Ulasan Buku “Sorotan Iman”: Andreas, Saudara yang Kurang Dikenal

Ulasan Buku “Sorotan Iman” Bab 1, oleh Anita Trilestari

Baru-baru ini aku membaca buku “Sorotan Iman” yang ditulis Bill Crowder.

Di bab satu, Bill membahas tentang Andreas, seorang saudara Simon Petrus yang kurang dikenal. Andreas adalah pengikut Yohanes Pembaptis. Dia mengenal Yesus ketika dia ada di Sungai Yordan pada waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis.

Andreas adalah salah satu dari rasul Yesus yang kurang “tampil” di dalam cerita-cerita Alkitab. Kemunculannya di beberapa cerita Alkitab seringkali bukan sebagai seorang yang berperan banyak, tetapi seorang yang tampaknya berperan kecil namun dapat memberikan dampak yang besar.

Hal pertama yang dilakukan Andreas setelah menjadi pengikut Yesus adalah mengenalkan Yesus kepada Simon Petrus, saudaranya. Andreas bersaksi kepada Simon agar juga mengalami keselamatan seperti dirinya. Namun, dia tidak tahu bahwa di kemudian hari, kesaksiannya kepada Simon Petrus membuatnya hidup dalam bayang-bayang ketenaran Rasul Petrus dalam hal penyebaran Injil.

Kehidupan Andreas di bawah bayang-bayang saudaranya ini terbukti melalui cerita tentang Yesus memberi makan orang banyak dengan lima roti dan dua ikan. Dalam Yohanes 6:8, penulis Injil Yohanes mengingatkan kepada pembaca, termasuk aku, bahwa Andreas adalah saudaranya Simon Petrus: ”Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus . . . .”.

Banyak orang di dunia ini mengalami kehidupan yang sama seperti yang dialami Andreas yang “hidup di balik layar” atau di bawah “bayang-bayang” orang lain. Namun, kehidupan harus tetap berjalan dan Andreas bisa menghadapi “kehidupan di balik layar” itu dengan sikap yang rendah hati. Sikap yang perlu dicontoh oleh banyak orang, termasuk diriku sendiri.

Bill Crowder menulis kalimat ini, “Kita tidak boleh mengecilkan pengaruh dari mereka yang seperti Andreas yang bekerja dengan diam-diam di balik layar untuk menjangkau jiwa satu demi satu. Mereka mungkin tidak pernah menjadi sorotan, tetapi kelak, upah mereka besar di surga.”

Kita tidak akan selalu menjadi sorotan setiap saat. Tetapi yang penting, setiap tindakan yang kita lakukan itu bisa jadi berkat untuk orang lain, ya ‘kan? Walaupun tindakan yang kita lakukan kecil, percayalah ketika Tuhan memakainya, tindakan kecil itu akan berdampak besar di kemudian hari. Amin.

Aku Ga Tertarik dengan Piala Dunia

Oleh Rachel Ang, 21, Singapura

Aku ga pernah tertarik pada sepakbola.

Pastinya ini bukan soal aku terlahir sebagai perempuan. Banyak teman-teman cewekku memasang poster foto pemain favorit di kamar tidur mereka, dan mereka benar-benar mengikuti hasil pertandingan Piala Dunia tahun ini. Kalau aku? Aku mending menghabiskan malamku dengan tertidur lelap daripada berteriak-teriak kegirangan di depan pesawat televisi. Dan aku yakin, dari kalian yang membaca tulisan ini paling ga ada SATU orang yang setuju denganku.

Coba dengarkan dulu keluhanku, bahkan kalau kamu ga mengerti sikap apatisku ini. Bukannya mau menyinggung para gila bola di luar sana ya… Tapi aku mau tulis 3 alasan kenapa aku ga tertarik:

Satu. Aku ga mengerti jalan pertandingannya. Sulit menonton suatu pertandingan di televisi kalau ga mengerti apa sih yang dimainkan dan bagaimana peraturannya. Dan aku jelas-jelas ga suka main bola. Aku bisa saja menendang dengan baik dan kencang, tapi pasti tidak lama kemudian aku memilih untuk keluar dari permainan itu daripada mukaku kotor kena tanah lapangan bolanya.

Dua. Aku ga mengerti apa pengaruhnya sepakbola dengan hidupku. Yah, kalau dipikir-pikir, ada juga sih pengaruhnya. Mana mungkin mengabaikan orang-orang di sebelah rumah yang berteriak-teriak waktu aku baru memejamkan mata. Di luar dari ketidaknyamanan yang bikin aku berharap olahraga ini ga pernah ada, aku telah menjalani 21 tahun hidupku sejauh ini tanpa perlu bergantung pada sepakbola sebagai motivasi hidupku.

Tiga. Aku ga mengerti koq bisa-bisanya ada yang mau mati untuk sepakbola. HIDUP untuk sepakbola saja sudah kedengarannya ga sehat! Membayangkan semua perjudian, korupsi di luar lapangan dan suap-menyuap yang terjadi di dunia sepakbola saja bikin aku ga nyaman. Apalagi ketika terjadi pembunuhan atas pemain Kolombia, Andrés Escobar Saldarriaga, karena gol bunuh dirinya di Piala Dunia 1994, ini bikin aku makin yakin kalau sepakbola ini lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya.

Namun, aku jadi sadar kalau alasan-alasanku ini bisa dihubungkan dengan iman Kristen juga. Kalau dilihat dari kacamata orang non-Kristen, alasan-alasan seperti ini juga jadi beberapa sebab mereka ga menerima iman Kristen.

Mereka ga mengerti. Mungkin ga ada orang yang benar-benar mengambil waktu untuk menjelaskan apa yang dimaksud iman Kristen tentang penciptaan, dosa, keselamatan dan kebangkitan. Orang Kristen suka terbiasa memakai istilah dan konsep yang ‘berat’ seperti “pewahyuan”, “pengudusan” dan Allah Tritunggal. Masalahnya kita sering kesulitan menjelaskannya dalam istilah yang bisa dimengerti bahkan oleh anak kecil sekalipun.

Mereka ga mengerti apa pengaruhnya bagi hidup mereka. Mereka bilang, “Kalau gitu, apa efeknya untukku kalau ada seseorang yang mati disalib 2000 tahun yang lalu? Kenapa aku harus berhenti melakukan apa yang kumau hanya karena sebuah kitab kuno bilang itu salah? Kenapa aku harus mengubah gaya hidupku demi sebuah rumor?

Mereka ga mengerti kenapa ada yang rela mati untuk iman itu. Banyak sekali umat Tuhan di gereja mula-mula yang mati martir waktu mereka mengabarkan Injil. Kecuali Yohanes, semua rasul lainnya mati martir karena kesaksian iman mereka. Bagi orang yang ga percaya, dia pastinya ga bisa mengerti mengapa Paulus bersukacita karena rantai yang membelenggunya demi Kristus, atau mengapa Paulus bisa berkata, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Filipi 1:21).

Jadi apa yang harus kita lakukan? Walaupun kita harus ingat bahwa hanya oleh Roh Kudus ada orang bisa diselamatkan, kita juga harus ingat perintah Petrus, “Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat” (1 Petrus 3:15b-16a). Piala Dunia cuma berlangsung sekali tiap empat tahun, tetapi orang Kristen ga ada alasan untuk menunda membagikan Injil kalau memang ada kesempatan! Kita harus siap untuk bersaksi karena kasih kita kepada Tuhan, baik sedang musim bola atau tidak.

Kesaksian kita tentang Kristus ga cuma nampak dari perkataan kita, tetapi juga dari cara kita menjalani hidup. Petrus melanjutkan, “dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.” (1 Petrus 3:16b). Bahkan saat kamu menyiapkan diri untuk memberi penjelasan tentang imanmu kepada temanmu yang belum percaya, biarlah lebih lagi melalui bukti hidupmu bagaimana dan mengapa Kristus layak menjadi alasan hidup dan matimu.

Pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. (1 Korintus 1:18)

Integritas Sekokoh Tembok

Oleh Natanael Benino

Integritas dalam Kamus Bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai konsistensi dalam bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma, walaupun dalam keadaan yang sulit sekalipun. Atau gampangnya “perbuatan yang sesuai dengan perkataan”.

Jaman sekarang yang namanya integritas ini sudah menjadi barang yang langka yang dimiliki oleh setiap orang. Tapi menurut saya, karena langkanya hal ini, sehingga integritas harus dimiliki oleh semua orang Kristen.

Integritas adalah barang yang langka, karena integritas cukup susah untuk didapat dan dilakukan. Kita lihat saja sekarang, engga usah jauh-jauh, di sekitar sekolah/universitas/tempat kerja, banyak sekali orang2 yang inkonsisten. Apalagi banyak dari mereka yang adalah orang percaya. Misalnya, ada orang yang setiap minggu datang kebaktian, lalu ikut pelayanan, sering banget negur orang yang berbuat salah, sampe pakai ayat Alkitab segala, dsb., padahal kelakuannya buruk sekali, dia sering memaki keluarganya, terus juga sering curang sama orang lain, dsb. (ingat ini cuman contoh khayalan yang menggambarkan bagaimana tidak adanya integritas dalam hidup orang percaya, bukan kejadian nyata, dan semoga engga ada yang seperti itu).

Contoh lain, kita kan sering banget tuh ngomongin teman kita, misalnya “Eh, si anu tu bodoh banget, masak disuruh ngerjain yang gampang begini aja lama dan hasilnya parah lagi” padahal kita sendiri kalau disuruh ngerjain hal itu juga belum tentu bisa cepat dan hasilnya memuaskan.

Integritas merupakan Tembok yang Kokoh bagi kita. Sama seperti Tembok Besar Cina yang melindungi Cina dari serangan musuh, integritas juga merupakan pelindung kita dari serangan musuh. Musuh-musuh ini bisa termasuk orang2 yang belum percaya pada Kristus.

Apa jadinya coba jika orang-orang yang belum percaya melihat orang yang “ngakunya” percaya Kristus, tapi tidak memiliki integritas? Hmm….. sama seperti Cina di jaman dahulu yang tidak memiliki Tembok Besar Cina. Mudah diserang dan tidak seusai dengan image Cina yang sudah terkenal sebagai bangsa besar.

Kita sendirilah yang menghidupi Injil itu melalui perbuatan diri kita sehari-hari, bagaimana kita berbicara, dan bagaimana tindakan kita. Lalu orang lain membacanya, apakah kita benar-benar menunjukkan citra Allah melalui hidup kita.

Ini bukanlah hal yang mudah tentunya, karena saya yakin mempunyai integritas itu benar-benar butuh perjuangan yang berat. Kita bisa saja di satu saat mempunyai integritas, tapi di saat yang lain, kita menjadi inkonsisten dan memakan omongan sendiri. Kita juga pasti akan mengalami apa yang namanya cobaan dan rintangan.

Tapi kita tak perlu khawatir, Allah sendiri yang akan menolong dan memampukan kita.

Persembahkan hidup kita kepada Tuhan. Dengan apa? Integritas. Sebuah ketaatan. Sebuah konsistensi terhadap Tuhan. Dan biarlah seperti Tembok Besar Cina, yang menjadi satu dari keajaiban dunia, integritas juga menjadi satu dari keajaiban Allah dalam hidup kita. Dan seperti bangsa Cina yang menjadi termasyhur dan memiliki ikon yaitu Tembok Besar Cina, biarlah kita menjadi terang dan berkat bagi orang lain, dengan itu Injil akan tersebar dan Allah yang akan dipermuliakan oleh semua orang.

Photo oleh Steve Weber

Resensi Buku: GARAM & TERANG for Youth

oleh Putri Sastra

“Kaya” sejak Muda

Judul : GARAM & TERANG for Youth: Road to Transformation
Penulis : Chang Khui Fa
Penerbit : Pionir Jaya
Cetakan : 1, Mei 2010
Tebal : 288 halaman

Teman-teman, sebagai remaja/pemuda kita pasti memiliki banyak impian. Mungkin kita ingin mempunyai banyak uang, pacar yang ganteng/cantik, atau pun menjadi orang terkenal. Berangan-angan boleh saja, tapi apakah itu yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita? Apakah hidup kita menyenangkan hati Allah?

Buku GARAM & TERANG for Youth: Road to Transformation mengupas habis masalah-masalah yang umumnya remaja/pemuda hadapi. Selain itu, buku ini juga mengajak kita untuk merenungkan, mengintrospeksi, dan mengubah aspek-aspek dalam hidup kita agar semuanya berkenan di hadapan Tuhan.

Melalui gaya bahasa yang santai dan penuh humor, penulis seolah mengajak kita melakukan sebuah perjalanan yang dikemas dalam 11 bab/road dengan kilometer-kilometer yang singkat pada setiap road-nya. Perjalanan dimulai dari pengenalan kita akan Allah, pemahaman kehendak Allah, seputar dunia cinta, petualangan dalam dunia kerja, lalu penggunaan uang, pengaturan waktu, respon atas panggilan Tuhan, hubungan keluarga dan teman, penyelesaian masalah, cara menghadapi depresi, hingga menjadi pemimpin yang menyenangkan hati Tuhan.

Saya menikmati setiap perjalanan dalam buku ini, tapi yang paling berkesan bagi saya adalah topik mengenai kehendak Allah. Sering kali saya merasa bimbang saat harus mengambil sebuah keputusan dan bertanya-tanya: apakah keputusan ini yang terbaik dan sesuai kehendak Allah? Contohnya pada saat akan lulus SMA, saya merasa bingung tentang jurusan apa yang harus saya pilih untuk kuliah nanti dan di perguruan tinggi mana saya harus mendaftar.  Mungkin teman-teman juga mengalami pengalaman yang sama dengan saya. Bagaimana memutuskan hal ini?

Pada halaman 54 buku ini, ada 1 paragraf pertanyaan menarik yang diajukan penulis, “Kenapa kehendak Tuhan sepeti lilin dan tidak seperti senter yang menerangi jauh ke depan? Sederhana, karena Tuhan ingin kita bersandar pada-Nya every minute, every hour, every single day. Bukan hanya sekali-sekali.” Benar sekali! Dan saya merasakan itulah kunci untuk memahami kehendak Allah… kita harus bergantung pada-Nya setiap saat. Pada saat saya memilih jurusan pun saya tidak lupa berdoa pada Tuhan dan sedikit demi sedikit Tuhan mengarahkan saya melalui orangtua dan juga kakak pembimbing di gereja sehingga saya pun dapat memilih jurusan dan universitas yang sesuai.

So teman-teman, jangan lewatkan buku ini karena buku ini memberikan pembekalan/perenungan yang baik bagi kita sebagai kaum muda agar kita bisa menjadi anak-anak Tuhan yang “kaya” sejak muda.

Review Film: SHREK Forever After

Oleh Laura Valentina

Film yang cukup dinanti-nantikan para movie mania mungkin adalah film SHREK Forever After. Bagaimana tidak, konon kabarnya, ini sekuel terakhir dari film yang bisa membuat penonton tertawa sepanjang film. Apalagi bila kawan semua sudah mengikuti ketiga sekuel sebelumnya, sepertinya ini adalah film yang must-watch!

Sejujurnya saya bukan tipe penyuka Ogre. Makhluk hijau ini punya konotasi kurang baik pada kisah-kisah fairy tales yang saya pernah baca atau tonton. Ogre didefinisikan sebagai berparas manusia yang besar, kejam dan buruk rupa.

Film ini diawali oleh Shrek (Ogre) yang terjebak dalam kehidupannya yang membosankan. Ketika semua orang melihat Shrek memiliki semua yang orang impikan, Shrek merasa tidak puas dengan hidupnya. Ia merasa kehebatannya sebagai Ogre redup karena sekarang ia hidup mengurusi ketiga anaknya dan melakukan rutinitas hidup berumah tangga. Ia mendambakan menjadi Ogre tanpa ada ikatan (dengan istri dan anak) dan bebas dari tanggung jawab yang harus ia pikul sekarang. Ia mendambakan sehari menjadi Ogre yang seperti dulu, yang hebat, ditakuti orang dan bebas. Dalam ketidak puasannya terhadap hidupnya, tanpa berpikir panjang, ia menandatangani perjanjian dengan Rumpelstiltskin, seorang yang sifatnya jahat dan licik, yang selalu berusaha menjebak orang dalam perjanjian-perjanjian mistis.

[Ketika tiba di bagian ini, saya sempat teringat pada kisah Esau yang menjual hak kesulungannya demi semangkuk kacang merah. Tanpa berpikir panjang, hal-hal yang merupakan penting dan berharga dalam hidup rela ia tinggalkan demi hal-hal yang merupakan kesenangan semu.]

Benar saja, pada awalnya Shrek sangat menikmati hasil dari perjanjian dengan Rumpelstiltskin, seperti impian jadi kenyataan, tapi kemudian, ia menyadari bahwa ada yang hilang dalam hidupnya, ada yang berubah. Rumpelstiltskin membuat kehidupan Shrek berubah, karena perjanjian itu, Shrek tidak pernah mengenal Putri Fiona, mereka tidak pernah bertemu, jatuh cinta, menikah, dan memiliki ketiga anak yang lucu. Ketika menyadari ini, Shrek pun menyesal dan menginginkan kehidupan lamanya. Ah…cerita klasik. Berapa sering kita tidak pernah menyadari bahwa kita begitu diberkati, sampai kita kehilangan berkat itu. We never know how precious they are, until they are all gone.

Beruntung kisah Shrek, tidak selesai sampai disini. Kisahnya masih berlanjut, ia berjuang untuk mendapatkan kembali kebahagiaannya, bersama dengan para sahabat, ia berjuang untuk hal-hal yang paling berharga dalam hidupnya ini. Ah, sahabat, betapa berharganya mereka. Bahkan ketika hidup terasa menggilas, uluran tangan sahabat merupakan sebuah penyegaran yang luar biasa. Film ini berakhir bahagia, Shrek kembali hidup berbahagia dengan Putri Fiona dan ketiga anak-anaknya. Perjanjian dibatalkan dan semua kembali seperti sedia kala. Sesuatu hal yang hanya terjadi di film.

Kawan, di dalam hidup seringkali kita merasa seperti Shrek. Tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki. Iri terhadap kehidupan orang lain. Tapi belajar dari film ini, mari kita mencoba mensyukuri yang Tuhan berikan kepada kita. Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, kita perlu untuk terus percaya bahwa apa yang kita miliki sekarang adalah yang terbaik yang Tuhan berikan. Juga, syukuri dan peliharalah para sahabat, karena merekalah yang sering kali tanpa kita sadari selalu ada ketika orang lain tidak ada. Perwujudan kasih Allah yg nyata terpancar dari kasih para sahabat yang Dia berikan untuk kita miliki.

Dan terakhir, pastikan semua tindakan dilandasi dalam doa dan penuh keyakinan pada pemeliharaan Tuhan. Hidup kita bukanlah film, yang didalamnya waktu bisa diputar kembali, perjanjian dan perbuatan bisa dibatalkan. Tidak, hidup kita bukanlah film. Setiap tindakan memiliki konsekuensi. Kita harus terus belajar berhikmat dan bijak dalam mengambil keputusan. Terdengar sulit? Enggak kog, Amsal 3:5-6 berkata, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Selamat mensyukuri hidup! Right now, Forever and After

Tuhan memberkati.

Image copyright of Dreamworks Pictures