Gak Adil! Memangnya Aku Penjaga Adikku?

Oleh Jessica Tanoesoedibjo, Jakarta

Aku dilahirkan sebagai anak tengah dari lima bersaudara, pada tengah minggu, di tengah bulan, dan tengah tahun. Banyak orang berkata “wah anak tengah tulen, middle child syndrome pastinya.” Karena, anak pertama biasa lebih dominan dan anak terakhir sering dimanja, sedangkan kebanyakan dari anak tengah merasa terabaikan, akibat urut kelahirannya.

Tambahan pula, dengan sifatku yang cukup penurut, sejak masa remajaku, aku sering diberi tanggung jawab oleh kedua orang tua, untuk turut menjaga adik-adikku. Dan sesungguhnya, sempat terlintas di benakku, “apakah aku penting?

Salah satu buku cerita favoritku berjudul, My Sister’s Keeper, yang ditulis oleh Jodi Picoult. Novel tersebut menceritakan tentang dinamika kakak-beradik yang saling mengasihi. Namun, sang adik bergumul dengan kepahitan yang ia rasakan, terhadap kedua orang tua dan sang kakak, yang adalah penderita kanker darah. Pusat perhatian kedua orang tua tentu ada pada sang kakak yang sakit, sedangkan ada ekspektasi tak terucapkan bagi sang adik untuk menjadi donor berkelanjutan bagi kakaknya sendiri.

Ketika membaca buku tersebut, aku merasa dimengerti. Bahwa perasaan sakit hati terhadap seseorang, bukan berarti kita tidak mengasihi mereka. Karena aku sangat mengasihi keluargaku. Namun, dalam hati kecil, ternyata ada sebuah luka yang mengiang dan melontarkan pemberontakan, “apakah aku sekadar penjaga adik-adikku?”

Kain, Penjaga Habel

Kuingat suatu hari ketika aku sedang saat teduh, dan membaca Kejadian 4. Cerita tentang sepasang kakak-beradik, Kain dan Habel. Dalam keirian hati seorang Kain, ia membunuh Habel, adiknya sendiri—ini adalah kali pertama Firman menyatakan seorang manusia membunuh dengan darah dingin. Dan ketika Tuhan menghampiri Kain dan menanyakan keberadaan Habel, ia berkata, “aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” (ayat 9).

Ketika membaca kata-kata itu, hatiku tertegur. Bukankah ini pernyataan yang selama ini telah kuucapkan kepada Tuhan? Betapa miripnya keluhanku, dengan tanggapan Kain—dan pada saat itu juga, peringatan Tuhan kepada seorang Kain, menjadi peringatan bagiku: “dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya,” (ayat 7).

Seketika, aku memutuskan untuk segera menyelesaikan kekesalan yang selama ini kusimpan di hati kecilku ini.

Keadilan Tidak Berarti Sama

Setiap orang yang memiliki saudara, pasti pernah merasakan ketidakadilan. Sebuah contoh sederhana adalah ketika kedua anak berebutan mainan, dan orang tua harus melerai dan memihak. Bahkan ketika orang tua mengambil mainan tersebut, dan tidak ada satu dari mereka yang mendapatkannya, mudah bagi seorang anak, terutama yang merasa memiliki mainan tersebut, untuk berkata, “tidak adil! Itu punyaku!”

Dalam sebuah keluarga yang memiliki banyak anak, tentu sebagai orang tua tidak bisa memberlakukan anak-anaknya dengan seragam. Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda, dan sebagai orang tua, perlu kebijaksanaan untuk menanggapi seorang anak dengan cara yang sesuai dengan kepribadian dan kebutuhan anak tersebut. Ada anak yang bawaannya penurut, dan ada yang bersifat lebih pemberontak. Setiap orang juga merasakan kasih dengan cara yang berbeda. Ada yang merasa dikasihi ketika diperhatikan, ada yang lebih membutuhkan pelukan, dan ada yang memerlukan perkataan pujian.

Hal ini baru kusadari ketika aku beranjak dewasa. Ternyata, selama ini, ketika orang tuaku mendidik aku dan saudara-saudaraku dengan cara yang berbeda, mereka bukan sedang memperlakukanku dengan tidak adil. Bukan karena mereka menganggapku tidak penting, atau karena mereka kurang mengasihiku. Sebagai orang tua, mereka terus berusaha untuk mengasihiku sebagaimana aku perlu dikasihi.

Alkitab Penuh Keluarga Disfungsional

Namun, harus kita akui, tidak ada orang tua yang sempurna di dunia ini. Karena memang, tidak ada orang yang sempurna (Roma 3:23). Firman Tuhan pun penuh dengan cerita tentang keluarga-keluarga disfungsional. Seperti kisah Abraham, Sarah dan Hagar (Kejadian 16), yang menyebabkan permusuhan bebuyutan antara Ishak dan Ismael. Persekongkolan Yakub dengan ibunya, Ribka, untuk menipu Ishak, ayahnya yang sudah rabun, untuk mencuri hak sulung Esau (Kejadian 27)—Alkitab mengajarkan betapa bobroknya manusia, sehingga sulit bagi kita untuk mengasihi orang-orang terdekat kita!

Namun, kita tidak boleh putus asa. Karena walaupun Firman mengungkapkan dengan sangat eksplisit kebobrokan kita, kita melihat bahwa Tuhan dapat menebus kesalahan-kesalahan kita, dan tetap bekerja melalui orang-orang yang tidak sempurna. Oleh salib Kristus, Tuhan telah “mempersatukan kedua pihak…merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, [agar kita dapat menjadi] kawan sewarga…dan anggota-anggota keluarga Allah,” (Efesus 2:14-19). Tuhan sendiri yang datang sebagai Penengah, Pelerai, Pendamai, agar kita dapat dipersatukan dalam keluarga-Nya.

Ketidakadilan Yang Dialami Yesus, Penjagaku

Tetapi apakah kita sepenuhnya menyadari harga yang dibayar oleh Yesus di kayu salib? Firman mengatakan bahwa Ia adalah yang sulung, yang pertama (Kolose 1:18). Satu-satunya Anak Allah (Yohanes 3:16) yang datang ke dunia, dan rela memberikan diri-Nya bagi umat manusia yang tidak mengenal, maupun menerima-Nya (Yohanes 1:9-10). Ia mengalami ketidakadilan yang terbesar, karena Yesus adalah satu-satunya yang tidak berdosa, namun menanggung segala penderitaan dan upah dosa setiap manusia (2 Korintus 5:21). Dan karena kasih dan pengorbanan-Nya, kita sekarang dapat dipanggil anak-anak Allah (Galatia 4:7).

Betapa besar kasih-Nya! Dan betapa berbeda dengan postur seorang Kain, ataupun diriku sendiri. Yesus sebagai Anak Tunggal meletakkan hak-hak-Nya, dan memberikannya kepada aku. Kepada kamu. Maukah kita sekarang mengikuti-Nya? Maukah kita belajar untuk meletakkan hak-hak kita, ke-aku-an yang begitu besar, dan berseru seperti seorang Paulus? “Aku telah disalib bersama Kristus, bukanlah aku lagi yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam aku,” (Galatia 2:20).

“Alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!” (Mazmur 133:1).

Baca Juga:

Belajar dari 2 Sosok Perempuan yang Jadi Berkat bagi Bangsanya

Kita kerap berpikir kalau hanya orang pilihan saja yang bisa melakukan hal besar. Tapi, cara Tuhan memilih seseorang bukanlah berdasarkan standar manusia.

Belajar dari 2 Sosok Perempuan yang Jadi Berkat bagi Bangsanya

Oleh Olive Bendon, Jakarta

Mama Yo gamang. Afghanistan bergejolak lagi. Rasa takut tentu saja mendera, namun semangat Mama Yo juga menyala-nyala—hmm .. mungkin sedikit nekat—dia ingin tetap melakukan perjalanan ke negara yang tak kunjung menemukan kesepakatan dalam menyelesaikan konflik dalam negerinya yang telah berlangsung bertahun-tahun itu. Bagi Mama Yo, ini kesempatan baik dapat membawa misi kemanusiaan dan membagikan pengalaman Indonesia dalam menangani isu perempuan dan anak kepada perempuan-perempuan Afghanistan. Namun, karena alasan keamanan, Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Kabul memberi sinyal; Mama Yo tak usah datang!

Saat bersua presiden, Mama Yo menyampaikan keresahan hatinya. Mama Yo mendapat restu dan akhirnya berangkat memenuhi undangan Rani Ghani, Ibu Negara Afghanistan; menjadi pembicara utama dalam Symposium on the Role and Contribution of Afghanistan Women for Peace yang berlangsung pada pertengahan Mei 2017 lalu. Di satu wawancara dengan stasiun TV sepulang ke Indonesia, Mama Yo mengatakan kedatangannya ke Afghanistan merupakan kunjungan pejabat tinggi Indonesia pertama, perempuan pula setelah kunjungan Soekarno pada 1961. Di kesempatan lain Mama Yo juga mengatakan bahwa salah satu indikator majunya satu bangsa dapat dilihat kaum perempuannya yang berpikiran maju. Artinya perempuan merupakan pilar penting dan agen perubahan bagi suatu bangsa.

Mama Yo, sapaan akrab Yuliana Susana Yembise, adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam Kabinet Kerja Jokowi di 2014-2019. Dirinya tak pernah bermimpi jika di perjalanan karirnya sebagai seorang akademisi, satu waktu akan dipanggil menghadap presiden dan diminta untuk mengepalai Kementerian PPPA. Posisi Mama Yo sebagai seorang menteri pun memberi angin segar bagi kebinekaan Indonesia. Mama Yo menjadi representasi dari orang Papua yang berdaya dan juga berkontribusi dalam membangun negeri.

Menyimak sedikit cerita perjalanan Mama Yo, membawa ingatanku pada kisah Ratu Ester dari Persia, satu dari sedikit tokoh perempuan berpengaruh dalam Alkitab yang perjalanan hidupnya dituliskan secara khusus dalam satu kitab di samping Rut.

Meski hidup dalam zaman dan kondisi yang berbeda, Mama Yo dan Ester memiliki kesamaan yang kuat: yakni mereka sama-sama perempuan. Dan, dari dua sosok ini kita dapat melihat bagaimana Allah bekerja memakai setiap hamba-Nya.

Tak diperhitungkan di mata manusia, tetapi dipilih Allah

Ester terpilih menjadi permaisuri menggantikan Ratu Wasti setelah melewati seleksi ketat—mungkin semacam beauty pageant di hari ini dengan mempertimbangkan brain, beauty, behavior—yang diikuti perempuan-perempuan muda yang elok parasnya dari semua daerah (dalam Ester 1:1 disebutkan ada 127 daerah di wilayah kekuasaan Ahasyweros yang meliputi India sampai Etiopia) dan memakan waktu panjang. Sebelum tampil di depan raja, mereka dikarantina selama 12 bulan di dalam Benteng Susan untuk menjalani perawatan tubuh. Ester mendapat jadwal bertemu raja setelah hampir 2 tahun dikarantina, yaitu di bulan kesepuluh di tahun ketujuh pemerintahan Ahasyweros. Di pertemuan pertama mereka, Ahasyweros langsung jatuh hati pada perempuan keturunan Yahudi dari suku Benyamin, anak yatim piatu yang dibesarkan oleh Mordekhai, saudara sepupunya itu dan memberinya mahkota kerajaan (Ester 2:17).

Kesabaran Ester diuji saat harus meninggalkan kenyamanannya dan menjalani karantina di Susan. Jika kita coba bayangkan, tentulah apa yang Ester jalani tidak mudah. Ester, seorang Yahudi, harus tinggal di tengah bangsa lain. Namun, Ester selalu mengingat dan mengikuti nasihat Mordekhai untuk menjaga martabat bangsanya. Seorang hamba yang rendah hati dan menurut apa yang dikatakan oleh sida-sida raja; membuat orang yang melihatnya, mengasihi dirinya (Ester 2:15).

Kisah Ester menegaskan kembali pada kita bahwa Allah memilih seseorang untuk menjadi alat-Nya bukan berdasarkan standar manusia, tetapi berdasarkan hikmat dan kebijaksanaan-Nya. Dan, Ester pun taat menjalani tugas dan tanggung jawabnya. Seandainya saja Ester memberontak, mungkin nasib bangsanya akan berakhir tragis.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita merasa bukan orang yang dipilih Tuhan untuk membawa kebaikan bagi bangsa kita?

Kita mungkin bukan orang besar, bukan pejabat, atau bukan orang terkenal, tetapi itu bukanlah alasan bagi kita untuk berkecil hati. Tindakan kecil kita bisa memberi dampak yang berarti, minimal untuk orang-orang di sekeliling kita.

Hal paling mudah yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi bagi bangsa kita pada masa kini adalah dengan taat pada anjuran pemerintah untuk menekan laju pertambahan kasus Covid-19.

Bijaksana dalam bertindak

Ester mengetahui rencana jahat Haman, pembesar kerajaan yang ingin memusnahkan orang-orang Yahudi yang ada di kerajaan Persia dari pesan yang disampaikan Mordekhai padanya lewat pelayan istana. Kalau saja Ester tak bijak menyikapi setiap informasi yang diterimanya, bisa jadi Ester akan memanfaatkan posisinya sebagai ratu untuk bertindak. Bukankah dirinya kesayangan raja dan apapun yang dimintanya akan dituruti Ahasyweros? (Ester 5:6).

Sekalipun Ester risau pun ingin menyelamatkan kaumnya, Ester tak tergesa-gesa untuk melaporkan Haman. Ester pasti marah pada Haman. Tapi Ester tenang dan menjaga pikirannya tetap bersikap adil pada ketidaknyamanan yang terjadi di sekelilingnya. Dan itu menuntun Ester pada keputusan besar; bertanya lebih dulu pada Tuhan serta mengajak semua orang Yahudi juga pelayannya berpuasa dan berdoa untuknya sebelum ia mendatangi istana raja walau ia tahu hukuman bagi orang yang menghadap raja tanpa dipanggil adalah mati (Ester 4:16 – 5:1). Lalu ketika bertemu raja, Ester tak langsung menyampaikan apa yang sedang terjadi. Ia malah memberikan undangan makan siang dan meminta Ahasyweros mengajak serta Haman ke jamuan makan tersebut. Di acara makan siang itulah Ester “menelanjangi” Haman sehingga mendapatkan ganjaran hukuman mati di tempat yang disiapkan untuk menggantung Mordekhai.

Bagiku, apa yang diperbuat Ester itu keren. Pada zaman itu, ketika belum ada telepon, pesan hanya bisa disampaikan dari mulut ke mulut. Salah tangkap atau salah paham bisa sangat wajar terjadi. Atau, jika sang pembawa pesan adalah orang yang cepat panas hati, tidak sabaran, atau tidak suka pada Ester, bisa saja informasi itu akan bocor ke mana-mana.

Bagaimana dengan kita? Kita hidup di zaman yang jauh lebih maju daripada Ester. Ketika menerima informasi, apakah kita mencernanya dengan bijak atau buru-buru larut ke dalam emosi?

Emosi kita berjalan mengikuti apa yang kita pikirkan. Butuh keberanian besar dan hati yang luas untuk menentang ketidakadilan, dan semua itu berawal dari pikiran (Filipi 4:4-8). Pengkhobah 3:1,7 menulis segala sesuatu ada waktunya .. ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara. Ester pun tahu untuk bertindak tepat pada waktu-Nya, dia harus fokus pada kehendak-Nya.

Segala pencapaian Ester tak akan terjadi apabila dia tidak melekat pada Allah. Oleh pertolongan Allah, Ester mampu melakukan hal-hal besar yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya.

Pertanyaan bagi kita di masa kini: maukan kita melangkah seperti Ester dengan melekatkan diri pada Allah lewat doa dan berpuasa?

Baca Juga:

Belajar Dari Rasa Kehilangan

Ketika kakak rohaniku dipanggil Tuhan, aku merasa sangat kehilangan. Rasanya seperti ‘kehilangan pegangan dalam melayani Tuhan.

Belajar Dari Rasa Kehilangan

Oleh Olyvia Hulda, Sidoarjo

Berita duka, karangan bunga, serta ucapan belasungkawa memenuhi media sosialku dalam dua bulan terakhir ini. Aku mendapati beberapa kenalan juga telah kehilangan anggota keluarganya. Mungkin di antara para pembaca, ada juga yang mengalami kehilangan yang sama akibat pandemi ini.

Bulan Juni yang lalu, aku kehilangan seorang kakak rohani sekaligus rekan sepelayanan di gerejaku. Aku merasa sangat kehilangan. Kami memiliki beberapa momen kebersamaan dalam melayani Tuhan. Dan aku merasa kehilangan sosok seorang pemimpin yang telah menjadi teladan, baik dalam sikap maupun jerih payahnya.

Berita duka terus berdatangan. Beberapa hamba Tuhan yang aku hormati dan kagumi juga dipanggil Tuhan. Rasa kehilangan tersebut tidak hanya memberikan kesedihan mendalam namun membuatku merasa seperti “kehilangan pegangan” dalam melayani Tuhan. Kerohanianku seakan-akan “bergantung” kepada kepedulian yang mereka tunjukkan seperti mendoakanku, memberikan kutipan-kutipan kalimat maupun khotbah yang memberkati, melalui kisah hidup mereka serta semangat melayani yang memberikan inspirasi. Kehadiran mereka dalam hidupku telah membuatku semakin giat untuk mengenal dan menyembah Tuhan.

Rasa kehilangan yang kualami memang terasa wajar. Namun, ketika aku berlarut di dalamnya, firman Tuhan menegur sikap hatiku. Kisah raja Yoas dan imam Yoyada (2 Raja-Raja 12) mengingatkanku untuk tidak meneladani cara hidup raja Yoas yang mengikuti Tuhan hanya selama imam Yoyada hidup (2 Raja 12:2). Iman raja Yoas bergantung kepada imam Yoyada, sehingga ketika imam Yoyada meninggal, Raja Yoas pun berbalik dari Tuhan dan menyembah berhala (2 Tawarikh 24:18).

Melalui peristiwa kehilangan ini, Tuhan ingin mengajarkan kepadaku, dan kepada kita semua, bahwa iman kita tidak boleh bergantung kepada manusia, tetapi hanya kepada Tuhan saja. Mungkin masa pandemi yang sedang berlangsung ini dapat menjadi masa pengujian iman untuk melihat kepada siapa kita telah bergantung, kepada manusia atau Allah.

Pertanyaannya, setelah kita kehilangan orang yang kita kasihi, akankah kita tetap bersungguh-sungguh mengasihi Tuhan, ataukah hati kita menjadi tawar dan memilih menyembah “berhala” seperti raja Yoas?

Kiranya kita memilih untuk tetap setia mengasihi Tuhan, sekalipun kita telah kehilangan orang yang kita kasihi.

Sedih, kecewa, marah, ataupun tawar hati, adalah perasaan wajar yang dapat dialami semasa kehilangan. Akan tetapi bila kita terus tenggelam dalam perasaan-perasaan tersebut, kita akan kehilangan banyak waktu untuk mengasihi Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Rasul Paulus memberi peringatan agar kita mempergunakan waktu yang ada dengan bijaksana, dengan demikian kita dapat mengerti akan kehendak Tuhan dan menyelesaikannya (Efesus 5:15-17). Mari kita gunakan waktu hidup yang singkat ini untuk terus melakukan kehendak Tuhan, bukan melakukan kehendak dan kesenangan diri sendiri.

Tidak dapat dipungkiri, setelah kehilangan orang yang dikasihi, kita akan menjalankan pelayanan dan hari-hari kita dengan situasi yang berbeda. Kita perlu berdamai dengan situasi dan hati kita di masa kehilangan ini. Mari kita terus menguatkan hati di hadapan Tuhan, mengandalkan-Nya dan berjalan bersama-Nya setiap hari. Ketika kita terus berjalan bersama-Nya, kita pun akan dikuatkan oleh Roh Kudus untuk melakukan kehendak Tuhan.

Kepada kita yang masih diberikan kesempatan untuk hidup, kita percaya masih ada tanggung jawab dan pekerjaan baik yang perlu kita selesaikan sebelum waktu kita sendiri tiba nanti. Adakalanya kita merasa seolah-olah kekuatan kita untuk melangkah hilang akibat kesedihan kehilangan “teladan hidup yang nyata”, tetapi marilah kita kembali bersemangat bangkit untuk melakukan kehendak Tuhan. Dan kita pun dapat meneruskan teladan baik yang telah kita alami dalam hidup dan pelayanan kita.

Melalui tulisan ini, aku ingin menyampaikan ucapan belasungkawa dan rasa sepenanggungan untuk teman-teman yang telah kehilangan orang yang dikasihi. Kiranya kasih dan penghiburan dari Roh Kudus menyertai kita semua, sampai selama-lamanya. Amin.

Baca Juga:

Ketika Penampilan Tidak Good-Looking, Bagaimana Bisa Meraih Bahagia?

Aku teringat omongan orang yang berkata kalau penampilan fisik yang menarik bisa membuat hidup jadi sukses. Tapi, penampilan fisikku jauh dari menarik.

Ketika Penampilan Tidak Good-Looking, Bagaimana Bisa Meraih Bahagia?

Oleh Jasmine Ong
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How Can I Be Happy If I’m Not Good Looking?

Ketika film Crazy Rich Asian dirilis, banyak orang mengapresiasinya karena itu jadi film Hollywood pertama yang diperankan orang-orang Asia dan menonjolkan budaya ‘Asia’. Tapi, yang menohok buatku adalah: selain crazy rich, para pemeran film itu penampilannya luar biasa good looking. Aku pun teringat omongan orang yang berkata kalau penampilan fisik yang menarik bisa membuat hidup jadi sukses.

Tahun 1994, ada artikel berjudul “Beauty and the Labor Market” ditulis oleh Daniel Hamermesh dan Jeff Biddle. Artikel itu menunjukkan kalau karyawan yang dianggap berpenampilan menarik oleh perusahaannya mendapatkan penghasilan 10-15% lebih tinggi dari orang sepantarannya. Selain dalam hal pekerjaan, riset lain dari Alan Feingold yang berjudul, “Good-Looking People Are Not What We Think” menemukan kalau penampilan yang lebih baik juga berkorelasi secara positif dengan jumlah teman yang lebih banyak, dan popularitas yang lebih tinggi kepada lawan jenis. Tahun 2016 juga digelar studi yang melibatkan 120 ribu orang di Inggris Raya. Periset studi itu mendapati kalau laki-laki yang pendek atau perempuan yang tubuhnya gemuk (kebanyakan karena hal genetik) cenderung berpenghasilan lebih rendah daripada rekan-rekan mereka yang lebih tinggi dan langsing.

Aku tidak membutuhkan riset-riset di atas untuk memberitahuku apa yang telah kulihat dengan nyata di keseharianku–tapi, hasil riset itu seolah menegaskanku omongan-omongan orang yang bilang ‘kalau kamu good-looking, hidupmu bakal lebih gampang.’ Semua orang ingin jadi temanmu; kamu memancarkan kepercayan diri dan menghadapi hidup dengan mudah; kamu selalu menulis tagar #blessed di postingan Instagrammu. Aku tidak sedang bicara soal selebriti atau influencer. Mereka yang kumaksud adalah orang-orang biasa—teman sekelas, sesama jemaat gereja, tetangga kita—yang kelihatannya mendapatkan privelese karena genetik alias keturunan.

Aku juga melihat bagaimana orang-orang bisa kehilangan kesempatan kerja dan lingkaran sosial karena penampilan mereka. Aku ingat dua teman sekelasku yang bersusah payah mencari pekerjaan di negara asal mereka. Meskipun nilai-nilainya bagus dan mereka bisa berbicara dalam beberapa bahasa, mereka tidak juga diterima karena masalah berat badan. Suasana pasrah di antara kedua temanku itu sungguh memilukan, mereka seolah telah menerima kenyataan pahit itu sebagai bagian dari hidup mereka. Ada pula temanku yang lain yang diomeli oleh saudaranya yang bilang kalau dia melajang sebagai akibat dari keengganannya diet dan menurunkan berat badan.

Pertarunganku dengan tubuhku sendiri

Dalam kasusku pribadi, masa-masa remaja dan awal usia 20-anku dipenuhi rasa tidak percaya diri dengan penampilan fisikku. Kupingku berukuran besar dan menonjol. Aku pun sering dijadikan bahan ejekan dengan dalih ‘canda doang kok’, tapi candaan itu menusuk begitu dalam. Tubuhku juga lebih besar dibandingkan dengan rata-rata perempuan Asia, fakta yang sering disematkan padaku oleh teman sekelas, keluarga, dan bahkan orang asing.

Karena semua itu, harga diriku terpukul jatuh. Aku menghabiskan waktuku berjam-jam menatap kaca di tembok, mengkritik wajah dan tubuhku sendiri. Aku memelas kepada papaku untuk melakukan operasi di telingaku dan hidungku supaya lebih mancung. Aku pikir semua itu jika dilakukan akan membuat kepercayaan diriku meningkat dan aku akan benar-benar bahagia. Papa dengan tegas menolak ideku itu.

Dia menjelaskan tentang risiko operasi plastik, tapi meskipun aku tahu itu memang bahaya aku tetap ingin melakukannya, terkhusus jika itu bisa membuatku berhenti membenci diriku sendiri.

Ketika akhirnya aku tidak lagi terobsesi operasi plastik, aku ingin menguruskan badanku. Aku bersumpah untuk makan lebih sedikit, tapi akhirnya terjebak dalam lingkaran setan yang terus membuatku merasa gagal dan membenci diri sendiri. Dikalahkan oleh beberapa upaya yang gagal, aku pun berpikir: Harapan macam apakah yang tersedia buat orang sepertiku, yang tidak kaya ataupun cantik, untuk memperoleh kebahagiaan?

Kecantikan di mata Allah

Pada waktunya, Alkitab menolongku memutus cerita dongeng yang kupercayai itu. Pada satu perikop, Allah memberitahu Samuel ketika Dia hendak menunjuk raja Israel yang selanjutnya: “Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: ‘Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1 Samuel 16:7).

Bagian ini menarik buatku. Allah yang menciptakan manusia menegaskan bahwa penampilan fisik tidaklah menarik. Ayat itu lantas membuka mataku untuk berpikir bahwa standar Allah itu berbeda. Allah menunjuk orang-orang untuk memenuhi peran masing-masing yang unik dalam kerajaan-Nya, tanpa melihat bagaimana penampilan fisik mereka. Aku sadar bahwa masyarakatlah, bukan Tuhan, yang membangun gagasan dan bias tentang kecantikan.

Aku kemudian belajar bahwa penderitaan adalah sesuatu yang lumrah bagi umat manusia. Kekayaan dan penampilan rupawan tidak menjamin hidup akan terbebas dari kesulitan. Lihatlah berita tentang bencana alam, perang, atau penyakit yang menghacurkan hidup seseorang tanpa melihat status mereka. Dokumenter yang baru dirilis tentang Britney Spears misalnya, menunjukkan padaku bahwa bintang terkenal sekalipun tidak kebal dari masalah mental.

Melalui realita ini, aku belajar untuk menerima bahwa melakukan operasi plastik tidak akan mengubah jalan hidupku. Hidupku malah berubah drastis ketika aku menerima Kristus sebagai Juruselamatku. Dari titik ini, aku tidak lagi menghadapi penderitaanku seorang diri, karena aku telah mendapatkan Penghibur dan Kawan yang mampu melihat rasa tidak percaya diriku dan berbagi beban. Yesus, yang disebut dalam nubuat Yesaya sebagai ‘tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada; (Yesaya 53:2), yang kemudian ditelanjangi dan berdarah-darah di atas kayu salib, sungguhlah jauh dari definisi fisik yang rupawan. Namun, dari Dialah kasih dan harapan hadir bagiku. Yesus jugalah yang berkata, “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yohanes 16:33).

Meskipun kadang masih sedih karena tidak memiliki fisik yang rupawan dan berberat hati karena tekanan yang diberikan oleh masyarakat untuk menjadi ideal berdasar standar mereka, aku menghibur hatiku dengan Mazmur 23 yang menyatakan Allah adalah gembala, dan aku tidak kekurangan suatu apa pun. Meskipun aku tidak memenuhi standar kecantikan masyarakat, atau aku menghadapi diskriminasi dan penolakan dalam berbagai bentuk, aku tahu Allah membimbingku melalui setiap momen itu dan Dia sungguh peduli padaku.

Bertahan hidup dalam pandemi telah mengajariku banyak hal. Hari-hari ini, aku merasa sungguh bahagia ketika aku pulang kerja setelah melayani pasien-pasien dan rekan kerjaku dengan sepenuh hati, sesuai kemampuanku. Aku menemukan sukacita dalam memupuk persahabatan yang telah bertahan dalam ujian waktu dan jarak.

“Tuhan itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mazmur 145:9).

Baca Juga:

Berkat di Balik Tirai Kesuraman

“Memang kamu kerja untuk apa, sih? Bukan apa-apa, Papa cuma pikirin masa depan kamu. Kamu kan kelak jadi kepala keluarga.” Ian tak tahu harus menjawab apa.

Berkat di Balik Tirai Kesuraman

Oleh Antonius Martono, Jakarta

Baru saja Ianuel pulang memimpin sebuah kelompok pendalaman Alkitab, Benu sudah menunggunya di taman tempat mereka biasa mengobrol. Benu bilang penting, ingin bicara. Segera Ian beranjak dari kamarnya menuju teras. Setelah berpamitan dengan Ibu, Ian menyalakan motornya.

“Baru pulang sudah pergi lagi. Mau ke mana kamu?”

“Hmm… pelayanan, Pah. Tadi sudah pamit Ibu,” kata Ian ragu.

“Pelayanan mulu. Waktu buat keluarga kapan? Ini, kan, weekend.”

“Sebentar, kok, Pah. Ke taman biasa,” Ianuel berusaha menenangkan ayahnya.

“Sebentar tapi, sampai malam. Pulang cepet. Kalau sudah pada tidur, tidak ada yang akan bukain pintu,” ayah Ian memunggunginya menuju ruang TV.

Telah satu tahun Ian tidak mendengar ayahnya berbicara seperti itu. Terakhir kali, pada hari Ian terkunci di luar rumah karena pulang hampir tengah malam. Sejak saat itu Ian mulai mengatur waktu kegiatannya dengan teliti. Dia tahu, jika ayahnya mengucapkannya lagi, berarti sang ayah benar-benar memaksudkannya. Mengganjal. Namun, Ian harus pergi.

Bagi Ian bertemu Benu adalah sebuah bagian dari panggilannya. Panggilan yang dimulai dari keputusan Ian satu setengah tahun lalu untuk bekerja di suatu lembaga Kristen yang melayani kaum muda. Lembaga ini baru saja membuka pos rintisan di kota kecil tempat Ian tinggal. Sedangkan pusat lembaganya berada 2 jam jauhnya dari kota ini. Capek, kehabisan ide, tertekan, sedih adalah teman pelayanan Ianuel, sebab belum ada orang yang bersedia menemani pelayanannya. Ian melayani seorang diri di pos kecil tersebut. Meskipun begitu, dia mengerti bahwa lewat pos pelayanan inilah dia mengabdi kepada Tuhan.

Ayahnya sendiri sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Ian. Dia tidak bisa memahami pekerjaan Ian dan pertimbangannya. Ayahnya hanya tahu kalau anaknya suka kerja sebar-sebar ajaran Alkitab. Namun, menurut hemat ayahnya, pekerjaan tersebut sulit untuk membeli sebuah rumah untuk anak istri Ian kelak. Terang-terangan atau sindiran halus sudah dilakukannya tapi, Ian tetap tidak mengubah pilihan pekerjaanya.

Sesampainnya di taman, Ianuel menemui Benu di bangku taman. Dari bangku itulah Benu bercerita bahwa ia baru saja berkonflik hebat dengan ayahnya yang dominan lantaran ia kelupaan mematikan lampu kamar. Keduanya terlibat adu mulut dan saling merendahkan satu sama lain. Ketika konflik semakin menegang, Benu mengakhirinya dengan keluar rumah. Sambil menghisap rokoknya, Benu mengatakan bahwa ia tidak ingin lagi pulang ke rumah.

Hari itu malam Minggu dan matahari sudah semakin gelap. Taman semakin dipenuhi pengunjung dan para penjaja makanan mulai membuka lapaknya.

“Makan, yuk. Gue traktir,” ajak Ian.

Ian sudah biasa melakukan hal ini kepada para pemuda tanggung yang dilayaninya. Hanya ingin berbagi dan meringankan beban mereka yang dia layani. Mereka melipir ke tenda pecel ayam tak jauh dari taman itu. Percakapan terus mengalir tanpa ujung bersamaan dengan perut mereka yang semakin penuh. Waktu berlalu hingga pukul delapan lewat. Dalam hatinya Ian bertekad untuk pulang sebelum jam sembilan malam, sebab ia teringat pesan ayahnya. Percakapan masih berlanjut beberapa menit sebelum akhirnya Ian memberikan saran-saran praktis untuk masalah Benu dengan ayahnya.

“Memang sih, Ben, disalah mengerti oleh orang yang kita harapkan sebagai yang pertama kali memahami kita itu menyakitkan. Tapi, lari dari tanggung jawab untuk saling mencari pengertian justru akan melahirkan kesalahpahaman lainnya. Usahakan tidak mengoleksi luka sebab semua luka sudah ditanggung Yesus di atas kayu salib, Ben,” kata Ian.

“Jadi, kalau menurut Abang. Sebaiknya kamu pulang dan meminta maaf. Siapa tau dengan begitu terjadi rekonsiliasi. Abang yakin Tuhan akan bekerja. Soalnya Dia yang paling mau relasi kalian membaik. Jadi segera balik, yak, tidak perlu kelayapan lagi,” bujuk Ian sambil menepuk pundak Benu.

Benu merasa pita suaranya kusut. Dia tidak menjawab bujukan Ian yang telah pulang dengan motornya. Di taman itu Benu masih mempertimbangkan saran dari Ian sebelum akhirnya dia memutuskan pulang pada dini hari.

Di tengah perjalanan Ian terus bertanya mengapa ia perlu mengurusi anak orang lain jika relasinya sendiri dengan orang tuanya masih berjarak. Ian merasa jago bicara tapi, gagal dalam praktiknya. Dia juga ingin agar Tuhan memperbaiki relasinya dengan sang ayah. Itulah mengapa Ian memacu motornya secepat mungkin supaya sampai tepat sebelum jam 9. Dia berharap agar tidak terjadi lagi konflik pada hari ini. Namun, di jalan motornya malah menabrak sebuah roda truk.

Truk tersebut sedang menepi mengganti salah satu roda kanannya. Badan truk menghalangi lampu penerangan jalan sehingga Ian tak dapat melihat sebuah roda besar di sisi kanan truk. Ianl tak sempat lagi mengelak dan hantaman itu terjadi.

“Brakk!”

Setang motornya bengkok dan sebagian lampu depannya pecah. Ian sendiri terlempar dari motornya. Tulang tangan kirinya patah dan dahinya berdarah. Banyak orang langsung berkerumun dan segera melarikannya ke rumah sakit.

Tiga hari lamanya Ian berada di rumah sakit sebelum ia pulang diantarkan sang ibu. Keningnya dijahit dua kali dan tangannya telah dirawat dengan tepat. Untuk beberapa hari Ian perlu beristirahat menunggu luka-lukanya untuk pulih. Ayahnya tidak menyalahkan Ian atas kecelakaan tersebut. Dia hanya masih belum mengerti masa depan seperti apa yang sedang dibangun oleh anaknya. Dari ambang pintu kamar Ian sang ayah memperhatikan keadaan anaknya.

“Memang kamu kerja untuk apa, sih? Bukan apa-apa, papa cuma pikirin masa depan kamu. Kamu kan kelak jadi kepala keluarga.”

Di tempat tidur Ianuel hanya mendengarkan tegang.

“Nanti kalau sudah sembuh kamu kerja aja sama anak teman papa. Bilang ke bos kamu mau keluar. Mau cari pengalaman baru.”

Ian diam saja. Ian tahu komitmennya sedang diuji kembali. Hanya saja kali ini Ian tidak bisa menjawab. Kejadian ini membuat Ian merasa seperti kalah perang. Berkorban nyawa untuk sebuah negara yang kalah.

“Kamu keluar biaya berapa? Ditanggung sama tempat kerjamu?”

“Sekitar enam jutaan, Pah.”

Ian berhenti sampai situ dan tidak berniat menjawab pertanyaan kedua.

“Itu diganti semua?”

“Tidak tahu, Pah. Kantor juga masih kurang bulan ini.”

Ayah Ian menghela napas, semakin prihatin dengan masa depan anaknya.

“Ya, sudah kamu pikirin deh, nanti kalau kamu mau papa telepon temen papa, biar kamu kerja di tempat anaknya. Papa keluar dulu ketemu mama.”

Selonjoran di dipan, Ian masih memproses kata-kata ayahnya. Ada benarnya maksud sang ayah. Memang bujukan itu belum pernah berhasil membuat Ian mencari pekerjaan lain, tapi bukan berarti tidak pernah membuat dia ragu. Dari celah pintu, Ian dapat mengintip kedua orang tuanya sedang berdiskusi.

Tak lama kemudian ibunya melangkah menuju kamar. Nampaknya ayah Ianuel masih mencoba membujuknya kali ini lewat sang ibu. Ia lelah untuk berdiskusi tapi, sekali lagi dia harus berusaha menguatkan tekadnya kembali.

“Ian ini ada parsel. Tadi ada ojek online yang kirim.”

Ianuel tak menduga sama sekali ibunya datang hanya untuk mengantarkan parsel buah segar. Di atas keranjang anyaman bambu buah-buah tersebut disusun. Ian menerimanya. Wajahnya masih kaget tapi, hatinya tersenyum.

“Itu dari siapa ?”

“Gak tau, Mah. Tapi ini kayaknya ada suratnya deh.”

“Coba dibaca dulu.”

Ianuel membaca surat itu dan tahulah ia bahwa parsel itu berasal dari adik-adik pemuda yang selama ini dilayaninya.

“Semoga Tuhan memulihkan kondisi kak Ian seperti kami yang dipulihkan Tuhan lewat kak Ian. Kak, kami sudah urunan dan transfer. Tidak seberapa tapi semoga dapat meringankan beban Kak Ian.”

Kemudian dalam surat itu mereka mengutip penggalan ayat dari Mazmur 23. Ianuel tak tahu dari mana anak-anak itu mendapatkan dana yang jumlahnya cukup untuk mengganti biaya perawatannya dan perbaikan motornya, tapi ini menghibur hatinya. Memang perjalanan pelayanan Ian cukup terjal. Namun, dia semakin yakin bahwa dia tidak pernah ditinggal sendiri. Kekuatan dan penghiburan diberikan di saat perlu. Mengimbangi duka dengan suka. Di dalam pengabdian untuk nama Tuhan.

Baca Juga:

Mengerjakan Misi Allah melalui Pekerjaan Kita

Kita tidak dipanggil dalam kenyamanan dan kemudahan. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil ke dalam dunia yang rusak karena dosa yang merajalela. Kita diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala.

Mengerjakan Misi Allah melalui Pekerjaan Kita

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

“Biasalah warga +62”

Kalimat itu tertulis di sebuah stiker WA. Ketika seorang teman berkata atau berbuat sesuatu yang menurutku udik, stiker tersebut jadi respons yang kurasa pas. Tapi, meski cuma candaan, tanpa kusadari aku melabeli “warga +62” atau warga negara Indonesia sebagai pihak yang kurang tahu sopan santun atau kampungan. Tidak berusaha membenarkan diri, namun aku melihat bukan hanya aku yang melakukannya.

Lebih lanjut, ketika melihat berita mengenai penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, seringkali aku melihat komentar di sosial media yang kurang mengenakkan. Kritik dan kekecewaan terhadap penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia datang dari berbagai penjuru. Kemelut, konflik, dan debat-debat di kolom komentar tidak bisa dihindari hingga terkadang membacanya membuatku menghela napas.

Pernahkah terpikir oleh kita mengapa kita lahir sebagai orang Indonesia pada waktu seperti ini?

Menjadi Nehemia bagi Indonesia

Nehemia bin Hakhalya merupakan orang Yahudi yang dibuang ke Persia dan bekerja sebagai juru minuman Raja Artahsasta I (raja Persia) di Puri Susan. Suatu hari ia mendengar kabar mengenai Yerusalem, kampung halamannya; dan kondisi orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dari salah seorang dari saudara dari Yehuda.

“Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar.”

(Nehemia 1:3)

Ketika Nehemia mendengar berita itu, dia duduk menangis dan berkabung selama beberapa hari. Nehemia kemudian berpuasa dan berdoa kepada Allah untuk memohon pengampunan atas dosanya, kaum keluarganya, serta bangsanya; dan memohon belas kasihan Allah untuk memulihkan bangsanya. Tidak berhenti di situ, Nehemia kemudian kembali ke kampung halamannya untuk membangun kembali Tembok Yerusalem, sebuah tindakan yang nekad namun penuh dengan kasih untuk bangsanya. Perlu diingat kembali bahwa sebagai seorang juru minuman raja yang tinggal di istana, Nehemia sebenarnya telah hidup dalam zona nyaman. Namun, Nehemia memutuskan untuk menginggalkan segala kenyamanan dan kemapanannya untuk melakukan sesuatu bagi bangsa yang dikasihinya.

Mungkin sebagian dari kita, seperti Nehemia, hidup dalam kenyamanan dan privilese yang kadang membuat kita terlena dan merasa aman. Kenyamanan menumpulkan indera-indera kita; membuat kita seringkali abai dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini: budaya korupsi yang mengakar, penegakan hukum dan keadilan yang seolah mati suri, kemiskinan di mana-mana, keagamaan yang serba formalitas belaka, serta kekerasan dan intoleransi yang dibiarkan saja. Kita berpikir bahwa masalah-masalah ini hanya ada di dunia maya dan tidak bersentuhan langsung dengan kita dalam kehidupan nyata. Kita mungkin bekerja pada sektor yang “tidak menantang”, sehingga kita berpikir bahwa urusan untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas bukanlah bagian kita, bahkan mungkin kita yang berhadapan kondisi-kondisi tersebut, cenderung memilih untuk mengambil tempat yang aman dan bekerja secara mekanik: datang ke kantor setiap pagi, mengerjakan bagian kita sebisanya, kemudian pulang ke rumah dan melupakan apa pun yang terjadi di kantor hari ini. Yang penting pekerjaan selesai, yang penting aku tidak berbuat curang.

Namun, orang Kristen tidak dipanggil dalam kenyamanan dan kemudahan. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil ke dalam dunia yang rusak karena dosa yang merajalela. Kita diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala (Matius 10:16a). Dalam anugerah Tuhan, masing-masing kita diberikan bagian untuk berkarya untuk sesuatu yang lebih besar daripada atasan atau instansi/perusahaan tempat kita bekerja; kita dipanggil untuk mengerjakan misi Allah bagi dunia di dalam pekerjaan kita.

“Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.

(Ester 4:13-14)

Seperti Nehemia dalam jabatannya sebagai juru minuman raja di istana atau Ester dalam jabatannya sebagai ratu, kita dipanggil dalam profesi kita untuk berkontribusi menghadirkan shalom di dunia. Dalam kedaulatan Tuhanlah Nehemia dan Ester memiliki jabatan yang strategis pada waktu tantangan besar sedang terjadi, sehingga Nehemia dan Ester dapat membuat perubahan. Sama seperti Nehemia dan Ester, kita dipanggil untuk merespons panggilan Allah secara spesifik bagi hidup kita, untuk berani keluar dari “cangkang kenyamanan” dan mau berjuang bagi bangsa kita.

Mewujudkan shalom tidak melulu bicara soal transformasi besar-besaran pada sebuah bangsa atau komunitas. Shalom yang adalah damai sejahtera, keadaan di mana Allah berkuasa, dapat kita hadirkan ketika kita bersedia melihat dengan hati dan melayani setiap orang yang kita jumpai dengan sepenuh hati. Ketika seorang guru mengajar muridnya, ketika seorang dokter mengobati pasiennya, ketika seorang petugas kebersihan menjaga lingkungan tetap asri, Allah dapat memakai setiap buah pekerjaan itu bagi kemuliaan-Nya.

Jika Engkau Mempunyai Mata, Maka Melihatlah

“Jika engkau mempunyai mata, maka melihatlah” adalah salah satu judul bab dalam Buku Vision of Vocation (Panggilan untuk Mengenal dan Mengasihi Dunia) oleh Steven Garber. Judul bab ini (tentu beserta isinya) menghantuiku—mengguncangku untuk membuka mata dan telinga selebar-lebarnya terhadap lingkungan sekitar. Aku tahu bahwa kondisi Indonesia jauh dari kata ideal, tapi apakah aku benar-benar “tahu”? Aku melihat ketidakadilan dan kemiskinan di depan mata, tapi apakah aku benar-benar “melihat”? Bagaimana denganmu? Apakah kamu “melihatnya”?

“Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

(Yeremia 29:7)

Kita tidak perlu menjadi pejabat publik atau posisi strategis lain untuk mengambil bagian dalam membangun bangsa dan negara kita. Panggilan atau pekerjaan apa pun yang Tuhan percayakan bagi kita; apabila kita menyadari bahwa kita mengerjakannya untuk Tuhan demi menghadirkan kesejahteraan bagi negara ini, maka kita telah menjadi bagian dalam pekerjaan Tuhan bagi Indonesia.

Kiranya dalam anugerah-Nya, Tuhan menolong kita untuk menjadi Nehemia-Nehemia, Ester-Ester, dan Daniel-Daniel di masa kini. Kiranya dalam anugerah-Nya, Tuhan menolong kita untuk sungguh-sungguh melihat, sungguh-sungguh berdoa, dan sungguh-sungguh berkarya bagi Tuhan, Bangsa Indonesia, dan sesama.

Soli Deo Gloria.

May we be a people, a people mending broken lives
Giving hope to broken world by the grace of God
May we be a people, a people serving God and man
Bringing love and dignity, in Jesus’ Name
(lirik bait kedua Bring Your Healing to The Nation – Liz Pass dan David Pass)

Semoga kita menjadi umat yang dapat memperbaiki hidup yang rusak
Memberi harapan bagi dunia yang rusak dalam kasih karunia Tuhan
Semoga kita menjadi umat yang melayani Tuhan dan manusia
Membagikan cinta dan martabat, di dalam nama Tuhan Yesus

div style=”line-height: 20px; background-color: #dff2f9; padding: 20px;”>Baca Juga:

Lima, Dua, Satu

Ketika Tuhan memberi talenta dengan jumlah yang berbeda, banyak orang berpikir Dia tidak adil. Mengapa tidak dibuat sama? Mengapa harus berbeda?

Lima, Dua, Satu

Oleh Meili Ainun, Jakarta

Bulan mengambang dengan diam. Sinarnya memancarkan kelembutan yang memukau. Malam terasa hening dan damai. Namun, suasana hatiku gundah gulana. Beberapa kejadian siang ini terlintas kembali dalam benakku dengan sangat jelas.

Aku baru saja selesai membereskan catatan kehadiran anak, ketika merasa perutku mulai lapar. “Eh, ada Susan,” kataku ketika melihat keluar jendela.

“Hai, Susan, yuk, makan siang. Aku yang traktir.”

“Sorry, Bren. Aku tidak bisa. Aku mau persiapan pelayanan buat minggu depan. Lain kali ya.”

“Oh…OK, selamat persiapan.” Aku melambaikan tangan dan mencoba untuk tersenyum.

Sepulang dari kantin gereja, aku bertemu Lia di tengah jalan. “Sudah lama nggak ngobrol dengan Lia, aku ingin tahu bagaimana kabarnya,” pikirku.

“Lia, kamu lagi sibuk, ya?”

“Oh, hai, Bren. Iya, aku mau latihan paduan suara. Mengapa?”

“Oh, tidak apa-apa. Hanya ingin ngobrol saja dengan kamu. Tetapi kamu sepertinya sibuk. Kita ngobrol lain kali ya.”

“Iya, sorry ya, Bren. Akhir-akhir ini memang lagi sibuk persiapan buat acara bulan Agustus nanti.”

Aku mengangguk dan melangkah dengan gontai. “Semua orang sepertinya sibuk pelayanan. Hanya aku yang tidak.”

Aku sedang berdiri di pintu gerbang gereja ketika melihat Yunita berdiri juga di sana.

“Hai, Yun.”

“Hai, Bren. Apa kabar?”

“Kabar baik. Kamu sedang apa?”

“Aku sedang siap-siap menunggu jemputan. Mau pergi pembesukan ke rumah sakit. Hari ini adalah jadwal kelompokku.”

“Oh…kalau begitu, selamat membesuk ya.”

Aku melambaikan tangan kepada Yunita yang segera naik mobil jemputannya.

Aku menghela nafas. Sungguh sulit bertemu dengan teman-temanku sekarang. Sepertinya semua orang sangat sibuk dengan pelayanan. Susan, misalnya, selain aktif menjadi worship leader ibadah Minggu, dia juga aktif di perpustakaan gereja, dan Persekutuan Doa. Lia pun demikian, seorang penyanyi andalan di gereja, dan Ketua Komisi Anak. Yunita terlibat aktif di pelayanan rumah sakit, pemimpin kelompok kecil, sekaligus pemimpin kelompok Pemahaman Alkitab.

Sebuah perasaan asing menyelip di hatiku. Aku merasa begitu kecil dan sendiri. Merasa diriku tidak berharga, dan tidak diakui oleh orang lain. Aku hanya melayani di satu bidang, yaitu sie pemerhati untuk komisi anak. Tugasku hanya mencatat kehadiran anak-anak setiap hari Minggu, menelepon mereka bila ada yang sakit, mengucapkan selamat ulang tahun, dan mendoakan mereka. Hanya itu. Pelayanan yang sudah kulakukan selama hampir 1 tahun ini. Apakah Tuhan itu adil? Mengapa Dia tidak memberikanku pelayanan yang lain juga? Mengapa aku hanya melayani di satu bidang saja? Mengapa aku tidak bisa seperti Susan, Lia atau Yunita?

Persekutuan Doa berjalan seperti biasa. Tetapi aku sulit sekali berkonsentrasi, aku bernyanyi dengan setengah hati, dan merasa tidak bersemangat ketika renungan dimulai. Pembicara itu mengajak kami membuka bagian Alkitab dari kitab Matius 25:14-30.

“Ah…itu lagi,” kataku dalam hati.

“Aku sudah tahu bagian Alkitab itu. Tentang talenta. Ada yang diberi lima, dua dan satu.”

Beberapa kalimat pembuka tidak terdengar, karena aku sibuk dengan pemikiranku. Namun tiba-tiba, ada yang menarik perhatianku.

“Jika kita membaca bagian ini, banyak orang berpikir Tuhan tidak adil ketika dia memberikan talenta yang berbeda-beda. Mengapa tidak sama? Mengapa harus berbeda?”

“Iya, tentu saja tidak adil. Bukankah yang adil itu harus sama?”jawabku dalam hati.

“Nah, justru di sanalah letak kesalahpahaman kita. Bila kita menganggap Tuhan tidak adil hanya karena talenta yang diberi tidak sama, maka kita telah salah memahami keadilan Tuhan. Keadilan Tuhan tidak sama dengan keadilan manusia. Bagi kita manusia, yang disebut adil adalah setiap orang memiliki bagian yang sama.”

Aku memajukan dudukku. Sekarang perhatianku kembali penuh. Pembicara itu seolah-olah sedang membaca pikiranku.

Dia kemudian mengeluarkan sekotak kue dan menunjukkannya kepada kami. “Misalnya jika saya ingin membagikan kue ini kepada kalian, saya harus membagikannya secara sama, bukan? Yang adil adalah kalian masing-masing mendapatkan satu potong kue. Dan akan menjadi tidak adil, jika salah seorang dari antara kalian mendapatkan dua potong kue. Hasilnya kalian akan marah, dan tentu saya tidak ingin kena marah.” Dia menyengir lucu.

Aku tersenyum kecil melihatnya.

“Tetapi jika kita berbicara keadilan Tuhan, yang berlaku tidak seperti itu. Talenta dalam perumpamaan ini adalah sesuatu yang dipercayakan tuan itu kepada hamba-hambanya. Besarnya memang tidak sama, tetapi apa yang dipercayakan itu sesuai dengan kemampuan masing-masing hamba. Jadi apakah tuan itu tidak adil? Tidak. Justru tuan itu sangat adil karena masing-masing diberikan sesuai dengan kemampuannya. Coba bayangkan bila hamba yang diberikan dua talenta itu diberikan lebih banyak dari kemampuannya, apa yang akan terjadi?”

Pembicara itu diam sejenak, menatap kami yang sedang memperhatikannya.

“Kemungkinan yang terjadi adalah hamba tersebut tidak akan dapat memberikan hasil yang maksimal karena kemampuannya hanya terbatas dua talenta. Dan lihatlah, ketika tuan itu memuji hamba-hambanya, dia tidak memuji jumlah yang mereka hasilkan. Tetapi yang dipuji justru kesetiaan para hamba tersebut menjalankan apa yang dipercayakan kepada mereka masing-masing. Bila kita setia pada apa yang dipercayakan pada kita, bukankah Tuhan pun akan menambahkan tanggung jawab yang lain?”

Aku mengulang dalam hati kalimat terakhir yang disampaikan pembicara itu, dan mencoba memikirkan kegelisahan hatiku selama beberapa hari ini.

“Ternyata yang diminta oleh Tuhan adalah kesetiaan untuk menjalankan pelayanan yang dipercayakan itu. Bukan berapa banyak pelayanan yang dilakukan.” Aku kembali teringat akan kesibukan pelayanan teman-temanku. Aku menetapkan hati untuk belajar setia pada pelayananku saat ini sama seperti mereka.

Langkah kakiku terasa ringan saat meninggalkan gereja. Mengucap syukur aku memiliki Tuhan yang adil, yang memberi sesuai dengan kemampuan setiap orang.

Baca Juga:

Cerpen: Menyenangkan Hati Orang Lain

Aku memang selalu suka membantu orang lain. Sampai kadang-kadang dalam beberapa kasus, aku merasa lelah sendiri. Aku jadi berpikir apa motivasiku menolong orang lain.

Cerpen: Menyenangkan Hati Orang Lain

Oleh Desy Dina Vianney, Medan

Aku dan Ica sedang asyik menikmati bakso kuah di kantin kampus ketika dua orang temanku datang menghampiri meja kami.

“Eh, Dian, makan di sini juga,” seru salah seorang dari mereka.

Aku menoleh dan tersenyum.

“Di, kamu sudah selesai print paper buat mata kuliah sore ini?” tanya temanku.

Aku mengangguk. “Iya, sudah.”

“Yah, sayang banget.”

“Memangnya kenapa?”

“Begini, Di. Kita berdua mau balik sebentar ke kos, mau ambil buku yang ketinggalan. Tapi, kita belum print paper, sepertinya tidak sempat kalau harus print dulu,” keluh temanku.

“Iya, Di. Kita pikir kamu belum print jadi bisa sekalian, mau nitip tadinya. Tetapi karena kamu sudah selesai, kita coba minta bantuan teman lain saja,” jawab teman di sebelahnya. Dan mereka pun siap-siap untuk beranjak pergi.

“Eh, nggak apa-apa. Biar aku saja yang print, aku juga gak ada kegiatan lain setelah ini.”

“Wah, serius, Di?” sahut mereka hampir bersamaan. Aku mengangguk. Mereka buru-buru meletakkan flash disk dan beberapa lembar uang di atas meja.

“Terima kasih banyak, Di. Kamu memang orang yang baik,” puji mereka sebelum beranjak ke pintu keluar kantin.

Aku memasukkan flash disk dan uang itu ke dalam tas lalu melanjutkan makan. Aku melirik Ica sekilas, tetapi dia tidak berkata apa-apa.

Ica adalah temanku sejak SMP. Kami bersekolah di tempat yang sama dan sekarang kuliah di kampus yang sama juga meski dengan jurusan yang berbeda. Awalnya aku ingin mengambil jurusan yang sama dengan Ica, karena kami memang punya minat yang sama. Tetapi tahun lalu ketika mengisi daftar pilihan jurusan, Bapak memintaku untuk memilih jurusan yang sekarang aku jalani ini. Alasan yang diberikan Bapak adalah jurusan ini memiliki prospek pekerjaan yang lebih luas di masa depan. Sebenarnya aku tidak terlalu menikmati belajar di jurusan ini, tetapi aku tidak ingin mengecewakan Bapak. Aku ingin menjadi anak yang menyenangkan hati orang tuaku.

Drrrt…drrrt…

Aku merogoh ponsel di dalam tas lalu berbicara selama beberapa menit.

“Siapa, Di?” tanya Ica.

“Teman kelompok. Dia minta tolong aku membuat materi presentasi buat besok, dia sedang ada urusan,” jawabku santai.

“Kamu mau?”

Aku mengangguk. “Aku tidak enak menolak. Dia ‘kan minta tolong. Aku juga yang bikin makalahnya, jadi seharusnya tidak begitu susah untuk membuat materi presentasinya.”

“Bukannya kamu ada jadwal pelayanan nanti malam?” Ica mengingatkanku.

“Oh, iya!” seruku menepuk jidat. Aku berpikir sejenak.

“Sepertinya aku akan lembur, nih,” kataku akhirnya.

Ica menghembuskan napas kesal. “Mau sampai kapan kamu berusaha menyenangkan hati semua orang, Di? Apalagi sepertinya hanya membebani diri kamu sendiri saja.”

Aku menanggapinya dengan meringis.

“Kita tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang, Di, karena manusia itu tidak akan pernah merasa puas. Dan juga kamu bukan penyedia jasa untuk menyenangkan hati orang lain, kan?” lanjutnya dengan pelan dan lembut, memandangku dengan penuh perhatian.

Aku terdiam.

Aku memang selalu suka membantu orang lain. Sampai kadang-kadang dalam beberapa kasus, aku merasa lelah sendiri. Aku jadi berpikir apa motivasiku menolong orang lain. Apakah aku melakukan semua itu karena aku memang ingin melakukannya, atau karena aku ingin punya citra yang baik di mata orang-orang sekitarku, supaya aku dapat diterima oleh mereka?

Ica sudah sering mengingatkanku akan hal ini tetapi baru sekarang kupikirkan dengan serius. Mungkinkah selama ini Tuhan berusaha mengingatkanku lewat Ica, tetapi aku sengaja mengabaikan-Nya?

Aku tersadar, adalah hal baik untuk menolong orang lain dan melakukan sesuatu yang menyenangkan mereka, tetapi bila hal itu kemudian membuatku mengejar penerimaan dari mereka, apakah Tuhan senang kalau aku melakukannya?

Aku pun perlu berhikmat dan belajar memeriksa motivasiku sebelum menolong orang lain.

Kita tidak akan bisa menyenangkan hati semua orang, dan hal itu tidak salah. Bukankah hanya ada Satu Pribadi yang harus kita senangkan hati-Nya? (Kolose 3:23).

Baca Juga:

Doa: Sebuah Usaha Bergantung Pada Kebaikan Hati Bapa

Semakin sering aku melihat teman-temanku berdoa, maka semakin sering aku merasa ada yang salah dengan relasiku dengan Tuhan, khususnya dalam hal berdoa.

Doa: Sebuah Usaha Bergantung Pada Kebaikan Hati Bapa

Oleh Antonius Martono, Jakarta

Aku setuju dengan apa yang dikatakan Martyn Lloyd-Jones tentang doa. Hamba Tuhan tersebut mengatakan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan Kristen jauh lebih mudah dikerjakan daripada berdoa. Aku pun mengalaminya karena aku punya ribuan alasan untuk tidak berdoa.

Sebenarnya bercerita tentang doa bagiku sama seperti membuka sebuah aib, sebab aku adalah seorang pelayan Tuhan yang tidak gemar berdoa. Aku selalu merasa kesulitan untuk memulai dan bertahan dalam doa. Aku pun mulai merasa seperti orang munafik, mengajak orang lain untuk berdoa padahal aku sendiri kesulitan dalam berdoa. Sekalinya aku berdoa, isinya hanyalah permohonan dan itupun kulakukan saat situasi tidak dapat lagi kutangani.

Perasaan kurang rohani

Kesulitanku dalam berdoa membuatku merasa kurang rohani. Aku suka menepis perasaan ini dengan mengatakan bahwa aku adalah anak Tuhan. Aku dikasihi bukan karena seberapa rajinnya aku berdoa, melainkan karena pekerjaan Yesus di atas kayu salib. Memang hal itu benar adanya, tapi aku malah menjadikan itu sebagai sebuah pembenaran untuk lalai berdoa.

Hatiku juga semakin ciut jika melihat kehidupan doa teman-teman sepelayananku yang begitu hidup. Semakin sering aku melihat teman-temanku berdoa, maka semakin sering aku merasa ada yang salah dengan relasiku dengan Tuhan, khususnya dalam hal berdoa.

Aku pun mulai terdorong untuk mengubah kehidupan doaku. Aku mulai mencari tahu apa yang kurang dari kehidupan doaku. Selama ini aku mengira bahwa aku kurang jam doa dan disiplin. Walaupun itu mungkin benar, tapi ternyata aku kekurangan hal yang jauh lebih serius dari dua hal tersebut. Selama ini aku kurang mau bergantung pada Tuhan karena aku telah salah memahami Tuhan. Maka tak heran jika kehidupan doaku berjalan di tempat.

Sikap ini semakin berkembang ketika dulu doaku tidak dikabulkan Tuhan. Saat itu aku berdoa agar dapat diterima di salah satu SMA yang kuinginkan, tapi Tuhan tidak mengabulkannya. Kejadian tersebut terulang ketika aku ujian masuk perguruan tinggi negeri. Kembali Tuhan tidak mengabulkan doa sesuai dengan kehendakku. Di saat itu aku mengerti bahwa doa bukanlah sebuah tombol darurat pengontrol situasi.

Namun, kendati aku tahu doa bukanlah tombol darurat, aku malah menjadi ragu untuk berdoa. Aku takut mengalami kekecewaan kembali jika doaku tidak dikabulkan lagi. Aku lebih memilih bergantung pada diri sendiri dan menerima apapun situasi yang akan aku hadapi.

Salah paham tentang Tuhan

“Toh, Tuhan Mahatahu. Kalau Dia mau tolong pasti akan menolong. Kenapa harus serius berdoa? Semakin serius, malah semakin kecewa kalau tidak dikabulkan.”

Di sinilah letak kesalahpahamanku tentang Tuhan. Aku menilai kemurahan hati Tuhan hanya dari jawaban doa yang Dia berikan padaku. Jika Dia mengabulkan doaku maka Dia murah hati dan patut dipercaya, jika tidak dikabulkan maka lebih baik aku mempercayai diri sendiri saja.

Pandangan ini tidaklah tepat dan aku perlu mengubahnya sesuai dengan apa yang Alkitab katakan. Aku teringat akan sebuah bagian firman Tuhan dari Lukas 11:9-13 yang menolongku untuk mengenal Tuhan lebih baik lagi.

“Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”

Ada banyak alasan kita berdoa. Kita bisa berdoa karena digerakkan oleh perasaan bersalah, atau karena kewajiban semata. Bisa juga kita berdoa karena tidak lagi menemukan solusi lain untuk masalah kita. Namun, dari bagian ini aku belajar bahwa landasan kita berdoa adalah karena kemurahan hati dari Bapa di sorga.

Dia berjanji setiap doa akan didengarkan (Mazmur 116:1-2). Dia berjanji setiap yang meminta tidak akan pulang dengan tangan kosong. Dia tidak pernah menahan-nahan berkat-Nya jika itu memang yang terbaik untuk kita. Dia mau agar kita bergantung penuh dan percaya akan pemeliharaan-Nya.

“Aku mengasihi Tuhan, sebab Ia mendengarkan suaraku dan permohohanku. Sebab Ia menyendengkan telinga-Nya kepadaku, maka seumur hidupku aku akan berseru kepada-Nya” (Mazmur 116:1-2).

Terkadang kita sendiri pun tidak tahu apa yang terbaik bagi kita. Kita berdoa meminta sesuatu pada Tuhan tapi, kita tidak benar-benar tahu apakah hal itu baik untuk kita. Namun, Bapa yang di sorga tahu apa yang terbaik bagi kita. Kita tidak perlu memaksakan kehendak doa kita sebab Bapa sudah memilah doa mana yang baik dan yang tidak baik untuk dikabulkan.

Jujur, mengetahui hal ini memotivasiku untuk berani berdoa. Sebab jika sekalipun aku salah berdoa, Bapa tidak akan mengabulkannya. Bahkan Dia akan mengajariku berdoa lewat Roh Kudus yang berdiam dalam hatiku .

“Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26).

Namun, doa bukanlah selalu tentang apakah keinginan kita terkabul atau tidak. Doa bukanlah sekadar cara untuk memperoleh sesuatu dari Tuhan, melainkan cara untuk memperoleh Tuhan sendiri. Doa adalah kerja keras bergantung kepada Tuhan sehingga kita dapat semakin mengenal dan menikmati pribadi-Nya.

Thomas Manton mengatakan bahwa doa adalah sebuah percakapan jiwa yang mengasihi Tuhan. Tindakan persahabatan dan persekutuan seharusnya dilakukan secara konstan dan sering. Jika kita mengasihi Tuhan, kita tidak bisa lama-lama jauh dari Tuhan, tetapi akan terus rindu bersama-Nya dan mencurahkan isi hati kita.

Saat merenungkan semua kebenaran di atas aku semakin sadar bahwa doa perlu kedisiplinan dan cinta kepada Tuhan. Ketika aku merasa baik-baik saja tanpa berdoa, sebenarnya solusinya bukan hanya sekedar menambah jadwal berdoa atau membulatkan tekad untuk rajin berdoa. Melainkan perlu kembali mengorientasikan ulang hati dan pikiranku menuju Tuhan. Jangan-jangan kasihku pada Tuhan saat itu sedang kritis.

Namun, aku juga setuju kita perlu disiplin dalam berdoa. Sehingga kita tidak perlu menunggu-nunggu hati kita untuk kembali berapi-api kepada Tuhan untuk memulai berdoa. Sebab terkadang ketika kita berdoa, Tuhan bisa memakai saat itu untuk mengobarkan kembali cinta kita pada-Nya. Jadi keduanya memang diperlukan baik disiplin ataupun cinta.

Pada akhirnya doa merupakan sebuah kerja keras. Mungkin justru karena itulah, lewat janji-Nya, Tuhan telah menyediakan upah melimpah bagi mereka yang mencari dan bergantung pada-Nya.

Baca Juga:

Dengan Berhenti, Maka Kamu Bisa Berjalan

Ketika relasi yang kami bangun akhirnya kandas, aku pun bertanya: mengapa Tuhan menghentikan langkahku?