Candu Cari Cuan!

Oleh Jessie 

🎵 Apa yang dicintai orang? Uang! Uang! 🎵

Cinta uang. Ini bukanlah hal yang aneh. Dunia ini tidak kekurangan tokoh yang menunjukkan betapa uang begitu dicintai, salah satunya jika kita suka menonton film kartun, adalah sosok Tuan Krab yang menjadikan uang adalah segalanya buat dia. Dan…sejak sekolah minggu juga sudah sering dikumandangkan, eh diingatkan maksudnya hehe, kalau kita harus mengelola uang dengan bijak, sesederhana kita mengembalikan apa yang Tuhan beri dalam bentuk uang sebagai persembahan. 

Siapa pula yang bisa menolak uang? Dikasih ya diambil toh? Ga dikasih, ya harus dicari, karena kita tahu uang itu tidak jatuh dari langit. Hehehe… Ga salah lagi kalau memang uang itu sangat diperlukan, bahkan diidam-idamkan… Untuk beli gadget baru, tas branded, makan enak, dan seterusnya… 

Semua itu tentu boleh-boleh saja sih. Tapi, apakah mengidamkan uang untuk tujuan seperti itu sudah masuk ke dalam kategori kecanduan? 

Uang memiliki peran yang substansial, di mana tanpa uang, mungkin kita tidak bisa hidup. Memang betul, uang menjadi media pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Kita menukar uang dengan makanan, tempat tinggal, pakaian, edukasi, dll. Namun, seringkali konsep pentingnya uang ini dibawa ekstrem sehingga menjadi tolak ukur kepuasan dan kebahagiaan manusia jika mereka dapat memiliki sepenuhnya. Pertanyaannya, seberapa banyak yang kita harus miliki? Dan apakah kita pasti akan bahagia setelah semuanya itu kita dapatkan?

Ada seorang pendeta pernah mengatakan, “greater wealth does not equal to greater satisfaction,” yang artinya kekayaan yang lebih besar tidak berbanding lurus dengan kepuasan yang lebih besar. Kalimat ini beliau katakan saat mempelajari kitab Pengkhotbah 5:8-17 yang temanya mengejar kekayaan. Salomo, si penulis kitab Pengkhotbah dan juga seorang raja yang dinyatakan paling bijaksana di seluruh dunia serta paling kaya di zamannya, mengatakan bahwa, Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia.” (Pengkhotbah 5:10). Memiliki lebih banyak uang tidak akan mendatangkan kita kepuasan yang lebih lagi, sebaliknya hanya akan menimbulkan hasrat untuk menginginkannya lebih lagi.

Sebagai seorang pengusaha yang penghasilannya tidak tetap bagai roller-coaster, aku bisa relate dengan apa yang Salomo ingatkan ini. Dikarenakan pendapatanku bergantung pada omset bulanan, maka aku harus bekerja keras agar penjualan meningkat terus, maksudnya supaya uangku juga bertambah terus hehehe. Aku dan tim berputar otak melakukan berbagai strategi marketing agar dapat menggaet lebih banyak lagi pelanggan. Lalu apakah aku tergolong dalam grup para candu cari cuan? Bisa jadi sih, cuan-nya sih enggak, cuma kecanduannya mungkin, karena aku bisa lanjut kerja lagi pada malam hari, dan cukup stress kalau omset bulanan turun banyak; dan kalau omset lagi mendaki, kami juga push sampai puncak tertinggi. Setelah goal omset tercapai pun, aku menciptakan goal baru yang lebih tinggi lagi hahaha! Memang sudah benar kata Raja Salomo, bicara soal uang tidak pernah puas. Batas antara semangat bekerja dan kecanduan cari cuan memang agak rancu. Karena aku dikelilingi oleh pengusaha-pengusaha yang sukses dan penuh antusias, aku pun mudah tergoda untuk ikutan kiasu atau ga mau kalah.

“Keinginan alamiah (natural desires) akan berhenti ketika apa yang diinginkannya diperoleh, tetapi keinginan yang rusak (corrupt desires) tidak akan pernah terpuaskan (Matthew Henry, Bible Commentary on Ecclesiastes).” Tuhan menciptakan segala sesuatunya penuh keseimbangan, di mana kebutuhan dan keinginan alamiah manusia dapat dipuaskan dan dipenuhi. Contohnya saat kita lapar, ada yang namanya makanan yang dapat memuaskan rasa lapar kita; kebutuhan seks dapat dipuaskan dengan adanya konsep pasangan dan pernikahan. 

Jika hal yang kita inginkan lalu dapatkan tidak dapat terpuaskan, maka itu sudah menyangkut hati kita yang korup atau rusak. Keinginan/kebutuhan itu sendiri sudah terpuaskan, tapi tidak memuaskan hati kita yang sudah rusak. Seperti dalam kasus para pecandu cari cuan, apakah mereka kekurangan uang? Aku rasa tidak. Mereka cukup secara finansial; problem-nya adalah mereka kecanduan, sehingga menginginkannya lebih-lebih lagi. Candu itu bagaikan kebahagian momentum yang sifatnya fana tapi bikin ketagihan—tidak pernah ada rasa cukup. Dengan hati kita yang sudah korup, kita ditipu untuk terus mengejarnya, atau bahasa Alkitabiahnya, “memberhalakan” materi tersebut.

Sebagai raja terkaya semasanya dan terbijaksana sepanjang masa, Salomo mengatakan, “Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya—juga itupun karunia Allah.” (Pengkhotbah 5:19). Frasa “menerima bahagiannya” mengindikasi adanya porsi yang sesuai untuk dirinya. Namanya juga porsi, ya artinya tidak boleh berlebihan, karena sudah dijatah. Lah terus sisa harta saya dikemanain dong? Ya dibagikan untuk porsi-porsi lainnya. Karena kita hanya berhak menerima porsi kita yang secukupnya, maka kita juga harus mempertanggungjawabkan porsi yang memang sudah dipercayakan Tuhan kembali untuk Tuhan, keluarga, orang susah, pemerintah, dan seterusnya. 

Jika mereka dapat “menikmati” dan “bersukacita dalam jerih payahnya” itupun juga merupakan berkat dari Tuhan. Sesungguhnya, tidak semua orang dapat menjalani siklus kehidupan yang fana ini dengan sukacita, mulai dari proses mencari uang itu sampai kepada kepuasan saat menggunakan uang hasil kerjanya sendiri. Aku rasa aku tidak perlu panjang lebar menjelaskan arti dari “menikmati” hasilnya, karena kita semua sudah tau lah yang namanya belanja untuk hal yang kita sukai itu ya seneng-seneng aja. Tapi ternyata rasa kepuasan atau kepenuhan itu tidak ada pada semua orang. Rasa “kenikmatan” itu tidak pernah mereka rasakan oleh karena candunya yang membuatnya menginginkan terus-menerus tanpa batas. Akhirnya bukannya menikmati hasilnya, fokus mereka malah teralihkan pada keinginannya yang tamak. Adanya sebuah hukum ketetapan Allah di mana konsep menikmati harus ditakari sesuai porsi atau “bahagiannya,” barulah ada rasa kepuasan tersebut tercapai. Hanya mereka yang memiliki kekuatan/kuasa (power) atas barang kepunyaannya, dan tidak diperbudak oleh benda tersebut, yang dapat menikmati siklus kehidupan ini dengan kepuasan hati. 

Jadi boleh disimpulkan bahwa kenikmatan itu juga harus dibarengi dengan rasa tanggung jawab dan hormat pada Siapa yang memberi, secara rasional (tidak berlebihan/sesuai porsinya) dan bermurah hati (berbagi kepada dirimu dan sesama), karena mengerti semuanya merupakan pemberian Tuhan semata. 

Pada akhirnya semua hal yang manusia kejar dan dapatkan pun merupakan sebuah kefanaan. Setelah jerih payahnya mengumpulkan begitu banyak uang, para pecandu cari cuan ini juga akan diperhadapkan dengan kematian, dan faktanya tidak akan ada sepeserpun atau satu dari harta bendanya yang dapat dibawanya ke dunia akhirat. Namun dengan adanya hukum ketetapan Allah akan kenikmatan yang hakikatnya memiliki porsi, adanya kepuasan hati teruntuk mereka yang melaksanakannya. Sehingga, “tidak sering ia mengingat umurnya, karena Allah membiarkan dia sibuk dengan kesenangan hatinya.” (Pengkhotbah 5:20).

Kamu diberkati oleh ini? Yuk dukung pelayanan WarungSaTeKaMu

Bagikan Konten Ini
2 replies
  1. Hanna Monica Siahaan
    Hanna Monica Siahaan says:

    Terima kasih renungannya. Sangat tersentuh, karena mmg lagi merasakan di fase gila cari uang. Puji Tuhan dapet reminder di waktu yang tepat

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *