Ketakutan yang Salah

Oleh Nicholas, Jakarta 

Dalam menjalani hidup ini, tentu kita akan menghadapi peristiwa-peristiwa sulit—peristiwa yang membuat kita meneteskan air mata, atau membuat kita berteriak, “Tuhan, kenapa ini terjadi?” 

Tahun 2019 lalu, papaku terkena serangan strok. Peristiwa ini mengguncang keluargaku dan tak mudah untuk kami hadapi, apalagi papa selama ini menjadi tulang punggung. Selain kehidupan ekonomi keluarga kami bergejolak, wacana untuk bercerai pun muncul. Pada saat itu, aku bertanya pada Tuhan, “Kenapa papa harus terkena strok?” 

Pertanyaan itu lantas mengingatkanku pada peristiwa dalam Alkitab. Injil Markus 4:35-41 bercerita tentang murid-murid Yesus yang juga mengalami peristiwa sulit. Di ayat 37, mereka sedang menghadapi taufan yang sangat dahsyat, yang membuat mereka berada dalam situasi antara hidup dan mati. Kekalutan dalam taufan itu menjadi semakin jelas ketika murid-murid bertanya kepada Yesus, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” (ayat 38). 

Alkitab tidak mencatat ada kalimat langsung yang Yesus ucapkan untuk menjawab pertanyaan para murid, tetapi Alkitab mencatat bahwa Yesus merespons dengan bangun lalu menghardik angin itu. Seketika danau pun menjadi tenang (ayat 39). Barulah di ayat 40 Yesus mengajukan pertanyaan, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” 

Ketakutan yang dialami para murid sejatinya adalah ketakutan yang juga dialami oleh kita semua sebagai manusia berdosa. Ketika menghadapi kesulitan, seringkali kita merasa takut. 

Namun, apakah takut itu salah? 

Menurutku, takut itu tidaklah salah karena takut adalah hal yang alamiah terjadi sebagai respons manusia. Sebelum Yesus menghadapi penyaliban, Yesus pun mengalami ketakutan. Matius 26:37 mencatat, “Mulailah Ia merasa sedih dan gentar”. 

Memang, takut adalah sikap yang tidak salah, akan tetapi jika ketakutan itu membawa kita untuk tidak mempercayai Allah, di situlah takut menjadi salah. Oleh karena itu, ketika Yesus melontarkan pertanyaan Dia tidak hanya berhenti di kata “takut” saja. Dia mengajukan pertanyaan lanjutan, “Mengapa kamu tidak percaya?” 

Jika kita melihat teks paralel, kita akan menemukan yang sama: Matius 8:26, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?”; Lukas 8:25, “Di manakah kepercayaanmu?” 

Pada saat Yesus berada di taman Getsemani, Yesus memang merasa takut, tapi Dia tidak membiarkan ketakutan itu memimpin kehidupan-Nya. Yesus tetap percaya kepada Bapa dan menyerahkan semuanya kepada Bapa. Yesus berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39). Yesus menutup doanya dengan menyerahkan diri-Nya pada kehendak Bapa. 

Kembali pada kisahku, ketika aku diperhadapkan dengan peristiwa papa terkena strok, aku mengalami ketakutan seperti para murid. Aku meragukan kuasa Tuhan. Aku tidak percaya pada Allah. Namun, di dalam keraguan itu, Tuhan tidak meninggalkanku. Di dalam ketidakpercayaan murid-murid, Yesus tidak pernah meninggalkan mereka. Yesus tetap menolong murid-murid-Nya. 

Melalui peristiwa sulit, murid-murid jadi mengenal lagi siapa Yesus. Di dalam ayat 41 tertulis, “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”

Di dalam pertanyaan di atas terkandung juga pernyataan. Murid-murid mengakui bahwa Yesus juga berkuasa atas alam. Tuhan mengizinkan adanya taufan supaya murid-murid mengenal bahwa Yesus juga berkuasa atas alam semesta. 

Pasca papa terkena strok, emosinya menjadi tidak stabil. Dia jadi sering marah dan melontarkan kata-kata yang kurang enak didengar. Akibatnya, adikku jadi benci kepada papa. Dia tidak mau mengajak papa bicara, bahkan dia pun tak mau makan makanan yang papa belikan. Kebencian ini terjadi selama berbulan-bulan dan aku hanya bisa pasrah. Aku sudah menasihatinya, tapi tak digubris. Hingga pada suatu ketika, adikku berubah 180 derajat. Dia jadi peduli pada papa dan aku tak tahu apa yang menyebabkannya berubah. Yang aku tahu pasti, Tuhanlah yang mengubahkan sikap hati adikku. Melalui peristiwa papa terkena strok, aku mengenal bahwa Allah sanggup mengubah hati seseorang. 

Di akhir perenunganku ini, izinkan aku melontarkan dua pertanyaan:

Apakah peristiwa sulit yang kita alami membawa kita untuk tidak percaya pada Tuhan?

Allah seperti apakah yang kita temukan dalam peristiwa sulit yang kita alami? 

 

Ketika Tuhan Memulihkan Keluargaku Lewat Covid-19

Oleh Mary Anita, Surabaya

Awalnya, kuharap pandemi Covid-19 yang telah terjadi lebih dari setahun ini tidak akan menimpa keluargaku. Tetapi, yang kuharapkan tak selalu sejalan dengan cara Tuhan. Ada kalanya Tuhan memakai hal yang paling tidak kita inginkan untuk mendatangkan kebaikan.

Cerita ini dimulai pada awal Mei. Seorang pendeta kenalan papa mengontak kami. Dia mengajak kami untuk berdoa puasa memohon pemulihan hubungan bagi keluarga kami. Sudah lebih dari 10 tahun kami mendoakan kakak laki-lakiku yang akrab kami panggil ‘koko’. Koko dulu begitu mencintai Tuhan, tetapi karena kecewa dalam pelayanan di gereja dan kepahitan pada papa sejak remaja, dia perlahan undur. Selama beberapa waktu, doa puasa kami berlangsung baik, tetapi kemudian tanda tanya pun menggantung. Kami tak kunjung melihat adanya pemulihan keluarga yang akan terjadi.

Bulan Juli, saat PPKM diberlakukan, rumah sakit di mana-mana membeludkan dan kabar dukacita datang silih berganti. Di momen itulah diketahui kalau empat orang dalam keluarga—termasuk koko—positif terinfeksi Covid-19, menyisakan aku dan papa saja yang negatif. Kata dokter, virus yang menjangkit ini adalah varian delta. Kami harus bergerak cepat, dari berburu tabung oksigen, menebus obat-obatan yang sudah langka di banyak apotek, hingga antre untuk mendapatkan kamar inap di rumah sakit.

Di dalam tekanan besar itu, aku tak lagi bisa berpikir jernih. Sebuah firman Tuhan yang kudapat dalam saat teduhku malam sebelumnya terlintas di pikiran:

“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan” (Yesaya 41:10).

Firman itu kurenungkan berulang kali dan selalu menguatkan imanku, terutama dalam waktu-waktu genting. Tuhan menyentuh hatiku dengan kasih-Nya dan menolongku untuk menguasai diri, serta mengingatkanku untuk bersandar hanya pada-Nya, satu-satunya Pribadi yang bisa diandalkan.

Puji syukur, Tuhan perlahan menuntun jalan kami di waktu yang tepat. Kami mendapatkan kamar inap, tapi kenyataan pahit harus kami terima karena dari hasil pemeriksaan dokter, koko mengalami Pneumonia di paru-parunya. Koko membutuhkan plasma kovalesen ketika stok di PMI kosong. Aku menangis, sampai tak lagi bisa menangis karena kadar saturasi oksigennya terus turun ke angka 77 meskipun telah dibantu dengan ventilator.

Aku berdoa, “Tuhan, jujur aku belum siap untuk kehilangan koko. Aku memang memohon kesembuhan untuknya, tapi yang terpenting dari itu adalah berikan ia kesempatan untuk bertobat dan mempercayai-Mu sekali lagi, walau di akhir hidupnya.” Roh Kudus pun menolongku untuk melanjutkan doaku dan mengakhirinya dengan berserah seperti yang Yesus doakan pada Lukas 22:42, “…tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.”

Ada rasa damai dan tenang dalam hatiku walaupun kami belum menemukan donor plasma. Dan, siapa sangka malam itu mukjizat terjadi. Seorang teman sepelayanan koko yang hampir satu dekade hilang kontak malahan tiba-tiba membantu memberi donor plasma. Perlahan keadaan koko mulai pulih dan dua minggu setelahnya dia dinyatakan sembuh. Tak berhenti di situ, sakit ini pun memberinya pengalaman pribadi dengan Tuhan yang kemudian membuatnya bertobat, mengampuni papa, dan kembali aktif digembalakan di gereja.

Peristiwa yang terjadi ini bak mimpi bagiku. Tuhan memulihkan kami tidak hanya melalui kesembuhan fisik, tetapi mengubah setiap pribadi kami sekeluarga untuk saling mengasihi satu sama lain, mengandalkan dan memprioritaskan Tuhan selagi hidup, dan mau menjadi perpanjangan tangan-Nya bagi orang lain sama seperti orang-orang yang telah menolong dan bermurah hati pada kami. Tuhan juga membuka mata kami bahwa semua itu terjadi semata karena kasih kemurahan Tuhan.

Kiranya kesaksian singkat ini boleh mengingatkanku selalu bahwa Tuhan selalu mendengar setiap doa dan Dia bekerja di balik layar untuk mendatangkan kebaikan bagi kita anak-anak-Nya. Amin.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

Baca Juga:

4 Hal Istimewa dari Kisah Yesus dan Perempuan Samaria

Pertemuan Yesus dengan seorang perempuan Samaria bukan sekadar kisah obrolan biasa, ada 4 hal menarik yang bisa kita temukan dari kisah ini.

4 Hal Istimewa dari Kisah Yesus dan Perempuan Samaria

Oleh Paramytha Magdalena

Apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar Samaria?

Dari sebuah literatur yang kubaca, Samaria merupakan kata yang mengacu kepada tempat di wilayah pegunungan antara Galilea di utara dan Yudea di selatan. Orang-orang yang tinggal di sana disebut juga sebagai orang ‘Samaria’. Pada masa-masa pelayanan Yesus di bumi, orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.

Kalau kita menelisik lebih lagi, Alkitab mencatat dengan jelas bagaimana relasi antara orang Samaria dan Yahudi dalam kehidupan sehari-hari. Yohanes 4:9 menuliskan demikian: “Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.)”. Orang-orang Yahudi menganggap orang Samaria itu kafir atau ras tidak murni karena mereka melakukan perkawinan campur dengan bangsa lain.

Kisah orang Yahudi dan Samaria yang tercatat di Alkitab memunculkan paradoks, terlebih jika kita menyimak detail kisah pertemuan Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Perempuan itu mengambil air sekitar tengah hari, mungkin maksudnya agar dia tidak berjumpa dengan banyak orang. Namun, dia malah berjumpa dengan Yesus, seorang Yahudi yang notabene bermusuhan dengan orang Samaria.

Respons Yesus kepada perempuan itu luar biasa. Alih-alih menjauhinya, Yesus malah meminta minum darinya. Di sinilah Yesus menunjukkan cinta dan kasih Tuhan yang manis itu.

Ada 4 hal istimewa yang kudapatkan dari pertemuan Perempuan Samaria dan Yesus.

1. Apa pun latar belakang kita, kita dicintai dan diterima oleh Yesus

Perempuan Samaria ini memiliki latar belakang dan perilaku yang bisa dikatakan buruk karena sering berganti pasangan. Bahkan pasangan yang saat itu bersama dengannya bukanlah suaminya (ayat 18). Jadi, bukanlah hal yang mengejutkan lagi jika sikap orang sekitarnya akan menjauhi atau bahkan memandang rendah. Akan tetapi, Yesus mau menemui secara pribadi dan menghampiri perempuan tersebut.

Betapa seringnya aku berpikir bahwa aku harus melakukan semua hal dengan baik dulu agar bisa merasa layak dikasihi dan diterima oleh-Nya. Yesus menerima kita bukan berdasarkan apa yang kita perbuat, tetapi karena kasih-Nya sajalah (Roma 5:10).

Perempuan Samaria ini tidak melakukan apa-apa untuk membuat Yesus tertarik menemuinya. Cinta dan penerimaan-Nya tidak berdasar pada moral, status sosial, latar belakang, pengalaman, maupun kegagalan seseorang. Kasih-Nya adalah sebuah pemberian dan anugerah. Jadi, setiap kita memiliki kesempatan yang sama untuk menikmatinya.

Apakah kita mau menerima cinta-Nya dan memberikan cinta kita pada-Nya?

2. Kita dicari, ditemukan, dan diselamatkan oleh Yesus

Perempuan Samaria menimba air di sumur saat siang hari. Ini bukanlah kebiasaan yang lazim. Ia menyadari keadaannya dan berusaha menghindari orang-orang dengan datang ke sumur ketika sedang sepi dari perempuan-perempuan lain. Namun, Yesus sengaja bertemu dengannya dan menawarkan air kehidupan yaitu keselamatan.

Ini mengingatkanku akan seberapa seringnya aku bersembunyi, menghindari, dan lari dari berbagai macam situasi, orang-orang, bahkan dari Tuhan karena besarnya perasaan malu dan ketidaklayakanku. Akan tetapi berita baiknya adalah Dia rela datang untuk menyelamatkan kita yang terhilang agar bisa diselamatkan (Yohanes 1:29). Tidak ada perlindungan teraman selain di dalam-Nya dan tidak ada tempat yang teramat sulit untuk Dia bisa menemukan kita. Asalkan kita mau diselamatkan oleh-Nya.

3. Tuhan rindu berelasi dengan kita

Ketika Yesus bertemu dengan perempuan Samaria, ada percakapan antara mereka berdua. Bagian ini menarik buatku karena dari sini aku melihat bahwa Yesus tidak sekadar datang ke dunia untuk menebus dosa, tetapi juga berelasi dengan manusia. Lewat percakapan sederhana itu, Dia mendengar apa yang jadi kerisauan umat-Nya.

Apakah tentang kejatuhan, kegagalan, ketakutan, atau yang lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita mau bercakap-cakap denganNya? Dia siap mendengar dan menyegarkan kita dengan kebenaran-Nya.

4. Kita dapat mengakui dengan jujur isi hati kita

Dalam percakapan-Nya, Yesus menyuruh perempuan Samaria untuk memanggil suaminya, tetapi sang perempuan menjawab, “Aku tidak mempunyai suami” (ayat 17). Yesus lanjut merespons, “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar” (ayat 18).

Coba kita perhatikan lagi ucapan Yesus. Kendati Yesus tahu bahwa perempuan Samaria itu bergonta-ganti pasangan, tetapi tidak ada penghakiman yang keluar dari mulut-Nya. Maksud Yesus di sini bukanlah dia membenarkan dosa yang diperbuat oleh sang perempuan, tetapi Dia hendak menunjukkan keselamatan yang sejati (ayat 21-24).

Sebelum sang perempuan mengakui identitasnya, Yesus telah tahu lebih dulu, tetapi Dia ingin kita mengakui dengan jujur dan rendah hati apa yang telah kita lakukan. Ini bukanlah demi kepentingan Tuhan, tapi demi kepentingan kita. Karena saat kita mengakui dengan jujur dan rendah hati kepada-Nya atas segala yang kita perbuat, dan kita menyadari kesalahan serta berbalik kepada-Nya, maka akan tersedia pemulihan dan pengampunan-Nya bagi kita.

Apakah kita mau mengakui bahwa kita telah berdosa dan membutuhkan anugerah kasih pengampunan-Nya setiap waktu?

Baca Juga:

4 Pertanyaan Penting Sebelum Memulai Hubungan yang Serius

Pernikahan adalah sesuatu yang aku inginkan sedari kecil, semenjak aku melihat dan mempelajari dari kedua orang tuaku tentang apa rasanya berada dalam pernikahan. Tapi sebelum memulai relasi yang mengarah ke sana, kuajukan dulu 4 pertanyaan ini pada diriku.

4 Pertanyaan Penting Sebelum Memulai Hubungan yang Serius

Oleh Sarah Tso
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 4 Questions To Ask Yourself Before Embarking On A Relationship

Pernikahan adalah sesuatu yang aku inginkan sedari kecil, semenjak aku melihat dan mempelajari dari kedua orang tuaku tentang apa rasanya berada dalam pernikahan. Cinta dan komitmen mereka, begitu pula stabilitas dari pernikahan yang berpusat pada Tuhan yang mereka bawa ke dalam rumah tangga—kemampuan mengasihi, menerima, dan tidak mementingkan diri sendiri—merupakan hal-hal yang aku kagumi. Memang, tidak ada keluarga atau pernikahan yang sempurna, tetapi usaha untuk mengasihi dan melayani satu sama lain bersama Tuhan telah memungkinkan adanya pengampunan dan rekonsiliasi.

Harus kuakui bahwa tahun-tahunku melajang (bukan karena pilihan) nyatanya cukup sulit aku jalani. Dari masa remaja hingga dewasa muda, aku yakin kalau ada sesuatu yang ‘salah’ denganku sehingga aku tidak dateable. Aku sempat berpikir mungkin itu karena diriku yang terlalu atletis, terlalu intelek, atau bahkan terlalu serius dengan imanku.

Syukurnya, aku bukan seorang ahli dalam pernikahan—tetapi Tuhan-lah ahlinya. Lagi pula, pernikahan kan ide-Nya. Aku bersyukur atas semua saran dan dukungan doa dari mentor dan teman-teman rohaniku—untuk tidak puas dengan kualitas yang belum ideal, untuk jadi lebih spesifik dalam mendoakan seorang pasangan, untuk terus mengingat bahwa Tuhan mengasihiku dan mengetahui hasratku untuk menikah, dan untuk percaya pada waktu dan ketentuan Tuhan.

Dalam waktuku melajang, ada banyak hal yang aku tanyakan mengenai diriku. Kini ketika aku sudah memasuki hubungan romantis untuk pertama kalinya, aku bersyukur telah menunggu dan meluangkan waktu untuk merenungkan pertanyaan-pertanyaan ini.

1. Apa tujuanku dalam menjalin hubungan?

Awalnya aku menginginkan hubungan romantis dan pernikahan untuk merasa “normal” di kalangan teman sebayaku, sekaligus supaya aku mendapat perhatian dan kasih sayang yang istimewa. Namun pada akhirnya aku sadar bahwa tujuan tersebut sangatlah remeh di mata Tuhan.

Dalam sebuah serial khotbah tentang pernikahan, Timothy Keller mengatakan bahwa tujuan utama dari pernikahan duniawi adalah untuk membawa pemurnian rohani—sehingga pasangan suami istri dapat membantu satu sama lain untuk jadi semakin serupa dengan Kristus, sampai hari mereka masuk ke surga tiba.

Dengan pertolongan dari pernyataan itu—dan beberapa rekomendasi buku, khotbah, dan podcast tentang kencan dan pernikahan—aku pun mulai mendefinisikan ulang tujuan pribadiku dalam menjalin hubungan:

  • Untuk mengasihi dan melayani Tuhan lebih sungguh bersama-sama—walaupun aku sedang melayani Tuhan sekarang, hal itu harus diperkuat seiring aku dan calon suamiku bekerja berdampingan untuk Kerajaan Allah.
  • Untuk mengenali sisi lain dari Yesus. Aku telah mengenal Yesus sebagai Teman dan Tuhan sebagai Bapa. Sebagian diriku ingin mengenal-Nya sebagai Mempelai, sehingga pernikahan duniawi-ku dapat menjadi bayangan atas persatuan Kristus dan Pengantin-Nya, Gereja.

Akankah pernikahan duniawiku mendekatkan atau menjauhkanku dari tujuan Tuhan untuk hidupku (dan hidup pasanganku) dalam terang Kerajaan-Nya? Semua yang tidak mengarah pada tujuan Tuhan rasanya bukanlah yang terbaik bagi pernikahan.

2. Maukah aku mengencani diriku sendiri?

Seiring aku berdoa kepada Tuhan untuk calon pasangan hidupku, aku menemukan bahwa beberapa ciri dalam ‘daftar’ kriteriaku ternyata tetap konsisten selama bertahun-tahun, dalam hal:

  • Iman: memiliki hubungan personal yang aktif dengan Tuhan, mengetahui tujuan hidupnya, dan mampu menjadi pemimpin rohani untuk keluarga.
  • Sosial: Lucu, pendengar yang baik, bisa mengobrol dalam percakapan, jujur dalam kesaksian, menghormati dan peduli pada keluarganya.
  • Kesehatan emosi: Mau diajar dan memiliki kepercayaan diri.
  • Kesehatan intelektual: Memiliki mindset untuk bertumbuh.
  • Tekun dalam merawat kesehatan fisik dan penampilan.

Suatu hari, ketika sedang mendoakan daftar ini dalam waktu teduh, aku merasa Tuhan mencelikkan hatiku dengan bertanya, “Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga sudah sesuai dengan kriteriamu sendiri?” Pertanyaan ini menohokku. Akupun mulai memakai daftar kriteria tadi sebagai cermin untuk diriku sendiri—”Apakah aku punya hubungan yang aktif dengan Tuhan? Apakah aku menghormati dan peduli pada keluargaku? Apakah aku mau diajar dan jujur dalam kesaksianku?”

Sampai saat itu, aku pikir bahwa hidup baru akan dimulai ketika aku mulai berkencan dan berjalan mengarah pada pernikahan. Tapi, siapa yang ingin menjalin hubungan denganku kalau aku masih menunggu orang lain untuk ‘mengawali’ hidupku?

Dan jika calon suamiku memiliki kualitas-kualitas ini, bukankah ia juga seharusnya mencari kualitas yang sama dalam calon istrinya?

Pada hari itu aku berdoa, “Tuhan, aku nggak mau lagi pakai standar ganda. Engkau yang telah memberiku hasrat untuk kualitas-kualitas tertentu pada calon pasangan hidupku. Tolong bentuk aku untuk menjadi wanita dengan kualitas seperti yang Kau inginkan aku miliki. Kiranya Engkau tidak membiarkanku mengharapkan orang lain apa yang tidak aku harapkan pada diriku sendiri.”

3. Apakah aku punya ruang untuk hubungan yang serius di dalam hidupku saat ini?

Untuk mengukurnya, aku merenungkan hal ini: jika aku akan menikah dalam waktu dekat, apakah aku akan siap—secara praktis, emosional, spiritual, dan finansial—dalam segala hal yang diperlukan untuk pernikahan?

Itu adalah pertanyaan yang menakutkan, tetapi aku tahu kalau memiliki seseorang signifikan dalam hidupku (dan sebaliknya) akan membutuhkan kerjasama dan kompromi. Berikut adalah hal yang aku harus pikirkan:

  • Secara spiritual, apakah aku semakin konsisten dalam waktu teduhku bersama Tuhan, dan dalam membiarkan-Nya menghancurkan pola pikiran dan kebiasaan burukku? Apakah aku sudah berakar dalam komunitas rohani yang kuat untuk bertanggung jawab membangun imanku?
  • Secara praktik, apakah jadwal dan kesibukan yang aku miliki memungkinkanku untuk menghabiskan waktu bersama calon suamiku secara rutin?
  • Secara sosial dan emosional, apakah aku sudah mempunyai keterbukaan dan kedewasaan untuk menceritakan tentang diriku secara jujur? Apakah aku sudah siap untuk mendengar tentang hidup orang lain secara rutin—tentang sukacita dan pergumulannya?
  • Secara finansial, apakah aku sudah siap untuk menanggung biaya acara pernikahan dan rumah? Apakah aku sudah siap untuk membicarakan tentang bagaimana mengatur keuangan bersama?
  • Dalam hal kesehatan, apakah aku sudah puas dengan cara makan, olahraga, dan waktu tidurku?

Melihat ke belakang, aku bersyukur atas waktu Tuhan yang sempurna karena Ia telah membentuk hatiku—menghancurkan tembok, keterikatanku pada dosa, dan kebiasaanku mengeluh, yang bisa saja membahayakan relasiku jika saja aku mulai berkencan lebih awal.

4. Apakah aku mengidolakan romansa dan pernikahan?

Pada masa aku kuliah, dalam sebuah acara persekutuan, seorang pengkhotbah membagikan kepada kami tentang perjalanannya menuju pernikahan. Ia mengatakan bahwa sangat memungkinkan kalau ia kehilangan istrinya (yang pada saat itu sedang hamil anak pertama) dalam sebuah kecelakaan kapan saja.

Jika hal itu itu terjadi, ia bertanya-tanya apakah ia akan marah kepada Tuhan dan berhenti percaya kepada-Nya. Ia kemudian sadar bahwa istrinya dan anak dalam kandungannya adalah pertama-tama milik Tuhan, dan Tuhan sebenarnya tidak berutang kepada mereka untuk memberikan ‘hidup bahagia selamanya’ yang mungkin selama ini kita harapkan.

Ini mengingatkanku pada ayat, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21b). Aku terdorong oleh pesan dari pengkhotbah tadi, dan aku jadi berpikir, bisakah aku berpandangan seperti itu bersama pacarku sekarang?

Kurang dari sebulan setelah artikelku tentang menerima berkat dari masa-masa lajang diterbitkan, pacarku yang sekarang datang di hidupku. Kini sudah hampir setahun setelah kami menjalin hubungan, dan aku mengucap syukur kepada Tuhan setiap hari karena kehadirannya dan bagaimana Tuhan telah memakai dia dalam mendalami imanku, menajamkan keahlian hidupku, dan menumbuhkan mimpi-mimpi kreatif kami.

Namun, terkadang aku masih merasa kurang utuh ketika aku melihat teman-teman sebayaku menikah dan seakan “move on” dalam kehidupan mereka, sementara aku masih di sini-sini saja. Tetapi aku kemudian sadar bahwa aku sedang menggantungkan semua pengharapan dan impianku pada sesama manusia berdosa, seakan mengharapkan dia untuk “menyelamatkan” diriku dari kehidupan yang “kurang”, sekaligus membuatku merasa utuh.

Tuhan tahu betul bagaimana aku sudah menunggu lama dan menjaga diriku tetap murni. Tetapi, jika pacarku meninggalkanku, apakah aku akan menyalahkan Tuhan? Padahal Tuhan tidak berutang untuk memberiku seorang pacar atau suami. Tuhan pun tidak berutang agar Ia menebus kita. Semua itu dilakukan-Nya hanya karena kasih karunia-Nya. Jika Tuhan memandang baik untuk aku menikah, maka jadilah kehendak-Nya. Jika Tuhan memandang baik untuk aku melajang, maka jadilah kehendak-Nya. Tuhan tahu yang terbaik dan jalan-jalan-Nya lebih hebat dan lebih tinggi dari jalanku.

Menjalin hubungan romantis memang bisa mengasyikkan sekaligus menegangkan. Setiap hari aku pun belajar apa artinya mengasihi dan dikasihi oleh pacarku. Pada saat yang sama, aku yakin kalau selama kita menetapkan fokus kita kepada Tuhan dan tetap tertanam dalam suatu komunitas rohani, sebuah hubungan romantis yang menuju pernikahan dapat menjadi relasi yang tetap memuliakan Tuhan dan membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Baca Juga:

5 Hal untuk Direnungkan Ketika Iri dengan Privilese Orang Lain

Pada masa-masa aku mulai menyerah karena merasakan privilese terbatas, ada beberapa hal terkait privilese yang kurenungkan dan mulai kutemukan jawabannya ketika aku membaca Alkitab.

5 Hal untuk Direnungkan Ketika Iri dengan Privilese Orang Lain

Oleh Elvira Sihotang, Balikpapan

Beberapa dari kita mungkin pernah membuka fitur “explore” Instagram dan menemukan wajah Maudy Ayunda di sana. Semua media rasanya tidak henti-henti mendaraskan pujian dan kalimat positif pada Maudy. Aku bahkan ingat percakapan dengan temanku di telepon:

“Astaga si Maudy. Dia udah lulus S2 aja, gelarnya udah nambah 2, gue masih di sini-sini aja.”

Kalimat itu berhasil membuat kami tertawa. Aku tahu walaupun masih ada sedikit keseriusan dalam diri temanku ketika mengucap kalimat itu, kalimat itu lebih banyak berisi candaan bercampur kesan “yaudahlah” bagi kami. Kami sepakat bahwa aku dan temanku berada pada lingkungan yang berbeda dengan Maudy.

Jika kita mencari tahu soal Maudy Ayunda, rasanya agak sulit untuk tidak terkonsumsi rasa iri dan overwhelming. Apa yang kurang? Maudy diberkati dengan banyak privilese. Keluarganya mampu secara finansial, memiliki ayah, ibu, dan adik yang suportif, networking yang oke, mengenyam pendidikan di institusi bergengsi sejak kecil, punya kecerdasan yang baik, mampu menunjukkan eksistensi di dunia hiburan, dan satu lagi: good looking.

Menelusuri segala hal tentang Maudy Ayunda memunculkan ragam emosi. Ada yang termotivasi dan ada yang kagum. Namun, ada juga yang merasa tidak berdaya dan merasa “kecil”—ingin seperti Maudy, tapi rasanya aku tidak ada apa-apanya. Bagaimana mungkin kuliah di Oxford?

Kita semua mungkin tidak terlahir dengan privilese seperti yang didapatkan oleh para selebriti. Ketika aku kuliah Psikologi, dosenku pernah menyoroti berbagai penelitian yang mengatakan walau impian untuk “mengubah nasib keluarga” dan “meningkatkan perekonomian” terdengar sangat manis dan keren, hasil observasi di berbagai negara menunjukkan bahwa peningkatan yang terjadi dari kondisi ekonomi sekarang dengan di masa depan hanya sedikit. Banyak juga yang menunjukkan rata-rata sama. Arti singkatnya adalah: Kalau sekarang kamu berada pada keluarga menengah, paling-paling kamu juga masih berada pada keluarga menengah di masa depan atau paling tidak dengan segala usahamu, kamu mampu berada pada menengah ke atas. Jadi, untuk mencapai keluarga kalangan sangat atas adalah ketidakmungkinan ya?

Tentu tidak, kita berbicara kemungkinan. Dari seluruh partisipan penelitian, mereka yang berhasil untuk sampai pada tingkat atas sekali jika sebelumnya berasal dari keluarga menengah atau bahkan menengah kebawah jumlahnya sedikit. Minoritas. Aku tidak mencoba untuk menurunkan atau bahkan memberikan motivasi padamu, namun pada masa-masa aku mulai menyerah karena merasakan privilese terbatas, ada beberapa hal terkait privilese yang kurenungkan dan mulai kutemukan jawabannya ketika aku membaca Alkitab.

1. Tuhan tidak memberikan talenta yang sama pada setiap orang

Pernahkah kamu melihat seseorang yang tampaknya unggul di semua bidang dan kamu melihat dirimu yang hanya terampil di 1 bidang? Pertanyaan yang wajar sekali. Mudah bagi kita untuk bertanya kenapa aku tidak sejago A, kenapa aku tak sekreatif B, dan lain-lain. Walaupun ini pertanyaan yang wajar, Tuhan mengajak kita untuk menemukan alasannya dalam Matius 25:14-30. Nas ini bercerita tentang pembagian talenta. Seorang mendapatkan 5, seorang mendapatkan 2, dan seorang lainnya mendapatkan 1. Terdapat satu pasal yang mengatakan bahwa pembagian tersebut adalah menurut kesanggupan orang yang akan menerima. Tapi aku tidak akan berfokus banyak ke hal tersebut, melainkan hal yang satu ini: Tuan dalam cerita itu tidak peduli akan jumlah talenta hambanya. Ia tidak lebih sayang pada hamba dengan 5 talenta daripada hamba 2 talenta. Sikapnya netral saja di awal. Ia lebih memperhatikan bagaimana usaha hamba tersebut dalam menjalankan talenta yang diberikan. Hamba dengan 5 dan 2 talenta kembali dengan beroleh laba yang sebanding, sementara hamba yang memiliki 1 talenta malah menyembunyikan talentanya dalam lubang tanah. Sesedikit apapun talenta yang kau rasakan Tuhan berikan padamu, tak apa. Tuhan tetap menghargaimu. Jauh lebih penting untuk meminta hikmat Tuhan agar mampu mengembangkannya dengan baik. Tidak sulit bagi Tuhan jika Ia mau menambah talenta yang lain kepadamu ketika Ia melihat engkau mampu mengembangkan talenta yang sudah ada dengan baik.

2. Tuhan tidak menuntut kita untuk hidup di rumah tingkat tiga dan memiliki saham berlembar-lembar

Aku pernah secara langsung mengetik “Apakah Tuhan memintaku untuk menjadi kaya” pada Google saking merasa bingung. Sayang, tidak ada jawaban pasti. Tuhan tidak menentang keinginanmu menjadi kaya, tapi pertanyaannya untuk apa?

Kita semua setuju bahwa berkat yang berlimpah bisa membuat kita beribadah dengan maksimal. Namun, yang aku tahu adalah kita bukan milik kita sendiri dan kita tidak hidup untuk diri kita sendiri. Contoh nyatanya adalah Tuhan Yesus sendiri. Ia datang ke bumi bukan untuk merasakan kenikmatan duniawi. Ia rela datang dari singgasana-Nya yang nyaman untuk menyelamatkan kita manusia, yang terlampau sering menyakiti hati Tuhan. Kalau Tuhan datang pada zaman kita, Ia tidak datang untuk mencari tahu sensasi bermain golf, menikmati makan di restoran bintang lima dan lain-lain. Pun kutemukan dalam Alkitab, sebagai seorang Anak Allah, Ia tidak bergaul dengan kaum bangsawan saat ada di dunia. Ia seringkali datang menghampiri orang berdosa, menyapa orang sakit, dan berkunjung ke rumah orang yang dianggap hina.

Poinnya adalah Ia meninggalkan diri-Nya yang berada dalam kelimpahan di samping Bapa, semata-mata untuk memenuhi tujuan Bapa bagi kita: menyelamatkan kita. Ia pun tidak mengagungkan statusnya sebagai Anak Allah. Sebagai puncaknya, Ia mati di kayu salib untuk membayar lunas dosa-dosa kita sehingga kita bisa menikmati hubungan baru dengan Allah. Ia merendah dalam kekayaannya, memberikan kita teladan bahwa yang menyenangkan Tuhan bukanlah tentang seberapa kaya dan seberapa berhasil kita mengumpulkan prestasi, pencapaian, gebrakan, dsb, namun seberapa kita mau menggunakan apa saja yang kita punya untuk menjalani hidup yang berkenan kepada-Nya.

3. Tuhan tidak ingin kita menjadi biasa-biasa saja

Dalam segala sesuatu yang kita lakukan, lakukanlah itu seperti kita melakukannya untuk Tuhan. Walau misalnya kita hanya punya 1 talenta, bukan berarti kita berpikir “Ah, gausah terima tugas yang ini deh, aku kan cuma jago di bidang A, kalau disini tidak jago”.

Jika ada kesempatan datang menghampiri dan hal itu dapat memberikan kita kesempatan untuk bertumbuh, cobalah untuk menjalaninya. Ketika kita menjalaninya pun, usahakanlah yang terbaik. Walau hasil akhir penting, Tuhan pun menghargai segala usaha yang kita buat untuk menjadikan pekerjaan itu baik di mata Tuhan.

4. Kita bisa mengusahakan privilese

Privilese bagi kebanyakan orang mungkin berkisar pada kemampuan finansial, daerah tempat tinggal, dan hal materiil lainnya. Hal-hal tersebut memang menguntungkan. Namun,sebelum terlalu terpaku pada urusan finansial, masih banyak hal-hal penting yang bisa dipersiapkan, terutama kesiapan mental calon orang tua. Kesiapan mental yang baik meliputi cara pengasuhan yang tepat di setiap usia anak, kemampuan mengelola emosi, dan cara penyelesaian masalah ketika keluarga mengalami masalah. Hal ini nantinya dapat berdampak pada kepribadian anak dan juga membentuk pandangannya akan keluarga, lingkungan lainnya, dan bahkan iman.

Pernah suatu ketika aku diceritakan oleh seorang pendeta. Beliau berkata bahwa dalam pengamatannya selama bertahun-tahun melayani, ada keluarga-keluarga yang mengasuh anak dengan cara otoriter, yang nantinya akan cenderung menghasilkan anak yang memandang bahwa Tuhan adalah Tuhan yang selalu penuh perhitungan pada manusia. Contohnya seperti memandang jika setiap kesusahan yang dihadapi adalah hukuman dari Tuhan untuk membuat kita menderita. Hal ini tidak benar. Ibrani 12: 1-13 mengatakan bahwa walau kita mendapat ganjaran dari perbuatan kita, sesungguhnya ganjaran itu atas dasar kasih Tuhan agar kita mau merubah perilaku sesuai dengan yang berkenan pada Tuhan.

Jika kamu sedang berupaya meningkatkan pendapatan, selain tidak lupa membekali diri dengan pengelolaan finansial, jangan lupakan langkah untuk mengasah “pengendalian diri”, sehingga jika suatu saat usahamu terus membuahkan hasil dan semakin sukses, kamu tidak dibutakan dan jatuh dalam kerakusan. Seimbangkan privilese dunia yang kamu usahakan dengan tetap mengejar buah-buah roh terbentuk dalam dirimu. Kalau lupa buah-buah roh ada apa saja, langsung buka Galatia 5:22-26 ya!

5. Tuhan juga memakai orang yang biasa-biasa saja dan mereka yang kerap dipertanyakan

Ditarik lebih jauh, Yesus memiliki nenek moyang bernama Rahab, seorang perempuan yang diceritakan Alkitab sebagai perempuan sundal. Bangsa Israel keluar dari Mesir dengan tuntunan Musa, seseorang yang tidak pandai berbicara. Tuhan mengabulkan doa Sarah, seorang yang dianggap sudah mandul dan secara ilmu pengetahuan punya kemungkinan sangat kecil untuk mengandung. Tuhan memakai Daud, seorang gembala domba bertubuh kecil tanpa peralatan senjata lengkap. Siapakah ia dibandingkan Goliat? Apakah Tuhan memandang mereka sebelah mata seperti orang-orang disekitar Maria, Sara, dan Daud? Tidak, Tuhan memperhatikan mereka baik-baik, secara utuh dan dekat. Namun terkadang kita bertanya mengapa Tuhan tidak kasihan dan mengubah keadaan kita? Aku menemukan jawabannya. Tuhan sesungguhnya ingin yang terbaik pada kita, namun Tuhan pun menginginkan hubungan dua arah yang seimbang. Tuhan juga mau kita datang mengungkapkan apa yang kau rasakan. Tuhan mau Engkau meminta tolong pada-Nya, dan ketika Engkau meminta Tuhan mengubahkan, mungkin sudah saatnya pun engkau berubah. Tuhan memilih mereka yang mau hidup benar dan taat kepada-Nya.Tuhan memilih mereka yang rela diubahkan menurut cara Tuhan.

Di tengah maraknya informasi tentang privilese yang tersebar di media sosial, kadang kekalutan datang menghampiri: 100 juta pertama, apartemen di wilayah terkenal, biaya pertemanan, dan publik figur yang kerap melihatkan saldo rekening. Dalam kekalutan itu, ingatlah bahwa kita memiliki Alkitab sebagai panduan hidup. Di dalamnya sudah tertera bagaimana Tuhan memberikan contoh untuk kita harus hidup.

Privilese duniawi memang nyata, namun kita punya Tuhan yang berkuasa atas isi dunia ini. Menutup artikel ini, izinkan aku mengajakmu membaca dan merenungkan secara pribadi ayat alkitab dalam Matius 7:7-11, Ibrani 13:5, Matius 19:26, dan Matius 6:33.

Semoga kita semua bisa mengejar hal-hal yang menyukakan hati Tuhan!

Baca Juga:

3 Alasan Mengapa Orang Kristen Harus Terlibat Memperjuangkan Keadilan Sosial

“Gak bisa lah mengusahakan keadilan di dunia ini.”

Setujukah kamu dengan pernyataan itu?

Yuk jelajahi topik menarik ini lewat artikel yang ditulis oleh Lidya Corry.

3 Alasan Mengapa Orang Kristen Harus Terlibat Memperjuangkan Keadilan Sosial

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

Beberapa pekan lalu, jagat Twitter diramaikan oleh kicauan seorang figur publik yang menyatakan bahwa seorang SJW (Social Justice Warrior atau Pejuang Keadilan Sosial) adalah “tipe orang di kelas yang saat ulangan mengumpulkan jawabannya duluan agar tidak ditanya-tanya (dicontek) oleh temannya, melaporkan ke guru apabila ada teman yang mengerjakan pekerjaan rumah (PR) di kelas, atau mengingatkan guru tentang ulangan atau kuis.”

Kicauan ini pun direspons hangat oleh banyak orang, baik yang mendukung atau menentang.

Sebenarnya, apa sih SJW itu? Oxford Dictionaries memberikan definisi SJW sebagai “a person who expresses or promotes socially progressive views”. Meski definisi dan tujuan SJW ini baik, istilah ini kemudian mengalami makna peyoratif. Istilah yang tadinya dipandang positif menjadi sangat negatif sekitar tahun 2011 ketika dilontarkan sebagai celaan untuk pertama kalinya di Twitter.

Tulisanku ini tidak akan membahas lebih lanjut tentang kontroversi itu, tetapi melalui topik ini aku ingin mengajakmu untuk melihat bahwa memperjuangkan keadilan sejatinya adalah tugas kita sebagai orang Kristen. Mengapa?

Menurutku, setidaknya ada tiga alasan:

Pertama, keadilan adalah sifat Allah dan Allah menghendaki keadilan ditegakan di dunia.

“Raja yang kuat, yang mencintai hukum, Engkaulah yang menegakkan kebenaran; hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub, Engkaulah yang melakukannya” (Mazmur 99:4).

“Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir” (Amos 5:24).

Dalam beberapa kitab di dalam Alkitab, Allah melalui perantaraan para nabi secara tegas menyatakan ketidaksukaannya kepada ibadah umat yang tidak disertai perbuatan baik dan kebajikan kepada orang-orang miskin dan tertindas. Misalnya melalui Nabi Yesaya, Allah menyatakan bahwa Ia jijik dengan persembahan umat dan tidak menyukai perayaan dilakukan bangsa Israel. Allah kemudian berfirman:

“Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yesaya 1:16-17)

Keadilan adalah sifat Allah, dan oleh karena itu Ia menghendaki agar kita umat-Nya hidup dalam keadilan dan senantiasa berbuat adil. Sebagai umat Allah, sudah sepatutnya kita ikut terlibat dalam memperjuangkan keadilan sosial dan melawan penindasan di dalam dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa.

Kedua
, orang Kristen adalah terang dan garam dunia.

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Matius 5:13).

Pada zaman dahulu, ketika bahan pengawet buatan belum ditemukan, garam adalah bahan alami untuk mengawetkan makanan agar tidak cepat busuk. Itulah fungsi garam: mencegah kebusukan. Garam juga digunakan untuk memberikan rasa yang enak; dan meskipun kehadirannya dalam sebuah masakan tidak terlihat, keberadaannya bisa dirasakan.

Sebagai orang Kristen, kita hadir di tengah dunia untuk mencegah kebusukan oleh karena dosa serta memberikan pengaruh yang baik bagi lingkungan di sekitar kita, termasuk dalam memperjuangkan keadilan sosial. Perlu diingat bahwa Matius 5:13-16 bukan menyatakan bahwa “kamu harus menjadi garam dan terang dunia”, melainkan “kamu adalah garam dan terang dunia”. Artinya, orang Kristen sudah merupakan garam dan terang dunia. Menjadi orang Kristen berarti harus menjalankan fungsi kita sebagai garam dan terang karena “jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.”

Terakhir, Tuhan Yesus sendiri menjadi teladan yang sempurna untuk memperjuangkan keadilan.

“Dalam pengajaran-Nya Yesus berkata: “Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang suka berjalan-jalan memakai jubah panjang dan suka menerima penghormatan di pasar, yang suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan di tempat terhormat dalam perjamuan, yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat” (Markus 12:38-40).

Selama pelayanannya di dunia, Tuhan Yesus sendiri menjadi sosok yang kontroversial dengan tindakan dan pengajaran-Nya yang seolah-olah mengobrak-abrik tatanan kehidupan masyarakat yang pada saat itu diterima sebagai “tradisi yang harus dipatuhi”. Tuhan Yesus duduk bergaul dengan para pemungut cukai, perempuan sundal, dan orang-orang dianggap berdosa oleh masyarakat serta dikucilkan dari pergaulan. Dia melawan kemunafikan para ahli Taurat dan orang Farisi serta menentang ketidakadilan atau praktik kejahatan yang dilakukan para pemuka agama pada saat itu. Tuhan Yesus melayani setiap orang tanpa memandang wajah serta latar belakang sosial ekonomi, serta memberikan berbagai jawaban/keputusan yang adil atas pertanyaan orang-orang (bahkan pertanyaan yang bersifat menjebak, seperti kisah perempuan yang kedapatan berbuat zinah dalam Yohanes 7:53-8:11). Tuhan Yesus adalah teladan yang sempurna mengenai memperjuangkan keadilan (sosial).

Bahkan Tuhan Yesus menggenapi perjuangan-Nya melawan ketidakadilan dengan menjadi korban yang sejati dari ketidakadilan kosmis ketika Ia rela mati untuk menanggung dosa kita semua di atas kayu salib.

“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21).

Ketidakadilan adalah produk kejatuhan manusia ke dalam dosa, ketika dosa menghancurkan dan merusak relasi manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri, dengan alam ciptaan, dan dengan sesama; membuat manusia dapat bersikap tidak adil bahkan menindas sesamanya manusia.

Karya keselamatan yang Kristus bawa melalui kematian dan kebangkitan-Nya telah menghancurkan dosa dan ketidakadilan sekali untuk selama-lamanya. Karya Agung ini telah memberikan kepada kita harapan bahwa meski dunia ini begitu tidak adil dengan berbagai penindasan dan kejahatan; akan tiba saatnya Tuhan Yesus datang kembali sebagai Raja, dan Ia akan memerintah dengan penuh keadilan di langit dan bumi yang baru (Wahyu 21:3-4).

Tetaplah berpengharapan dan terlibat!

Lighten our darkness, breathe on this flame
Until your justice burns brightly again
Until the nations learn of your ways
Seek your salvation and bring you their praise
God of the poor, friend of the weak
Give us compassion we pray
Melt our cold hearts, let tears fall like rain
Come, change our love from a spark to a flame

Lirik lagu God of the Poor (Beauty for Brokennes) oleh Graham Kendrick

Soli Deo Gloria!

Baca Juga:

Catatan Kecil Anak Seorang Dokter

Papa kelelahan bukan main. Hampir seluruh waktunya habis untuk mengurusi orang-orang lain. Rasanya aku ingin marah pada dunia, kenapa ada pandemi? Kenapa papa harus jadi dokter?

Catatan Kecil Anak Seorang Dokter

Oleh Fedora Aletheia Putri Leuwol, Bekasi

Ketika pandemi mengamuk hebat, para dokterlah yang berada di garda terdepan menyelamatkan dan merawat orang-orang yang terinfeksi COVID-19. Salah satunya, papaku sendiri. Bersama para dokter lainnya, papa bekerja begitu keras melayani setiap pasien yang meminta pertolongannya.

Naiknya kasus Covid, berarti bertambah pula jam kerja papa. Dalam keluarga kami, papa adalah orang yang terkenal paling gaptek. Dia biasanya malas memegang HP. Tapi, selama pandemi ini papa jadi memegang HP seharian penuh—dari subuh sampai larut malam, hari kerja atau hari libur. Banyak rumah sakit kewalahan menampung pasien. Mereka yang gejalanya tidak terlalu berat diminta untuk dirawat di rumah saja, alias isoman. Nah, mereka-mereka yang isoman inilah yang paling membutuhkan jasa dokter secara daring, atau istilah bekennya: telemedicine. Papa menulis berlembar-lembar surat resep, hingga mencarikan rumah sakit bagi mereka yang gejalanya memburuk.

Sebagian dari pasien-pasien papa adalah jemaat gereja kami, tetangga di perumahan, teman-teman di kantor mamaku, dan masih banyak lagi. Itu belum termasuk orang-orang yang memberikan nomor WA papaku kepada kenalan mereka yang sakit. Saking banyaknya, papa pernah bilang kalau dia nyaris kewalahan untuk membalas chat dan mengangkat telepon. Untuk sekadar makan atau duduk tenang pun jadi susah.

Karena tuntutan pekerjaannya pula, tiap hari papa pergi ke luar rumah, bertaruh nyawa. Tahun lalu, kami sekeluarga pernah terpapar COVID-19 karena papa tertular dari seseorang yang ia periksa di tempat kerjanya. Beruntung, meski memiliki komorbid, papa bisa sehat kembali. Namun, peristiwa itu membuatku trauma, khawatir papa akan terpapar lagi, dan menulari kami semua.

Aku takut kelelahan kerja akan membuat imun tubuhnya melemah. Itu sebabnya aku selalu memintanya istirahat saja kalau di rumah, tidak usah mengurusi pasien.

“Nggak usah buka WA dululah, untuk sementara,” gertakku.

Papa berkeras, “Tidak bisa begitu, Kak. Kamu bayangin kalau keluargamu yang sakit, kamu WA dokter terus dokternya nyuekin kamu? Gak bisa!”

Usul lain yang pernah kulontarkan, “Coba Papa larang pasien Papa sembarangan kasih nomor Papa. Papa tuh udah sibuk banget!”

Tapi, lagi-lagi ia menolak, “Gak bisalah, Kakak, mana bisa kayak gitu! Orang kok gak boleh minta tolong? Lagi pula, ini memang tugas papa. Pekerjaan papa kan memang menolong orang.”

Kira-kira selalu begitu responnya.

Aku terdiam. Ucapan papa itu membuatku berpikir: betapa besar perjuangan papa, para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lain di masa pandemi ini. Hatiku meradang setiap kali mengingat perjuangan papa. Selain berjuang menyelamatkan orang lain, papa juga menafkahi kami sekeluarga dari pekerjaannya sebagai dokter. Tapi, kalau begini caranya, aku tidak ingin papaku menjadi dokter. Rasanya ingin marah ke seluruh dunia, kenapa harus ada pandemi ini? Mengapa pandemi ini tidak selesai-selesai? Mengapa orang-orang harus selalu mencari papaku untuk meminta tolong? Mengapa begitu banyak orang yang tidak patuh prokes, dan lebih percaya kepada hoax yang mengatakan COVID-19 itu konspirasi?

Sampai suatu ketika, ada satu momen yang membuatku tersadar.

Waktu itu sudah cukup malam. Kami memesan makanan secara daring, dan betapa terkejutnya kami ketika si Bapak driver yang mengantarkan pesanan datang bersama istrinya. Aku tahu itu istrinya karena Bapak itu meminta maaf, katanya: “Maaf ya, Mbak, agak lama, tadi sekalian lewat jemput istri dulu pulang kerja.” Melihat itu aku pun menyadari sesuatu yang tak pernah terpikir olehku.

Selama ini aku selalu mengomel dan mengeluh mengapa papa harus menjadi pahlawan di pandemi ini. Namun, melihat si Bapak malam itu, aku sadar bahwa pejuang dalam pandemi ini bukan hanya dokter atau tenaga kesehatan, tapi juga para pengemudi ojol, kurir, pedagang pasar, petugas minimarket, sopir kendaraan umum, polisi, dan masih banyak lagi.

Ketika pandemi menggila, mereka tetap harus keluar rumah, harus bekerja, demi menafkahi keluarga. Bapak ini bahkan harus keluar rumah bersama istrinya, yang mungkin berarti mereka meninggalkan anak-anak mereka di rumah. Bagaimana perasaan anak-anak mereka? Mereka mungkin juga takut orang tua mereka terpapar virus ini. Tapi mereka tidak punya pilihan karena orang tua mereka harus bekerja.

Aku tercenung, memandangi motor si Bapak menderu semakin jauh, membonceng istrinya pulang ke rumah.

Pahlawan di masa pandemi adalah mereka-mereka yang setia melakukan tanggung jawabnya. Coba bayangkan jika tidak ada driver ojol. Keluargaku pasti kesulitan untuk membeli makanan. Berkat pelayanan para driver, aku dan keluargaku tidak harus keluar dari dekapan aman keempat dinding rumah kami, terlindung dari virus yang mengamuk di luar.

Perlahan pikiranku melayang ke ratusan, bahkan mungkin jutaan orang lain yang malam ini berada di luar rumah, bertarung melawan pandemi, demi melayani kita semua dan menafkahi keluarga mereka. Banyak di antara mereka mungkin memiliki keluarga yang mengkhawatirkan mereka seperti aku kepada papaku.

Dalam situasi seperti sekarang ini, rasanya wajar jika kekhawatiran itu muncul dalam hati. Kita mengkhawatirkan kesehatan kita dan anggota keluarga kita. Kurasa itu tidak apa-apa. Yang jadi masalah adalah, apakah kemudian rasa khawatir itu membuat kita mengabaikan segala tugas kita dalam melayani sesama? Apakah kemudian kemampuan dan karunia yang kita terima dari Tuhan harus kita “nonaktifkan” sementara waktu sambil menunggu keadaan pulih dan membaik?

Sebait firman Tuhan terbesit dalam pikiranku: “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah” (1 Petrus 4:10). Kita diminta untuk melayani sesama dengan segala karunia yang sudah Tuhan berikan kepada kita, dan sesuai dengan kemampuan serta keterampilan yang kita miliki. Tidak hanya dalam situasi yang baik-baik saja tetapi juga dalam keadaan paling buruk sekalipun.

Hal ini menyadarkanku bahwa life must go on. Semengerikan apa pun keadaan di luar sana, banyak orang yang harus tetap keluar untuk berjuang menghidupi keluarga mereka. Dan menurutku, mereka semua pahlawan dan pejuang tangguh. Kita pun, yang beruntung bisa tetap tinggal di rumah, bisa mendukung mereka dengan doa, tetap menggunakan layanan mereka, memberi tips, atau sesimpel memberikan senyuman ramah. Hanya Tuhanlah kekuatan dan pengharapan kita.

Setiap malam, kami sekeluarga berdoa bersama menopang papa. Papa berpesan agar aku selalu ingat bahwa Allah-lah perisai kita, seperti yang terungkap dalam Mazmur 33:20: “Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita!”

Ya, Allah-lah perisai bagi para pejuang pandemi ini: papaku dan mereka semua yang sedang berjibaku di luar sana. Kiranya Tuhan melindungi dan menjaga mereka semua. Terima kasih karena sudah berjuang!

Dari aku, putri seorang dokter

Baca Juga:

Tuhan, Runtuhkanlah Tembokku Agar Aku Bisa Memandang-Mu

Berawal dari trauma di masa lalu, aku melindungi diriku dengan membangun ‘tembok’ yang kuharap bisa melindungiku dari terluka. Tapi, tembok ini malah membuatku semakin terasing dan terisolasi.

Tuhan, Runtuhkanlah Tembokku Agar Aku Bisa Memandang-Mu

Oleh Paramytha Magdalena

Aku lahir dan tumbuh di keluarga Kristen yang cukup taat. Sejak kecil hingga kuliah, hidupku tidak jauh dari dunia pelayanan. Kisah-kisah tentang begitu besarnya cinta kasih Tuhan bagi manusia sudah sering kudengar. Namun, menerima dan mengalami sendiri kasih itu, rupanya adalah hal lain.

Perasaan jauh dari kasih Tuhan itu muncul ketika aku merasa ada yang aneh dengan diriku sendiri. Aku kesulitan mengampuni diriku sendiri atas kegagalanku di masa lalu, dan… yang lebih sulit lagi ialah aku merasa kebas dengan perhatian yang diberikan oleh orang lain. Ketika seseorang berbuat baik kepadaku, aku akan merasa diperhatikan dan dicintai. Namun, perasaan itu hanya muncul di awal. Setelahnya, aku merasa biasa saja, atau parahnya aku merasa tidak lagi dikasihi oleh siapa pun. Pemikiran berlebihan ini menuntutku untuk selalu menerima perhatian, padahal dalam realita kehidupan, untuk segala sesuatu ada waktunya. Berangkat dari titik inilah aku pun menjadi sulit merasa dicintai Tuhan.

Kucoba mencari solusi dengan membaca Alkitab, saat teduh, mendengar khotbah, mencari artikel-artikel rohani, dan juga berdoa. Tapi, upaya itu tidak memberiku jawaban yang memuaskan.

Hingga suatu ketika, pada sebuah khotbah yang kudengar, sang pengkhotbah membahas ayat dari Mazmur 127:1 yang berkata, “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya. Jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”

Sepenggal ayat ini menohokku. Mazmur 127 diyakini sebagai mazmur yang mengangkat tema seputar campur tangan Tuhan dalam pembangunan rumah, kota, dan keluarga. Kata ‘rumah’ dalam konteks Perjanjian Lama bisa mengacu kepada bangunan, keluarga, atau rumah tangga di dalamnya. Bangsa-bangsa pada masa itu membangun kota mereka dengan benteng dan pengawal kokoh di sekelilingnya. Tujuannya, agar kota itu dapat makmur sekaligus aman dari serangan musuh.

Aku merenung, menerawang relung-relung hatiku, dan kudapati bahwa selama ini aku memang punya maksud yang baik bagi diriku sendiri. Bertolak dari kegagalan di masa lalu, juga mungkin penolakan yang pernah ada, aku membangun tembok-tembok di sekelilingku. Tapi, tembok itu bukan tembok yang memberikan rasa aman dan tenteram. Tembok itu malah menelanku perlahan-lahan, membuatku kelam dan jauh dari sinar kasih Tuhan yang mewujud melalui banyak hal, salah satunya adalah cinta kasih dari sesama manusia. Saat aku mengalami hal buruk, aku segera membatasi relasi dan membangun jarak dengan orang-orang yang telah menyakitiku. Kutarik diriku masuk dan berlindung di dalam tembok.

Sekilas aku merasa aman. Aku tak akan lagi berurusan dengan sakit hati.

Namun… perasaan aman ini adalah aman yang semu, rasa aman yang justru membuatku semakin terasing dan terisolasi. Tembok inilah yang akhirnya menghalangiku untuk merasakan cinta dan hal-hal baik dari Tuhan dan juga orang-orang di sekitarku.

Tak ada cara lain yang dapat menolongku untuk keluar dari tembok kelam ini selain daripada menghancurkannya, lalu menyerahkan hidupku pada Tuhan agar Dia sajalah yang membangun ‘tembok-tembokku’.

Perlahan, berangkat dari kesadaran ini, aku belajar untuk melatih sikap rendah hati. Ketika tembok yang kubangun itu mulai runtuh, aku pun lebih sering mengalami sakit hati dan kekecewaan. Tapi, kini aku belajar untuk memandang itu semua dari perspektif Tuhan. Bahwasannya dalam relasi antar sesama manusia, kekecewaan dan sakit hati adalah bagian tak terpisahkan dari relasi antar sesama orang berdosa. Mungkin hari ini aku yang tersakiti, tapi bisa jadi pula di momen yang lain aku tanpa sengaja yang menyakiti orang lain.

Rapuhnya relasi antar sesama manusia berdosa tidak seharusnya membuatku menarik diri, tetapi seharusnya aku memandang ke atas, kepada Dia yang kasih-Nya sempurna. Tak peduli seberapa dalam kita menikam-Nya dengan pemberontakan kita, tangan kasih Tuhan Yesus tak pernah tertutup untuk menyambut kita.

Dan, oleh kasih-Nyalah kita dimampukan untuk berelasi dan meneruskan kasih itu kepada sesama kita.

Aku mengimani Mazmur di atas. Rumah yang dibangun Allah tidak akan sia-sia. Oleh karena itu, pastikanlah agar ketika kita membangun ‘tembok’ untuk melindungi diri kita, ‘tembok’ itu dibangun oleh Allah sendiri—tembok kerendahan hati, tembok pengampunan, tembok belas kasihan, dan tembok-tembok yang terdiri dari segala rupa buah roh.

Baca Juga:

Ketika Identitas Diriku Kuletakkan pada Ucapan Orang Lain

Di hadapan seorang yang mengasuhku, semua prestasiku dianggap kurang. Masuk 10 besar, dianggap jelek kalau tidak jadi peringkat 1. Lama-lama aku jadi marah dan berupaya keras untuk mematahkan tiap ucapannya.

Ketika Identitas Diriku Kuletakkan pada Ucapan Orang Lain

Oleh Veronica*, Depok

“Hey, kok lo goblok banget sih!” teriak Meredith*. Ucapan itu dilontarkannya sebagai tanggapan atas ceritaku kemarin malam kalau aku mendapat nilai tertinggi se-tim-ku untuk tes kecerdasan yang diadakan kantorku.

Teriakan itu menohokku. Aku, lulus dari perguruan tinggi ternama, bekerja di perusahaan impian, bahkan menjadi salah satu kandidat terbaik di sana. Seketika aku merasa tidak berharga. Rasanya prestasi di sana sini yang telah kuraih tak artinya di hadapan Meredith.

Meredith adalah salah satu anggota keluargaku. Sejak orang tuaku pergi ke luar kota setelah aku lahir, dialah yang mengasuhku hingga saat ini. Lahir sebagai anak tentara pejuang kemerdekaan dan menikah dengan seorang tentara pula, membentuknya menjadi wanita yang keras dan kuat. Hal itu pula yang menjadi pedomannya saat membesarkanku, sampai kadang dia lupa bahwa aku butuh kelemahlembutan. Caranya mendidikku adalah dengan menuntutku untuk selalu jadi yang terbaik. Pernah saat itu ketika SMP aku meraih peringkat 28 ketika semester 1, dan melesat menjadi peringkat 2 di semester 2. Kalian tahu apa katanya? “Kok gak ranking 1?”.

Ketidakpuasannya atas prestasiku tidak terjadi hanya sekali, melainkan terus berulang. Lama-lama aku jadi marah. Ketika SMA, aku berjuang habis-habisan untuk bisa kuliah di luar kota atau bahkan di luar negeri, agar bisa jauh darinya. Namun, perjuanganku kandas.

Aku berkuliah tidak jauh dari rumah, dan setiap hari aku masih bertemu dengannya—dia, yang tidak pernah memberi apresiasi atas setiap prestasiku secara langsung. Meski teman-teman dan keluarga besarku beberapa kali mengapresiasi keberhasilanku, namun dia tetap bergeming. Uniknya, perkataan orang-orang lain rasanya tidak berpengaruh buatku, hanya apresiasi dari Meredithlah yang kutunggu.

Kembali ke ceritaku tentang pagi tadi, perasaan tidak berharga dalam diriku pun mencuat. Aku duduk diam termenung. Dalam perenunganku itu, aku mendapati bahwa meskipun orang-orang lain mengapresiasiku dengan baik, aku meletakkan identitasku pada ucapan Meredith. Aku terjebak dalam pikiran bahwa semua yang kulakukan akan cukup, ketika dia sudah bilang itu cukup. Aku akan merasa bahwa aku berharga adalah ketika dia memberikan apresiasinya kepadaku. Mungkin sikap ini muncul sebagai sebuah upaya ‘pembuktian’ kalau aku orang yang hebat, yang mampu memenuhi semua tuntutannya.

Aku sendiri kurang tahu persis apa yang menyebabkan Meredith bersikap begitu, tetapi aku bisa memahami mungkin dia ingin agar aku selalu jadi yang terbaik. Tetapi, menjadi yang terbaik tidak selalu melulu mendapatkan posisi pertama, bukan?

Setelah aku menyadari hal itu, aku teringat akan dua hal berikut.

Pertama, aku teringat ketika Tuhan menciptakan manusia di hari ke-6 dan mengatakan bahwa ciptaan-Nya “sungguh amat baik”. Saat aku memejamkan mata dan mengulang kalimat itu dalam hati, mataku mulai berkaca-kaca. Aku, yang diciptakan oleh Tuhan, disebut oleh Ia sendiri bahwa aku “sungguh amat baik”. Aku mengulanginya dalam hatiku, “aku, sungguh amat baik”. Kalimat itu kemudian membuatku menyadari bahwa aku, bahkan tanpa prestasi-prestasi lahiriahku, sudah sungguh amat baik bagi Penciptaku. Ia, yang menenunku dalam rahim ibu-ku, mengenal hingga kedalaman hatiku, mengasihiku, menyatakan bahwa aku sudah sungguh amat baik. Artinya, meski aku belum melakukan apa-apa, aku berharga. Dan itu, sudah cukup.

Pemahaman bahwa Allah menciptakanku dengan amat baik ini bukan berarti aku berdiam diri dan menolak berkarya, tetapi dari pemahaman inilah aku bisa berkarya bukan untuk mengejar gengsi atau pengakuan dari orang lain, melainkan sebagai ekspresi syukur dan bakti pada Allah yang telah menciptakanku baik adanya.

Yang kedua, dosa membuatku dan semua manusia seharusnya layak menerima hukuman berupa kebinasaan. Namun, ada Pribadi yang memberi diri menggantikan untuk mati karena dosa yang bukan milik-Nya. Ada Pribadi, yang mau berkorban untukku, bahkan ketika aku sedang gagal. Ada Pribadi, yang tetap mengasihiku, ketika aku nyatanya sangat jauh dari berprestasi. Ada Pribadi, yang karena kasih-Nya sungguh besar, tidak hanya lagi menyatakan dengan perkataan, namun dengan nyawa-Nya sendiri yang dikorbankan.

Kira-kira, apakah mungkin Allah mengorbankan diri-Nya untuk sesuatu yang tidak berharga? Aku rasa tidak. Artinya, aku berharga. Dalam kegagalan pun, aku dipandang-Nya berharga. Dan itu, sudah cukup.

Kedua hal itu mengingatkanku, bahwa ketika aku belum berbuat apa-apa, hingga ketika aku berbuat kesalahan yang berujung maut, aku berharga. Dengan atau tanpa prestasi, aku berharga. Dengan atau tanpa pengakuan orang lain, aku berharga.

Perenunganku diakhiri dengan senyum kecil menandai kesadaranku bahwa aku berharga. Namun kemudian, aku berbisik kecil dalam doa kepada Tuhan, berkata

“Ya Tuhan, terimakasih sudah menolongku menyadari bahwa aku berharga, dengan atau tanpa prestasi, dengan atau tanpa pengakuan. Tapi Tuhan, sejujurnya, aku masih berharap suatu hari nanti, ada perkataan yang diucapkan olehnya “aku bangga sama kamu”. Boleh kah, Tuhan?

Tapi kiranya bukan kehendakku yang jadi, melainkan kehendak-Mu.”

Amin.

*bukan nama sebenarnya

Baca Juga:

Gak Adil! Memangnya Aku Penjaga Adikku?

Menjadi anak tengah, merasa diabaikan oleh orang tua, membuatku sempat sakit hati dengan keluargaku. Namun, dari pengalaman ini aku mendapat pemahaman tentang apa itu keadilan.