Aku Wanita dan Aku Kecanduan Pornografi

Oleh Jacq So
Artikel asli dalam bahasa Inggris: I’m A Woman And I’m Addicted To Porn

Halo teman-teman, namaku Jacq, aku seorang pecandu pornografi fiksi.

Setelah sekian lama aku baru menyadari kalau aku telah sampai di titik kecanduan. Kupikir aku tak lebih dari seorang yang suka membaca cerita-cerita fantasi.

Tapi, di situlah titik permulaannya. Dari kecil, aku adalah seorang pembaca yang penasaran, yang selalu ingin tahu banyak hal. Waktu SD, aku membaca buku berjudul Sweet Valley High dan Sweet Valley University, yang isinya ada di luar kepalaku. Di sekolah menengah, temanku mengenalkanku dengan fanfiction Harry Potter.

Fanfiction adalah cerita fiksi yang dibuat oleh para penggemar berdasarkan kisah atau karakter yang sudah ada, namun dimodifikasi oleh imajinasi sendiri. Fanfiction menolong para penulis pemula untuk menulis dalam banyak genre, dari komedi ke action, drama, romance.

Karena seri Harry Potter saat itu belum semuanya dirilis, membaca fanfiction memberiku alternatif selagi menunggu seri terbaru terbit. Aku membaca semuanya, dari cerita yang berspekulasi tentang buku-buku Harry Potter kelak hingga kilas balik ke masa lalu, ke tokoh-tokoh yang lebih tua.

Aku juga membaca cerita-cerita romantis. Aku memastikan cuma membaca cerita-cerita yang sesuai usia. Tapi suatu ketika, aku terpikat pada cerita bersambung yang ditulis dengan sangat baik, yang berisi adegan dewasa antara dua karakter. Aku harus tahu bagaimana akhir ceritanya, jadi kubaca sedikit-sedikit adegannya sambil memahami detail-detailnya.

Inilah kesalahan pertamaku.

Alasan yang kuberi pada diriku sendiri

“Tulisannya bagus” jadi alasanku selama bertahun-tahun untuk tetap membaca. Seiring aku membaca lebih banyak cerita fiksi yang berbeda, aku mendaulat diriku sebagai pembaca, tapi hal lain yang ikut terjadi adalah aku jadi semakin toleran terhadap sensualitas di tiap-tiap lembar yang kubaca.

Sebagai orang Kristen, aku tahu kalau pornografi adalah jerat yang harus dilepas, tapi aku beranggapan kalau:

– Itu cuma berlaku buat pria
– Itu cuma berlaku kalau kamu melihat bagian tubuh. Yang kubaca memang berisi deskripsi jelas, tapi itu kan cuma kata-kata. Aku bilang pada diriku sendiri: kamu tidak bisa memvisualisasikan apa yang kamu tak tahu.

Tapi, entah aku mengakuinya atau tidak, apa yang kubaca itu memberiku pengetahuan tentang seksualitas—dan keinginan untuk hidup lebih bergairah. Sebagai seorang yang tidak mengalami hal-hal romantis dalam hidupnya, pornografi fiksi menjadi arena untukku membenamkan diri dalam emosi dari karakter-karakter yang kubaca.

Ketika kecanduanku menjumpai Terang

Di awal usia 20-an barulah aku sadar kalau ini masalah. Aku ikut konferensi pemuridan dengan sahabatku di tahun 2013 dan mendapati kalau aku bergumul dengan hawa nafsu dan pornografi.

Aku pulang, membersihkan riwayat di perambanku (browsing history) dan meminta bantuan sahabatku untuk menolongku lepas dari dosa ini. Aku bisa bilang kalau inilah titik balik hidupku. Tapi, cuma dalam sebulan dua bulan, aku kembali lagi ke kehidupan lama.

Aku punya kebiasaan yang lebih dari satu dekade kulakukan. Membaca fanfiction yang porno menjadi hiburanku dan semacam ‘terapi’ setiap kali aku merasa capek, kecewa, kesepian, atau sekadar bosan. Pada beberapa momen, aku meminta ampun pada Tuhan setiap kali godaan itu datang. Lalu, aku melawan godaan itu setengah hati sebelum akhirnya menyerah.

Ketika aku mendengar kesaksian orang-orang yang lepas dari dosa, aku bingung mengapa aku tidak bisa. Aku mau hidup sesuai dengan teladan Yesus, tapi aku tidak bisa (Roma 7:18-19). Ada banyak momen ketika aku merasa putus asa karena terlalu sering melakukan dosa-dosa ini. Aku bertanya-tanya, kalau-kalau temanku dan Tuhan akan capek mendengar aku mengaku dosa, “Aku baca buku porno itu lagi. Maaf.”

Ketika aku ‘berserah’ pada anugerah Kristus dan pengampunan-Nya, aku tidak sepenuh hati. Aku tidak merelakan pikiranku dituntun oleh Roh Kudus, jadi aku tak akan pernah bisa tunduk sepenuhnya pada Allah (Roma 8:6-7) dan mengalami pertobatan sejati.

Lalu datanglah intervensi digital dari Tuhan Yesus

Suatu malam, aku memutuskan untuk menghapus riwayat perambanku.

Tapi, aku terpaku pada beberapa cerita yang kuanggap ada di ‘zona aman’. Tidak ada kisah romantis, atau sesuatu yang mengarah pada birahi. Ini cerita bagus, pikirku. Aku mau menandai cerita-cerita itu sebelum aku lupa. Jadi, kubuka lagi situs yang baru saja kututup. Aku cuma mau cari judul-judul itu aja, tegasku pada diri sendiri.

Aku bisa merasakan Tuhan tidak berkenan saat itu, tapi aku membenarkan diriku. “Ini doang mah gak akan berdosa,” gumamku dalam hati. Lalu, sekitar satu jam mencari-cari di situs itu, laptopku tiba-tiba restart sendiri dan muncullah blue screen, “your computer has experienced an error.”

Itu notifikasi error yang biasa, tapi emoji sedih di layar itu seolah seperti Tuhan Yesus berkata padaku, “Hai, ini Aku. Kamu lagi ngapain?”

Aku ingin menjawab kalau aku mencari cerita yang ingin kutandai. Aku selesai menandainya, tapi perasaanku jadi campur aduk.

Besoknya, aku bangun dengan satu pesan menggema di kepala—aku menyebut diriku pengikut Kristus, tapi bersediakah aku memberikan segalanya buat Dia?

Roh Kudus membombardirku dengan ayat-ayat Alkitab. Ayat yang menghujamku adalah perkataan Daud, “…aku tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa” (2 Samuel 24:24). Aku ingat sebuah lagu yang liriknya berkata memberi untuk Tuhan haruslah yang terbaik dan mempersembahkan korban yang layak buat Kristus. Namun, di sinilah aku berada. Aku menyerahkan keinginanku di atas altar, tetapi aku masih menimbang-nimbang harganya.

Kubuka lagi laptopku untuk menghapus semua bookmark di browser. Ketika Tuhan memberitahuku bahwa aku harus menanggalkan semuanya, aku berontak dengan memberi alasanku: tulisan-tulisan yang kubaca itu bagus dan ceritanya aman kok. Tapi kurasa Tuhan menjawab, “Tidak tahukah kamu bahwa tulisan dan kata-kata yang indah itu bersama dari-Ku?”

Kujawab Tuhan dengan membeberkan alasan bahwa bookmark lain yang kusimpan di browser itu tidak penting-penting amat, lama-lama juga aku lupa. Tuhan pun menjawabku kembali: “Jadi, kamu cuma mau menyerahkannya ke Aku kalau menurutmu itu sudah nggak penting lagi?”

Aku tak tahu menjawab apa.

Pembaharuan setiap hari dari Allah

Sudahkah aku menang atas pornografi? Belum. Kurasa inilah dosa yang akan terus kugumuli sepanjang hidupku.

Tapi daripada terjerat dalam rasa bersalah, aku bisa melompat pada anugerah Allah—percaya bahwa Dia tak akan lelah mendengarku mengakui dosaku, dan Dia setia serta adil. Dia mengampuni dan menyucikanku dari segala kesalahan (1 Yohanes 1:9).

Anugerah Kristus mengundangku masuk dalam pertobatan melalui darah-Nya. Aku diingatkan akan kehadiran-Nya dalam hidupku. Dia tahu, Dia melihat, dan Dia merasa pedih saat aku membuat keputusan yang salah.

Kapan pun hawa nafsu hadir dalam otakku, aku segera memohon pertolongan Tuhan dan bantuan dari sahabatku yang kupercaya untuk mendoakanku. Aku belajar waspada dari mood-ku yang negatif, obsesi berlebihan pada suatu tokoh atau karakter, atau waktu-waktu luangku.
Tuhan telah berjanji bahwa ketika kita “memakukan hasrat” kedagingan kita pada salib-Nya, dengan pertolongan Roh Kudus kita tidak akan dibiarkan kekurangan. Dia akan “memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali” (Mazmur 103:5).

Lockscreen Yohanes 1:12

“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya” (Yohanes 1:12).

Yuk download dan gunakan lock screen ini di HP kamu.
Klik di sini untuk melihat koleksi lock screen WarungSaTeKaMu

Aku Pendeta dan Aku Bergumul dengan Depresi

Ditulis oleh Hannah Go, berdasarkan cerita dari Jordan Stoyanoff
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Confessions Of A Pastor Who Wrestles With Anxiety

Aku memulai perjalanan karierku sebagai pendeta muda yang bersemangat, yang punya mimpi mengubah dunia. Aku mau melakukan apa pun yang bisa kulakukan buat Tuhan… tapi di tahun kedua pelayananku, aku bergumul dengan depresi dan kecemasan.

Setiap hari, aku merasa waktuku tidak cukup untuk memenuhi semua tuntutan. Kesibukan makin banyak dan setiap kritik terasa menyengat. Aku tidak bisa berpikir jernih, dan seringkali merasa frustrasi hanya karena hal-hal kecil.

Bebanku terasa makin berat, ditambah lagi beban dari harapan-harapan yang aku sendiri dan orang lain buat untukku. Aku berpikir bagaimana seharusnya aku memperhatikan orang-orang muda yang Tuhan hantarkan kepadaku. Suatu hari nanti aku harus mempertanggungjawabkan bagaimana aku telah membina dan menggembalakan mereka karena kita sedang berurusan dengan kehidupan kekal mereka kelak.


Semua ekspektasi itu membuatku tertekan. Aku mengalami burnout dan kelelahan. Semua harapanku lenyap. Aku tidak bisa membayangkan keadaanku akan membaik. Penderitaan mentalku terlalu besar, sampai-sampai aku merasa satu-satunya jalan keluar adalah mengakhiri hidupku dan segera bertemu Yesus.

Pemikiran itu membuatku kaget sendiri. Padahal selama ini aku menganggap diriku itu orang yang tabah dan kuat, sehingga gulatan perasaan seperti ini sungguh terasa aneh dan tidak nyaman.

Setelahnya, kupikir aku butuh liburan karena aku kelelahan. Mungkin pergi liburan akan menolongku lepas dari stres dan menjernihkan pikiran untuk menyusun rencana ke depan. Aku perlu mencari tahu bagaimana caranya bertahan melayani di pelayanan anak-anak muda, tidak sekadar jadi pendeta yang cuma hadir lalu gagal. Maka aku pun mengambil cuti seperti yang disarankan oleh salah satu mentorku, dan orang-orang di sekitarku yang mengerti pergumulanku.

Tapi, liburan selama satu minggu tidaklah cukup, dan aku tahu itu. Aku harus kembali lagi ke pekerjaanku, berjibaku kembali dengan rutinitas yang menantang. Meskipun ada sesi follow-up setelahnya, itu tidak menyelesaikan masalah utama. Tidak ada seorang pun yang hadir untuk mengajakku bicara terkait masalahku. Aku tetap tampil ‘baik-baik saja’, sementara dalam diriku bergumul hebat.

Semua hal ini membuatku bertanya-tanya. Aku meragukan imanku dan motivasi pelayananku. Di satu titik, semua beban itu bertumpuk dalam kepalaku.

Sebagai pendeta, aku memiliki kemampuan intelektual yang ‘baik’ tentang siapa Tuhan dan apa yang Dia katakan tentang aku. Namun, yang kutemukan setelahnya adalah justru aku tidak memahami diriku sendiri dengan baik, sehingga tidak dapat menerapkan kebenaran tentang siapa aku di hadapan Tuhan. Aku tahu keadaanku cukup sulit, tapi aku masih merasa cukup kuat untuk mengatasinya. Aku tidak menyadari bagaimana dunia di sekitarku mempengaruhiku dan turut berkontribusi menghadirkan pola-pola negatif di hidupku.

Bagaimana konseling menolongku mengatasi pergumulan

Suatu malam, aku berada di titik nadir. Harapan yang ditumpukan orang kepadaku terasa amat berat, dan aku merasa tidak sanggup lagi. Aku diliputi keputusasaan. Aku yakin aku tidak layak mengemban tanggung jawab di hadapanku. Aku lalu pergi ke sofa, dan tidur meringkuk seperti bola. Aku tak bisa berpikir jernih, tak bisa berbuat apa-apa. Kusadari kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Aku butuh bantuan.

Malam itu juga, atas arahan dari salah seorang pendeta, aku pergi menjumpai seorang dokter umum yang memberiku obat dan menyarankan agar aku berkonsultasi dengan psikolog.

Melihat ke belakang, aku merasa tindakan dokter yang segera memberiku obat bukanlah langkah yang tepat. Kadang obat-obatan memang bisa dipakai Tuhan untuk mengatasi masalah, tapi itu bukan solusi sesungguhnya. Kurasa ada banyak dokter di luar sana juga seperti itu, langsung memberi resep obat antidepresan kepada pasien yang belum pernah menjalani psikoterapi. Meski merasakan banyak progres positif, tetapi setelah sembilan bulan mengonsumsi obat, aku berhenti.

Aku memutuskan menemui konselor Kristen karena aku tahu pada intinya, masalah yang kuhadapi adalah masalah spiritual. Aku membutuhkan Yesus untuk mengubah hati dan pikiranku, sebab konselor sekuler hanya akan menolongku mengatasi gejala-gejala klinis dari masalah yang sebenarnya. Aku perlu memahami diriku seperti cara Tuhan melihatku. Aku perlu menemukan identitasku dalam Kristus, bukan dalam berhasil atau gagalnya pelayananku. Aku membutuhkan pertolongan dari sesama orang Kristen.

Hal lain yang juga menolongku (pada tahun-tahun menjelang pernikahanku), adalah bagaimana aku belajar mengasihi seseorang yang juga pernah mengalami depresi dan kecemasan—istriku sendiri.

Istriku pernah melalui tantangan-tantangan mental seperti yang kualami ini sebelumnya, maka aku pun paham bahwa menemui konselor adalah keputusan yang baik. Aku tahu bahwa aku tak perlu menjadi sempurna—karena pada dasarnya memang kita tak bisa sempurna, dan itu tidak masalah. Melihat sendiri bagaimana istriku melewati masa-masa tersebut, memberiku keberanian untuk mencari pertolongan, meskipun aku masih merasa kaget karena tidak pernah terpikir olehku bahwa aku akan mengalami masalah seperti ini juga. Selama proses konseling berlangsung, aku tetap melanjutkan peranku sebagai pendeta sampai beberapa tahun setelahnya.

Menjalani konseling merupakan hal yang paling penting, pertolongan terbesar yang kudapat dalam perjalananku mengatasi kesehatan mental. Konseling adalah tempat yang aman karena segala data dan informasi kita bersifat rahasia. Dari sana, aku mulai mengerti bahwamasalah yang kualami itu berkaitan dengan identitasku, dan kemudian aku melihat bagaimana identitasku itu menentukan apa yang kulakukan. Sebelumnya, aku punya konsep sendiri tentang siapakah aku, bagaimana dunia itu, dan siapakah Tuhan—beberapa konsepku itu tidaklah sejalan dengan perspektif Yesus. Cara pandangku akan realitas tidaklah benar, baik, dan sejalan dengan apa yang Yesus katakan padaku. Aku butuh Yesus untuk menunjukkan kebohongan yang telah kupercaya selama ini, baik secara sadar maupun tidak. Aku butuh percaya kebenaran dari Yesus melebihi apa yang kupikir dan kurasa.

Sesi-sesi konseling menolongku mengurai masalahku. Aku juga mendapat terapi perilaku kognitif Kristiani yang menolongku untuk mengerti apa yang terjadi dalam pikiranku, alasan mengapa aku melakukan sesuatunya, sehingga aku bisa merespons dengan efektif terhadap pikiran-pikiran, perasaan, tindakan, serta melepas konsep yang keliru.

Sebelumnya, aku tak menyadari bahwa iman berkaitan dengan kesehatan mental. Aku tidak sepenuhnya mengerti bahwa identitasku dalam Kristus juga berkaitan dengan masalahku. Sungguh penting mengetahui siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.

Pemulihan dari burnout

Pulih dari burnout adalah proses yang panjang, namun aku tetap menjalankan tanggung jawabku sebagai pendeta sampai Tuhan bilang saatnya untuk pindah. Butuh dua tahun untukku beranjak dari posisiku sebagai pendeta ke tanggung jawabku yang sekarang. Semua karena anugerah-Nya saja.

Masih ada momen-momen ketika aku melihat kendala dalam diriku, entah itu kurangnya rasa belas kasihan, bertindak di luar karakterku, atau bergumul untuk lebih tenang. Semua itu memaksaku berhenti dan berpikir: apa keyakinan yang mendasari di sini? Bagaimana aku bisa menyelaraskan diriku dengan kebenaran Tuhan di situasi ini?

Satu hal yang kupelajari tentang menghadapi masalah kesehatan mental di dalam gereja adalah kurangnya kesadaran akan kesehatan mental dari sudut pandang Kristen. Beberapa orang terlalu serius menanggapi persoalan mental orang lain seolah-olah itu penyakit menular, yang akhirnya malah membuat seseorang semakin takut untuk membuka diri. Sikap ini menunjukkan sebuah tembok yang dibangunoleh orang-orang di gereja—tidak mampu untuk secara terbuka berbagi kisah tentangapa yang sedang dialami, dan tak ada orang yang bisa memvalidasi pengalaman mereka.

Di sisi lainnya, aku juga melihat bagaimana orang bisa begitu berempati dan berbelas kasih terhadap mereka yang bergumul, tetapi pada akhirnya malah terlalu banyak menceritakan pengalaman mereka sendiri, yang belum tentu tepat. Pada kasusku, penting untuk tidak merasa kita adalah juruselamat bagi orang lain dan kitalah yang paling bisa menolong. Aku harus melakukan apa yang bisa kulakukan, tapi aku pun harus percaya bahwa pada akhirnya, Tuhanlah yang memelihara mereka.

Pada akhirnya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Kita tak bisa memaksa mereka yang bergumul dengan masalah kesehatan mental untuk menemui dokter atau konselor. Biarlah mereka sendiri yang memutuskan. Perjalanan menuju pemulihan adalah urusan orang itu sendiri dengan Yesus. Kita sebagai temannya bertanggung jawab menemani dia. Bukan sebagai juruselamat atau ahli kesehatan mental, tapi sebagai kawan.

Gimana Kalau Kamu Gak Pernah Menemukan Passionmu?

Oleh Jiaming Zeng
Artikel asli dalam bahasa Inggris: What If I Can’t Find My Passion?

“Gimana cara menemukan passion?”

Pertanyaan itu kuketik di Google, di tahun pertama kuliah pasca-sarjana. Kutanya dosenku, teman sebayaku. Kata mereka, passion itu sesuatu yang membuat kita antusias di pagi hari; sesuatu yang saat kita mau tidur pun, masih terbayang di pikiran; atau, sesuatu yang ingin sekali kamu lakukan sepanjang hidupmu. Itu semua kata mereka, bukan kataku.

Ada satu hal yang selalu kupikirkan tentang passion. Inilah yang dulu kuceritakan ke orang tuaku ketika aku masih kecil. Ini jugalah yang kucari tahu di Google, saat aku berdebat tentang keputusan-keputusan hidupku di tahun pertama kuliah doktoral. Aku selalu ingin jadi penulis. Aku membayangkan diriku menulis novel fiksi seperti J.K Rowling atau Jane Austen.

Namun, bagi orang tua Asia, menulis bukanlah pilihan karier yang gemilang. Lagipula, aku suka matematika, memecahkan masalah, dan mengerjakan proyek-proyek riset. Tapi, aku tidak memikirkan angka-angka sebelum tidur. Pun rumus-rumus matematika tidak muncul di pagi hari saat aku bangun. Faktanya, aku tak bisa membayangkan bagaimana hidupku jika bekerja di bidang matematika sepanjang usiaku.

Dilema ini menyiksaku selama setahun pertama. Apakah artinya hidup jika aku tidak mengerjakan apa yang kusuka? Apa jadinya jika aku dapat gelar Ph.D tapi di bidang yang bukan minatku?

Kebenarannya: tak peduli seberapa besar passion menggerakkan kita, seberapa cinta kita pada pekerjaan… kita selalu bertanya pada diri kita sendiri seperti yang dikatakan Pengkhotbah: untuk apakah kita berjerih lelah? Apakah artinya? (Pengkotbah 2:20-23). Bahkan Raja Salomo, dengan kesuksesan dan kebijaksanaannya, tak mampu menemukan makna dari perbuatan tangannya.

Pekerjaan—atau status, relasi, hobi—bukanlah tempat di mana kita harus menemukan makna. Makna datang dari relasi kita dengan Allah. Pengejaran kita akan passion, atau hal lain takkan pernah sungguh-sungguh memuaskan kita. Namun, kita bisa menemukan sukacita dan kepuasan dalam pekerjaan, seperti yang Salomo amati: “setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagianya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya–juga itupun karunia Allah” (Pengkhotbah 5:19).

Menemukan sukacita dalam berjerih lelah

Bagiku, krisis menemukan passion tidak hilang dalam semalam. Aku tetap melanjutkan studi doktoral. Aku mengambil kelas-kelas wajib, menyelesaikan tiap tugas, dan berusaha mencari topik untuk disertasi. Aku bisa bertahan di sana karena itu adalah pekerjaanku.

Seiring dengan fokusku yang bergeser dari ambisi pribadi, sikapku terhadap penelitianku juga mulai berubah. Aku mulai melihat langkah potensial dan aplikatif dari model matematikaku. Alih-alih mengembangkan algoritma, aku lebih tertarik untuk mencari penerapan praktis agar bisa diterapkan di dunia nyata.

Area penelitian yang kupilih adalah pelayanan kesehatan. Usul ini diberikan dari pembimbingku, tapi awalnya aku menolak. Memikirkan pertumbuhan sel kanker atau menganalisa efek dari kemoterapi pada kematian pasien terasa mengerikan buatku. Namun, seiring aku bekerja dan belajar, aku sadar kalau hari-hariku yang membosankan di depan komputer bisa menjadi penjelajahan menantang, yang memberikan dampak pada hidup para pasien.

Pekerjaanku bukanlah tentangku atau tentang pengejaranku akan passion. Hasil dari kerjaku bisa menolong orang-orang dalam mengambil keputusan tentang kesehatan mereka. Dan, di sinilah aku menemukan sukacitanya. Tuhan selalu menempatkanku di tempat yang tepat. Tapi sebelumnya, aku tidak bisa melihatnya. Barulah saat aku mengalihkan fokusku dari diriku sendiri kepada Tuhan, aku sadar bahwa Dia memberiku sesuatu yang tidak hanya kunikmati sendiri, tapi juga bisa menolong orang lain.

Tujuan utama dalam bekerja bukanlah untuk memuaskan kita, tapi untuk kita menjadi penatalayan dari apa yang Tuhan telah berikan pada kita di dunia ini. Dalam pengejaran kita mencari passion, kita seringkali menjadi buta dari apa yang Tuhan telah siapkan buat kita. C.S Lewis berkata:

“Give up yourself, and you’ll find your real self. Lose your life and you will save it. […] Nothing that you have not given awal will ever be really yours.”

Lepaskan dirimu, maka akan kau temukan dirimu yang sesungguhnya. Lepaskan hidupmu, maka kau akan mendapatkannya. Sesungguhnya tidak ada yang tidak kau lepaskan yang pernah benar-benar menjadi milikmu.

Untuk menemukan passion, kita harus melepaskan ambisi kita, dan bukalah diri untuk menerima apa yang Tuhan telah tetapkan buat kita.

Membarui konsep kita tentang passion

Sikap melepaskan mengubah hati dan pikiran kita. Kita akhirnya dapat melihat lebih banyak daripada sebelumnya. Seiring aku belajar melepas berhala dalam diriku, Tuhan menunjukkanku bahwa ada lebih banyak kebebasan ketika aku berfokus pada-Nya. Caraku dulu untuk menemukan passion adalah salah dan terlalu menyederhanakan. Hidup dan impian jauh lebih rumit dan dipenuhi banyak kemungkinan lebih dari yang bisa kubayangkan. Dan…ketika Tuhan adalah penulis hidupku, Dia memberiku kebebasan untuk percaya dan taat pada suara-Nya lebih dari pada suara hatiku sendiri.

Ketika aku belajar percaya dan taat bimbingan-Nya, aku melihat Tuhan pun sebenarnya peduli akan mimpi-mimpiku di masa kecil. Ketika aku siap, Dia akan menuntunku kembali pada impian itu pada cara yang tak terduga. Contohnya, Tuhan memberiku kesempatan untuk menulis bagi-Nya lewat majalan kampus. Memang bukan novel fiksi yang kubayangkan, tapi tulisan tentang kasih dan penyertaan-Nya. Dan… di sinilah aku sekarang, menulis buatmu. Hidupku saat ini memang tidak seperti impianku dulu, tetapi aku yakin apa yang Tuhan berikan selalu lebih masuk akal daripada pikiranku.

Di tahun pertamaku aku tak pernah menemukan apa yang jadi passion-ku, tapi aku belajar bahwa ada cerita yang lebih besar. Melalui prosesnya, aku menemukan kebebasan, penghiburan, dan sukacita dari pekerjaanku. Tak ada yang tahu bagaimana kelak aku akan menulis atau tetap bekerja di riset. Yang kutahu adalah perjalanan ini masih berlangsung. Aku percaya Tuhan selalu ada untuk membimbing dan menunjukkanku jalan. Lagipula, Tuhanlah yang menenun hal-hal kecil yang kita lakukan menjadi sebuah kisah yang jauh lebih besar dan hebat dari apa pun yang kita bayangkan.

Kata Diri Sendiri vs Kata Tuhan

Mengawali tahun baru, yuk kita hidup seturut dengan apa kata Tuhan buat kita. Bersama-Nya, kita akan bertumbuh dan berbuah.

Artspace ini dibuat oleh @kaylaspalette dan diterjemahkan dari @ymi_today

Beriman Sedalam Lirik Lagu “Tersembunyi Ujung Jalan”

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Di bawah terik matahari yang menyengat, aku berlari-lari kecil memasuki halaman lokasi tes di kantor regional BKN pada 27 September 2021 yang lalu.

Seperti ayunan langkahku, aku pun sedang berlari-lari pada sebuah mimpi dan harapanku untuk menjadi seorang abdi negara kelak melalui Sistem Seleksi Calon Aparatur Sipil Negara tahun anggaran 2021.

Aku masih ingat betapa bersemangatnya aku untuk mengikuti perhelatan akbar skala nasional tersebut. Melewati serangkaian proses yang tidak mudah, semangatku tidak berkurang. Aku sungguh antusias mempersiapkan sejumlah berkas hingga sukses submit pada tahap pendaftaran. Bahkan, aku masih menyempatkan waktu membantu kawan-kawanku yang kesulitan dalam proses pendaftaran.

Aku sungguh bersyukur, sebab setelah tiga kali mendaftar pada tahun yang berbeda, barulah tahun ini aku dinyatakan lolos seleksi administrasi oleh Panselnas SSCASN 2021. Dengan demikian, aku berhak melanjutkan langkah juangku ke tahap seleksi kemampuan dasar.

Kuakui, berjuang untuk menjadi seorang abdi negara tidaklah semudah membalik telapak tangan. Bagiku, tidak cukup hanya memiliki pengetahuan yang mumpuni tetapi juga yang paling perlu dimiliki adalah keteguhan iman.

Mengapa aku menyebut keteguhan iman? Sebab dengan iman, kita dimampukan untuk sungguh-sungguh berjuang dengan baik pada jalur yang benar. Melalui iman kita didorong untuk berserah penuh kepada Tuhan, bahwa berhasil atau gagal dalam perjuangan, Tuhanlah yang menetapkan rancangan terbaik bagi kita. Dengan teguh beriman dalam setiap perjuangan akan menolong kita sebagai orang percaya tetap berpengharapan pada segala sesuatu yang masih misteri dan tersembunyi bagi kita.

Hal itu senada dengan sebuah nas yang berkata:

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1).

Berangkat dari pemahamanku itu, aku pun melandasi perjuanganku dengan keteguhan iman dan harapan bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagiku. Aku melakukan sejumlah persiapan menghadapi tes seperti belajar mandiri, latihan soal-soal, hingga mengikuti tryout online yang diselenggarakan oleh lembaga bimbingan terkait.

***

Betapa Tuhan sangat baik bagiku. Ia telah membuka pintu bagiku sehingga aku dapat berjuang mewujudkan mimpiku. Namun, apa yang kuharapkan tidak seperti yang terjadi. Sesaat setelah durasi waktu tes selesai, mataku tak berkedip sekian detik menatap nilai tesku yang terpampang di layar laptop. Hasil tersebut menunjukkan kalau aku gagal memenuhi passing grade sebagaimana yang telah ditetapkan dalam keputusan menteri PANRB nomor 1023 tahun 2021.

Saat hendak meninggalkan lokasi tes aku duduk sejenak merenung-renung. Aku yang antusias berjuang dan bersemangat mengerjakan 110 soal di ruang CAT dengan durasi waktu 100 menit, demi mempertaruhkan harapan dari orang tuaku, keluargaku dan teman-temanku untuk lolos, kini tinggal kenangan belaka.

Harapan yang ditumpukan ke atas pundakku runtuh seketika. Tulang-tulangku lemas tak berdaya, hatiku remuk redam mengingat hasil perjuanganku itu. Akan tetapi, di saat itulah lagu “Tersembunyi Ujung Jalan” berkumandang dari relung hatiku yang terdalam. Bahagia merekah menghangatkan kembali hatiku yang dingin.

“Ya, aku memang gagal sebagai pejuang NIP, tapi aku lega sudah berjuang dengan baik pada jalur yang benar, dan melewati sejumlah tahap-tahap sesuai prosedur,’’ kataku menguatkan hatiku.

Pengumuman resmi hasil SKD 13 November 2021 kemarin, mengesahkan kegagalanku. Dengan demikian, secara otomatis langkah juangku untuk menjadi calon ASN terhenti seketika. Aku tidak berhak lagi mengikuti tes kompetensi bidang.

Kegagalan ini bukanlah kegagalan pertama dalam perjalanan hidupku sejauh ini. Di tahun-tahun hidupku yang sudah berlalu, aku pun telah mengecap pahit getirnya kegagalan, seperti yang pernah kutuliskan 4 tahun silam di website ini.

Meskipun kegagalan kerap menghampiriku, aku tetap yakin sepenuhnya bahwa Tuhan tidaklah gagal mengantarku pada rencana-Nya yang terbaik bagi masa depanku, sebagaimana janji-Nya bagiku yakni rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan (Yeremia 29:11).

Aku sadar, ternyata kegagalan yang telah kulewati sebelumnya kini membuatku kuat dan teguh menghadapi kegagalan masa kini. Lebih dari itu, aku sungguh percaya dan meyakini bahwa di balik kegagalanku ini, Tuhan mempersiapkan sesuatu yang indah bagiku.

Seperti judul tulisanku ini “Beriman sedalam Lirik Lagu Tersembunyi Ujung Jalan”, sejujurnya lagu dari Kidung Jemaat 416 (bait 1) tersebut, tidak hanya sekadar mengiringi langkah-langkah juangku, tetapi juga saat tulisan ini kutulis, lagu ini pun telah menghiburku.

Walau aku belum tahu akan seperti apa kisah hidupku di masa menjelang pun masa depanku, dengan iman aku merenungkan dengan sungguh lirik-lirik lagu tersebut.

Tersembunyi ujung jalan
Hampir atau masih jauh
Ku dibimbing tangan Tuhan ke negeri yang tak kutahu
Bapa ajar aku ikut apa juga maksud-Mu
Tak bersangsi atau takut beriman tetap teguh

Dari lirik-lirik lagu tersebut, pada akhirnya aku menemukan satu hal ini bahwa kisah hidup kita adalah sebuah perjalanan yang tidak diketahui bagaimana ending-nya. Hal-hal yang kita cita-citakan dan harapkan masih tersembunyi di ujung penantian. Namun, kabar baiknya adalah: selagi kita tetap bersama Tuhan dengan iman yang teguh dalam setiap cita-cita dan harapan kita, maka semuanya akan baik-baik saja. Dan, sesungguhnya kisah hidup kita sepenuhnya ada dalam kendali Tuhan.

Sekalipun mata jasmani kita tidak mampu untuk melihat masa depan terbaik yang Tuhan rancangkan bagi aku dan kamu, biarlah mata rohani kita dipertajam oleh Roh Kudus untuk memandangnya dalam perspektif iman kita sebagai umat yang percaya kepada Yesus Kristus.

Seperti lirik-lirik lagu Tersembunyi Ujung Jalan, aku telah berjuang dengan peluh namun penantianku masih jauh ibarat ujung jalan yang masih tersembunyi bagiku. Akan tetapi, dengan iman yang teguh aku mau berkata “Tuhan, ke mana saja Engkau membawaku aku akan ikut serta, walau terkadang jalan-Mu tidaklah mudah. Dan, aku tahu bahwa sebuah rancangan-Mu pun jauh lebih baik dari seribu keinginanku.

Kini, hatiku melimpah dengan syukur mengetahui betapa penyertaan Tuhan sempurna bagiku melewati kisah perjuanganku itu. Sembari berdoa memohon kekuatan dan iman yang teguh agar tetap kuat melewati setiap kegagalan, teman-temanku dan keluargaku pun membantu memulihkan suasana hatiku dengan memberiku semangat. Aku pun mendapat kekuatan yang baru. semangat dari dalam diriku tumbuh kembali, sehingga aku tetap bekerja seperti sedia kala.

Kepada semua teman-temanku yang juga mengalami hal serupa denganku, janganlah berputus asa. Mintalah Roh Kudus menguatkan hatimu dan meneguhkan imanmu agar kamu bisa melihat dengan mata iman bahwa sesungguhnya di ujung penantian kita, telah tersedia masa depan yang penuh harapan, terlebih pada sebuah janji hidup kekal bersama-Nya kelak (I Yohanes 2 : 25 )

Selamat berjuang dengan penuh iman kepada kawan–kawan yang berhasil melaju ke tahap tes kompetensi bidang, Tuhan Yesus menyertai perjuanganmu dan semoga kelak menjadi saksi atas kebaikanNya bagi hidupmu.

Terpujilah Kristus.

Artspace – 2 Alasan Mengapa Kita Tidak Boleh Menganggap Remeh Waktu Tidur

Sobat muda yang suka insom dan ngalong siapa nih??

Waktu tidur adalah waktu yang penting. Dengan tidur, kita menerima berkat Tuhan melalui tubuh yang beristirahat. Di zaman yang serba cepat, waktu tidur kadang terabaikan dengan memenuhi target-target atau sekadar terlena bermain gadget. Namun, janganlah meremehkan waktu-waktu untuk beristirahat, karena di saat kita memberi jeda bagi tubuh untuk memulihkan dirinya, di sana jugalah Tuhan mencurahkan berkat-Nya.

Artspace ini didesain oleh Gladys Ongiwarno @gladyong dan kontennya diadaptasi dari artikel Edwin Petrus @ep_petrus yang telah ditayangkan di WarungSaTeKaMu.

Perlukah Orang Kristen Mengejar Kebebasan Finansial?

Oleh Rachel Lee
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: klik di sini

“Capek kerja dari pagi sampai malam? Daftar kursus gratis ini dan belajarlah bagaimana menjadi bos!”

“Kekurangan uang? Chat saya, dan saya akan mengajari Anda mendapatkan uang dengan mudah.”

“Belum mulai berinvestasi? Anda belum terlambat! Ayo bergabung sekarang dengan tim kami!”

“Tahukah Anda apa itu kebebasan finansial? Itu adalah kondisi di mana Anda tak perlu lagi bekerja karena uanglah yang bekerja buat Anda! Mau tahu caranya? Kontak saya sekarang juga.”

***

Setiap kali aku masuk ke media sosialku, aku menemukan banyak iklan seperti di atas, di mana-mana! Setelah melihat banyak iklan itu, ada lagi iklan yang bilang begini:

“Kalau kamu punya uang, tidak hanya kamu punya lebih banyak pilihan; kamu bisa berkata ‘tidak’ pada hal-hal yang tak kamu suka”, atau

“Berjuanglah sekarang, dan dirimu di masa depan akan berterima kasih.”

Aku merasa tergelitik dan bertanya-tanya bagaimana aku bisa menambah hartaku. Melihat bagaimana bisnis dan investasi teman-temanku berjalan baik, aku merasa tak puas dengan posisi finansialku. Aku juga ingin meraih lebih banyak uang supaya aku bisa melunasi cicilan, dan membawa keluargaku jalan-jalan keliling dunia. Jadi, aku pun mulai mencari-cari kesempatan berbisnis secara daring.

Sebenarnya ini bukanlah hal baru buatku. Di tahun 2016, ketika aku masih mahasiswa, aku pernah menulis artikel tentang keinginanku untuk mendapat uang. Artikel itu ditulis saat aku tidak punya pendapatan, tapi sekarang setelah aku bekerja dan punya pemasukan yang stabil, aku masih ingin meraih lebih. Jadi aku bertanya-tanya: apakah ini karena aku kurang puas?

Ketika aku merenungkan motivasiku, aku sadar kalau aku ingin meraih kebebasan finansial bukan supaya aku bisa hidup mewah. Malah, harapanku adalah dengan punya kemampuan finansial yang lebih besar, aku bisa menaikkan taraf hidup keluargaku lebih baik. Plus, kalau semisal aku terpanggil untuk melakukan mission-trip entah ke mana, aku bisa membayarnya tanpa khawatir. Semua motivasi ini terlihat rasional kan?

Jadi, sebagai orang Kristen, aku sungguh bisa mengejar kebebasan finansial kan?

Berangkat dari dua pertanyaan itu, aku membuka Alkitabku untuk mencari tahu apa yang Allah ingin katakan terkait dengan kekayaan. Kutemukan beberapa penemuanku. Kuharap apa yang kupelajari juga menolongmu untuk menemukan jawaban.

Berdasarkan sebuah artikel di koran, ada sekitar dua ribu ayat di Alkitab tentang uang. Tapi, hanya sekitar 500 yang berbicara tentang doa dan iman. Bisa dikatakan, masalah tentang uang tidak boleh diabaikan.

Pada dasarnya, uang itu bersifat netral. Baik atau buruknya tergantung dari orang yang menggunakannya. Uang bukanlah akar segala kejahatan, cinta akan uanglah yang jadi akar segala kejahatan (1 Timotius 6:10). Kapan pun Alkitab berbicara tentang uang, Alkitab juga berbicara tentang bagaimana orang memandang dan menggunakannya.

Inilah tiga hal yang harus selalu kita ingat ketika kita membahas soal relasi kita dengan uang:

1. Ingatlah bahwa uang itu diberikan oleh Tuhan

Pertama, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu, termasuk uang, berasal dari Allah. Salomo yang dipenuhi kebijaksanaan dan kekayaan pernah berkata, “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagianya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya—juga itupun karunia Allah” (Pengkhotbah 5:19).

Namun, kita harus memahami bahwa karunia Allah itu tidak hanya ada saat kita kaya, tapi juga saat kita miskin. Ketika Ayub kehilangan anak, harta, dan kekayaannya, dia masih bisa berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Pernyataan Ayub menunjukkan bahwa Allah jauh lebih besar daripada pengejarannya akan kemakmuran dan kedamaian. Iman Ayub adalah teladan bagi kita.

Marilah kita percaya bahwa Allah akan menyediakan apa pun yang kita butuhkan, dan kita perlu bersyukur atas apa yang ada pada kita.

2. Kita hanyalah pengelola uang

Ketika kita menyadari bahwa uang berasal dari Allah, kita dapat menempatkan diri pada posisi yang benar—sebagai pelayan Allah. Karena Dia telah memberi kita uang, maka kita harus mengelolanya.

Pemahaman ini membawa kita pada pengelolaan keuangan. Pendapatan kita dapat dibagi ke dalam dua kelompok: aktif dan pasif.

A. Pendapatan aktif—uang yang kita raih dari bekerja:

1 Timotius 5:18 berkata “Setiap orang yang bekerja patut mendapat upahnya.” Mendapatkan upah yang layak dari instansi tempat kita bekerja adalah hak kita. Ayat ini juga mengingatkan orang-orang Kristen yang merupakan para pemilik usaha akan kewajiban untuk membayar pekerjanya dengan upah yang sesuai.

Alkitab tidak menentang usaha sampingan, tapi ada cara-cara yang ditentang Allah seperti: penyuapan (Mikha 3:11), warisan yang diminta terlalu cepat (Amsal 20:21), pencurian, kebohongan, dusta (Imamat 19:11).

B. Pendapatan pasif—uang mendapatkan uang:

Matius 25:14-30 menceritakan perumpamaan tentang seorang tuan yang memberikan hamba-hambanya masing-masing lima, dua, dan satu talenta. Orang-orang biasanya memahami perumpamaan ini sebagai pengingat bagi kita untuk menggunakan talenta dan kemampuan kita bagi Tuhan. Tapi, aku percaya pada prinsipnya perumpamaan ini juga jadi pengingat yang baik tentang uang: kita harus memperlakukan dengan serius uang yang Tuhan telah berikan buat kita–dengan menggunakan cara-cara bijak untuk meningkatkan nilainya. Entah itu dengan menabung di bank atau di instrumen investasi.

Allah tidak menilai uang lebih berharga daripada kita, atau pun Dia menjadikan uang sebagai tolok ukur kasih-Nya bagi kita. Dia berkenan apabila kita secara efektif menggunakan apa yang Dia telah percayakan bagi kita. Saat kita bersyukur pada-Nya atas pemberian-Nya, kita juga harus belajar untuk mengelolanya dengan baik sebagaimana kita mengembangkan talenta dan kemampuan kita.

3. Belajarlah mengelola uang tanpa bersifat serakah

Ketika kita mengelola keuangan pada jalur yang benar, hasilnya bisa saja jauh melampaui apa yang kita harapkan. Manajemen yang baik bisa menolong kita meraih lebih banyak uang, yang juga menuntut energi lebih untuk mengelolanya. Namun, berhati-hatilah agar kita tak kehilangan pandangan kita akan Allah. Atau, jangan pula karena kita gagal mengelola uang dengan baik lantas kita pun menyalahkan-Nya.

Sifat tamak atau serakah muncul ketika kita memaknai uang lebih besar daripada kasih kita pada Tuhan. Uang lalu menjadi tuan kita, sedangkan Tuhan menjadi pelayan ketika kita berpikir bahwa Dia berkewajiban untuk menambah harta kekayaan kita.

Jika kita ingin tahu apakah kita telah jadi orang yang serakah atau tidak, secara sederhana kita dapat melihat bagaimana sikap kita terhadap persembahan. Persembahan adalah cara yang baik untuk menguji siapakah pemilik uang itu.

Jika kita merasa uang itu adalah milik kita karena kita yang meraihnya, dan memberikan persembahan bagi rumah Tuhan tidak akan menambah uang itu, maka persembahan meskipun cuma seribu rupiah pun tidak akan terasa baik buat kita. Tapi, jika kita mampu memberi dengan sukacita, itu menyenangkan Tuhan. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).

Sejalan dengan tiga poinku, aku merumuskan definisi baru dari ‘kebebasan finansial’ buatku sendiri:

1. Aku bisa bebas memuji Tuhan untuk segala kepunyaanku yang adalah kepunyaan-Nya.

2. Aku bisa bebas bekerja untuk memuliakan-Nya dan berani berkata ‘tidak’ untuk cara-cara yang tidak menyenangkan hati-Nya.

3. Aku bisa bebas mempersembahkan segalanya bagi Tuhan: dengan sukacita memberikan uang yang dipercayakan-Nya untuk membangun kerajaan-Nya.

Yohanes 8:32 berkata, “…dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Terlepas dari apakah aku bisa memenuhi kebebasan finansial berdasar standar dunia, aku tahu apabila aku mengejar kebenaran Allah, aku akan memperoleh kebebasan sejati yang berasal dari-Nya: untuk hidup dalam naungan kasih dan anugerah-Nya, tidak lagi terikat pada dosa, dan mampu menolak godaan keuangan dan menolak untuk melakukan hal-hal yang tidak berkenan pada-Nya.

Ingatlah 3 Hal Ini Sebelum Menghakimi Orang Lain

Oleh Vanessa
Artikel asli dalam bahasa Inggris: What My Assumptions Taught Me About Judging Others

Beberapa bulan lalu, seorang kenalanku bersikap dingin dan menjauhiku. Ketika kutanya kenapa, dia bilang kalau ekspresiku berlebihan di pertemuan terakhir dengannya. Kucoba mengerti alasannya dan meminta maaf, tapi baginya tindakanku itu tidak akan membuat relasi kami sama seperti dulu.

Tentu respons itu adalah keputusannya dan aku pun tahu bahwa untuk relasi yang sehat perlu ada batasan yang jelas. Tetapi, melihat ke belakang aku mendapati sulitnya merespons terhadap situasi penolakan seperti itu. Dari diskusiku dengan konselorku, aku sadar kalau reaksi berlebihanku muncul dari rasa sakit dan trauma masa kecil yang belum selesai. Fakta ini membuat peristiwa penolakan itu terasa lebih sakit, tapi sekaligus juga memberiku rasa lega. Alih-alih merasa bersalah dan malu, aku jadi sadar bahwa aku pun butuh dipulihkan.

Kita semua ingin dipandang, dimengerti, dan diterima sebagaimana adanya. Kita ingin semua orang mau menegur kita dengan kasih ketika dibutuhkan, tapi kita juga ingin mereka berbicara dengan kita, untuk mengerti siapa dan bagaimana sih kita itu sebenarnya. Aku ingat akan seniorku di tahun pertama kerja yang berkata, “Rasanya menyenangkan jika kita dikenal baik.” Itu memang betul, tapi lebih daripada sekadar dikenal baik, yang lebih baik ialah: kita dikenal sampai jelek-jeleknya, tapi tetap dikasihi.

Kasih yang melampaui kesan pertama

Kasih yang Allah berikan pada kita untuk kita berikan pada orang lain adalah kasih yang “menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Korintus 13:7). Inilah kasih yang kita semua inginkan, tapi kusadari kalau kasih ini jugalah yang sulit untuk kuberikan. Kasih yang mengharuskanku untuk berhenti dan berpikir, untuk memahami siapa orang yang kutemui. Seringkali aku berpikir meremehkan dan buru-buru mencari topik bicara lain.

Seorang temanku bercerita tentang tetangga lamanya yang dikenal menyebalkan. Suatu kali, ketika dia membuang sampah, tetangga itu mendekatinya dan mengomel karena sampah itu tidak diletakkan di tempat yang spesifik. Alih-alih menanggapinya berdasarkan kata orang kalau tetangga itu menyebalkan, temanku tetap tenang dan minta maaf. Sikapnya yang damai itu menohok sang tetangga, yang akhirnya malah jadi terbuka dan mulai mengobrol dengan temanku. Melalui obrolan mereka, temanku mendapati sebenarnya tetangganya itu orang baik yang pernah dilukai oleh orang lain. Sikapnya yang defensif adalah caranya untuk melindungi dirinya dari terluka.

Aku harap kita semua seperti temanku itu, tapi sejujurnya, bukankah kita semua cenderung menghakimi orang lain berdasarkan apa yang mata kita lihat? Setelah menghakimi, lantas kita pun ‘membuang’ mereka dalam kotak yang berisikan asumsi-asumsi kita sendiri?

Ketika Allah membuatku memikirkan kembali

Meskipun kali ini akulah yang ditolak, aku tahu kalau aku sendiri pernah menolak dan menghakimi orang lain dengan buru-buru mengambil kesimpulan berdasarkan apa yang kulihat. Ada masa-masa ketika Tuhan memaksaku untuk melihat kembali suatu hal secara utuh supaya aku memahami bahwa apa yang kupikirkan tak selalu benar.

Beberapa tahun lalu, aku ikut mission-trip bersama beberapa jemaat. Di akhir pekan, ada seseorang yang kata-katanya menggangguku. Kata-katanya tidak buruk, tapi karena itu menggangguku aku memutuskan kalau orang itu tidak akan kudekati, dan segera aku pun mengabaikan orang itu.

Namun Tuhan punya rencana lain. Lewat interaksi kami selama beberapa minggu, aku menyadari kalau orang yang kuanggap mengganggu itu ternyata murah hati, dan dia selalu berusaha untuk menunjukkan sikapnya yang tulus dan mengasihi pada orang lain. Orang itu pun menjadi teman baikku yang sampai hari ini aku senang meluangkan waktu bersamanya. Kalau seandainya aku terjebak pada pikiranku akan kesan pertama yang buruk, aku tidak akan mengalami pertemanan yang indah.

3 hal untuk diingat

Salah satu ayat favoritku adalah 1 Samuel 16:7, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Rasanya menenangkan sekaligus menantang mengetahui bahwa Allah melihat kita sebagaimana adanya kita. Menenangkan karena kita sungguh dikasihi oleh Tuhan Semesta Allah; menantang karena jika kita dikasihi sedemikian rupa, masa kita bertindak sebaliknya terhadap orang lain?

Setelah menyadari ini, aku berdoa agar Tuhan menolongku setiap hari untuk menjadi orang yang mampu melihat melampaui apa yang dilihat mata, dan untuk mengasihi orang lain dengan cara yang mencerminkan Kristus—dengan anugerah, belas kasih, dan pengertian. Untuk mewujudkan itu, aku mengingat 3 hal ini:

1. Lihat jangan dari sudut pandang sendiri

Setiap orang punya masalah masing-masing, dan itu bisa mempengaruhi bagaimana mereka meresponsku. Mengingat hal ini memberiku sedikit jarak untuk untuk mencerna sikap dan respons mereka.

2. Tanya sebelum membuat kesimpulan

Matius 18:15 menjelaskan bagaimana kita seharusnya menegur orang lain. Meskipun teguran itu tidak menyenangkan, ketika aku punya keberanian untuk memberitahu seseorang tentang sikap atau kata-katanya yang melukaiku, penjelasan ataupun permohonan maaf dari mereka menolongku untuk memahami situasi dari sudut pandang yang berbeda. Aku pun terdorong untuk melihat ke dalam diriku sendiri, akan apa yang jadi pikiranku yang berdosa.

3. Maafkan, sebagaimana kita telah diampuni (Kolose 3:13)

Pengampunan tidak hanya untuk dosa-dosa ‘besar’ yang dilakukan pada kita, tapi juga bagi kesalahan-kesalahan yang tampak kecil. Bagian dari mengampuni adalah belajar untuk merelakan dan tidak selalu mempermasalahkan setiap hal. Ingatlah, kasih menutupi banyak sekali dosa (1 Petrus 4:8).

Aku berdoa kiranya kasih yang tidak bersyarat yang kuterima dari Tuhan setiap hari menolongku untuk mengasihi orang lain. Daripada menorehkan luka dalam hidup mereka, aku mau belajar untuk turut serta dalam pemulihan mereka.

Semoga tulisan ini memberkati kita semua.