Penderitaan yang Tak Akan Menjatuhkanmu

Oleh Toar Luwuk, Minahasa

Aku adalah seorang mahasiswa semester akhir, yang juga terlibat dalam pelayanan mahasiswa. Aku bersyukur karena terlibat dalam pelayanan ini mengajariku banyak hal yang menolongku bertumbuh bersama-sama dengan mahasiswa lain. Wadah pelayanan ini pun menjadi tempat perjumpaanku dengan Kristus. Aku menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.

Suatu saat, tim pelayanan kami sedang mempersiapkan suatu kegiatan dan membutuhkan dana. Kami memutuskan untuk mencari dana dengan menawarkan paket kue ke rumah-rumah warga. Selain melakukan pencarian dana, kami juga melakukan pelayanan doa bagi keluarga yang rumahnya kami sambangi. Di satu rumah, terjadi perbincangan.

“Jadi, selain kami melakukan pencarian dana, kami melakukan pelayanan doa bagi setiap keluarga yang telah dikunjungi. Jika ibu tidak sibuk, mari sama-sama berdoa”, kataku.

“Oh iya bisa, dek. Kebetulan baru selesai memasak”, jawab si ibu dengan penuh senyuman.

“Jadi, sebelum berdoa, apakah dari keluarga ada hal-hal khusus yang bisa didoakan?” tanyaku.

“Doakan saja semoga sehat-sehat dan semoga tidak mengalami masalah atau kesusahan”, jawab si ibu.

Setelah berdoa kami mengucapkan terima kasih dan melanjutkan kegiatan pencarian dana

Dan setelah beberapa rumah kami melakukan hal yang sama, terjadi obrolan yang serupa.

“Apakah dari keluarga ada hal-hal khusus yang bisa didoakan?” tanyaku.

“Doakan diberikan kesehatan dan diberikan kekuatan menghadapi pergumulan”, kata bapak dan ibu. Dari sharing singkat rupanya keluarga itu sedang mengalami pergumulan finansial.

Dari kedua jawaban di atas terdapat perbedaan sikap:

1. Yang pertama meminta untuk dijauhkan dari masalah/kesusahan
2. Yang Kedua meminta untuk dikuatkan dalam menghadapi pergumulan

Dari kedua jawaban tersebut, timbul kejanggalan dalam benak pikiranku dan memutuskan untuk merenungkan hal ini untuk mengetahui apa sebenarnya yang Tuhan ingin sampaikan kepadaku lewat kejadian hari itu.

Masalah selalu datang dalam bentuk penderitaan atau kesusahan. Oleh karena itu, semua orang tidak menyukainya. Banyak juga orang Kristen mengharapkan hidupnya selalu mulus tanpa mengalami masalah atau penderitaan. Bahkan ada yang melibatkan diri dalam pelayanan hanya karena meyakini hidupnya akan selalu diberkati hingga berlimpah-limpah dan enak-enak saja.

Aku pikir pemahaman seperti itu keliru dan itu bertentangan dengan Lukas 9:23 yang tertulis, “Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”

Penderitaan atau masalah bisa menjadi sarana kasih Allah kepada kita. Ibarat sebuah permainan yang untuk naik level kita perlu menghadapi tantangan, dalam hidup pun kadang rumus tersebut berlaku.

“Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun” (Yakobus 1:3-4).

Alih-alih membuat kita jatuh tak berdaya, tujuan dari penderitaan adalah supaya naik level. Untuk bisa naik tingkat, caranya adalah dengan taat dan berserah kepada Dia yang berdaulat atas hidup kita. Ujian-ujian hidup juga menjadi sarana agar kita terus dimurnikan dan dibentuk, supaya makin serupa dengan Dia. Kedagingan kita perlahan akan terkikis ketika kita tekun menghadapi penderitaan.

Sebagai orang Kristen, bagaimana sikap kita merespon masalah yang terjadi?

Tak mudah untuk menghadapi penderitaan. Aku pun sering emosi duluan jika ada masalah yang datang dan mungkin orang lain pun seperti itu. Seperti yang tertulis dalam kitab Yakobus 1:5-7, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, – yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit –, maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin.”

Ketika penderitaan datang, kita dapat berdoa minta hikmat dengan penuh kesungguhan hati dan jangan goyah. Seperti cerita di awal tulisan tadi, alangkah lebih baik jika kita berdoa bukan untuk menjauhkan masalah, tetapi meminta hikmat dan kekuatan menghadapi penderitaan. Kita tidak berjalan sendiri. Ada Tuhan yang setia menyertai kita, dan bersukacitalah jika kita berada dalam masalah. Dengan iman kita mengetahui bahwa penderitaan sementara ini adalah cara Tuhan membentuk kita makin serupa dengan Dia.

Aku Pendeta dan Aku Bergumul dengan Depresi

Ditulis oleh Hannah Go, berdasarkan cerita dari Jordan Stoyanoff
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Confessions Of A Pastor Who Wrestles With Anxiety

Aku memulai perjalanan karierku sebagai pendeta muda yang bersemangat, yang punya mimpi mengubah dunia. Aku mau melakukan apa pun yang bisa kulakukan buat Tuhan… tapi di tahun kedua pelayananku, aku bergumul dengan depresi dan kecemasan.

Setiap hari, aku merasa waktuku tidak cukup untuk memenuhi semua tuntutan. Kesibukan makin banyak dan setiap kritik terasa menyengat. Aku tidak bisa berpikir jernih, dan seringkali merasa frustrasi hanya karena hal-hal kecil.

Bebanku terasa makin berat, ditambah lagi beban dari harapan-harapan yang aku sendiri dan orang lain buat untukku. Aku berpikir bagaimana seharusnya aku memperhatikan orang-orang muda yang Tuhan hantarkan kepadaku. Suatu hari nanti aku harus mempertanggungjawabkan bagaimana aku telah membina dan menggembalakan mereka karena kita sedang berurusan dengan kehidupan kekal mereka kelak.


Semua ekspektasi itu membuatku tertekan. Aku mengalami burnout dan kelelahan. Semua harapanku lenyap. Aku tidak bisa membayangkan keadaanku akan membaik. Penderitaan mentalku terlalu besar, sampai-sampai aku merasa satu-satunya jalan keluar adalah mengakhiri hidupku dan segera bertemu Yesus.

Pemikiran itu membuatku kaget sendiri. Padahal selama ini aku menganggap diriku itu orang yang tabah dan kuat, sehingga gulatan perasaan seperti ini sungguh terasa aneh dan tidak nyaman.

Setelahnya, kupikir aku butuh liburan karena aku kelelahan. Mungkin pergi liburan akan menolongku lepas dari stres dan menjernihkan pikiran untuk menyusun rencana ke depan. Aku perlu mencari tahu bagaimana caranya bertahan melayani di pelayanan anak-anak muda, tidak sekadar jadi pendeta yang cuma hadir lalu gagal. Maka aku pun mengambil cuti seperti yang disarankan oleh salah satu mentorku, dan orang-orang di sekitarku yang mengerti pergumulanku.

Tapi, liburan selama satu minggu tidaklah cukup, dan aku tahu itu. Aku harus kembali lagi ke pekerjaanku, berjibaku kembali dengan rutinitas yang menantang. Meskipun ada sesi follow-up setelahnya, itu tidak menyelesaikan masalah utama. Tidak ada seorang pun yang hadir untuk mengajakku bicara terkait masalahku. Aku tetap tampil ‘baik-baik saja’, sementara dalam diriku bergumul hebat.

Semua hal ini membuatku bertanya-tanya. Aku meragukan imanku dan motivasi pelayananku. Di satu titik, semua beban itu bertumpuk dalam kepalaku.

Sebagai pendeta, aku memiliki kemampuan intelektual yang ‘baik’ tentang siapa Tuhan dan apa yang Dia katakan tentang aku. Namun, yang kutemukan setelahnya adalah justru aku tidak memahami diriku sendiri dengan baik, sehingga tidak dapat menerapkan kebenaran tentang siapa aku di hadapan Tuhan. Aku tahu keadaanku cukup sulit, tapi aku masih merasa cukup kuat untuk mengatasinya. Aku tidak menyadari bagaimana dunia di sekitarku mempengaruhiku dan turut berkontribusi menghadirkan pola-pola negatif di hidupku.

Bagaimana konseling menolongku mengatasi pergumulan

Suatu malam, aku berada di titik nadir. Harapan yang ditumpukan orang kepadaku terasa amat berat, dan aku merasa tidak sanggup lagi. Aku diliputi keputusasaan. Aku yakin aku tidak layak mengemban tanggung jawab di hadapanku. Aku lalu pergi ke sofa, dan tidur meringkuk seperti bola. Aku tak bisa berpikir jernih, tak bisa berbuat apa-apa. Kusadari kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Aku butuh bantuan.

Malam itu juga, atas arahan dari salah seorang pendeta, aku pergi menjumpai seorang dokter umum yang memberiku obat dan menyarankan agar aku berkonsultasi dengan psikolog.

Melihat ke belakang, aku merasa tindakan dokter yang segera memberiku obat bukanlah langkah yang tepat. Kadang obat-obatan memang bisa dipakai Tuhan untuk mengatasi masalah, tapi itu bukan solusi sesungguhnya. Kurasa ada banyak dokter di luar sana juga seperti itu, langsung memberi resep obat antidepresan kepada pasien yang belum pernah menjalani psikoterapi. Meski merasakan banyak progres positif, tetapi setelah sembilan bulan mengonsumsi obat, aku berhenti.

Aku memutuskan menemui konselor Kristen karena aku tahu pada intinya, masalah yang kuhadapi adalah masalah spiritual. Aku membutuhkan Yesus untuk mengubah hati dan pikiranku, sebab konselor sekuler hanya akan menolongku mengatasi gejala-gejala klinis dari masalah yang sebenarnya. Aku perlu memahami diriku seperti cara Tuhan melihatku. Aku perlu menemukan identitasku dalam Kristus, bukan dalam berhasil atau gagalnya pelayananku. Aku membutuhkan pertolongan dari sesama orang Kristen.

Hal lain yang juga menolongku (pada tahun-tahun menjelang pernikahanku), adalah bagaimana aku belajar mengasihi seseorang yang juga pernah mengalami depresi dan kecemasan—istriku sendiri.

Istriku pernah melalui tantangan-tantangan mental seperti yang kualami ini sebelumnya, maka aku pun paham bahwa menemui konselor adalah keputusan yang baik. Aku tahu bahwa aku tak perlu menjadi sempurna—karena pada dasarnya memang kita tak bisa sempurna, dan itu tidak masalah. Melihat sendiri bagaimana istriku melewati masa-masa tersebut, memberiku keberanian untuk mencari pertolongan, meskipun aku masih merasa kaget karena tidak pernah terpikir olehku bahwa aku akan mengalami masalah seperti ini juga. Selama proses konseling berlangsung, aku tetap melanjutkan peranku sebagai pendeta sampai beberapa tahun setelahnya.

Menjalani konseling merupakan hal yang paling penting, pertolongan terbesar yang kudapat dalam perjalananku mengatasi kesehatan mental. Konseling adalah tempat yang aman karena segala data dan informasi kita bersifat rahasia. Dari sana, aku mulai mengerti bahwamasalah yang kualami itu berkaitan dengan identitasku, dan kemudian aku melihat bagaimana identitasku itu menentukan apa yang kulakukan. Sebelumnya, aku punya konsep sendiri tentang siapakah aku, bagaimana dunia itu, dan siapakah Tuhan—beberapa konsepku itu tidaklah sejalan dengan perspektif Yesus. Cara pandangku akan realitas tidaklah benar, baik, dan sejalan dengan apa yang Yesus katakan padaku. Aku butuh Yesus untuk menunjukkan kebohongan yang telah kupercaya selama ini, baik secara sadar maupun tidak. Aku butuh percaya kebenaran dari Yesus melebihi apa yang kupikir dan kurasa.

Sesi-sesi konseling menolongku mengurai masalahku. Aku juga mendapat terapi perilaku kognitif Kristiani yang menolongku untuk mengerti apa yang terjadi dalam pikiranku, alasan mengapa aku melakukan sesuatunya, sehingga aku bisa merespons dengan efektif terhadap pikiran-pikiran, perasaan, tindakan, serta melepas konsep yang keliru.

Sebelumnya, aku tak menyadari bahwa iman berkaitan dengan kesehatan mental. Aku tidak sepenuhnya mengerti bahwa identitasku dalam Kristus juga berkaitan dengan masalahku. Sungguh penting mengetahui siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.

Pemulihan dari burnout

Pulih dari burnout adalah proses yang panjang, namun aku tetap menjalankan tanggung jawabku sebagai pendeta sampai Tuhan bilang saatnya untuk pindah. Butuh dua tahun untukku beranjak dari posisiku sebagai pendeta ke tanggung jawabku yang sekarang. Semua karena anugerah-Nya saja.

Masih ada momen-momen ketika aku melihat kendala dalam diriku, entah itu kurangnya rasa belas kasihan, bertindak di luar karakterku, atau bergumul untuk lebih tenang. Semua itu memaksaku berhenti dan berpikir: apa keyakinan yang mendasari di sini? Bagaimana aku bisa menyelaraskan diriku dengan kebenaran Tuhan di situasi ini?

Satu hal yang kupelajari tentang menghadapi masalah kesehatan mental di dalam gereja adalah kurangnya kesadaran akan kesehatan mental dari sudut pandang Kristen. Beberapa orang terlalu serius menanggapi persoalan mental orang lain seolah-olah itu penyakit menular, yang akhirnya malah membuat seseorang semakin takut untuk membuka diri. Sikap ini menunjukkan sebuah tembok yang dibangunoleh orang-orang di gereja—tidak mampu untuk secara terbuka berbagi kisah tentangapa yang sedang dialami, dan tak ada orang yang bisa memvalidasi pengalaman mereka.

Di sisi lainnya, aku juga melihat bagaimana orang bisa begitu berempati dan berbelas kasih terhadap mereka yang bergumul, tetapi pada akhirnya malah terlalu banyak menceritakan pengalaman mereka sendiri, yang belum tentu tepat. Pada kasusku, penting untuk tidak merasa kita adalah juruselamat bagi orang lain dan kitalah yang paling bisa menolong. Aku harus melakukan apa yang bisa kulakukan, tapi aku pun harus percaya bahwa pada akhirnya, Tuhanlah yang memelihara mereka.

Pada akhirnya, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan. Kita tak bisa memaksa mereka yang bergumul dengan masalah kesehatan mental untuk menemui dokter atau konselor. Biarlah mereka sendiri yang memutuskan. Perjalanan menuju pemulihan adalah urusan orang itu sendiri dengan Yesus. Kita sebagai temannya bertanggung jawab menemani dia. Bukan sebagai juruselamat atau ahli kesehatan mental, tapi sebagai kawan.

Natal dan Cabe Rawit

Oleh Edwin Petrus, Malang

“Aku hanya orang biasa. Apalah pekerjaanku ini! Pekerjaan yang hina, tapi apa boleh buat aku gak punya pendidikan yang tinggi. Tapi, aku bersyukur bisa bekerja dengan beberapa teman yang bernasib sama. Paling tidak, pekerjaan kami ini berguna buat orang lain, ya walaupun mereka memandang kami dengan sebelah mata.”

Percakapan monolog di atas adalah imajinasiku. Aku membayangkan bagaimana isi hati seorang gembala di Betlehem pada abad pertama masehi. Pada masa itu gembala ternak bukanlah pekerjaan yang bergengsi. Secara sosial, masyarakat memandang rendah profesi itu karena dianggap kotor. Tapi, keberadaan mereka pun dibutuhkan. Salah satunya oleh para penyembah di Bait Allah yang membutuhkan domba sebagai korban persembahan. Kalau sekarang ada peribahasa, “habis manis sepah dibuang.” Kira-kira begitulah nasib mereka, dicari kalau pas lagi butuh saja.

Namun, pada suatu hari, terjadi peristiwa besar yang menggemparkan dunia. Para gembala, yang dipandang rendah oleh masyarakat zaman itu, malah mendapatkan hak istimewa. Mereka tercatat dalam sejarah sebagai saksi mata pertama dari peristiwa mulia. Mungkin saat itu mata mereka sulit terbuka karena tidak kuat melihat cahaya kemuliaan Allah, lalu mereka mendengar sesosok makhluk surgawi yang bersabda: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Lukas 2:11). Bukan hanya itu, ketika mereka menatap ke langit, mata telinga mereka terpukau dengan merdunya suara bala tentara surga yang menyanyikan: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara semua manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Lukas 2:14).

“Kristus? Ya, Mesias. Dia itu yang kita nanti-nantikan selama ini!” Aku coba menerka kira-kira apa yang ada di dalam pikiran para gembala.

Kelahiran Mesias adalah penantian panjang orang Israel. Sejak zaman Perjanjian Lama, para nabi nenek moyang mereka telah menyuarakan janji akan Sang Juruselamat dari Allah (Yesaya 9:6-7; Yeremia 23:5-6; Amos 9:11-12) . Tanpa henti, janji ini pun terus dibicarakan oleh orang-orang Yahudi dari orang tua kepada anak-anak mereka. Mereka mendambakan sosok pemimpin politik yang dapat segera melepaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Tetapi, kita yang hidup di zaman sekarang mengetahui bahwa Kristus, Sang Mesias bukanlah membawa kemerdekaan dari penjajahan politis. Lebih dari itu, kelahiran, kematian, dan kebangkitan Kristus membawa kemerdekaan dari dosa.

Jikalau aku adalah seorang dari gembala itu, aku pasti punya reaksi yang sama. Aku ingin segera pergi melihat Sang Mesias yang baru lahir itu. Dengan petunjuk yang diberikan oleh malaikat, para gembala bergegas pergi dari satu kandang ke kandang yang lain di kota Betlehem untuk menemukan bayi yang dibungkus lampin dan terbaring di dalam palungan. Tanpa alamat yang jelas, apalagi belum ada Google Maps atau Waze pada masa itu, pastilah gembala-gembala ini bertanya ke sana dan ke sini, mengetuk pintu dari rumah ke rumah, dan mengamat-amati dengan saksama dari kandang ke kandang. Jangan-jangan bayi itu tertutup jerami kering dan mereka tidak melihatnya dengan jelas.

“Aha!!! Bayi itu ada di sini!” Inilah jeritan dari salah seorang gembala sambil mengibaskan tangan kanannya untuk memanggil teman-temannya yang lain. Dengan mata kepala mereka sendiri, mereka melihat sosok Sang Raja atas segala raja yang lahir merendahkan diri untuk mengambil rupa sama dengan manusia demi menjalankan misi besar-Nya. Tidak ada ranjang empuk di istana yang mewah yang menyambut kedatangan-Nya di tengah-tengah manusia yang dikasihi-Nya. Hanya beberapa pasang mata dari orang awam yang memberikan penghormatan kepada-Nya.

Aku tidak bisa membayangkan betapa bahagianya para gembala tak bernama ini. Mereka senang dapat bertatap muka langsung dengan Tuhan yang menurunkan status-Nya untuk menjadi sama rendah seperti mereka yang hina. Tak heran, sukacita yang amat besar ini dinyatakan dengan pujian yang memuliakan Allah tanpa henti sepulang dari melihat Yesus (Lukas 2:20). Bukan itu saja, mereka juga mewartakan Kabar Baik dari surga itu kepada orang-orang yang mereka jumpai di sepanjang jalan. Dengan ucapan bibir mereka, Kabar Baik ini dari surga itu menjadi viral di telinga anak cucu Daud yang pada waktu itu sedang berkumpul di Betlehem karena adanya sensus penduduk.

Coba kita lihat apa yang menjadi dampak dari cuitan-cuitan gembala ini? Lukas mencatat bahwa masyarakat luas “heran” dengan kabar ini (Lukas 2:18). Kata “heran” di sini bisa mengandung banyak arti. Orang banyak mempertanyakan keabsahan dari pemberitaan ini. Mereka meragukan berita ini, jangan-jangan hoaks, karena gembala-gembala ini bukan tokoh agama. Bukankah seharusnya para imam dan ahli Taurat yang menyampaikan berita seperti ini? Ada pula kelompok orang yang memang melongo dengan penuh kebingungan karena sudah lebih kurang 300-400 tahun, Allah diam dan tidak memberikan tanda sama sekali kepada umat-Nya. Tidak tertutup kemungkinan, ada yang tercengang dan sekaligus merasakan sukacita karena Mesias yang dinanti-nantikan akhirnya datang juga. Terlepas dari apapun respons yang diberikan orang banyak, kesaksian dari para gembala ini telah menggemparkan Betlehem.

Ibarat sebuah peribahasa berkata, “Kecil-kecil cabe rawit.” Jangan sepelekan bentuk cabe yang paling kecil dari semua ras cabe yang ada. Sebab, justru cabe rawit lah yang punya rasa paling pedas di antara semuanya. Para gembala memang hanyalah kaum kecil yang dipandang sebelah mata pada waktu itu. Namun, berita Natal yang pertama justru disampaikan kepada mereka dan mereka dipakai menjadi alat yang luar biasa untuk menyatakan Kabar Baik itu.

Lukas memang tidak memberitahu kita tentang apa yang terjadi dengan para gembala setelah ini. Namun, bayi yang terbungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan itu pada akhirnya menggenapkan misi-Nya sebagai Juruselamat. Yesus tidak menjadi Mesias politik yang membebaskan Israel dari penjajahan bangsa asing. Yesus menjadi Mesias yang melepaskan mereka, aku, dan kamu dari kematian kekal akibat dosa. Di atas kayu salib, Yesus menganugerahkan damai sejahtera dari Allah kepada orang-orang percaya kepada-Nya. Bahkan, Yesus juga mengundang kita semua untuk tinggal bersama-sama dengan-Nya di surga untuk selama-lamanya. Inilah seri komplit dari berita besar yang disebut malaikat itu sebagai “kesukaan besar bagi seluruh bangsa” (Lukas 2:10).

Episode pertama dari kisah Natal dengan para gembala sebagai aktor-aktornya telah lama berakhir. Namun, sang Sutradara belum ingin mengakhiri produksi dari kisah ini sampai di sana. Hari ini, Allah mengundang aku dan kamu untuk berlakon di dalam episode-episode yang akan segera diproduksi. Kita adalah orang-orang yang menikmati indahnya persekutuan yang dibangun oleh anugerah keselamatan di dalam Yesus Kristus. Saat ini, Allah memilih kita untuk dapat menyaksikan berita dari surga itu kepada dunia yang membutuhkan kasih anugerah-Nya.

Sobat muda, mungkin kamu bukan orang terkenal. Kamu tidak punya banyak talenta. Kamu pandang diri kamu biasa-biasa saja. Namun, sebagai anak-Nya, Tuhan tidak pernah memandangmu dengan sepele. Ia memandang kamu berharga dan bahkan mengundangmu untuk menjadi saksi dari karya keselamatan-Nya! Entah sudah berapa lama kita mendengarkan berita Natal. Namun, biarlah berita Natal itu tidak pernah menjadi kisah yang usang, karena kita mengalami kasih-Nya yang selalu baru tiap pagi (Ratapan 3:23–24). Dengan terus merasakan kasih-Nya, kita dapat membagikan pengalaman iman ini sebagai kabar sukacita bagi orang lain!

Di hari Natal ini, mari ceritakan Yesus kepada satu orang yang belum mengenal Sang Juruselamat itu! Cerita kita tentang Yesus pasti dapat berdampak bagi dunia ini karena Dia adalah Sang Allah yang membawa damai sejahtera ke bumi (Yesaya 9:6).

Apa yang Rutinitas Sedang Ajarkan Padamu?

Oleh Aldi Darmawan Sie

Baru-baru ini aku sedang membaca sebuah buku dari seorang teolog bernama James K.A. Smith yang berjudul “You are what you love”. Melalui buku ini, Smith banyak mengajarkanku tentang apa artinya rutinitas dan kaitannya dengan kecintaanku kepada Tuhan. Sadar atau tidak, ternyata ada kaitan yang sangat erat antara rutinitas dengan kecintaan kita terhadap suatu objek tertentu.

Smith meyakini manusia pada dasarnya adalah pecinta (human as a lover being). Manusia dari semula diciptakan Tuhan untuk mengasihi sesuatu. Pendapat ini sebetulnya sejalan dengan desain Tuhan bagi manusia yang tersirat di dalam Alkitab (Ulangan 6:4-5). Manusia pada mulanya memang diciptakan dengan kemampuan untuk mengasihi Tuhan dan mengalami kasih Tuhan. Namun, dosa membuat manusia cenderung menempatkan cinta terbesarnya kepada objek yang salah. Penyimpangan-penyimpangan kasih manusia terlihat ketika manusia memiliki sifat narsistik, terjebak dalam berbagai kecanduan, seperti pornografi, gemar belanja berlebihan (shopaholic), gemar kerja berlebihan (workaholic), dan sejenisnya.

Berbagai bentuk penyimpangan kasih di atas terbentuk dari rutinitas yang dilakukan setiap hari. Rutinitas yang kita lakukan berulang-ulang setiap hari, secara tidak sadar sedang membentuk kecintaan kita kepada suatu objek tertentu. Tanpa kita sadari, rutinitas kita membentuk sebuah “liturgi” dalam hidup kita, dan “liturgi” tersebut yang pada akhirnya membentuk kecintaan kita. Liturgi bisa dikatakan sebagai suatu aktivitas berulang yang sedang membentuk kecintaan kita kepada suatu hal. Bahayanya adalah “liturgi-liturgi” yang salah bisa menggeser kecintaan terbesar kita kepada Tuhan.

Belakangan ini, aku sendiri menyadari bahwa ada sebuah “liturgi” yang sedang bersemayam dalam diriku, yaitu kecanduan gawai. Sebelum tidur, secara otomatis aku bisa bersafari sekitar 1-2 jam di berbagai media sosial dan juga media belanja online. Setelah mengevaluasi diri, akhirnya aku menyadari bahwa aktivitas ini telah menjadi “liturgi” baru yang sedang membentuk kecintaanku. “Liturgi” ini membuatku menjadi orang yang haus dengan hiburan dan mencari kenyamanan diri. Aku bersyukur melalui buku Smith, Tuhan menolongku untuk mengidentifikasi dan mengatasi rutinitas yang menjadi “liturgi tandingan” sehingga membuatku tidak menempatkan kasih terbesarku kepada Tuhan.

Membangun kecintaan kepada Tuhan melalui rutinitas kita

Sulit memang untuk memangkas “liturgi-liturgi tandingan” yang sudah bercokol dalam hati kita. Itu karena “liturgi” tersebut sudah membentuk kecintaan kita. Namun, bukan berarti hal ini tidak bisa diatasi. Belajar dari apa yang Smith sampaikan dalam bukunya, kita juga bisa melatih hati kita untuk meletakkan kasih kita yang terbesar kepada Tuhan melalui rutinitas kita. Untuk mewujudkannya, perlu adanya upaya intensional dan rutin.

Kita bisa mengidentifikasi apakah ada rutinitas kita sehari-hari yang saat ini sedang menjadi “liturgi tandingan” yang menggeser kecintaan kita kepada Tuhan. Setelahnya, kita bisa minta Tuhan menolong kita agar mengarahkan hati kita kembali kepada kasih-Nya. Sama halnya seperti yang tertulis dalam 2 Tesalonika 3:5: “Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus.”

Jikalau pandemi membuat rutinitas kita berantakan, kita bisa membangun kembali kebiasaan kita untuk bersaat teduh dan berdoa setiap hari. Kedua aktivitas ini sering kali terkesan sepele. Akan tetapi, jika keduanya dilakukan dengan rutin, akan sangat menolong kita menumbuhkan kecintaan kita kepada Tuhan.

Di tengah masa pandemi yang belum usai, aku juga bersyukur karena Tuhan sebenarnya membuka banyak kesempatan untuk semakin mengenal dan mengasihi Tuhan. Salah satunya ialah melalui berbagai renungan, khotbah dan puji-pujian yang bisa kita akses dengan mudah dari media sosial. Selain itu, saat ini juga tersedia banyak aplikasi-aplikasi Alkitab yang juga dapat menolong kita membuat jadwal rutin untuk membaca Alkitab. Tuhan menolong kita untuk semakin mengasihi-Nya di dalam dan melalui kehidupan kita.

Perlukah Orang Kristen Mengejar Kebebasan Finansial?

Oleh Rachel Lee
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: klik di sini

“Capek kerja dari pagi sampai malam? Daftar kursus gratis ini dan belajarlah bagaimana menjadi bos!”

“Kekurangan uang? Chat saya, dan saya akan mengajari Anda mendapatkan uang dengan mudah.”

“Belum mulai berinvestasi? Anda belum terlambat! Ayo bergabung sekarang dengan tim kami!”

“Tahukah Anda apa itu kebebasan finansial? Itu adalah kondisi di mana Anda tak perlu lagi bekerja karena uanglah yang bekerja buat Anda! Mau tahu caranya? Kontak saya sekarang juga.”

***

Setiap kali aku masuk ke media sosialku, aku menemukan banyak iklan seperti di atas, di mana-mana! Setelah melihat banyak iklan itu, ada lagi iklan yang bilang begini:

“Kalau kamu punya uang, tidak hanya kamu punya lebih banyak pilihan; kamu bisa berkata ‘tidak’ pada hal-hal yang tak kamu suka”, atau

“Berjuanglah sekarang, dan dirimu di masa depan akan berterima kasih.”

Aku merasa tergelitik dan bertanya-tanya bagaimana aku bisa menambah hartaku. Melihat bagaimana bisnis dan investasi teman-temanku berjalan baik, aku merasa tak puas dengan posisi finansialku. Aku juga ingin meraih lebih banyak uang supaya aku bisa melunasi cicilan, dan membawa keluargaku jalan-jalan keliling dunia. Jadi, aku pun mulai mencari-cari kesempatan berbisnis secara daring.

Sebenarnya ini bukanlah hal baru buatku. Di tahun 2016, ketika aku masih mahasiswa, aku pernah menulis artikel tentang keinginanku untuk mendapat uang. Artikel itu ditulis saat aku tidak punya pendapatan, tapi sekarang setelah aku bekerja dan punya pemasukan yang stabil, aku masih ingin meraih lebih. Jadi aku bertanya-tanya: apakah ini karena aku kurang puas?

Ketika aku merenungkan motivasiku, aku sadar kalau aku ingin meraih kebebasan finansial bukan supaya aku bisa hidup mewah. Malah, harapanku adalah dengan punya kemampuan finansial yang lebih besar, aku bisa menaikkan taraf hidup keluargaku lebih baik. Plus, kalau semisal aku terpanggil untuk melakukan mission-trip entah ke mana, aku bisa membayarnya tanpa khawatir. Semua motivasi ini terlihat rasional kan?

Jadi, sebagai orang Kristen, aku sungguh bisa mengejar kebebasan finansial kan?

Berangkat dari dua pertanyaan itu, aku membuka Alkitabku untuk mencari tahu apa yang Allah ingin katakan terkait dengan kekayaan. Kutemukan beberapa penemuanku. Kuharap apa yang kupelajari juga menolongmu untuk menemukan jawaban.

Berdasarkan sebuah artikel di koran, ada sekitar dua ribu ayat di Alkitab tentang uang. Tapi, hanya sekitar 500 yang berbicara tentang doa dan iman. Bisa dikatakan, masalah tentang uang tidak boleh diabaikan.

Pada dasarnya, uang itu bersifat netral. Baik atau buruknya tergantung dari orang yang menggunakannya. Uang bukanlah akar segala kejahatan, cinta akan uanglah yang jadi akar segala kejahatan (1 Timotius 6:10). Kapan pun Alkitab berbicara tentang uang, Alkitab juga berbicara tentang bagaimana orang memandang dan menggunakannya.

Inilah tiga hal yang harus selalu kita ingat ketika kita membahas soal relasi kita dengan uang:

1. Ingatlah bahwa uang itu diberikan oleh Tuhan

Pertama, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu, termasuk uang, berasal dari Allah. Salomo yang dipenuhi kebijaksanaan dan kekayaan pernah berkata, “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagianya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya—juga itupun karunia Allah” (Pengkhotbah 5:19).

Namun, kita harus memahami bahwa karunia Allah itu tidak hanya ada saat kita kaya, tapi juga saat kita miskin. Ketika Ayub kehilangan anak, harta, dan kekayaannya, dia masih bisa berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayub 1:21). Pernyataan Ayub menunjukkan bahwa Allah jauh lebih besar daripada pengejarannya akan kemakmuran dan kedamaian. Iman Ayub adalah teladan bagi kita.

Marilah kita percaya bahwa Allah akan menyediakan apa pun yang kita butuhkan, dan kita perlu bersyukur atas apa yang ada pada kita.

2. Kita hanyalah pengelola uang

Ketika kita menyadari bahwa uang berasal dari Allah, kita dapat menempatkan diri pada posisi yang benar—sebagai pelayan Allah. Karena Dia telah memberi kita uang, maka kita harus mengelolanya.

Pemahaman ini membawa kita pada pengelolaan keuangan. Pendapatan kita dapat dibagi ke dalam dua kelompok: aktif dan pasif.

A. Pendapatan aktif—uang yang kita raih dari bekerja:

1 Timotius 5:18 berkata “Setiap orang yang bekerja patut mendapat upahnya.” Mendapatkan upah yang layak dari instansi tempat kita bekerja adalah hak kita. Ayat ini juga mengingatkan orang-orang Kristen yang merupakan para pemilik usaha akan kewajiban untuk membayar pekerjanya dengan upah yang sesuai.

Alkitab tidak menentang usaha sampingan, tapi ada cara-cara yang ditentang Allah seperti: penyuapan (Mikha 3:11), warisan yang diminta terlalu cepat (Amsal 20:21), pencurian, kebohongan, dusta (Imamat 19:11).

B. Pendapatan pasif—uang mendapatkan uang:

Matius 25:14-30 menceritakan perumpamaan tentang seorang tuan yang memberikan hamba-hambanya masing-masing lima, dua, dan satu talenta. Orang-orang biasanya memahami perumpamaan ini sebagai pengingat bagi kita untuk menggunakan talenta dan kemampuan kita bagi Tuhan. Tapi, aku percaya pada prinsipnya perumpamaan ini juga jadi pengingat yang baik tentang uang: kita harus memperlakukan dengan serius uang yang Tuhan telah berikan buat kita–dengan menggunakan cara-cara bijak untuk meningkatkan nilainya. Entah itu dengan menabung di bank atau di instrumen investasi.

Allah tidak menilai uang lebih berharga daripada kita, atau pun Dia menjadikan uang sebagai tolok ukur kasih-Nya bagi kita. Dia berkenan apabila kita secara efektif menggunakan apa yang Dia telah percayakan bagi kita. Saat kita bersyukur pada-Nya atas pemberian-Nya, kita juga harus belajar untuk mengelolanya dengan baik sebagaimana kita mengembangkan talenta dan kemampuan kita.

3. Belajarlah mengelola uang tanpa bersifat serakah

Ketika kita mengelola keuangan pada jalur yang benar, hasilnya bisa saja jauh melampaui apa yang kita harapkan. Manajemen yang baik bisa menolong kita meraih lebih banyak uang, yang juga menuntut energi lebih untuk mengelolanya. Namun, berhati-hatilah agar kita tak kehilangan pandangan kita akan Allah. Atau, jangan pula karena kita gagal mengelola uang dengan baik lantas kita pun menyalahkan-Nya.

Sifat tamak atau serakah muncul ketika kita memaknai uang lebih besar daripada kasih kita pada Tuhan. Uang lalu menjadi tuan kita, sedangkan Tuhan menjadi pelayan ketika kita berpikir bahwa Dia berkewajiban untuk menambah harta kekayaan kita.

Jika kita ingin tahu apakah kita telah jadi orang yang serakah atau tidak, secara sederhana kita dapat melihat bagaimana sikap kita terhadap persembahan. Persembahan adalah cara yang baik untuk menguji siapakah pemilik uang itu.

Jika kita merasa uang itu adalah milik kita karena kita yang meraihnya, dan memberikan persembahan bagi rumah Tuhan tidak akan menambah uang itu, maka persembahan meskipun cuma seribu rupiah pun tidak akan terasa baik buat kita. Tapi, jika kita mampu memberi dengan sukacita, itu menyenangkan Tuhan. “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).

Sejalan dengan tiga poinku, aku merumuskan definisi baru dari ‘kebebasan finansial’ buatku sendiri:

1. Aku bisa bebas memuji Tuhan untuk segala kepunyaanku yang adalah kepunyaan-Nya.

2. Aku bisa bebas bekerja untuk memuliakan-Nya dan berani berkata ‘tidak’ untuk cara-cara yang tidak menyenangkan hati-Nya.

3. Aku bisa bebas mempersembahkan segalanya bagi Tuhan: dengan sukacita memberikan uang yang dipercayakan-Nya untuk membangun kerajaan-Nya.

Yohanes 8:32 berkata, “…dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Terlepas dari apakah aku bisa memenuhi kebebasan finansial berdasar standar dunia, aku tahu apabila aku mengejar kebenaran Allah, aku akan memperoleh kebebasan sejati yang berasal dari-Nya: untuk hidup dalam naungan kasih dan anugerah-Nya, tidak lagi terikat pada dosa, dan mampu menolak godaan keuangan dan menolak untuk melakukan hal-hal yang tidak berkenan pada-Nya.

Ingatlah Ajal Pada Masa Mudamu

Oleh Aryanto Wijaya

Tahun 2019 lalu, aku membaca sebuah artikel yang menuturkan tentang kehidupan seorang pria. Di usianya yang ke 32 tahun, dia sedang menikmati puncak kariernya, namun kenikmatan itu perlahan susut ketika penyakit ganas menggerogoti tubuhnya hingga dia pun meninggal dunia.

Baru-baru ini, media sosial tanah air pun gempar mendengar kabar seorang selebriti muda yang mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Padahal, beberapa jam sebelumnya dia masih mengunggah Instagram Story—ada cuplikan perjalanannya, yang bernuansakan sukacita. Tak ada yang menyangka itu akan jadi unggahan terakhirnya.

Aku tercenung dan larut dalam ratapan warganet yang tak menyangka kematian akan secepat ini menjemput dan begitu mendadak. Mengingat dua kisah dukacita ini menggemakan kembali sebuah realita pahit yang kita semua sebagai umat manusia harus alami: kematian.

Kubuka lembaran kertas Alkitabku dan kudapati Pengkhotbah 9:5 berkata tegas, “Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati…” Tetapi, yang tidak pernah kita tahu dari sisi kematian adalah bilamana dan bagaimana itu akan datang menjemput kita.

Ketidaktahuan ini seringkali menjadi faktor terbesar yang membuat kita merasa takut, atau di sisi yang lain, membuat kita acuh tak acuh terhadap kematian. Padahal, seperti yang Alkitab katakan bahwa setiap manusia kelak pasti akan menjumpai kematian; itu bukan sebuah kesempatan, tetapi kepastian. Mengetahui bahwa kelak setiap kita pasti akan tiba di garis akhir kehidupan seharusnya mendorong kita untuk menjalani hidup terbaik untuk tiba di sana.

Mengenal garis akhir, menikmati perjalanan

Konsep dunia menyebutkan kematian sebagai garis akhir dari kehidupan, titik terakhir dari perjalanan manusia. Agama-agama lalu menyajikan pemahaman yang lain, tentang apa yang akan terjadi setelah kematian itu. Kita tidak akan membahas masing-masing konsep pasca kematian yang disajikan tiap agama, tetapi sebagai orang Kristen, kendati kematian memang sejatinya adalah garis akhir dari peziarahan ragawi kita di dunia, itu merupakan awal dari sebuah kehidupan yang baru.

Paulus menegaskan, “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia” (2 Korintus 5:1).

Ada kehidupan yang abadi bagi anak-anak Tuhan, kehidupan di suatu tempat yang dibuat oleh Allah sendiri, yang tidak akan ada lagi ratap dan dukacita (Wahyu 21:4).

Memang kita tidak tahu waktu dan caranya, tapi Alkitab memang menjelaskan apa yang terjadi. 2 Korintus 5:6-8 dan Filipi 1:23 mengatakan bahwa ketika kita meninggalkan tubuh kita, kita akan menetap bersama Allah. Suatu pemikiran yang menghibur kita semua yang percaya.

Dalam Ilmu Komunikasi, ada sebuah teori yang bernama “Teori Pengurangan Ketidakpastian” yang dikemukakan oleh Charles Berger dan Richard Calabrese. Teori ini menjelaskan bahwa dalam relasi antar dua orang manusia atau lebih yang tidak saling mengenal seringkali terjadi ketidaktahuan yang dapat berlanjut menjadi rasa takut atau spekulasi. Contoh, ketika dua orang asing bertemu dalam satu kendaraan, mungkin Si A menaruh curiga terhadap si B. Barulah ketika tercipta komunikasi antara A dan B, keduanya menemukan banyak persamaan, dan relasi itu berlanjut melintasi waktu, pelan-pelan rasa takut dan curiga itu luruh. Ketika dua orang telah saling mengenal erat, ada rasa percaya yang terbangun—kondisi yang jauh berbeda dari momen saat mereka pertama kali saling mengenal.

Demikian pulalah dengan kehidupan kita. Mengenal Tuhan yang kita percayai dengan erat akan memberikan kita iman yang teguh dan kokoh. Kita tidak akan lagi meragukan janji-janji-Nya karena kita tahu janji itu pasti akan terlaksana (2 Korintus 1:20), bahwa barangsiapa yang percaya kepada Kristus tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).

Dan, dari pengenalan dan relasi yang erat dengan-Nyalah kita dimampukan untuk menjalani hari-hari kita di dunia bukan dengan ketakutan akan garis akhir yang tak kita ketahui, tapi dengan sukacita bahwa segala jerih lelah dan perjuangan kita di masa-masa kita masih bisa bernafas akan mengantar kita pada tujuan yang mulia.

Kita tidak pernah tahu bilamana kematian itu akan datang. Usia muda, tubuh yang sehat, kekayaan yang berlimpah, karier yang cemerlang, semua itu tidak akan menghindarkan kita dari kepastian bahwa kehidupan di dunia akan berakhir.

Namun, kita dapat bersukacita dan bersemangat menjalani hidup, karena bersama dengan Tuhan Yesus, segala jerih lelah kita tidak akan sia-sia (1 Korintus 15:58).

Tugas kita saat ini adalah menyelesaikan setiap tanggung jawab yang diberikan-Nya dengan sebaik mungkin (Lukas 16:10), agar kelak ketika perjalanan ragawi kita paripurna, kita menyambutnya laksana seorang pemenang yang mengakhiri pertempuran dengan baik, yang telah memelihara iman sampai kepada garis akhir (2 Timotius 4:7).

2 Alasan Mengapa Kita Tidak Boleh Menganggap Remeh Waktu Tidur

Oleh Edwin Petrus, Malang

Beberapa waktu lalu, aku bertemu dengan seorang teman lama. Dia membawa serta istri dan anaknya yang berusia satu tahunan. Di pertemuan itu, ada satu hal yang menarik perhatianku. Kulihat anak temanku itu dengan gampangnya tertidur ketika sudah dipeluk mamanya. Padahal, beberapa menit sebelumnya, dia masih begitu lincah jalan ke sana-sini.

“Kayaknya dia sudah capek,” gumamku dalam hati. Aku dan orang tuanya pun lelah karena mengejar-ngejar dia, takut apabila dia jatuh. Memandang ekspresinya tidur, aku yakin sekali kalau tidurnya tenang dan nyenyak. Rasanya tidak ada ketakutan sama sekali; yang ada hanyalah rasa aman dan hangat.

Aku jadi bertanya, apakah orang-orang dewasa juga bisa menikmati indahnya tidur seperti si balita itu?

Jawabannya adalah: iya. Tidur adalah kebutuhan manusia dan Allah peduli dengan urusan tidur kita. Tidur adalah anugerah yang disediakan Allah bagi anak-anak-Nya.

Lewat tulisan ini, aku mau membagikan dua refleksiku tentang tidur menurut kata Alkitab:

1. Tidur memberi tubuh kita waktu untuk beristirahat

Dunia yang tak pernah tertidur selama 24 jam memang bisa membuat kita terjebak pada keinginan untuk selalu terjaga. Walaupun langit sudah gelap dan orang-orang sudah pulang ke rumah, tapi gawai yang kita genggam bisa menyediakan segala hiburan yang kita butuhkan 24 jam sehari, 7 jam seminggu; seakan dunia menuntut kita untuk terus beraktivitas dan tidur menjadi suatu hal yang dipandang tidak produktif.

Namun, Allah tidak mendesain tubuh manusia untuk beraktivitas tanpa beristirahat. Pemazmur berkata: “Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah—sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur” (Mazmur 127:2). Allah memberikan kita waktu untuk tidur, tapi itu akan jadi sia-sia jika kita tidak memanfaatkannya dengan baik. Di waktu kita tidur, Dia memberkati kita.

Di Amerika Serikat pada tahun 1963 pernah dilakukan sebuah riset untuk menguji seberapa lama seorang manusia dapat terjaga tanpa tidur. Seorang bernama Randy Gardner memang berhasil memecahkan rekor dunia dengan tidak tidur selama 11 hari 25 menit. Akan tetapi, selama masa penelitian itu terbukti bahwa kondisi tubuh Randy semakin hari semakin menurun. Awalnya dia sangat bersemangat, tapi setelah hari keempat, dia mulai berhalusinasi, daya ingatnya memburuk, suaranya tidak jelas, dan juga mengalami paranoia.

Kawan-kawan, tidur adalah anugerah Tuhan buat setiap kita. Tuhan tidak ingin kita menjadi manusia pekerja yang terus bekerja tanpa beristirahat. Namun, betapa seringnya kita menolak anugerah itu. Kita tahu tubuh kita sudah capek. Tapi, kita beri asupan kafein biar kita tetap segar. Kita bilang “Sebentar lagi ya baru tidur, tanggung ini; Aku selesaikan dulu tugas yang ini; Aku habisin dulu drama yang satu ini; Aku menangin dulu game yang ini”.

Tubuh kita perlu tidur. Di saat tidur, sel-sel tubuh kita yang rusak akan dipulihkan. Kondisi fisik kita yang lemah akan disegarkan kembali. Dengan tidur yang cukup, kita pun dapat terus menjaga kesehatan tubuh kita dan terhindar dari banyak penyakit. Bukankah dengan tubuh yang sehat kita bisa berkarya lebih maksimal bagi Tuhan?

Jadi, jangan anggap remeh waktu tidur. Di saat kita harus bekerja, berjuanglah dengan sekuat tenagamu dan di waktu kita harus tidur, nikmatilah waktu untuk mengisi kembali energi tubuh kita. Inilah gaya anak Kristen yang memuliakan Tuhan. Mari, kita belajar menikmati anugerah Tuhan lewat waktu tidur.

2. Tidur menandakan kebergantungan kita sepenuhnya pada Tuhan

Di awal tulisan ini aku menceritakan bagaimana anak temanku bisa tertidur pulas tanpa rasa takut karena dia yakin bahwa di dalam pelukan mamanya, dia mendapatkan keamanan yang dia butuhkan. Demikian pula yang dikatakan oleh raja Daud: “Aku membaringkan diri, lalu tidur (Mazmur 3:6a)”, bukan pada saat dia akan segera tidur di kamar istananya yang nyaman dan disertai dengan penjagaan yang ketat dari pasukan bersenjata lengkap. Namun, ketika dia sedang berada di suatu tempat persembunyian dan dikepung oleh puluhan ribu orang yang siap menyerang dia kapan saja (Mazmur 3:1,7).

Aku membayangkan bagaimana Daud bisa mengatakan kalau dia bisa tidur dengan tenang; entah di mana dia membaringkan diri, tidak ada kasur yang empuk, dan pastinya ada musuh yang siap menghabisi nyawanya. Masih segar di ingatanku, ketika gempa bermagnitudo 6,1 SR yang berpusat di bagian selatan Kabupaten Malang menggetarkan wilayah Jawa Timur pada 10 April 2021. Lokasiku memang masih jauh dari pusat gempa, tapi info-info mengenai akan adanya gempa susulan membuat aku takut untuk memejamkan mata dan tidur pada malam itu.

Kita memang tidak bisa tahu apapun yang bakal akan terjadi ketika kita tidur. Bisa saja terjadi bencana alam, kebakaran, kemalingan, dan segala kemungkinan yang terburuk pasti ada. Namun, ketika kita memilih untuk tidur, kita sedang menunjukkan bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan tidak berdaya. Kita tidak bisa terus terjaga untuk menjaga diri kita maupun orang lain. Kita membutuhkan Seorang Pribadi yang lebih berkuasa untuk menjaga seluruh hidup kita.

Inilah yang diungkapkan oleh raja Daud. Dia menyerahkan seluruh hidup-Nya kepada Allah yang adalah penopangnya (Mazmur 3:6b). Daud percaya bahwa bersama-sama dengan Allah, dia selalu menemukan keamanan itu. Daud yakin bahwa perisai Allah siap membungkusnya dan melindungi dirinya dari tombak dan panah musuh-musuhnya. Keesokan harinya, ketika dia bangun, dia pun masih dapat menemukan dirinya tetap aman di dalam dekapan Tuhan. Daud juga mengatakan: “Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.” (Mazmur 4:9).

Kita bisa menikmati anugerah Tuhan di waktu tidur yang dinikmati oleh Daud. Aku pun telah merasakannya. Setiap kali, ketika menaikkan doa sebelum tidur, aku sering teringat dengan Mazmur 121:3b-4 yang berkata: “Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel.” Aku sering menaikkan syukurku karena aku tahu Sang Penjaga Israel adalah penjaga dan pemelihara waktu tidurku. Ketika mataku sudah tertutup dan aku tidak berdaya, aku tidak perlu takut karena aku tetap aman di dalam Tuhan. Aku bisa dengan tenang membaringkan diri dan tidur.

Kawan, apa yang sering menghalangimu untuk bisa memejamkan mata dan tidur? Pikiran-pikiran seperti apa yang menganggumu untuk bisa masuk ke dalam mode tidur?

Kawan, ketahuilah kalau Allah itu Imanuel, Dia selalu beserta dengan kita dan tidak pernah meninggalkan kita. Kita adalah orang-orang yang dikasihi oleh-Nya. Dia pun telah mati untuk menyelesaikan permasalahan terbesar di dalam hidup kita, yaitu dosa. Karya salib Yesus menunjukkan bahwa Dia peduli dengan setiap kita. Kalau begitu, ada masalah apa lagi yang tidak bisa diselesaikan oleh Allah?

Mari, berdoalah sebelum tidur dengan kepasrahan di hadapan Tuhan dan yakinlah kalau Tuhan akan menyingkirkan semua hal yang menganggumu untuk dapat tidur dengan tenang.

Datanglah kepada-Nya dan nikmatilah anugerah yang indah untuk bisa tidur di dalam dekapan Allah.

3 Masalah Ketika Identitas Kita Ditentukan dari Pekerjaan yang Kita Lakukan

Oleh Andrew Laird
Artikel asli dalam bahasa Inggris: 3 Problems When We Tie Our Identity To Our Work

Pertanyaan apa yang biasanya kamu tanyakan ketika bertemu dengan seseorang pertama kali? Kutebak sih, biasanya setelah bertanya nama, satu pertanyaan yang mungkin muncul adalah, “Kamu kerja apa?” 

Tapi, pernahkah kamu cermati bagaimana respons dari orang-orang? Biasanya, jawabannya bukan “Aku kerja sebagai pengacara,” tapi “Aku pengacara”. Kita hidup di dunia yang berpikir, “Aku adalah apa yang aku lakukan”, di mana identitas kita terikat pada apa yang kita kerjakan. 

Pemikiran ini mungkin rasanya cuma hal kecil, tapi setidaknya ada tiga masalah yang muncul dari pemikiran ini yang bisa berdampak hebat buat kita. 

Apa saja masalahnya? Dan yang lebih penting, apa solusinya?

  1. Itu membawa konsekuensi negatif dari individualisme

Titik awal dari pemikiran kalau “Aku adalah apa yang aku lakukan” adalah ciri khas dari budaya yang dibentuk oleh individualisme yang berkembang di Barat. 

Salah satu cara untuk mendefinisikan individualisme adalah dengan memikirkan diri sendiri, “diri sendiri adalah tujuannya.”[1]. Siapakah aku itu dimulai dan diakhiri olehku. Aku membentuk takdirku. Aku membentuk diriku. Generasi di atas kita mendefinisikan diri mereka dalam hubungan dengan komunitas mereka. Tapi, dalam konsep individualisme Barat, akulah yang membentuk identitasku sendiri. Nilai-nilai diriku ditentukan dari apa yang mampu aku raih dan selesaikan.

Apa artinya ini bagi pekerjaan kita? Itu menjadi identitas kita. Kalau pekerjaan kita bagus, tentu ini tidak jadi masalah. Tapi, ketika pekerjaan kita mengalami kemunduran, melekatkan nilai diri kita pada apa yang kita kerjakan menjadi beban yang menghancurkan diri kita. 

  1. Itu adalah cara hidup yang menghancurkan 

James Suzman dalam bukunya, Work: A History of How We Spend Our Time [2], menuliskan kisah pilu dari Prof. Vere Gordon Childe, seorang arkeolog yang mengakhiri hidupnya sendiri ketika dia menyimpulkan bahwa dia tidak memiliki “kontribusi lebih yang berguna” di pekerjaannya.

Tapi, bukan cuma Profesor Childe yang berpikir begitu. Ada kaitan yang tragis antara kekecewaan, kegagalan dalam kerja, pensiun, dan bunuh diri. Ketika pekerjaan menjadi nilai diri kita, itu akan menghancurkan kita ketika pekerjaan itu mengecewakan. 

Beban yang kita tempatkan pada diri sendiri ini dapat kita lihat dalam berbagai situasi. Aku ingat pernah menerima email dari seorang wanita yang sakit selama beberapa waktu. Isi emailnya terdapat kalimat, “Aku tidak berguna”, karena dia tidak bisa melakukan apa yang diminta, lantas dia menganggap dirinya tak berguna. 

Namun, jika seandainya yang terjadi sebaliknya—pekerjaan kita berjalan baik, yang ada malah membuat kita menjadi berbangga diri. Jika aku adalah tujuan dari hidupku sendiri, maka setiap sukses yang kuraih adalah suksesku sendiri. Kebanggaan yang berlebih akan membawa masalah sendiri. 

Timothy Keller merangkum dua bahaya yang bercabang dari meletakkan nilai diri kita pada pekerjaan: “Ketika pekerjaan adalah identitas kita, kesuksesan akan masuk ke kepalamu dan kegagalan akan masuk ke hatimu.” [3]. “Aku adalah apa yang kulakukan” adalah cara hidup yang menghancurkan.

  1. Meletakkan nilai diri kita pada komunitas, ini juga bukan solusi

Kita mungkin berpikir konsep individualisme ini begitu destruktif, jadi sepertinya melihat diri kita dengan cara pandang yang lebih komunal (kita meletakkan identitas kita pada keluarga atau komunitas yang jadi bagian kita) adalah solusinya. 

Dalam bukunya yang berjudul Selfie, Will Storr menelusuri akar individualisme Barat dan budaya komunal atau kebersamaan yang biasanya hadir dalam budaya Asia. Dia merangkum, “Diri orang-orang Asia itu meleleh [membaur] ke dalam diri orang-orang lain yang mengelilinginya.” Jadi, ketika bicara soal pekerjaan, tidaklah asing untuk mendefinisikan diri dalam kaitan dengan perusahaan atau tempat bekerja.” Contohnya, Will bertemu dengan seorang pria di Jepang yang mengenalkan dirinya bukan sebagai “David”, tapi “David yang kerja di Sony.” 

Identitas yang diletakkan pada korporat bukan pula jadi solusi. Angka bunuh diri di Asia Timur itu tinggi. Kenapa? Karena di budaya Asia, jika kamu gagal, maka kelompokmu juga gagal. Storr kembali menjelaskan, “Ketika satu individu mengakhiri hidupnya sendiri, kehormatan akan dikembalikan ke kelompoknya… seorang CEO yang bunuh diri terdengar masuk akal bagi orang-orang Jepang” [4]. 

Hanya Yesus jawabannya

Jadi, ketika individualisme Barat atau konsep komunalisme tidak bisa jadi solusi, ke mana kita harus berpaling? Hanya Injil yang membebaskan kita dari beban “aku adalah apa yang kulakukan”. Kebebasan itu tidak dimulai dari identitas kita, tapi dari identitas Yesus. 

Satu hal yang luar biasa, kebenaran mendasar dari iman Kristen adalah siapa yang “di dalam Kristus” mendapatkan identitas-Nya. Identitas Kristus adalah identitas kita. Kebenaran-Nya adalah kebenaran kita. Memahami identitas kita dimulai dengan memahami identitas Kristus. 

Seperti apakah identitas-Nya itu? Allah Bapa berkata ketika Kristus dibaptis, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17). Ketika Bapa melihat Anak, keputusan-Nya adalah kasih dan sukacita. Dan, itulah ketetapan yang Allah berikan untukmu, bagi setiap orang yang ada di dalam Kristus. Prestasi dan pencapaian kita bukanlah sumber identitas kita. Status dan identitas kita dianugerahkan dari Seseorang di luar kita [5]. 

Apakah kamu melihat perubahan revolusioner yang dibawa dari konsep ini kepada caramu memandang pekerjaan dan dirimu sendiri? Dengan percaya diri yang teguh dalam Kristus, pekerjaan kita tidak lagi menjadi sumber identitas, tapi menjadi ekspresi dari identitas kita. Menghidupi kepercayaan dari kasih dan anugerah Allah, alih-alih berupaya keras melakukan pembuktian kepada orang lain, kamu menjadikan pekerjaanmu sebagai ladang untuk menunjukkan identitasmu dalam Kristus. Inilah perubahan radikal yang dibawa oleh Injil dalam kehidupan dan pekerjaan kita. 

Apa salah satu cara praktis agar kita dapat mengubah cara pandang yang salah dan menerima identitas yang kita miliki dalam Kristus?

Kita bisa memulai dengan bertanya, “Bagaimana aku merespons ketika pekerjaanku dikritisi?” 

Tidak ada kritik yang menyenangkan, tapi dari kritik ini kita bisa melihat bagaimana cara pandang kita. Jika kritik itu membuat kita merasa gagal dan kalah, atau kritik itu membangkitkan amarah dan kita mencari cara untuk membela diri, bisa jadi itu petunjuk kalau kita mengaitkan identitas kita pada apa yang kita kerjakan (kadang kritik itu tidak cuma mengkritik pekerjaannya, tapi orangnya juga). Mengetahui bagaimana kita merespons dapat menolong kita untuk berhenti dan memikirkan ulang di mana kita meletakkan identtias kita. Jika kita meletakkannya pada tempat yang salah, perbaikilah itu dengan meletakkannya pada Kristus. 

 

Catatan kaki:

[1] LucFerry, A Brief History of Thoughts, 122

[2] James Suzman, A Work History on How We Spend Our Time, 177

[3] twitter.com/timkellernyc/status/510539614818680832

[4] Will Store, How the West Become Self-Obsessed, 81

[5] Dikutip dari course bertema “I Am What I Do? A Theology of Work and Personal Identity”.

Memikirkan Kembali Konsep yang Kita Sebut Sebagai “Good-Looking”

Oleh Fandri Entiman Nae, Kotamobagu

“Cantik itu relatif…” 

Mungkin kamu pernah mendengar kalimat di atas. Biasanya kalimat itu muncul sebagai candaan ketika teman-teman sebaya mengobrol soal penampilan fisik. Memang, kecantikan setiap orang itu tidak bisa dipukul rata, tapi kita pun tak menampik bahwa di dunia ini ada banyak sekali orang berlomba-lomba untuk mempercantik diri dan memamerkannya dengan bangga. 

Ada beberapa temanku yang tak keberatan untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi mengubah bentuk dagu dan alisnya. Sebagian dari mereka bertindak lebih jauh dengan melakukan operasi plastik pada area-area yang menurutku sangat berisiko. Mereka—mungkin juga orang-orang lain—ingin memiliki kecantikan yang sesuai dengan standar yang mereka anut. Di satu sisi ada orang yang ingin kulitnya putih seputih kapas hingga dia rela menyuntik obat, sedangkan yang lainnya ingin kulitnya lebih gelap agar disebut eksotis dan dia pun rajin berjemur di bawah sinar matahari. Dari pemaparan sederhana ini, kurasa aku bisa berkata kalau kita semua ingin agar terlihat “good-looking”, atau istilah sederhananya: menarik. 

Namun, standar apakah yang bisa disebut sebagai ‘menarik’? 

Manusia memiliki selera yang amat beragam, sehingga mendefinisikan cantik dan tampan adalah hal yang tidak enteng. Aku pernah melakukan survei sederhana. Kuberikan 10 nama aktor Korea Selatan yang terkenal kepada remaja wanita pecinta drakor, lalu kuminta mereka menyebutkan satu yang paling mereka anggap tampan. Hasilnya: adu argumentasi yang rasa-rasanya tak kalah sengit dengan debat politik. 

Dalam tulisan ini bukan maksudku menjatuhkan pihak-pihak tertentu. Sekali lagi tulisan ini kutulis untuk mengingatkan bahwa selera kita terhadap apa yang mata kita lihat itu berbeda-beda. Itu sebabnya beberapa perdebatan tentang cantik atau tidak cantiknya seseorang tidak memiliki pijakan yang jelas, dan bahaya yang nyata yang sedang mengintai dari aktivitas seperti ini adalah: sikap insecure

Iblis bekerja dengan berbagai cara, bahkan cara-cara yang tidak kita sadari. Dia dapat mengelabui pikiran kita. Oleh karenanya, Alkitab menasihati kita agar kita berubah oleh pembaharuan budi kita, supaya kita dapat membedakan mana yang baik, yang berkenan pada Allah (Roma 12:2). 

Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, dan apa yang Allah ciptakan itu baik adanya. Tetapi, ‘baik adanya’ itu tereduksi oleh keinginan kita untuk melihat apa yang sesuai dengan preferensi visual kita semata. Semisal, pada orang-orang dari belahan bumi bagian timur, terkhusus Asia, cantik itu digambarkan apabila seseorang berkulit terang atau putih. Oleh karenanya, berbagai produk kecantikan pun menawarkan iklan yang meskipun tujuannya untuk promosi, malah ikut melanggengkan persepsi ini. Aku ingat ada iklan body-lotion yang mengatakan kalau “cantik itu putih.”

Sejenak kuberpikir, “Oh, jadi maksudnya jika kulit kita agak gelap, maka kita tidak cantik?” 

Kalimat ini kurasa keliru. Mengatakan ‘putih itu cantik’ dan ‘cantik itu putih’ menghasilkan dua pemahaman yang jauh berbeda. Berkata bahwa ‘putih itu cantik’ tetap membuka kemungkinan bahwa warna lain juga bisa dibilang cantik. Tetapi berkata bahwa “cantik itu putih” berimplikasi sangat kuat untuk menganggap warna lain tidak masuk dalam kategori ini, seakan-akan putih sajalah cantik itu.

Setiap perusahan memang harus mengiklankan produknya dengan sebaik-baiknya, dan tentu saja kita tidak boleh menggeneralisasi semua iklan dan produk yang ada. Produk-produk tersebut pada dasarnya dapat bermanfaat bagi kita. Tetapi, setiap orang Kristen juga harus bisa melihat bahaya serius yang dapat ditimbulkan tanpa fondasi pemikiran yang kokoh dari Alkitab. Kita harus terus-menerus mengingatkan siapa diri kita di mata Allah. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya (Kejadian 1:26-27). Bahkan tubuh kita adalah tempat Allah berdiam (1 Korintus 3:16). Kita adalah “mahakarya” Allah yang bagi kita Dia rela mengambil rupa sama seperti kita dan terbunuh di Kalvari untuk keselamatan kita. 

Memang tidak bisa dipungkiri ada banyak dari kita yang tidak menyukai bagian-bagian tertentu dari tubuh kita dan bermaksud “memperbaikinya”. Merupakan suatu hal yang positif jika kita mau menjaga dan merawat tubuh kita dengan baik, tetapi yang terutama jangan pernah lupa bahwa tubuh kita bukan milik kita sendiri, melainkan milik Allah (1 Korintus 6:19-20). Jadi jika kita mau merawat tubuh kita, rawatlah itu untuk Pemilik yang sesungguhnya. Pakailah untuk kemuliaan-Nya.  

Mungkin saja ada bagian-bagian tertentu yang bisa kita ubah, tetapi mungkin karena berbagai faktor ada bagian tertentu yang sulit bahkan tidak bisa sama sekali untuk kita sentuh. Barangkali kita memiliki cacat fisik yang serius, mungkin sejak lahir, atau mungkin saja karena kecelakaan. Dan mungkin itu telah membatasi kita dalam banyak sekali hal. Aku berdoa bagimu dan tanpa bermaksud mengecilkan pergumulanmu, aku ingin berkata:

“Bersyukurlah karena kamu indah di mata-Nya…”

“Dia yang membentuk buah pinggangmu, menenun kamu dalam kandungan ibumu” (Maz 139:13)

“Dia mencintaimu, berkorban bagimu” (Yohanes 3:16)

“Dia akan memberikanmu tubuh yang baru” (1 Korintus 15:35-57)

Dalam khotbahnya di salah satu negara di Asia Tenggara, seorang penginjil tanpa tangan dan kaki bernama Nick Vuljicic berkata pada para pendengarnya, “Ketika aku sampai di surga dan menjumpai kalian, aku akan berlari ke arahmu dengan kakiku yang baru, dan memelukmu dengan tanganku yang baru”.