Alat yang Dibentuk oleh Allah

Rabu, 15 September 2021

Alat yang Dibentuk oleh Allah

Baca: Yesaya 64:5-9

64:5 Engkau menyongsong mereka yang melakukan yang benar dan yang mengingat jalan yang Kautunjukkan! Sesungguhnya, Engkau ini murka, sebab kami berdosa; terhadap Engkau kami memberontak sejak dahulu kala.

64:6 Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.

64:7 Tidak ada yang memanggil nama-Mu atau yang bangkit untuk berpegang kepada-Mu; sebab Engkau menyembunyikan wajah-Mu terhadap kami, dan menyerahkan kami ke dalam kekuasaan dosa kami.

64:8 Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.

64:9 Ya TUHAN, janganlah murka amat sangat dan janganlah mengingat-ingat dosa untuk seterusnya! Sesungguhnya, pandanglah kiranya, kami sekalian adalah umat-Mu.

Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu. —Yesaya 64:8

Alat yang Dibentuk oleh Allah

Permainan video The Legend of Zelda: Ocarina of Time dari Nintendo dianggap sebagai salah satu permainan terbaik yang pernah diproduksi dan telah terjual lebih dari 7 juta kopi di seluruh dunia. Permainan itu juga ikut mempopulerkan ocarina, sebuah alat musik kuno berukuran mungil yang terbuat dari tanah liat dan berbentuk seperti kentang.

Ocarina tidak kelihatan seperti alat musik pada umumnya. Orang memainkannya dengan meniup bagian ujungnya sambil menutup lubang-lubang pada permukaannya yang tidak lazim. Ketika dimainkan, ocarina menghasilkan bunyi indah yang sangat menenangkan sekaligus menyentuh kalbu. 

Pembuat ocarina mengambil sebongkah tanah liat, membentuk, memanaskan, dan mengubahnya menjadi sebuah alat musik yang luar biasa. Saya melihat gambaran tentang Allah dan kita di sini. Yesaya 64 mengatakan: “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis. . . . Tetapi sekarang, ya Tuhan, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami. . . . Ya Tuhan, janganlah murka amat sangat” (ay.6,8-9). Nabi Yesaya hendak mengatakan: Ya Allah, Engkaulah yang berdaulat. Kami semua berdosa. Bentuklah kami menjadi alat yang indah bagi-Mu. 

Memang itulah yang Allah lakukan! Karena kemurahan-Nya, Dia mengaruniakan Anak-Nya, Yesus, untuk mati bagi kita. Sekarang Dia terus membentuk dan mengubah kita sembari kita hidup menuruti tuntunan Roh-Nya dari hari ke hari. Seperti napas pembuat ocarina melewati rongga alat musiknya untuk menghasilkan alunan yang indah, Allah bekerja melalui kita—alat yang dibentuk-Nya sendiri—untuk menggenapi rencana-Nya yang indah: menjadikan kita semakin serupa dengan Yesus Kristus (Rm. 8:29). —Ruth Wan-Lau

WAWASAN
Nabi Yesaya menggunakan tema “tukang periuk dan tanah liat” untuk menggambarkan ketegangan hubungan Allah dengan umat-Nya. Metafora itu mengacu kepada sosok Pencipta yang berdaulat dan makhluk ciptaan yang tunduk kepada-Nya. Sebagai tanah liat, kita adalah hasil buatan tangan Bapa (Yesaya 64:8). Karena memilih mengikuti jalan kita sendiri, kita menolak wewenang Allah atas hidup kita dan “memutarbalikkan segala sesuatu” sehingga tanah liat dianggap sama seperti tukang periuk (29:16), seolah-olah tanah liat bisa memerintahkan tukang periuk apa yang harus dilakukannya. Yesaya memperingatkan, “Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya” (45:9). Sebagai Pencipta kita, Allah berhak menentukan apa pun yang ingin diperbuat-Nya (ay.10-12). Kira-kira enam puluh tahun setelah perkataan Yesaya ditulis, Nabi Yeremia pergi ke rumah tukang periuk untuk menyampaikan pesan yang sama kepada umat Allah: “Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!” (Yeremia 18:6). —K.T. Sim

Dengan menyadari kamu telah menerima kemurahan Allah, bagaimana hal itu mempengaruhi cara kamu berpikir, berkata-kata, dan bertindak hari ini? Bagaimana kamu dapat berserah penuh kepada perubahan yang dikerjakan oleh-Nya?

Bapa, terima kasih karena Engkau menyelamatkan dan mengubahku supaya aku makin serupa dengan Anak-Mu, Yesus. Ajarlah aku untuk terus berserah kepada proses perubahan yang dikerjakan Roh-Mu. 

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 22–24; 2 Korintus 8

Di Luar Perkemahan

Selasa, 14 September 2021

Di Luar Perkemahan

Baca: Ibrani 13:11-16

13:11 Karena tubuh binatang-binatang yang darahnya dibawa masuk ke tempat kudus oleh Imam Besar sebagai korban penghapus dosa, dibakar di luar perkemahan.

13:12 Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri.

13:13 Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya.

13:14 Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang.

13:15 Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.

13:16 Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.

Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri. —Ibrani 13:12

Di Luar Perkemahan

Jumat adalah hari pasar di sebuah kota kecil tempat saya dibesarkan di Ghana. Meski telah lama berlalu, saya masih ingat sebuah lapak di pasar itu. Jari tangan dan kaki pedagang di lapak itu telah terkikis oleh penyakit Hansen (kusta). Wanita pedagang itu meringkuk di atas tikarnya dan mengambil dagangannya menggunakan ciduk yang terbuat dari labu kering yang dikosongkan isinya. Banyak orang yang menghindarinya. Namun, ibu saya bersikukuh untuk berbelanja dari wanita itu. Saya hanya melihat wanita itu pada hari pasar dibuka. Pada hari-hari lain, ia menghilang dengan pergi keluar kota. 

Pada zaman Israel kuno, penyakit seperti kusta membuat para penderitanya harus hidup “di luar perkemahan”. Mereka hidup dalam pengucilan. Hukum Taurat menyatakan bahwa penderita kusta “harus tinggal terasing” (Im. 13:46). Selain itu, bangkai hewan korban persembahan juga dibakar di luar perkemahan (4:12). Jelas, daerah di luar perkemahan bukanlah tempat yang layak untuk didiami. 

Kenyataan pahit ini menjadi sarat dengan makna ketika kita membaca pernyataan tentang Yesus di Ibrani 13: ”Karena itu marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menanggung kehinaan-Nya” (ay.13). Fakta Yesus disalibkan di luar pintu gerbang kota Yerusalem menjadi poin penting ketika kita mempelajari sistem korban persembahan yang diterapkan orang Ibrani.

Kita ingin dikenal, dihormati, dan hidup dengan nyaman. Namun, Allah memanggil kita untuk pergi “ke luar perkemahan”—ke suatu tempat yang hina. Di sanalah kita akan menemukan si pedagang yang menderita kusta. Di sanalah kita akan menemukan orang-orang yang telah ditolak dunia. Di sanalah kita akan menemukan Yesus.  —Tim Gustafson

WAWASAN
Surat kepada orang Ibrani di Perjanjian Baru ditujukan kepada Diaspora, yaitu orang-orang Yahudi pengikut Kristus yang terserak karena penganiayaan. Karakteristik penerimanya mungkin menjelaskan penekanan yang kuat soal sejarah Israel dan sistem pengorbanan dalam Yudaisme, yang menjadi acuan bagi karya Yesus di masa kemudian. Isi suratnya jelas berpusat kepada Kristus, dengan meninggikan Yesus jauh di atas malaikat, imam, dan Musa, serta menegaskan karya pengorbanan Kristus yang menebus jauh mengungguli sistem pengorbanan yang dilakukan di bait Allah Israel. Surat Ibrani juga penuh misteri, terutama karena surat ini anonim. Penulis Ibrani telah lama menjadi bahan penelitian ilmiah maupun religius, dengan perdebatan panjang untuk menentukan identitas penulisnya. Yang dianggap mungkin menjadi penulisnya antara lain adalah Paulus, Apolos, Barnabas, Lukas, Priskila, dan masih banyak lagi. —Bill Crowder

Apa respons kamu saat pertama kali bertemu orang asing dan orang yang tidak diterima oleh umum? Bagi kamu, apa bentuk nyata dari tindakan “pergi kepada Yesus di luar perkemahan”?

Terima kasih, Tuhan Yesus, karena Engkau tidak pernah membeda-bedakan siapa saja. Terima kasih karena Engkau rela menderita di luar perkemahan demi diriku. 

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 19–21; 2 Korintus 7

Naskah yang Hidup

Senin, 13 September 2021

Naskah yang Hidup

Baca: Mazmur 1

1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

1:2 tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

1:3 Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

1:4 Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

1:5 Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;

1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Berbahagialah orang . . . yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. —Mazmur 1:1-2

Naskah yang Hidup

Untuk mengenang hasil karya sang kakek, Peter Croft menulis, “Kerinduan terdalam saya bagi siapa pun yang membuka Alkitab miliknya, versi apa pun yang mereka baca, adalah agar mereka tidak saja memahami, tetapi mengalami Kitab Suci sebagai naskah yang hidup, yang sama relevannya, sama berpengaruhnya, dan sama menakjubkannya seperti ketika dibaca ribuan tahun lalu.” Kakek Peter adalah J. B. Phillips, seorang gembala kaum muda yang melakukan parafrasa terhadap Alkitab ke dalam Bahasa Inggris sehari-hari pada masa Perang Dunia II supaya isinya lebih mudah dipahami oleh murid-murid di gerejanya. 

Seperti murid-murid Phillips, terkadang kita juga menghadapi tantangan dalam membaca dan mengalami Kitab Suci, dan penyebabnya tidak melulu karena terjemahannya. Mungkin saja kita kurang memberi waktu, kurang disiplin, atau kurang memiliki sarana yang tepat untuk memahami isinya. Namun, Mazmur 1 menyatakan, “Berbahagialah orang . . . yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan” (ay.1-2). Merenungkan Kitab Suci setiap hari memampukan kita untuk “berhasil” dalam setiap musim kehidupan, apa pun masalah yang sedang kita hadapi.

Bagaimana kamu memandang Alkitab? Hikmat yang disajikannya masih relevan bagi kehidupan masa kini, masih berpengaruh dalam seruannya kepada semua orang untuk mempercayai dan mengikut Yesus Kristus, dan masih menakjubkan dalam penyampaiannya tentang diri Allah dan umat manusia. Bagaikan aliran air (ay.3), Alkitab memberi asupan yang kita butuhkan setiap hari. Hari ini, mari upayakan—sediakanlah waktu, gunakanlah sarana yang tepat, dan mintalah kepada Allah agar Dia menolong kamu mengalami Kitab Suci sebagai naskah yang hidup. —Karen Pimpo

WAWASAN
Dalam Mazmur 1, jalan orang benar dan jalan orang fasik digambarkan sangat bertolak belakang. Pemazmur menyoroti jalan orang fasik yang berkembang dari berjalan, berdiri, lalu duduk (ay.1). Sejumlah ahli percaya hal itu menggambarkan meningkatnya kedekatan dengan orang-orang yang berbuat dosa. Makin berkembang kedekatannya, makin buruk pula kejahatannya: orang fasik, orang berdosa, dan kumpulan pencemooh. Pencemooh ini tidak hanya melakukan yang tidak benar, tetapi juga mencemooh yang tidak bersalah. Sebaliknya, orang benar menyukai Taurat Tuhan, dan mereka disebut “berbahagia”. Mereka begitu menyukai hikmat Allah, hingga hal itu memenuhi pikiran mereka sepanjang hari, mengingatkan kita akan perintah kepada Yosua untuk merenungkannya “siang dan malam” (Yosua 1:8). Dengan gaya bahasa metafora, sang pemazmur menggambarkan siapa yang berbahagia. Orang yang berbahagia itu seperti pohon yang tumbuh kuat dan menghasilkan buah yang baik dan sehat: “apa saja yang diperbuatnya berhasil” (Mazmur 1:3). —J.R. Hudberg

Hambatan atau tantangan apa saja yang kamu hadapi saat membaca Alkitab? Bagaimana kamu dapat menyiapkan diri untuk mendengarkan suara-Nya? 

Ya Allah, tolonglah aku mengalami Kitab Suci sebagai naskah yang hidup hari ini. 

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 16–18; 2 Korintus 6

4 Pertanyaan Penting Sebelum Memulai Hubungan yang Serius

Oleh Sarah Tso
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 4 Questions To Ask Yourself Before Embarking On A Relationship

Pernikahan adalah sesuatu yang aku inginkan sedari kecil, semenjak aku melihat dan mempelajari dari kedua orang tuaku tentang apa rasanya berada dalam pernikahan. Cinta dan komitmen mereka, begitu pula stabilitas dari pernikahan yang berpusat pada Tuhan yang mereka bawa ke dalam rumah tangga—kemampuan mengasihi, menerima, dan tidak mementingkan diri sendiri—merupakan hal-hal yang aku kagumi. Memang, tidak ada keluarga atau pernikahan yang sempurna, tetapi usaha untuk mengasihi dan melayani satu sama lain bersama Tuhan telah memungkinkan adanya pengampunan dan rekonsiliasi.

Harus kuakui bahwa tahun-tahunku melajang (bukan karena pilihan) nyatanya cukup sulit aku jalani. Dari masa remaja hingga dewasa muda, aku yakin kalau ada sesuatu yang ‘salah’ denganku sehingga aku tidak dateable. Aku sempat berpikir mungkin itu karena diriku yang terlalu atletis, terlalu intelek, atau bahkan terlalu serius dengan imanku.

Syukurnya, aku bukan seorang ahli dalam pernikahan—tetapi Tuhan-lah ahlinya. Lagi pula, pernikahan kan ide-Nya. Aku bersyukur atas semua saran dan dukungan doa dari mentor dan teman-teman rohaniku—untuk tidak puas dengan kualitas yang belum ideal, untuk jadi lebih spesifik dalam mendoakan seorang pasangan, untuk terus mengingat bahwa Tuhan mengasihiku dan mengetahui hasratku untuk menikah, dan untuk percaya pada waktu dan ketentuan Tuhan.

Dalam waktuku melajang, ada banyak hal yang aku tanyakan mengenai diriku. Kini ketika aku sudah memasuki hubungan romantis untuk pertama kalinya, aku bersyukur telah menunggu dan meluangkan waktu untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini.

1. Apa tujuanku dalam menjalin hubungan?

Awalnya aku menginginkan hubungan romantis dan pernikahan untuk merasa “normal” di kalangan teman sebayaku, sekaligus supaya aku mendapat perhatian dan kasih sayang yang istimewa. Namun pada akhirnya aku sadar bahwa tujuan tersebut sangatlah remeh di mata Tuhan.

Dalam sebuah serial khotbah tentang pernikahan, Timothy Keller mengatakan bahwa tujuan utama dari pernikahan duniawi adalah untuk membawa pemurnian rohani—sehingga pasangan suami istri dapat membantu satu sama lain untuk jadi semakin serupa dengan Kristus, sampai hari mereka masuk ke surga tiba.

Dengan pertolongan dari pernyataan itu—dan beberapa rekomendasi buku, khotbah, dan podcast tentang kencan dan pernikahan—aku pun mulai mendefinisikan ulang tujuan pribadiku dalam menjalin hubungan:

  • Untuk mengasihi dan melayani Tuhan lebih sungguh bersama-sama—walaupun aku sedang melayani Tuhan sekarang, hal itu harus diperkuat seiring aku dan calon suamiku bekerja berdampingan untuk Kerajaan Allah.
  • Untuk mengenali sisi lain dari Yesus. Aku telah mengenal Yesus sebagai Teman dan Tuhan sebagai Bapa. Sebagian diriku ingin mengenal-Nya sebagai Mempelai, sehingga pernikahan duniawi-ku dapat menjadi bayangan atas persatuan Kristus dan Pengantin-Nya, Gereja.

Akankah pernikahan duniawiku mendekatkan atau menjauhkanku dari tujuan Tuhan untuk hidupku (dan hidup pasanganku) dalam terang Kerajaan-Nya? Semua yang tidak mengarah pada tujuan Tuhan rasanya bukanlah yang terbaik bagi pernikahan.

2. Maukah aku mengencani diriku sendiri?

Seiring aku berdoa kepada Tuhan untuk calon pasangan hidupku, aku menemukan bahwa beberapa ciri dalam ‘daftar’ kriteriaku ternyata tetap konsisten selama bertahun-tahun, dalam hal:

  • Iman: memiliki hubungan personal yang aktif dengan Tuhan, mengetahui tujuan hidupnya, dan mampu menjadi pemimpin rohani untuk keluarga.
  • Sosial: Lucu, pendengar yang baik, bisa mengobrol dalam percakapan, jujur dalam kesaksian, menghormati dan peduli pada keluarganya.
  • Kesehatan emosi: Mau diajar dan memiliki kepercayaan diri.
  • Kesehatan intelektual: Memiliki mindset untuk bertumbuh.
  • Tekun dalam merawat kesehatan fisik dan penampilan.

Suatu hari, ketika sedang mendoakan daftar ini dalam waktu teduh, aku merasa Tuhan mencelikkan hatiku dengan bertanya, “Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga sudah sesuai dengan kriteriamu sendiri?” Pertanyaan ini menohokku. Akupun mulai memakai daftar kriteria tadi sebagai cermin untuk diriku sendiri—”Apakah aku punya hubungan yang aktif dengan Tuhan? Apakah aku menghormati dan peduli pada keluargaku? Apakah aku mau diajar dan jujur dalam kesaksianku?”

Sampai saat itu, aku pikir bahwa hidup baru akan dimulai ketika aku mulai berkencan dan berjalan mengarah pada pernikahan. Tapi, siapa yang ingin menjalin hubungan denganku kalau aku masih menunggu orang lain untuk ‘mengawali’ hidupku?

Dan jika calon suamiku memiliki kualitas-kualitas ini, bukankah ia juga seharusnya mencari kualitas yang sama dalam calon istrinya?

Pada hari itu aku berdoa, “Tuhan, aku nggak mau lagi pakai standar ganda. Engkau yang telah memberiku hasrat untuk kualitas-kualitas tertentu pada calon pasangan hidupku. Tolong bentuk aku untuk menjadi wanita dengan kualitas seperti yang Kau inginkan aku miliki. Kiranya Engkau tidak membiarkanku mengharapkan orang lain apa yang tidak aku harapkan pada diriku sendiri.”

3. Apakah aku punya ruang untuk hubungan yang serius di dalam hidupku saat ini?

Untuk mengukurnya, aku merenungkan hal ini: jika aku akan menikah dalam waktu dekat, apakah aku akan siap—secara praktis, emosional, spiritual, dan finansial—dalam segala hal yang diperlukan untuk pernikahan?

Itu adalah pertanyaan yang menakutkan, tetapi aku tahu kalau memiliki seseorang signifikan dalam hidupku (dan sebaliknya) akan membutuhkan kerjasama dan kompromi. Berikut adalah hal yang aku harus pikirkan:

  • Secara spiritual, apakah aku semakin konsisten dalam waktu teduhku bersama Tuhan, dan dalam membiarkan-Nya menghancurkan pola pikiran dan kebiasaan burukku? Apakah aku sudah berakar dalam komunitas rohani yang kuat untuk bertanggung jawab membangun imanku?
  • Secara praktik, apakah jadwal dan kesibukan yang aku miliki memungkinkanku untuk menghabiskan waktu bersama calon suamiku secara rutin?
  • Secara sosial dan emosional, apakah aku sudah mempunyai keterbukaan dan kedewasaan untuk menceritakan tentang diriku secara jujur? Apakah aku sudah siap untuk mendengar tentang hidup orang lain secara rutin—tentang sukacita dan pergumulannya?
  • Secara finansial, apakah aku sudah siap untuk menanggung biaya acara pernikahan dan rumah? Apakah aku sudah siap untuk membicarakan tentang bagaimana mengatur keuangan bersama?
  • Dalam hal kesehatan, apakah aku sudah puas dengan cara makan, olahraga, dan waktu tidurku?

Melihat ke belakang, aku bersyukur atas waktu Tuhan yang sempurna karena Ia telah membentuk hatiku—menghancurkan tembok, keterikatanku pada dosa, dan kebiasaanku mengeluh, yang bisa saja membahayakan relasiku jika saja aku mulai berkencan lebih awal.

4. Apakah aku mengidolakan romansa dan pernikahan?

Pada masa aku kuliah, dalam sebuah acara persekutuan, seorang pengkhotbah membagikan kepada kami tentang perjalanannya menuju pernikahan. Ia mengatakan bahwa sangat memungkinkan kalau ia kehilangan istrinya (yang pada saat itu sedang hamil anak pertama) dalam sebuah kecelakaan kapan saja.

Jika hal itu itu terjadi, ia bertanya-tanya apakah ia akan marah kepada Tuhan dan berhenti percaya kepada-Nya. Ia kemudian sadar bahwa istrinya dan anak dalam kandungannya adalah pertama-tama milik Tuhan, dan Tuhan sebenarnya tidak berutang kepada mereka untuk memberikan ‘hidup bahagia selamanya’ yang mungkin selama ini kita harapkan.

Ini mengingatkanku pada ayat, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21b). Aku terdorong oleh pesan dari pengkhotbah tadi, dan aku jadi berpikir, bisakah aku berpandangan seperti itu bersama pacarku sekarang?

Kurang dari sebulan setelah artikelku tentang menerima berkat dari masa-masa lajang diterbitkan, pacarku yang sekarang datang di hidupku. Kini sudah hampir setahun setelah kami menjalin hubungan, dan aku mengucap syukur kepada Tuhan setiap hari karena kehadirannya dan bagaimana Tuhan telah memakai dia dalam mendalami imanku, menajamkan keahlian hidupku, dan menumbuhkan mimpi-mimpi kreatif kami.

Namun, terkadang aku masih merasa kurang utuh ketika aku melihat teman-teman sebayaku menikah dan seakan “move on” dalam kehidupan mereka, sementara aku masih di sini-sini saja. Tetapi aku kemudian sadar bahwa aku sedang menggantungkan semua pengharapan dan impianku pada sesama manusia berdosa, seakan mengharapkan dia untuk “menyelamatkan” diriku dari kehidupan yang “kurang”, sekaligus membuatku merasa utuh.

Tuhan tahu betul bagaimana aku sudah menunggu lama dan menjaga diriku tetap murni. Tetapi, jika pacarku meninggalkanku, apakah aku akan menyalahkan Tuhan? Padahal Tuhan tidak berutang untuk memberiku seorang pacar atau suami. Tuhan pun tidak berutang agar Ia menebus kita. Semua itu dilakukan-Nya hanya karena kasih karunia-Nya. Jika Tuhan memandang baik untuk aku menikah, maka jadilah kehendak-Nya. Jika Tuhan memandang baik untuk aku melajang, maka jadilah kehendak-Nya. Tuhan tahu yang terbaik dan jalan-jalan-Nya lebih hebat dan lebih tinggi dari jalanku.

Menjalin hubungan romantis memang bisa mengasyikkan sekaligus menegangkan. Setiap hari aku pun belajar apa artinya mengasihi dan dikasihi oleh pacarku. Pada saat yang sama, aku yakin kalau selama kita menetapkan fokus kita kepada Tuhan dan tetap tertanam dalam suatu komunitas rohani, sebuah hubungan romantis yang menuju pernikahan dapat menjadi relasi yang tetap memuliakan Tuhan dan membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Baca Juga:

5 Hal untuk Direnungkan Ketika Iri dengan Privilese Orang Lain

Pada masa-masa aku mulai menyerah karena merasakan privilese terbatas, ada beberapa hal terkait privilese yang kurenungkan dan mulai kutemukan jawabannya ketika aku membaca Alkitab.

Podcast KaMu Episode-2: Lepas dari Jerat Dosa Seksual

Dosa seksual itu seperti jerat yang terus menarik kita untuk terbenam semakin dalam. Semakin kita berusaha lepas, semakin kuat pula godaannya. Atau, ketika kita telah terjebak terlalu dalam, mungkin kita pun merasa begitu kotor dan tak layak untuk dimaafkan Tuhan.

Apabila kamu sedang bergumul dengan dosa ini, yuk temukan inspirasi dari firman Tuhan yang akan menolongmu untuk hidup kudus bagi-Nya.

5 Hal untuk Direnungkan Ketika Iri dengan Privilese Orang Lain

Oleh Elvira Sihotang, Balikpapan

Beberapa dari kita mungkin pernah membuka fitur “explore” Instagram dan menemukan wajah Maudy Ayunda di sana. Semua media rasanya tidak henti-henti mendaraskan pujian dan kalimat positif pada Maudy. Aku bahkan ingat percakapan dengan temanku di telepon:

“Astaga si Maudy. Dia udah lulus S2 aja, gelarnya udah nambah 2, gue masih di sini-sini aja.”

Kalimat itu berhasil membuat kami tertawa. Aku tahu walaupun masih ada sedikit keseriusan dalam diri temanku ketika mengucap kalimat itu, kalimat itu lebih banyak berisi candaan bercampur kesan “yaudahlah” bagi kami. Kami sepakat bahwa aku dan temanku berada pada lingkungan yang berbeda dengan Maudy.

Jika kita mencari tahu soal Maudy Ayunda, rasanya agak sulit untuk tidak terkonsumsi rasa iri dan overwhelming. Apa yang kurang? Maudy diberkati dengan banyak privilese. Keluarganya mampu secara finansial, memiliki ayah, ibu, dan adik yang suportif, networking yang oke, mengenyam pendidikan di institusi bergengsi sejak kecil, punya kecerdasan yang baik, mampu menunjukkan eksistensi di dunia hiburan, dan satu lagi: good looking.

Menelusuri segala hal tentang Maudy Ayunda memunculkan ragam emosi. Ada yang termotivasi dan ada yang kagum. Namun, ada juga yang merasa tidak berdaya dan merasa “kecil”—ingin seperti Maudy, tapi rasanya aku tidak ada apa-apanya. Bagaimana mungkin kuliah di Oxford?

Kita semua mungkin tidak terlahir dengan privilese seperti yang didapatkan oleh para selebriti. Ketika aku kuliah Psikologi, dosenku pernah menyoroti berbagai penelitian yang mengatakan walau impian untuk “mengubah nasib keluarga” dan “meningkatkan perekonomian” terdengar sangat manis dan keren, hasil observasi di berbagai negara menunjukkan bahwa peningkatan yang terjadi dari kondisi ekonomi sekarang dengan di masa depan hanya sedikit. Banyak juga yang menunjukkan rata-rata sama. Arti singkatnya adalah: Kalau sekarang kamu berada pada keluarga menengah, paling-paling kamu juga masih berada pada keluarga menengah di masa depan atau paling tidak dengan segala usahamu, kamu mampu berada pada menengah ke atas. Jadi, untuk mencapai keluarga kalangan sangat atas adalah ketidakmungkinan ya?

Tentu tidak, kita berbicara kemungkinan. Dari seluruh partisipan penelitian, mereka yang berhasil untuk sampai pada tingkat atas sekali jika sebelumnya berasal dari keluarga menengah atau bahkan menengah kebawah jumlahnya sedikit. Minoritas. Aku tidak mencoba untuk menurunkan atau bahkan memberikan motivasi padamu, namun pada masa-masa aku mulai menyerah karena merasakan privilese terbatas, ada beberapa hal terkait privilese yang kurenungkan dan mulai kutemukan jawabannya ketika aku membaca Alkitab.

1. Tuhan tidak memberikan talenta yang sama pada setiap orang

Pernahkah kamu melihat seseorang yang tampaknya unggul di semua bidang dan kamu melihat dirimu yang hanya terampil di 1 bidang? Pertanyaan yang wajar sekali. Mudah bagi kita untuk bertanya kenapa aku tidak sejago A, kenapa aku tak sekreatif B, dan lain-lain. Walaupun ini pertanyaan yang wajar, Tuhan mengajak kita untuk menemukan alasannya dalam Matius 25:14-30. Nas ini bercerita tentang pembagian talenta. Seorang mendapatkan 5, seorang mendapatkan 2, dan seorang lainnya mendapatkan 1. Terdapat satu pasal yang mengatakan bahwa pembagian tersebut adalah menurut kesanggupan orang yang akan menerima. Tapi aku tidak akan berfokus banyak ke hal tersebut, melainkan hal yang satu ini: Tuan dalam cerita itu tidak peduli akan jumlah talenta hambanya. Ia tidak lebih sayang pada hamba dengan 5 talenta daripada hamba 2 talenta. Sikapnya netral saja di awal. Ia lebih memperhatikan bagaimana usaha hamba tersebut dalam menjalankan talenta yang diberikan. Hamba dengan 5 dan 2 talenta kembali dengan beroleh laba yang sebanding, sementara hamba yang memiliki 1 talenta malah menyembunyikan talentanya dalam lubang tanah. Sesedikit apapun talenta yang kau rasakan Tuhan berikan padamu, tak apa. Tuhan tetap menghargaimu. Jauh lebih penting untuk meminta hikmat Tuhan agar mampu mengembangkannya dengan baik. Tidak sulit bagi Tuhan jika Ia mau menambah talenta yang lain kepadamu ketika Ia melihat engkau mampu mengembangkan talenta yang sudah ada dengan baik.

2. Tuhan tidak menuntut kita untuk hidup di rumah tingkat tiga dan memiliki saham berlembar-lembar

Aku pernah secara langsung mengetik “Apakah Tuhan memintaku untuk menjadi kaya” pada Google saking merasa bingung. Sayang, tidak ada jawaban pasti. Tuhan tidak menentang keinginanmu menjadi kaya, tapi pertanyaannya untuk apa?

Kita semua setuju bahwa berkat yang berlimpah bisa membuat kita beribadah dengan maksimal. Namun, yang aku tahu adalah kita bukan milik kita sendiri dan kita tidak hidup untuk diri kita sendiri. Contoh nyatanya adalah Tuhan Yesus sendiri. Ia datang ke bumi bukan untuk merasakan kenikmatan duniawi. Ia rela datang dari singgasana-Nya yang nyaman untuk menyelamatkan kita manusia, yang terlampau sering menyakiti hati Tuhan. Kalau Tuhan datang pada zaman kita, Ia tidak datang untuk mencari tahu sensasi bermain golf, menikmati makan di restoran bintang lima dan lain-lain. Pun kutemukan dalam Alkitab, sebagai seorang Anak Allah, Ia tidak bergaul dengan kaum bangsawan saat ada di dunia. Ia seringkali datang menghampiri orang berdosa, menyapa orang sakit, dan berkunjung ke rumah orang yang dianggap hina.

Poinnya adalah Ia meninggalkan diri-Nya yang berada dalam kelimpahan di samping Bapa, semata-mata untuk memenuhi tujuan Bapa bagi kita: menyelamatkan kita. Ia pun tidak mengagungkan statusnya sebagai Anak Allah. Sebagai puncaknya, Ia mati di kayu salib untuk membayar lunas dosa-dosa kita sehingga kita bisa menikmati hubungan baru dengan Allah. Ia merendah dalam kekayaannya, memberikan kita teladan bahwa yang menyenangkan Tuhan bukanlah tentang seberapa kaya dan seberapa berhasil kita mengumpulkan prestasi, pencapaian, gebrakan, dsb, namun seberapa kita mau menggunakan apa saja yang kita punya untuk menjalani hidup yang berkenan kepada-Nya.

3. Tuhan tidak ingin kita menjadi biasa-biasa saja

Dalam segala sesuatu yang kita lakukan, lakukanlah itu seperti kita melakukannya untuk Tuhan. Walau misalnya kita hanya punya 1 talenta, bukan berarti kita berpikir “Ah, gausah terima tugas yang ini deh, aku kan cuma jago di bidang A, kalau disini tidak jago”.

Jika ada kesempatan datang menghampiri dan hal itu dapat memberikan kita kesempatan untuk bertumbuh, cobalah untuk menjalaninya. Ketika kita menjalaninya pun, usahakanlah yang terbaik. Walau hasil akhir penting, Tuhan pun menghargai segala usaha yang kita buat untuk menjadikan pekerjaan itu baik di mata Tuhan.

4. Kita bisa mengusahakan privilese

Privilese bagi kebanyakan orang mungkin berkisar pada kemampuan finansial, daerah tempat tinggal, dan hal materiil lainnya. Hal-hal tersebut memang menguntungkan. Namun,sebelum terlalu terpaku pada urusan finansial, masih banyak hal-hal penting yang bisa dipersiapkan, terutama kesiapan mental calon orang tua. Kesiapan mental yang baik meliputi cara pengasuhan yang tepat di setiap usia anak, kemampuan mengelola emosi, dan cara penyelesaian masalah ketika keluarga mengalami masalah. Hal ini nantinya dapat berdampak pada kepribadian anak dan juga membentuk pandangannya akan keluarga, lingkungan lainnya, dan bahkan iman.

Pernah suatu ketika aku diceritakan oleh seorang pendeta. Beliau berkata bahwa dalam pengamatannya selama bertahun-tahun melayani, ada keluarga-keluarga yang mengasuh anak dengan cara otoriter, yang nantinya akan cenderung menghasilkan anak yang memandang bahwa Tuhan adalah Tuhan yang selalu penuh perhitungan pada manusia. Contohnya seperti memandang jika setiap kesusahan yang dihadapi adalah hukuman dari Tuhan untuk membuat kita menderita. Hal ini tidak benar. Ibrani 12: 1-13 mengatakan bahwa walau kita mendapat ganjaran dari perbuatan kita, sesungguhnya ganjaran itu atas dasar kasih Tuhan agar kita mau merubah perilaku sesuai dengan yang berkenan pada Tuhan.

Jika kamu sedang berupaya meningkatkan pendapatan, selain tidak lupa membekali diri dengan pengelolaan finansial, jangan lupakan langkah untuk mengasah “pengendalian diri”, sehingga jika suatu saat usahamu terus membuahkan hasil dan semakin sukses, kamu tidak dibutakan dan jatuh dalam kerakusan. Seimbangkan privilese dunia yang kamu usahakan dengan tetap mengejar buah-buah roh terbentuk dalam dirimu. Kalau lupa buah-buah roh ada apa saja, langsung buka Galatia 5:22-26 ya!

5. Tuhan juga memakai orang yang biasa-biasa saja dan mereka yang kerap dipertanyakan

Ditarik lebih jauh, Yesus memiliki nenek moyang bernama Rahab, seorang perempuan yang diceritakan Alkitab sebagai perempuan sundal. Bangsa Israel keluar dari Mesir dengan tuntunan Musa, seseorang yang tidak pandai berbicara. Tuhan mengabulkan doa Sarah, seorang yang dianggap sudah mandul dan secara ilmu pengetahuan punya kemungkinan sangat kecil untuk mengandung. Tuhan memakai Daud, seorang gembala domba bertubuh kecil tanpa peralatan senjata lengkap. Siapakah ia dibandingkan Goliat? Apakah Tuhan memandang mereka sebelah mata seperti orang-orang disekitar Maria, Sara, dan Daud? Tidak, Tuhan memperhatikan mereka baik-baik, secara utuh dan dekat. Namun terkadang kita bertanya mengapa Tuhan tidak kasihan dan mengubah keadaan kita? Aku menemukan jawabannya. Tuhan sesungguhnya ingin yang terbaik pada kita, namun Tuhan pun menginginkan hubungan dua arah yang seimbang. Tuhan juga mau kita datang mengungkapkan apa yang kau rasakan. Tuhan mau Engkau meminta tolong pada-Nya, dan ketika Engkau meminta Tuhan mengubahkan, mungkin sudah saatnya pun engkau berubah. Tuhan memilih mereka yang mau hidup benar dan taat kepada-Nya.Tuhan memilih mereka yang rela diubahkan menurut cara Tuhan.

Di tengah maraknya informasi tentang privilese yang tersebar di media sosial, kadang kekalutan datang menghampiri: 100 juta pertama, apartemen di wilayah terkenal, biaya pertemanan, dan publik figur yang kerap melihatkan saldo rekening. Dalam kekalutan itu, ingatlah bahwa kita memiliki Alkitab sebagai panduan hidup. Di dalamnya sudah tertera bagaimana Tuhan memberikan contoh untuk kita harus hidup.

Privilese duniawi memang nyata, namun kita punya Tuhan yang berkuasa atas isi dunia ini. Menutup artikel ini, izinkan aku mengajakmu membaca dan merenungkan secara pribadi ayat alkitab dalam Matius 7:7-11, Ibrani 13:5, Matius 19:26, dan Matius 6:33.

Semoga kita semua bisa mengejar hal-hal yang menyukakan hati Tuhan!

Baca Juga:

3 Alasan Mengapa Orang Kristen Harus Terlibat Memperjuangkan Keadilan Sosial

“Gak bisa lah mengusahakan keadilan di dunia ini.”

Setujukah kamu dengan pernyataan itu?

Yuk jelajahi topik menarik ini lewat artikel yang ditulis oleh Lidya Corry.