Kisah Cinta Eli

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Lapangan El-Marga di kota Damaskus, Siria, begitu ramai dipadati penduduk kota. Langit masih gelap, matahari belum bersinar.

Masih dini hari di kota yang dulu bernama Damsyik itu. Ratusan polisi dan pengawal militer berjaga-jaga di balik pagar berduri.

Di mana-mana terdapat tentara berjaga-jaga. Di atas atap-atap rumah, di pintu masuk hotel, bahkan di selokan bawah tanah. Para prajurit khusus dan penembak jitu terbaik negeri itu berjaga-jaga dengan kesiapan tempur gerak cepat.

Satu hari sebelumnya radio Damaskus mengumumkan hukuman mati bagi seorang penjahat negara.

Seluruh negeri bersorak-sorai, mungkin karena merasa sudah diperdaya dan dipermalukan oleh seorang yang sebentar lagi akan menemui ajalnya di tiang gantungan, di lapangan yang terkenal dengan sebutan lapangan para martir -El Marga-.

Pria itu bernama Eli Cohen.

Ia sudah mempermalukan presiden, jenderal-jenderal, dan para petinggi negara itu dengan kecerdikan yang jarang dimiliki oleh manusia pada umumnya.

Ia salah seorang mata-mata terbaik yang pernah lahir di muka bumi.

Kini, pria yang menjadi perhatian internasional karena kehebatannya di bidang intelijen itu menghadapi tiang gantungan.

Hidupnya tinggal beberapa langkah kaki lagi. Sang algojo menawarkan tutup kepala kepadanya, dengan gelengan kepala ia menolak.

Para wartawan mendengarnya berdoa dalam bahasa Ibrani. Doanya yang terakhir pada Tuhannya, Allah Israel yang ia banggakan, Tuhan yang disembah leluhurnya: Abraham, Ishak, dan Yakub.

Pintu lantai terbuka, Eli Cohen tewas.

Hari itu pukul 03.35 pagi. Seluruh dunia melihatnya. Rakyat negara Israel berkabung. Istri Eli Cohen menonton kematian tragis suami yang dicintainya melalui televisi. Wanita ini terpukul berat, dan mendapatkan perawatan khusus karenanya.

Semua usaha diplomatik dan lobi-lobi internasional yang dilakukan negeri Zion sebelumnya untuk membebaskan intelijen terbaiknya itu tak berhasil.

Sang agen terbaik Israel itu meregang nyawa lebih cepat dari yang mereka kira.

Empat tahun sebelumnya Eli ditugaskan pada misi paling berbahaya. Menyelinap masuk ke jantung informasi rahasia pemerintah dan departemen pertahanan Siria.

Berperan sebagai pengusaha sukses Siria, ia telah berhasil menguasai seluruh rahasia negara itu lebih dari yang presiden negara itu kuasai.

Ia bahkan akan diangkat menjadi Menteri Pertahanan oleh Sang Presiden karena kecerdasan dan karismanya. Misinya berhasil.

Eli memang seorang brilian.

Direkrut dan dilatih dengan baik oleh dinas intelijen Israel, Mossad, pada tahun 1957, untuk sebuah misi yang tak bisa dilakukan oleh agen rahasia biasa. Misi ini memang untuk Eli Cohen.

Dan ia berhasil.

Sungguh menarik jika melihat kehidupan Eli. Sebagai agen intelijen ia memang hebat, tetapi ternyata ia juga seorang pria yang romantis.

Dididik ketat dengan aturan Taurat oleh keluarga Cohen, ia punya satu sisi karakter yang sangat baik.

Ia seorang pria yang setia pada istri dan keluarganya.

Pada awal-awal masa dinasnya di Mossad, Eli bertemu dengan wanita cantik bernama Nadia yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit Hadassah, Tel Aviv.

Eli jatuh cinta padanya. Ia ingin bertemu lagi dengan si perawat cantik itu. Sebagai patriot Israel, Eli dengan wibawa khasnya tak menunda untuk menyatakan isi hatinya pada Nadia, gadis yang menaklukkan hatinya sejak pandangan pertama itu.

Gayung bersambut. Tak sampai seminggu kemudian, di pantai Herzliya, dua sejoli yang dimabuk kasmaran ini memutuskan untuk menikah.

Dari awal Eli sudah mengetahui bahwa wanita ini akan menjadi pendamping hidupnya.

Ia jatuh cinta pada pandangan pertama, dan berani mengambil keputusan untuk menikahi Nadia, gadis yang baru dikenalnya selama tujuh hari.

Pilihannya tak salah.

Dua sejoli ini menikah. Sebagai ekspresi komitmen dalam romantika cinta, mereka berjanji hidup saling setia sampai maut memisahkan.

Mereka memang saling jatuh cinta sejak awal pertemuan mereka di Tel Aviv, di sebuah restoran khusus tentara Israel yang tangguh itu.

Mereka membangun rumah tangga baru dan menikmati hidup yang tenang. Meskipun Eli sering mendapat tugas-tugas penting yang membuatnya harus meninggalkan istrinya dalam jangka waktu yang cukup lama, tapi pria Yahudi kelahiran Mesir ini sungguh mencintai istrinya, Nadia.

Kecintaannya pada Nadia dibuktikan dengan kesetiaanya yang tinggi pada wanita yang dinikahinya pada tahun 1959 itu.

Laporan intelijen mencatat bahwa, ketika sering kali Eli diharuskan berada dalam posisi “menemani” para jenderal dan pejabat tinggi negara Siria yang melakukan pesta pora dan perselingkuhan dengan wanita-wanita simpanan mereka, agen Mossad ini memilih untuk tidak menyentuh satupun dari para wanita cantik nan seksi yang menggoda itu.

Di hatinya hanya ada satu wanita, Nadia, yang sangat dicintainya.

Sejak 1960 operasi rahasia Eli di Siria mulai dijalankan. Perintah ini resmi dan langsung mendapat perhatian dari Isser Harel, sang direktur Mossad yang legendaris itu.

Dalam operasi rahasinya ini, begitu banyak rahasia pertahanan negara Siria yang telah ia bocorkan ke Markas Besar Mossad di Israel -kelak informasi ini yang membuat Israel menang telak atas Siria pada Perang Enam Hari pada tahun 1967-. Eli sangat profesional.

Ia adalah seorang mata-mata yang sukses. Sampai suatu hari sebuah tim elit kontra-intelijen Uni Soviet yang disewa pemerintah Siria berhasil membongkar operasinya.

Kini, Eli Cohen, agen rahasia yang menguasai bahasa Ibrani, Arab, Inggris dan Spanyol ini harus rela mengakhiri hidupnya di tengah lapangan kota Damaskus, di tangan musuh negara yang dibelanya, Israel.

Sebelum ia menemui ajalnya di tiang gantungan, di seberang lapangan El Marga, di sebuah pos polisi yang remang-remang ia diantar masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya terdapat meja kayu kosong.

Dengan pengamanan yang super ketat, dan didampingi seorang Rabbi Yahudi, ia diperbolehkan menulis sepucuk surat perpisahan kepada istrinya, Nadia.

*Kepada Nadia, istriku, dan keluargaku yang tercinta. Aku minta agar kalian tetap bersatu. Aku mohon kepadamu Nadia untuk memaafkanku. Aku minta supaya kamu menjaga dirimu sendiri dan anak-anak kita, serta berusaha supaya anak-anak dididik dengan baik. Perhatikanlah dirimu sendiri dan usahakanlah agar anak-anak kita tak kekurangan sesuatu apapun. Peliharalah hubungan baik dengan keluargaku. Aku mau supaya kamu menikah lagi agar anak-anak kita tak bertumbuh tanpa seorang ayah, aku berikan kamu kebebasan penuh untuk berbuat demikian. Aku mohon supaya kamu jangan membuang-buang waktu dengan menangisi aku. Selalu berpikir ke depan! Kukirimkan ciumku yang terakhir kepadamu, Sophie, Iris, Saul, serta anggota-anggota keluarga yang lainnya. Untuk kalian semua, keberikan ciumku yang terakhir dan shalom.*

*Eli Cohen, 18 Mei 1965*

Sementara di luar orang-orang Siria sudah menanti kematian agen terbaik Israel ini, Rabi Andabo mengucapkan doa Shema Israel untuk Eli, *”Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu…,”* suara Rabi itu terhenti dan lama-lama menghilang, orang-orang Siria itu dengan tidak sabar mendorong Eli keluar.

Ia berjalan ke tiang gantungan.

Tak ada ketakutan di matanya.

Ia tau akan segera bertemu Elohim Adonai, Tuhan yang menjadikan leluhurnya sebagai bangsa pilihan.

Menit-menit terakhir terasa begitu cepat.

Pintu Firdaus seakan terbuka di atas lapangan yang sering digunakan sebagai tempat eksekusi itu, dan babak akhir hidup sang intelijen jenius ini ada di situ.

Tak lama kemudian dunia melihatnya mati di tiang gantungan, bersama rasa cintanya pada negaranya Israel, bersama kesetiaanya pada Nadia dan keluarganya.

Tragis? Mungkin saja.

Eli memang mati karena risiko tugas. Tapi yang juga menjadi perhatian kita adalah bahwa ia adalah seorang yang mencintai istrinya dengan kesetiaanya yang tinggi.

Ia mencintai istrinya sama seperti ia mencintai Israel, tanah yang dijanjikan Tuhan bagi leluhurnya. Eli menunjukkan kasih setia pada pasangannya sampai akhir hayatnya.

Memang sejak zaman dahulu, hingga zaman Eli Cohen, hingga zaman kita saat ini, dan bahkan hingga sampai zaman anak cucu kita, kesetiaan selalu melekat pada ungkapan cinta.

Karena cinta sejati adalah kesetiaan, hingga maut memisahkan.

Sebagai agen intelijen, Eli bertekad membela negaranya dari ancaman yang datang dari dalam dan luar negeri.

Sebagai seorang suami, ia mempertahankan cintanya pada sang istri yang telah memberinya 3 orang anak itu.

Nadia menerima surat terakhir suaminya itu, dan melakukan semua permintaan terakhir suaminya, kecuali menikah lagi.

Eli mencintai negaranya, dan ia rela mati demi tugas. Eli mencintai istrinya, dan ia menjaga kesetiaanya sampai tali gantungan memutus nafasnya di lapangan El Marga, di kota Damaskus yang berdebu.

Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah mendapatkannya?” (Amsal 20:6)

Baca Juga:

3 Tips untuk Tetap Menyembah Tuhan di Masa Sulit

Memuji dan menyembah Tuhan terasa mudah ketika segalanya baik-baik saja. Namun, ketika kesulitan melanda, kita merasa Tuhan seolah jauh, atau sepertinya Dia tidak peduli. Sulit pula bagi kita untuk mengasihi, menghormati, dan mengakui Tuhan atas pribadi-Nya, apa yang Dia telah lakukan, dan yang sanggup Dia lakukan.

Sharing: Bagaimana Caramu Menunjukkan Kebanggaanmu akan Bangsa Indonesia?


Sobat muda, bagaimana caramu menunjukkan kebangganmu akan bangsa Indonesia?

Bagikan kisah dan pengalaman sobat muda di kolom komentar. Kiranya jawaban kamu dapat menjadi berkat bagi sobat muda yang lainnya.

Arti Doa menurut Iman Kristen

Subtitle oleh Felicia Shelly

Apakah doa orang Kristen hanyalah sekadar ritual? Apakah doa yang dimaknai oleh iman Kristen hanya sekadar aktivitas tanda rohani?

Apa arti doa menurut iman Kristen?

Yuk temukan pembahasan mengenai “Arti Doa menurut Iman Kristen” oleh Ev. Samuel Soegiarto (@s4m4jc) co-founder @apologetikaindonesia

Moderator oleh Grasella Mingkid (@grasellamingkid)
Video ini merupakan cuplikan Instagram Live @warungsatekamu pada hari Kamis, 25 April 2019.

Lihat video series lainnya:
Puasa Orang Kristen
Tips untuk Berhasil Menjalani Puasa

Menghadapi Penderitaan Tidak dengan Sikap Cengeng

Oleh Salsa, Jakarta

Masa kecil adalah masa-masa di mana kita mulai belajar dan mengenal berbagai perasaan, salah satunya adalah perasaan takut ketika mainan kita diambil. Namun, ketika kepunyaan kita diambil, biasanya orang tua kita akan memihak pada kita dan memberikan mainan itu kembali.

Ketika kita beranjak dewasa, kita mulai menyadari bahwa dunia tidak selalu berpihak kepada kita. Banyak ketidakadilan yang sering terjadi di sekitar kita dan kita merasa berhak untuk menuntut keadilan jika ketidakdilan itu menimpa kita. Salah satu contoh sederhana yang mungkin sering kita alami adalah kesedihan dan kekecewaaan kita ketika Tuhan tidak mengabulkan doa kita. Atau, ketika banyak masalah yang datang menimpa kita padahal kita merasa sudah melakukan banyak hal untuk melayani Tuhan. Tanpa sadar, kita lupa bahwa kesedihan dan kekecewaan kita tersebut mencerminkan sebuah cara untuk mengatur Tuhan agar Dia memenuhi keinginan-keinginan kita sesuai dengan apa yang kita kehendaki.

Mungkin penjelasan-penjelasan di atas terdengar membosankan karena terlalu sering kita mendengarnya dari pendeta-pendeta di gereja. Mungkin juga, ketika kita mendengarnya lagi, kita merasa hal itu tidak mungkin kita alami karena kita juga sudah terlalu sering mendengar “mengikut Kristus bukanlah perkara mudah”. Mengapa aku berkata demikian? Karena aku mengalaminya.

Selama ini aku memahami bahwa mengikut Kristus merupakan perkara yang tidak mudah dan penuh tantangan. Aku pun selalu mendapatkan penguatan-penguatan dari orang-orang di sekitarku mengenai hal tersebut. Namun, ada kalanya aku tetap merasa sedih dan mempertanyakan kesedihanku kepada Tuhan.

Belakangan aku merasa lelah dengan imanku. Sudah empat tahun aku mengikut Kristus secara diam-diam (Sebelumnya sudah pernah kutuliskan di sini). Sejak kelas 3 SMA, aku menyembunyikan imanku kepada Kristus dari keluarga dan sebagian besar teman-temanku. Awalnya aku sangat menggebu-gebu dan penuh sukacita menjalaninya, namun belakangan aku merasa lelah. Semuanya terasa seperti sandiwara. Aku sedih kehilangan relasi dengan sahabat-sahabatku karena imanku. Aku pun lelah karena ada orang-orang yang justru berburuk sangka tentang imanku. Mereka mengira aku tidak sungguh-sungguh mengikut Kristus. Mereka kira aku sekadar ikut-ikuan dan terpengaruh orang lain. Bahkan, ada juga yang mengira aku mengikut Kristus demi menjalin hubungan dengan seorang laki-laki.

Kelelahanku membuatku bertanya-tanya kepada Tuhan, “Tuhan mengapa aku tidak dilahirkan di keluarga Kristen? Mengapa aku harus melalui semua ini? Mengapa orang-orang itu tidak memandangku dengan baik meski aku telah mengikut Engkau? Mengapa mereka bukannya menguatkan tapi malah menjatuhkan? Mengapa ibuku semakin fanatik dengan imannya dan membuatku sulit untuk mengabarkan Injil kepadanya? Mengapa ayah kandungku meninggal saat aku SD dan aku mendapatkan ayah baru yang fanatik? Mengapa aku harus berpura-pura? Sungguh, aku lelah Tuhan hidup dalam dua ‘dunia’ seperti ini. Sampai kapan Tuhan? Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?” dan sederet pertanyaan lainnya.

Pilihan sikap untuk menghadapi penderitaan

Aku menangis selama beberapa waktu sampai suatu hari aku diingatkan saat ibadah Minggu melalui firman yang ditulis oleh Petrus dalam 1 Petrus 2:11-3:12. Dalam bacaan tersebut, Petrus mengingatkan kembali bahwa identitas baru kita dalam Tuhan tidak mengubah relasi sosial kita dalam kehidupan bermasyarakat. Petrus secara khusus mengingatkan para hamba-hamba (budak) pada ayat 18 untuk tetap tunduk kepada tuan mereka, bukan hanya kepada tuan yang baik namun juga kepada tuan yang bengis. Tidak hanya itu, setelah para budak, Petrus juga menguatkan para istri untuk tunduk kepada suami mereka, bukan hanya kepada suami yang taat, namun juga kepada yang tidak taat.

Jika kita lihat dalam ayat-ayat tersebut, Petrus menghubungkan budak dengan istri melalui teladan Kristus. Mengapa demikian? Pada saat itu, para budak dan istri adalah dua kelompok masyarakat yang penderitaannya paling mirip dengan penderitaan yang Kristus alami (Innocent suffering). Petrus mengingatkan para budak dan para istri agar tetap menghormati tuan dan suami mereka dan tetap berbuat baik kepada mereka agar terang Kristus boleh terpancar melalui setiap perbuatan baik mereka.

Tentunya ini bukan hal yang mudah. Bagi para budak, mereka adalah kaum yang tidak dianggap dan sering mengalami penderitaan. Tetapi, justru secara khusus Petrus menuliskan surat yang menguatkan mereka dan mengingatkan mereka bahwa identitas mereka adalah manusia yang Tuhan kasihi; identitas mereka tidak bergantung kepada tuan mereka dan Tuhan telah rela mengalami penderitaan yang serupa karena kasih-Nya kepada manusia. Begitupun para istri yang menerima identitas baru dalam Kristus. Mereka mungkin tidak bisa mengabarkan Injil melalui perkataaan mereka kepada suami atau keluarga mereka. Mereka dikenal sebagai kaum yang sulit dipercaya dan harus selalu patuh kepada suami mereka. Dengan iman mereka yang baru (iman kepada Kristus), masyarakat akan menganggap mereka telah mencoreng nama baik keluarga, merusak relasi mereka dengan suami dan anak-anak mereka. Bahkan, mereka bisa saja diceraikan, dibuang, dan dibiarkan begitu saja. Oleh karena itu, Petrus menekankan agar mereka, para istri, tetap tunduk menghormati suaminya sebagai bentuk penyembahan mereka kepada Kristus.

Tidak hanya para istri, Petrus juga melanjutkan suratnya kepada para suami yang telah beriman kepada Kristus. Dalam suratnya, Petrus mengingatkan agar para suami yang pada zaman itu sangat berhak memaksa dan mengatur kehidupan keluarganya, tetap berlaku bijaksana dan menghormati istri mereka, walaupun mungkin istri dan anak-anak mereka bukan orang percaya. Petrus mengingatkan bahwa Kristus tidak mengajarkan pemaksaan, meskipun Kristus tentu memiliki kuasa untuk memaksa atau melawan musuh-musuh-Nya dalam penderitaan-Nya.

Mendengar setiap firman yang disampaikan itu, pikiranku benar-benar melayang, membayangkan keadaan pada masa itu dan membayangkan setiap peran yang Petrus sebutkan. Aku membayangkan pasti sangat sulit bagi para budak yang sudah melakukan setiap pekerjaan mereka dengan baik namun tetap harus menerima dengan kasih setiap bentakan, cacian, dan siksaan dari majikan yang kejam. Kemudian, aku mengaitkan kondisiku saat ini dengan kondisi para istri yang mungkin mirip sepertiku. Ya, aku seperti mereka. Aku belum bisa mengabarkan kabar baik secara langsung (lisan) kepada keluargaku. Tapi, aku tetap harus berbuat baik serta menghormati mereka dengan kasih Kristus. Aku juga membayangkan seandainya aku menjadi suami pada zaman itu, mungkin aku akan sangat tergoda untuk memaksa istri dan keluargaku untuk mengikuti iman yang sama seperti yang kuikuti. Akan sangat mudah bagiku untuk menjalani hidup tanpa harus merasakan rasa malu dari masyarakat sekitar maupun teman-teman karena imanku yang berbeda dari keluargaku.

Aku kembali merefleksikan semua itu kepada teladan yang Kristus ajarkan. Aku kembali menangis. Ya, kali ini aku menangis karena aku merasa terlalu cengeng jika dibandingkan dengan mereka semua yang Petrus sebutkan, terlebih lagi jika dibandingkan dengan Kristus. Aku kembali mengingat betapa Kristus sungguh mengasihiku sehingga Dia rela menderita, rela ikut “jatuh” ke dalam lumpur dosa, rela diam ketika dicaci dan dihina, bahkan rela terpisah dengan Bapa untuk menolong kita. Begitupun dengan Bapa yang rela memalingkan pandangan-Nya dari Anak yang sangat dikasihi-Nya, agar pandangan-Nya yang penuh kasih bisa sepenuhnya tercurah kepada kita.

Mungkin penderitaaan yang kita alami saat ini terasa sangat sulit untuk dilalui, namun marilah terus memandang kepada teladan yang Kristus telah berikan kepada kita. Jika Kristus sudah begitu mengasihi kita, maukah kita menerima kasih-Nya dan melalui setiap penderitaan kita dengan tetap berpengharapan dan bersukacita? Jika kita telah merasakan kasih-Nya yang begitu besar bagi kita, maukah kita juga mengabarkan kasih anugerah keselamatan itu kepada mereka yang belum mendengarnya melalui tiap perkataan dan tindakan kita?

Meski terkadang aku masih merasa lelah, namun kini aku selalu berusaha mengingat bahwa setiap kelelahan yang kualami tidak seberapa dengan kelelahan yang Tuhan telah alami. Selain itu, aku juga berusaha untuk melihat orang-orang lain yang mengalami penderitaan lebih berat daripada yang kualami. Semisal, ada beberapa pengungsi dari negara-negara terkoyak perang yang juga pengikut Kristus dan harus menyembunyikan imannya, sama sepertiku. Tak hanya itu, mereka pun harus bergumul dengan hal-hal lain yang lebih berat sepertit empat tinggal, makanan, bahkan kewarganegaraan. Aku tidak sedang menjalani perjalanan ini sendirian, ada Yesus yang menyertaiku juga kita sekalian.

Baca Juga:

3 Pertanyaan untuk Diajukan Saat Kamu Berpacaran

Berpacaran bisa menjadi sebuah petualangan yang mendebarkan, terutama karena berpacaran merupakan langkah awal yang nanti akan membawa kita ke jenjang pernikahan! Namun, sudahkah kamu menguji hatimu dalam menjalani fase ini?

Dear #SongSongCouple: Mengapa Senandung Cinta Kalian Berakhir?

Oleh Joanna Hor, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Dear #SongSongCouple: Why Has Your Lovesong Ended?
Gambar diambil dari akun Instagram Song Hye-Kyo

Dear #SongSongCouple,

Rasanya belum lama kalian mengabarkan berita tentang pernikahan kalian kepada dunia, setelah kesuksesan serial drama Korea “Descendants of the Sun” (DOTS) di mana kalian berdua berperan sebagai pasangan di sana.

Satu setengah tahun berselang mengarungi pernikahan, mengapa kalian memutuskan untuk berpisah begitu saja?

Aku tidak menganggap diriku sebagai fans berat drama Korea, tetapi aku adalah salah satu dari jutaan penonton yang tercengang oleh kisah romantis dalam balutan militer yang mulai disiarkan di Februari 2016. Dalam tiga bulan aku telah menyelesaikan 16 episodenya (bahkan aku menonton ulang beberapa episodenya berkali-kali), mendengarkan soundtrack-nya, belajar memainkan lagu “You Are My Everything” di piano, dan bahkan menuliskan sebuah artikel tentang tips-tips relasi berdasar drama tersebut.

Aku begitu gembira (seperti penonton yang lain juga) ketika berita tentang kisah cinta kalian dalam drama itu berubah menjadi kisah cinta yang nyata. Tampaknya untuk sekali saja, kisah pengorbanan, romatisme, dan kemurnian cinta yang biasanya menjadi bumbu dalam drama Korea sungguh-sungguh terwujud dalam kenyataan. Jadi, seperti banyak orang lainnya, aku mengikuti berita tentang pernikahan kalian, dan turut bersukacita saat kalian berdua akhirnya resmi menikah di Oktober 2017. Aku dan teman-temanku bahkan berencana untuk membuat pesta perayaan untuk turut bergembira atas kisah dongeng kalian yang menjadi nyata yang sepertinya berlangsung bahagia selamanya.

Atau, setidaknya, itulah yang kami pikirkan bagaimana relasi kalian akan berakhir kelak.

Tetapi, banyak rumor mulai muncul ke permukaan di awal pernikahan kalian ketika Song Hye-kyo kedapatan tampil tanpa mengenakan cincin pernikahannya. Dan meskipun Song Joong-ki berusaha menghilangkan ketakutannya dengan mengatakan bahwa dia lebih “stabil secara emosional” setelah menikah hanya satu bulan yang lalu, ternyata itu tidak cukup untuk menjaga pernikahan kalian bersama.

Pada akhirnya, kisah cinta yang sempurna sekalipun tidak menjamin akan pernikahan yang sempurna. Aku telah mempelajarinya dari kisah Bradd Pitt dan Angelina Jolie. Tapi, kupikir apa yang paling mengguncangku adalah betapa singkatnya waktu pernikahan kalian.

Agensimu telah memberi keterangan bahwa kalian ingin berpisah karena “perbedaan kepribadian” dan meminta kepada media dan publik untuk tidak menulis artikel ataupun komentar yang sensasional dan spekulatif. Tapi, spekulasi pun bertebaran, bahkan di antara teman-temanku. Ada yang mengatakan kalau pernikahan dan perceraian kalian sebagai cara untuk mencari ketenaran, sementara yang lain mengatakan perceraian kalian karena ada perselingkuhan.

Sebagai fans kalian, aku berharap kalian berdua bisa memberikan kesempatan kedua untuk pernikahan ini, atau setidaknya mencoba menyelesaikan masalah kalian dan mempertahankan bahtera ini lebih lama lagi. Atau, mungkin jika kalian telah belajar tentang bagaimana memberi dan menerima seperti karakter yang kalian perankan dulu, mungkin semua ini akan berakhir berbeda?

Kalian mungkin berpikir: Apa sih yang kalian tahu? Pemikiran itu tidaklah salah; semua yang kutahu hanyalah apa yang media beritahukan. Di suatu hari nanti, hanya kalian berdua yang tahu alasan paling utama di balik keputusan untuk mengakhiri bahtera pernikahan kalian. Menjadi individu yang seluruh kehidupannya tak luput dari sorotan media, aku tahu bahwa menjalani hari-hari kalian tidaklah mudah.

Tetapi, suatu hari nanti pula, pemberitaan dari media-media akan usai, dan perhatian dunia akan beralih kepada pasangan lain yang menghadapi kisah yang sama seperti kalian, meratap sekali lagi seraya mengatakan “cinta sudah mati”.

Jadi, kalau bukan karena apapun, inilah satu hal yang kupikir kita semua bisa pelajari: tidak ada seorang pun di dunia ini yang kebal terhadap relasi yang gagal dan dikecewakan oleh orang lain. Dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak akan pernah bisa menjamin bahwa cinta kita kepada pasangan kita akan tetap konsisten dan tidak berakhir.

Lantas, haruskah kita kecewa dan menyerah karena seolah tidak ada “cinta sejati”? Tidak. Cinta kasih yang sesungguhnya tidak akan pernah berakhir, selama kita memalingkan diri kita kepada sumber yang sejati—bukan kepada diri kita sendiri atau sesama manusia. Cinta Sejati itu adalah Yesus. Dialah mempelai yang sejati, dan Dia telah menunjukkan betapa besar kasih-Nya hingga mati di kayu salib bagi kita (Efesus 5:25).

Ketika kalian bersiap untuk berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing, aku berharap kebenaran ini menguatkanmu. Cinta masih sangat hidup, di dalam Pribadi bernama Yesus Kristus. Dan karena cinta kasih-Nya, kita sekarang dapat mengasihi orang lain (1 Yohanes 4:19).

3 Pertanyaan untuk Diajukan Saat Kamu Berpacaran

Oleh Marissa Cathey, Hong Kong
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Questions To Ask When You’re Dating

Berpacaran bisa menjadi sebuah petualangan yang mendebarkan, terutama karena berpacaran merupakan langkah awal yang nanti akan membawa kita ke jenjang pernikahan! Namun, mungkin sebelum kita melangkah menuju masa berpacaran, kita punya banyak pertanyaan dalam pikiran kita. Contohnya, bagaimana aku bisa tahu bahwa aku sudah siap untuk berpacaran?

Meskipun aku bukan seorang ahli, ada tiga kualitas yang kudapati menjadi dasar dalam relasiku berpacaran, dan kuharap poin-poin ini bisa menuntunmu ke arah yang benar.

1. Apakah kamu tertarik pada pacarmu karena dia rupawan atau karena hatinya tertuju pada Tuhan?

Apa yang membuatmu tertarik pada seseorang? Apakah penampilan fisiknya? Karakter? Kepribadian? Karier? Aku yakin kamu bisa menambahkan beberapa sifat yang mungkin dapat membuat kita tertarik pada orang lain. Tetapi jika kita menggali lebih dalam, kita tahu bahwa tidak ada satu hal pun dari sifat ini yang akan membuat hubungan bertahan lama. Sebagai orang Kristen, kita harus memperhatikan hal yang jauh lebih penting: apakah Tuhan merupakan pemimpin hidup mereka?

Ketika aku pertama kali bertemu dengan tunanganku, Brian, aku tidak begitu tertarik padanya. Menurutku dia terlihat cukup manis, tapi aku tidak terlalu memikirkannya lebih jauh lagi setelah perjumpaan pertama kami. Namun, setelah melewati beberapa minggu bekerja di tata usaha gereja (kami berdua bekerja magang pada saat itu), menghabiskan waktu istirahat bersama-sama, dan diam-diam membicarakan tugas-tugas yang kami kerjakan, aku mulai melihat semangatnya akan Injil dan hasratnya untuk membagikan itu kemanapun dia pergi. Hal ini sangat cocok dengan hasrat dan panggilan hidupku—aku terbeban untuk melakukan misi keluar sejak beberapa tahun lalu.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa kagum pada Brian—karena dedikasi dan kesetiaannya pada Yesus. Sejak saat itu, perhatianku padanya mulai terlihat, dan aku menjadi tertarik padanya. Dapat dikatakan aku jatuh cinta. Dan ternyata dia pun juga.

Jadi, relasiku dengan Brian tidak terjadi sebagaimana diperkirakan kebanyakan orang. Alih-alih berpacaran karena ketertarikan fisik atau sifat, kebergantungannya pada Kristus sebagai penulis cerita hidupnyalah yang membuatku tertarik padanya. Aku mendapati bahwa ketertarikanku pada sifat-sifat Brian lainnya mulai mengikuti setelahnya.

2. Apakah ada peluang untuk bertumbuh secara sehat?

Mungkin kita pernah mendengar pepatah “cinta bukan cerita dongeng.” Pepatah ini benar, karena agar sebuah hubungan dapat berhasil, diperlukan tindakan, usaha, dan pengorbanan. Perasaan tidaklah cukup kuat untuk menjaga sebuah pasangan agar dapat bertahan melalui semua itu. Seberapapun kuatnya cinta pasangan tersebut, atau seberapa “lengket”nya mereka . . . perasaan bisa berubah.

Ada hari-hari di mana kami berargumen, tidak setuju tentang suatu hal, atau memiliki pandangan yang berbeda, dan kejadian-kejadian tersebut dapat membuat kami bertanya apakah Tuhan menghendaki agar kami bersama atau tidak. Dalam masa-masa itu, sangat penting bagi kami untuk menjaga diri dari perasaan frustrasi, amarah, ketidaksabaran, dan juga pembenaran diri.

Seiring kami berusaha melewati tantangan ini bersama-sama, kami belajar untuk menyediakan ruang bagi Tuhan untuk membentuk hati kami. Kami belajar untuk mengizinkan persoalan-persoalan ini menggerakkan kami untuk berdoa dan mencari nasihat di dalam Firman dan juga melalui orang-orang percaya lainnya. Sekarang inilah doa kami: agar kami memiliki kerendahan hati untuk menerima tuntunan Roh Kudus dan menaati apapun yang Tuhan katakan dalam hati kami.

Kesulitan dan pencobaan yang tak dapat dihindari dalam relasi menuntut lebih dari kekaguman antara satu dengan yang lain. Pada akhirnya, kita membutuhkan Kristus sebagai dasar kita bersama untuk membantu kita melihat bagaimana kita bisa menjadi sebuah tim yang baik, melengkapi satu sama lain, dan yang terpenting menjadi semakin serupa dengan Kristus melalui seluruh proses yang ada.

Ketika kami berdua ditarik mendekat pada Kristus dan saling membantu satu sama lain untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya, kami tidak perlu takut pada masalah—karena kami tahu bahwa dalam masa-masa pencobaan sekalipun, Tuhan sedang bekerja untuk menyucikan kita dan membuat kita kudus (Filipi 1:6).

3. Apakah perbedaan kalian memecah belah atau melengkapi?

Brian dan aku sangatlah berbeda. Aku adalah orang yang blak-blakan, berpendirian teguh, terkadang galak, dan wanita yang bebas yang berasal dari daerah yang dipenuhi hutan di Meksiko bagian tengah. Brian adalah orang yang penyendiri, penuh pertimbangan, kuat, pendiam, berasal dari kota metropolitan Hong Kong. Komentar-komentar tentang seberapa berbedanya kami nampaknya tidak pernah habis-habisnya datang, dan kami hanya tertawa karena orang-orang lain hanya mengetahui segelintir dari hal-hal lainnya.

Tentu, terkadang komentar-komentar tersebut dapat membuat kami kecil hati, terutama ketika kami mendengar orang lain berkata kami tidaklah cocok, atau kemungkinan besar menjalani hubungan yang penuh bencana karena perbedaan-perbedaan kami.

Bagi Brian dan aku, kami diingatkan bahwa pada masa-masa awal para rasul, Roh Kudus menyatukan orang-orang dari berbagai bangsa dan budaya dan bahasa untuk melahirkan gereja (Kisah Para Rasul 2). Dan kita tahu bahwa pada akhirnya bukanlah budaya dan tradisi yang akan bertahan hingga kekekalan, namun apa yang kita lakukan dalam ketaatan pada Allah.

Sebagaimana keberagaman dalam tubuh Kristus memungkinkan keberagaman tersebut bekerja dengan efektif (1 Korintus 12:12-14), kita percaya hal yang sama terjadi dalam pernikahan. Bersama dengan Brian, kami menemukan bahwa kami melengkapi satu sama lain melalui kelebihan dan kekurangan kami, dan mampu menjangkau lebih banyak orang dalam lingkup dunia karena hubungan multikultural yang diberikan pada kami.

Dengan pemahaman ini, kami juga meyakini bahwa mencari Tuhan dengan pemikiran yang terbuka dan kerendahan hati merupakan hal yang penting, terutama jika teman-teman yang kami percayai atau keluarga kami memiliki kekhawatiran mengenai hubungan kami. Terkadang ada beberapa permasalahan dalam relasi kami yang tidak terdeteksi oleh kami sendiri. Di tahap ini, kami butuh masukan dari orang lain, yang bisa melihat dari sudut pandang yang lebih jernih. Satu contoh kejadian di mana masukan dari pihak luar membantu kami adalah ketika salah satu orang tua rohani kami dengan lembut memberitahuku bahwa aku harus lebih sabar dan pengertian terhadap budaya Tionghoa yang menjadi latar belakang Brian. Aku juga perlu mengurangi kesalahan-kesalahan yang disebabkan karena perbedaan kebiasaanku dengan Brian. Contoh lainnya adalah ketika teman dekat Brian memberi masukan supaya Brian lebih tegas sebagai pemimpin dalam hubungan kami, terutama ketika kami sedang berada dalam masa-masa sulit. Masukan-masukan ini menolong kami untuk melihat titik-titik buta kami, dan memampukan kami untuk bertumbuh dengan cara kami dan juga memampukan kami untuk semakin mengasihi satu sama lain.

Memeriksa perbedaan yang kita miliki dengan pasangan kita dan mencari Tuhan untuk mengerti apakah perbedaan ini menolong kita untuk bertumbuh atau membuat perpecahan di dalam hubungan kita merupakan hal yang penting untuk dilakukan.

Seringkali menemukan kepuasan dan tujuan di dalam pasangan kita merupakan hal yang mudah. Namun kita mengetahui bahwa pada akhirnya tidak ada yang dapat memenuhi kebutuhan kita selain Tuhan. Apapun kondisinya, kita yang utama dan terutama merupakan milik Allah. Ia mengasihi dan menghargai kita dengan cara yang tidak dapat dilakukan orang lain (Matius 10:29-31). Dalam setiap langkah perjalanan hubungan kita, mari kita tidak mengejar apa yang berharga menurut dunia, melainkan mengejar untuk menyenangkan hati Tuhan.

Seiring kamu menggumulkan tentang berpacaran atau memulai sebuah hubungan, janganlah panik atau terlalu mencemaskan tentang seberapa baik kamu akan menjalaninya nanti. Doakanlah hal itu, dan mintalah kepada Tuhan untuk memberkatimu dengan hikmat, kekuatan, dan tuntunan-Nya. Lingkupi dirimu dengan orang-orang kudus yang dapat membantumu melewati tantangan-tantangan yang mungkin akan kamu hadapi. Gunakan kesempatan ini untuk semakin mempercayai dan mengenal Allah, dan Ia akan menunjukkan jalanmu, karena Allah adalah Allah yang setia.

Baca Juga:

Tuhan Merangkai Cerita yang Indah dalam Keluargaku

Orang tuaku pernah bertengkar hebat dan perceraian pun sempat terpikir oleh mereka. Sebagai anak, aku kecewa. Namun, di balik peristiwa buruk tersebut, nyatanya Tuhan merangkaikan cerita yang indah bagi keluargaku.

Bagaimana Bersaat Teduh Ketika Suasana Ramai?

Subtitle oleh Ferry Setiawan

Apakah saat teduh harus selalu dilakukan sendirian? Ketika kita sedang menikmati acara ramai-ramai bersama teman, bagaimanakah caranya supaya kita bisa tetap bersaat teduh ?

Yuk simak jawabannya dalam video rekaman Instagram Live WarungSaTeKaMu bersama Kak Alex Nanlohy.

Lihat video series lainnya:
Bagaimana Caranya Agar Saat Teduh Bisa Konsisten?
Cara Mengatasi Jenuh Bersaat Teduh
Puasa Orang Kristen
Tips untuk Berhasil Menjalani Puasa
Cara Mengendalikan Diri

Cara Mengendalikan Diri

Subtitle oleh Marselina Rusli

Pengendalian diri adalah salah satu dari buah roh. Tapi, mengendalikan diri bukanlah hal yang mudah. Kadang kita membiarkan diri kita larut dikuasai hawa nafsu dan emosi. Adakah cara yang bisa kita lakukan untuk mengendalikan diri?

Ayo temukan jawabannya di dalam video rekaman Instagram Live WarungSaTeKaMu bersama Kak Alex Nanlohy.

Lihat video series lainnya:
Bagaimana Caranya Agar Saat Teduh Bisa Konsisten?
Cara Mengatasi Jenuh Bersaat Teduh
Puasa Orang Kristen
Tips untuk Berhasil Menjalani Puasa

Sharing: Kegagalan Apakah yang Pernah Membuatmu Terpuruk?

Kegagalan apakah yang pernah membuatmu terpuruk? Bagaimana kamu bangkit mengatasinya?

Bagikan jawaban kamu di kolom komentar. Kiranya jawaban kamu dapat menjadi inspirasi bagi sobat muda yang lainnya.