Teologi Kemakmuran, Kemiskinan, dan Kekristenan

Oleh Jessica Tanoesoedibjo

“Alkitab menyatakan bahwa orang kaya tidak bisa masuk sorga!” Seru pembicara retret tersebut. Dan ketika ia berkata demikian, matanya menatapku dengan tajam.

Aku tidak akan lupa perkataan tersebut. Pada saat itu, aku sedang duduk di bangku SMP, dan menghadiri retret yang diselenggarakan sekolahku. Aku ingat, jantungku berdebar kencang, dan di benakku, aku berpikir, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”

Dalam kehidupanku, harus kuakui bahwa aku telah diberi privilese berkat materil yang berkelimpahan. Namun, ini bukan suatu hal yang dapat kusangkal begitu saja. Aku tidak dapat memilih di keluarga mana aku dilahirkan, ataupun kondisi perekonomian kita. Banyak orang berkata bahwa kita “diberkati untuk menjadi berkat,” tetapi di sisi lain banyak juga yang menkritisasi kekayaan.

Memperoleh Hidup Berkelimpahan

Lahir di keluarga Kristen, aku sangat bersyukur bahwa Tuhan telah memberkatiku dengan kedua orang tua yang begitu menekuni imannya, dan juga mengajarkan anak-anaknya untuk demikian. Namun, lahir sebagai anak seorang pengusaha yang cukup ternama di tanah air, juga berarti ada berbagai macam ekspektasi yang orang miliki terhadap diriku. Motivasi untuk menjadi orang yang sukses, seperti yang dicontohkan oleh sang ayah, ditanamkan padaku sejak kecil.

Di gereja pun aku sering dengar ayat ini dikutip: “Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,” (Ulangan 28:13). Yesus sendiri berkata bahwa Ia datang, “supaya [kita] mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan,” (Yohanes 10:10).

Namun, bagaimana dengan orang Kristen yang tidak hidup dalam kelimpahan materil? Apakah Tuhan tidak mengasihi mereka? Bukankah hal tersebut, kepercayaan bahwa Tuhan akan selalu memberkati anak-anaknya dengan kekayaan, adalah Injil Kemakmuran—suatu distorsi Injil yang sesungguhnya?

Berbahagialah Yang Miskin

Karena di sisi lain, firman Tuhan juga berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena mereka yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:3). Yesus juga mengajarkan, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin…kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” (Matius 19:21).

Inilah yang membuatku berpikir dan bergumul. Aku pun menganggap bahwa kekayaan yang aku miliki adalah suatu hal yang keji yang perlu kusangkal. Ada masa di mana aku membenci segala pemberian Tuhan dalam hidupku, karena menurutku semua kepemilikan materil ini adalah fana.

Bukankah Alkitab sangat jelas, bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan: Tuhan dan uang (Lukas 16:13)? Untuk ikut Kristus, kita harus tanggalkan segalanya. Tapi, apakah artinya semua orang Kristen diharuskan menjadi miskin? Apakah untuk menjadi orang Kristen yang sesungguhnya kita harus menjual segala kepemilikan kita dan memberikannya kepada gereja, orang miskin, atau misi gereja? Apakah Alkitab mengajarkan teologi kemiskinan?

Kemiskinan Manusia dan Kekayaan Injil

Tidak. Keduanya bukanlah gambaran yang akurat tentang Kekristenan. Karena Kekristenan bukan tentang kemakmuran ataupun kemiskinan. Tuhan tidak pernah menjanjikan kita untuk menjadi makmur dan kaya di setiap saat. Dan Ia juga bukan Tuhan yang kejam, yang senang dan mengharapkan kemiskinan dan kesukaran bagi anak-anak-Nya.

Tapi sesungguhnya, Injil mengajarkan kita bahwa Yesuslah Raja yang empunya segalanya, yang amat sangat kaya, namun menanggalkan segala kejayaan dan rela menjadi miskin, untuk melayani kita. Yesus mengosongkan diri-Nya agar Ia dapat melimpahkan kita dengan kasih dan kebenaran-Nya (Filipi 2).

Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk kaya ataupun miskin. Jika kekayaan atau kemiskinan menjadi pusat identitas kita, kita telah memposisikan uang sebagai tuan dalam kehidupan kita. Kesetiaan pada Tuhan dan firman-Nya tidak diukur dari kekayaan atau kemiskinan kita dalam ukuran dunia. Karena sesungguhnya, kesetiaan pada Tuhan adalah pengertian bahwa sebenarnya kita adalah “miskin di hadapan Allah,” namun, dalam Kristus telah “mempunyai [hidup] dalam segala kelimpahan.”

Dengan pengertian ini, kita tidak akan mendemonisasi kekayaan, ataupun mendamba-dambakan kemiskinan (atau sebaliknya). Tapi, kita dapat, dalam masa berkelimpahan, mensyukuri segala pemberian Tuhan sebagai suatu kepercayaan, yang patut kita kembangkan. Kekayaan bukan bertujuan untuk kita dapat senang-senang dan memenuhi segala macam keinginan kita di dunia, melainkan, adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Karena “kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut,” (Lukas 12:48).

Dalam 2 Korintus 8:1-15, Paulus menulis kepada orang-orang yang hidup berkelimpahan untuk bertumbuh dalam kemurahan hati. Paulus berkata bahwa ia tidak bertujuan untuk membebani mereka, melainkan, setelah mengingatkan mereka tentang kasih karunia Kristus yang telah mereka terima, ia mengajak jemaat Korintus untuk terlibat dalam “pelayanan kasih,” (ayat 6) dengan meringankan beban saudara-saudara yang hidup dalam kekurangan.

Demikian pula, orang-orang yang dalam masa kekurangan, dapat juga mensyukuri kesempatan yang Tuhan berikan untuk bergantung sepenuhnya pada-Nya. Namun ini bukan berarti bahwa orang yang sedang dalam masa kekurangan dapat lepas dari tuntutan untuk bertumbuh dalam kemurahan hati. Karena Paulus pun bersaksi tentang bagaimana jemaat di Makedonia, tetap bersukacita dan kaya dalam kemurahan, walaupun mereka sendiri sangat miskin (ayat 2).

Bagi Paulus, kemurahan hati tidak terhitung dari jumlah yang diberikan. Kaya atau miskin, mereka telah menikmati kasih karunia Kristus yang sangat mahal, dan, mengetahui ini, mereka telah memberikan diri mereka, pertama kepada Tuhan, kemudian kepada orang lain (ayat 5). Karena sesungguhnya, yang Tuhan minta dari setiap anak-Nya adalah hal yang sama: agar kita, dalam segala sesuatu, dapat menyangkal diri kita, memikul salib, dan mengikuti-Nya.

“Alkitab menyatakan bahwa orang kaya tidak bisa masuk sorga!” Ya, memang ini benar. Karena Alkitab menyatakan bahwa tidak ada satu orangpun yang dapat masuk Kerajaan Sorga. Tidak ada yang layak. Namun, karena kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus, kita sekarang adalah anak-anak-Nya. Di Rumah Bapa banyak tempat tinggal, dan Yesus sedang menyediakan tempat bagi kita di sana.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Penghiburan di Kala Duka Mendera

Sekalipun sulit untuk melenyapkan rasa sedih dan kehilangan, aku yakin bahwa Tuhan benar-benar mengerti dan peduli dengan duka yang kualami. Ia selalu punya cara terbaik untuk menghibur dan menguatkan kita.

Mengupas Mitos Femininitas

Oleh Olivia Elena Hakim, Jakarta

“Liv, satu hal yang perlu kita perhatikan sebagai penatua,” ujar salah seorang rekan pelayanan, sesaat sebelum aku resmi menjadi penatua di gereja. “Kita harus hati-hati banget sekarang, karena hidup kita seperti di dalam akuarium.” Aku hanya tersenyum. Sebagai perempuan muda di negara berflower penuh netizen +62, ini mah bukan hal baru. Bukankah hidup kita sudah kerap berjingkat dengan penuh kewaspadaan di antara berbagai mitos demi menjadi seorang perempuan yang “baik dan benar”? Dari kecil, kita akrab dengan teguran “Anak perempuan nggak boleh…” lalu beranjak remaja, “Eh kamu sudah gadis, nggak boleh….”

Kita hidup dalam sebuah konstruksi realitas, apapun gender dan jenis kelamin kita (cek juga artikel Ari Setiawan, Mengupas Mitos Maskulinitas). “Persepsi dan pandangan kita tentang realitas, dikonstruksikan oleh kata-kata dan tanda-tanda lain yang digunakan dalam konteks sosial,” kata Oom Ferdinand Saussure.

Mitos adalah bagian dari keseharian kita. Roland Barthes mengajarkan mitos merupakan gagasan tentang sebuah realitas yang dikonstruksi secara sosial dan disahkan sebagai sesuatu yang “alami” alias wajar saja.

1. “Hmm, kamu gendutan ya? Iteman ya?”

Setelah menginjakkan kaki dalam dapur redaksi sebuah majalah fesyen nasional, aku tahu bahwa sama sekali tidak ada yang “alami” atau “wajar” dari gambaran kecantikan yang kita anggap “alami” atau “wajar”. Tim Digital Imaging dengan tekun menghilangkan lipatan ketiak dan menyamarkan warna kulit ketiak yang gelap (Siapa di sini yang suka insecure sama ketiak kalian gara-gara melihat foto-foto seleb atau iklan deodoran?). Tahun demi tahun nguli di sana, gambar-gambar editan pun menjadi keseharian—yang agak ‘berisi’ dibuat mengerucut tirus, lembaran rambut yang tidak rapi dihilangkan, gigi diputihkan, dan kulit dibuat mulus tanpa noda setitik pun. Lalu dicetak dan disebarluaskan ke khalayak, sebagai panduan fashion & beauty.

Maka, tanpa dikomando tanpa di-briefing, barisan perempuan se-Indonesia pasti bisa dengan kompak menyuarakan ciri-ciri perempuan yang dianggap cantik di negara ini: Putih, rambut lurus, langsing. Inilah yang disebuah Stuart Hall sebagai “kesadaran palsu”—“The role of mass media turns out to be production of consent rather than a reflection of consensus that already exists.”

Jadi, sobat muda, foto-foto yang kalian lihat di layar gawai kalian tidak merefleksikan kenyataan; mereka “hanya” memproduksi efek realitas. Aku bersyukur, di saat media sosial kita dikeroyok tanpa ampun oleh foto-foto influencer, selebgram, selebtwit, tiktokers, maupun seleb-seleb lainnya yang menyodorkan kecantikan dengan standar tertentu, makin banyak campaign yang menyuarakan keragaman konsep kecantikan, seperti @januhairy maupun akun idolaku @tarabasro.

Tapi jika kalian masih sulit untuk melepaskan standar kecantikan usang itu dari benak kalian, ada buku yang wajib kalian baca. Buku ini berjudul “Putih”, karya L. Ayu Saraswati. Jika kalian masih sering berteman dengan oknum-oknum yang kalau ketemuan malah komentar soal fisik kamu, maklumi saja mungkin dia pikniknya kurang jauh dan kopinya kurang kental. Nggak usah dianggap serius gurauannya. Mungkin dari kecil, semua temannya putih dan kurus, jadi referensinya kurang banyak.

2. “Dengan body kaya gitu, pastilah dia bisa dapet lebih ”

Heiiiiits klean para woman womini lupus yang suka julid sama rezeki orang….sadar nggak, kerap kita menganggap perempuan ‘cantik’ hidupnya otomatis bakal lebih mudah dari para Sobat MisQueen dan rakyat jelata lainnya? Kita menganggap dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau dengan modal fisiknya yang mempesona, akibatnya semua prestasi yang diraih selalu dikaitkan sama fakta bahwa dia cantik. Akibatnya kita asyik stalking feed medsosnya dia sambil rebahan, dan lupa untuk berusaha meraih ambisi kita sendiri. Coba bangun dan kerja keras untuk mewujudkan visi hidupmu, tanpa sibuk mengecek ‘keberuntungan’ orang lain. It’s your own life, not theirs. Baca yuk Amsal 28:20, “Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.” Nggak usah ingin ‘cepat kaya’, nggak usah juga sirik sama yang menurutku ‘bisa cepat kaya’ karena penampilan fisiknya. Lagipula nggak semua ‘orang cantik’ hidupnya mudah kok. Nggak percaya? Cobalah buku ‘Cantik itu Luka’ karya Eka Kurniawan atau ‘Setan van Oyot’ karya Djoko Lelono.

3. “Kamu nyebelin banget. Mau dapet ya?”

Siklus istimewa kita sebagai perempuan, sayangnya sering ditunggangi untuk memperkuat narasi kalau perempuan itu ‘labil’, ‘emosional’, ‘lemah’. Kadang, hal itu membuat kita dipandang ‘tidak kompeten’ untuk posisi-posisi strategis di organisasi yang memerlukan pengambilan keputusan logis. Atau dijadikan excuse untuk mengacuhkan ekspresi emosi kita. Karakteristik perempuan dan lelaki yang unik seharusnya tidak dijadikan alasan untuk saling menyingkirkan atau tidak menganggap serius satu sama lain. Lelaki sangat dipersilakan menjadi perawat, perempuan sangat dipersilakan menjadi dokter. Tanpa meninggalkan karakter khas dari jenis kelaminnya. Aku pun banyak dibuat berdecak kagum oleh Jacinda Ardern, PM Selandia Baru yang dengan karakteristik keperempuanannya dalam memimpin, sukses menangani kasus penembakan massal di masjid Christchurch dan pandemi COVID19. Fakta unik lainnya, dia PM Selandia Baru pertama yang hamil dan melahirkan pula di tengah masa dinasnya. Buat kalian yang masih memerlukan ‘tonjokan’ lebih untuk berpikir progresif melampaui mitos kalau perempuan terlalu baperan untuk dianggap kompeten menduduki posisi tertentu, cek Becoming dari Michelle Obama (kalau malas baca yowis, nonton aja dokumenternya di Netflix).

So, mari kita melangkahi mitos-mitos yang mengungkung atau mencoba mendefinisikan hidup kita. Lepaskan dirimu, karena kita semua adalah ‘perempuan yang layak’ dengan ciri khas kita masing-masing, sambil mengingat bahwa Tuhan menciptakan kita dengan kemuliaan dan hormat yang setara – seperti dalam Mazmur 8:4-5, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

“There is a diva in there, but all she needs is a little bit of a bold lip.”
Jonathan Van Ness.

Baca Juga:

Mengupas Mitos Maskulinitas

Lahir dengan jenis kelamin “laki-laki” pun lambat laun akan disertai dengan berbagai tuntutan dari lingkungan sosial. Namun, tak semua tuntutan yang diberikan kepada kita sebagai laki-laki harus dilakukan, karena ada tuntutan yang bersifat faktual, tapi ada juga tuntutan yang bersifat mitos.

Mengupas Mitos Maskulinitas

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

Hidup sebagai manusia adalah sebuah kompleksitas antara menjadi diri sendiri yang otentik dan juga tuntutan dari kelompok sosial di mana tiap individu ditempatkan. Seperti lagu yang dibawakan oleh Tulus, “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”, aku setuju bahwa ada beberapa tuntutan yang harus diberikan dalam kehidupan bersosial, dengan tujuan adanya perkembangan menjadi pribadi yang lebih baik. Ada juga beberapa tuntutan lain dari lingkungan kita, yang mungkin perlu kita pertimbangkan, karena belum tentu membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Lahir dengan jenis kelamin “laki-laki” pun lambat laun akan disertai dengan berbagai tuntutan dari lingkungan sosial, mulai dari keluarga, teman sepergaulan, rekan-rekan dalam belajar maupun bekerja, gereja, maupun masyarakat secara umum. Namun seperti yang aku sampaikan, tak semua tuntutan yang diberikan kepada kita sebagai laki-laki harus dilakukan, karena ada tuntutan yang bersifat faktual, tapi ada juga tuntutan yang bersifat mitos.

Hal-hal di bawah ini merupakan mitos maskulinitas yang mungkin kerap kudengar dan justru menjadi tuntutan kepada kaum laki-laki. Buat kamu, pembaca laki-laki, coba cek, benar atau enggak, dan tambahkan juga di kolom komentar, mitos apa yang kerap disematkan padamu. Dan buat kamu, pembaca perempuan, kamu bisa kirim dan ajak dialog teman, atau saudaramu laki-laki, atau pasanganmu.

1. “Ga Ngerokok? Ga Jantan Banget Sih!”

Tawaran merokok, mungkin dihadirkan ketika berada di warung, sembari ngopi, atau menunggu makanan dibawakan oleh pelayan warung. Aku pun sering ditawari merokok sejak SMP hingga sampai saat ini. Ketika aku masih berusia belasan, aku menolak tawaran mereka. Lalu sebagian responsnya ialah, “Ga jantan kamu, Ar!” Aku pernah merokok tapi itu cuma mencoba karena penasaran. Aku merasa biasa saja setelah menghirup tembakau yang dilinting tersebut, tidak merasa lebih jantan dari sebelum aku menghirupnya, maka kurasa ke”jantan”anku tidak bergantung pada sebatang rokok.

Seiring aku belajar tentang media, periklanan dan branding, sebenarnya kejantanan dari aktivitas merokok, hanyalah sebuah branding yang dibuat oleh perusahaan rokok. Jika kita melihat sebagian iklan rokok, tentu aktor yang dipakai ialah laki-laki dengan badan atletis, melakukan aktivitas yang mengandalkan kekuatan, atau mungkin juga dikaitkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi penyelamat, seperti koboi.

Perlu kita pahami, tujuan dari branding tersebut agar membentuk persepsi bahwa laki-laki keren harus merokok. Dan hal terpenting, bos dari perusahaan rokok sendiri tidak merokok, info ini bisa kita lihat di Internet.

Bagi kita yang berusaha menjadikan Alkitab sebagai landasan hidup, mari kita lihat sejenak surat Paulus di Roma 12:1:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Aku tidak anti terhadap perokok, aku pun tetap bergaul dengan teman-teman yang merokok. Namun bagi kita yang bukan perokok maupun yang masih menjadi perokok, gumulkanlah bagaimana hidup kita dapat menjadi persembahan,dan pilihan kita bukan disebabkan jebakan branding yang ditawarkan oleh dunia.

2. “Gitu Aja Kok Nangis, Lemah Kaya Perempuan!”

Heeeiiii… jangan remehkan perempuan. Perempuan adalah ciptaan yang kuat, mampu merawat kita selama kurang lebih 9 bulan dalam perut mereka dan berani melewati ancaman hidup mati demi berlangsungnya kehidupan setiap kita.

Perlu kita sadari, komentar di atas sangat mungkin terucap dari orang yang terdekat dengan kita, salah satunya keluarga. Dalam beberapa kasus, mulai dari yang kecil, saat kita belajar sepeda lalu jatuh, orang tua tentu meminta kita berhenti menangis. Beranjak lebih dewasa pun, kita tentu pernah menangis disebabkan permasalahan yang lebih kompleks, seperti ditinggalkan oleh orang terkasih (entah putus dari relasi pacaran atau bahkan ditinggal meninggal oleh kerabat), sedang dalam permasalahan berat, atau situasi di mana emosi sedih kita tak terbendung. Dan ketika air mata keluar, mungkin ada beberapa orang yang menyuruh kita menangis, karena kita adalah laki-laki, apakah memang tidak boleh?

Apa kata Alkitab tentang menangis? Banyak tokoh Alkitab mengenai menangis, salah satunya adalah Yesus, seperti tertulis dalam Yohanes 11:35, “Maka menangislah Yesus,” di mana Yesus berduka akan kematian Lazarus. Yusuf anak Yakub pun dalam rasa rindunya juga menangis menghampiri saudara-saudaranya, tertulis dalam Kejadian 45:2. “Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun.”

Aku pun memahami bahwa emosi sedih, bahkan hingga harus menangis, adalah sebuah bagian dari hidup, termasuk bagi laki-laki. Seperti tertulis pada Pengkhotbah 3:4, bahwa: ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari. Dalam aspek psikologi pun, mengutarakan emosi senang maupun sedih, termasuk menangis, memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh, dibandingkan memendam emosi dalam diri. Maka, bagi kita laki-laki, menangislah jika memang dibutuhkan.

3. “Cowok Wajar kok Aktif Seks Sebelum Menikah.”

Ucapan ini mungkin tidak terucap di dalam gedung gereja atau ketika dalam sebuah kegiatan kerohanian, namun sangat mungkin tersampaikan dalam obrolan antar lelaki di tempat nongkrong. Kenapa kesenjangan dialog ini bisa terjadi? Karena aspek seksualitas di Indonesia, masih menjadi hal tabu untuk diperbincangkan dalam ruang ibadah maupun ruang pendidikan. Dan manusia, dengan segala rasa ingin tahunya, akan mencari informasi secara mandiri, walaupun belum tentu dari sumber yang tepat dan belum tentu mendapatkan informasi yang akan berbuah baik.

Berbagai riset yang dapat kita akses melalui berbagai media open source, menunjukkan aktivitas seks usia remaja dan muda menunjukkan angka yang tinggi. Secara empiris pun, ketika aku sedang berpacaran, ada saja teman yang bertanya, “Udah ngapain aja?” Ataupun dalam kondisi nongkrong santai, mungkin saja ada topik mengenai pengalaman melepas keperjakaannya. Bagi yang belum, mungkin akan dilekatkan dengan label “cupu” dan dimotivasi untuk mendapatkan pengalaman seksual sebelum menikah.

Dengan jelas, Allah memerintahkan, “Jangan berzina,” dalam Keluaran 20:14! Berzina bukan hanya perbuatan selingkuh dari pasangan yang sudah menikah. KBBI pun mengartikan “zina” sebagai perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan. Rasul Paulus juga memberikan nasihat kepada jemaat di Korintus, di mana mereka hidup di suatu kota dengan tingkat pelacuran yang tinggi, agar menjaga kekudusan. Dituliskan dalam 1 Korintus 6:18 “Jauhkanlah dirimu dari percabulan. Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.

Apakah mudah bagi seorang laki-laki untuk menjaga kekudusan sebelum menikah? Tentu tidak mudah. Salah satunya dikarenakan sebagian dari kita mengetahui informasi mengenai seksualitas bukan dari institusi yang mendidik, melainkan dari industri pornografi. Aku pun hidup dalam keluarga yang merasa tabu untuk berbicara seksualitas, sehingga aku pernah mengonsumsi pornografi. Tetapi semakin dewasa, kita perlu mengetahui, bahwa konten pornografi yang kita nikmati, bukanlah suatu pengalaman seksualitas yang nyata, melainkan hanya narasi palsu dari industri. Maka jangan jadikan konten pornografi sebagai patokan standar aktivitas seksual dalam kehidupan kita, boys!

Bagi kita, yang mungkin belum pernah melakukan hubungan seksual, bersabarlah dan jangan merasa kikuk. Dan bagi yang sudah pernah terjatuh ke dalam dosa ini, mari kita refleksikan arti kehadiran pasangan kita, serta makna dari menjadi satu tubuh. Pahamilah bahwa pacar kita, istri kita kelak, ataupun perempuan yang kita temui di mana pun, bukanlah budak dari hawa nafsu kita, karena setiap manusia adalah sama di hadapan-Nya. Dan maknailah bahwa menjadi satu tubuh, akan menjadi sempurna ketika Tuhan juga menyatukan kita dengan pasangan kita, menjadi satu roh dan daging dalam kasih-Nya.

Mitos-Mitos Lainnya dalam Gender

Aku yakin, masih banyak tuntutan lainnya yang diberikan lingkungan sosial terhadap predikat yang miliki, entah sebagai laki-laki dan perempuan. Tentu kita perlu meminta hikmat dari Tuhan, apakah benar tuntutan tersebut membawa kebaikan bagi kita, atau tuntutan tersebut hanyalah mitos yang belum tentu valid kebenarannya. Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Amsal 2:6).

Aku membuka ruang diskusi bagi kita, apakah ada mitos-mitos lainnya yang dituntut oleh lingkungan kita? Bagaimana kita merespons tuntutan yang tidak faktual tersebut?

Selamat menjadi manusia yang otentik, seturut kehendak Tuhan.

Baca Juga:

Mematahkan Mitos ‘Dosen Killer’ Ala Mahasiswa

Kami menerima surat penetapan dosen yang menjadi pembimbing skripsi kami di bulan Maret dua tahun lalu. Membaca dua nama yang tertera, semangatku yang telah terkumpul menciut begitu saja. Isu yang beredar dari mahasiswa-mahasiswa lain, dua dosen pembimbing ini sulit ditemui, mereka pun ‘perfeksionis’.

Kebohongan yang Kita Genggam, Membuat Kita Mudah Menyerah

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

“Kuliah jangan di perguruan tinggi swasta, nanti kamu susah dapat kerja.”

“Jurusan untuk perempuan itu bagusnya ambil pendidikan atau keguruan, supaya bisa bekerja sambil mengurus keluarga.”

“Untuk apa lanjut kuliah S2? Nanti ujung-ujungnya kamu di rumah saja. Toh juga yang mencari nafkah kelak adalah tugas suamimu.”

“Duh, ngapain pacaran jarak jauh, nanti ujung-ujungnya putus.”

Itu adalah beberapa pernyataan yang pernah disampaikan orang-orang kepadaku. Aku tidak tahu apa yang mendasari mereka mengatakan hal tersebut. Kadang aku beranggapan mungkin mereka pernah melihat orang yang mengalami hal yang sama atau mungkin mereka sendiri pernah mengalaminya. Di awal aku sempat kepikiran dengan pernyataan-pernyataan tersebut. Aku takut melangkah karena bisa jadi yang mereka katakan itu benar, apalagi yang mengatakannya adalah orang-orang yang sudah dewasa atau berpengalaman.

Namun, kembali ke tulisanku dua bulan lalu, “Membuat Pilihan yang Berkenan pada Tuhan”, sejatinya yang penting adalah bagaimana kita bergumul terlebih dahulu kepada Allah saat membuat keputusan. Orang lain tidak mengambil andil sepenuhnya dalam setiap hal yang kita putuskan. Jika Allah meyakinkan kita untuk membuat pilihan tersebut, lakukanlah, sambil terus senantiasa bergumul dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Sekalipun kita gagal, Allah pun akan turut campur tangan menggunakan kegagalan tersebut untuk kebaikan buat hidup kita.

Kita sering diperhadapkan dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bisa diuji kebenarannya. Misalnya: kalau aku kuliah di perguruan tinggi swasta aku susah dapat kerja. Nyatanya, aku bisa dapat kerja yang baik walaupun aku lulusan perguruan tinggi swasta. Kadang kala, pernyataan-pernyataan itu malah membuat kita jadi menyerah duluan. Bayangkan, jika ada beberapa orang yang lulusan perguruan tinggi swasta mendengar pernyataan tersebut lalu menelannya mentah-mentah. Mereka mungkin menjadi tidak bersemangat, enggan berusaha dengan lebih lagi, hingga akhirnya jadi sungguhan kesulitan mendapat kerja.

Pernyataan yang tidak bisa diuji kebenarannya sesungguhnya sangat berbahaya dan bisa membuat orang lain menyerah dalam mengerjakan setiap hal dalam hidupnya.

Kyle Idleman, dalam bukunya yang berjudul Don’t Give Up mengatakan bahwa dalam kehidupan, kita sering sekali diperhadapkan dengan berbagai kebohongan. Karena kita mempercayai kebohongan itu, maka kita pun menjadi hidup sesuai dengan kebohongan tersebut. Mungkin bukan masalah besar jika kita menghabiskan waktu kita dengan kebohongan yang terbilang tidak serius, misalnya: jangan potong kuku di malam hari. Tetapi, bagaimana jika kita diperhadapkan dengan kebohongan yang lebih serius?

Menurut Kyle Idleman, ada tiga kebohongan yang sering kita percayai dan mari kita pelajari kebenaran Firman Allah yang mampu membebaskan kita dari kebohongan tersebut:

1. Kita tidak punya kemampuan yang dibutuhkan untuk berhasil

Ketika Allah mempercayakan kita sesuatu untuk dikerjakan, maka Dia akan memberikan kita kemampuan untuk mengerjakannya. Misalnya: kita sedang bergumul untuk mengerjakan tugas akhir. Allah mempercayakan kita untuk sampai ke tahap mengerjakan tugas akhir, artinya Dia akan menolong kita untuk mengerjakannya.

Baru-baru ini, aku mendapatkan tanggung jawab yang baru di pekerjaanku. Awalnya aku merasa tidak sanggup, pekerjaan itu menurutku sangat berat untuk aku lakukan, tetapi aku tidak bisa menolak karena itu sudah keputusan dari pimpinan di tempat kerjaku. Aku berdoa dan bergumul sama Tuhan. Dalam saat teduhku, Allah mengingatkanku dari Filipi 4:19 “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Pagi itu aku diingatkan, keperluanku bukan hanya soal uang, makan, minum atau kebutuhan jasmani lainnya. Keperluan disini juga termasuk kemampuan yang akan diberikan Tuhan agar aku dimampukan mengerjakan tanggung jawab yang baru dipercayakan kepadaku.

Bersama Tuhan, kita memiliki segala sesuatu yang kita perlukan untuk melakukan segala sesuatu yang perlu kita kerjakan.

2. Kita bisa memperbaikinya sendiri

Bagian ini berlawanan dengan poin yang pertama, tetapi ini pun masih sebuah bentuk kebohongan. Kita sering beranggapan bahwa kita bisa menyelesaikan sendiri setiap hal yang terjadi dalam hidup kita. Kita merasa tidak perlu memerlukan bantuan orang lain. Kita berusaha menyembunyikan segala kelemahan dan kekurangan kita. Padahal secara tidak langsung selain sedang melakukan kebohongan, kita juga sedang melakukan kesombongan. Merasa tidak memerlukan Tuhan atau orang lain. Kondisi ini pun bisa menyebabkan kita menjadi menganggap enteng setiap masalah yang kita hadapi, merampas keintiman dalam hubungan kita dengan orang lain, dan menjadikan kita seperti munafik, karena tidak membiarkan orang lain tahu kelemahan kita dan ini merupakan suatu hal yang sangat melelahkan.

Tidak semua hal tentunya perlu kita sampaikan kepada orang lain. Yang utama yang perlu kita lakukan adalah bergumul bersama Allah lewat doa dan Firman setiap hari. Jika Allah mengarahkan kita untuk meminta bantuan orang lain, kita melakukannya. Namun pada kenyataannya, kita juga sering gagal. Kita lebih sering menyimpan sendiri atau buru-buru mencari pertolongan kepada orang lain. Kita lupa untuk terlebih dahulu bergumul kepada Allah.

3. Kita pantas bahagia

Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia (Filipi 1:29).

Keadaan yang sulit, kondisi yang tidak kita inginkan, seringkali membuat kita merasa bahwa Tuhan sedang tidak berpihak kepada kita. Tidak jarang kita bahkan menyalahkan Tuhan untuk setiap kesulitan atau penderitaan yang kita alami.

Tuhan ingin kita bahagia, tetapi kebahagiaan yang berasal dari mengejar dan mengenal Dia. Sayangnya, kita sering memandang Tuhan sebagai alat untuk meraih kebahagiaan dalam versi kita sendiri. Kita tidak memiliki Tuhan agar Dia bisa memberi kita berkat supaya kita bahagia. Kita memiliki Tuhan, dan Dia adalah kebahagiaan sejati itu.

Bahkan seringkali kesulitan dan penderitaan kita alami tujuannya adalah untuk mengenal Allah, supaya kita menemukan bahwa hanya Allah saja yang mampu membuat kita bahagia.

Sangat mudah bagi kita untuk mempercayai setiap kebohongan yang disampaikan di tengah kehidupan kita setiap hari. Bahkan kebohongan itu sering membuat kita menjadi memilih untuk menyerah.

Saat ini, aku tidak tahu kebohongan-kebohongan apa yang sudah teman-teman percayai. Jika kita tahu bahwa semua itu adalah kebohongan, maka kita tidak akan mempercayainya. Tetapi, ketika kebohongan-kebohongan itu kita percayai, maka kebohongan-kebohongan itu memiliki kekuatan atas hidup kita. Jika saat ini rasanya kita ingin menyerah, entah itu karena kondisi keluarga, kondisi studi, kondisi pekerjaan atau mungkin kondisi keuangan, mari kita coba tanyakan dalam diri kita, apakah ada kebohongan yang sedang kita genggam. Berdoalah dan minta Tuhan untuk menyatakan kebohongan apapun yang sedang kita hidupi.

Kita berharga di mata Tuhan, buktinya Dia sudah memberikan Putra-Nya Yesus Kristus untuk disalibkan menebus seluruh dosa-dosa kita. Jangan biarkan kebohongan-kebohongan yang ada di dunia ini membuat kita menjauh dari Tuhan.

Hidupmu berharga bagi Allah
Tiada yang tak berkenan di hadapan-Nya
Dia ciptakan kau seturut gambar-Nya
Sungguh terlalu indah kau bagi Dia

Dia berikan kasih-Nya bagi kita
Dia telah relakan segala-galanya
Dia disalib tuk tebus dosa kita
Karena hidupmu sangatlah berharga

Buluh yang terkulai takkan dipatahkan-Nya
Dia kan jadikan indah sungguh lebih berharga
Sumbu yang telah pudar takkan dipadamkan-Nya
Dia kan jadikan terang untuk kemuliaan-Nya

Baca Juga:

Kemenangan Melintasi Jalur Sunyi

“Kuliah itu kudu di negeri.”
“Ah, anak kota mah manja, mana sanggup jauh dari orang tua”
“Masih fresh graduate, susah cari kerja.”

Pernyataan di atas mungkin kita dengar ketika jalan yang kita pilih berbeda dari pilihan kebanyakan orang. Tapi, di pilihan dan jalan sunyi sekalipun, Tuhan menuntun kita.

Setelah Covid-19 Berakhir, Seperti Apa Gereja Kita Nanti?

Oleh Jeffrey Siauw, Jakarta

Buku The Trellis and The Vine baru-baru ini mendapat perhatian khusus karena di bagian penutupnya, penulis buku itu membayangkan terjadinya pandemi.

Aku meringkasnya di bawah ini:

Bayangkan terjadi pandemi di seluruh bagian dunia anda dan pemerintah melarang orang berkumpul lebih dari tiga orang, untuk alasan kesehatan dan keamanan. Dan kondisi itu terjadi selama 18 bulan.

Kalau ada 120 jemaat di gereja anda, bayangkan bagaimana gereja tetap bisa berfungsi—tanpa ada pertemuan persekutuan rutin apa pun, dan tidak ada persekutuan rumah tangga, kecuali hanya tiga orang yang berkumpul.

Kalau anda adalah pendetanya, apa yang akan anda lakukan?

Mungkin anda bisa kirim email atau menelpon mereka, atau membuat rekaman audio. Tetapi bagaimana bisa tetap mengajar dan menggembalakan mereka? Bagaimana mendorong mereka untuk tetap mengasihi dan melakukan hal yang baik di tengah situasi ini? Dan bagaimana dengan penginjilan? Bagaimana menjangkau orang baru dan melakukan follow up?

Anda perlu bantuan. Anda harus mulai dengan 10 orang jemaat pria yang dewasa secara iman, lalu bertemu secara intensif dengan mereka, bergantian dua orang demi dua orang selama dua bulan. Anda harus melatih mereka bagaimana membaca Alkitab, bagaimana berdoa dengan satu atau dua orang lain, dan dengan anak-anak mereka. Maka ada dua tugas mereka: Pertama, menggembalakan keluarga mereka dengan secara rutin membaca Alkitab dan berdoa. Kedua, mencari orang lain untuk dilatih dan didorong melakukan yang sama. Maka dalam waktu beberapa bulan gerakan ini akan meluas dengan cepat. Tugas anda adalah memberikan support kepada mereka sambil mencari orang lain lagi.

Akan ada banyak sekali kontak pribadi dan pertemuan kelompok kecil yang harus dilakukan. Tetapi ingat bahwa tidak ada kebaktian yang harus dijalankan, tidak ada seminar, tidak ada kerja bakti, tidak ada persekutuan rumah tangga, tidak ada acara apapun untuk diorganisir. Semuanya hanyalah mengajar dan memuridkan secara pribadi dan melatih orang untuk menjadi pembuat murid.

Ini pertanyaan yang menarik: Setelah 18 bulan seperti itu, ketika larangan akhirnya dicabut dan kita bisa kembali berkumpul untuk ibadah, persekutuan, dan melakukan semua aktivitas lainnya, apa yang akan berubah? Bagaimana program, pelayanan, dll, akan berubah?

Kita memang berharap bahwa pandemi Covid-19 ini tidak berlangsung sampai 18 bulan. Tetapi pertanyaan terakhir itu sangat menggelitik. Kalau selama 18 bulan, kita memelihara kehidupan rohani jemaat melalui kelompok kecil dengan Firman dan doa. Lalu selama 18 bulan itu juga kita menghasilkan orang-orang yang terjun menjadi pembuat murid—mereka mengajar orang membaca Alkitab dan berdoa untuk orang-orang itu. Kemudian selama 18 bulan itu juga kita melihat buahnya—bahwa orang-orang ternyata bertumbuh dengan Firman dan doa. Setelah 18 bulan berlalu dan kita terbiasa mencurahkan energi dan waktu pada pelayanan yang satu itu dan kita melihat bahwa pertumbuhan terjadi tanpa semua kegiatan dan acara yang rutin dilakukan gereja, apakah tidak ada yang akan berubah ketika keadaan normal?

Aku percaya bahwa salah satu tujuan Tuhan mengizinkan kita mengalami krisis adalah untuk menggoncangkan kita. Mungkinkah ada sesuatu yang harus berubah?

Buku The Trellis and The Vine menggunakan perumpamaan pohon anggur dan terali untuk menggambarkan pekerjaan sesungguhnya dari gereja dan terali pendukungnya. Buku itu mengkritisi gereja karena membangun terlalu banyak terali pendukung sehingga tidak fokus mengerjakan pekerjaan anggur. Pekerjaan anggur bisa dengan sederhana dijelaskan sebagai pekerjaan dalam empat tahapan dengan tujuan masing-masing:

  • “mengajak orang”
  • “memberitakan Injil”
  • “mempertumbuhkan”
  • “memperlengkapi”

Di setiap tahap, kita melakukannya dengan Firman dan doa untuk mencapai tujuannya. Itulah pekerjaan anggur. Sementara itu, kalau program adalah terali, maka kita perlu mengevaluasi seluruh program yang dilakukan di gereja kita dengan dua cara:

Pertama, program apa yang menunjang untuk kita mengajak orang? Untuk kita memberitakan Injil? Untuk kita mempertumbuhkan? Untuk kita memperlengkapi? Tidak perlu banyak program untuk setiap tujuan itu. Program adalah terali penunjang yang jelas dibutuhkan tapi yang penting adalah pekerjaan anggurnya berjalan.

Kedua, seberapa efektif program itu untuk tujuan itu? Berikan skala 1-5. Kita sering berpikir program ini bagus, program itu ada gunanya, yang ini penting, kalau tidak ada yang itu nanti bagaimana, dst. Kita akan dengan cepat berargumen bahwa ini “program mengajak orang baru lho” atau ini “program doa kok.. pasti doa penting kan” atau yang lainnya. Tapi mari jujur mengevaluasi bahwa banyak program yang—walaupun bisa disebutkan gunanya—sebetulnya efektivitasnya rendah untuk tujuan itu. Kita hanya perlu mempertahankan program yang sangat efektif.

Tenaga, waktu, dan perhatian kita terbatas. Ada orang beranggapan bahwa lebih banyak program lebih baik. Kalau kurang hamba Tuhan ya dicari lagi. Kalau kurang pelayan ya dicari lagi dari jemaat. Tapi sebagai organisasi, ini bukan masalah kurang orang tapi masalah fokus. Semakin banyak hal yang dilakukan oleh sebuah organisasi, semakin dia tidak bisa fokus mengerjakan yang terpenting yang seharusnya dilakukan. Yang celaka, jemaat pun tidak bisa digerakkan sepenuhnya menuju ke arah tertentu karena terlalu banyak arah.

Sekali lagi kita berharap pandemi Covid-19 ini berakhir sebelum 18 bulan. Kondisi kita juga tidak persis sama seperti pandemi yang dibayangkan oleh buku itu. Tapi aku yakin kita perlu menggumuli jawaban atas pertanyaan yang menggelitik ini: Setelah Covid-19 berakhir, apa yang akan kita ubah? Seperti apa gereja kita nanti? Kalau gereja kita tidak fokus mengerjakan pekerjaan anggur, lalu nanti setelah Covid-19 tetap tidak ada yang berubah dan semua berjalan kembali persis seperti dulu, pasti ada yang salah.

Mari kita gelisah. Mari coba berpikir dan mau berubah. Perubahan pastilah tidak nyaman dan banyak orang yang akan menentang. Tapi kalau kita betul mengerjakan yang terpenting yang harus dilakukan—dengan tenaga, waktu dan perhatian yang terfokus, kita berada pada jalur yang tepat.

Ketidaknyamanan perubahan mungkin akan membuat sebagian orang meninggalkan kita (mungkin jumlah jemaat akan berkurang?), tetapi yang paling penting adalah kita mengerjakan tugas sesungguhnya dari gereja dengan setia. Tuhan pasti memberkati.

Baca Juga:

Belajar Menantikan Allah

Sebanyak 43 kali dalam Perjanjian lama, orang diperintahkan, “Nantikanlah. Nantikanlah Tuhan.” Lalu pertanyaannya, mengapa Allah membuat kita menunggu? Jika Dia dapat melakukan sesuatu, mengapa Dia tidak memberikan kelegaan dan jawaban sekarang?

Dinyatakan Positif COVID-19: Sepenggal Ceritaku Menjalani Isolasi Bersama Tuhan

Oleh Dian Mangedong, Makassar
*Kisah ini ditulis berdasarkan kesaksian dari NA

“Hasil tes swab pegawai sudah keluar, dan kamu hasilnya positif…”

Aku NA, salah satu anggota tim perawatan isolasi Covid di rumah sakit swasta. Mendengar kabar itu dari balik telepon, seketika duniaku runtuh. Aku menangis sejadi-jadinya. Bahkan sakit sekali, mengabari bapak di kampung yang hari itu tepat berulang tahun. Aku tiba-tiba menyesal, kenapa mesti menjadi bagian tim Covid di rumah sakit tempatku bekerja. Masa depanku kurasa hilang begitu saja. Semangat yang biasa kuberi kepada pasien Covid yang kurawat, sekarang hanya sekadar kata-kata belaka. Sebab aku sudah tertular dan positif!

“Jangan panik, jangan stress, percaya saja Tuhan selalu lindungi..” suara direktur rumah sakit dari balik telepon. Walau pagi itu ucapan semangat bertubi-tubi datang kepadaku, baik dari orang tua, sahabat, teman kerja, sungguh tidak ada pengaruhnya. Kukunci kamar dan kubanjiri kasurku sampai basah dengan air mata. Rasa bersalah karena dapat menjadi pembawa virus bagi orang sekitar. Rasa hancur karena diberikan cobaan seperti ini dari Tuhan. Bahkan marah! Kenapa saat aku memberi diri melayani sebagai petugas medis isolasi Covid, Tuhan malah membiarkanku terjangkit virus ini.

Melalui beberapa waktu sendiri, aku bangkit dan bersiap menuju rumah sakit. Aku akan menjalani perawatan isolasi. Di saat itu aku bahkan kesal saat orang-orang hanya mengirimkanku pesan tanpa berani menjengukku. Seketika ilmu yang kupelajari mengenai Covid hilang begitu saja. Aku panik, khawatir, egois, bahkan marah oleh karena pikiran yang kuciptakan sendiri.

Setelah melalui hari yang panjang. Aku merasa lelah dan tetap tidak damai. Aku masuk kategori orang tidak bergejala (OTG) dan perlahan mulai menerima keadaan ini. Satu-satunya cara adalah kembali kepada Tuhan. Seorang pendeta meneleponku dan mengingatkanku lagi tentang kisah Yusuf. Ia dibuang saudaranya, dijual, difitnah, tetapi di balik itu semua Tuhan punya rencana yang besar. Pula tentang Ayub yang tetap bersyukur dan memuliakan Tuhan di setiap pergumulan yang ia hadapi.

Di ruang isolasi aku merenungi semua yang terjadi. Saat itu aku berdoa dan mencurahkan semua kesedihanku kepada Tuhan. Air mata mengalir tetapi hati benar-benar damai. Kutahu Tuhan sudah menunggu saat-saat seperti ini bersamaku. Berdua saja. Intim dan khidmat. Kuingat lagi kata mamaku bahwa kejadian ini bukan petaka namun menjadi waktuku bersama Tuhan, untuk lebih dekat lagi, membaca Alkitab, berkomunikasi dengan-Nya, bahkan berserah penuh.

Sebagai manusia biasa, aku sadar telah melalui masa-masa penolakan dan stress luar biasa. Tetapi dibalik semua aku sangat bersyukur dan jiwaku lega menyadari ada satu jalan tempatku kembali dan merasakan damai, yaitu di dalam Tuhan. Bahkan Tuhan bukannya membuatku terasing di ruangan isolasi ini. Setiap hari kulihat bagaimana cinta nyata-Nya terwujud melalui sesama manusia terhadapku. Mendukungku dengan segala macam cara dan bentuk. Sungguh manis dan mengharukan kasih Tuhan melalui kehadiran kasih mereka.

“Perang baru dimulai!” kataku dengan penuh kekuatan. Aku berusaha menjalani hari-hariku di ruang isolasi dengan energi positif dari firman Tuhan yang senantiasa menguatkan dan menemaniku setiap hari. Hari-hari kulalui dengan bersyukur. Selain menjalani terapi fisik, perbaikan hubungan bersama Tuhan adalah yang paling kurasakan. Bagaimana sempurnanya kasih Tuhan yang bahkan mencintaiku disaat-saat terpuruk sekalipun.

“Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya, dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan” (Mazmur 62:12-13a).

Ya, aku percaya Tuhan berkuasa atas hidupku, maka aku tenang.

Hari-hari isolasiku telah usai. Hasil tes swab keduaku sudah negatif. Puji Tuhan… Masih perlu satu kali swab lagi untuk menyatakan aku benar-benar bersih dari virus ini. Sampai kumenulis ini tidak ada gejala sama sekali yang kurasakan. Sungguh Tuhan teramat baik terhadap umat-Nya.

Baca Juga:

Kehendak-Nya Tidak Selalu Tentang Mauku

Ketika sesuatu terjadi tak sesuai mau kita, kita mungkin membombardir Tuhan dengan deretan pertanyaan kenapa. Tapi, mengapa tidak menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk melihat dari sudut pandang-Nya?

Menghadapi Disrupsi: Mencoba, atau Menyerah?

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

Siapa sih yang suka kondisi ini?

Sudah sebulan lebih sejak peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan di Jakarta dan sekitarnya. Sekarang kota-kota lainnya ikut mengajukan PSBB wilayah. Desa-desa pun tak ketinggalan menetapkan status lockdown mandiri. Para pelajar, pekerja, dan umat beragama pun diminta melakukan aktivitasnya dari rumah saja.

Nyaman? Aku sih tidak!

Pertama kali mengikuti ibadah online 22 Maret 2020 lalu, entah kenapa aku pun mewek, berasa sedih, melow, dan gloomy. Ini baru satu hal yang “tercabut” dari kebiasaan kita. Bagi yang biasa nongkrong atau traveling bareng teman, hari-hari ini jadi sulit karena kita harus melaksanakan physical distancing. Para pelajar dan pekerja pun harus membiasakan diri menggunakan ragam teknologi supaya tugas dan tanggung jawabnya dapat terlaksana walau secara fisik mereka berdiam diri di rumah. Anak kos sepertiku, agak susah mencari tempat makan yang masih berjualan. Kalau pun ada, harus menyesuaikan dengan sistem take away.

Disrupsi pun terjadi! Berbagai kegiatan yang biasanya dilakukan dengan tatap muka terpaksa harus dikurangi atau ditiadakan. Banyak aktivitas, seolah tercabut dari akarnya. Kebiasaan lama perlu diubah untuk menuju sebuah pola yang baru. Siapa yang suka dengan kondisi seperti ini?

Belajar dari RPG/MMORPG

Di tengah kesuntukan seperti ini, mungkin sebagian besar kita mencari hiburan dengan main gim alias game. Salah satu gim yang jadi perbincangan terkini ialah Final Fantasy VII Remake yang dimainkan pada konsol PS4. Aku sih tidak ikut main, tidak cukup uang untuk beli konsolnya, hehe…. Tapi, melihat ulasan yang ditayangkan di YouTube, aku jadi kangen keseruan beberapa tahun silam saat memainkan gim Final Fantasy VII pada konsol PS1.

Aku tentu tidak akan mengulas gim ini karena tidak semua pembaca memainkannya. Hal yang bisa aku pahami dan sampaikan dari gim bergenre Role Playing Game (RPG) maupun Multiplayer Massive Online – RPG (MMORPG) adalah sistem permainan yang mirip dengan kehidupan manusia. Di awal permainan, biasanya kita akan diberikan musuh yang tergolong “mudah”. Setelah itu, karakter kita akan melawan bos, yang lebih susah ditaklukkan.

Dari berbagai pertarungan yang telah dimenangkan dari gim bergenre RPG dan MMORPG, karakter pun bisa naik level, juga skill-nya ikut naik. Semakin sering naik level, semakin mudah menghadapi musuh. Sesuatu yang awalnya nampak susah, ketika semakin sering diperhadapkan dalam pertarungan, lama-lama akan nampak biasa saja.

Ciptaan yang beradaptasi

Seperti nama genre di atas, atau yang diartikan gim berbasiskan permainan peran, tentu terinspirasi dari sesuatu yang nyata, yaitu makhluk hidup. Sistem permainan yang menyediakan tantangan yang susah dan terus dilakukan hingga menjadi nampak biasa, juga kita hidupi. Saat kita bayi, kita diberi tantangan untuk bisa berjalan dengan dua kaki. Bagi bayi, berjalan ini susah. Awalnya dia hanya bisa merangkak, mencoba berdiri, lalu jatuh. Tapi dengan segala upaya, sang bayi terus berusaha mengatasi tantangan sulit itu sampai akhirnya dia bisa berjalan dan berlari. Di usia kita sekarang, terlebih bagi yang memiliki fungsi kaki normal, apakah berjalan jadi proses yang sulit seperti kita masih bayi dulu?

Aku rasa kondisi kita saat ini, baik kita pekerja maupun pelajar, kita tentu sudah melewati banyak tantangan hidup. Hasilnya, kita paham banyak ilmu dan pengetahuan, baik hard skill maupun soft skill, mulai dari ilmu alam, ilmu sosial, sampai kemahiran kita membuat beragam konten kreatif audio visual, atau juga berbicara di depan umum.

Beberapa bulan ini, secara masif kita semua mendapatkan tantangan yang dikarenakan oleh pandemi virus corona. Sebagian besar kita, mau tidak mau harus tercabut dari akar kebiasaan kita. Apakah mudah? Tentu bukan tantangan yang mudah diselesaikan. Namun kita bisa belajar dari satu tokoh Alkitab yang juga mengalami disrupsi dalam kehidupannya.

Disrupsi dalam Kisah Para Rasul pasal 10

Terdisrupsi tentu bukan hal yang menyenangkan karena seseorang tercabut dari kebiasaan lamanya. Perasaan tidak senang pun muncul karena keadaan bertentangan dengan ideologi atau pemahaman yang dipegang seseorang. Dalam banyak kisah bangsa Israel merupakan bangsa pilihan Allah oleh karena janji yang Dia berikan pada Abraham (Kejadian 17:708). Setelah bangsa Israel terpecah, justru perasaan istimewa inilah yang membuat bangsa Yahudi tidak mudah bergaul dengan bangsa lainnya, bahkan dengan orang Samaria, yang sebenarnya satu rumpun dengan mereka. Dalam Yohanes 4:9b, dituliskan keterangan, “Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.”

Ideologi akan keistimewaan bangsa Yahudi pun terbawa oleh para rasul, salah satunya Simon Petrus. Kita kita membaca Kisah Para Rasul 10, Petrus berkeyakinan kuat bahwa seorang Yahudi dilarang keras bergaul dengan orang-orang bukan Yahudi, atau bahkan masuk ke rumah mereka. Namun, Tuhan berkata lain. Melalui tiga kali penglihatan akan binatang berkaki empat, binatang menjalar, dan burung, Tuhan mengatakan agar Petrus menyembelih lalu memakannya. Tuhan juga datang pada Kornelius, dan meminta agar bawahannya menjemput Petrus datang padanya.

Petrus pun terdisrupsi dari pemahamannya untuk tidak menajiskan orang non-Yahudi. Seperti tertulis dalam ayat 28b: “Tetapi Allah telah menunjukkan kepadaku, bahwa aku tidak boleh menyebut orang najis atau tidak tahir.”

Dari secuplik kisah Petrus yang terdisrupsi itu, ada tiga hal yang bisa kita petik:

1. Belajar untuk bertanya maksud dan kehendak Allah. Tentu kita perlu memahami bahwa segala sesuatu dalam hidup kita terjadi karena Tuhan berkenan. Kita mungkin tidak tahu maksud dan tujuan Tuhan lewat disrupsi yang terjadi, tetapi tidaklah salah jika kita bertanya pada-Nya.

2. Belajar lebih peka akan suara Tuhan. Kita perlu memahami bahwa Tuhan dapat menyampaikan suatu pesan lewat hal-hal yang ada di sekitar kita. Lewat penglihatan, bahkan lewat tantangan pun Tuhan menyatakan suara-Nya. Dalam kesulitan melepas atau memikirkan kembali idealisme kita pun, Tuhan dapat menyatakan suara-Nya.

3. Melihat suatu tantangan disrupsi sebagai cara untuk memuliakan Allah. Apa pun yang kita perbuat seharusnya membawa kemuliaan bagi nama-Nya. Memenangkan tantangan tentu bukan demi pujian atas diri kita sendiri.

Menghadapi disrupsi: mencoba, atau menyerah?

Pandemi COVID-19 dan segala disrupsi yang terjadi menciptakan era normalitas yang baru. Kita jadi belajar untuk hidup dengan lebih higienis: rajin cuci tangan dan pakai masker saat bepergian. Sebagian gereja, yang sebelumnya tidak familiar atau bahkan tidak punya akun media sosial, sekarang memanfaatkan medium ini untuk menyampaikan pesan firman Tuhan dan juga menjalin relasi dengan jemaat.

Mungkin masih ada beberapa bentuk disrupsi yang kita menjadi tantangan kita saat ini. Dan saat ini kita dihadapkan pada pilihan untuk mencoba membiasakan diri atau menyerah. Bagiku, ketika kita mencoba dan mungkin gagal, kita masih bisa kok mencoba terus-menerus sampai kita terbiasa. Dengan bertanya maksud dan kehendak Allah, peka akan suara Tuhan, serta melihat suatu tantangan disrupsi sebagai cara untuk memuliakan nama Allah, maka Dia tentu akan menguatkan kita untuk terus menerus mencoba.

Maka, apakah kita mau terus mencoba atau menyerah?

Baca Juga:

Melayani di IGD, Caraku Menikmati Berkat Tuhan

Memutuskan tidak pulang kampung dan melayani di garda terdepan awalnya adalah keputusan yang berat. Ada rasa takut, tapi dengan anugerah-Nya, ketakutanku berubah menjadi semangat dan sukacita melayani.

Apa yang Kamu Lihat? Penghiburan atau Penghakiman?

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Beberapa waktu lalu ada sebuah video yang cukup viral. Di video itu ditunjukkan seorang badut dengan mimik tersenyum berdiri di ballroom mal yang sepi pengunjung. Saking sedikitnya pengunjung di mal itu, tak ada satupun yang tergerak untuk mengisi kotak uangnya. Namun, sang badut bergeming menghibur orang-orang yang sedikit itu dengan senyumannya.

Sang pembuat video lalu berinisiatif memasukkan uang ke dalam kotak. Rupanya tindakan ini mendorong pengunjung lainnya untuk memberi juga. Lalu, setelah video ini viral di media sosial, sumbangan kepada sang badut pun berdatangan dari para warganet.

Di tengah situasi pandemi yang mencekam ini, mendapati kisah-kisah kebaikan seperti di atas terasa menghibur hati. Namun, aku jadi teringat. Masih di media sosial, terjadi perdebatan atas peristiwa merebaknya virus corona pada sebuah acara gereja di Bandung.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah mengidentifikasi bahwa jumlah orang yang positif terjangkit dari klaster acara tersebut berjumlah 226 orang. Di luar jumlah itu, ada beberapa yang telah meninggal dunia pula. Ketika berita ini menyebar di media sosial, komentar-komentar pun berdatangan. Ada komentar-komentar yang mengatakan bahwa itu ganjaran yang tepat untuk mereka yang mengikuti acara tersebut.

Sejenak aku termenung.

Jika ingin digali secara detail, mungkin investigasi dari peristiwa ini akan panjang. Untuk mencari dan menentukan siapa yang paling bertanggung jawab dari merebaknya virus ini di acara tersebut, kupikir itu adalah ranah pihak yang berwajib untuk memprosesnya. Namun, bagaimana jika kita menggeser sedikit cara pandang kita? Daripada berfokus kepada “salah siapa,” bagaimana jika kita memberi ruang bagi empati untuk turut hadir dalam asumsi-asumsi kita?

Aku membayangkan, para anggota jemaat yang hadir di acara tersebut tentunya terguncang karena terjangkit. Pun, ketika ada di antara mereka yang meninggal dunia, pastilah itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga mereka.

Selayaknya, tugas kita sebagai orang Kristen adalah menawarkan penghiburan dan empati. Para korban dari pandemi ini, siapa pun mereka, adalah manusia juga seperti kita. Manusia yang berdosa dan membutuhkan anugerah pengampunan Tuhan.

Ketika Yesus berjumpa dengan seorang yang buta sejak lahir, murid-murid-Nya bertanya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yohanes 9:2). Pertanyaan murid-murid sejatinya bukanlah pertanyaan yang tidak peka terhadap kesakitan si orang buta, karena pada zaman itu orang-orang meyakini bahwa cacat fisik seseorang adalah akibat dari dosa. Dan, biasanya mereka yang buta sejak lahir bernasib menjadi pengemis. Buta dan pengemis pula. Lengkap sudah penderitaan orang itu. Yesus lalu menjawab, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yohanes 9:3).

Dari bagian ini, kita mendapati bahwa Yesus dan murid-murid-Nya sama-sama melihat orang buta tersebut. Namun, dalam cara dan respons yang berbeda. Dalam bahasa Ibrani ada dua pilihan kata untuk “melihat”, yakni blepo dan horao. Murid-murid melihat dengan blepo, mereka melihat hanya dengan mata jasmani. Cara melihat seperti ini akhirnya menghasilkan penghakiman yang terselubung, seperti tercermin dalam pertanyaan mereka. Sedangkan Yesus melihat dengan horao, melihat dengan hati. Cara Yesus melihat menghasilkan respons untuk berbelas kasihan. Bukan penghakiman yang ditawarkan-Nya, tetapi tindakan kasih yang berujung pada pemulihan.

Andaikata saat itu si orang buta tak jadi dicelikkan Yesus, mungkin hatinya merasa lebih baik sebab Yesus tidak menghakimi matanya yang buta sebagai dosa. Namun, Kristus berkenan memulihkan penglihatannya, sehingga celiklah matanya.

Mata kita tidak pernah melihat dengan asal melihat. Kita melihat dengan tujuan. Kita melihat untuk mencari sesuatu dan kita berfokus melihat apa yang kita lihat. Hari ini, ketika kita melihat satu per satu korban berjatuhan, apakah yang kita lihat dan pikirkan? Apakah kita melihatnya sebagai hukuman, biar tau rasa, atau terbitkah kasih kita kepada mereka? Tergerakkah hati kita untuk mendoakan mereka, agar tangan Tuhan yang berkuasa menjamah dan menganugerahkan mereka dengan damai sejahtera?

Yesus mengatakan bahwa semua orang akan tahu kita adalah murid-murid-Nya jika kita saling mengasihi (Yohanes 13:35). Kasih yang Yesus maksudkan di sini bukan hanya mengasihi orang yang dekat dengan kita, atau yang baik pada kita. Kita diminta-Nya untuk mengasihi siapa saja, termasuk musuh kita sekalipun (Matius 4:44). Tak ada pengecualian, kita wajib mengasihi semua orang.

Virus COVID-19 memang berbahaya, cepat menular, tetapi yang tak kalah bahayanya adalah dosa-dosa yang bersarang dalam diri kita. Kita membutuhkan pengampunan dari-Nya, sebab kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri (Yesaya 53:6).

Baca Juga:

Kasih Tuhan di Masa Corona

Lent, Jumat Agung, dan Paskah serasa tenggelam di tengah-tengah pandemi COVID-19, tetapi kegelapan tidak dapat menutupi terang. Pesan apa yang salib Yesus 2000 tahun lalu sampaikan? Kasih Tuhan yang terus menyertai, bahkan di masa corona.

Kasih Tuhan di Masa Corona

Oleh Jefferson, Singapura

Memasuki bulan keempat di tahun 2020, aku tidak menyangka kalau wabah COVID-19 akan jadi separah ini. Situasi di Singapura sendiri bereskalasi dengan cepat selama beberapa minggu terakhir. Pengetatan berkala peraturan-peraturan social distancing pun mencapai puncaknya ketika pemerintah mengumumkan kebijakan “pemutus arus”—yang mirip dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta—hari Jumat minggu lalu. Salah satu upaya yang diperkenalkan untuk menghambat laju penyebaran coronavirus adalah menutup kantor-kantor dari berbagai sektor non-esensial selama satu bulan, dimulai dari Selasa kemarin. Kantorku yang bergerak di bidang konsultasi lingkungan pun terkena imbasnya.

Aku cukup terkejut ketika mendengar harus bekerja dari rumah selama sebulan, terutama karena perusahaanku belum pernah melakukannya sejak pandemi ini dimulai. Group chat kantor pun mulai ribut dalam keresahan, membuat aku yang tadinya tenang-tenang saja jadi ikutan panik.

Pada saat itulah aku mulai menyadari dan merasakan dampak dari wabah COVID-19 secara langsung. “Ketakutan dan penderitaan semakin nyata di mana-mana,” pikirku. Pengamatan ini kemudian berkembang menjadi pertanyaan, “Menghadapi situasi seperti ini, tanggapan seperti apa yang iman Kristen berikan? Dan apa bedanya dengan reaksi dari dunia?”

Di antara banyak tulisan dan opini yang disuarakan oleh berbagai kalangan, artikel karangan N. T. Wright menuntunku untuk merenungkan tentang hal ini lebih dalam dari yang kukira, di mana aku melihat keindahan dan keunikan dari jawaban Kekristenan untuk pandemi ini.

“Kekristenan tidak menawarkan jawaban apapun atas coronavirus

Artikel itu dibuka dengan pengamatan beliau terhadap suatu refleks—layaknya lutut yang diketuk palu karet—dari banyak kalangan untuk memberikan sebuah label kepada peristiwa ini, entah sebagai “hukuman”, “pertanda”, maupun “respons alam”. Teori-teori konspirasi pun menyebar secepat virus korona menular. Orang-orang ini dijuluki N. T. Wright sebagai “Rasionalis” karena menuntut penjelasan rasional atas segala kejadian. Berseberangan dengan mereka adalah kaum “Romantisis” yang sentimentalis, yang menuntut suatu “desahan lega“, kepastian instan bahwa pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja.

Terhadap kedua reaksi tersebut, N. T. Wright memberikan alternatif respons yang iman Kristiani usung dalam bentuk ratapan, di mana kita mengakui dengan jujur kalau kita sama sekali tidak mengetahui alasan di balik suatu kejadian maupun hasil akhirnya. Ratapan beliau jabarkan sebagai tindakan “bergerak keluar dari kecemasan kita terhadap dosa-dosa dan pergumulan pribadi yang egois untuk melihat penderitaan dunia dengan lebih luas”. Tradisi ratapan yang Alkitabiah mengajak kita untuk berempati dengan penderitaan mereka yang berhadapan dengan pandemi ini dalam kondisi yang jauh dari ideal, seperti di kamp pengungsi yang padat di Yordania dan daerah penuh kekerasan perang seperti Gaza.

Beliau kemudian mengajak kita untuk menilik isi dari sejumlah mazmur ratapan. Beberapa mazmur memang ditutup dengan pembaharuan keyakinan akan penyertaan dan pengharapan dari Tuhan di tengah permasalahan, namun ada juga mazmur-mazmur yang berakhir dalam kegelapan dan kekalutan (seperti Mazmur 88 dan 89). Dari kedua jenis mazmur ratapan ini, kita melihat bahwa praktik ratapan tidak selalu memberikan jawaban atas segala rasa duka dan frustrasi yang kita alami. Meskipun begitu, ratapan selalu menyingkapkan suatu misteri yang dinyatakan oleh Alkitab kepada para peratap: TUHAN sendiri pun meratap.

Ratapan Allah Tritunggal terekam jelas dalam Perjanjian Lama maupun Baru. Ada banyak bagian yang mencatat hati Tuhan yang berduka, seperti ketika melihat keberdosaan dan kejahatan manusia (Kejadian 6:5-6) serta ketika bangsa Israel pilihan-Nya sendiri berpaling dari-Nya untuk menyembah berhala (Yesaya 63:10). Di sisi lain, dalam Perjanjian Baru kita melihat air mata sang Anak di makam Lazarus (Yohanes 11:35) dan ”erangan” Roh Kudus di dalam diri kita (Roma 8:26) sambil kita sendiri “mengerang” bersama seluruh ciptaan (Roma 8:23). [Terjemahan Bahasa Indonesia memakai kata “keluhan” untuk kata yang secara konsisten diterjemahkan sebagai “groan(-ings)” / “erangan” oleh terjemahan-terjemahan Bahasa Inggris.]

Dari semua pengamatan ini, N. T. Wright menyimpulkan bahwa orang Kristen tidak dipanggil untuk (mampu) menjelaskan apa yang sedang terjadi dan mengapa itu terjadi, melainkan untuk meratap. Bersama dengan Roh Tuhan yang meratap dalam diri kita, ratapan kita menjadikan kita bait-bait Allah yang menyatakan penyertaan dan kasih-Nya di tengah dunia yang sedang menderita karena wabah COVID-19.

Ikut meratap bersama Tuhan yang meratap

Walaupun tulisan yang kuringkas di atas memperluas wawasan dan mengajarkan sebuah cara bagaimana kita dapat merespons wabah COVID-19 dengan Alkitabiah dan bijak, aku merasa kurang puas dengan konklusi yang N. T. Wright ambil. Aku merasa masih ada kaitan yang lebih mendalam antara ratapan kita dengan ratapan Allah yang tidak dipaparkan oleh beliau. Dalam perenunganku tentang hal ini, sebuah frasa dari Yesaya 53:3 mendadak muncul dalam benakku: “man of sorrows”, yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai “seorang yang penuh kesengsaraan”. Frasa ini digunakan dalam nubuatan nabi Yesaya tentang Hamba TUHAN yang menderita untuk memikul ganjaran dari dosa dan kejahatan yang sepatutnya kita terima (Yesaya 52:13–53:12), yang kemudian digenapkan oleh Yesus Kristus ketika Ia disesah, dihina, dan disalibkan sekitar 2000 tahun yang lalu.

Deskripsi Yesus sebagai man of sorrows inilah yang menggugah hatiku. Sebagai Tuhan atas seluruh ciptaan, Yesus Kristus adalah satu-satunya Pribadi di jagat raya yang memahami penderitaan secara penuh. Ia mampu melenyapkan kesengsaraan hanya dengan satu patah kata (bdk. Matius 26:53)! Yesus tidak perlu datang ke dunia, tapi Ia tetap mengambil rupa manusia dan mengalami penderitaan dengan sensasi panca indera yang sama dengan kita (Yesaya 53:7) hingga mati (53:8) sehingga “oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh” (53:5; bdk. 1 Petrus 2:24). Kurasa terjemahan Indonesianya tidak menggambarkan dengan penuh makna dari frasa ini. Bukan hanya “penuh kesengsaraan”, penderitaan yang Yesus alami pada Jumat Agung menjadikan-Nya “seorang sengsara”, kesengsaraan dalam wujud darah dan daging manusia.

Dalam perenungan inilah aku melihat hubungan antara ratapan kita dengan ratapan Tuhan: Yesus Kristus telah lebih dulu meratapi dan berempati dengan semua dosa dan penderitaan kita, bahkan mengalami sendiri segala penderitaan itu dan menanggungnya di atas kayu salib sampai mati, sehingga kita dapat “bergerak keluar dari kecemasan kita… yang egois untuk melihat penderitaan dunia dengan lebih luas”, meratapi dan berempati dengan penderitaan orang lain. Kebenaran ini digambarkan dengan indah oleh Paulus, “[Pribadi Allah Bapa] yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32)

Allah yang kita sembah, yang menyatakan diri-Nya dalam Yesus Kristus, tidaklah jauh dari kita semua (bdk. Ibrani 4:15). Ia tidak tinggal diam ketika melihat ciptaan-Nya yang menurut hikmat mereka sendiri mencoba untuk merasionalisasi dan meromantisasi jawaban atas segala kejahatan dan penderitaan di dunia. Kepada kaum-kaum Rasionalis, Romantisis, dan semua pandangan manusiawi lainnya, Allah menjawab dengan memilih untuk datang sendiri ke dalam dunia, merasakan segala penderitaan itu dalam wujud dan indera yang sama dengan kita, meratap bersama kita, dan menebus upah dosa hingga tuntas di atas kayu salib.

Kurasa bertepatannya momen wabah COVID-19 ini dengan masa Lent atau prapaskah dan peringatan Jumat Agung dan Paskah bukanlah sebuah kebetulan. Mengapa begitu? Karena di tengah masa coronavirus yang gelap pekat, cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus (2 Korintus 4:4), terang kasih Tuhan yang terus menyertai kita, dapat terlihat bersinar lebih cemerlang.

Meratap di tengah kegelapan, berharap pada sang Terang kasih dunia

Jadi, bagaimana kita dapat melakukan praktik ratapan di masa kini? Yang jelas, ratapan tidak dilakukan dengan berusaha menemukan penjelasan di balik situasi COVID-19 yang kompleks seperti golongan Rasionalis, maupun mencari penghiburan instan seperti kaum Romantisis. Sebaliknya, kita meratap dengan melihat keluar dari diri kita untuk menolong dan berempati dengan penderitaan orang lain, seperti yang N. T. Wright usulkan dan, aku ingin menambahkan, mengarahkan orang lain untuk melihat dan percaya kepada Kristus yang meratap bersama kita dan menanggung semua penderitaan itu untuk kita.

Melalui doa-doa yang kita panjatkan, percakapan-percakapan online dengan teman dan kerabat kita, serta mencari tahu dan menolong mereka yang membutuhkan bantuan—baik secara dana, pangan, maupun emosi—untuk melewati pandemi ini, kita memberitakan Injil kasih keselamatan dalam Yesus Kristus. Teman-teman kosku membantu menajamkan langkah yang terakhir dengan mengingatkan bahwa bantuan yang dapat kita berikan kepada orang lain pun adalah berkat yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita terlebih dahulu. Dengan kata lain, pengucapan syukur yang tulus adalah bagian penting dari tindakan kita menyalurkan berkat Tuhan untuk memenuhi kebutuhan orang lain.

Dengan segala waktu dan sumber daya tambahan yang kudapatkan dari keharusan untuk bekerja dari rumah selama sebulan ke depan, aku tahu apa yang akan kuaplikasikan dari perenungan ini: mengucap syukur setiap saat atas berkat-berkat yang Tuhan terus berikan, meratapi penderitaan demi penderitaan yang disebabkan oleh pandemi COVID-19, dan membantu mereka yang membutuhkan sejauh yang kubisa. Melalui semua tindakanku ini, aku berdoa agar dunia dapat mengenal dan berharap kepada Yesus Kristus yang meratap bersama kita dan telah memberi diri-Nya untuk menanggung segala penderitaan kita.

Maukah kamu ikut meratap bersamaku dan membagikan pengharapan ini sehingga realita kasih Tuhan di masa corona semakin nyata di tengah dunia yang terinfeksi oleh dosa?

Selamat Jumat Agung dan Paskah! Tuhan Yesus menyertai dan memberkati, soli Deo gloria.

P. S. Judul tulisan ini diadaptasi dari novel karangan Gabriel García Márquez yang berjudul Love in the Time of Cholera (“Kasih di Masa Kolera”)

Baca Juga:

Ketika Aku Divonis Sakit Oleh Pikiranku Sendiri

Tahun 2016 aku pernah menderita Pneumonia, lalu dinyatakan sembuh. Namun, berita-berita tentang virus yang kubaca membuatku cemas. Pikiran buruk pun menghantui, aku over-thinking.