Allah yang Mengejar 

Rabu, 7 Desember 2022

Baca: Mazmur 23

23:1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.

23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;

23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

23:5 Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.

23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku. [ ] —Mazmur 23:6

Beberapa tahun lalu, seorang pria dengan tangan penuh bawaan berjalan sekitar satu blok jauhnya di depan saya. Tiba-tiba ia tersandung dan semua barang bawaannya berserakan. Beberapa orang membantu pria itu berdiri dan menolong mengumpulkan barang-barangnya, tetapi dompetnya ketinggalan. Saya pun memungut dompet itu dan berlari mengejar si pria, ingin mengembalikan benda penting itu kepadanya. Setelah saya berteriak, “Pak, Pak!” akhirnya ia mengalihkan pandangannya ke arah saya. Saat saya menyodorkan dompetnya, pria itu terlihat terkejut, sekaligus lega dan penuh syukur. Saya takkan pernah melupakan ekspresinya saat itu. 

Awalnya saya hanya berjalan mengikuti si pria, tetapi langkah saya kemudian berubah drastis. Sebagian besar terjemahan dari Mazmur 23 menggunakan kata mengikuti pada ayat terakhirnya—”Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku” (ay.6). Meski kata “mengikuti” memang cocok, kata asli yang digunakan dalam bahasa Ibrani sebenarnya lebih tegas, bahkan agresif. Kata tersebut secara harfiah berarti “memburu atau mengejar”, mirip seekor predator yang memburu mangsanya (bayangkan seekor serigala mengejar domba). 

Kebajikan dan kemurahan Allah tidak mengikuti kita dengan langkah santai, tanpa ketergesa-gesaan. Kita ini dikejar—bahkan diburu—dengan penuh kesungguhan. Sama seperti saya mengejar pria tadi untuk mengembalikan dompetnya, Sang Gembala Baik yang mengasihi kita dengan kasih abadi juga senantiasa mengejar kita (ay.1,6). —John Blase

WAWASAN
Meski Mazmur 23 adalah bagian Kitab Suci paling terkenal yang menggunakan gembala sebagai metafora tentang Allah, kiasan itu juga terdapat di sepanjang Alkitab. Dalam Kejadian 48:15, Yakub (Israel) menyebut Allah sebagai gembalanya. Nabi Yesaya berkata, “Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati” (40:11). Gembala Agung itu memiliki nama dan rupa di dalam Yesus Kristus. Yesus berfirman, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yohanes 10:11). Ibrani 13:20 menyebut Yesus sebagai “Gembala Agung segala domba.” Petrus menyebut-Nya “Gembala Agung” (1 Petrus 5:4), dan Wahyu 7:17 berbunyi, “Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka.” —Arthur Jackson

Allah yang Mengejar 

Percayakah kamu bahwa kebajikan dan kemurahan Allah sungguh-sungguh mengejar kamu? Jika tidak, apakah firman Tuhan tadi dapat meyakinkan kamu pada kesungguhan hati-Nya?

Ya Gembala yang Baik, terima kasih atas kebajikan dan kemurahan-Mu yang senantiasa mengejarku. 

Bacaan Alkitab Setahun: Daniel 5 – 7; 2 Yohanes

Bagikan Konten Ini
51 replies

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *