Belajar dari 2 Sosok Perempuan yang Jadi Berkat bagi Bangsanya

Oleh Olive Bendon, Jakarta

Mama Yo gamang. Afghanistan bergejolak lagi. Rasa takut tentu saja mendera, namun semangat Mama Yo juga menyala-nyala—hmm .. mungkin sedikit nekat—dia ingin tetap melakukan perjalanan ke negara yang tak kunjung menemukan kesepakatan dalam menyelesaikan konflik dalam negerinya yang telah berlangsung bertahun-tahun itu. Bagi Mama Yo, ini kesempatan baik dapat membawa misi kemanusiaan dan membagikan pengalaman Indonesia dalam menangani isu perempuan dan anak kepada perempuan-perempuan Afghanistan. Namun, karena alasan keamanan, Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Kabul memberi sinyal; Mama Yo tak usah datang!

Saat bersua presiden, Mama Yo menyampaikan keresahan hatinya. Mama Yo mendapat restu dan akhirnya berangkat memenuhi undangan Rani Ghani, Ibu Negara Afghanistan; menjadi pembicara utama dalam Symposium on the Role and Contribution of Afghanistan Women for Peace yang berlangsung pada pertengahan Mei 2017 lalu. Di satu wawancara dengan stasiun TV sepulang ke Indonesia, Mama Yo mengatakan kedatangannya ke Afghanistan merupakan kunjungan pejabat tinggi Indonesia pertama, perempuan pula setelah kunjungan Soekarno pada 1961. Di kesempatan lain Mama Yo juga mengatakan bahwa salah satu indikator majunya satu bangsa dapat dilihat kaum perempuannya yang berpikiran maju. Artinya perempuan merupakan pilar penting dan agen perubahan bagi suatu bangsa.

Mama Yo, sapaan akrab Yuliana Susana Yembise, adalah Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dalam Kabinet Kerja Jokowi di 2014-2019. Dirinya tak pernah bermimpi jika di perjalanan karirnya sebagai seorang akademisi, satu waktu akan dipanggil menghadap presiden dan diminta untuk mengepalai Kementerian PPPA. Posisi Mama Yo sebagai seorang menteri pun memberi angin segar bagi kebinekaan Indonesia. Mama Yo menjadi representasi dari orang Papua yang berdaya dan juga berkontribusi dalam membangun negeri.

Menyimak sedikit cerita perjalanan Mama Yo, membawa ingatanku pada kisah Ratu Ester dari Persia, satu dari sedikit tokoh perempuan berpengaruh dalam Alkitab yang perjalanan hidupnya dituliskan secara khusus dalam satu kitab di samping Rut.

Meski hidup dalam zaman dan kondisi yang berbeda, Mama Yo dan Ester memiliki kesamaan yang kuat: yakni mereka sama-sama perempuan. Dan, dari dua sosok ini kita dapat melihat bagaimana Allah bekerja memakai setiap hamba-Nya.

Tak diperhitungkan di mata manusia, tetapi dipilih Allah

Ester terpilih menjadi permaisuri menggantikan Ratu Wasti setelah melewati seleksi ketat—mungkin semacam beauty pageant di hari ini dengan mempertimbangkan brain, beauty, behavior—yang diikuti perempuan-perempuan muda yang elok parasnya dari semua daerah (dalam Ester 1:1 disebutkan ada 127 daerah di wilayah kekuasaan Ahasyweros yang meliputi India sampai Etiopia) dan memakan waktu panjang. Sebelum tampil di depan raja, mereka dikarantina selama 12 bulan di dalam Benteng Susan untuk menjalani perawatan tubuh. Ester mendapat jadwal bertemu raja setelah hampir 2 tahun dikarantina, yaitu di bulan kesepuluh di tahun ketujuh pemerintahan Ahasyweros. Di pertemuan pertama mereka, Ahasyweros langsung jatuh hati pada perempuan keturunan Yahudi dari suku Benyamin, anak yatim piatu yang dibesarkan oleh Mordekhai, saudara sepupunya itu dan memberinya mahkota kerajaan (Ester 2:17).

Kesabaran Ester diuji saat harus meninggalkan kenyamanannya dan menjalani karantina di Susan. Jika kita coba bayangkan, tentulah apa yang Ester jalani tidak mudah. Ester, seorang Yahudi, harus tinggal di tengah bangsa lain. Namun, Ester selalu mengingat dan mengikuti nasihat Mordekhai untuk menjaga martabat bangsanya. Seorang hamba yang rendah hati dan menurut apa yang dikatakan oleh sida-sida raja; membuat orang yang melihatnya, mengasihi dirinya (Ester 2:15).

Kisah Ester menegaskan kembali pada kita bahwa Allah memilih seseorang untuk menjadi alat-Nya bukan berdasarkan standar manusia, tetapi berdasarkan hikmat dan kebijaksanaan-Nya. Dan, Ester pun taat menjalani tugas dan tanggung jawabnya. Seandainya saja Ester memberontak, mungkin nasib bangsanya akan berakhir tragis.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita merasa bukan orang yang dipilih Tuhan untuk membawa kebaikan bagi bangsa kita?

Kita mungkin bukan orang besar, bukan pejabat, atau bukan orang terkenal, tetapi itu bukanlah alasan bagi kita untuk berkecil hati. Tindakan kecil kita bisa memberi dampak yang berarti, minimal untuk orang-orang di sekeliling kita.

Hal paling mudah yang bisa kita lakukan untuk berkontribusi bagi bangsa kita pada masa kini adalah dengan taat pada anjuran pemerintah untuk menekan laju pertambahan kasus Covid-19.

Bijaksana dalam bertindak

Ester mengetahui rencana jahat Haman, pembesar kerajaan yang ingin memusnahkan orang-orang Yahudi yang ada di kerajaan Persia dari pesan yang disampaikan Mordekhai padanya lewat pelayan istana. Kalau saja Ester tak bijak menyikapi setiap informasi yang diterimanya, bisa jadi Ester akan memanfaatkan posisinya sebagai ratu untuk bertindak. Bukankah dirinya kesayangan raja dan apapun yang dimintanya akan dituruti Ahasyweros? (Ester 5:6).

Sekalipun Ester risau pun ingin menyelamatkan kaumnya, Ester tak tergesa-gesa untuk melaporkan Haman. Ester pasti marah pada Haman. Tapi Ester tenang dan menjaga pikirannya tetap bersikap adil pada ketidaknyamanan yang terjadi di sekelilingnya. Dan itu menuntun Ester pada keputusan besar; bertanya lebih dulu pada Tuhan serta mengajak semua orang Yahudi juga pelayannya berpuasa dan berdoa untuknya sebelum ia mendatangi istana raja walau ia tahu hukuman bagi orang yang menghadap raja tanpa dipanggil adalah mati (Ester 4:16 – 5:1). Lalu ketika bertemu raja, Ester tak langsung menyampaikan apa yang sedang terjadi. Ia malah memberikan undangan makan siang dan meminta Ahasyweros mengajak serta Haman ke jamuan makan tersebut. Di acara makan siang itulah Ester “menelanjangi” Haman sehingga mendapatkan ganjaran hukuman mati di tempat yang disiapkan untuk menggantung Mordekhai.

Bagiku, apa yang diperbuat Ester itu keren. Pada zaman itu, ketika belum ada telepon, pesan hanya bisa disampaikan dari mulut ke mulut. Salah tangkap atau salah paham bisa sangat wajar terjadi. Atau, jika sang pembawa pesan adalah orang yang cepat panas hati, tidak sabaran, atau tidak suka pada Ester, bisa saja informasi itu akan bocor ke mana-mana.

Bagaimana dengan kita? Kita hidup di zaman yang jauh lebih maju daripada Ester. Ketika menerima informasi, apakah kita mencernanya dengan bijak atau buru-buru larut ke dalam emosi?

Emosi kita berjalan mengikuti apa yang kita pikirkan. Butuh keberanian besar dan hati yang luas untuk menentang ketidakadilan, dan semua itu berawal dari pikiran (Filipi 4:4-8). Pengkhobah 3:1,7 menulis segala sesuatu ada waktunya .. ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara. Ester pun tahu untuk bertindak tepat pada waktu-Nya, dia harus fokus pada kehendak-Nya.

Segala pencapaian Ester tak akan terjadi apabila dia tidak melekat pada Allah. Oleh pertolongan Allah, Ester mampu melakukan hal-hal besar yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya.

Pertanyaan bagi kita di masa kini: maukan kita melangkah seperti Ester dengan melekatkan diri pada Allah lewat doa dan berpuasa?

Baca Juga:

Belajar Dari Rasa Kehilangan

Ketika kakak rohaniku dipanggil Tuhan, aku merasa sangat kehilangan. Rasanya seperti ‘kehilangan pegangan dalam melayani Tuhan.

Mengerjakan Misi Allah melalui Pekerjaan Kita

Oleh Lidya Corry Tampubolon, Jakarta

“Biasalah warga +62”

Kalimat itu tertulis di sebuah stiker WA. Ketika seorang teman berkata atau berbuat sesuatu yang menurutku udik, stiker tersebut jadi respons yang kurasa pas. Tapi, meski cuma candaan, tanpa kusadari aku melabeli “warga +62” atau warga negara Indonesia sebagai pihak yang kurang tahu sopan santun atau kampungan. Tidak berusaha membenarkan diri, namun aku melihat bukan hanya aku yang melakukannya.

Lebih lanjut, ketika melihat berita mengenai penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia, seringkali aku melihat komentar di sosial media yang kurang mengenakkan. Kritik dan kekecewaan terhadap penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia datang dari berbagai penjuru. Kemelut, konflik, dan debat-debat di kolom komentar tidak bisa dihindari hingga terkadang membacanya membuatku menghela napas.

Pernahkah terpikir oleh kita mengapa kita lahir sebagai orang Indonesia pada waktu seperti ini?

Menjadi Nehemia bagi Indonesia

Nehemia bin Hakhalya merupakan orang Yahudi yang dibuang ke Persia dan bekerja sebagai juru minuman Raja Artahsasta I (raja Persia) di Puri Susan. Suatu hari ia mendengar kabar mengenai Yerusalem, kampung halamannya; dan kondisi orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dari salah seorang dari saudara dari Yehuda.

“Orang-orang yang masih tinggal di daerah sana, yang terhindar dari penawanan, ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar.”

(Nehemia 1:3)

Ketika Nehemia mendengar berita itu, dia duduk menangis dan berkabung selama beberapa hari. Nehemia kemudian berpuasa dan berdoa kepada Allah untuk memohon pengampunan atas dosanya, kaum keluarganya, serta bangsanya; dan memohon belas kasihan Allah untuk memulihkan bangsanya. Tidak berhenti di situ, Nehemia kemudian kembali ke kampung halamannya untuk membangun kembali Tembok Yerusalem, sebuah tindakan yang nekad namun penuh dengan kasih untuk bangsanya. Perlu diingat kembali bahwa sebagai seorang juru minuman raja yang tinggal di istana, Nehemia sebenarnya telah hidup dalam zona nyaman. Namun, Nehemia memutuskan untuk menginggalkan segala kenyamanan dan kemapanannya untuk melakukan sesuatu bagi bangsa yang dikasihinya.

Mungkin sebagian dari kita, seperti Nehemia, hidup dalam kenyamanan dan privilese yang kadang membuat kita terlena dan merasa aman. Kenyamanan menumpulkan indera-indera kita; membuat kita seringkali abai dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini: budaya korupsi yang mengakar, penegakan hukum dan keadilan yang seolah mati suri, kemiskinan di mana-mana, keagamaan yang serba formalitas belaka, serta kekerasan dan intoleransi yang dibiarkan saja. Kita berpikir bahwa masalah-masalah ini hanya ada di dunia maya dan tidak bersentuhan langsung dengan kita dalam kehidupan nyata. Kita mungkin bekerja pada sektor yang “tidak menantang”, sehingga kita berpikir bahwa urusan untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas bukanlah bagian kita, bahkan mungkin kita yang berhadapan kondisi-kondisi tersebut, cenderung memilih untuk mengambil tempat yang aman dan bekerja secara mekanik: datang ke kantor setiap pagi, mengerjakan bagian kita sebisanya, kemudian pulang ke rumah dan melupakan apa pun yang terjadi di kantor hari ini. Yang penting pekerjaan selesai, yang penting aku tidak berbuat curang.

Namun, orang Kristen tidak dipanggil dalam kenyamanan dan kemudahan. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil ke dalam dunia yang rusak karena dosa yang merajalela. Kita diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala (Matius 10:16a). Dalam anugerah Tuhan, masing-masing kita diberikan bagian untuk berkarya untuk sesuatu yang lebih besar daripada atasan atau instansi/perusahaan tempat kita bekerja; kita dipanggil untuk mengerjakan misi Allah bagi dunia di dalam pekerjaan kita.

“Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.

(Ester 4:13-14)

Seperti Nehemia dalam jabatannya sebagai juru minuman raja di istana atau Ester dalam jabatannya sebagai ratu, kita dipanggil dalam profesi kita untuk berkontribusi menghadirkan shalom di dunia. Dalam kedaulatan Tuhanlah Nehemia dan Ester memiliki jabatan yang strategis pada waktu tantangan besar sedang terjadi, sehingga Nehemia dan Ester dapat membuat perubahan. Sama seperti Nehemia dan Ester, kita dipanggil untuk merespons panggilan Allah secara spesifik bagi hidup kita, untuk berani keluar dari “cangkang kenyamanan” dan mau berjuang bagi bangsa kita.

Mewujudkan shalom tidak melulu bicara soal transformasi besar-besaran pada sebuah bangsa atau komunitas. Shalom yang adalah damai sejahtera, keadaan di mana Allah berkuasa, dapat kita hadirkan ketika kita bersedia melihat dengan hati dan melayani setiap orang yang kita jumpai dengan sepenuh hati. Ketika seorang guru mengajar muridnya, ketika seorang dokter mengobati pasiennya, ketika seorang petugas kebersihan menjaga lingkungan tetap asri, Allah dapat memakai setiap buah pekerjaan itu bagi kemuliaan-Nya.

Jika Engkau Mempunyai Mata, Maka Melihatlah

“Jika engkau mempunyai mata, maka melihatlah” adalah salah satu judul bab dalam Buku Vision of Vocation (Panggilan untuk Mengenal dan Mengasihi Dunia) oleh Steven Garber. Judul bab ini (tentu beserta isinya) menghantuiku—mengguncangku untuk membuka mata dan telinga selebar-lebarnya terhadap lingkungan sekitar. Aku tahu bahwa kondisi Indonesia jauh dari kata ideal, tapi apakah aku benar-benar “tahu”? Aku melihat ketidakadilan dan kemiskinan di depan mata, tapi apakah aku benar-benar “melihat”? Bagaimana denganmu? Apakah kamu “melihatnya”?

“Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

(Yeremia 29:7)

Kita tidak perlu menjadi pejabat publik atau posisi strategis lain untuk mengambil bagian dalam membangun bangsa dan negara kita. Panggilan atau pekerjaan apa pun yang Tuhan percayakan bagi kita; apabila kita menyadari bahwa kita mengerjakannya untuk Tuhan demi menghadirkan kesejahteraan bagi negara ini, maka kita telah menjadi bagian dalam pekerjaan Tuhan bagi Indonesia.

Kiranya dalam anugerah-Nya, Tuhan menolong kita untuk menjadi Nehemia-Nehemia, Ester-Ester, dan Daniel-Daniel di masa kini. Kiranya dalam anugerah-Nya, Tuhan menolong kita untuk sungguh-sungguh melihat, sungguh-sungguh berdoa, dan sungguh-sungguh berkarya bagi Tuhan, Bangsa Indonesia, dan sesama.

Soli Deo Gloria.

May we be a people, a people mending broken lives
Giving hope to broken world by the grace of God
May we be a people, a people serving God and man
Bringing love and dignity, in Jesus’ Name
(lirik bait kedua Bring Your Healing to The Nation – Liz Pass dan David Pass)

Semoga kita menjadi umat yang dapat memperbaiki hidup yang rusak
Memberi harapan bagi dunia yang rusak dalam kasih karunia Tuhan
Semoga kita menjadi umat yang melayani Tuhan dan manusia
Membagikan cinta dan martabat, di dalam nama Tuhan Yesus

div style=”line-height: 20px; background-color: #dff2f9; padding: 20px;”>Baca Juga:

Lima, Dua, Satu

Ketika Tuhan memberi talenta dengan jumlah yang berbeda, banyak orang berpikir Dia tidak adil. Mengapa tidak dibuat sama? Mengapa harus berbeda?

Berhenti Sejenak untuk Berdoa | Berdoa bagi Indonesia

Ketika perahu yang kita naiki terguncang karena badai, seringkali kita lupa bahwa tidak ada badai yang terlalu hebat untuk Tuhan Yesus tenangkan.

Hari-hari ini, ketika kita menyaksikan atau bahkan juga mengalami kegetiran dan kesedihan yang diakibatkan oleh badai pandemi, adalah baik untuk datang pada Bapa. Dia tahu dan peduli apabila ada dari antara kita yang dengan berat hati harus mengikhlaskan kepergian yang mendadak; keterpisahan sementara dengan orang-orang terkasih; kesulitan karena lapangan kerjanya terdampak; dan banyak nestapa lainnya yang menghadang.

Datanglah pada Tuhan, mencari wajah-Nya dengan berdoa.

Doa yang kita naikkan mungkin tidak akan mengubah keadaan dalam sekejap, tetapi dengan berdoa, kita mengizinkan damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus.

Bersama Tuhan Yesus, kita pasti bisa melalui semua ini.

#WarungSaTeKaMu
#LawanPandemi #SatukanHati #PrayForIndonesia #BerdoaBagiBangsa

Menghadapi Pandemi: Kita Butuh Lebih Dari Sekadar Berani

Oleh Adiana Yunita, Yogyakarta

Hampir setahun berlalu tetapi pandemi belum mereda. Sebaliknya, malah makin meluas. Virus ini awalnya tampak jauh dari hidupku karena aku selalu menerapkan disiplin protokol kesehatan dan belum ada orang-orang di inner-circle-ku yang terkonfrimasi positif. Tapi, belakangan tetanggaku positif, disusul dengan temanku. Rasa tenang dan aman pun mulai berubah menjadi resah dan gelisah.

Di tengah rasa gelisahku itu, keluargaku berkumpul untuk melakukan ibadah keluarga. Kami biasanya membaca sebuah ayat atau perikop. Kali ini, bacaan diambil dari Hakim-hakim 7:1-8, ketika Gideon dan pasukannya akan pergi berperang melawan orang Midian. Pertama-tama, Gideon membawa 32 ribu pasukan, namun Tuhan berfirman bahwa jumlah itu terlalu banyak. Tuhan meminta Gideon berseru: siapa anggota pasukan yang takut dan gentar agar pulang ke rumah masing-masing. Hasilnya, 22 ribu orang undur diri sehingga tersisa 10 ribu orang. Mereka tentu adalah pasukan perang yang berani dan tak gentar. Namun, Tuhan berfirman lagi bahwa jumlah tersebut masih terlalu banyak. Tuhan memerintahkan Gideon untuk meminta pasukannya minum air. Mereka yang minum dengan berlutut dan menjilat air seperti seekor anjing harus disingkirkan. Yang harus Gideon pilih ialah mereka yang minum dengan menghirup air dengan membawa tangannya ke mulutnya (Hakim-hakim 7:5-6). Maka, tersisalah 300 orang yang dipilih Allah, yaitu mereka yang minum dengan cara mencedok air dengan tangan mereka. Tetapi, mengapa kelompok pasukan itu yang dipilih? Sebab, mereka yang minum dengan berlutut adalah pasukan yang bersikap tidak siaga. Bayangkan jika ketika mereka sedang minum dan pasukan musuh menyerang? Allah memilih pasukan yang bersikap siaga untuk membawa kemenangan bersama Gideon.

Kisah Gideon memberi ketenangan di tengah kekalutanku menghadapi pandemi yang rasanya tak kunjung berakhir. Firman-Nya memberi terang bagi langkahku. Masa pandemi ini mungkin bisa kita ibaratkan seperti sedang ‘berperang’ melawan musuh-musuh yang tak terkira jumlahnya. Seperti para pasukan Gideon, pasti banyak pula di antara kita yang takut dan gentar, sebagaimana aku pun merasa was-was. Namun, ada satu alasan yang dapat membuat kita tetap berani dan tidak gentar, yaitu ketika kita tahu bahwa Allah berjalan bersama-sama dengan kita.

Institute of Basic Life Principle mendefinisikan karakter ‘berani’ atau boldness sebagai sikap yang menerima segala konsekuensi, termasuk penderitaan. Ketika kita melakukan kebenaran dengan yakin, itu akan menghasilkan kuasa kasih yang lebih besar. Sebagai umat Allah, kita betul-betul bisa merasakan kehadiran Allah di manapun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Kehadiran-Nya itulah yang memampukan kita bersikap berani untuk mengerjakan panggilan kita. Namun, apakah itu berarti kita hanya bermodalkan rasa berani saja untuk memenangkan pertempuran?

Di antara orang-orang yang berani itu, ada satu lagi karakter yang Tuhan inginkan. Tuhan memilih mereka yang bersikap siaga dalam segala hal! Siaga atau alertness berarti melatih indera jasmani dan rohani kita untuk mengenali bahaya yang dapat mengurangi sumber daya yang dipercayakan kepada kita. Sikap siaga salah satunya juga termasuk siaga terhadap kesehatan kita dan orang-orang di sekitar kita. Karena itu, mengikuti anjuran pemerintah dan ahli kesehatan dengan mematuhi protokol kesehatan adalah bentuk kesiagaan kita menghadapi musuh-musuh tak terlihat itu.

Terpujilah Allah karena firman-Nya senantiasa menjadi pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita. Aku sangat bersyukur karena setelah mendengar firman ini, khawatirku digantikan dengan pengharapan akan janji penyertaan-Nya yang sempurna. Sekalipun kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari, kita tetap percaya bahwa bagian kita adalah tetap berani dan siaga di tengah pandemi ini. Aku percaya, akan ada banyak kesempatan yang terlewatkan jika kita terus takut dengan pandemi ini dan abai dengan protokol yang sudah dicanangkan. Jadi, tetaplah maju dengan pasti bersama dengan Allah di tengah ketidakpastian dunia ini.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Berhentilah Membanding-bandingkan Dosa Kita dengan Dosa Orang Lain

Kita sering membanding-bandingkan, termasuk jika itu bicara soal dosa. Namun, terlepas dari siapa yang tampak ‘lebih baik’ dari perbanding-bandingan itu, fakta yang pasti ialah kita semua sejatinya adalah pendosa

Teologi Kemakmuran, Kemiskinan, dan Kekristenan

Oleh Jessica Tanoesoedibjo

“Alkitab menyatakan bahwa orang kaya tidak bisa masuk sorga!” Seru pembicara retret tersebut. Dan ketika ia berkata demikian, matanya menatapku dengan tajam.

Aku tidak akan lupa perkataan tersebut. Pada saat itu, aku sedang duduk di bangku SMP, dan menghadiri retret yang diselenggarakan sekolahku. Aku ingat, jantungku berdebar kencang, dan di benakku, aku berpikir, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”

Dalam kehidupanku, harus kuakui bahwa aku telah diberi privilese berkat materil yang berkelimpahan. Namun, ini bukan suatu hal yang dapat kusangkal begitu saja. Aku tidak dapat memilih di keluarga mana aku dilahirkan, ataupun kondisi perekonomian kita. Banyak orang berkata bahwa kita “diberkati untuk menjadi berkat,” tetapi di sisi lain banyak juga yang menkritisasi kekayaan.

Memperoleh Hidup Berkelimpahan

Lahir di keluarga Kristen, aku sangat bersyukur bahwa Tuhan telah memberkatiku dengan kedua orang tua yang begitu menekuni imannya, dan juga mengajarkan anak-anaknya untuk demikian. Namun, lahir sebagai anak seorang pengusaha yang cukup ternama di tanah air, juga berarti ada berbagai macam ekspektasi yang orang miliki terhadap diriku. Motivasi untuk menjadi orang yang sukses, seperti yang dicontohkan oleh sang ayah, ditanamkan padaku sejak kecil.

Di gereja pun aku sering dengar ayat ini dikutip: “Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,” (Ulangan 28:13). Yesus sendiri berkata bahwa Ia datang, “supaya [kita] mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan,” (Yohanes 10:10).

Namun, bagaimana dengan orang Kristen yang tidak hidup dalam kelimpahan materil? Apakah Tuhan tidak mengasihi mereka? Bukankah hal tersebut, kepercayaan bahwa Tuhan akan selalu memberkati anak-anaknya dengan kekayaan, adalah Injil Kemakmuran—suatu distorsi Injil yang sesungguhnya?

Berbahagialah Yang Miskin

Karena di sisi lain, firman Tuhan juga berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena mereka yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:3). Yesus juga mengajarkan, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin…kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” (Matius 19:21).

Inilah yang membuatku berpikir dan bergumul. Aku pun menganggap bahwa kekayaan yang aku miliki adalah suatu hal yang keji yang perlu kusangkal. Ada masa di mana aku membenci segala pemberian Tuhan dalam hidupku, karena menurutku semua kepemilikan materil ini adalah fana.

Bukankah Alkitab sangat jelas, bahwa kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan: Tuhan dan uang (Lukas 16:13)? Untuk ikut Kristus, kita harus tanggalkan segalanya. Tapi, apakah artinya semua orang Kristen diharuskan menjadi miskin? Apakah untuk menjadi orang Kristen yang sesungguhnya kita harus menjual segala kepemilikan kita dan memberikannya kepada gereja, orang miskin, atau misi gereja? Apakah Alkitab mengajarkan teologi kemiskinan?

Kemiskinan Manusia dan Kekayaan Injil

Tidak. Keduanya bukanlah gambaran yang akurat tentang Kekristenan. Karena Kekristenan bukan tentang kemakmuran ataupun kemiskinan. Tuhan tidak pernah menjanjikan kita untuk menjadi makmur dan kaya di setiap saat. Dan Ia juga bukan Tuhan yang kejam, yang senang dan mengharapkan kemiskinan dan kesukaran bagi anak-anak-Nya.

Tapi sesungguhnya, Injil mengajarkan kita bahwa Yesuslah Raja yang empunya segalanya, yang amat sangat kaya, namun menanggalkan segala kejayaan dan rela menjadi miskin, untuk melayani kita. Yesus mengosongkan diri-Nya agar Ia dapat melimpahkan kita dengan kasih dan kebenaran-Nya (Filipi 2).

Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk kaya ataupun miskin. Jika kekayaan atau kemiskinan menjadi pusat identitas kita, kita telah memposisikan uang sebagai tuan dalam kehidupan kita. Kesetiaan pada Tuhan dan firman-Nya tidak diukur dari kekayaan atau kemiskinan kita dalam ukuran dunia. Karena sesungguhnya, kesetiaan pada Tuhan adalah pengertian bahwa sebenarnya kita adalah “miskin di hadapan Allah,” namun, dalam Kristus telah “mempunyai [hidup] dalam segala kelimpahan.”

Dengan pengertian ini, kita tidak akan mendemonisasi kekayaan, ataupun mendamba-dambakan kemiskinan (atau sebaliknya). Tapi, kita dapat, dalam masa berkelimpahan, mensyukuri segala pemberian Tuhan sebagai suatu kepercayaan, yang patut kita kembangkan. Kekayaan bukan bertujuan untuk kita dapat senang-senang dan memenuhi segala macam keinginan kita di dunia, melainkan, adalah sebuah tanggung jawab yang besar. Karena “kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut,” (Lukas 12:48).

Dalam 2 Korintus 8:1-15, Paulus menulis kepada orang-orang yang hidup berkelimpahan untuk bertumbuh dalam kemurahan hati. Paulus berkata bahwa ia tidak bertujuan untuk membebani mereka, melainkan, setelah mengingatkan mereka tentang kasih karunia Kristus yang telah mereka terima, ia mengajak jemaat Korintus untuk terlibat dalam “pelayanan kasih,” (ayat 6) dengan meringankan beban saudara-saudara yang hidup dalam kekurangan.

Demikian pula, orang-orang yang dalam masa kekurangan, dapat juga mensyukuri kesempatan yang Tuhan berikan untuk bergantung sepenuhnya pada-Nya. Namun ini bukan berarti bahwa orang yang sedang dalam masa kekurangan dapat lepas dari tuntutan untuk bertumbuh dalam kemurahan hati. Karena Paulus pun bersaksi tentang bagaimana jemaat di Makedonia, tetap bersukacita dan kaya dalam kemurahan, walaupun mereka sendiri sangat miskin (ayat 2).

Bagi Paulus, kemurahan hati tidak terhitung dari jumlah yang diberikan. Kaya atau miskin, mereka telah menikmati kasih karunia Kristus yang sangat mahal, dan, mengetahui ini, mereka telah memberikan diri mereka, pertama kepada Tuhan, kemudian kepada orang lain (ayat 5). Karena sesungguhnya, yang Tuhan minta dari setiap anak-Nya adalah hal yang sama: agar kita, dalam segala sesuatu, dapat menyangkal diri kita, memikul salib, dan mengikuti-Nya.

“Alkitab menyatakan bahwa orang kaya tidak bisa masuk sorga!” Ya, memang ini benar. Karena Alkitab menyatakan bahwa tidak ada satu orangpun yang dapat masuk Kerajaan Sorga. Tidak ada yang layak. Namun, karena kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus, kita sekarang adalah anak-anak-Nya. Di Rumah Bapa banyak tempat tinggal, dan Yesus sedang menyediakan tempat bagi kita di sana.


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Penghiburan di Kala Duka Mendera

Sekalipun sulit untuk melenyapkan rasa sedih dan kehilangan, aku yakin bahwa Tuhan benar-benar mengerti dan peduli dengan duka yang kualami. Ia selalu punya cara terbaik untuk menghibur dan menguatkan kita.

Mengupas Mitos Femininitas

Oleh Olivia Elena Hakim, Jakarta

“Liv, satu hal yang perlu kita perhatikan sebagai penatua,” ujar salah seorang rekan pelayanan, sesaat sebelum aku resmi menjadi penatua di gereja. “Kita harus hati-hati banget sekarang, karena hidup kita seperti di dalam akuarium.” Aku hanya tersenyum. Sebagai perempuan muda di negara berflower penuh netizen +62, ini mah bukan hal baru. Bukankah hidup kita sudah kerap berjingkat dengan penuh kewaspadaan di antara berbagai mitos demi menjadi seorang perempuan yang “baik dan benar”? Dari kecil, kita akrab dengan teguran “Anak perempuan nggak boleh…” lalu beranjak remaja, “Eh kamu sudah gadis, nggak boleh….”

Kita hidup dalam sebuah konstruksi realitas, apapun gender dan jenis kelamin kita (cek juga artikel Ari Setiawan, Mengupas Mitos Maskulinitas). “Persepsi dan pandangan kita tentang realitas, dikonstruksikan oleh kata-kata dan tanda-tanda lain yang digunakan dalam konteks sosial,” kata Oom Ferdinand Saussure.

Mitos adalah bagian dari keseharian kita. Roland Barthes mengajarkan mitos merupakan gagasan tentang sebuah realitas yang dikonstruksi secara sosial dan disahkan sebagai sesuatu yang “alami” alias wajar saja.

1. “Hmm, kamu gendutan ya? Iteman ya?”

Setelah menginjakkan kaki dalam dapur redaksi sebuah majalah fesyen nasional, aku tahu bahwa sama sekali tidak ada yang “alami” atau “wajar” dari gambaran kecantikan yang kita anggap “alami” atau “wajar”. Tim Digital Imaging dengan tekun menghilangkan lipatan ketiak dan menyamarkan warna kulit ketiak yang gelap (Siapa di sini yang suka insecure sama ketiak kalian gara-gara melihat foto-foto seleb atau iklan deodoran?). Tahun demi tahun nguli di sana, gambar-gambar editan pun menjadi keseharian—yang agak ‘berisi’ dibuat mengerucut tirus, lembaran rambut yang tidak rapi dihilangkan, gigi diputihkan, dan kulit dibuat mulus tanpa noda setitik pun. Lalu dicetak dan disebarluaskan ke khalayak, sebagai panduan fashion & beauty.

Maka, tanpa dikomando tanpa di-briefing, barisan perempuan se-Indonesia pasti bisa dengan kompak menyuarakan ciri-ciri perempuan yang dianggap cantik di negara ini: Putih, rambut lurus, langsing. Inilah yang disebuah Stuart Hall sebagai “kesadaran palsu”—“The role of mass media turns out to be production of consent rather than a reflection of consensus that already exists.”

Jadi, sobat muda, foto-foto yang kalian lihat di layar gawai kalian tidak merefleksikan kenyataan; mereka “hanya” memproduksi efek realitas. Aku bersyukur, di saat media sosial kita dikeroyok tanpa ampun oleh foto-foto influencer, selebgram, selebtwit, tiktokers, maupun seleb-seleb lainnya yang menyodorkan kecantikan dengan standar tertentu, makin banyak campaign yang menyuarakan keragaman konsep kecantikan, seperti @januhairy maupun akun idolaku @tarabasro.

Tapi jika kalian masih sulit untuk melepaskan standar kecantikan usang itu dari benak kalian, ada buku yang wajib kalian baca. Buku ini berjudul “Putih”, karya L. Ayu Saraswati. Jika kalian masih sering berteman dengan oknum-oknum yang kalau ketemuan malah komentar soal fisik kamu, maklumi saja mungkin dia pikniknya kurang jauh dan kopinya kurang kental. Nggak usah dianggap serius gurauannya. Mungkin dari kecil, semua temannya putih dan kurus, jadi referensinya kurang banyak.

2. “Dengan body kaya gitu, pastilah dia bisa dapet lebih ”

Heiiiiits klean para woman womini lupus yang suka julid sama rezeki orang….sadar nggak, kerap kita menganggap perempuan ‘cantik’ hidupnya otomatis bakal lebih mudah dari para Sobat MisQueen dan rakyat jelata lainnya? Kita menganggap dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau dengan modal fisiknya yang mempesona, akibatnya semua prestasi yang diraih selalu dikaitkan sama fakta bahwa dia cantik. Akibatnya kita asyik stalking feed medsosnya dia sambil rebahan, dan lupa untuk berusaha meraih ambisi kita sendiri. Coba bangun dan kerja keras untuk mewujudkan visi hidupmu, tanpa sibuk mengecek ‘keberuntungan’ orang lain. It’s your own life, not theirs. Baca yuk Amsal 28:20, “Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.” Nggak usah ingin ‘cepat kaya’, nggak usah juga sirik sama yang menurutku ‘bisa cepat kaya’ karena penampilan fisiknya. Lagipula nggak semua ‘orang cantik’ hidupnya mudah kok. Nggak percaya? Cobalah buku ‘Cantik itu Luka’ karya Eka Kurniawan atau ‘Setan van Oyot’ karya Djoko Lelono.

3. “Kamu nyebelin banget. Mau dapet ya?”

Siklus istimewa kita sebagai perempuan, sayangnya sering ditunggangi untuk memperkuat narasi kalau perempuan itu ‘labil’, ‘emosional’, ‘lemah’. Kadang, hal itu membuat kita dipandang ‘tidak kompeten’ untuk posisi-posisi strategis di organisasi yang memerlukan pengambilan keputusan logis. Atau dijadikan excuse untuk mengacuhkan ekspresi emosi kita. Karakteristik perempuan dan lelaki yang unik seharusnya tidak dijadikan alasan untuk saling menyingkirkan atau tidak menganggap serius satu sama lain. Lelaki sangat dipersilakan menjadi perawat, perempuan sangat dipersilakan menjadi dokter. Tanpa meninggalkan karakter khas dari jenis kelaminnya. Aku pun banyak dibuat berdecak kagum oleh Jacinda Ardern, PM Selandia Baru yang dengan karakteristik keperempuanannya dalam memimpin, sukses menangani kasus penembakan massal di masjid Christchurch dan pandemi COVID19. Fakta unik lainnya, dia PM Selandia Baru pertama yang hamil dan melahirkan pula di tengah masa dinasnya. Buat kalian yang masih memerlukan ‘tonjokan’ lebih untuk berpikir progresif melampaui mitos kalau perempuan terlalu baperan untuk dianggap kompeten menduduki posisi tertentu, cek Becoming dari Michelle Obama (kalau malas baca yowis, nonton aja dokumenternya di Netflix).

So, mari kita melangkahi mitos-mitos yang mengungkung atau mencoba mendefinisikan hidup kita. Lepaskan dirimu, karena kita semua adalah ‘perempuan yang layak’ dengan ciri khas kita masing-masing, sambil mengingat bahwa Tuhan menciptakan kita dengan kemuliaan dan hormat yang setara – seperti dalam Mazmur 8:4-5, “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

“There is a diva in there, but all she needs is a little bit of a bold lip.”
Jonathan Van Ness.

Baca Juga:

Mengupas Mitos Maskulinitas

Lahir dengan jenis kelamin “laki-laki” pun lambat laun akan disertai dengan berbagai tuntutan dari lingkungan sosial. Namun, tak semua tuntutan yang diberikan kepada kita sebagai laki-laki harus dilakukan, karena ada tuntutan yang bersifat faktual, tapi ada juga tuntutan yang bersifat mitos.

Mengupas Mitos Maskulinitas

Oleh Ari Setiawan, Yogyakarta

Hidup sebagai manusia adalah sebuah kompleksitas antara menjadi diri sendiri yang otentik dan juga tuntutan dari kelompok sosial di mana tiap individu ditempatkan. Seperti lagu yang dibawakan oleh Tulus, “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”, aku setuju bahwa ada beberapa tuntutan yang harus diberikan dalam kehidupan bersosial, dengan tujuan adanya perkembangan menjadi pribadi yang lebih baik. Ada juga beberapa tuntutan lain dari lingkungan kita, yang mungkin perlu kita pertimbangkan, karena belum tentu membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Lahir dengan jenis kelamin “laki-laki” pun lambat laun akan disertai dengan berbagai tuntutan dari lingkungan sosial, mulai dari keluarga, teman sepergaulan, rekan-rekan dalam belajar maupun bekerja, gereja, maupun masyarakat secara umum. Namun seperti yang aku sampaikan, tak semua tuntutan yang diberikan kepada kita sebagai laki-laki harus dilakukan, karena ada tuntutan yang bersifat faktual, tapi ada juga tuntutan yang bersifat mitos.

Hal-hal di bawah ini merupakan mitos maskulinitas yang mungkin kerap kudengar dan justru menjadi tuntutan kepada kaum laki-laki. Buat kamu, pembaca laki-laki, coba cek, benar atau enggak, dan tambahkan juga di kolom komentar, mitos apa yang kerap disematkan padamu. Dan buat kamu, pembaca perempuan, kamu bisa kirim dan ajak dialog teman, atau saudaramu laki-laki, atau pasanganmu.

1. “Ga Ngerokok? Ga Jantan Banget Sih!”

Tawaran merokok, mungkin dihadirkan ketika berada di warung, sembari ngopi, atau menunggu makanan dibawakan oleh pelayan warung. Aku pun sering ditawari merokok sejak SMP hingga sampai saat ini. Ketika aku masih berusia belasan, aku menolak tawaran mereka. Lalu sebagian responsnya ialah, “Ga jantan kamu, Ar!” Aku pernah merokok tapi itu cuma mencoba karena penasaran. Aku merasa biasa saja setelah menghirup tembakau yang dilinting tersebut, tidak merasa lebih jantan dari sebelum aku menghirupnya, maka kurasa ke”jantan”anku tidak bergantung pada sebatang rokok.

Seiring aku belajar tentang media, periklanan dan branding, sebenarnya kejantanan dari aktivitas merokok, hanyalah sebuah branding yang dibuat oleh perusahaan rokok. Jika kita melihat sebagian iklan rokok, tentu aktor yang dipakai ialah laki-laki dengan badan atletis, melakukan aktivitas yang mengandalkan kekuatan, atau mungkin juga dikaitkan dengan pekerjaan-pekerjaan yang menjadi penyelamat, seperti koboi.

Perlu kita pahami, tujuan dari branding tersebut agar membentuk persepsi bahwa laki-laki keren harus merokok. Dan hal terpenting, bos dari perusahaan rokok sendiri tidak merokok, info ini bisa kita lihat di Internet.

Bagi kita yang berusaha menjadikan Alkitab sebagai landasan hidup, mari kita lihat sejenak surat Paulus di Roma 12:1:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”

Aku tidak anti terhadap perokok, aku pun tetap bergaul dengan teman-teman yang merokok. Namun bagi kita yang bukan perokok maupun yang masih menjadi perokok, gumulkanlah bagaimana hidup kita dapat menjadi persembahan,dan pilihan kita bukan disebabkan jebakan branding yang ditawarkan oleh dunia.

2. “Gitu Aja Kok Nangis, Lemah Kaya Perempuan!”

Heeeiiii… jangan remehkan perempuan. Perempuan adalah ciptaan yang kuat, mampu merawat kita selama kurang lebih 9 bulan dalam perut mereka dan berani melewati ancaman hidup mati demi berlangsungnya kehidupan setiap kita.

Perlu kita sadari, komentar di atas sangat mungkin terucap dari orang yang terdekat dengan kita, salah satunya keluarga. Dalam beberapa kasus, mulai dari yang kecil, saat kita belajar sepeda lalu jatuh, orang tua tentu meminta kita berhenti menangis. Beranjak lebih dewasa pun, kita tentu pernah menangis disebabkan permasalahan yang lebih kompleks, seperti ditinggalkan oleh orang terkasih (entah putus dari relasi pacaran atau bahkan ditinggal meninggal oleh kerabat), sedang dalam permasalahan berat, atau situasi di mana emosi sedih kita tak terbendung. Dan ketika air mata keluar, mungkin ada beberapa orang yang menyuruh kita menangis, karena kita adalah laki-laki, apakah memang tidak boleh?

Apa kata Alkitab tentang menangis? Banyak tokoh Alkitab mengenai menangis, salah satunya adalah Yesus, seperti tertulis dalam Yohanes 11:35, “Maka menangislah Yesus,” di mana Yesus berduka akan kematian Lazarus. Yusuf anak Yakub pun dalam rasa rindunya juga menangis menghampiri saudara-saudaranya, tertulis dalam Kejadian 45:2. “Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran kepada orang Mesir dan kepada seisi istana Firaun.”

Aku pun memahami bahwa emosi sedih, bahkan hingga harus menangis, adalah sebuah bagian dari hidup, termasuk bagi laki-laki. Seperti tertulis pada Pengkhotbah 3:4, bahwa: ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari. Dalam aspek psikologi pun, mengutarakan emosi senang maupun sedih, termasuk menangis, memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh, dibandingkan memendam emosi dalam diri. Maka, bagi kita laki-laki, menangislah jika memang dibutuhkan.

3. “Cowok Wajar kok Aktif Seks Sebelum Menikah.”

Ucapan ini mungkin tidak terucap di dalam gedung gereja atau ketika dalam sebuah kegiatan kerohanian, namun sangat mungkin tersampaikan dalam obrolan antar lelaki di tempat nongkrong. Kenapa kesenjangan dialog ini bisa terjadi? Karena aspek seksualitas di Indonesia, masih menjadi hal tabu untuk diperbincangkan dalam ruang ibadah maupun ruang pendidikan. Dan manusia, dengan segala rasa ingin tahunya, akan mencari informasi secara mandiri, walaupun belum tentu dari sumber yang tepat dan belum tentu mendapatkan informasi yang akan berbuah baik.

Berbagai riset yang dapat kita akses melalui berbagai media open source, menunjukkan aktivitas seks usia remaja dan muda menunjukkan angka yang tinggi. Secara empiris pun, ketika aku sedang berpacaran, ada saja teman yang bertanya, “Udah ngapain aja?” Ataupun dalam kondisi nongkrong santai, mungkin saja ada topik mengenai pengalaman melepas keperjakaannya. Bagi yang belum, mungkin akan dilekatkan dengan label “cupu” dan dimotivasi untuk mendapatkan pengalaman seksual sebelum menikah.

Dengan jelas, Allah memerintahkan, “Jangan berzina,” dalam Keluaran 20:14! Berzina bukan hanya perbuatan selingkuh dari pasangan yang sudah menikah. KBBI pun mengartikan “zina” sebagai perbuatan bersanggama antara laki-laki dan perempuan yang tidak terikat oleh hubungan pernikahan. Rasul Paulus juga memberikan nasihat kepada jemaat di Korintus, di mana mereka hidup di suatu kota dengan tingkat pelacuran yang tinggi, agar menjaga kekudusan. Dituliskan dalam 1 Korintus 6:18 “Jauhkanlah dirimu dari percabulan. Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.

Apakah mudah bagi seorang laki-laki untuk menjaga kekudusan sebelum menikah? Tentu tidak mudah. Salah satunya dikarenakan sebagian dari kita mengetahui informasi mengenai seksualitas bukan dari institusi yang mendidik, melainkan dari industri pornografi. Aku pun hidup dalam keluarga yang merasa tabu untuk berbicara seksualitas, sehingga aku pernah mengonsumsi pornografi. Tetapi semakin dewasa, kita perlu mengetahui, bahwa konten pornografi yang kita nikmati, bukanlah suatu pengalaman seksualitas yang nyata, melainkan hanya narasi palsu dari industri. Maka jangan jadikan konten pornografi sebagai patokan standar aktivitas seksual dalam kehidupan kita, boys!

Bagi kita, yang mungkin belum pernah melakukan hubungan seksual, bersabarlah dan jangan merasa kikuk. Dan bagi yang sudah pernah terjatuh ke dalam dosa ini, mari kita refleksikan arti kehadiran pasangan kita, serta makna dari menjadi satu tubuh. Pahamilah bahwa pacar kita, istri kita kelak, ataupun perempuan yang kita temui di mana pun, bukanlah budak dari hawa nafsu kita, karena setiap manusia adalah sama di hadapan-Nya. Dan maknailah bahwa menjadi satu tubuh, akan menjadi sempurna ketika Tuhan juga menyatukan kita dengan pasangan kita, menjadi satu roh dan daging dalam kasih-Nya.

Mitos-Mitos Lainnya dalam Gender

Aku yakin, masih banyak tuntutan lainnya yang diberikan lingkungan sosial terhadap predikat yang miliki, entah sebagai laki-laki dan perempuan. Tentu kita perlu meminta hikmat dari Tuhan, apakah benar tuntutan tersebut membawa kebaikan bagi kita, atau tuntutan tersebut hanyalah mitos yang belum tentu valid kebenarannya. Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Amsal 2:6).

Aku membuka ruang diskusi bagi kita, apakah ada mitos-mitos lainnya yang dituntut oleh lingkungan kita? Bagaimana kita merespons tuntutan yang tidak faktual tersebut?

Selamat menjadi manusia yang otentik, seturut kehendak Tuhan.

Baca Juga:

Mematahkan Mitos ‘Dosen Killer’ Ala Mahasiswa

Kami menerima surat penetapan dosen yang menjadi pembimbing skripsi kami di bulan Maret dua tahun lalu. Membaca dua nama yang tertera, semangatku yang telah terkumpul menciut begitu saja. Isu yang beredar dari mahasiswa-mahasiswa lain, dua dosen pembimbing ini sulit ditemui, mereka pun ‘perfeksionis’.

Kebohongan yang Kita Genggam, Membuat Kita Mudah Menyerah

Oleh Novita Sari Hutasoit, Tangerang

“Kuliah jangan di perguruan tinggi swasta, nanti kamu susah dapat kerja.”

“Jurusan untuk perempuan itu bagusnya ambil pendidikan atau keguruan, supaya bisa bekerja sambil mengurus keluarga.”

“Untuk apa lanjut kuliah S2? Nanti ujung-ujungnya kamu di rumah saja. Toh juga yang mencari nafkah kelak adalah tugas suamimu.”

“Duh, ngapain pacaran jarak jauh, nanti ujung-ujungnya putus.”

Itu adalah beberapa pernyataan yang pernah disampaikan orang-orang kepadaku. Aku tidak tahu apa yang mendasari mereka mengatakan hal tersebut. Kadang aku beranggapan mungkin mereka pernah melihat orang yang mengalami hal yang sama atau mungkin mereka sendiri pernah mengalaminya. Di awal aku sempat kepikiran dengan pernyataan-pernyataan tersebut. Aku takut melangkah karena bisa jadi yang mereka katakan itu benar, apalagi yang mengatakannya adalah orang-orang yang sudah dewasa atau berpengalaman.

Namun, kembali ke tulisanku dua bulan lalu, “Membuat Pilihan yang Berkenan pada Tuhan”, sejatinya yang penting adalah bagaimana kita bergumul terlebih dahulu kepada Allah saat membuat keputusan. Orang lain tidak mengambil andil sepenuhnya dalam setiap hal yang kita putuskan. Jika Allah meyakinkan kita untuk membuat pilihan tersebut, lakukanlah, sambil terus senantiasa bergumul dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Sekalipun kita gagal, Allah pun akan turut campur tangan menggunakan kegagalan tersebut untuk kebaikan buat hidup kita.

Kita sering diperhadapkan dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bisa diuji kebenarannya. Misalnya: kalau aku kuliah di perguruan tinggi swasta aku susah dapat kerja. Nyatanya, aku bisa dapat kerja yang baik walaupun aku lulusan perguruan tinggi swasta. Kadang kala, pernyataan-pernyataan itu malah membuat kita jadi menyerah duluan. Bayangkan, jika ada beberapa orang yang lulusan perguruan tinggi swasta mendengar pernyataan tersebut lalu menelannya mentah-mentah. Mereka mungkin menjadi tidak bersemangat, enggan berusaha dengan lebih lagi, hingga akhirnya jadi sungguhan kesulitan mendapat kerja.

Pernyataan yang tidak bisa diuji kebenarannya sesungguhnya sangat berbahaya dan bisa membuat orang lain menyerah dalam mengerjakan setiap hal dalam hidupnya.

Kyle Idleman, dalam bukunya yang berjudul Don’t Give Up mengatakan bahwa dalam kehidupan, kita sering sekali diperhadapkan dengan berbagai kebohongan. Karena kita mempercayai kebohongan itu, maka kita pun menjadi hidup sesuai dengan kebohongan tersebut. Mungkin bukan masalah besar jika kita menghabiskan waktu kita dengan kebohongan yang terbilang tidak serius, misalnya: jangan potong kuku di malam hari. Tetapi, bagaimana jika kita diperhadapkan dengan kebohongan yang lebih serius?

Menurut Kyle Idleman, ada tiga kebohongan yang sering kita percayai dan mari kita pelajari kebenaran Firman Allah yang mampu membebaskan kita dari kebohongan tersebut:

1. Kita tidak punya kemampuan yang dibutuhkan untuk berhasil

Ketika Allah mempercayakan kita sesuatu untuk dikerjakan, maka Dia akan memberikan kita kemampuan untuk mengerjakannya. Misalnya: kita sedang bergumul untuk mengerjakan tugas akhir. Allah mempercayakan kita untuk sampai ke tahap mengerjakan tugas akhir, artinya Dia akan menolong kita untuk mengerjakannya.

Baru-baru ini, aku mendapatkan tanggung jawab yang baru di pekerjaanku. Awalnya aku merasa tidak sanggup, pekerjaan itu menurutku sangat berat untuk aku lakukan, tetapi aku tidak bisa menolak karena itu sudah keputusan dari pimpinan di tempat kerjaku. Aku berdoa dan bergumul sama Tuhan. Dalam saat teduhku, Allah mengingatkanku dari Filipi 4:19 “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” Pagi itu aku diingatkan, keperluanku bukan hanya soal uang, makan, minum atau kebutuhan jasmani lainnya. Keperluan disini juga termasuk kemampuan yang akan diberikan Tuhan agar aku dimampukan mengerjakan tanggung jawab yang baru dipercayakan kepadaku.

Bersama Tuhan, kita memiliki segala sesuatu yang kita perlukan untuk melakukan segala sesuatu yang perlu kita kerjakan.

2. Kita bisa memperbaikinya sendiri

Bagian ini berlawanan dengan poin yang pertama, tetapi ini pun masih sebuah bentuk kebohongan. Kita sering beranggapan bahwa kita bisa menyelesaikan sendiri setiap hal yang terjadi dalam hidup kita. Kita merasa tidak perlu memerlukan bantuan orang lain. Kita berusaha menyembunyikan segala kelemahan dan kekurangan kita. Padahal secara tidak langsung selain sedang melakukan kebohongan, kita juga sedang melakukan kesombongan. Merasa tidak memerlukan Tuhan atau orang lain. Kondisi ini pun bisa menyebabkan kita menjadi menganggap enteng setiap masalah yang kita hadapi, merampas keintiman dalam hubungan kita dengan orang lain, dan menjadikan kita seperti munafik, karena tidak membiarkan orang lain tahu kelemahan kita dan ini merupakan suatu hal yang sangat melelahkan.

Tidak semua hal tentunya perlu kita sampaikan kepada orang lain. Yang utama yang perlu kita lakukan adalah bergumul bersama Allah lewat doa dan Firman setiap hari. Jika Allah mengarahkan kita untuk meminta bantuan orang lain, kita melakukannya. Namun pada kenyataannya, kita juga sering gagal. Kita lebih sering menyimpan sendiri atau buru-buru mencari pertolongan kepada orang lain. Kita lupa untuk terlebih dahulu bergumul kepada Allah.

3. Kita pantas bahagia

Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia (Filipi 1:29).

Keadaan yang sulit, kondisi yang tidak kita inginkan, seringkali membuat kita merasa bahwa Tuhan sedang tidak berpihak kepada kita. Tidak jarang kita bahkan menyalahkan Tuhan untuk setiap kesulitan atau penderitaan yang kita alami.

Tuhan ingin kita bahagia, tetapi kebahagiaan yang berasal dari mengejar dan mengenal Dia. Sayangnya, kita sering memandang Tuhan sebagai alat untuk meraih kebahagiaan dalam versi kita sendiri. Kita tidak memiliki Tuhan agar Dia bisa memberi kita berkat supaya kita bahagia. Kita memiliki Tuhan, dan Dia adalah kebahagiaan sejati itu.

Bahkan seringkali kesulitan dan penderitaan kita alami tujuannya adalah untuk mengenal Allah, supaya kita menemukan bahwa hanya Allah saja yang mampu membuat kita bahagia.

Sangat mudah bagi kita untuk mempercayai setiap kebohongan yang disampaikan di tengah kehidupan kita setiap hari. Bahkan kebohongan itu sering membuat kita menjadi memilih untuk menyerah.

Saat ini, aku tidak tahu kebohongan-kebohongan apa yang sudah teman-teman percayai. Jika kita tahu bahwa semua itu adalah kebohongan, maka kita tidak akan mempercayainya. Tetapi, ketika kebohongan-kebohongan itu kita percayai, maka kebohongan-kebohongan itu memiliki kekuatan atas hidup kita. Jika saat ini rasanya kita ingin menyerah, entah itu karena kondisi keluarga, kondisi studi, kondisi pekerjaan atau mungkin kondisi keuangan, mari kita coba tanyakan dalam diri kita, apakah ada kebohongan yang sedang kita genggam. Berdoalah dan minta Tuhan untuk menyatakan kebohongan apapun yang sedang kita hidupi.

Kita berharga di mata Tuhan, buktinya Dia sudah memberikan Putra-Nya Yesus Kristus untuk disalibkan menebus seluruh dosa-dosa kita. Jangan biarkan kebohongan-kebohongan yang ada di dunia ini membuat kita menjauh dari Tuhan.

Hidupmu berharga bagi Allah
Tiada yang tak berkenan di hadapan-Nya
Dia ciptakan kau seturut gambar-Nya
Sungguh terlalu indah kau bagi Dia

Dia berikan kasih-Nya bagi kita
Dia telah relakan segala-galanya
Dia disalib tuk tebus dosa kita
Karena hidupmu sangatlah berharga

Buluh yang terkulai takkan dipatahkan-Nya
Dia kan jadikan indah sungguh lebih berharga
Sumbu yang telah pudar takkan dipadamkan-Nya
Dia kan jadikan terang untuk kemuliaan-Nya

Baca Juga:

Kemenangan Melintasi Jalur Sunyi

“Kuliah itu kudu di negeri.”
“Ah, anak kota mah manja, mana sanggup jauh dari orang tua”
“Masih fresh graduate, susah cari kerja.”

Pernyataan di atas mungkin kita dengar ketika jalan yang kita pilih berbeda dari pilihan kebanyakan orang. Tapi, di pilihan dan jalan sunyi sekalipun, Tuhan menuntun kita.

Setelah Covid-19 Berakhir, Seperti Apa Gereja Kita Nanti?

Oleh Jeffrey Siauw, Jakarta

Buku The Trellis and The Vine baru-baru ini mendapat perhatian khusus karena di bagian penutupnya, penulis buku itu membayangkan terjadinya pandemi.

Aku meringkasnya di bawah ini:

Bayangkan terjadi pandemi di seluruh bagian dunia anda dan pemerintah melarang orang berkumpul lebih dari tiga orang, untuk alasan kesehatan dan keamanan. Dan kondisi itu terjadi selama 18 bulan.

Kalau ada 120 jemaat di gereja anda, bayangkan bagaimana gereja tetap bisa berfungsi—tanpa ada pertemuan persekutuan rutin apa pun, dan tidak ada persekutuan rumah tangga, kecuali hanya tiga orang yang berkumpul.

Kalau anda adalah pendetanya, apa yang akan anda lakukan?

Mungkin anda bisa kirim email atau menelpon mereka, atau membuat rekaman audio. Tetapi bagaimana bisa tetap mengajar dan menggembalakan mereka? Bagaimana mendorong mereka untuk tetap mengasihi dan melakukan hal yang baik di tengah situasi ini? Dan bagaimana dengan penginjilan? Bagaimana menjangkau orang baru dan melakukan follow up?

Anda perlu bantuan. Anda harus mulai dengan 10 orang jemaat pria yang dewasa secara iman, lalu bertemu secara intensif dengan mereka, bergantian dua orang demi dua orang selama dua bulan. Anda harus melatih mereka bagaimana membaca Alkitab, bagaimana berdoa dengan satu atau dua orang lain, dan dengan anak-anak mereka. Maka ada dua tugas mereka: Pertama, menggembalakan keluarga mereka dengan secara rutin membaca Alkitab dan berdoa. Kedua, mencari orang lain untuk dilatih dan didorong melakukan yang sama. Maka dalam waktu beberapa bulan gerakan ini akan meluas dengan cepat. Tugas anda adalah memberikan support kepada mereka sambil mencari orang lain lagi.

Akan ada banyak sekali kontak pribadi dan pertemuan kelompok kecil yang harus dilakukan. Tetapi ingat bahwa tidak ada kebaktian yang harus dijalankan, tidak ada seminar, tidak ada kerja bakti, tidak ada persekutuan rumah tangga, tidak ada acara apapun untuk diorganisir. Semuanya hanyalah mengajar dan memuridkan secara pribadi dan melatih orang untuk menjadi pembuat murid.

Ini pertanyaan yang menarik: Setelah 18 bulan seperti itu, ketika larangan akhirnya dicabut dan kita bisa kembali berkumpul untuk ibadah, persekutuan, dan melakukan semua aktivitas lainnya, apa yang akan berubah? Bagaimana program, pelayanan, dll, akan berubah?

Kita memang berharap bahwa pandemi Covid-19 ini tidak berlangsung sampai 18 bulan. Tetapi pertanyaan terakhir itu sangat menggelitik. Kalau selama 18 bulan, kita memelihara kehidupan rohani jemaat melalui kelompok kecil dengan Firman dan doa. Lalu selama 18 bulan itu juga kita menghasilkan orang-orang yang terjun menjadi pembuat murid—mereka mengajar orang membaca Alkitab dan berdoa untuk orang-orang itu. Kemudian selama 18 bulan itu juga kita melihat buahnya—bahwa orang-orang ternyata bertumbuh dengan Firman dan doa. Setelah 18 bulan berlalu dan kita terbiasa mencurahkan energi dan waktu pada pelayanan yang satu itu dan kita melihat bahwa pertumbuhan terjadi tanpa semua kegiatan dan acara yang rutin dilakukan gereja, apakah tidak ada yang akan berubah ketika keadaan normal?

Aku percaya bahwa salah satu tujuan Tuhan mengizinkan kita mengalami krisis adalah untuk menggoncangkan kita. Mungkinkah ada sesuatu yang harus berubah?

Buku The Trellis and The Vine menggunakan perumpamaan pohon anggur dan terali untuk menggambarkan pekerjaan sesungguhnya dari gereja dan terali pendukungnya. Buku itu mengkritisi gereja karena membangun terlalu banyak terali pendukung sehingga tidak fokus mengerjakan pekerjaan anggur. Pekerjaan anggur bisa dengan sederhana dijelaskan sebagai pekerjaan dalam empat tahapan dengan tujuan masing-masing:

  • “mengajak orang”
  • “memberitakan Injil”
  • “mempertumbuhkan”
  • “memperlengkapi”

Di setiap tahap, kita melakukannya dengan Firman dan doa untuk mencapai tujuannya. Itulah pekerjaan anggur. Sementara itu, kalau program adalah terali, maka kita perlu mengevaluasi seluruh program yang dilakukan di gereja kita dengan dua cara:

Pertama, program apa yang menunjang untuk kita mengajak orang? Untuk kita memberitakan Injil? Untuk kita mempertumbuhkan? Untuk kita memperlengkapi? Tidak perlu banyak program untuk setiap tujuan itu. Program adalah terali penunjang yang jelas dibutuhkan tapi yang penting adalah pekerjaan anggurnya berjalan.

Kedua, seberapa efektif program itu untuk tujuan itu? Berikan skala 1-5. Kita sering berpikir program ini bagus, program itu ada gunanya, yang ini penting, kalau tidak ada yang itu nanti bagaimana, dst. Kita akan dengan cepat berargumen bahwa ini “program mengajak orang baru lho” atau ini “program doa kok.. pasti doa penting kan” atau yang lainnya. Tapi mari jujur mengevaluasi bahwa banyak program yang—walaupun bisa disebutkan gunanya—sebetulnya efektivitasnya rendah untuk tujuan itu. Kita hanya perlu mempertahankan program yang sangat efektif.

Tenaga, waktu, dan perhatian kita terbatas. Ada orang beranggapan bahwa lebih banyak program lebih baik. Kalau kurang hamba Tuhan ya dicari lagi. Kalau kurang pelayan ya dicari lagi dari jemaat. Tapi sebagai organisasi, ini bukan masalah kurang orang tapi masalah fokus. Semakin banyak hal yang dilakukan oleh sebuah organisasi, semakin dia tidak bisa fokus mengerjakan yang terpenting yang seharusnya dilakukan. Yang celaka, jemaat pun tidak bisa digerakkan sepenuhnya menuju ke arah tertentu karena terlalu banyak arah.

Sekali lagi kita berharap pandemi Covid-19 ini berakhir sebelum 18 bulan. Kondisi kita juga tidak persis sama seperti pandemi yang dibayangkan oleh buku itu. Tapi aku yakin kita perlu menggumuli jawaban atas pertanyaan yang menggelitik ini: Setelah Covid-19 berakhir, apa yang akan kita ubah? Seperti apa gereja kita nanti? Kalau gereja kita tidak fokus mengerjakan pekerjaan anggur, lalu nanti setelah Covid-19 tetap tidak ada yang berubah dan semua berjalan kembali persis seperti dulu, pasti ada yang salah.

Mari kita gelisah. Mari coba berpikir dan mau berubah. Perubahan pastilah tidak nyaman dan banyak orang yang akan menentang. Tapi kalau kita betul mengerjakan yang terpenting yang harus dilakukan—dengan tenaga, waktu dan perhatian yang terfokus, kita berada pada jalur yang tepat.

Ketidaknyamanan perubahan mungkin akan membuat sebagian orang meninggalkan kita (mungkin jumlah jemaat akan berkurang?), tetapi yang paling penting adalah kita mengerjakan tugas sesungguhnya dari gereja dengan setia. Tuhan pasti memberkati.

Baca Juga:

Belajar Menantikan Allah

Sebanyak 43 kali dalam Perjanjian lama, orang diperintahkan, “Nantikanlah. Nantikanlah Tuhan.” Lalu pertanyaannya, mengapa Allah membuat kita menunggu? Jika Dia dapat melakukan sesuatu, mengapa Dia tidak memberikan kelegaan dan jawaban sekarang?