Belajar dari Albert McMakin, Tokoh di Balik Transformasi Billy Graham

Oleh Melisa Chen, Jakarta

Baru-baru ini kita mendengar berita meninggalnya Billy Graham, seorang penginjil yang sangat giat melayani Tuhan hingga akhir hidupnya. Melalui pelayanan Billy, banyak orang di berbagai penjuru dunia dapat mendengar Kabar Baik tentang Yesus. Selain sebagai penginjil, sosok Billy Graham juga pernah mendapatkan kehormatan sebagai penasihat presiden Amerika Serikat, dari Presiden Harry S. Truman hingga Presiden Donald Trump yang menjabat saat ini.

Billy Graham memang dipakai Tuhan dengan luar biasa dan kita pun mengenalnya sebagai pribadi yang hebat. Namun, tidak banyak dari kita tahu bahwa di balik nama Billy Graham itu ada seseorang yang amat berjasa bagi hidup Billy. Orang itu hanyalah orang sederhana, namun dia mau dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya hingga dia pun dapat membawa Billy kepada Kristus.

Orang itu adalah Albert McMakin, seorang upahan yang bekerja di lahan pertanian milik ayah Billy. Kala itu, ayah Billy memiliki usaha peternakan yang pengelolaannya diserahkan kepada para pegawainya, dan Albert McMakin adalah salah satu dari pegawai itu. Waktu itu, Albert baru bertobat dan mengenal Kristus, semangatnya berkobar-kobar.

Suatu ketika, di kota tempat Albert dan Billy tinggal, ada seorang penginjil keliling yang rutin datang berkhotbah. Albert sering mengajak tetangga dan teman-temannya untuk datang dan mendengarkan khotbah dari si penginjil itu. Beberapa dari orang yang diajak itu akhirnya ada yang menerima Kristus.

Hari-hari pun berjalan, hingga suatu hari Albert ingat kepada Billy, anak sang majikannya yang belum percaya Yesus. Saat itu, Billy adalah seorang remaja yang nakal, suka minum-minum. Albert pun memberanikan diri untuk mengajak Billy mendengarkan khotbah yang dibawakan si penginjil keliling itu, namun Billy menolaknya. Albert tidak putus asa, dia terus mengajak Billy. Setelah ditolak beberapa kali, Albert pun berdoa supaya Billy mau menerima ajakannya tersebut.

Setelah berdoa, Albert mendapatkan ide. Karena Billy tak mau diajak mendengar khotbah secara langsung, Albert meminta Billy untuk menyetir mobil pikap dan menjemput para tetangga dan teman yang akan pergi mendengarkan khotbah. Billy mengiyakan ajakan Albert dan setibanya di tempat khotbah itu, Billy duduk di dalam mobil bersama Albert seraya menunggu khotbah selesai lalu mengantarkan orang-orang itu pulang. Kejadian ini berlangsung beberapa kali dan Albert terus berdoa supaya Billy mau turun dari mobil, duduk, dan mendengarkan khotbah.

Setelah beberapa waktu berselang, Billy pun tergerak hatinya dan mau turun dari mobil. Hari itu, di musim gugur tahun 1934, kuasa Tuhan bekerja dalam hidup Billy dan Billy pun menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Keputusan Billy hari itu pada akhirnya membawa Billy menjadi seorang pelayan Tuhan yang setia, menjadi penginjil yang selalu giat mewartakan Kabar Baik hingga akhir kehidupannya.

Kisah tentang Albert McMakin dan Billy Graham ini kudengar dalam sebuah khotbah, kemudian aku pun mencari-cari detail kisahnya lebih lanjut di Internet. Buatku pribadi, kisah ini begitu menarik, bagaimana Tuhan memakai orang-orang biasa seperti Albert McMakin untuk mengerjakan pekerjaan yang luar biasa. Ada seorang penulis mengatakan bahwa tidak semua orang dapat menjadi Billy Graham, namun semua orang bisa menjadi Albert McMakin, orang biasa yang melakukan hal luar biasa.

Melalui kegigihan dan doanya, Albert McMakin akhirnya memenangkan Billy Graham kecil kepada Kristus. Aku jadi beranda-andai, seandainya kala itu Albert McMakin tidak mau peduli dengan hidup Billy, mungkin Billy tidak akan menjadi Billy Graham yang seperti kita kenal saat ini. Atau, mungkin Billy tetap dapat menjadi seorang penginjil hebat seperti saat ini dengan cara yang lain karena Tuhan berkuasa dan bisa memakai siapa pun untuk tujuan-Nya. Namun, jika hal itu terjadi, berarti Albert telah menyia-nyiakan kesempatan melayani yang Tuhan telah berikan untuknya.

Belajar dari kegigihan Albert, selama 2,5 tahun belakangan ini aku pun selalu mendoakan orang yang kukasihi. Aku berdoa supaya dia bisa mengenal Kristus dan hidupnya diubahkan. Kadang, ada rasa putus asa saat melihat bahwa hasil doa tersebut belum terwujud. Namun, kembali aku dikuatkan dari ketekunan Albert McMakin. Jika Tuhan begitu sayang pada Billy Graham hingga memberinya kesempatan untuk percaya kepada-Nya, aku pun percaya bahwa Tuhan pun sama sayangnya kepada temanku. Aku masih berpengharapan bahwa Tuhan akan memberi kesempatan kepada temanku itu untuk percaya kepada-Nya.

Inilah sedikit sharing dariku tentang kisah Albert dan Billy yang menginspirasi hidupku. Kiranya melalui kisah ini, aku dan kamu semakin tekun mendoakan orang-orang yang kita kasihi yang belum mengenal Tuhan.

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Aku Pernah Jatuh dalam Pacaran yang Tidak Sehat, Namun Tuhan Memulihkanku

Hubungan pacaran yang tidak sepadan membuatku jatuh ke dalam dosa. Malam itu aku menangis sejadi-jadinya karena aku tahu bahwa apa yang telah terjadi itu tidak dapat diperbaiki kembali. Namun, aku bersyukur karena Tuhan tidak meninggalkanku, Dia menolongku bangkit dari keterpurukan ini.

Surat kepada Jonghyun SHINee: Bagaimana Jika Seandainya Ada Harapan?

Oleh Lee Soo Yi, Malaysia
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 給SHINee金鐘鉉的一封信

Teruntuk Jonghyun,

Aku tidak percaya ketika mendengar berita bahwa kamu memutuskan bunuh diri. Aku tidak percaya berita ini sungguh nyata. Kupikir ini pasti hanyalah berita palsu, atau sekadar lelucon sakit yang dimainkan seseorang. Aku tidak bisa percaya bahwa seorang yang riang dan bahagia sepertimu memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Sampai akhirnya, ketika aku membaca berita dari berbagai media dan juga pernyataan resmi dari manajemenmu, aku merasa benar-benar terpukul bahwa memang kamu telah mengakhiri hidupmu sendiri. Aku tak akan pernah lagi bisa melihat wajahmu yang riang dan ekspresimu yang lucu, atau mendengar lagi suaramu yang merdu.

Hatiku hancur.

Aku selalu berpikir bahwa kamu akan menggunakan bakat suaramu untuk memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang menyukai musik. Aku pikir nanti aku akan melihatmu menciptakan lagu yang kamu tulis sendiri, bergabung kembali dengan anggota SHINee lainnya, melayani bangsamu, menikah, dan bahkan menjadi seorang ayah di masa depan. Tapi, tak pernah terlintas di pikiranku bahwa kamu akan memilih jalan sepi yang tak memiliki kesempatan untuk berputar balik.

Aku sangat menyesal karena aku baru mengetahui bahwa selama ini kamu berjuang mengatasi rasa depresimu setelah aku membaca surat yang kamu kirimkan ke temanmu, Nine from Dear Cloud. Di dalam surat itu, kamu menulis “depresi perlahan menggerogotiku, hingga akhirnya melahapku.”

Atas nama Shawol lain yang telah mendukungmu sejak kamu memulai debutmu di tahun 2008, aku benar-benar menyesal karena kami tidak menyadari semua rasa sakit dan kelelahan yang kamu rasakan.

Rasanya sangat menyedihkan mendengar kepergianmu di masa Natal ini. Bagi semua orang yang menyayangimu, Natal ini mungkin akan terasa sulit untuk dilalui.

Jonghyun yang terkasih, saat aku menuliskan surat ini untukmu, aku tidak bisa tidak bertanya-tanya tentang apa yang akan kukatakan kepadamu jika aku benar-benar punya kesempatan. Saat ini, kata-kata yang terlintas di pikiranku datang dari Yesaya 9:2-6:

“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar….Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

Bukan kesalahanmu apabila kamu jatuh ke dalam rasa depresi dan putus asa. Tapi, aku berpikir apakah kematian adalah satu-satunya jalan keluar untukmu? Aku berpikir akankah kamu mengambil keputusan yang sama ketika kamu mengenal Yesus, harapan kita yang sejati?

Jika saja kamu mengetahui bahwa 2.000 tahun lalu, seorang bayi bernama Yesus Kristus lahir di antara kita, dan kedatangan-Nya membawa terang kepada dunia yang penuh kegelapan dan putus asa. Dia menanggung dosa-dosa kita dan mengorbankan diri-Nya di salib sebagai ganti kita supaya kita beroleh sukacita dan harapan abadi. Akankah ini memberimu kekuatan meski di tengah keputusasaan yang kamu rasakan?

Sungguh menyedihkan bahwa kita tidak akan pernah bisa mengetahui jawaban atas pertanyaan “jika saja” ini.

Jonghyun SHINee yang kukasihi, sungguh menyedihkan buatku karena aku tak dapat lagi memanggilmu dengan nama ini lagi.

Kamu telah bekerja keras dan kami akan selalu merindukanmu.

Akhir kata, kuharap tidak ada seorang pun lagi di bumi ini yang perlu merasa putus asa dan hilang harapan seperti yang kamu rasakan, karena ada harapan abadi yang dapat memberi kita anugerah untuk menghadapi tantangan hari esok. Dialah Yesus.

Pengagummu selama sembilan tahun,

Lee Soo Yi

Baca Juga:

Jangan Melompat, Masih Ada Harapan!

Aku baru saja bersiap akan berangkat kerja ketika polisi-polisi datang ke wilayah apartemenku. Seorang wanita tua nekat mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 10 di apartemen kediamanku. Aku mungkin tidak tahu apa penyebab dia nekat melakukan bunuh diri, namun seandainya waktu itu aku bisa mencegahnya melompat, aku akan berkata, “Jangan melompat, masih ada harapan!”

7 Doa untuk Korban Bencana Alam

Oleh Aryanto Wijaya

Alam dan bencana bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, alam memberikan kita berkah. Namun, di sisi lainnya, terkadang alam bergejolak hingga menimbulkan bencana bagi orang-orang yang tinggal di dekatnya.

Ketika ada saudara-saudari kita yang terdampak bencana alam, kita mungkin tidak bisa memberikan pertolongan secara langsung kepada mereka. Akan tetapi, sebagai orang percaya, kita tentu tahu bahwa salah satu upaya yang bisa turut kita berikan adalah melalui dukungan doa.

Teruntuk korban bencana alam, kami mengingat kalian, dan menyebut nama kalian di dalam doa kami. Mari kita berdoa memohon tujuh hal berikut ini kepada Tuhan untuk mereka yang menjadi korban bencana alam.

1. Berdoa memohon kedamaian

Murid-murid Yesus ketakutan ketika perahu yang mereka tumpangi diterjang badai. Mereka lupa bahwa di perahu tersebut juga terdapat Yesus, Seorang yang berkuasa untuk mengatasi badai. Sama seperti murid-murid Yesus, seringkali kita sebagai manusia lebih berfokus kepada badai yang menerpa daripada kepada Tuhan yang sesungguhnya memegang kendali atas badai. Oleh karena itu, marilah kita berdoa agar para korban bencana tersebut tidak dikuasai oleh ketakutan, melainkan dilingkupi oleh damai sejahtera.

Bapa, kami berdoa supaya para korban bencana alam dapat ditenangkan hatinya. Biarlah damai sejahtera-Mu yang melampaui segala akal boleh melenyapkan ketakutan mereka dan membuat mereka bersandar pada pertolongan-Mu saja.

2. Berdoa memohon kecukupan

Bencana alam seringkali mengakibatkan para korbannya kehilangan harta benda dan sumber daya. Dapat dibayangkan betapa sulitnya jika kita harus hidup tanpa persediaan sandang, pangan, dan papan. Oleh karena itu, marilah berdoa supaya Tuhan dapat mencukupkan kebutuhan para korban bencana tersebut.

Bapa, kami berdoa supaya para korban bencana tersebut dapat terpenuhi kebutuhannya. Engkau mengerti dan tentu menyediakan apa yang sejatinya mereka butuhkan. Biarlah mereka tidak khawatir akan apa yang hendak mereka makan, minum, ataupun pakai. Akan tetapi, biarlah mereka percaya sepenuhnya kepada-Mu bahwa Engkau sungguh peduli terhadap mereka.

3. Berdoa memohon bala bantuan

Para korban bencana alam membutuhkan orang lain. Mereka membutuhkan tim medis untuk menangani luka-luka fisik, tim SAR untuk menyelamatkan orang-orang yang terjebak, juga petugas keamanan untuk memastikan mereka mendapatkan tempat perlindungan yang tepat. Marilah berdoa supaya Tuhan boleh menolong orang-orang yang bertugas tersebut.

Bapa, kami berdoa supaya Engkau menolong orang-orang yang diberikan tanggung jawab untuk memastikan keselamatan para korban bencana. Beri mereka perlindungan dari marabahaya dan juga keberanian untuk bisa menolong para korban.

4. Berdoa memohon hikmat

Ketika bencana terjadi, orang-orang di sana harus bisa mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Dari mana evakuasi akan dilakukan? Ke mana para korban harus diungsikan? Mau dibawa ke manakah korban-korban yang terluka? Dan sebagainya. Oleh karena itu marilah kita berdoa agar tim penyelamat dapat mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Bapa, kami berdoa supaya para korban dan tim penyelamat diberikan hikmat dan keberanian untuk menyelamatkan mereka yang terjebak dalam bahaya. Berikan mereka kekuatan dan perlindungan.

5. Berdoa memohon hati yang mau tetap percaya

Bencana yang terjadi tak jarang menorehkan luka secara fisik dan psikis kepada para korbannya. Selain kehilangan harta benda, mereka pun mungkin saja kehilangan sanak saudara ataupun orang-orang yang mereka kasihi. Oleh karena itu, marilah kita berdoa supaya di dalam masa-masa sulit tersebut, mereka tetap mampu mempercayai Tuhan dan rancangan-Nya yang baik.

Bapa, kami berdoa supaya mereka yang kehilangan orang-orang yang dikasihi dapat dikuatkan dan diteguhkan hatinya. Tolong mereka supaya dapat melihat maksud baik yang Engkau rancangkan di balik bencana yang saat ini menimpa.

6. Berdoa memohon pemulihan

Setelah bencana terjadi, para korban harus kembali meniti jalan hidupnya. Dari segala luka dan kehancuran yang bencana alam tinggalkan, mereka harus bangkit untuk menata kehidupan mereka seperti sedia kala.

Bapa, kami berdoa supaya Engkau boleh memulihkan kehidupan mereka dengan memberikan sukacita yang sempat terhilang karena bencana. Kami percaya Engkau sanggup memenuhi apa yang mereka butuhkan, baik itu tempat tinggal, pakaian, makanan, dan tentunya kedamaian hati.

7. Berdoa memohon perlindungan

“Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, seklaipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang geloranya,” (Mazmur 46:2-4). Seperti pemazmur yang memuji Allah karena perlindungan yang disediakan-Nya, marilah kita juga berdoa agar para korban bencana dapat bersandar dan berlindung sepenuhnya kepada Allah.

Bapa, kami berdoa kiranya agar Engkau menjadi tempat perlindungan yang teguh, dan sumber pertolongan satu-satunya tatkala masalah melanda. Biarlah mereka boleh mengenal Engkau secara pribadi agar mereka tahu bahwa sesungguhnya Engkau selalu ada untuk mereka.


Tulisan ini diadaptasi dari artikel 7 Prayers For Those Battered by Natural Disaster

Baca Juga:

Pergumulanku untuk Melepaskan Diri dari Jeratan Dosa Seksual

Aku adalah seorang perempuan berusia 20 tahun yang memiliki riwayat jatuh ke dalam dosa seksual sejak SMP. Bermula dari pelecehan yang dilakukan oleh pacarku, aku jadi terjebak dalam dosa seksual. Namun, Tuhan menolongku untuk lepas dari dosa ini. Inilah kisahku.

5 Alasan Mengapa Reformasi Protestan Masih Berarti Hingga Hari Ini

Oleh Dorothy Norberg, Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 5 Reasons Why the Reformation Matters Today

Ketika sedang berdiskusi tentang siapa tokoh sejarah favorit kami, aku bertanya kepada rekan kerjaku apakah dia tahu tentang Martin Luther. Dia menjawab, “Oh! Itu orang yang pernah memaku sesuatu di pintu itu ya?”

“Ya, itu dia!” Aku menanggapinya dengan tertawa.

Bagi banyak orang, Martin Luther dikenal sebagai seorang biarawan yang memaku 95 tesis di pintu sebuah gereja. Walaupun ada sejarawan yang meragukan kebenaran kisah ini, tapi kisah Martin Luther telah memberi dampak yang besar buatku sendiri.

Martin Luther adalah seorang berkebangsaan Jerman yang hidup pada tahun 1483-1546. Dia adalah tokoh kunci dari Reformasi Protestan—sebuah masa ketika orang-orang menentang dan kemudian memisahkan diri dari Gereja Katolik. Keterlibatan Luther dalam gerakan Protestan ini dipicu oleh kesaksian pribadinya menerima anugerah Allah dan pergumulannya ketika dia merasa ragu akan keselamatan jiwanya.

Tuhan menggunakan Luther untuk mengembalikan pengertian keselamatan yang sesuai dengan Alkitab. Aku sendiri pernah merasa bersalah dan merasa diriku tak layak, lalu kisah tentang Luther menginspirasiku bahwa Tuhan bisa menggunakan tantangan di hidup orang-orang untuk membawa mereka mendekat kepada-Nya dan melengkapi mereka untuk mengubah dunia.

Tahun ini, tepatnya tanggal 31 Oktober 2017, kita memperingati 500 tahun peristiwa Reformasi yang dilakukan oleh Luther. Inilah lima alasan mendasar mengapa kesaksian, kepercayaan, dan pendirian Luther mengenai teologi dan praktiknya masih berpengaruh hingga saat ini.

1. Reformasi mengingatkan kita untuk memahami Injil

Sekitar tahun 1500, Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh melalui iman, perbuatan, dan anugerah. Namun, meski seseorang sudah bertobat dari dosa-dosanya, sebelum mencapai surga mereka harus melalui sebuah tahapan bernama api penyucian.

Salah satu praktik yang paling kontroversial adalah jual beli surat-surat penghapusan dosa (indulgensia), yang dianggap bisa menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh seseorang di api penyucian. Akibat dari praktik ini adalah korupsi yang menyebar.

Selama bertahun-tahun, Luther bergumul tentang apakah dirinya cukup layak untuk menerima perkenanan Tuhan atau tidak. Pergumulan ini terjawab ketika dia mengerti bahwa keselamatan hanyalah tentang Kristus, bukan dia. Pengalaman Luther dalam pergumulan rohaninya itu telah mengajarinya bahwa perilaku baik dan ritual gerejawi sesungguhnya tidak dapat menghilangkan dosa-dosanya (Perry, 2013).

Sebagai seorang profesor dan pengkhotbah, Luther mendorong orang-orang untuk berfokus kepada Kristus dan mempelajari Alkitab. Puncak dari pemikirannya terjadi pada tanggal 31 Oktober 1517. Melalui 95 tesis yang dia tempelkan di pintu gereja Wittenberg, Luther memprotes keras bahwa praktik penjualan surat indulgensia tidak membuat gereja memiliki otoritas untuk menyelamatkan. Tulisan Luther pun menyebar luas.

Luther mengajar kita bahwa Injil yang sejati melepaskan jiwa dari belenggu spiritual, dan juga memerdekakan orang-orang dari tradisi. Kita tidak seharusnya bergantung pada pendeta, pembicara, atau penulis untuk membuat pengajaran Kristen tersedia bagi kita. Penting untuk membaca Alkitab bagi diri sendiri, mengetahui kebenarannya, dan siap untuk menghadang pengajaran palsu.

2. Reformasi mengingatkan kita bahwa kita diselamatkan hanya oleh anugerah Allah

Sebagai seorang biarawan, Luther meluangkan banyak waktunya di ruang pengakuan dosa, mencoba mengingat dan menghitung dosa-dosanya. Dia juga mencoba mengejar kekudusan dengan melakukan perjalanan ziarah, berpuasa untuk waktu yang lama, dan juga berdoa. Namun, kemudian dia berkata, “Aku kehilangan kontak dengan Kristus yang adalah Juruselamat dan Penghibur, dan aku menjadikannya seolah seperti sipir penjara dan penghuni jiwaku yang malang.”

Aku tidak pernah melupakan bagaimana rasanya perjuangan Luther untuk merasa diampuni. Sebagai seorang anak yang tumbuh besar di gereja, aku memahami ketakutan Luther, bahwa sebagaimanapun dia berusaha untuk menjadi baik dengan mengikuti segala peraturan, dia tidak akan pernah bisa menghapus rasa bersalah dari jiwanya. Seperti Luther, aku ingin mengikut Kristus, tetapi aku takut akan penghukuman dan merasa keselamatanku kurang terjamin.

Yang mengubahkan hidup Luther dan juga hidupku adalah pengetahuan bahwa kami diselamatkan hanya oleh anugerah. Ketika Luther mempelajari Alkitab, dia dikejutkan oleh kebenaran-kebenaran yang didapatkan di kitab-kitab seperti Roma dan Galatia. Luther akhirnya memahami bahwa kita diselamatkan bukan karena kita berusaha melakukan hal-hal baik di depan Allah, tetapi hanya oleh karena Kristus saja.

3. Reformasi mengingatkan kita bahwa ada harga yang harus dibayar untuk mengikut Kristus

Luther dipanggil oleh otoritas gereja dan dia diminta untuk mengakui bahwa dirinya salah dan diancam akan dikucilkan. Tapi, Luther menjawab, “Aku tidak bisa dan tidak akan mengakui apapun, karena aku tidak dapat melawan hati nuraniku sendiri. Semoga Tuhan membantuku. Amin.”

Luther berani mengambil risiko karena dia tahu bahwa kuasa firman Allah jauh lebih besar dari apapun juga. Sekali lagi, Luther berkata, “Aku telah memegang segala sesuatu di tanganku, dan aku kehilangan segalanya; tetapi apapun yang kuletakkan di tangan Allah, aku tetap akan memilikinya.”

Bahkan dalam kehidupanku sebagai seorang biasa, mengikut Kristus membutuhkan pengorbanan. Ketika aku meletakkan segala sesuatunya di altar-Nya untuk mengikut Yesus (Matius 16:24), perlindunganku yang utama terletak di dalam Dia.

4. Reformasi mengingatkan kita bahwa Injil adalah untuk semua orang

Pada masa Luther, orang-orang Jerman tidak bisa mengakses Alkitab dalam bahasa mereka sendiri. Mereka amat bergantung pada Gereja Katolik untuk mengedukasi dan melatih mereka. Gereja mengajarkan bahwa hanya para pejabat gereja saja yang boleh membaca dan menginterpretasikan Alkitab. Tapi, Luther berpendapat bahwa setiap orang boleh menerima iman dan pemahaman dari Allah. Selama beberapa tahun, Luther berjuang untuk menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman, membuat firman Allah yang hidup dan mengubahkan jiwa bisa diterima oleh orang-orang biasa.

Di gereja-gereja saat ini, kita tidak seharusnya memberikan apresiasi yang berlebihan kepada orang-orang yang dianggap terpelajar, kaya raya, ataupun rupawan, karena mereka bukanlah wujud dari kesuksesan spiritual. Roh Kudus tinggal di hati setiap orang percaya, dan melalui-Nya, kita memiliki akses langsung kepada Allah. Karunia rohani akan diberikan kepada mereka yang meletakkan imannya pada Yesus.

5. Reformasi mengingatkan kita untuk berpegang pada Alkitab

Sepanjang generasi yang berbeda, tantangan terhadap otoritas Alkitab berbeda-beda. Akan tetapi, respons yang benar tetaplah sama. Orang Kristen harus berpegang kepada pewahyuan Allah yang tertuang dalam Alkitab, bukan kepada pemimpin gereja ataupun sistem politik.

Luther berkata, “Sejak dari permulaan Reformasi aku meminta pada Tuhan supaya Dia menujukkanku mimpi, visi, atau bahkan malaikat. Akan tetapi, Dia memberiku hak untuk mengerti firman-Nya yang kudus; selama aku memiliki firman Allah, aku tahu bahwa aku berjalan di jalan-Nya dan aku tidak akan jatuh kepada kesalahan ataupun khayalan.”

Peristiwa Reformasi dan sejarah Kekristenan lainnya menunjukkan bahwa Alkitab adalah sumber kebenaran yang tidak dapat tergantikan, yang memiliki kuasa untuk mengubah hati seseorang dan bahkan juga mengubah dunia.

Referensi:
“Western Civilization: Ideas, Politics, and Society.” Marvin Perry et al., 2013

Baca Juga:

Ketika Aku Menyadari Selama Ini Aku Telah Salah Berdoa

Aku berdoa, tetapi aku sendiri merasa ragu dengan doaku, aku tidak yakin dengan doa-doa yang kunaikkan pada Tuhan. Dengan dalih supaya Tuhan “makin berkenan”, aku sempat berjanji jika keinginanku terwujud maka aku akan menulis sebuah kesaksian. Tapi, pada akhirnya aku menyadari bahwa ini bukanlah sikap yang tepat untuk berdoa.

Untuk Indonesia, Aku Tetap Optimis!

Untuk-Indonesia-Aku-Tetap-Optimis

Oleh Sukma Sari

Tujuh puluh dua tahun bukanlah perjalanan yang singkat, apalagi bagi suatu bangsa. Jika kita menoleh sejenak ke belakang, ada begitu banyak peristiwa yang telah dialami oleh bangsa kita, Indonesia. Jauh sebelum mendeklarasikan kemerdekaannya, bangsa ini harus merasakan pedihnya masa-masa kolonialisme—dijajah oleh bangsa lain. Bahkan, setelah merdeka pun, bangsa ini tetap harus menghadapi banyak masalah.

Sebagai warga negara Indonesia yang lahir jauh setelah bangsa ini meraih kemerdekaannya, aku tidak tahu bagaimana euforia yang terjadi tatkala naskah proklamasi dibacakan. Yang aku ingat adalah masa ketika negeri ini memasuki masa transisi yang disebut dengan reformasi. Ruko miliki teman sekolahku habis terbakar. Sepanjang perjalananku dari rumah hingga ke sekolah, aku melihat banyak ujaran-ujaran kebencian bernada rasis yang dituliskan di warung atau toko-toko.

Karena segala kenangan buruk inilah, seringkali aku jadi membandingkan Indonesia dengan negara-negara maju di Asia. Melihat praktik korupsi yang menggerogoti birokrasi, peredaran obat terlarang yang terselubung, kriminalitas, juga kasus-kasus intoleransi membuatku merasa jengah akan kondisi bangsa ini. Kadang, aku jadi bertanya-tanya: Mengapa aku seorang Indonesia? Mengapa aku lahir dan besar di Indonesia? Mengapa Indonesia tidak seperti negara lain yang lebih maju?

Namun, tatkala pikiranku bertanya-tanya demikian, ada sebuah ayat yang juga terlintas di benakku. Ayat ini seolah menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku itu. Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu (Yeremia 29:7). Ayat ini tidak asing di telingaku. Biasanya, ketika ibadah dengan tema kebangsaan, ayat ini sering disebutkan.

Ayat ini menegurku. Aku rasa bukan suatu kebetulan jika saat ini aku berstatus sebagai seorang warga negara Indonesia. Jika Tuhan begitu mengasihi Niniwe—kota besar yang berpenduduk lebih dari 120.000 jiwa, yang semuanya tidak bisa membedakan kanan dan kiri dan semua ternaknya (Yunus 4:11), lantas, siapakah aku sampai-sampai aku tidak mengasihi bangsa ini? Lambat laun, aku menyadari bahwa terlepas dari segala permasalahan yang menyelubungi negeri ini, masih ada banyak hal yang patut disyukuri. Terlepas dari segala kekurangannya, negeri ini adalah negeri yang indah.

Indonesia adalah negara kepulauan. Wilayahnya dikelilingi oleh perairan. Penduduknya beragam, berasal dari berbagai suku, budaya, dan bahasa yang berbeda-beda namun bersepakat untuk bersatu menjadi suatu bangsa Indonesia. Orangtuaku adalah orang Kristen, sedangkan sebagian besar keluargaku menganut agama Islam. Selain berbeda kepercayaan, keluarga besarku juga berasal dari berbagai macam suku. Ketika tiba hari lebaran, kami turut mengikuti tradisi mudik dan menikmati sukacita kebersamaan. Keberagaman keluarga inilah yang mengajarkanku apa arti toleransi antar umat beragama sesungguhnya, bahkan sebelum aku duduk di bangku sekolah.

Ketika aku pergi menjelajah ke daerah Sukamade, aku bertemu dengan serombongan turis dari Swiss. Mereka mengungkapkan kekaguman mereka akan keindahan pantai-pantai Indonesia. Lalu, dalam perjalananku ke Yogyakarta bulan Maret lalu, aku bercakap-cakap dengan seorang turis dari Maroko. Katanya, satu hal yang amat dia sukai dari Indonesia adalah keramahan penduduknya. Jika orang luar saja mampu kagum terhadap Indonesia, masakan aku yang adalah warga Indonesia tidak bangga dan bersyukur atas negeri ini?

Bersyukur dan bangga saja aku rasa belum cukup untuk mencintai negeri ini. Aku jadi teringat akan sebuah kutipan yang pernah disebutkan oleh John F. Kennedy, seorang mantan presiden Amerika Serikat yang berkata: Jangan pernah tanya apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakanlah apa yang sudah kamu berikan kepada negaramu. Salah satu kontribusi yang telah kuberikan kepada Indonesia adalah dengan menjadi warga negara yang proaktif. Ketika tiba waktunya pesta demokrasi digelar, aku menggunakan hak suaraku. Ketika saat ini aku sudah bekerja sebagai karyawan swasta, aku memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Dengan nomor ini, aku belajar untuk membayar pajak yang adalah kewajibanku sebagai warga negara. Setiap Rupiah pajak yang diserahkan kepada negara inilah yang akan menjadi penggerak pembangunan sarana dan prasarana di seluruh wilayah Indonesia. Tatkala kita membayar pajak, kita sedang berkontribusi untuk membangun negara ini.

Sahabatku, perjuangan kita saat ini belumlah usai. Perjuangan kita sekarang bukanlah perjuangan melawan penjajah dengan mengangkat bambu runcing seperti masa pra-kemerdekaan. Perjuangan kita adalah bagaimana kita bisa menjaga dan mengisi kemerdekaan yang Tuhan sudah berikan. Mari bersama-sama kita berjuang menjaga kesatuan dan persatuan, juga kerukunan antara suku, agama, dan budaya. Kita boleh bermimpi setinggi mungkin untuk bangsa ini. Jika kamu punya kesempatan untuk menuntut ilmu hingga ke luar negeri, pergilah. Tetapi, jangan lupa untuk kembali karena negeri ini membutuhkanmu.

Terlepas dari banyak permasalahan yang melanda negeri ini, aku tetap optimis. Negeri ini bisa menjadi lebih baik, selama aku dan kamu tetap percaya dan tidak berpangku tangan. Percayalah, Allah yang dahulu memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir adalah Allah yang sama yang memberkati Indonesia sekarang dan seterusnya.

Satu hal yang perlu kita imani adalah Allah selalu menyertai.

Baca Juga:

Mengapa Aku Mengagumi Superhero Sejak Kecil

Sejak aku masih kecil, aku begitu terobsesi akan superhero. Sebagai seorang anak SD yang sering diolok-olok oleh oleh teman-temanku, aku jadi berharap andai saja aku bisa memiliki superhero yang mampu melindungiku. Obsesiku akan superhero inilah yang akhirnya membuat teman-teman sekelasku menganggapku aneh.

Ketika Malam Tirakatan Mengajariku Cara untuk Mencintai Indonesia

ketika-malam-tirakatan-mengajariku-cara-untuk-mencintai-indonesia

Oleh Olyvia Hulda, Sidoarjo
Foto oleh Aryanto Wijaya

Satu hari menjelang peringatan hari kemerdekaan, lingkungan tempat tinggalku selalu mengadakan acara tirakatan—sebuah acara untuk merenungkan dan merefleksikan kembali makna kemerdekaan Indonesia. Di acara malam tirakatan, seluruh warga, tak peduli apapun latar belakangnya bersatu padu mensyukuri dan merayakan kemerdekaan Indonesia.

Sewaktu aku masih duduk di kelas 5 SD, aku dan teman-teman di sekitar rumahku begitu antusias untuk mengikuti lomba-lomba yang diselenggarakan di malam tirakatan. Ada yang berlatih membaca puisi, ada yang berlatih fashion show, ada pula yang berlatih menari dan menyanyikan lagu kebangsaan. Waktu itu aku mendapatkan kesempatan untuk membacakan puisi bersama kedua temanku. Acara malam tirakatan itu berlangsung dengan meriah. Tak hanya warga dari lingkungan RT-ku saja, tetapi RT-RT lain juga ikut bergabung.

Tahun demi tahun pun berlalu. Satu per satu temanku yang dulu selalu melewatkan tirakatan bersama-sama mulai pergi merantau. Ada yang ke luar kota, ada juga yang ke luar pulau. Malam tirakatan yang dulu aku lalui dengan sukacita pun akhirnya menjadi malam yang membosankan karena aku kehilangan teman-temanku. Ketika malam tirakatan itu tiba, aku tidak bergairah sama sekali untuk mengikutinya dan memilih untuk diam saja di rumah.

Melihat diriku yang tak bersemangat sama sekali, ibuku menghampiriku dan memberi nasihat. “Nak, kita tidak boleh jadi orang yang cuek dengan lingkungan kita. Kita harus membaur, mengetahui keberadaan mereka, belajar menyapa dan mengenalkan diri kita kepada mereka. Kita juga belajar untuk mengenal mereka. Jarang-jarang kita bisa ngumpul kalau bukan di acara malam tirakatan.” Perkataan ibuku itu membuatku jadi teringat akan sebuah ayat yang sering disebutkan di gereja. Ayat itu diambil dari Matius 5:16 di mana Tuhan Yesus berkata bahwa kita adalah terang dunia, dan kita harus menjadi terang bagi lingkungan sekitar kita.

Ayat tersebut membuatku berpikir: Bagaimana aku dapat menampilkan terang Kristus di lingkunganku jika aku sendiri tidak dikenal di lingkunganku? Bagaimana aku dapat menunjukkan terang Tuhan di RT-ku jika aku tidak berani mengenal dan dikenal oleh orang-orang di lingkunganku? Oleh karena itu, mulai tahun 2015 aku mulai aktif kembali mengikuti malam tirakatan yang diselenggarakan di RT-ku. Awalnya aku sempat merasa canggung karena aku tidak terlalu mengenal orang-orang yang hadir. Tetapi, puji Tuhan karena aku bisa fokus mengikuti acara itu tanpa merasa sedih sekalipun teman-temanku yang dahulu sering bersamaku di malam tirakatan telah pergi.

Di malam itu, ada seorang kakek yang bercerita di depan warga tentang perjuangannya dulu pada zaman kemerdekaan. Di usianya yang sudah sepuh, beliau tetap antusias menceritakan kisahnya. Tapi, kemudian beliau menangis apabila mengingat dan membandingkan kondisi anak-anak muda zaman dahulu dengan sekarang. Katanya, banyak anak muda sekarang yang bersifat tidak peduli dengan tanah airnya seakan-akan mereka lupa akan perjuangan para pahlawan. Bahkan, beliau juga mengkritik anak-anak muda di RT-ku yang menghilang dan tidak lagi terlihat di acara-acara kebersamaan seperti malam tirakatan ini. Di akhir ceritanya, kakek itu ingin sekali melihat anak-anak muda di RT-ku bisa membaur dengan warga lainnya, minimal di acara malam tirakatan.

Sebagai anak Tuhan, percakapan dengan kakek itu membuatku juga diingatkan kembali bahwa sudah seharusnya aku menjadi terang di manapun aku berada. Seringkali beberapa acara yang diselenggarakan di gereja membuatku lupa untuk ikut menyambut acara kemerdekaan di lingkungan tempat tinggalku sendiri. Aku lupa bahwa untuk menjadi pancaran terang kasih Tuhan bagi lingkunganku, aku harus terlebih dahulu mengenal mereka.

Mungkin tindakan yang aku lakukan hari ini hanyalah sebuah tindakan kecil yang mungkin juga dampaknya kecil. Tetapi, aku berharap bahwa tindakan nyata sekecil apapun kelak akan berdampak, minimal untuk pribadiku sendiri dan juga lingkunganku.

Sebelum aku dapat mencintai Indonesia, aku harus terlebih dahulu peduli dengan lingkungan tempat tinggalku. Untuk berbuat sesuatu tidak harus selalu dimulai dengan hal-hal yang luar biasa, cukup dimulai dari hal yang sederhana. Lewat hadir dan turut serta dalam acara lingkup lokal seperti malam tirakatan, di situlah sesungguhnya aku sedang belajar mencintai Indonesia dan memancarkan terangku sebagai orang Kristen bagi orang-orang di lingkungan tempat tinggalku.

Baca Juga:

1 Perjalanan yang Menginspirasiku untuk Berkarya bagi Indonesia

Keputusanku untuk belajar mengenal Indonesia lebih dekat dijawab Tuhan dengan sebuah kesempatan berharga. Bak gayung bersambut, aku diterima menjadi seorang relawan untuk mengajar di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Perjalanan inilah yang pada akhirnya memberiku jawaban dari bagaimana seharusnya aku mencintai Indonesia.

1 Perjalanan yang Menginspirasiku untuk Berkarya bagi Indonesia

Satu-Perjalanan-yang-Menginspirasiku-untuk-Berkarya-bagi-Indonesia

Oleh Claudya Tio Elleossa, Surabaya
Foto oleh Aryanto Wijaya

Suatu ketika, tatkala aku sedang menjelajah media sosialku, ada seorang teman yang mengungkapkan kekecewaannya dengan mengumbar kritik-kritik tak sedap. Nama “Indonesia” pun dia pelesetkan dengan ejaan yang salah. Ketika kutanya mengapa, dia berkata bahwa kritikan pedas itu adalah satu-satunya cara berkontribusi bagi negeri ini. Jawaban itu kemudian membuatku terdiam tak habis pikir. Jika memang kita “hanya bisa bersuara”, mengapa tidak kita berikan saran dan bukan kecaman?

Momen ini mengingatkanku kembali akan pergumulanku dulu ketika memulai karier sebagai seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan (PKN). Sebagai seorang guru, aku ingin mengemas pelajaran PKN supaya murid-muridku nantinya tidak sekadar menghafal, tetapi juga belajar untuk memiliki hati yang mau mencintai tanah airnya. Oleh karena itu, sebelum aku benar-benar mengajar mereka, aku memutuskan untuk terlebih dahulu belajar mengenal negeriku Indonesia lebih dekat.

Bak gayung bersambut, tepat di bulan Juni 2015, aku diterima menjadi seorang relawan dalam sebuah program pelayaran. Tugasku waktu itu adalah mengajar di daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Program ini diprakarsai oleh pemerintah Indonesia untuk menumbuhkan semangat dan rasa cinta tanah air bagi tiap pesertanya. Bersama 9 orang relawan lainnya, aku ditempatkan di sebuah pulau kecil bernama Keramian yang membutuhkan waktu tempuh selama 22 jam berlayar dari daratan Jawa.

Tidak ada dermaga di pulau itu. Jadi, kapal besar yang kami tumpangi harus membuang sauh di tengah-tengah lautan, kemudian kapal-kapal kecil milik nelayan setempat menjemput kami. Satu per satu logistik dan relawan berhasil dipindahkan dari kapal besar ke perahu nelayan. “Ini baru namanya perjuangan orang pulau terluar!” gumamku dalam hati.

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Selama mengajar di sana, segala kenyamanan yang biasa aku temui di Jawa harus kutinggalkan. Jika di Jawa listrik bisa menyala kapanpun, di sini listrik hanya berfungsi selama 4 jam saja dalam sehari. Tak ada bahan pangan yang melimpah, dan juga kondisi sekolah-sekolah memprihatinkan. Apa yang kulihat di depan mataku adalah sebuah ironi. Di negeri yang kutinggali ini, ada terlalu banyak kondisi yang tidak ideal. Lalu, siapa yang dapat membenahinya? Aku rasa orang hebat atau pejabat pun tidak akan bisa membenahi permasalahan ini. Saat itu aku melamun, merasa amat kecewa dan tidak tahu apa yang harus kuperbuat.

Di tengah lamunanku, ada sekelompok anak mendekatiku dan mengajakku berbincang-bincang. Dengan antusias, mereka bertanya tentang banyak hal: Apa itu kuliah? Bagaimana kondisi sekolah di pulau Jawa? Setelah aku menjawab mereka dengan bercerita, sekarang giliran mereka yang bercerita. Kata mereka, setiap kali menjelang Ujian Nasional, mereka akan menabung hingga beberapa bulan sebelumnya untuk menyewa kapal penjemput soal-soal agar mereka dapat mengikuti Ujian Nasional. “Yang penting kami bisa lanjut sekolah kak, kalau harus sewa kapal, ya udah sewa aja,” kata mereka dengan polosnya. Cerita mereka membuatku terdiam. Di tengah keterbatasan akan akses pendidikan, alih-alih berdiam diri, mereka rela menabung dan menyewa kapal demi bisa mengikuti Ujian Nasional.

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Potongan percakapanku dengan anak-anak di Pulau Keramian ini membuatku akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaanku selama ini: Bagaimana cara mencintai negeri ini? Jawabannya adalah dengan berani bertindak. Sebenarnya, dengan keterbatasan akses pendidikan, mereka bisa saja tidak mengikuti Ujian Nasional. Mereka bisa saja menyalahkan pihak lain atas keterbatasan akses yang mereka miliki. Tapi, alih-alih melakukan itu semua, mereka lebih memilih untuk bertindak. Alih-alih mengutuki kegelapan, mereka memilih untuk menyalakan sebuah lilin untuk mengusir kegelapan itu.

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Dokumentasi oleh Claudya Elleossa

Di banyak seminar-seminar motivasi tentang kesuksesan, mungkin kita tidak asing dengan saran dan dorongan untuk bertindak. Tapi, siapa sangka bahwa motivasi untuk mau bertindak ini juga berlaku untuk mengungkapkan bahasa cinta kita kepada tanah air?

Pengkhotbah 11:4 berkata, “Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai.” Sikap yang kita butuhkan saat ini adalah kemauan untuk bertindak. Daripada melontarkan kritik-kritik pedas penuh kutuk tanpa aksi, lebih baik kita mulai melakukan satu tindakan nyata.

Sumbangsih yang bisa kita lakukan bisa kita mulai dari talenta yang Tuhan telah berikan kepada kita dan juga dimulai dari tempat di mana kita berada saat ini. Aku yakin bahwa Tuhan tidak pernah meminta apa yang tidak Dia berikan pada kita. Dengan talenta yang Dia sudah percayakan, Dia ingin kita mengusahakan kesejahteraan negeri tempat kita tinggal sekarang (Yeremia 29:7). Jika talenta kita adalah menulis, Tuhan tidak akan meminta kita untuk merancang sebuah pesawat terbang. Jika talenta kita adalah di bidang Arsitektur, Tuhan tidak akan menuntut kita untuk merancang pakaian layaknya desainer terkenal. Lakukanlah apa yang memang kita bisa.

Perjalanan yang kulakukan selama beberapa waktu di Pulau Keramian itu menginspirasiku untuk mulai melakukan tindakan-tindakan kecil tetapi nyata sebagai wujud kontribusiku untuk Indonesia.

1. Aku jadi lebih giat mendidik generasi muda melalui profesiku sebagai guru

Pengalaman mengajar anak-anak di sana membuatku jadi lebih lagi menghayati profesiku sebagai seorang guru. Jika dahulu aku mengaggap guru sebagai pekerjaan yang biasa saja, sekarang aku menyadari bahwa pekerjaan ini adalah ladang yang memang Tuhan percayakan kepadaku—ladang untukku menunjukkan cinta dan mengusahakan kesejahteraan bangsaku dengan mengajari anak didikku. Sebagai seorang guru, aku tahu betul bahwa aku sedang berinvestasi pada generasi muda penerus bangsa. Kepada merekalah masa depan bangsa ini dipercayakan.

2. Aku giat menulis

Selain mengajar, salah satu talenta yang Tuhan berikan kepadaku adalah menulis. Melalui menulis, aku belajar untuk mengungkapkan opini serta saranku atas suatu fenomena yang terjadi lewat tulisan-tulisan. Dengan menulis, aku juga belajar melatih diriku untuk berpikir kritis serta menggugah semangatku untuk mencintai Indonesia.

3. Aku bergabung dengan komunitas dan menjadi relawan

Belakangan ini, aku juga bergabung dengan komunitas pembuat video yang bergerak menyebarluaskan pesan positif melalui karya audio visual. Caraku lainnya untuk bersumbangsih bagi Indonesia adalah melalui keikutsertaan sebagai relawan. Beberapa waktu lalu, aku mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh organisasi non-pemerintah (NGO) dari Singapura. Organisasi itu menugaskanku untuk menyebarluaskan kesadaran atau awareness terhadap pemberdayaan wanita di daerah pelosok Indonesia, serta mengedukasi mereka untuk beralih menggunakan lampu hemat energi daripada lampu pijar minyak.

4. Aku membuat proyek sosial

Dalam lingkup yang lebih kecil, aku membuat konsep proyek sosial yang kuberi judul “As Their Wish”. Melalui proyek ini, aku berusaha memberikan barang-barang yang memang dibutuhkan oleh para lansia di sana. Proyek kecil yang kulakukan di sini adalah salah satu upayaku untuk berlatih peka terhadap lingkungan sosial di sekitarku. Tuhan sudah menempatkanku di Indonesia. Oleh karena itu, sudah selayaknya aku mencintai negeri ini lewat hal-hal kecil yang bisa kulakukan sesuai dengan kapasitasku saat ini.

Mungkin tindakan-tindakan yang kita lakukan terlihat remeh, tetapi aku selalu yakin bahwa tugas kita adalah untuk melakukan sesuatu. Selama itu positif dan sesuai dengan kehendak Tuhan, kita dapat percaya bahwa ada daya guna di baliknya. Walaupun signifikansinya kecil, walaupun lingkupnya hanya lokal, tetapi—sekali lagi, itu lebih baik dari sikap berpangku tangan.

Mungkin saat ini kita memiliki banyak harapan terhadap bangsa kita. Di saat yang sama, kita tidak menutup mata bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi dari Indonesia. Mungkin kita bisa saja merasa kesal dan kecewa. Tetapi, seperti pesan dari kitab Pengkhotbah: Marilah kita berhenti sekadar memperhatikan dan mulailah bertindak. Mulailah satu langkah kecil sesuai dengan apa yang Tuhan sudah percayakan pada kita. Jangan sampai kita piawai berekspektasi tetapi lumpuh dalam mengeksekusi.

Baca Juga:

Ketika Tuhan Mengizinkan Hal-hal yang Kurang Baik Terjadi

Aku mengernyit ketika seorang temanku berkata bahwa dia tidak pernah mengalami momen menyedihkan di hidupnya. Dalam hati, aku jadi bertanya, “Luar biasa sekali jika hidupnya selalu bahagia. Tapi, masa sih? Atau, mungkin memang ada orang yang hidupnya seperti itu ya, Tuhan?”

Bolehkah Orang Kristen Mendengar Musik Sekuler?

bolehkah-orang-kristen-mendengar-musik-sekuler

Oleh Ruth Lidya Panggabean, Depok

Kita hidup di tengah dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Oleh karenanya, kita tidak perlu heran ketika menemukan musik-musik, buku-buku, maupun tontonan yang tidak sesuai dengan standar Alkitab. Lalu, apakah itu berarti kita hanya boleh mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu rohani saja? Apakah semua musik yang kita labeli sebagai musik sekuler akan membawa kita ke dalam dosa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada 3 ayat Alkitab yang perlu kita cermati ketika mempertimbangkan sebuah lagu, buku, film, atau hal-hal lainnya.

1. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8).

Ada sebuah cara yang baru-baru ini aku terapkan kepada diriku sendiri. Sebelum mendengarkan suatu lagu, aku akan membaca keseluruhan liriknya tanpa diikuti musik terlebih dahulu, lalu aku akan bertanya kepada diriku sendiri. Apakah aku setuju dengan pesan yang diangkat dalam lagu itu? Apakah tidak masalah jika aku mengucapkan lirik lagu itu ke dalam percakapan sehari-hari?

Sebelumnya, aku bukan orang yang terlalu peduli pada lirik lagu. Selama aku menyukai melodinya, terlebih jika lagu tersebut berada di urutan tangga lagu teratas dan didengarkan oleh banyak orang, aku tidak mau ketinggalan untuk menyanyikannya. Aku juga suka menggunggah video nyanyianku ke media sosial.

Baru ketika aku mengikuti sebuah kamp penulisan lagu setahun yang lalu, aku belajar bahwa setiap penulis lagu memiliki cerita di balik karya-karyanya dan bertujuan untuk membagikan pesan-pesan tertentu. Musik mempengaruhi hati, jiwa, dan pikiran kita lebih dari apa yang kita sadari. Tidak hanya mempengaruhi mood, musik juga bisa mempengaruhi cara pandang kita mengenai sesuatu. Sebagai pendengar, kita memerlukan kepekaan rohani untuk meneliti apakah pesan dan cerita tersebut berpadanan dengan Injil atau tidak.

Dulu, ketika aku pernah mengalami patah hati, ada beberapa lagu sekuler yang kuputar terus menerus karena liriknya persis dengan kisahku. Bukannya menguatkan, lagu tersebut hanya membuatku semakin larut dalam pusaran kesedihan. Belakangan aku baru tahu bahwa Amsal 25:20 sudah pernah mencatat hal ini: “Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka.” Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan lagu yang aku nyanyikan itu. Hanya, di tengah perasaan sedih yang kualami, aku terlalu meresapi liriknya yang puitis dan nadanya yang melow. Bukannya menjadi semangat, aku malah semakin larut dalam kesedihan.

Seringkali, dengan cepat kita segera larut oleh musik yang apik dan kalimat-kalimat puitis hingga kita mengabaikan apa yang jadi pesan utama dari lagu tersebut. Kita mesti jeli menelisik konsep-konsep apa yang terkandung dalam sebuah musik. Di sisi lain, dengan menggunakan prinsip ini, kita juga bisa menemukan lagu-lagu sekuler yang mengandung pesan dan cerita yang tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Lagu-lagu semacam ini biasanya memberikan inspirasi dan nuansa positif untuk hati kita.

2. “‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun” (1 Korintus 10:23).

Alkitab memang tidak melarang kita mendengarkan jenis musik tertentu, tapi alangkah baiknya apabila kita mampu bersikap bijak untuk memilih lagu-lagu mana yang akan kita dengarkan. Kekristenan bukanlah sekadar rangkaian peraturan mengenai mana yang boleh dan mana yang tidak. Lebih dari itu, Kekristenan adalah tentang relasi Allah dengan manusia. Setiap pilihan dalam keseharian kita, termasuk dalam memilih lagu, mencerminkan kedekatan kita dengan Allah.

Analoginya seperti berikut. Alkisah, hiduplah dua ekor serigala. Serigala pertama melambangkan kegelapan dan dosa. Serigala kedua melambangkan iman dan kasih. Suatu hari, kedua serigala itu berkelahi. Menurutmu, serigala manakah yang akan menang?

Jawabannya adalah serigala yang paling banyak diberi makan.

Pilihannya tetap kembali kepada kita, bagian mana dari hidup kita yang hendak kita bangun.

Ketika aku mengalami patah hati, kuakui bahwa kesedihanku bertambah bukan akibat kesalahan pihak penulis lagu, penyanyi, atau industri musik. Aku sendirilah yang mestinya lebih mencari kebenaran mengenai kasih Allah lewat pendalaman firman Tuhan.

Setiap hari waktuku untuk mendengarkan musik tidaklah terlalu banyak. Oleh karena itu, aku menyadari bahwa aku lebih membutuhkan musik yang dapat terus mengingatkanku akan Allah di tengah padatnya rutinitas dan aktivitas.

Saat ini, dengan berkembangnya teknologi, kita bisa dengan mudah menikmati lagu-lagu yang kita inginkan tanpa harus bersusah payah membeli CD atau kasetnya di toko. Ada lagu-lagu rohani dan juga lagu sekuler yang bisa kuputar di ponselku untuk sesekali kudengarkan. Lagu rohani favoritku saat ini adalah lagu-lagu dari tim pelayan musik asal Indonesia, Symphony Worship. “Kunyanyi Haleluya” adalah salah satu lagu mereka yang menguatkanku di saat banyak kekhawatiran melanda jiwaku. Sedangkan, lagu sekuler yang sedang kunikmati adalah lagu-lagu Monita Tahalea di album Dandelion. Lagunya yang berjudul “Tak Sendiri” selalu bisa mengangkat semangat karena mengingatkanku akan sahabat-sahabat yang kukasihi dan mengasihiku.

3. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna” (Roma 12:2).

Orang Kristen memang perlu meng-update dirinya dengan informasi terbaru sehingga bisa menjadi relevan dengan lingkungan sekitar. Untuk itulah kita diutus, yakni menjadi garam dan terang dunia, termasuk di sudut-sudut tergelap dalam industri musik sekalipun. Hanya saja, kita tidak harus selalu setuju pada apa yang kita tahu.

Jangan takut dianggap tidak keren hanya karena menolak satu-dua hal yang bertentangan dengan kehendak Allah. Bukan keserupaan dengan dunia yang harus kita kejar, tetapi keserupaan dengan Kristus. Pedoman kehidupan kita di dunia ini bukanlah dari musik rohani atau musik sekuler, tetapi dari firman Tuhan sendiri. Musik hanyalah sebuah sarana untuk kita bisa mencurahkan emosi ataupun membangkitkan semangat. Kepekaan kita terhadap firman Tuhan tentu dapat membantu kita untuk bijak dalam memilih musik mana yang hendak kita dengarkan.

Sampai saat ini, aku masih menggeluti minatku di bidang musik, termasuk menyanyikan lagu-lagu sekuler di acara tertentu, menggungah video-video cover di media sosial dan sesekali menonton konser untuk memperoleh referensi bermusik. Khusus teman-teman pegiat musik, aku tahu sulitnya mempertahankan idealisme Kristiani kita di lingkungan pergaulan, tapi itulah kesempatan bagi kita untuk membagikan nilai-nilai Kristus yang memang berbeda dari yang dunia tawarkan.

Bukan kesukaan dan penerimaan dari manusia yang kita cari, tetapi kesukaan dan pujian dari Allah ketika Dia melihat kita memaksimalkan karunia yang Dia berikan kepada kita. Dengan mengingat bahwa talenta kita berasal dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia, kita dapat tetap berkarya dengan cara yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, baik itu musik rohani ataupun sekuler, kita perlu peka untuk meneliti apakah lirik dan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang lagu itu selaras dengan firman Tuhan atau tidak. Apakah dengan mendengarkan lagu itu kita diingatkan lagi tentang kebaikan Tuhan dalam hidup kita? Setiap pilihan yang kita ambil dalam keseharian kita, termasuk dalam pilihan lagu, mencerminkan relasi kita dengan Allah.

Soli Deo Gloria!

Baca Juga:

Di Balik Potret Bahagia Media Sosial

Tatkala jariku asyik menjelajah Facebook atau media sosial lainnya, terkadang aku merasa iri terhadap teman-temanku. Aku pikir hidup mereka tampak amat berbahagia. Kemudian, aku membandingkannya dengan diriku sendiri: Mengapa hidupku begitu membosankan?

Mengapa Aku Tetap Optimis Sekalipun Negeriku Dipenuhi Banyak Masalah?

mengapa-aku-tetap-optimis-sekalipun-negeriku-dipenuhi-banyak-masalah

Oleh Aryanto Wijaya

“Penyertaan-Mu sempurna, rancangan-Mu penuh damai, aman dan sejahtera walau di tengah badai.”

Penggalan lirik sebuah lagu itu terngiang di pikiranku tatkala tanganku terus menggeser layar kaca ponselku. Hari itu jagad dunia maya sedang bergejolak, banyak orang menyuarakan berbagai komentarnya atas masalah-masalah yang tengah terjadi di Indonesia. Ada yang menyesali, mengumpat, pesimis, optimis, bahkan ada pula yang memaki. Kulepaskan ponselku dari genggamanku. Apa yang baru saja kulihat itu membawaku pada perenungan mendalam.

Apa yang seharusnya aku lakukan? Aku bertanya dalam hati. Aku tahu ada banyak masalah yang terjadi di negeri ini, tapi apakah yang sejatinya harus aku perbuat?

Sebuah kesempatan untuk belajar percaya

Ketika pertanyaan itu berdengung di telingaku, tiba-tiba aku diingatkan lagi akan sebuah lagu yang liriknya sempat terngiang di pikiranku. Rancangan Tuhan adalah rancangan penuh damai, juga penyertaan-Nya sempurna. Sekilas, kalimat itu seolah terdengar sangat klise buatku, tapi kenyataannya adalah memang demikian. Tuhan ingin kita belajar mempercayai Dia seutuhnya.

Seringkali ketika kita dihadapkan pada suatu masalah, kita menjadi khawatir akan sesuatu yang sesungguhnya belum terjadi. Pikiran kita menjadi berkecamuk dan berspekulasi tentang kemungkinan-kemungkinan buruk di masa depan. Kekhawatiran memang wajar terjadi dalam hidup kita, akan tetapi siapakah di antara kita yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya (Matius 6:27)?

Alih-alih menjadi khawatir, aku percaya bahwa Allah memiliki kedaulatan atas dunia ini. “Allah berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya”(Daniel 4:35). Setiap masalah yang terjadi dalam kehidupan ini tidak terlepas dari rencana-Nya.

Segala masalah yang tengah terjadi hari ini adalah sebuah kesempatan untuk aku dan kamu belajar percaya seutuhnya kepada Allah. Kita berdoa bukan supaya kehendak kita yang terjadi, melainkan sebagaimana Yesus pernah berdoa, “Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).

Sebuah kesempatan untuk berdoa

Aku teringat akan kisah Saulus, seorang penganiaya orang Kristen yang berbalik menjadi salah satu pengikut Kristus yang paling setia. Jika aku hidup pada masa itu dan menjadi orang Kristen, mungkin bisa saja aku begitu takut dan benci terhadap Paulus. Tapi, Allah kembali menunjukkan jalan-Nya yang terkadang tidak terselami itu.

Kisah pertobatan Saulus dimulai dari niat jahatnya untuk membunuh dan menganiaya orang-orang Kristen di daerah Damsyik. Dalam perjalanannya untuk mencari orang-orang Kristen, Saulus tiba-tiba melihat cahaya yang memancar dari langit hingga dia pun rebah ke tanah. “‘Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?’ Jawab Saulus: ‘Siapakah Engkau, Tuhan?’ Kata-Nya: ‘Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” (Kisah Para Rasul 9:1-5).

Allah bahkan memakai seorang mantan pembunuh untuk berbalik dan menyelematkan jiwa-jiwa dengan cara yang tidak terduga. Pertobatan Paulus pada akhirnya bukan hanya membawa dirinya sendiri kepada Kristus, melainkan, lewat pelayanannya, ada begitu banyak orang yang dimenangkan bagi Kristus.

Hari ini, ketika kita tahu ada begitu banyak orang-orang yang meneriakkan ketidakadilan, janganlah kita berdoa supaya mereka mendapatkan hukuman dari Tuhan. Akan tetapi, berdoalah, supaya lewat momen-momen ini boleh lahir Paulus-Paulus baru yang berbalik dari kehidupan lamanya yang kelam menjadi seorang pengikut Kristus yang luar biasa.

Berdoalah supaya setiap peristiwa yang terjadi hari-hari ini boleh menjadi suatu kesempatan bagi kita, orang-orang Kristen, untuk lebih bersungguh-sungguh lagi menjadi warga negara yang baik.

Sebuah kesempatan untuk berkarya lebih

“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau” (Ulangan 31:6).

Ada kalanya masalah-masalah yang terjadi memang membuat kita seolah ingin merasa putus asa dan hilang harapan. Tapi, janganlah takut, sebagaimana firman-Nya berkata untuk kita tidak tawar hati dan gentar, hendaknya kita semangat untuk melakukan bagian yang Tuhan telah tetapkan atas kita.

Apa yang menjadi pekerjaanmu saat ini? Lakukanlah itu dengan setia, jujur, dan sukacita supaya lewat karya-karya kita, Tuhan dimuliakan. “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini” (Filipi 2:14-15).

* * *

Aku tetap percaya dan yakin seutuhnya bahwa Tuhan memegang kendali, Dia ada dan turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan, sebab rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan yang mendatangkan kecelakaan (Yeremia 29:11).

Baca Juga:

Apa Sesungguhnya Panggilan Allah Bagi Hidupku?

Bagaimana jika Allah tidak pernah memberitahu kita apa yang Dia ingin kita lakukan? Lantas, apa yang harus kita lakukan apabila Allah seolah hanya diam saja ketika kita bertanya apa yang menjadi kehendak-Nya atas hidup kita?