat-Mu untuk mengetahui apa yang benar. Jauhkanlah aku dari upaya untuk menyangkal kesalahanku sendiri. Tolonglah aku untuk hidup sejalan dengan bimbingan Roh-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 32-33; Yohanes 18:19-40