Damai Natal di Media Sosial

damai-di-media-sosial

Oleh Ruth Lidya Panggabean, Depok

Selama bertahun-tahun umat Kristiani di Indonesia merayakan Natal dengan berbagai semaraknya, namun di penghujung tahun ini kita cukup diguncang. Menjelang Natal, sempat terjadi pengeboman sebuah gereja di Samarinda, yang kemudian disusul kasus pembubaran ibadah Natal di Sabuga. Wacana pelarangan ucapan Natal beserta pembatasan ornamen khas Natal juga menyebar di mana-mana.

Tidak hanya di media massa, pembahasan mengenai isu ini bahkan berlangsung lebih panas di media sosial. Masyarakat Indonesia yang sejak dulu sepakat mengenai toleransi beragama sesuai sila pertama Pancasila, kini seolah terbagi menjadi kubu-kubu yang mendefinisikan toleransi dengan versi masing-masing. Tak jarang, sesama rekan seiman juga ikut-ikutan reaktif terlibat dalam perdebatan ini dan hanya berujung pada distorsi makna Natal yang sebenarnya.

Apa sih arti Natal sehingga kita sebegitu ngotot membelanya? Kalau Natal bagi kita adalah selebrasi untuk senang-senang, ramai-ramai, dan ngumpul-ngumpul, berarti Natal yang kita bela tidak lebih dari sepaket acara hiburan. Kalau Natal bagi kita merupakan sebuah ritual agama tahunan yang wajib diikuti, berarti Natal yang kita bela hanyalah program institusi gerejawi belaka.

Bila merujuk pada makna Natal dalam Alkitab, kelahiran Kristus tidak pernah tentang ornamen dan hingar-bingar perayaan, melainkan demonstrasi kasih Allah dan turunnya damai sejahtera di atas bumi. Ketika kita membahas mengenai Natal di media sosial maupun saat menanggapi komentar orang lain yang tidak sepaham, sudahkah kita memegang teguh motif damai tersebut?

Kita seringkali lupa bahwa di balik setiap akun media sosial ada seorang manusia, yang punya perasaan, pemikiran, martabat dan nilai-nilainya sendiri. Terlepas dari apa kepercayaan mereka, mereka juga membutuhkan Kristus. Jika kita ikut-ikutan tersulut provokasi lalu merespons berbagai komentar seputar Natal tanpa intensi mengasihi, maka kita sudah menutup jalan bagi pemberitaan kabar baik.

Dalam pergumulan bangsa kita mengenai Natal, pertama-tama hendaklah kita juga mengambil waktu untuk refleksi pribadi dan menggumulkan, sudahkah Juruselamat itu hadir dalam hati kita dan tercermin melalui kehidupan kita? Puluhan kali mengikuti perayaan Natal selama hidup kita, kiranya kita tidak hanya mengulang-ulang aktivitas rohani tanpa berjumpa dengan Tuhan secara pribadi.

Dalam harapan kita akan suasana Natal yang kondusif dan hangat di Indonesia, hendaklah kita tidak hanya berkomentar di media sosial, namun juga mendoakan keamanan bangsa ini. Karena surga bersorak sorai bukan ketika kita merayakan Natal dengan gegap gempita, tetapi ketika melalui kita, ada orang yang menjadi percaya. Kiranya damai dan sukacita Natal itu tidak hanya benderang di lingkup gereja dan persekutuan, tetapi bahkan terpancar juga di tiap-tiap akun media sosial kita.

Selamat merayakan Natal bagi teman-teman di seluruh Indonesia.

Baca Juga:

Kisah Orang Majus Keempat

Ketika aku merenungkan kembali tentang Natal, aku teringat akan sebuah kisah fiksi yang pernah aku baca beberapa tahun lalu tentang kisah orang Majus keempat, yang bernama Artaban. Kisah ini dimuat pada sebuah majalah rohani yang tergeletak di ruangan kelasku di SMA. Aku membacanya beberapa kali dan kemudian menulisnya kembali dalam secarik kertas dan kusimpan baik-baik. Kisah ini mengingatkanku untuk belajar dari teladan yang diberikan oleh Artaban.

Pelaku Teror Bom di Gereja Medan Itu Ternyata Satu Sekolah Denganku

pelaku-teror-bom-di-gereja-medan-itu-ternyata-satu-sekolah-denganku

Oleh Morentalisa Hutapea

Beberapa minggu lalu, di kampung halamanku di Medan, Sumatera Utara, Indonesia, seorang tersangka pembawa bom bunuh diri masuk ke dalam sebuah gereja ketika kebaktian Minggu sedang dilangsungkan, dan mencoba untuk meledakkan sebuah bom. Atas anugerah Tuhan, bom itu gagal meledak, dan para jemaat berhasil menahan dia dan akhirnya menyerahkannya kepada polisi.

Aku sangat terkejut ketika mengetahui bahwa tersangka berusia 17 tahun itu ternyata bersekolah di SMA yang sama denganku. Hal ini begitu menggangguku sampai-sampai aku tak bisa tidur di malam hari. Begitu mencemaskan mengetahui orang-orang di sekitar kita mungkin saja menyakiti kita, keluarga kita, dan gereja kita.

Meskipun tak ada yang terluka, insiden itu membuatku bertanya, di mana kita dapat menemukan keamanan di dunia ini?

Selama puluhan tahun, Sumatera Utara telah menjadi tempat tinggal jutaan orang Kristen Indonesia. Aku berasal dari suku Batak yang berasal dari propinsi tersebut. Kami memiliki gereja suku terbesar di Indonesia, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Adanya percobaan serangan bom bunuh diri di tempat yang disebut-sebut sebagai kantung Kristen ini menunjukkan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman bagi orang Kristen di Indonesia.

Aku telah cukup beruntung. Gerejaku tidak pernah dibom, dibakar, ditutup paksa, atau dihancurkan, seperti banyak gereja lainnya di Indonesia. Pengalaman terburukku dengan grup religius radikal adalah ketika aku bertemu dengan seorang representatif dari grup religius lainnya untuk mendiskusikan tentang meningkatnya radikalisme. Di luar ruangan, beberapa anggota dari organisasi ekstrimis sedang melempari gelas dan botol dan berteriak-teriak.

Aku tidak tahu sampai kapan kita akan menikmati “kebebasan beragama” di Medan. Mungkin saja para pelaku bom bunuh diri menyusup masuk ke gerejaku dan menghancurkannya suatu hari.

Jadi di mana kita dapat menemukan keamanan? Tidak di mana pun.

Dan di mana-mana.

Banyak orang melakukan berbagai hal untuk mendapatkan rasa aman, seperti bekerja keras untuk mendapatkan keamanan finansial. Dan karena kita takut kehilangan itu, beberapa dari kita mungkin menolak untuk mengambil risiko dalam mengikut Tuhan atau melayani sesama. Kita dibelenggu oleh ilusi yang salah tentang keamanan, dan akhirnya kita tidak pergi ke mana-mana.

Tapi keamanan itu sifatnya sementara. Kita tidak tahu kapan Iblis akan menjungkirbalikkan dunia kita atau mengancam keamanan kita. Aku sadar bahwa kita tidak dapat menjamin keamanan kita di mana pun kita berada di bumi.

Namun kita juga dikuatkan oleh fakta ini: kemanan juga dapat ditemukan di mana-mana.

Keamanan yang sejati hanya dapat ditemukan di dalam hadirat Allah. Ada sebuah jaminan bagi kita yang menyatakan bahwa kuasa Allah selalu ada untuk membuat kita bertahan, tidak peduli seberapa sulit pun kesulitan yang kita hadapi dalam hidup ini. Paulus mengerti hal ini ketika dia menulis bagi jemaat di Filipi. Dia berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

Janganlah kita mengejar keamanan yang semu dengan mengorbankan hal-hal yang penting dalam hidup ini: mengenal Allah, melayani sesama, berbuat baik, membawa damai, dan memuridkan. Kita hanya hidup sekali, dan tidak seorang pun tahu kapan hidup ini akan berakhir. Jadi marilah kita gunakan waktu kita yang sementara ini untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama.

Beberapa waktu lalu, seorang saudaraku dalam Kristus yang telah aku anggap sebagai saudaraku sendiri meninggal di dalam sebuah kecelakaan. Dia adalah seorang yang cerdas, baik, saleh, seorang anak muda yang bertalenta dengan karir yang menjanjikan di masa depan. Kematiannya membuat kami semua kaget.

Beberapa hari setelah kematiannya, kami saling bercerita tentang momen-momen terakhir kami bersamanya. Aku begitu dikuatkan ketika mengetahui bahwa yang temanku lakukan di hari-hari terakhir dalam hidupnya adalah mengingatkan teman-teman terdekatnya dan keluarganya tentang Allah dan pekerjaan misi. Meskipun hidupnya di bumi begitu singkat karena kecelakaan ini, temanku telah mengakhiri pertandingannya dengan baik.

Diingatkan betapa hidup ini begitu rapuh membuatku bertanya kepada diriku sendiri: Apakah aku telah hidup sesuai dengan yang Tuhan inginkan?

Marilah kita tanyakan kepada diri kita sendiri: Apakah kita telah melakukan yang terbaik untuk mematuhi perintah-perintah Yesus? Apakah kita mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri (Matius 22:37-38)?

Baca Juga:

Pengalamanku Merasakan Gempa Nepal 2015

25 April 2015. Itulah hari di mana temanku datang ke Nepal untuk mengujungiku (aku sedang menjalani satu tahun tugas penginjilan di Nepal). Itu juga hari di mana dunia menjadi saksi akan gempa bumi terdahsyat di Nepal sejak tahun 1934. Lebih dari 8.000 orang tewas dan lebih dari 21.000 orang terluka.

Pengalamanku Merasakan Gempa Nepal 2015

pengalamanku-merasakan-gempa-nepal-2015

Oleh S. A., Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Reliving the Horrific 2015 Nepal Earthquake

25 April 2015. Itulah hari di mana temanku datang ke Nepal untuk mengujungiku (aku sedang menjalani satu tahun tugas penginjilan di Nepal). Itu juga hari di mana dunia menjadi saksi akan gempa bumi terdahsyat di Nepal sejak tahun 1934. Lebih dari 8.000 orang tewas dan lebih dari 21.000 orang terluka.

Temanku dan aku sedang mengikuti sebuah kebaktian di lantai 3 sebuah gereja pagi itu. Saat itu sedang waktu penyampaian khotbah dan sang pengkhotbah sedang membacakan firman Tuhan dari Kejadian 17 ketika seluruh gedung gereja mulai bergetar dengan hebat. Aku dapat mendengar gemuruh dari lantai di bawah kami; burung-burung di luar beterbangan ke segala arah, dan segala benda di sekitar kami berderak.

Datang dari negara Singapura yang bebas gempa, aku perlu beberapa saat untuk menyadari bahwa aku sedang berada di tengah gempa bumi—yang kemudian aku ketahui berskala 7,8 skala richter. Hal pertama yang kupikirkan adalah, “Aku harus keluar dari gedung ini!” Jadi aku mengambil tasku dan berdiri, bersiap untuk turun ke lantai dasar.

Namun ketika aku melihat sekitarku, aku tidak melihat seorang pun orang Nepal yang bergerak. Mereka tetap duduk atau berdiri, tangan mereka terangkat kepada Tuhan ketika mereka berdoa dengan sungguh-sungguh.

Aku langsung merasa malu ketika menyadari bagaimana reaksi pertamaku, tidak seperti mereka, bukanlah meminta pertolongan Tuhan. Jadi aku duduk lagi dan berdoa dengan sungguh. Aku berdoa agar Tuhan menjaga gedung gereja itu tetap berdiri. Aku berdoa agar Tuhan mengehentikan gempa bumi itu. Aku berdoa agar Tuhan menyelamatkan kami. Tapi di pikiranku, aku tidak dapat tidak berpikir: “Ini adalah hari terakhir dalam hidupku.”

Setelah beberapa detik, getaran itu berhenti. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan. Lalu getaran itu datang lagi. Lalu kita kembali berdoa. Gempa bumi itu berakhir kurang dari satu menit, tapi saat itu, terasa seperti selamanya. Getaran itu pada akhirnya berhenti dan kami dapat menuruni tangga dengan normal.

Beberapa jemaat tetap berada di ruangan dan menyanyi, “Dhanyabaad Yesu mero man dheki”, yang artinya “Terima kasih Yesus dari dalam hatiku”. Air mata membasahi mataku melihat mereka bernyanyi kepada Tuhan.

Tiba-tiba, ada sejumlah petugas di luar. Aku tidak dapat benar-benar mengerti apa yang terjadi karena aku kurang menguasai bahasa Nepal. Kami melihat beberapa orang berlari menuju gerbang biru gereja yang besar dan menutup gerbang itu. Kemudian kami baru mengetahui bahwa ada sekumpulan gajah yang menyerbu di luar dan mereka mau mencegah gajah-gajah itu masuk ke lingkungan gereja. Situasinya terasa begitu sulit dipercaya.

Kemudian, ketika kami berjalan pulang, kami melihat banyak batu bata yang mengelilingi rumah-rumah orang-orang telah runtuh. Orang-orang berkumpul dalam kelompok-kelompok di tanah lapang terbuka, dan banyak yang berusaha menelepon. Di salah satu tempat, sebuah rumah berlantai tiga telah benar-benar hancur, dan polisi sedang mencoba untuk mengambil puing-puing yang ada. Sekitar 100 orang berkumpul di sana, beberapa menonton, beberapa mengambil foto. Kami tidak yakin apakah ada korban jiwa.

Selama sekitar satu jam, kami merasa seperti tanah di bawah kami bergoyang. Ada banyak kejutan-kejutan susulan di hari itu—dan beberapa hari, minggu, dan bulan setelahnya. Untuk beberapa hari berikutnya, kami tidur di tenda. Setiap pagi, kami menyanyikan lagu “10.000 Reasons” untuk mengingatkan kami bahwa setiap hari adalah hari untuk kita syukuri, dan berharap segala sesuatu menjadi lebih baik.

Orang-orang yang berbeda memberikan reaksi berbeda terhadap musibah itu. Beberapa rekan kerjaku mengalami trauma kecemasan pascatragedi dan harus pulang ke negara asal mereka untuk mendapatkan bantuan profesional dan menjalani proses pemulihan. Bagiku, aku tahu Tuhan memanggilku untuk tetap tinggal di sana—meskipun duta besar Singapura di New Delhi dan Menteri Luar Negeri telah menghubungi ibuku untuk bertanya tentang keadaanku dan menawarkan diri untuk mengevakuasi diriku. Saat itu, aku yakin bahwa aku harus tetap tinggal di sana sehingga aku dapat bersama orang-orang Nepal di sana, dan aku bersyukur karena orangtuaku menghormati keputusanku. Akhirnya aku tinggal di Nepal selama 18 bulan—hingga bulan Juli tahun ini.

Apakah gempa bumi itu masih berpengaruh kepadaku sekarang, setelah aku kembali ke Singapura?

Ya, dalam beberapa hal. Hingga sekarang, setiap kali aku mendengar suara yang serupa dengan alarm gempa bumi, tubuhku secara otomatis menjadi kaku dan langsung bereaksi seakan ada bahaya. Di minggu pertamaku setelah aku pulang ke rumah, ada beberapa kali ketika aku merasa tempat tidurku seperti bergoyang ketika aku sedang berbaring. Dan ketika aku naik kapal, getaran kapal yang ada di bawahku mengingatkanku akan gempa bumi itu.

Apakah itu berarti aku masih mengalami trauma? Tidak. Itu hanyalah sebuah “kebiasaan” yang aku perlu belajar hadapi. Melalui pengalamanku akan gempa bumi itu, aku kini mengerti lebih dalam akan ayat Alkitab dalam Yesaya 54:10, yang berbunyi, “Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.”

Di tengah kekacauan, Tuhan tetap tidak tergoyahkan.

Baca Juga:

Aku Menjalani Hidup yang Sulit di Afrika, tapi Aku Bersyukur Karena Satu Hal Ini

Aku tinggal di Nigeria, sebuah negara yang menjadi pemenang negara paling optimistis di dunia tahun 2011 dan negara paling bahagia ke-6 di Afrika tahun 2016. Selama aku tinggal di negara ini, aku belajar sesuatu.

Aku Menjalani Hidup yang Sulit di Afrika, tapi Aku Bersyukur Karena Satu Hal Ini

aku-menjalani-hidup-yang-sulit-di-afrika

Oleh Debra Ayis, Nigeria
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Africa: The Secret Behind Faith And Hope

Aku tinggal di Nigeria, sebuah negara yang menjadi pemenang negara paling optimistis di dunia tahun 2011 dan negara paling bahagia ke-6 di Afrika tahun 2016. Selama aku tinggal di negara ini, aku belajar sesuatu. Seringkali yang penting bukanlah seberapa kaya kita terlihat di penampilan luar, tapi seberapa kaya kita di dalam diri kita.

Tidak peduli apa pun situasi yang kita hadapi, kita selalu mempunyai pilihan: tenggelam dalam kesedihan atau berharap yang terbaik; menyalahkan lingkungan atau mengizinkan mereka membangun karakter kita; mengeluh sepanjang waktu atau bersyukur untuk setiap hasil positif.

Ketika aku dibesarkan, keluargaku dipandang “beruntung” di mata banyak orang karena kedua orangtuaku mempunyai pekerjaan untuk menghidupi keluarga mereka. Meskipun demikian, kami tinggal di apartemen dengan 3 kamar tidur yang tidak memiliki keran air, dan listrik hanya datang sewaktu-waktu. Ketika tidak ada listrik, kami menggunakan lentera dan seringkali tidur di luar rumah, menikmati lingkungan sekitar dan membiarkan angin yang sejuk menerpa kami.

Seperti banyak keluarga lainnya, ketika aku dibesarkan aku juga mengenal bagaimana rasanya kelaparan. Namun, selain itu aku juga belajar, di usia yang dini, untuk berbicara kepada Tuhan dan memiliki iman kepada-Nya. Aku berusia 5 tahun ketika aku menerima Kristus.

Saat itu, aku mulai mengerti mengapa ibuku memberi makan aku dan saudara-saudaraku satu sendok kacang rebus untuk sarapan kami, tapi ibuku sendiri tidak makan.

Aku mengerti mengapa ibuku harus meminjam garam untuk memasak makanan kami.

Aku mengerti mengapa ciciku memetik buah dalam kebun kami yang kecil sehingga dia dapat menjualnya ke anak-anak sekolah untuk mendapatkan cukup uang bagi kami untuk membeli makan siang.

Aku mengerti mengapa peternak sapi diizinkan memberi makan sapi-sapinya di halaman depan rumah kami sebagai ganti susu sapi segar.

Aku mengerti mengapa kami mendapat baju baru hanya pada saat Natal.

Aku mengerti mengapa kami mengais tanah yang baru dipanen untuk mencari kentang-kentang dan kacang tanah yang terjatuh.

Aku juga mengerti mengapa kami harus mencari air setiap hari dari sebuah sumur atau lubang.

Tapi, aku tidak kecewa dengan ini semua. Aku selalu memiliki iman bahwa Allah akan menjaga keluarga kami dan menyediakan apa yang kami perlukan setiap hari (Mazmur 37:19).

Kisahku tidaklah terlalu berbeda dengan kebanyakan orang lain di benuaku. Meskipun tingginya tingkat pengangguran dan banyaknya masalah sosial dan ekonomi di sekitarku, aku telah menyaksikan orang-orang menemukan sukacita ketika berbagi “satu sendok kacang” mereka dengan tetangga-tetangga yang membutuhkan. Aku melihat keluarga-keluarga dan komunitas-komunitas datang bersama untuk menghadapi berbagai tantangan, percaya sepenuhnya di tengah berbagai kesulitan, bahwa tidak ada yang dapat memisahkan mereka dari kasih Allah (Roma 8:31-39). Aku juga telah melihat saudara-saudari dalam Kristus bersatu bersama dalam pengharapan yang seakan mustahil, percaya hanya kepada satu nama yang berkuasa (Kisah Para Rasul 4:12).

Dan aku telah menyaksikan berbagai mukjizat pemeliharaan Tuhan seperti yang ada di dalam Alkitab, karena iman yang teguh kepada Tuhan yang empunya segalanya. Aku telah melihat Tuhan datang kepada para saudara-saudari yang mengorbankan segala yang mereka punya, sampai koin mereka yang terakhir, untuk memberitakan Injil.

Sepanjang hidupku, aku menyadari bahwa aku butuh berdoa setiap hari untuk kebutuhan-kebutuhan kami, seperti yang ada dalam Doa Bapa Kami (Matius 6:9-16). Namun, itu justru membuatku menyadari betapa aku membutuhkan Tuhan dalam kehidupanku. Aku menjadi benar-benar mengerti arti dari “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” yang ada dalam Doa Bapa Kami. Percaya kepada Tuhan menjadi sesuatu yang nyata. Situasi hidupku telah membuatku mengandalkan Dia untuk memimpin, melindungi, menjagaku. Dan hal itu membuatku semakin dekat dengan Tuhan, sesuatu yang lebih berharga daripada harta yang berlimpah.

Tuhan memberikan ujian kepada kita untuk membawa kita mendekat kepada-Nya. Untuk itu, aku memuji Dia dan senantiasa bersyukur karena aku telah dilahirkan di Nigeria.

Baca Juga:

Perpisahan Brad Pitt & Angelina Jolie – Inikah Akhir dari Cinta?

Itulah yang dikatakan dalam beberapa artikel, setelah berita yang merebak kemarin tentang pasangan emas Hollywood, Angelina Jolie dan Brad Pitt, yang mengakhiri pernikahan mereka yang berusia 2 tahun—setelah 12 tahun hidup bersama dan memiliki 6 anak.

Perpisahan Brad Pitt & Angelina Jolie – Inikah Akhir dari Cinta?

Oleh Joanna Hor, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Brangelina Split – The End of Love?

Itulah yang dikatakan dalam beberapa artikel, setelah berita yang merebak kemarin tentang pasangan emas Hollywood, Angelina Jolie dan Brad Pitt, yang mengakhiri pernikahan mereka yang berusia 2 tahun—setelah 12 tahun hidup bersama dan memiliki 6 anak.

Berdasarkan dokumen-dokumen yang didapat dari berbagai agen surat kabar, aktris ternama dan sutradara Angelina Jolie mengakhiri pernikahannya dengan aktor Brad Pitt karena “perbedaan yang tidak dapat diperdamaikan”. Media berita lainnya mengatakan bahwa keputusan Angelina Jolie—yang pengacaranya deskripsikan secara samar dilakukan “untuk kebaikan keluarga”—mungkin dipicu oleh perbedaan dalam cara mengasuh anak atau masalah kemarahan Brad Pitt dan isu KDRT.

Angelina Jolie telah berulang kali meminta hak pengasuhan untuk keenam anak mereka dan izin bagi Brad Pitt untuk dapat mengunjungi mereka; dia tidak meminta untuk terus dinafkahi. Bagaimana dengan Brad Pitt? Berita-berita mengatakan bahwa dia “sangat sedih” karena perceraian itu dan memikirkan tentang “kesejahteraan anak-anaknya”.

Berita tentang perpisahan mereka telah membuat dunia berguncang, banyak yang mengekspresikan kesedihan mereka akan akhir dari Brangelina, julukan yang diberikan oleh media untuk hubungan mereka. Tapi mengapa dunia begitu kaget akan perpisahan mereka? Bukankah, kalau mau jujur, ada banyak pernikahan dan perceraian yang terjadi di Hollywood.

Mungkin itu karena kita percaya bahwa Brangelina berbeda. Sepanjang 12 tahun hubungan mereka, kita telah melihat komitmen pasangan tersebut dalam pekerjaan profesional mereka, pekerjaan kemanusiaan mereka, hubungan mereka satu dengan yang lain, dan terhadap anak-anak mereka. Seperti yang dikatakan oleh salah satu artikel di media Independent, “Meskipun mereka sangat kaya dan tinggal ribuan mil jauhnya dari kebanyakan orang-orang Inggris, hubungan Brangelina mungkin adalah hubungan yang paling aspiratif—tidak ada luapan kemarahan, tidak ada teriakan, tidak ada pengkhianatan yang besar, hanya terus maju dalam hidup, bahkan dengan stress dan tekanan akan penyakit, operasi, dan 6 anak yang mereka miliki.” Singkatnya, mereka terlihat seperti pasangan Hollywood teladan.

Mungkin itulah mengapa banyak kaum milenial yang memberikan reaksi terhadap berita perceraian Brangelina dengan pemikiran “Jika mereka tidak dapat melakukannya, tidak ada seorangpun yang bisa”. Dan mungkin itulah mengapa banyak media memilih untuk menggunakan kata-kata berikut untuk menjadi judul berita mereka akan kasus perceraian ini: “Cinta sudah resmi mati” dan “Cinta berakhir hari ini”.

Namun tidak semua orang setuju. Seperti penulis Mashable, Martha Tesema, yang menulis, “Cinta masih jauh dari mati. Itu masih sangat hidup, bertumbuh dalam ribuan pasangan-pasangan yang luar biasa di dunia ini yang kita kagumi.”

Martha benar dalam satu hal—cinta masih jauh dari mati. Akhir dari Brangelina tidak berarti cinta menjadi punah. Sebesar apapun rasa kagum kita akan segala hal yang mereka raih, mereka hanyalah manusia yang fana—sama seperti setiap dari kita. Mereka juga dapat melakukan kesalahan, berkelahi, dan berpisah.

Namun, untuk menghibur dengan mengatakan bahwa cinta terus “hidup” karena pernikahan banyak pasangan luar biasa masih berkembang itu benar-benar naif—dan, jika aku boleh tambahkan, bodoh. Jika bukan untuk hal yang lain, perpisahan Brangelina seharusnya membunyikan alarm dalam pikiran kita bahwa tidak seorang pun menjadi kebal terhadap hubungan yang rusak. Meskipun kita adalah Presiden Amerika atau pemain sepak bola Inggris yang paling terkenal, kita semua dapat jatuh. Hanya dengan kekuatan kita sendiri, kita takkan pernah dapat menjamin konsistensi cinta kita kepada pasangan kita—dan sebaliknya.

Jadi siapakah yang harus kita pandang? Itu cukup jelas, kan?

Kristus.

Cinta masih jauh dari mati—karena Kristus. Itu masih sangat hidup, bertumbuh dalam diri orang-orang yang menerima kasih Kristus.

Jadi kiranya kita dikuatkan, bukan di dalam diri kita sendiri, tetapi di dalam Dia yang kasih-Nya tidak pernah gagal. Karena Dia telah lebih dahulu mengasihi kita, kita dapat terus mengasihi (1 Yohanes 4:19).

Photo credit: Filmstiftung via Foter.com / CC BY

Baca Juga:

Doa bagi Mereka yang Menderita

Peperangan. Kejahatan. Pembunuhan. Penindasan. Teror. Penyalahgunaan narkoba. Ini adalah doa Morentalisa bagi mereka yang menderita di dunia ini.

#KamiTidakTakut—Benarkah?

Penulis: C.S. Puspita

Kami-tidak-takut

14 Januari 2016 adalah hari yang patut diingat dalam sejarah. Tidak lama setelah berita-berita mencekam terkait enam bom yang meledak di Jakarta Pusat beredar di berbagai media, muncul kampanye masif dari para netizen: Kami Tidak Takut, disusul pernyataan senada dari presiden sendiri. Masyarakat diajak untuk berpikir jernih dan tidak terintimidasi oleh aksi terorisme yang disebut-sebut didalangi oleh kelompok tertentu. Ajakan yang sangat positif!!! Bila kita membiarkan diri kita dikuasai oleh ketakutan, sangat mungkin kita melakukan hal-hal yang bodoh. Misalnya, menyebarluaskan berita yang keliru dan membesar-besarkan keresahan yang tidak perlu. Hal-hal penting yang seharusnya kita lakukan bisa jadi terhambat. Ketakutan yang dibiarkan menguasai pikiran akan sangat mudah melumpuhkan kemampuan kita untuk bertindak bijaksana.

Sebagai orang Indonesia, aku merasa sangat bangga dan ikut bersemangat. Seingatku, ketika aksi serupa melanda negara lain, tidak ada tanggapan yang semacam itu. Yang banyak beredar adalah reaksi emosional membenci kelompok tertentu dan keinginan balas dendam (yang sebenarnya membuat situasi tambah mencekam).

Ajakan ini mendapat respons yang luar biasa. Media sosial dipenuhi dengan hashtag #kamitidaktakut, #jakartaberani, dan sejenisnya. Saking semangatnya, ada yang bahkan mewanti-wanti agar jangan menggunakan hashtag #prayforjakarta atau menyebar ajakan berdoa bagi bangsa. Alasannya, nanti ekonomi bisa anjlok dan aksi teroris makin menjadi-jadi. Alasan yang menurutku agak membingungkan.

Sampai pada titik ini, aku jadi bertanya, “mengapa?” Apakah sikap tidak takut bertolak belakang dengan tindakan berdoa? Mungkinkah selama ini, doa dianggap sebagai tindakan yang lemah dan penakut?

Mungkinkah kita tidak ingin dunia melihat kita “berdoa” karena kita “takut” dianggap sebagai para “penakut”?

Bila demikian, apakah kita sedang jujur pada diri sendiri ketika memproklamasikan pada dunia “kami tidak takut”? Atau, jangan-jangan kita sebenarnya sedang menutupi ketakutan kita dengan topeng seorang pemberani?

Aku jadi teringat akan perkataan tegas Yesus ketika mengutus para murid memberitakan kebenaran, melawan yang jahat, menolong yang lemah, menyembuhkan yang sakit. Dia berkata,

“Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekor pun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit” (Matius 10:28-31).

Yesus tidak meminta para pengikut-Nya untuk menghilangkan rasa takut sama sekali. Bagi Yesus, rasa takut itu tidak salah bila objeknya benar, yaitu Allah sendiri. Hidup mati kita ada di tangan Allah, dan segala sesuatu yang kita lakukan kelak harus kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Sebab itu, sudah sepantasnya kita takut akan Dia. Justru bahaya kalau kita tidak lagi punya takut akan Allah di hati kita, lantas merasa berbuat dosa itu tidak apa-apa. Justru bahaya kalau kita merasa lebih hebat dari Allah dan tidak lagi membutuhkan pertolongan-Nya.

Sebaliknya, Yesus menegaskan bahwa para pengikut-Nya tidak perlu takut kepada orang-orang yang menghalangi mereka berbuat baik, yang akan membenci dan menganiaya mereka. Mengapa? Pertama, karena orang-orang itu adalah manusia biasa yang juga terbatas, dan bila mereka memilih berbuat jahat, mereka harus berurusan dengan Allah sendiri. Kedua, karena orang-orang itu bukan penentu hidup dan mati kita. Kalaupun sudah tiba waktu kita menghadap Allah, kita tidak perlu takut jika kita telah hidup di dalam jalan-Nya. Kita malah berbahagia karena bisa bebas dari orang-orang jahat itu selamanya.

Lirik lagu Panji Pragiwaksono, Kami Tidak Takut, sedikit banyak menyiratkan keyakinan akan hal yang sama:

Teroris yang berbahagia
Puas-puaskanlah kau tertawa
Atau bahkan kau simpan semua
Kenang-kenanganmu hidup di dunia

Karena kami bangsa Indonesia
Sudah muak dan kami tak takut
Kami maju dan kamu tersudut
Di neraka kavlingmu menunggu

Allah akan menegakkan keadilan pada waktu-Nya! Dengan jaminan ini, sebenarnya kita tidak perlu ragu menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah bangsa yang tidak takut akan aksi teror, dan pada saat yang sama kita juga adalah bangsa yang takut akan Allah.

Rasa takut itu manusiawi. Dalam batas tertentu rasa takut menolong kita untuk tidak congkak, menyadarkan kita akan keterbatasan kita. Namun, sebagai orang-orang yang takut akan Allah, kita tidak perlu dilumpuhkan oleh rasa takut. Yang perlu kita lakukan adalah mengarahkan rasa takut kita kepada Allah.

Kita tidak akan membiarkan rasa takut membuat kita berhenti untuk melawan kejahatan, untuk saling mengasihi, untuk saling menolong, bahkan untuk terus berbuat baik, berkarya bagi kesejahteraan kota kita, sebagaimana yang diperintahkan Allah. Dan pastinya, kita tidak akan membiarkan rasa takut membuat kita berhenti untuk berdoa. Doa adalah tindakan bijaksana yang mengarahkan rasa takut kita ke tempat yang seharusnya. Ketika kita menjalani hidup bersama Pribadi yang paling berkuasa di jagat raya, tidak ada lagi hal yang terlalu menakutkan di dunia ini.

Aksi teror bisa datang lagi, namun kita dapat menghadapinya bersama Allah, seperti kata pemazmur dalam Mazmur 56:12: “kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”

Allah di Balik Kabut Asap

Penulis: Markus Boone

kabut-asap-2015
Sumber foto: daerah.sindonews.com, 22 Oktober 2015

Kemarau panjang beberapa bulan kemarin mungkin membuat hati kecil kita bertanya-tanya, mengapa Allah tidak kunjung mendatangkan hujan; mengapa Dia membiarkan bencana asap melanda dan menyebabkan jutaan orang menderita sakit karena asap yang begitu pekat masuk dalam hidung, tenggorokan dan paru-paru mereka. Pertanyaan senada mungkin pernah (dan akan) terbersit di benak kita ketika hujan terus turun dan bencana banjir menyapa. Mengapa Allah membiarkan bencana datang? Apakah Allah kurang berkuasa? Ataukah mungkin Dia kurang peduli?

Setidaknya ada beberapa hal yang menurutku bisa kita renungkan tentang pribadi Allah di balik bencana kabut asap yang hampir setiap tahun terjadi.

1. Allah konsisten dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya

Bayangkanlah seorang guru yang membuat peraturan dalam kelas, tetapi sangat sering mengubah-ubah peraturan yang dibuatnya sendiri. “Hari ini peraturan nomor satu tidak berlaku ya, besok saja berlakunya.” Lalu seminggu kemudian ia berkata, “Minggu ini peraturan yang kemarin saya umumkan tidak jadi berlaku karena ada murid-murid yang tidak setuju.” Apa kesan kita terhadap guru yang demikian?

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika setiap kali kita berdoa Allah mengubah hukum-hukum alam yang dirancang-Nya sendiri. Kekacauan! Begitu gereja berdoa, Allah langsung memadamkan api di hutan. Orang-orang yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan tidak jadi dihukum. Pemerintah tidak merasa perlu berusaha keras memperbaiki sistem pengawasan dan pelestarian lingkungan. Penduduk tidak akan sadar betapa pentingnya menjaga alam yang dikaruniakan Allah. Apapun yang dilakukan orang dengan hutan setiap tahunnya, semua akan baik-baik saja. Tidak ada panggilan pertobatan.

Di balik kabut asap kita melihat Allah yang konsisten dengan apa yang sudah dirancang-Nya. Dia bukan Allah yang kebingungan dalam menegakkan aturan untuk alam ciptaan-Nya sendiri (Mazmur 119:89-91). Bencana kabut asap, sebagaimana halnya masalah lubang ozon dan pemanasan global, terjadi karena ulah manusia yang tidak bertanggung jawab. Tidak bisa dibereskan hanya dengan mengeluh dalam doa dan menuntut Allah melakukan “hal-hal ajaib”. Perlu ada refleksi sekaligus reformasi dalam kehidupan setiap kita, bagaimana kita menyikapi alam yang dikaruniakan Tuhan. Polisi, jaksa, dan hakim harus menegakkan keadilan bagi orang-orang yang merusak alam. Pemerintah harus membuat peraturan yang lebih jelas serta menciptakan infrastrukur yang dapat mencegah terulangnya kebakaran hutan dalam skala masif.

2. Allah baik dan panjang sabar terhadap umat manusia

Mengapa kita dan jutaan orang lainnya merasa prihatin sekaligus marah dengan munculnya kabut asap? Pertama-tama tentunya karena kabut asap membawa dampak yang buruk. Tiba-tiba kita merasa sangat terganggu karena ada begitu banyak hal baik yang direnggut dari kehidupan kita (atau sesama kita) oleh asap. Kebebasan beraktivitas, jarak pandang yang jauh ke depan, udara yang bersih dan segar, kesehatan, keindahan alam, bahkan nyawa orang-orang yang kita kasihi. Anugerah yang mungkin kerap kurang kita sadari dan syukuri ketika semua baik-baik saja.

Kedua, kita prihatin dan marah karena tahu bahwa bencana asap tidak tidak terjadi dengan sendirinya. Pepatah lama berkata, “di mana ada asap di situ ada api”. Memang ada faktor cuaca yang membuat bencana ini berkepanjangan. Namun, penyebab utamanya adalah ulah pihak-pihak tertentu yang sengaja merusak dan membakar hutan untuk kepentingan mereka.

Kalau kita saja prihatin dan marah, tidakkah Allah, Pemilik alam ini jauh lebih berhak untuk prihatin dan marah? Tidak hanya kepada para pembakar hutan, tetapi kepada setiap manusia yang tidak menghargai dan memelihara alam ciptaan-Nya dengan baik. Bencana asap terjadi bukan karena Allah mengabaikan manusia, melainkan karena manusia mengabaikan Allah dan tidak peduli kepada alam semesta yang dipercayakan-Nya kepada manusia.

Di balik kabut asap kita melihat Allah yang sesungguhnya telah mencurahkan banyak hal baik dalam hidup manusia, sekaligus yang sabar terhadap manusia yang tidak menghargai segala pemberian baik-Nya. Allah bukannya menutup mata terhadap dosa. Ada hari yang telah ditetapkan-Nya untuk menghakimi dan menghukum semua orang yang melawan Dia (Kisah Para Rasul 17:31). Namun, saat ini, Dia masih memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk bertobat (2 Petrus 3:9).

3. Allah menyediakan pilihan bagi manusia dan pemulihan bagi seluruh ciptaan-Nya

Menyadari bahwa banyak bencana yang terjadi—termasuk bencana kabut asap—bersumber dari pilihan-pilihan yang diambil manusia sendiri, pertanyaan yang mungkin timbul adalah: mengapa sejak awal Allah memberikan manusia kebebasan untuk memilih? Bukankah Allah tahu kalau manusia kerap salah memilih? Tidakkah lebih baik bila manusia tidak diberi pilihan?

Bayangkanlah sebuah dunia tanpa pilihan. Mungkin tidak ada bencana kabut asap di sana. Tetapi tidak ada pula kegairahan mengeksplorasi alam dan mengembangkannya. Berbagai pengembangan varietas tanaman baru yang tahan hama dan kaya nutrisi kini bisa dinikmati dan mencukupkan kebutuhan pangan banyak orang di dunia. Hal-hal luar biasa ini terjadi ketika manusia memilih untuk menjadi rekan dan bukan musuh alam. Allah menciptakan manusia untuk menyatakan kehadiran, pemeliharaan, dan kebijakan-Nya kepada segenap ciptaan lainnya (Kejadian 1:26-28). Sebab itu kita diciptakan berbeda, punya akal budi, bisa memilih.

Benar bahwa pilihan-pilihan manusia yang telah jatuh dalam dosa tidak lagi mencerminkan tujuan Sang Pencipta, dan justru kerap membawa bencana (seperti bencana kabut asap). Namun, Alkitab memberitahukan kita sebuah kabar baik. Allah menyediakan pemulihan bagi setiap orang yang mau bertobat (2 Tawarikh 7:14). Dan, pertobatan manusia akan membawa pemulihan juga bagi segenap alam, karena manusia yang bertobat kini kembali akan menjalankan perannya sebagai pengelola yang baik dari alam ciptaan Allah. Bahkan suatu hari kelak, ketika Kristus datang kembali, kita akan hidup bersama-Nya dalam langit dan bumi yang baru (Wahyu 21). Sebuah pemulihan total!

Di balik kabut asap, kita melihat Allah yang menciptakan kita secara istimewa di antara segenap ciptaan-Nya. Dia memberi kita kemampuan untuk berpikir, memilih, berkreasi, menyatakan kehebatan dan kebijaksanaan-Nya di tengah alam semesta. Kita juga melihat Allah yang pemurah, yang menyediakan pemulihan bagi setiap manusia yang mau bertobat, dan bagi segenap ciptaan-Nya.

Bagaimanakah kita akan menanggapi Allah di balik kabut asap?

 

Walau banyak mulut yang meratap
Karena siksaan dari serbuan asap
Janganlah berpikir Allah tidak mendekap
Oleh karena Dia tetap Allah yang mantap

Manusia jangan hanya meratap
Tapi pikir baik-baik kenapa ada asap
Yang tak bertobat jangan merasa mantap
Oleh karena penghukuman datang berderap

Apakah Kamu Merasa Gelas Merah Starbucks Merendahkan Natal?

Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Are You Seeing Red Over Starbucks’ Latest Cup?
Sumber Foto: The Christian Post/Napp Nazworth

gelas-merah-starbucks

Setidaknya ada satu orang yang merasa demikian. Dan ia mengungkapkan ketidaksenangannya dalam sebuah video yang diunggah di halaman Facebook pada tanggal 5 November. Video tersebut menyebar luas dengan sangat cepat.

Dalam video berdurasi satu menit lebih yang ditonton lebih dari 15 juta kali itu, Joshua Feuerstein, seorang Amerika yang menyebut dirinya sendiri sebagai seorang “evangelist” [penginjil], dengan berapi-api bicara tentang gelas musiman Starbucks yang belum lama ini keluar. Menurutnya, gelas berwarna merah polos itu merupakan sebuah usaha untuk “menyingkirkan Kristus dan Natal dari gelas terbaru mereka”.

Ya, kamu tidak salah baca. Menurutnya, gelas berwarna merah polos yang dikeluarkan Starbucks itu merupakan sebuah serangan terhadap Kristus, orang Kristen, dan perayaan Natal. Tidak peduli bahwa pihak Starbucks sudah memberi keterangan bahwa desain gelas mereka tahun ini sengaja dibuat polos sebagai “ruang bagi setiap pelanggan untuk membuat cerita mereka sendiri”. Tidak peduli bahwa sebenarnya desain-desain gelas Starbucks di musim Natal sebelumnya juga tidak ada kaitannya dengan kelahiran Kristus (hanya menampilkan ornamen kertas kado, boneka salju, Santa, dan ranting tanaman holly). Tidak peduli bahwa yang dipermasalahkan hanyalah sebuah gelas belaka. Feuerstein tidak peduli dengan semua itu.

Tampaknya bagi Feuerstein semua itu tidak penting karena menurutnya orang-orang Kristen memiliki hak sekaligus kewajiban untuk meninggikan Kristus kapan pun dan dalam cara apa pun. Pendapat yang sepertinya benar … tetapi coba pikirkan beberapa pertanyaan berikut:

1. Mengapa kita harus berharap bahwa sebuah perusahaan yang tidak pernah merayakan kelahiran Kristus akan menampilkan simbol-simbol kelahiran-Nya?

2. Apakah usaha “memaksa” Starbucks menunjukkan peristiwa Natal dan pribadi Yesus dalam gelasnya akan membawa orang lebih mengenal dan menghargai Yesus Kristus?

3. Tidakkah kehebohan hanya karena sebuah gelas berwarna merah polos justru bisa menyebabkan orang menganggap remeh ajaran Kristen dan menjauh dari Yesus?

Sebagai umat Kristen, kita tahu bahwa makna sejati perayaan Natal terletak pada pribadi Yesus Kristus, yang telah datang ke dalam dunia untuk tinggal di antara manusia, dan pada akhirnya mati di atas salib agar kita dapat diselamatkan dari dosa-dosa kita. Namun, kita tidak akan dapat memberitakan kebenaran ini hanya dengan memaksa orang lain atau perusahaan-perusahaan seperti Starbucks untuk menampilkan apa yang kita yakini. Kita perlu lebih peduli tentang bagaimana mengarahkan orang mengenal Kristus daripada meributkan soal ornamen perayaan.

Dan, cara terbaik merayakan Natal bukanlah dengan menampilkan berbagai simbol untuk dilihat orang, tetapi dengan hidup bagi Yesus dan membagikan kasih-Nya setiap hari. Dengan begitu, kita dapat menginspirasi dan membawa orang lain menjalani hidup yang sama.

Daripada meributkan tentang gelas merah Starbucks, kita bisa melakukan sesuatu yang positif dengan sebuah gelas. Menjelang perayaan Natal tahun ini, ayo luangkan waktu untuk mengajak seorang teman menikmati kopi atau minuman lain (dalam gelas warna apa pun), dan ceritakanlah kepadanya tentang kasih Kristus yang telah mengubah hidupmu.

Haruskah Kita Berhenti Menggunakan Media Sosial?

Penulis: Joanna Hor
Artikel asli dalam Bahasa Inggris: Quitting Social Media: What’s the big deal?

Essenaoneil
Image copyright Instagram: Essenaoneill

 
Kamu tentu sudah mendengar tentang Essena O’Neill.

Jika belum, kamu bisa membaca beritanya. Essena adalah seorang bintang Instagram asal Australia berusia 18 tahun yang telah mengumpulkan lebih dari 500.000 pengikut di Instagram, 200.000 pengikut di YouTube dan Tumblr, dan 60.000 pengikut di Snapchat. Pada tanggal 2 November ia membuat heboh media di seluruh dunia dengan mengumumkan secara resmi bahwa ia memutuskan berhenti menggunakan media sosial.

Alasannya? Ia ingin menunjukkan sisi gelap dari media sosial dan mengungkap “kebenaran” di balik kehidupannya yang dari luar tampak sempurna. Dalam video berdurasi 18 menit yang diunggah di akun YouTubenya sebelum akun itu ditutup, Essena menjelaskan bagaimana ia telah menjadi terobsesi dengan jumlah orang yang melihat, menyukai, dan menjadi pengikutnya di media sosial. Ia juga berterus-terang bahwa ia sengaja membuat foto-foto diri yang cantik dengan tujuan menarik lebih banyak pengikut. Ia rela puasa berhari-hari demi mendapatkan bentuk tubuh yang ideal untuk difoto, berpose lebih dari 200 kali demi mendapatkan satu foto yang pas untuk diunggah di Instagram, dan memastikan posenya itu menampilkan sisi terbaik dari dirinya. Namun, meski ia menuai perhatian dari ratusan ribu pengguna media sosial, ia mengaku merasa kosong dan makin sensitif dengan pendapat orang lain terhadap dirinya.

Kini Essena ingin menjadi seorang “pembawa perubahan”. Ia ingin menginspirasi orang lain agar mereka tidak menghabiskan waktu mencari perhatian, tetapi melakukan apa yang dapat membuat diri mereka bahagia. Ia sendiri mulai membuat situs web untuk mempromosikan “gaya hidup vegetarian, nutrisi dari tanaman, kesadaran akan lingkungan hidup, isu-isu sosial, kesetaraan gender, dan karya seni kontroversial”.

Banyak orang mendukung langkah perubahan yang diambil Essena. Namun, banyak juga yang mengkritiknya habis-habisan, menganggap ia hanya sedang berusaha menarik perhatian publik dengan cara yang berbeda. Salah satu tulisan di situs web Mashable memberi catatan bahwa perubahan yang dibuat oleh remaja putri itu justru akan membawanya muncul lebih banyak di media. “Sebuah langkah yang aneh untuk seseorang yang mengaku tidak ingin lagi mencari perhatian publik,” demikian komentar situs web tersebut.

Bagaimana seharusnya kita menanggapi apa yang dilakukan Essena? Perdebatan tentang seberapa tulus dan bijak gadis ini tidak akan ada habisnya. Namun mungkin kita semua bisa sependapat untuk satu hal: setiap kita pada dasarnya cenderung berpusat pada diri sendiri dan selalu menginginkan pengakuan orang lain. Minimal, kita ingin sedikit dihargai. Baik dalam media sosial, komunitas teman-teman, atau lingkungan kerja, kita selalu mencari pengakuan dan penghargaan orang lain—mungkin dalam bentuk “like” [suka] di Facebook, acungan jempol, atau tepukan di pundak.

Berhenti menggunakan media sosial bisa jadi dapat menolong kita untuk tidak terobsesi dengan keinginan mendapatkan penghargaan orang lain. Namun, benarkah tindakan itu dapat menyelesaikan masalah? Mungkinkah keinginan kita untuk selalu diakui dan dihargai orang lain akan muncul lagi dalam bentuk lainnya, membuat diri kita kembali merasa kosong dan serba kurang?

Mungkin inilah saatnya kita belajar mengenali akar masalah dan tidak hanya mengomentari gejala. Menyalahkan media sosial sebagai penyebab tumbuhnya obsesi kita mungkin tidak seharusnya kita lakukan. Mengingatkan diri sendiri berulang-ulang bahwa identitas kita tidak ditentukan oleh pendapat orang lain mungkin tidak cukup. Sebaliknya, mungkin kita perlu belajar mengakui bahwa setiap kita memiliki ruang kosong dalam diri kita, kekosongan yang haus untuk diisi dengan pengakuan dan penghargaan terhadap keberadaan diri kita. Kita harus berani bertanya pada diri sendiri: adakah cara mengendalikan keinginan hati kita yang selalu haus pujian orang lain ini? Adakah cara lain untuk mengukur harga diri kita? Pendapat siapa yang harus kita dengarkan?

Mungkin solusinya adalah mengisi ruang kosong dalam diri kita itu dengan sesuatu yang lain. Dalam dunia yang nilainya sangat mudah berubah, kita perlu mengarahkan pandangan kita kepada satu-satunya Pribadi yang tidak pernah berubah—Dia yang menciptakan dan membuat keberadaan kita berarti.

Ambillah waktu untuk merenungkan: sungguhkah kita menganggap apa yang dikatakan Allah itu penting dibandingkan semua pendapat yang ada?

Ketika kita sungguh-sungguh menganggap apa yang dikatakan Allah itu penting, jumlah orang yang menyukai status Facebook atau mengikuti akun instagram kita tidak lagi menjadi terlalu penting. Nilai diri kita sebagai ciptaan Allah tidak akan pernah berubah.