Melepaskan

Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku,
sekarang kuanggap rugi karena Kristus. —Filipi 3:7

Ada pepatah yang mengatakan bahwa, “Sampah seseorang adalah harta bagi orang lain.” Ketika David Dudley mencoba untuk membantu orangtuanya membersihkan rumah dari “barang-barang yang tidak diperlukan” sebelum pindah ke rumah yang lebih kecil, ia menemukan kesulitan. Ia sering marah karena orangtuanya menolak untuk membuang barang-barang yang tidak pernah lagi mereka pakai selama puluhan tahun. Akhirnya ayah David menjelaskan supaya ia memahami bahwa meskipun sudah usang dan tidak berguna, barang-barang tersebut mengingatkannya pada kawan-kawan dekat dan kejadian-kejadian penting. Membuang barang-barang itu terasa seperti membuang kenangan lama.

Persamaan secara rohani tentang keengganan kita untuk melepaskan barang-barang yang tidak berguna di dalam rumah kita adalah ketidakmampuan kita untuk membersihkan hati kita dari sikap-sikap yang membebani kita.

Selama bertahun-tahun Saulus dari Tarsus berpegang kepada “kebenaran” dengan menaati hukum Taurat secara mutlak, sampai ia bertemu dengan Yesus di dalam peristiwa yang membutakannya saat melakukan perjalanan ke Damsyik (Kis. 9:1-8). Ketika bertemu langsung dengan Juruselamat yang telah bangkit, Paulus melepaskan kehidupan yang sangat dibanggakannya. Kemudian ia menulis, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Flp. 3:7).

Ketika Roh Kudus mendorong kita untuk melepaskan segala sikap yang menghalangi kita untuk mengikut Kristus, kita menemukan kemerdekaan sejati untuk melepaskannya. —DCM

Melalui Kristus kita memiliki kemerdekaan
untuk melepaskan segala sesuatu yang perlu dilepaskan.

Tidak Ada Kasih Yang Lebih Besar

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang
yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. —Yohanes 15:13

Shrine of Remembrance yang ada di Melbourne, Australia, adalah museum peringatan untuk menghormati mereka yang mengorbankan nyawa bagi negaranya. Dibangun setelah Perang Dunia I, museum tersebut selanjutnya diperluas penggunaannya untuk mengingat mereka yang membela negara dalam konflik-konflik berikutnya.

Sungguh ini adalah suatu tempat yang indah dan mengingatkan kita akan nilai keberanian dan pengabdian, tetapi yang menjadi daya tarik utama dari museum ini adalah sebuah aula yang di dalamnya terletak sebuah batu berukirkan kata-kata, “Tidak Ada Kasih yang Lebih Besar.” Setiap tahun pada hari ke-11 dari bulan ke-11 pada pukul 11 pagi, sebuah cermin memantulkan cahaya matahari ke arah batu tersebut untuk menyorot kata Kasih. Ini merupakan bentuk penghormatan bagi mereka yang telah mengorbankan nyawa mereka. Kita menghormati kenangan terhadap mereka yang telah membayar harga yang mahal untuk kemerdekaan.

Namun, kata-kata di batu itu mengandung arti yang jauh lebih agung. Yesus berbicara pada murid-murid-Nya di malam sebelum Dia mati di kayu salib bagi dosa-dosa dunia (Yoh. 15:13). Kematian-Nya bukanlah untuk memberi kita kemerdekaan dari tirani politik, melainkan dari hukuman dosa. Kematian-Nya tidak hanya untuk memberi kita kehidupan yang lebih baik, tetapi demi memberi kita hidup yang kekal.

Memang penting untuk mengingat mereka yang telah memberikan nyawanya bagi negara mereka—tetapi kiranya kita tidak akan lupa untuk memuji dan mengagungkan Kristus yang mati bagi dunia yang sedang sekarat ini. Sungguh, tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih-Nya ini. —WEC

Salib Yesus adalah bukti nyata terbesar dari kasih Allah.

Merdeka!

Oleh Stephanie Tanata

Setiap mendengar kata Merdeka, yang terbayang pertama kali dalam benak saya adalah hari kemerdekaan Indonesia yang tiap tahun dirayakan. Cerita tentang perjuangan mencapai kemerdekaan, mulai dari penculikan di Rengasdengklok sampai pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno-Hatta, sudah tidak asing lagi bagi telinga kita. Perayaan hari kemerdekaan ini biasanya identik dengan upacara, banyak lomba, dan pawai. Tujuan dari semua itu adalah untuk menghormati jasa-jasa para pahlawan yang telah berjuang sampai titik darah penghabisan demi memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan. Kata merdeka biasa diucapkan dengan lantang dan penuh semangat yang berkobar-kobar. Ketika guru saya memekikkan kata merdeka dalam suatu upacara 17 Agustus, daya kata itu serasa menjalar sampai ke tulang-tulang dan membuat semangat saya ikut meluap-luap juga. Merdeka berarti saya, Anda, dan bangsa ini terlepas dari segala ikatan penjajahan dan dapat berjalan mandiri.

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, sepertinya makna kemerdekaan bangsa kita juga telah perlahan-lahan terkikis. Peringatan kemerdekaan hanya menjadi sekadar formalitas dan hanya terasa pada saat peringatannya saja. Bahkan ada yang mengikuti upacara peringatan ini karena diharuskan untuk datang, bukan karena ingin mengingat kembali makna peringatan kemerdekaan.

Arti lain dari kata merdeka adalah bebas, tidak terikat, dan independen. Senang sekali merasakan kemerdekaan yang kita miliki ini karena sifatnya kompleks: merdeka dari penjajah bangsa; merdeka untuk berpatisipasi, memilih, atau menciptakan sesuatu; merdeka untuk mencapai cita-cita sesuai yang diharapkan, dan merdeka dari dosa tentunya.

Merdeka dari dosa. Ya, saya sendiri sering mendengar kalimat ini tiap tahun saat Paskah tiba. Entah dalam khotbah, drama, ataupun cerita Paskah. Kisahnya klasik dan sudah didengar berulang kali, bahwa Yesus mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus dosa kita. Namun, terkadang karena terlalu sering kita dengar, sama seperti cerita tentang perjuangan bangsa ini, kita pun tak bisa lagi merasakan makna sesungguhnya dari pengorbanan Yesus.

Kemerdekaan kita sering disalahgunakan. Misalnya kita berkali-kali melakukan dosa yang sama, walaupun tahu itu salah. Kita melakukannya dengan berpikir bahwa selalu ada pengampunan, ketika kita tersadar dan mengakui kesalahan kita. Tanpa kita sadari, akhirnya kita pun terjerumus lagi dalam dosa yang sama. Padahal, kita sendiri tidak tahu sampai kapan pengampunan itu tersedia. Bagi seorang narapidana yang baru bebas dari penjara, hakim dan para polisi tentu mengharapkannya tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Ia diharapkan bertobat, memulai hidup yang lebih baik, dan tidak masuk penjara lagi. Begitu juga harapan Yesus kepada kita.

Menjadi merdeka itu memang penting, namun yang terpenting adalah merdeka di dalam Kristus. Kemerdekaan itu harus dimaknai sebagai proses mengelola diri kita dan usaha menjaga supaya makna kemerdekaan tetap sama seperti saat pertama kali kita mengalaminya. Darah Tuhan Yesus telah menjadi bukti dari kemerdekaan yang kita miliki sampai sekarang ini. Coba kita pikirkan apa saja yang telah kita lakukan sepadan dengan pengorbanan darah Yesus?

“Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka.
Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”
(Galatia 5:13)

Pahit Manis Hidup

Oleh David Wijaya, Jakarta

Manis, asam, asin, pahit. Itulah rasa yang kita kecap dengan bantuan lidah. Namun dari kata-kata yang mewakili beragam rasa itu, kata manis dan kata pahitlah yang kita gunakan sebagai metafora untuk menggambarkan kehidupan.

Manisnya hidup kita rasakan ketika kita sedang dalam keadaan senang. Misalnya, permintaan kita dikabulkan oleh Allah yang Maha Pemurah, kita menerima berkat melimpah, berbagai urusan hidup (seperti pekerjaan atau studi) berjalan lancar, dsb. Di saat-saat seperti inilah, kita merasa Tuhan begitu mengasihi kita. Segala sesuatunya beres. Tidak ada masalah. Kita senang. Kita menyambut ajakan pemazmur, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu!” (Mzm. 34:9). Kita mengecap kebaikan-Nya, dan kebaikan-Nya itu terasa manis.

Namun, seperti halnya tidak semua yang masuk ke mulut itu selalu manis, maka tidak selalu hal-hal indah sajalah yang kita alami dalam hidup. Hidup kita justru sering dirundung masalah. Di saat-saat seperti inilah, kita merasakan kepahitan dalam hidup kita. Kepahitan hidup bisa berupa hal-hal yang pribadi: putusnya hubungan dengan seseorang, rasa dukacita karena ditinggal oleh orang yang kita kasihi, mengalami sakit-penyakit, harapan yang tak kunjung tercapai, mengalami tuduhan palsu, dsb. Kepahitan hidup juga bisa bersifat komunal, seperti: bencana alam, perang, dan perselisihan antar golongan. Di saat-saat seperti ini, kita merasa hidup sungguh pahit. Kita bahkan meragukan kehadiran Allah. Tidak jarang kita merasa Allah membisu. Pemazmur pun merasakan hal demikian. Ia bahkan berseru dengan jujur, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku” (Mzm. 22:1).

Namun, setelah orang-orang bergumul dengan kepahitan hidup, seringkali mereka tiba pada kesadaran bahwa Allah tetap berada dekat dengan mereka meskipun Ia tampak lamban dalam menanggapi kita atau bahkan sama sekali diam. Allah mengerti kesusahan hati kita. Dia datang ke dunia kita untuk menanggung hukuman atas dosa kita.

Oleh karena itu, di tengah kepahitan hidup, kita tidak boleh lupa bahwa Kristus, yang adalah Allah, menderita di salib. Ia mengalami penolakan, kebencian, fitnah, pengkhianatan, ketidakadilan, kekerasan, bahkan kematian. Inilah paradoks dari salib. Kepahitan hidup yang Ia terima berujung pada manisnya kasih Allah pada manusia. Jadi, kita tidak perlu menanggapi kepahitan hidup dengan keluhan, dan juga tidak perlu sampai menyimpan rasa dendam atau bersikap seolah Allah tidak ada. Karena Kristus telah merasakan kepahitan hidup yang paling pahit, kita pun boleh yakin bahwa Ia mengerti kepahitan hidup yang kita alami. Lebih dari itu, kita pun tahu dari Roma 8:28 bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Oleh karena itu, kepahitan hidup dapat diubah-Nya menjadi sesuatu yang manis.

Undangan pemazmur dalam Mazmur 34:9, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan itu!” berlaku dalam keadaan apa pun yang kita alami. Bersyukurlah dan teruslah mengingat kasih-Nya yang manis itu. Dan berdoalah agar kita dimampukan untuk membagikannya kepada orang lain, terutama mereka yang mengalami pahitnya kehidupan. Kiranya doa yang ditulis oleh Sue Mayfield berikut menjadi doa kita pula:

Kristus, yang merasakan pahitnya salib dan yang menanggung sakit kami,
Sertailah mereka yang menderita dan yang merasakan hidup ini begitu pahit.
Tuhan, yang bangkit dari kematian dan penuh kemuliaan,
Penuhi kami dengan kasih-Mu yang manis.
Kiranya kami mengecap kebaikan-Mu dan membagikannya kepada sesama. Amin.


Love Is . . .

By Melisa Manampiring, Indonesia

Love is a word that we often hear. Everyone has experienced it. Love is a wonderful thing and everyone wants to love and be loved.

Love is a part of human life. People cannot live without love. Each of us needs relationships with other people, with friends, family, and that special boy or girl. We were all created that way.

But love is often misunderstood. Some people think that love is all about receiving, not giving. Others think that love is about feeling happiness all the time.

True love is different.

Love isn’t always effortless and natural. Love doesn’t mean that there are no tough times. Instead, it means holding on to a commitment to care for someone in spite of those hard times.

Love is about giving what we can of ourselves when we see the needs of others, even if the person refuses to be grateful or to respond to us.

Love often requires sacrifice.

Sacrificial love was shown two thousand years ago, when Jesus Christ died on the cross. “For God loved the world so much that He gave His one and only Son, so that everyone who believes in Him will not perish but have eternal life” (John 3:16).

Love from God is everlasting. It doesn’t depend on conditions for it to take root and grow.

True love redeems. It is given despite the other person’s faults and weaknesses, but works to help him or her out of them. “… God showed His great love for us by sending Christ to die for us while we were still sinners” (Romans 5:8).

Love is the most beautiful grace that God has given to us. It is not an emotion dependent on whether we like or dislike a person. Love is action—a deliberate and unconditional working towards what is best for another person.

May the Lord lead your hearts
into a full understanding and expression of the love of God
and the patient endurance
that comes from Christ.
2 Thessalonians 3:5

Aku Ga Tertarik dengan Piala Dunia

Oleh Rachel Ang, 21, Singapura

Aku ga pernah tertarik pada sepakbola.

Pastinya ini bukan soal aku terlahir sebagai perempuan. Banyak teman-teman cewekku memasang poster foto pemain favorit di kamar tidur mereka, dan mereka benar-benar mengikuti hasil pertandingan Piala Dunia tahun ini. Kalau aku? Aku mending menghabiskan malamku dengan tertidur lelap daripada berteriak-teriak kegirangan di depan pesawat televisi. Dan aku yakin, dari kalian yang membaca tulisan ini paling ga ada SATU orang yang setuju denganku.

Coba dengarkan dulu keluhanku, bahkan kalau kamu ga mengerti sikap apatisku ini. Bukannya mau menyinggung para gila bola di luar sana ya… Tapi aku mau tulis 3 alasan kenapa aku ga tertarik:

Satu. Aku ga mengerti jalan pertandingannya. Sulit menonton suatu pertandingan di televisi kalau ga mengerti apa sih yang dimainkan dan bagaimana peraturannya. Dan aku jelas-jelas ga suka main bola. Aku bisa saja menendang dengan baik dan kencang, tapi pasti tidak lama kemudian aku memilih untuk keluar dari permainan itu daripada mukaku kotor kena tanah lapangan bolanya.

Dua. Aku ga mengerti apa pengaruhnya sepakbola dengan hidupku. Yah, kalau dipikir-pikir, ada juga sih pengaruhnya. Mana mungkin mengabaikan orang-orang di sebelah rumah yang berteriak-teriak waktu aku baru memejamkan mata. Di luar dari ketidaknyamanan yang bikin aku berharap olahraga ini ga pernah ada, aku telah menjalani 21 tahun hidupku sejauh ini tanpa perlu bergantung pada sepakbola sebagai motivasi hidupku.

Tiga. Aku ga mengerti koq bisa-bisanya ada yang mau mati untuk sepakbola. HIDUP untuk sepakbola saja sudah kedengarannya ga sehat! Membayangkan semua perjudian, korupsi di luar lapangan dan suap-menyuap yang terjadi di dunia sepakbola saja bikin aku ga nyaman. Apalagi ketika terjadi pembunuhan atas pemain Kolombia, Andrés Escobar Saldarriaga, karena gol bunuh dirinya di Piala Dunia 1994, ini bikin aku makin yakin kalau sepakbola ini lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Namun, aku jadi sadar kalau alasan-alasanku ini bisa dihubungkan dengan iman Kristen juga. Kalau dilihat dari kacamata orang non-Kristen, alasan-alasan seperti ini juga jadi beberapa sebab mereka ga menerima iman Kristen.

Mereka ga mengerti. Mungkin ga ada orang yang benar-benar mengambil waktu untuk menjelaskan apa yang dimaksud iman Kristen tentang penciptaan, dosa, keselamatan dan kebangkitan. Orang Kristen suka terbiasa memakai istilah dan konsep yang ‘berat’ seperti “pewahyuan”, “pengudusan” dan Allah Tritunggal. Masalahnya kita sering kesulitan menjelaskannya dalam istilah yang bisa dimengerti bahkan oleh anak kecil sekalipun.

Mereka ga mengerti apa pengaruhnya bagi hidup mereka. Mereka bilang, “Kalau gitu, apa efeknya untukku kalau ada seseorang yang mati disalib 2000 tahun yang lalu? Kenapa aku harus berhenti melakukan apa yang kumau hanya karena sebuah kitab kuno bilang itu salah? Kenapa aku harus mengubah gaya hidupku demi sebuah rumor?

Mereka ga mengerti kenapa ada yang rela mati untuk iman itu. Banyak sekali umat Tuhan di gereja mula-mula yang mati martir waktu mereka mengabarkan Injil. Kecuali Yohanes, semua rasul lainnya mati martir karena kesaksian iman mereka. Bagi orang yang ga percaya, dia pastinya ga bisa mengerti mengapa Paulus bersukacita karena rantai yang membelenggunya demi Kristus, atau mengapa Paulus bisa berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Filipi 1:21).

Jadi apa yang harus kita lakukan? Walaupun kita harus ingat bahwa hanya oleh Roh Kudus ada orang bisa diselamatkan, kita juga harus ingat perintah Petrus, “Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3:15b-16a). Piala Dunia cuma berlangsung sekali tiap empat tahun, tetapi orang Kristen ga ada alasan untuk menunda membagikan Injil kalau memang ada kesempatan! Kita harus siap untuk bersaksi karena kasih kita kepada Tuhan, baik sedang musim bola atau tidak.

Kesaksian kita tentang Kristus ga cuma nampak dari perkataan kita, tetapi juga dari cara kita menjalani hidup. Petrus melanjutkan, “dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” (1 Petrus 3:16b). Bahkan saat kamu menyiapkan diri untuk memberi penjelasan tentang imanmu kepada temanmu yang belum percaya, biarlah lebih lagi melalui bukti hidupmu bagaimana dan mengapa Kristus layak menjadi alasan hidup dan matimu.

Pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. (1 Korintus 1:18)

Integritas Sekokoh Tembok

Oleh Natanael Benino

Integritas dalam Kamus Bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai konsistensi dalam bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma, walaupun dalam keadaan yang sulit sekalipun. Atau gampangnya “perbuatan yang sesuai dengan perkataan”.

Jaman sekarang yang namanya integritas ini sudah menjadi barang yang langka yang dimiliki oleh setiap orang. Tapi menurut saya, karena langkanya hal ini, sehingga integritas harus dimiliki oleh semua orang Kristen.

Integritas adalah barang yang langka, karena integritas cukup susah untuk didapat dan dilakukan. Kita lihat saja sekarang, engga usah jauh-jauh, di sekitar sekolah/universitas/tempat kerja, banyak sekali orang2 yang inkonsisten. Apalagi banyak dari mereka yang adalah orang percaya. Misalnya, ada orang yang setiap minggu datang kebaktian, lalu ikut pelayanan, sering banget negur orang yang berbuat salah, sampe pakai ayat Alkitab segala, dsb., padahal kelakuannya buruk sekali, dia sering memaki keluarganya, terus juga sering curang sama orang lain, dsb. (ingat ini cuman contoh khayalan yang menggambarkan bagaimana tidak adanya integritas dalam hidup orang percaya, bukan kejadian nyata, dan semoga engga ada yang seperti itu).

Contoh lain, kita kan sering banget tuh ngomongin teman kita, misalnya “Eh, si anu tu bodoh banget, masak disuruh ngerjain yang gampang begini aja lama dan hasilnya parah lagi” padahal kita sendiri kalau disuruh ngerjain hal itu juga belum tentu bisa cepat dan hasilnya memuaskan.

Integritas merupakan Tembok yang Kokoh bagi kita. Sama seperti Tembok Besar Cina yang melindungi Cina dari serangan musuh, integritas juga merupakan pelindung kita dari serangan musuh. Musuh-musuh ini bisa termasuk orang2 yang belum percaya pada Kristus.

Apa jadinya coba jika orang-orang yang belum percaya melihat orang yang “ngakunya” percaya Kristus, tapi tidak memiliki integritas? Hmm….. sama seperti Cina di jaman dahulu yang tidak memiliki Tembok Besar Cina. Mudah diserang dan tidak seusai dengan image Cina yang sudah terkenal sebagai bangsa besar.

Kita sendirilah yang menghidupi Injil itu melalui perbuatan diri kita sehari-hari, bagaimana kita berbicara, dan bagaimana tindakan kita. Lalu orang lain membacanya, apakah kita benar-benar menunjukkan citra Allah melalui hidup kita.

Ini bukanlah hal yang mudah tentunya, karena saya yakin mempunyai integritas itu benar-benar butuh perjuangan yang berat. Kita bisa saja di satu saat mempunyai integritas, tapi di saat yang lain, kita menjadi inkonsisten dan memakan omongan sendiri. Kita juga pasti akan mengalami apa yang namanya cobaan dan rintangan.

Tapi kita tak perlu khawatir, Allah sendiri yang akan menolong dan memampukan kita.

Persembahkan hidup kita kepada Tuhan. Dengan apa? Integritas. Sebuah ketaatan. Sebuah konsistensi terhadap Tuhan. Dan biarlah seperti Tembok Besar Cina, yang menjadi satu dari keajaiban dunia, integritas juga menjadi satu dari keajaiban Allah dalam hidup kita. Dan seperti bangsa Cina yang menjadi termasyhur dan memiliki ikon yaitu Tembok Besar Cina, biarlah kita menjadi terang dan berkat bagi orang lain, dengan itu Injil akan tersebar dan Allah yang akan dipermuliakan oleh semua orang.

Photo oleh Steve Weber

Resensi Buku: GARAM & TERANG for Youth

oleh Putri Sastra

“Kaya” sejak Muda

Judul : GARAM & TERANG for Youth: Road to Transformation
Penulis : Chang Khui Fa
Penerbit : Pionir Jaya
Cetakan : 1, Mei 2010
Tebal : 288 halaman

Teman-teman, sebagai remaja/pemuda kita pasti memiliki banyak impian. Mungkin kita ingin mempunyai banyak uang, pacar yang ganteng/cantik, atau pun menjadi orang terkenal. Berangan-angan boleh saja, tapi apakah itu yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita? Apakah hidup kita menyenangkan hati Allah?

Buku GARAM & TERANG for Youth: Road to Transformation mengupas habis masalah-masalah yang umumnya remaja/pemuda hadapi. Selain itu, buku ini juga mengajak kita untuk merenungkan, mengintrospeksi, dan mengubah aspek-aspek dalam hidup kita agar semuanya berkenan di hadapan Tuhan.

Melalui gaya bahasa yang santai dan penuh humor, penulis seolah mengajak kita melakukan sebuah perjalanan yang dikemas dalam 11 bab/road dengan kilometer-kilometer yang singkat pada setiap road-nya. Perjalanan dimulai dari pengenalan kita akan Allah, pemahaman kehendak Allah, seputar dunia cinta, petualangan dalam dunia kerja, lalu penggunaan uang, pengaturan waktu, respon atas panggilan Tuhan, hubungan keluarga dan teman, penyelesaian masalah, cara menghadapi depresi, hingga menjadi pemimpin yang menyenangkan hati Tuhan.

Saya menikmati setiap perjalanan dalam buku ini, tapi yang paling berkesan bagi saya adalah topik mengenai kehendak Allah. Sering kali saya merasa bimbang saat harus mengambil sebuah keputusan dan bertanya-tanya: apakah keputusan ini yang terbaik dan sesuai kehendak Allah? Contohnya pada saat akan lulus SMA, saya merasa bingung tentang jurusan apa yang harus saya pilih untuk kuliah nanti dan di perguruan tinggi mana saya harus mendaftar.  Mungkin teman-teman juga mengalami pengalaman yang sama dengan saya. Bagaimana memutuskan hal ini?

Pada halaman 54 buku ini, ada 1 paragraf pertanyaan menarik yang diajukan penulis, “Kenapa kehendak Tuhan sepeti lilin dan tidak seperti senter yang menerangi jauh ke depan? Sederhana, karena Tuhan ingin kita bersandar pada-Nya every minute, every hour, every single day. Bukan hanya sekali-sekali.” Benar sekali! Dan saya merasakan itulah kunci untuk memahami kehendak Allah… kita harus bergantung pada-Nya setiap saat. Pada saat saya memilih jurusan pun saya tidak lupa berdoa pada Tuhan dan sedikit demi sedikit Tuhan mengarahkan saya melalui orangtua dan juga kakak pembimbing di gereja sehingga saya pun dapat memilih jurusan dan universitas yang sesuai.

So teman-teman, jangan lewatkan buku ini karena buku ini memberikan pembekalan/perenungan yang baik bagi kita sebagai kaum muda agar kita bisa menjadi anak-anak Tuhan yang “kaya” sejak muda.

Review Film: SHREK Forever After

Oleh Laura Valentina

Film yang cukup dinanti-nantikan para movie mania mungkin adalah film SHREK Forever After. Bagaimana tidak, konon kabarnya, ini sekuel terakhir dari film yang bisa membuat penonton tertawa sepanjang film. Apalagi bila kawan semua sudah mengikuti ketiga sekuel sebelumnya, sepertinya ini adalah film yang must-watch!

Sejujurnya saya bukan tipe penyuka Ogre. Makhluk hijau ini punya konotasi kurang baik pada kisah-kisah fairy tales yang saya pernah baca atau tonton. Ogre didefinisikan sebagai berparas manusia yang besar, kejam dan buruk rupa.

Film ini diawali oleh Shrek (Ogre) yang terjebak dalam kehidupannya yang membosankan. Ketika semua orang melihat Shrek memiliki semua yang orang impikan, Shrek merasa tidak puas dengan hidupnya. Ia merasa kehebatannya sebagai Ogre redup karena sekarang ia hidup mengurusi ketiga anaknya dan melakukan rutinitas hidup berumah tangga. Ia mendambakan menjadi Ogre tanpa ada ikatan (dengan istri dan anak) dan bebas dari tanggung jawab yang harus ia pikul sekarang. Ia mendambakan sehari menjadi Ogre yang seperti dulu, yang hebat, ditakuti orang dan bebas. Dalam ketidak puasannya terhadap hidupnya, tanpa berpikir panjang, ia menandatangani perjanjian dengan Rumpelstiltskin, seorang yang sifatnya jahat dan licik, yang selalu berusaha menjebak orang dalam perjanjian-perjanjian mistis.

[Ketika tiba di bagian ini, saya sempat teringat pada kisah Esau yang menjual hak kesulungannya demi semangkuk kacang merah. Tanpa berpikir panjang, hal-hal yang merupakan penting dan berharga dalam hidup rela ia tinggalkan demi hal-hal yang merupakan kesenangan semu.]

Benar saja, pada awalnya Shrek sangat menikmati hasil dari perjanjian dengan Rumpelstiltskin, seperti impian jadi kenyataan, tapi kemudian, ia menyadari bahwa ada yang hilang dalam hidupnya, ada yang berubah. Rumpelstiltskin membuat kehidupan Shrek berubah, karena perjanjian itu, Shrek tidak pernah mengenal Putri Fiona, mereka tidak pernah bertemu, jatuh cinta, menikah, dan memiliki ketiga anak yang lucu. Ketika menyadari ini, Shrek pun menyesal dan menginginkan kehidupan lamanya. Ah…cerita klasik. Berapa sering kita tidak pernah menyadari bahwa kita begitu diberkati, sampai kita kehilangan berkat itu. We never know how precious they are, until they are all gone.

Beruntung kisah Shrek, tidak selesai sampai disini. Kisahnya masih berlanjut, ia berjuang untuk mendapatkan kembali kebahagiaannya, bersama dengan para sahabat, ia berjuang untuk hal-hal yang paling berharga dalam hidupnya ini. Ah, sahabat, betapa berharganya mereka. Bahkan ketika hidup terasa menggilas, uluran tangan sahabat merupakan sebuah penyegaran yang luar biasa. Film ini berakhir bahagia, Shrek kembali hidup berbahagia dengan Putri Fiona dan ketiga anak-anaknya. Perjanjian dibatalkan dan semua kembali seperti sedia kala. Sesuatu hal yang hanya terjadi di film.

Kawan, di dalam hidup seringkali kita merasa seperti Shrek. Tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki. Iri terhadap kehidupan orang lain. Tapi belajar dari film ini, mari kita mencoba mensyukuri yang Tuhan berikan kepada kita. Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, kita perlu untuk terus percaya bahwa apa yang kita miliki sekarang adalah yang terbaik yang Tuhan berikan. Juga, syukuri dan peliharalah para sahabat, karena merekalah yang sering kali tanpa kita sadari selalu ada ketika orang lain tidak ada. Perwujudan kasih Allah yg nyata terpancar dari kasih para sahabat yang Dia berikan untuk kita miliki.

Dan terakhir, pastikan semua tindakan dilandasi dalam doa dan penuh keyakinan pada pemeliharaan Tuhan. Hidup kita bukanlah film, yang didalamnya waktu bisa diputar kembali, perjanjian dan perbuatan bisa dibatalkan. Tidak, hidup kita bukanlah film. Setiap tindakan memiliki konsekuensi. Kita harus terus belajar berhikmat dan bijak dalam mengambil keputusan. Terdengar sulit? Enggak kog, Amsal 3:5-6 berkata, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Selamat mensyukuri hidup! Right now, Forever and After

Tuhan memberkati.

Image copyright of Dreamworks Pictures