Bau Tidak Enak

Sabtu, 21 Januari 2023

Baca: Efesus 4:1-5,25-31

4:1 Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.

4:2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

4:4 satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu,

4:5 satu Tuhan, satu iman, satu baptisan,

4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.

4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu

4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

4:28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.

4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. [ ] —Efesus 4:2

Pada suatu pagi bertahun-tahun lalu, anak bungsu saya turun menghampiri saya yang sedang duduk. Ia langsung berlari dan duduk di pangkuan saya. Saya memeluknya, mengecup kepalanya dengan lembut, dan ia pun menjerit senang. Namun, kemudian ia mengernyit, mengerutkan hidung, dan menatap cangkir kopi saya dengan pandangan menuduh. “Papa,” katanya serius. “Aku sayang Papa, aku suka Papa, tapi aku tidak suka bau Papa.”

Putri saya mungkin tidak sadar, tetapi ia berbicara dengan lemah lembut dan bahwa perkataannya benar. Ia tidak ingin melukai perasaan saya, tetapi merasa harus memberitahukan sesuatu kepada saya. Bukankah itu pula yang terkadang perlu kita lakukan terhadap orang lain yang berhubungan dengan kita? 

Dalam Efesus 4, Rasul Paulus menyoroti bagaimana kita sepatutnya berhubungan dengan orang lain—terutama ketika menyampaikan kebenaran yang tidak mengenakkan. “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu” (ay.2). Sikap yang rendah hati, lemah lembut, dan sabar perlu menjadi dasar dari hubungan kita. Memupuk karakter-karakter tersebut seturut dengan tuntunan Allah akan menolong kita untuk “menyatakan hal-hal yang benar dengan hati penuh kasih” (ay.15 bis) dan berusaha menyampaikan “perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu” (ay.29).

Tak seorang pun suka dihadapkan pada kelemahan dan kekurangan dirinya. Namun, ketika ada sesuatu pada diri kita yang “berbau tidak enak”, Allah dapat memakai sahabat-sahabat kita yang setia untuk menyampaikan kebenaran kepada kita dengan cara yang baik, jujur, rendah hati, dan lemah lembut.

—Adam R. Holz

WAWASAN
Dalam perjalanan misinya yang ketiga, selama tiga tahun Paulus mengajar orang percaya di Efesus (Kisah Para Rasul 19; 20:31). Sekitar enam tahun kemudian, karena merisaukan keadaan dan kedewasaan rohani mereka, ia menulis dari penjara Romawi (Efesus 3:1; 4:1; 6:20) untuk mengingatkan mereka bagaimana Allah telah mengaruniai mereka segala berkat rohani dengan berlimpah (1:3). Setelah memuji kehormatan, posisi, dan kepemilikan yang mereka peroleh karena Yesus (pasal 1–3), sang rasul memerintahkan mereka agar hidup “sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu” (4:1). Perintah ini Paulus berikan juga kepada orang percaya di Filipi (1:27), Kolose (1:10), dan Tesalonika (1 Tesalonika 2:12; 2 Tesalonika 1:11). Orang percaya di Efesus haruslah seperti Kristus dalam cara mereka memperlakukan sesama, yaitu dengan rendah hati, lemah lembut, sabar, saling membantu, saling menguatkan, ramah, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni (Efesus 4:2,29-32). —K.T. Sim

Bau Tidak Enak

Pernahkah kamu ditegur seseorang dengan lemah lembut? Menurut kamu, apa yang paling penting dimiliki saat kamu menegur kelemahan orang lain dengan cara yang baik?

Bapa, tolong aku untuk rela menerima teguran dengan rendah hati, dan mampukanlah aku untuk juga memberikan teguran dengan cara yang baik, penuh kasih, dan lemah lembut.

Bacaan Alkitab Setahun: Keluaran 1-3; Matius 14:1-21

Bagikan Konten Ini
34 replies
  1. Feodora Judith
    Feodora Judith says:

    Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. [ ] —Efesus 4:2

  2. rico art
    rico art says:

    Terimakasih Tuhan atas banyak berkat yang selalu Engkau limpahkan kepada kami hari lepas hari, pimpin dan kuatkanlah kami dimanapun kami berada ya Tuhan serta tolong kami, sembuhkan juga orang orang di sekitar kami dari segala macam penyakit akibat dari pandemi ini ya Tuhan serta beri kekuatan kepada yang terkena bencana, kami menyerahkan segala rencana ke hidupan kami kedalam TanganMu saja ya Tuhan biarlah kehendak Mu yang terjadi, terpuji lah NamaMu kekal selamanya, amin

  3. Setiawati Herawati
    Setiawati Herawati says:

    Amin ya hpk beri kami kemampuan untk saling memaafkan dan saing menegur sehingga kami memiliki hdp yg menjadikan berkat bagi anak 2 mu yg mengenal dan perc hanya kpdmu ya bpk yg ku perc amin

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *