Keputusan yang Ceroboh

Selasa, 20 September 2022

Baca: Bilangan 20:1-12

20:1 Kemudian sampailah orang Israel, yakni segenap umat itu, ke padang gurun Zin, dalam bulan pertama, lalu tinggallah bangsa itu di Kadesh. Matilah Miryam di situ dan dikuburkan di situ.

20:2 Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun,

20:3 dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: “Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN!

20:4 Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ?

20:5 Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minumpun tidak ada?”

20:6 Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka.

20:7 TUHAN berfirman kepada Musa:

20:8 “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.”

20:9 Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya.

20:10 Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?”

20:11 Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum.

20:12 Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”

Karena kamu tidak percaya kepada-Ku . . . kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan. —Bilangan 20:12

Sewaktu remaja, saya pernah mengendarai mobil terlalu cepat. Saat itu saya mencoba membuntuti teman saya sepulang latihan basket. Hujan sangat deras, dan saya kesulitan mengejar mobilnya. Tiba-tiba saat wiper mobil menyeka air dari permukaan kaca, tampaklah mobil teman saya berhenti tepat di depan! Saya menginjak rem kuat-kuat, tetapi mobil saya tergelincir, lalu menabrak pohon besar. Mobil saya hancur dan saya terbangun dari koma di bangsal rumah sakit setempat. Berkat pertolongan Tuhan, saya selamat, tetapi kecerobohan saya harus dibayar mahal.

Musa pernah membuat keputusan ceroboh yang harus dibayar mahal. Pilihannya yang buruk juga melibatkan air, meski jumlahnya tidak sebanyak dalam kasus saya. Ketika itu umat Israel tidak mendapat air di padang gurun Zin, dan “berkumpullah mereka mengerumuni Musa” (Bil. 20:2). Allah berfirman kepada sang pemimpin yang kelelahan itu agar berkata kepada bukit batu “supaya diberi airnya” (ay.8). Namun, Musa malah “memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali” (ay.11). Allah pun berkata, “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku . . . kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka” (ay.12).

Ketika membuat keputusan ceroboh, kita harus membayar konsekuensinya. “Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah” (Ams. 19:2). Kiranya kita sungguh-sungguh berdoa untuk mencari hikmat dan tuntunan Allah dalam setiap pilihan dan keputusan yang kita buat pada hari ini. —Tom Felten

WAWASAN
Terkadang orang mempertanyakan mengapa Musa dihukum begitu keras, karena kita dapat memahami rasa frustrasinya atas umat Israel yang selama berpuluh-puluh tahun sering memberontak (Bilangan 20:10-20). Salah satu penafsiran menyatakan bahwa kata-kata Musa (“apakah kami harus mengeluarkan air bagimu,” ay.10) tampaknya mengarahkan keberhasilan mukjizat itu kepada dirinya sendiri, kurang lebih seperti para ahli sihir dari agama kafir yang mengaku mempunyai kuasa seperti dewa yang mereka sembah. Penafsiran lain menyatakan bahwa pertanyaan Musa itu bersifat retorik, yang menyiratkan ia tidak percaya bahwa Allah sanggup atau mau mengeluarkan air dari bukit batu. Namun, apa yang kita ketahui adalah Allah menyebut Musa “tidak percaya kepada-[Nya] dan tidak menghormati kekudusan-[Nya] di depan mata orang Israel” (ay.12). —Monica La Rose

Keputusan yang Ceroboh

Keputusan apa saja yang kamu sesali karena diambil dengan tergesa-gesa? Mengapa penting untuk menahan diri dan berdoa sungguh-sungguh untuk mencari hikmat Allah sebelum bertindak?

Tuhan Yesus, tolonglah aku mengikuti perintah-Mu yang bijaksana seturut dengan pimpinan Roh-Mu.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 4-6; 2 Korintus 12

Bagikan Konten Ini
52 replies

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *