Dinyatakan Positif COVID-19: Sepenggal Ceritaku Menjalani Isolasi Bersama Tuhan

Oleh Dian Mangedong, Makassar
*Kisah ini ditulis berdasarkan kesaksian dari NA

“Hasil tes swab pegawai sudah keluar, dan kamu hasilnya positif…”

Aku NA, salah satu anggota tim perawatan isolasi Covid di rumah sakit swasta. Mendengar kabar itu dari balik telepon, seketika duniaku runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya. Bahkan sakit sekali, mengabari bapak di kampung yang hari itu tepat berulang tahun. Aku tiba-tiba menyesal, kenapa mesti menjadi bagian tim Covid di rumah sakit tempatku bekerja. Masa depanku kurasa hilang begitu saja. Semangat yang biasa kuberi kepada pasien Covid yang kurawat, sekarang hanya sekadar kata-kata belaka. Sebab aku sudah tertular dan positif!

“Jangan panik, jangan stress, percaya saja Tuhan selalu lindungi..” suara direktur rumah sakit dari balik telepon. Walau pagi itu ucapan semangat bertubi-tubi datang kepadaku, baik dari orang tua, sahabat, teman kerja, sungguh tidak ada pengaruhnya. Kukunci kamar dan kubanjiri kasurku sampai basah dengan air mata. Rasa bersalah karena dapat menjadi pembawa virus bagi orang sekitar. Rasa hancur karena diberikan cobaan seperti ini dari Tuhan. Bahkan marah! Kenapa saat aku memberi diri melayani sebagai petugas medis isolasi Covid, Tuhan malah membiarkanku terjangkit virus ini.

Melalui beberapa waktu sendiri, aku bangkit dan bersiap menuju rumah sakit. Aku akan menjalani perawatan isolasi. Di saat itu aku bahkan kesal saat orang-orang hanya mengirimkanku pesan tanpa berani menjengukku. Seketika ilmu yang kupelajari mengenai Covid hilang begitu saja. Aku panik, khawatir, egois, bahkan marah oleh karena pikiran yang kuciptakan sendiri.

Setelah melalui hari yang panjang. Aku merasa lelah dan tetap tidak damai. Aku masuk kategori orang tidak bergejala (OTG) dan perlahan mulai menerima keadaan ini. Satu-satunya cara adalah kembali kepada Tuhan. Seorang pendeta meneleponku dan mengingatkanku lagi tentang kisah Yusuf. Ia dibuang saudaranya, dijual, difitnah, tetapi di balik itu semua Tuhan punya rencana yang besar. Pula tentang Ayub yang tetap bersyukur dan memuliakan Tuhan di setiap pergumulan yang ia hadapi.

Di ruang isolasi aku merenungi semua yang terjadi. Saat itu aku berdoa dan mencurahkan semua kesedihanku kepada Tuhan. Air mata mengalir tetapi hati benar-benar damai. Kutahu Tuhan sudah menunggu saat-saat seperti ini bersamaku. Berdua saja. Intim dan khidmat. Kuingat lagi kata mamaku bahwa kejadian ini bukan petaka namun menjadi waktuku bersama Tuhan, untuk lebih dekat lagi, membaca Alkitab, berkomunikasi dengan-Nya, bahkan berserah penuh.

Sebagai manusia biasa, aku sadar telah melalui masa-masa penolakan dan stress luar biasa. Tetapi dibalik semua aku sangat bersyukur dan jiwaku lega menyadari ada satu jalan tempatku kembali dan merasakan damai, yaitu di dalam Tuhan. Bahkan Tuhan bukannya membuatku terasing di ruangan isolasi ini. Setiap hari kulihat bagaimana cinta nyata-Nya terwujud melalui sesama manusia terhadapku. Mendukungku dengan segala macam cara dan bentuk. Sungguh manis dan mengharukan kasih Tuhan melalui kehadiran kasih mereka.

“Perang baru dimulai!” kataku dengan penuh kekuatan. Aku berusaha menjalani hari-hariku di ruang isolasi dengan energi positif dari firman Tuhan yang senantiasa menguatkan dan menemaniku setiap hari. Hari-hari kulalui dengan bersyukur. Selain menjalani terapi fisik, perbaikan hubungan bersama Tuhan adalah yang paling kurasakan. Bagaimana sempurnanya kasih Tuhan yang bahkan mencintaiku disaat-saat terpuruk sekalipun.

“Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya, dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan” (Mazmur 62:12-13a).

Ya, aku percaya Tuhan berkuasa atas hidupku, maka aku tenang.

Hari-hari isolasiku telah usai. Hasil tes swab keduaku sudah negatif. Puji Tuhan… Masih perlu satu kali swab lagi untuk menyatakan aku benar-benar bersih dari virus ini. Sampai kumenulis ini tidak ada gejala sama sekali yang kurasakan. Sungguh Tuhan teramat baik terhadap umat-Nya.

Baca Juga:

Kehendak-Nya Tidak Selalu Tentang Mauku

Ketika sesuatu terjadi tak sesuai mau kita, kita mungkin membombardir Tuhan dengan deretan pertanyaan kenapa. Tapi, mengapa tidak menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk melihat dari sudut pandang-Nya?

Menghadapi Disrupsi: Mencoba, atau Menyerah?

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

Siapa sih yang suka kondisi ini?

Sudah sebulan lebih sejak peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan di Jakarta dan sekitarnya. Sekarang kota-kota lainnya ikut mengajukan PSBB wilayah. Desa-desa pun tak ketinggalan menetapkan status lockdown mandiri. Para pelajar, pekerja, dan umat beragama pun diminta melakukan aktivitasnya dari rumah saja.

Nyaman? Aku sih tidak!

Pertama kali mengikuti ibadah online 22 Maret 2020 lalu, entah kenapa aku pun mewek, berasa sedih, melow, dan gloomy. Ini baru satu hal yang “tercabut” dari kebiasaan kita. Bagi yang biasa nongkrong atau traveling bareng teman, hari-hari ini jadi sulit karena kita harus melaksanakan physical distancing. Para pelajar dan pekerja pun harus membiasakan diri menggunakan ragam teknologi supaya tugas dan tanggung jawabnya dapat terlaksana walau secara fisik mereka berdiam diri di rumah. Anak kos sepertiku, agak susah mencari tempat makan yang masih berjualan. Kalau pun ada, harus menyesuaikan dengan sistem take away.

Disrupsi pun terjadi! Berbagai kegiatan yang biasanya dilakukan dengan tatap muka terpaksa harus dikurangi atau ditiadakan. Banyak aktivitas, seolah tercabut dari akarnya. Kebiasaan lama perlu diubah untuk menuju sebuah pola yang baru. Siapa yang suka dengan kondisi seperti ini?

Belajar dari RPG/MMORPG

Di tengah kesuntukan seperti ini, mungkin sebagian besar kita mencari hiburan dengan main gim alias game. Salah satu gim yang jadi perbincangan terkini ialah Final Fantasy VII Remake yang dimainkan pada konsol PS4. Aku sih tidak ikut main, tidak cukup uang untuk beli konsolnya, hehe…. Tapi, melihat ulasan yang ditayangkan di YouTube, aku jadi kangen keseruan beberapa tahun silam saat memainkan gim Final Fantasy VII pada konsol PS1.

Aku tentu tidak akan mengulas gim ini karena tidak semua pembaca memainkannya. Hal yang bisa aku pahami dan sampaikan dari gim bergenre Role Playing Game (RPG) maupun Multiplayer Massive Online – RPG (MMORPG) adalah sistem permainan yang mirip dengan kehidupan manusia. Di awal permainan, biasanya kita akan diberikan musuh yang tergolong “mudah”. Setelah itu, karakter kita akan melawan bos, yang lebih susah ditaklukkan.

Dari berbagai pertarungan yang telah dimenangkan dari gim bergenre RPG dan MMORPG, karakter pun bisa naik level, juga skill-nya ikut naik. Semakin sering naik level, semakin mudah menghadapi musuh. Sesuatu yang awalnya nampak susah, ketika semakin sering diperhadapkan dalam pertarungan, lama-lama akan nampak biasa saja.

Ciptaan yang beradaptasi

Seperti nama genre di atas, atau yang diartikan gim berbasiskan permainan peran, tentu terinspirasi dari sesuatu yang nyata, yaitu makhluk hidup. Sistem permainan yang menyediakan tantangan yang susah dan terus dilakukan hingga menjadi nampak biasa, juga kita hidupi. Saat kita bayi, kita diberi tantangan untuk bisa berjalan dengan dua kaki. Bagi bayi, berjalan ini susah. Awalnya dia hanya bisa merangkak, mencoba berdiri, lalu jatuh. Tapi dengan segala upaya, sang bayi terus berusaha mengatasi tantangan sulit itu sampai akhirnya dia bisa berjalan dan berlari. Di usia kita sekarang, terlebih bagi yang memiliki fungsi kaki normal, apakah berjalan jadi proses yang sulit seperti kita masih bayi dulu?

Aku rasa kondisi kita saat ini, baik kita pekerja maupun pelajar, kita tentu sudah melewati banyak tantangan hidup. Hasilnya, kita paham banyak ilmu dan pengetahuan, baik hard skill maupun soft skill, mulai dari ilmu alam, ilmu sosial, sampai kemahiran kita membuat beragam konten kreatif audio visual, atau juga berbicara di depan umum.

Beberapa bulan ini, secara masif kita semua mendapatkan tantangan yang dikarenakan oleh pandemi virus corona. Sebagian besar kita, mau tidak mau harus tercabut dari akar kebiasaan kita. Apakah mudah? Tentu bukan tantangan yang mudah diselesaikan. Namun kita bisa belajar dari satu tokoh Alkitab yang juga mengalami disrupsi dalam kehidupannya.

Disrupsi dalam Kisah Para Rasul pasal 10

Terdisrupsi tentu bukan hal yang menyenangkan karena seseorang tercabut dari kebiasaan lamanya. Perasaan tidak senang pun muncul karena keadaan bertentangan dengan ideologi atau pemahaman yang dipegang seseorang. Dalam banyak kisah bangsa Israel merupakan bangsa pilihan Allah oleh karena janji yang Dia berikan pada Abraham (Kejadian 17:708). Setelah bangsa Israel terpecah, justru perasaan istimewa inilah yang membuat bangsa Yahudi tidak mudah bergaul dengan bangsa lainnya, bahkan dengan orang Samaria, yang sebenarnya satu rumpun dengan mereka. Dalam Yohanes 4:9b, dituliskan keterangan, “Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.”

Ideologi akan keistimewaan bangsa Yahudi pun terbawa oleh para rasul, salah satunya Simon Petrus. Kita kita membaca Kisah Para Rasul 10, Petrus berkeyakinan kuat bahwa seorang Yahudi dilarang keras bergaul dengan orang-orang bukan Yahudi, atau bahkan masuk ke rumah mereka. Namun, Tuhan berkata lain. Melalui tiga kali penglihatan akan binatang berkaki empat, binatang menjalar, dan burung, Tuhan mengatakan agar Petrus menyembelih lalu memakannya. Tuhan juga datang pada Kornelius, dan meminta agar bawahannya menjemput Petrus datang padanya.

Petrus pun terdisrupsi dari pemahamannya untuk tidak menajiskan orang non-Yahudi. Seperti tertulis dalam ayat 28b: “Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.”

Dari secuplik kisah Petrus yang terdisrupsi itu, ada tiga hal yang bisa kita petik:

1. Belajar untuk bertanya maksud dan kehendak Allah. Tentu kita perlu memahami bahwa segala sesuatu dalam hidup kita terjadi karena Tuhan berkenan. Kita mungkin tidak tahu maksud dan tujuan Tuhan lewat disrupsi yang terjadi, tetapi tidaklah salah jika kita bertanya pada-Nya.

2. Belajar lebih peka akan suara Tuhan. Kita perlu memahami bahwa Tuhan dapat menyampaikan suatu pesan lewat hal-hal yang ada di sekitar kita. Lewat penglihatan, bahkan lewat tantangan pun Tuhan menyatakan suara-Nya. Dalam kesulitan melepas atau memikirkan kembali idealisme kita pun, Tuhan dapat menyatakan suara-Nya.

3. Melihat suatu tantangan disrupsi sebagai cara untuk memuliakan Allah. Apa pun yang kita perbuat seharusnya membawa kemuliaan bagi nama-Nya. Memenangkan tantangan tentu bukan demi pujian atas diri kita sendiri.

Menghadapi disrupsi: mencoba, atau menyerah?

Pandemi COVID-19 dan segala disrupsi yang terjadi menciptakan era normalitas yang baru. Kita jadi belajar untuk hidup dengan lebih higienis: rajin cuci tangan dan pakai masker saat bepergian. Sebagian gereja, yang sebelumnya tidak familiar atau bahkan tidak punya akun media sosial, sekarang memanfaatkan medium ini untuk menyampaikan pesan firman Tuhan dan juga menjalin relasi dengan jemaat.

Mungkin masih ada beberapa bentuk disrupsi yang kita menjadi tantangan kita saat ini. Dan saat ini kita dihadapkan pada pilihan untuk mencoba membiasakan diri atau menyerah. Bagiku, ketika kita mencoba dan mungkin gagal, kita masih bisa kok mencoba terus-menerus sampai kita terbiasa. Dengan bertanya maksud dan kehendak Allah, peka akan suara Tuhan, serta melihat suatu tantangan disrupsi sebagai cara untuk memuliakan nama Allah, maka Dia tentu akan menguatkan kita untuk terus menerus mencoba.

Maka, apakah kita mau terus mencoba atau menyerah?

Baca Juga:

Melayani di IGD, Caraku Menikmati Berkat Tuhan

Memutuskan tidak pulang kampung dan melayani di garda terdepan awalnya adalah keputusan yang berat. Ada rasa takut, tapi dengan anugerah-Nya, ketakutanku berubah menjadi semangat dan sukacita melayani.

Apa yang Kamu Lihat? Penghiburan atau Penghakiman?

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Beberapa waktu lalu ada sebuah video yang cukup viral. Di video itu ditunjukkan seorang badut dengan mimik tersenyum berdiri di ballroom mal yang sepi pengunjung. Saking sedikitnya pengunjung di mal itu, tak ada satupun yang tergerak untuk mengisi kotak uangnya. Namun, sang badut bergeming menghibur orang-orang yang sedikit itu dengan senyumannya.

Sang pembuat video lalu berinisiatif memasukkan uang ke dalam kotak. Rupanya tindakan ini mendorong pengunjung lainnya untuk memberi juga. Lalu, setelah video ini viral di media sosial, sumbangan kepada sang badut pun berdatangan dari para warganet.

Di tengah situasi pandemi yang mencekam ini, mendapati kisah-kisah kebaikan seperti di atas terasa menghibur hati. Namun, aku jadi teringat. Masih di media sosial, terjadi perdebatan atas peristiwa merebaknya virus corona pada sebuah acara gereja di Bandung.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengidentifikasi bahwa jumlah orang yang positif terjangkit dari klaster acara tersebut berjumlah 226 orang. Di luar jumlah itu, ada beberapa yang telah meninggal dunia pula. Ketika berita ini menyebar di media sosial, komentar-komentar pun berdatangan. Ada komentar-komentar yang mengatakan bahwa itu ganjaran yang tepat untuk mereka yang mengikuti acara tersebut.

Sejenak aku termenung.

Jika ingin digali secara detail, mungkin investigasi dari peristiwa ini akan panjang. Untuk mencari dan menentukan siapa yang paling bertanggung jawab dari merebaknya virus ini di acara tersebut, kupikir itu adalah ranah pihak yang berwajib untuk memprosesnya. Namun, bagaimana jika kita menggeser sedikit cara pandang kita? Daripada berfokus kepada “salah siapa,” bagaimana jika kita memberi ruang bagi empati untuk turut hadir dalam asumsi-asumsi kita?

Aku membayangkan, para anggota jemaat yang hadir di acara tersebut tentunya terguncang karena terjangkit. Pun, ketika ada di antara mereka yang meninggal dunia, pastilah itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga mereka.

Selayaknya, tugas kita sebagai orang Kristen adalah menawarkan penghiburan dan empati. Para korban dari pandemi ini, siapa pun mereka, adalah manusia juga seperti kita. Manusia yang berdosa dan membutuhkan anugerah pengampunan Tuhan.

Ketika Yesus berjumpa dengan seorang yang buta sejak lahir, murid-murid-Nya bertanya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2). Pertanyaan murid-murid sejatinya bukanlah pertanyaan yang tidak peka terhadap kesakitan si orang buta, karena pada zaman itu orang-orang meyakini bahwa cacat fisik seseorang adalah akibat dari dosa. Dan, biasanya mereka yang buta sejak lahir bernasib menjadi pengemis. Buta dan pengemis pula. Lengkap sudah penderitaan orang itu. Yesus lalu menjawab, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:3).

Dari bagian ini, kita mendapati bahwa Yesus dan murid-murid-Nya sama-sama melihat orang buta tersebut. Namun, dalam cara dan respons yang berbeda. Dalam bahasa Ibrani ada dua pilihan kata untuk “melihat”, yakni blepo dan horao. Murid-murid melihat dengan blepo, mereka melihat hanya dengan mata jasmani. Cara melihat seperti ini akhirnya menghasilkan penghakiman yang terselubung, seperti tercermin dalam pertanyaan mereka. Sedangkan Yesus melihat dengan horao, melihat dengan hati. Cara Yesus melihat menghasilkan respons untuk berbelas kasihan. Bukan penghakiman yang ditawarkan-Nya, tetapi tindakan kasih yang berujung pada pemulihan.

Andaikata saat itu si orang buta tak jadi dicelikkan Yesus, mungkin hatinya merasa lebih baik sebab Yesus tidak menghakimi matanya yang buta sebagai dosa. Namun, Kristus berkenan memulihkan penglihatannya, sehingga celiklah matanya.

Mata kita tidak pernah melihat dengan asal melihat. Kita melihat dengan tujuan. Kita melihat untuk mencari sesuatu dan kita berfokus melihat apa yang kita lihat. Hari ini, ketika kita melihat satu per satu korban berjatuhan, apakah yang kita lihat dan pikirkan? Apakah kita melihatnya sebagai hukuman, biar tau rasa, atau terbitkah kasih kita kepada mereka? Tergerakkah hati kita untuk mendoakan mereka, agar tangan Tuhan yang berkuasa menjamah dan menganugerahkan mereka dengan damai sejahtera?

Yesus mengatakan bahwa semua orang akan tahu kita adalah murid-murid-Nya jika kita saling mengasihi (Yohanes 13:35). Kasih yang Yesus maksudkan di sini bukan hanya mengasihi orang yang dekat dengan kita, atau yang baik pada kita. Kita diminta-Nya untuk mengasihi siapa saja, termasuk musuh kita sekalipun (Matius 4:44). Tak ada pengecualian, kita wajib mengasihi semua orang.

Virus COVID-19 memang berbahaya, cepat menular, tetapi yang tak kalah bahayanya adalah dosa-dosa yang bersarang dalam diri kita. Kita membutuhkan pengampunan dari-Nya, sebab kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri (Yesaya 53:6).

Baca Juga:

Kasih Tuhan di Masa Corona

Lent, Jumat Agung, dan Paskah serasa tenggelam di tengah-tengah pandemi COVID-19, tetapi kegelapan tidak dapat menutupi terang. Pesan apa yang salib Yesus 2000 tahun lalu sampaikan? Kasih Tuhan yang terus menyertai, bahkan di masa corona.

Kasih Tuhan di Masa Corona

Oleh Jefferson, Singapura

Memasuki bulan keempat di tahun 2020, aku tidak menyangka kalau wabah COVID-19 akan jadi separah ini. Situasi di Singapura sendiri bereskalasi dengan cepat selama beberapa minggu terakhir. Pengetatan berkala peraturan-peraturan social distancing pun mencapai puncaknya ketika pemerintah mengumumkan kebijakan “pemutus arus”—yang mirip dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta—hari Jumat minggu lalu. Salah satu upaya yang diperkenalkan untuk menghambat laju penyebaran coronavirus adalah menutup kantor-kantor dari berbagai sektor non-esensial selama satu bulan, dimulai dari Selasa kemarin. Kantorku yang bergerak di bidang konsultasi lingkungan pun terkena imbasnya.

Aku cukup terkejut ketika mendengar harus bekerja dari rumah selama sebulan, terutama karena perusahaanku belum pernah melakukannya sejak pandemi ini dimulai. Group chat kantor pun mulai ribut dalam keresahan, membuat aku yang tadinya tenang-tenang saja jadi ikutan panik.

Pada saat itulah aku mulai menyadari dan merasakan dampak dari wabah COVID-19 secara langsung. “Ketakutan dan penderitaan semakin nyata di mana-mana,” pikirku. Pengamatan ini kemudian berkembang menjadi pertanyaan, “Menghadapi situasi seperti ini, tanggapan seperti apa yang iman Kristen berikan? Dan apa bedanya dengan reaksi dari dunia?”

Di antara banyak tulisan dan opini yang disuarakan oleh berbagai kalangan, artikel karangan N. T. Wright menuntunku untuk merenungkan tentang hal ini lebih dalam dari yang kukira, di mana aku melihat keindahan dan keunikan dari jawaban Kekristenan untuk pandemi ini.

“Kekristenan tidak menawarkan jawaban apapun atas coronavirus

Artikel itu dibuka dengan pengamatan beliau terhadap suatu refleks—layaknya lutut yang diketuk palu karet—dari banyak kalangan untuk memberikan sebuah label kepada peristiwa ini, entah sebagai “hukuman”, “pertanda”, maupun “respons alam”. Teori-teori konspirasi pun menyebar secepat virus korona menular. Orang-orang ini dijuluki N. T. Wright sebagai “Rasionalis” karena menuntut penjelasan rasional atas segala kejadian. Berseberangan dengan mereka adalah kaum “Romantisis” yang sentimentalis, yang menuntut suatu “desahan lega“, kepastian instan bahwa pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja.

Terhadap kedua reaksi tersebut, N. T. Wright memberikan alternatif respons yang iman Kristiani usung dalam bentuk ratapan, di mana kita mengakui dengan jujur kalau kita sama sekali tidak mengetahui alasan di balik suatu kejadian maupun hasil akhirnya. Ratapan beliau jabarkan sebagai tindakan “bergerak keluar dari kecemasan kita terhadap dosa-dosa dan pergumulan pribadi yang egois untuk melihat penderitaan dunia dengan lebih luas”. Tradisi ratapan yang Alkitabiah mengajak kita untuk berempati dengan penderitaan mereka yang berhadapan dengan pandemi ini dalam kondisi yang jauh dari ideal, seperti di kamp pengungsi yang padat di Yordania dan daerah penuh kekerasan perang seperti Gaza.

Beliau kemudian mengajak kita untuk menilik isi dari sejumlah mazmur ratapan. Beberapa mazmur memang ditutup dengan pembaharuan keyakinan akan penyertaan dan pengharapan dari Tuhan di tengah permasalahan, namun ada juga mazmur-mazmur yang berakhir dalam kegelapan dan kekalutan (seperti Mazmur 88 dan 89). Dari kedua jenis mazmur ratapan ini, kita melihat bahwa praktik ratapan tidak selalu memberikan jawaban atas segala rasa duka dan frustrasi yang kita alami. Meskipun begitu, ratapan selalu menyingkapkan suatu misteri yang dinyatakan oleh Alkitab kepada para peratap: TUHAN sendiri pun meratap.

Ratapan Allah Tritunggal terekam jelas dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Ada banyak bagian yang mencatat hati Tuhan yang berduka, seperti ketika melihat keberdosaan dan kejahatan manusia (Kejadian 6:5-6) serta ketika bangsa Israel pilihan-Nya sendiri berpaling dari-Nya untuk menyembah berhala (Yesaya 63:10). Di sisi lain, dalam Perjanjian Baru kita melihat air mata sang Anak di makam Lazarus (Yohanes 11:35) dan ”erangan” Roh Kudus di dalam diri kita (Roma 8:26) sambil kita sendiri “mengerang” bersama seluruh ciptaan (Roma 8:23). [Terjemahan Bahasa Indonesia memakai kata “keluhan” untuk kata yang secara konsisten diterjemahkan sebagai “groan(-ings)” / “erangan” oleh terjemahan-terjemahan Bahasa Inggris.]

Dari semua pengamatan ini, N. T. Wright menyimpulkan bahwa orang Kristen tidak dipanggil untuk (mampu) menjelaskan apa yang sedang terjadi dan mengapa itu terjadi, melainkan untuk meratap. Bersama dengan Roh Tuhan yang meratap dalam diri kita, ratapan kita menjadikan kita bait-bait Allah yang menyatakan penyertaan dan kasih-Nya di tengah dunia yang sedang menderita karena wabah COVID-19.

Ikut meratap bersama Tuhan yang meratap

Walaupun tulisan yang kuringkas di atas memperluas wawasan dan mengajarkan sebuah cara bagaimana kita dapat merespons wabah COVID-19 dengan Alkitabiah dan bijak, aku merasa kurang puas dengan konklusi yang N. T. Wright ambil. Aku merasa masih ada kaitan yang lebih mendalam antara ratapan kita dengan ratapan Allah yang tidak dipaparkan oleh beliau. Dalam perenunganku tentang hal ini, sebuah frasa dari Yesaya 53:3 mendadak muncul dalam benakku: “man of sorrows”, yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai “seorang yang penuh kesengsaraan”. Frasa ini digunakan dalam nubuatan nabi Yesaya tentang Hamba TUHAN yang menderita untuk memikul ganjaran dari dosa dan kejahatan yang sepatutnya kita terima (Yesaya 52:13–53:12), yang kemudian digenapkan oleh Yesus Kristus ketika Ia disesah, dihina, dan disalibkan sekitar 2000 tahun yang lalu.

Deskripsi Yesus sebagai man of sorrows inilah yang menggugah hatiku. Sebagai Tuhan atas seluruh ciptaan, Yesus Kristus adalah satu-satunya Pribadi di jagat raya yang memahami penderitaan secara penuh. Ia mampu melenyapkan kesengsaraan hanya dengan satu patah kata (bdk. Matius 26:53)! Yesus tidak perlu datang ke dunia, tapi Ia tetap mengambil rupa manusia dan mengalami penderitaan dengan sensasi panca indera yang sama dengan kita (Yesaya 53:7) hingga mati (53:8) sehingga “oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh” (53:5; bdk. 1 Petrus 2:24). Kurasa terjemahan Indonesianya tidak menggambarkan dengan penuh makna dari frasa ini. Bukan hanya “penuh kesengsaraan”, penderitaan yang Yesus alami pada Jumat Agung menjadikan-Nya “seorang sengsara”, kesengsaraan dalam wujud darah dan daging manusia.

Dalam perenungan inilah aku melihat hubungan antara ratapan kita dengan ratapan Tuhan: Yesus Kristus telah lebih dulu meratapi dan berempati dengan semua dosa dan penderitaan kita, bahkan mengalami sendiri segala penderitaan itu dan menanggungnya di atas kayu salib sampai mati, sehingga kita dapat “bergerak keluar dari kecemasan kita… yang egois untuk melihat penderitaan dunia dengan lebih luas”, meratapi dan berempati dengan penderitaan orang lain. Kebenaran ini digambarkan dengan indah oleh Paulus, “[Pribadi Allah Bapa] yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32)

Allah yang kita sembah, yang menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus, tidaklah jauh dari kita semua (bdk. Ibrani 4:15). Ia tidak tinggal diam ketika melihat ciptaan-Nya yang menurut hikmat mereka sendiri mencoba untuk merasionalisasi dan meromantisasi jawaban atas segala kejahatan dan penderitaan di dunia. Kepada kaum-kaum Rasionalis, Romantisis, dan semua pandangan manusiawi lainnya, Allah menjawab dengan memilih untuk datang sendiri ke dalam dunia, merasakan segala penderitaan itu dalam wujud dan indera yang sama dengan kita, meratap bersama kita, dan menebus upah dosa hingga tuntas di atas kayu salib.

Kurasa bertepatannya momen wabah COVID-19 ini dengan masa Lent atau prapaskah dan peringatan Jumat Agung dan Paskah bukanlah sebuah kebetulan. Mengapa begitu? Karena di tengah masa coronavirus yang gelap pekat, cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus (2 Korintus 4:4), terang kasih Tuhan yang terus menyertai kita, dapat terlihat bersinar lebih cemerlang.

Meratap di tengah kegelapan, berharap pada sang Terang kasih dunia

Jadi, bagaimana kita dapat melakukan praktik ratapan di masa kini? Yang jelas, ratapan tidak dilakukan dengan berusaha menemukan penjelasan di balik situasi COVID-19 yang kompleks seperti golongan Rasionalis, maupun mencari penghiburan instan seperti kaum Romantisis. Sebaliknya, kita meratap dengan melihat keluar dari diri kita untuk menolong dan berempati dengan penderitaan orang lain, seperti yang N. T. Wright usulkan dan, aku ingin menambahkan, mengarahkan orang lain untuk melihat dan percaya kepada Kristus yang meratap bersama kita dan menanggung semua penderitaan itu untuk kita.

Melalui doa-doa yang kita panjatkan, percakapan-percakapan online dengan teman dan kerabat kita, serta mencari tahu dan menolong mereka yang membutuhkan bantuan—baik secara dana, pangan, maupun emosi—untuk melewati pandemi ini, kita memberitakan Injil kasih keselamatan dalam Yesus Kristus. Teman-teman kosku membantu menajamkan langkah yang terakhir dengan mengingatkan bahwa bantuan yang dapat kita berikan kepada orang lain pun adalah berkat yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita terlebih dahulu. Dengan kata lain, pengucapan syukur yang tulus adalah bagian penting dari tindakan kita menyalurkan berkat Tuhan untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Dengan segala waktu dan sumber daya tambahan yang kudapatkan dari keharusan untuk bekerja dari rumah selama sebulan ke depan, aku tahu apa yang akan kuaplikasikan dari perenungan ini: mengucap syukur setiap saat atas berkat-berkat yang Tuhan terus berikan, meratapi penderitaan demi penderitaan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, dan membantu mereka yang membutuhkan sejauh yang kubisa. Melalui semua tindakanku ini, aku berdoa agar dunia dapat mengenal dan berharap kepada Yesus Kristus yang meratap bersama kita dan telah memberi diri-Nya untuk menanggung segala penderitaan kita.

Maukah kamu ikut meratap bersamaku dan membagikan pengharapan ini sehingga realita kasih Tuhan di masa corona semakin nyata di tengah dunia yang terinfeksi oleh dosa?

Selamat Jumat Agung dan Paskah! Tuhan Yesus menyertai dan memberkati, soli Deo gloria.

P. S. Judul tulisan ini diadaptasi dari novel karangan Gabriel García Márquez yang berjudul Love in the Time of Cholera (“Kasih di Masa Kolera”)

Baca Juga:

Ketika Aku Divonis Sakit Oleh Pikiranku Sendiri

Tahun 2016 aku pernah menderita Pneumonia, lalu dinyatakan sembuh. Namun, berita-berita tentang virus yang kubaca membuatku cemas. Pikiran buruk pun menghantui, aku over-thinking.

Andra Tutto Bene, Semua Akan Baik-baik Saja

Oleh Dhimas Anugrah, Jakarta

Di Hong Kong, seorang pria merampok supermarket demi mendapatkan tisu toilet. Juga di Australia, seorang perempuan bertengkar hebat karena berebut barang di supermarket.

Jika kamu pernah membaca dua berita di atas dari portal berita internasional, mungkin terdengar menggelikan. Kok bisa orang-orang merampok dan bertengkar untuk hal-hal yang sepele?

Namun, inilah realitas dunia yang kita hadapi belakangan ini. Kala pandemi virus Covid-19 menjangkiti berbagai belahan dunia, masing-masing orang mencari cara untuk bertahan dan menyelamatkan dirinya. Di beberapa negara, benda yang paling langka adalah tisu toilet. Orang-orang memborong tisu dalam jumlah besar karena takut kehabisan, dan takut apabila kotanya dikarantina dan mereka tak bisa ke mana-mana.

Setiap hari kita disuguhkan berita dan informasi di media sosial mengenai dampak virus ini. Kita setuju virus ini berbahaya, tapi yang tak kalah berbahayanya adalah bagaimana manusia meresponsnya. Di tengah krisis dan ancaman, manusia menunjukkan sifat “buas”nya—keinginan untuk menyelamatkan diri sendiri tanpa berpikir tentang orang lain.

Sebagai orang Kristen, kita tidak dipanggil untuk hidup bagi diri diri sendiri. Kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi dunia (Matius 5:16). Oleh karena itu, hadirnya pandemi ini adalah momen yang amat baik kita untuk:

1. Mengembangkan rasa solidaritas

Solidaritas adalah kemampuan untuk merasakan satu rasa penderitaan orang lain, merasa senasib, dan perasaan setia kawan. Solidaritas sebenarnya adalah sifat alami yang muncul dalam diri manusia, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian dari Lembaga Penelitian Bencana, Universitas Delaware. Lembaga ini telah melakukan 700 penelitian terkait bencana dan krisis sejak 1963 secara detail. Kesimpulannya, di saat bencana datang orang dapat tetap tenang dan saling membantu, walau memang ada orang-orang yang ketakutan dan melakukan kekerasan. Yang selalu terjadi saat dan pasca bencana adalah orang-orang saling berbagi dan menguatkan satu sama lain.

Rutger Bregman, seorang filsuf muda Belanda mengamati sebuah tulisan di dinding rumah yang berbunyi demikian:

“Hai tetangga, jika kamu berusia lebih dari 65 tahun dan kekebalan tubuhmu lemah, aku ingin membantumu. Beberapa pekan ke depan, aku bisa membantumu berbelanja di luar. Jika kamu perlu bantuan, tinggalkan pesanmu di pintu rumahmu dengan nomor teleponmu. Bersama, kita bisa menjalani semuanya. Kamu tidak sendirian!”

Bencana bisa menyerang siapa saja, dan tentunya yang paling rentan adalah mereka yang berusia lanjut dan kekuatan fisiknya lemah. Namun, kita melihat dalam beberapa berita internasional bahwa krisis karena pandemi corona ini tak cuma memunculkan kisah-kisah seram, tetapi juga kisah yang memantik kembali harapan kita. Di Tiongkok, ketika warga Wuhan diisolasi, mereka saling menyemangati dengan berteriak “Jiayou!”. Di Italia, terutama di Napoli dan Siena, orang-orang menyanyi dari jendela rumah mereka, saling memberi semangat, terkhusus bagi mereka yang terinfeksi.

Solidaritas seperti inilah yang selayaknya kita kembangkan dalam keseharian kita. Kita bisa mengesampingkan dulu perbedaan-perbedaan: agama, preferensi politik, dan lain-lain. Fokuslah kepada satu tujuan: menolong mereka yang rentan agar krisis ini dapat segera berlalu.

2. Menebarkan harapan dan belas kasih

Seorang ibu di Puglia, Italia, mengatakan kalimat yang menjadi viral di media sosial. Andra tutto bene!

Andra tutto bene (semua akan baik-baik saja). Perkataan ini meneduhkan, memberi semangat, mengobarkan kembali harapan, dan menunjukkan belas kasih. Semua akan baik-baik saja bukan berarti mengingkari peristiwa buruk yang tengah terjadi, tetapi perkataan ini mengajak kita untuk melihat jauh melampaui hari ini: bahwasannya harapan akan hari depan yang baik tetap ada. Pesan dari ibu itu tak cuma untaian kata, tetapi mereka yang membacanya seolah diajak berdoa dan yakin bahwa ada Tuhan yang memelihara.

Di tengah kondisi krisis dan ketidakpastian, kita tidak dipanggil untuk bersikap takut dan lemah, tetapi kita dipanggil untuk melangkah dengan harapan. Ibrani 6:19 berkata, “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.”

Sewaktu Perang Dunia II meletus, Prof. Viktor Frankl mengobsevasi para tahanan yang mendekam di kamp konsentrasi Nazi. Dari pengamatannya, dia mendapati bahwa hanya orang-orang yang punya harapan yang bertahan hidup. Mereka mampu bertahan meskipun penderitaan yang mereka terima amat besar.

Kita tidak bisa mengendalikan apa yang terjadi di luar kita, tapi kita bisa menentukan seperti apa kita ingin merespons: dengan takut dan panik, atau dengan iman dan pengharapan?

Jika kita memilih merespons dengan iman dan pengharapan, kita bisa mewujudkannya dengan menaati aturan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial, tidak menyebarkan berita yang tak teruji kebenarannya, serta tidak serakah menimbun barang-barang pokok demi kepentingan pribadi kita.

Kiranya masa-masa ini menjadi momen pengingat bagi kita bahwa dalam masa terkelam sekalipun, harapan tetap ada. Tuhan kita adalah setia, Dia tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya.

Kyrie Elesion, Tuhan kasihanilah kami dan sembuhkanlah dunia ini.

Baca Juga:

Jangan Hidup dalam Kekhawatiran

Tuhan senantiasa mencukupiku, tapi kok aku khawatir terus? Khawatir adalah pergumulan manusia sepanjang segala zaman, tapi kabar baiknya: Allah selalu setia dan dapat diandalkan.

Yuk baca artikel Yulinar berikut ini.

Ibadah Online, Salah Satu Kontribusi Gereja Redakan Pandemi Covid-19

Oleh Yakub Tri Handoko, Surabaya

Dampak virus corona Covid-19 semakin meluas. Hampir semua area merasakan dampaknya. Salah satunya adalah ibadah hari Minggu. Sebagian gereja, baik di Indonesia maupun luar negeri (Singapura, Hong Kong, dan lainnya) sudah tidak lagi mengadakan pertemuan bersama di gedung gereja. Mereka mulai melakukan ibadah secara online (live streaming atau recorded sermon). Beberapa menawarkan beberapa opsi ibadah yang beragam sekaligus, tergantung pada preferensi jemaat masing-masing.

Fenomena ini menimbulkan pro dan kontra. Sudah banyak jemaat, hamba Tuhan, gereja maupun sinode yang menanyakan pendapatku tentang hal ini. Gerejaku di Surabaya juga menggumulkan isu yang sama.

Apakah ibadah online boleh ditiadakan hanya gara-gara sebuah wabah? Perlukah ibadah konvensional (secara tatap muka) tetap dipertahankan? Bagaimana pandangan Alkitab tentang hal ini?

Untuk memahami isu ini dengan baik, kita perlu menegaskan terlebih dahulu alasan utama di balik wacana penghentian ibadah konvensional. Wacana ini seharusnya didorong oleh keinginan untuk berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat, bukan ketakutan akan tertular virus ini. Seperti yang sudah diberitakan berkali-kali oleh instansi-instansi yang berwenang, menghindari pertemuan dalam skala besar merupakan salah satu langkah penting dan efektif untuk menekan persebaran Covid-19. Semakin sering pertemuan dilakukan dan semakin banyak orang yang terlibat, semakin besar pula risiko persebaran virusnya. Jika ini yang terjadi, gelombang pandemi ini tidak akan kunjung mereda. Jumlah korban jiwa akan terus bertambah. Rumah sakit di Indonesia tidak akan memiliki kapasitas ruangan dan tenaga perawatan yang memadai untuk menolong para korban. Berbagai estimasi ilmiah menunjukkan bahwa jika situasi tidak berubah, kekacauan akan muncul semakin besar.

Di tengah situasi seperti ini, gereja-gereja seharusnya terpanggil untuk memberikan kontribusi nyata. Bukan hanya slogan-slogan rohani yang menguatkan hati, tetapi sebuah langkah konkrit. Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh gereja. Salah satunya adalah mengkaji ulang pengadaan ibadah konvensional. Aku meyakini bahwa upaya ini tidak melanggar firman Tuhan.

Pertama, pembatasan sosial (social distancing) merupakan himabuan pemerintah yang baik. Sebagai warga negara yang baik, kita tidak memiliki alasan untuk tidak menaati himbauan yang baik seperti ini (Roma 13:1-7). Selain itu, Tuhan juga memerintahkan umat Allah untuk mengusahakan kesejahteraan kota di mana Tuhan membuang mereka (Yeremia 29:7). Mengurangi jumlah pertemuan dan jemaat yang hadir dalam ibadah-ibadah konvensional merupakan tanggung jawab sosial bagi semua masyarakat, termasuk orang-orang Kristen. Tidak menghiraukan himbauan ini akan memberikan pesan negatif kepada dunia bahwa orang-orang Kristen tidak memiliki kepekaan sosial. Sekali lagi, ini bukan tentang ketakutan atau kelemahan iman. Sama sekali tidak. Ini tentang kepedulian dan kontribusi bagi masyarakat.

Kedua, hari Sabat bukan alasan untuk tidak berbuat kebaikan. Tuhan Yesus sering berdebat dengan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tentang pelaksanaan Sabat. Walaupun sama-sama menerima perintah untuk menghormati hari Sabat, mereka berbeda pendapat tentang aplikasi detailnya. Tradisi Farisi membuat pelaksanaan Sabat begitu rumit. Ada banyak aturan tambahan. Tuhan Yesus beberapa kali bersilang pendapat dengan mereka tentang aturan-aturan itu. Suatu kali mereka memersoalkan murid-murid yang memetik bulir gandum untuk dimakan pada hari Sabat (Matius 12:1-8). Yesus membenarkan tindakan murid-murid sambil memberikan contoh bagaimana Daud dan para pengikutnya telah melanggar sebuah aturan ibadah demi mempertahankan jiwa mereka (Markus 2:25-26). Yesus bahkan menegaskan bahwa hari Sabat diciptakan untuk manusia, bukan sebaliknya (Markus 2:27). Maksudnya, jangan sampai “ketaatan” pada aturan relijius atau ritual tertentu justru mengabaikan yang terpenting, yaitu nyawa manusia. Poin ini juga diajarkan oleh Yesus ketika Dia menyembuhkan orang atau melakukan kebaikan lain pada hari Sabat (Matius 12:10-13). Intinya, sekali lagi, jangan sampai perayaan Sabat menghalangi kita untuk berbuat kebaikan.

Ketiga, pertimbangan historis tentang esensi ibadah memberi ruang bagi ibadah yang tidak konvensional. Ada banyak contoh historis yang relevan dan bisa dipaparkan di sini. Cukuplah untuk melihat beberapa saja. Yang pertama adalah kehancuran bait Allah Salomo oleh tentara Babel. Selama berabad-abad umat Allah (terutama kerajaan Yehuda di selatan) menjadikan bait Allah di Yerusalem sebagia kebanggaan dan pusat ibadah. Elemen-elemen ibadah penting dilakukan di sana: persembahan kurban, hari raya pendamaian, dan sebagainya. Dengan kehancuran bait Allah, bangsa Yehuda dipaksa untuk memikirkan ulang esensi ibadah mereka. Yang terpenting dalam ibadah bukanlah persembahan, tetapi ketaatan (1 Samuel 15:22). Pembuangan ke Babel menghadirkan pergeseran besar yang lebih baik dalam ibadah umat Tuhan: fokus pada ritual (persembahan kurban) bergeser pada ketaatan (pengajaran firman). Ibadah bersama dalam skala besar sekarang menjadi ibadah dalam skala yang lebih kecil. Para ahli bahkan menduga pembuangan ke Babel ini menjadi cikal-bakal berdirinya rumah ibadat Yahudi (sinagoge) yang lebih berfokus pada pengajaran hukum Taurat.

Contoh historis lainnya adalah sebuah isu peperangan dalam pemberontakan Makabe melawan penguasa Siria (dinasti Seleukus). Perjuangan bangsa Yahudi di bawah kepemimpinan keluarga imam Matatias (terutama di bawah pimpinan Yudas Makabe) terus meraih kesuksesan. Mereka menjadi ancaman serius bagi penguasa asing. Nah, salah satu strategi musuh untuk melemahkan perjuangan ini adalah dengan menyerang pasukan Makabe pada hari Sabat. Awalnya, bangsa Yahudi menolak untuk melawan, sehingga banyak korban berjatuhan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk memberikan perlawanan, sekalipun hal itu tergolong pelanggaran Sabat menurut tradisi populer pada waktu itu. Mereka menyadari bahwa ada hal-hal lain yang lebih penting daripada ketaatan kaku terhadap hari Sabat.

Dua contoh di atas menunjukkan bagaimana umat Allah bersikap pada saat situasi khusus yang buruk. Mereka dipaksa untuk memikirkan ualng esensi dari segala sesuatu. Mereka menggumulkan kembali apa yang penting dan apa yang lebih penting.

Keempat, konsep teologis tentang gereja dan tradisi gereja mula-mula juga memberi tuntunan yang cukup jelas. Gereja adalah orang, bukan bangunan (1 Korintus 1:2). Di mana umat Tuhan berkumpul, di situ ada gereja. Yang penting adalah kehadiran Allah, bukan rumah Allah secara fisik. Tidak heran, tempat ibadah jemaat mula-mula cukup variatif. Kadang di bait Allah, di rumah ibadat Yahudi mapun di rumah-rumah jemaat (Kisah Para Rasul 2:42-47). Jumlah kehadiran di setiap ibadah terbatas.

Praktik seperti ini terus dipertahankan di periode berikutnya, terutama pada saat penganiayaan terhadap orang-orang Kristen semakin meningkat dan meluas. Mereka harus berkumpul dalam skala kecil dan sembunyi-sembunyi supaya tidak ketahuan. Mereka menggunakan gaya ibadah dan liturgi yang beragam, sesuai dengan keadaan. Yang terpenting bagi mereka adalah persekutuan dengan orang percaya yang lain, tidak peduli berapa pun jumlahnya, tidak peduli bagaimana suasana ibadahnya, tidak peduli di mana tempatnya.

Kelima, persekutuan orang Kristen tidak dibatasi oleh lokasi. Yang disebut gereja adalah semua orang di segala tempat yang memanggil nama Yesus sebagai Tuhan (1 Korintus 1:2). Ini disebut gereja universal. Kristus sebagai Gembala Agung. Yang dipentingkan dalam persekutuan ini adalah kesehatian. Lokasi bukanlah halangan. Sebagai contoh, Paulus mengajak jemaat di Korintus untuk bersatu dengan dia dalam roh dan mengambil keputusan bersama tentang suatu kasus di jemaat (1 Korintus 5:3-5). Perbedaan lokasi tidak menghalangi Paulus untuk hadir secara rohani atau berkumpul di dalam roh. Dengan cara yang sama, ibadah online, terutama dalam kondisi khusus, tetap bisa mengakomodasi persekutuan.

Berdasarkan semua pertimbangan di atas, aku mengsulkan gereja-gereja untuk secara serius menjauhi pertemuan ibadah dalam jumlah besar. Ini adalah tanggung jawab sosial kita. Dunia sedang mengawasi kita. Jangan sampai kita menjadi syak atau batu sandungan bagi orang lain.

Secara lebih spesifik dan praktis, aku mengusulkan agar gereja-gereja menawarkan beragam opsi ibadah sekaligus supaya dapat mengakomodasi sebanyak mungkin aspirasi jemaat. Berikut ini beberapa tips praktis yang bisa dilakukan:

Yang pertama tentu saja adalah menyediakan ibadah online. Jika peralatan memadai dan kecepatan internet kencang serta sudah terbiasa, gereja bisa mengadakan ibadah live streaming. Pastikan saja bahwa proses mengunggah berkas dan mengunduhnya berjalan dengan cepat dan mulus. Jangan sampai terjadi masalah teknis (jaringan lambat atau crash). Jika live streaming tidak memungkinkan, ibadah yang sudah direkam terlebih dahulu bisa menjadi pilihan. Rekaman ini lalu diunggah ke internet (ada banyak pilihan), dan tautan diinfokan ke jemaat pada Hari Minggu pagi (atau sesuai jam ibadah).

Gereja juga perlu memikirkan sejumlah lokasi berbeda bagi jemaat yang ingin bersekutu dalam skala kecil. Semakin banyak pilihan lokasi semakin sedikit jumlah jemaat yang akan berkumpul di tempat yang sama. Ini sangat baik untuk mengurangi resiko persebaran. Gedung gereja tetap bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan lokasi. Jika pimpinan gereja tetap mengadakan ibadah seperti biasa di gereja, hal itu tidak masalah, karena jumlah jemaat yang hadir juga tidak akan banyak. Mereka sudah tersebar ke berbagai lokasi. Jangan lupa untuk melakukan pembersihan ruangan dan peralatan secara maksimal, baik di gereja atau setiap lokasi persekutuan yang lain.

Jika sebuah gereja memiliki pemimpin awam yang banyak, mereka bisa diminta untuk menyampaikan firman Tuhan di persekutuan kecil sesuai lokasi masing-masing. Jika tidak memungkinkan, setiap persekutuan bisa menonton ibadah streaming/rekaman bersama-sama.

Opsi terakhir yang perlu dipikirkan adalah ibadah keluarga. Setiap keluarga didorong untuk mengadakan ibadah Minggu sendiri-sendiri. Para rohaniwan bisa menyediakan liturgi dan ringkasan khotbah yang dapat dijadikan patokan bagi setiap keluarga. Jika kepala keluarga tidak pandai berkhotbah, dia bisa membacakan saja ringkasan yang ada. Bila perlu, ajak semua anggota keluarga untuk mengikuti ibadah online bersama-sama.

Kiranya artikel ini bisa memberikan sepercik pencerahan bagi banyak orang yang mengalami kebingungan dan keresahan. Aku meyakini bahwa situasi khusus yang terlihat buruk ini justru merupakan ajakan yang baik dari TUHAN kepada gereja-gereja untuk merenungkan kembali hakikat gereja dan ibadah. Apakah selama ini kita terlalu asyik dengan tradisi dan kenyamanan beribadah sehingga sukar untuk memikirkan sesuatu yang baru? Apakah kita selama ini telah mengabaikan bahwa gereja adalah orang, bukan bangunan? Persekutuan, bukan sekadar perkumpulan? Apakah kita serius menghidupi slogan “gereja adalah keluarga besar dan keluarga adalah gereja kecil”?

Soli Deo Gloria.

* * *

Tentang penulis:

Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M adalah gembala di Reformed Exodus Community Surabaya. Tulisan ini sebelumnya sudah ditayangkan di sini

Baca Juga:

Mengapa Kita Perlu Menunda Pertemuan Fisik?

Mengapa orang-orang Kristen perlu menunda aktivitas pertemuan selama masa-masa pandemi virus Covid-19? Apakah karena kita kekurangan iman bahwa Tuhan akan melindungi kita?

Mengapa Kita Perlu Menunda Pertemuan Fisik?

Oleh Dr. Alex Tang
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why We Should Stop Meeting Together

Mengapa orang-orang Kristen perlu menunda aktivitas pertemuan selama masa-masa pandemi virus Covid-19? Apakah karena kita kekurangan iman bahwa Tuhan akan melindungi kita? Bukankah Tuhan menjanjikan perlindungan-Nya sebagaimana tertulis di Mazmur 91:5-6 agar kita tidak “takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang”?

Gereja-gereja menunda pertemuan ibadah dan pertemuan-pertemuan lainnya sebagai antisipasi dalam mencegah penyebaran virus. Berbagai cara alternatif pun dilakukan. Ada gereja yang menyiarkan ibadahnya secara daring, atau hadir dalam media-media lain agar para jemaat tetap mendapatkan dukungan dan terhubung dengan firman Tuhan.

Pertemuan ibadah di mana jemaat hadir bersama-sama adalah bagian yang penting dalam tradisi gereja Kristen. Kita bertemu bersama untuk koinonia; perjamuan kudus, persekutuan, berdoa, menyembah, dan mendidik jemaat. Bahkan di masa-masa penganiayaan pun, gereja selalu berusaha untuk bertemu bersama secara sembunyi-sembunyi terlepas dari bahaya yang mengancam. Lantas, mengapa sekarang kita menghindari pertemuan tatap muka? Mengapa kita harus membatalkan semua pertemuan fisik yang sudah kita rencanakan?

Bukan kekurangan iman, tapi kita tidak mencobai Tuhan

Pertama, gereja-gereja menunda pertemuan fisik bukanlah tanda bahwa gereja kekurangan iman, melainkan gereja beriman kepada Tuhan yang menciptakan manusia dan mengaruniakannya dengan pemikiran yang rasional. Ya, Tuhan menjanjikan perlindungan-Nya. Tapi, apakah dengan begitu kita lalu terjun dari lantai 10 sebuah gedung dan percaya Tuhan akan mengirim malaikat-malaikat-Nya sebelum tubuh kita terluka? Bukankah Mazmur 91:11-12 berkata, “Sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu”?

Kita perlu berpikir, apakah ini masalah iman, atau kesombongan? Iblis merayu Yesus ketika dia membawa-Nya ke puncak tertinggi bait Allah dan menyuruh-Nya lompat. Iblis bahkan mengutip Mazmur 91:11-12 (Iblis juga tahu firman Tuhan!). Tapi, Yesus merespons Iblis dengan tegas. Yesus berkata bahwa Dia tidak mencobai Allah, mengutip dari Ulangan 6:16, “Jangalah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa.”

Yesus dengan tepat menegaskan masalahnya di sini bukanlah tentang iman, tetapi tentang mencobai Allah. Di Masa, bangsa Israel berdebat dengan Musa perihal kekurangan air, dan Musa menegur mereka karena telah mencobai Allah dengan ketidaktaatan dan keraguan mereka. Itulah mengapa generasi Musa tidak melihat Tanah Perjanjian, tapi mendapatkan hukuman untuk mengembara di padang gurun selama 40 tahun sampai mereka semua mati (Mazmur 95:8-10).

Jadi, ketika kita saling bertanya tentang iman kita, kita perlu meyakini bahwa kita tidak sedang mencobai Tuhan. Kadang, kita hanya ingin melihat Tuhan menepati firman-Nya. Aku mempunyai saran bahwa menunda pertemuan selama masa ini bukanlah tindakan kekurangan iman, tetapi sebuah sikap penyembahan kepada Tuhan.

Pembatasan sosial adalah tanggung jawab kita

Kedua, pembatasan sosial (social distancing) dianggap sebagai cara yang efektif untuk membatasi penyebaran virus Covid-19. Virus ini hanya dapat aktif dalam tubuh manusia dan disebarkan dari satu manusia ke manusia lain melalui droplet (batuk, bersin) dan kontak di area yang sudah terkontaminasi (seperti meja dan kursi). Virus jadi semakin mudah menyebar ketika orang-orang berkumpul dalam jumlah besar dan dalam kumpulan itu ada satu orang yang terinfeksi. Ketika orang yang terinfeksi mampu diidentifikasi dengan cepat dan segera dirawat (saat ini tidak ada perawatan yang sifatnya efektif, hanya suportif), virus itu akan mati dan tidak menyebar.

Memutus rantai persebaran virus dari manusia ke manusia akan menolong mengurangi jumlah orang yang terinfeksi pandemi ini. Oleh karena itu, kita perlu membatalkan semua pertemuan publik di mana orang-orang datang secara bersama-sama dan dalam jumlah besar. Inilah yang disebut dengan pembatasan sosial dan merupakan tanggung jawab kita untuk melaksanakannya. Kita melakukan ini untuk saling melindungi, terkhusus bagi kaum lansia di atas 65 tahun yang paling berisiko meninggal dunia karena terjangkit virus ini.

Dampak lain dari pembatasan sosial adalah memperlambat penyebaran virus. Jika terlalu banyak orang terinfeksi dalam waktu bersamaan, fasilitas kesehatan kita akan kebanjiran pasien, sebagaimana terjadi di Italia dan Iran, dan Tiongkok.

Bisakah kita melakukan sesuatu?

Kita tidak bisa mengentaskan pandemi ini sendirian. Dalam lingkup kita yang terbatas, yang bisa kita lakukan adalah menjaga kebersihan pribadi, patuh pada anjuran dari instansi kesehatan dan pemerintah, serta mempercayakan para petugas medis untuk melaksanakan tugasnya.

Tips praktis bagi kita semua

– Tinggallah di rumah sebisa mungkin.
– Hindari perjalanan ke luar kota atau ke luar negeri jika memungkinkan (meskipun kita sudah mengeluarkan biaya, kesehatan kita jauh lebih penting daripada uang).
– Cuci tangan dengan sabun dan air saat di rumah dan gunakan pembersih tangan saat di luar rumah.
– Jika sakit dengan gejala batuk dan demam, tinggallah di rumah dan jangan mengunjungi teman.
– Makan di rumah, atau beli makanan bungkus jika memungkinkan.
– Jika harus pergi makan ke luar, gunakan pembersih tangan untuk membersihkan area di sekitar tempat duduk dan bawalah peralatan makan pribadi.
– Hindari menyentuh hidung, wajah, dan mulut.
– Jangan duduk berdekat-dekatan dengan orang lain.
– Hindari tempat-tempat ramai, bahkan taman bermain atau ruangan terbuka sekalipun.

Tanggung jawab sosial yang kita lakukan adalah bentuk ibadah kita untuk mengasihi sesama. Keputusan untuk membatalkan atau menunda aktivitas gereja adalah sikap yang bertanggung jawab dalam menanggapi pandemi virus corona. Gereja-gereja harus mencari cara lain untuk tetap terhubung dengan jemaatnya secara daring, sesuai dengan perkembangan teknologi. Marilah terus berdoa agar pandemi ini dapat segera berakhir dan kita dapat melanjutkan kembali persekutuan kita seperti sediakala.

* * *

Tentang penulis:

Dr. Alex Tang adalah seorang pengkhotbah, pembicara, cendekiawan, penulis dan pendiri Kairos Spiritual Formation Ministries. Dia juga menjabat sebagai Konsultan Senior Pediatri (Ilmu kedokteran tentang kesehatan anak) di KPJ Johor Specialist Hospital, Johor Bahru dan sebagai rekanan Profesor Pediatri di Clinical School Monash University. Dr. Tang juga mengajar teologi praktis di Malaysia Bible Seminary (MBS) dan East Asia School of Theology (EAST) di Singapura. Kunjungi situsnya di www.alextang.org

Baca Juga:

Bosan Saat Berdoa? Cobalah Metode Berdoa Berdasarkan Alkitab

Sulit menikmati doa?
Bingung bagaimana harus berdoa?

Teman kita, Novita, pernah mengalaminya. Dia lalu membaca satu buku yang mencerahkannya. Yuk baca artikel Novita.

Virus Corona: Takut itu Manusiawi, Tapi Jangan Biarkan Kepanikan Menguasai

Oleh Daniel Ryan Day, Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Coronavirus Pandemic: I’m Afraid, And I Don’t Even Know Why

Sebulan terakhir aku merasa biasa-biasa saja. Aku malah membuat beberapa lelucon dan video pendek mengolok-olok orang-orang yang takut dengan virus corona. Tapi, sekarang pertandingan olahraga ditunda, presiden berpidato mendadak dan serius, rumor-rumor beredar kalau perusahaanku akan tutup sementara, penerbangan-penerbangan akan dibatalkan, kampus-kampus mulai kuliah online, dan larangan bepergian ke banyak negara diberlakukan.

Kemarin malam, kepanikan segera menyebar setelah gubernur di tempat tinggalku meminta semua sekolah ditutup selama tiga minggu penuh. Paginya, aku bangun dengan informasi tiga orang positif terkena virus di kota tempat tinggalku.

Semua kabar itu merasuk ke benakku. Aku jadi sakit kepala. Otakku terus berpikir, “Gimana kalau?”. Sekarang, aku 100 persen bisa berkata…

Aku takut, dan aku sendiri tidak tahu kenapa!

Apakah karena anak-anakku akan sakit? Atau mungkin aku yang terjangkit? Atau karena pekerjaanku jadi terancam? Atau karena aku tidak bisa nonton pertandingan basket NBA? Atau, karena aku ikut merasakan histeria ketakutan yang juga dirasakan orang-orang sejak Januari? Atau, karena semuanya itu menumpuk di satu momen?

Aku tahu hidupku masih muda, tapi aku belum pernah merasakan pengalaman seperti ini sebelumnya. Miliaran dolar hilang akibat kerugian ekonomi. Pemerintah melarang pertemuan di atas 100 orang. Industri-industri utama terhenti. WHO sudah mendeklarasikan pandemi global. Dan sekarang, semua orang yang kutahu (termasuk aku) tidak bisa berhenti membicarakan virus ini. Ia dibicarakan di mana-mana: di depanku, di depanmu, di depan siapa pun, selama 24 jam 7 hari.

Aku menebak, mungkin kamu juga merasa takut. Atau, kamu cuma “mengamati”.

Jadi, bagaimana seharusnya?

Mungkin ini momen yang tepat buat kita mengambil waktu sejenak. Tarif nafas. Hembuskan. Tenang dan fokuskan diri pada salah satu halaman yang kita tak asing dalam Alkitab:

“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:6-7).

Langkah pertama: naikkanlah doa

Kita bisa bilang pada Tuhan kalau kita memang takut, dan kita tak tahu kenapa. Kita bisa menuliskan hal-hal buruk yang mungkin menurut kita bisa terjadi dan meminta Tuhan untuk menguji hati kita mengapa kita merasa gundah. Alih-alih panic buying atau share banyak informasi yang tidak jelas di media sosial, kita bisa berhenti untuk berdoa, mendekat pada Pertolongan yang Sejati.

Langkah kedua: ucapkanlah syukur

Kitab Filipi tidak cuma bilang bahwa kita perlu menyampaikan kekhawatiran pada Tuhan, tapi sampaikanlah kekhawatiran itu dengan ucapan syukur. Kita bisa melihat kembali hari-hari kita dahulu dan memuji-Nya atas kebaikan yang disediakan-Nya bagi kita sampai saat ini. Mengucap syukur mendorong kita untuk melihat kesetiaan Tuhan, sehingga kita dapat percaya bahwa Dia pun memegang masa depan kita.

Langkah ketiga: bacalah Mazmur

Mazmur 27 bisa jadi bagian yang baik untuk memulai. Lihatlah bagaimana para pemazmur bergumul dengan hal-hal yang terjadi di luar kendali mereka, tapi lihatlah juga berapa kali mereka kembali memuji Allah karena pertolongan-Nya.

Langkah keempat: carilah cara untuk melayani orang lain

Ingatkah kisah tentang Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta? Pengikut Kristus sepanjang sejarah telah menunjukkan kasih dan perhatian yang sama seperti yang Yesus lakukan. Virus corona adalah salah satu kesempatan bagi kita untuk menunjukkan kasih itu.

Kita bisa memulainya dengan menanyakan kabar teman kita dan menyemangatinya. Jika kamu mengenal seseorang yang berisiko, atau berada di area rawan, cobalah hubungi mereka dan tanyakan bila ada hal yang dapat kamu bantu. Dan, jika kamu mengenal orang-orang yang tak mampu pergi ke luar untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, kamu bisa membelikan makanan-makanan beku yang bisa mereka simpan di rumah dan konsumsi dengan cepat (Tapi, yakinkan dulu bahwa dirimu tidak terjangkit virus). Yang paling penting, tanyalah Tuhan apa yang Dia ingin kamu lakukan dan ikutilah pimpinan-Nya.

Langkah kelima: tetaplah bergerak

Bagian ini adalah poin yang kutambahkan secara personal. Kamu tidak akan menemukannya di Alkitab, tapi inilah yang menolongku. Jika selama masa social distancing atau pembatasan sosial kamu merasa stres, kamu bisa berjalan-jalan di rumahmu, melakukan olahraga kecil, atau sekadar pemanasan.

Lima langkah sederhana ini tidak dapat mengentaskan virus corona, juga bukanlah obat untuk menuntaskan khawatirku dan khawatirmu. Kekhawatiran akan datang kembali, tapi ketika ia datang, kita bisa mengulangi langkah-langkah ini lagi. Kitab Filipi berjanji, ketika kita membawa kekhawatiran kita kepada-Nya, damai sejahtera Allah yang melampaui segala akan akan memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus.

Beberapa tahun lalu aku pernah kewalahan karena pekerjaanku. Aku berdiri di tepi pantai dan berdoa seraya melihat ombak. Aku sadar, ombak-ombak itu cukup besar untuk berpindah-pindah, dan tiba-tiba sepenggal lirik lagu mengalun di benakku. Lagu yang muncul saat itu rasanya lagu yang cocok pula untuk situasi kita hari ini:

Kiranya ombak kedamaian dari Allah menerpaku
Membawaku ke tempat di mana seharusnya aku berada

Kedamaian Allah berkuasa untuk memindahkan kita dari tempat yang penuh rasa khawatir, kepada tempat yang penuh percaya. Ini tidak berarti kita tidak akan takut lagi, tapi kita dapat menempatkan ketakutan kita pada konteks yang tepat, ketakutan yang membawa kita mendekat pada Tuhan yang mengasihi kita.

Baca Juga:

Aku Lupa, Yesus Juga Kawanku

Yesus tahu betapa mudahnya kita terjebak dalam kewajiban-kewajiban agamai ketimbang dalam relasi. Aku pun begitu. Aku melayani-Nya tapi tak merasa dekat dengan-Nya.

Wabah Virus Corona: Dari Ancaman, Terbit Harapan

Oleh Kim Cheung, Tiongkok
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: klik di sini

*Kim Cheung tinggal di Tiongkok. Sejak virus corona merebak, kota tempat tinggalnya diisolasi. Artikel Kim sebelumnya dapat dibaca di sini.

Hingga 2 Maret 2020, sudah 89,081 kasus terkonfirmasi, 3.057 orang meninggal dunia dan 45,156 pulih. (Data dari Worldometers).

Sudah dua bulan berlalu sejak Novel Corona Virus (Covid-19) pertama kali mewabah pada 31 Desember 2019 dan sebulan berlalu sejak kota-kota di sekitar Wuhan (termasuk kota di mana aku tinggal) diisolasi.

Banyak orang sepertiku dilarang meninggalkan rumah. Tak jelas kapan kami bisa kembali bekerja atau harus tetap bekerja dari rumah.

Apakah wabah ini akan semakin memburuk? Sampai kapan hidup kami akan dipengaruhi oleh kondisi ini? Tak ada yang tahu jawabannya.

Dalam minggu-minggu belakangan ini, aku telah menyaksikan banyak orang Tiongkok membagikan pengalaman terisolasi di kota mereka sendiri melalui media sosial. Beberapa meratapi kebosanan mereka. Yang lain bercanda karena akhirnya mereka tahu seperti apa rasanya “hidup di penjara”. Beberapa lagi mengatakan bahwa sekarang mereka mengerti mengapa para ibu yang baru melahirkan dan harus tinggal di rumah seringkali merasa depresi. Akan tetapi, seiring dengan semakin tingginya kasus diagnosa dan kematian karena virus corona, tidak ada satupun yang berani bertindak gegabah.

Sebulan terakhir ini terasa seperti seabad bagiku. Ini bukan hanya tentang berapa lama aku terjebak di rumah. Setiap harinya, aku diperhadapkan dengan apa yang seringkali aku saksikan dalam film Contagion. Kondisi ini membuatku semakin merefleksikan kehidupan lebih mendalam.

Kita melihat kebenaran dengan lebih jelas di saat-saat yang sulit. Seperti dikatakan melalui Pengkhotbah 7: 2, “Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.” Dalam menghadapi bencana dan kematian, kita dipaksa untuk memperhitungkan satu realita kehidupan: kita semua kelak akan mati.

Rasa Takut dalam Ketiadaan Harapan

Selama sebulan belakangan, tidak ada di antara kami yang menganggap enteng masalah ini. Kami menghadapi sebuah wabah epidemik, rasa takut kami semakin menggema. Orang-orang sulit untuk berpikir jernih. Kepanikan menguasai. Mereka memborong barang-barang penting seperti makanan dan obat-obatan, plus percaya kepada berita-berita bohong yang merebak.

Aku tidak memikirkan berita-berita tersebut sampai aku masuk ke supermarket terdekat dan melihat orang-orang belanja dengan rakusnya di sekitarku. Itulah saat di mana ketakutan menyelimutiku. Dua bungkus biskuit yang ingin kubeli berubah jadi satu kardus. Aku juga langsung membeli sekarton susu dan makanan lain. Bagaimana jika aku tidak punya kesempatan untuk membeli semuanya ini di kemudian hari? Bagaimana jika aku kehabisan makanan di rumahku sendiri? Selain kebutuhan sehari-hari, semua orang juga menambah stok obat demam dan obat batuk, sembari berharap bahwa semua ini akan memberikan rasa aman yang sangat kami butuhkan dalam menghadapi keputusasaan.

Rumor-rumor semakin berkembang dan justru makin menggelikan dari hari ke hari. Dalam satu kesempatan di malam hari, sebuah pernyataan resmi dirilis. Katanya ada satu obat Tiongkok bernama Shuang Huang Lian yang bisa menghentikan virus corona. Banyak orang yang salah paham dan mengira itu adalah pasta teratai kuning telur yang seringkali digunakan sebagai isi kue bulan, kue tradisional Tiongkok. Salah paham ini terjadi karena ada kata-kata bahasa Mandarin yang bunyinya mirip satu sama lain. Ketika besoknya aku bangun, bukan hanya obat-obatan yang ludes terjual melainkan kue bulan juga.

Ketakutan menyetir orang untuk melakukan berbagai macam tindakan tak masuk akal. Ketika kita kekurangan rasa damai yang berasal dari pengetahuan akan kebenaran, sangat mudah bagi kita untuk mempercayai kebohongan serta terperangkap dalam rasa takut dan kekhawatiran.

Namun, sebagai orang yang menjadi milik Kristus, kami memegang kebenaran, kedamaian, dan harapan yang telah dianugerahkan-Nya kepada kami (Roma 15:13). Oleh karenanya, kami tidak perlu takut atau khawatir akan apa yang akan terjadi, tapi kami bisa terus menaruh harapan kepada-Nya seiring dengan perjuangan kami melawan ketidakpastian.

Penyakit yang Memperbudak Kami

Selain rasa takut, kami juga merasa terjebak. Namun, sebuah percakapan antara aku dengan seorang teman dari luar negeri membantuku melihat sudut pandang lain dari krisis yang terjadi di negaraku, bahkan juga di dunia. Ketika aku bercerita bahwa sebulan terakhir di rumahku terasa menyesakkan seperti di penjara, dia memberitahuku bahwa hidup memang selalu seperti ini—hanya saja dalam cara yang berbeda.

Sebelum wabah virus corona merebak, kami terbelenggu dengan jadwal rutinitas kami yang super sibuk. Sebaris dialog dari film The Shawshank Redemption merangkum itu semua: “Kita sibuk menghidupi diri sendiri.”

Saat itu, kita sebenarnya telah diperbudak. Namun, pengejaran kita akan kesenangan duniawi menjebak kita untuk berpikir bahwa kita ini bebas. Dunia di mana kita hidup sebenarnya tak lebih dari sebuah penjara yang besar. Meskipun terlihat seakan kita bisa bebas memilih apa yang kita inginkan, kita tidak bisa melarikan diri dari tanggung jawab kita untuk belajar, bekerja dan terhadap keluarga kita. Begitu pula mereka yang tampaknya bebas dan bisa traveling ke mana saja.

Itulah mengapa banyak orang khawatir dan depresi. Dan meskipun kita berfantasi tentang pindah ke luar negeri dan memulai hidup yang baru, kita tidak menyadari bahwa kita mengulang hidup yang sama di mana saja.

Kebebasan sejati hanya bisa ditemukan di dalam Kristus (Yohanes 14: 6). Ketika kita datang kepada-Nya, Dia membebaskan kita dari pencarian kita akan tujuan dan kepuasan hidup yang tanpa akhir.

Wabah ini juga telah memperlihatkan belenggu-belenggu lain yang tak tampak dari permukaan. Kami melihat sisi gelap dari manusia. Oleh karena makin sedikitnya stok masker, beberapa penjual menaikkan harga (satu masker bisa dihargai 4.30 dolar AS atau setara dengan Rp 58 ribu). Begitu juga dengan masker bekas yang dijual kembali.

Supermarket juga menaikkan harga kebutuhan sehari-hari. Sebuah kubis kini dijual seharga 8.60 dolar AS atau setara dengan Rp 116 ribu! Bahkan ada laporan bahwa Persatuan Palang Merah Wuhan secara diam-diam menahan semua masker donasi dan baju pelindung. Alhasil, barang-barang ini tidak bisa sampai ke garda depan staf medis.

Dan ada pula berita tentang geng bersenjata di Hong Kong yang mencuri tisu toilet senilai 206 dolar AS (Rp 2,8 juta) dari supermarket karena takut akan kekurangan tisu toilet.

Membaca berita-berita seperti ini semakin membuat kami kehilangan harapan. Aksi-aksi manusia itu rasanya lebih menakutkan daripada melihat statistik virus corona yang terus meningkat. Aku percaya bahwa dengan usaha para ahli kesehatan dunia, kelak kita akan menemukan vaksin untuk melawan wabah ini.

Namun rasa sakit yang ada di dalam diri kita—dosa—akan tetap ada. Meskipun kita akan menemukan obat untuk berbagai penyakit fisik dan kembali ke kehidupan kita yang penuh “damai”, namun mereka yang korup akan tetap korup.

Jiwa kita sakit dan kesakitan ini jauh lebih menakutkan daripada virus corona. Tak ada obat, praktik-praktik spiritual maupun agama yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Hanya satu Pribadi yang bisa:

“Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Markus 2:17).

Yesus adalah penyembuh kita yang luar biasa. Dia sendiri menanggung rasa sakit dan membayar harga mahal untuk menebus dosa kita dengan kematian-Nya. Dan penyembuhan ini cuma-cuma. Dia memberikannya kepada kita dengan penuh cinta.

Di saat-saat seperti ini, kita tidak perlu takut atau merasa bahwa kebebasan kita direnggut. Sebagai gantinya, semoga krisis yang kita alami ini mengarahkan kita kepada Kristus, memimpin kita untuk percaya kepada-Nya dan menerima berkat yang terbesar—kesembuhan sejati yang kita butuhkan.

Baca Juga:

Virus Wuhan: Tinggal di “Kota Hantu” dan Diliputi Ketakutan

Tulisan ini kutulis dari provinsi Jiangsu, tempat tinggalku. Semenjak virus Corona mewabah, negeriku diliputi kepanikan dan ketakutan. Kami hanya bisa terduduk di rumah, bahkan hanya turun tangga dan singgah ke warung pun rasanya luar biasa cemas.