Yesus Sayang Semua, Aku Masih Berusaha, Kamu?

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

Yesus cinta semua anak, semua anak di dunia
Kuning, putih dan hitam, semua dicinta Tuhan
Yesus cinta semua anak di dunia

Siapa nih yang baca tulisan di atas sambil menyanyi atau bersenandung? Sebagian dari kita mungkin tahu judul lagu di atas saat kita berada di sekolah Minggu, yaitu “Yesus Cinta Semua Anak” atau judul aslinya, “Jesus Loves The Little Children”. Kita tentu setuju kalau lagu di atas mencerminkan iman kita bahwa Yesus mencintai kita semua. Penebusan-Nya diberikan pada semua manusia, bahkan pada seluruh ciptaan-Nya, sebagaimana tertulis dalam Galatia 3:13, “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’”

Ketika kita menerima kasih Allah melalui penebusan Kristus, kita juga dituntut agar menjadi serupa dengan-Nya. Injil Matius 5:48 dengan jelas menyatakan, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Pada perikop tersebut, Yesus menyatakan pentingnya hidup kudus, mengampuni dan juga mengasihi musuh kita.

Mudahkah melakukan itu semua?

Sepanjang sejarah kekristenan,dari masa lalu sampai masa kini, meneladani teladan kasih Yesus bukanlah hal mudah. Ada banyak peristiwa kelam yang terjadi, seperti Perang Salib demi merebut ‘Tanah Suci’ Yerusalem, konflik berdarah pasca reformasi Protestan di abad 16, hingga semangat 3G: Gold, Glory, Gospel yang menjadi salah satu faktor penjajahan bangsa Eropa atas bangsa lain. Pertanyaannya, apakah orang-orang Kristen di masa lampau benar-benar menghidupi kasih Kristus?

“Itu kan masa lalu, kekristenan sudah berubah,” mungkin ada yang mengatakan begitu. Apakah benar umat Kristen sekarang sudah menjadi lebih baik?

Mungkin kita perl sama-sama berefleksi pada pengalaman kita sebagai orang Kristen di Indonesia. Secara statistik, kita adalah golongan kecil dibandingkan dengan penganut agama lain. Pun, tak jarang kita menerima ancaman maupun persekusi dari pihak lain. Kita ingat pada Mei 2018 silam terjadi peledakan bom di tiga gereja di Surabaya. Ketika pelaku ataupun sindikat dari kekerasan dan kejahatan tersebut tertangkap, apakah kita berpikir, “mati saja orang itu!”? Atau, ketika kita mendapati orang-orang yang menghina iman kita ternyata menghadapi musibah atau terciduk oleh aparat, apakah yang terlintas di pikiran kita? Apakah kita berkata, “Sukurin, rasakan hukuman Tuhan”? Atau, dari setiap peristiwa buruk tersebut, apakah kita sanggup dan berani merespons dengan memaafkan dan mendoakan mereka?

Bagiku, sangat susah untuk menjadi serupa dengan Kristus yang sayang pada semua orang, tapi susah bukan berarti tidak bisa. Kita lupa bahwa ada Roh Kudus yang sejatinya memampukan kita untuk melakukan hal-hal yang kita anggap terlampau sulit. Yesus berkata dalam Yohanes 16:13, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitkan kepadamu hal-hal yang akan datang. Dengan meminta pertolongan Allah melalui Roh Kudus, kita akan terus menerus diberdayakan untuk menjadi serupa dengan Yesus untuk mengasihi sesama.

Yesus sayang semua dan Ia ingin kita juga melakukan hal yang sama. Jika saat ini kita masih belum bisa, masih memiliki dendam kepada orang lain, maka bukan berarti kita telah gagal. Kita masih bisa kok untuk mengasihi mereka. Menjadi sempurna bukan sepraktis memasak mie instan. Ada proses yang harus kita lalui bersama Roh Kudus. Dengan meminta tuntunan Roh Kudus terus menerus terus menerus, kita akan diingatkan bahwa kita lebih dahulu dikasihi Tuhan dan kita dimampukan mengasihi orang yang bersalah pada kita.

Menutup tulisan ini, sebuah lagu dari Barasuara berjudul Hagia kiranya dapat menjadi pengingat kita akan salah satu frasa dari “Doa Bapa Kami”.

Baca juga artikel lainnya terkait topik ini di sini.

Baca Juga:

Bahasa Cinta: Lebih dari Sekadar Kata

Sobat muda, tahukah kamu bahwa memahami bahasa cinta dapat menolong kita mengasihi orang lain dengan lebih baik?

Yuk baca artikel Dorkas berikut ini.

Prasangka—”Parasite” yang Menghinggapi Kita Semua

Oleh Glen Wong, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Prejudice—The Parasite That Plagues Us All
Gambar diambil dari: Official trailer

Piala Oscar 2020 membuktikan bahwa orang Asia tak cuma sukses sebagai dokter, pengacara, insinyur, atau ahli matematika. Parasite, film dari Korea Selatan besutan Boon Joon Ho menorehkan sejarah sebagai film terbaik non bahasa Inggris yang memenangkan empat kategori sekaligus: Best Picture, Best Director, Best International Feature Film, dan Best Writing. Media-media mengomentari bahwa Boon Joon Ho tak cuma membuat film, tetapi membuka jalan bagi film-film Asia untuk mendapatkan pengakuan internasional.

Parasite adalah film bergenre dark comedy yang berfokus pada kehidupan Kim, keluarga dari kalangan ekonomi bawah dan Park, keluarga dari kalangan elit. Ketika anak lelaki Kim, Ki Woo, mendapatkan pekerjaan sebagai guru les bahasa Inggris untuk Da Hye (anak perempuan Park), keluarga Kim mencari kesempatan untuk masuk lebih dalam ke kehidupan keluarga Park. Penonton Parasite diajak menaiki roller-coaster, dari adegan gembira ke adegan menegangkan seiring kebohongan keluarga Kim hampir terbongkar karena hal yang tak terduga.

Sebagai seorang lulusan Sosiologi dari Universitas Yonsei di Seoul, Boon Joon Ho mengemas Parasite sebagai film yang menunjukkan kesenjangan sosial antara kelas ekonomi dalam masyarakat Korea Selatan. Dengan memfokuskan pada stereotipe negatif pada kelas bawah dan kelas elit, Parasite menegaskan ketimpangan sosial yang secara nyata hadir dalam kehidupan masyarakat hari ini.

Seiring aku menonton interaksi antara keluarga Kim dan Park, aku jadi merenungkan bagaimana sikap dan pandanganku terhadap mereka yang kurang beruntung secara finansial. Apakah aku memandang orang-orang dari kelas sosial ekonomi berbeda dengan negatif? Apakah aku tidak mau tahu dengan perjuangan orang miskin memenuhi kebutuhan hidup mereka? Apakah aku punya prasangka terhadap orang miskin?

Inilah tiga prasangka terhadap orang miskin dalam film Parasite yang mendorongku untuk menyelidiki hidupku lebih dalam:

1. Orang miskin itu “jahat”

Penipuan jadi motif utama yang disorot dalam film ini—yang menggambarkan seolah orang miskin pasti melakukannya untuk menyambung hidup. Stereotipenya: orang miskin pasti penjahat atau penipu.

Aku teringat momen ketika keluarga dan temanku menasihatiku untuk tidak meninggalkan benda-benda berharga di hotel, atau ketika mereka bilang “jangan pergi ke luar di atas jam 10 malam” karena bisa saja aku diincar oleh jambret atau begal.

Namun, Alkitab memberitahu kita bahwa dosa menipu itu tidak mengenal kelas sosial ekonomi, tetapi persoalan hati. Yeremia 17:9 berkata, “Betap liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?”

Menelisik hidupku sendiri, ada momen-momen ketika aku menipu untuk mendapatkan apa yang kumau. Ketika aku masih sekolah, kelompok band sekolahku menang kompetisi karena kami memvoting kelompok kami sendiri. Tindakan menipu, bahkan dalam bentuk yang sederhana sekalipun mengingatkanku untuk berhenti berprasangka dan mulai menyadari dosa dalam diriku sendiri terlebih dulu sebelum aku menunjuk pada orang lain.

2. Orang miskin itu “kotor”

Ada beberapa adegan dalam Parasite ketika keluarga Park berkomentar: orang miskin “gampang sakit”, atau “bau”. Park bahkan bilang kalau dia tidak naik kereta api karena itu.

Seperti Park, kadang aku pun merasa bersalah karena berpikir demikian terhadap orang “miskin”. Aku pernah mengunjungi satu daerah di dekat gerejaku yang memiliki angka kemiskinan paling tinggi dan banyak dihuni orang-orang dengan gangguan mental. Karena aku punya sakit eksim yang cukup parah, aku takut kalau bakteri dan kutu dari mereka akan pindah menempel di bajuku dan mulai menginfeksi kulitku. Hingga akhirnya aku berinteraksi dengan orang-orang di sana, Tuhan menolongku untuk melihat mereka terlepas dari kondisi fisik mereka karena di mata Tuhan semua manusia diciptakan setara.

Kita perlu mengakui bahwa kita semua adalah pendosa dan kotor di hadapan Allah, dan tidak seorang pun dari antara kita yang berbeda. Namun, Allah mengasihi kita dengan kasih yang besar. Sebagai respons atas kasih-Nya, kiranya kita senantiasa membaharui pikiran kita (Roma 12:2) supaya saat kita melihat orang lain, kita melihat mereka seperti Tuhan melihat kita.

3. Orang miskin itu “urakan”

Lewat film Parasite, keluarga Kim sering mengucapkan sumpah serapah dan melakukan tindakan tidak disiplin. Di salah satu adegan, keluarga Kim masuk ke rumah Park untuk mabuk-mabukan, memecahkan botol bir, dan mengotori seisi ruangan. Adegan ini seolah menegaskan sterotipe bahwa orang “miskin” itu urakan (bertingkah laku seenaknya).

Tapi, Alkitab memberitahu kita bahwa bukan apa yang terlihat dari luar yang penting. Kenyataannya, kita semua pendosa yang kotor dan buruk dalam cara kita berpikir, dan tidak ada seorang pun yang dapat hidup benar tanpa pertolongan Roh Kudus. Rasul Paulus menyebutkan dalam Galatia 5:16 bahwa orang yang hidup oleh Roh tidak akan mengikuti keinginan daging.

Meskipun mudah untuk menyerah pada keinginan daging tak peduli seberapa keras upaya kita berjuang, marilah kita memilih untuk melangkap bersama Roh Kudus supaya hidup kita mencerminkan kemuliaan Tuhan.

Obat bagi prasangka kita

Film Parasite diakhiri dengan catatan yang menegurku betapa kesenjangan kelas sosial itu nyata. Aku berpikir: adakah harapan bagi orang-orang seperti mereka? Apakah kita mengizinkan prasangka-prasangka dalam diri kita menjadi parasit yang pelan-pelan melahap belas kasih dan kemanusiaan kita?

Aku berpikir bagaimana Injil membentuk kita sebagai orang Kristen untuk melihat diri kita dan orang lain terlepas dari status sosial kita. Mengetahui siapa diri kita dapat menyingkirkan prasangka yang kita sematkan pada orang lain, dan menolong kita pula untuk menghargai orang lain sebagai sesama manusia yang diciptakan segambar dengan Allah. Sebagai orang percaya kita harus bersedia beriteraksi dan melayani mereka yang miskin, membagikan pada mereka Kabar Baik tentang Kristus yang tak cuma berisi tentang keselamatan setelah kematian, tetapi juga damai sejahtera yang diberikan-Nya.

Mungkin tindakannya sederhana, tapi langkah sederhana ini mungkin bisa mengentaskan rantai parasit yang menjerat kita.

Baca Juga:

Dalam Peliknya Masalah Kemiskinan, Kita Bisa Berbuat Apa?

Masih jelas tergambar dalam pikiranku kondisi pemukiman di kolong jembatan di daerah Ancol, Jakarta Utara yang kukunjungi sebulan lalu. Mayoritas warganya bekerja sebagai pemulung. Rumah-rumah mereka didirikan seadanya, bukan tergolong rumah yang sehat. Anak-anak berkerumun dan mengenakan pakaian yang lusuh berdebu. Apakah mereka sekolah? Kebanyakan tidak. Apakah mereka mendapatkan akses kesehatan? Tidak juga.

Jika Awalnya Saja Sudah Buruk, Sungguhkah Nanti Lebih Baik?

Oleh Chia Poh Fang, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why Such A Bad Start To 2020?

“Kuharap tahun barumu dimulai dengan baik.”

Sepenggal kalimat itu mengisi sebuah email yang dikirimkan kepadaku, sebuah ucapan yang tulus.

Namun, serentetan kabar buruk yang kubaca dan tonton di media belakangan ini telah mempengaruhi orang-orang yang kukenal sampai ke tataran kehidupan pribadi mereka.

Di hari pertama 2020, hujan lebat di sekitar Jakarta membuat debit air meninggi dan banjir di mana-mana. Seorang temanku sampai terpisah dari anak-anaknya selama beberapa hari karena mereka harus mengungsi di rumah sang nenek. Temanku yang lain, seharusnya terbang ke Malaysia untuk rapat, tapi dia tidak bisa pulang mengambil barang bawaannya karena banjir. Dia harus membeli baju baru di Malaysia.

Kemudian, kita juga mendengar berita tentang gunung meletus di Filipina. Lima relawan penerjemah dari kantor kami tinggal di dekat lokasi bencana tersebut. Rumah mereka ditutupi abu vulkanik. Tiga dari mereka sesak nafas karena debu yang terlampau tebal, dan mereka hidup tanpa air dan listrik selama tiga hari.

Sementara itu, di Australia, kebakaran hutan merambat dengan masif. Seorang temanku yang sedang dalam penerbangan pulang ke Canberra tak dapat mendarat karena asap yang terlampau pekat. Penerbangannya dialihkan dan membuatnya meratap ingin segera pulang ke rumah.

Kabar buruk masih belum berhenti. Berita terbaru yang kita dengar dan menghiasi media di seluruh dunia adalah kabar tentang penyebaran virus Corona yang telah merenggut lebih dari 427 nyawa sejak penyebarannya yang pertama pada 31 Desember 2019.

Meski secara pribadi aku tidak kenal siapa pun yang tertular virus tersebut, namun aku bisa sedikit merasakan bagaimana pedihnya kehilangan. Dalam 17 hari pertama tahun ini, ada tiga kematian yang terjadi di antara orang-orang dekatku. Ada seorang sepupuku yang meninggalkan istrinya selamanya, seorang pria yang kehilangan teman hidupnya selama 40 tahun lebih, dan seorang ibu yang harus meninggalkan anaknya yang berusia lima tahun.

Mengatakan bahwa tahun ini tidak diawali dengan baik rasanya bukanlah pernyataan yang berlebihan.

Mungkin ada di antara kita yang kehidupannya terdampak oleh salah satu dari sekian banyak kabar buruk di atas, diliputi ketakutan, kekhawatiran, kemarahan, atau kesedihan. Jika ya, bolehkah aku mengatakan hal ini kepadamu?

Tidak apa-apa untuk mengatakan kamu sedang tidak baik-baik saja

Adalah wajar untuk marah karena kematian yang merenggut orang yang kamu kasihi. Kamu mungkin merasa takut atau pun panik akan perubahan iklim yang mengakibatkan banjir dan kebakaran hutan, atau mungkin pula khawatir karena penyebaran virus Corona.

Aku berduka karena kematian sepupuku, dan bertanya-tanya mengapa kehidupan seseorang yang masih muda direnggut begitu cepat. Aku dan teman-temanku pun berduka atas penderitaan yang harus dihadapi orang-orang yang berjuang pulang karena kebakaran hutan, atau mereka yang harus bekerja ekstra membersihkan rumah mereka pasca banjir dan letusan gunung berapi.

Jika kita membuka Alkitab kita, kita melihat Yesus pun menunjukkan gejolak emosinya saat berada di pemakaman. Ketika dia mendapati Maria yang saudara laki-lakinya, Lazarus, meningal dunia, “hati-Nya sedih, dan Ia tampak terharu sekali” (Yohanes 11:33 BIS)

Mengapa Yesus bersedih? Mungkin, Yesus kecewa dan marah karena dosa dan konsekuensi yang diakibatkannya. Allah tidak menjadikan dunia supaya dipenuhi dengan kesakitan, penderitaan, dan maut, tapi dosa memasuki dunia dan menodai rencana mulia Allah.

Ketika keadaan tidak baik, ketahuilah ini bukanlah akhir

Ada banyak pertanyaan tentang kesakitan dan penderitaan yang belum kutemukan jawabannya yang paling memuaskan. Namun, ketika aku bergumul dengan keraguan, aku ingat bahwa Yesus hadir ke dunia dua ribu tahun silam dan menunjukkan pada kita bagaimana Allah sesungguhnya.

Tangan-Nya menyentuh yang sakit kusta (Markus 1:41); Pandangan-Nya tertuju kepada janda yang sakit di Nain (Lukas 7:11-17). Dia tersakiti ketika kita merasa sakit. Kita memiliki Juruselamat yang peduli dan menderita bersama kita. Namun, lebih daripada itu semua, Yesus mati dan bangkit dari maut. Dialah satu-satunya Pribadi yang mati, bangkit, dan tidak pernah mati kembali! Dia telah mengalahkan maut. Kita punya harapan yang hidup dalam Yesus, sebab Juruselamat kita adalah Tuhan yang hidup.

Dan, Yesus pun berjanji kelak akan tiba waktunya di mana segala kesakitan akan berakhir (Wahyu 21:4). Ketika kita tak dapat menghentikan kesakitan dan dosa menggerogoti tubuh kita yang fana saat ini, sebagai anak-anak-Nya, kita kelak akan menerima tubuh yang baru dan mulia (1 Korintus 15:42-43). Inilah kisah akhir dari sejarah manusia yang teristimewa dapat kita ketahui saat ini.

Apakah hari-harimu di tahun ini juga dimulai dengan kisah getir? Teguhkanlah hatimu sebab ini bukanlah akhir. Allah sedang bekerja untuk memulihkan; Allah bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya (Roma 8:28).

Seiring 2020 terus berlanjut, kita mungkin akan masuk ke dalam situasi yang mengharuskan kita hanya dapat bergantung dan percaya pada-Nya. Bersediakah kamu bersama-sama denganku untuk memusatkan pandanganmu kepada Yesus? Harapan kita hanya di dalam-Nya, dan bersama-Nya segala sesuatu dapat kita lalui.

Baca Juga:

Di Balik Hambatan yang Kita Alami, Tuhan Sedang Merenda Kebaikan

Meski kamu melalui jalan yang berbelok-belok, atau bahkan berbatu-batu, dan meski seringkali kamu menemukan dirimu tidak memahami maksud Tuhan dalam hidupmu, tetaplah percaya kepada-Nya. Bila Tuhan yang menyertaimu, Dia pasti akan memberikan pertolongan dan tuntunan-Nya dalam segala sesuatu yang kamu kerjakan.

Virus Wuhan: Tinggal di “Kota Hantu” dan Diliputi Ketakutan

Oleh Kim Cheung, Tiongkok
Gambar diambil dari screenshot video
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 疫情蔓延的当下,我们的盼望在哪里?

Waktu terasa berjalan amat lambat belakangan ini.

Tulisan ini kutulis dari provinsi Jiangsu, tempat tinggalku. Ini adalah hari ketiga perayaan Tahun Baru Imlek (27 Januari 2020)—waktu di mana kami seharusnya sibuk mengunjungi sanak famili dan teman-teman. Namun kenyataannya, kami hanya terduduk di rumah sambil terus memantau keadaan terkini dari media sosial tentang penyebaran virus Corona. Bahkan hanya untuk turun tangga dan singgah ke warung pun rasanya luar biasa cemas.

Delapan hari telah berlalu sejak media resmi mulai memberitakan penyebaran virus Corona. Ketika aku pertama melihat beritanya di 20 Januari, kupikir ini bukan masalah serius. Aku malah janjian dengan dua temanku yang baru pulang dari Eropa untuk bertemu merayakan tahun baru Imlek. Namun hari ini, semua janji pertemuan telah kubatalkan. Aku sudah bersiap tidak meninggalkan rumah atau mengunjungi siapa pun selama dua minggu ke depan.

Virus Corona menyebar lebih cepat dari yang dibayangkan. Hanya semalam, kemudian dikonfirmasi bahwa virus itu dapat menular dari manusia ke manusia. Semua masker ludes. Kota Wuhan bak kota mati. Supermarket kosong… Rumor dan berita-berita yang tidak jelas bertebaran ke mana-mana, membuat orang semakin takut. Berselancar di media sosial, update berita terbaru muncul hampir tiap detik. Namun, berapa jumlah sebenarnya orang yang tertular tidak ada angka yang valid. Berapa orang yang sudah meninggal? Berapa orang yang sungguh terinfeksi? Tidak ada yang tahu pastinya.

Hanya beberapa hari lalu, aku masih bisa melihat banyak orang di jalanan, tapi hari ini, jalanan kosong, kotaku seperti kota hantu. Hampir semua orang panik, dan orang-orang tua mulai berdiskusi tentang seberapa mengerikannya virus itu.

Kami tidak tahu seberapa berbahayanya virus Corona. Beberapa ahli dari Hong Kong mengindikasikan bahwa kekuatan virus kali ini 10 kali lebih kuat daripada SARS, sementara beberapa ahli lain mengatakan bahwa wabah kali ini tidak separah yang dulu. Saat ini, asal mula virus belum terkonfirmasi (meski ada yang bilang bermula dari pasar hewan di Wuhan). Spekulasi lainnya mengatakan periode inkubasi virus bisa berlangsung sampai 14 hari, dan virus ini bisa menyebar juga selama masa inkubasi—semua hal ini menambah ketakutan dan kepanikan.

Dua hari lalu, aku melihat temanku membagikan bagaimana kondisi sebenarnya di banyak rumah sakit di Wuhan, dan hatiku tersayat. Rumah sakit di sana dijejali orang-orang sakit yang tak terlayani. Para dokter dan suster tak punya perlindungan yang cukup atau pun masker, dan mereka tidak bisa beristirahat sewajarnya, bahkan hanya untuk makan siang pun sulit. Suplai makanan terbatas. Para pekerja medis kelelahan karena beban kerja mereka melonjak tajam, dan hanya bisa makan sehari sekali—itu pun hanya mie instan. Dan, para suster di sana berlinangan air mata.

Hatiku berduka. Rasanya tak sanggup buatku menonton berita di TV. Bagaimana bisa seseorang tak bersedih menghadapi situasi ini? Selain berdoa, rasanya tak ada hal lain yang bisa kami lakukan.

Siang hari ini, aku mendengar dua kenalanku, orang Kristen di Wuhan, mengalami demam. Besar kemungkinan mereka telah terinfeksi virus Corona. Hatiku semakin berat. Bagaimana kelak masa depan? Akankah virus ini menjadi bencana dunia? Apakah ini sungguh kiamat? Deretan pertanyaan ini membuatku semakin khawatir dan tak berdaya.

Namun, saat ini dunia hanya mampu memberikan jawaban berupa kepanikan dan putus asa, padahal yang sejatinya dibutuhkan adalah harapan yang teguh. Ketika kita harap-harap cemas akan bagaimana obat dan vaksin untuk mengentaskan wabah ini, apakah kita juga sebagai anak Tuhan kehilangan harapan dan putus asa? Jika harapan kita hanya disandarkan pada hal lahiriah, apakah bedanya kita dengan mereka yang tidak percaya? (Roma 8:24).

Ketika kita diselimuti kepanikan dan putus asa, kita seharusnya berpegang lebih erat kepada Tuhan dan firman-Nya. Hanya Tuhanlah harapan kita. Kiranya kebenaran-kebenaran ini menguatkan kita:

Tuhan memegang kendali

Meskipun situasi tampaknya mengerikan, hal yang teramat pasti adalah Tuhan kita memegang kendali. Meskipun Si Jahat ingin mencuri dan melenyapkan kehidupan, Tuhan tetap memegang kendali penuh. Tanpa seizin-Nya, tak ada satu hal pun dapat terjadi. Jika Tuhan tidak mengizinkan, sehelai rambut di kepala kita pun takkan jatuh ke tanah (Lukas 12:6-7). Ketika aku berpegang pada kebenaran ini, aku merasa terhibur.

Tuhan tidak pernah meninggalkan kita

Tuhan telah berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita. Bahkan di tengah pencobaan dan kesakitan, Tuhan senantiasa beserta kita. Dan, Dia pun akan menyelamatkan kita pada akhirnya (Yohanes 6:37).

Karena aku tahu Dia ada bersama kita, kita tidak perlu takut atau khawatir (Matius 10:28). Meskipun virus ini mengerikan, Pencipta surga dan bumi ada bersama kita, dan kita mampu beroleh damai sejahtera.

Tuhan akan memberikan jalan keluar

Ketika kita merasa takut dan panik karena kabar-kabar yang terus berdatangan, marilah kita berpegang teguh pada janji Tuhan. Tuhan tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita (1 Korintus 10:13). Dia akan memberikan jalan keluar supaya kita mampu mengatasinya.

Hendaknya kita pun senantiasa berdoa. Meskipun banyak gereja di Tiongkok membatalkan kegiatan mereka demi keamanan, kami masih bisa berkumpul dengan keluarga dan berdoa. Ketika aku mempelajari Lukas 4:17-22 siang ini, aku sekali lagi menyadari apa sesungguhnya Injil itu.

Injil yang Yesus Kristus wartakan adalah tentang keselamatan kita. Namun, sebagai pendosa, kita lebih tertarik kepada kedagingan kita. Aku menyadarinya sedari berita tentang wabah virus Corona merebak, aku begitu terpaku pada notifikasi di ponselku, terus merefresh berita-berita terbaru. Tapi, banyak berita yang kubaca rupanya malah hoaks dan tak berdampak apa-apa selain menambah panik. Mengapa aku tidak meluangkan lebih banyak waktuku untuk berdoa dan berpegang pada firman-Nya lebih lagi?

Aku mengajakmu untuk bersama-sama mendoakan kota Wuhan dan orang-orang yang terinfeksi di Tiongkok dan seluruh dunia. Menemukan pengobatan untuk virus Corona adalah baik, tetapi itu hanya menyelesaikan penderitaan secara fisik. Tidakkah kita juga berfokus mendoakan agar mereka yang belum mengenal Kristus dapat mengenal-Nya dan beroleh keselamatan yang kekal?

Kiranya Tuhan menguatkan hati kita, teruntuk bagi kami di Tiongkok yang harus mendekam di rumah kami masing-masing. Kiranya kita semakin mengenal Tuhan, demikian juga dengan orang-orang di Tiongkok.

Tuhan masih memegang kendali. Janji Tuhan tak pernah gagal. Kehendak-Nya dinyatakan di atas bumi.

“Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir” (1 Petrus 1:5).

Baca Juga:

Apakah Kekristenan Itu Hanyalah Sebuah Garansi “Bebas dari Neraka”?

Kekristenan itu sederhana, bukan? Ayat Alkitab seperti Yohanes 3:16 menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang Kristen kita hanya perlu percaya kepada Tuhan, dan kelak saat meninggal kita akan masuk surga (tempat yang baik), bukan neraka (tempat yang buruk). Bukankah kekristenan pada dasarnya adalah semacam asuransi kehidupan yang dampaknya baru akan kita rasakan suatu hari kelak (semoga masih lama) setelah hidup kita di dunia ini berakhir?

Kado Awal Tahun

Oleh Sukma Sari, Jakarta
Foto oleh Aryanto Wijaya

Jakarta, 2 Januari 2020

Aku menulis artikel ini di sebuah restoran cepat saji tidak jauh dari rumah. Bukan tanpa alasan aku kemari dari jam 7 pagi di hari kedua tahun 2020. Ya, banjir di awal tahun di beberapa titik ibu kota membuat rumahku terkena pemadaman listrik dari PLN. Baterai telepon selulerku mati dari jam 3 subuh tadi. Untungnya aku sempat mendapat kabar kalau pagi ini, kantor diliburkan.

Memang bukan pertama kali Jakarta dan sekitarnya mengalami banjir, akan tetapi kita mungkin jengah jika setiap musim hujan selalu dilanda rasa was-was rumah kita kebanjiran atau tidak.

Pemadaman listrik di rumah membuat aku uring-uringan, bahkan Mama ku pun juga terkena dampak emosiku. Banyak pertanyaan “bagaimana jika” yang menumpuk di kepalaku.

Bagaimana jika lampu tidak menyala dan aku harus ke toilet?

Bagaimana jika sampai malam ini, listrik tetap padam dan aku kembali harus tidur dalam kegelapan total?

Dan masih banyak bagaimana jika lainnya. Baru hari kedua di tahun 2020 aku sudah dilanda ketakutan.

Aku lupa, bahwa pemadaman listrik PLN toh pasti akan berakhir, meskipun aku tidak tahu entah kapan waktunya. Listrik akan berfungsi normal seperti biasa. Aku lupa bahwa apa yang aku alami tidak separah orang-orang (atau bahkan teman-teman yang sedang membaca tulisanku saat ini) yang tempat tinggalnya kebanjiran. Harta benda dan pakaian sudah pasti basah, hidup dalam pengungsian sementara atau lebih parahnya, harus bertahan di tingkat atas rumah karena air telah naik. Kekhawatiran membuat aku tidak bisa berpikir dengan bijak.

Pagi ini, aku teringat akan kisah para murid Yesus yang perahunya terombang-ambing akibat badai. Mereka juga ketakutan ketika melihat sesosok orang berjalan di tengah badai yang dikira mereka hantu, padahal itu Yesus, Guru mereka yang berjalan diatas air menghampiri mereka. Sesudah Yesus menyatakan diri-Nya, Petrus berseru: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air” (Matius 14:28). Namun, tiupan angin membuat Petrus takut dan dia pun tenggelam (Matius 14:22-33).

Mungkin kita pernah berpikir “Para murid saja yang melihat Yesus dan menghabiskan waktu bersama-Nya masih takut, apalagi kita yang tidak pernah bertemu muka dengan-Nya? Wajar dong kalau kita merasa takut”.

Teman-teman, rasa takut adalah hal yang wajar. Tapi, Yesus sendiri sudah mengatakan untuk kita tidak perlu khawatir akan apa pun juga. Jika burung pipit dan bunga bakung yang hari ini ada, besok dibuang itu dipelihara Tuhan, apakah ada alasan bagi kita untuk terus-terusan khawatir? Yang Tuhan inginkan adalah supaya aku dan kamu, hari demi hari mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya, dan yang lain akan mengikuti (Matius 6:25-34).

Mengawali tahun yang baru ini, bencana banjir yang menghadang rasanya seperti “kado” awal tahun yang tak diinginkan. Namun, aku ingin mengajak teman-teman untuk bersama-sama kita percaya. Percaya bahwa entah apa pun yang telah dan akan terjadi, suka dan duka di waktu ini dan mendatang nanti, Tuhan tetap ada bersama kita. Awal yang kelabu bukan berarti sepanjang tahun akan kelabu, bersama Tuhan yang beserta kita, kita tentu dibimbing-Nya melewati padang rumput maupun lembah kelam sekalipun. Tuhan telah ada sebelum dunia ada, dan akan terus ada sampai selamanya.

Jika kamu terdampak banjir di awal tahun ini, kiranya pertolongan Tuhan besertamu.

Baca Juga:

Sendirian di Tahun 2020?

Kisah-kisah pahit di tahun ini membuat kita getir. Kita pun tak tahu masalah apa yang akan menghadang, tragedi apa yang mungkin terjadi. Kita merasa sendiri dan gamang menghadapi tahun 2020 yang tinggal sejengkal lagi.

Pemilu 2019: Saatnya Lakukan Tanggung Jawab Kita

Oleh Bungaran Gultom, Jakarta

Guys, besok kita akan melaksanakan Pemilu loh. Mungkin ada sebagian dari kita yang pertama kali mengikuti pesta demokrasi yang diadakan tiap lima tahun sekali ini. Melalui tayangan televisi, baliho, atau spanduk-spanduk yang menampilkan sosok para politisi dan slogan partai-partai politik, euforia pemilu terasa sekali.

Meski begitu, kadang semua itu malah membuat kita bingung. Belum lagi jika kita mengikuti banyak perdebatan yang berujung caci maki di media sosial, mungkin kita jadi bertanya: pemilu kok begini banget sih?

Santai, guys. Proses untuk menjadi sebuah bangsa yang matang dalam berdemokrasi memang bukanlah proses yang sebentar. Untuk memahami bahwa demokrasi adalah dari, oleh, dan untuk rakyat itu sama sekali tidak mudah, apalagi dalam konteks Indonesia yang beragam. Namun, kematangan dalam berdemokrasi sangat diperlukan, karena kalau tidak setiap kelompok masyarakat akan menuntut agar kepentingan mereka yang harus didahulukan atau diprioritaskan. Bisa dibayangkan betapa chaos alias kacaunya kondisi bangsa ini jika hal itu sampai terjadi, kan? Nah, karena itulah kita perlu terlibat agar nantinya kita menjadi bangsa yang matang dalam berdemokrasi. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan ikut pemilu.

Ada dua jenis pemilihan. Pertama, pemilihan legislatif, kita memilih orang-orang yang akan mewakili kita di parlemen. Kedua, pemilihan presiden dan wakilnya. Dua orang ini kelak akan menentukan seperti apa bangsa kita. Bayangkanlah jika orang-orang yang terpilih kelak adalah orang yang tidak kompeten, mungkin sulit sekali bagi negeri kita untuk maju.

Setiap orang memiliki dua pilihan: menggunakan hak suara mereka, atau tidak. Keduanya adalah hak masing-masing individu. Tetapi, cobalah jujur: sebenarnya kita ingin bangsa ini dipimpin oleh orang yang kompeten atau tidak? Meski tiap kita punya preferensinya masing-masing, tetapi kita tentu berharap memiliki pemimpin yang jujur dan bertanggung jawab pada tugasnya.

Bagaimana caranya agar mereka yang kompeten dan jujur bisa muncul dan terpilih untuk mewakili kita di pemerintahan nanti? Cara paling sederhananya adalah dengan memilih atau mencoblos di bilik pemungutan suara nanti. Tapi, sebelum itu dilakukan, kita perlu rajin-rajin mencari tahu tentang orang-orang yang mencalonkan diri tersebut. Dan, tak kalah penting adalah kita mencari tahunya dari sumber yang terpercaya.

Bagaimana jika akhirnya upaya yang kita lakukan sia-sia dan orang yang terpilih adalah politisi-politisi yang tidak kompeten? Aku berharap hal itu dijauhkan dari kita, tetapi jika itu terjadi, maka kita tidak perlu tawar hati, karena Allah berdaulat dalam kehidupan bangsa-bangsa. Kedaulatan Allah berlaku atas semua pemerintahan yang dipilih-Nya (baca Roma 13:1). Kedaulatan Allah ini menjadi pengharapan yang kuat bagi kita, bahwa Allah yang tetap memegang kendali atas semua pemerintahan di bumi ini. Tanggung jawab kita adalah memilih anggota parlemen, presiden, dan wakilnya yang kompeten, jujur, dan mau mengabdi bagi bangsa ini. Inilah yang harus jadi karakteristik nomor satu, yang harus menjadi alasan kita dalam memilih mereka.

Masih tersisa satu hari lagi sebelum pemilu dilaksanakan besok. Bagi kamu yang belum tahu siapa yang hendak kamu pilih, masih ada kesempatan untukmu untuk menggali informasi yang valid tentang para kandidat yang kelak jika terpilih akan duduk di pemerintahan.

Selamat melaksanakan pesta demokrasi!

Baca Juga:

Belajar dari Nehemia dan Ester: Mencintai Bangsa melalui Doa dan Tindakan

“Seberapa greget kamu mencintai Indonesia?

Ketika mendengar pertanyaan itu, mungkin kamu akan menjawab dengan berbagai kalimat ala generasi millenial yang akhir-akhir ini sedang hits. Tapi, benarkah kamu segreget itu dalam mencintai Indonesia? Atau, jangan-jangan nama Indonesia tidak masuk dalam daftar sesuatu yang kamu cintai?”

2 Kontribusi Sederhana untuk Menolong Korban Bencana

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Di tahun 2015, aku mendapat kesempatan berkunjung ke beberapa kota di Aceh selama dua minggu. Sebelas tahun sebelumnya, kota Banda Aceh luluh lantak akibat dihantam gempa bumi dan gelombang tsunami. Meski waktu telah bergulir dan proses pemulihan pasca bencana digalakkan, sampai hari itu sisa-sisa kehancuran masih dapat ditemukan dengan jelas di beberapa sudut kota.

Perjalanan itu kemudian menyadarkanku bahwa pemulihan suatu tempat dari bencana itu bukanlah proses yang singkat. Tak hanya infrastruktur yang perlu dibangun ulang dan dibenahi, tetapi para korban pun perlu dipulihkan dari luka fisik, trauma psikis, serta kemiskinan yang menjerat akibat kehilangan mata pencaharian. Seorang temanku yang menjadi relawan di Banda Aceh mengatakan bahwa sudah lebih dari sepuluh tahun dia melayani di sana. Dia melayani warga lokal untuk pulih dengan cara mendirikan koperasi simpan pinjam dan serangkaian program lainnya.

Wow! Apa yang temanku lakukan itu sungguh luar biasa. Dia terjun langsung ke lokasi bencana dan melakukan sesuatu di sana. Tapi, pada kenyataannya tidak semua orang memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu. Pun, tidak semua bentuk bantuan yang bisa kita salurkan kepada para korban adalah dengan datang terlibat secara langsung di lokasi bencana.

Ketika bencana alam terjadi dan meninggalkan kerusakan, seperti yang terjadi di akhir September 2018 di Sulawesi Tengah, dua hal inilah yang kupikir bisa kita lakukan untuk meringankan beban mereka.

1. Doakan orang-orang di sekitar lokasi bencana

Mungkin doa adalah langkah yang terdengar klise, tetapi sebagai orang Kristen kita percaya akan kuasa doa. Alkitab berkata, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya” (Yakobus 5:16).

Kita berdoa karena kita tahu bahwa diri kita terbatas. Kita tidak bisa hadir sekaligus di banyak tempat untuk menolong para korban. Kita tidak benar-benar tahu apa kebutuhan yang paling dibutuhkan seseorang. Pun, kita sendiri tidak berdaya memberikan kesembuhan atau pemulihan secara penuh kepada orang lain. Kita hanyalah alat yang dipakai Tuhan. Kita berdoa sebagai ungkapan percaya bahwa Tuhan akan membuat sesuatu yang baik dari kehidupan yang telah hancur tersebut.

Dalam doa, kita dapat memohon agar Tuhan mengaruniakan kedamaian hati kepada mereka yang sedih, berduka, dan trauma. Kiranya Tuhan menolong para relawan yang melayani di sana untuk melakukan evakuasi maupun proses pemulihan dengan efektif.

2. Salurkan bantuan atau donasi melalui organisasi yang terpercaya

Setelah berdoa, kita pun dapat menggerakkan hati untuk menyalurkan bantuan kita kepada organisasi-organisasi terpercaya yang bermisi untuk mendukung pemulihan pasca bencana.

Ketika kita menyalurkan uang kita ke organisasi tersebut, uang tersebut tidak hanya digunakan untuk memberikan bantuan jangka pendek berupa makanan dan sebagainya, tetapi juga menolong para korban untuk kelak dapat menjadi masyarakat yang mandiri. Ada edukasi yang perlu diberikan, ada pembinaan demi pembinaan yang dilakukan supaya mereka dapat menjadi masyarakat yang berdaya kembali. Seperti yang temanku lakukan di Banda Aceh, pasca tsunami banyak orang kehilangan pekerjaan. Sekadar memberi uang tanpa program pemberdayaan tidak bisa jadi solusi jangka panjang. Temanku bersama organisasi tempatnya bernaung kemudian mengadakan program pemberdayaan di bidang ekonomi. Masyarakat dibina untuk menemukan atau bahkan menciptakan lapangan kerja yang baru, yang dapat menggerakkan ekonomi daerah tersebut. Kaum ibu dibekali keterampilan untuk menghasilkan kerajinan dan benda-benda layak jual serta kaum bapak dibekali modal dan keterampilan budidaya ikan.

Memulihkan suatu kota yang hancur karena bencana bisa jadi sebuah proses yang rumit. Namun satu langkah sederhana yang kita lakukan bisa memberikan kontribusi untuk memulihkan keadaan di sana.

Mungkin kita tidak bisa hadir secara langsung di sana. Mungkin pula jumlah bantuan yang kita berikan tidak besar, tetapi seberapapun nilai yang kita berikan untuk sesama manusia, Tuhan melihat isi hati kita. Dukungan dan pemberian kita itulah yang menjadi wujud kasih kita kepada sesama, sebagaimana Alkitab mengatakan:

“Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” (Galatia 5:14).

Baca Juga:

Ketika Seorang Teman Meninggalkan Imannya

Ketika seorang temanku sendiri yang meninggalkan imannya, aku merasa perlu melakukan sesuatu. Tapi, aku tidak tahu pasti bagaimana atau di mana aku harus memulainya.

Anthonius Gunawan Agung: Teladan Hidup dari Sang Pahlawan di Tengah Bencana

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Bencana alam menyisakan tangis dan pilu. Namun, kadang di balik kisah pilunya, lahir pula kisah-kisah teladan yang mengetuk pintu hati kita.

Ketika gempa bumi melanda kawasan Palu, Donggala, dan Mamuju di Sulawesi Tengah, Anthonius Gunawan Agung (22) sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang Air Traffic Controller (ATC) alias pemandu penerbangan pesawat di Bandar Udara Mutiara Sis Al Jufri, Palu. Kala itu Antonius bertugas memandu Kapten Ricosetta Mafella yang menerbangkan pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6231 menuju Makassar.

Pukul 17:55 pintu pesawat telah ditutup. Pukul 18:02 Anthonius mengizinkan pesawat untuk lepas landas. Tapi, belum sempat pesawat itu mengangkasa, gempa bumi berkekuatan 7,7 skala richter mengguncang. Orang-orang segera bergegas menyelamatkan diri, tapi Anthonius bergeming meski sudah diteriaki untuk segera turun dari menara pengawas. Anthonius tidak menghiraukan guncangan gempa yang terjadi, dia fokus dengan tanggung jawabnya memandu pesawat hingga mengudara dengan sempurna.

Safe flight Batik Air, take care,” ucap Antonius untuk menutup komunikasinya dengan Kapten Mafella yang saat itu sudah dalam posisi aman di udara.

Namun, kemalangan pun menimpa Anthonius. Kalimat itu jugalah yang rupanya menjadi kalimat perpisahannya. Sejurus kemudian atap menara tempatnya bertugas ambruk. Anthonius tak punya lagi waktu menyelamatkan diri. Dia gugur dalam tugasnya sebagai seorang ATC.

Apa yang dilakukan oleh Anthonius Agung adalah tindakan yang heroik. Dedikasi Anthonius kala gempa terjadi memberikan kesempatan hidup kepada seluruh penumpang dan awak dalam pesawat. Dalam ungkapan dukacitanya kepada Anthonius, Kapten Mafella menuliskan, “Thank you for keeping me and guarding me till I’m safety airborne… Wing of honor for Anthonius Gunawan Agung as my guardian angel at Palu. Rest peacefully my wing man. God be with you.” Tak terbayangkan apabila saat itu Anthonius memilih lari menyelamatkan diri di saat roda pesawat masih berada di landasan, mungkin Kapten Mafella beserta seluruh awak dan penumpangnya tidak akan sampai mengudara dengan selamat.

Kisah Anthonius ini adalah sekelumit dari kisah-kisah heroik lainnya yang mengetuk pintu hati kita. Pun, kisah ini mengingatkan kita akan dedikasi dan pengorbanan yang juga dilakukan oleh Tuhan Yesus. Kematian Yesus di kayu salib memberikan kesempatan hidup tak hanya bagi satu jiwa, melainkan bagi semua manusia yang mau menerima Dia sebagai Tuhan. Sebagai anak Allah yang mengambil rupa manusia seutuhnya, Yesus bisa saja lari dari panggilan-Nya. Yesus mungkin takut akan apa yang harus Dia hadapi. Tapi, di taman Getsemani, Dia memilih untuk berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).

Yesus memilih taat pada Bapa. Yesus tidak melarikan diri dari panggilan-Nya kendati Dia tahu ada penderitaan besar yang harus Dia hadapi. Hingga akhirnya, melalui kematian Yesus kita pun dibayar lunas dari dosa-dosa kita dan melalui kebangkitan-Nya, kita dan orang-orang yang percaya kepada-Nya beroleh jaminan keselamatan berupa kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16).

Anthonius telah mengakhiri pertandingan imannya dengan baik. Dan bagi kita yang masih diberi kesempatan di dunia, inilah waktunya untuk kita menghidupi kehidupan dengan sebaik-sebaiknya, dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab sampai tiba waktunya ketika Tuhan memanggil kita pulang kembali kepada-Nya.

Selamat jalan Anthonius, kisah kepahlawananmu adalah setetes madu yang manis di tengah getirnya bencana.

Baca Juga:

3 Alasan Mengapa Aku Menunggu

Ketika segalanya menjadi lebih cepat, kita cenderung menganggap menunggu itu sebagai sebuah proses yang berat. Namun, bukankah sesungguhnya dalam hidup ini kita selalu menunggu sesuatu?

Doaku untuk Indonesia

Oleh Agustinus Ryanto, Jakarta

Tuhan, aku bersyukur atas bangsa Indonesia yang hari ini memperingati kemerdekaan-Nya.
Aku bersyukur atas segala kekayaan alam yang Kau limpahkan di negeri ini.
Pun, aku bersyukur atas segala keragaman yang Kau karuniakan di bangsa ini.

Namun, Tuhan, di balik segala hal baik yang tampak menghiasi negeriku, aku melihat ada banyak hal buruk yang tidak berkenan kepada-Mu terjadi di sini. Di balik kekayaan alamnya, ada orang-orang yang hidupnya terjerat dalam kemiskinan. Di balik keragaman yang menjadikan bangsa ini kaya, ada perseteruan-perseteruan yang meruncing karena tidak ada saling pengertian.

Tuhan, kadang aku merasa sedih dan ingin menutup mataku dari segala hal yang tampak buruk tersebut.

Tapi, ingatkan aku Tuhan, bahwa Engkau tidak pernah berhenti mengasihi Indonesia. Maka, sudah seharusnya pula aku terus belajar untuk mengasihi bangsaku.

Ajar aku untuk selalu mendoakan bangsaku, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanku (Yeremia 29:7).

Ajar aku untuk menghormati pemimpin-pemimpinku, sebab merekalah yang Engkau tetapkan untuk memerintah bangsa ini (Roma 13:1).

Aku percaya, Tuhan, bahwa ketika aku dan umat-Mu bersama-sama bertekun mencari wajah-Mu dan merendahkan diri di hadapan-Mu, serta berbalik dari jalan-jalan kami yang jahat, Engkau mendengar seruan kami dan kiranya Engkau berkenan untuk memulihkan negeri kami.

Terima kasih ya Tuhan. Dalam nama Yesus.

Amin.

Baca Juga:

Sekelumit Kisahku Ketika Menghadapi Depresi dalam Pekerjaan

Aku sadar bahwa tak peduli seberapa banyak uang yang bisa kuraih, atau seberapa potensial pekerjaan yang kugeluti, aku telah tiba di titik di mana kalau aku melanjutkannya, aku akan melukai kesehatan mentalku.