Mencukupkan Diri

Oleh: Rio Susanto

merasa-cukup

Dalam menjalani hidup, setiap orang pasti memiliki yang namanya kebutuhan dan keinginan. Jujur saja sebagai orang muda, aku sendiri seringkali sulit mengontrol keinginan. Banyak hal yang begitu menggoda untuk dimiliki. Pernahkah kamu juga mengalaminya?

Contoh kasus nih. Orangtuamu mempercayakan sejumlah uang saku untuk memenuhi kebutuhan hidupmu tiap bulan. Pada awal bulan kamu melihat gadget yang sudah lama kamu inginkan. Gadget itu mahal tetapi disertai diskon dan terbatas jumlahnya. Kamu jadi tambah ingin membelinya sekarang juga, meski kamu tahu kalau kamu membelinya, uang sakumu akan tersisa sedikit dan pasti tidak cukup sampai akhir bulan. Apakah kamu akan nekat membelinya? Bukan tak mungkin dalam situasi semacam itu kita jadi galau dan akhirnya berkata, “Kapan lagi mendapat gadget idaman dengan harga yang murah, edisinya terbatas lagi. Soal uang bulanan kurang, ya dipikirin nanti-nanti aja.” Kita tidak bisa mengontrol keinginan kita. Sebaliknya, keinginan itulah yang mengontrol kita.

Rasul Yakobus mengingatkan kita, “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.(Yakobus 1:14-15)”. Kita perlu menguji keinginan kita, karena bisa jadi keinginan itu membawa kita kepada perbuatan-perbuatan yang berdosa.

Lalu apakah salah bila kita menginginkan sesuatu? Haruskah kita berusaha meniadakan keinginan? Tentu saja tidak. Tuhan sendiri yang menciptakan kita untuk dapat menginginkan Dia dan segala yang baik dari-Nya. Namun, agar tidak dikendalikan oleh berbagai macam keinginan, serta dapat mengelola uang yang dipercayakan kepada kita dengan baik, setidaknya ada dua hal yang aku pelajari dari Alkitab:

1. Kita perlu menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan.

Termasuk uang kita. Jika kita diberi uang dari orang tua setiap bulan, bukankah Tuhan juga yang telah memberkati usaha mereka sehingga dapat mencukupi kebutuhan kita? Jika kita sudah bekerja dan mendapat uang atas kerja keras kita pun, bukankah Tuhan juga yang mengaruniakan kita kesehatan dan hikmat untuk bisa bekerja?

Raja Daud pun tidak berbangga diri atas semua aset kerajaan-Nya. Ia menulis, “…kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan; dalam tangan-Mulah kuasa membesarkan dan mengokohkan segala-galanya.” (1 Tawarikh 12:29).

Ketika menyadari bahwa apa yang kita punya adalah miliki Tuhan, termasuk uang kita, kita tidak akan sembarangan menggunakannya. Kita harus mengelola apa yang Tuhan percayakan sebaik mungkin untuk memuliakan-Nya.

2. Kita perlu belajar mencukupkan diri

Mencukupkan diri adalah rahasia Rasul Paulus untuk tetap bersukacita ketika ia didera banyak kesulitan bahkan harus menghabiskan hari-harinya dalam penjara. Ia menulis dalam Filipi 4:11-13:

Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan … Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.

Kata “mencukupkan diri” dalam bahasa aslinya berarti memiliki segala sesuatu yang dibutuhkan. Paulus tidak sedang membanggakan diri, juga tidak sedang menghibur diri. Ia dapat merasa cukup dalam segala keadaan di dalam Tuhan yang memberi kekuatan kepadanya. Mencukupkan diri bukanlah hal yang mudah. Paulus sendiripun perlu sebuah proses “belajar” dalam hal ini.

Seperti Paulus, kita juga bisa belajar mencukupkan diri. Mulailah dengan meminta hikmat Tuhan dalam membedakan manakah kebutuhan yang harus dipenuhi, dan mana keinginan yang harus belajar kita kendalikan. Buatlah perencanaan dalam penggunaan uang kita, mana kebutuhan yang harus diprioritaskan, mana keinginan yang sebaiknya ditunda. Sebelum membeli sesuatu, pertimbangkanlah seberapa besar manfaatnya. Jangan sampai kita membeli sesuatu hanya karena ingin pamer, ingin dianggap gaul dan mengikuti tren yang ada. Penilaian manusia hanya sementara. Namun penilaian Sang Pemilik harta kita, itulah yang jauh lebih berarti. Kelak kita harus mempertanggungjawabkan cara kita menggunakan harta milik kita di hadapan-Nya. Mari kita gunakan dengan bijak!

Pentingnya Mengelola Uang

dari artikel Our Daily Journey: Money Matters
diterjemahkan oleh: Rio Susanto

mengelola-uang

Belum lama ini aku mengecek saldo tabunganku di bank. Jumlahnya tidak menggembirakan. Aku jadi berpikir bagaimana caranya agar uangku dapat bertambah. Di pertengahan usia 30-an, bukankah sudah seharusnya aku memiliki simpanan yang cukup untuk situasi tidak terduga? Pikiran berikutnya yang terlintas adalah: “Hmm… mungkin aku harus memotong jumlah uang persembahanku”.

Dalam perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur (Lukas 16:1-4), hal yang paling mengejutkan adalah ketika sang tuan, yang hartanya telah dihamburkan oleh si bendahara, justru memuji bendahara itu. Mengapa sang tuan sampai memuji pelayannya yang tidak jujur (ayat 8)? Jelas bukan karena bendahara itu melakukan sesuatu yang menguntungkan tuannya dan bukan karena tindakannya dapat dibenarkan. Bendahara itu dipuji semata-mata karena kecerdikan yang ia tunjukkan.

Dalam bahasa Yunani, kata yang diterjemahkan “cerdik” berarti “bertindak dengan penuh antisipasi”. Dengan kata lain, bendahara itu dipuji karena ia cepat bertindak untuk mengamankan dirinya di masa depan.

Sama seperti bendahara yang cerdik itu, kita juga adalah orang-orang yang dipercaya untuk melayani. Allah memercayakan sejumlah sumber daya untuk kita kelola. Apakah kita menggunakannya dengan bijaksana untuk hal-hal yang kelak akan tetap bernilai dalam masa depan kekal kita? Salah satu hal yang dapat kita lakukan adalah “mengikat persahabatan” dengan orang-orang yang akan berterimakasih saat menjumpai kita di surga (ayat 9). Misalnya saja, kita dapat menggunakan uang kita untuk membelikan orang Alkitab, ikut membiayai penggalian sumur bagi mereka yang kekurangan air, atau mendukung kebutuhan seorang misionaris.

Tuhan Yesus melanjutkan pengajaran-Nya tentang uang dalam ayat 10-14. Bendahara yang tidak jujur itu bukanlah contoh yang patut ditiru. Kita seharusnya menjadi hamba-hamba yang setia (ayat 10-12). Mamon atau uang tidak pernah boleh menggantikan posisi Tuhan. Kita harus mengabdi hanya kepada Tuhan (ayat 13-14).

Kiranya kita menjadi hamba-hamba yang cerdik sekaligus setia dalam mengelola simpanan, pengeluaran, dan investasi kita. Hudson Taylor mengingatkan kita, “Perkara kecil adalah perkara kecil; namun kesetiaan dalam perkara kecil adalah perkara besar.”

Nikmat yang Sementara

Oleh: Kristyanto Utomo

nikmat-mana

Pernahkah kita berpikir, “Kok enak banget ya hidup orang itu? Hidupnya cuma foya-foya, dugem, main cewek… sedangkan aku yang berusaha hidup kudus dan dekat dengan Tuhan tidak bisa merasakan nikmatnya dunia. Aku malah terkekang dengan banyaknya peraturan. Sepertinya sia-sia saja aku hidup menjaga kekudusan”.

Mungkin banyak dari kita, anak-anak Tuhan merasa iri dengan teman-teman kita yang bisa melakukan apa saja yang mereka sukai. Rasanya, hidup dalam kedagingan itu lebih enak daripada hidup menurut roh. Pemikiran semacam ini kemudian membuat sebagian anak Tuhan mulai meninggalkan persekutuan dengan Tuhan.

Tapi, kesenangan macam apa yang sebenarnya bisa diperoleh dari hidup yang demikian? Bukankah kesenangan yang sementara saja? Bahkan, kita akan diperbudak oleh keinginan daging kita dan kehilangan kesempatan untuk menikmati hal-hal yang jauh lebih indah dan mulia yang disediakan Tuhan.

Teman, ingatlah bahwa kehidupan kita tidak hanya berhenti di Bumi. Masih ada kehidupan yang jauh lebih panjang daripada hidup yang sekarang, entah itu di Surga atau di Neraka. Orang yang hidup dalam kedagingan, kelihatannya bersenang-senang di Bumi, tetapi pada akhirnya mereka tidak dapat menikmati sukacita terbesar dalam kerajaan Allah (Galatia 5:19-21). Sebaliknya, ketika kita memberi diri dipimpin oleh Roh, kita sesungguhnya sedang mengarahkan pandangan kita pada kesenangan yang jauh lebih besar dan dapat dinikmati selama-lamanya.

Dalam kenyataannya, menjalankan komitmen untuk mengikuti pimpinan roh di dalam dunia ini tidaklah mudah. Apalagi ketika semua orang di sekitar kita tampaknya asyik-asyik saja hidup sesuka hati. Orang seperti Rasul Paulus pun bergumul hebat. Ia tahu bahwa peraturan Tuhan itu lebih baik, tapi seringkali keinginan dagingnya terlampau kuat (lihat Roma 7:22-25). Betapa kita tidak dapat mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi harus terus bergantung kepada anugerah Tuhan di dalam Yesus Kristus.

Maukah kita berkomitmen untuk hidup menurut tuntunan Roh? Kita mungkin akan jatuh bangun dalam prosesnya. Namun, yakinlah tidak ada yang sia-sia ketika kita mau mengikuti jalan Tuhan. Dia akan menyediakan kekuatan yang kita perlukan untuk bangkit kembali. Dan, di dalam anugerah-Nya, kita akan menikmati hal-hal yang jauh lebih indah dan mulia dibanding kesenangan sementara yang ditawarkan dunia ini.

Langit Biru

oleh Melody Tjan

langit  biru

KAWAN BUKAN LAWAN, SAY NO TO BULLYING. Kalau kamu dibully, jangan diam saja. Tetapi, jangan buru-buru melabel orang yang membully kamu itu sebagai musuh nan jahat. Kenali dia lebih dekat. Dia juga manusia yang punya masalah dan rasa takut, dia juga butuh kawan yang mau menerimanya. Begitu kira-kira pendekatan memutus rantai bullying yang ditawarkan dalam film Langit Biru. Unik. Menarik.

Ceritanya, slogan anti bullying ini dicetuskan oleh tiga sekawan: Biru (Ratnakanya Anissa Pinandita), Amanda (Baby Natalie), dan TomTim (Jeje Soekarno), setelah mereka melancarkan sebuah misi khusus untuk mengungkap kasus-kasus bullying di sekolah yang selama ini luput dari perhatian guru. Yang menjadi sasaran misi itu adalah Bruno (Cody McClendon), pemimpin geng yang suka mempermainkan orang lain. TomTim sendiri paling sering jadi korban bully dari gengnya Bruno karena keterbatasan intelektual yang pernah membuatnya tinggal kelas. Awalnya, ketiga sekawan yang dimotori Biru hanya bermaksud membalas dendam atas perbuatan Bruno dkk di hadapan para guru dan orangtua. Namun, fakta yang mereka temukan malah membawa mereka untuk melihat sisi lain dari kehidupan seorang Bruno dan mengubah cara mereka menyikapi isu bullying.

Langit Biru memang bukan film baru. Tapi, karya musikal keluaran akhir tahun 2011 ini tetap asyik jadi tontonan segala usia. Tampilannya boleh sarat gerak dan lagu, tetapi film ini tidak bertutur tentang sebuah cerita dari negeri dongeng. Sebaliknya, produser Nia Dinata dan timnya mengajak para penonton untuk berpikir dan mengambil sikap terhadap sebuah fenomena yang nyata-nyata terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Bullying. Meski bullying bisa dijumpai dalam berbagai lingkungan dan kelompok usia, konteks sekolah diangkat bukan tanpa alasan. Data penelitian dari berbagai sumber yang menunjukkan bahwa isu bullying sangat banyak dihadapi anak-anak usia sekolah memprihatinkan para penggagas film ini. Anak sulung sang produser bahkan termasuk korban bully yang sempat masuk geng tertentu agar tidak dibully lagi.

Bullying adalah isu yang nyata terjadi dalam masyarakat kita. Orang yang pernah jadi korban bully pun banyak yang kemudian menjadi pelaku bullying demi mendapatkan penerimaan teman-temannya. Sebuah siklus yang mengerikan! Sebagai para pengikut Kristus, kita tidak bisa diam saja, kita perlu mengambil sikap. Sebab itu, keterlibatan teman-teman dari beberapa lembaga Kristen dalam produksi film ini, patut diacungi jempol. Bagaimana kamu menyikapi bullying? Nonton bareng Langit Biru mungkin bisa menjadi awal yang menarik untuk memicu beragam inisiatif kreatif dalam memutus siklus bullying di komunitasmu… ^_^

Rilis: Tahun 2011
Sutradara: Lasja F.Susatyo
Produser: Nia Dinata, Hanna Carol
Pemain: Ari Wibowo, Ayu Shita, Baby Natalie, Becky Tumewu, Brandon de Angelo, Cody McClendon, Donna Harun, Jeje Soekarno, Ratnakanya Anissa Pinandita, Saykoji, Patton Idola Cilik, Yossi Project Pop
Genre: Musikal
Nominasi Grand Prix (Best Picture Award) di Osaka Asian Film Festival tahun 2012.

Kelemahan yang Menguntungkan

Oleh: Galang Mesya Fansy

a little bird in a strong hand

Nama saya Galang. Mahasiswa FKIP jurusan pendidikan MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) di sebuah perguruan tinggi negeri di Surakarta. Saya ingin membagikan kesaksian hidup saya berkaitan dengan bullying.

Orang yang lemah sering menjadi sasaran bullying. Direndahkan. Dihina. Dijadikan bulan-bulanan. Meski tiap orang di dunia ini pasti memiliki kelemahan, tidak ada orang yang suka terlihat lemah. Saya sendiri adalah orang yang memiliki banyak kelemahan. Salah satunya adalah gugup yang berlebihan. Ketika saya berbicara di depan umum atau ketika sedang menjadi pusat perhatian, tangan saya akan bergetar dan kening saya berkeringat dingin. Sampai sekarang saya merasa sangat terganggu dengan hal ini.

Suatu ketika, dalam jam praktikum di kampus, seorang asisten dosen menyuruh saya untuk memperagakan kembali apa yang telah ia demonstrasikan di depan kelas. Karena semua mata tertuju kepada saya, “penyakit” gugup itu langsung kambuh. Tangan saya yang sedang memegang cawan petri (salah satu peralatan laboratorium yang terbuat dari kaca) mengalami tremor (bergetar tanpa bisa dikendalikan karena emosi yang tidak stabil). Cawan petri tersebut ikut bergetar dan bergesekan dengan wadahnya, menghasilkan suara yang sangat jelas terdengar. Sontak teman-teman yang melihat langsung tertawa geli. Salah seorang teman lalu memanggil saya dengan sebutan “tremor”. Dia membuat saya sangat malu, meski mungkin niatnya hanya bercanda. Saya merasa berbeda dari teman-teman lain, yang ketika berada di depan umum tidak merasa gugup, atau paling tidak kegugupan mereka tidak tampak begitu jelas seperti kegugupan saya. Saya kecewa dengan apa yang saya alami. Saya terus meminta kepada Tuhan supaya kegugupan saya ini hilang.

Setelah kejadian tersebut saya mengambil waktu untuk berdua bersama Tuhan di dalam kamar. Saya mencurahkan segala isi hati dengan jujur kepada Tuhan. Saya kecewa, saya merasa malu, saya resah. Bagaimana mungkin seorang calon guru seperti saya adalah orang yang sangat mudah gugup ketika menjadi pusat perhatian? Bukankah keberadaan saya di FKIP ini tidak lepas dari rencana dan kedaulatan Tuhan? Tiba-tiba Tuhan mengingatkan saya tentang betapa besarnya Dia. Keraguan saya kepada-Nya adalah suatu kebodohan. Alkitab mencatat betapa orang-orang yang Tuhan pakai adalah mereka yang penuh dengan kelemahan. Tapi Tuhan memakai kelemahan mereka untuk menyatakan kemuliaan-Nya, supaya dunia melihat betapa besar dan hebatnya Dia!

Mungkin kamu juga mengalami hal serupa. Kelemahanmu membuat kamu tidak percaya diri. Teman-temanmu menertawakanmu. Ada juga yang mungkin bahkan sengaja membully kamu. Kiranya kesaksian saya menguatkanmu. Kelemahan-kelemahan yang Tuhan izinkan melekat pada diri kita dapat dipakai-Nya untuk membawa kita makin bergantung kepada-Nya. Kesadaran ini akan lebih sulit muncul ketika kita merasa segala sesuatu baik-baik saja. Dalam hal ini, kelemahan dapat dipandang sebagai hal yang menguntungkan karena membawa kita untuk makin dekat dengan Tuhan, makin mengandalkan Dia. Orang dapat melihat bahwa kita hidup bukan karena kekuatan yang kita miliki, tetapi karena kasih karunia Tuhan semata.

Kiranya Tuhan terus dipermuliakan di dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati.

Catatan Seorang Korban Bully

Oleh Lau Jue Hua, Singapore

Catatan Seorang Korban Bully

Jika kamu sedang ditindas atau dibully orang, aku sedikit banyak bisa memahami penderitaanmu. Aku juga ingin meminta maaf atas nama mereka yang telah menindasmu.

Aku sendiri pernah menjadi pelaku sekaligus korban bully. Tumbuh sebagai seorang anak yang aneh—gendut, berkacamata, dan tidak pernah merasa diterima di mana-mana—aku menjadi sasaran empuk bagi para bully. Tanpa kusadari, pengalaman dibully membuatku kemudian melampiaskan emosi negatif itu kepada orang lain.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengumbar pengalaman pahitku tetapi untuk membagikan pengharapan bagi kamu yang ada di tengah situasi serupa. Karena pernah menjadi pelaku sekaligus korban bully, aku bisa memahami masalah ini dari dua sisi dan dapat membagikan pengalamanku dalam mengatasinya. Sebagai tambahan, aku juga akan membagikan pandanganku sebagai seorang pengikut Kristus, dan menyarankan beberapa cara lain (yang dulu tidak terpikir olehku) untuk keluar dari masalah ini.

Salah satu caraku meresponi tindakan bully yang kualami adalah dengan menyerang orang lain secara fisik. Malu sekali rasanya mengingat tindakanku itu. Begitu melihat orang yang pernah kusakiti itu sebelas tahun kemudian, tak ayal aku berbalik dan segera lari menghindarinya. Meski lama tidak bertemu, aku tak bisa melupakan sosoknya, karena ia memiliki tangan yang cacat dan kaki yang timpang. Memalukan memang. Aku telah memukul seorang penderita cerebral palsy dan meninggalkannya seorang diri, menangis di tengah derai hujan.

Jika kamu adalah korban bullying dan tindakanku membuatmu muak—dengan tidak berperasaan aku telah menindas yang lemah—kumohon kamu tidak langsung menutup halaman web ini. Teruslah membaca kisahku ini sedikit lagi. Tanpa ingin membenarkan diri, aku ingin menjelaskan situasi di balik tindakanku. Well, aku pun telah dibully juga. Aku dipukul dan dikucilkan. Aku berusaha mengatasi rasa sakit hatiku dengan melampiaskannya kepada orang lain. Sebuah mekanisme pertahanan diri. Kecenderungan yang kadang-kadang masih kulakukan hingga sekarang.

Dengan menertawakan dan menghina kelemahan orang lain, aku merasa akhirnya bisa diterima sebagai bagian dari sebuah kelompok. Dengan mempermainkan dan merendahkan seorang anak yang cacat, aku bisa—paling tidak untuk sementara waktu—mengabaikan masalah-masalahku (kelebihan berat badan, penampilan yang buruk, dsb), dan merasa bisa mengendalikan orang lain.

Kupikir setelah lulus aku bisa lepas dari masalah bully ini, tetapi ternyata saat menginjak usia 15-16 tahun, aku harus sekelas lagi dengan orang-orang yang dulu menyakitiku.

Cara bully mereka sedikit berbeda sekarang, tidak lagi banyak menyerang secara fisik, tetapi secara mental. Sangat menyakitkan ketika mereka mengucilkan dan mengabaikan keberadaanku. Aku berupaya diterima dalam kelompok mereka dengan cara menunjukkan bahwa aku juga bisa mempermainkan orang lain. Upayaku membuat mereka lebih bersahabat, tetapi tidak menyelesaikan masalah.

Karena tidak punya banyak teman, aku akhirnya menyibukkan diri dengan bermain game. Ketika asyik bermain, untuk sesaat aku bisa melupakan kebencianku terhadap suasana di sekolah. Sungguh keputusan yang bodoh. Jika waktu bisa diputar kembali, betapa aku ingin menjalani masa-masa itu dengan cara yang berbeda.

Well, aku harap kamu sekarang bisa memahami, mengapa aku membully orang. Sebagaimana yang kujanjikan di awal tulisan, berikut ini aku coba mendaftarkan beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi bullying.

1. Membaca dan bermain.
Membaca memberiku banyak pencerahan. Pada saat itu, aku belum mengenal Kristus dan belum pernah membuka yang namanya Alkitab karena aku dibesarkan dengan kepercayaan lain. Jika aku sudah menjadi pengikut Kristus saat itu, tentu aku sudah membaca Alkitab. Syukurlah, ada sejumlah bacaan karya para penulis Kristen (seperti Enid Blyton, Roald Dahl, dan C.S.Lewis) yang menolongku melewati masa-masa sulit itu.

Saat ini teknologi komputer memungkinkan kita bermain sekaligus menjalin persahabatan secara online. Tentu saja, kita harus bijak dalam menggunakannya. Aku tidak menyarankan kamu menghabiskan sepanjang hari hanya untuk bermain komputer. Karena sifatnya yang menarik dan interaktif, komputer lebih berpotensi membuat kita kecanduan dibandingkan buku.

2. Berhentilah berupaya untuk diterima.
Mungkin nasihat ini tidak diperlukan oleh sebagian pembaca, namun aku tetap ingin menuliskannya untukmu: berhentilah berupaya untuk diterima. Aku telah berupaya keras untuk diterima dengan cara membully orang lain. Aku berusaha ikut melakukan apa yang dianggap “keren” oleh teman-temanku. Kami (atau setidaknya aku sendiri) tidak memiliki rasa aman dalam diri sehingga kami melakukan segala sesuatu yang dapat membuat kami bisa merasa diterima oleh orang lain. Memiliki banyak teman jauh lebih menyenangkan daripada hidup sendirian. Namun, meski kita semua memiliki kecenderungan alami untuk ingin dihargai orang lain, kita seharusnya tidak melakukan sesuatu yang jahat demi mendapat penghargaan orang. Kita harus menyelaraskan diri dengan kehendak Allah lebih daripada manusia. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu …” (Roma 12:2).

3. Terapkan kelemahlembutan.
Kamu mungkin pernah mendengar tentang memberikan pipi kiri ketika pipi kananmu ditampar orang (Lukas 6:9; Matius 5:39). Ayat-ayat ini tidak berbicara tentang membiarkan orang memperlakukan kita seenaknya, tetapi lebih tentang melepaskan hak kita untuk mengikut Yesus. Markus 8:34-35 berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.”

David Roper, seorang pendeta, suatu kali pernah menulis, “Kelemahlembutan bukanlah sebuah kelemahan, melainkan kekuatan dalam pengendalian diri. Roh yang lemah lembut mengatasi hati yang keras dan kehendak yang sulit dengan penuh kesabaran.” Kelemahlembutan adalah salah satu karakter Kristus. Dengan bala tentara malaikat-Nya, Kristus bisa melakukan apa pun yang Dia mau. Tetapi, bukannya menghajar para orang Farisi yang telah menyiksa dan mengolok-olok-Nya, Kristus memilih untuk tetap bersikap lemah lembut, mengendalikan kekuatan-Nya. Kelemahlembutan bukanlah sebuah kelemahan. Kita harus bisa membedakan kedua hal ini.

4. Ambillah sikap yang tegas bagi dirimu sendiri dan bagi kebenaran.
Poin ini mungkin tampak bertolak belakang dengan poin sebelumnya, namun izinkan aku menjelaskannya. Tuhan Yesus tidak memberikan pipi kiri-Nya kepada penjaga yang menampar-Nya karena tidak menjawab pertanyaan Imam Besar dengan “sikap yang seharusnya” (Yohanes 18:19-23). Dia justru bertanya kepada penjaga itu,”Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” Kita belajar dari Tuhan Yesus bahwa kita dapat bersikap tegas sekaligus tetap lemah lembut dalam menegur mereka yang memperlakukan kita dengan semena-mena.

5. Berbicaralah dengan orang yang memegang otoritas.
Mengambil sikap yang tegas bagi diri kita dan bagi kebenaran tidak berarti kita harus menyerang balik. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus tidak datang untuk mengutuk atau menghina orang-orang Farisi. Dia mengendalikan kekuatan-Nya, membela kebenaran tanpa menyakiti orang lain. Bagi orang yang menjadi korban bully, bawalah masalahmu kepada orang yang memegang otoritas.
Dalam Roma 13:3-4 Paulus memberitahu kita bahwa pemerintah (atau orang yang memegang otoritas) ditetapkan oleh Allah untuk “mendatangkan hukuman” kepada orang yang “berbuat jahat”.

6. Kasihilah mereka yang menyakitimu dan berdoalah bagi mereka.
Aku sengaja menuliskan ini paling akhir karena inilah nasihat yang sangat sering diberikan oleh sesama orang Kristen, sehingga terdengar klise dan kerap kehilangan maknanya. Aku juga sengaja menggabungkan kasih dan doa dalam poin ini.

Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu, berbuat baiklah kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27). Bersikap lemah lembut dan mengendalikan kekuatan kita ketika direndahkan orang lain sudah cukup sulit untuk dilakukan. Bagaimana bisa kita masih diminta untuk mengasihi musuh kita? Mustahil rasanya! Namun, setelah membaca kisahku tadi, aku berharap kamu bisa memahami bahwa para bully sebenarnya tidak seperti penampilan luar mereka. Mereka bukanlah orang-orang tanpa perasaan—atau bahkan sadis—sebagaimana yang kita pikirkan. Mereka adalah orang-orang yang berusaha mengatasi rasa sakit hati dengan cara yang keliru. Dan, tidak seperti aku atau kamu yang memiliki Kristus untuk membimbing hidup kita, mereka mungkin belum mengenal Kristus. Atau, jika mereka sudah mengenal-Nya, mereka mungkin tidak memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan-Nya. Kasihilah mereka, karena seperti kamu, mereka juga telah banyak terluka. Kasihilah musuhmu dengan berdoa bagi mereka (Matius 5:44), dan lihatlah bagaimana Tuhan berkarya!

Sumber: The Memoirs of a Bullied Child

*bully= pelaku bullying, orang dengan sengaja menyerang mereka yang lebih lemah, baik melalui tindakan fisik, perkataan, maupun sikap.

Konsumerisme: Demi Gaya Dan Saya

Oleh Elise Kartika

Kaum urban saat ini dimanjakan oleh berbagai promosi, baik di mall, toko online, dan di berbagai tempat lain. Jika dulu berbelanja identik dengan perempuan, maka persepsi itu sudah tidak zamannya lagi. Banyak laki-laki yang mengantri di toko gadget atau perlengkapan mobil. Kini, berbelanja bukan hal yang tabu bagi kaum laki-laki.

Midnight at the Mall

Dengan fasilitas yang memudahkan seperti kartu kredit, cicilan 0%, debit, voucher, dan lainnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk memiliki barang yang mereka dambakan. Tren saat ini di mall-mall besar adalah “Midnight Sale” atau “Obral Tengah Malam”. Harga barang–barang merk tertentu didiskon pada tengah malam. Barang yang diobral bisa hingga 70% dari harga normal. Tak pelak, siapapun akan tergoda untuk menghabiskan waktu dan uang demi barang-barang obralan tersebut––mulai dari kain seprai hingga komputer tablet. Maka tidak mengherankan jika banyak yang rela mengantri, berdesak-desakan demi potongan harga atas barang idaman.

What is Your “marshmallow”?

Ada sebuah penelitian di Amerika yang meneliti tingkah laku anak–anak dalam sebuah ruangan tertutup. Para peneliti kemudian menempatkan “marshmallow” (permen manis khas Amerika) dan juga makanan manis lainnya yang merupakan kesukaan mereka. Si peneliti meminta agar mereka menunggu 15 menit hingga ia kembali, dan jika mereka sabar menunggu, mereka akan diberi 2 marshmallow. Namun jika tidak, mereka hanya akan mendapatkan 1 marshmallow itu saja.

Ada yang tidak sabar menunggu dan melahap “marshmallow” mereka. Ada yang sabar sebentar namun tidak tahan lalu membuka permen mereka. Namun ada juga yang bersabar. Dalam bersabar ada yang menutup mata mereka, menendang–nendang meja, berbalik dan tidak melihat “marshmallow” miliknya, bahkan ada yang memilih tidur. Dan anak-anak ini diteliti hingga mereka dewasa. Rata-rata, anak-anak yang memiliki pengendalian diri menjadi lebih sukses dalam belajar, menjadi murid yang baik, dan berhasil dalam hidup mereka. Namun yang tidak sabar menunggu, ada yang menjadi pecandu narkoba, gagal dalam pelajaran, menjadi berandalan, dan lain-lain.

Kita perlu mengakui bahwa kita memiliki “marshmallow” tertentu dalam diri kita. Ada yang berupa barang–barang mahal seperti tas, sepatu, baju, kacamata. Ada pula yang berupa gadget, buku, peralatan rumah tangga, mobil, dan lain-lain. Itulah sebabnya kita perlu jeli mengenali “marshmallow” kita, yang menjadi kelemahan diri kita. Pembelanjaan yang terburu-buru kebanyakan diakhiri oleh penyesalan karena ternyata setelah sampai di rumah dan ketika melihat barang yang kita beli, kita menyadari bahwa barang tersebut ternyata tidak terlalu kita perlukan. Atau bahkan, kita sudah memilikinya. Dan penyesalan terbesar datang ketika kita melihat tagihan kartu kredit yang membengkak, sementara keperluan bulan ini belum kita sisihkan. Masih banyak cerita penyesalan yang diakibatkan oleh pembelanjaan impulsif. Pemikiran yang biasanya terlintas adalah “mumpung lagi obral”. Kita takut bahwa tidak akan ada lagi barang atau kesempatan seperti ini. Kita tidak mampu berpikir jika barang itu benar-benar kita perlukan atau tidak–yang hanya terpikirkan adalah barang ini tadinya mahal dan sekarang murah, dan kita sebenarnya berhemat. Namun benarkah berhemat? Membayar tagihan atau menyicil kartu kredit dengan membayar bunga, yang pada akhirnya berarti mengeluarkan uang yang lebih besar, bukannya berhemat.

Dikendalikan atau mengendalikan?

Berbelanja adalah seperti obat atau alkohol–dapat menyebabkan kecanduan. Keinginan untuk selalu memiliki lebih, baik lebih banyak maupun lebih mahal merupakan sebuah pergumulan yang harus kita atasi dengan berdoa, dan dalam kasus ekstrem, menemui konselor. Kita harus menanggalkan semua fasilitas yang memungkinkan kita untuk berbelanja dalam jumlah berlebihan. Seorang penulis buku dan konsultan keuangan, Lidgwina Hananto menulis dalam twitternya bahwa kartu kredit adalah alat pembayaran, bukan alat berhutang. Pola pikir orang–orang ketika menggunakan kartu kredit adalah dapat dibayarkan bulan berikutnya, sehingga mereka dapat menggunakannya sekarang dan memikirkan pembayarannya pada bulan berikutnya. Hal ini sangat berbahaya dan dapat memicu orang untuk berbelanja dengan boros, tanpa berpikir jernih. Normal saja jika sesekali kita memberikan hadiah kepada diri kita sendiri atas pencapaian, kerja keras, hadiah ulang tahun dengan membeli barang–barang yang kita sukai. Namun, kita harus ingat untuk membatasi frekuensi, rentang harga, dan untuk menyisihkan anggaran khusus.

Kita bukanlah pemilik harta kita, melainkan penatalayan yang diberi kepercayaan untuk mengelola harta (dalam hal ini penghasilan) yang Tuhan percayakan kepada kita. Kita harus dapat mengelola sedemikian rupa karena suatu hari kelak Tuhan akan meminta pertanggungjawaban kita. Jangan sampai kita dikendalikan nafsu kita untuk berbelanja, namun sebaliknya bersama Tuhan, kendalikan diri kita untuk berbelanja hal-hal yang kita perlukan. (ek)

Tulisan ini telah melalui proses penyuntingan oleh tim editorial warungsatekamu.org.