Mengapa Kita Resah dengan Razia Barang Impor, SNI, dan Pajak?

Penulis: Handoyo Lim

mengapa-resah-dengan-razia

Kondisi keuangan dan dunia usaha di Indonesia belakangan ini banyak menghadapi perubahan, tekanan dan ketidakpastian. Faktor eksternal yang berkaitan dengan mata uang, regulasi pemerintah, dan penegakan aturan hukum menimbulkan reaksi yang berbeda dari setiap kalangan usaha. Ada yang senang, ada yang tidak senang, ada yang pro, ada yang kontra.

Beberapa isu yang banyak menarik perhatian adalah tentang razia perizinan barang impor, legalitas produk (mendapat sertifikasi SNI atau tidak), dan pengetatan aturan perpajakan. Reaksi yang timbul dari para pengusaha menurut pengamatanku, lebih besar dibandingkan faktor-faktor eksternal lainnya. Yang jelas terlihat misalnya kegelisahan para pemilik toko yang kemudian menutup tempat usaha mereka karena khawatir kena razia, juga ungkapan kekhawatiran sejumlah pengusaha tentang kondisi produk impor melalui jalur tertentu yang entah kapan akan tiba.

Beragam pertanyaan mengusik benakku sebagai seorang muda Kristen yang berprofesi sebagai pengusaha. Bagaimana bila isu pemeriksaan dan pengetatan pajak tersebut sengaja dilakukan pemerintah untuk menguji mental dan integritas pasar? Bila yang muncul adalah keresahan yang berlebihan, apakah ini menunjukkan bahwa selama ini banyak usaha kita jalankan dengan cara yang “belum tentu benar”? Atau, bisa jadi usaha-usaha kita dijalankan dengan cara yang “belum tentu salah” juga, tetapi kita tidak terlalu peduli mencari tahu “yang benar”, dan ketika aturan mulai ditegakkan, kita pun mulai paranoid sendiri sebagai para pelaku usaha.

Mungkin kita adalah orang-orang Kristen yang dikenal rajin melayani, rajin memberi persembahan, suka berbuat baik dan menolong orang yang membutuhkan. Namun, begitu bersentuhan dengan urusan uang dan bisnis, sepertinya kita hidup dalam alam yang berbeda. Tiba-tiba saja kita memikirkan segala cara untuk membelokkan aturan demi mengurangi kewajiban kita kepada negara dan mengembangkan kekayaan kita. Ironisnya, kita bisa menggunakan alasan yang terdengar sangat rohani untuk membenarkan diri: kita ingin menggunakan kekayaan itu untuk melayani dan melakukan pekerjaan Tuhan.

Namun, sesungguhnya Tuhan tidak perlu uang kita! Dia adalah Allah, Pemilik segala yang ada. Dia amat sangat kaya! Yang menyenangkan hati Tuhan bukanlah besarnya persembahan kita, tetapi ketaatan kita pada apa yang dikatakan-Nya. Menyadari kebenaran ini, pemazmur berkata, “Engkau [Tuhan] tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku … aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku” (Mazmur 40:7-9).

Masalahnya, bukankah hati kita seringkali lebih menyukai uang daripada kehendak Allah? Tak heran, Yesus memberi peringatan keras kepada para pengikut-Nya, “Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Lukas 16:13). Saingan Tuhan di hati kita bukanlah iblis, tetapi uang!

Dalam Lukas 16, ada catatan menarik ketika Yesus mengajar para pengikut-Nya agar bisa dipercaya dalam hal uang.

Orang-orang Farisi mendengar semua yang dikatakan oleh Yesus. Lalu mereka menertawakan-Nya, sebab mereka suka uang. Tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Kalianlah orang yang di hadapan orang lain kelihatan benar, tetapi Allah tahu isi hatimu. Sebab apa yang dianggap tinggi oleh manusia, dipandang rendah oleh Allah (Lukas 16:14-15, terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari)

Tuhan tahu isi hati setiap kita. Ketika hati kita tertuju pada Tuhan, kita akan rindu menyenangkan-Nya dengan melakukan apa kata firman-Nya, termasuk bila itu berarti kita harus memperbaiki cara bisnis kita dan memberikan kepada negara apa yang memang seharusnya menjadi milik negara. Sebaliknya, ketika hati kita tertuju pada uang, kita akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, termasuk bila itu berarti kita harus melanggar firman Tuhan.

Kupikir kita tidak perlu menunggu situasi yang ideal untuk mulai melatih diri hidup dalam kebenaran. Kita bisa memulainya hari ini juga. Aku sendiri menyadari banyak hal yang harus aku evaluasi dan perbaiki dalam hidupku. Mari kita sama-sama belajar hidup dalam integritas. Jalan yang tidak mudah dan mungkin kelihatan bodoh bagi sebagian orang, namun akan membebaskan kita dari berbagai keresahan yang tidak perlu. Dengan anugerah Tuhan, kita pasti dapat melakukannya dan menjadi terang bagi komunitas di mana Tuhan menempatkan kita.

5 Hal yang Perlu Diwaspadai dalam Meraih Sukses

Penulis: Henry Jaya Teddy

5-hal-yg-harus-diwaspadai-dalam-meraih-sukses

Siapa yang tidak ingin sukses? Kita semua tentu ingin. Pertanyaannya, kesuksesan seperti apa yang ingin kita raih? Dan, apa saja yang telah dan sedang kita lakukan untuk memastikan kita dapat meraih sukses itu?

Aku pikir adakalanya kita terlalu cepat puas dengan sukses yang sementara. Ini dicerminkan oleh pilihan-pilihan yang kita ambil. Sepanjang pengalamanku sendiri, setidaknya ada lima sikap yang perlu kita waspadai:

1. Lebih mengejar penghargaan manusia daripada penghargaan Tuhan
Kapan kita bersemangat menunjukkan kinerja terbaik kita? Bila kita berusaha tampil baik hanya di depan orang-orang tertentu atau bersemangat hanya ketika diberi tanggung jawab atas perkara-perkara besar yang dilihat orang, kita perlu waspada. Mungkin kita tetap bisa meraih “sukses”, namun itu tidak akan bertahan lama.

Firman Tuhan dalam Kolose 3:23 memperingatkan kita: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Ketika kita menyadari bahwa Tuhan senantiasa memperhatikan pekerjaan kita, baik besar maupun kecil, tentunya kita akan lebih berhati-hati dan memberi usaha terbaik kita, baik saat dilihat orang atau tidak.

2. Lebih suka menjadi kaya daripada menjadi bijaksana
Hal apa yang pertama-tama kita harapkan dari sebuah pekerjaan? Bila kita hanya mengharapkan imbalan materi belaka, dan tidak lagi peduli apakah kita menjadi pribadi yang lebih baik karakternya, lebih terampil, lebih bijaksana, lebih dapat diandalkan. kita perlu waspada. Mungkin kita tetap bisa meraih “sukses”, namun itu tidak akan bertahan lama.

Dalam 1 Raja-Raja 3, Tuhan menunjukkan betapa Dia senang dengan pilihan Raja Salomo yang meminta hikmat untuk melakukan tugas memimpin umat Tuhan, dan bukannya sekadar umur panjang, kekayaan, atau kemenangan atas musuh. Tuhan tidak hanya memberikan hikmat dan pengertian, tetapi juga kekayaan dan kemuliaan kepada Salomo (1 Raja-Raja 3:11-12).

3. Lebih mengikuti standar kebanyakan orang daripada mengejar keserupaan dengan Kristus
Apa yang menjadi standar kita dalam melakukan sesuatu? Bila kita selalu mengacu pada apa yang dilakukan kebanyakan orang saja (ah, kan semua orang juga seperti itu…), kita perlu waspada. Suara mayoritas belum tentu selalu benar. Mungkin kita bisa meraih “sukses” dengan mengikuti cara kebanyakan orang, namun itu tidak akan bertahan lama.

Matius 5:48 mengingatkan kita pada panggilan Tuhan: “… haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Meski kita jelas masih jauh dari sempurna, kita dipanggil untuk bertumbuh terus-menerus menuju apa yang sempurna, menuju keserupaan dengan Kristus. Kita dipanggil untuk mengasihi seperti Kristus, untuk berkata tidak kepada dosa seperti Kristus, untuk rela berkorban dan setia sampai akhir seperti Kristus, dan seterusnya.

4. Lebih takut kepada manusia daripada kepada Tuhan
Situasi apa yang biasanya membuat kita gentar melakukan apa yang benar? Jika kita lebih suka berkompromi demi mengamankan dan menguntungkan diri sendiri, kita perlu waspada. Mungkin kita bisa meraih “sukses” dengan kompromi itu, namun itu tidak akan bertahan lama.

Matius 10:28 mengingatkan kita bahwa kita yang hidup dalam kebenaran tidak perlu takut terhadap orang-orang yang hendak mencelakakan kita, karena mereka hanya dapat menyentuh tubuh, bukan jiwa. Kita harus lebih takut kepada Tuhan yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh dalam neraka.

5. Lebih memilih kenyamanan daripada menghadapi tantangan
Situasi apa yang biasanya membuat kita menyerah dan berhenti berusaha? Jika kita maunya hanya hidup enak, tidak mau susah, selalu menjauhi tantangan, kita perlu waspada. Mungkin kita bisa meraih “sukses” di zona nyaman, namun itu tidak akan bertahan lama.

1 Korintus 10:13 mengingatkan kita bahwa Tuhan itu setia dan Dia tidak akan membiarkan anak-anak-Nya dicobai melampaui kekuatan manusia. Pada waktu tantangan datang, Dia akan memberi kita jalan keluar. Berpegang pada janji Tuhan, kita dapat dengan berani menghadapi masa-masa yang sulit dan penuh tantangan. Tuhan dapat memakai setiap kesulitan yang ada untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Mengapa Kita Haus dan Berjuang Keras Menggapai Kesuksesan?

Penulis: Lim Al, Singapore
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Why Do We Crave and Struggle to Achieve Success?

Why-Do-We-Crave-and-Struggle-to-Achieve-Success--(wo-text)

Belum lama ini, aku membaca curhat seorang pemuda yang dikenal punya banyak talenta. Ia menulis di halaman blog-nya: “Aku tidak suka pergi ke sekolah dan belajar di kelas karena pada dasarnya aku lahir dengan IQ yang rendah. Serajin apapun aku belajar, orang yang punya IQ lebih tinggi akan tetap menang.”

Aku yakin banyak di antara kita juga pernah merasakan pergumulan serupa. Sekeras apa pun kita berusaha, sebanyak apa pun talenta yang kita pikir kita miliki, sepertinya selalu ada orang yang lebih sukses dari kita. Sukses membuat sebagian orang selalu tampak buruk, tidak sebaik orang lain. Saat kita mulai mengukur kesuksesan, kita akan menempatkan orang dalam berbagai tingkatan yang berbeda.

Keinginan untuk sukses adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Aku yakin, setiap manusia haus akan kesuksesan karena kita ingin hidup kita ini bemakna, kita mendambakan kepuasan dan rasa aman. Sukses memastikan kehadiran kita memiliki nilai dalam masyarakat, dan hal itu tentunya akan memberi kita kepuasan. Kita juga merasa aman ketika tahu bahwa diri kita bernilai. Berapa banyak di antara kita yang tidak menginginkan semua itu?

Namun, mendambakan sukses tidak berarti kita bisa meraihnya. Setiap kita punya titik awal yang berbeda. Kemampuan intelektual, penampilan, dan talenta yang dimiliki tiap orang berbeda sejak lahir. Mereka yang lebih pintar, lebih cantik, lebih terampil, akan lebih dihargai dalam masyarakat. Mereka yang berasal dari keluarga berada biasanya punya koneksi dan peluang lebih untuk bisa berhasil. Tentu saja kita bisa menemukan kisah-kisah nyata tentang orang dari keluarga tidak mampu yang kemudian meraih kesuksesan, namun kisah-kisah semacam itu adalah perkecualian, bukan sesuatu yang umum terjadi. Sukses juga tidak mudah diraih karena apa yang didefinisikan orang sebagai sukses bisa berbeda-beda. Misalnya saja, di Singapura (tempat aku tinggal), sukses itu berarti punya prestasi akademik yang tinggi.

Bila sukses ternyata tidak mudah diraih, lalu bagaimana kita dapat mendapatkan hidup yang penuh makna, kepuasan, serta rasa aman? Banyak di antara kita mencarinya pada pribadi orang lain, harta benda, dan jabatan. Namun, benarkah ketika kita memiliki seseorang yang berarti, menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan besar, dan meraup penghasilan ratusan juta rupiah di usia 30 tahun, kita kemudian akan merasa aman, puas, dan hidup penuh arti?

Blaise Pascal, seorang ahli matematika dan fisika asal Perancis, banyak diingat orang karena pernyataannya yang sangat terkenal: “Ada sebuah ruang kosong di hati setiap manusia yang hanya bisa diisi dengan Allah.” Beliau mengamati bahwa kehausan dan ketidakberdayaan manusia menunjukkan bahwa “kebahagiaan sejati itu dulu pernah ada”. Manusia berusaha mengisi kekosongan itu dengan berbagai hal di sekitarnya, tetapi tidak ada yang berhasil. Mengapa? Karena “lubang di jiwa yang sangat dalam ini hanya dapat diisi dengan sesuatu yang tidak berbatas dan tidak berubah, yaitu pribadi Allah sendiri.” Orang-orang terkasih dalam hidup kita, harta benda, dan jabatan, adalah berkat Tuhan yang harus kita syukuri. Meski demikian, mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan jiwa kita yang terdalam. Hanya Allah, yang dapat memberi kita rasa aman, kepuasan, dan makna hidup sejati.

Jadi, cara pandang seperti apa yang harus dimiliki seorang Kristen tentang kesuksesan? Alkitab menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya kita memahami kesuksesan:

1. Sukses pada dasarnya merupakan berkat dari Tuhan. Rupa-rupa karunia yang kita miliki, sumber daya, dan kesempatan yang tersedia bagi kita, dikaruniakan oleh Tuhan. Semua itu diberikan untuk kita nikmati, namun kita tidak boleh lupa siapa yang merupakan sumber kesuksesan kita. Raja Babel, Nebukadnezar, mendapatkan pelajaran ini melalui sebuah peristiwa yang sangat tidak enak. Daniel 4:28-37 mencatat bagaimana sang raja direndahkan begitu rupa ketika ia mulai membanggakan diri sendiri. Kepadanya diberi peringatan: “Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!”

2. Sukses tidak menyelamatkan kita dari kematian. Yakobus 4:13-15 mengingatkan kita bahwa hidup kita ini “sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap”. Sukses itu sementara, suatu hari kelak kita tetap akan mati. Kebenaran ini menancap kuat di pikiranku ketika salah satu sahabat baikku tiba-tiba saja sulit bernapas dalam perjalanan liburannya, dan meninggal hanya dalam hitungan menit. Ia tidak punya riwayat penyakit dan bisa dibilang sangat sehat. Ia memiliki pernikahan yang bahagia, seorang anak laki-laki yang sangat baik, dan sebuah rumah baru yang indah. Ia adalah kepala dari sebuah organisasi besar, seorang anggota jemaat yang aktif melayani dan sangat dihormati.

3. Sukses tidak seharusnya membuat kita beralih perhatian dan tidak lagi mencari kerajaan Allah. Dalam Lukas 12:13-21, Yesus mengisahkan sebuah perumpamaan tentang seorang kaya yang mencurahkan perhatiannya untuk membangun lumbung-lumbung yang lebih besar untuk menyimpan hasil panennya—namun malam itu juga, jiwanya diambil dari padanya. Yesus kemudian mengajar para murid-Nya untuk mengumpulkan harta di sorga dan, “membuat … pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat” (Luk 12:33). Kiranya cinta akan uang dan kesuksesan tidak mengalihkan perhatian kita dari melakukan kehendak Allah dan Kerajaan-Nya.

Apakah kamu sudah memiliki dan menikmati kesuksesan sejati?

PustaKaMu: Jangan Sia-Siakan Hidupmu!

Oleh: Devina Stephanie

Dont-Waste-Your-Life

Judul: Don’t Waste Your Life
(Jangan Menyia-nyiakan Hidup Anda)
Penulis: John Piper
Tahun Terbit: 2003
Jumlah Halaman: 207 Halaman
Edisi Indonesia diterbitkan oleh: Pionir Jaya

 

Belum lama ini aku menemukan beberapa status yang cukup menggelitik hati di media sosial.

Temen-temen udah pada sibuk gendong anak, aku masih sibuk mikir mau travelling ke mana.”

Travelling itu sebuah tabungan masa depan. Jangan takut miskin dan uang habis. Justru kau nanti akan menyesal setelah tua karena belum pernah ke mana-mana.”

Meski menggelikan, bukankah berbagai media di sekeliling kita berusaha membentuk pemikiran kita ke arah tersebut? “Kejarlah travelling. Itulah tujuan hidupmu. Jika belum pernah travelling, kamu belum tahu apa artinya ‘lebih hidup’.” Seolah-olah hidup tanpa berkeliling melihat berbagai keindahan dunia itu adalah hidup yang sia-sia. Benarkah?

Aku sendiri tidak anti travelling. Kupikir Tuhan senang ketika kita menikmati keindahan ciptaan-Nya dan bersyukur kepada-Nya. Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya (Mazmur 19:1). Akan tetapi, betapa sia-sianya jika hidup dan keselamatan yang diberikan Allah hanya kita gunakan untuk bisa keliling dunia! Kita sekadar menyelesaikan studi, bekerja, menikah, lalu pensiun dan menikmati masa tua yang menyenangkan di tepi pantai.

Bagaimana kita mengenali apakah kita sedang menjalani kehidupan sesuai visi Tuhan, atau sedang terjebak dalam rutinitas hidup belaka? Inilah yang coba dijawab oleh John Piper dalam bukunya yang berjudul Don’t Waste Your Life (Jangan Sia-Siakan Hidupmu). Aku mendapati buku ini sangat menolong memberikan pegangan alkitabiah bagi kita yang sedang menggumulkan tujuan hidup.

Salah satu bagian firman Tuhan yang diingatkan lagi oleh buku ini adalah 1 Korintus 6:19-20, ”Kamu bukan milik kamu sendiri, sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” It is so true… sebagai orang-orang yang sudah ditebus Kristus, hidup kita bukanlah milik kita sendiri. Hidup kita adalah milik Allah. Betapa sering kita memikirkan berbagai cara agar hidup kita lebih nyaman, aman, dan senang. Namun, berapa sering kita memikirkan bagaimana agar hidup kita lebih memuliakan Allah?

Memang, hidup memuliakan Allah bukanlah hidup yang gampang. Hidup untuk membuat orang lain bersukacita di dalam Allah bisa jadi malah menyulitkan hidup kita. Namun, Piper mengajak kita mengingat perkataan Yesus, “Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Lukas 9:24). Beliau menyimpulkan, lebih baik kehilangan hidup karena Kristus daripada menyia-nyiakannya. Jika kita mati saat melayani Kristus, hal itu tidak akan menjadi sebuah tragedi. Yang patut disebut tragedi adalah ketika kita menyayangi hidup yang sementara ini melebihi Kristus, yang empunya kekekalan.

Buku ini akan menggugah pemikiran dan memperkaya pemahaman kita tentang apa artinya hidup bagi Kristus. Sangat menarik untuk dibaca, berapapun usia kita, apapun profesi kita. Mari bersama belajar untuk tidak menyia-nyiakan hidup yang Tuhan berikan!

 

Hanya ada sekali kesempatan hidup yang akan usai dengan segera;
Hanya apa yang dikerjakan untuk Kristus akan bertahan selamanya
C.T Studd

Bieber, Seorang Believer

Penulis: Leslie Koh, Singapura
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Bieber, The Believer

Bieber-the-Believer

Kamu pastinya tahu siapa Bieber, seorang penyanyi sekaligus pencipta lagu asal Kanada.

Seorang bintang, idola banyak remaja, yang terkenal bukan saja karena lagu-lagunya sangat populer, tetapi juga karena kelakuannya yang penuh kontroversi. Orang-orang yang mengkritik Bieber mungkin sama banyaknya dengan orang-orang yang mengaguminya (buat yang belum tahu, para penggemar fanatik Bieber menyebut diri mereka “beliebers”).

Tetapi, apakah kamu tahu kalau Bieber juga adalah seorang “believer” alias orang percaya?

Ya, kamu tidak salah baca. Justin Bieber adalah seorang Kristen. Majalah Complex baru-baru ini mengutip pernyataan Bieber tentang imannya di dalam Tuhan, cintanya kepada Yesus, dan keinginannya untuk membagikan Injil. “Aku mengasihi Yesus secara pribadi. Dialah keselamatanku,” tuturnya kepada wartawan. “Aku ingin membagikan apa yang sedang kualami, apa yang sedang kurasakan…”

Jika kamu adalah seorang unbelieber (bukan penggemar Bieber), mungkin kamu akan merasa skeptis dengan berita ini. Bieber? Pemuda yang sering bermasalah dengan polisi karena tingkahnya yang kurang ajar, menyetir sambil mabuk, seenaknya merusak fasilitas umum, dan tidak bisa mengendalikan kemarahannya?

Benar sekali. Apapun pendapat kita tentang Bieber, pemuda ini cukup konsisten dengan pernyataannya sebagai seorang Kristen. Tahun 2010, ia telah mulai bicara tentang imannya kepada Tuhan. Ia juga mengaku berdoa dan membaca Alkitab secara teratur. Dalam wawancara terakhirnya dengan majalah Complex, ia bicara sedikit lebih banyak tentang imannya dan apa artinya menjadi seorang Kristen.

Mungkin sulit bagi para unbelieber untuk mempercayai bahwa Bieber adalah seorang believer (maaf harus mengatakan ini). Banyak yang bertanya-tanya apakah ia telah menjadi teladan yang baik bagi jutaan penggemarnya. Perilaku dan gaya hidup Bieber bisa dianggap sebagai sesuatu yang kontroversial, setidaknya bagi sebagian orang.

Penilaian yang sangat bisa diterima.

Namun, pikirkanlah hal ini. Kita semua adalah orang-orang berdosa yang layak dimurkai Tuhan. Hanya oleh kasih karunia-Nya, kita diampuni, ditebus oleh Kristus, sehingga kita dapat menjadi bagian dari kerajaan-Nya dan memiliki pengharapan akan keselamatan. Meski demikian, pada saat ini hidup kita masih jauh dari sempurna. Kita sedang berada dalam proses pembentukan, pengudusan dari Tuhan, dan proses ini akan berlangsung seumur hidup kita. Entah kita adalah seorang artis atau menjalani kehidupan normal sebagai seorang remaja-pemuda pada umumnya, Tuhan sedang terus berkarya dalam kehidupan kita, menjadikan kita makin serupa Kristus setiap hari.

Diri kita yang lama—natur daging kita yang cenderung suka berbuat dosa—punya kehendak yang berlawanan dengan kehendak Roh Kudus, yang bekerja di dalam kita untuk mengubah kita menjadi makin serupa Kristus. Seperti yang diratapi Paulus, hal ini menyebabkan kita kerap melakukan apa yang seharusnya tidak kita lakukan dan tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan (Roma 7:14-25).

“Kita sadar bahwa kita semua tidak sempurna, sebab itu kita perlu datang kepada Tuhan dan minta pertolongan-Nya.” Tebak siapa yang mengatakannya.

Betul sekali. Bieber yang mengatakannya. Pernyataannya kali ini sungguh benar, bukan? Bisa dibilang, kita semua sedang berada dalam perjalanan iman dan proses pengudusan yang sama.

Ada hal lain yang dapat kita renungkan. Tuhan menghendaki semua orang datang kepada-Nya dan diselamatkan. Termasuk aku, kamu, teman-teman kita …. tak terkecuali para artis. Jadi, mungkin kita harus belajar melihat dunia ini dari sudut pandang Tuhan, dan melihat sesama kita dengan hati Tuhan. Kita ikut bersukacita ketika mendengar ada orang yang berbalik kepada Tuhan. Kita berdoa agar mereka dapat terus bertumbuh dalam iman dan mengalami transformasi hidup.

Entah kamu adalah seorang “belieber” atau bukan, mari kita membangun sikap hati seorang “believer” sejati.

Photo credit: NRK P3 / Foter / CC BY-NC-SA

5 Kesalahan yang (Mungkin) Sering Kita Lakukan dalam Membagikan Iman

Diadaptasi dari tulisan James Bunyan
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Sharing Our Faith – What Not To Do

Sharing-the-Gospel--How-not-to-do-it!

Membagikan iman kita tidak selalu mudah.

Kekristenan adalah iman yang menular. Sayangnya, dalam dunia yang sarat dengan kemudahan komunikasi dan ratusan kepercayaan lain, membagikan Injil kepada keluarga, sahabat, dokter gigi, tukang sampah, rekan kerja, musuh, supir taksi, teman satu tim, atau orang lain seringkali tidak seperti yang kita bayangkan. Kita pun tidak habis mengerti mengapa bisa demikian.

Setidaknya ada 5 kesalahan umum yang menurutku sering kita lakukan sebagai orang Kristen saat berinteraksi dengan orang yang punya paham atau pandangan-dunia berbeda.

Kesalahan 1: Banyak bicara, sedikit mendengarkan.
Kita berpikir:
Lawan bicara kita pasti tidak tahu apa-apa soal iman, jadi kita berusaha mencerahkan pemikiran mereka dengan mendominasi percakapan. Lagipula, bukankah mereka butuh mendengar tentang Yesus? Bagaimana mereka akan mengenal Yesus jika kita hanya duduk manis dan mendengarkan? Mungkin kita bahkan harus mengarahkan mereka kembali jika mereka mulai mengganti topik pembicaraan.
BAYANGKANLAH BEDANYA JIKA kita menjadi orang Kristen yang berani menanyakan pendapat orang lain dan dengan rendah hati bersedia lebih banyak mendengarkan daripada menguliahi mereka; menyadari bahwa ada banyak hal yang dapat dipelajari dan diafirmasi dalam diri orang lain.

Kesalahan 2: Selalu berusaha memenangkan pembicaraan dengan cara apapun.
Kita berpikir
: Ketika kita berbicara tentang iman kepada orang lain, kebenaran Injil sedang dipertaruhkan! Kekristenan sedang diperhadapkan dengan kepercayaan lain yang tidak masuk akal, jadi jangan sampai Yesus kalah! Gunakan semua kemampuan kita dalam meyakinkan orang, menunjukkan bukti-bukti logis, dan memberi nasihat (bila perlu dengan nada yang keras). Facebook bisa dibilang sarana terbaik dalam hal ini, karena kita bisa menulis sebanyak yang kita mau tanpa perlu memperhatikan situasi orang lain atau memahami mereka sebagai sesama manusia biasa.
BAYANGKANLAH BEDANYA JIKA kita menjadi orang Kristen yang tulus menghargai orang lain sebagai pribadi ciptaan Tuhan yang memiliki nilai dan martabat sama dengan kita. Kita mau bersabar dan memenangkan hati orang lebih daripada sekadar memenangkan perdebatan.

Kesalahan 3: Hanya bicara teori atau konsep-konsep yang abstrak.
Kita berpikir:
Ketika berbicara tentang iman, kita tidak perlu sampai membahas tentang penerapannya atau tentang apa yang sedang diajarkan Yesus kepada kita hari ini. Orang mungkin akan menganggap kita aneh. Akan memalukan bila mereka tahu bahwa orang-orang Kristen itu tidak sempurna hidupnya, dan kita bisa kalah bicara dari mereka.
BAYANGKANLAH BEDANYA JIKA kita menjadi orang Kristen yang dapat menceritakan apa kaitannya Yesus dengan hidup kita hari ini. Kita berusaha menjalani hidup sebaik mungkin karena kita tahu pentingnya konsistensi antara iman dan praktik hidup, namun pada saat yang sama kita juga mengakui betapa kita lemah dan membutuhkan pertolongan Yesus.

Kesalahan 4: Menghindari pembicaraan tentang Yesus atau Alkitab
Kita berpikir
: Jika mereka mempunyai pandangan-dunia yang berbeda, mereka tidak mempercayai Yesus, tidak ada gunanya berbicara tentang Yesus. Lagipula, sebagian perkataan Yesus memang aneh dan membuat kita tidak terlihat terlalu baik; Dia juga bicara soal malaikat, kekerasan, dan neraka. Lebih baik kita bicara tentang “mencari identitas sejati” dan “tidak ada yang sempurna”—topik-topik yang dapat diterima semua orang.
BAYANGKANLAH BEDANYA JIKA kita menjadi orang Kristen yang menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk memberitakan tentang Yesus yang kita kasihi—yang kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya sungguh-sungguh terjadi dalam sejarah—dengan kesadaran penuh bahwa hanya Yesus yang berkuasa menumbuhkan dan menyempurnakan iman melalui apa yang kita beritakan.

Kesalahan 5: Berusaha menjejalkan pemberitaan Injil ke dalam satu percakapan.
Kita berpikir
: Kita adalah harapan terakhir bagi orang lain untuk mengenal Kristus! Jadi, pastikan kita menceritakan semua keyakinan kita tanpa terkecuali, meski kelihatannya lawan bicara kita tidak terlalu tertarik untuk mendengarkan. Jika perlu, ikuti mereka ke mana pun mereka pergi, sampai kita bisa menyelesaikan semua yang harus kita beritakan.
BAYANGKANLAH BEDANYA JIKA kita menjadi orang Kristen yang tidak berusaha menjejalkan seluruh berita Injil dalam setiap percakapan, karena menyadari bahwa tiap orang memiliki tingkat kesiapan yang berbeda-beda untuk menerima Injil. Kita mengerjakan bagian kita sebagai bagian dari mata rantai pemberitaan Injil sebaik mungkin dan percaya bahwa Roh Kudus dapat menggunakan berbagai kesempatan untuk membawa orang mendekat kepada-Nya.

Membagikan iman dengan cara-cara yang keliru jelas tidak akan berhasil. Kamu mungkin sudah pernah mengalaminya. Namun, banyak di antara kita masih saja mengulangi kesalahan yang sama. Kesalahan terbesar kita adalah kurang menghargai orang lain sebagai sesama manusia yang diciptakan berharga, serupa dan segambar dengan Allah. Akibatnya, yang ditangkap orang bukanlah berita Injilnya, melainkan kesan bahwa orang-orang Kristen itu tidak suka mendengarkan orang lain, tidak peduli, dan berpikiran tertutup. Parahnya lagi, ada kesan bahwa orang Kristen menganggap mereka yang punya pandangan berbeda sebagai orang bodoh dan tidak layak diajak bicara.

Kontras dengan itu, catatan kitab-kitab Injil menunjukkan bahwa Yesus tidak pernah berbicara kepada dua orang yang berbeda dengan cara yang persis sama. Apakah itu karena Dia memahami bahwa cara pandang tiap orang itu unik dan selayaknya dihargai? Mungkin Dia ingin kita belajar bahwa membagikan iman itu tidak sama dengan sekadar memindahkan informasi kepada orang lain. Membagikan iman justru menunjukkan betapa kita menghargai sesama manusia. Kita memahami pergumulan mereka sebagai sesama manusia yang berdosa. Kita ingin mereka tidak hidup sia-sia, sehingga kita mengundang mereka untuk ikut mengalami kebaikan terbesar dalam hidup yang telah kita terima dalam Kristus. Membagikan iman dengan cara yang relevan bagi orang-orang yang kita temui tidaklah sesederhana mengikuti sebuah resep atau menghafalkan sebuah metode. Kita perlu terus berlatih dengan penuh kesabaran.

Tetapi, bukankah itu membuat perjalanan kita membagikan iman menjadi jauh lebih seru?

Ketika Membagikan Iman Dianggap Sesuatu yang Aneh

Penulis: Daniel Gordon Ang
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: When It Is Frowned Upon To Share Your Faith

When-it-is-frowned-upon-to-share-your-faith

Salah satu kenangan yang paling kuingat dari masa-masa kuliah di Amerika adalah kebiasaanku setiap Minggu pagi. Jam 7 aku sudah bangun dan siap-siap ke gereja untuk mengikuti gladi resik bersama tim musik (aku bermain cello) sebelum kebaktian pertama dimulai. Gereja kami diberkati dengan sejumlah musisi berbakat dan seorang music director yang sangat rajin. Ia banyak membuat aransemen himne dan musik klasik yang indah untuk mengiringi kebaktian. Musik yang merdu serta khotbah pendeta kami yang tegas menegur sekaligus menginspirasi, selalu membuat hatiku penuh dengan perasaan hangat dan terharu ketika kebaktian selesai. Rasanya aku telah mendapatkan kekristenan yang cukup untuk minggu itu.

Namun, seluruh perasaan dan suasana itu akan berubah secara drastis saat aku kembali ke kampus untuk sarapan. Di ruang makan kampus yang besar, aku akan menjumpai teman-teman kuliah yang kebanyakan baru saja bangun. Sebagian besar masih mengenakan piyama; sebagian lagi masih memakai baju pesta, kelihatan teler sehabis berpesta-pora pada malam sebelummya. Pernah seorang teman bertanya mengapa pagi-pagi aku sudah memakai pakaian yang rapi. Aku menjawab bahwa aku baru saja pulang dari kebaktian di gereja. Ia mengernyitkan dahinya, “Gereja? Kamu pergi ke gereja?”

Ia tampak keheranan—ekspresinya tidak menunjukkan kebencian atau rasa tidak senang; ia hanya tidak habis mengerti. Di kampusku, “hari Minggu” jelas tidak lagi pernah dikaitkan dengan “gereja”. Aku merasa seperti baru saja melangkah keluar dari komunitas orang kudus di gerejaku, memasuki sebuah komunitas duniawi, di mana tidak ada orang yang berbicara mengenai Alkitab, Tuhan, atau kehidupan setelah kematian.

Begitulah suasana tempat aku menjalani studi saat itu, sebuah kampus elit di timur laut Amerika Serikat. Orang tidak terang-terangan menunjukkan kebencian terhadap agama, tetapi jelas itu adalah topik yang tabu untuk dibicarakan. Pada umumnya, orang akan mengambil sikap “jangan bertanya, jangan memberitahu” (Don’t ask, don’t tell). Suasana ini begitu menggerahkan sampai-sampai seorang temanku menelitinya untuk tugas skripsi. Ia mewawancarai berbagai macam orang tentang pengalaman mereka di kampus terkait iman pribadi mereka. Salah satu orang yang diwawancarai menceritakan bagaimana ia, saat belum mengerti adat istiadat di kampus itu, sempat melakukan kesalahan fatal dengan membagikan kesaksian tentang apa yang ia yakini sebagai seorang Katolik, berikut peran keyakinan itu dalam hidupnya. Semua orang yang mendengarnya diam membisu sembari melempar tatapan jengah.

Mengenang kembali masa-masa tersebut, aku teringat akan kisah Daniel dalam Alkitab. Sebagai seorang pemuda, ia diambil secara paksa dari keluarga dan bangsanya dan dibawa ke Babel. Di sana ia dididik dalam kebudayaan dan kesusasteraan Babel, agar dapat bekerja untuk raja Babel (Daniel 1). Di tengah lingkungan asing ini, Daniel berani mempertahankan iman serta menaati apa telah diperintahkan Allah kepada orang Israel turun-temurun. Ia menolak menyantap makanan-makanan Babel yang haram, dan lebih memilih mengonsumsi sayur-sayuran dan air. Ia terus berdoa kepada Allah tiga kali sehari, walaupun ada aturan resmi kerajaan yang melarangnya (Daniel 6:10). Untuk itu ia dimasukkan ke dalam gua singa, tetapi Allah menyelamatkannya dari kematian.

Pengalamanku sendiri tidak sedramatis apa yang dialami Daniel dalam Alkitab, tetapi mirip dalam beberapa hal. Sebelum pergi bersekolah ke Amerika, aku menghabiskan kebanyakan waktuku dalam lingkungan Kristen: belajar di sekolah Kristen dan memiliki teman-teman yang hampir semuanya berasal dari keluarga Kristen. Dalam lingkungan yang demikian, setiap hari aku diingatkan akan Allah. Tetapi di sisi lain, aku tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa. Semua orang berbicara dalam “bahasa Kristen”—selalu memuji Tuhan dan berbicara tentang apa yang mereka pikir merupakan kehendak-Nya dalam hidup mereka. Sebagai sesama orang Kristen, aku pun menjadi sangat terbiasa dengan hal itu. Berbicara tentang Tuhan bahkan bisa menjadi cara cepat untuk bisa disenangi oleh orang tua dan guru-guru.

Begitu masuk ke kampus, ceritanya sama sekali berbeda. Mengatakan bahwa tadi kita “pergi ke gereja” adalah sesuatu yang tidak lazim. Memang ada kelas-kelas untuk mempelajari agama, tetapi kita akan dianggap aneh kalau sampai menceritakan pengalaman pribadi kita yang berhubungan dengan agama. Meski ada segelintir orang yang mencela agama secara terbuka, kebanyakan orang sebenarnya tidak peduli dengan hal-hal rohani sama sekali. Mereka hanya berpikir tentang hal-hal yang sifatnya materi—cara pandang mereka bisa dibilang cenderung skeptis (agnostik) dan realistis.

Sebenarnya ada persekutuan Kristen yang kuat di kampus kami. Kadang aku menghadiri pertemuannya, dan terkejut melihat beberapa teman—aku tidak tahu bahwa mereka ternyata orang Kristen juga—hadir di sana. Sekian lama kami berteman, banyak hal yang pastinya sudah kami bicarakan, tetapi kami tidak pernah bicara tentang iman kami masing-masing. Kami semua seperti orang-orang Kristen yang tersembunyi.

Menghadapi situasi semacam ini, aku memperhatikan sebagian orang Kristen akhirnya hanya bergaul dengan sesama orang Kristen saja. Meski bisa dimengerti mengapa mereka bersikap demikian, menurutku itu bukan sikap yang benar. Aku sendiri tetap berusaha berteman dengan siapa saja, apa pun yang menjadi latar belakang kepercayaan mereka. Keterbukaan itu membawaku ke dalam suatu percakapan yang sangat membekas dalam ingatan, sebuah percakapan yang terjadi di ruang makan kampus.

Hari itu aku sedang makan malam bersama sekelompok teman dari jurusan fisika dan matematika. Kami biasanya berbicara tentang soal-soal fisika yang sulit, atau topik-topik dalam sains secara umum. Namun kali ini, entah bagaimana pembicaraan kami menyentuh topik tentang Tuhan. Salah satu teman berkata, “Siapa sih yang masih percaya Tuhan hari-hari begini?” Ia menggelengkan kepala.

Hingga hari itu, aku sangat jarang membicarakan tentang kepercayaanku, tetapi aku berketetapan hati bahwa jika suatu hari ada kesempatan untuk menyatakan imanku, aku tidak akan menyembunyikan fakta bahwa aku orang Kristen. Aku selalu ingat perkataan Yesus dalam Injil Matius: “Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 10:32-33)

Jadi aku menjawab, “Aku percaya Tuhan. Aku seorang Kristen.”

Temanku tampak kaget. “Serius? Kok bisa? Bagaimana ceritanya?”

Aku mulai menjelaskan keyakinanku. Sebagai seseorang yang suka membaca tentang apologetika—buku-buku favoritku adalah karangan para filsuf dan teolog Kristen seperti William Lane Craig, Alister McGrath, dan Alvin Plantinga—aku sangat senang mendapatkan kesempatan emas untuk bisa mempraktikkan pengetahuanku, apalagi dalam konteks pembicaraan sains. Aku menjelaskan dan memberikan sejumlah argumen mengapa aku percaya kepada Tuhan. Tujuanku pada saat itu sederhana saja. Aku tidak bermaksud “memberitakan Injil”, tetapi aku ingin menunjukkan kepada mereka bahwa sebenarnya ada mahasiswa-mahasiswa “normal” yang sungguh-sungguh percaya Tuhan.

Aku melihat teman-teman agnostik itu bereaksi tak percaya. Selama ini, mereka mengenalku sebagai sesama mahasiswa fisika dan matematika yang cukup pintar, dan bukan salah satu dari kumpulan “orang religius yang aneh”.

Pembicaraan itu berlangsung lebih dari satu jam. Kami terpaksa harus berhenti karena ruang makan sudah mau tutup. Rasanya seperti mengalami sebuah momen “gua singa” dalam skala kecil. Aku adalah satu-satunya orang Kristen di meja itu, menjawab serangan dari segala arah terhadap argumen yang kuberikan. Meskipun tidak ada yang sepenuhnya setuju dengan jawabanku, tidak ada juga yang dapat membantah perkataanku. Aku merasa senang dapat “siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dariku tentang pengharapan yang ada padaku” (Lihat 1 Petrus 3:15).

Setelah lulus, aku dan teman-temanku pun berpisah mengambil jalan kami masing-masing. Aku masih berharap bahwa mereka pada akhirnya akan menemukan Allah, atau setidaknya tergerak untuk memikirkan lebih jauh apa yang pernah kami bicarakan malam itu. Yang lebih penting, aku harap pembicaraan yang hanya sebentar itu dapat memecah kebekuan rohani di kampusku. Aku bersyukur Tuhan telah memberiku keberanian untuk teguh dalam iman, dan bahkan menyatakannya di muka umum.

Melihat ke belakang, aku menyadari bahwa momen-momen kecil seperti ini sangat berperan dalam menguatkan imanku. Dalam lingkungan yang begitu sekuler, setiap hal sederhana yang kulakukan, bahkan yang sepertinya tidak berhubungan dengan kekristenan, mengingatkan aku kembali akan apa yang kupercayai. Menghadiri kebaktian di gereja setiap hari Minggu bukan lagi sekadar rutinitas, tetapi telah menjadi tempat kerohanianku diperbarui setiap minggu. Hal-hal kecil seperti tidak malu berdoa sebelum makan di tempat umum, kini menjadi sesuatu yang kuanggap penting.

Pada akhirnya, Daniel ini berhasil bertahan melewati kuliahnya, sama seperti Daniel dalam Alkitab yang berhasil bertahan melewati hari-harinya di Babel. Adakalanya aku merasa aku seharusnya lebih berani lagi menyatakan imanku, namun aku tahu bahwa aku telah mengatasi pengalaman pertamaku hidup di lingkungan yang sekuler dengan baik, dan aku berdoa supaya Tuhan terus memberiku kekuatan untuk meneguhkan imanku di mana pun Dia menempatkanku kelak.

 
Untuk direnungkan lebih lanjut
Dari sekian jumlah teman yang kamu miliki, berapa banyak yang kepercayaannya berbeda denganmu? Pernahkah kamu dan temanmu bertukar pikiran tentang iman masing-masing? Hal menarik apa yang kamu ingat dari percakapan kalian?

PustaKaMu: Mari Berpikir tentang Pandangan-Dunia

Oleh: Chronika Febrianti

berpikir-ttg-pandangan-dunia
Judul:
Mari Berpikir tentang Pandangan Dunia
Bagaimana orang-orang memandang Tuhan?

Diterjemahkan dari:
Worldviews [TH1NK Reference Collection]
Think For Yourself About How We See God

Penulis: John M. Yeats, John Blasé
Penyunting: Mark Tabb

Edisi Bahasa Indonesia diterbitkan oleh: Yayasan Gloria
Tahun Terbit: 2011
Jumlah Halaman: 263 halaman
 

Pernah mendengar istilah “worldview”? Istilah yang sering diterjemahkan sebagai “pandangan-dunia” atau “wawasan-dunia” ini pada dasarnya adalah cara seseorang memandang atau memahami dunia di sekitarnya, termasuk cara mereka memandang Tuhan. Ibarat lensa bagi mata yang rusak, cara seseorang memandang dunia akan menolongnya untuk memaknai berbagai peristiwa, sekaligus mendorongnya mengambil sikap tertentu dalam hidup. Misalnya saja, orang yang punya pandangan bahwa hidup ini hanya sekali saja, kemungkinan besar akan berusaha memuaskan segala macam keinginannya tanpa memikirkan risiko jangka panjang.

Harus kuakui, proses menata cara pandang ini tidak mudah bagiku. Saat ini aku sedang kuliah di Fakultas Ilmu pengetahuan Budaya (FIB), dan salah satu subjek pelajaran yang harus kuambil adalah filsafat. Humanisme, feminisme, serta sejumlah filsafat timur yang kupelajari mulai terasa begitu logis untuk dijadikan prinsip hidup. Lensa yang sejak kecil kupakai (iman Kristen) mulai terasa meragukan. Makin banyak pandangan yang kupelajari, makin sering pula aku “ganti lensa”, dan akhirnya aku bingung sendiri dengan apa yang kuyakini. Ibarat orang membangun rumah di atas pasir, imanku bisa goyah sewaktu-waktu. Parahnya lagi, aku menyimpan semua kebingunganku sendiri.

Mari Berpikir tentang Pandangan-Dunia, adalah salah satu buku yang sangat menolongku. Buku ini memuat hal-hal kunci yang menjadi inti bebagai paham dan kepercayaan di dunia, dan membandingkannya dengan iman Kristen. Meski bisa kelihatan sangat mirip, ternyata setiap paham dan kepercayaan itu memiliki perbedaan yang mendasar. Ilustrasi-ilustrasi dalam buku ini membuatku sadar, ternyata aku belum kritis dalam menerima berbagai pandangan yang ada di sekitarku. Buku ini menyadarkanku, betapa pentingnya berdoa dan menancapkan firman Tuhan dalam pikiran sebagai dasar untuk menguji segala sesuatu, agar aku tidak kehilangan arah dalam hidupku. Kebenaran tidak akan mengisi kehidupan kita bila kita tidak mencari hikmat dari Sang Sumber Hikmat itu sendiri.

Jika kamu merasa semua agama mengajarkan hal yang sama, atau kamu punya banyak pertanyaan tentang berbagai kepercayaan yang ada di dunia, jangan simpan sendiri kebingunganmu. Carilah seorang yang bisa diajak diskusi (mungkin pendeta, pembimbing rohani, pemimpin kelompok kecil) untuk menguji dan memperjelas pemikiranmu. Buku ini sendiri bisa menjadi salah satu “teman diskusi” yang baik. Ditulis dengan gaya percakapan dan sudut pandang yang segar, buku ini akan memberi referensi cepat mengenai beragam sistem kepercayaan yang ada di dunia saat ini, bagaimana mereka bermula, dan apa yang menjadi inti kepercayaan tersebut.

Jeritan Bisu Aylan

Penulis: Joanna Hor
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Aylan’s Silent Scream

Aylan-Silent-Scream

Sebuah foto yang melukiskan seribu kata: foto seorang bocah laki-laki Suriah berusia 3 tahun, tertelungkup di pinggir sebuah pantai di Turki. Bocah itu bernama Aylan Kurdi.

Minggu lalu, dunia digemparkan oleh gambar jasad Aylan yang tersapu ombak dan terdampar di pantai Bodrum. Ia tewas tenggelam—bersama dengan kakak laki-lakinya yang berusia 5 tahun dan ibunya yang berusia 35 tahun—setelah perahu karet kecil mereka terbalik dihempas ombak laut Mediterania. Hari itu tanggal 2 September, dan mereka sedang dalam perjalanan mengungsi dari Turki menuju Yunani. Ayah Aylan adalah satu-satunya anggota keluarga yang masih bertahan hidup.

Potret jasad mungil yang membuat hati miris itu membuat krisis pengungsi Suriah yang telah terjadi selama bertahun-tahun menjadi begitu dekat dan nyata bagi semua orang. Fotografer dari kantor berita Dogan di Turki yang memotret jasad Aylan menggambarkan bagaimana darahnya terasa “beku” saat melihat bocah itu tertelungkup di pantai, dan satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah “menyuarakan jeritannya kepada dunia”.

Kematian Aylan jelas bukan sekadar sebuah tragedi yang kebetulan terjadi. Sebagaimana yang dikemukakan banyak pengamat, peristiwa ini menunjukkan dampak dari sikap yang pasif dan tidak peduli dari banyak negara yang lebih kaya, namun enggan membantu jutaan pengungsi yang keluar dari tanah air mereka di Timur Tengah dan Afrika karena perang untuk menemukan kehidupan baru di tempat lain.

Sejumlah negara di wilayah sekitar Suriah dikritik habis-habisan karena memberikan sangat sedikit bantuan—seperti menyediakan tempat penampungan—bagi para pengungsi. Beberapa negara beralasan bahwa arus besar pengungsi akan mengacaukan keseimbangan ras dan agama dalam populasi mereka. Seorang pemimpin gereja bahkan dikabarkan sempat menolak untuk menampung pengungsi dengan alasan tidak ingin dianggap terlibat dalam “perdagangan manusia”.

Namun, kematian Aylan tampaknya telah mengubah hati banyak orang. Foto-foto Aylan telah meningkatkan kesadaran publik tentang situasi di Suriah dan menggalang banyak dukungan untuk para pengungsi dari berbagai wilayah Eropa. Inggris Raya, misalnya, telah mengatakan bahwa mereka akan menerima lebih banyak pengungsi Suriah, sementara Paus Francis mendorong institusi-institusi Katolik di seluruh Eropa untuk memberikan tempat penampungan bagi para pengungsi itu. Di dunia maya, perhatian masyarakat banyak tampak jelas dengan membanjirnya tagar #refugeeswelcome di Twitter.

Tanggapan luas yang diberikan terhadap krisis kemanusiaan yang memilukan hati tersebut sungguh menggugah semangat. Kita diingatkan bahwa masalah yang ada hanya bisa dituntaskan bila ada kerjasama dari berbagai pihak—dan bahwa gereja seharusnya berada di garis depan dalam perjuangan ini.

Yakobus 1:27 memberitahu kita, “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”

Jika kamu adalah seorang Kristen yang tinggal di salah satu negara Eropa yang telah berkomitmen untuk menerima para pengungsi, maukah kamu ikut ambil bagian memberikan bantuan sesuai dengan kapasitasmu?

Bagaimana bila kamu tinggal puluhan ribu kilometer jauhnya dari lokasi para pengungsi, apa yang dapat kamu lakukan? Mungkin ini pertama kalinya kamu mendengar bahwa ada krisis di Suriah. Ambillah waktu beberapa menit untuk membaca berita tentang apa yang terjadi di sana. Mungkin kamu akan tergerak mendoakan agar ada perdamaian di Suriah, mendoakan agar penganiayaan yang terjadi di sana dapat berakhir, dan agar Tuhan memberi kekuatan bagi orang-orang yang tengah bekerja keras memberikan bantuan bagi para korban.

Atau, mungkin kamu akan tergugah untuk mencari tahu apa saja upaya penanganan masalah pengungsi yang sedang dilakukan di sekitar tempat tinggalmu dan bagaimana kamu dapat mendukung pekerjaan kemanusiaan itu dengan berbagai cara, misalnya dengan menyumbangkan uang, menggalang dana, menjadi sukarelawan, menyebarluaskan informasi, dan sebagainya.

Semoga jeritan bisu Aylan tidak menjadi sia-sia.

Sumber Foto: Reporter ABC News, Muhammad Lila

 
Krisis Pengungsi di Suriah
Jutaan orang telah meninggalkan kampung halaman mereka karena perang saudara di Suriah dan munculnya ISIS. Jumlah pengungsi yang mencapai sekitar 12 juta jiwa ini disebut-sebut sebagai bencana kemanusiaan terburuk dalam generasi kita.

Perang saudara Suriah dimulai pada awal 2011, setelah kekerasan yang dilakukan rezim pemerintah menuai berbagai aksi protes dari masyarakat yang menentang pemerintah. Separuh dari 12 juta orang yang harus mengungsi akibat perang itu diyakini adalah anak-anak.

Selama beberapa tahun terakhir, ratusan ribu pengungsi telah berusaha menyeberangi Timur Tengah menuju wilayah barat, dengan harapan dapat memulai kehidupan yang baru di Eropa.