Dengan Berhenti, Maka Kamu Bisa Berjalan

Oleh Bintang Lony Vera, Jakarta

Ai holan ho do sasude di ngolunghi
(Hanya kamu segalanya dalam hidupku)

Tung so hubaen hita marimba hasian
(Tidak ada perbedaan di antara kita)

Botoonmu ma sude na lao di ho
(Kau akan tahu semua dilakukan hanya untukmu)

Dang parduli au manang na songon diape ho
(Aku tidak peduli seperti apa dirimu, itulah cintaku)

Reff: Hupasahat ma tu ho ngolunghi, dang mangolu au molo soada ho
(Reff: Kuserahkan cintaku kepadamu, aku tak bisa hidup tanpamu)

Lirik di atas adalah sebuah lagu berbahasa Batak yang belakangan ini sering kudengar. Lagu itu dipopulerkan oleh Nirwana Trio dan telah kumasukkan ke dalam daftar putar lagu-lagu favoritku. Selain aku jadi bisa belajar bahasa Batak, suara yang lembut dipadu dengan iringan musik yang apik membuat lagu ini selalu enak didengar. Dan, liriknya juga mengusikku. Kukirimkan lagu ini kepada kekasihku kala itu. Menurutku, setiap kata-kata dalam baitnya mewakili perasaanku.

Tapi, di balik romantisnya kisah cinta seperti yang tertuang dari lirik lagu itu, aku menyadari kalau aku mengasihi dia (kekasihku) lebih daripada aku mengasihi siapapun. Hampir seluruh waktu kupakai untuk memikirkan dia dan juga relasi kami. Aku selalu semangat untuk membaca pesan dari dia, yang cuma bisa memberi kabar di waktu-waktu tertentu saja. Dia tinggal jauh dariku, dan kesehariannya di atas kapal membuatnya tidak selalu terhubung dengan akses internet. Ketika dia tidak sedang melaut, aku sering menyusun rencana tentang kami mau pergi ke mana dan mau melakukan apa.

Ketika kami dapat saling bertukar kabar, rasa senang memenuhi hatiku. Hingga tanpa kusadari, aku melupakan hal-hal dan orang-orang lain yang Tuhan telah berikan untukku jaga dan perhatikan. Tuhan menegurku, tapi aku bergeming. Aku amat mengasihi dia lebih dari siapapun, termasuk Tuhan sendiri. Tanpa kusadari, aku sedang menipu diriku sendiri saat aku mulai mengatur rencana pernikahan kami agar terjadi sesuai dengan kehendak Tuhan. Padahal jauh di dasar hatiku, aku hanya ingin bersamanya. Aku hanya ingin menghabiskan waktu hidupku bersama dirinya.

Hingga tiba di bulan Februari lalu, Tuhan menjawab “tidak” atas doa kami agar hidup bersama.

Aku sangat kecewa karena kehilangan seseorang yang begitu aku kasihi. Kurang lebih empat tahun kami telah menjalin kasih dan berdoa kiranya Tuhan berkenan agar kami dapat sampai pada jenjang pernikahan.

Kandasnya relasi kami meninggalkanku dalam kondisi hancur hati. Aku sangat berduka.

Tetapi, syukur kepada Allah. Dalam momen duka pun, Dia bekerja. Bertepatan dengan perayaan ulang tahun Perkantas ke-50, aku membaca kalimat pada leaflet undangan ibadah yang dibagikan oleh pengurus divisi alumni: It is the stop that make you move.

Kalimat itu menohokku. Perpisahan yang terjadi mungkin jadi cara Tuhan untuk memulihkanku dari perasaan cinta dan kasih yang salah. Pesan itu juga membuatku menyadari bahwa Tuhan sedang meraih kami (terkhusus aku) untuk kembali pada-Nya. Tuhan tidak sedang mengoyak kami, tetapi Dia menjagai kami. Kisah cinta kami perlu berakhir untuk menolong aku yang terlalu mengasihinya, agar kami tetap dapat meneruskan perjalanan hidup–hidup yang memuji dan memuliakan Allah, di mana Dia sebagai pusat hidup dan satu-satunya Pribadi yang layak mendapatkan seluruh cinta kita.

Dalam bukunya yang berjudul Struggles, Craig Groeschel menulis:

“Mengapa mendahulukan orang lain atau hal lain daripada Allah itu salah? Jiwa kita diciptakan untuk mengenal Allah, mengasihi Dia, menyembah Dia, dan menjalani keidupan bersama Dia. Inilah pentingnya harus menjaga kasih dan jiwa kita serta mendahulukan-Nya. Kapan saja kita membiarkan jiwa kita terobsesi dengan apa saja selain Allah, kita takkan pernah puas. Jika Anda tahu obsesi Anda mengganggu hubungan-hubungan yang terpenting dengan sesama dan Allah, sudah saatnya bertindak. Allah tidak mau kita memiliki ilah yang lain, apapun bentuknya, di hadapan-Nya. Allah merindukan kita mengenal Dia, menikmati hadirat-Nya dan kebaikan-Nya, hidup dalam kasih-Nya”.

Ketika Dia mengizinkan relasi kami usai, aku mulai memahami bahwa ini adalah bentuk kasih-Nya kepadaku, kepada kami.

Seharusnya lirik lagu di awal tulisan ini adalah kata-kata dalam doaku yang kusampaikan kepada-Nya.

Seharusnya aku lebih mencintai Dia yang telah menganugerahkan cinta di antara kami.

Sekarang tidak ada lagi penyesalan. Aku merasa diberkati dengan relasi kami. Meskipun tidak sampai kepada pernikahan, tetapi sampai kepada pemahaman bahwa Dia sangat mencintai kami dan rindu agar kami pun mencintai diri-Nya.

Allah yang telah mempertemukan kami empat tahun yang lalu juga akan menolong kami dalam menempuh perjalanan kami masing-masing ke depan. Terpujilah Tuhan.

Baca Juga:

4 Langkah untuk Mendoakan Temanmu

Doa adalah disiplin rohani sepanjang waktu. Sangat penting untuk berdoa dalam komunitas, agar kita bisa saling mendukung satu sama lain sepanjang waktu.

4 Langkah untuk Mendoakan Temanmu

Oleh Sarah Tso
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 4 Ways to Pray God-Centered Prayers For Your Friends

Ketika berada dalam satu komunitas orang percaya, aku percaya tiada hal yang paling berkesan selain berdoa bersama. Tapi seringkali, ketika kita menjalani jadwal yang sibuk, kita mungkin tidak terpikir untuk mendoakan teman kita.

Di awal Januari lalu, aku ikut persekutuan bersama temanku. Kami menulis lagu dan mengakhirinya dengan berdoa. Namun, setelah persekutuan itu selesai aku malah merasa kecewa. Aku datang terlambat, dan kurasa aku jadi berdoa dengan terburu-buru. Padahal, seharusnya dalam doa itu aku bisa menaikkan doa yang berfokus pada Tuhan—menyoroti apa yang Tuhan ingin lakukan melalui temanku itu. Berkaca dari pengalaman itu dan pengalaman doa lainnya, aku berpikir bagaimana caranya berdoa dengan lebih efektif, doa yang bersifat Allah-sentris (berpusat pada Allah) bagi teman-temanku.

Beberapa hari kemudian, di reading-plan aku menemukan ayat dari 2 Timotius. Paulus menuliskan doa dan penguatan untuk Timotius dari ayat 3 sampai 7 yang isinya berfokus pada Tuhan:

Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.

Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.

Dalam doanya, Paulus pertama-tama mengucap syukur pada Allah (ayat 3), mengingat pergumulan Timotius (ayat 4), mendoakan dengan spesifik atas situasi yang Timotius sedang hadapi (ayat 6), dan mengingatkan Timotius akan janji dan pemeliharaan Allah. Kata-kata Paulus terasa meyakinkan sekaligus juga hangat.

Berdasarkan bacaan itu, aku menemukan empat cara kita bisa mendoakan teman kita dengan lebih baik—meletakkan fokus doa kita kepada Allah, bukan pada kata-kata dan hikmat kita sendiri.

1. Ambil waktu untuk memahami pokok doa mereka

Paulus bisa berdoa secara spesifik buat Timotius karena pertemanan dan komunikasi yang mereka jalin, yang terus berlanjut meskipun Paulus mendekam di penjara. Hal ini menunjukkan ketika kita membagikan apa yang jadi pokok doa kita, itu dapat menolong orang lain untuk mendoakan kita dengan lebih spesifik.

Memang lebih mudah untuk berdoa secara ‘default’, alias doa-doa rutin yang tanpa sadar seperti sudah jadi template bagi kita. Semisal, doa sebelum makan. Namun, doa seperti itu bisa jadi tidak relevan untuk mendoakan kebutuhan teman kita yang spesifik. Adalah baik jika memungkinkan untuk kita mendengar lebih dulu cerita dari teman kita terkait apa yang jadi pokok doanya. Ini beberapa pertanyaan untuk memulai:

  • Apa yang bisa aku doakan buatmu?
  • Apa yang kamu pikirkan atau khawatirkan belakangan ini? Dan bagaimana caramu menyerahkan semua ini pada Tuhan?

Setelah mendapat jawaban temanku, aku akan menuliskannya entah di kertas atau di HP, sehingga kami punya catatan tentang pokok doa kami. Kelak ketika doa-doa itu terjawab, dokumentasi ini menolong kita untuk melihat kembali pertolongan Allah dan tentunya membuat kita bersyukur.

2. Akuilah Tuhan dan mintalah hikmat-Nya

Paulus membuka doanya untuk Timotius dengan mengucap syukur. Betapa menakjubkannya Tuhan kita yang dalam segala kebesaran-Nya menerima setiap doa-doa kita melalui Yesus (Ibrani 4:14-15), dan Dia pun selalu menyediakan anugerah dan belas kasih bagi kita (4:16).

Inilah beberapa doa sederhana yang bisa menolongmu untuk menempatkan Tuhan sebagai pusat doamu:

  • “Tuhan, berbicaralah melalui aku. Apa yang ingin Engkau katakan untuk temanku melalui aku?” Memberi jeda sejenak setelah berdoa menolong kita untuk berdoa secara dengan lebih luwes.
  • “Tuhan, kiranya apa yang jadi kerinduan hati-Mu untuk temanku juga dapat kurasakan.”
  • “Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengasihi dan menyelamatkan kami. Terima kasih Engkau selalu mendengarkan kami dan tahu apa yang hendak kami ucapkan. Karena kasih-Mu, Engkau pun mengerti apa yang jadi pokok doa kami. Kami percaya di dalam kuasa-Mu, Engkau akan menjawab doa kami seturut hikmat dan waktu-Mu.”

Ketika aku menyerahkan doa-doaku pada Tuhan, Dia menolongku juga untuk berdoa sesuai kehendak-Nya (Roma 8:27).

3. Carilah firman Tuhan

Ketika Paulus berdoa agar Timotius mengobarkan kasih karunia Allah, itu mengingatkanku akan apa yang Alkitab katakan tentang Roh Kudus yang digambarkan seperti api (Matius 3:11). Mungkin Paulus sedang mengucapkan kembali firman Tuhan dalam doanya.

  • Kita bisa membaca Alkitab lebih dulu sebelum berdoa.
    Menuliskan atau menemukan ayat-ayat rujukan dari Alkitab akan lebih menolong kita.

    Inilah beberapa ayat yang sering kugunakan:

    Efesus 6 untuk perlindungan spiritual
    Filipi 4 untuk pikiran yang saleh
    Roma 8 untuk melawan rasa bersalah, malu, dan perasaan tidak berharga
    Mazmur juga menyediakan contoh-contoh doa yang baik. Alkitab akan selalu mengingatkan kita akan kebaikan Tuhan dan bagaimana Dia menjagai iman kita. Kita dapat mendeklarasikan janji-janji Tuhan dengan yakin atas teman kita.

  • Bergabunglah atau mulailah komunitas doa.
    Menghadiri persekutuan doa di gereja atau mengajak sesama teman untuk saling mendoakan adalah awal yang baik. Beberapa orang menganggap doa itu ibarat otot yang akan semakin kuat ketika kita sering melatihnya.


4. Dengar-dengaranlah akan bisikan Tuhan dan bersyukurlah atas doa-doa yang dijawab

Terakhir, jika ada sesuatu yang Tuhan letakkan dalam hatimu untuk kamu sampaikan pada temanmu, lakukanlah. Temanmu akan merasa tertolong untuk melangkah di jalan yang tepat. Kamu bisa mendorong mereka untuk menemukan pertolongan dari orang yang profesional, merekomendasikan bacaan atau konten lainnya yang berguna buat dia, atau sesederhana mengingatkan mereka akan janji Tuhan.

Kadang ketika kita mendoakan teman kita, Tuhan menggunakan diri kita sendiri sebagai bagian dari jawaban-Nya. Jadi, janganlah kita mengabaikan bisikan Tuhan dan tetaplah mendoakan teman kita. Tanyakan apakah mereka butuh untuk ditolong lebih lanjut dan seberapa sering, karena masing-masing kita punya cara sendiri-sendiri untuk menerima kasih dan dukungan dari saudara seiman.

Terakhir, ingatlah untuk berbagi sukacita atas tiap doa yang dijawab. Lihatlah kembali catatan doamu dan ingatlah bagaimana Tuhan bekerja. Bersukacita dan mengucap syukur adalah hal yang berkenan bagi Dia—seperti kisah seorang kusta yang disembuhkan oleh Tuhan (Lukas 17:7-18).

Kembali ke malam sepulang dari persekutuan, aku bersyukur karena saat di perjalanan pulang aku teringat untuk berdoa, “Tuhan, kiranya apa yang jadi kerinduan-Mu buat temanku itu jadi kerinduanku juga.” Roh Kudus seolah memberiku inspirasi kata-kata di pikiranku, lalu kukirim chat kepada temanku itu tentang apa yang kurasa Tuhan ingin katakan padanya, dan dia berkata kalau doa yang kuucapkan itu pas dengan keadaan yang memang sedang dia hadapi. Setelah itu, kurasa kedamaian memenuhi hatiku.

Doa adalah disiplin rohani sepanjang waktu. Sangat penting untuk berdoa dalam komunitas, agar kita bisa saling mendukung satu sama lain sepanjang waktu. Dalam perjalananku sendiri, aku mendapati sungguh berharga apabila kita bisa saling mendoakan, menaikkan apa yang jadi kebutuhan kita bersama-sama kepada Allah yang mendengar dan menjawab kita.

Menjadikan Allah sebagai pusat dari doa-doa kita sebagai resolusi kita di sisa tahun ini, mengapa tidak? Saat kita makin sering mengizinkan diri dipakai Tuhan untuk menyampaikan isi hati-Nya bagi orang lain, kita akan berdoa lebih giat daripada sebelumnya, dan lihatlah iman kita bertumbuh melampaui ekspektasi kita.

Baca Juga:

Jurnal Doa

Kita tahu berdoa itu penting, tetapi ada kalanya kita merasa jenuh untuk berdoa. Kita ingin berdoa, tapi kita bosan melakukannya. Salah satu sebabnya mungkin karena cara doa kita yang tidak pernah berubah.

Jurnal Doa

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Doa ibarat nafas hidup bagi orang Kristen. Kalimat ini mungkin terdengar tidak asing di telinga kita, bahwa orang Kristen harus berdoa. Bahkan sejak kecil, pesan untuk berdoa sudah disampaikan, baik oleh orang tua maupun guru sekolah Minggu. Belum lagi para hamba Tuhan di gereja yang terus mengingatkan kita untuk berdoa.

Kita tahu berdoa itu penting, tetapi ada kalanya kita merasa jenuh untuk berdoa. Kita ingin berdoa, tapi kita bosan melakukannya. Salah satu sebabnya mungkin karena cara doa kita yang tidak pernah berubah. Kita selalu memakai cara yang sama sehingga berdoa hanyalah sebatas rutinitas saja.

Ada banyak cara berdoa yang bisa kita jelajahi, yang sudah dikenal dan mungkin paling sering kita lakukan adalah berdoa dengan berbicara langsung pada Tuhan. Kita memejamkan mata lalu mengucapkan doa dalam hati maupun bersuara. Cara lain adalah dengan menyanyikan doa seperti yang dilakukan para pemazmur, misalnya menaikkan lagu ‘Tuhan adalah Gembalaku’ dari Mazmur 23. Variasi cara lain adalah kita dapat bergabung dalam persekutuan doa sehingga kita dapat berdoa bersama teman-teman lain.

Nah, dari cara-cara itu, ada cara lain yang mungkin terdengar tidak biasa dan jarang dilakukan, yaitu menuliskan doa. Ada yang menyebut cara ini sebagai jurnal doa. Atau bisa juga disebut sebagai prayer diary, atau sebutan lainnya.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan jurnal doa itu?

Jika teman-teman pernah menuliskan jurnal harian, maka jurnal doa itu mirip-mirip kok. Biasanya dimulai dengan menulis tanggal lalu kita menulis isi doa kita.

Apa isi jurnal doa?

Isi jurnal doa boleh apa saja. Mulai dari mencurahkan perasaan yang sedang kita alami, permohonan kita, pengucapan syukur, memuji Tuhan, atau yang lainnya. Isi jurnal doa sama seperti ketika kita berdoa, hanya dituliskan saja. Misalnya:

12 Juli.

Tuhan yang baik (atau panggilan yang biasanya ditujukan kepada Tuhan)
Hari ini aku merasa sedih. Tadi pagi papa memarahiku karena aku terlambat bangun dari biasanya. Padahal hal itu disebabkan karena sepanjang malam aku harus menyelesaikan tugas kuliah. Tetapi papa tidak memberikan kesempatan bagiku untuk menjelaskannya. Tuhan, aku merasa kesal dan marah, sekaligus sedih. Tolong aku, Tuhan, untuk menjelaskan kepada papa apa yang terjadi. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.

Berapa panjangnya?

Tidak ada ketentuan khusus untuk panjangnya tulisan dalam jurnal doa. Jika kita ingin menulis sepanjang satu halaman karena mungkin pada hari itu ada banyak hal yang ingin kita sampaikan kepada Tuhan, maka dipersilakan saja. Tetapi ada kalanya kita tidak tahu harus bicara apa kepada Tuhan karena kondisi atau suasana hati yang tidak enak, maka menulis hanya satu kalimat pun tidak masalah. Misalnya:

13 Juli
Tuhan, aku merasa bingung dengan apa yang terjadi hari ini. Amin.

Apakah harus menulis setiap hari?

Tidak harus, karena jurnal doa hanyalah salah satu cara kita berdoa kepada Tuhan, maka kita diberi kebebasan untuk melakukannya. Hanya, semakin sering kita menulis maka kita akan semakin terbiasa.

Jika tidak bisa menulis, bagaimana?

Salah satu keunikan sekaligus kesulitan dalam jurnal doa memang ada dalam hal menulis. Bagi teman-teman yang tidak terbiasa menulis, mungkin menulis jurnal doa adalah cara yang sulit dilakukan. Tetapi cara ini boleh tetap dicoba, karena sebenarnya mengasyikkan.

Ketika kita menulis, kita melatih otak kita untuk berpikir lebih terstruktur dan sistematis. Berbeda dengan bicara yang biasanya berlangsung spontan, menulis membutuhkan waktu lebih lama untuk berpikir, atau juga merenung.

Apa manfaatnya menulis jurnal doa?

Di zaman ketika kita lebih terbiasa menyaksikan tayangan audio-video, menulis bisa jadi terkesan kuno dan ribet. Tetapi, menulis jurnal doa bisa memberikan beberapa manfaat buat kita, seperti mengatasi kejenuhan kita dalam berdoa sekaligus juga mengasah kemampuan menulis kita.

Doa-doa yang kita tulis menolong kita untuk tidak lupa akan pergumulan yang sedang kita hadapi hari itu. Kelak di masa depan, saat kita melihat kembali jurnal itu, iman kita akan dikuatkan karena kita melihat pertolongan dan jawaban Tuhan atas doa-doa yang kita naikkan.

Menulisnya di mana?

Kita bisa menulis di mana saja yang kita suka. Di buku tulis biasa, maupun buku tulis khusus, atau pada aplikasi note yang tersedia di gawai kita masing-masing. Kita bebas memilih media yang paling nyaman untuk kita masing-masing.

Jadi, mengapa kita tidak mencoba untuk menuliskan doa? Yuk, kita mencobanya. Siapa tahu cara ini dapat menambah keasyikan kita untuk berdoa, dan membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.

Baca Juga:

2 Hal yang Perlu Kita Pahami Saat Berdoa

Jika ada doa yang dijawab dan tidak, lantas, bagaimana isi doa yang berkenan kepada Tuhan sehingga kita dapat selalu bersukacita di dalam-Nya walaupun Dia tidak menjawab doa-doa kita?

2 Hal yang Perlu Kita Pahami Saat Berdoa

Oleh Yosheph Yang, Korea Selatan

“Tuhan, jika Engkau berkenan, tembuskanlah pendaftaranku sebagai dosen tetap di universitas tersebut.”

Begitulah kurang lebih isi doaku setiap hari, memohon agar aku diterima menjadi dosen tetap. Setelah kurang lebih satu bulan aku mengirimkan lamaran, aku dinyatakan tidak lolos dalam seleksi dokumen. Aku berpikir: apakah ada yang salah dengan isi doaku sehingga Tuhan tidak menjawab doaku?

Apakah ada yang salah dengan isi doaku? Pertanyaan seperti ini gampang masuk ke pikiranku ketika doa-doaku tidak dijawab oleh Tuhan. Jika ada doa yang dijawab dan tidak, lantas, bagaimana isi doa yang berkenan kepada Tuhan sehingga aku dapat selalu bersukacita di dalam-Nya walaupun Dia tidak menjawab doa-doaku?

Melalui persekutuan bersama mentor rohaniku, aku diajarkan akan beberapa hal yang sering dilupakan ketika aku meminta sesuatu kepada Tuhan di dalam doa. Hal-hal inilah yang aku akan bagikan kepada teman-teman sekalian.

1. Kita berdoa bukan hanya untuk meminta sesuatu pada Tuhan, tapi juga meminta-Nya mengubah hati kita, agar kita bisa menerima sepenuhnya kehendak-Nya

Walaupun aku tahu bahwa Tuhan berdaulat penuh atas hidupku, acap kali aku tidak berdoa agar Tuhan mengubah hatiku supaya aku bisa menerima apa pun pemberian-Nya. Malahan, isi-isi doaku kebanyakan diisi dengan banyak permintaan, terutama yang berkaitan dengan masa depan pekerjaanku.

Kita boleh meminta sesuatu dalam doa, tetapi kita juga tidak boleh lupa ada hal yang perlu kita sampaikan dalam doa. Mentor rohaniku selalu mengajariku untuk berdoa agar Tuhan memberikan kedamaian atas hasil apa pun yang diberikan-Nya. Ia memberikan contoh tentang Tuhan Yesus yang berdoa di taman Getsemani (Matius 26:36-46, Markus 14:32-42, Lukas 22:39-46). Tuhan Yesus memang berdoa meminta kepada Allah Bapa untuk mengambil cawan dari pada-Nya, tetapi Dia juga berdoa agar kehendak Allah Bapa yang tergenapi di dalam kehidupan-Nya. Walaupun Allah Bapa tidak mengambil cawan itu, Allah Bapa memberikan kekuatan kepada Yesus terhadap penderitaan yang akan dialami-Nya. Kita tahu dengan jelas bahwa ada rencana Allah mengenai keselamatan semua orang melalui penyaliban Yesus.

Lukas 22:42-43
Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi. Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya.

Isi doa Tuhan Yesus di taman Getsemani mengajariku betapa pentingnya iman di dalam doa. Iman yang benar tidak hanya percaya bahwa Tuhan sanggup mengabulkan doa-doa kita, tetapi Tuhan juga berkuasa sepenuhnya atas kehidupan kita. Ketakutan yang dialami Tuhan Yesus menjelang penyaliban di kayu salib membuat-Nya lebih bersungguh-sungguh berdoa (Lukas 22:44).

Ketika kita berdoa kepada Tuhan untuk memberikan kita kekuatan terhadap ketakutan, kelemahan, dan kekhawatiran di dalam kehidupan, kita akan bertumbuh di dalam iman kita kepada-Nya. Penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan akan membuat kita mengalami apa makna sesungguhnya kasih karunia Tuhan di dalam kehidupan kita. Paulus yang menyerahkan hidupnya sepenuhnya kepada Tuhan tahu dengan jelas makna hidup di bawah kasih karunia Tuhan.

2 Korintus 12:8-9
Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.

Terhadap pengajaran yang aku terima dari mentorku, aku berusaha mengaplikasikannya di kehidupanku dengan berdoa agar aku selalu bisa bersyukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepadaku dan tidak membandingkan diriku dengan orang lain di sekitarku.

2. Kita berdoa bukan hanya untuk hal-hal besar, tetapi juga mencurahkan segala isi hati kita kepada Tuhan

Orang percaya yang benar-benar berserah kepada Tuhan selalu menceritakan kepada Tuhan segala pergumulan di dalam hatinya. Ia berterus terang tentang apa isi hatinya dan mencurahkan segala pikirannya kepada Tuhan (Mazmur 62:9).

Filipi 4:6-7
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Perkataan “segala hal” di Filipi 4:6-7 dengan jelas mengajar kita untuk mengucapkan kepada Tuhan apa pun yang kita khawatirkan—dari hal-hal yang terkecil sampai yang terbesar di dalam kehidupan kita. Ketika kita terbiasa berdoa dari hal-hal terkecil, banyak hal dapat kita alami di dalam kehidupan kita. Kita bertumbuh di dalam iman, dan kita akan bergantung lebih pada-Nya. Amsal 3:5-6 menasihati kita untuk mengakui Dia dalam segala langkah kita. Melibatkan Tuhan dalam urusan-urusan kecil dalam hidup kita akan menolong kita untuk tidak bersandarkan pada pengertian kita sendiri. Kita akan lebih memahami makna sesungguhnya dari ‘aku ada saat ini karena kasih karunia Tuhan, dan tanpa Tuhan aku bukan apa-apa’ (1 Korintus 15:10).

Doa adalah bentuk kita berkomunikasi bersama Tuhan. Dengan membiasakan diri berdoa dari hal-hal kecil, kita membangun interaksi yang erat bersama Tuhan. Seiring dengan kita bertumbuh di dalam kehidupan doa, kita akan mampu memprioritaskan Tuhan sebagai yang paling penting di dalam kehidupan kita.

Tuhan Yesus selalu memprioritaskan hubungan-Nya bersama Allah Bapa melalui doa. Ketika Tuhan Yesus akan memilih dua belas rasul, Ia berdoa semalaman kepada Allah Bapa (Lukas 6:12-13). Apa yang di doakan Yesus selama Ia berdoa semalaman kepada Allah Bapa?
Pemilihan dua belas rasul adalah salah satu hal penting di dalam pelayanan Kristus di dunia. Ketika Yesus berdoa semalaman, walaupun tidak tertulis secara eksplisit di Alkitab, aku percaya bahwa Yesus mencurahkan segala isi hati-Nya kepada Allah Bapa dan berusaha memilih rasul berdasarkan kehendak Allah Bapa.

Apakah kita mau mencurahkan segala isi hati kita dan berdoa kepada Tuhan untuk bisa membedakan kehendak Tuhan di dalam kehidupan kita?

Lukas 6:12-13
Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah. Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul.

Kekhawatiranku terhadap pekerjaan dan masa depanku sering membuatku lupa untuk melihat hal-hal kecil yang terjadi di kehidupanku sehari-hari. Melalui pembelajaran yang aku terima, aku berusaha untuk menyelidiki bagaimana isi hatiku sehari-hari dan menuangkan semuanya di hadapan Tuhan. Keluhan-keluhan seperti urusan administrasi sekolah, interaksi dengan mahasiswa, penelitian yang tidak berjalan mulus aku berusaha membawa semuanya kepada Tuhan di dalam doa.

Sebagai penutup, walaupun kita tahu apa isi doa yang berkenan kepada Tuhan, kehidupan doa kita tidak akan bertumbuh kalau tidak melatih diri kita untuk berdoa. Kita bisa memulainya dengan menentukan terlebih dahulu waktu yang sesuai untuk berdoa dan selalu memohon kepada Tuhan untuk memberikan kita semangat untuk tetap berdoa.

Andrew Murray dalam bukunya tentang doa menulis, “Tanpa pengaturan waktu doa, semangat berdoa akan tumpul dan lemah. Tanpa doa yang terus-menerus, waktu doa yang ditentukan tidak akan berhasil.”

Aku berharap dan berdoa aku dan teman-teman selalu bertumbuh di dalam kehidupan doa. Tetaplah berdoa (1 Tesalonika 5:17).

Baca Juga:

Tentang Doa yang Tidak Terkabul: Apakah Kita Kurang Sungguh Berdoa?

Seseorang telah gigih berdoa, tapi jawaban doanya tidak sesuai harapannya. Padahal, Alkitab bilang bila doa orang benar itu besar kuasanya. Apa yang bisa kita gali dari fenomena ini?

Tentang Doa yang Tidak Terkabul: Apakah Kita Kurang Sungguh Berdoa?

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

Ada seseorang yang telah berdoa dengan bersungguh-sungguh dan meneteskan banyak sekali air mata. Dia berseru kepada Tuhan bagai pengemis kurus kelaparan yang sedang meminta-meminta, memohon belas kasihan dari Tuhan yang kuasanya tak terbatas.

Namun, sayang sekali, kegigihannya berdoa itu tidak memberikan hasil yang diinginkannya. Orang yang amat dia cintai berakhir tak berdaya, tanpa nyawa dalam sebuah ruangan di rumah sakit. Tindakan operasi tidak menyelamatkan anaknya dari penyakit mematikan yang telah menyiksa selama bertahun-tahun. Singkat kata, perjuangan bertahan hidup diakhiri dengan getir.

Penyakit kronis itu telah merusak kondisi tubuh sang anak. Kepalanya membengkak. Tanpa terganggu dengan penampakan jenazah, dengan wajah datar sang ibu memandangi tubuh anaknya tercinta yang telah kaku.

Setelah upacara pemakaman selesai, dia berteriak keras, menembakkan ribuan peluru keluhan yang menghujam hati para pelayat. “Aku telah berdoa pada Allah yang Mahakuasa. Aku tahu tentang kisah-Nya yang mengubah air dalam tempayan menjadi anggur dengan kualitas nomor satu hanya untuk sebuah pesta, dan aku tidak meminta lebih. Aku hanya meminta-Nya setetes belas kasihan.” Lanjutnya lagi, “Aku mau menagih sebuah janji yang disampaikan ribuan tahun lalu oleh Dia yang tak pernah ingkar melalui hamba-Nya, ‘Doa orang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya’” (Yakobus 5:16b).

* * *

Kisah pilu di atas berbicara tentang seorang Kristen yang telah menghabiskan begitu banyak energi saat dia berjuang demi kesembuhan orang terkasihnya. Dia membeli obat yang mahal, mengunjungi dokter terbaik, memanjatkan doa bertubi-tubi. Namun, ketika pada akhirnya keadaan berkata lain, jauh dari apa yang diharapkan, dia, dan juga banyak orang percaya menjadi kebingungan.

Fenomena ini membangkitkan kembali pertanyaan-pertanyaan yang terkesan usang tetapi terus bergema di sepanjang zaman bagi para pengikut Kristus. Apakah tidak terkabulnya doa itu karena seseorang kurang bersungguh-sungguh? Apakah perkataan Yakobus dapat dipercaya?

Suka atau tidak suka, tentu saja pada saat kita melihat ayat-ayat dalam Alkitab kita tidak bisa sembarangan mengartikannya sesuai dengan kemauan kita. Sebenarnya, bukan hanya Alkitab, prinsip yang sama juga berlaku pada semua tulisan di mana konteks harus benar-benar diperhatikan. Kegagalan melihat konteks dapat membuat kita gagal paham, atau tragisnya: tersesat. Sampai di sini, aku harap kamu tidak bingung atau takut, lalu berhenti membaca tulisan ini. Aku tidak akan mengajakmu untuk mempelajari Hermeneutika (ilmu menafsir Alkitab) sebanyak tiga sampai empat SKS.

Aku ingin mengajakmu menaruh perhatian lebih serius pada isu krusial ini. Jika kamu belum berdoa saat membaca tulisan ini, adalah baik untuk berdoa memohon hikmat dari-Nya.

Menelaah maksud tulisan Yakobus

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16b).

Ada satu hal yang harus kita ketahui terlebih dulu saat membaca perkataan Yakobus ini. Di sana, setelah ayat 16, Yakobus turut menyertakan kisah tentang Elia yang berdoa agar langit menahan dan menurunkan hujan yang dikutip dari 1 Raja-raja 8:41-46. Bagi kita yang telah membaca kisah itu, secara cepat kita mungkin langsung tahu bahwa tujuan utama dari mukjizat Elia bukanlah untuk dirinya sendiri. Elia tidak meminta Allah mengendalikan langit agar dia dipuji oleh mereka yang menyaksikannya, atau sekadar demi kepuasan hati Elia semata. Semua hal menakjubkan yang dilakukan Elia ditujukan bagi kemuliaan Allah yang mengasihi umat-Nya. Hal ini mungkin terasa asing bagi sebagian orang yang pemahamannya tentang doa adalah mengenai pemenuhan dan pemuasan bagi si pendoa. Dari kisah Elia, kita mendapati bahwa fokus utama dari doa Kristen bukanlah untuk itu, melainkan untuk kemuliaan Allah.

Maksud dari pernyataanku pada paragraf di atas bukan berarti kita tidak boleh mencurahkan isi hati dan permohonan kita kepada Allah. Aku dan kamu dapat menangis di hadapan-Nya. Allah adalah sahabat kita. Namun di sini, aku mendorong kita untuk memusatkan segala kerinduan hati kita kepada kemuliaan-Nya ketika kita sedang berdoa. Mungkin pandangan ini terkesan keras, tetapi kita perlu mengingat bahwa ketika kita memiliki fokus lain selain Allah dalam hidup kita—termasuk di dalam doa—itu dapat dikategorikan sebagai ‘pemujaan berhala’. Hal-hal baik yang kita lakukan, jika didasari pada pandangan kita yang keliru bisa menuntun kita kepada dosa.

Itulah sebabnya, Yakobus menekankan kebenaran di dalam doa. Dia dengan jelas berkata tentang doa orang yang benar. Kata-kata ini tidak bisa kita sepelekan. Kata ‘benar’ menentukan begitu banyak hal yang telah dan yang akan kita definisikan dalam hidup kita.

Jika kita melihat secara keseluruhan pasal dalam ayat ini, sebenarnya ada banyak hal yang dibicarakan oleh Yakobus, tetapi perhatian kita akan kita arahkan secara khusus untuk ayat yang sering disalahpahami ini.

Jadi, apa yang dimaksud dengan “orang yang benar” oleh Yakobus?

Ada tiga hal yang sebenarnya sangat erat yang kita akan bedah bersama agar lebih mudah dipahami.

1. Orang yang benar adalah orang yang dibenarkan oleh darah Kristus

Orang yang benar adalah orang yang telah beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan satu-satunya Juru selamat, yang telah memberinya jaminan keselamatan melalui pengorbanan-Nya di Kalvari, sebagaimana tertulis “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Roma 5:1). Yesus memberikan kepastian akan hari esok, bukan teka-teki.

2. Orang yang benar adalah orang beriman yang hidup benar di hadapan Allah

Poin kedua ini tidak sedang berkata bahwa ada manusia yang dapat hidup sempurna tanpa cacat. Yang kumaksudkan di sini adalah orang yang telah dibenarkan karena beriman kepada Kristus yang akan berjuang hidup benar bagi-Nya. Dengan kata lain, imannya diwujudnyatakan dalam perjuangan hidupnya (Yakobus 2:14).

3. Orang yang benar adalah orang yang doanya benar

Poin ketiga ini sebenarnya mengembalikan kita pada poin yang sudah kita bicarakan sebelumnya mengenai fokus doa. Mungkin kita adalah orang yang telah dibenarkan oleh darah Kristus dan sedang berjuang hidup benar bagi kemuliaan-Nya, tetapi dalam motivasi berdoa, kita terkadang salah. Dan, sebenarnya inilah yang telah Yakobus bahas dalam pasal sebelumnya (Yakobus 4:3). Doa orang yang besar kuasanya bukan sekadar siapa pendoanya, melainkan juga apa isi doanya.

Allah tidak mengabulkan doa yang didasari atas motivasi yang salah, segigih apa pun itu.

Beberapa tahun yang lalu, seseorang memberikan kesaksian padaku saat dia kehilangan anaknya. Hatinya hancur. Dia telah berdoa agar anaknya selamat, namun hal yang diinginkannya tidak terkabul. Lalu, di suatu momen, dia mengubah isi doanya. Dia ingin agar nama Tuhan dimuliakan.

Dengan tersenyum, dia memandangku dan berkata, “Tahukah kau, Fandri, pada saat upacara pemakaman anakku, ada banyak orang dengan dengan latar belakang yang berbeda datang. Dan hari itu, mereka mendengarkan kisah kasih Injil keselamatan, kasih Tuhan melalui pengorbanan Kristus lewat sang pengkhotbah.”

Iman Kristen sejatinya bukanlah iman yang sadis, yang seolah Allah hanya bisa dimuliakan ketika kita mengalami penderitaan berat. Tapi, bukan juga iman yang dangkal, yang hanya mengharap hal-hal baik dan takut terhadap penderitaan. Dalam dunia yang telah jatuh ke dalam dosa, rupa-rupa kemalangan seringkali tidak terelakkan dalam kehidupan kita, tetapi dalam segalanya: entah baik atau buruk, Allah dapat memakai kita sebagai alat-Nya untuk memberi kebaikan bagi kita (Roma 8:28), sekaligus membawa kemuliaan bagi nama-Nya (Roma 11:36).

Kuasa kebenaran di dalam doa terjadi ketika kita telah jujur tentang apa yang kita inginkan, tetapi tetap berani berkata, “Jadilah kehendak-Mu untuk kemuliaan-Mu.”

Baca Juga:

Melajang di Usia 30+: Menyerah atau Bertahan dengan Pendirian?

Melepaskan seseorang yang cukup layak dalam standar masyarakat zaman ini menjadi sangat susah saat berada di usiaku. Aku bisa merasakan pikiranku bergulat untuk menemukan semacam kompromi.

Melajang di Usia 30+: Menyerah atau Bertahan dengan Pendirian?

Oleh Nelle Lim
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 30+, Single, And Trying Not To Settle

Kencan online di usia 30-an sepertinya tidak cocok untuk orang yang hatinya lemah.

Aku pikir aku perlu mengulangi jawaban-jawaban yang sama selama berbulan-bulan, berpikir keras untuk menciptakan obrolan yang santai, dan berusaha untuk tidak melirik jam di pertemuan pertama kami yang terasa membosankan. Meski ketakutan itu mungkin terwujud, tapi tidak ada salahnya untuk tetap mencoba. Kepada seorang laki-laki, aku coba memberanikan diriku untuk memulai obrolan.

Setelah beberapa bulan, aku mulai melihat sifat aslinya. Laki-laki ini orang yang menyenangkan. Dia merespons pertanyaan-pertanyaanku dengan serius, dia mengajukan pertanyaan yang sopan, dan perilakunya juga santun. Meskipun dia termasuk orang yang cukup serius, tapi dia masih punya selera humor (dan senyumannya yang manis). Kami suka menonton acara komedi, jalan-jalan ke luar ruangan, dan belajar hal-hal baru. Di tiga jam pertama dari pertemuan pertama, kami mengobrol dengan lancar sampai-sampai aku lupa pulang.

Tapi, meskipun dia mencantumkan status ‘Kristen’ di profilnya, aku melihat kalau dia tidak punya relasi personal dengan Tuhan. “Tuhan” baginya adalah sosok dengan kuasa yang lebih besar, dan dia tidak yakin dengan konsep bagaimana Salib itu bekerja menyelamatkan manusia. Semakin banyak kami berbicara, semakin terlihat tanda-tanda kehidupan yang hampa darinya. Meskipun dia orang yang ambisius dan sedang berada pada jalannya untuk mencapai kesuksesan, kehampaan itu muncul dari perasaan insecure-nya. Dia mengakui kalau dia takut jadi orang yang tidak relevan dan diabaikan. Untuk mengalahkan kekhawatiran itu, dia tidak mengizinkan ada orang lain yang mengontrol hidupnya—termasuk Tuhan. Dia terus mendorong dirinya untuk jadi yang terdepan.

Godaan untuk menyerah

Setelah putus empat tahun lalu, aku tahu orang yang seharusnya menjadi calonku harus mengasihi dan takut akan Tuhan. Aku bisa menebak masalah apa yang akan datang jika aku berelasi dengan seseorang yang mengandalkan dirinya sendiri untuk menjalani hidup. Kehidupan telah menunjukkanku akan apa yang Yeremia katakan, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9).

Hatiku sendiri, meskipun aku sudah mencoba menyerahkannya pada Tuhan, sering membawaku pada kesulitan. Jadi, jika pasanganku jelas-jelas menolak menyerahkan hatinya pada Tuhan, bagaimana aku dapat percaya pada setiap keputusan atau kata-katanya? Aku akan selalu menebak-nebak apakah itu keputusan dia yang egois. Dan, kurasa dia pun tidak akan pernah bisa jadi pemimpin rohani bagi keluarga.

Dengan harapan untuk memiliki pasangan yang berfokus pada Kristus, kurasa itu sudah cukup buatku untuk mengakhiri relasiku dengan laki-laki itu. Tapi, ketika keputusan itu muncul di otak, aku teringat:

Kamu itu nggak lagi muda.
Kamu siap buat membangun lagi komunikasi dengan orang lain?
Kapan lagi kamu bisa dapet chemistry kayak begini?
Kalau kamu terlalu pemilih, ya terima aja kalau kamu sendirian
Duh, orang seperti dia sih masih gapapa; dia bukan ateis kok.

Melepaskan seseorang yang cukup layak dalam standar masyarakat zaman ini menjadi sangat susah saat berada di usiaku. Aku bisa merasakan pikiranku bergulat untuk menemukan semacam kompromi. Mungkin aku bisa berjuang keras untuk memuridkan dia. Mungkin menginginkan calon suami yang bisa jadi pemimpin rohani cuma angan-angan saja, bukan sesuatu yang wajib? Lagipula, beberapa temanku yang Kristen baik-baik saja kok relasinya selama mereka jadi istri yang kerohaniannya lebih kuat?

Naluriku (atau mungkin Roh Kudus) melihat semua upayaku merasionalkan pemikiran-pemikiranku ini adalah mengangkat alis sebagai tanda heran. Tapi, pikiranku yang dicengkeram rasa takut terus menekanku.

Rumah yang kuharap ingin kubangun

Aku tahu aku bisa berdoa memohon petunjuk dari Tuhan untukku melakukan apa yang perlu. Suatu malam, saat aku sedang mencuci piring, sebuah pertanyaan muncul di pikiranku, “Nilai apa yang paling penting, yang ingin kamu berikan kepada anak-anakmu?”

Hening tetapi menohok, kurasa pertanyaan itu datang dari Roh Kudus. “Ini sih gampang,” pikirku, “aku mau anak-anakku punya relasi yang nyata dengan Tuhan yang mengasihi mereka. Ketaatan mereka adalah sikap hormat bagi Allah yang kudus. Dan supaya mereka bisa melihat setiap orang diciptakan seturut gambar-Nya, yang dengan demikian layak mendapatkan martabat dan kehormatan.”

Bagiku, beberapa nilai yang ingin kuberikan itu akan menolong mereka menemukan versi kehidupan terbaik yang bisa mereka miliki. Aku pernah mencoba hidup tanpa Tuhan, menentang-Nya, tetapi kemudian aku sadar bahwa dikasihi oleh Tuhan akan membentuk hidup kita. Aku percaya penuh bahwa Tuhanlah satu-satunya jalan menuju keutuhan hidup.

Pertanyaan kedua segera datang, “Tapi, bagaimana jika pasanganmu tidak percaya dengan itu semua, atau menolak harapan-harapanmu itu sebagai sebuah prioritas?”

Dan tiba-tiba… pergumulan pikiran selama berminggu-minggu pun hilang. Jika aku tahu apa yang terbaik untuk anak-anakku kelak, bagaimana bisa kelak kami hidup dalam rumah yang tidak bersatu, yang mungkin akan menghalangi mereka untuk tumbuh mendapati kehidupan yang terbaik untuk mereka?

Mungkin Tuhan tahu karena aku tipe orang yang mudah berkompromi, Dia mengajakku untuk berpikir keras. Pikiran-pikiran itu menolongku melihat bahwa pilihan-pilihan yang kubuat terkait pasangan hidupku tidak cuma akan mempengaruhiku, tetapi juga bagi orang lain.

Aku menyadari sekali lagi, ini adalah ujian bagi hatiku. Apakah aku percaya bahwa ketika Tuhan menetapkan batasan yang jelas bagi pernikahan, Dia tahu apa yang terbaik bagi kita? Atau, aku sombong karena kupikir akulah yang lebih tahu? Kupikir aku cukup kuat untuk menanggung semua akibat dari tidak berpegang pada tuntunan Tuhan dan menciptakan pernikahan berdasarkan standarku sendiri?

Ketika aku mengobrol dengan teman-temanku yang menikah dengan bukan orang Kristen, atau menikahi orang-orang yang tidak dewasa secara rohani, semua ilusiku pun buyar. Mereka bercerita betapa kesepiannya mereka karena tidak bisa membagikan isi hati terdalam mereka—perjalanan mereka bersama Tuhan—dengan pasangan mereka. Atau, betapa melelahkannya untuk berjalan secara rohani sendirian. Karena mereka sudah terikat dalam pernikahan, mereka berkata perlu tetap berkomitmen untuk mempertahankannya. Sementara itu, aku masih punya pilihan.

Teman-temanku yang menikahi seorang yang saleh menemukan sukacita tak terduga dari kehidupan pasangannya yang mengasihi Tuhan dan gereja (Efesus 5:25-29), serta bertanggung jawab menjadi pemimpin spiritual dalam keluarga. Mereka juga punya pergumulan, tapi secara karakter mereka semakin bertumbuh. Tanpa mereka perlu berkata, aku bisa melihat sendiri alasan untukku tidak berpasrah diri asal saja menerima siapa pun untuk menjadi pasanganku.

Setelah beberapa minggu mengelola pikiranku, aku memberitahu laki-laki itu kalau aku tidak mampu membangun hubungan ini lebih lanjut dengannya.

Lajang untuk hari ini

Bertumbuh dalam kedewasaan rohani berarti keputusanku—bahkan tentang pernikahan—harus tidak berpusat pada diriku sendiri dan seharusnya lebih kepada apa yang dapat memuliakan Tuhan (1 Korintus 10:31).

Tetapi, menetapkan keputusan berdasarkan apakah keputusan ini mencerminkanku sebagai anak Tuhan terkadang terasa membebani. Di hari-hariku yang sunyi, memuliakan dan menaati Tuhan terasa seperti latihan untuk menekan egoku.

Di hari-hari yang terasa lebih baik, aku ingat janji ini: “Siapa yang menghormati Aku, akan Kuhormati” (1 Samuel 2:30). Janji ini mengingatkanku bahwa ketika Tuhan tidak ingin aku berpasangan dengan seseorang yang tidak mengasihi-Nya, itu tidak berarti Dia ingin aku hidup dalam penderitaan sebagai seorang yang melajang dan kesepian. Meskipun Tuhan tidak memenuhi kebutuhanku dengan cara yang aku inginkan, Dia akan membuatku bertumbuh.

Dalam masa-masa ini, aku melihat bagaimana Dia membawaku kepada relasi spiritual yang dalam, supaya aku bisa mengatasi kesepianku dan memberiku kesempatan untuk membangun kerajaan-Nya. Aku belajar percaya kebaikan-Nya—apa pun bentuknya—pasti akan memberiku kepuasan.

Sejujurnya aku masih belum berani jika Tuhan mengatakan kehendak-Nya bagiku adalah aku melajang seumur hidupku. Aku harus belajar percaya sepenuhnya pada-Nya. Pada tahap ini, akan lebih mudah bagiku untuk “melajang” pada hari ini, tanpa perlu terlalu mengkhawatirkan hari depan. Satu mazmur yang sering kuingat ketika aku menaikkan doa pagi, “Perdengarkanlah kasih setia-Mu kepadaku pada waktu pagi, sebab kepada-Mulah aku percaya! Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh, sebab kepada-Mulah kuangkat jiwaku” (Mazmur 143:8).

Ini adalah tindakan imanku untuk hari-hari yang kujalani bahwa akan selalu tersedia anugerah yang cukup untuk hidup dan bertumbuh dalam masa-masa lajangku.

Baca Juga:

Cerpen: Ngobrol Dengan Tuhan Itu Asyik

Aku mendengar pintu depan terbuka.

“Lima…Empat…Tiga…Dua…Satu.”

“Dewi…Dewi…Kamu ada di mana?”

Berhenti Sejenak untuk Berdoa | Berdoa bagi Indonesia

Ketika perahu yang kita naiki terguncang karena badai, seringkali kita lupa bahwa tidak ada badai yang terlalu hebat untuk Tuhan Yesus tenangkan.

Hari-hari ini, ketika kita menyaksikan atau bahkan juga mengalami kegetiran dan kesedihan yang diakibatkan oleh badai pandemi, adalah baik untuk datang pada Bapa. Dia tahu dan peduli apabila ada dari antara kita yang dengan berat hati harus mengikhlaskan kepergian yang mendadak; keterpisahan sementara dengan orang-orang terkasih; kesulitan karena lapangan kerjanya terdampak; dan banyak nestapa lainnya yang menghadang.

Datanglah pada Tuhan, mencari wajah-Nya dengan berdoa.

Doa yang kita naikkan mungkin tidak akan mengubah keadaan dalam sekejap, tetapi dengan berdoa, kita mengizinkan damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus.

Bersama Tuhan Yesus, kita pasti bisa melalui semua ini.

#WarungSaTeKaMu
#LawanPandemi #SatukanHati #PrayForIndonesia #BerdoaBagiBangsa

Cerpen: Ngobrol Dengan Tuhan Itu Asyik

Oleh Meili Ainun

Aku mendengar pintu depan terbuka.

“Lima…Empat…Tiga…Dua…Satu.”

“Dewi…Dewi…Kamu ada di mana?”

“Nah, dia pasti menuju dapur, lalu ke ruang tamu, dan sekarang ke kamar.”

Pintu kamar terbuka dan muncullah wajah manis sahabatku sejak kecil. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Begitu masuk, Yenny langsung mengambil posisi berbaring di ranjang.

“Ada apa?” tanyaku. Pertanyaan yang kutanyakan setiap kali bertemu Yenny.

“Biasa, mau ngobrol saja.” jawab Yenny. Jawaban yang sama juga sepanjang yang aku ingat.

“OK, mulailah,” ajakku santai.

Yenny tertawa kecil, dan mengambil posisi duduk di tepi ranjang.

“Gini, Wi. Kamu tahu kan si Adi, itu yang sekelas dengan kita di kelas Manajemen Umum. Aku baru tahu lho, ternyata dia suka traveling juga, sama seperti aku. Rencananya kelompok travel kampus akan pergi ke Bali saat liburan. Aku akan ajak Adi ikut, ah… Sekalian kenalan lebih dekat,” Yenny memulai ceritanya dengan bersemangat.

Aku mengangguk tersenyum.

“Terus…kamu tahu kan si Camalia. Bunga kampus kita. Aku baru tahu ternyata rumahnya tidak jauh dari rumah kita, Wi. Bayangkan kalau kita bisa mengajak dia main juga, Wi. Asyik juga kan ya, bisa bersahabat dengan orang terkenal.”

Yenny terus bercerita mengenai adik perempuannya yang masih duduk di bangku SMA, kedua orang tuanya yang masih sibuk bekerja bahkan juga di akhir pekan, keinginannya untuk bekerja di perusahaan terkenal setelah lulus, dan berbagai hal lain.

“Eh..Wi. Kamu dengerin aku nggak, sih? Kok kamu diam saja?” tanya Yenny tiba-tiba.

“Aku dengerin kamu kok,” jawabku.

“Kamu bosan ya?” tanya Yenny dengan serius.

“Ngak, aku sudah terbiasa mendengarkan kamu bercerita sampai berjam-jam,” kataku sambil nyengir. “Hanya saja…”

“Apa?” tanya Yenny waspada.

“Aku lagi berpikir mengapa kamu senang ngobrol dengan aku? Padahal kan aku lebih banyak diamnya daripada menanggapi kamu,” jawabku.

“Karena itulah kita cocok. Aku bicara, kamu mendengarkan. Iya kan?” katanya sambil memelukku. “Juga karena kamu memperhatikan saat aku berbicara. Aku kesepian, selain kamu, tidak ada orang yang dapat aku ajak ngobrol seperti ini. Kadang mereka suka memotong pembicaraan, ada juga yang menghakimiku sebelum aku selesai cerita, macam-macam deh sikapnya. Jadi aku lebih senang mengobrol sama kamu.”

“Oh..gitu ya? Sebenarnya kamu tahu nggak, ada teman ngobrol yang lebih asyik daripada aku,” kataku.

“Masa? Siapa? Beneran ada? Atau kamu bosan jadi kamu bilang seperti itu?” sahut Yenny.

“Beneran ada. Aku saja ngobrol sama Dia setiap hari. Bukan hanya setiap hari, satu hari bisa beberapa kali,” terangku.

“Hah? Siapa Dia? Aku jadi ingin tahu. Kamu ngobrol dengan Dia melalui apa? Telepon? Apa Dia datang ke rumahmu? Atau apa?” Yenny terlihat penasaran dan terus mengajukan pertanyaan.

“Dengan Tuhan, Yen. Ngobrol dengan Tuhan itu ternyata asyik, lho,” jawabku bersemangat.

Yenny menatapku tidak percaya. “Masa sih?”

“Ngobrol dengan teman itu memang asyik. Tetapi dengan Tuhan lebih asyik lagi. Teman nggak bisa selalu ada buat kita. Tetapi Tuhan selalu ada. Kapan pun kita mau ngobrol dengan Dia, langsung ngobrol saja. Di mana pun, dalam situasi apa pun, Dia siap mendengarkan. Dan kamu bisa ngobrolin apa saja termasuk rahasia hatimu. Mau kamu lagi susah, lagi senang, langsung ngobrol saja. Asyik kan?” jelasku.

“Hm… itu benar. Tetapi Tuhan kan tidak bicara langsung begitu kalau kita sedang ngobrol dengan Dia. Darimana kita tahu Dia sedang mendengarkan? Terus darimana kita tahu juga jawaban Dia?” tanya Yenny mempertahankan pendapatnya.

Melihat sahabatku tertarik, aku lebih bersemangat.

“Tuhan pasti mendengar ketika kita sedang berbicara dengan Dia. Dan bukan hanya ngobrol dengan Tuhan itu asyik. Jawaban Tuhan itu tidak kalah asyiknya. Karena Dia bisa menjawab dengan berbagai cara. Nggak hanya lewat satu cara. Macam-macam caranya. Bahkan yang tidak terpikir sebelumnya.”

“Misalnya apa?” Yenny masih menatapku heran.

Baru kali ini aku berbicara serius soal Tuhan dengan Yenny. Meskipun kami bersahabat sejak kecil, tetapi aku merasa sulit berbicara mengenai imanku. Hari ini aku melihat Tuhan membuka jalan.

“Kamu ingat ngak baju hijau yang aku pakai kemarin?”

Yenny mengangguk.

“Aku sudah lama sekali menaksir baju hijau itu, Yen. Tetapi aku nggak tega mengeluarkan uang untuk beli karena harganya mahal. Ketika aku lagi ngobrol sama Tuhan, aku ingat baju hijau itu. Aku bilang aku ingin menginginkan baju hijau itu sebagai kado ulang tahunku nanti. Begitu saja. Aku tidak ingat lagi dengan baju hijau itu sampai di hari ulang tahunku. Kamu tahu apa yang terjadi? Tiba-tiba saja aku mendapat hadiah dari sepupuku. Coba tebak? Iya, benar. Baju hijau itu. Luar biasa, kan? Cara Tuhan menjawab nggak terduga sama sekali. Asyik banget. Memang sih Tuhan tidak selalu mengabulkan yang kita doakan. Tetapi kalau kamu pikirkan dengan serius, Tuhan sudah menjawab. Hanya biasanya kita tidak menyadarinya.”

“Wah…luar biasa, Wi. Ternyata Tuhan bisa menjawab dengan cara seperti itu, ya?” Yenny berdecak kagum.

“Cobain deh. Beneran. Asyik banget. Kamu harus coba supaya tahu asyiknya,” kataku memberikan senyum terbaikku.

“Ok deh. Aku akan coba. Tetapi aku masih boleh kan ngobrol dengan kamu? Siapa tahu Tuhan menjawab doaku nanti lewat kamu,” goda Yenny mengedipkan mata.

“Ha…ha…ha…ha…tentu saja. Iya, siapa tahu ya?”

“Yesus kawan yang sejati bagi kita yang lemah.
Tiap hal boleh dibawa dalam doa pada-Nya.”

-Kidung Jemaat 453, Yesus Kawan yang Sejati-

Baca Juga:

3 Sifat Anak Kecil yang Perlu Kita Contoh

Anak kecil sering dianggap sebagai sosok yang lemah dan penuh ketergantungan. Lantas, apa yang sebenarnya bisa kita pelajari dari mereka?

3 Sifat Anak Kecil yang Perlu Kita Contoh

Oleh Adiana Yunita, Yogyakarta

Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata ‘anak kecil’? Mungkin mereka lucu, menggemaskan, penuh kasih sayang, dan ngangenin. Atau sebaliknya, mereka bandel, rewel, serta penuh dengan tangisan dan rengekan.

Setiap kita punya pengalaman masing-masing dengan anak kecil, entah itu pengalaman positif maupun negatif. Di dalam Alkitab pun, Yesus pernah berbicara tentang anak-anak kecil ini. Sebenarnya ada apa dengan ‘anak-anak kecil’? Apa kaitannya dengan kehidupan doa kita?

Kita mungkin tidak asing dengan peristiwa di Alkitab ketika Tuhan Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah Dia dan para murid-Nya. Kisah itu tertulis di dalam kitab Markus 9:33-37.

Pada waktu itu para murid sedang mempertengkarkan tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Menariknya, Yesus merespons kejadian tersebut dengan memanggil seorang anak kecil dan berkata, “Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:3) Dari ayat ini, kita bisa memahami bahwa Tuhan Yesus mengharapkan kita menjadi seperti anak kecil yang menyambut Kerajaan Sorga. Kemudian, Yesus melanjutkan, “Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 18:4) Perkataan ini tampaknya mengejutkan para murid. Pasalnya, selama ini mereka berpikir bahwa seharusnya yang terbesar adalah seseorang yang sudah melakukan banyak pekerjaan besar atau yang paling terkenal di antara mereka.

Jadi, mengapa ketika kita datang dan berdoa kepada Allah kita perlu menjadi seperti anak kecil? Ternyata, jika kita perhatikan, ada beberapa sifat anak-anak kecil yang dapat kita contoh. Setidaknya, ada tiga hal yang dapat kita pelajari dari anak-anak kecil.

1. Anak kecil itu selalu menunjukkan antusiasme

Anak-anak tidak pernah terlepas dari keceriaannya. Buktinya, cukup familiar di telinga kita ketika mendengar orang tua berkata, “Energi anak-anak memang ga pernah ada habisnya.” Ya, memang benar, anak-anak selalu terlihat bersemangat dan seolah tiada lelah. Inilah wujud antusiasme yang nyata dalam diri anak-anak.

Lantas, bagaimana dengan kehidupan doa kita? Apakah kita selalu antusias dan bersemangat ketika datang kepada Tuhan? Tuhan Yesus ternyata tidak pernah mensyaratkan bahasa yang indah-indah ketika kita berdoa. Ia menginginkan kita datang dan berdoa dengan penuh kerinduan dan antusias kepada-Nya.

2. Anak kecil itu selalu jujur

Jika kita perhatikan, anak-anak itu selalu bersikap apa adanya. Ketika senang, mereka akan tertawa, bahkan sampai berjingkrak-jingkrak. Sebaliknya, saat sedih, mereka akan menunjukkan kekecewaannya dengan menangis. Orang dewasa mungkin bisa ‘pura-pura bahagia’, tetapi anak-anak akan mengekspresikan perasaannya dengan jujur. Mungkin ini juga yang membuat kehidupan doa kita tidak cukup menggairahkan. Kita seringkali tidak jujur dengan perasaan kita di hadapan Tuhan. Kadang waktu kita malah habis karena kebingungan memilih rangkaian kata yang pas di dalam doa kita. Padahal, Tuhan mau kita datang dengan jujur di hadapan-Nya seperti anak-anak yang bebas mengekspresikan perasaannya tanpa takut tertolak oleh siapa pun.

3. Anak kecil itu selalu memiliki rasa ingin tahu

Pernah suatu kali aku melihat seorang anak yang terus-menerus bertanya kepada orang tuanya. Ia bertanya banyak hal tentang segala sesuatu yang ia temui di sepanjang perjalanan. Ia selalu ingin tahu. Dan, memang begitulah natur anak-anak. Di masa tumbuh kembangnya, anak-anak selalu ingin memahami tentang kehidupan ini dan meminta penjelasan dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Sekalipun sudah dewasa, kita pun tidak akan pernah memahami secara utuh kehidupan ini. Tentu saja, kita semua tahu bahwa hanya Tuhan, Sumber Hikmat itu, yang memahami segala sesuatunya. Begitu juga dalam kehidupan doa kita.

Seringkali kita berdoa seolah-olah kita telah memahami segala yang terbaik buat hidup kita. Padahal, bagi Allah, kita ini sama seperti anak kecil yang selalu bertanya, “Mengapa, mengapa, dan mengapa,” tanpa mau mendengar jawaban-Nya. Kita lupa bahwa segala jawaban sudah Ia tuliskan di dalam sebuah Buku Kehidupan berisi surat-surat cinta-Nya kepada kita, yaitu Alkitab.

Kapan terakhir kali kita sungguh-sungguh ingin tahu isi Alkitab? Seiring waktu kita berdoa, datanglah juga dengan segala keingintahuan dengan membaca firman-Nya sehingga kita semakin memahami tentang kehidupan, terutama kehendak-Nya bagi hidup kita.

Mungkin ada di antara kita yang saat ini sedang mengalami kehidupan doa yang terasa hambar dan membosankan. Namun, anak kecil yang Yesus panggil mengingatkan kita bahwa yang terbesar di antara kita adalah yang mau merendahkan hati menjadi seperti anak kecil itu. Anak kecil yang selalu antusias dan selalu jujur ketika datang kepada-Nya, serta selalu ingin tahu kerinduan hati Bapa di Sorga. Mari terus datang kepada Tuhan. Ia pasti akan selalu menyambut kita.

Baca Juga:

Pertolongan yang Ajaib

Di perjalanan pulang dari gereja, dua orang bersenjata api menodong kami. Panik, yang bisa kami lakukan cuma melarikan diri, dan Tuhan menolong kami dengan cara-Nya yang ajaib.