Cari Cuan “Yes”, Langgar Kehendak Tuhan “No”

Oleh Stanlee Wijaya, Palembang

Sebagai seorang keturunan Tionghoa, aku sangat dekat dengan kata dan konsep “cuan” yang berarti “untung”. Kata ini sering kali kudengar di perbincangan keluarga, khususnya ketika sudah membahas hal-hal yang berkaitan dengan perkara jual beli.

Aku pun diajarkan untuk mempertimbangkan cuan dalam segala keputusan yang kuambil. Contohnya, ketika aku berbelanja kebutuhan pribadi, aku diajarkan untuk semaksimal mungkin mencari barang-barang yang sedang diskon. Dengan demikian, pengeluaranku jadi lebih kecil dan barang-barang yang kudapat pun jadi lebih banyak. Ketika berhasil melakukannya, tentu aku dengan bangga merasa diri telah bijaksana dalam membelanjakan uang dan telah mendapatkan cuan.

Masa kini, kata dan konsep cuan mendapatkan perhatian yang cukup besar, bahkan menjadi populer dalam perbincangan kita anak-anak muda. Kuakui bahwa aku bangga karena sebagai keturunan Tionghoa, kata dan konsep ini jadi sesuatu yang populer di lingkunganku juga menyebar ke masyarakat luas. Kita sering kali menggunakan kata cuan baik dalam bercanda maupun obrolan tentang bisnis dan perencanaan usaha kita, dan tak jarang pula ada orang-orang yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk mengejar cuan. Ada yang jadi workaholic, materialistis, bahkan ada yang sampai tega menipu demi mendapat cuan yang lebih banyak lagi.

Konsep hidup yang berfokus hanya mencari cuan, cuan, dan cuan saja ini turut membuatku takut kalau-kalau kita menerapkannya juga dalam kehidupan spiritualitas kita, khususnya ketika kita melakukan firman Tuhan. Kita bisa jadi orang yang tawar-menawar dengan Tuhan. Apabila melakukan firman Tuhan membuatku dijauhi, maka ketaatanku pada-Nya kita anggap tidak mendatangkan cuan bagiku. Apabila karena melakukan firman Tuhan aku tidak bisa menjadi pejabat negara, maka maaf Tuhan, Engkau tahu aku membutuhkan posisi ini untuk kehidupanku. Apabila melakukan firman Tuhan membuatku menjadi orang yang tidak bisa menikmati masa muda yang penuh kebebasan, maaf nampaknya aku tidak akan melakukan firman-Mu. Tuhan tahu kok, masa muda hanya sekali dan Dia pasti bisa mengerti.

Coba selidiki hati kita. Apakah pikiran-pikiran seperti itu lahir di benak kita? Apakah kita akan mengelak jika ditantang untuk melakukan firman Tuhan yang dalam beberapa hal tidak akan mendatangkan cuan bagi kita? Apakah boleh demikian?

Hari ini, aku mengajakmu untuk mendengar apa yang Tuhan sampaikan bagi kita melalui 1 Samuel 26. Pasal tersebut mengisahkan tentang Daud yang lagi-lagi membiarkan Saul hidup, padahal Daud bisa saja membunuhnya. Jika ditimbang-timbang dengan pola pikir yang mengutamakan cuan, Daud sebenarnya dapat mengakhiri masa-masa buronnya jika ia membunuh Saul saat itu. Dengan begitu, Daud tidak perlu hidup dalam ketakutan karena dikejar-kejar oleh sang Raja Israel untuk dibunuh. Kalau Daud membunuh Saul, maka musuh Daud seharusnya berkurang. Lagipula, Daud sudah diurapi sebagai raja. Apabila Saul mati, maka Daud dapat menggantikan Saul sebagai raja. Sebilah tombak sebenarnya dapat mengakhiri masa sulit Daud sebagai buronan nomaden dan membuatnya segera menjadi seorang raja.

Akan tetapi, bagi Daud, justru membunuh Saul sebenarnya tidak mendatangkan cuan sama sekali. Bagi Daud, membunuh sang raja yang mengincarnya tidak akan membuat hidupnya aman dan tentram. Justru sebaliknya, keputusan membiarkan Saul tetap hidup  adalah keputusan yang lebih bijak bagi Daud, sebab Daud tahu bahwa membunuh adalah pelanggaran terhadap Tuhan, sang Pemberi hidup (Keluaran 20:13; Ulangan 5:17; 27:24). Daud masih menghormati Saul sebagai orang yang diurapi Tuhan, meskipun Saul berulang kali berusaha membunuhnya (1 Samuel 24:7, 12, 18; 26:9). Bagi Daud, hanya Allah yang berhak membalas apa yang Saul lakukan, sekeji apa pun itu (1 Samuel 26:9-10). Dengan melakukan kehendak Tuhan, Daud justru memperoleh cuan paling besar, yaitu perkenanan Allah, karena dia melakukan apa yang Tuhan kehendaki.

Dalam hidup sebagai orang percaya, melakukan kehendak Tuhan adalah hal yang tidak boleh dikompromi. Melakukan kehendak Tuhan tidak dapat diukur dengan untung dan rugi dari perspektif manusiawi. Mungkin kita akan dikucilkan. Namun, kemuliaan yang akan datang lebih besar daripada penderitaan yang dialami saat ini. Perkenanan Tuhan adalah cuan paling berharga. Untuk apa mempunyai segala cuan di hidup ini kalau Tuhan tidak berkenan dengan hidup kita? Segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang kekal. Yesus sendiri mengatakan “… kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Matius 6:19)

“Lah terus gimana dong, kan kita hidup juga butuh cuan?” Betul. Tapi sebagai orang percaya, perspektif kita harus beda dengan orang tidak kenal Tuhan. Yesus sendiri menegaskan untuk mencari kerajaan Allah dan kebenarannya lebih dahulu (Matius 6:33). Kemudian, segala cuan yang kita butuhkan akan Tuhan tambahkan pada kita, sebab Tuhan tahu bahwa kita memerlukan itu (Matius 6:32-33). Paulus sendiri menganggap segala cuan dalam hidupnya dulu menjadi tidak berharga jika dibanding dengan Yesus Kristus (Filipi 3:8-10). Kita tetap membutuhkan cuan dalam hidup ini, tetapi jangan sampai cuan itu menggeser supremasi Kristus dalam hidup kita.

Kita tetap membutuhkan cuan dalam hidup ini, tapi Tuhan, kehendak-Nya, dan perkenanan-Nya harus menjadi yang terutama bagi hidup kita.

Bagikan Konten Ini
9 replies
  1. Theresia Kyul
    Theresia Kyul says:

    amin
    salah satu kesalahanku adalah negosiasi dengan Tuhan apakah kehendakNya mendatangkan keuntungan bagiku. Dan aku mau belajar untuk ga lagi2 mengejar keuntungan dari mengikut Tuhan

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *